Menyimpan Barang Kenangan?

Setelah menikah, gue baru tau rasanya tidak memiliki benda kenangan di waktu kecil. Bahkan foto diri sendiri pun cuma ada satu yang tersimpan. Kalau gue runut, sepertinya bokap nyokap bukan tipikal orang tua yang sering membuat foto untuk anak anaknya. Ada sih, tapi tidak banyak. Satu satunya benda kenangan yang bisa gue bawa ke Swedia hanyalah foto sewaktu kecil bareng bokap nyokap.

IMG_2313.jpg

Bercerita benda kenangan, dulu sewaktu bokap pensiun dan mulai sakit sakitan, dia rajin menulis ulang lagu lagu pujian rohani dari Buku Ende (semacam kidung pujian rohani berbasa batak). Ditulis di buku notes kecil. Tebal banget. Waktu itu gue masih kuliah dan sempat berpikir kalau bokap seperti kurang kerjaan. Lah jelas jelas sudah ada bukunya buat apa ditulis ulang lagi.

IMG_2316
Kumpulan kitab berumur ratusan tahun dari generasi ke generasi

Hingga suatu hari bokap pernah bilang jika ajal memanggil, buku berisi tulisan tangannya itu akan menjadi memory. Dan benar saja setelah bokap meninggal, buku itu menjadi rebutan. Dan sekarang tetap disimpan oleh saudara gue.

Dulu gue lumayan suka menulis diary. Bahkan sampai gue lulus kuliah dan bekerja, masih suka curcol di buku. Setelah bekerja di Jakarta, barulah kebiasaan curcol di buku  berhenti.

Begitu berencana pindah ke Swedia, gue mulai menyortir semua barang. Sebagian gue buang. Termasuklah buku diary itu. Sekarang menyesalllll banget. Padahal gue masih lumayan ingat apa aja yang gue tulis. Lucu kan kalau dibaca ulang.

Bahkan souvenir yang gue beli ketika traveling, sempat mau gue hibahkan ke saudara. Tapi waktu itu suami nyaranin sebaiknya gue bawa ke Swedia. Kata dia, suatu saat nanti gue akan mengerti kalau benda benda itu akan memiliki nilai memory.

IMG_2315.jpg

Sesampainya di Swedia, barulah gue sadar betapa telatennya keluarga suami menjaga barang barang mereka. Kadang nih, suami gue sampai tau cerita dibalik sebuah barang. Siapa yang kasih, atau dibeli dimana dan kapan waktunya. Mulai dari cerita lucu hingga mengharukan. Ga tanggung tanggung, barang yang disimpan mulai dari beberapa generasi.

IMG_2909
Gambar hasil karya tangan suami ketika berumur 9 tahun. Masih nempel di dinding rumah sampai sekarang. Oh my God!

Contohnya nih, sampai kumpulan kitab Bible dari tahun 1777 masih ada. Lembarannya uda sobek dan dekil. Fontnya pun masih bergaya gotic. Pertama melihat, gue sampai geleng kepala. Uda kayak benda di museum aja. Disimpan dari abad ke abad dan diperoleh secara turun temurun.

IMG_2319
Kitab dari tahun 1777. Uda kayak benda museum aja yak!

Salutnya lagi, mereka selalu mencantumkan tulisan tangan di lembaran pertama atau terakhir kitab. Lengkap dengan tanggal, bulan dan tahunnya. Bahkan jika kitabnya merupakan hadiah dari seseorang atau dari pihak gereja, ada nama yang memberi dan ada juga nama yang menerima.

IMG_2321.jpg
Tulisan tangan di buku kitab. Vintage.

Tak hanya itu, perlengkapan balita suami dan kedua mendiang mertua gue pun masih ada. Lagi lagi masih tersimpan baik. Kondisinya masih bagus!

Diperkirakan baju baju bayi mendiang mertua sudah berumur kurang lebih 85 tahun. Warnanya masih jelas. Modelnya imut dan lucu. Rendanya mirip baju baju kerajaan. Rasanya pengen gue bingkai aja. Hahaha.

37AC619C-AB4C-457D-8974-1DEAC1A41008.jpg
Huaaaa…gemes. Baju mendiang mertua ketika balita. Baju baju ini kurang lebih sudah berumur 85 tahun tahun dan masih okeh

Bahkan sepatu kakeknya suami (catat ya kakeknya suami…huaaaa) juga masih ada!  Sepatu waktu kakeknya masih balita juga. Kulitnya uda ampe terkelupas. Ratusan tahun umurnya. Generasi orang tua suami dan kakeknya loh. Kepikiran aja bisa nyimpannya. Itu uda lama banget kan. Bukan nyimpan benda kenangan biasa lagi.

Yang membuat gue terharu, gambar hasil karya tangan suami ketika dia berumur 9 tahun, sengaja disimpan mendiang mertua dan sampai sekarang masih ditempel di dinding rumah. Itu umur 9 tahun loh. Salut.

IMG_1318
Hahaha…sepatu suami waktu bayi. Lutunaaa!

Tak hanya itu, ketika pertama tiba di Swedia, gue melihat boneka butut, dekil dan sedikit sobek di dalam keranjang. Gue mau buang dong. Sampai akhirnya suami minta pengertian, agar gue tidak membuang boneka itu.

Terus terang gue tidak terlalu banyak nanya, kenapa harus disimpan. Waktu itu gue cuma mikir, mungkin boneka ataupun benda lainnya, memiliki memory tersendiri buat suami. Terutama masa kecilnya bersama bokap nyokapnya. Gue berusaha memahami aja sih. Meskipun gue ga suka boneka itu. Ga ada manis manisnya. Hahahha.

IMG_2826
Sepatu suami sewaktu bayi. Seandainya gue punya satu aja sapatu peninggalan kaya gini. Envyyy!

Barang barang kenangan yang gue posting di tulisan ini, baru sebagian kecil saja. Masih banyak barang antik yang kalau diurai satu demi satu ga ada habisnya. Sebenarnya tidak hanya di keluarga suami aja sih, semua warga di desa gue juga begitu. Menyimpan benda warisan keluarga secara turun temurun.

IMG_2829.JPG
Boneka kesayangan suami waktu dia masih balita
IMG_2830.JPG
Koper keranjang tempat menyimpan baju baju balita di atas. Ini saja pun bentuknya menggemaskan.

Nah kalau kamu, punya barang kenangan yang masih disimpankah? Terutama barang barang ketika kamu masih balita gitu?

Salam dari

Swedia

iPhone 7 Plus : Ketika Tak Bisa ke Lain Hati (Review)

Tadinya ga niat mereview si hape yang berhasil membuat mood gue jelek banget seminggu ini. Sangkin terpesonanya dengan hasil bidikan kamera dan beberapa fitur barunya, akhirnya ga tahan juga. Itupun cuma review sederhana  sih.

Sebenarnya, tidak ada rencana untuk mengganti hape baru. Hadeh, bongkar tabungannya itu loh mak. Sungguh terlalu kata Loma Ilama. Hape lama bodynya masih mulus. Cuma sudah satu satu napasnya. Bahkan sempat koit. Apes bangetlah memang.

img_0146

Ceritanya, iPhone 6 plus gue slow respon banget kalau di charger. Bahkan sempat ga bernapas alias mati total. Gue ga kaget sih, karena sebelumnya, tanda tanda memble dari hape ini sudah banyak. Pertama kameranya rusak. Trus baterai ngadat. Dan puncaknya slow respon tadi.

Sebelumnya, iPhone sudah sering kasih warning di layar screen, kalau perangkat charger yang gue pakai, tidak bisa diterima alias bukan perangkat yang disertifikasi oleh Apple. Dasarnya bebal, gue malah cuekin terus. Dan puncaknya ya gitu. Applenya marah kali ya. Hahaha. Begitupun masih egois aja nyalahin Apple. Tapi sudahlah, yang ini ga perlu dibahas panjang lebar.

Gue memang sudah susah beralih ke brand lain. Dengan seribu satu alasan, baik plus dan minusnya. Inilah namanya uda kadung jatuh cinta. Iphone 7 Plus, menurut gue masih memiliki persamaan dengan iPhone 6 plus. Bedanya, ada beberapa fitur tambahan dengan inovasinya  yang keren bingits. Berikut fitur canggihnya:

Dual Kamera. Ada lensa Tele dan Widenya. Pas gue coba, resolusi gambar menyamai kamera DSLR. Jernih banget. Dan bokehnya lumayan creamy. Dari mode jepret normal, cukup tap sekali aja, otomatis akan berubah ke mode optical zoom hingga 2 kali zoom. Hasil gambar tetap jernih. Bahkan untuk digital zoom manual, bisa digunakan dengan menyentuh screen hingga 10 kali kemampuan zoom. Selain Time-Lapse, Slow Mo, Video, Photo, Square dan Panorama, iPhone 7 Plus juga dilengkapi fitur Portrait. Bokehnya mirip kamera DSLR mak.

img_0138
iPhone 7 Plus dengan Dual Camera

Stereo SpeakerIni badai banget deh dentuman suaranya. Merata di bagian kiri dan kanan. Yang jelas, dentuman Power Full seperti ini tidak gue dapatkan di iPhone 6 Plus. Karena seri 6 plus hanya memiliki satu speaker. Sedangkan seri 7 Plus, dilengkapi speaker di sisi kiri dan kanannya. Lebih stereo/ngebass. Buat dengerin musik, sempurna banget.

IMG_0142.JPG
Speaker dibagian kiri dan kanan 

Colokan Earphone dan Charger Berada di Lubang yang Sama. Biasanya, colokan earphone bersampingan dengan colokan chargerSebaliknya, iPhone 7 Plus justru menggunakan satu colokan utama untuk keduanya. Kecuali membeli kembali assecoris tambahan pendukung seperti Lightning Connector Adaptor.   Oh ya, untuk seri 7 ini, sudah bisa menggunakan charger wireless. Gue tertarik sih. 

IMG_0140.JPG
Lightning Headphone Adaptor yang diberi gratis. Bagi yang ingin tetap menggunakan headphone di iPhone 7 Plus, bisa connecting melalui Cable ini.

img_0117

Layar Screen dilengkapi teknologi 3D Touch. Ini juga gue suka banget. Sistem sentuh  shortcut yang memungkinkan kita membuka aplikasi hanya dengan menyentuh icon tanpa harus repot membuka aplikasi terlebih dahulu. Tampilannya memang jadi seperti efek 3D gitu. Uniknya, 3D touch ini bekerja sesuai dengan kekuatan sentuhan jari tangan. Dan ini bisa diatur di bagian pengaturan atau setting. Mulai dari sentuhan ringan, sedang maupun kuat. 

IMG_0141.JPG
3D Touch Screen

Water Resistant atau anti air. Huaaaaa…tahan air! Lumayan banget kan, apalagi kalau ga sengaja terkena air atau pas hujan misalnya. Bahkan katanya, direndam air juga ga masalah. Ahhhh…kalau ini ga usah sok sokanlah ya. Ga mau ambil resiko. Kebayang kan kalau ternyata tidak seakurat itu. Guling guling jadi bolu Meranti deh kalau harus beli lagi. 

IMG_0139.JPG

Cuma, ada beberapa hal yang gue kurang suka dari seri 7 plus ini. Design Dual Kamera di bagian belakangnya, kenapa juga harus dibuat nimbul. Ga enak aja dilihat. Trus Earphonenya, ga pake kemasan kotak seperti iPhone lainnya. Cuma ditempelin di kertas.

img_0143
Tuh, nimbul kan cameranya. Kurang enak dilihat. Kalau gambar di bawah,  seri 6 Plus yang menggunakan kemasan kotak untuk earphone. Sedangkan di sebelah kanan, seri 7 Plus yang hanya menggunakan sejenis kertas tebal.  

Sedangkan untuk harga iPhone di Swedia, jatuhnya memang lebih mahal dibanding Indonesia. Kalau melihat daftar harga di Google ya. Tapi pastinya gue kurang tau juga. Untuk kapasitas 128 GB, seri 7 plus ini dibandrol mendekati 10 ribu Sek. Pokoknya, ke depan kudu hati hati deh makenya. Kapok.

iPhone 7 Plus, is the best iPhone we had ever made! Sebuah slogan percaya diri dari Brand raksasa ini. Benarkah? Kita tunggu saja sampai berapa lama ketahanannya. Hahhaha.

Ada yang tertarik ingin membeli? semoga review abal abal ini berguna. 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

 

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Tradisi Kematian di Suku Batak dan Swedia

Menjelang akhir tahun lalu, gue menghadiri sebuah acara pemakaman kerabat jauh keluarga suami. Sejak tinggal di Swedia, ini acara Funeral kedua yang gue hadiri. Yang satu meninggal karena bunuh diri dan yang satunya lagi karena sudah lanjut umur (hampir 100 tahun).

Jelas sekali perbedaan tradisi yang gue lihat. Apalagi jika harus membandingkan dengan acara kematian di adat Batak. Kenapa harus Batak? Ya karena darah yang mengalir di tubuh gue seratus persen batak. Lahir dan tumbuh besar dari keluarga yang masih menjunjung tinggi nilai nilai budaya batak. Sebuah suku dengan adat istiadat yang sulit dan kompleks.

Orang batak sehari harinya tidak bisa lepas dari adat. Seumur hidup, harus siap membayar adat. Bahkan kadang, tersirat kalau urusan perut menjadi nomor sekian, demi menjunjung tinggi nilai adat. Seringnya adat memanggil, dan sesering itu pulalah uang mengalir keluar!

FullSizeRender (34).jpg

Nikah pakai adat, anak lahir pakai adat, anak dewasa secara gereja pakai adat, lulus sarjana juga pakai adat, memberangkatkan anak ke perantauan kadang pake adat, memasuki rumah pakai adat, sampai puncaknya, di saat kematian pun, suku batak tetap menjalankan adat. Dan itu terbilang sangat fantastis. Baik dari segi waktu, tenaga maupun dana yang dikeluarkan. Ketika semua itu harus gue bandingkan dengan peristiwa kematian di Swedia, maka inilah yang bisa gue simpulkan.

A. MENINGGAL DENGAN SEBUAH GELAR

Ketika orang  batak meninggal, dan  meninggalkan satu atau beberapa orang anak, dan semuanya sudah berumah tangga, memiliki cucu bahkan cicit, maka yang meninggal tadi diberi gelar “SAUR MATUA”.

Saur Matua artinya meninggal sempurna secara duniawi. Sebagai orang tua, dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Membesarkan, mendidik hingga menghantarkan anak anaknya sampai ke jenjang pernikahan. Dan semasa hidupnya pun, kebahagiannya dianggap sempurna, karena sudah memiliki cucu bahkan cicit. Sehingga kematian seseorang yang Saur Matua, bukan lagi  sekedar cerita sedih semata, tapi ada unsur suka cita dan bangga di dalamnya. Terutama bagi seluruh keturunannya, karena memiliki orang tua yang sehat, panjang umur dan meninggal di usia yang relatif tua.

Sebaliknya, jika seseorang meninggal dunia tetapi belum berhasil menikahkan seluruh anak anaknya, maka gelar yang diberikan padanya adalah “SARI MATUA”.

Di Swedia? Dipastikan tidak ada memakai embel embel gelar seperti di atas. Jika seseorang meninggal dunia, baik tua, muda, belum menikah atau sudah menikah, memiliki cucu atau cicit, sama saja. Tidak ada bedanya.  Tidak ada yang spesial. Tidak ada perbedaan prosesi funeral. Meninggal sama artinya dengan:  dikebumikan tanpa adat yang melelahkan.

B. PENGUBURAN JENAZAH RELATIF LAMA

Sudah  bukan rahasia umum lagi, jika acara kematian di adat batak memakan waktu yang lumayan lama. Bisa berhari hari, bahkan berminggu. Apalagi jika meninggal dengan gelar Saur Matua tadi. Selain karena menjalankan adat penuh, faktor kehadiran anggota keluarga pun bisa menjadi alasan.  Jadi jangan heran, jika penguburan jenazah bisa saja diperlama hanya karena menunggu kehadiran anggota keluarga di perantauan.

FullSizeRender (37).jpg

Di Swedia? Ternyata lebih lama lagi!  Bisa dua atau  tiga minggu terhitung sejak tanggal kematiannya. Bedanya, jenazah lama dikubur bukan karena alasan adat, melainkan karena harus menunggu tanggal yang tepat untuk acara Funeral. Tidak ditangisi dan tidak juga dilihat sama sekali. Tidak ada prosesi acara apapun terkait jenazah, sampai funeral tiba waktunya. 

C. FULL ACARA ADAT

Di suku batak, acara kematian seseorang sangat kental dengan unsur adat. Selama jenazah belum dikebumikan, setiap hari adatnya berjalanBernyanyi, mengangkat jenazah ke tempat tidur, manortor, kemudian memasukkan jenazah ke dalam peti mati, sampai mengeluarkan peti jenazah ke luar rumah. Diletakin di tengah halaman dan dikelilingi sambil menari (manortor). Semua ritual di atas tidak dilakukan dalam sehari. Tapi berhari hari sesuai lamanya acara adat. Dan itu sangat sangat melelahkan. Energi terkuras. Kurang tidur sudah pasti.

Di Swedia? Selain tidak mengenal acara adat, jenazah tidak pernah dibawa pulang ke rumah, melainkan disimpan di rumah sakit. Dan begitu tiba waktunya, jenazah akan dibawa ke acara Funeral. Acara Funeral pun berlangsung sangat cepat. Hening dan tidak crowded.

FullSizeRender (32).jpg
Dari Dia dan akan kembali ke Dia 🙂

Jika orang batak lebih banyak mengurus sendiri prosesi adat dan pemakaman, maka di Swedia bisa memilih. Mengurus sendiri atau menggunakan jasa lembaga pemakaman. Dan kebanyakan memang menggunakan jasa pemakaman untuk mengurus segala sesuatunya. Mulai dari pemesanan peti jenazah, bunga, iklan di koran, makan jika ada, singer, dll. Jadi anggota keluarga tinggal tenang. Tidak ada wajah wajah lelah, kurang tidur atau apalah, karena sibuk mempersiapkan ini itu. Apalagi menjalankan adat berhari hari.

D. ORANG YANG DATANG MELAYAT SANGAT BANYAK

Orang batak terkenal akan eratnya hubungan pertalian kekerabatan. Kasarnya nih, yang tadinya tidak ada ikatan persaudaraan, kalau talinya ditarik paksa jadinya bersaudara juga. Jadi tidaklah heran, jika di sebuah acara kematian suku batak, yang namanya pelayat hingga ratusan orang itu sudah hal biasa. Apalagi di puncak acara adatnya. Buanyaaakkkkkk banget!

Di Swedia? Malah sebaliknya. Orang yang datang melayat relatif sedikitBahkan kadang, tidak ada satu orang pun yang datang melihat. Apalagi jika semakin tua, semakin tidak ada yang datang. Terbalik banget dengan orang batak yang meninggal Saur Matua. Yang melayat malah makin mengguncang bumi.

FullSizeRender (33).jpg
Di sebuah acara funeral. Cuma berlima. Beda banget dengan suasana di acara kematian suku batak yang ramai.

Bahkan, ketika seseorang meninggal dunia di Swedia, tetangga sebelah rumah pun belum tentu datang melayat. Kalau sampai hal ini terjadi di acara kematian orang batak, sudah panjanglah bahasan urusan etika dan norma norma kehidupan.

E. TANGISAN MEMILUKAN

Buat gue, menangis di sebuah acara kematian batak, merupakan momen yang sangat memilukan. Sampai ke ulu hati. Mengapa? karena sebagain besar tangisan orang batak cenderung sangat ekspresif. Sangat emotional. Tidak cukup dengan isak tangis dan air mata saja. Mereka menangis sambil berbicara, mengeluarkan kata kata dari mulutnya. Seperti kesedihan yang tertumpah dari dalam hati. All out sekali. Mereka menangis dengan sebuah ungkapan. Tindakan ini dikenal dengan istilah Mangandungi (Menangisi jenazah sambil mengeluarkan kata kata, bahkan ada yang sambil bernyanyi).

FullSizeRender (34).jpg

Jika seseorang Mangandungi, biasanya yang lain akan terbawa suasana. Dan akhirnya sama sama menangis. Dan ruangan pun tiba tiba penuh dengan suara tangisan campur jeritan.

Di Swedia? Beda jauh! Suasananya sangat formil dan hening. Nyaris tidak terdengar suara tangisan apalagi jeritan. Kalaupun ada, sebatas isakan. Tidak sampai mengeluarkan kata kata yang menyentuh. Biasanya di acara Funeral, selain bernyanyi, kebanyakan acara diisi dengan diam semata. Seperti mengheningkan cipta. Mengingat kembali kenangan dengan yang meninggal. Biasanya, pada saat inilah mereka meneteskan air mata. Khususnya dari keluarga inti. Namun meskipun cuma isak tangis yang cenderung tertahan, suasana hening juga mampu menyeret emosi.

Gue pribadi sangat sedih, ketika mengikuti acara Funeral salah satu kerabat. Tidak ada orang di dalam gereja. Cuma berlima bareng suami dan tiga kerabat lainnya. Bagi gue keadaan itu lumayan membangkitkan rasa pilu. Ketika meninggal di usia tua, tidak ada handai tolan yang melihat.

F. BIAYA KEMATIAN RELATIF BESAR

Yup, biaya kematian suku batak memang relatif besar. Kebayanglah, acaranya saja berhari hari bahkan sampai berminggu. Orang yang datang pun jumlahnya hingga ratusan. Dan setiap hari, para pelayat harus diberi minum, diberi lapet (kudapan khas batak), diberi kacang. Berapa kilogram gula dan kopi yang dibutuhkan setiap harinya.

Biasanya juga, keluarga akan memotong satu ekor anak babi ukuran kecil. Dimasak dan diberi kepada orang orang yang menjaga mayat semalam suntuk. Kebayang kan setiap hari motong satu ekor babi. Dan puncaknya adalah, ketika yang meninggal dunia sudah Saur Matua, seekor kerbau besar pun siap dipotong. Satu ekor kerbau! Hitung saja harganya 🙂

FullSizeRender (33).jpg
Mawar merupakan bunga yang wajib ada di sebuah acara funeral di Swedia.

Pihak keluarga harus menyiapkan uang di dalam amplop, dibagi bagikan kepada handai tolan yang hadir. Besar kecilnya tergantung kesuksesan ekonomi mereka. Biasanya, acara membagi bagikan uang ini dianggap juga sebagai salah satu bentuk prestise di sebuah acara kematian adat batak. Semakin besar nominalnya, dianggap keturunan yang meninggal semakin memiliki prestise luar biasa. Oalaaa mak! udalah kemalangan harus ngeluarin uang pulak!

Belum lagi berbagai dana untuk dokumentasi pribadi, mulai dari seragam keluarga, biaya salon, album photo, liputan video sampai musik. Jadi jangan kaget, jika biaya kematian di suku batak bisa melebihi biaya perkawinan. Puluhan bahkan ratusan juta juga bisa.

Kalau tidak punya uang? Ya tetap jalan. Dengan membuat acara yang paling STANDARD. Tapi tetap aja, jatuhnya mahal juga. Maka tidak sedikit yang pusing setelah acara pemakaman selesai. Bayar tagihan kiri kanan. Jual emas bila perlu. Demi jalannya sebuah adat kematian. Sigh!

FullSizeRender (36).jpg
Peti jenazah di Swedia. Untuk satu peti jenazah kayu ini, bisa mencapai 40 juta rupiah. Mahal!

Di Swedia? Ternyata biayanya pun jauh lebih mahal! Kalau di suku batak, selain biaya lainnya, biaya kematian menjadi mahal karena jumlah pelayat yang sangat banyak. Dan otomatis berpengaruh ke urusan catering dan tetek bengek yang gue sebut di atas. Nah, di Swedia malah sebaliknya.

Mahalnya biaya funeral bukan karena banyaknya pelayat yang datang, melainkan karena pengeluaran biaya untuk hal hal seperti iklan di koran (biaya iklan ini memang lumayan mahal), peti jenazah (bisa mencapai puluhan juta), bunga mawar, musik dan solois jika diperlukan, biaya makan untuk segelintir orang, biaya jasa perusahaan yang mengurus persiapan Funeral dari awal hingga akhir.

Dan untuk semua itu, biayanya bisa mencapai 70 juta rupiah. Meskipun memang, biaya ini sifatnya relatif dan tidak harus. Tergantung kesanggupan ekonomi pihak keluarga.

FullSizeRender (36).jpg
Jika memungkinkan dan keluarga sanggup, setelah funeral selesai, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Baik itu untuk keluarga inti  saja maupun para pelayat. Tergantung kebijakan pihak keluarga. Jadi TIDAK HARUS!
fullsizerender-37
Di suku batak, memberi makanan kepada pelayat wajib hukumnya. Bedanya, penataan tidak seformil ini. Cenderung crowded. Wajar saja,   sudah ratusan orang yang diberi makan. Makanan pun biasanya sudah dijatah di piring.
FullSizeRender (32).jpg
Acara makan bersama setelah funeral

Di Swedia, jika yang meninggal merupakan anggota tetap gereja, dan ingin menjalankan funeral secara liturgi kristen, mereka tidak dikenakan biaya atas penggunaan gedung gereja dan jasa pendeta. Lantas, jika bukan anggota tetap gereja bagaimana? Biaya penggunaan gedung gereja dan jasa pendeta menjadi relatif mahal. 

Sedangkan bagi anggota tetap gereja yang ingin menjalankan funeral secara liturgi kristen tapi tidak memiliki dana, biasanya pemerintah akan memberi bantuan biaya. Biaya untuk sebuah acara funeral yang sangat simple. Tidak ada iklan di koran, tidak ada acara makan bersama, hanya musik gereja tanpa singer, peti jenazahnya pun terbuat dari kayu biasa

Dan bantuan dari pemerintah ini  hanya berlaku kepada anggota tetap gereja saja. Karena mereka membayar pajak ke gereja setiap tahunnya.

G. RATA RATA UKURAN MAKAM SANGAT BESAR

Selain berukuran kecil (layaknya pemakamaman pada umumnya), bangunan makam di kampung batak juga memiliki ukuran yang sangat besar dan mewah. Meskipun begitu aura magis dan horornya tetap berasa.

Satu bangunan makam berisi peti jenazah dari anggota keluarga yang sudah wafat terlebih dahulu. Setelah acara kematian, jenazah dimasukin ke dalam bangunan makam. Jadi tidak dikubur ke dalam tanah. Dan biasanya, pemakaman besar seperti ini cenderung menggunakan tanah adat ulayat. Bisa di sebelah rumah atau di lingkungan desa.

FullSizeRender (32).jpg
Kawasan makam di halaman gereja. Cantik dengan berbagai tumbuhan bunga.

Di Swedia? Dipastikan tidak ada bentuk bangunan kuburan seperti ini. Semuanya sangat simple dan kecil. Horor? Tidak! Jauh dari kesan magis dan menyeramkan. Sebaliknya terlihat nyaman, cantik dan fotogenik. Bertabur tumbuhan bunga di sekitarnya.

Kalau di Batak, bangunan makam bisa diisi dengan peti jenazah dalam jumlah yang banyak, maka Swedia hanya memperbolehkan maksimal empat peti jenazah untuk satu liang lahat. 

Bagaimana jika lebih? Biasanya dikremasi. Sedangkan tanah pemakaman yang digunakan pun, tidak bisa sembarangan. Melainkan sudah ditentukan oleh pihak pengelola gereja. Di Swedia, lembaga administrasi gereja merupakan pihak yang dipercaya pemerintah dalam mengelola tanah makam dan urusan kematian semua warga. Tidak terpaku pada agama kristen saja.

Nantinya tanah makam akan dibagi menjadi dua jenis, satu untuk semua warga tanpa melihat jenis agamanya dan satu lagi tanah makam khusus bagi anggota tetap gereja (atau minimal beragama kristen). 

fullsizerender-32
Sebuah gereja mungil di desa gue. Halaman sekitar gereja yang asri digunakan sebagai tempat pemakaman 

img_4332

Setiap warga berhak mendapat layanan kematian di kemudian hari. Contohnya seperti tersedianya lahan makam, acara penguburan yang dilakukan lembaga pengelolaan gereja (jika yang bersangkutan tidak memiliki keluarga atau sebatang kara).

Itulah sebabnya, setiap warga Swedia yang sudah bekerja, wajib membayar pajak kematian setiap tahunnya, sebesar 0,32 persen dari total penghasilan, yang dikenal dengan  sebutan Begravningsavgift.

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

 

 

 

Belanja Diskonan, Hemat Apa Boros?

Siapa yang suka belanja….ayo tunjuk tangan……!!!😎

Kalau gue termasuk orang yang lumayan doyan belanja. Tapi doyannya tergantung mood. Jadi semisal lagi musim diskon, kalau mood belanja lagi tidak oke, tidak terlalu ngaruh. Cuma kebanyakan sih moodnya bagus…..Hahahaha…ya sama aja😛

Jadi ceritanya, salah satu retail store besar dan terkenal di Swedia akan menutup branch storenya di kota Mora. Alasan penutupan dikarenakan perusahaan membuat kebijakan baru. Kota kecil seperti Mora sudah tidak masuk dalam klasifikasi usaha mereka lagi. Dengan kata lain, mereka hanya mendirikan usaha di kota kota besar. Mungkin benefit yang diperoleh sudah tidak memenuhi standard usaha.

Gue termasuk salah satu yang menyayangkan kebijakan tersebut. Bukan apa apa, setiap minggu gue pasti ke Mora, dan hampir selalu menyempatkan waktu untuk masuk ke dalam store ini. Suasananya lebih nyaman dibanding saingan usahanya yang satu lagi, yang sudah menjelajah kemana mana hingga ke Indonesia.

Selain lebih luas, penataannya pun lebih rapi dibanding store sejuta umat yang satu itu. Tidak hanya pakaian dan alat kecantikan saja, peralatan rumah tangga pun lumayan lengkap dijual. Dan enaknya lagi, di lantai dua gedungnya, ada restoran asia. Jadi sehabis makan, bisa cuci matalah ke dalam, dan begitupun sebaliknya.

Walaupun kebanyakan ga beli apa apa. Lumayan sambil nunggu jadwal bus atau dijemput suami, bisa jadiin sebagai tempat persinggahan.

Info yang gue dengar, resminya bulan Pebruari ini ditutup. Tapi sejak beberapa bulan yang lalu, mereka sudah mulai melakukan aksi diskon untuk item item tertentu. Itupun cuma 10 sampai 20 persen. Di saat Black Friday, seingat gue, mereka hanya memberi diskon 30 sampai 50 persen. Dan lagi lagi hanya untuk barang barang tertentu juga. Intinya waktu itu gue tidak terlalu interestlah.

Namun,  pas gue berkunjung di tanggal 1 Pebruari kemaren, gue lumayan kaget. Store kelihatan sudah mulai kosong. Beberapa rak yang biasanya menempel di dinding sudah tidak ada. Dan gue pun melihat tulisan diskon 50 persen bergantungan dimana mana. Awalnya gue masih biasa. Barulah mulai korslet, begitu tau diskonnya berlaku untuk semua item.

IMG_2875.JPG
Suka formula lipsticknya

All item,  mendengar ini sudah jelas membuat  gue happy. Artinya gue berkesempatan bisa membeli barang yang memang gue perlu. Dan kebetulan pula, gue memang harus membelinya karena persedian sudah mulai menipis. Sepertinya baru ini deh gue benar benar menikmati belanja diskon. Di saat Black Friday dan Mellandagsrea pun, kadang gue belum tentu datang atau tidak membeli apa apa.

Dan enaknya lagi, sepertinya harga diskonnya murni dari harga awal. Tidak diakali lebih dulu. Memang sih, secara pastinya gue ga tau. Tapi kebetulan barang yang gue lihat dan beli, tidak mengalami perubahan harga. Gue lumayan ingat harga awalnya.

IMG_2867.JPG
Nyoba beli Max Factor, gue kurang suka. Apalagi eyeshadownya beneran ga enak dipake.

Trus beli apa saja? Pastinya gue membeli yang memang harus gue beli. Seperti  body butter, facial soap dan Night Cream. Tadinya sempat maruk deh, pengen beli masing masing dua. Tapi buat apa coba, yang ada malah kadaluarsa. Pokoknya lumayanlah dapat diskon 50 persen. Berasa hematnya. Kebetulan suami juga lagi nyari topi dan hatbanie, pas pula ada yang cocok. Lumayan juga kan.

Sepertinya kosmetik kecantikan dan parfum menjadi sasaran empuk dibanding pakaian dan sepatu. Apalagi brand seperti Clinique, Clarins, Lancome, Biotherm, Bare Minerals, ketika cuma bayar setengah harga, itu berasa banget (terutama bagi pengguna produknya, yang memang continue akan membeli kembali).

IMG_2870.JPG
Sebagian yang terbawa pulang, dan masih ada lagi ….hahahha aku wanita…

Enaknya lagi, untuk item tertentu yang sudah mendapat diskon 70%, tetap mendapat diskon tambahan sebesar 50%. Seperti dress, syal dan slippers shoes. Bahannya lumayan baguslah. Sayang baju dressnya ga cocok di badan gue. Meskipun jatuhnya jadi murah, kalau tidak cocok ngapai dipaksalah. Belinya pake uang juga kan.

Ketika dihadapkan pada euforia seperti ini, di satu sisi gue merasa lebih hemat karena membeli barang yang memang harus gue beli dengan harga yang sangat bersahabat. Hematlah.

Tapi di sisi lain, sadar atau tidak, jadi terbawa hasrat belanja yang berlebih juga. Membeli karena lapar mata “sayang banget ga dibeli, kapan lagi bisa merasakan diskon all item kaya gini” (bisikan  halus yang datang dari seluruh penjuru store)☠️👻👽

Apalagi jika barangnya lumayan lama diincer tapi malas lihat harganya. Contohnya seperti label Wera Stockholm yang menjadi brand lokal store ini. Sebagai penggila syal, gue sudah lama ngincer beberapa syalnya. Tapi malas aja ngeluarin duit hampir 700 Sek hanya untuk sebuah syal. Begitu tau diskon 50%, langsunglah tergiur. Entahlah mak. Belum lagi jadi merembet kemana mana. Ini bagus, itu bagus, ahhh jadi murah (ngomong ama diri sendir waktu itu). Kalap beneran. Gue bukan khilaf. Beneran sadar melakukannya. Hahahhaha.😬😣

img_2864
Ini dong lucu. Murah banget. Diskonnya dobel.

Intinya, bisa disimpulkan jika belanja kemaren awalnya pengen menghemat harga, yang ada malah ketindih belanja yang lain. Jatuhnya ya boros juga. Tapi lagi lagi untuk mengobati hati, mikirnya gini “ahhh kalau belanja dengan harga normal, uda berapa  duit”🙈… ya sudahlah, dinikmati saja.

Kalau kalian, punya pengalaman seperti gue ga sih, awalnya pengen hemat yang ada malah tergiur ini itu?

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

Semua photo di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com.

Hej….2017!!

Baru sempat nulis lagi nih. Gimana acara akhir tahun kalian? Gue selalu kangen suasana penutupan akhir tahun di tanah air. Kembang apinya itu loh, membahana sekali. Gue penyuka kembang api soalnya.

Kalau di Swedia, rasa rasanya penutupan akhir tahun biasa biasa saja. Apalagi di kota Mora, sangat seadanya. Ga ada tradisi khusus menyambut Tahun Baru di sini. Paling cuma kegiatan sejuta umat, nyalain kembang api!

fullsizerender

Biasanya, acara kembang api di kota Mora diadakan di tepi danau Siljan. Itu pun masih jauh lebih meriah di Indonesia. Mungkin karena jatuhnya di musim dingin, jadi acara akhir tahun ini tidak terlalu disambut meriah oleh warga Swedia.

Apalagi, Kommun atau Pemdanya ga jelas juga, antara mendukung atau tidak. Seperti tahun lalu, tidak ada kegiatan pesta kembang api dari Pemda Mora, karena sebagian warga Mora protes. Konon katanya, anjing peliharaan mereka pada stress dengerin suara kembang api. *Gerrrrrr…..makin sebel dengan anjing* Meskipun begitu, sebagian warga tetap ga peduli sih, acara dar der dor si kembang api tetap berjalan.

Gue kurang tau pasti, apakah disponsori pemda Mora atau cuma dari kalangan privat saja, yang jelas penutupan akhir tahun 2016 di kota Mora, tetap dimeriahkan dengan letupan kembang api. Lumayanlah ada yang bisa dilihat.

Cuma ya itu, cuaca dingin banget. Dan harga kembang api di Swedia bisa dibilang ga murah. Jadi hanya dipasang tepat pukul 12 malam teng, kurang lebih 10 atau 15 menitlah.  Kalau di tanah air, kadang di sore hari pun kembang api sudah unjuk aksi kan. Bahkan beberapa hari sebelum penutupan akhir tahun, tidak sedikit yang sudah test kedasyatan ledakan. Orang kita duitnya banyak ya 🙂

fullsizerender-10

Sebelum pukul 12 malam, suasana di kota Mora tidak ada yang berubah. Layaknya seperti hari biasa saja. Sepi dan jalanan kosong melompong. Paling beberapa parkiran restoran dipenuhi (ga penuh banget juga sih) oleh mobil, yang menikmati dinner akhir tahun yang diadakan oleh pihak restoran. Beda banget dengan euforia di jalanan Jakarta yang macet super duper itu.

Menjelang pukul 12, barulah tepi danau didatangi warga. Itupun kebanyakan kalangan muda. Yang tuek lebih memilih bermimpi dan mendengkur, diantara hangatnya balutan selimut. Zzzzzzzzzzz sambil ileran.

Awalnya suami malas malasan melihat kembang api ke kota Mora, malah dia bilang mending beli kembang api aja seperti dua tahun sebelumnya, pasang sendiri di rumah. Berhubung gue merengek, terpaksa hayuuu. Dan kebetulan pula, ada undangan dinner dari teman baik suami di tanggal 31 Desember itu. Makin cocoklah.

Ohya, 2017 ini, gue dan suami punya rencana untuk hidup lebih sehat. Bolehlah ya sekedar wacana. Perkara direalisasikan atau tidak ya lihat nanti. Toh ga ditangkep polisi ini kan. Tapi susah juga sih, secara gue doyan makan dan suka masak. Seperti kata suami, salahnya di gue, kenapa masak enak terus. Hahahaha. Banyak sih mimpi gue di tahun 2017. Kebanyakan mimpi jalan jalan maksudnya. Dasarlah.

Psssstttttt…..ini enak banget loh!!

img_9466
Kembali serius ke dapur setelah eneg dengan makanan natal
IMG_9463.JPG
Masaknya borongan, jadi besok ga masak lagi hahaha
FullSizeRender (11).jpg
Ini yang namanya resolusi 2017? Entahlah :0

Okelah, Happy New Year buat teman semua. Semoga 2017 membawa keberkahan buat kita. God Bless You All.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com.

Kenapa Belum Fasih Berbicara Svenska?

Gue ga suka pertanyaan ini!

Dan menurut gue tidak perlu dipertanyakan juga. Tapi kadang kadang, ketika kita merasa sudah mampu, suka lupa, kalau orang yang diberi pertanyaan bisa saja merasa tidak nyaman. Awalnya hendak memberi motivasi tapi berujung bablas. Privacy orang lain terbawa bawa, yang akhirnya membuat orang lain tersinggung. Yakinlah, setiap orang sudah memiliki rencana dan tujuan hidup. Kalau mereka harus melakukan yang ini, ataupun tidak melakukan yang itu, mereka sudah punya alasan yang kuat.

Sebenarnya kegiatan hari ini cukup membuat gue senang. Jalan ke kota, massages, makan siang di restoran China kesukaan, cuci mata kiri kanan walaupun tidak membeli apa apa. I love my simple life. It’s true! Dan gue bahagia.

Namun apa daya, harus terusik dan rusak, serta membuat mood gue berantakan, akibat pertemuan yang lagi lagi tidak gue harapkan sebenarnya. Pertemuan untuk kesekian kalinya, dengan seorang wanita paroh baya asal negara F. Menurut beliau, sudah 20 tahun stay di Swedia.

Gue ga ngerti ada apa dengan wanita ini. Setiap bertemu, selalu menyinggung tentang kesanggupan gue berbahasa Svenska. Mulai dari awal bertemu, entah mengapa gue sudah feeling not good dengan ini orang. Mungkin juga karena gue tipikal orang yang lumayan susah berhahahihihi dengan orang yang belum gue kenal. Atau berbasa basi merupakan kegiatan yang lumayan berat dalam hidup gue. Itu sebabnya sampai sekarang, sekalipun belum mempunyai teman baik di Swedia, buat gue so far so good. No problem. Sepanjang bisa internetan, malah waktunya kurang cukup, meskipun cuma gue habisin di dalam rumah. So…apakah dengan begini, lantas bisa dibilang hidup gue membosankan? Cuma wasting time?

Dan puncaknya adalah pertemuan hari ini. Masih di tempat yang sama, di halte bus. Dan seperti biasa, tanpa basa basi dia menanyakan kapan gue akan kembali melanjutkan sekolah. Ada apa sih? Jujur, gue sudah mulai gerah dengan pertanyaannya. Apalagi ketika ditanya, tidak bosan di rumah? hanya buang buang waktu? Tidak bertemu orang lain? apakah kamu ga ada niat bekerja? bagaimana kamu bisa kerja kalau bahasa Svenska kamu belum lancar?

Rasanya pengen gue bilang, kerja bukan prioritas utama gue saat ini. Percayalah, jika kalian di posisi gue, rasanya ga enak banget di cecer pertanyaan seperti itu. Apalagi pertanyaan itu terlontar dari orang asing. Gue kaga kenal!  Dan yang membuat gue makin nyesek, mimik mukanya kok terkesan greget, sambil lanjut bilang “Saya cuma berusaha kasih masukan aja, karena hal ini penting banget buat kamu. Dan kamu harus punya masa depan di Swedia. Whaaaaaattt?

Hey mom, masa depan gue di Swedia adalah ketika gue memutuskan menikah dengan suami gue! Dengan segala perngorbanan yang besar! Ninggalin karir dan keluarga. Bukan dari transferan gaji setiap bulan ketika gue bekerja di negara ini. Yang notabene untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu gue harus bisa berbahasa Svenska. Trus kalau tidak bekerja, apa lantas gue tidak punya masa depan? trus lagi, apa setiap orang yang hijrah ke negeri orang wajib bekerja? wajib banting tulang? wajib cepat cepat sekolah supaya mahir bicara dan gampang cari kerja? Maaf kalau gue harus bilang bukan itu tujuan utama gue datang ke negara ini.

Semua juga butuh waktu dan proses. Dan setiap orang memiliki latar belakang, tujuan dan alasan yang tidak sama, ketika memutuskan meninggalkan kampung halaman. Jangan disamaratakan. Well, di usia gue yang mendekati 45 tahun, separoh hidup gue, gue habiskan banting tulang di Jakarta. Gue bukan seorang yang pemalas. Bangun subuh, pergi pagi dan pulang malam. Macet dan dan capek!

Dan ketika gue memutuskan menikah dengan suami yang nota bene harus membawa gue menyebrang benua, apa iya, gue melangkah jauh dari keluarga tanpa memikirkan matang matang seperti apa hidup gue nantinya di Swedia? Apa iya, gue ga paham betul seperti apa latar belakang suami gue? Dan kalau akhirnya gue dan suami sepakat, mencari pekerjaan bukanlah prioritas utama gue di Swedia, dengan kata lain GUE MALAS CARI KERJA, KARENA GUE SUDAH CAPEK KERJA SELAMA di JAKARTA!  Apa gue salah?  Toh belajar Svenska bisa kapan aja kan. Berbicara  English pun rasanya oke oke saja, polisi Swedia ga nangkap gue. Kecuali ada keperluan mendesak yang mengharuskan gue sekolah lagi, ya lain cerita.

Dan ketika orang lain harus bekerja keras di negara orang, kemudian di sisi lain ada orang yang sangat easy going, kaga kerja, kaga sekolah, lantas disebut tidak memiliki tujuan dan kualitas hidup? batasan penilaian seperti ini darimana meniliknya? Rasanya inilah yang gue simpulkan dari ucapan dan mimik wajah si nyonya. Tidak terlalu susah kok membaca bahasa tubuh seseorang. Ada hawa sensitif yang gue tangkap. Mungkin dia lagi kecewa.

Gue tidak pernah memungkiri, belajar bahasa itu penting. Gue juga bukan di posisi yang bahagia banget sampai saat ini belum memiliki kemampuan berbicara Svenska yang baik. Tapi setidaknya gue sudah pernah sekolah juga, dan gue punya alasan yang kuat, yang rasanya orang lain ga perlu tau kan, kenapa gue tidak melanjutkan sekolah lagi. Apa rencana gue ke depannya? Dan yang jelas, gue baru dua tahun di Swedia, masih pengen santai, ga mau mikir berat berat, lantas salahkah?

Beda orang ya beda juga rencana dan tujuan hidupnya. Kalau mau belajar giat silahkan, kerja keras silahkan, mau di rumah aja silahkan, mau malas malasan silahkan. Biarkan orang lain dengan pilihannya. Dan kita dengan pilihan hidup kita. “Dan kalau mau memberi nasehat, ucapkanlah tanpa harus menghakimi. Jangan sampai membuat orang lain tidak nyaman, apalagi tersinggung” 

Dan satu lagi, tanpa fasih berbahasa Svenska pun, hidup gue ga hancur kok. Masih bisa berdiri gue. Terus kalau sebagian besar waktu gue habisin di rumah, so what? Sungguh gue menyayangkan ketika ada orang lain yang sepertinya lebih tau hidup gue daripada gue sendiri. Jangan sampai gue memiliki sikap yang sama dengan beliau.

Bahagia dan pahitnya hidup, takarannya berbeda bagi setiap orang. Buat orang lain, sekolah dan sekolah lagi adalah nikmat yang tiada tara, buat gue ga, cukup sampai S1 saja. Buat orang lain rumah kotor itu ga masalah, buat gue jadi masalah. Buat orang lain musik klasik itu nyebelin, buat gue nyenengin. Dan masih banyak lagi….bla bla bla! Namun perbedaan itu tidak lantas membuat gue harus memaksakan orang lain melakukan kegiatan dan selera yang sama dengan gue kan.

Sepertinya si nyonya itu kurang piknik, sehingga dia terlalu letih, sampai tidak bisa mengontrol bicaranya. Akhirnya dia menganggap gue seperti seorang perempuan tamat SMA yang akan memulai bangku kuliah. Anak kuliah pun gue rasa malas dapat perlakuan seperti ini. Ahhhh…menyebalkan sekali.

Mora, 18.10.2016

“Gue memang lagi kesal”

img_8275