Ketika Vlogger Mengeksploitasi Kata “Bule”. Segitunyakah?

Gue adalah salah satu orang yang lumayan suka menonton youtube. Dan sebenarnya gue ga terlalu memilih milih tema apa yang harus gue tonton. Jadi apa yang muncul di time line youtube dan sekiranya menarik ya gue akan coba tonton.

Seperti menonton hot news di tanah air, resep, kecantikan, gosip artis dunia dan tanah air, mantengin orang korea makan secara brutal, mukbang enak, dan yang terakhir adalah tayangan vlog.

Nah yang terakhir ini yang akan gue bahas…

Sebenarnya gue tidak terlalu rutin menonton vlog. Apalagi dari beberapa tayangan vlog yang gue tonton, rata rata temanya sama. Daily Vlog yang isinya itu lagi dan itu lagi. Bersihkan rumah, masak kilat lalu makan, ngantar anak sekolah, belanja, Q&A. Seputaran itulah. Dan lucunya, tema ini seolah olah sudah mendarah daging. Tapi mau gimana lagi, namanya juga daily vlog. Pastinya tentang keseharian. Cuma jujur saja gue bilang, nilai edukatifnya kurang (menurut gue). Tak sedikit para vlogger yang lebih mengejar kuantitas tayang daripada kualitas. Sekalipun cuma daily vlog, bukan berarti hanya nampilin nyapu rumah, nyetrika, masak. Karena keseharian ga melulu cuma kegiatan itu kan. Maksud gue seperti itu.

IMG_1970.jpg

Menurut gue, tidak ada yang salah dengan daily vlog. Asalkan sesekali adalah informasi yang menambah wawasan penonton untuk bisa disampaikan. Misalnya ketika sarapan, alangkah lebih baik menyelipkan cerita tentang kebiasaan sarapan di wilayah negara mereka tinggal seperti apa. Misalnya seperti di Swedia, mereka mostly sarapan pakai smögås (sandwich ala Swedia) atau fil, sejenis yogurth tradisional asal Swedia dan bukan greek yogurth. Mereka tidak langsung minum kopi, tidak sarapan dengan donat atau cake. Ga minum coklat hangat. Kira kira begitulah.

Atau apa kebiasaan orang orang di sekitar mereka kalau musim panas tiba. Yang simple aja. Ya ga perlu cerita yang berat berat. Karena namanya juga merantau di negara orang, pasti menemukan yang namanya culture shock. Dan itu bisa jadi cerita menarik. Bisalah diselipin dalam sebuah video daily vlog.

Jadi tidak melulu hanya menampilkan muka bangun tidur yang disorot kamera. Ujuk Ujuk ke dapur dan sarapan di meja. Jadi kasarnya penonton hanya liatin mereka sarapan. Ada kucing lewat, kucingnya diajak ngomong. Anaknya nangis ga henti juga terpampang nyata di video. Adakah yang menonton tayangan yang cuma begitu? ya ada. Faktanya malah banyak.

Masyarakat kita justru tak sedikit yang tertarik melihat isi vlog seperti itu. Sekalipun para vlogger ini bukanlah tokoh ternama atau public figure. Bayangkan hanya  untuk sebuah tayangan video berjudul “Hari Ini Pasang Gorden di Kamar Tidur” vierwsnya bisa langsung ribuan dalam hitungan jam. Dasyat kan. Padahal cuma pasang gorden loh. Catet…………………Pasang Gorden (itu sudah gue bold ya). Untung pas pasang gorden sempak kolor beha ga berserak. IMG_1941.jpg

Dan ada beberapa vlogger yang terkesan hanya mengejar jam tayang. Sadar atau tidak, ada kepentingan keluarga yang terlalu terekspos. Tak sedikit anak yang terlihat tidak mau lagi direcord. Mungkin lelah harus tampil lagi dan lagi di dalam video. Mulai dari pasang muka manyun hingga terang terangan bilang ga mau. Tapi record on terus demi sebuah target tayang. Sehingga kemunculan para anak anak ini menjadi sangat dominan di dalam tayangan video. Atau memang disengaja menjadi nilai jual sebuah konten saya juga kurang paham. Golongan anak bule blasteran yang imut menggemaskan. Dan itu tak bisa disangkal. Para subscriber memang lebih suka menonton keluarga komplit seperti ini. Suami bule yang ganteng dan anak yang imut. Bebas memilih toh?

Ada salah satu vlogger yang gue lihat lumayan menjaga privacy keluarganya. Jadi dia lebih suka menampilkan dirinya sendiri dalam bentuk video mukbang. Dan ditanya dong, suaminya mana? Ada anak ga? Mertuanya mana? Sesekali ditayangin dong!

Meski si vlogger ini sudah mengklarifikasi bahwa dia tidak akan pernah menampilkan anggota keluarganya, tetap saja kurang dimengerti. Bahkan ada yang lama lama membully. Dibilanglah suaminya ga cinta, dibilanglah malu menampilkan suaminya karena sudah tua. Sadis!

Sebegitu pentingkah? Inilah kenyataan yang ada. Gue ga abis pikir, sebegitu spesialnya sosok bule di mata mereka seolah olah bule adalah sosok langka yang super lezat untuk ditonton atau mungkin juga mahluk tampan dari planet jadi jadian.

Dan hebatnya lagi ketertarikan para subscriber akan sosok kehidupan keluarga bule ini dipandang jeli oleh beberapa vlogger yang bersuamikan bule (meski tidak semua). Dibuatlah judul judul dramatis yang hampir semua kontennya menggunakan kata “Bule”.

“Suami Bule Makan Jengkol, Suami Bule Bisa Makan Pedas, Suami Bule Makan Pete, Suami Bule Makan Durian, Suami Bule Makan Ikan Asin, Anak Bule Makan Ayam Goreng, Mertua Bule Makan Kolak Pisang, Jalan Jalan Bareng Mertua Bule”. 

Semua pakai kata “Bule”. Suami bule, mertua bule, anak bule, saudara bule, teman bule, kantor bule, ………buleeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!

IMG_1841.JPG
Foto tidak ada hubungan dengan cerita…

Belum lagi tayangan para suami bule menyantap makanan Indonesia. Makanan mana justru sering diintolerir dalam kehidupan nyata dunia per-bule-an. Suami Bule doyan Ikan Asin, suami bule doyan jengkol, suami bule doyan pete, suami bule doyan terasi, suami bule doyan durian. Judulnya “doyan” loh. Bukan sekedar “mencoba makan”. Bule canggih.

Kalau dibuat judul judul sedemikian, jelas sangat menarik minat subscriber untuk menonton. Gilaaaaaak…bule makan ikaan asin brorr!

Atau meski baru bisa mengucapkan satu dua kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah (itupun gagap dan harus mengulang beberapa kali setelah diajari), judulnya dong langsung “Suami bule mahir ngomong Indonesia, atau mahir ngomong Jawa, atau fasih ngomong batak. Mahir dan fasih itu artinya berbeda dengan bisa. Kalau mahir konotasinya sudah lancar berbicara dalam beberapa kalimat tanpa harus diajari lagi. Tapi itulah trik menulis judul bombastis. Click Bait yang mampu menarik perhatian netizen untuk menonton. Target penonton pun tercapai. Tapi buat gue sih ini lumayan sontoloyo dan terlalu berpura pura (sorry to say). Boleh kan beropini? Ga ngajak makar ini.

Ada satu vlogger yang sampai membuat gue geleng kepala. Hampir semua judul kontennya pakai kata bule. Bahkan sangat dramatis. Dan sedihnya itu, rahasia rumah tangganya tercurah habis di dalam tayangan video. Rahasia kelam dan hubungan yang sangat intim. Alih alih ingin berbagi katanya. Di luar sana yang mendengar justru tidak dia dikenal sama sekali. Kadang gue suka mikir, suami dan keluarganya tau ga sih?

IMG_1926.jpg

Tidak ada yang salah dengan ngevlog. Silahkan ngevlog. Banyak juga para vlogger yang memuat konten konten berkualitas dan setidaknya tidak membosankan. Jagalah sedikit privacy di sekitarmu karena di luar sana tak pernah tau berapa banyak predator yang menunggu.

Kalau kalian bagaimana pendapatnya? komen ya!

**************************************

Gue,

Si isteri BULE 🙂

Lagi Suka Videography

Sudah lama saya berkeinginan merekam video dari kamera dan lensa gede seperti Dslr. Kalau cuma merekam sih ga ada masalah. Trus peralatan seperti kamera lensa dan tripodnya juga ada. Persoalannya adalah saya ga ngerti proses mengedit di laptopnya. Hahaha. Duh…beneran angkatan jadul banget saya.

Selama ini cuma bermain di zona aman dan simple. Pakai iphone only. Toh hasilnya juga jernih dan mampu menghasilkan uang yang lumayan karena lolos kualifikasi tayang ke salah satu stasiun tv swasta di tanah air.

Cuma ya itulah, efek rekam dari kamera Dslr itu kan beda ya. Smooth banget. Hingga akhirnya gue iseng iseng nanya ponakan. Ternyata di luar dugaan jago banget dia soal edit mengedit. Gue ga nyangka karena profesi dia kan guru. Gue pikir manalah kepikiran menekuni dunia edit mengedit ya kan. Makanya gue ga pernah nanya dia. Dan entah kenapa tiba tiba jadi nanya ke dia dan ternyata membuahkan hasil.

Dengan segala tingkat kesabaran, diajarilah gue yang awal awalnya sempat nyerah karena merasa edit video di laptop itu lebih riweh. Lamaaaaaaaaaaaaaa! Sampai akhirnya gue merasa bisa dan mulai rileks mengedit setiap rekaman yang gue ambil melalui kamera dslr.

Gue senang banget karena akhirnya berhasil membuat video masak dan baking sesuai keinginan gue. Sejauh ini gue puas dengan hasil rekam dan editannya. Meski bagi orang lain mungkin masih amatiran.

Dan kemaren iseng iseng gue merekam bunga di halaman rumah. Senang banget lihat hasilnya. Pokoknya sekarang lagi ketagihan merekam dan mengeditlah.

Video di bawah adalah salah satu hasil rekaman dan editan gue. Mudah mudahan kalian suka. Oh iya, kasih pendapat ya di kolom komen. Thank youuuuuuuuuuuuuu!

Curhat Cuaca!

Ketika gue datang ke Swedia di tahun 2014 silam, gue merasakan musim semi yang masih dingin. Bahkan hingga musim panas, gue masih sering jaketan. Curah hujan masih teratur datang. Ini berlaku hingga tahun 2017.

Tapi di tahun 2018, panasnya itu ga ketulungan. Panas banget. Awalnya sih gue senang senang aja karena berasa ga ribet dengan jaket dan bisa bener bener menikmati musim panas. Tapi ketika cuaca panas ini membawa dampak hingga blueberry liar di hutan tidak berbuah, kemudian rumput di halaman berubah warna gersang kecoklatan, hingga puncaknya sebagian besar hutan di Swedia mengalami kebakaran besar dan hebat. Membuat gue sedikit cemas melewati musim semi dan musim panas tahun ini. Gue berhadapan dengan alam. Jelas ga bisa gue larang. Ramalan cuaca aja bisa salah ya kan.

IMG_7394.jpg

Musim semi tahun ini lebih aneh. Di bulan April biasanya masih berasa dingin. Tapi tahun ini uda panas banget layaknya musim panas. Sampai sampai desa tempat gue tinggal tidak mengadakan Valborg (tradisi menyalakan api unggun di akhir bulan April). Warga khawatir karena rumput di sekitar terlalu kering. Jadi langsung sadar diri mereka. Bayangin masih bulan April tapi sudah kelihatan gersang kering. Padahal salju yang berbulan bulan menumpuk aja belum lama meleleh. Suhu Panas membuat rumput dan tanah yang tadinya basah oleh salju seketika berubah kering.

IMG_7400 (1).jpg

Dan anehnya lagi bulan Mei lalu si salju kembali turun. Bulan Mei turun salju. Salju di musim semi. Hahaha. Kadang kadang dalam sehari bisa merasakan suhu 4 musim sekaligus. Adem sepoi mirip spring dan autum, panas layaknya summer dan dingin banget layaknya winter.

Sempat selama seminggu lebih suhu kembali ngedrop hingga minus menjelang malam dan subuh. Dan setelah itu tiba tiba panasssss banget. Dan sekarang curah hujan yang turun. Entah mengapa kalau sekarang hujan turun gue senang. Setidaknya tanaman di sekitar ga mati.

IMG_7398.jpg

Dan tau ga…pohon birches di sebelah rumah gue saat ini daunnya sudah menguning. Layaknya musim gugur. Bayangin aja masih musim semi loh. Belum melewati musim panas. Sangkin kepanasannya itu daun pas cuaca panas beberapa waktu lalu. Gue berharap semoga cuaca bumi kembali stabil. Gue trauma kalau sampai hutan kebakaran lagi.

Swedia 2019 

Penggila Jajanan Pasar

Ya Tuhannnnnnnnnnn….!

Blog ini masih ada nafasnya ga sih? Sekian lama ga difeeding…hahaha!

Entah mengapa kok rasanya gue semakin ga punya waktu menulis di blog. Padahal sering kepikiran mau nulis ini itu. Ujung ujungnya tetap stabil di titik “malas”. Iya, semakin hari semakin malas bercerita. Semoga tidak berkepanjangan.

Belakangan ini gue lebih aktif bermain masak masakan dan baking bakingan di instagram @dapursicongok yang gue kelola. Hobby baking dan memasak ternyata lebih menyita perhatian dan waktu gue dibanding ngeblog. Senang aja gue bisa berbagi pengalaman memasak dan baking di sana. Terutama baking. Lagi cinta cinta sangat.

IMG_6350.jpg

IMG_6364.jpg

Berhubung sekarang lagi ramadhan, sepertinya asik nih cerita tentang tajil. Ya hitung hitung blog ini ada tulisan barulah. Biar tidak terlalu lama kelaparan karena ga diberi giji. Haha.

IMG_7093.jpg

Ramadhan sendiri buat gue pribadi merupakan bulan yang sering mengingatkan kenangan masa silam. Meski tidak menjalankan puasa, tapi ramadhan selalu membuat gue gembira. Khususnya sewaktu gue masih stay di Medan. Dari kecil hingga dewasa selalu senang hunting makanan berbuka puasa. Lebih semangat dari yang berpuasa malah. Hahaha.

Kala itu kota Medan selalu ramai dengan penjaja kue tradisional dan jajanan pasar. Pokoknya ramai bangetlah. Senang banget. Mulai dari klepon, lupis, dadar gulung, wajik, talam ketan, kolak, bubur cendil, mie goreng, pecal, berjejer manis membuat tak cuma perut tapi mata juga lapar. Bahkan tak jarang gue sudah menunggu sabar si tukang kue langganan padahal dianya masih beres beres.

Demikian juga dengan lebaran, gue ikutan semangat. Menunggu bedug takbiran lewat dari depan rumah. Meski sudah lama juga tradisi ini tak terlihat lagi. Berhubung teman teman gue lumayan banyak yang muslim, uda gue atur agendanya mau bertandang kemana. Makan lontong pakai rendang, telor dan tauca (ngetik sambil ces cesan). Bahkan pernah naik motor rame rame bareng teman ikutan takbiran. Sampai subuh. Asik banget. Hahaha.

Makanya meski sudah jauh di Swedia, gue suka bikin jajanan pasar di rumah. Kebetulan gue suka banget yang namanya jajanan pasar terkhusus kue kue tradisional. Jadi kalau dibilang homesick akan makanan Indonesia, rasa rasanya sudah tidak terlalu lagilah. Karena mostly sudah bisa dibikin sendiri. Rasa juga nyaris mendekati keinginan lidah.

Bahkan untuk beberapa jenis makanan rasanya sudah lebih enak masakan sendiri dibanding yang dijual di tanah air (pengalaman ketika balik liburan ke tanah air tahun lalu berasa makanan di lidah sudah tidak terlalu nikmat lagi).

Foto foto di dalam tulisan ini adalah jenis kudapan yang paling gue suka. Kolak biji salak, bubur sumsum cendil, lupis, klepon, risol, bubur kacang hijau ketan hitam, es teler, es campur medan, es melon marjan……gleekk!

IMG_6644.jpeg
Kolak Ubi Biji Salak

Apalagi lepat bugis ketan hitam itu. Sampai belain blender ketan hitam beberapa kali untuk mendapatkan hasil tepung yang maksimal. Rasanya sama persis dengan yang dijual. Huaaaaaaaa aku terharu sekali. Gue masukin freezer dan setiap kali pengen baru gue kukus lagi. Maknyusssss sekali mak!

Sebenarnya ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak jajanan pasar yang gue suka. Rasanya sampai kapanpun gue menetap di negeri orang, makanan Indonesia tetap yang terenak buat gue. Wajarlah ya, namanya juga makanan sejak kecil hingga  dewasa. Kalau kalian suka jajanan pasar seperti ini ga sih?

Kalau kalian pengen bikin sendiri jajanan pasar dan resep resep lainnya, bisa follow dan subscribe instagram @dapursicongok dan channel youtube Dapursicongok

IMG_6627

Korban Beauty Vlogger

Menjadi terlihat cantik menjadi impian “sebagian” kaum wanita. Artinya cantik yang saya maksud di sini tidak pakai embel embel inner beauty atau cantik hatinya atau apalah itu, melainkan cantik fisik. Lebih tepatnya lagi cantik karena perawatan. Cantik karena dandan. Cantik karena ditopengilah kasarnya.

Ada yang bilang menjadi tua adalah takdir. Tapi untuk terlihat tetap muda dan cantik adalah pilihan. Terutama di jaman sekarang, menutupi keriput di kulit bukan hal yang sulit. Ga perlu sampai program operasi plastik duluhlah, mari bicara yang gampang aja. Penggunaan produk skin care hingga make up misalnya. Masalah harga bisa menyesuaikan budget. Harga toh bervariasi. Murah, menengah, mahal, mahal banget, mahal bikin jejerit hingga mahal sampai ngejual organ seperti kata Suhay Shalim. Haha..

IMG_7466.jpeg

Sekarang mari fokus bicara make up. Ga usah merambah kemana mana. Saya sendiri bukan seorang yang terlalu menggilai make up. Artinya kemana mana harus mekapan. Jadi tergantung mood.

Tak jarang saya keluar tanpa mekapan sama sekali, bahkan mekap yang paling standart seperti bedak, lipstick sekalipun. Paling cuma menggunakan moisturizer. Tapi bukan berarti perlengkapan make up tidak ada. Kebanyakan cuma jadi penghias lemari rias. Kecuali kalau lagi rajin ya baru mekapan. Bisa full make up.

Bukan baru baru ini saya rajin menonton tutorial make up dari para beauty vlogger di youtube. Sudah lama. Tapi hanya sebatas nonton. Rasanya suka aja melihat transformasi before afternya. Suka takjub dengan keahlian mereka. Bikin eyeshadownya itu loh gradasi warnanya keren keren banget. Uda gitu cepat banget ngeblendnya. Kelihatannya gampang padahal setelah dipraktekin susahhhhh!

IMG_7472.jpeg
ABH eyeshadow palette : Prism, Norvina dan Soft Glam. Sekilas warna warnanya sama ya tapi sebenarnya tidak. Dan masing masing palette ada beberapa yang warna bener benar berbeda.

Saya pernah mencoba bikin smokey eyes. Hasilnya? mirip hantu kena tonjok. Hahaha. Perasaan kalau bikin sendiri tanpa harus mengikuti tutorial berasa lebih gampang deh dan hasilnya pun lebih bagus.  Mungkin karena lebih feel free kali ya dan saya belum terbiasa menggunakan brush. Biasanya cuma pakai ujung jari. Kalaupun ada brush ya itu tadi cuma jadi penghias meja rias. Sampai akhirnya pelan pelan saya coba beberapa kali. Lama lama tangan saya jadi lebih rilex (baca meski tetap sedikit kaku). Meski hasilnya masih jauh banget dari kata bagus. Apalagi penggunaan warna untuk menghasilkan gradasi yang sempurna masih minim pengalaman banget. Sejauh ini cuma main sikat seenak jidat.

IMG_7487
Fresh Glow Satin Blush Soft Pink. Tapi di foto kok seperti warna coklat muda ya..
IMG_7484.jpeg
Sebelumnya saya pernah menggunakan produk body butter dari Estelle & Thild Stockholm. Kemudian berganti dengan produk apotek karena store yang menjual produk ini tutup di kota terdekat tempat saya tinggal. Akhirnya pas ke Stockholm beberapa waktu lalu, saya tertarik mencoba Sheer Shimmer Healty Glow Sun Powdernya. Menurut saya, shimmer tapi dijadikan contour dan blush on juga bisa. Mudah diaplikasikan dan langsung terlihat hasilnya.  Di kemasan juga tertulis jika produk sudah mendapat certified organic.

Karena niatnya cuma pengen menonton, akibatnya produk apapun yang digunakan dan direkomen para beauty vlogger ga sampai membuat saya harus membeli produk yang mereka pakai. Kalaupun saya harus membeli paling murni karena inisiatif saya sendiri.

Tapi entah mengapa belakangan ini kuantitas menonton tutorial make up semakin menjadi jadi. Ga hanya di youtube, video singkat seperti di instagram pun saya suka liat. Bahkan sampai ngefollow beberapa brand make up di instagram. Tadinya saya beneran ga tertarik loh apalagi sampai follow instagram segala. Tapi sekarang suka banget apalagi untuk tutorial eyeshadow.

Dan puncaknya saya percaya dan tergiur untuk membeli produk yang direkomen oleh mereka. Salah satunya produk seri eyeshadow palette dari Anastasia Baverly Hills (ABH) dan foundation Dior. Meski brandnya sudah tak asing di telinga, tapi justru saya baru tertarik membeli setelah salah satu beauty vlogger Indonesia merekomendasikan.

Sejauh ini sih produknya relatif memuaskan. Full coverage dan mudah diblend. Warnanya juga pigmented. Sedang beberapa produk lain yang saya pakai murni saya beli karena memang sudah cocok dengan produknya. Seperti Estelle & thild Stockholm, smashbox, clinique, ga perlu sebut semua (malas nulis mak). Berhubung saya lagi fokus bikin eyeshadow ala ala beauty vlogger, palette ABH tidak mengecewakanlah. Pigmented hasilnya.

IMG_7493 (1).jpeg
Dior Prestige Le Cushion Teint De Rose. Selain kemasannya yang kece, spongenya lembut, harumnya juga enak banget dicium. Aroma parfume gitu deh. Hasil fondinya juga coveragelah. Setidaknya bintik di wajah saya tersamarkan. Hahaha. Rekomen menurut saya. Ga salah saya mengikuti saran si beauty vlogger terkenal itu. Untuk harga sih buat saya lumayan mahal ya. Tapi worth it kok.

Berikut hasil gores gores makeup selama latihan beberapa kali. Belum keliatan konsep make upnya. Belum berkarakter. Masih acak adut. Contournya juga masih samar. Hahaha.

Saya mencoba pakai lashes palsu. Ohhh my God…..hahaha……daku tersiksa!

Nah cerita tentang lashes palsu ini memang bener sangat memegang peranan penting untuk kesempurnaan look eyeshadow. Warna eyeshadow terlihat lebih oke setelah dipasangkan dengan si bulu mata kawe ini. Begitu dibuka dan dilepas langsung berasa banget bedanya. Warna eyeshadow terlihat kurang keluar. Jadi ga heran jika mostly beauty vlogger selalu menggunakan lashes palsu di tutorial make up mereka. Untungnya sudah banyak lashes palsu yang dikemas lebih halus. Jadi lebih mudah menyesuaikan ke matalah apalagi untuk pemula. Menjadi cantik kan harus menahan sakit katanya. Haha..

Trus untuk apa sampai belain make up beginian? yaaaaa tidak untuk apa apa sih mak! cuma penasaran pengen nyobain aja. Dan ternyata asik juga. Hitung hitung terlihat lebih keceehhhh….ups!

Saya pun tidak bisa memastikan sampai kapan menggores gores make up di wajah saya. Jangan jangan bulan depan uda bosan dan letoi. Who knows…dibawa senang saja. Hidup jangan terlalu serius shayyyyy!

img_7500
Beberapa produk yang saya pakai. Mulai dari fondi, shimmer, highlights, blush on, eyeshadow palette, glitter, primer, dan concealer. Nihil contour, eyelinear, eyeliner, eyebrows pencil dan lipstick. Mau motoin lagi malas jadi nyomot foto dari tulisan saya tentang Belanja Online. Haha.. 

Berikut di bawah ini hasil make up yang saya racik (catet ya : RACIK! hahaha apaan coba diracik). Make up super abal abal. Beneran belum berkarakter hasilnya. Begitupun sudah lumayanlah menipu publik kalau wajah asli saya sebenarnya jauh lebih berantakan.

Sebenarnya agak malas nampilin wajah gede gede di blog. Lebih dari satu pula. Kalau di instagram sih masih mending karena saya privat. Tapi ya sudahlah, sapa tau dengan melihat hasil make up foto foto di bawah ada yang berniat ngajari saya tips bermake up yang lebih bagus? Saya tunggu….twink!

4CF71BBC-EB29-41C8-B8AF-5BF9530BC10D (1).jpeg
Saya suka warna lipsticknya. Produk Viva La diva Iris Mate 308 dan harganya murah! Warna aslinya violet terang dan saya beri lipliner warna pink serta lipgloss pink. Warnanya lebih rich. 
IMG_8714
Eyeshadownya pakai palette Prism dan Soft Glam dari ABH. Suka warna warnanya dan menjadi hancur berantakan ketika diaplikasikan oleh tangan saya. Haha..
30861D6A-81C9-42EB-9180-043A5799F9C1
Contournya kurang tegas. Tapi sudahlah…
C910BF6E-7C5C-4228-81D3-890B71EDAE7B
Salah satu warna lipstick kesukaan saya. Sudah lama setia pakai produk Loreal Color Riche Matte 633 Moka Chic. Beberapa produk lipstick lain dengan warna yang agak mirip justru jarang saya pakai. Lebih cocok dengan produk satu ini. Saya sudah beli sampai 3 kali. Harga juga terjangkau. Cuma di foto ini saya combine dengan Loreal Color Riche Matte 634 Greige Perfecto dan lipliner warna coklat. Warna aslinya lebih soft. Untuk smokey eyesnya belum kelihatan sukses 😦

When in Sweden (Part 2) Perubahan Selera Terhadap Beberapa Jenis Makanan

Melanjuti tulisan sebelumnya yang pernah saya tulis di sini, kali ini saya akan bercerita tentang perubahan selera terhadap beberapa jenis makanan. Jika tadinya suka banget terhadap jenis makanan tertentu menjadi kurang begitu suka. Demikian sebaliknya yang tadinya tidak suka menjadi suka. Perubahan mana saya rasakan setelah sekian tahun menetap di Swedia. Apa saja?

1. Makanan beraroma Dill

Dill semacam herbal yang beraroma tajam. Tajam banget menurut penciuman hidung saya. Pertama sekali mencium aromanya berasa aneh. Benci bangetlah. Menyantap makanan berbahan dill tentunya lumayan menyiksa saya di awal awal. Sepenglihatan saya, makanan Swedia itu lumayan sering dicampur dengan dill. Daging dan ikan terutama ikan salmon biasanya selalu menggunakan bahan campuran dill. Tak cuma itu, berbagai jenis pickled dan smörgås (open sandwich ala Swedia) pun menggunakan dill.

IMG_8135
Contoh tanaman dill segar (dibelakang selada air)
IMG_3633
Dill kering dalam kemasan botolan

Akibatnya lama kelamaan hidung dan lidah saya terbilang sering mencium aroma dan merasakannya. Waktu perlahan lahan menyesuaikan ke lidah saya. Ternyata memang enak. Apalagi salmon bercampur dill. Serasi sekali. Makan salmon tanpa dill rasanya seperti makan lalapan tanpa sambel pedas. Saya suka!

Sekarang stok dill menjadi wajib ada di dalam lemari dapur saya.

IMG_7984
Olahan salmon menggunakan dill
IMG_8141
Half egg, salah satu menu terkenal di Swedia yang sering menggunakan dill sebagai garnis

2. Makanan Bersaos Menyerupai Selai

Ya Tuhan….di awal awal beneran jonggg banget setiap melihat suami makan pakai saos yang mirip selai. Kebayang ga sih makan nasi pakai selai? Atau makan kentang daging pakai selai? roti pakai selai iya. Haha..

Nah kalau di Swedia makanan berat seperti kentang dan daging sangat sering disantap barengan saos yang mirip selai. Tepatnya selai lingonberry atau berbagai jenis current. Rasanya asam manis. Ada juga yang diolah menjadi jelly jam.

Mostly jenis selai yang digunakan untuk makanan berat berasal dari lingonberry dan red/blackcurent. Bukan strawberry, blueberry, nenas, mangga atau buah lainlah. Mungkin karena pertumbuhan lingon berry sangat subur di hutan Swedia. Bisa diambil secara gratis.

IMG_8086
Menu daging menggunakan selai lingon
IMG_8136
Swedish meatballs with lingonberry sauce

Untuk lingonberry konsistensinya lebih encer dan biasa dimakan sebagai pelengkap rasa Swedish meatballs maupun steak. Sedangkan blackcuuret/redcurrent sering dijadikan jelly jam (lebih padat). Nah jelly jam ini biasa digunakan untuk daging dagingan seperti beef steak atau moose steak.

IMG_8137
Lingon buatan sendiri. Hasil metik di hutan. Buahnya seperti gambar di bawah ini.

Dan lagi lagi makanan yang disantap dengan selai mulai cocok di lidah saya. Perlahan namun pastilah ceritanya. Malah terkesan nancep poll dan sayaaa sukaaaa! Saya harus mengakui jika menyantap menu seperti steak daging barulah sempurna kelezatannya jika dilengkapi selai.

IMG_8094
Meatloaf with gele (baca : huelle) yang mirip jelly jam. Enak!

3. Susu

Saya benci susu! beneran!

Dulu kalau minum susu rasanya tersiksa sekali. Ribet bangetlah sampai harus menutup hidung dan sering sekali berasa mau muntah habis nyium aromanya. Aroma coklat, vanila atau apalah itu ga akan ngaruh. Bauk!

IMG_8284.jpg

Tapi sejak tinggal di Swedia lidah saya lumayan bertenggang rasa dengan produk fresh milk di sini. Aroma dan rasanya plain. Apalagi pilihan kadar lemaknya lengkap. Meski dibilang belum suka banget tapi setidaknya saya lumayan enjoy menikmati produk susu di Swedia tanpa harus menutup hidung. Apalagi jika dicampur dengan homemade selai blueberry. Saya nikmati banget. Enak dan segar.

4. Seafood Dingin

Makan seafood tapi sedingin suhu kulkas. Ya cuma di Swedia pertama nyoba. Dulu suka benci melihat sajian seafood dingin. Aneh aja rasanya. Apalagi kalau diundang makan atau makan di restoran, seafoodnya dingin.

Duhhh…………….langsung teringat seafood Indonesia yang tersaji lengkap dengan kepulan asapnya.

43399733965_e3df9fd04b_o
Kräfftor alias udang darat. Dimakan ketika dingin

Kebayang ga sih makan lobster, udang, kepiting tapi sedingin suhu kulkas. Beneran ga enak kalau bagi pemula. Apalagi jenis seafood di tempat saya mostly sudah melalui proses perebusan dan penggaraman terlebih dahulu. Rasanya asin tanpa ada aroma bumbu.

IMG_8109
Lobster, dimakan juga ketika dingin. Mana rasanya asin

Awal awalnya suka pusing kalau melihat suami dan beberapa orang yang saya kenal menyantap seaffod dingin. Tapi lama lama jadi terbiasa. Dan ternyata enak juga. Lebih tepatnya “daripada ga ada” ya kan. Mengharapkan sama persis dengan seaffod di tanah air ya keburu air liur kering.

IMG_8099
Smörgås dan udang dingin
IMG_8734
Half egg yang dingin dengan topping udang yang lagi lagi juga dingin

Tidak hanya seafood tapi ada beberapa jenis makanan di Swedia yang jika dimakan idealnya memang dalam kondisi dingin.

5. Salad Sayur

Saya bukan penggemar sayur tapi kalau buah iya. Namun sejak menetap di Swedia yang namanya sayur saya suka banget. Bayangkan sampai sayur mentah pun saya jadi suka. Setiap makan ke restoran selalu makan salad. Dan porsinya lumayan. Apalagi dressing salad di Swedia menurut saya memang enak.

Dulu hanya salad buah yang saya suka. Jadi ceritanya ketika suami berkunjung pertama sekali ke Indonesia sekitar 5 tahun lalu, kami berdua pernah makan di salah satu restoran pizza. Lalu dia pengen makan salad. Saya bantuin mengambil salad tapi hanya bagian buahnya yang saya pilih. Jelas dia bingung. Karena yang dia tau kalau untuk makan ya salad sayur bukan buah. Haha..

6. Es Krim

Kalau ini kebalikannya. Dari yang dulunya suka banget menjadi kurang begitu suka. Tapi bukan berarti tidak mau memakan sama sekali loh. Kuantitasnya aja yang jauh berkurang.  IMG_8090

Jika dulu saya sangat menyukai es krim, sekarang malah tidak terlalu suka. Dulu yang namanya segala jenis es krim saya suka. Mulai dari es krim kampung sampai es krim yang harganya lumayan nguras dompet. Dulu kalau makan es krim rasanya ga pernah puas dan pengen nambah terus.

IMG_8103

Ironisnya setelah sampai di Swedia, dimana es krim yang enak itu gampang didapat malah semakin kurang suka. Awal awal sih doyan banget sampai winter pun tetap nyantapin es krim. Lama lama eneg. Haha..

IMG_8096

Apa karena porsinya banyak banget dan es krimnya terlalu enak, jadi berasa cepat kenyang. Mungkin juga karena kuantitas memakan es krim yang lumayan sering menjadikan diri ini cepat bosan. Tapi bukan berarti saya tidak mau memakan es krim lagi loh. Kuantitasnya saja yang sudah jauh berkurang.

7. Coklat

Eropa itu sarangnya coklat enak toh. Swedia saja yang bukan penghasil coklat terenak bisa enak banget coklatnya. Dulu saya kalau beli coklat ga rela berbagi dengan siapapun. Apalagi coklat enak di tanah air itu buat saya lumayan mahal.

IMG_8139

Hingga ketika menetap di Swedia dan melihat banyaknya tumpukan coklat enak di rak supermarket, entah mengapa disitulah diri ini berasa eneg. Berasa melihat butiran beras (lebay) dan akhirnya rasa cinta itupun berlalu, menghepas, menjauh, dari yang namanya coklat. Haha..

IMG_8104

Jadi kalau sekarang jarang sekali saya ngunyah coklat. Semisal pengen makan coklat ya cuma sekedar. Apalagi saat perayaan natal, duhhh pusing kepala kakak nih. Coklat sana sini.

8. Potato Chips

Ini lagi ya Tuhan…………favorite saya banget dulu. Makannya ga satu satu tapi langsung segenggam masuk mulut. Rakus! Haha..

IMG_8270.jpg

Tiba di Swedia perlahan lahan kecintaan dengan potato chips semakin berkurang. Padahal kentang asli loh. Dan lagi lagi dikarenakan terlalu sering melihat bungkusan potato chips yang segede gede gaban di rak supermarket, membuat diri ini berasa kalau cemilan yang satu ini bukan sesuatu yang luar biasa lagi. Apalagi pengaruh rasanya yang lumayan asin. Tapi meskipun begitu, sesekali saya masih mau ngemil potatos chips. Tapi jarang sekalilah.

Kalian ada yang seperti saya ga, lama lama memiliki selera makan terhadap makanan tertentu menjadi berubah? 

Drama Belanja Online

Online shop mamaaaahhhhh! ouyeeeeeee! 

Sistem belanja yang sangat digandrungi. Mendunialah. Bahkan teror iklannya tak lelah lelah bermunculan di timeline media sosial. Harga yang konon lebih murah, praktis, waktu yang efisien, model barang komplit, modal keahlian ngutak ngatik handphone laptop udah deh…….tarik mang! Gampang kan. Tidak perlu keluar rumah atau macet macetan barangkali? Inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa online shop mendapat tempat di sini *menunjuk dompet dan kartu*. 

Jadi begini….

Saya dan suami bisa dibilang generasi kolot yang tidak terlalu menggemari dunia online shop. Artinya bukan menjadi kebiasaan kami belanja di online shop dengan kuantitas yang terbilang sering. Tapi jika dibilang pernah……iya!

Tentu kami punya alasan, terkhusus saya pribadi (suami bukan type yang suka belanja) untuk lebih memilih berbelanja dengan sistem konvensional dibanding belanja online.

Sebenarnya belanja online maupun konvensional sama sama punya keasikan tersendiri bagi orang yang menyukai. Tinggal pilih aja. Warga bumi semakin berubah wajar. Teknologi semakin maju dan sistemnya makin canggih. Kalau ada yang praktis ngapai pilih yang ribet? Bukan begitu? Apalagi dengan belanja online efisiensi waktu lumayan berasa bagi sebagian besar orang yang cocok dengan sistemnya. Koleksi barang barang di online shop pun tak kalah menggoda selera. Harus diakui itu.

Tapi buat saya yang namanya berbelanja bukan sekedar membeli. Ibarat ke warung beli gula telor lalu cussssss langsung pulang, bukan begitu. Belanja itu sekalian terapi. Terapi dengan barang barang yang ada di depan mata secara real. Apalagi kalau barang yang dibeli terbilang tidak murah, buat saya sangatlah tidak puas hanya dengan melihat gambar. Barang harus bisa disentuh dulu, dipegang pegang, dielus elus, dicium jika perlu, dicoba warna ini itu, bongkar lagi coba lagi, cocok bayar, bawa pulang tanpa harus menunggu berhari berminggu bahkan berbulan. Di situ nikmatnya. Buat saya loh.

Apalagi pengalaman saya, barang yang saya beli secara online semuanya harus saya ambil ke kota. Tidak diantar ke rumah. Mengapa? karena kejauhan rumah saya. Jadi sama saja. Mending beli di toko atau storenya langsung. Semisal kurang cocok? ya tinggal tukar lagi tanpa harus mengirim kembali (yang mengirim kembali ini saya paling malas). 

Kalau beli di toko dan ada masalah, kesempatan berbicara dan bertatap muka langsung dengan petugas lebih terbuka dan lebih puas. Setidaknya sudah tau tempat yang akan didatangi. Ga perlu jauh jauhlah. Apalagi kalau pakai berantem dengan petugas tokonya kan lebih enak tatap muka langsung. *saya beri kesempatan untuk menertawakan gaya belanja saya yang klasik*. Haha.

Trus masalah pembayaran menggunakan kartu membuat saya semakin phobia karena semakin tingginya tingkat kriminalisasi di dunia cyber. Meski banyak website online shop yang bisa dipercaya tetap aja parno. Berbagai alasan di ataslah yang membuat saya tetap lebih tertarik berbelanja ke toko/store. Belanja langsung ke toko atau store juga pakai kartu sih. Tapi entah mengapa merasa lebih nyaman aja dibanding menulis nomor kartu di onlineshop.

IMG_7490.jpeg

Belum lagi tak sedikit pemilik toko kecil di kota terdekat saya tinggal mulai mengeluh. Income mereka berkurang. Bahkan sampai gulung tikar. Mereka harus putar otak agar tetap bertahan diantara maraknya online shop. Kasihan juga.

Saya pernah belanja online kurang lebih 6 kali. Beberapa diantaranya membuat saya kecewa. Pernah beli tshirt online shop asal USA. Tertarik membeli karena tulisan di tshirt lucu lucu. Sialnya saya salah ngeklik di kolom warna. Pas saya info ke mereka, saya cuma mendapat jawaban “sorry” karena warna tshirt tidak bisa diganti.

Uda gitu nyampenya relatif lama hampir satu bulan. Begitu nyampe ternyata tidak sebagus dan semenarik seperti yang saya lihat di website. Kadang kenyatan seperti ini yang suka bikin kecewa. Penampakan di website tak sesuai dengan harapan.

Lebih riweh lagi, pernah kejadian dimana kartu debit saya ditolak dan saya diharuskan membayar menggunakan kartu kredit. Berawal dari sebuah keinginan untuk membeli sebuah mixer roti. Intinya saya ingin mengganti mixer lama peninggalan mendiang mertua yang sudah rusak akibat ulah saya sendiri. Singkat cerita saya memilih mixer Kitchen Aid (bukan iklan dan selanjutnya saya tulis KA) sebagai pengganti mesin yang sudah rusak.

Dan setelah searching sana sini sepertinya saat itu seri lengkap si KA ini cuma ada di website A. Baca baca reviewnya tidak sedikit yang memberi pendapat jika produk KA untuk seri tertentu lumayan gampang panas jika mengadon roti dalam takaran besar. Suara juga lumayan ngiunggggg dan agak berisik.

IMG_7445.jpg
Sedikit review : KA seri professional ini sudah saya pakai hampir satu tahun. Saya puas. Suaranya tidak berisik. Ngadon roti tidak panas. Adonan relatif cepat kalis elastis. Maksimal daya tampung lupa (malas buka bukunya haha). Kurang lebih 6 liter barangkali. Untuk pengocokan telur juga sangat bagus hasilnya.  

Sampai akhirnya saya memantapkan jiwa memutuskan membeli seri lain yang cocok dengan keinginan saya. Saya sempat bertanya dengan salah seorang teman yang lumayan paham tentang KA. Beliau merekomen seri yang saya pilih ini. Yaaaa meskipun jiwa raga hampir terhempas terantuk dengan harganya. Untung ga sampai jual organ. Hahaha!

Alih alih ingin membeli KA malah jadi drama. Orderan saya ditolak di website A karena melakukan pembayaran dengan kartu debit. Awalnya saya berpikir apa mungkin mereka mengira kalau saya adalah scammer? karena traksaksi yang saya lakukan di website A adalah perdana. Dan jumlahnya relatif besar (setidaknya bagi saya jumlah itu lumayan besarlah mak hanya untuk sebuah mesin mixer roti).

Kemudian saya diminta agar mengganti menggunakan kartu kredit. Tapi yang ada saya malah parno duluan. Diminta macem macem malah bikin saya bingung. Berhubung saya tidak mau menggunakan kartu kredit yang saya punya, akhirnya mereka meminta agar saya ngefax kartu debit dan alamat rumah. Saya makin tidak mau dong. Saya lupa kejadian pastinya, akun saya akhirnya diblokir dan tidak bisa bertransaksi lagi.

IMG_7428.jpeg
Review : Material stainless pada egg wishk, hook dan beater.
IMG_7427.jpeg
Review: Dough Hook mixer terbuat dari stainless dan lumayan berat

Akhirnya saya datang ke bank dan menjelaskan perihal ditolaknya kartu debit saya dan permintaan pihak penjual agar saya mengirim copy kartu dan alamat rumah. Oleh pihak bank malah tidak dianjurkan membagi copy data apapun terkait kartu yang mereka keluarkan apalagi ke online shop.

Pihak bank kemudian mengecek perihal ditolaknya transaksi kartu debet saya. Dan ternyata setelah dicek ulalalalalaaaaaaaaaaa……….nomor handphone saya belum terdata di bank!

Kemungkinan besar inilah penyebab transaksi saya ditolak karena tanpa kode transaki melalui sms, transaksi saya tidak bisa dilanjutkan. Kasarnya harus melalui otorisasi bank. Dan ini pula yang membuat pihak website A memblokir akun saya. Dikhawatirkan jika kartu saya berada di tangan orang yang salah.

Berhubung website A tergolong onlineshop raksasa yang sudah menyebar dimana mana, sebenarnya saya setuju dengan kehati-hatian mereka agar kartu saya aman dari tangan tangan yang tidak bertanggung jawab. Tapi saya juga ga bisa memastikan apakah yang meminta copian kartu debet saya itu orang yang berkompeten. Apalagi bank juga melarang. Serba salah kan. Huh..belanja aja ribet. Haha.

Trus bagaimana solusinya? Cari akal dong shayyyy!

Berhubung uda jatuh cinta dengan si KA merah ini, akhirnya saya meminta tolong teman agar mengorder barang yang saya mau melalui akunnya. Uangnya saya transfer lebih dulu tentunya ke beliau.

Jujur awalnya suami saya agak kaget kok saya berani transfer uang ke seseorang yang sama sekali belum pernah ketemu langsung dengan saya. Tapi saya meyakinkan suami kalau teman saya bisa dipercaya. Seratus persen saya percaya. Meski belum pernah ketemu dan kenal hanya melalui salah satu group di whatsapp, tapi naluri saya sangat percaya dengan beliau. Saya tidak perlu jelasin panjang lebar. Dan ternyata saya benar, melalui bantuannyalah akhirnya si mesin merah sudah bertengger manis di dapur saya. Makasih ya mak! Kalaupun pak suami sedikit cemas di awal awal harap maklum.

Point dari cerita di atas adalah betapa saya merasa belanja online saat itu sangat ribet. Kasarnya ada duit tapi kok susah banget dapatin barang. Kepala saya malah stress mikiri kenapa harus kartu kredit yang mereka minta. Sebenarnya saya bisa saja membayar pakai kartu kredit, tapi karena waktu itu saya merasa sudah cemas duluan karena tidak terbiasa belanja online jadinya banyak pertanyaan aneh muncul di kepala. Langsung auto mindset. Ini web yang saya masuki bener ga sih? jangan jangan kriminal. Uda parno duluan. Padahal kalau dipikir pikir penggunaan kartu debet memang justru lebih high risk kan. Kalau bukan karena butuh tidak bakal saya order deh. Seandainya ada dijual di kota tempat saya tinggal bakal saya beli di toko aja.

IMG_7441.jpeg
Review : Food Processor masih dari KA yang saya pesan melalui salah satu onlineshop di Swedia. Ini tidak pakai drama tapi lama banget nyampe. Sangat oke untuk menghaluskan daging. Terutama bikin bakso. Ini penting mak! Hahaha

Begitulah, semua barang yang saya beli secara online dipastikan karena tidak bisa saya temukan di toko konvensional di kota terdekat tempat saya tinggal. Jangan jangan ke depannya semakin berkurang toko toko di kota saya. Apalagi salah satu store besarnya sudah tutup. Mau tidak mau harus ke ibukota propinsi.

IMG_7437.jpeg
Review : Body dan warnanya kece. Saya makin suka karena ada tombol pulsenya. Jadi proses menghaluskan daging lebih rata. Terus mampu menampung hingga 3,1 liter dan terdiri dari dua wadah berukuran besar dan sedang. 
IMG_7434 (1).jpeg
Review : Printilan FP KA ini disimpan dalam satu kotak yang menurut saya kualitasnya tidak asal jadi. Rapi, kuat dan designnya bagus. Buka tutupnya tidak susah.
IMG_7432.jpeg
Review : Printilannya juga kuat dan gede. Pisaunya bisa untuk takaran besar dan ada juga untuk takaran medium. Ada pisau untuk adonan roti. Jadi bisa bikin adonan roti juga untuk takaran standart. Tapi saya hanya fokus untuk menghaluskan daging saja. Pemotong sayuran juga ada dua dan lumayan berat. Pokoknya terlihat kokoh semua bahannya. 

IMG_7433.jpegDemikian juga dengan perlengkapan make up (ini akan saya tulis lebih lengkap di tulisan berikutnya). Meski bukan manusia yang menggilai dunia permekapan, tapi saya juga seorang wanita yang sesekali pengen terlihat fresh dan kece. Saya ga begitu paham brand make up yang terupdate.

IMG_7500.jpg
Review menyusul
IMG_7479.jpeg
Sttt bocorin dikit….ini warrrbiasa. Sukaaaa meski baru pakai sebagian.
img_7468
Warna palettenya bagus bagus

Kalaupun ada brand ini itu yang lagi viral, belum tentu saya interest. Cuma belakangan ini entah hantu mana yang jitak kepala saya sehingga saya menjadi korban keganasan para beauty vlogger. Alhasil saya terbawa arus hedonisme. Dan lagi lagi tidak bisa saya beli di toko. Kaga ada di kota saya. Harus ke Stockholm. Ya sudahlah akhirnya belanja onlen.

Trus ke depannya apakah saya akan tetap belanja di online shop? jika barang yang saya butuhkan tidak ada dijual di tempat saya tentu saja iya. Apalagi yang namanya peralatan baking, sepertinya mau tak mau saya harus memilih online shop. Lebih lengkap ya. Happy shopping online!

Siapa dari kalian yang menjadi pelanggan setia online shop? Atau pernah merasa ribet ga sih belanja onlen itu? atau malah fine fine aja? share di komen ya 🙂