Makan Kenyang di Julbord

Di Indonesia, perayaan hari raya besar keagamaan pastilah identik dengan makanan khas masing masing. Sebut saja seperti ketupat dan makanan bersantan di saat lebaran. Atau seperti keluarga gue misalnya, di saat natal selalu menyediakan ikan mas arsik atau kembang loyang.

Tapi umumnya, makanan tersebut hanya disediakan di rumah rumah. Rasanya gue belum pernah melihat ada restoran yang dengan sengaja menjual khusus makanan khas natal atau lebaran sebulan sebelum hari besar itu tiba. Ini bukan bicara toko yang menjual kue kering ya.

Di Swedia, tepatnya di minggu minggu adven, ada semacam kebiasaan atau tradisi, dimana berbagai restoran di negara ini dengan sengaja membuat pengumuman atau iklan, baik di website maupun koran, yang isinya memberitahu jika mereka akan mengadakan  Julbord. 

fullsizerender-11
Salah satu restoran di kota Rättvik yang mengadakan jamuan Julbord

Julbord sendiri bisa diartikan sebagai Jamuan Meja Natal (Christmas Table), dengan berbagai macam makanan yang disajikan secara bersamaan dengan sistem prasmanan. Sebagian besar restoran masih bertahan dengan penyajian menu Swedish Traditional Food.  Bahkan lumayan ada beberapa restoran yang mengadakan Julbord dengan menu oriental. Tapi yang jelas, konsep Julbord sendiri pada awalnya selalu berkiblat pada menu menu yang terdiri dari Swedish Traditional Food. Dan pastinya, Christmas Table di dalam tulisan ini  pun, tentunya mengacu pada  menu menu tradisional versi Swedia.

IMG_5657.JPG

Biasanya, yang mengadakan Julbord adalah restoran restoran yang lumayan besar. Tentu saja dengan harga yang bervariasi. IKEA, sebagai salah satu retail besar di Swedia, juga tidak ketinggalan ambil bagian dalam tradisi ini. Cuma memang, menunya lebih simple dan sederhana. Harga juga relatif lebih murah. Kualitas rasa juga relatif standard. Ini sih gue tau dari suami, tetangga dan beberapa orang yang gue kenal yang pernah mencoba Julbord IKEA. Gue sendiri belum pernah mencoba. Taste masing masing lidah berbeda tentunya.

Setiap tahun, rasanya kami wajib mengunjungi Julbord. Karena suami gue penggemar berat makanan makanan yang disajikan. Dari beberapa restoran yang kami datangi, rata rata membuka harga dikisaran 500 Sek sampai 750 Sek per orang. Lumayan mahal memang. Tapi kualitas rasa relatif memuaskan. Dan tentu saja jenis makanan yang disajikan pun terbilang lengkap.

Julbord menggunakan konsep All You Can Eat dengan jenis hidangan yang beraneka ragam dan menarik. Pengaturan ruangan sampai penataan menu makanan diatur sedemikian. Tidak hanya itu, meja makan untuk pengunjung pun ditata secantik mungkin. Mulai dari taplak meja yang umumnya berwarna merah, candle light, bunga, sampai berbagai gelas kaca yang tersusun rapi. Cakeplah.

FullSizeRender (10).jpg
Christmas Table Decoration

Untuk meja, beberapa restoran ada yang menyediakan maksimal untuk  empat orang, ada juga untuk enam orang, bahkan untuk belasan orang dalam bentuk meja panjang.

Setiap meja terdiri dari jenis makanan yang berbeda. Dan biasanya, meja pertama yang dilalui adalah meja yang terdiri dari berbagai jenis olahan ikan. Seperti Sill, olahan ikan tradisional yang diramu dengan air, gula dan rempah. Menurut gue, baunya agak amis! Masih mending ikan asin versi Indonesia, amis tapi kering. Ini uda amis berarir pula. Entah mengapa suami gue suka banget, sebagaimana gue sangat menyukai ikan asin juga. Ada satu jenis makanan yang mengandung campuran Sill, yang gue lumayan doyan. Dan biasanya disajikan di acara Julbord. Namanya Jansons Frestelse, berupa irisian irisan kentang, bawang bombay, krim dan sill ukuran kecil. Rasanya gurih dan leker.

FullSizeRender (13).jpg
Salah satu meja dengan olahan ikan salmon

Jenis ikan lainnya adalah Salmon, mulai dari Smoked Salmon, Steam Salmon, semuanya berukuran besar. Ada juga Gravadlax, daging salmon mentah yang diiris tipis, dicampur dengan garam dan  Dill.

Meja berikutnya terdiri dari menu Daging. Mulai dari Silta yaitu daging olahan pork yang diiris tipis. Ada juga Julskynka, pork dengan rasa gurih yang direbus dalam bentuk bulat utuh dan agak memanjang. Kemudian Röktkött (sejenis daging asap), dan berbagai olahan sosis berukuran besar dan kecil. Tidak ketinggalan Köttbullar atau Meatballs, sampai olahan daging pork yang dimasak dengan bumbu kayu manis, mirip semur daging. Masing masing meja dilengkapi dengan berbagai jenis saos maupun krim.

FullSizeRender (12).jpg
Meja bagian daging, motonya cuma sekedar aja, itupun lihat situasi, malu mak foto foto molo hahaha.

Bahan makanan dari telur juga ada, seperti Eggröra atau lebih familiar dengan sebutan Srcambled Eggs, kemudian yang paling famous adalah Half Eggs, telur rebus yang dibagi dua, dan permukaannya diberi kaviar dan Räkor (sejenis udang rebus).

Jenis salad juga turut melengkapi Julbord, dan yang paling terkenal adalah Rödbetssallad, salad berwarna pink keunguan, dengan irisan bit merah yang dicampur krim. Gue suka banget. Perpaduan rasa yang sedikit asam dengan krim yang legit.

img_5772

IMG_5770.JPG

Meja terakhir adalah Meja Desserts, berisi berbagai jenis buah, cake, coklat, permen dan tidak ketinggalan kopi.

Sebenarnya, jenis makanan yang disajikan di Julbord, sehari harinya bisa juga ditemui di supermarket bahkan  disantap di hari biasa sekalipun.  Bedanya di saat Julbord, berbagai ragam jenis makanan tersebut disajikan secara bersamaan atau serentak. Istilahnya, semua jenis makanan secara kompak terhidang di meja.

img_6030-1

Ada sebutan yang menyebut,  ketika berada di Julbord,  mulailah menyantap menu olahan ikan terlebih dahulu. Konon, ikan tidak gampang membuat kenyang dibanding daging dagingan. Sehingga tidak heran, jika sebagian besar susunan meja di acara Julbord, biasanya selalu dimulai dengan meja berisi olahan ikan. Gue suka memperhatikan suami, dan beberapa teman yang bergabung dengan kami,  rata rata porsi makanan yang diambil lumayan banyak. Porsi yang tidak pake istilah malu malu!

Wong ini bayarnya mahal kok, begitu kata mereka. Cuma caranya ga brutal. Tetap santai. Biasanya mereka makan sangat perlahan lahan, diselingi ngobrol malah. Dan satu lagi, piring akan bersih ludes. Ga ada yang tersisa. Artinya, makanan yang diambil sudah diperhitungkan sesuai kesanggupan perut. Jadi tidak lapar mata. Pelayan juga akan dengan sigap mengambil piring yang ada di meja, apabila sudah terlihat kosong.

Biasanya, kalau menu pertama sudah habis, mereka ngobrol santai dulu, lumayan lama juga ngobrolnya. Ga buru burulah istilahnya. Kalau dirasa rasa sudah waktunya nambah, barulah melanjutkan makanan berikutnya ke meja olahan daging. Logikanya sih, dengan memberikan jedah, perut tidak berasa penuh dan makanan lain masih bisa masuk dengan nyaman. Jadi walaupun prinsipnya sudah dibayar mahal, bukan berarti main sikat aja, padahal perut sudah ga nerima.

Tapi bukan berarti semboyan di atas wajib dilakukan ya. Suka suka aja. Mau langsung ke meja olahan daging okeh, mau dicampur ikan dan daging juga okeh. Ga ada larangan. Gue aja gitu kok, gue campur aja mana yang gue suka. Hahahaha.

IMG_5766.JPG
Salah satu minuman khas natal, sejenis softdrink mirip Coca Cola. Bedanya minuman ini sedikit berbau rempah atau apa ya, ga ngerti jelasinnya. Pokonya aroma lebih tajam sedikit dari Coca Cola. Dan gue lebih suka ini. Namanya Must. Biasanya Must  mulai ramai dijual menjelang  natal dan Paskah. Di saat natal , namanya Julmust. Dan di saat Paskah disebut Påskmust. Rasanya ya sama aja, cuma beda di warna kemasannya. Kalau Julmust kemasannya dominan merah sedangkan Påskmust dominan kuning.

Kalau gue hitung, dari mulai makan sampai ditutup ke menu desserts lumayan  lama juga. Mulai pukul 7 malam sampai pukul 10 malam bahkan lebih. Sepertinya sudah di setting seperti itu oleh pihak restoran. Dan biasanya, pihak restoran hanya menerima pengunjung yang sudah memboking meja sebelumnya, jadi tidak menerima pengunjung lain lagi. Dan selalu penuh sih.

Perusahaan atau kantor di Swedia pun tidak sedikit yang mengadakan Julbord. Seperti kantor suami gue misalnya, hampir setiap tahun mengadakan acara jamuan seperti ini. Dan biasanya pihak perusahaan menggunakan jasa restoran untuk mempersiapkan menunya.

Sebenarnya, beberapa restoran yang tidak terlalu besar pun, kadang suka juga mengadakan Julbord. Cuma ya itu, biasanya jenis makanan yang disajikan tidak terlalu banyak dan lumayan terbatas. Dan  biasanya lagi, kalau beruntung, bisa langsung datang tanpa ngebooking meja terlebih dahulu. Bahkan ada yang mengadakan acara Jultallrik, jamuan natal yang tidak memakai sistem prasmanan. Tapi sudah dijatah di piring. Sistem ini sepertinya kurang banyak diminati, karena sistem prasmanan justru memberi sensasi tersendiri karena bebas memilih menu makanannya.

Tahun ini, kami mencoba Julbord yang diadakan oleh sebuah restoran kecil tidak jauh dari rumah. Restoran tua. Bangunannya sih yang tua, tapi restoran ini hanya aktif di saat musim panas saja. Entah mengapa tahun ini mereka berniat mengadakan Julbord. Harganya relatif murah. Sekitar 250 Sek perorang. Tapi seperti yang gue bilang di atas, jenis makanannya terbatas. Kualitas makanan jujur memang agak jauh ketinggalan dibanding restoran besar yang biasa mengadakan acara seperti ini. Chef yang nangani beda kali ya. Tapi suasananya itu loh, gue suka banget. Namanya restoran tua ya, meskipun letaknya di pinggir jalan, tapi menyendiri gitu di dekat hutan, jadi berasa sepi banget. Serasa makan di antah brantah mana, tapi kok ya kaya di film film juga. Gimana dong. Hahaha.

FullSizeRender (10).jpg
Restoran tua yang rustic banget. Lihat deh potongan kayu dan  lilin di depan pintunya,  padahal biasa banget kan, tapi enak aja dilihat.
IMG_5650.JPG
Christmas Table Decoration
IMG_5658.JPG
Simple dan klasik

Baik luar maupun dalamnya klasik banget. Dinding bangunan terbuat dari  batu tua, tetapi begitu masuk semuanya dominan kayu. Kayu tua lagi. Mana ada fire place bahelanya, hangatnya enak aja gitu di dalam. Aroma kayu bakarnya juga enak dicium. Tradisional bangetlah. Mejanya dikasih pot rustic berisi rumput hutan, dan tidak lupa lilin tentunya. Ahhh suka 🙂

Berhubung suami memang penggila Julbord, jadi kurang puas rasanya tidak mencoba Julbord yang benar benar lengkap. Rencananya, kalau tidak ada halangan, kami akan mencoba Julbord di sebuah restoran kapal. Dimanakah? Tar ya ditunggu aja di tulisan berikutnya.

img_5654

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

8 Comments

  1. Mba helen, mo nanya dong, itu di foto pertama disamping pohon natal orang beneran atau hanya patung ya? btw suasana di restonya keren banget..
    Dan satu lagi, mba helen tuh hebat ya moto – motonya, jadi tambah terlihat keren restonya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s