Stockholm City Hall

Sebelumnya gue sudah pernah menulis tentang kunjungan kami (gue dan suami) ke Stockholm City Hall beberapa tahun lalu, yang berujung kecewa. Tepatnya ga buka alias tutup.

Dan sampai beberapa kali kunjungan ke kota Stockholm, gedung yang menjadi salah satu tujuan wisata ini pun terlupakan oleh kami. Sampai akhirnya, tepat di bulan Desember 2016 lalu, kami menyempatkan waktu memasuki City Hall yang menjadi kebanggaan kota Stockholm tersebut.

IMG_9097.JPG

Stockholm City Hall merupakan salah satu iconic kota Stockholm dan menjadi tujuan wisata di ibukota Swedia ini. Untuk bisa masuk ke dalamnya tidaklah sembarangan. Harus mengikuti jadwal official guide yang sudah ditetapkan pihak pengelola. Jika beruntung, tidaklah terlalu lama menunggu.

IMG_9078.JPG
Souvenirnya lucu lucu

Lagian kalaupun harus menunggu, masih bisa menikmati pernak pernik atau souvenir lucu, yang dipajang di sekitar pembelian tiket masuk. Kebetulan waktu yang kami perlukan untuk bisa masuk ke dalam, kurang lebih hanya sepuluh menit. Sampai akhirnya kami dipersilahkan masuk. Sebelumnya pengunjung diberi sticker kecil yang ditempelkan di baju dan nantinya begitu masuk, harus diperlihatkan ke petugas yang sudah berdiri di depan pintu masuk.

IMG_9093.JPG

Begitu masuk, langsung terlihat ruangan besar dan luas. Tidak lama kami berhenti di sebuah hall yang dikenal dengan sebutan The Blue Hall. Dari sekian hall yang ada, bisa dibilang The Blue Hall adalah bagian yang paling terkenal dan menjadi main hall Stockholm City Hall.

Karena selain untuk penyelenggaraan event besar lainnya, The Blue Hall juga digunakan sebagai tempat perhelatan The  Great Annual Nobel Banquet atau jamuan makan para peserta Nobel Prize yang famous itu.

IMG_9079.JPG
The Blue Hall, ga ada warna birunya, paling kursinya doang yang berwarna biru.
IMG_9103.JPG
Warna biru kursi kursi ini tidak ada hubungannya dengan pemberian nama The Blue Hall.

Kenapa sampai disebut The Blue Hall? Yang jelas, sebelum dijelaskan oleh si kakak pemandu itu, gue sempat mikir, warna birunya mana? kok ga ada? Cuma dinding batu berwarna merah, berikut barisan kursi berwarna biru yang disusun rapi di tengah hall. Dan gue pikir karena kursi itu dong. Ternyata gue salah total.

IMG_9053.JPG
Contoh perlengkapan table,  untuk acara Annual Nobel Banquet.
IMG_9092.JPG
Suka banget

Konon, sang arsitek Ragnar Östberg, berkeinginan memberikan nuansa biru di semua dinding hall. Tujuannya agar para tamu bisa merasakan nuansa cerah, layaknya langit dan pantai biru di saat summer. Namun begitu bangunan selesai, rencana tersebut sontak berubah. Sang arsitek malah jatuh cinta dengan warna merah asli dari bangunan. Menurutnya lebih berkarakter dan lebih indah. Dan nuansa biru pun seketika ditiadakan.  Meskipun demikian, berhubung dari awal sudah diberi nama The Blue Hall, penggunaan warna merah tersebut tidak merubah namanya. Hingga sampai saat ini, sebutan The Blue Hall tetap eksis dipakai. Berada di dalam The Blue Hall, serasa menjadi bagian dari orang orang penting dunia. *Menghayal tak ketulungan.

IMG_9085.JPG
The Blue Hall dengan dinding berwarna merah. Warna asli bahan batunya.
IMG_9091.JPG
The Blue Hall.

Selanjutnya kami menuju The Golden Hall, ruangan bergelimang emas! Huaaaa…pengen jilatin dindingnya. The Golden Hall biasanya dipakai sebagai tempat berdansa para peserta Nobel prize setelah Nobel Banquet selesai. Berbeda dengan The Blue Hall, sebutan The Golden Hall konsisten sesuai namanya. Seluruh dinding memang dilapisi emas asli. Catet, emas asli ya bukan KaWekk.  Lapisan emas ini terdiri dari 18 juta Gold Mosaik Tiles. Kelihatan gemerlap sudah pasti. *Jadi pengen dansa ala ala princes nyasar.

IMG_9086.JPG
The Golden Hall. Nyokkk jilatin dindingnya…Hahahha.
img_9089-1
Detail Gold Mosaik Tiles di Golden Hall

Terakhir kami dibawa ke sebuah ruangan yang didominasi warna coklat kemerahan. Ruangan yang sampai sekarang masih aktif digunakan sebagai tempat pertemuan anggota Parlemen Stockholm. Gue suka interiornya, bagus. Apalagi bagian atapnya, seperti lukisan. Ruangan ini mengingatkan gue akan anggota perlemen yang suka berdebat. Tapi bukan yang suka berantem.

img_9084
Ruangan Parlemen kota Stockholm yang masih dipakai sampai saat ini.
img_9082
Ruangan Parlemen.
IMG_9083.JPG
Tiba tiba melihat ini jadi pengen duduk sambil kumur kumur ngelantur.
IMG_9080.JPG
Bagus bagian atapnya.

Stockholm City Hall juga terkenal dengan Venue for Wedding Ceremoniesnya. Dilangsungkan hanya di hari sabtu antara pukul 12.00 dan 18.00. Dan uniknya wedding ceremony ini hanya membutuhkan waktu lima menit saja. Kilat banget. Mungkin kalimat yang diucapkan hanyalah “Yessss, kami setuju menikah! Selesai deh. Bagus juga sih, ga pake ribet kan.

img_9098
Ini lagi photo nikahan. 

Makanya tidak heran, ketika berada di halaman luar City Hall, terlihat beberapa pengantin yang sedang melakukan Photo Wedding. Didukung pula dengan bangunan dan view di sekitar City Hall yang memang fotogenik banget. Berada diantara aliran danau Mälaren yang terkenal itu. Cocoklah buat Backround Photography.

img_9099
Stockholm City Hall.
IMG_9102.JPG
View di sekitar Stockholm City Hall diantara aliran danau Mälaren.
img_9095
Stockholm City Hall, pohonnya seperti film horor ya..

So, jika berkunjung ke Stockholm, The City Hall bisa menjadi salah satu tempat yang wajib kamu kunjungi. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com

img_9100

Desember di Stockholm

Baru juga Januari, uda ngomongin Desember!

FullSizeRender (11).jpg

fullsizerender-14

Ini tulisan telat, ga sempat kejar tayang Desember 2016 lalu, jadi ya sudahlah, publishnya sekarang aja. Cerita apa emang? bukan cerita sih, cuma sharing beberapa foto aja. Sayang untuk tidak dihempaskan di blog ini. Itu pun cuma foto ala kadar, namanya juga juru photo abal abal. Kegiatan yang memaksakan diri, dingin dingin masih aja rajin jepret. Habis gimana dong, gue suka.

img_9104
Stockholm
img_8887
Di kawasan Sergels torg
img_9161
Lucu
img_9151
Sehabis nonton konser, sempetin foto

Gue sudah lama pengen melihat kota Stockholm di bulan Desember. Karena dari beberapa kali kunjungan, belum pernah mengunjungi Stockholm di bulan ini. Trus ada apa dengan Desember? Biasalah, gue kan tinggal di desa kecil. Dikelilingi hutan pula. Kadang hati ini haus akan kehidupan kota dengan gemerlap lampu.  Sesekali pengen dong melihat keriaan menyambut natal di sebuah kota besar. Gue pengen melihat ornamen natal dan kilauan lampu di kota Stockholm. Pasti cantik.

img_8891
NK 
img_9133
Stockholm in the Night
fullsizerender
Kungsträdgården
img_9152
NK

Dan meskipun tidak meriah banget, setidaknya wajah Stockholm memang terlihat lebih kecelah. Lebih bertabur lampu. Pohon natal juga lumayan berdiri di beberapa sudut kota. Sayang, tidak ada saljunya.

img_9138
Cakep
img_9107
Stockholm 

Disamping itu, kebetulan kami juga menghadiri pertunjukan konser The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra, jadi makin klop.

Berikut foto foto Stockholm di bulan Desember:

img_8886
Sergels torg
img_8866
Love it
FullSizeRender (10).jpg
View dari sebuah kapal
fullsizerender-13
Stockholm in the night
IMG_9163.JPG
View dari sebuah kapal
img_9154
Suka
fullsizerender
Sedikit bokeh
img_8867
Stockholm in the night

img_8863

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com.

img_8910
Senyumlah…setidaknya membuat dunia menjadi lebih indah 🙂

Jumat Sore di M/S Waxholm III

Setiap tahun, rasanya wajib buat gue dan suami, menikmati berbagai jenis menu tradisional, yang disajikan secara prasmanan di jamuan Julbord (Christmas Table). Untuk lebih jelasnya, silahkan baca di sini mengenai tradisi Julbord di Swedia. 

Kali ini kami mencoba menikmati Julbord dengan suasana yang sedikit berbeda. Di kota Stockholm, tepatnya di sebuah restoran kapal. Sengaja memilih kota ini, karena berdua suami, ingin melewati indahnya weekend di Stockholm. Dengan asumsi, menjelang perayaan natal, pasti banyak ornamen natalnya. Jadi sambil menikmati sajian Julbord, sekaligus melihat semarak kota dan sekitarnya. Maklumlah, anak desa 🙂

Sebenarnya, kami ingin menikmati Julbord di malam hari, berhubung penuh, akhirnya suami membooking meja untuk pukul 2 siang. Dan setelah dipikir pikir, waktunya lumayan cocok, karena bisa menikmati keindahan Stockholm  baik di saat terang maupun gelap. Buat gue, melihat gemerlap lampu di saat winter sangatlah tepat. Kilaunya setajam silet. Syeettttttt!!

img_7650
Table Decoration

Ada beberapa kapal yang mengadakan acara Julbord hari itu, tapi kami memutuskan memilih M/S Waxholm III. Kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan nyaman. Tepat pukul 2 siang, kami masuk ke dalam kapal. Ketika pegawai memperlihatkan meja, senang sekali rasanya. Karena dari sekian meja yang ada, gue dan suami dipilihkan meja yang hanya untuk kami berdua, tidak gabung dengan orang lain. Dan letaknya juga paling pojok. Wah, ini area yang lumayan cocok untuk melancarkan aksi foto foto tanpa rasa gusar. Tau aja kalau gue punya niat mulia. Setidaknya privacy sedikit terlindungi. Maaf, ini penting banget soalnya. Hahaha.

Kalau ga salah, ada sekitar 15 sampai 20 menit kami menunggu, sampai kapal bergerak meninggalkan dermaga. Lumayan lapar sih, karena sebelumnya kami sengaja tidak makan siang. Biar puas menikmati menunyalah. Sebelum kapal bergerak, gue menyempatkan waktu untuk mengambil  beberapa foto ala photographer nyasar. Haseeek…lumayan buat pamerin di blog.

IMG_7654.JPG

IMG_7651.JPG

Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya, ketika berada di Julbord, disarankan terlebih dahulu menyantap menu olahan ikan. Tidak terkecuali dengan Julbord di Waxholm III, setiap meja sengaja diberi catatan kecil berisi aturan menyantap menu Julbord yang ideal itu seperti apa. Dimulai dan ditutup dengan jenis makanan apa saja.  Mengapa disarankan demikian, gue sudah jelasin di tulisan sebelumnya.

img_7708
Catatan kecil di meja tentang cara ideal memulai santapan menu Julbord. Dimulai dari jenis ikan bernama Sill.

M/S Waxholm III mengenakan harga sekitar 750 Sek perorang. Tapi worth it dengan kepuasan batin yang didapat. Setidaknya buat kami berdua, gue dan suami. Sebelum menyantap menu, kami diberi suguhan Glögg,  minuman tradisional natal yang bercitra rasa dan beraroma rempah, berisi kacang almond dan russin.

img_7652
Minuman khas natal Glögg

Dan tidak lama,  satu persatu menu Julbord dengan manis meluncur di mulut. Hmmm lezat sekali. Sesekali melihat view di luar kapal. Meskipun masih terbilang sore, suasana di luar sudah terlihat gelap. Kilau lampu merubah Stockholm terlihat semakin cantik.

img_7653
Menu olahan ikan. Ini enak banget
img_7655
Menu olahan daging, plus salad dan kentang
img_7656
Menu olahan daging

Secara keseluruhan menu yang disajikan memang enak, terutama olahan ikannya. Biasanya gue hanya memilih olahan ikan salmon, tapi kali ini jenis ikan lain pun gue coba, dan itu gue akui memang enak. Tapi ada beberapa menu yang masih kalah rasa, jika gue bandingkan dengan restoran yang sudah pernah kami coba sebelumnya. Untuk dessert, M/S Waxholm III memang menampilkan berbagai jenis cake, coklat, puding dalam banyak varian. Meskipun tidak semuanya bercitra rasa sempurna.

IMG_7657.JPG
Desserts

Tapi yang jelas, kami sangat menikmati waktu di dalam kapal. Makan enak sambil melihat keindahan Stockolm di saat winter. Buat penikmat makanan non halal, quality time seperti ini bisa menjadi pilihan ketika berada di Stockholm, khususnya di bulan Desember. Jika ingin melihat dan menikmati berbagai jenis makanan tradisional Swedia dalam waktu yang bersamaan, datanglah ke Julbord.  Apalagi diadakan di kapal seperti M/S Waxholm ini, tentu memberi nuansa hiburan yang sedikit berbeda. See you in my next story.

img_7662
View di luar kapal
IMG_7661.JPG
View di luar kapal
img_7658
View di luar kapal

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.comDilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Tempat Wisata Menarik Yang Bisa dikunjungi di Stockholm

Mungkin bagi beberapa kalangan, Stockholm bukanlah kota wisata sepopuler kota kota besar di wilayah Schengen lainnya. Sebut saja seperti Italia, Perancis, Jerman, Austria, Belgia, Swiss atau Spanyol.

Namun buat gue pribadi, standard keindahan kota di Eropa juga ada pada Stockholm. Bangunan tua? ada. Gereja kuno? ada juga. Museum? apalagi, sampai museum udaranya pun ada. Trus taman kota? ini mah uda wajib adalah ya. Cafe cafe kozy?  bukan cuma kozy, yang rustic dan bernuansa romantis pun ada. Dan satu lagi, istana raja juga adaaaaa!

Ditambah pula Stockholm berada diantara kanal kanal air yang bersih, yang membuat kota ini semakin cantik dan menawan. Sehingga tidak heran jika Stockholm sampai diberi julukan Venice Utara Eropa.

Dan uniknya lagi, Stockholm merupakan kota yang berdiri di atas belasan pulau. Pulau pulau kecil yang saling berdekatan, yang satu dan lainnya hanya sejarak jembatan.

IMG_1097.JPG

Stockholm adalah ibukota sekaligus kota nomor satu terbesar di Swedia. Sebagai capital city, tidak heran Stockholm menjadi pusat perhatian para turis lokal maupun asing. Beberapa tempat wisata menarik bisa dilihat di kota ini. Di saat musim panas, Stockholm menjadi kota yang lumayan crowded. Turisnya ramai banget.

Entah sudah berapa kali berkunjung ke Stockholm, herannya gue tidak pernah merasa  bosan. Mungkin karena kunjungan pertama yang sangat berkesan, setiap ke Stockholm semangatnya ga pernah luntur. Padahal jarak Stockolm dari tempat tinggal gue lumayan jauh.

So, wisata apa saja yang bisa dilihat di Stockholm? Berikut ceritanya!

GAMLA STAN 

Ada seutas tali kuat yang selalu menarik gue untuk datang ke Stockholm. Dan setelah dipikir, dari beberapa kali kunjungan, sepertinya kawasan ini tidak pernah terlewatkan oleh kami (gue dan suami). Kawasan yang terbilang mainstream. 

Apalagi kalau bukan Gamla Stan. Berkunjung ke Stockholm tanpa ke Gamla Stan, ibarat makan rujak tanpa cabe.

Berikut foto bangunan di Gamla Stan

Gamla Stan artinya Kota Tua. Seperti kebanyakan kota di Eropa, Stockholm juga memiliki kawasan Old Town yang berdiri sejak abad pertengahan.

Gue cinta banget dengan Gamla Stan. Selain memiliki bangunan tua, Gamla Stan juga sarat dengan  gang kecil. Gang yang sebagian besar terdiri dari cafe cafe kozy, toko souvenir dan fashion.

Tidak itu saja, ketika berjalan di setiap gang, sesekali mata dan telinga akan terhibur dengan hiburan gratis para seniman jalanan. Gang kecil yang memberi suguhan abad Renaisans. Baik dikala siang maupun malam, Gamla Stan selalu mempesona.

Berada di Gamla Stan seakan melintas waktu dan jaman. Dan tentunya berkesempatan merasakan sensasi kota “Tempoe Doloe”.

img_1096
Gamla Stan
IMG_1088.JPG
Gamla Stan
IMG_0985.JPG
Gamla Stan

Ada satu gang terkecil di Gamla Stan yang sangat terkenal. Yang menjadi kunjungan wajib ketika berada di kota tua ini. Apalagi kalau bukan Mårten Trotzigs Gränd. Gang kecil yang bisa dibilang less than a metre wide. Ga nyampe semeter.

Meskipun terkesan biasa, akan tetapi Mårten Trotzigs Gränd mampu menghipnotis para wisatawan (tidak terkecuali gue), untuk berjalan di lorong gang  yang katanya cuma selebar 90 cm itu.

Di saat summer,  Mårten Trotzigs Gränd jarang terlihat sepi. Ada saja turis yang lewat. Bahkan harus rela ngantri. Padahal kalau dipikir pikir cuma gang biasa. Tapi  kalau bicara liburan, sesuatu yang famous selalu sayang untuk dilewatkan. Dan biar sah juga 😊

Bagian lain yang sekaligus menjadi pusat keramaian di Gamla Stan adalah Stortorget. Big square yang selalu dipenuhi lalu lalang turis. Ngapai aja turis di sini? foto foto! Nongkrong di cafe juga boleh. Atau biar lebih irit, duduk di bangku kayu bahkan di tangga museum Nobel yang terkenal itu. Yang walaupun terkenal, sampai sekarang gue belum pernah masuk ke dalam. Cuma dilewati doang. Maybe someday.

img_0041
Stortorget, bangunan merah dan coklat merupakan iconic

Berada di Gamla Stan, jangan lupa mencoba berbagai macam kelezatan cake dan roti di sebuah toko bakery bernama Sundbergs Konditori. Toko bakery tertua di Stockholm yang sudah berdiri sejak tahun 1785. 

KATEDRAL STOCKHOLM (STORKYRKAN)

Wisata Eropa lumayan identik dengan gereja. Memasuki gereja bukan lagi sebatas urusan ritual agama tertentu. Melainkan kunjungan wisata yang bersifat universal. Sehingga menjadi hal biasa jika pintu pintu gereja di benua ini selalu terbuka untuk publik setiap harinya, sekalipun bukan di jam beribadah. Pun dengan Stockholm, kota yang memiliki beberapa bangunan gereja dan terus terang membuat gue terkesima.

IMG_1192.JPG

Salah satu gereja terkenal di Stockholm adalah Katedral Stockholm (Storkyrkan). Letaknya masih di sekitar Gamla Stan. Kalau ditanya gereja Eropa mana yang pertama sekali gue kunjungi, jawabnya ya katedral Stockholm ini. Jadi wajar jika gue terwow!

Selain untuk kebaktian umum, katedral Stockholm juga dikenal sebagai gereja resmi keluarga kerajaan Swedia. Terutama di saat perayaan besar seperti pernikahan dan baptisan keluarga.

img_1464
Gereja yang megah

Pertama kali mengunjungi katedral Stockholm pada saat musim dingin bulan Januari 2014. Kala itu pengunjung sepi. Gue dan suami pun bisa masuk tanpa dipungut biaya. Berbeda dengan kunjungan kedua di musim panas bulan Juli 2014 (dalam rangka menemani saudara saya yang lagi berkunjung ke Swedia), kami dikenakan biaya masuk. Mungkin karena saat itu pengunjung gereja sangat ramai.

Gereja megah! Perpaduan pilar pilar tinggi dan kokoh, altar indah, sampai dua mahkota besar di sisi kiri kanan ruangan gereja, yang konon menjadi tempat duduk raja dan permaisuri. Dua mahkota inilah yang menurut gue menjadi daya tarik gereja. Mahkota yang identik dengan keluarga raja.

RIDDARHOLM CHURCH 

Masih dari Gamla Stan, kali ini tentang sebuah bangunan gereja tua bernama Riddarholm Church. Meskipun memakai embel embel kata “gereja”, tapi Riddarholm Church hanya dipakai sebagai tempat menyimpan peti jenazah raja raja Swedia terdahulu. Jadi bukan tempat ibadah.

Peti mati berukuran besar, menjadi pemandangan yang biasa di dalam gereja ini. Konon, di bawah lantai gereja juga terdapat makam. Lantainya mirip batu nisan.

img_0044
Di dalam bangunan gereja inilah raja raja Swedia sebelumnya dimakamkan
IMG_1361.JPG
Salah satu peti jenazah raja Swedia
IMG_1359.JPG
Lantai gereja. Konon di bawah lantai gereja ini pun ada makam. Masing masing makam ditandai dengan lantai berbentuk kotak dengan ukiran batu bertuliskan sesuatu di atasnya

THE ROYAL PALACE (KUNGLIGA SLOTTET)

Jika ingin merasakan nuansa dongeng dalam dunia nyata, The Royal Palace (Kungliga Slottet) adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Istana raja Swedia yang juga berada di kawasan Gamla Stan. Sejak tahun 1981, The Royal Palace tidak lagi menjadi tempat tinggal raja dan keluarga. Katanya sih karena terlalu dekat ke pusat perkotaan Stockholm.

The Royal Palace bukanlah istana yang dikelilingi pagar tinggi layaknya Buckingham Palace di London. Jangankan masuk ke halamannya, menikmati keindahan di dalam istana pun bisa. Walaupun harus dipungut biaya. Tapi worth it !

IMG_1178.JPG

Berada di dalam istana tentu saja membuat gue sedikit nanar. Gile aja, cantik banget. Bisa bayangin kan, istana raja kaya apa. Luas dan mewah. Masing masing ruangan memiliki cerita, mulai dari raja raja swedia yang pernah tinggal di istana, dimana kamar, ruang tamu, ruang baca, ruang istirahat sampai ruang makannya, semua bisa dilihat.

Begitupun lukisan, karpet, kursi, jejeran lampu kristal, ruangan meeting raja, meja makan menjamu tamu negara, sampai ruangan berisi nama nama pemimpin dunia yang sudah pernah berkunjung ke istana,  juga ada dan bisa dilihat dengan jelas. Tapi cukup dilihat saja, tidak boleh di jepret.

Bagian lain yang tidak kalah menarik adalah gedung penyimpanan mahkota raja. Yang jelas, mata gue kelilipan tak kala melihat berlian, safir, zamrut dan batu mulia yang melekat di setiap mahkota. Gila ya, perasaan raja raja Eropa selalu identik dengan batu mulia. Kadang suka mikir, kenapa mereka selalu memiliki koleksi berlian dan batu mulia yang gila gilaan. Nemu dimana sih. Hahaha.

Bagi yang suka melihat prajurit ganteng, boleh kok. Pas pergantian pengawal istana. Kegiatan yang bisa dibilang semacam desserts atau appetizer, untuk jenis wisata kaya gini. Hiburan klasik yang sepertinya menjadi  satu paket. Tapi gue ga tau apakah setiap hari diadakan atau tidak. Tapi menurut gue bukan sesuatu yang luar biasa sih. Standard banget. Tidak seseru pergantian pengawal di Buckingham Palace London.

IMG_1353.JPG

Tidak jauh dari The Royal Palace, terdapat bangunan Riksdag atau Swedish Parliament. Gedung parlemen yang terhubung dengan kawasan pedestrian Drottninggatan. Keduanya terhubung oleh sebuah jembatan yang tidak terlalu panjang.  Di sekitar jembatan inilah orang orang sering mengabadikan momen dengan camera, atau sekedar berdiri menikmati keindahan kota Stockholm. Kanal air, bangunan tua, sungguh perpaduan yang sempurna. Menjadikan kawasan di sekitar Riksdag menjadi menawan.

Jangan lupa melangkahkan kaki dan berjalan ke kawasan ini. Dan  cobalah untuk berhenti. Bidiklah satu momen indah dengan latar kota Stockholm diantara kanal air dan bangunan tua.

img_0979
Gedung Parlemen Swedia
img_2448
Sekitar gedung parlemen yang selalu ramai. Banyak turis mengabadikan momen dengan berfoto di sekitar jembatan
IMG_1469.JPG
Pedestrian di sekitar gedung parlemen
img_2480
View dari jembatan di sekitar gedung parlemen
img_2478
View dari jembatan di sekitar gedung parlemen

Jangan lupa melewati kawasan pedestrian Drottninggatan (Queen Street), nikmati berjalan kaki tanpa harus takut di serempet motor apalagi  dihadang asap knalpot. Kapan lagi bebas berjalan kaki di seluruh bagian ruas jalan. Bahkan di tengah jalan sekalipun.

Drottninggatan dikenal sebagai kawasan crowded. Hampir tiap menit dilewati langkah kaki turis. Terutama di saat musim panas.  Yang doyan shopping, Drottninggatan siap melayani. Banyak toko fashion disepanjang jalan dengan berbagai koleksi brand terkenal.

IMG_1263.JPG
Pedestrian Drottninggatan

DROTTNINGHOLM PALACE

Seperti yang gue jelasin di atas, The Royal Palace bukanlah istana yang dipakai sebagai hunian sehari hari raja Swedia untuk saat ini. Raja Carl XVI Gustav dan ratu Silvia, memilih tempat yang lumayan jauh dari pusat kota Stockholm. Drottningholm Palace adalah Private Residence of the Swedish Royal Family. Di istana inilah raja dan keluarga sehari harinya tinggal.

IMG_2456.JPG

Drottningholm Palace dibangun pada tahun 1662 dan kemudian mengalami renovasi besar besaran. Sampai akhirnya pada tahun 1981, istana ini resmi menjadi tempat kediaman The Swedish Royal Family.

Keunggulan Drottningholm Palace terletak pada keindahan tamannya. Di depan istana terdapat danau besar dan di bagian belakang taman yang sangat luas. Penataan taman sangat rapi. Dominan berwarna hijau. Taman istana juga memiliki labirin kecil yang bisa digunakan sebagai wahana bermain. Tidak jauh dari sekitar istana terdapat sebuah cafe. Bisa singgah sekedar meluruskan otot kaki yang lelah berjalan. Santai sejenak, ditemani secangkir kopi dan sepotong cake, sambil menikmati keindahan danau di depan istana. Damai dan tenang rasanya.

img_2457

IMG_2458.JPG

Pengen tau di dalam istana seperti apa? cukup membeli tiket seharga 100 Sek (kalau sekarang gue kurang tau). Tapi dibanding The Royal Palace, istana Drottningholm terkesan biasa. Ruangan yang bisa dilihat juga terbatas dan tidak banyak isinya.

MUSEUM VASA (VASAMUSEET)

Stockholm memiliki banyak museum bersejarah, diantaranya adalah Museum Vasa, berada di Galärvarvägen 14, Stockholm. Museum Vasa menjadi ada karena history masa lalu. Bermula dari ambisi seorang Gustavus, raja Swedia di masa lampau, yang ingin memperlihatkan kehebatan militernya di mata dunia. Kehebatan militer melawan bangsa Polandia dan Lithuania. Dan ambisi itu pun berlabuh pada pembuatan kapal perang yang tidak terkalahkan. Setidaknya itulah mimpi sang raja kala itu. Proyek raksasa yang dimulai sejak tahun 1626 sampai dengan 1628, melibatkan ratusan orang pekerja dan ribuan kubik kayu.

Cerita tenggelamnya kapal Vasa memiliki kemiripan dengan Titanic. Tenggelam di saat pelayaran perdana. Tepatnya pada tanggal 10 Agustus 1628, kapal Vasa berangkat menuju perairan Baltik disaksikan ribuan pengunjung yang bersemangat ingin melihat perjalanan perdana kapal. Namun cerita menjadi lain setelah kapal berjalan sejauh 1.300 meter dari dermaga. Tanpa diketahui penyebab pastinya, badan kapal perlahan miring hingga akhirnya tenggelam di perairan laut Baltik. Namun berbagai pendapat pun muncul, salah satunya menyebut beban kapal yang terlalu berat menjadi alasan penyebab tenggelamnya kapal.

Menurut cerita, kapal Vasa sudah dibangun sedemikian sempurna, namun muatan yang melebihi kapasitas memudahkan kapal tenggelam. Bayangkan saja, selain penumpang berjumlah 150 orang, kapal Vasa juga berisi 64 meriam, ditambah senapan dan amunisi. Beban yang tidak sanggup dipikul oleh sebuah kapal kayu di masa itu.

IMG_2566.JPG
Gedung museum Vasa. Foto dari Handphone dan apa adanya aja

Di balik cerita tragisnya, setelah berada di dasar laut kurang lebih selama 300 tahun, usaha pengangkatan kapal ke permukaan laut pun mulai dilakukan pertama sekali pada tahun 1961. Setelah melalui proses panjang dan waktu yang tidak sebentar, kapal Vasa berhasil diangkat dalam kondisi lumayan utuh, mulai dari bangkai kapal, meriam dan peralatan lainnya. Amazing!

Kemudian kapal Vasa ditarik ke pinggiran laut, dan di pinggiran laut inilah  akhirnya museum Vasa dibangun. Sebelum resmi dibuka pada tahun 1990, ribuan orang berdatangan dan menyaksikan proses pendirian museum. Cerita dibalik tragisnya kapal yang berlatar belakang ambisi ini, membuat banyak kalangan tertarik untuk menyaksikan proses pembangunan museum.

IMG_2564.JPG
Gue dengan backround kapal Vasa. Foto  hanya dari handphone.

Penjelasan demi penjelasan di setiap ruangan museum sangat detail. Mulai dari proses penarikan sampai pembersihan kapal, lengkap dengan kliping koran yang super heboh memberitakan penemuan Vasa di masanya. Semua barang yang ditemukan di dalam kapal disimpan dengan rapi, seperti meriam, senapan, peralatan makan para penumpang, pakaian sampai sepatu. Di dalam museum juga disediakan sebuah layar yang memberi efek dimensi (gue sebut gitu aja deh, kurang ingat namanya apa), yang mampu  memperlihatkan  warna asli kapal Vasa sebelum tenggelam. Keren!

Jadi ternyata, warna asli kapal tidak terdiri dari satu warna saja (coklat), melainkan ada warna lain yang ikut meramaikan permukaan dindingnya. Seperti merah, kuning emas dan pink. Contohnya seperti pada gambar di bawah ini.

IMG_2555.JPG
Miniatur kapal Vasa. Kira kira seperti inilah warna asli kapal
IMG_2401.JPG
Ini adalah pantulan warna asli kapal Vasa yang muncul di layar dimensi. Pantulan langsung dari badan kapal. Padahal warna kapal sekarang sudah berubah coklat seperti gambar di bawah ini. Tapi bisa terlihat warna aslinya. Keren ya!
IMG_2556.JPG
Bangkai kapal yang berhasil diangkat dari dasar laut. Full berwarna coklat

Hebatnya lagi, tengkorak korban penumpang kapal juga disimpan dengan baik di ruangan bagian bawah museum. Dan kondisi tengkorak pun masih utuh. Tidak itu saja, untuk bisa mengenal wajah para korban, maka dibuatlah patung lilinnya. Patung lilin lengkap dengan nama dan sebagai apa jabatannya di dalam kapal. Salut deh pokoknya.

Kadang yang begini ini yang suka membuat gue ga habis pikir. Betapa mereka ini sangat haus akan sejarah masa lalu negaranya. Berbagai cara dilakukan supaya peninggalan sejarah bisa lebih jelas diketahui warganya sendiri maupun khalayak ramai. Dan untuk merealisasikannya bukanlah sesuatu yang mudah kan. Butuh waktu puluhan tahun dan menghabiskan dana yang tidak sedikit.

IMG_2404.JPG
Patung lilin dari salah satu korban di kapal Vasa

Museum Vasa juga memiliki restoran besar dan cantik, jadi setelah lelah berkeliling, sangat pas sebagai alternatif melepas dahaga dan lapar. Berkunjung ke Museum Vasa kalau tidak salah (dua tahun lalu) dikenakan biaya sebesar 100 Sek per orang. Dan museum  mulai dibuka sekitar pukul 10 pagi hingga pukul 5 sore. Gue sangat sangat merekomen museum ini. Bagus!

SKANSEN (OPEN AIR MUSEUM)

Masih berada di wilayah yang tidak jauh dari Museum Vasa, Skansen merupakan Museum Udara Terbuka pertama, tertua dan terluas di Swedia. Bahkan konon di Skandinavia. Luasnya jangan di tanya, sangat luas. Museum udara yang mewakili sejarah peradaban masyarakat Swedia sebelum memasuki era industrialisasi.

IMG_9093.JPG
Rumah tua di Skansen
IMG_9068.JPG
Rumah tua di Skansen

Skansen ibarat sebuah miniatur sejarah di masa silam. Berisi kumpulan bangunan bangunan tua di masa lalu, yang sengaja dipindahkan dari berbagai pelosok wilayah di Swedia. Didirikan pada tahun 1891 oleh seorang pria bernama Arthur Hazelius. Selain bangunan tua, banyak kegiatan di abad silam yang dapat  dilihat di Skansen. Lebih detail dan jelasnya, cerita Skansen bisa dibaca di link ini.

GLOBEN SKY VIEW

Globen Sky View  merupakan salah satu sarana wisata yang berada di kawasan Stockholm Globe City, tepatnya di sebuah gedung arena bernama Ericsson Globe. Selain pusat perkantoran, cafe/restoran dan shopping mall, jantung dari kawasan Globe City sendiri adalah 4 gedung arena utama yang saling berdekatan (dikenal dengan Globen Arena), termasuklah Globen Sky View yang berada di gedung Ericsson Globe.

IMG_1519.JPG

Melalui gondola yang berbentuk seperti bola kaca, pengunjung bisa melihat keindahan landscape kota Stokholm. Bisa masuk ke dalam gondola tidaklah sembarangan.  Masing masing pengunjung sudah ditentukan jamnya. Seperti kami misalnya, meskipun sudah membeli tiket online, harus menunggu sekitar 20 menit, karena mendapat giliran pukul 2 siang. Sebelum menaiki gondola, pengunjung diberi tontonan berupa cuplikan film singkat tentang kawasan Stockholm Globe City.

IMG_1522.JPG

Di malam tertentu, biasanya gedung Ericsson Globe akan menampilkan warna warna lampu yang indah, khususnya untuk memperingati sebuah perayaan ataupun sebagai tanda empati terhadap sebuah kejadian.

Masih terang di ingatan gue, ketika hendak menonton konser Madona di Tele Arena yang lokasinya persis di sebelah Ericsson Globe, gue melihat perubahan pada dinding Ericsson Globe.Yang siangnya berwana putih, malam harinya berubah menjadi warna warna  yang melambangkan bendera Perancis. Hal itu dilakukan sebagai tanda empati akan tragedi kemanusian (akibat serangan bom) di kota Paris, yang memakan korban jiwa. Globen menjadi cantik sekali malam itu.

KING’S GARDEN (KUNGSTRÄDGÅRDEN)

King’s Garden merupakan sebuah taman di pusat kota Stockholm. Di taman ini banyak terdapat cafe outdoor yang cantik. Terutama di saat musim panas. King’s Garden juga menjadi pilihan yang tepat untuk sekedar melepas penat, duduk santai sambil menikmati burung burung  liar yang hinggap di tanah. Tak jarang pertunjukan hiburan dan bazar makanan dilakukan di taman ini. Di saat musim semi, King’s Garden  berubah menjadi negeri Sakura. Bertabur warna pink yang berasal dari keindahan bunga Cherry Blossom.

IMG_2485.JPG
Cherry Blossom di King’s Garden di saat Musim Semi
img_1176
Salah satu cafe di sekitar taman

 GRÖNA LUND

Tidak jauh dari Skansen, terdapat Gröna Lund. Sebuah theme park yang tidak terlalu luas tapi memiliki beberapa  wahana permainan yang lumayan mengerikan. Kebetulan gue dan suami pernah menginap di hotel yang sangat dekat dengan Gröna Lund. Hotel gratisan dari hadiah perkawinan. Dan biasalah, nginapnya dimana, tapi malah sibuk jalan ke pusat kota. Pas balik dan niat membeli tiket, malah ditolak dengan alasan sudah tutup.

img_1473
Gröna Lund

Dari kapal ferry maupun loby hotel, gue bisa melihat para penggila wahana ini. Belum lagi suara jeritannya…welehhhh. Tapi bagi yang gemar permainan ekstrem dan penuh tantangan, sepertinya Gröna Lund menjadi pilihan yang tidak salah untuk dicoba.

Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi sih. Tapi anehnya meskipun sudah beberapa kali ke Stockholm, sampai sekarang gue dan suami selalu tidak sempat mengunjungi. Dan penyebabnya kalau bukan karena telat datang, ya tempat wisatanya memang tidak buka di hari kami datang.

Seperti Stockholm City Hall misalnya, ini gedung cakep banget. Acara jamuan makan Nobel Prize yang terkenal itu adanya di gedung ini. Sayangnya ketika kami datang, lagi lagi salah hari. Tidak buka alias tutup. Gue cuma bisa foto foto aja di sekitar gedungnya. Dan sampai sekarang akhirnya bablas tidak berkunjung. Terhipnotis cafe cafe di Gamla Stan. Hahahha.

IMG_2399.JPG
City Hall

Pun demikian dengan museum ABBA, tau kan? group musik legendaris asal Swedia. Meskipun gue bukan penggemar mereka, tapi gue lumayan tertarik melihat museum yang isinya artis terkenal. Sayangnya ketika kami datang, waktu bukanya tinggal 15 menit lagi.

img_2460

Nah yang ini paling aneh, sampai sampai suami gue bilang “kok kita belum nyoba tour kanal di Stockholm ya” hahahhaa…beneran emang. Setiap liburan ke negara lain, selama ada tour kanalnya pasti kami nyobain, kok malah di Stokholm kaga! Padahal pasti cakep banget. Tapi setidaknya masih banyak waktu untuk mencoba dan mengunjugi semua tempat yang belum kami lihat.

img_1126

Satu hal yang gue suka ketika berlibur ke Stockholm adalah restoran asianya. Tidak terlalu susah menemukan restoran asia di kota ini. Dan enaknya lagi, di jam makan siang antara pukul 11 hingga pukul 2 siang, kebanyakan restoran di Stockholm memberi konsep makanan yang rasanya relatif ramah di kantong. Dengan sistem all you can eat (buffet), sudah bisa makan sepuasnya dengan hanya membayar rata rata sekitar 90 hingga 110 SEK saja. Itu gue rata ratakan saja ya.

Gue bilang relatif murah, karena Swedia itu negara mahal untuk urusan bayar bayar. Makanya ketika bisa makan dengan harga segitu, ya lumayan membantu. Kapan lagi di Swedia bisa makan sepuasnya kalau bukan di jam yang gue sebut tadi. Karena biasanya, lewat dari pukul 2 siang, hitungan harga bisa naik dua kali lipat. Itu pun untuk  porsi makanan yang terbatas, satu macam doang!

Makanya jika berada di Swedia, khususnya kota Stokholm, jika tidak ingin mengeluarkan kocek yang lebih mahal, usahakanlah makan siang sebelum pukul 2. Kalau tidak resikolah.

img_2477
View dari sekitar gedung Parlemen
img_2451
Stockholm

Dari sekian restoran yang ada, gue paling suka restoran Chopstick. Restoran yang selalu ramai menurut gue. Namun berhubung ruangannya luas, jadi rata rata pengunjung selalu kebagian kursi. Gue suka kalap di sini, terutama di hari Sabtu atau Minggu. Kalau tidak salah, mereka membuat menu spesial. Menu Premier istilahnya. Ada dinsum siomay, bebek goreng (baca irisan bebek gorengnya tebal….haha), berbagai olahan udang, ayam, mie goreng, nasi goreng….haaaaaa…lengkap nian.

Bahkan kita bisa memilih seafood segar beserta bumbunya dan menyuruh koki restoran memasak langsung. Fresh food banget. Cuma harganya memang lebih mahal, kalau ga salah sekitar 179 SEK atau lebih dikit deh. Tapi puas. Gue serasa di Indonesialah. Cuma kudu hati hati sih, karena ada menu non halalnya.

IMG_1100.JPG

Keindahan landscape kota Stockholm juga bisa dilihat dari  sebuah restoran gantung di daerah Södermalm Stockholm. Lengkapnya bisa dibaca di  SORE MENJELANG MALAM di GONDOLEN, yang sudah pernah gue tulis sebelumnya.  Asik restorannya!

Semoga next time masih ada bagian lain dari kota Stockholm yang bisa gue ceritakan. Dan semoga juga tulisan ini berguna bagi siapa saja yang membacanya. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com . Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”.

Stockholm, I Really Heart You!

Setidaknya inilah kalimat yang bisa gue sampaikan ke kota cantik nan romantis ini. Kota yang tidak hanya membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi juga meninggalkan kesan dan pengalaman baru, yang sampai sekarang pun kalau gue ingat, pengen rasanya memutar mesin waktu dan merasakan kembali bagaimana luapan kebahagian gue, keheboan gue, keudikan gue, ketika pertama kali mengunjungi kota yang memiliki julukan Venice Utara ini. Rasanya banyak sekali kalimat yang ingin gue utarakan, tapi lagi lagi tidak pandai mengurai kata.

IMG_1511.JPG

Padahal baru dua tahun berlalu, rasanya seperti kenangan di masa kecil saja. Terlalu menyenangkan buat gue. Seperti tidur dan mimpi indah. Ketika gue memiliki rencana dan bilang dalam hati “Ahh, nabunglah. Biar bisa keliling Eropa” Dan gue pun serius. Di sela cicilan apartemen yang harus gue bayar setiap bulannya, gue mulai menyisihkan sedikit sisah gaji yang ada. Pokoknya harus melihat Eropa!

IMG_1508.JPG

Tapi cerita pun menjadi lain, ketika harus berjodoh dengan seseorang yang Tuhan sudah pilihkan. Tentunya ini merupakan bagian dari rencana indah, yang Tuhan sudah atur di dalam kehidupan gue.

Dan singkat cerita, akhirnya gue diperkenankan melihat lebih cepat benua yang sejak kecil menjadi bahan khayal gue, tanpa harus bersusah payah menumpuk angka saldo di buku tabungan. Bisa melihat negeri dongeng di benua yang indah. Iyesss tra la la, gue berhasil menginjakkan kaki di Eropa. Walaupun hanya sebatas satu kota, namanya Stokholm!

IMG_1503.JPGBerhubung kunjungan pertama, jelas saja semangatnya tingkat dewa. Jangankan ke Singapur or Thailand, liburan di Indonesia pun gue selalu bersemangat. Konon pula ke Eropa. Bah!

Heboh dan udiknya nyampur jadi satu. Sampai sampai phobia naik pesawat yang menjadi sindrom ganas yang selalu menyerang gue, berhasil gue halau. Boro boro penerbangan 18 jam, yang dua jam saja sudah membuat gue pengen guling guling.  Rekor bangetlah pokoknya, ketika gue tidak mengalami stress parah, yang sampai membuat gue susah tidur. Malah sebaliknya, gue lebih tenang dan santai. Kalaupun muncul rasa cemas, masih  sebatas normal.

IMG_1509.JPG

Kunjungan pertama ke Stockholm jelas merupakan pengalaman yang indah buat gue. Iya, Stockholm adalah kota yang sampai saat ini selalu mendapat tempat di hati. Kota  pertama yang meyakinkan gue kalau negeri dongeng itu ada. Negeri salju itu ada.  Rumah tua di jaman zorro itu ada. Gambar klasik di kartu natal itu ada.  Dan kota inilah yang pertama sekali membuat mimpi dan khayalan gue akan indahnya negeri Eropa tergenapi. Nyata di depan mata. Ahhh…ini nulisnya sambil terharu biru dan senyum senyum senang.

img_1521
Wajah kota Stockholm
img_1513
Wajah kota Stockholm

Ketika apa yang selama ini cuma bisa didengar dari cerita orang, dilihat dari media cetak/televisi bahkan media sosial, akhirnya menjadi sebuah realita, sungguh pengalaman luar biasa buat gue. Apalagi untuk sebuah kunjungan pertama. Ada satu kejadian yang sangat gue ingat, kejadian yang mungkin bagi sebagian kalangan terkesan “apaan sih”. Tapi tidak bagi gue.  Kala itu gue dan suami menginap di sebuah hotel tua di daerah Gamla Stan. Ketika bangun dan hendak sarapan, seketika langkah gue terhenti di depan balkon teras lantai dua hotel.Balkon yang tidak terlalu luas. Kaki gue terhenti akibat terpana oleh sebuah pemandangan yang selama ini cuma ada dalam khayalan. Sesuatu yang berwarna putih. SALJU!

IMG_1646.JPG
Dari sekian dokumentasi foto yang gue punya, inilah foto yang paling gue suka. Gue simpan terus. Foto yang berhasil membuat gue terpana. Timbunan salju di kursi dengan model meliuk liuk itu membuat gue gemyessss!
img_1653
Ahhh…pengen mengulang masa dua tahun yang lalu. Habisnya kalau sekarang melihat salju tidak se-excited waktu di foto ini. 
img_1643
Ini juga membuat gue terkesima.  Pertama melihat barisan pohon dibelakang itu, entah mengapa langsung merasa familiar banget dengan foto foto winter. Langsung cusss deh foto. Topi gue aja ga nahan itu modelnya. Rusia banget. Sekarang udah males pake topi gituan. Hahahha.  Ahhh, pengalaman pertama itu memang selalu menyenangkan

Iya, ada salju di depan gue. Putih dan bersih! Bertumpuk menghiasi meja dan kursi tua di balkon hotel. Beneran gue terpana. Tumpukan salju yang gue lihat pas banget dengan gambar di kalender dan lukisan. Cantik. Apalagi atap atap gedung sekitar hotel juga penuh dengan balutan salju. Dan entah mengapa momen melihat salju di pagi itu sangatlah tepat. Silent banget! Tidak ada orang lain, cuma gue dan suami.

Momen yang menggiring emosional gue. Ohhh…inikah salju dalam cerita dongeng itu? Gue pegang dan gue lempar. Ahhh..ada salju di tangan gue. Sukses membuat gue seperti kembali ke umur belasan tahun.  Ternyata  kartun Disney dan Hans Christian Andersens itu ga pernah bohong. Salju dalam sajian cerita mereka benar adanya. Hahaha.

Gue ga tau, apakah orang lain yang pertama sekali melihat salju seperti gue jugakah? Yang jelas rasa dingin yang menggigit tubuh kala itu, terkalahkan oleh rasa suka yang mendera.

IMG_1466.JPG

Ketika beberapa kalangan mengeluhkan salju dan musim dingin, berbeda dengan gue. Tidak perduli seberapa dingin dan tebalnya salju. Bahkan ketika salju terhembus angin sekalipun, gue tetap setia dengan aksi foto foto. Gila aja gue ga foto foto, ada salju pula. Setidaknya itulah pemikiran gue saat itu. Maaf, jika gue terlalu Indonesia sekali 🙂 

img_1512
Wajah kota Stockholm
img_1501
Wajah kota Stockholm dari sebuah restoran

Stockholm tidak hanya menawarkan gue keindahan salju, tapi juga sajian luar biasa akan hebatnya para penyanyi tenor dan sofran di teater kota ini. Semakin menyadarkan gue, jika pertunjukan live jauh lebih wow dibanding media televisi.

Dan untuk pertama kalinya, Stockholm jugalah yang memberi kesempatan ke gue, untuk bisa menikmati pertunjukan live tersebut. Terbayang pun tidak, bisa memasuki gedung teater berskala Eropa. Rasanya merinding. Seperti bermimpi. Berada di gedung dengan interior klasik dan elegan. Bisa melihat orang bernyanyi dengan suara melengking dan menggelegar.  Ternyata bukan hanya Luciano Pavarotti atau Andrea Bocelli yang memiliki suara tenor bagus, jika didengarkan secara langsung pun, penyanyi dan pemain teater di Stockholm buaaaanyak banget yang bersuara mirip.

img_1132
Gedung Teater di Stockholm
img_1636
Mejeng di gedung teater
img_1637
Gedung teater. Gue senang banget pertama masuk ke gedung ini. 

Seperti kebanyakan kota Eropa, Stockholm berada diantara bangunan bangunan tua yang masih terjaga dengan baik. Gedung tua dengan lorong lorong jalan yang sempit. Romantis. Ditambah lagi kanal kanal air bersih yang mengalir di sebagian besar ruas kota, membuat Stockholm terlihat lebih indah. Awalnya gue tidak menyadari jika Stockholm adalah kota yang berdiri di atas pulau pulau kecil. Kalau tidak salah sampai belasan pulau. Pulau pulau ini saling berdekatan satu sama lain, artinya hanya terpisahkan oleh jembatan sejauh puluhan atau ratusan meter saja.Sangkin pendeknya jarak jembatan dari satu pulau ke pulau yang lain, sampai gue tidak menyadari kalau wilayah kota yang satu dengan yang lain sudah berbeda pulau. Kota yang unik bukan?

img_1516
Kota yang cantik
IMG_1472.JPG
Suka sekali dengan model bangunan tuanya
IMG_1212.JPG
Stockholm diantara kanal air yang bersih
IMG_1518.JPG
Stockholm diantara kanal air yang bersih
img_1177
The Royal Palace
IMG_1181.JPG
Suka dengan lorong jembatannya
IMG_1504.JPG
Beautiful Stockholm

Stokholm adalah kota yang memberi garansi, ketika restoran padang susah ditemukan, Dont Worry! Gue masih bisa makan nasi. Bisa makan bebek goreng, capcay, bahkan dinsum kesukaan.  Jelas saja, pertama berada di negeri bule, dan bisa merasakan sensasi restoran asia, rasanya berlipat lipat ganda senangnya.

Stockholm itu artistik. Lihat saja stasiun kereta bawah tanahnya. Unik banget. Serasa berada di dalam sebuah gua besar. Tapi tidak suram apalagi menjijikkan. Malah sebaliknya, terlihat unik dengan polesan warna warni lukisan yang dihasilkan tangan tangan seniman di Stockholm. Lukisan yang justru menjadikannya sebagai stasiun kereta bawah tanah dengan nilai seni terindah di dunia. Katanya sih begitu.

IMG_1389.JPG
Tunnelbana. Kereta api bawah tanah Stockholm
IMG_1480.JPG
Stasiun kereta bawah tanahnya seperti gua ya
IMG_1482.JPG
Dinding batu yang dilukis
IMG_1481.JPG
Artistik

Stockholm itu nyenengin. Ga ngebosenin. Selalu terpanggil untuk datang ke kota ini. Di setiap musim, Stokholm selalu cantik. Summer, spring, autum bahkan winter. Kota ini sangat tahu bagaimana caranya membuat gue betah. Taman, cafe, kanal, kapal kapal di dermaga, semuanya memberi keindahan tersendiri.

img_1330
Kungsträdgården Stokholm di saat musim semi. Kawasan taman yang berada di pusat kota Stockholm
IMG_1477.JPG
Senja di Stockholm
img_1475
Stockholm di malam hari
img_1476
Kawasan cafe romantis di Gamla Stan Stockholm
IMG_1483.JPG
Stockholm diantara kilau lampunya
img_1520
Cherry Blossom in Stockholm

Cuma satu yang membuat gue agak senewen, semakin ke sini, setiap berkunjung ke Stockholm, selalu saja ada perbaikan jalan, renovasi bangunan, yang membuat pemandangan kota ini menjadi kurang enak dilihat. Semoga proyek proyek ini segera usai.

IMG_1470.JPG
Gamla Stan. Cerita tentang old town ini akan menyusul ya

Tulisan ini hanya cerita berbagi suka, ketika sebuah khayalan dan mimpi menjadi nyata, seperti apa rasanya. Siapa juga sih yang tidak suka mengunjungi belahan dunia lain. Ketika gue berencana menabung agar bisa keliling Eropa, dan ternyata Tuhan membuatnya menjadi lebih mudah, apa iya gue cuma bilang semuanya biasa saja. So, jika ada orang yang begitu antusias bercerita pengalaman pertama berkunjung ke suatu tempat atau kemana pun itu, gue bisa paham.  Karena gue sudah melalui rasa senang yang demikian.

img_1105
Kanal air
IMG_1124.JPG
Wajah kota Stockholm
img_1261
Cafe di Gamla Stan. Cafe yang selalu ramai. Gue suka interiornya

IMG_1517.JPG

Sebenarnya gue sudah pernah menulis wisata Stockholm di blog yang lama. Cuma ga lama setelah gue post, gue delete. Fotonya jelek. Hahahaha. Sampai akhirnya gue sabar ngumpulin foto satu demi satu setiap gue mengunjungi kota ini. Tapi yang ada malah kepending terus oleh tulisan yang lain.  Namun setelah melihat postingan kota Stockholm dari seorang  bebe  di blog beberapa waktu lalu, semakin terbawa semangatlah gue untuk segera menulis kecantikan Stockholm yang selalu tertunda. So thank you mama Jo, sudah berhasil memotivasi gue untuk tidak menunda nunda tulisan jelek ini. Hahaha.

Berikut foto foto wajah kota Stockholm yang sayang gue simpan!

img_1502

 

img_1378
Di saat summer, Stockholm sangat ramai oleh kunjungan turis
img_1117
Restoran di atas kapal
img_1467
Suka!
img_1276
Beautiful
img_1471
Kapal kapal di dermaga
IMG_1351.JPG
Sepetik….!

Ahhh….Stokholm, I really heart you!

Kunjungan gue ke beberapa tempat wisata di Stockholm akan gue tulis di tulisan berikutnya. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

.

 

 

Menghabiskan hari di Museum Udara Skansen Stockholm

Pertama sekali mengunjungi Skansen sekitar dua tahun yang lalu. Tepatnya bulan Agustus 2014. Musim panas waktu itu. Bareng suami, abang dan kakak gue. Kebetulan mereka berdua (abang dan kakak) lagi berkunjung ke Swedia. Ketika suami mengajak ke Skansen, awalnya gue tidak terlalu antusias. Namanya waktu itu masih newbie banget, jadi jika berkunjung ke kota besar, apalagi seperti Stockholm, rasanya lebih suka menikmati keindahan pusat kotanya saja. Bukan malah melihat bangunan yang sebenarnya di desa gue pun ada. Tapi abang gue sepertinya tertarik banget, sebelas duabelas dengan suami. Akhirnya mau ga mau ya ngikut.

img_9273

Berhubung kami datang sudah agak siangan, jadi kurang cukup waktu mengelilingi Skansen yang lumayan luas. Apalagi kakak gue dikit dikit ngeluh kakinya capek. Hahaha. Intinya kunjungan pertama itu kurang berkesan buat gue. Berbeda dengan sekarang, setelah mengunjungi Den Gamle By di Aarhus Denmark dan Jamtli di Östersund Swedia, akhirnya gue pun lumayan bersemangat ketika suami mengajak ke Skansen (again).

img_9267

Sebenarnya kunjungan kali kedua ke Skansen bisa dibilang tidak ada dalam rencana kami. Terbayang pun tidak untuk datang ke tempat ini lagi. Hingga suatu hari, tepatnya beberapa hari sebelum kami berangkat ke Stockholm dalam rangka menghadiri undangan pesta ulang tahun teman, tiba tiba suami bilang, kalau tiket masuk ke Jamtli (museum udara yang pernah kami kunjungi beberapa bulan lalu), bisa digunakan juga sebagai tiket masuk ke Skansen. Jadi ceritanya suami baru ngehlah, kalau petugas loket di Jamtli pernah memberitahu dia terkait penggunaan tiket ini. Awalnya gue tidak yakin. Apalagi suka ga percaya kalau “yang di sini” bilang bisa, “yang di sana” bilang ga bisa. Pengalaman birokrasi di kampung halaman.

IMG_8662.JPG
Wajah Skansen
IMG_8663.JPG
Bangunan tua di Skansen
img_8666
Bangunan tua di Skansen

Berhubung gue lumayan sering menyimpan segala kertas yang berkaitan dengan perjalanan liburan kami (seperti tiket, brosur, slip bayar bayaran sampai map), maka tanpa bersusah payah mencari, dua buah tiket Jamtli langsung di tangan. Sampai akhirnya kami tiba di Skansen, sempat ada sedikit keraguan. Takut tiketnya ditolak. Tengsin banget kan kalau sampai kejadian. Dan pas nanya ke bagian loket, ternyata ga pake birokrasi lama, kami langsung diperbolehkan masuk. Dan pakai bonus lagi, tanpa harus melalui antrian yang lumayan panjang. Ahhh rejeki pasangan soleha.

img_9086

So, jika ada pertanyaan, tempat wisata apa yang terkenal di Stockholm dan rasanya wajib untuk dilihat?  Salah satunya adalah Skansen. Terletak di Djurgarden, sebuah kawasan pulau kecil di Stockholm. Tidak hanya dikenal sebagai museum udara (open air museum) pertama dan tertua di Swedia, tetapi juga yang terluas. Sangkin luasnya, rasanya butuh waktu seharian untuk bisa maksimal mengelilinginya.

img_9099

Skansen pertama sekali didirikan oleh seorang pria bernama Artur Hazelius pada tahun 1891. Sebagai kolektor barang antik dan pencinta sejarah, beliau pun memboyong bangunan bangunan tua dari berbagai pelosok daerah di Swedia. Mulai dari bangunan rumah, bank, pabrik roti, sampai bangunan gereja. Tujuannya cuma satu, Hazelius ingin memperkenalkan bagaimana budaya masyarakat Swedia jauh sebelum era industrialisasi masuk ke negara ini. Jadi jangan heran, jika berada di Skansen, akan sangat mudah melihat kumpulan rumah rumah kayu tua,  yang berdiri di beberapa lokasi area museum.

IMG_9050.JPG
Bangunan tua di Skansen. Sekilas seperti rumah adat di Indonesia ya. Tapi daerah mana kurang tau.
IMG_9258.JPG
Bangunan tua ini biasanya digunakan sebagai tempat berdagang di musim panas (summer). Semacam kios kios gitulah. 
IMG_9264.JPG
Ini juga, mirip bangunan Toraja. Apa gue lagi halusinasi ya. Haha

Tidak hanya itu, Skansen pun disulap agar terlihat lebih menarik, dengan menata sekitar museum sedemikian rupa, banyak pohon dan bunga, kebun binatang, taman bermain, sampai sebuah arena panggung besar yang rasanya menjadi ajang pentas musik di saat summer. Pentas musik yang lumayan sering disiarkan di stasiun TV lokal Swedia. Bahkan beberapa bangunan kincir angin pun sengaja dipindahkan untuk memberi nuansa bahela di kawasan museum.

img_9036
Model kincir angin versi Swedia.  Pertama sekali melihat  kincir angin ini di Öland, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia. Mostly kincir angin seperti ini memang terdapat di Swedia bagian selatan. Konon,  proses pembuatan tepung gandum ya di dalam kincir angin ini.
img_9037
Sollidenscen,  di saat summer, biasanya panggung ini sering membuat acara pentas musik besar. Bahkan sering ditayangkan di TV lokal Swedia.
img_8981
Reindeer, salah satu jenis rusa yang kebanyakan hidup di daerah yang dingin (ekstrem), seperti di bagian utara Swedia. Di hutan sekitar desa gue, tidak ada jenis rusa ini
img_8982
Reindeer di kawasan zoo Skansen
img_9244
Burung Merak
img_9087
Di sepanjang kawasan zoo Skansen, tepatnya di bagian binatang beruang, terlihat bangunan batu seperti gua yang memanjang. Bisa masuk ke dalamnya dan melihat beruang dari dalam. Tapi gue ga masuk sih.  Kurang interest.  Lebih oke beruang kutub di Taman predator Orsa Dalarna. Hahaha
img_9100
Taman bermain. Lucu ya dombanya

Berada di Skansen, seperti terbawa ke lingkaran waktu ratusan tahun silam. Jaman dimana orang masih menggunakan peralatan apa adanya. Jauh dari modernisasi. Barang barang masih terbuat dari bahan kayu, seperti ember, piring, sendok dan perlatan rumah tangga lainnya. Tapi tidak sedikit juga yang menampilkan barang retro dalam bentuk porselin dan keramik. Bahkan di museum udara ini, juga terdapat tiang batu (gue sebut tiang batu aja deh biar gampang, haha) yang dulunya dipakai sebagai batas pengukur jalan. Tiang batu yang menjadi tolak ukur untuk hitungan jarak per satu mil.

IMG_9082.JPG
Tiang batu yang digunakan untuk menentukan jarak per satu mil

Di tulisan gue sebelumnya, gue sudah pernah menyinggung tentang Root Cellar, gudang yang di jaman dahulu kala memiliki fungsi layaknya sebuah kulkas. Mampu membuat bahan makanan menjadi awet dan tahan lama di dalamnya. Hal ini disebabkan karena suhu di dalam Root Cellar cenderung stabil, baik di saat musim panas maupun musim dingin. Nah, kebetulan Root Cellar bisa dilihat di Skansen. Lengkap dengan contoh contoh makanan apa saja yang bisa di simpan di dalam. Ada telur, toples berisi selai, sayuran, roti dan masih banyak lagi.

Kadang ada perasaan excited juga sih, ketika gue melihat beberapa barang antik dan bangunan bersejarah di Skansen, yang notabene pun ada di dalam kehidupan gue sehari hari. Seperti Root Cellar, teaset retro sampai bangunan rumah kayu berumur 400 tahun lebih. Biasalah, kalau sebelumnya kurang memaknai barang peninggalan yang ada di sekitar rumah, setelah melihat tempat seperti Skansen atau museum lain, otomatis ada semacam perasaan “ohhh yang di rumah ternyata barang available ya”. Gimana ga gue bilang begitu coba, tempat wisata sekelas Skansen aja bangga banget menjadikan peninggalan budaya menjadi sesuatu yang layak dilihat, dan untuk bisa melihatnya pun harus bayar kan. Jadi wajar saja kalau akhirnya gue memiliki perasaan luar biasa, ketika melihat barang barang yang ada di rumah, ternyata ada juga di Skansen.

img_9056
Root Cellar di Skansen lengkap dengan contoh bahan pangan yang disimpan di dalam
img_7942
Root Cellar di samping rumah gue, masih bagus dan berfungsi dengan baik

Gambar di atas ini merupakan Root Cellar di samping rumah gue. Masih berfungsi dengan baik. Biasanya kami gunakan untuk menyimpan bahan makanan dalam jumlah yang banyak. Seperti kentang dari hasil bercocok tanam, selai Lingonberry dalam jumlah yang banyak, bahkan sampai buah semangka jika ukurannya lumayan besar. Praktis membuat kulkas ga gampang penuh dan sesak.

img_9055
Barang retro di salah satu rumah di Skansen. Lumayan surprise ketika melihat teaset retro di dalamnya. Karena di rumah gue juga ada. Peninggalan mendiang mama mertua. Makin disayang deh. Hahaha.
IMG_0209.JPG
Teaset retro peninggalan mendiang mama mertua
img_9066
Peralatan berbahan kayu, yang seperti ini pun ada di gudang rumah gue. Hahaha
IMG_9073.JPG
Tempat membelah kayu

Ketika mustahil rasanya di jaman modern ini, bisa berpapasan dengan seseorang yang mengenakan pakaian ala ala Little Missy, Laura Ingalls, (tau kan siapa yang gue sebut? kalau ga coba google aja, itu serial kesukaan gue. Angkatan sepuh..haha), maka old town Skansen memberi peluang untuk itu. Berjalan kaki menyusuri jalanan di Skansen, dan tiba tiba berpapasan dengan wanita yang meneteng keranjang, kepala ditutupi kain tipis, dan tentu saja mengenakan pakaian tradisional dengan ukuran rok yang memanjang menutupi kaki. Bisa banyangin kan lucunya.

Ohya, ada satu cerita yang setidaknya lucu menurut gue. Awalnya gue ga kepikiran untuk melihat apalagi memperhatikan. Itu pun karena suami yang pertama berkomentar. Menurut gue tidak ada yang istimewa, cuma tiang listrik biasa. Di Indonesia juga banyak. Sampai akhirnya barulah nyadar, tiang listrik yang gue lihat di Skansen termasuk barang yang lumayan jadul (versi Swedia tentunya). Disebut lumayan jadul karena sebagian besar wilayah di negara ini sudah tidak menggunakan kabel listrik yang dipasang di tiang. Melainkan sudah ditanam di bawah tanah. Menurut ngana lucu ga sih. Kalau gue sih lucu. Wong di kota asal gue sampai sekarang pun tiang listrik masih banyak. Hahaha. Sombong banget yak, tiang listrik begini langsung masuk klasifikasi model bahela. Apa kabar di kampung gue sana, yang talinya pun kadang asal main lilit aja.

img_8975
Tiang listrik jadul
IMG_8973.JPG
Kawasan Old Town Skansen, berikut Konsum, toko yang menjual bahan pangan mulai dulu sampai sekarang
img_9025
Dahulu,  tidak jarang toko Konsum datang ke desa desa, lengkap dengan mobil berisi bahan sandang dan pangan.  Suami gue sempat menyaksikannya ketika dia masih kecil. 
img_9024
Old Town Skansen, berikut wanita berbaju Little Missy.. Hahaha
img_8977
Wanita dengan pakaian layaknya seperti di  film film

Old town Skansen juga memiliki bangunan bangunan apik seperti bank, toko roti sampai pabrik kaca. Bahkan di pabrik kaca, pengunjung bisa melihat cara pembuatan barang pecah belah yang terbuat dari bahan kaca. Buat kami cukup sekali saja masuk ke dalam, untuk kunjungan kali ini rasanya tidak perlu lagi.

Yang paling gue suka ketika berada di lokasi kota tua Skansen adalah ketika berjalan di jalanan kecil berbatu, yang kiri kanannya terdapat bangunan antik dari kayu. Jalanan dan bangunan yang sepertinya menjadi satu kesatuan spot paling menarik menurut gue. Belum lagi di beberapa titik jalan terdapat kereta kuda, gerobak dan drum kayu serta karung berisi sesuatu (ga tau apa isinya haha), yang memang sengaja dibuat sedemikian agar nuansa kota tuanya makin berasa. Bahkan sebuah bangunan bertuliskan Konsum, sebuah supermarket terkenal di Swedia yang tetap eksis dari dulu hingga sekarang pun ada.

IMG_9033.JPG
Gerobak dan drum kayu di old town Skansen
IMG_9034.JPG
Kawasan old town
IMG_9035.JPG
Toko roti dengan fans beratnya. Selalu rame.  Dan lucunya gue ga pernah berniat masuk ke dalam. Ngantri terus. Tapi model bangunannya cakep. Kece kan suasananya. 
img_9032
Kereta kuda
img_9027
Lorong jalan yang kece (menurut gue pastinya). Apalagi rumah merah ini atapnya ditanami rumput. Makin unik aja kelihatan

Melihat sejarah masa lalu yang disajikan Skansen, langsung berpikir betapa hidup di jaman sekarang itu sangat praktis. Semua relatif lebih gampang. Contohnya, karena dari kecil suami sudah terbiasa dengan roti,  maka jenis makanan karbo ini wajib ada di rumah gue. Dan itu pun lebih banyak gue beli di supermarket. Kalaupun harus baking sendiri, tinggal masukin mesin, lalu oven, puter suhu, jreng jreng jreng….15 menit matang. Cepat kan.

img_9054
Pria yang memperkenalkan roti tradisional Swedia. Boleh dimakan dan gratis

Namun berbeda dengan kehidupan orang dulu, mau tidak mau roti harus dibuat sendiri. Dan semuanya dilakukan secara manual. Pakai tangan! Tidak ada yang namanya mesin pengaduk roti, food processor, mixer, atau apalah. Peralatan serba terbatas. Tangan harus siap pegal. Karena mereka tidak punya pilihan lain (atau jangan jangan orang dulu ga kenal kata pegal kali ya). Kalau sekarang kan beda, apa apa serba mesin. Atau setidaknya masih bisa milihlah, mau manual apa cara canggih.

Dan mungkin juga, di jaman dulu belum ada baking powder, belum ada tepung dengan embel embel terigu protein tinggi, sedang dan rendah. Main libas aja semua. Panggangan juga nihil pengatur suhu. Gimana mau ngatur suhu coba, wong dipanggang cuma pakai kayu bakar. Belum lagi harus menyiapkan tungku api, yang sekaligus digunakan sebagai penghangat ruangan. Sambil terus menunggu agar tembok di tungku api benar benar panas. Karena di sebelah tembok inilah nantinya roti akan dipanggang. Dengan kata lain, suhu panas di tempat pemanggangan roti, bersumber dari tembok panas di tungku api. Untuk memasukan roti ke tempat pemanggangan pun harus menggunakan sodokan kayu panjang. Kapan lagi bisa merasakan kehidupan abad silam seperti ini, kalau bukan karena berada di kawasan seperti Skansen. Menariknya lagi, pembuatan roti diperagakan oleh tangan tangan tua wanita Swedia, lengkap dengan pakaian tradisionalnya.

img_9068
Salah satu bangunan rumah yang dipindahkan ke Skansen
IMG_9248.JPG
Suka bangunannya

Skansen memang identik dengan kehidupan masa lampau. Apalagi jika melihat bangunan bangunan yang ada di kawasan museum, semuanya serba antik. Sekilas mirip rumah adat di Indonesia. Misalnya seperti atap bangunan yang terbuat dari tumpukan jerami, serasa mengingatkan gue dengan bangunan rumah di pedesaan pulau Jawa.

Sekilas terlihat sama, namun sebenarnya bangunan yang dikumpulkan dari berbagai pelosok Swedia ini berbeda detail satu sama lain. Bangunan rumah yang berasal dari Halland misalnya, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia. Atap rumah selalu ditutup dengan tumbukan batang jerami yang sangat tebal. Wajar, karena propinsi ini memang mampu memproduksi gandum dalam jumlah yang lumayan banyak. Jerami yang berasal dari batang gandum sangat mudah di dapat dan dijadikan sebagai atap bangunan.

IMG_9065.JPG
Atap rumah yang penuh dengan jerami tebal. Sekilas seperti rumah di jawa ya. Bedanya di Jawa pakai daun kelapa kalau ga salah 
img_9072
Bangunan di Halland

Masih dari Selatan Swedia, bedanya propinsi ini sudah berada di wilayah paling Selatan. Propinsi Skåne memiliki bangunan rumah yang bisa dibilang berbeda dari propinsi lain. Di saat sebagian besar rumah kala itu terbuat dari kayu, Skåne malah memiliki bangunan yang terbuat dari dinding batu. Wilayah Skåne memang sudah terbilang dekat ke pinggiran laut. Bisa dibilang hampir tidak memiliki lahan hutan yang luas. Sehingga untuk membangun rumah berbahan kayu pun  menjadi sulit.

img_9060-1
Rumah di Skåne. Dari bahan batu
img_9051
Kawasan Skåne di Skansen. Selain rumah, ada sapi dan unggas yang menjadi ciri khas propinsi ini
img_9064
Sapi
img_9052
Unggas khas Skåne
img_9063
Yang pasti ini bukan iklan susu ..haha

Di bagian lain ada Mora Garden. Di sini terdapat bangunan rumah yang barasal dari kota Mora, Dalarna. Gue sempat tertawa ketika melihat bentuk bangunannya. Serasa gue liburan di desa sendiri. Karena buat gue, model bangunannya familiar sekali. Dalarna adalah salah satu propinsi yang dikenal sebagai penghasil kayu terbanyak dan terbaik di Swedia. Hampir sebagian besar wilayahnya dikelilingi lahan hutan. Hal inilah yang mengakibatkan bangunannya tidak sekedar terbuat dari kayu biasa, melainkan dalam bentuk balok kayu utuh. Lagi lagi wajar, karena warganya hidup diantara lahan hutan yang tumbuh subur.

img_8979
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen
img_9246
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen
IMG_9245.JPG
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen. Mostly terbuat dari balok kayu

Kunjungan kami ke Skansen kali ini bertepatan dengan musim gugur. Dan kebetulan pula, Skansen sarat dengan pohon Maple dimana mana. Berwarna kuning cerah serta orange kemerahan. Indah sekali. Pengen gue fotoin semua. Musim gugur berasa banget di Skansen saat itu. Dan enaknya lagi, pengunjung yang datang tidak seramai di saat musim panas. Dan lucunya, meskipun gue belum pernah berkunjung ke negeri China, entah mengapa ketika berada di Skansen, gue serasa menikmati musim gugur di negeri Tirai Bambu itu. Kebanyakan nonton serial silat sepertinya. Atau bisa juga karena mimpi yang sekian lama gue simpan untuk bisa berjalan di lorong Great Wall of China yang wonderful itu. Semoga kelak kesampaian ya. Amin.

IMG_9255.JPG
Pohon Maple di Skansen
IMG_9253.JPG
Musim gugur di Skansen. Cantik
img_9085
Hutan di Skansen yang penuh dengan daun Maple
img_9269
Cakep

Ketika kaki mulai lelah, bolehlah untuk sekedar duduk dan melonggarkan nadi, sambil menikmati landscape kota Stockholm yang indah. Skansen sudah mempersiapkan bangku bangku kayu di beberapa ruas jalanan di sekitar museum. Terutama lokasi yang memperlihatkan view kota Stockholm dengan baik. Jangan lupa menikmati Swedish Meatballs versi Solliden, restoran besar di Skansen yang siap melayani anda. Bulatan bulatan daging berlapiskan saos lumayan melimpah, ampuh membuat perut untuk tidak berontak kelaparan.

IMG_9089.JPG
Landscape kota Stockholm dari Skansen
img_9038
Landscape kota Stockholm dari Skansen
img_0257
Bangku, pohon, Landscape kota Stockholm. Mantap!
img_9042
Hmmm, ini namanya pengen diangkut, bawa pulang ke rumah! Haha
img_9041
Restoran besar di Skansen, Solliden
img_9039
Swedish Meatballs

Saran gue, jika ingin mengelilingi Skansen keseluruhannya, ada baiknya fokus seharian  di tempat ini saja. Tidak ada agenda lain. Karena museum udara ini luas banget. Jadi dengan waktu yang lumayan longgar, kesempatan untuk melonggarkan kaki yang pegal pun ada. Tidak terburu buru maksudnya. Kami saja pun yang masuk mulai dari pukul 10 pagi sampai pukul 3 sore, rasanya belum benar benar bisa melihat semuanya.

IMG_9079.JPG
Gue sempat kalap di sini. Natural dan lumayan Rustic di beberapa bagian. Pengen foto foto terus. Ampe suami duduk kecapean. Hahahahaha
img_9080
Lop lop lop

Ohya, jangan lupa untuk mencoba Bergbana, train kecil yang membawa turun dari ketinggian Skansen menuju pintu keluar. Lumayan loh, jadi ga perlu capek jalan kaki lagi.

img_9098
Bergbana

Jika gue harus membandingkan, maka inilah yang bisa gue katakan. Pada dasarnya, Skansen lumayan membuat gue terbawa ke dalam kehidupan sejarah di abad silam. Namun gue tidak begitu paham, atau memang kedatangan kami kurang pas waktunya, dua kali berkunjung ke museum udara ini, atraksi yang ditampilkan oleh pihak pengelolanya kurang maksimal. Lain halnya dengan Jamtli, museum udara yang tidak terlalu luas, tapi sangat pintar memberi sajian drama kehidupan sehari hari kepada para pengunjung. Sangat total.

Inilah yang sepertinya belum gue rasakan di Skansen. Atau mungkin pada saat kami datang, mereka tidak ada agenda untuk itu. Padahal sepertinya, kedua museum ini dikelola oleh pihak yang sama. Apa karena Skansen terbilang sudah lebih pamor dibanding Jamtli yang lebh kecil? Sehingga tanpa harus membuat atraksi drama yang total pun, pengunjung sudah banyak yang datang. Ga tau juga. Yang jelas, buat gue sendiri, Jamtli berhasil menghidupkan museum, layaknya benar benar seperti sebuah kota sungguhan di abad silam.

KUNJUNGAN KAMI ke MUSEUM UDARA JAMTLI, BISA BACA di LINK INI

img_9084
Beautiful
img_9071
Antik
img_9070
Tipikal bangunan di propinsi Halland, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia.
img_9254
Selalu suka melihat pagar kayu begini
IMG_8664.JPG
Foto pakai handphone. Tapi hasilnya not badlah. Canggih emang handphone sekarang. Hahaha
img_8665
Rumah yang dulunya dihuni oleh sebuah keluarga miskin di masa lampau
IMG_0258.JPG
Sukaaaaaaa!!
img_9257
Gereja tua berumur ratusan tahun yang dipindahkan ke Skansen

IMG_0173.JPG

See you in my next story

IMG_0262.JPG
Backroundnya ga kuat! 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

SORE MENJELANG MALAM di GONDOLEN

Gue lumayan sering menyelipkan review singkat (tidak terlalu detail sih) terhadap restoran, cafe, maupun hotel/penginapan yang pernah gue kunjungi di sebagian besar tulisan gue. Alasannya sih karena gue suka banget memperhatikan interior ruangan hotel maupun restoran/cafe. Termasuk pernak pernik seperti gelas dan sendok bahkan sampai bentuk serbet yang ada di atas meja. Pun makanannya, yang sebagian besar enak menurut gue (Mungkin karena ga pake acara masak sendiri di rumah..hahaha)

IMG_6540.JPG

“Nanti kita makan di Gondolen ya” setidaknya itulah kalimat yang diucapkan  suami jauh hari sebelum kami bermalam di Stockholm menuju Finlandia beberapa waktu lalu. Entah mengapa, setiap suami menyebut nama sebuah restoran, gue selalu percaya aja. Pilihan dia bisa dibilang selalu cocok cocok aja dengan gue. Dibanding gue yang lumayan cuek, urusan kaya gini memang suami lebih banyak tau. Sewaktu suami memberitahu Gondolen semacam restoran gantung dengan view yang lumayan oke, langsung dong gue bilang iyes. Karena gue paling suka melihat landscape kota (termasuk Stockholm) setidaknya dari ketinggian tertentu.

img_6545
Jembatan di Gondolen 

Restoran Eriks Gondolen berada di Stadsgården, Södermalm, Stockholm, Swedia. Dari jauh sudah terlihat bangunan restoran layaknya sebuah jembatan gantung. Biasa aja sih bentuknya. Meskipun berada di ketinggian tertentu, jangan ngebayangin Gondolen layaknya restoran fine dining di Jakarta sejenis The Sky Bar or Altitude The Plaza ya, jauhhhhh. Yang begini ini Asia uda paling topnya. Hahaha.

IMG_6525.JPG
Sambil minum melihat view kota Stockholm dari Gondolen

Bahkan sampai kami tiba di Gondolen, kesan pertama yang gue lihat adalah suasana crowded serta penampakan beberapa sudut tempat yang kurang rapi. Tapi memang, keunggulan Gondolen terletak pada view menawan kota Stockholm yang bisa dilihat dari jembatannya. Cuma lantai jembatannya kurang enak dilihat. Terkesan tidak terawat.

Apa karena terlalu banyak orang yang silih berganti berdatangan ga ngerti juga. Apalagi yang gue lihat, sepertinya tidak sedikit yang datang hanya untuk menikmati keindahan kota Stockholm plus foto foto doang. Di jembatan juga sengaja disediakan beberapa sofa dan meja tinggi. Bahkan lengkap dengan selimut. Kalau mau romantis romantisan juga boleh. Tidak ada yang melarang. Hahahaha.

img_6529
Restoran Gondolen
img_6531
Meja plus pernak perniknya
img_6534
Appetizer
img_6535
Main Food
img_6537
Main food
img_6533
Dessert

Untuk restoran utamanya sendiri terletak pas di lantai bawah jembatan. Ketika masuk ke dalam, terlihat jauh sekali perbedaannya. Tenang, elegan, dan nyaris tidak ada yang ketawa dan bicara keras seperti di cafe atasnya. Makanannya gue akui enak. Ya standard restoran di level yang samalah. Ga beda jauh.

Selain memiliki view yang indah, restoran Gondolen juga dikenal dengan interior ruangan yang dipenuhi kursi kursi retro di setiap mejanya. Gondolen menjadi hiburan kami, di saat sore menjelang malam kala itu. Sambil melihat keindahan kota Stockholm tentunya.  Anda boleh mencoba.

img_6526
Di luar restoran. Gelasnya lucu lucu seram  ya
img_6518
Sajian wajah kota Stockholm dari Gondolen
img_6522
Sajian wajah kota Stockholm dari Gondolen
img_6520
Sajian wajah kota Stockholm dari Gondolen
img_6544
Yang lumayan kedinginan. Anginnya itu lohhh

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

See you in my next story