Mengenal “FÄBOD” Di Dalarna Swedia

Gue yakin kalian pasti asing dengan kata “Fäbod”. Dimaklumi.

Fäbod merupakan sebutan yang sangat familiar dan sudah tidak asing lagi di propinsi Dalarna Swedia. Sudah ada sejak 450 atau 500 tahun silam. Bahkan hingga saat ini (meskipun tidak banyak lagi) masih ada fäbod yang bertahan.

Fäbod merupakan sebuah sejarah. Sejarah peradaban masa silam di sebagian wilayah Dalarna yang mostly menggantungkan hidup dari bertani.

Fäbod bisa dibilang sebuah “kawasan” yang dihuni secara “musiman”. Tepatnya hunian di saat musim panas. Tapi fäbod bukanlah summer house yang identik dengan liburan musim panas, santai, me time atau apalah itu yang menyegarkan badan dan pikiran, melainkan hunian yang dipakai para petani ketika harus tetap menggembalakan ternak mereka.

Mmmm…..bisa diperjelas lagi?

Jadi begini…

Dalarna itu adalah salah satu propinsi di Swedia yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi hutan pinus, danau maupun sungai. Dalarna juga relatif lebih dingin dibanding ujung selatan Swedia. Sudah dekatlah ke perbatasan bagian utaranya. Sedangkan lahan lahan kosong untuk pertaniannya pun sebagian besar relatif terbatas.

Faktor geographis ini membuat Dalarna kurang bisa maksimal menghasilkan produksi tanaman pertanian termasuklah rumput untuk bahan pangan ternak. Ditambah lagi Dalarna mengalami musim dingin yang relatif lebih panjang dan lama.

IMG_9720

Ketika musim panas tiba, para petani di sebagian wilayah Dalarna memaksimalkan keterbatasan lahan dengan menanam rumput di sebagian lahan yang mereka punya untuk kemudian digunakan untuk makanan ternak.

Berhubung lahan terbatas, hasil panen di musim panas ini pun otomatis tidak mencukupi stok pangan ternak untuk satu tahun penuh. Kasarnya hanya cukup untuk stok musim dingin. Bahkan rumput liar yang tumbuh di sekitar hutan dekat rumah pun tidak ketinggalan dipotong untuk dijadikan stok pangan ternak.

Lalu masalah pun muncul. Jika rumput liar dan rumput yang sengaja ditanam tidak mencukupi, bagaimana kelangsungan hidup ternak ternak ini di saat musim panas tiba?

Kemudian muncul ide….

Selama musim panas para petani akhirnya tidak membiarkan ternak untuk tinggal di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Karena jika tidak, otomatis tanaman rumput bakal habis dimakan ternak. Padahal itu akan digunakan untuk stok musim dingin.

Lalu kemana ternak ternak ini dibawa? Ke sebuah wilayah yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Seberapa jauh? Bisa 10 hingga 40 kilometer.

Hah? ….Terus setiap hari pulang pergi bawa ternak segitu jauh? 400 tahun silam belum ada kendaraan toh. Bawa ternak sapi pula. Sapi kan gendut gendut. Belum lagi bawa ternak lainnya. Kuda, domba, ayam, itik…ble ble ble.

Nah, itulah gigihnya mereka. Mereka sadar jika harus pulang pergi setiap hari sudah jelas akan sangat merepotkan. Selain tidak efesien di waktu juga akan menguras tenaga. Bisa bisa belum sampai tujuan uda keburu malam.

Sehingga mau tidak mau mereka harus rela membangun hunian baru di kawasan dimana mereka akan menggembalakan ternaknya. Biasanya kawasan yang dipilih adalah dataran yang agak tinggi dan tetap dekat dengan hutan. Di sini mereka bikin rumah sendiri, ngebor air secara manual dan semuanya serba bikin sendiri. Selama musim panas mereka berpindah ke hunian baru ini. Kawasan inilah yang kemudian dinamai FÄBOD.

IMG_9829
Sapi di sebuah kawasan fäbod yang masih bertahan hingga saat ini

Sepanjang musim panas mereka jarang bahkan nyaris tidak menempati rumah di desa mereka. Mereka bekerja menggembalakan ternak agar tetap kenyang menikmati rumput di kawasan fäbod.

Kemudian setelah musim panas usai, mereka pun kembali ke desa berikut dengan seluruh ternak. Saat musim dingin tiba ternak pun tetap kenyang memiliki asupan stok makanan karena di saat musim panas tanaman rumput di sekitar desa sama sekali tidak dimakan ternak.

Setiap desa di sebagian wilayah Dalarna rata rata warganya membangun kawasan fäbod. Bahkan satu desa masing masing warga bisa memiliki fäbod yang berbeda beda. Gue sendiri masih bisa melihat peninggalan fäbod warisan keluarga suami.

Tapi tidak semua wilayah di Dalarna memiliki Fäbod. Jika lahan mereka mencukupi, mereka tidak perlu membangun kawasan fäbod.

Fäbod umumnya ada di wilayah yang lahan pertaniannya terbatas. Lebih banyak hutannya. Contohnya seperti warga di wilayah Selatan Swedia, mereka memang tidak memerlukan Fäbod. Karena wilayah selatan Swedia memiliki lahan pertanian yang lumayan luas dan cuaca yang lebih hangat.

Meskipun ada satu dua fäbod yang masih bertahan hingga saat ini, Fäbod lebih diingat sebagai peninggalan sejarah. Saat ini sistem pertanian sudah sangat canggih. Tapi fäbod mengingatkan generasi ke generasi betapa beratnya usaha petani di masa silam untuk bisa bertahan hidup.

Namun dari sekian banyak Fäbod di Dalarna ada beberapa yang justru menjadi tujuan wisata. Sebut saja seperti Fryksås Fäbod yang sangat terkenal dengan keindahan landskapnya dan Kättboåsen Fabodar. 

IMG_9789
Rumah di kawasan fäbod yang sering gue kunjungi. Dalamnya bersih loh dan antik. Tanpa polesan make up dia. Haha..

IMG_9756

Kättboåsen Fabodar adalah kawasan fäbod yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal gue. Setiap tahun gue dan suami selalu mampir ke sini. Entah mengapa gue selalu suka. Keaslian lingkungan sekitarnya membuat gue seolah lupa jika gue hidup di tahun saat ini.

IMG_9825
Sapi di sekitar fäbod

Kättboåsen Fabodar dikelola pasangan suami isteri yang sangat setia dengan kehidupan jaman bahela. Bayangkan setiap musim panas mereka bener bener menjalankan apa yang dilakukan para petani Dalarna ratusan tahun silam.

IMG_9799
Bunga menjadi lebih cantik ketika berada diantara yang rustic

Mereka meninggalkan rumahnya dan hidup dengan ternak ternaknya selama musim panas di kawasan fäbod milik mereka. Rumahnya beneren ga dipoles. Apa adanya seperti ratusan tahun silam. Perlengkapan peralatan di dalam rumah pun masih orisionil.

IMG_9788
Semakin kusam warna kayunya semakin tertarik orang berkunjung haha

Setiap kami ke sana mereka selalu berpakaian tradisional Dalarna. Masak pakai kayu bakar, cuci tangan di baskom bukan di wastafel. Beneran kehidupan jaman dulu.

Setiap musim panas mereka membuka ruang untuk turis tanpa dipungut biaya. Paling mereka mendapat keuntungan dari hasil menjual roti, keju, cake yang mereka buat sendiri. Kejunya mereka bikin sendiri loh dari ternak sapi mereka. Cakenya juga enak. Beneran deh, apa saja akan menjadi lebih nikmat jika disantap di suasana jadul seperti ini. Karena berasa serba terbatas kan.

IMG_9725
Sekitar halaman fäbod yang adem asri

Ngopi sambil dengerin suara aummm sapi dan kukuruyuk ayam yang super montok, mencium aroma asap kayu bakar, hingga kabin kabin tua yang super rustic. Beneran lupa kalau sekarang uda tahun 2019. Hahaha.

IMG_9740
Nah….di sini ngopinya.. sesimple itu Marimar! Air panasnya dibakar di atas kayu bakar. Lupakan mencari air kemasan botol di sini. 
IMG_9786
Ember kayu jaman dulu dan kuali besi hitam yang masih bertahan

Semua turis yang ke sini tidak pandang umur. Anak anak, remaja, dewasa dan tua. Semua menikmati dan antusias mengelilingi kawasan fäbod. Berikut beberapa gambar di kawasan Kättboåsen Fabodar yang masih bertahan hingga saat ini.

IMG_9835
Mereka juga nanam grain untuk menghasilkan tepung rye
IMG_3927
Ini kucing mereka. Cute banget. Begitu hendak gue foto sepertinya dia tau. Dia berhenti loh dan menoleh gitu. Ini Foto empat tahun lalu dan sampai sekarang si kucing ini masih ada.
IMG_9817
Jerami

IMG_9718

Jaman sekarang tidak sedikit yang menjadikan bangunan rumah di kawasan fäbod yang sudah tidak terpakai lagi menjadi summer house. Dan itu lumayan banyak diincar. Sedangkan untuk fäbod yang masih bertahan biasanya menjadi ajang tempat wisata musim panas.

Note: Semua foto di dalam tulisan ini hanya menggunakan handphone

Lupiner, Cantik Tapi Berbahaya

Setiap musim panas, ada satu jenis tanaman yang menghiasi beberapa wilayah Swedia. Terkhusus di wilayah Dalarna. Beraroma semerbak dan beraneka warna. Cantik.

Di Swedia orang orang menyebutnya Lupiner. Sedangkan asal katanya berasal dari bahasa Latin yaitu Lupinus yang artinya serigala. Dinamai demikian karena keganasan lupiner yang mampu mengekspansi pertumbuhan tanaman di sekitarnya sehingga sulit berkembang.

IMG_8908 (1)

Awalnya gue berpikir jika tanaman ini hanya tumbuh di wilayah dingin. Ternyata tidak. Malah dari beberapa sumber yang gue baca,  di wilayah panas seperti Indonesia pun lupiner bisa dibudidayakan. Dan gue juga baru tau jika lupiner dianggap berbahaya terhadap kelangsungan hidup species lain di sekitarnya. Karena sifat serigalanya itu tadi.

IMG_8913

Beberapa waktu lalu, pemerhati lingkungan di Swedia mulai dibikin resah oleh ekspansi tanaman ini. Dihimbau agar warga yang melihat lupiner sebaiknya segera menebas dan membakarnya agar tidak membawa pengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman liar lain yang dianggap lebih nature.

Walaupun dalam kenyataan yang gue lihat, warga tetap membiarkan bunga ini hidup dan menikmati keindahan warna warninya. Emang cantik sih. Ibarat melengkapi keindahan musim panaslah. Apalagi kalau dilihat dari jauh, warna ungunya mirip bunga lavender.

IMG_8898 (1)
Mirip Lavender

Lupiner aslinya berasal dari Amerika Utara dan Selatan. Konon di sana bunga ini sangat terkenal. Selain di Swedia, lupiner juga tumbh subur di wilayah New Zealand, Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Konon biji Lupiner bisa dimakan dan sering menjadi suguhan dalam bentuk  cemilan di wilayah mediterania.

IMG_8911

IMG_8909

Lupiner sangat menyukai air. Makanya tanaman ini lebih subur di tanah yang memiliki kandungan air yang banyak. Seperti di pinggiran sungai, pantai dan danau. Sehingga kalau gue lihat, tanaman ini tumbuhnya memang tak jauh jauh dari sekitar air. Tumbuh di pinggir jalanpun karena jalanan berada tak jauh dari sungai atau danau. Atau di sekitar selokan yang ada aliran airnya. Jadi tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat.

IMG_8898

Di wilayah eropa lainnya, lupiner ternyata dibudidayakan untuk dijual di toko bunga. Ahhh so lucky me bisa melihat hamparan mereka dan bisa memetik sepuasnya.

IMG_8915

Saat gue menulis tulisan ini, lupiner lagi banyak banyaknya bermunculan. Dan gue pun tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan momen cantik ini dalam bentuk video.

Bisa klik video di bawah …

Dikutip dari berbagai sumber termasuk Wikipedia

Curhat Cuaca!

Ketika gue datang ke Swedia di tahun 2014 silam, gue merasakan musim semi yang masih dingin. Bahkan hingga musim panas, gue masih sering jaketan. Curah hujan masih teratur datang. Ini berlaku hingga tahun 2017.

Tapi di tahun 2018, panasnya itu ga ketulungan. Panas banget. Awalnya sih gue senang senang aja karena berasa ga ribet dengan jaket dan bisa bener bener menikmati musim panas. Tapi ketika cuaca panas ini membawa dampak hingga blueberry liar di hutan tidak berbuah, kemudian rumput di halaman berubah warna gersang kecoklatan, hingga puncaknya sebagian besar hutan di Swedia mengalami kebakaran besar dan hebat. Membuat gue sedikit cemas melewati musim semi dan musim panas tahun ini. Gue berhadapan dengan alam. Jelas ga bisa gue larang. Ramalan cuaca aja bisa salah ya kan.

IMG_7394.jpg

Musim semi tahun ini lebih aneh. Di bulan April biasanya masih berasa dingin. Tapi tahun ini uda panas banget layaknya musim panas. Sampai sampai desa tempat gue tinggal tidak mengadakan Valborg (tradisi menyalakan api unggun di akhir bulan April). Warga khawatir karena rumput di sekitar terlalu kering. Jadi langsung sadar diri mereka. Bayangin masih bulan April tapi sudah kelihatan gersang kering. Padahal salju yang berbulan bulan menumpuk aja belum lama meleleh. Suhu Panas membuat rumput dan tanah yang tadinya basah oleh salju seketika berubah kering.

IMG_7400 (1).jpg

Dan anehnya lagi bulan Mei lalu si salju kembali turun. Bulan Mei turun salju. Salju di musim semi. Hahaha. Kadang kadang dalam sehari bisa merasakan suhu 4 musim sekaligus. Adem sepoi mirip spring dan autum, panas layaknya summer dan dingin banget layaknya winter.

Sempat selama seminggu lebih suhu kembali ngedrop hingga minus menjelang malam dan subuh. Dan setelah itu tiba tiba panasssss banget. Dan sekarang curah hujan yang turun. Entah mengapa kalau sekarang hujan turun gue senang. Setidaknya tanaman di sekitar ga mati.

IMG_7398.jpg

Dan tau ga…pohon birches di sebelah rumah gue saat ini daunnya sudah menguning. Layaknya musim gugur. Bayangin aja masih musim semi loh. Belum melewati musim panas. Sangkin kepanasannya itu daun pas cuaca panas beberapa waktu lalu. Gue berharap semoga cuaca bumi kembali stabil. Gue trauma kalau sampai hutan kebakaran lagi.

Swedia 2019 

Makanan Terbau di Dunia Ada di Swedia: “SURSTRÖMMING”

Pernah mencium ikan busuk? telur busuk? sampah busuk barangkali? Nah………aroma aroma busuk tersebut bisa menjadi sedikit gambaran akan santapan asal Swedia yang satu ini. Bauk!

Beneran! hidung saya sudah pernah menjadi korban keganasan aroma tak sedap dari olahan permentasi ikan ini. Wek…wek….weeeeeeeeeeeeek!

Surströmming adalah ikan herring (strömming) yang telah melalui proses penggaraman dan permentasi yang sangat lama. Mencapai enam bulan. Bayangkan ada ikan di dalam kaleng hingga berbulan bulan. Nyaris setengah tahun. Kebayanglah shayyyy baunya. Bau kentut belum ada apa apanya. Sebentar juga hilang. Lah ini kaga ilang ilang.

Kenapa harus sampai 6 bulan? Konon supaya mampu menghasilkan citra rasa yang tajam. Ikan tetap dalam kondisi awet dan tahan lama. Surströmming sendiri berasal dari wilayah Swedia bagian utara tepatnya di daerah daerah sekitar high coast. Dan menjadi salah satu makanan tradisional terkenal negara ini.

IMG_8297

Metode permentasi ikan herring sudah ada sejak ratusan tahu silam dimana teknologi mesin pendingin seperti kulkas belum ada. Cara terbaik mengawetkan makanan agar bertahan lama adalah dengan melakukan proses penggaraman dan permentasi yang lama.

Tradisi mana sampai sekarang tetap dipertahankan meski sistem produksinya sudah lebih modern. Aroma bau busuk autentik tidak menyurutkan popularitas surströmming hingga ke era modern. Meskipun bau tapi tetap menjadi santapan yang cukup menyelerakan bagi warga Swedia. Santapan bau yang tetap terkenal tidak hanya di Swedia tapi juga di luar Swedia. Sangkin baunya, surströmming selalu masuk dalam jajaran peringkat atas salah satu makanan terbau di dunia. Pihak produsen yang memproduksi surströmming saja sampai menghimbau agar membuka kaleng surströmming di luar rumah.

Konon tak sedikit juga warga Swedia yang tidak begitu interest dengan surströmming. Bau busuk dan rasanya menjadi alasan utama. Tapi lain halnya dengan warga Swedia di sekitar high coast (Swedia bagian utara), justru sangat menyukai surströmming. Surstromming merupakan santapan yang maha aduhai buat mereka. Apalagi dipercaya jika surströmming sangat baik untuk pencernaan. Katanya sih begituuuuu.IMG_8292

Jika mengikuti tradisi awal surströmming, biasanya makanan ini lebih sering disantap ketika memasuki musim gugur. Saya juga kurang jelas alasannya mengapa harus memilih musim gugur. Kemungkinan filosofinya karena suhu di musim gugur belum sedingin winter dan tidak sepanas summer. Dengan suhu yang belum terlalu dingin kemungkinan besar warga masih bisa menikmati suasana bersantap di luar rumah. Aroma bau busuk pun kemungkinan lebih cepat berkurang dan demikian juga dengan lalat terbang tidak terlalu banyak (lagi lagi saya sotoy…haha).

Tapi bukan berarti di saat musim panas tidak ada yang menyantap ikan permentasi ini. Tapi ya itu, lalat terbang langsung berdatangan. Bahkan di saat musim dingin ada saja yang menyantap surströmming di dalam rumah. Dan biasanya mereka memasukkan ikan ke dalam air soda agar baunya sedikit berkurang.

IMG_8291

Saya pernah menyaksikan tetangga membuka kaleng surströmming. Dan itu dilakukan sekitar 30 meter dari luar rumah. Tetap aja loh baunya kecium. Jadi bisa dibayangkan luar biasa baunya. Penampakan ikan di dalam kaleng juga menggelikan. Kusam dengan air permentasi yang keruh. Kalau mereka bisa makan ikan berbau busuk seperti ini, bagaimana bisa ikan asin mereka bilang bau? bagaimana bisa? jelaskan! hahaha….

Suami saya sendiri tidak begitu menyukai surströmming. Tapi sesekali dia masih mau menyantap ketika ada acara makan bersama. Menurutnya bau ikan ini memang kurang ajar. Haha..

Beberapa hari yang lalu suami dan tetangga menyantap surströmming di rumah. Tetangga saya sampai bolak balik mengajak saya mencoba surströmming meski cuma sedikit. Sejujurnya ada rasa penasaran di hati. Seperti apa sih rasanya. Tapi bau busuk ikan ini beneran bikin saya hopeless. Ketika saya duduk bersama mereka di meja makan, saya menyantap menu yang lain. Makan sudah tidak konsentrasi. Saya berasa makan di dalam truk sampah. Hahaha.

IMG_8213.jpg
Penampakan suströmming setelah kalengnya dibuka dan airnya dibuang. Permentasi penggaraman selama berbulan bulan membuat ikan tidak rusak dan tetap kelihatan kinclong. Tapi baunya itulah mak!

Tetangga saya seolah tak percaya bagaimana saya bisa terlalu anti bau busuk ikan ini. Sedangkan dia tau kalau saya doyan makan ikan asin yang menurut dia sangat tidak pantas aromanya. Bahkan kaki ayam saja saya makan kata dia. Hahaha.

Segitu nafsunya beliau supaya saya mau mencicipi surströmming. Ya inilah yang disebut kultur kebiasaan di sebuah negara. Buat saya ikan asin itu ya ga bau. Buat orang di sini bau. Padahal kalau dipikir pikir sama sama melalui proses penggaraman. Makanya tak heran jika rasanya memang asin banget (kata suami).

Surströmming biasa disantap bersama tunnbröd (roti tradisional Swedia yang tipis dan bisa digulung) atau bisa juga dengan kentang rebus dan salad, irisan bawang merah dan sour cream. Sour cream dan bawang merah dianggap bisa mengurangi aroma tak sedap sekaligus menambah kelezatan ketika menyantap surströmming.

IMG_8254.jpg
Tunnbröd

Harga surströmming bisa dibilang tidak murah alias relatif mahal. Ukuran sekaleng kecil bisa mencapai 200 ribu rupiah dengan jumlah ikan yang hanya 3 hingga 4 ekor. Sizenya kecil kecil pula.

So……………………..jika penasaran dengan bau ikan ini, silahkan datang ke Swedia. Bisa ditemukan di supermarketnya. Selamat mencoba! 

Ketika Bangunan di Swedia Dominan Berwarna Merah. Mengapa?

Pernah berkunjung ke Swedia? terkhusus ke daerah daerah ”country sidenya”? atau mungkin sekedar melihat dari liputan televisi, internet, kalender, koran atau majalah? atau mungkin juga dari ilustrasi gambar dalam buku cerita anak sekelas Astrid Lindgren?

Jika disimak, salah satu ciri khas dari negara Skandinavia yang satu ini adalah typical bangunan bangunan rumahnya. Terutama bangunan rumah/gedung di wilayah country sidenya. Hampir semua berwarna merah! Warna merah yang berpadu dengan warna putih di setiap sisi jendelanya. Cantik, klasik dan magical. Rumah merah yang mewakili cerita fantasi dalam serial dongeng. Rumah merah yang selalu serasi dengan semburat warna di empat musim yang berbeda. Tak cuma rumah, bahkan bangunan sekolah, panti jompo, gudang, kandang ternak, pagar, hotel, sampai kotak pos pun berwarna merah.

IMG_5787.jpg

IMG_5781.jpeg
Rumah merah berpadu dengan salju putih di musim dingin. Serasi dan magical ya 🙂

Lantas mengapa bangunan di Swedia dominan berwarna merah? Ternyata ada ceritanya.

Hal ini berkaitan dengan area pertambangan biji tembaga dan besi bernama “Falu Koppargrufa” (Falun Mines) yang terletak di propinsi Dalarna, salah satu propinsi yang ada di wilayah Swedia. Pertambangan mana diperkirakan sudah ada sejak 500 atau 900 tahun silam.

40777452632_48e5cf23e4_o

40819112711_96c0b5b1f8_o.jpg
Merah!

Menilik mundur ke sejarah silam, masa dimana sebagian besar warga di sekitar Falun Dalarna berprofesi sebagai penambang tradisional, yang sehari harinya bekerja dengan memilah milah biji batu tembaga. Semisal kandungan tembaga dalam batu sedikit, kemudian dipisahkan ke suatu tempat.

Seiring waktu batu batu ini semakin menggunung. Dan tanpa mereka sadari, akibat proses pengeringan oleh alam yang cukup lama, kandungan besi oksida dan mineral dalam batu mampu membentuk limonit sedimen, yang semakin lama secara alami menghasilkan warna merah.

IMG_5687 (1).jpg

39438018790_794b43718d_o.jpg
Sebuah desa dengan rumah kayu berwarna merah

Melihat perubahan itu, para penambang tradisional berkeinginan mengolah limbah batu yang tadinya dianggap tidak berguna menjadi bahan dasar untuk menghasilkan warna merah pada cat.

Sekitar tahun 1573, King Johan III (raja Swedia saat itu) berkeinginan agar cat merah yang dihasilkan oleh para penambang tradisional digunakan untuk mewarnai atap istana. Lalu keinginan raja tersebut diikuti oleh kaum bangsawan. Saat itu kaum elite Swedia berangganpan jika memiliki rumah berwarna merah seakan mewakili sebuah harga prestise sosial.

40819114741_4e3fd5eda6_o.jpg

IMG_5746.jpg

Duaratus limapuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1764, berdirilah “Stora Enso” pabrik pertama dan tertua di Swedia bahkan dunia, yang memproduksi cat secara profesional di area pertambangan yang sama di ”Falun Mines”.

Cat berlabel “Falu Rödfärg” (yang bisa diartikan warna merah dari Falun) menjadi cat yang sangat famous di Swedia hingga saat ini. Dari abad ke 18 hingga 19, warga Swedia mulai tergila gila menggunakan cat merah dengan alasan: warna ini seolah memberi kesan jika rumah mereka terbuat dari batu bata, yang waktu itu hanya dimiliki kaum istana raja dan bangsawan. 

29452274208_7b329f2ccc_o
Pabrik penghasil cat merah, Falu Rödfärg

Tak cuma itu, seiring waktu semakin terlihatlah jika warna merah ”Falu Rödfärg” yang dihasilkan pabrik Stora Enso sangat tahan lama dan memiliki kualitas yang bagus karena mengandung mineral terurai dan minyak alami. Konon kayu yang diberi cat berwarna merah ini mampu membuat kayu menjadi tidak gampang lapuk. Tahan lama!

Konon lagi warna merah yang diproduksi oleh pabrik Stora Enso hanya cocok digunakan untuk ”bahan kayu” seperti rumah dan bangunan kayu di Swedia. Satu lagi yang unik, warna  merah ini tidak bisa ditindih dengan warna lain karena warna merahnya akan muncul kembali.

IMG_5803.jpg
Bangunan bangunan gudang yang juga berwarna merah

Ada harga dan ada rupa. Tidak bisa dipungkiri jika harga cat yang dihasilkan pabrik Stora Enso terbilang mahal. Sehingga tak sedikit warga Swedia perlahan lahan beralih ke merek lain meski kualitas warna merahnya jelas berbeda karena tidak menggunakan bahan dasar alami yang sama seperti yang dihasilkan oleh pabrik Stora Enso. Tapi bukan berarti seratus persen rumah dan bangunan kayu di Swedia itu berwarna merah ya. Warna lain juga ada kok seperti putih, kuning, biru. Cuma warna merah lebih dominan.

IMG_5802.jpg
Tempat wisata dengan bangunan dan pagar berwarna merah
IMG_5793.jpeg
Rumah masa kecil seorang Astrid Lindgren yang lagi lagi berwarna merah

Jika berkunjung ke kawasan Falun Mines, kamu bisa melihat banyak tumpukan batu menggunung di beberapa titik lokasi, yang tak lain merupakan kumpulan biji batu yang disortir para penambang dari jaman ratusan tahun silam hingga tahun 1991, ketika mereka menyambung hidup di area bekas pertambangan ini.

40777452232_a1724fc11a_o
Farmhouse yang serba merah
IMG_5790 (1).jpg
Desa itu berwarna merah. Hahaha

Dan amazingnya, batu batu yang sebagian besar sudah berumur ratusan tahun itu sampai sekarang tidak habis habis. Mengapa? karena batu batu ini tidak digunakan sekaligus untuk usaha produksi cat, dikarenakan terkumpulnya batu batu ini berasal dari tahun yang berbeda (bahkan bisa selisih ratusan tahun).

Jadi proses alami pembentukan sedimen merah pada biji batu juga butuh waktu yang sangat lama. Bisa ratusan tahun juga.

IMG_5788.jpg

40819113451_ec5171bcb5_o.jpg
Merah yang minimalis diantara tumpukan salju

Pabrik Stora Enso penghasil Falu Rödfärg (cat berwarna merah) ini bisa dilihat di lokasi wisata Falu Gruva (Falun Mines) di kota Falun ibukota propinsi Dalarna. Sampai sekarang masih ada dan tetap berproduksi. Uraian sejarah tentang  cat berwarna merah secara gamblang bisa dibaca di sekitar kawasan pabrik. Bagaimana pigmen warna bisa bekerja, mengapa rumah rumah kayu di Swedia dominan berwarna merah, dan slogan tentang cat yang dihasilkan bukan sekedar cat biasa melainkan berfungsi menjaga kestabilan kualitas kayu.

IMG_5775.jpeg
Dikala musim panas, merah dan hijau. Lagi lagi tetap serasi bukan? 

Selain itu kalian juga bisa mengeksplore lokasi di sekitar pabrik yang merupakan bekas pertambangan besar yang konon sempat menghasilkan banyak uang di masanya dan meningkatkan perekonomian Swedia di masa silam. Salah satunya adalah dengan menelusuri area pertambangan bawah tanahnya. Seruuuuuu dan memicu adrenalin.

img_5772

IMG_5773.jpeg
Bangunan merah diantara bunga liar. Cantik!

Saya sangat terkesima mendengar penjelasan guide tentang sejarah pertambangan ini. Merinding karena tak sedikit yang memakan korban jiwa dan mengandung cerita yang sedikit mistis dan horor. Bayangkan saja, berjalan di bawah tanah dengan sinar terbatas dan tangga kayu yang lumayan curam, jalanan batu yang licin, air yang masih menetes dari celah dinding batu dan suhu di bawah yang relatif dingin (kurang lebih 5 derajat celcius). Jika memungkinkan, akan saya tulis secara detail di tulisan yang terpisah.

img_5824

img_5777
Di musim gugur.  Dan warna merah tetap menawan

Demikianlah cikal bakal mengapa bangunan rumah di Swedia itu dominan berwarna merah. Bangunan rumah mana juga dijadikan sebagai souvenir di beberapa wilayah country side Swedia sebagai pertanda ciri khas wilayah mereka.

Berikut di bawah adalah beberapa foto bangunan berwarna merah yang saya foto. Mulai dari restoran, cafe, hotel, museum, souvenir, toko souvenir, komplek perumahan, gudang.

img_5818
Sebuah cafe dari bangunan gudang tua. Merah!
img_5828
Souvenir rumah. Mewakili bangunan kayu merah di Swedia.
img_5821
Perumahan tua yang dominan berwarna merah
img_5817
Restorannya kece
img_5838
Hotel yang lagi lagi berwarna merah          

IMG_5836.jpg

Tradisi Menyantap “Kräftor” di Bulan Agustus

Bulan Agustus adalah saatnya menyantap Kräftor atau udang karang di Swedia. Tradisi menyantap kräftor yang mirip lobster mini ini dikenal dengan istilah Kräftskiva atau pesta menyantap udang karang (crayfish). 

Lalu mengapa harus di bulan Agustus? karena kräftor di Swedia baru boleh dipanen di bulan Agustus. Konon sebelum bulan Agustus, kulit kräftor belum sempurna mengeras. Jadi waktu terbaik memanen atau memancing udang ini ya di bulan Agustus. Selain itu masih ada alasan lainnya. Alasan yang paling mendasar mengapa tradisi kräftskiva dilakukan di bulan Agustus.

42498167570_e64cebc424_o

Jadi begini, kräftor yang berasal dari seluruh danau di Swedia dianggap eksklusif oleh warganya. Kenapa eksklusif? karena harganya sangat mahal. Perkilonya bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah.  Lantas mengapa bisa mahal? Nah, inilah awal mulanya.

Jadi ternyata, kräftor yang hidup di danau Swedia tidak boleh dipancing sembarangan. Baik dari segi waktu maupun orang yang akan memancing. Hal ini berkaitan dengan kekhawatiran akan musnahnya populasi udang karang di Swedia. Kekhawatiran mana sudah ada sejak tahun 1800an. Aturan yang diawali dengan larangan memancing kräftor di Hjälmaren, sebuah danau di Swedia. Kemudian selang beberapa tahun kemudian, larangan ini berlaku pula untuk semua danau yang ada di wilayah Swedia.

44305677401_17966726d8_o

Selain hanya boleh dipancing di bulan Agustus, kemudian dikeluarkanlah kebijakan baru tepatnya di tahun 2014 silam, yang menyebut hanya pemancing profesional dengan ijin khususlah yang boleh memancing kräftor di Swedia. Sedangkan kalangan publik hanya diperbolehkan di saat weekend tertentu. Itupun jamnya sudah ditentukan dari pukul berapa ke pukul berapa.

30438757628_919b11bc1f_o

42498167900_47e5043e7e_o

Itulah sebabnya kräftor di Swedia dianggap eksklusif oleh warganya. Karena untuk mendapatkan udang ini tidaklah mudah. Sekalinya dapat, ya harganya mahal.

Untuk memenuhi kebutuhan akan kräftor, akhirnya pemerintah Swedia mengimport kräftor dari negara lain seperti Cina, Turki dan Spanyol. Harganya jauh lebih murah. Sekitar 200 atau 250 sek perkilonya atau setara 400 ribu rupiahlah kurang lebihnya. Sementara kräftor asal Swedia, perkilonya bisa mencapai 700 sek atau setara 1, 1 juta rupiah. Beda banget kan selisihnya.

29369989787_a73d737b63_o

Begitupun, kebanyakan warga Swedia lebih tertarik menyantap kräftor di bulan Agustus. Karena sudah melekat dengan tradisi Kräftskiva tadi. Mereka juga menganggap bahwa kräftor yang berasal dari danau di Swedia adalah yang the best. Meskipun tak sedikit dari mereka yang harus rela menyantap kräftor import. Uang bisa menjadi kendala bukan? Yang penting tradisi makan kräftor di bulan Agustus tetap berjalan broooo! Hahahaha.

Jadi jangan heran, jika di bulan Agustus warga Swedia akan mengadakan pesta makan bersama dengan menu utama kräftor di atas meja. Gue dan suami beberapa kali diundang makan oleh teman dan kerabat dengan hidangan kräftor ini. Awalnya gue berasa ribet aja. Banyakan nyampah daripada dagingnya. Tapi dibalik daging yang sedikit itulah sensasinya. Ibarat makan kepitinglah. Riweh tapi nikmat. Walaupun buat gue pribadi rasanya lumayan asin.

44305677401_17966726d8_o

Kräftor biasanya disantap dalam kondisi dingin. Disantap dengan roti, cheese, beer atau minuman alkohol lainnya. Sebelumnya kräftor harus melalui proses boil di suhu yang tinggi, dicampur garam dan rempah dill segar berikut mahkota bunganya.

Trevlig Midsommar

Setiap tahun Swedia selalu merayakan tradisi besar yang dikenal dengan Midsommar Eve. Merayakan hari “yang paling terang atau siang yang paling panjang” yang hanya terjadi dalam satu hari sepanjang satu tahun berlangsung. Meskipun secara kasat mata, perbedaan hari yang paling terang ini tidak terlalu berasa di rentang waktu menjelang atau sesudah perayaan midsommar eve.

IMG_8139
Foto perayaan midsommar tahun 2017 lalu

Seperti biasa setiap tahun, gue dan suami mempersiapkan menu midsommar di rumah. Tahun ini gue bikin coktail andalan yang resepnya gue dapat dari mendiang kakak ipar. Sudah puluhan tahun memakai resep ini. Aroma dan rasanya selalu mengingatkan gue akan perayaan natal bersama keluarga. Bahannya terdiri dari buah nenas, pepaya setengah matang, markisa buah (passion fruit), gula pasir, perasan lemon atau jeruk nipis, dan sirup markisa (bisa diganti softdrink rasa orange). Dibiarkan overnight di kulkas dan diminum pakai es batu. Boleh dicoba. Segar dan aromanya khas banget. Perpaduan semua bahan sangat matching. Gue ga begitu suka buah pepaya, tapi khsusus di coktail ini, pepaya menjadi markotop rasa dan aromanya. Sedangkan untuk menu makanan, gue serahkan ke suami. Gue lagi malas ngerjai yang berat berat di dapur.

B1F30EAB-D88B-44F5-8D5E-10F6E781B640

C6D6A26E-87A1-40A3-8192-03F2D0C37966

Jumat kemaren, kami berencana keliling berkendara melihat perayaan midsommar di beberapa tempat di sekitaran Dalarna. Tapi sayang, cuaca belakangan ini selalu dingin dan berangin. Serasa musim gugur. Dan ini berdampak terhadap perayan midsommar tahun ini. Jalanan tidak terlalu ramai. Biasanya terlihat meja meja panjang di halaman rumah warga yang akan mengadakan pesta keluarga. Gue cuma melihat beberapa orang yang memetik bunga liar. Sepertinya mereka akan membuat hiasan bunga. Oh iya, gue juga bikin loh. Gue paling suka dengan bunga liar. Lumayan sering gue jadikan hiasan di meja teras. Seperti gambar di bawah ini. Gimana, cantik ga?

image_6483441 (6)

34A1B017-FC2E-47E9-8699-D752106F7464.jpeg

Sebenarnya tujuan utama kami adalah ke Tällberg. Selain landscape alamnya yang kece, kami berencana makan siang di salah satu hotel tua yang ada di resort ini. Kebetulan dari beberapa kunjungan ke Tällberg, menu di restoran hotel Tällbergsgården belum pernah kami coba. Untungnya ada satu meja yang bersisa. Biasanya harus booking dulu.

4F605D37-BCEA-4A01-A0C0-41A1158BBE9A.jpeg

BF16C46D-1DD2-4046-B30B-D86B8A9A025C.jpeg
Beberapa bangunan cafe dan cottage di Tällberg

Begitu masuk ke restoran hotel, gue sudah menebak interiornya bakal kece. Karena rata rata hotel di Tällberg emang selalu bikin mupeng suasananya. Ga pake lamalah gue langsung jatuh hati. Sukaaaak!

image_6483441 (1)

796B4FF3-C619-4718-904A-0CD5A6B6AF3E (1)
View dari jendela restoran

View dari jendela restoran juga kece. Langsung menghadap ke danau Siljan (danau terbesar di Dalarna). Dan makanannya itu loh, enak banget mak! Sejenis ikan sill (herring) yang tadinya kurang gue suka, ehhhhh…………..malah bisa nambah! Mereka bisa mengolahnya menjadi sangat sesuatu. Pakai rempah apa gue kurang tau. Dan sepertinya dikasih madu juga. Jadi ada manis manisnya gitu.

Trus ya, ruangan untuk ngopi dibikin terpisah dari meja utama. Jadi kita ga ngopi atau ngedesserts di meja yang sama. Udah gitu banyak kamar kamarnya. Asik banget suasananya. Shabby vintage. Rasanya pengen gue fotoin semua sangkin suka. Wallpaper setiap kamar kamarnya pun beda beda. Demikian juga kursi sofanya. Beneran deh bikin betah.

4E254D49-AB25-42C0-BAF2-68CFAAFF6028.jpg

image_6483441 (7)
Ruangan tempat ngopi. Cakep kan!

Di luar hotel pun begitu. Bangku kayu berwarna putih berjejer rapi. Teras hotelnya tidak begitu lebar, tapi jika cuaca bagus, duduk sambil menatap ke danau dijamin mantap jiwa. Hahaha.

image_6483441 (4)

image_6483441
Teras hotel dengan view danau Siljan

Sehabis makan, kami mengitari Tällberg sambil menunggu acara midsommar dimulai. Tapi berhubung dingin banget dan angin semakin kencang, belum lagi sesekali turun hujan, mood pun menjadi memble. Mana acaranya lama banget dimulai. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sampai rumah kami minum cocktail buatan gue. Segarrrr! Sedangkan menu midsommar yang sudah dibeli suami, kami putuskan untuk menyantapnya hari ini. Karena kami sudah kekenyangan kemaren.

612274F2-46F1-4C65-B095-46098E25EFD7
Menu simple di rumah

Jika kalian belum sempat membaca tulisan lengkap gue tentang Tällberg, bisa baca di sini.

Trevlig Midsommar!