Makanan Terbau di Dunia Ada di Swedia: “SURSTRÖMMING”

Pernah mencium ikan busuk? telur busuk? sampah busuk barangkali? Nah………aroma aroma busuk tersebut bisa menjadi sedikit gambaran akan santapan asal Swedia yang satu ini. Bauk!

Beneran! hidung saya sudah pernah menjadi korban keganasan aroma tak sedap dari olahan permentasi ikan ini. Wek…wek….weeeeeeeeeeeeek!

Surströmming adalah ikan herring (strömming) yang telah melalui proses penggaraman dan permentasi yang sangat lama. Mencapai enam bulan. Bayangkan ada ikan di dalam kaleng hingga berbulan bulan. Nyaris setengah tahun. Kebayanglah shayyyy baunya. Bau kentut belum ada apa apanya. Sebentar juga hilang. Lah ini kaga ilang ilang.

Kenapa harus sampai 6 bulan? Konon supaya mampu menghasilkan citra rasa yang tajam. Ikan tetap dalam kondisi awet dan tahan lama. Surströmming sendiri berasal dari wilayah Swedia bagian utara tepatnya di daerah daerah sekitar high coast. Dan menjadi salah satu makanan tradisional terkenal negara ini.

IMG_8297

Metode permentasi ikan herring sudah ada sejak ratusan tahu silam dimana teknologi mesin pendingin seperti kulkas belum ada. Cara terbaik mengawetkan makanan agar bertahan lama adalah dengan melakukan proses penggaraman dan permentasi yang lama.

Tradisi mana sampai sekarang tetap dipertahankan meski sistem produksinya sudah lebih modern. Aroma bau busuk autentik tidak menyurutkan popularitas surströmming hingga ke era modern. Meskipun bau tapi tetap menjadi santapan yang cukup menyelerakan bagi warga Swedia. Santapan bau yang tetap terkenal tidak hanya di Swedia tapi juga di luar Swedia. Sangkin baunya, surströmming selalu masuk dalam jajaran peringkat atas salah satu makanan terbau di dunia. Pihak produsen yang memproduksi surströmming saja sampai menghimbau agar membuka kaleng surströmming di luar rumah.

Konon tak sedikit juga warga Swedia yang tidak begitu interest dengan surströmming. Bau busuk dan rasanya menjadi alasan utama. Tapi lain halnya dengan warga Swedia di sekitar high coast (Swedia bagian utara), justru sangat menyukai surströmming. Surstromming merupakan santapan yang maha aduhai buat mereka. Apalagi dipercaya jika surströmming sangat baik untuk pencernaan. Katanya sih begituuuuu.IMG_8292

Jika mengikuti tradisi awal surströmming, biasanya makanan ini lebih sering disantap ketika memasuki musim gugur. Saya juga kurang jelas alasannya mengapa harus memilih musim gugur. Kemungkinan filosofinya karena suhu di musim gugur belum sedingin winter dan tidak sepanas summer. Dengan suhu yang belum terlalu dingin kemungkinan besar warga masih bisa menikmati suasana bersantap di luar rumah. Aroma bau busuk pun kemungkinan lebih cepat berkurang dan demikian juga dengan lalat terbang tidak terlalu banyak (lagi lagi saya sotoy…haha).

Tapi bukan berarti di saat musim panas tidak ada yang menyantap ikan permentasi ini. Tapi ya itu, lalat terbang langsung berdatangan. Bahkan di saat musim dingin ada saja yang menyantap surströmming di dalam rumah. Dan biasanya mereka memasukkan ikan ke dalam air soda agar baunya sedikit berkurang.

IMG_8291

Saya pernah menyaksikan tetangga membuka kaleng surströmming. Dan itu dilakukan sekitar 30 meter dari luar rumah. Tetap aja loh baunya kecium. Jadi bisa dibayangkan luar biasa baunya. Penampakan ikan di dalam kaleng juga menggelikan. Kusam dengan air permentasi yang keruh. Kalau mereka bisa makan ikan berbau busuk seperti ini, bagaimana bisa ikan asin mereka bilang bau? bagaimana bisa? jelaskan! hahaha….

Suami saya sendiri tidak begitu menyukai surströmming. Tapi sesekali dia masih mau menyantap ketika ada acara makan bersama. Menurutnya bau ikan ini memang kurang ajar. Haha..

Beberapa hari yang lalu suami dan tetangga menyantap surströmming di rumah. Tetangga saya sampai bolak balik mengajak saya mencoba surströmming meski cuma sedikit. Sejujurnya ada rasa penasaran di hati. Seperti apa sih rasanya. Tapi bau busuk ikan ini beneran bikin saya hopeless. Ketika saya duduk bersama mereka di meja makan, saya menyantap menu yang lain. Makan sudah tidak konsentrasi. Saya berasa makan di dalam truk sampah. Hahaha.

IMG_8213.jpg
Penampakan suströmming setelah kalengnya dibuka dan airnya dibuang. Permentasi penggaraman selama berbulan bulan membuat ikan tidak rusak dan tetap kelihatan kinclong. Tapi baunya itulah mak!

Tetangga saya seolah tak percaya bagaimana saya bisa terlalu anti bau busuk ikan ini. Sedangkan dia tau kalau saya doyan makan ikan asin yang menurut dia sangat tidak pantas aromanya. Bahkan kaki ayam saja saya makan kata dia. Hahaha.

Segitu nafsunya beliau supaya saya mau mencicipi surströmming. Ya inilah yang disebut kultur kebiasaan di sebuah negara. Buat saya ikan asin itu ya ga bau. Buat orang di sini bau. Padahal kalau dipikir pikir sama sama melalui proses penggaraman. Makanya tak heran jika rasanya memang asin banget (kata suami).

Surströmming biasa disantap bersama tunnbröd (roti tradisional Swedia yang tipis dan bisa digulung) atau bisa juga dengan kentang rebus dan salad, irisan bawang merah dan sour cream. Sour cream dan bawang merah dianggap bisa mengurangi aroma tak sedap sekaligus menambah kelezatan ketika menyantap surströmming.

IMG_8254.jpg
Tunnbröd

Harga surströmming bisa dibilang tidak murah alias relatif mahal. Ukuran sekaleng kecil bisa mencapai 200 ribu rupiah dengan jumlah ikan yang hanya 3 hingga 4 ekor. Sizenya kecil kecil pula.

So……………………..jika penasaran dengan bau ikan ini, silahkan datang ke Swedia. Bisa ditemukan di supermarketnya. Selamat mencoba! 

Ketika Bangunan di Swedia Dominan Berwarna Merah. Mengapa?

Pernah berkunjung ke Swedia? terkhusus ke daerah daerah ”country sidenya”? atau mungkin sekedar melihat dari liputan televisi, internet, kalender, koran atau majalah? atau mungkin juga dari ilustrasi gambar dalam buku cerita anak sekelas Astrid Lindgren?

Jika disimak, salah satu ciri khas dari negara Skandinavia yang satu ini adalah typical bangunan bangunan rumahnya. Terutama bangunan rumah/gedung di wilayah country sidenya. Hampir semua berwarna merah! Warna merah yang berpadu dengan warna putih di setiap sisi jendelanya. Cantik, klasik dan magical. Rumah merah yang mewakili cerita fantasi dalam serial dongeng. Rumah merah yang selalu serasi dengan semburat warna di empat musim yang berbeda. Tak cuma rumah, bahkan bangunan sekolah, panti jompo, gudang, kandang ternak, pagar, hotel, sampai kotak pos pun berwarna merah.

IMG_5787.jpg

IMG_5781.jpeg
Rumah merah berpadu dengan salju putih di musim dingin. Serasi dan magical ya 🙂

Lantas mengapa bangunan di Swedia dominan berwarna merah? Ternyata ada ceritanya.

Hal ini berkaitan dengan area pertambangan biji tembaga dan besi bernama “Falu Koppargrufa” (Falun Mines) yang terletak di propinsi Dalarna, salah satu propinsi yang ada di wilayah Swedia. Pertambangan mana diperkirakan sudah ada sejak 500 atau 900 tahun silam.

40777452632_48e5cf23e4_o

40819112711_96c0b5b1f8_o.jpg
Merah!

Menilik mundur ke sejarah silam, masa dimana sebagian besar warga di sekitar Falun Dalarna berprofesi sebagai penambang tradisional, yang sehari harinya bekerja dengan memilah milah biji batu tembaga. Semisal kandungan tembaga dalam batu sedikit, kemudian dipisahkan ke suatu tempat.

Seiring waktu batu batu ini semakin menggunung. Dan tanpa mereka sadari, akibat proses pengeringan oleh alam yang cukup lama, kandungan besi oksida dan mineral dalam batu mampu membentuk limonit sedimen, yang semakin lama secara alami menghasilkan warna merah.

IMG_5687 (1).jpg

39438018790_794b43718d_o.jpg
Sebuah desa dengan rumah kayu berwarna merah

Melihat perubahan itu, para penambang tradisional berkeinginan mengolah limbah batu yang tadinya dianggap tidak berguna menjadi bahan dasar untuk menghasilkan warna merah pada cat.

Sekitar tahun 1573, King Johan III (raja Swedia saat itu) berkeinginan agar cat merah yang dihasilkan oleh para penambang tradisional digunakan untuk mewarnai atap istana. Lalu keinginan raja tersebut diikuti oleh kaum bangsawan. Saat itu kaum elite Swedia berangganpan jika memiliki rumah berwarna merah seakan mewakili sebuah harga prestise sosial.

40819114741_4e3fd5eda6_o.jpg

IMG_5746.jpg

Duaratus limapuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1764, berdirilah “Stora Enso” pabrik pertama dan tertua di Swedia bahkan dunia, yang memproduksi cat secara profesional di area pertambangan yang sama di ”Falun Mines”.

Cat berlabel “Falu Rödfärg” (yang bisa diartikan warna merah dari Falun) menjadi cat yang sangat famous di Swedia hingga saat ini. Dari abad ke 18 hingga 19, warga Swedia mulai tergila gila menggunakan cat merah dengan alasan: warna ini seolah memberi kesan jika rumah mereka terbuat dari batu bata, yang waktu itu hanya dimiliki kaum istana raja dan bangsawan. 

29452274208_7b329f2ccc_o
Pabrik penghasil cat merah, Falu Rödfärg

Tak cuma itu, seiring waktu semakin terlihatlah jika warna merah ”Falu Rödfärg” yang dihasilkan pabrik Stora Enso sangat tahan lama dan memiliki kualitas yang bagus karena mengandung mineral terurai dan minyak alami. Konon kayu yang diberi cat berwarna merah ini mampu membuat kayu menjadi tidak gampang lapuk. Tahan lama!

Konon lagi warna merah yang diproduksi oleh pabrik Stora Enso hanya cocok digunakan untuk ”bahan kayu” seperti rumah dan bangunan kayu di Swedia. Satu lagi yang unik, warna  merah ini tidak bisa ditindih dengan warna lain karena warna merahnya akan muncul kembali.

IMG_5803.jpg
Bangunan bangunan gudang yang juga berwarna merah

Ada harga dan ada rupa. Tidak bisa dipungkiri jika harga cat yang dihasilkan pabrik Stora Enso terbilang mahal. Sehingga tak sedikit warga Swedia perlahan lahan beralih ke merek lain meski kualitas warna merahnya jelas berbeda karena tidak menggunakan bahan dasar alami yang sama seperti yang dihasilkan oleh pabrik Stora Enso. Tapi bukan berarti seratus persen rumah dan bangunan kayu di Swedia itu berwarna merah ya. Warna lain juga ada kok seperti putih, kuning, biru. Cuma warna merah lebih dominan.

IMG_5802.jpg
Tempat wisata dengan bangunan dan pagar berwarna merah
IMG_5793.jpeg
Rumah masa kecil seorang Astrid Lindgren yang lagi lagi berwarna merah

Jika berkunjung ke kawasan Falun Mines, kamu bisa melihat banyak tumpukan batu menggunung di beberapa titik lokasi, yang tak lain merupakan kumpulan biji batu yang disortir para penambang dari jaman ratusan tahun silam hingga tahun 1991, ketika mereka menyambung hidup di area bekas pertambangan ini.

40777452232_a1724fc11a_o
Farmhouse yang serba merah
IMG_5790 (1).jpg
Desa itu berwarna merah. Hahaha

Dan amazingnya, batu batu yang sebagian besar sudah berumur ratusan tahun itu sampai sekarang tidak habis habis. Mengapa? karena batu batu ini tidak digunakan sekaligus untuk usaha produksi cat, dikarenakan terkumpulnya batu batu ini berasal dari tahun yang berbeda (bahkan bisa selisih ratusan tahun).

Jadi proses alami pembentukan sedimen merah pada biji batu juga butuh waktu yang sangat lama. Bisa ratusan tahun juga.

IMG_5788.jpg

40819113451_ec5171bcb5_o.jpg
Merah yang minimalis diantara tumpukan salju

Pabrik Stora Enso penghasil Falu Rödfärg (cat berwarna merah) ini bisa dilihat di lokasi wisata Falu Gruva (Falun Mines) di kota Falun ibukota propinsi Dalarna. Sampai sekarang masih ada dan tetap berproduksi. Uraian sejarah tentang  cat berwarna merah secara gamblang bisa dibaca di sekitar kawasan pabrik. Bagaimana pigmen warna bisa bekerja, mengapa rumah rumah kayu di Swedia dominan berwarna merah, dan slogan tentang cat yang dihasilkan bukan sekedar cat biasa melainkan berfungsi menjaga kestabilan kualitas kayu.

IMG_5775.jpeg
Dikala musim panas, merah dan hijau. Lagi lagi tetap serasi bukan? 

Selain itu kalian juga bisa mengeksplore lokasi di sekitar pabrik yang merupakan bekas pertambangan besar yang konon sempat menghasilkan banyak uang di masanya dan meningkatkan perekonomian Swedia di masa silam. Salah satunya adalah dengan menelusuri area pertambangan bawah tanahnya. Seruuuuuu dan memicu adrenalin.

img_5772

IMG_5773.jpeg
Bangunan merah diantara bunga liar. Cantik!

Saya sangat terkesima mendengar penjelasan guide tentang sejarah pertambangan ini. Merinding karena tak sedikit yang memakan korban jiwa dan mengandung cerita yang sedikit mistis dan horor. Bayangkan saja, berjalan di bawah tanah dengan sinar terbatas dan tangga kayu yang lumayan curam, jalanan batu yang licin, air yang masih menetes dari celah dinding batu dan suhu di bawah yang relatif dingin (kurang lebih 5 derajat celcius). Jika memungkinkan, akan saya tulis secara detail di tulisan yang terpisah.

img_5824

img_5777
Di musim gugur.  Dan warna merah tetap menawan

Demikianlah cikal bakal mengapa bangunan rumah di Swedia itu dominan berwarna merah. Bangunan rumah mana juga dijadikan sebagai souvenir di beberapa wilayah country side Swedia sebagai pertanda ciri khas wilayah mereka.

Berikut di bawah adalah beberapa foto bangunan berwarna merah yang saya foto. Mulai dari restoran, cafe, hotel, museum, souvenir, toko souvenir, komplek perumahan, gudang.

img_5818
Sebuah cafe dari bangunan gudang tua. Merah!
img_5828
Souvenir rumah. Mewakili bangunan kayu merah di Swedia.
img_5821
Perumahan tua yang dominan berwarna merah
img_5817
Restorannya kece
img_5838
Hotel yang lagi lagi berwarna merah          

IMG_5836.jpg

Tradisi Menyantap “Kräftor” di Bulan Agustus

Bulan Agustus adalah saatnya menyantap Kräftor atau udang karang di Swedia. Tradisi menyantap kräftor yang mirip lobster mini ini dikenal dengan istilah Kräftskiva atau pesta menyantap udang karang (crayfish). 

Lalu mengapa harus di bulan Agustus? karena kräftor di Swedia baru boleh dipanen di bulan Agustus. Konon sebelum bulan Agustus, kulit kräftor belum sempurna mengeras. Jadi waktu terbaik memanen atau memancing udang ini ya di bulan Agustus. Selain itu masih ada alasan lainnya. Alasan yang paling mendasar mengapa tradisi kräftskiva dilakukan di bulan Agustus.

42498167570_e64cebc424_o

Jadi begini, kräftor yang berasal dari seluruh danau di Swedia dianggap eksklusif oleh warganya. Kenapa eksklusif? karena harganya sangat mahal. Perkilonya bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah.  Lantas mengapa bisa mahal? Nah, inilah awal mulanya.

Jadi ternyata, kräftor yang hidup di danau Swedia tidak boleh dipancing sembarangan. Baik dari segi waktu maupun orang yang akan memancing. Hal ini berkaitan dengan kekhawatiran akan musnahnya populasi udang karang di Swedia. Kekhawatiran mana sudah ada sejak tahun 1800an. Aturan yang diawali dengan larangan memancing kräftor di Hjälmaren, sebuah danau di Swedia. Kemudian selang beberapa tahun kemudian, larangan ini berlaku pula untuk semua danau yang ada di wilayah Swedia.

44305677401_17966726d8_o

Selain hanya boleh dipancing di bulan Agustus, kemudian dikeluarkanlah kebijakan baru tepatnya di tahun 2014 silam, yang menyebut hanya pemancing profesional dengan ijin khususlah yang boleh memancing kräftor di Swedia. Sedangkan kalangan publik hanya diperbolehkan di saat weekend tertentu. Itupun jamnya sudah ditentukan dari pukul berapa ke pukul berapa.

30438757628_919b11bc1f_o

42498167900_47e5043e7e_o

Itulah sebabnya kräftor di Swedia dianggap eksklusif oleh warganya. Karena untuk mendapatkan udang ini tidaklah mudah. Sekalinya dapat, ya harganya mahal.

Untuk memenuhi kebutuhan akan kräftor, akhirnya pemerintah Swedia mengimport kräftor dari negara lain seperti Cina, Turki dan Spanyol. Harganya jauh lebih murah. Sekitar 200 atau 250 sek perkilonya atau setara 400 ribu rupiahlah kurang lebihnya. Sementara kräftor asal Swedia, perkilonya bisa mencapai 700 sek atau setara 1, 1 juta rupiah. Beda banget kan selisihnya.

29369989787_a73d737b63_o

Begitupun, kebanyakan warga Swedia lebih tertarik menyantap kräftor di bulan Agustus. Karena sudah melekat dengan tradisi Kräftskiva tadi. Mereka juga menganggap bahwa kräftor yang berasal dari danau di Swedia adalah yang the best. Meskipun tak sedikit dari mereka yang harus rela menyantap kräftor import. Uang bisa menjadi kendala bukan? Yang penting tradisi makan kräftor di bulan Agustus tetap berjalan broooo! Hahahaha.

Jadi jangan heran, jika di bulan Agustus warga Swedia akan mengadakan pesta makan bersama dengan menu utama kräftor di atas meja. Gue dan suami beberapa kali diundang makan oleh teman dan kerabat dengan hidangan kräftor ini. Awalnya gue berasa ribet aja. Banyakan nyampah daripada dagingnya. Tapi dibalik daging yang sedikit itulah sensasinya. Ibarat makan kepitinglah. Riweh tapi nikmat. Walaupun buat gue pribadi rasanya lumayan asin.

44305677401_17966726d8_o

Kräftor biasanya disantap dalam kondisi dingin. Disantap dengan roti, cheese, beer atau minuman alkohol lainnya. Sebelumnya kräftor harus melalui proses boil di suhu yang tinggi, dicampur garam dan rempah dill segar berikut mahkota bunganya.

Trevlig Midsommar

Setiap tahun Swedia selalu merayakan tradisi besar yang dikenal dengan Midsommar Eve. Merayakan hari “yang paling terang atau siang yang paling panjang” yang hanya terjadi dalam satu hari sepanjang satu tahun berlangsung. Meskipun secara kasat mata, perbedaan hari yang paling terang ini tidak terlalu berasa di rentang waktu menjelang atau sesudah perayaan midsommar eve.

IMG_8139
Foto perayaan midsommar tahun 2017 lalu

Seperti biasa setiap tahun, gue dan suami mempersiapkan menu midsommar di rumah. Tahun ini gue bikin coktail andalan yang resepnya gue dapat dari mendiang kakak ipar. Sudah puluhan tahun memakai resep ini. Aroma dan rasanya selalu mengingatkan gue akan perayaan natal bersama keluarga. Bahannya terdiri dari buah nenas, pepaya setengah matang, markisa buah (passion fruit), gula pasir, perasan lemon atau jeruk nipis, dan sirup markisa (bisa diganti softdrink rasa orange). Dibiarkan overnight di kulkas dan diminum pakai es batu. Boleh dicoba. Segar dan aromanya khas banget. Perpaduan semua bahan sangat matching. Gue ga begitu suka buah pepaya, tapi khsusus di coktail ini, pepaya menjadi markotop rasa dan aromanya. Sedangkan untuk menu makanan, gue serahkan ke suami. Gue lagi malas ngerjai yang berat berat di dapur.

B1F30EAB-D88B-44F5-8D5E-10F6E781B640

C6D6A26E-87A1-40A3-8192-03F2D0C37966

Jumat kemaren, kami berencana keliling berkendara melihat perayaan midsommar di beberapa tempat di sekitaran Dalarna. Tapi sayang, cuaca belakangan ini selalu dingin dan berangin. Serasa musim gugur. Dan ini berdampak terhadap perayan midsommar tahun ini. Jalanan tidak terlalu ramai. Biasanya terlihat meja meja panjang di halaman rumah warga yang akan mengadakan pesta keluarga. Gue cuma melihat beberapa orang yang memetik bunga liar. Sepertinya mereka akan membuat hiasan bunga. Oh iya, gue juga bikin loh. Gue paling suka dengan bunga liar. Lumayan sering gue jadikan hiasan di meja teras. Seperti gambar di bawah ini. Gimana, cantik ga?

image_6483441 (6)

34A1B017-FC2E-47E9-8699-D752106F7464.jpeg

Sebenarnya tujuan utama kami adalah ke Tällberg. Selain landscape alamnya yang kece, kami berencana makan siang di salah satu hotel tua yang ada di resort ini. Kebetulan dari beberapa kunjungan ke Tällberg, menu di restoran hotel Tällbergsgården belum pernah kami coba. Untungnya ada satu meja yang bersisa. Biasanya harus booking dulu.

4F605D37-BCEA-4A01-A0C0-41A1158BBE9A.jpeg

BF16C46D-1DD2-4046-B30B-D86B8A9A025C.jpeg
Beberapa bangunan cafe dan cottage di Tällberg

Begitu masuk ke restoran hotel, gue sudah menebak interiornya bakal kece. Karena rata rata hotel di Tällberg emang selalu bikin mupeng suasananya. Ga pake lamalah gue langsung jatuh hati. Sukaaaak!

image_6483441 (1)

796B4FF3-C619-4718-904A-0CD5A6B6AF3E (1)
View dari jendela restoran

View dari jendela restoran juga kece. Langsung menghadap ke danau Siljan (danau terbesar di Dalarna). Dan makanannya itu loh, enak banget mak! Sejenis ikan sill (herring) yang tadinya kurang gue suka, ehhhhh…………..malah bisa nambah! Mereka bisa mengolahnya menjadi sangat sesuatu. Pakai rempah apa gue kurang tau. Dan sepertinya dikasih madu juga. Jadi ada manis manisnya gitu.

Trus ya, ruangan untuk ngopi dibikin terpisah dari meja utama. Jadi kita ga ngopi atau ngedesserts di meja yang sama. Udah gitu banyak kamar kamarnya. Asik banget suasananya. Shabby vintage. Rasanya pengen gue fotoin semua sangkin suka. Wallpaper setiap kamar kamarnya pun beda beda. Demikian juga kursi sofanya. Beneran deh bikin betah.

4E254D49-AB25-42C0-BAF2-68CFAAFF6028.jpg

image_6483441 (7)
Ruangan tempat ngopi. Cakep kan!

Di luar hotel pun begitu. Bangku kayu berwarna putih berjejer rapi. Teras hotelnya tidak begitu lebar, tapi jika cuaca bagus, duduk sambil menatap ke danau dijamin mantap jiwa. Hahaha.

image_6483441 (4)

image_6483441
Teras hotel dengan view danau Siljan

Sehabis makan, kami mengitari Tällberg sambil menunggu acara midsommar dimulai. Tapi berhubung dingin banget dan angin semakin kencang, belum lagi sesekali turun hujan, mood pun menjadi memble. Mana acaranya lama banget dimulai. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sampai rumah kami minum cocktail buatan gue. Segarrrr! Sedangkan menu midsommar yang sudah dibeli suami, kami putuskan untuk menyantapnya hari ini. Karena kami sudah kekenyangan kemaren.

612274F2-46F1-4C65-B095-46098E25EFD7
Menu simple di rumah

Jika kalian belum sempat membaca tulisan lengkap gue tentang Tällberg, bisa baca di sini.

Trevlig Midsommar!

Ketika Swedia Menjadi Lautan Api

Setiap tahun di akhir bulan April tepatnya setiap tanggal 30 April, sebagian besar wilayah di Swedia menjalankan tradisi Valborg, sebuah tradisi untuk menyambut musim semi. Tradisi yang mewakili luapan kegembiraan warga Swedia setelah berbulan bulan mengalami musim dingin yang lumayan berat. Kurang lebih 6 bulan!

Sehingga tak ayal, rasa senang bangsa ini diluapkan dalam bentuk perayaan besar. Dibanding pergantian musim panas dan musim gugur, pergantian musim dingin ke musim semi memang jelas berbeda. Lebih excited.

Sebuah perubahan musim yang sangat berasa perbedaannya. Dari hamparan salju yang memutih tebal, hari hari dengan malam yang sangat panjang, berubah menjadi lebih berwarna oleh rumput dan bunga bunga liar, daun daun yang mulai bermunculan, serta perubahan siang yang semakin lama tentulah sangat masuk akal untuk disambut dengan sukaria.

Beberapa negara lain konon juga menjalankan tradisi menyalakan api unggun, tapi makna dan tujuannya berbeda beda (wikipedia). Kalau di Swedia penyalaan api unggun memang diadakan untuk merayakan datangnya musim semi. 

Tradisi Valborg sangat identik dengan bonfire atau api unggun berukuran besar. Seluruh warga bersuka ria, bernyanyi (menyanyikan lagu Sköna Maj), meminum bir bahkan berpesta semalam suntuk. Apalagi setelah malam perayaan Valborg yaitu tanggal 1 Mei, adalah hari libur nasional yang dikenal dengan Mayday.

Kalau di kota kota besar, pelaksanaan tradisi Valborg lumayan banyak disaksikan oleh warga. Sedangkan di desa kecil seperti tempat tinggal gue tidak begitu ramai. Karena jumlah warganya juga sedikit. Paling bedanya, kalau di tempat gue ada acara makan bersama. Menunya tinggal di bawa masing masing oleh warga dan nantinya saling sharing.

IMG_5145.jpg
Ini aslinya gede dan tinggi banget

Dan puncaknya adalah menyalakan api unggun yang berasal dari tumpukan tumpukan ranting. Tumpukan ranting mana mulai dikumpulkan oleh warga secara bergantian sejak musim gugur tahun lalu. Tumpukan ranting sengaja diletakin tak jauh dari tepi danau. Tujuannya untuk menghindari kemungkinan besar bahaya kebakaran. Sebelum api dinyalakan pun, rumput di sekitar harus disiram agar tetap basah. Selang air tetap disediakan untuk jaga jaga. Jadi tidak asal main bakar.

Berhubung di Swedia sudah mulai memasuki “siang hari yang semakin panjang” maka tak ayal matahari pun terbenam semakin lama. Sekitar pukul 9 malam. Dan siang yang panjang ini akan semakin panjang hingga menjelang perayaan midsummer di bulan Juni yang akan datang.

Sebagian besar wilayah di Swedia akan menyalakan api setelah matahari terbenam. Dan idealnya memang seperti itu. Tujuannya agar cahaya api terlihat lebih bagus.  Jadi kebayang kan jika dilihat dari udara, bisa jadi wajah Swedia seperti lautan cahaya api. Pasti cantik.

Api dilambangkan sebagai cahaya terang yang hangat. Mewakili tipikal musim semi yang semakin terang dan tidak sedingin musim dingin lagi.

Menyaksikan tradisi negara lain itu selalu menarik. Menjadi pengalaman baru tanpa harus melupakan tradisi dari bangsa sendiri. Welcome Spring and Happy Valborg!

F2EE7474-85EC-46A6-8372-158B7359696F.jpg

Systembolaget (Ketika Sistim Monopoli Ada di Swedia)

Pernah mendengar “Systembolaget”? mungkin buat teman teman di tanah air atau luar Swedia terdengar agak aneh. Apa itu systembolaget? Jika kamu berkunjung ke Swedia dan melihat store bertuliskan “Systembolaget”, tak lain merupakan store berisi berbagai jenis minuman keras. Minuman keras berkadar alkohol mulai dari 3,5 persen hingga 40 persen (meskipun minuman non alkohol bisa juga ditemukan di store ini).

Terus istimewanya apa? Menjadi istimewa (setidaknya buat gue) karena systembolaget ini adalah “satu satunya” toko yang boleh menjual minuman keras berkadar alkohol 3,5 persen ke atas. Dan itu berlaku untuk seluruh wilayah Swedia.

Yup, systembolaget merupakan perpanjangan sistem monopoli perdagangan minuman keras di Swedia yang dikendalikan langsung oleh pemerintahnya. Monopoli di sini sama artinya dengan : tidak ada toko/store atau pihak manapun yang bisa menjual minuman keras di level tersebut selain systembolaget. Supermarket besar sekalipun tak terkecuali. Apalagi individu ke individu lainnya. Ketauan alamat kena sanksi.

Supermarket hanya diperbolehkan menjual minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen. Sebuah kadar alkohol yang relatif rendah. Gue saja yang tidak begitu familiar dengan minuman keras, jika meminum minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen sama sekali tidak berasa. Tidak pusing apalagi mabuk. Seperti minum sofdrink biasa saja.

Ketika pemerintah Indonesia memberlakukan larangan penjualan alkohol di sana sini, gue masih bisa memaklumi terkait kultur budaya dan alasan “segala macamnya”. Lah ini di Swedia. Kok bisa? Kalau bicara “aturan di bawah umur”, setau gue hampir di sebagian besar wilayah negara eropa menerapkan batasan umur untuk seseorang mulai bisa mengkomsusmi minuman beralkohol tinggi. Meskipun penerapan tentang batasan umur di setiap negara bisa beragam. Tapi ini penjualannya sampai dimonopoli loh. Dan tidak semua negara yang melegalkan minuman beralkohol menerapkan sistem ini.

Dan amazingnya lagi, toko systembolaget tidak ada di setiap tempat. Mostly hanya ada satu untuk satu wilayah kotamdaya (kommun). Kecuali di kota kota besar kemungkinan bisa lebih, tergantung luas wilayah dan jumlah penduduknya. Pembelian minuman di systembolaget pun dibatasi. Hanya boleh dibeli mulai pukul 10 pagi hingga pukul 7 malam. Pemberlakukan aturan inilah kemungkinan yang membuat mengapa harga minuman beralkohol di berbagai bar dan restoran di wilayah Swedia sangat mahal jika dibanding membeli langsung di systembolaget.

Sekitar 50 tahun yang lalu, penerapan systembolaget malah lebih kejam. Hanya ada satu di setiap ibukota propinsi. Contohnya di propinsi tempat gue tinggal yaitu Dalarna hanya ada di kota Falun. Kebayang ga sih jauhnya. Dari tempat gue saja jaraknya bisa mencapai 130 kilometer. Kemudian seiring waktu, aturan systembolaget dibikin lebih longgar dengan menunjuk satu agen perwakilan resmi systembolaget di  wilayah kotamadya masing masing, sehingga warga bisa mengorder melalui perwakilan yang ditunjuk ini. Bayangin ribetnya. Hahaha.

Lantas mengapa sampai sedemikian ekstremnya penerapan penjualan minuman alkohol berkadar tinggi di Swedia? sampai sampai harus dimonopoli pemerintahnya?

Hal ini berhubungan dengan sejarah Swedia di masa silam. Masa dimana sebagian besar kaum laki laki di negara ini sangat menggilai minuman keras dan suka bermabuk mabukan. Jika dirunut lagi, kehidupan serba sulit yang menyelimuti bangsa Swedia di masa silam sedikit banyak mempengaruhi mental warganya. Kapan?  ratusan tahun silam kurang lebih sekitar tahun 1700-1800an, ketika Swedia memegang predikat sebagai salah satu negara termiskin di eropa sebelum menjadi negara maju seperti sekarang ini.  Minum hingga mabuk sepertinya menjadi salah satu alasan untuk bisa melupakan sejenak kepahitan hidup. Apalagi waktu itu minuman keras bisa dibeli dengan mudah antar sesama warga. Bahkan minuman keras berkadar alkohol tinggi dan tidak terkontrol bisa dibikin sendiri oleh warganya.  Akibatnya tak sedikit warga yang suka lost control ketika menggambil sebuah keputusan. Salah satunya ketika terperangkap dalam bujuk rayu pengusaha kaya.

IMG_5837

Makanya ada pepatah orang Swedia yang menyebut ” I Den Ena Fickan Hade Dom En Flaska, Och I Den Andra Hade Dom Bibeln” yang artinya di saku yang satu ada sebuah botol (diartikan minuman) dan di saku lain ada alkitab. Pepatah ini muncul karena tak sedikit warga Swedia di jaman dulu dengan gampangnya masuk perangkap pengusaha kaya yang hendak membeli lahan milik warga. Para pengusaha digambarkan sebagai pelaku sandiwara yang jitu dan sangat jeli melihat karakter korbannya.

Sekira mereka tau sasaran korban adalah pribadi yang hobby minum hingga mabuk, maka mereka menawarkan sebotol minuman. Diajak minum terlebih dahulu dan ditawari untuk menjual murah lahannya. Ujung ujungnya si warga pun mabuk dan akhirnya mau menandatangani surat jual beli. Sedangkan kalau sekira korban yang dilirik sangat agamais, para pengusaha ini pura pura berlagak seperti pendeta. Membacakan ayat alkitab demi mencuri hati si warga. Lahan pun dijual dengan murah. Konyol banget kan. Hahaha. Kurang lebih cerita singkatnya seperti itulah.

IMG_5805

Berkiblat dari parahnya efek yang ditimbulkan minuman keras ini, banyak pihak yang mulai gerah. Terutama kaum wanita karena merasa berada di pihak yang dirugikan. Kehilangan aset tanpa mereka tau. Inilah titik awal mengapa akhirnya setiap jual beli tanah, lahan hutan  dan rumah di Swedia harus melibatkan pasangan. Agar terhindar dari kejadian menjual aset di bawah pengaruh alkohol. Kemudian kampanye akan bahaya minuman keras mulai digaungkan oleh beberapa kalangan dengan membentuk organisasi anti minuman beralkohol.

Hingga akhirnya kebijakan final pun dibuat. Semua produksi minuman alkohol baik dalam negeri maupun luar, dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia di bawah lembaga pemerintah bernama “Vin och Spritcentralen” (Sentral wine dan alkohol). Dari sinilah hotel dan restoran dan bar di Swedia bisa membeli stok minuman keras.

Dan pada tahun 1955, didirikanlah systembolaget dengan pangsa pasar warga biasa. Sebuah toko minuman keras berkadar alkohol tinggi yang dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia.

IMG_3675

Pembatasan umur pun dilakukan. Di Swedia, meski batas umur untuk bisa meminum alkohol dimulai dari umur 18 tahun, tapi untuk bisa membeli minuman alkohol di systembolaget harus berumur minimum 20 tahun. Bayangkan, untuk mulai bisa membeli dan mengkonsumsi saja dibedakan loh umurnya. Jadi yang berumur 18 tahun hanya boleh membeli minuman di bar atau restoran dalam hitungan pergelas tanpa boleh dibawa pulang.  Sehingga tak ayal, para kasir di systembolaget ditugaskan juga untuk sangat jeli memasang insting apakah para buyer sudah cukup umur apa tidak. Kalau sekiranya ragu, mereka wajib meminta identity card (KTP).

Bahkan pemerintah Swedia tak jarang mempekerjakan secara random para remaja di bawah usia 20 tahun dan masuk ke dalam systembolaget untuk kemudian berpura pura sebagai konsumen. Hal ini dilakukan demi memastikan apakah para kasir menjalankan tugasnya dengan baik. Jika ternyata mereka ceroboh memainkan instingnya dan kemudian tidak meminta KTP, maka alamat kena sanksi tegas (kemungkinan bisa dipecat). Sadis meeeen.

fullsizerender-31

Pemberlakuan aturan tegas ini suka atau tidak suka, memang harus dipatuhi warga Swedia terutama bagi para pelaku bisnis restoran dan bar. Gue pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ketika berada di sebuah cafe bar di Stockholm. Ketika dua orang pria dimintai KTP oleh pelayan bar. Kasat mata sih sepertinya sudah berumur 20 tahun. Tapi entah bagaimana si pelayan bar bisa dengan baik memainkan instingnya. Dan taraaa banget deh. Ternyata beneran masih di bawah umur 18 tahun. Dan mereka pun tidak diperbolehkan memesan minuman alkohol yang mereka mau.

Waktu itu gue berpikir awam banget. Gila banget sampai dicek sedemikian. Seumpama pun bener mereka masih di bawah umur, toh kalau dibolehin ga ada yang tau juga kan? (maksudnya gue berpikir demikian dari segi bisnisnya loh. Kok rasa peduli si pelayan bar lebih tinggi daripada mendapat keuntungan semata). Akhirnya gue bisa memahami. Semisal mereka sampai mabuk atau katakanlah lebih parah lagi ternyata mereka adalah suruhan pemerintah? ijin menjual minuman keras oleh pemilik bar kemungkinan besar akan dicabut kan.

img_5248

Bahkan sampai sekarang pun, setiap bar yang menjual minuman keras di Swedia, jika mereka memperbolehkan para pengunjung minum di luar bar, misalnya di halaman bar, maka bar wajib memiliki pagar pembatas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kalau pengunjung minum di sembarang tempat.

Suami gue masih ingat banget, sekitar 40 tahun silam, aturan tentang penjualan minuman alkohol di bar dan restoran Swedia malah jauh lebih ketat. Restoran bar hanya boleh menjual minuman alkohol jika pengunjung juga memesan makanan. Kalau tamu restoran ujuk ujuk datang hanya untuk memesan minuman, alamat tidak dibolehin. Dan untuk mengontrol dan mengendalikan kebijakan ini, pemerintah Swedia lagi lagi dengan sengaja mempekerjakan satu orang pegawai suruhan mereka untuk khusus melayani bagian minuman.

Jadi bartendernya bukan pegawai restoran yang bersangkutan loh, melainkan pegawai yang dipekerjakan langsung oleh pemerintahnya. Kemungkinan pemilik restoran untuk berlaku tidak jujur dengan hanya menjual minuman  kepada para tamunya pun sangat kecil, karena bartender hanya boleh mengeluarkan minuman jika pemilik restoran memperlihatkan kertas bertuliskan daftar makanan apa saja yang dipesan oleh tamu restoran.

Bahkan konon sempat loh setiap orang hanya boleh membeli minuman alkohol dengan menunjukkan kupon. Dan kupon ini juga dibatasi jumlahnya untuk kurun waktu tertentu.

Belum lagi ketika liburan ke luar Swedia, warga Swedia hanya diperbolehkan membawa pulang satu botol minuman keras. Sampai akhirnya kebijakan ini mulai berubah sejak Swedia bergabung dengan Uni Eropa. Kebahagian warga Swedia pun dimulai karena mereka bisa membeli minuman alkohol dari tempat berlibur dalam jumlah tak terbatas. Gila bangetlah pokoknya.

img_5215

Tapi menurut gue pribadi, alasan pemberlakuan monopoli perdagangan minuman keras oleh pemerintah Swedia, lumayan masuk akal juga. Selain cerita sejarah di masa silam, hingga saat ini pun keinginan warganya untuk mengkonsumsi minuman keras lumayan besar. Jadi dengan adanya systembolaget ini setidaknya membatasi ruang bebas mereka untuk bisa membeli kapan dan dimana saja minuman berkadar alkohol tinggi. Minum minuman beralkohol tidak dilarang, bahkan menjurus mabuk pun sepertinya masih dianggap wajar selama tidak membuat onar dan mengendara. Dan systembolaget dianggap pemerintah Swedia sebagai media pengaman penggunaan minuman alkohol yang berlebihan.

Buat gue semua ini sangatlah menarik. Karena aturan tegas ini justru diberlakukan di negara barat yang notabene identik banget dengan minuman alkohol. Dan aturannya itu ga main main. Bukan sekedar aturan yang bersifat teori yang dicatatkan dalam sebuah lembaran negara. Tapi benar benar direalisasikan. Karena kalau bicara teori undang undang, setiap negara pasti punya. Cuma pelaksaanannya yang suka berbeda.

Setau gue (koreksi bila salah) tak banyak negara yang memberlakukan sistem monopoli perdagangan minuman keras berkadar alkohol tinggi. Hanya ada beberapa negara seperti Finland, Norway, Iceland, Canada. Kalau ternyata masih ada yang lain, gue kurang tau pasti.

IMG_4685

When in Sweden (Part 1)

Meskipun terbilang masih bau kencur, ada beberapa hal yang lumayan mencuri perhatian gue selama tinggal di Swedia (kurang lebih empat tahunlah). Terlebih di awal awal ketibaan gue. tidaklah mudah untuk bisa cepat beradaptasi. Butuh waktu. Negara dan kultur baru yang semuanya terlihat asing. Tamparan culture shock sudah pasti ada. Terutama masalah disiplin, karakter dan kebiasaan.

Tulisan gue kali ini hanyalah sebuah pendapat. Pendapat seorang ajheris tentang kebiasaan dan karakter masyarakat Swedia yang pernah gue lihat. Tulisan ini bukan sebuah kesimpulan yang teruji secara ilmiah dan bersifat universal. Karena belum tentu juga semuanya benar. Tulisan yang ditulis berdasarkan apa yang gue lihat dari negara yang gue sebut sebagai tanah tinggal baru. Gue tulis secara random. Apa saja itu?  Berikut di bawah.

1. Cuek Bukan Berarti Tidak Respek

Bule itu individualis. Bule itu cuek. Bule itu atheis. Bule itu…dan masih banyak lagi. Gue dulu termasuk salah satu yang memiliki anggapan seperti ini dan melihat dari sisi jeleknya saja. Emang benar sih bule itu cuek, individualis, atheis (meski tidak semua). Tapi jangan melulu dilihat dari pemikiran negatif. Semua itu berhubungan dengan privacy. Mereka tidak mau mencampuri dan mengusik kehidupan pribadi orang lain dan terhadap sesuatu yang bukan urusan mereka.

Orang lain atheis, living together without marriage, kissing in public area, tetangga tiba tiba beli mobil baru dan suka belanja sana sini, its not your business. Kira kira seperti itu. Mereka sangat respek akan pilihan hidup orang lain. Paling takut menghakimi. Ini bukan urusan benar atau salah. Buat kita kebiasaan mereka mungkin cenderung salah sebaliknya kebiasaan yang kita anggap benar, mungkin buat mereka terasa aneh dan tidak logika.

Bahkan untuk urusan belangsungkawa saja, mereka sangat hati hati. Misalnya ada kerabat atau teman yang sedang kehilangan anak, saudara atau orang tua, tidak lantas ujuk ujuk langsung ditelepon atau dikunjungi silih berganti kemudian memberi ucapan duka. Justru mereka takut mengganggu privacy si orang yang lagi berduka. Dengan pemikiran si orang tersebut mungkin lagi pengen sendiri. Tidak mau diganggu. Bangsa membentuk karakter bangsanya. Orang di sini jika mengalami musibah atau kemalangan, lebih banyak menutup diri. Dan jujur di awal awal ketibaan gue semua ini sangat mengherankan. Asing.

IMG_0447.jpg
Pake foto winter aja ya. Hahaha

Urusan pribadi sangat sensitif bagi orang Swedia. Bahkan selevel best friend pun bisa tidak terlalu terbuka untuk saling bercerita. Entah itu urusan pacar baru, perceraian, masalah keluarga dan lainnya. Tak ada yang berani untuk menanyakan secara langsung apalagi kepo. Kecuali kalau yang bersangkutan mau bercerita terlebih dulu.

Memberi respek terhadap privacy orang lain sangat penting di sini. Sewaktu gue hamil, teman baik suami memberi ucapan selamat ke gue. Itupun karena suami memberitahu dia. Tapi begitu dia tau kalau gue mengalami keguguran, you know what? dia ga bilang apa apa. Sama sekali diam ketika kami bertemu. Ga ada kalimat kalimat klasik seperti “yang kuat ya” atau “saya turut bersedih” apalagi kalimat yang tanpa hati dan menjurus kepo “kok bisa” “kamu makan apa? jangan jangan kamu kebanyakan naik turun tangga?” nah loh bikin mumet kan.

Menurut gue orang di sini sangat berhati hati menyikapi peristiwa sedih atau kemalangan. Bisa berdampak sensitif jika salah berucap. Tar kalau dibilang “yang kuat ya” trus dijawab “loh yang bilang gue ga kuat siapa? tau darimana gue ga kuat? gue kuat kok” dijawab gitu kan keselek. Kurang lebih analoginya seperti itu.

2. Suka Menyapa “Hej” (Hai)

Meski katanya orang Skandinavia itu tak banyak bicara, tapi kenyataan yang gue lihat tak sedikit orang Swedia yang suka saling tegor ketika berpapasan dengan orang lain meskipun mereka tidak saling kenal. Jadi ketika kamu berada di Swedia dan ada orang lain yang kamu tidak kenal tiba tiba menyapa “hej”, maka tidak perlu heran dan kaget. Itu adalah bagian dari kebiasaan warga di negara ini.

Sebagai orang yang beranggapan kalau rata rata bule adalah sosok manusia cuek, jelas ketika gue disapa “hej” oleh orang yang tidak gue kenal membuat gue sedikit heran. Jadi pertama gue tiba di Swedia tahun 2014, tepatnya sewaktu gue dan suami hendak membeli roti ke toko bakery. Dari arah yang berlawanan terlihat seorang wanita muda berjalan dan tersenyum kecil sambil menyapa “hej” ke gue. Lah gue bingung dong. Gue kan ga kenal. Dan apa balasan gue terhadap sapaannya itu? Gue ga jawab apa apa. Gue jalan aja gitu sambil terheran. Hahaha!

IMG_0450.jpg

Belum habis rasa heran gue, pas nyampe di depan pintu toko, gue berpapasan lagi dengan seorang cowok. Sebuah senyuman tampan pun kembali menyapa gue. “hej” sapa dia sambil berjalan dan berlalu. Gitu aja. Dan lagi lagi gue masih ga kasih respon apa apa. Beneran gue belum ngerti waktu itu. Pun begitu juga pas di supermarket, lagi dorong trolli dan berpapasan dengan konsumen lain, mereka menyapa hej ke gue.

Bahkan pernah gue disapa “hej” di trotoar jalan oleh seorang wanita, padahal sebelumnya gue melihat dia lagi asik mengobrol dengan teman prianya. Begitu gue lewat, sempat aja si wanita tadi meluangkan waktu say hai ke gue. Kalau dipikir pikir harus banget ga sih luangkan sedetik hanya untuk bilang hai ke orang yang ga dikenal. Hahaha

IMG_0449

Karena penasaran akhirnya gue tanya ke suami. Kenapa mereka menyapa gue. Gue kan ga kenal mereka. Dan ternyata saling sapa dengan orang yang tidak dikenal di Swedia adalah hal yang wajar. Sampai akhirnya suami bilang ke gue kalau gue di sapa hej, alangkah baiknya jika gue balas hej juga. Ya namanya juga pendatang baru dan belum terbiasa. Pokoknya waktu itu gue lumayan takjublah. Nyaris ga percaya kalau bule ternyata bisa sangat ramah.

Berhubung gue tinggal di wilayah propinsi yang hanya memiliki kota kota kecil, sapaan hej ini memang lebih berasa dibanding jika gue berada kota besar seperti Stockholm. Bisa jadi karena Stockholm merupakan capital city dengan penghuni yang lebih majemuk dan kompetitif, sehingga orang orang sebagian besar bawannya sangat serius. No time for Hej. Hahaha. Begitupun ada aja kok yang lumayan ramah menyapa hej!

IMG_0452

Jujur aja sih selama tinggal di Indonesia, rasa rasanya belum pernah gue menerima sapaan hai dari orang yang sama sekali tidak gue kenal. Maksudnya ketika berpapasan di jalan atau di tempat umum ya. Kalau pun ada ya karena tujuan dan kepentingan tertentu. Misalnya nanya alamat. Bukan ujuk ujuk berpapasan trus ramah banget bilang haiiiiiiiiii!

Yang ada malah dikira aneh atau curiga. Jangan jangan itu orang seorang penghipnotis, kriminal, copet, jangan jangan orang tidak waras, jangan jangan………..dan masih banyak jangan jangan yang lain. Akibat kebanyakan dengar issue kriminal dimana mana.

3. Suka Ngobrol 

Seperti yang gue tulis di atas, banyak yang bilang kalau orang orang Skandinavia itu terkesan dingin dan tidak banyak bicara. Tapi jika mereka sudah mengenal baik satu sama lain, malah sebaliknya. Suka banget ngobrol ngolor ngidul alias kombur kombur kalau kata orang Medan. Setidaknya inilah menurut penglihatan gue.

IMG_0792.jpg

Tetangga gue, teman kantor dan kerabat suami, tahan berlama lama ngobrol di telepon. Bahkan ada tetangga gue yang hampir setiap hari ngobrol di telepon dengan suami. Yang dibicarakan padahal seputaran itu ke itu lagi. Kalau bukan masalah kayu, berita, sampai undian berhadiah. Padahal tetangga loh. Main ke rumah pun lumayan sering. Tapi masih aja suka teleponan. Kadang gue suka ngomel ke suami dan bilang mirip perempuan doyan ngobrol. Hahaha.

Parahnya lagi, sering banget pas tamu pamit pulang, bukannya langsung cuss buka pintu dan keluar, malah lanjut lagi ngobrol sambil berdiri. Obrolannya masih bersambung. Dan itu lama! Padahal posisi sudah di depan pintu. Beneran adegan yang paling ga gue suka deh.

4. Sangat On Time

Yup…! jangan berspekulasi urusan waktu dengan orang Swedia. Mereka bisa moody. Disiplin dan ontime sekali. Janji pukul 10 pagi datanglah pukul 10 pagi. Bahkan datang lebih awal pun tidak.

Gue pernah menonton salah satu channel youtuber asal England yang bercerita tentang bagaimana orang orang Swedia sangat tepat waktu di sebuah acara pesta. Dia lumayan heran karena begitu acara dimulai para tamu sudah hadir semua. Tidak ada penampakan dimana masih ada satu dua tiga tamu yang datang belakangan. Gue sependapat sih. Karena gue melihat sendiri di acara pesta pernikahan gue. Pun di acara pesta lainnya.

IMG_0446

Kalau di Indonesia biasanya yang namanya telat dalam sebuah acara bukan hal aneh. Begitupun yang datang lebih cepat juga ada. Berbeda kalau di Swedia, 10 menit sebelum acara dimulai biasanya para tamu belum pada datang. Tapi amazingnya, 10 menit kemudian tanpa sadar tiba tiba uda hadir aja semua.

Mereka benar benar datang sesuai waktu yang disepakati. Datang lebih awal pun bukan kebiasaan mereka karena takut malah membuat yang punya hajatan belum siap. Kalaupun datang lebih awal paling 5 menit sebelum acara atau kalaupun ada satu dua yang telat paling telat sekitar 5 menit. Meskipun begitu, ada aja yang molornya lumayan parah. Suami punya teman yang suka molor kalau ada acara. Dan itu beneran ga disuka ama yang lain.

5. Mengundang Tamu Masaknya Ga Ribet 

Semisal orang Swedia mengundang makan tamu, percayalah menunya tidak seheboh menu orang Indonesia. Main coursenya cukup semacam. Simple dari segi ragam.

IMG_0468 (1).jpg

Kalau steak ya steak aja. Salmon ya salmon aja. Ditambah kentang dan salad. Jaranglah sampai dua macam gitu. Tapi yang namanya kopi dan makanan penutup biasanya selalu ada. Entah itu cake maupun ice cream. Porsinya pun biasanya sudah mereka perhitungkan sesuai jumlah tamu yang diundang. Jadi jarang yang namanya makanan berlebih. Lupakan kebiasaan bungkus plastik bawa pulang. Bukan tradisi mereka. Kecuali kalau yang ngadain acara sesama orang Indonesia, mungkin pasangan masing masing bisa mengerti. Duh bungkus bawa pulang itu emang klasik banget kan ya. Kalau bisa sering sering. Hahaha.

IMG_0456.jpg

Sajian menu irit inilah yang belum bisa gue realisasikan kalau mengundang tamu ke rumah. Selalu tradisi ala Indonesia yang dominan keluar. Meja makan biasanya tersaji lebih dari satu menu utama. Entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang kalau cuma menyajikan semacam. Apalagi kalau sampai mengundang 10 orang, wihhh bisa repot banget gue mikir ini itu untuk menu yang harus dimasak. Makanya setiap tamu yang kami undang selalu terwow begitu melihat menu yang tersaji.

Gue ingat banget bagaimana mimik wajah kakak gue ketika kami diundang makan oleh sepupu suami. Mungkin dalam bayangannya, meja akan penuh dengan berbagai macam menu khas Swedia layaknya di tanah air. Ternyata yang muncul cuma sajian salmon dan kentang rebus tok. Hahaha. Mati ketawa kalau ingat itu.

6. Belanja Sesuai Kebutuhan

Kalau ke supemarket, tak sedikit warga Swedia yang belanja dengan secarik kertas di tangan. Isinya daftar belanjaan. Jadi yang dibeli sesuai yang ditulis. Kalau gue payah, mencoba menerapkan tapi tetap saja suka ga disiplin. Malah beli ini itu di luar catatan. Bahkan kadang ga dicatat. Malas! Hahaha

7. Suka Makan Knackbröd

Rasa rasanya orang Swedia doyan banget makan ini. Roti crispy tapi menurut gue malah cenderung keras dan sakit di mulut ketika dikunyah. Rasanya pun aneh. Tapi roti ini lumayan direkomen oleh dokter di Swedia. Karena kandungan seratnya sangat tinggi. Kalau dimakan agak berlendir gitu emang. Biasanya dimakan dengan lapisan butter berikut toppingan sayur maupun ikan tuna atau telur. Sarapannya orang Swedia selain Fillmjölk (mirip yogurth).

8. Suka Membicarakan Cuaca

Orang Swedia suka ngomongin cuaca? Yup betul sekali kakaaaak! Gue kalau ketemu siapa aja, biasanya mereka suka banget bilang :

wah cuaca hari ini cerah ya” atau “uhhh dingin banget hari ini padahal semalam sudah lumayan hangat” atau “lusa kabarnya salju turun lagi” atau “suhu tadi pagi minus 33 derajat celcius”.

Pokoknya di setiap pertemuan, biasanya mereka suka menyelipkan seputaran cuaca. Tak heran memang mengingat cuaca sangat berpengaruh terhadap mood orang orang di sini.  Termasuk guelah.

9.  Tidak terlalu suka Rumah Berdekatan

Lagi lagi soal privacy. Kalau bisa memilih, orang Swedia lebih suka jika rumah mereka tidak berdekatan dengan rumah orang lain. Khususnya di desa tempat gue tinggal, meskipun warganya saling mengenal dengan baik, tapi untuk ruang gerak sehari hari mereka lebih suka tak perlu diketahui orang lain.

IMG_0453

Apalagi ada masa masa dimana mereka kurang mood berbicara dengan orang lain. Masa masa dimana mereka merasa bebas melakukan apa saja baik itu di dalam maupun di luar rumah tanpa harus dilihat orang lain. Dan ini sudah mulai menular ke diri gue (nanti akan gue tulis di tulisan yang berbeda). Orang Swedia lumayan menyukai suasana yang hening. Makanya tak jarang satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya lumayan berjauhan. Bahkan ada yang menyendiri dan tidak ada tetangga kiri kanan. Kalau teriak ya teriak aja cuma didengar angin.

10. Percaya Kalau Orang Lain Jujur

Jika kamu ke Swedia terutama di kota kota kecilnya, ada beberapa toko yang tidak memiliki penjaga. Rekaman CCTV pun tak ada. Kamu bisa membeli barang dan cukup meletakkan uang di tempat yang tersedia. Kalau dicuri? Pertanyaan ini ga terbersit di benak mereka. Karena mereka percaya bahwa orang yang masuk ke toko bukanlah pencuri. Mereka percaya kalau pengunjung yang datang adalah manusia jujur. Gila kan. Pertama tau rasanya amazing aja gitu. Awalnya gue tidak percaya tidak ada cctv, pas suami bilang memang beneran tidak ada dan kalaupun ada bisa terlihat di pintu masuk toko. Karena hukum di Swedia tidak memperbolehkan pemasangan cctv yang sifatnya secret tanpa ada pemberitahuan tertulis di pintu masuk toko.

11. Bukan Menjadi Penonton

Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika di tanah air terjadi kecelakaan malah jadi bahan tontonan semata sebelum pihak yang berwenang datang menolong. Ditolong ga difotoin iya. Diunggah ke media sosial lengkap dengan darah darahnya. Padahal korban sudah terkapar kesakitan. Banyak alasan juga kenapa masyarakat kita bersikap sedemikian. Issue lama yang menyebut “menolong sama artinya berurusan dengan polisi” menjadi sebuah momok yang ribet dan ibarat simalakama bagi warga.

Suatu hari sekitar pukul 5 pagi,  gue dan suami pulang dari rumah sakit. Musim panas waktu itu. Jadi meskipun masih pukul 5 pagi tapi matahari sudah bersinar terang. Kami melewati jalanan sepi. Tiba tiba terlihat seorang pria muda dengan mobil yang sedikit menjorok ke selokan. Suami berhenti. Dan gue pun memberi reaksi tidak setuju ketika suami tiba tiba menghentikan mobil. Gue takut kalau orang tersebut cuma drama. Inilah karena kebanyakan membaca dan menonton berita modus kriminal sewaktu tinggal di tanah air dan membuat gue ga gampang percaya dengan orang lain. Berbeda dengan suami. Mungkin dia jelas lebih paham tentang negaranya. Sehingga yang dia tau cuma menghentikan mobil dan segera menolong.

IMG_0796.jpg

Dan ternyata beneran dong, si pria itu mengalami kecelakaan. Katanya dia lepas kendali akibat mengantuk. Dia sudah menelepon polisi. Sambil menunggu polisi datang, suami langsung menyuruh pria itu masuk ke dalam mobil. Dan entah mengapa, tetap saja saat itu kekhawatiran masih mendera kepala gue. Bolak balik gue memastikan kalau si pria itu tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan. Gue cuma mikir “ini jalanan sepi, kalau tiba tiba dia punya teman lain dan muncul menyerang kami?” Coba parah banget kan gue. Hahaha. Tapi percayalah, ini tidak mudah untuk gue bisa langsung yesss menerima segala situasi dan kondisi yang berbeda jauh dengan tanah air di tahun pertama ketibaan gue.

12. Kasih Kado, Hadiah, Cindera mata

Kalian pernah ga sih pengen beli kado, oleh oleh, bingkisan atau apalah itu yang sejenis, suka pusing sendiri. Suka ga enakan. Suka mikir “kemurahan ga ya”, “tar dia suka ga ya”. Gue pernah!

Tapi setelah beberapa tahun di Swedia rasa sungkan itu mulai hilang. Terinspirasi dari cara orang orang di sini kalau memberi kado atau bingkisan. Relatif simpel bahkan sangat simple malah. Memberi sesuai kemampuan dan fungsinya. Bukan malah jadi beban dan bikin pusing. Jujur ketika gue memberi sesuatu kepada warga di sini, gue feel free banget. Ga ada perasaan apakah pemberian gue bakal disuka atau tidak. Apalagi menjadi bahan omongan di belakang layar. Seperti gue bertanya pada diri sendiri ketika pertama kali menerima kado natal dari kerabat. Cuma tissue makan doang gitu? Perih! Hahaha.

IMG_0789.jpg

Gue berusaha jujur aja sih kalau waktu itu emang gue beneran ga nyangka cuma dikasih tissue makan doang. Tapi semakin ke sini gue mulai bisa mengerti kalau memberi itu ga harus yang okeh okeh banget. Lihat momentnya juga. Kalau kado nikahan atau ulang tahun ke 50 tahun mungkin agak beda.  Biasanya pun suka urunan belinya. Misalnya terkumpul hingga 2500 sek. Barulah beli barang yang kira kira diperlu yang bersangkutan.

Orang Swedia tidak gampang memberi kado dan cindera mata. Hanya di saat tertentu. Seperti di hari natal atau ulang tahun ke 50 tahun. Bagi yang belum terbiasa, bisa heran melihat jenis barang yang mereka kasih. Tissue, serbet dapur, sebuah sendok, hingga sabun. Ada juga sih yang kasih buku.

Untuk saat ini itu dulu deh. Biar ga kepanjangan bacanya. See you in my next story.

IMG_0455.jpg
Semua foto anggap saja penghias tulisan.