Semburat Kuning Mewarnai Sambut Paskah di Swedia

Tahun ini, tahun ketiga gue merayakan Paskah di Swedia. Biasanya sebulan menjelang Paskah, suasana menyambut Paskah sudah mulai terasa di pusat pusat perbelanjaan, toko toko dan supermarket. Dan uniknya, dekorasi dan pernak pernik yang dijual sebagian besar berwarna kuning.

IMG_7830.jpg

Mengapa warna kuning menjadi warna yang mendominasi perayaan Paskah di Swedia? Jelasnya gue juga kurang tau. Tapi beberapa kalangan menyebut warna kuning diumpakan sebagai sinar/cahaya mentari yang muncul/bangkit dari tempat peraduannya. Dan jika di telaah lagi, perayaaan Paskah selalu mendekati  musim semi. Musim dimana matahari mulai bersinar lebih terang. 

Bunga adalah salah satu bentuk apreasiasi dalam merayakan Paskah di Swedia. Dan tentunya, bunga bunga yang dijual pun sedikit berbeda dari hari biasanya.

Dominan berwarna kuning. Dari sekian banyak jenis bunga yang dijual, bunga Narcissus adalah jenis bunga yang paling khas dan menjadi main flowers perayaan Paskah di Swedia. 

IMG_7849.JPG

IMG_3771.JPG

IMG_3949.JPG

Bentuknya sih biasa saja. Malah bunga lain jauh lebih menarik. Kenapa Narcissus menjadi bunga yang paling identik dengan simbol perayaan Paskah di Swedia, kemungkinan besar karena bunga ini merupakan jenis bunga Spring, yang pertumbuhannya lumayan banyak menjelang atau sampai musim semi tiba. Di negara lain pun, musim semi kebanyakan diawali dengan munculnya jenis bunga yang satu ini.

Namun bagi warga Swedia, Narcissus tak hanya dianggap sebagai bunga musim semi semata, tapi juga sebagai salah satu simbol perayaan Paskah. Sampai sampai negara ini memiliki sebutan khusus yaitu Påsklilja atau Lily Paskah.

Bahkan jika harus dibeli, harga Påsklilja juga lebih murah jika dibandingkan dengan jenis bunga lain. Sehingga memilih Påsklilja sebagai hiasan dalam perayaan Paskah menjadi alasan yang lumayan masuk akal. Kebetulan pula, bunga ini berwana kuning. Jadi klop deh.  

Setiap berbelanja kebutuhan Paskah, mata gue nyaris selalu melihat semua keranjang pengunjung di supermarket, berisi bunga Påsklilja. Dan tentunya pihak supermarket pun tak menyia nyiakan kesempatan ini. Menjual Påsklilja dengan stok yang sangat banyak. 

Sebenarnya di saat Real Spring, bunga Påsklilja lumayan banyak tumbuh di halaman desa tempat tinggal gue. Tapi di saat perayaan Paskah, bunga ini belum muncul. Mungkin karena suhu sekitar yang masih relatif dingin. Dan matahari juga belum menentu sinarnya.

Biasanya Påsklilja ditempatkan di dalam pot atau keranjang, supaya kelihatan lebih indah. Bahkan bisa ditambah dengan hiasan hiasan berbentuk ayam dengan ukuran yang mungil dan juga berwarna kuning. Bunga ini ada yang berukuran kecil dan ada pula yang berukuran besar.

Yang berukuran kecil memiliki aroma harum seperti sedap malam. Sedangkan yang berukuran besar aromanya sedikit bad smell. Ga ngerti juga kenapa bisa beda aromanya. Tapi itu menurut penciuman hidung gue sih. Hahaha.

Biasanya Påsklilja diletakin di dalam rumah dan jika memungkinkan, di teras atau di depan halaman rumah (tergantung suhu).

img_3770

Selain Påsklilja,  jenis bunga lain pun bisa digunakan untuk menghiasi jendela rumah, meja makan, meja tamu, dan pastinya masih bernuansa kuning. Selain bunga, rumah rumah juga dihias dengan pernak pernik  berwarna kuning (walaupun tidak tertutup kemungkinan menggunakan warna lain), mulai dari lilin, tempat lilin, taplak meja, sarung bantal, tissue makan, bahkan ada juga piring gelas yang dijual dengan motif motif bernuansa Paskah. Cantik!

Ibarat natal punya pohon natal, Paskah pun punya pohon Paskah. Demikianlah di Swedia, negara ini memiliki pohon Paskah unik yang dikenal dengan nama Påskris.

IMG_3952.JPG
Påskris

Påskris, terdiri dari bulu bulu ayam, yang  diikat di ujung ranting pohon yang sudah kering dan tidak memiliki daun. Mengapa tak berdaun? Seperti yang gue jelasin di atas, perayaan Paskah di Swedia biasanya jatuh di saat awal atau menjelang musim semi tiba. Dimana keadaan ini belum mampu membuat semua tanaman tumbuh dan mekar dengan baik.

Hampir di setiap rumah, toko toko dan pusat perbelanjaan memasang Påskris sebagai hiasan Paskah. Bulu ayam yang menghias ranting biasanya terdiri dari satu warna ataupun beraneka warna. Seiring tingkat kebutuhan yang melonjak, sehingga tidak heran jika menjelang Paskah, bulu bulu ayam banyak di jual di toko toko dan supermarket. Khususnya di kota Mora, setiap berjalan di kawasan pusat perbelanjaan, masing masing toko memasang Påskris. Jadi unik.

img_3956

Kenapa Påskris sampai memakai bulu ayam? Ceritanya, hal ini berhubungan dengan perayaan Minggu Palma. Berhubung Swedia tidak memiliki daun Palma yang sebenarnya, sehingga dibuatlah gantinya dalam bentuk bulu ayam. Katanya sih begicuuuu. 

Dua tahun lalu, gue mencoba menghias kulit telur dengan warna dan motif yang menurut gue not badlah untuk seorang pemula.

Karena jujur saja, ketika berada di Indonesia, gue ga pernah merasakan perayaan Paskah seperti ini. Paling ibadah dan ziarah saja. Apalagi sampai menghias telur segala. Gimana, cantik ga hiasan telur gue di bawah?

Di saat Paskah, banyak juga coklat dan permen warna warni yang disediakan di rumah dan dimasukin ke dalam mangkok besar berbentuk telur. Mangkok telur ini terbuat dari kertas. Menjelang Paskah, mulai banyak dijual di supermarket. Bahkan ada juga yang dijual including permen coklat di dalamnya.

Biasanya di hari Paskah, anak anak akan berdandan seperti penyihir dan datang mengetok pintu rumah, dan meminta uang atau permen coklat. Cuma tidak ke rumah gue, karena desa gue memang tidak ada anak anaknya lagi. Kalaupun ada, paling cucu tetangga yang datang dari luar kota. Barulah mereka gue bagi permen. Dan biasanya pun, sebelum Paskah tiba, permen ini nyaris habis dimakan suami gue. Hahaha.

Sama halnya seperti natal, Paskah juga dirayakan dengan hidangan Paskah. Sebut saja seperti Half Egg dan Salmon.

Telur memiliki bentuk yang hampir mirip dengan matahari, dengan lingkaran warna kuning di tengahnya, menjadikan telur sebagai makanan utama dalam perayaan Paskah.

Untuk minuman, tentu saja ini tidak boleh di lewatkan. Minuman khas Swedia dikala natal dan Paskah. Apalagi kalau buka minuman favorite gue, Must!

Minuman softdrink yang rasanya mirip cocacola. Bedanya, Must mengandung rempah. Must tidak dijual setiap saat. Hanya di waktu tertentu saja, disaat natal dan Paskah.

Must dijual dalam kemasan botol kaca maupun plastik. Kalau natal, kemasan gambarnya berwarna merah dengan tulisan Julmust (artinya selamat natal). Sedangkan di saat Paskah, kemasannya berwana kuning dengan tulisan Påskmust (artinya selamat Paskah). 

IMG_7834.jpg
Wild Salmon. Warna ga merah orange gitu. Kaya ikan biasa.
IMG_7852.jpg
Half Egg with Kaviar

Menjelang Paskah, kota kecil atau daerah pedesaan lumayan banyak dikunjungi penduduk kota besar. Istilah orang kita Mudiklah. Mereka menginap di Summer House atau di rumah orang tuanya. Ya walaupun ramainya ga seramai kampung di Indonesia sih.

Secara umum kebiasaan Paskah di Swedia hampir sama dengan negara lain termasuk Indonesia. Ada kebaktian gereja dan meletakkkan bunga di pemakaman. Seperti ziarah.

Untuk perayaan Paskah di Swedia, pemerintah negara ini pun membuat libur umum sampai di hari Senin. Karena masih terhitung ada kegiatan ibadah di gereja.

img_3943

Glad Påsk, Happy Easter dan Selamat Paskah!

Salam Dari

Mora, Dalarna, Swedia

Semua photo di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com

VASALOPPET!

Menjelang minggu pertama bulan Maret, kota Mora mendadak berubah. Dari sebuah kota kecil yang sepi, sontak menjadi ramai. Tentu saja perubahan ini membawa efek  luar biasa, terkhusus warga Mora maupun orang orang yang rutin mengunjungi kota ini setiap minggu. Termasuk gue.

Perubahan meliputi jalanan yang biasanya lancar menjadi macet, parkiran yang biasanya kosong menjadi penuh, cafe restoran yang biasanya tidak selalu penuh, menjadi ramai banget.

Meskipun demikian, tidak membuat warga Mora mengeluh. Sebaliknya, semangat yang besar akan adanya perhelatan akbar, membuat warga Mora serasa memiliki hiburan massal dadakan atau layaknya sebuah pesta karnaval yang tidak ada setiap waktu. Keramaian yang bisa dibilang heboh, yang cuma terjadi  sekali dalam setahun. Rasanya hampir bisa dipastikan seluruh pencinta ski di Swedia bahkan manca negara berkumpul di  kota ini.

IMG_4669.JPG

Dan puncaknya adalah di minggu pertama bulan Maret, kota Mora pun menjadi sorotan, karena diliput secara langsung oleh stasiun Svt Swedia. Yup, apalagi kalau bukan Vasaloppet.

Vasaloppet merupakan pertandingan Ski Marathon Lintas Alam (Cross Country Ski) tertua dan terpanjang di dunia, untuk kategori jarak tempuh yang mencapai  90 kilometer yang diikuti peserta dengan jumlah sebanyak 15.800 orang.

Garis start dimulai dari kawasan Sälen dan berakhir di kota Mora. Seminggu sebelum pertandingan Vasaloppet di mulai,  beberapa pertandingan jarak pendek sudah dilaksanakan. Termasuk pertandingan khusus wanita.

Vasaloppet menjadi kebanggaan kota Mora, karena segala sesuatu yang berhubungan dengan Vasaloppet berpusat di kota ini. Mulai dari museum Vasaloppet, tugu Gustav Vasa, sampai tugu garis finish Vasaloppet, yang semuanya menjadi landmark kota Mora. 

IMG_4665.JPG

IMG_7173
Museum dan Tugu Finish Vasaloppet. Di hari biasa menjadi tujuan wisata di kota Mora.
IMG_1727.jpg
Tugu Finish yang menjadi iconic Vasaloppet sekaligus Landmark kota Mora juga. Tapi yang di foto ini palsunya. Sengaja dibuat penyelenggara, khusus digunakan untuk berfoto. Dan gue ikutan juga dongss. 

Dua bulan sebelum hari H, kesibukan akan persiapan menyambut Vasaloppet sudah mulai terlihat. Dari pendirian gedung arena, bangku, tempat liputan jurnalis, tenda tenda, toilet, satu demi satu mulai dipasang. Dan tidak hanya itu, berbagai perusahaan ternama berlomba lomba menjadi sponsor dalam acara akbar ini, seperti IBM, VOLVO, DHL, ICA, ASICS, dan masih banyak lagi.

IMG_1569.jpg
Sebagian dari atribut para sponsor

Sambutan terhadap Vasaloppet sepertinya didukung penuh warga Mora dan sekitarnya. Stiker bertuliskan “Vasaloppet” menjadi hiasan di pintu pintu toko, bank, perkantoran, hingga toko bakery. Bahkan beberapa bulan sebelum perhelatan ini dimulai, penjualan kartu pos pun lebih mengutamakan gambar gambar berlatar belakang Vasaloppet.

IMG_4668.JPG
Sepotong cake di toko bakery ini pun ikutan eksis dengan tulisan Vasaloppet

Bagi sebagian kalangan, ajang pertandingan Vasaloppet menjadi lahan bisnis musiman yang menguntungkan. Membuka lapak dan menjual berbagai pernak pernik serta makanan. Mulai dari Dalahorse, hingga waffle Belgia yang biasanya sulit ditemukan di hari biasa.

IMG_1541.JPG
Kios kios musiman 

Bahkan, tidak sedikit yang terinspirasi dan berpikir smart, dengan membuka bisnis penginapan ala kadarnya di rumah  rumah warga. Dan lucunya, para peserta Vasaloppet tidak terlalu mempermasalahkan penginapan yang lokasinya lumayan jauh dari daerah pertandingan. Yang terpenting, masih di wilayah propinsi Dalarna. Wajar saja, peserta tidak berasal dari Swedia saja, melainkan juga dari negara luar.

IMG_1555.jpg
Tidak sedikit yang menggunakan mobil karavan sebagai tempat bermalam ketika perlombaan Vasaloppet berlangsung

Berbicara penginapan di sekitar Mora dan Sälen, sudah barang tentu tidak main main ketika Vasaloppet berlangsung. Dengar dengar, untuk bisa mendapatkan satu kamar di dua daerah ini, sudah harus ngeboking dalam hitungan tahun. Jika tidak, alamat sulit mendapatkan penginapan. Kebayang kan betapa banyaknya orang. Belasan ribu peserta bukanlah jumlah yang sedikit untuk sekali pertandingan sekaligus. Dan itu diselenggarakan di sebuah desa dan kota kecil pula.

Lantas, kenapa harus di desa Sälen dan kota Mora? Berikut ceritanya!

Sejarah Vasaloppet bermula dari sebuah nama yang dikenal dengan GUSTAV VASA. Kejadian diawali ketika Gustav Vasa berusaha melarikan diri dari kejaran pasukan raja Christian II (King of Kalmar Union)raja Denmark yang ingin melakukan pembantaian di Stockholm di masa silam.

Singkat cerita, pelarian Gustav Vasa sampai ke sekitar Mora. Di kota inilah, Gustav Vasa bertemu dan meyakinkan dua orang pria bernama Lars dan Engelbrekt, untuk bergabung melawan raja Christian II. Namun sayang, ajakan tersebut berujung penolakan.

Merasa tidak mendapat dukungan,  Gustav Vasa kemudian melanjutkan pelarian ke Norwegia. Dalam pelariannya, beliau hanya mengandalkan peralatan  ski apa adanya.

Setibanya di sebuah daerah yang sekarang dikenal dengan kawasan Sälen, Gustav Vasa dicegat oleh Lars dan Engelbrekt, yang pada akhirnya berubah pikiran dan beralih mendukung rencana Gustav. Dengan bantuan dan dukungan warga Mora, Gustav Vasa akhirnya sukses melawan dan mengusir pasukan Christian II. Dan puncak dari keberhasilannya itu, pada tanggal 6 Juni 1523, Gustav Vasa akhirnya diangkat dan dinobatkan menjadi Raja Swedia.

IMG_1528
Ini dia patung Gustav Vasa yang melegenda itu. Di perlombaan Vasaloppet, sengaja dikalungi krans hijau. Banyak yang berfoto di sini. Patung Vasa menjadi salah satu iconic kota Mora.

Untuk memperingati pelarian dan perjalanan sang raja inilah, sejak tahun 1922, lahirlah Vasaloppet yang artinya The Vasa Race (Perlombaan Vasa).

Berkiblat dari cerita sejarah tersebut, akhirnya pertandingan Vasaloppet diadakan dengan menggunakan jalur dan rute jalan yang dulunya memang dilewati sang raja, yaitu wilayah di sekitar Mora dan Sälen. 

Vasaloppet dimulai dari kota Sälen sekitar pukul 8 pagi. Ontime dan tidak banyak basa basi. Tapi sejak pukul setengah lima pagi, area pertandingan sudah mulai didatangi para peserta. Jalanan sudah terlihat macet memanjang. Bahkan pada pukul 7 pagi, beberapa ruas jalan sengaja ditutup dan hanya menggunakan satu jalur. Tujuannya agar bantuan emergency seperti ambulance bisa lewat.

IMG_1574.JPG

Vasaloppet memiliki jumlah peserta yang sungguh fantastis. Mencapai limabelas ribu delapan ratus orang peserta (jumlah maksimum yang ditentukan pihak penyelenggara) dalam sekali bertanding. Masing masing perserta dibagi atas beberapa group. Mulai dari group 1 sampai dengan 10. Biasanya group terdepan adalah barisan profesional atau dikenal dengan sebutan group Elite.

Seluruh peserta Vasaloppet dilengkapi dengan sebuah chip. Jadi sepanjang perlombaan, siapun bisa bisa mengetahui keberadaan mereka, melalui pesan sms. Kita tinggal mendaftarkan nomor kode dan dalam rentang waktu tertentu akan ada informasi, berapa lama lagi peserta akan sampai ke garis finish, berikut lokasi terakhir dia berada. Kebetulan salah satu kerabat kami ikut serta dalam perlombaan ini.

IMG_1579.JPG
Plang nomor untuk masing masing group
IMG_1577
Perlengkapan ski yang disusun para peserta sebelum perlombaan dimulai di daerah Sälen
IMG_1724.jpg
Para peserta bersiap siap
IMG_1566.jpg
Para peserta memulai Vasaloppet dari garis start di Sälen

Inilah yang menjadi keunikan Vasaloppet. Turnamen ini bisa diikuti oleh siapa saja, baik dari kalangan  atlet ski profesional maupun masyarakat biasa (yang bergabung hanya karena kesenangan semata).

Bahkan dua tahun lalu, dari ribuan peserta yang turut, terdapat seorang cacat tanpa dua kaki dan hanya menggunakan kursi roda. Luar biasa semangatnya. Karena itu tadi, tujuan utama Vasaloppet bukanlah urusan menang kalah. Melainkan kepuasan dan sensasi yang di dapat para peserta ketika bisa bermain  di sebuah event besar.

IMG_1725
Peserta melewati jalur lintas alam
IMG_1552.JPG
Daerah Mångsbodarna, di sini para peserta biasanya bisa mengambil waktu sebentar  (Vasaloppet Kontrol) untuk cek peralatan ski, atau sekedar meminum sirup blueberry yang disediakan panitia. Ada beberapa jalur yang digunakan peserta untuk Vasaloppet Kontrol ini.

IMG_1554.JPG

IMG_1553
Cafe menjual sosis dan minuman

Vasaloppet memiliki jarak tempuh sejauh 90 Kilometer. Sebuah jarak yang tidak dekat. Para peserta berjalan nonstop melewati hutan bersalju, suhu yang dingin bahkan berangin. Paling sesekali mereka berhenti sebentar di titik titik wilayah yang dikenal dengan istilah Kontrol. Di sinilah mereka berhenti mengecek peralatan ski, sepatu atau sekedar minum sirup blueberry. Sampai nantinya berakhir di garis finish kota Mora.

Pemenang Vasaloppet 2016 dan 2017 berturut turut diraih oleh John Kristian Dahl asal Norwegia, dengan catatan waktu kurang lebih 3 jam 57 menit (untuk tahun 2017). Namun bagi peserta biasa, jarak 90 kilometer, biasanya baru bisa diselesaikan kurang lebih 10 hingga 12 jam. Kuat banget ya.

IMG_1536.JPG
Vasaloppet di kota Mora
IMG_1529.JPG
Vasaloppet di kota Mora
IMG_1726.jpg
Peserta Vasaloppet tiba di kota Mora

Dalam sejarah perlombaan Vasaloppet, ada satu pemain legendaris yang berhasil memenangkan pertandingan Vasaloppet hingga 9 kali. Namanya Nils “Mora-Nise” Karlsson, berasal dari kota Mora. Nils meninggal di usia 94 tahun pada tahun 2012.

Menjelang garis finish di kota Mora, suasana menyambut peserta sangatlah meriah. Ucapan “heja, heja, heja” sangat familiar di telinga. Para pedagang musiman tidak sedikit yang menjual krans daun, untuk diberikan kepada para peserta. Biasanya krans daun ini diberikan oleh sanak keluarga maupun teman teman yang turut mendukung peserta.

Di ajang pertandingan Vasaloppet, sesekali penonton akan sering melihat sosok lelaki tua berpenampilan mirip Gustav Vasa. Berjalan di pinggir arena, menggunakan mantel tua berwarna coklat, lengkap dengan topi kulit dan perlengkapan ski.  Sangat mirip dengan lambang pria yang terdapat pada souvenir Vasaloppet dan Seri Pin Vasaloppet. Berbicara pin Vasaloppet, banyak yang menggilai koleksi pin ini. Bahkan sampai sekarang, tidak sedikit yang berburu pin Vasaloppet keluaran bahela.

IMG_1717
Koleksi berbagai Pin Vasaloppet 
IMG_4667
Koleksi Pin Vasaloppet tahun 1924. Keluaran dua tahun sejak Vasaloppet berlangsung pertama kalinya.
IMG_4663
Beracting layaknya Gustav Vasa

Beberapa negara seperti Amerika, China, Jepang, kadang mengadakan acara perlombaan ski di negara masing masing bertajuk Vasaloppet. Hadiah utama, mengikuti perlombaan Vasaloppet gratis ke Swedia.

Mungkin banyak negara yang memiliki perlombaan ski lintas alam, tapi Vasaloppet unggul di lintas alamnya yang sangat panjang, yang justru memberi kenikmatan tersendiri bagi para pesertanya. Gue sempat melihat wawancara di layar Screen, salah satu peserta tahun 2015  yang berasal dari negara India.  Jauh jauh datang khusus mengikuti perhelatan besar ini. Dengan biaya sendiri lagi. Segitunya.

IMG_1570
Vasaloppet Film Team

 

IMG_1571.JPG
Nompang eksis dengan backround svt Swedia..hahahahha
Seiring waktu, Vasaloppet bukan hanya sekedar perlombaan olahraga, akan tetapi sekaligus menjadi arena tujuan wisata. Jika berkunjung ke kota Mora, kawasan sekitar tugu finish, patung Gustav Vasa dan museum Vasaloppet, menjadi tempat yang wajib dilihat.

Berikut beberapa hal yang menarik perhatian gue, ketika berada di perlombaan Vasaloppet.

IMG_1549
Para wanita yang sengaja menggunakan pakaian tradisional Swedia, dan para warga bisa berfoto bersama mereka 
IMG_1546.JPG
Bangku kayu ini sengaja dibuat oleh penyelenggara, agar para warga bisa duduk menikmati perapian. Bahkan di beberapa titik jalan lain, juga disediakan perapian. Lumayan dingin sih,  sekitar -5.  Di suhu ini kalau seharian di luar lumayan berasa, apalagi kalau berangin seperti kemaren. 
IMG_1564.JPG
Kantong plastik berisi perlengkapan para peserta, seperti tas, jaket, dll. Dibungkus dengan warna warna plastik yang berbeda sesuai group. Lalu diangkut dengan traktor dan dimasukkan ke dalam bagasi besar (seperti gambar di bawah). Kemudian bagasi akan dibawa truk ekspedisi DHL ke kota Mora. Di sanalah para peserta mengambil kembali titipan mereka.
IMG_1572.jpg
Toilet yang sengaja ditempatkan di sekitar arena perlombaan. Bnayak banget. Jadi ga perlu cari cari toilet lagi. Lebih praktis. Yang biru untuk pria dan wanita. 
IMG_1557
Gue iseng banget ya motoin ini. Lucu aja gue rasa. Toilet khusus pria. Ga makan tempat. Pria enak ya, pipisnya ga susah. Hahahhaha
IMG_1575.jpg
Di Sälen, para peserta bahkan warga, diberi minuman gratis berupa kopi dan sosis. Hebatnya, dengan jumlah belasan ribu orang, halaman sekitar arena tetap bersih tidak ada sampah berserakan. Semua sadar diri masukin cup bekas minuman ke tempat sampah yang sudah disediakan.

Untuk liputan lengkapnya, bisa klik  channel youtube gue di bawah ini.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“SEMLA” si Roti Cantik yang Selalu Ditunggu

fullsizerender-28

Di Swedia, ada satu roti yang tidak bisa dibeli setiap saat. Dengan kata lain, munculnya hanya di bulan bulan tertentu.  Akibatnya, kehadiran roti ini pun lumayan ditungu tunggu. Roti apa sih? roti Semla namanya. Semla sendiri berasal dari sebuah kata latin, Similia, yang artinya tepung dengan kualitas terbaik.

Roti Semla ada bukan tanpa sebuah cerita. Setiap tahunnya, penanggalan kalender di Swedia selalu menulis, tentang peringatan sebuah tradisi yang dikenal dengan istilah Fettisdag. Tradisi yang konon sudah dikenal sejak tahun 1594.

Fettisdag berasal dari kata Fet yang artinya Lemak dan Tisdag yang berarti Selasa (Fat Tuesday). Tradisi Fettisdag ini, dikenal juga dengan sebutan Fettisdagbullar (Fat Tuesday Buns).

Long time ago, niat orang untuk menjalankan ibadah puasa pra Paskah sangatlah besar. Mereka berusaha membersihkan diri dari hal hal yang dianggap kurang baik. Termasuklah menghindari makanan berlemak dan berkalori, serta tidak meminum minuman beralkohol.

Itulah sebabnya, dihari terakhir sebelum ibadah pra paskah dimulai, mereka wajib menyantap roti sepuas puasnya. Pesta menyantap roti inilah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan Fettisdag (Fat Tuesday).  Mereka berniat membuat roti dari tepung pilihan, yang kemudian menjadi akar mula kemunculan roti Semla. Selepas Fat Tuesday, esok harinya mereka pun mulai menjalakan ibadah pra Paskah, yang dikenal dengan sebutan Askonsdag (Rabu Abu). 

Konon dahulu, Semla hanya disantap tepat di hari Fettisdag. Sampai akhirnya, jaman mulai mengenal toko roti, dan tradisi pun mulai bergeser. After perayaan Fettisdag, penjualan Semla tetap dilakukan di setiap hari Selasa selama pra Paskah. 

img_2418

Dan puncak dari pergeseran nilai tersebut dapat dilihat di jaman modern sekarang. Jauh hari sebelum Fettisdag tiba, tepatnya setelah perayaan natal, Semla sudah bisa dibeli di toko toko bakery. Bahkan kadang sebelum natal, sudah ada yang nekat menjual roti berpenampilan cantik ini. Dan dasyatnya lagi, Semla tidak dijual di hari Selasa saja, tapi di “setiap hari” selama Pra Paskah Bisa dimaklumi, mengingat peminat roti Semla yang lumayan banyak. Dan pastinya juga, menjadi ajang bisnis yang mampu memberi benefit besar. 

Jika ratusan tahun silam, Semla dibuat dan disantap untuk melengkapi tradisi Fettisdag, maka di jaman sekarang sudah jauh berbeda. Semla bisa disantap oleh siapa saja, tanpa harus berkiblat pada sejarah dan latarbelakang tradisi Fettisdag itu sendiri. 

So, seperti apa rasa roti Semla ini? 

Well, menurut gue rasanya manis. Permukaan kulit roti sedikit kering tapi lembut di bagian dalam. Dan menjadi spesial, karena ada sentuhan aroma rempah di dalam rotinya.  Bentuknya?

fullsizerender-29
Ini dia bentuk klasik Semla

Roti Semla memiliki bentuk dan penampilan yang sangat mudah dikenali. Terbagi dua, berisi pasta almond berikut whipped cream di bagian atasnya, yang tentu saja membuat penampilan Semla menjadi tambah menarik.

Dan untuk menarik perhatian lebih dari para pelanggan, pemilik toko roti/bakery pun berlomba lomba membuat varian bentuk Semla. Ada yang berbentuk cake, kemudian diberi nama Semla Cake, ada juga yang memberi lapisan Marzipan dan dinamai Princes Semla. Kreatif sekali. Lebih jelasnya bisa lihat di gambar.

fullsizerender-28
Semla dengan tampilan klasiknya
fullsizerender-32
Semla dengan bentuk yang dimodifikasi. Diberi lapisan marzipan. Meniru lapisan marzipan pada Princes Cake (Tradisional cake di Swedia). Pihak Bakery memberi nama Princes Semla. Hahaha
h
Semla modern dengan nama Princes Semla
img_2930
Semla dengan style modern. Berbentuk Cake dan diberi nama Semla Cake

Jika mengikuti tradisi lama,  roti Semla biasanya disantap dengan susu hangat. Bagi beberapa kalangan, rasanya lebih nikmat. Tapi tanpa susu pun tidak jadi masalah.

h2
Semla dengan campuran susu hangat

Jika berkunjung ke Swedia, tepatnya di saat musim dingin, jangan heran jika menemukan roti Semla ada di setiap etalase toko roti/bakery di Swedia. So, kenapa tidak mencobanya?

Happy Fat Tuesday, 28 Pebruari 2017

Salam dari Mora,

Dalarna Swedia.

“Semua photo di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Yok, Mengintip Summer House di Swedia!

Summer!

Musim yang bisa dibilang paling sempurna dari berbagai musim yang ada. Musim yang tidak membatasi aktivitas jika berlama lama di luar rumah. Musim yang identik dengan liburan, kumpul keluarga, berjemur di luar, baik itu di halaman rumah maupun di taman kota.

IMG_3254.JPG
Kece banget ya wooden housenya

IMG_3357.JPG

Liburan summer seperti apa yang disukai warga Swedia? Relatif banyak sih. Dan salah satunya adalah dengan mengunjungi Summer House.

Mengunjungi Summer House merupakan salah satu alternatif berlibur di Swedia. Jadi tidak melulu harus ke luar negeri. Bila mendengar Summer House, apa yang ada di pikiran kalian? yes, dari dua kata itu saja, bisa dipastikan jika pengertiannya adalah Rumah Musim Panas.

Ketika musim panas tiba, Summer House menjadi tempat berlibur keluarga yang lumayan menyenangkan. Rumah yang kebanyakan dihuni di saat musim panas saja. Bukan rumah hunian sehari hari. Meskipun demikian, kalau cuaca lagi bagus bagusnya, kadang ada saja yang tidak sabar mengisi liburan musim semi dengan mengunjungi summer house.

IMG_3345.JPG
Summer House di tengah hutan.
img_3344
Summer House di tengah hutan, di pinggir danau. Menyendiri.

Summer House sebagian besar terdapat di daerah pedesaan, yang dekat dengan alam atau nature. Atau bisa juga di daerah yang tidak terlalu ramai. Lumayan banyak penduduk kota besar di Swedia, yang memiliki Summer House sebagai aset pribadi. Ada yang sengaja dibangun dan ada juga yang diperoleh dari  warisan turun temurun.

Summer House pada umumnya terbuat dari bahan kayu. Ukurannya pun bervariasi. Mulai ukuran kecil hingga lumayan besar.

Perlengkapan peralatan rumah tangga juga cenderung lebih sederhana. Tidak seperti perlengkapan di rumah hunian sehari hari yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih komplit. Wajar saja, karena Summer House tidak setiap saat ditempati.

Summer House yang memiliki ukuran relatif besar, awalnya merupakan rumah tinggal yang ditempati sehari hari. Kemudian diwariskan kepada ahli waris. Misalnya dari orang tua ke anak. Berhubung ahli waris sudah memiliki rumah hunian sendiri, maka rumah seperti ini akhirnya dijadikan sebagai Summer House.

img_3352
Summer House biasanya selalu memiliki guest house kecil seperti ini. Seperti rumah liliput. Di dalamnya lengkap ada tempat tidur dan meja kursi kecil.
img_3353
Guest House yang lebih modern. Ihhh…imut ya. Tapi biasanya, tempat seperti ini pun digunakan sebagai rumah bermain anak anak.

Bahkan, Summer House yang diperoleh secara turun temurun dari beberapa generasi pun ada. Yang dari awal sudah diperuntukkan sebagai hunian Summer House. Summer House type seperti ini, lumayan banyak terdapat di desa kecil, termasuk  di desa tempat gue tinggal.

img_3342
Rangan di dalam Summer House. Vintage sekali. Mirip rumah di film film ya.

Rata rata bentuk dan ukurannya sangat sederhana dan lumayan kecil. Bergaya klasik/vintage. Dinding rumah terbuat dari kayu balok tanpa dipolesi cat warna. Peralatan di dalamnya juga masih terbilang sangat antik. Dan satu lagi, biasanya tidak ada listrik, air ledeng bahkan toilet pun masih berada di luar rumah dengan sistem no septic tank dan no saluran air! *garuk kepala*

Lokasinya juga hampir sebagian besar berada diantara hutan pinus dan pinggir danau. Berdiri sendiri tanpa ada rumah lain di sekitar. Seperti terisolasi. Konon Summer House seperti ini, lumayan banyak digemari dan dianggap ideal oleh beberapa kalangan di Swedia, termasuk suami gue. Semakin sepi dan jadul, semakin nikmat. Jauh dari kebisingan dan modernisasi.

img_3346
Summer House milik tetangga. Ada Rumah Saunanya. Sehabis sauna, biasanya mereka buru buru lari ke danau. Dan itu Naked! Hehehe.

IMG_3360.JPG

Hal hal yang dianggap merepotkan dan kurang praktis, seperti mengangkat air dari danau, menggunakan lilin sebagai pengganti listrik, bagi mereka justru memiliki sensasi beda.

Berasa hidup di jaman ratusan tahun silam. Kehidupan jaman bahela yang berseberangan dengan hal hal praktis. Namun justru di situlah kenikmatannya. Eng ing eng bangetlah. Hahaha

Tetapi banyak juga Summer House yang sudah dilengkapi listrik dan air. Biasanya Summer House seperti ini, berada di lingkungan pedesaan yang sudah banyak dihuni warga. Bukan menyendiri di tengah hutan lagi.

IMG_3358.JPG
Summer House seperti ini, sengaja dibangun di lingkungan pedesaan.
IMG_3328 (1).JPG
Isss…heaven banget ya.

Keluarga raja Swedia pun, memiliki Summer House di sebuah pulau bernama Öland. Summer House berbentuk kastil. Namun tidak jauh dari bangunan kastil, sengaja ditempatkan sebuah rumah kayu antik, yang konon katanya dipakai raja dan ratu sebagai tempat bersantai. Jadi yang namanya kehidupan tempoe doloe, memang lumayan digemari di Swedia. Tak terkecuali keluarga rajanya.

Dan tidak heran juga, jika masih banyak Summer House yang sengaja dibangun di jaman sekarang, masih berkiblat pada model bangunan tempo dulu.

IMG_3333.JPG
Summer House di desa gue.
img_3361
Summer House di desa tetangga

Yang gue dengar sih, saat ini pemerintah Swedia sudah melarang pembangunan rumah termasuk Summer House yang jaraknya hanya beberapa meter dari danau. Larangan ini dibuat, dengan tujuan agar orang orang yang ingin menikmati alam di sekitar danau, seperti memancing dan berenang, bisa lebih nyaman tanpa harus terganggu dengan rumah rumah yang terlalu dekat dengan tempat mereka menikmati alam sekitar. Semacam privacy lah.

IMG_3359.JPG
Selalu dekat nature
img_3432
Summer House antik

Jadi jangan kaget, jika sebuah Summer House tempo dulu, yang lokasinya benar benar di tengah hutan atau di pinggir danau, menjadi incaran orang orang yang menggilai kehidupan sepi dan dan tidak bising. Bahkan oleh suara mobil di jalan raya sekalipun. Ada benarnya juga, gue sendiri menyukai ketenangan seperti ini. Alam yang segar, sampai kicauan burung pun, kedengaran seperti di samping telinga sangkin heningnya. Ekolife banget.

Belum lagi menikmati sinar mentari sambil ngegrill. Mencium aroma asap dari daging bakar, diantara sepinya hutan dan tenangnya air danau. Yuhuii bangetlah. Paling yang belum bisa gue maklumi, minimnya fasilitas air ledeng dan toilet tadi. Mental gue masih mental tempe. Terbiasa dengan yang gampang dan tidak mau ribet.

Jadi sampai saat ini, meskipun gue dan suami tinggal di sebuah desa kecil, kami dan beberapa warga di sekitar desa, tetap memiliki Summer House. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari tempat tinggal sehari hari.

IMG_3337.JPG
Sebuah Summer House, dengan view danau di sekitarnya. Seperti foto di bawah.

Lantas, mengapa harus memiliki Summer House yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat tinggal sehari hari? Bukankah di rumah sendiri sudah tenang, jauh dari kebisingan dan dekat dengan alam?

Jawabannya simpel saja, rumah yang ditempati sehari hari, aura dan feelnya berbeda dengan rumah yang hanya digunakan di saat tertentu saja. Apalagi rata rata Summer House di tempat gue, memang cenderung menyendiri dan tidak ada tetangga. Lebih tenang. Dan seperti yang gue bilang di atas, dengan segala keterbatasan yang ada, sensasi yang mereka rasakan tentu berbeda.

fullsizerender-32
Bagi mereka heaven banget ini.

Konon, warga Jerman dan Belanda, merupakan turis tetap yang lumayan banyak mengunjungi tempat-tempat sepi di sekitar hutan Dalarna, seperti di desa gue. Biasanya, mereka datang dengan mobil caravan. Dan memilih bermalam di tengah hutan.

Gue pernah memergoki turis dari negara Belanda, tengah asik di sekitar area hutan. Duduk santai sambil membaca. Gue sempat nanya, kenikmatan seperti apa yang didapat ketika berada di tengah hutan seperti ini. Dia bilang, sepi itu liburan yang paling nikmat. Tak ada bandingannya.

fullsizerender-33
Summer House di saat winter
IMG_3327.JPG
Summer House di saat winter
img_3427
Menikmati perapian di Summer House
fullsizerender-32
Rumahnya mirip foto di kalender

Kadang kadang, Summer House bisa juga dikunjungi di saat autumn, menjelang winter atau di saat salju tidak terlalu tebal. Untuk sekedar membuat perapian agar suhu di dalam ruangan Summer House tidak terlalu dingin. Hal ini baik untuk menjaga bangunan agar tetap awet.

Di musim seperti ini pun, suasana Summer House lumayan menyenangkan. Duduk di depan perapian, menyalakan lilin sambil melihat putihnya salju dari jendela, serasa dalam cerita dongeng. Atau ketika daun daun memenuhi halaman Summer House di saat Autumn, rasanya romantis banget. Namun kegiatan maintenance seperti ini, hanya dilakukan sekali kali dan itu pun tidak terlalu lama.

Berikut beberapa model Summer House yang tak jauh dari desa tempat gue tinggal.  Dan hampir semuanya berada di sekitar hutan dan danau.

IMG_3363.JPG

fullsizerender-34

img_3349

img_3336

Summer House di dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya Summer House yang ada di berbagai wilayah Swedia. Tentu saja, bentuk dan designnya tidaklah melulu sama persis. Foto foto di dalam tulisan ini, sebagian besar merupakan Summer House yang berada tidak jauh dari tempat tinggal gue dan juga beberapa wilayah desa di Dalarna. 

-See in my Next Story-

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com

Di Swedia, Umur 50 Tahun Dianggap Sangat Spesial

Ja, må hon leva!

Ja, må hon leva!

Ja, må hon leva uti hundrade år

Javisst ska hon leva!

 Javisst ska hon leva!

Javisst ska hon leva uti hundrade år!

*hon (sebutan untuk wanita) bisa diganti dengan han (sebutan untuk pria). 

Itulah syair lagu yang wajib dinyanyikan dalam sebuah perayaan ulang tahun di Swedia, terkhusus di usia 50 tahun. Mirip seperti lagu “Panjang Umur”. Makna lagu kurang lebih memohon harapan agar yang berulang tahun senantiasa diberi umur yang panjang hingga ratusan tahun. Biasanya para tamu berdiri, bernyanyi sambil bertepuk tangan. 

Di “sebagian” kalangan warga Swedia, memberi ucapan selamat ulang tahun bukanlah sesuatu yang dianggap harus. Sekalipun yang berulang tahun adalah kerabat atau teman dekat. Mereka lebih banyak memilih diam. Kecuali anggota keluarga, mungkin iya.

FullSizeRender (30).jpg

Berbeda halnya ketika usia menginjak 50 tahun. Orang orang yang kita kenal, mulai dari teman dekat, kerabat, bahkan yang tidak terlalu dekat pun, cenderung tau ketika kita memasuki usia ini.

Ucapan Grattis pun lumayan ramai berdatangan baik dalam bentuk sms, telephone, dan berkunjung langsung ke rumah. Di usia 50 tahun jugalah, kebanyakan warga Swedia membuat perayaan yang lebih spesial dibanding ulang tahun lainnya. Berbagi kebahagian bersama handai tolan.

FullSizeRender (29).jpg
Traditional Princes Cake

Bagi warga Swedia, 50 tahun adalah usia yang spesial dan ideal dalam sebuah pencapaian tujuan hidup. Hal ini digambarkan dalam sebuah ilustrasi yang dikenal dengan istilah Ålderstrappa, grafik tangga yang menggambarkan pertumbuhan  usia manusia mulai dari kecil, dewasa, tua, hingga lanjut usia.  

Ilustrasi dimulai dari tangga yang paling rendah hingga mencapai tangga yang paling tinggi dan kemudian menurun kembali ke tangga yang paling rendah.

IMG_2948.JPG
Contoh ilustrasi Ålderstrappa. Usia 50 tahun berada di paling puncak. source : www.kart-bosse.se

Mengundang orang untuk hadir di sebuah acara ulang tahun adalah hal biasa. Tetapi ketika seseorang dengan sangat yakin membuat persiapan acara, namun malah tidak mengundang orang lain untuk hadir ke acara tersebut, bagaimana menurut kalian? dan ajaibnya lagi, justru orang orang yang tidak pernah diundang itu malah berdatangan. Nentengin kado pula😂

Inilah yang terjadi di Swedia, tepatnya lagi di desa tempat gue tinggal. Pertama di acara ulang tahun tetangga,  dan yang kedua di acara ulang tahun suami. Dua minggu sebelum hari H, kami sudah memesan catering sederhana.

FullSizeRender (32).jpgDan di situlah gue baru tau, kalau kami tidak perlu mengundang orang orang untuk datang ke acara ulang tahun emasnya suami. Lah ini piye ceritane? kalau tamunya pada ga datang? Tidak mungkin, mereka pasti datang! Jawab suami waktu itu.

Lagi lagi inilah kehebatan usia 50 tahun di Swedia. Apalagi jika hidup di desa kecil seperti kami. Dijamin orang orang akan datang ke rumah untuk mengucapkan selamat. Artinya mereka datang memang sudah niat. Semisal yang berulang tahun tidak menyediakan apa apa, pun tidak masalah. Dan biasanya, seluruh warga sudah saling berunding jauh hari, mau datang pukul berapa.

Meskipun terbilang bukan remaja lagi, usia 50 justru dianggap masih layak dibanjiri dan diberi berbagai jenis hadiah/kado, yang berasal dari perseorangan maupun hasil urunan beberapa orang.

Jenis kado apa yang umum diberi ketika berulang tahun? Ini dia (yang sering gue lihat):

  1. Barang yang dianggap benar benar dibutuhkan. Misalnya seperti ulang tahun suami, karena warga desa tau dia sangat suka beraktivitas di hutan, tetangga urunan memberi hadiah voucer berisi belanja satu set perlengkapan kerja di hutan. Mulai dari celana, jaket, helm dan sarung tangan. Lucunya lagi, teman kantornya juga urunan memberi sebuah Kapak😂
  2. Bunga 
  3. Minuman whisky, wine.
  4. Candle holders
  5. Barang antik. Ini merupakan favorite mereka banget loh. Apalagi jika barang antiknya available. Salah satu tetangga dekat, punya menantu dan tinggal di Stockholm. Meskipun tidak membuat perayaan ulang tahun yang ke 50, tapi warga di desa gue tetap berinisiatif memberikan kado. Berhubung dia sangat menyukai barang antik, akhirnya kami memutuskan memberi sebuah  ember kayu antik yang sudah berumur ratusan tahun. Ember kemudian diisi dengan sebotol minuman wine, dan beberapa jenis keju tua. Awalnya gue merasa ga enak, yakin dia senang? Masa dikasih barang bekas dari gudang?  Beda kultur ya mak😂. Kebayang ga sih, jika kalian dikasih kado berupa barang bekas dari gudang. Ember pula! *yang ada dilempar balik dengan ember…hahaha
  6. Yang ulang tahun traktir dong! Hmmm….kalimat ini tidak berlaku di Swedia. Sebaliknya, justru yang berulang tahunlah yang ditraktir. Ini baru ajaib. Dan traktiran ini dianggap sebagai kado ulang tahun. Jika yang berulang tahun membawa serta suami/isteri atau anak, maka mereka tidak serta merta ikut menikmati traktiran tadi. Mereka wajib membayar sendiri. Kalau kata orang Medan, Makjang kalipun😅. Pertama mendengar insiden kebiasan mereka ini, lumayan membuat gue nyesek. Kebayang kan duduk bersama satu meja, makan di acara ultah suami misalnya, giliran suami makan gratis, isteri rogoh kocek sendiri. Serasa dihempaskan😂. Tapi ya itulah mak, beda negara beda kultur.  Budaya traktir mentraktir bukan kebiasaan mereka. Kecuali memang jelas tujuannya.
  7. Mungkin masih ada kado jenis lain yang bisa diberi, gue cuma menulis yang biasa gue lihat aja. Memberi kado ke bule itu enak. Tidak perlu cemas. Mereka pasti menerima dengan senang hati. Apapun itu. Mau murah mereka senang, kalau mahal ya lebih senang lagi….hahaha (lah ini manusiawi toh). Intinya sih mereka menghargai sekali setiap pemberian yang dikasih. Jadi yang ngasih kado pun pikirannya tenang, ga dibebani anggapan “tar suka ga ya, atau ini kemurahan ga ya”. Akhirnya yang ngasih pusing, yang nerima pun kemungkinan bisa manyun. Gue pernah mendapat reaksi seperti ini dulu. Dari orang orang yang dikenal baik pula. Nyebelin sih🙃

IMG_2964.JPG
Kira kira mirip seperti inilah ember kayu antik yang kami beri sebagai kado ulang tahun yang ke 50 kepada menantu si  tetangga. Sebenarnya unik ya. Dan photo di bawah ini adalah contoh kado dalam bentuk bunga. Bentuk bunga lain juga bisa. 

Baru gue tau juga, sebagian kalangan di Swedia tidak terlalu suka dan kurang nyaman bergabung dengan orang orang yang tidak terlalu dikenal. Buat mereka, acara pesta bukanlah sebuah acara basa basi yang penuh formalitas. Datang ke pesta ya memang buat senang senang. Minum, makan dan ngobrol. Semua itu baru terasa nyaman jika dihabiskan dengan orang orang yang dianggap tidak asing.

fullsizerender-31
Sebilah kapak pun okeh menjadi kado.

Demikianlah, di ulang tahun 50 tahun suami, kami akhirnya memutuskan membuat acara 3 hari berturut turut. Pertama untuk orang desa, kedua dengan teman kantor dan ketiga dengan sepupu serta paman bibinya. Biar teman kantornya tidak berasa aneh diantara warga desa yang memang belum mereka kenal, demikian juga dengan tetangga. Lagian, ruangan di dalam rumah pun ga muat kalau harus menampung tamu sekaligus. Ini alasan yang paling tepatnya😛

h.jpg
Sebotol minuman juga tang cen ouye dijadikan hadiah ulang tahun.

Salah satu teman baik suami di masa kecil, merayakan pesta ulang tahun ke 50 di kota Stockholm tahun lalu. Berhubung relasi kerjanya lumayan banyak, undangannya pun lumayan banyak.

Akibatnya, tidak sedikit yang secara halus menolak hadir, dikarenakan alasan di atas, mereka tidak begitu kenal dengan undangan yang lain.

Bisa dimengertilah. Karena gue sendiri pun memang agak malas berada diantara ramainya orang yang tidak gue kenal. Basa basi kadang berat.

img_2974
Perayaan ulang tahun emas salah seorang teman kecil suami di Stockholm. Diadakan di sebuah aula sekolah.

Mempersiapkan acara ulang tahun di Swedia tidak perlu pusing. Terutama urusan menunya. Karena di sini tidak seperti di Indonesia, meja penuh dengan berbagai macam menu. Belum lagi persiapan kantong plastik jika terjadi emergency. Ada yang mau bawa pulang. Bungkus mak😝😂!!

IMG_2972.JPG
Maaf, ga bisa bungkus di plastik kalau sudah begini…hahaha

Satu jenis Main Course aja pun sudah cukup kok. Kalau mau dibuat lebih juga boleh. Intinya tidak keharusan mengisi meja denga makanan beraneka ragam. Yang paling penting, cookies dan kopi wajib ada. Dan tentu saja Traditional Princes Cake dengan lapisan marzipan berwarna hijau, sebagai simbol acara ulang tahunnya. Ga ribetlah 🙂

Tapi, untuk tamu yang sengaja diatur agenda kedatangannnya, seperti teman kerja dan keluarga dekat, barulah persiapannya lebih banyak. Dan ini pun lagi lagi karena kita yang mau repot sendiri. Karena menu yang gue buat lumayan bermacam. Jelas saja, yang tampil ayam bumbu lengkuas, semur daging, sop dan springroll. Masakan Indonesahhhh!!!

Akibatnya setelah beberapa hari berselang, salah satu teman kerja suami yang sangat terkesima dengan springrolls buatan gue, memesan 50 biji. Lumayan kan mak, rejeki tak terduga😂

Pesta ulang tahun ke 50 tahun, biasanya kalau dihadiri banyak orang, bisa All Night Long. Diawali dengan minum wine, ngobrol, menyanyikan lagu ulang tahun, makan, ngopi, dan acara bebas seperti dansa, joget dan lanjut minum lagi.

Kuat banget mereka dansa dan joget meskipun rata rata sudah di atas 50 tahun. Dan larut malam tidak jadi masalah. Dan siap siaplah mendengar mereka mulai ngoceh ga jelas karena efek alkohol. Cuma maboknya ga seklasik cerita di sinetron sih. Pegang botol sambil jalan sempoyongan😂

Kalau pas dirayakan di saat summer, biasanya acara dilakukan di taman atau halaman rumah. Ngegrill juga. Serulah.

Kalau kamu, sudah pernah menghadiri acara ulang tahun emaskah? ayo sharing di sini 🙂

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

 

 

10 Fakta Menarik Tentang Rumah Sakit Swedia

FullSizeRender (25).jpg

Gue termasuk orang yang cepat panik terhadap suatu penyakit atau keluhan di badan. Penyakit biasa pun bisa diada-adain menjadi luar biasa. Doyan banget ngebayangin penyakit seram. Padahal ketika diperiksa, ternyata semuanya oke oke saja.  Entah apalah yang ada dipikiran gue ini.

Ada keluhan sedikit, baru berasa lega setelah ke dokter. Padahal yang namanya dokter sebenarnya pengen gue hindari. Ironis.

Dan ini sudah berakar sejak gue tinggal di Jakarta. Tepatnya setelah hari hari penuh dengan kelelahan.

Sejak tinggal di Swedia, barulah gue menyadari, bahwa tidak selamanya keluhan di badan harus sembuh di tangan dokter. Tubuh sendiri pun sanggup dengan baik menyembuhkan sakit. Ini pengalaman gue ketika terkena penyakit mirip Frozen Shoulder. Tapi dokter bilang bukan Frozen Shoulder. Dirujuk ke Spesialis, dan si dokter bilang, tidak ada obat yang sangat berarti yang sempurna menyembuhkan sakit gue. Walaupun sakitnya luar biasa, tapi menurutnya akan hilang dengan sendirinya. “Tunggu saja kurun waktu 6 bulan ke depan”.

Gue ingat banget ucapan beliau waktu itu. Dan ternyata benar, tanpa diobati, perlahan nyeri di punggung gue hilang. Tadinya kedua tangan gue tidak bisa dipertemukan, dan sekarang sudah tidak ada masalah.

Awalnya sempat ngedumel, udalah lama menunggu schedule ketemu si profesor ini, ujuk ujuk cuma mendengar jawaban tidak ada obat yang sangat berarti.  Tapi lucunya, gue malah percaya dengan apa yang dia bilang, dan merasa lebih tenang. Karena ketenangan beliau, dan ucapannya yang sangat meyakinkan, memberi harapan besar ke gue. Kalau sakit yang gue derita bakal sembuh meskipun tanpa harus dicekokin obat.

Dan gue pun baru mengerti, tidak selamanya ke dokter harus berujung dengan obat. Tugas utama dokter sebenarnya kan memeriksa, mengkaji dan menjelaskan apa yang dia tau, melakukan tindakan yang dianggap perlu dan menyuruh apa yang harus dan tidak boleh dilakukan pasien. Jadi ke dokter its not only about medicine.

Tahun pertama di Swedia, jujur saja membuat gue disappointed dengan sistem pelayanan kesehatan di negara ini. Gue ditampar culture shock yang lumayan menggigit. Sampai akhirnya, perbedaan yang gue lihat, bisa gue terima karena memang positif adanya.

Pengalaman gue dengan rumah sakit di Swedia lumayan banyak. Mulai dari pemeriksaan biasa, luar biasa sampai stay di hospital. Dari pengalaman itulah, gue berusaha menuangkannya dalam bentuk tulisan. Semoga saja berguna.

fullsizerender-24

Lantas apa yang bisa gue simpulkan dari Pelayanan Rumah Sakit di Swedia, khususnya di kota Mora, Dalarna?  Berikut di bawah.

1. MAKE APPOINTMENT 

Awalnya gue sangat terganggu dengan sistem ini. Ketemu dokter merasa dibatasi. Ga bisa sesuka hati kapan gue mau. Apalagi menunggu schedule bertemu dokter lumayan lama. Bisa mingguan bahkan bulanan. Kecuali jika keluhan kita sangat serius, biasanya dipercepat dalam hitungan hari (Pengalaman pribadi). Intinya tergantung keluhanlah.

Make Appointment biasanya dilakukan untuk keluhan yang sifatnya tidak terlalu emergency (kita merasa atau menduga duga  punya keluhan di tubuh, tapi kondisi fisik masih lumayan kuat,  bisa berjalan, bekerja dan beraktivitas)atau bisa juga hanya ingin berkonsultasi maupun cek rutin kesehatan, periksa ibu hamil, atau sejenisnya.

Kenapa harus Make Appointment terlebih dahulu?

Dengan membuat appointment terlebih dahulu, kita terlayani. Artinya memang jadwalnya kita. Tidak perlu mengantri. Duduk sebentar, nama langsung dipanggil. Ontime sekali. Dan yang lebih penting lagi, dokter juga fokus memeriksa kita tanpa harus dikejar bayang bayang akan antrian pasien yang lain. Kita punya waktu yang lumayan cukup untuk mendengar penjelasan dokter, pun untuk kita bebas bertanya juga.

Pengalaman gue, akibat waktu yang sangat cukup ini, dokter selalu menjelaskan dengan bahasa yang sabar dan tidak terburu buru. Jauhlah dari komunikasi satu arah, dimana pasien menjelaskan keluhan, si dokter cuma menunduk tanpa melihat wajah pasien, sambil nyahut…mmm…mmm, dan sibuk nyoretin kertas lalu “Ini ya, resepnya tebus di apotek”   Menunggu antrian sampai berjam, ketemu dokternya paling 10 menit 🙂

2. PELAYANAN EMERGENCY (GAWAT DARURAT)

Bagaimana jika pasien datang ke rumah sakit tanpa appointment terlebih dahulu? Boleh boleh saja. Emergencylah. Kadang pasien yang tau, separah apa keluhan yang dirasakan. Barulah nanti sesampainya di rumah sakit, pihak medis akan memeriksa seserius apa keluhan pasien.

Emergency tidak harus selamanya darurat, karena ada saja pasien yang datang dengan keluhan yang tidak terlalu mengkhawatirkan, atau yang lebih parah lagi cuma modal takut langsung ngibrit ke rumah sakit. Dan salah satunya itu adalah gue 🙂

Kalau tidak terlalu parah bahkan cenderung tidak berbahaya, pasien lebih banyak ditangani perawat. Dan akibatnya, harus siap menunggu dokter dalam waktu yang lumayan lama. Tapi meskipun dokter belum memeriksa pasien, dan belum ada kepastian opname atau tidak, rumah sakit langsung menempatkan pasien di dalam kamar.  Menunggu dokter sambil tidur atau istirahat. Jadi tidak dibiarkan menunggu lama di ruang tunggu.  Penanganan pertama dari suster langsung diterima pasien sebelum dokter datang.

3. FASILITAS AMBULANCE

Seumur umur, gue baru merasakan dibawa ambulance setelah tinggal di Swedia. Itupun sangat tidak disangka kejadiannya. Awalnya gue dan suami hendak belanja kebutuhan dapur. Setibanya di kota, kami bermaksud Fika  di sebuah cafe.

Entah mengapa tiba tiba gue pengen muntah. Dan langsung menuju toilet cafe. Begitu keluar, gue merasa pusing dan jantung berdegup kencang. Cemas sudah pasti iya. Karena  merasa debaran jantung gue tidak wajar. Melihat suami panik, pegawai cafe langsung aware dengan keadaan gue. Mereka pun menghubungi 112, Emergency Call Public di Swedia.

Karena sedang berada di kota, tak sampai 10 menit (kalau tidak salah), ambulance langsung datang. Awalnya gue merasa risih, kalau sampai semua orang ngeliatin gue. Dan ternyata cuma Geer semata. Orang orang berjalan biasa saja tanpa pengen tau apa yang terjadi🙈

Begitu masuk, gue melihat betapa cekatannya petugas menjalankan tugasnya diantara peralatan medis yang memenuhi ambulace. Gue langsung ditensi, detak jatung diperiksa, gue terus diajak bicara, dan entah mengapa, gue merasakan sekali Sense of Humanity dari si petugas ketika dia memberi pertolongan ke gue. Yang gue rasakan saat itu, si petugas benar benar menganggap jika nyawa gue sangat penting untuk diselamatkan.

Jadi tidak terkesan menjalankan tugas semata. Tadinya gue berpikir, liputan 991 atau acara sejenis hanyalah pencitraan dari sebuah skenario tv. Ternyata di dunia nyata beneran ada. Dan  itu gue lihat dan rasakan sendiri.

Di Swedia, fasilitas ambulance bisa dipanggil kapan saja dan dimana saja, sekalipun di desa kecil seperti tempat gue tinggal. Operator akan menghubungkan dengan rumah sakit terdekat. Petugas akan memeriksa dan membuat laporan keadaan si pasien. Begitu tiba di emergency, pasien langsung diperiksa oleh tim medis.

4. SEMUA TENAGA MEDIS DIAKUI KREDIBILITASNYA 

Ketika sebagian besar rumah sakit di tanah air sangat mudah memberi kesempatan bertemu dokter spesialisberbeda halnya dengan rumah sakit di SwediaPasien tidak bisa seenaknya main potong jalan.

Sebelum bertemu dokter umum, biasanya pasien ditangani oleh perawat. Sebelum dokter datang, perawat mengambil sampel darah untuk di cek ke laboratorium. Jadi tidak harus menunggu intruksi dokter.

Kadang kadang, seorang perawat dipercaya menjalankan layanan klinik kecil, semacam Puskesmas yang dibangun Kommun (semacam pemda), guna memberi layanan kesehatan kepada masyarakat yang tinggalnya lumayan jauh dari kota. Dan itu tanpa ada dokter.

Dari perawat kemungkinan lanjut ke dokter umum, dan jika diperlukan baru dirujuk ke dokter spesialis. Wanita hamil di Swedia pun sebagian besar hanya dilayani Barnmörska (semacam bidan) dan bertemu dokter spesialis Obgyn ketika ada masalah serius saja.

Jadi semua petugas medis di Swedia diakui kredibilitas kerjanya. Tidak ada anggapan kalau dokter spesialis lebih berbobot, dokter umum apalagi perawat jadi dianggap sebelah mata. Semua penanganan kesehatan tergantung keluhan si pasien.

5. STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) YANG MEMBUAT NYAMAN

Yang gue bahas di sini bukanlah SOP rumah sakit secara keseluruhan. Kalau itu manalah gue tau kan ya. Gue cuma membahas sesuatu  yang selalu gue dapatkan ketika berkunjung atau berobat ke rumah sakit di Swedia. Dan gue menyebutnya sebagai Standard Operating Procedure (versi gue), yang sangat menghargai gue sebagai pasien. Apa itu?

-Sesuatu yang simpel tapi sangat bermakna. Sapaan “helo, nama saya Anita (katakanlah begitu), sambil mengulurkan tangan, “Saya perawat atau saya dokter yang yang akan memeriksamu. Hur Mör Du? (Apa kabarmu?). Sapaan seperti inilah mostly gue dapatkan ketika bertemu dokter maupun perawat di rumah sakit. Walaupun cuma kalimat sederhana, tapi bermanfaat bagi si pasien. Disapa dengan senyum dan disalam hangat.

Dokter selalu keluar dari ruangan, memanggil nama kita, dan menghampiri dengan sebuah sapaan dan uluran jabat tangan. Tidak pernah gue melihat, dokter duduk manis dan menunggu  pasien dengan wajah serius di dalam ruangan. Selalu mereka yang keluar menghampiri.  Paling in case, pasien dipanggil perawat, lalu tidak lama si dokter masuk. Itupun si dokter tetap memperkenalkan diri dan menjabat tangan pasien.  

6. SETIAP TINDAKAN, DOKTER BERUSAHA MENJELASKAN

Setiap dokter melakukan tindakan, sebagian besar dibarengi penjelasan. Contohnya, “Saya akan memberi gel ke kulit leher kamu, tidak sakit cuma sedikit dingin” Atau “Saya mulai ya masukin alatnya (sambil nunjukin alat ke kita) kemudian “Sekarang saya pakai alat yang berbeda, tujuannya untuk…….. bla bla…(sambil menjelaskan).

Tadinya gue berpikir, udalah ga perlu dijelasin, karena pengen cepat selesai diperiksa. Tapi setidaknya mereka berusaha membuat pasien bisa lebih mengerti tindakan yang mereka lakukan itu gunanya untuk apa. Jadi tidak asal tindakan saja.

Bahkan sewaktu gue menjalani operasi kecil jempol tangan (duh ini sakitnya banyak banget ya), di ruang operasi (sebelum tindakan), si dokter menjelaskan fungsi operasi yang akan gue jalani untuk apa.

Dan nanti setelah operasi hasilnya akan menjadi bagaimana, bla bla bla. Jadi masuk ruang operasi, jempol gue tidak serta merta langsung dibelek.

7. ANTIBIOTIK?….oh..No..!

Begitu gampangnya gue mendapatkan antibiotik di Indonesia dulu, sampai dokter sanggup memberi antibiotik tanpa melakukan test lab terlebih dahulu. Cuma modal keluhan dari mulut pasien. Contoh sederhana aja deh. Klinik 24 jam lumayan banyak yang seperti ini. Memang sih pasien sembuh. Tapi efek ke depannya kita tidak pernah tau. Bicara obat dan antibiotik di tanah air, aroma bisnisnya lumayan berasa.

Jika ke dokter tanpa membawa pulang antibiotik, serasa ada yang kurang. Setidaknya itulah yang gue rasakan dulu. Dan itu masih terbawa sampai di awal awal ketibaaan gue di Swedia. Mindset yang sampai membuat gue kesal, karena dokter di Swedia sangat susah  memberi antibiotik.

Masih ingat pertama sekali gue masuk emergency akibat menderita diare. Dan berhubung waktu itu belum mengerti, gue mulai frustasi, kok cuma perawat yang menangani gue. Dokternya mana? Dan gue pun minta diberi obat diare.

And you know what? dokter belum bisa segera datang, karena masih menangani pasien yang lebih serius darurat.

Padahal mencret gue kurang apa coba*tutup muka dengan kedua tangan.

Trus how about my medicine? gue tidak perlu medicine katanya. Karena asupan oralit dari infus yang masuk ke badan gue sudah sangat cukup. Inilah kalau kebiasan minum En**stop.

Perawat bilang , selama oralit masuk ke tubuh, air yang terbuang melalui Bab tidak membahayakan jiwa gue. Logikanya ada yang keluar tetapi tetap ada yang masuk. Apalagi tensi gue masih normal, detak jantung juga ga masalah, dan gue tidak sampai demam.

Dan satu lagi, perawat melihat gue masih sanggup berjalan ke kamar mandi sendirian.  Sempurnalah menjadikan gue sebagai pasien yang masuk kategori cukup dirawat di rumah. Dan betul saja, dokter akhirnya datang, periksa laporan si perawat, trus memeriksa gue, dan taraaaaaaaa…..Kamu boleh pulang!

Huaaaaa….memblenya mak. Cuma segitunya sih dok. Perih! 😩

Kata si dokter, diare yang gue alami bisa gue atasi di rumah. Gue ga perlu menginap di rumah sakit. Dan tidak perlu meminum obat. Minum yang cukup saja. You dont need to be worry. Dan its true, gue sembuh dong. Dan terbukti sampai hari ini, gue masih sehat aja dan tetap menulis di blog. Hahaha.

Inti dari cerita di atas adalah, pasien manjah tidak terlalu diladeni. Selama hasil tes semuanya normal, tidak perlu merengek rengek. Wong jalan ama tegang leher aja masih bisa kok 🙂

Gue cuma terkena Culture Shock.  Terbiasa dicekokin dengan obat dan maunya sembuh cepat pakai jalan pintas.  Padahal tanpa obat pun sebenarnya bisa sembuh. Pokoknya antibiotik sesuatu yang sangat jarang diterima pasien di Swedia. Sangat hati hati. Kalaupun ada antibiotik sejuta umat yang dijual tanpa resep dokter, jenisnya juga tidak banyak. Sudah lolos sensorlah.

8. TIDAK PERNAH MELIHAT SALES FARMASI di RUMAH SAKIT

Dulu kalau menunggu antrian dokter, sering melihat para sales farmasi menunggu atau menghampiri dokter ketika lewat. Tujuannya sudah bisa dimengerti untuk apa.

Di rumah sakit Swedia gue belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Gue kurang mengerti juga, seperti apa kordinasinya. Yang gue tau hanyalah, dokter cukup menulis resep melalui sistem online yang langsung conecting ke seluruh apotek di Swedia. Jadi ga pake tulisan di selembar kertas lagi.

Nanti begitu tiba di apotek, pasien hanya memberitahu Person Number (semacam nomor kode perseorangan) dan barulah obat diterima pasien lengkap dengan keterangan obat dan cara pemakaiannya.

Begitupun dengan rekam medis pasien, semuanya memakai sistem komputerisasi. Mulai dari dokter yang pernah menangani, tindakan apa saja yang sudah dilakukan terhadap pasien, tes laboratorium, jenis obat atau vitamin yang pernah kasih. Jadi kalau next time dokternya ganti, riwayat pasien bisa kelihatan. Pasien pun tidak harus bolak balik menerangkan panjang lebar lagi.

9. LAYANAN GRATIS KESEHATAN 

Setiap warga negara dan  pemegang kartu Resident Permit di Swedia,  semuanya berkesempatan untuk mendapatkan layanan gratis kesehatan dari pemerintah. Namun ada ketentuannya.

Untuk biaya layanan rumah sakit secara keseluruhan, seperti biaya dokter, periksa kesehatan, dan opname, pasien wajib membayar biaya pengobatan sesuai jumlah tagihan di setiap kunjungannya. Namun biaya pengobatan ini hanya dibatasi sampai senilai 2000 Sek dalam setahun. Apabila sebelum jangka waktu satu tahun si pasien sudah mengeluarkan biaya sampai 2000 Sek, maka sisa bulan dalam setahun itu menjadi gratis. Demikian ketentuan ini berlaku sampai tahun tahun berikutnya.

Demikian juga dengan biaya obat obatan. Jika pembelian obat mencapai 2500 Sek sebelum jangka waktu setahun, maka pembelian obat bulan berikutnya menjadi gratis.

Sedangkan untuk perawatan gigi, jika pembayaran sudah mencapai 3000 Sek sebelum jangka waktu satu tahun, maka pembayaran selanjutnya diberi potongan 50 % (untuk gigi tidak ada layanan gratis).

10. TIDAK ADA PASIEN KELAS SATU, DUA DAN TIGA

Yup…tidak ada pasien beda kasta di rumah sakit Swedia. Semuanya sama sama mendapat pelayanan terbaik. Kalau bicara hati nurani, idealnya sih harus seperti ini ya.

fullsizerender-23

Lantas, sudah cukup puaskah warga Swedia dengan sistem pelayanan kesehatan di negaranya? Sepertinya tidak juga. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Di satu sisi ada saja keluhan akan kebijakan pemerintah Swedia yang ingin mengurangi kegiatan rumah sakit di kota kota kecil, dan menggabungkannya ke kota besar. Efisiensi waktu dan biaya oprasional menjadi faktor utama.

Tapi buat gue pribadi, dari pengalaman berobat yang gue jalani dari waktu ke waktu, semakin hari semakin merubah pola pikir gue akan pelayanan rumah sakit di Swedia. Lebih membuka matalah.

Meskipun pernah mendapat pelayanan kurang mengena di hati, tetapi secara keseluruhan rasa kemanusiannya lebih diutamakan daripada nilai uang. Gue tidak perlu menjadi orang kaya dulu baru bisa mendapat pelayanan yang baik.

FullSizeRender (26).jpg

Gue juga lebih bisa memahami, ketika sakit, ya harus sabar dan tidak perlu adu urat leher dan minta diladeni cepat. Bisa mengertilah mana yang harus diprioritaskan. Karena gue sudah mengalami semua, dari yang sakit ecek ecek sampai sakit yang benar benar menakutkan. Gue sudah melihat dan merasakan langsung, bagaimana dokter menangani pasien yang benar benar darurat dan tidak.

Contohnya ketika gue sakit sampai dibawa ambulance. Dokter seketika datang, cek darah, cek jantung, bolak balik masuk ruangan, scanning kepala, dan langsung menyuruh gue opname di rumah sakit. Jadi baru gue paham, kenapa ketika menderita diare, dokter tidak buru buru menangani gue.

Karena mengobati pasien yang kondisinya lebih kritis, bertarung dengan nafas dan nyawa, sudah sewajarnya mendapat pertolongan yang cepat. Ini semua masalah pemahaman dan pengertian kita aja🙂

See you in my next story

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“FIKA” Soulmatenya Orang Swedia

Fika…! Pernah dengar? Kalau belum, ada baiknya kamu membaca tulisan ini. Siapa tahu suatu saat kamu bertandang ke Swedia. Atau menetap barangkali?

Fika merupakan satu kata yang simple namun sangat famous di Swedia. Setelah kata Hej (hai), Tack (terimakasih), Fika adalah kata lain yang wajib dimengerti ketika berada di Swedia. Tidak ada warga Swedia yang tidak tahu Fika. Fika ibarat belahan jiwa masyarakat di sini. Aku padamulah pokoknya.

Gue sendiri pun, sebelum menetap di Swedia, lumayan sering mendengar suami menyebut Baru habis Fika”,  “Temanku baru pulang, tadi kami Fika”. Sampai akhirnya gue penasaran dan menanyakan apa itu Fika. Apalagi Fika sangat gampang disebut dan mudah diingat.

Bila kamu mempunyai seorang teman di Swedia atau mungkin berkenalan/bertemu dengan seorang Swedish, cobalah menyebut kata Fika, pasti mereka akan senang dan surprise. Dan jika boleh berandai andai, apabila ada sebuah perlombaan berhadiah dengan pertanyaan “Apa yang kamu ketahui tentang Swedia?” maka jangan pernah menjawab si retail sejuta umat I***EA itu. Sebab untuk menjadi pemenang kamu cukup menjawab “FIKA” saja 🙂

Dan entah mengapa di suatu hari, tepatnya sehabis makan cake caramel buatan gue, akhirnya tiba tiba kepikiran “mengapa gue tidak menulis di blog tentang si Fika yang terkenal ini”. Modal penglihatan sendiri, ngelakoni sendiri, dan nanya suami serta tetangga yang suka bertamu ke rumah, sekedar menambah referensi tentang si Fika, dan gue pun mencoba mengulasnya secara sederhana.  

So, apa itu FIKA…???

Ada beberapa pendapat yang menyebut, memberi defenisi terhadap Fika sangatlah sulit. Tapi yang jelas, masih bisa dimaknai juga. Basicly, Fika berarti ngopi atau Meminum secangkir kopi! 

Dahulu kala, Fika biasanya dilengkapi dengan Pastry. Kegiatan Fika bisa dilakukan di meja makan maupun halaman rumah. Tepatnya di saat musim semi maupun musim panas.

IMG_1191.JPG

“Namun bila diartikan secara luas, Fika bukan lagi sekedar meminum secangkir kopi. Melainkan lebih kepada quality time yang sederhana, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari hari masyarakat Swedia. Meluangkan waktu atau take a break untuk sekedar istirahat sebentar, relax, slow down, menyegarkan pikiran, ngobrol santai, yang dilengkapi dengan secangkir kopi tadi. Bahkan di jaman modern ini, tak sedikit minuman di luar kopi yang menghiasi meja di saat Fika. Sudah lebih variatif. Sebut saja seperti tea, jus maupun smoothie”

Selain Pastry, meminum kopi di saat Fika mostly ditemani sejenis cake bercitra rasa manis, cookies, hingga roti beraroma cinnamon. Bahkan tidak sedikit dan lumayan sering gue melihat, secangkir kopi dilengkapi dengan semangkok ice cream.

Tidak bisa dipungkiri, diantara jenis minuman yang sudah variatif tersebut,  kopi masih tetap minuman favorite yang menduduki peringkat teratas di saat Fika. Pun menjadi minuman yang identik dengan istilah Fika.  Tak heran, mengingat Swedia adalah salah satu negara dengan penduduk yang sangat menggilai minuman kopi.

fullsizerender-18
Kanelbullar buatan sendiri. Anyone?

Selain dengan teman, saudara, keluarga, tetangga, atau siapa saja, Fika bisa juga dilakukan seorang diri. Di rumah, rumah tetangga/saudara/teman,  sampai di sebuah cafe yang sepertinya menjadi tempat ideal untuk sebuah Fika.

Fika juga menjadi bagian penting di kalangan pegawai Swedia. Setiap harinya, rata rata perusahaan di negara ini memberikan Fika Time terhadap semua karyawan di jam tertentu. Misalnya pukul 9 pagi dan pukul 3 sore. Atau bisa juga pukul 11 pagi. Simple saja, ketika bekerja dengan segala kepenatan, mengambil waktu sebentar untuk sekedar ngopi, ngeteh dan ngemil, lumayan membuat badan tidak terlalu penat dan pikiran pun sedikit tenang.

IMG_1197.JPG

Di saat Summer, sambil memasang payung di halaman rumah, kegiatan Fika menjadi lebih dasyat lagi. Menikmati waktu bersama keluarga dan handai tolan, merupakan pemandangan yang sangat familiar dilihat mata. Selain di kantornya, suami gue wajib Fika di rumah. Apalagi kalau sedang mengerjakan pekerjaan yang lumayan berat di sekitar rumah, dijamin pasti Fika. Kalau tetangga atau tamu datang ke rumah, pastilah kopi dan cangkir langsung menghiasi meja. Time for Fika! Pokoknya begitu datang pasti langsung ditawari Fika. Ibarat orang kita kalau kedatangan tamu disuguhi teh manis.

Demikian juga sebaliknya, jika gue berkunjung ke rumah tetangga, teman atau kerabat suami, baik itu kunjungan mendadak atau memang sengaja diundang, selalu meluangkan waktu untuk Fika. Dan tidak sedikit dari mereka yang selalu menyediakan  cookies, roti atau cake di rumah. Artinya selalu ready stok.  Karena apa? Ya itu tadi. Pasti ujung ujungnya Fika. Karena Fika memang akan makin sempurna jika dilengkapi dengan makanan pelengkap tersebut. Sambil ngopi/ngeteh, Fika bisa di isi dengan tertawa, bercerita ngolor ngidul dari A sampai Z, di suasana yang tidak terlalu formil.

img_1199
Secangkir tea juga bisa menjadi bagian dari Fika.
FullSizeRender (17).jpg
Cake sebagai pelengkap Fika.

Namun jika mau dibuat sedikit serius, Fika juga bisa.  Sebut saja seperti orang orang yang membicarakan bisnis dan pekerjaan, tidak sedikit yang membuat janji bertemu sambil Fika. Jadi bisa dibayangkan betapa pentingnya Fika di Swedia.

“Itulah sebabnya mengapa Fika sangat identik dengan kehidupan masyarakat Swedia. Diantara rutinitas yang padat, mereka selalu meluangkan waktu untuk take a break. Santai dan relax sejenak, ngobrol dengan kerabat atau teman, sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong roti/cake.

Menikmati quality time, feel free dari sebuah pekerjaan, baik itu di kantor maupun di rumah. Dan ini mereka lakukan setiap hari. Memanjakan diri itu simple toh?”

img_1198

Dan ditambah lagi, masyarakat Swedia menjadikan Fika bukan sekedar gaya hidup (life style), tapi lebih kepada bagian dari budaya/kultur yang sudah turun temurun. Sudah mendarah daging banget. 

IMG_1201.JPG

Satu lagi yang bisa gue simpulkan dan semoga gue tidak salah, berdasarkan penglihatan melalui kacamata minus yang jarang gue pakai, jenis kopi yang paling digemari di saat Fika adalah kopi hitam (black coffee). Dan kebanyakan diminum tanpa gula. Paling mereka suka mencampur dengan sedikit fresh milk. 

Sepertinya produk minuman St***cks Coffee dan sejenisnya tidak terlalu digemari di negara ini. Sehingga tak aneh jika coffee shop sejenis hanya bisa ditemukan di kota kota besar. Jumlahnya tidak banyak, paling satu dua doang. Dan biasanya berada di Central Station.

Lantas jenis roti/cake apa saja yang paling digemari masyarakat Swedia di saat Fika?

Banyak jenisnya, tapi yang paling sering adalah Kanelbullar, sejenis roti dengan aroma cinnamon (kayu manis). Biasanya roti ini paling sering dibuat sendiri di rumah. Disamping itu ada juga Kladkaka, sejenis cake coklat khas Swedia, dan Chokladboll, cake coklat berbentuk bulat atau lonjong, dengan lapisan kelapa parut. Dan tentu saja masih banyak jenis lainnya.

IMG_1203.JPG

fullsizerender-18

IMG_0353.JPG

Nah, jika kamu bertandang ke Swedia, cobalah meluangkan waktu untuk sekedar menikmati Fika di salah satu cafe negara ini. Ditemani secangkir kopi dan sepotong Kanelbullar yang terkenal itu tentunya.

 Wokeh deh kakakkk....mari kita FIKA!

Salam Dari

Mora, Dalarna, Swedia

See you in my next story.

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com