Trevlig Midsommar

Setiap tahun Swedia selalu merayakan tradisi besar yang dikenal dengan Midsommar Eve. Merayakan hari “yang paling terang atau siang yang paling panjang” yang hanya terjadi dalam satu hari sepanjang satu tahun berlangsung. Meskipun secara kasat mata, perbedaan hari yang paling terang ini tidak terlalu berasa di rentang waktu menjelang atau sesudah perayaan midsommar eve.

IMG_8139
Foto perayaan midsommar tahun 2017 lalu

Seperti biasa setiap tahun, gue dan suami mempersiapkan menu midsommar di rumah. Tahun ini gue bikin coktail andalan yang resepnya gue dapat dari mendiang kakak ipar. Sudah puluhan tahun memakai resep ini. Aroma dan rasanya selalu mengingatkan gue akan perayaan natal bersama keluarga. Bahannya terdiri dari buah nenas, pepaya setengah matang, markisa buah (passion fruit), gula pasir, perasan lemon atau jeruk nipis, dan sirup markisa (bisa diganti softdrink rasa orange). Dibiarkan overnight di kulkas dan diminum pakai es batu. Boleh dicoba. Segar dan aromanya khas banget. Perpaduan semua bahan sangat matching. Gue ga begitu suka buah pepaya, tapi khsusus di coktail ini, pepaya menjadi markotop rasa dan aromanya. Sedangkan untuk menu makanan, gue serahkan ke suami. Gue lagi malas ngerjai yang berat berat di dapur.

B1F30EAB-D88B-44F5-8D5E-10F6E781B640

C6D6A26E-87A1-40A3-8192-03F2D0C37966

Jumat kemaren, kami berencana keliling berkendara melihat perayaan midsommar di beberapa tempat di sekitaran Dalarna. Tapi sayang, cuaca belakangan ini selalu dingin dan berangin. Serasa musim gugur. Dan ini berdampak terhadap perayan midsommar tahun ini. Jalanan tidak terlalu ramai. Biasanya terlihat meja meja panjang di halaman rumah warga yang akan mengadakan pesta keluarga. Gue cuma melihat beberapa orang yang memetik bunga liar. Sepertinya mereka akan membuat hiasan bunga. Oh iya, gue juga bikin loh. Gue paling suka dengan bunga liar. Lumayan sering gue jadikan hiasan di meja teras. Seperti gambar di bawah ini. Gimana, cantik ga?

image_6483441 (6)

34A1B017-FC2E-47E9-8699-D752106F7464.jpeg

Sebenarnya tujuan utama kami adalah ke Tällberg. Selain landscape alamnya yang kece, kami berencana makan siang di salah satu hotel tua yang ada di resort ini. Kebetulan dari beberapa kunjungan ke Tällberg, menu di restoran hotel Tällbergsgården belum pernah kami coba. Untungnya ada satu meja yang bersisa. Biasanya harus booking dulu.

4F605D37-BCEA-4A01-A0C0-41A1158BBE9A.jpeg

BF16C46D-1DD2-4046-B30B-D86B8A9A025C.jpeg
Beberapa bangunan cafe dan cottage di Tällberg

Begitu masuk ke restoran hotel, gue sudah menebak interiornya bakal kece. Karena rata rata hotel di Tällberg emang selalu bikin mupeng suasananya. Ga pake lamalah gue langsung jatuh hati. Sukaaaak!

image_6483441 (1)

796B4FF3-C619-4718-904A-0CD5A6B6AF3E (1)
View dari jendela restoran

View dari jendela restoran juga kece. Langsung menghadap ke danau Siljan (danau terbesar di Dalarna). Dan makanannya itu loh, enak banget mak! Sejenis ikan sill (herring) yang tadinya kurang gue suka, ehhhhh…………..malah bisa nambah! Mereka bisa mengolahnya menjadi sangat sesuatu. Pakai rempah apa gue kurang tau. Dan sepertinya dikasih madu juga. Jadi ada manis manisnya gitu.

Trus ya, ruangan untuk ngopi dibikin terpisah dari meja utama. Jadi kita ga ngopi atau ngedesserts di meja yang sama. Udah gitu banyak kamar kamarnya. Asik banget suasananya. Shabby vintage. Rasanya pengen gue fotoin semua sangkin suka. Wallpaper setiap kamar kamarnya pun beda beda. Demikian juga kursi sofanya. Beneran deh bikin betah.

4E254D49-AB25-42C0-BAF2-68CFAAFF6028.jpg

image_6483441 (7)
Ruangan tempat ngopi. Cakep kan!

Di luar hotel pun begitu. Bangku kayu berwarna putih berjejer rapi. Teras hotelnya tidak begitu lebar, tapi jika cuaca bagus, duduk sambil menatap ke danau dijamin mantap jiwa. Hahaha.

image_6483441 (4)

image_6483441
Teras hotel dengan view danau Siljan

Sehabis makan, kami mengitari Tällberg sambil menunggu acara midsommar dimulai. Tapi berhubung dingin banget dan angin semakin kencang, belum lagi sesekali turun hujan, mood pun menjadi memble. Mana acaranya lama banget dimulai. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sampai rumah kami minum cocktail buatan gue. Segarrrr! Sedangkan menu midsommar yang sudah dibeli suami, kami putuskan untuk menyantapnya hari ini. Karena kami sudah kekenyangan kemaren.

612274F2-46F1-4C65-B095-46098E25EFD7
Menu simple di rumah

Jika kalian belum sempat membaca tulisan lengkap gue tentang Tällberg, bisa baca di sini.

Trevlig Midsommar!

Ketika Swedia Menjadi Lautan Api

Setiap tahun di akhir bulan April tepatnya setiap tanggal 30 April, sebagian besar wilayah di Swedia menjalankan tradisi Valborg, sebuah tradisi untuk menyambut musim semi. Tradisi yang mewakili luapan kegembiraan warga Swedia setelah berbulan bulan mengalami musim dingin yang lumayan berat. Kurang lebih 6 bulan!

Sehingga tak ayal, rasa senang bangsa ini diluapkan dalam bentuk perayaan besar. Dibanding pergantian musim panas dan musim gugur, pergantian musim dingin ke musim semi memang jelas berbeda. Lebih excited.

Sebuah perubahan musim yang sangat berasa perbedaannya. Dari hamparan salju yang memutih tebal, hari hari dengan malam yang sangat panjang, berubah menjadi lebih berwarna oleh rumput dan bunga bunga liar, daun daun yang mulai bermunculan, serta perubahan siang yang semakin lama tentulah sangat masuk akal untuk disambut dengan sukaria.

Beberapa negara lain konon juga menjalankan tradisi menyalakan api unggun, tapi makna dan tujuannya berbeda beda (wikipedia). Kalau di Swedia penyalaan api unggun memang diadakan untuk merayakan datangnya musim semi. 

Tradisi Valborg sangat identik dengan bonfire atau api unggun berukuran besar. Seluruh warga bersuka ria, bernyanyi (menyanyikan lagu Sköna Maj), meminum bir bahkan berpesta semalam suntuk. Apalagi setelah malam perayaan Valborg yaitu tanggal 1 Mei, adalah hari libur nasional yang dikenal dengan Mayday.

Kalau di kota kota besar, pelaksanaan tradisi Valborg lumayan banyak disaksikan oleh warga. Sedangkan di desa kecil seperti tempat tinggal gue tidak begitu ramai. Karena jumlah warganya juga sedikit. Paling bedanya, kalau di tempat gue ada acara makan bersama. Menunya tinggal di bawa masing masing oleh warga dan nantinya saling sharing.

IMG_5145.jpg
Ini aslinya gede dan tinggi banget

Dan puncaknya adalah menyalakan api unggun yang berasal dari tumpukan tumpukan ranting. Tumpukan ranting mana mulai dikumpulkan oleh warga secara bergantian sejak musim gugur tahun lalu. Tumpukan ranting sengaja diletakin tak jauh dari tepi danau. Tujuannya untuk menghindari kemungkinan besar bahaya kebakaran. Sebelum api dinyalakan pun, rumput di sekitar harus disiram agar tetap basah. Selang air tetap disediakan untuk jaga jaga. Jadi tidak asal main bakar.

Berhubung di Swedia sudah mulai memasuki “siang hari yang semakin panjang” maka tak ayal matahari pun terbenam semakin lama. Sekitar pukul 9 malam. Dan siang yang panjang ini akan semakin panjang hingga menjelang perayaan midsummer di bulan Juni yang akan datang.

Sebagian besar wilayah di Swedia akan menyalakan api setelah matahari terbenam. Dan idealnya memang seperti itu. Tujuannya agar cahaya api terlihat lebih bagus.  Jadi kebayang kan jika dilihat dari udara, bisa jadi wajah Swedia seperti lautan cahaya api. Pasti cantik.

Api dilambangkan sebagai cahaya terang yang hangat. Mewakili tipikal musim semi yang semakin terang dan tidak sedingin musim dingin lagi.

Menyaksikan tradisi negara lain itu selalu menarik. Menjadi pengalaman baru tanpa harus melupakan tradisi dari bangsa sendiri. Welcome Spring and Happy Valborg!

F2EE7474-85EC-46A6-8372-158B7359696F.jpg

Systembolaget (Ketika Sistim Monopoli Ada di Swedia)

Pernah mendengar “Systembolaget”? mungkin buat teman teman di tanah air atau luar Swedia terdengar agak aneh. Apa itu systembolaget? Jika kamu berkunjung ke Swedia dan melihat store bertuliskan “Systembolaget”, tak lain merupakan store berisi berbagai jenis minuman keras. Minuman keras berkadar alkohol mulai dari 3,5 persen hingga 40 persen (meskipun minuman non alkohol bisa juga ditemukan di store ini).

Terus istimewanya apa? Menjadi istimewa (setidaknya buat gue) karena systembolaget ini adalah “satu satunya” toko yang boleh menjual minuman keras berkadar alkohol 3,5 persen ke atas. Dan itu berlaku untuk seluruh wilayah Swedia.

Yup, systembolaget merupakan perpanjangan sistem monopoli perdagangan minuman keras di Swedia yang dikendalikan langsung oleh pemerintahnya. Monopoli di sini sama artinya dengan : tidak ada toko/store atau pihak manapun yang bisa menjual minuman keras di level tersebut selain systembolaget. Supermarket besar sekalipun tak terkecuali. Apalagi individu ke individu lainnya. Ketauan alamat kena sanksi.

Supermarket hanya diperbolehkan menjual minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen. Sebuah kadar alkohol yang relatif rendah. Gue saja yang tidak begitu familiar dengan minuman keras, jika meminum minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen sama sekali tidak berasa. Tidak pusing apalagi mabuk. Seperti minum sofdrink biasa saja.

Ketika pemerintah Indonesia memberlakukan larangan penjualan alkohol di sana sini, gue masih bisa memaklumi terkait kultur budaya dan alasan “segala macamnya”. Lah ini di Swedia. Kok bisa? Kalau bicara “aturan di bawah umur”, setau gue hampir di sebagian besar wilayah negara eropa menerapkan batasan umur untuk seseorang mulai bisa mengkomsusmi minuman beralkohol tinggi. Meskipun penerapan tentang batasan umur di setiap negara bisa beragam. Tapi ini penjualannya sampai dimonopoli loh. Dan tidak semua negara yang melegalkan minuman beralkohol menerapkan sistem ini.

Dan amazingnya lagi, toko systembolaget tidak ada di setiap tempat. Mostly hanya ada satu untuk satu wilayah kotamdaya (kommun). Kecuali di kota kota besar kemungkinan bisa lebih, tergantung luas wilayah dan jumlah penduduknya. Pembelian minuman di systembolaget pun dibatasi. Hanya boleh dibeli mulai pukul 10 pagi hingga pukul 7 malam. Pemberlakukan aturan inilah kemungkinan yang membuat mengapa harga minuman beralkohol di berbagai bar dan restoran di wilayah Swedia sangat mahal jika dibanding membeli langsung di systembolaget.

Sekitar 50 tahun yang lalu, penerapan systembolaget malah lebih kejam. Hanya ada satu di setiap ibukota propinsi. Contohnya di propinsi tempat gue tinggal yaitu Dalarna hanya ada di kota Falun. Kebayang ga sih jauhnya. Dari tempat gue saja jaraknya bisa mencapai 130 kilometer. Kemudian seiring waktu, aturan systembolaget dibikin lebih longgar dengan menunjuk satu agen perwakilan resmi systembolaget di  wilayah kotamadya masing masing, sehingga warga bisa mengorder melalui perwakilan yang ditunjuk ini. Bayangin ribetnya. Hahaha.

Lantas mengapa sampai sedemikian ekstremnya penerapan penjualan minuman alkohol berkadar tinggi di Swedia? sampai sampai harus dimonopoli pemerintahnya?

Hal ini berhubungan dengan sejarah Swedia di masa silam. Masa dimana sebagian besar kaum laki laki di negara ini sangat menggilai minuman keras dan suka bermabuk mabukan. Jika dirunut lagi, kehidupan serba sulit yang menyelimuti bangsa Swedia di masa silam sedikit banyak mempengaruhi mental warganya. Kapan?  ratusan tahun silam kurang lebih sekitar tahun 1700-1800an, ketika Swedia memegang predikat sebagai salah satu negara termiskin di eropa sebelum menjadi negara maju seperti sekarang ini.  Minum hingga mabuk sepertinya menjadi salah satu alasan untuk bisa melupakan sejenak kepahitan hidup. Apalagi waktu itu minuman keras bisa dibeli dengan mudah antar sesama warga. Bahkan minuman keras berkadar alkohol tinggi dan tidak terkontrol bisa dibikin sendiri oleh warganya.  Akibatnya tak sedikit warga yang suka lost control ketika menggambil sebuah keputusan. Salah satunya ketika terperangkap dalam bujuk rayu pengusaha kaya.

IMG_5837

Makanya ada pepatah orang Swedia yang menyebut ” I Den Ena Fickan Hade Dom En Flaska, Och I Den Andra Hade Dom Bibeln” yang artinya di saku yang satu ada sebuah botol (diartikan minuman) dan di saku lain ada alkitab. Pepatah ini muncul karena tak sedikit warga Swedia di jaman dulu dengan gampangnya masuk perangkap pengusaha kaya yang hendak membeli lahan milik warga. Para pengusaha digambarkan sebagai pelaku sandiwara yang jitu dan sangat jeli melihat karakter korbannya.

Sekira mereka tau sasaran korban adalah pribadi yang hobby minum hingga mabuk, maka mereka menawarkan sebotol minuman. Diajak minum terlebih dahulu dan ditawari untuk menjual murah lahannya. Ujung ujungnya si warga pun mabuk dan akhirnya mau menandatangani surat jual beli. Sedangkan kalau sekira korban yang dilirik sangat agamais, para pengusaha ini pura pura berlagak seperti pendeta. Membacakan ayat alkitab demi mencuri hati si warga. Lahan pun dijual dengan murah. Konyol banget kan. Hahaha. Kurang lebih cerita singkatnya seperti itulah.

IMG_5805

Berkiblat dari parahnya efek yang ditimbulkan minuman keras ini, banyak pihak yang mulai gerah. Terutama kaum wanita karena merasa berada di pihak yang dirugikan. Kehilangan aset tanpa mereka tau. Inilah titik awal mengapa akhirnya setiap jual beli tanah, lahan hutan  dan rumah di Swedia harus melibatkan pasangan. Agar terhindar dari kejadian menjual aset di bawah pengaruh alkohol. Kemudian kampanye akan bahaya minuman keras mulai digaungkan oleh beberapa kalangan dengan membentuk organisasi anti minuman beralkohol.

Hingga akhirnya kebijakan final pun dibuat. Semua produksi minuman alkohol baik dalam negeri maupun luar, dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia di bawah lembaga pemerintah bernama “Vin och Spritcentralen” (Sentral wine dan alkohol). Dari sinilah hotel dan restoran dan bar di Swedia bisa membeli stok minuman keras.

Dan pada tahun 1955, didirikanlah systembolaget dengan pangsa pasar warga biasa. Sebuah toko minuman keras berkadar alkohol tinggi yang dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia.

IMG_3675

Pembatasan umur pun dilakukan. Di Swedia, meski batas umur untuk bisa meminum alkohol dimulai dari umur 18 tahun, tapi untuk bisa membeli minuman alkohol di systembolaget harus berumur minimum 20 tahun. Bayangkan, untuk mulai bisa membeli dan mengkonsumsi saja dibedakan loh umurnya. Jadi yang berumur 18 tahun hanya boleh membeli minuman di bar atau restoran dalam hitungan pergelas tanpa boleh dibawa pulang.  Sehingga tak ayal, para kasir di systembolaget ditugaskan juga untuk sangat jeli memasang insting apakah para buyer sudah cukup umur apa tidak. Kalau sekiranya ragu, mereka wajib meminta identity card (KTP).

Bahkan pemerintah Swedia tak jarang mempekerjakan secara random para remaja di bawah usia 20 tahun dan masuk ke dalam systembolaget untuk kemudian berpura pura sebagai konsumen. Hal ini dilakukan demi memastikan apakah para kasir menjalankan tugasnya dengan baik. Jika ternyata mereka ceroboh memainkan instingnya dan kemudian tidak meminta KTP, maka alamat kena sanksi tegas (kemungkinan bisa dipecat). Sadis meeeen.

fullsizerender-31

Pemberlakuan aturan tegas ini suka atau tidak suka, memang harus dipatuhi warga Swedia terutama bagi para pelaku bisnis restoran dan bar. Gue pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ketika berada di sebuah cafe bar di Stockholm. Ketika dua orang pria dimintai KTP oleh pelayan bar. Kasat mata sih sepertinya sudah berumur 20 tahun. Tapi entah bagaimana si pelayan bar bisa dengan baik memainkan instingnya. Dan taraaa banget deh. Ternyata beneran masih di bawah umur 18 tahun. Dan mereka pun tidak diperbolehkan memesan minuman alkohol yang mereka mau.

Waktu itu gue berpikir awam banget. Gila banget sampai dicek sedemikian. Seumpama pun bener mereka masih di bawah umur, toh kalau dibolehin ga ada yang tau juga kan? (maksudnya gue berpikir demikian dari segi bisnisnya loh. Kok rasa peduli si pelayan bar lebih tinggi daripada mendapat keuntungan semata). Akhirnya gue bisa memahami. Semisal mereka sampai mabuk atau katakanlah lebih parah lagi ternyata mereka adalah suruhan pemerintah? ijin menjual minuman keras oleh pemilik bar kemungkinan besar akan dicabut kan.

img_5248

Bahkan sampai sekarang pun, setiap bar yang menjual minuman keras di Swedia, jika mereka memperbolehkan para pengunjung minum di luar bar, misalnya di halaman bar, maka bar wajib memiliki pagar pembatas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kalau pengunjung minum di sembarang tempat.

Suami gue masih ingat banget, sekitar 40 tahun silam, aturan tentang penjualan minuman alkohol di bar dan restoran Swedia malah jauh lebih ketat. Restoran bar hanya boleh menjual minuman alkohol jika pengunjung juga memesan makanan. Kalau tamu restoran ujuk ujuk datang hanya untuk memesan minuman, alamat tidak dibolehin. Dan untuk mengontrol dan mengendalikan kebijakan ini, pemerintah Swedia lagi lagi dengan sengaja mempekerjakan satu orang pegawai suruhan mereka untuk khusus melayani bagian minuman.

Jadi bartendernya bukan pegawai restoran yang bersangkutan loh, melainkan pegawai yang dipekerjakan langsung oleh pemerintahnya. Kemungkinan pemilik restoran untuk berlaku tidak jujur dengan hanya menjual minuman  kepada para tamunya pun sangat kecil, karena bartender hanya boleh mengeluarkan minuman jika pemilik restoran memperlihatkan kertas bertuliskan daftar makanan apa saja yang dipesan oleh tamu restoran.

Bahkan konon sempat loh setiap orang hanya boleh membeli minuman alkohol dengan menunjukkan kupon. Dan kupon ini juga dibatasi jumlahnya untuk kurun waktu tertentu.

Belum lagi ketika liburan ke luar Swedia, warga Swedia hanya diperbolehkan membawa pulang satu botol minuman keras. Sampai akhirnya kebijakan ini mulai berubah sejak Swedia bergabung dengan Uni Eropa. Kebahagian warga Swedia pun dimulai karena mereka bisa membeli minuman alkohol dari tempat berlibur dalam jumlah tak terbatas. Gila bangetlah pokoknya.

img_5215

Tapi menurut gue pribadi, alasan pemberlakuan monopoli perdagangan minuman keras oleh pemerintah Swedia, lumayan masuk akal juga. Selain cerita sejarah di masa silam, hingga saat ini pun keinginan warganya untuk mengkonsumsi minuman keras lumayan besar. Jadi dengan adanya systembolaget ini setidaknya membatasi ruang bebas mereka untuk bisa membeli kapan dan dimana saja minuman berkadar alkohol tinggi. Minum minuman beralkohol tidak dilarang, bahkan menjurus mabuk pun sepertinya masih dianggap wajar selama tidak membuat onar dan mengendara. Dan systembolaget dianggap pemerintah Swedia sebagai media pengaman penggunaan minuman alkohol yang berlebihan.

Buat gue semua ini sangatlah menarik. Karena aturan tegas ini justru diberlakukan di negara barat yang notabene identik banget dengan minuman alkohol. Dan aturannya itu ga main main. Bukan sekedar aturan yang bersifat teori yang dicatatkan dalam sebuah lembaran negara. Tapi benar benar direalisasikan. Karena kalau bicara teori undang undang, setiap negara pasti punya. Cuma pelaksaanannya yang suka berbeda.

Setau gue (koreksi bila salah) tak banyak negara yang memberlakukan sistem monopoli perdagangan minuman keras berkadar alkohol tinggi. Hanya ada beberapa negara seperti Finland, Norway, Iceland, Canada. Kalau ternyata masih ada yang lain, gue kurang tau pasti.

IMG_4685

When in Sweden (Part 1)

Meskipun terbilang masih bau kencur, ada beberapa hal yang lumayan mencuri perhatian gue selama tinggal di Swedia (kurang lebih empat tahunlah). Terlebih di awal awal ketibaan gue. tidaklah mudah untuk bisa cepat beradaptasi. Butuh waktu. Negara dan kultur baru yang semuanya terlihat asing. Tamparan culture shock sudah pasti ada. Terutama masalah disiplin, karakter dan kebiasaan.

Tulisan gue kali ini hanyalah sebuah pendapat. Pendapat seorang ajheris tentang kebiasaan dan karakter masyarakat Swedia yang pernah gue lihat. Tulisan ini bukan sebuah kesimpulan yang teruji secara ilmiah dan bersifat universal. Karena belum tentu juga semuanya benar. Tulisan yang ditulis berdasarkan apa yang gue lihat dari negara yang gue sebut sebagai tanah tinggal baru. Gue tulis secara random. Apa saja itu?  Berikut di bawah.

1. Cuek Bukan Berarti Tidak Respek

Bule itu individualis. Bule itu cuek. Bule itu atheis. Bule itu…dan masih banyak lagi. Gue dulu termasuk salah satu yang memiliki anggapan seperti ini dan melihat dari sisi jeleknya saja. Emang benar sih bule itu cuek, individualis, atheis (meski tidak semua). Tapi jangan melulu dilihat dari pemikiran negatif. Semua itu berhubungan dengan privacy. Mereka tidak mau mencampuri dan mengusik kehidupan pribadi orang lain dan terhadap sesuatu yang bukan urusan mereka.

Orang lain atheis, living together without marriage, kissing in public area, tetangga tiba tiba beli mobil baru dan suka belanja sana sini, its not your business. Kira kira seperti itu. Mereka sangat respek akan pilihan hidup orang lain. Paling takut menghakimi. Ini bukan urusan benar atau salah. Buat kita kebiasaan mereka mungkin cenderung salah sebaliknya kebiasaan yang kita anggap benar, mungkin buat mereka terasa aneh dan tidak logika.

Bahkan untuk urusan belangsungkawa saja, mereka sangat hati hati. Misalnya ada kerabat atau teman yang sedang kehilangan anak, saudara atau orang tua, tidak lantas ujuk ujuk langsung ditelepon atau dikunjungi silih berganti kemudian memberi ucapan duka. Justru mereka takut mengganggu privacy si orang yang lagi berduka. Dengan pemikiran si orang tersebut mungkin lagi pengen sendiri. Tidak mau diganggu. Bangsa membentuk karakter bangsanya. Orang di sini jika mengalami musibah atau kemalangan, lebih banyak menutup diri. Dan jujur di awal awal ketibaan gue semua ini sangat mengherankan. Asing.

IMG_0447.jpg
Pake foto winter aja ya. Hahaha

Urusan pribadi sangat sensitif bagi orang Swedia. Bahkan selevel best friend pun bisa tidak terlalu terbuka untuk saling bercerita. Entah itu urusan pacar baru, perceraian, masalah keluarga dan lainnya. Tak ada yang berani untuk menanyakan secara langsung apalagi kepo. Kecuali kalau yang bersangkutan mau bercerita terlebih dulu.

Memberi respek terhadap privacy orang lain sangat penting di sini. Sewaktu gue hamil, teman baik suami memberi ucapan selamat ke gue. Itupun karena suami memberitahu dia. Tapi begitu dia tau kalau gue mengalami keguguran, you know what? dia ga bilang apa apa. Sama sekali diam ketika kami bertemu. Ga ada kalimat kalimat klasik seperti “yang kuat ya” atau “saya turut bersedih” apalagi kalimat yang tanpa hati dan menjurus kepo “kok bisa” “kamu makan apa? jangan jangan kamu kebanyakan naik turun tangga?” nah loh bikin mumet kan.

Menurut gue orang di sini sangat berhati hati menyikapi peristiwa sedih atau kemalangan. Bisa berdampak sensitif jika salah berucap. Tar kalau dibilang “yang kuat ya” trus dijawab “loh yang bilang gue ga kuat siapa? tau darimana gue ga kuat? gue kuat kok” dijawab gitu kan keselek. Kurang lebih analoginya seperti itu.

2. Suka Menyapa “Hej” (Hai)

Meski katanya orang Skandinavia itu tak banyak bicara, tapi kenyataan yang gue lihat tak sedikit orang Swedia yang suka saling tegor ketika berpapasan dengan orang lain meskipun mereka tidak saling kenal. Jadi ketika kamu berada di Swedia dan ada orang lain yang kamu tidak kenal tiba tiba menyapa “hej”, maka tidak perlu heran dan kaget. Itu adalah bagian dari kebiasaan warga di negara ini.

Sebagai orang yang beranggapan kalau rata rata bule adalah sosok manusia cuek, jelas ketika gue disapa “hej” oleh orang yang tidak gue kenal membuat gue sedikit heran. Jadi pertama gue tiba di Swedia tahun 2014, tepatnya sewaktu gue dan suami hendak membeli roti ke toko bakery. Dari arah yang berlawanan terlihat seorang wanita muda berjalan dan tersenyum kecil sambil menyapa “hej” ke gue. Lah gue bingung dong. Gue kan ga kenal. Dan apa balasan gue terhadap sapaannya itu? Gue ga jawab apa apa. Gue jalan aja gitu sambil terheran. Hahaha!

IMG_0450.jpg

Belum habis rasa heran gue, pas nyampe di depan pintu toko, gue berpapasan lagi dengan seorang cowok. Sebuah senyuman tampan pun kembali menyapa gue. “hej” sapa dia sambil berjalan dan berlalu. Gitu aja. Dan lagi lagi gue masih ga kasih respon apa apa. Beneran gue belum ngerti waktu itu. Pun begitu juga pas di supermarket, lagi dorong trolli dan berpapasan dengan konsumen lain, mereka menyapa hej ke gue.

Bahkan pernah gue disapa “hej” di trotoar jalan oleh seorang wanita, padahal sebelumnya gue melihat dia lagi asik mengobrol dengan teman prianya. Begitu gue lewat, sempat aja si wanita tadi meluangkan waktu say hai ke gue. Kalau dipikir pikir harus banget ga sih luangkan sedetik hanya untuk bilang hai ke orang yang ga dikenal. Hahaha

IMG_0449

Karena penasaran akhirnya gue tanya ke suami. Kenapa mereka menyapa gue. Gue kan ga kenal mereka. Dan ternyata saling sapa dengan orang yang tidak dikenal di Swedia adalah hal yang wajar. Sampai akhirnya suami bilang ke gue kalau gue di sapa hej, alangkah baiknya jika gue balas hej juga. Ya namanya juga pendatang baru dan belum terbiasa. Pokoknya waktu itu gue lumayan takjublah. Nyaris ga percaya kalau bule ternyata bisa sangat ramah.

Berhubung gue tinggal di wilayah propinsi yang hanya memiliki kota kota kecil, sapaan hej ini memang lebih berasa dibanding jika gue berada kota besar seperti Stockholm. Bisa jadi karena Stockholm merupakan capital city dengan penghuni yang lebih majemuk dan kompetitif, sehingga orang orang sebagian besar bawannya sangat serius. No time for Hej. Hahaha. Begitupun ada aja kok yang lumayan ramah menyapa hej!

IMG_0452

Jujur aja sih selama tinggal di Indonesia, rasa rasanya belum pernah gue menerima sapaan hai dari orang yang sama sekali tidak gue kenal. Maksudnya ketika berpapasan di jalan atau di tempat umum ya. Kalau pun ada ya karena tujuan dan kepentingan tertentu. Misalnya nanya alamat. Bukan ujuk ujuk berpapasan trus ramah banget bilang haiiiiiiiiii!

Yang ada malah dikira aneh atau curiga. Jangan jangan itu orang seorang penghipnotis, kriminal, copet, jangan jangan orang tidak waras, jangan jangan………..dan masih banyak jangan jangan yang lain. Akibat kebanyakan dengar issue kriminal dimana mana.

3. Suka Ngobrol 

Seperti yang gue tulis di atas, banyak yang bilang kalau orang orang Skandinavia itu terkesan dingin dan tidak banyak bicara. Tapi jika mereka sudah mengenal baik satu sama lain, malah sebaliknya. Suka banget ngobrol ngolor ngidul alias kombur kombur kalau kata orang Medan. Setidaknya inilah menurut penglihatan gue.

IMG_0792.jpg

Tetangga gue, teman kantor dan kerabat suami, tahan berlama lama ngobrol di telepon. Bahkan ada tetangga gue yang hampir setiap hari ngobrol di telepon dengan suami. Yang dibicarakan padahal seputaran itu ke itu lagi. Kalau bukan masalah kayu, berita, sampai undian berhadiah. Padahal tetangga loh. Main ke rumah pun lumayan sering. Tapi masih aja suka teleponan. Kadang gue suka ngomel ke suami dan bilang mirip perempuan doyan ngobrol. Hahaha.

Parahnya lagi, sering banget pas tamu pamit pulang, bukannya langsung cuss buka pintu dan keluar, malah lanjut lagi ngobrol sambil berdiri. Obrolannya masih bersambung. Dan itu lama! Padahal posisi sudah di depan pintu. Beneran adegan yang paling ga gue suka deh.

4. Sangat On Time

Yup…! jangan berspekulasi urusan waktu dengan orang Swedia. Mereka bisa moody. Disiplin dan ontime sekali. Janji pukul 10 pagi datanglah pukul 10 pagi. Bahkan datang lebih awal pun tidak.

Gue pernah menonton salah satu channel youtuber asal England yang bercerita tentang bagaimana orang orang Swedia sangat tepat waktu di sebuah acara pesta. Dia lumayan heran karena begitu acara dimulai para tamu sudah hadir semua. Tidak ada penampakan dimana masih ada satu dua tiga tamu yang datang belakangan. Gue sependapat sih. Karena gue melihat sendiri di acara pesta pernikahan gue. Pun di acara pesta lainnya.

IMG_0446

Kalau di Indonesia biasanya yang namanya telat dalam sebuah acara bukan hal aneh. Begitupun yang datang lebih cepat juga ada. Berbeda kalau di Swedia, 10 menit sebelum acara dimulai biasanya para tamu belum pada datang. Tapi amazingnya, 10 menit kemudian tanpa sadar tiba tiba uda hadir aja semua.

Mereka benar benar datang sesuai waktu yang disepakati. Datang lebih awal pun bukan kebiasaan mereka karena takut malah membuat yang punya hajatan belum siap. Kalaupun datang lebih awal paling 5 menit sebelum acara atau kalaupun ada satu dua yang telat paling telat sekitar 5 menit. Meskipun begitu, ada aja yang molornya lumayan parah. Suami punya teman yang suka molor kalau ada acara. Dan itu beneran ga disuka ama yang lain.

5. Mengundang Tamu Masaknya Ga Ribet 

Semisal orang Swedia mengundang makan tamu, percayalah menunya tidak seheboh menu orang Indonesia. Main coursenya cukup semacam. Simple dari segi ragam.

IMG_0468 (1).jpg

Kalau steak ya steak aja. Salmon ya salmon aja. Ditambah kentang dan salad. Jaranglah sampai dua macam gitu. Tapi yang namanya kopi dan makanan penutup biasanya selalu ada. Entah itu cake maupun ice cream. Porsinya pun biasanya sudah mereka perhitungkan sesuai jumlah tamu yang diundang. Jadi jarang yang namanya makanan berlebih. Lupakan kebiasaan bungkus plastik bawa pulang. Bukan tradisi mereka. Kecuali kalau yang ngadain acara sesama orang Indonesia, mungkin pasangan masing masing bisa mengerti. Duh bungkus bawa pulang itu emang klasik banget kan ya. Kalau bisa sering sering. Hahaha.

IMG_0456.jpg

Sajian menu irit inilah yang belum bisa gue realisasikan kalau mengundang tamu ke rumah. Selalu tradisi ala Indonesia yang dominan keluar. Meja makan biasanya tersaji lebih dari satu menu utama. Entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang kalau cuma menyajikan semacam. Apalagi kalau sampai mengundang 10 orang, wihhh bisa repot banget gue mikir ini itu untuk menu yang harus dimasak. Makanya setiap tamu yang kami undang selalu terwow begitu melihat menu yang tersaji.

Gue ingat banget bagaimana mimik wajah kakak gue ketika kami diundang makan oleh sepupu suami. Mungkin dalam bayangannya, meja akan penuh dengan berbagai macam menu khas Swedia layaknya di tanah air. Ternyata yang muncul cuma sajian salmon dan kentang rebus tok. Hahaha. Mati ketawa kalau ingat itu.

6. Belanja Sesuai Kebutuhan

Kalau ke supemarket, tak sedikit warga Swedia yang belanja dengan secarik kertas di tangan. Isinya daftar belanjaan. Jadi yang dibeli sesuai yang ditulis. Kalau gue payah, mencoba menerapkan tapi tetap saja suka ga disiplin. Malah beli ini itu di luar catatan. Bahkan kadang ga dicatat. Malas! Hahaha

7. Suka Makan Knackbröd

Rasa rasanya orang Swedia doyan banget makan ini. Roti crispy tapi menurut gue malah cenderung keras dan sakit di mulut ketika dikunyah. Rasanya pun aneh. Tapi roti ini lumayan direkomen oleh dokter di Swedia. Karena kandungan seratnya sangat tinggi. Kalau dimakan agak berlendir gitu emang. Biasanya dimakan dengan lapisan butter berikut toppingan sayur maupun ikan tuna atau telur. Sarapannya orang Swedia selain Fillmjölk (mirip yogurth).

8. Suka Membicarakan Cuaca

Orang Swedia suka ngomongin cuaca? Yup betul sekali kakaaaak! Gue kalau ketemu siapa aja, biasanya mereka suka banget bilang :

wah cuaca hari ini cerah ya” atau “uhhh dingin banget hari ini padahal semalam sudah lumayan hangat” atau “lusa kabarnya salju turun lagi” atau “suhu tadi pagi minus 33 derajat celcius”.

Pokoknya di setiap pertemuan, biasanya mereka suka menyelipkan seputaran cuaca. Tak heran memang mengingat cuaca sangat berpengaruh terhadap mood orang orang di sini.  Termasuk guelah.

9.  Tidak terlalu suka Rumah Berdekatan

Lagi lagi soal privacy. Kalau bisa memilih, orang Swedia lebih suka jika rumah mereka tidak berdekatan dengan rumah orang lain. Khususnya di desa tempat gue tinggal, meskipun warganya saling mengenal dengan baik, tapi untuk ruang gerak sehari hari mereka lebih suka tak perlu diketahui orang lain.

IMG_0453

Apalagi ada masa masa dimana mereka kurang mood berbicara dengan orang lain. Masa masa dimana mereka merasa bebas melakukan apa saja baik itu di dalam maupun di luar rumah tanpa harus dilihat orang lain. Dan ini sudah mulai menular ke diri gue (nanti akan gue tulis di tulisan yang berbeda). Orang Swedia lumayan menyukai suasana yang hening. Makanya tak jarang satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya lumayan berjauhan. Bahkan ada yang menyendiri dan tidak ada tetangga kiri kanan. Kalau teriak ya teriak aja cuma didengar angin.

10. Percaya Kalau Orang Lain Jujur

Jika kamu ke Swedia terutama di kota kota kecilnya, ada beberapa toko yang tidak memiliki penjaga. Rekaman CCTV pun tak ada. Kamu bisa membeli barang dan cukup meletakkan uang di tempat yang tersedia. Kalau dicuri? Pertanyaan ini ga terbersit di benak mereka. Karena mereka percaya bahwa orang yang masuk ke toko bukanlah pencuri. Mereka percaya kalau pengunjung yang datang adalah manusia jujur. Gila kan. Pertama tau rasanya amazing aja gitu. Awalnya gue tidak percaya tidak ada cctv, pas suami bilang memang beneran tidak ada dan kalaupun ada bisa terlihat di pintu masuk toko. Karena hukum di Swedia tidak memperbolehkan pemasangan cctv yang sifatnya secret tanpa ada pemberitahuan tertulis di pintu masuk toko.

11. Bukan Menjadi Penonton

Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika di tanah air terjadi kecelakaan malah jadi bahan tontonan semata sebelum pihak yang berwenang datang menolong. Ditolong ga difotoin iya. Diunggah ke media sosial lengkap dengan darah darahnya. Padahal korban sudah terkapar kesakitan. Banyak alasan juga kenapa masyarakat kita bersikap sedemikian. Issue lama yang menyebut “menolong sama artinya berurusan dengan polisi” menjadi sebuah momok yang ribet dan ibarat simalakama bagi warga.

Suatu hari sekitar pukul 5 pagi,  gue dan suami pulang dari rumah sakit. Musim panas waktu itu. Jadi meskipun masih pukul 5 pagi tapi matahari sudah bersinar terang. Kami melewati jalanan sepi. Tiba tiba terlihat seorang pria muda dengan mobil yang sedikit menjorok ke selokan. Suami berhenti. Dan gue pun memberi reaksi tidak setuju ketika suami tiba tiba menghentikan mobil. Gue takut kalau orang tersebut cuma drama. Inilah karena kebanyakan membaca dan menonton berita modus kriminal sewaktu tinggal di tanah air dan membuat gue ga gampang percaya dengan orang lain. Berbeda dengan suami. Mungkin dia jelas lebih paham tentang negaranya. Sehingga yang dia tau cuma menghentikan mobil dan segera menolong.

IMG_0796.jpg

Dan ternyata beneran dong, si pria itu mengalami kecelakaan. Katanya dia lepas kendali akibat mengantuk. Dia sudah menelepon polisi. Sambil menunggu polisi datang, suami langsung menyuruh pria itu masuk ke dalam mobil. Dan entah mengapa, tetap saja saat itu kekhawatiran masih mendera kepala gue. Bolak balik gue memastikan kalau si pria itu tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan. Gue cuma mikir “ini jalanan sepi, kalau tiba tiba dia punya teman lain dan muncul menyerang kami?” Coba parah banget kan gue. Hahaha. Tapi percayalah, ini tidak mudah untuk gue bisa langsung yesss menerima segala situasi dan kondisi yang berbeda jauh dengan tanah air di tahun pertama ketibaan gue.

12. Kasih Kado, Hadiah, Cindera mata

Kalian pernah ga sih pengen beli kado, oleh oleh, bingkisan atau apalah itu yang sejenis, suka pusing sendiri. Suka ga enakan. Suka mikir “kemurahan ga ya”, “tar dia suka ga ya”. Gue pernah!

Tapi setelah beberapa tahun di Swedia rasa sungkan itu mulai hilang. Terinspirasi dari cara orang orang di sini kalau memberi kado atau bingkisan. Relatif simpel bahkan sangat simple malah. Memberi sesuai kemampuan dan fungsinya. Bukan malah jadi beban dan bikin pusing. Jujur ketika gue memberi sesuatu kepada warga di sini, gue feel free banget. Ga ada perasaan apakah pemberian gue bakal disuka atau tidak. Apalagi menjadi bahan omongan di belakang layar. Seperti gue bertanya pada diri sendiri ketika pertama kali menerima kado natal dari kerabat. Cuma tissue makan doang gitu? Perih! Hahaha.

IMG_0789.jpg

Gue berusaha jujur aja sih kalau waktu itu emang gue beneran ga nyangka cuma dikasih tissue makan doang. Tapi semakin ke sini gue mulai bisa mengerti kalau memberi itu ga harus yang okeh okeh banget. Lihat momentnya juga. Kalau kado nikahan atau ulang tahun ke 50 tahun mungkin agak beda.  Biasanya pun suka urunan belinya. Misalnya terkumpul hingga 2500 sek. Barulah beli barang yang kira kira diperlu yang bersangkutan.

Orang Swedia tidak gampang memberi kado dan cindera mata. Hanya di saat tertentu. Seperti di hari natal atau ulang tahun ke 50 tahun. Bagi yang belum terbiasa, bisa heran melihat jenis barang yang mereka kasih. Tissue, serbet dapur, sebuah sendok, hingga sabun. Ada juga sih yang kasih buku.

Untuk saat ini itu dulu deh. Biar ga kepanjangan bacanya. See you in my next story.

IMG_0455.jpg
Semua foto anggap saja penghias tulisan. 

Mari Bicara Bayaran Upah di Swedia

Entah mengapa tiba tiba gue pengen menulis tentang pekerja bangunan di Swedia (biar bacanya lebih simple gue sebut “tukang” aja kali ya). Tepatnya lagi tentang upah gajinya. Karena pertama tau gue lumayan kaget juga. Jadi sekitar tiga tahun lalu gue dan suami berencana menambah ruangan kamar di samping living room. Alasannya sih untuk jangka panjang. Kelak jika kami menua dan kaki sudah ga kuat naik turun tangga, kami punya kamar di lantai bawah.

Di awal awal suami uda bilang kalau biaya merenovasi dan ngebangun rumah di Swedia itu mahal. Berhubung menambah ruangan yang luasnya cuma 12 meter, suami pun mengusulkan bagaimana jika dia sendiri yang mengerjakan. Permintaan mana langsung gue tolak seratus persen. Manalah gue tega yaa kan. Udah capek kerja trus lanjut nukang? lah kapan istirahatnya. Akhirnya kami putusin pake jasa tukang.

IMG_5977

Sebenarnya ngebangun rumah di Swedia bukanlah sesuatu yang aneh jika dikerjai sendiri oleh pemiliknya. Contohnya seperti tetangga gue. Merenovasi total bangunan rumahnya dan itu dikerjai sendiri tanpa menggaji tukang. Mau tau berapa lama selesai? Nyaris 3 tahun!

Trus kenapa juga sih dibela-belain harus dikerjai sendiri? jawabannya karena gaji tukang di Swedia itu mahal! Belum lagi harga material. Kena pajak sudah pasti. Merenovasi rumah pun di sini kena pajak. Dan itu tidak murah. Pajaknya gede. Bahkan untuk bangunan kamar yang luasnya cuma 12 meter kami dikenai biaya tukang berikut pajak hingga ratusan juta rupiah. Makanya untuk mengurangi cost yang membengkak tadi tak sedikit yang rela membangun sendiri rumah mereka.

Bahkan hanya untuk mengganti genteng gudang yang cuma seuprit bisa kena 40 juta rupiah biaya tukangnya. Ini masih menggunakan jasa perorangan loh. Tetangga gue yang cuma membangun garasi kecil (itupun bentuk bangunannya biasa banget dan tidak ada pintunya) dikenai 120 juta rupiah untuk upah tukang plus pajak.

IMG_5986
Lihatlah garasi mobil itu. Biasa banget kan. Bangunan kayu merah yang melekat disampingnya tidak termasuk ya. Itu bangunan lama yang sudah ada sebelumnya. Biaya tukang plus pajak untuk garasi kecil itu saja bisa mencapai 120 juta rupiah.

Jasa tukang di Swedia khususnya kota Mora bisa didapat melalui perusahan penyedia jasa bangunan. Harga yang dikenakan perusahaan jelas tidak murah. Rata rata bisa mencapai 500 sek atau setara 842 ribu rupiah perjam (untuk kurs idr saat gue menulis tulisan ini). Termasuk pajak tentunya. Di wilayah Swedia yang lain gue kurang tau pasti. Dalam sehari biasanya mereka bekerja selama 7 jam. Jadi artinya kita harus mengeluarkan kocek hampir 6 juta rupiah per harinya. Hanya untuk membayar jasa tukang loh.

Sebenarnya cost ini bisa dikurangi kalau kita bisa menggunakan jasa tukang yang tidak bernaung di bawah perusahaan jasa bangunan. Jasa perorangan gitulah. Mereka rata rata memasang tarif paling murah sekitar 200 sek atau sekitar 337 ribu rupiah perjamnya. Akan tetapi tenaga tukang seperti ini terkhusus di tempat tinggal gue tidak banyak. Dan cara kerja mereka pun jelas berbeda dengan jasa tukang yang kita sewa dari perusahaan jasa bangunan. Tukang dari jasa bangunan jelas lebih profesional dari segi skill dan waktu. Bangunan juga lebih cepat selesai.

IMG_5983
Ruangan kecil berukuran 12 meter ini mengeluarkan biaya tukang yang tak sedikit berikut pajak plus biaya material.

Menggunakan jasa tukang di Swedia bukan berarti kita bisa sesuka hati main perintah dan main ngomel. Dikit dikit ceriwis dan berdiri layaknya mandor. Di awal cukup kasih tau aja seperti apa bangunan yang kita mau. Bahkan jika menggunakan jasa tukang perorangan, yang namanya bicara harga di awal pun tidak. Karena tukang tidak mau mematok harga sebelum dia menjalankan tugasnya. Kasarnya tidak mau menafsirkan harga sebelum kerja dimulai hingga selesai. Ga ada istilah harga borongan. Cuma biasanya si tukang pun ga asal main libas harga karena setidaknya pengguna jasa sudah tau juga kira kira harga tukang di pasaran berapa. Kalau pun harganya agak meleset dikit ya harus rela. Artinya tidak ada tawar menawar. Tukang/perusahaan yang menentukan.

Tukang di Swedia harus punya standard. Malah setau gue ada pelatihan khusus untuk pemula. Jadi ga bisa asal bilang “ehh ada proyek tuh, mau ikut ga bantu ngocokin semen? Yang gue lihat kerja mereka rapi banget. Sekalipun cuma tukang perorangan yang tidak bernaung di bawah perusahaan, mereka sudah punya peralatan mesin sendiri.

IMG_5978

Di Swedia upah gaji dan membayar jasa orang lain memang relatif tinggi. Tapi hal ini dikarenakan harga kebutuhan dan biaya hidup di Swedia juga sangat tinggi. Jadi sekalipun bayarannya mahal, bukan berarti mereka jadi kaya raya berkelimpahan uang. Karena pengeluaran mereka juga besar.

Cuma sepengamatan gue, semua jenis pekerjaan dianggap sama di Swedia. Tidak ada istilah pekerjaan ini lebih bergengsi dan pekerjaan yang itu dianggap sebelah mata. Lihat saja bayaran tukang mereka itu, malah gaji mereka bisa dibilang sangat lumayan. Tak hanya tukang, pekerja yang memasang wallpaper seluas 12 meter aja bayarannya mencapai 14 juta rupiah. Motong rambut paling murah 850 ribu rupiah, mijet badan satu jam bisa mencapai 1 juta rupiah. Semua tenaga kerja dihargai mahal. Tak pandang bulu.

Sebenarnya tidak adil jika gue harus membandingkan dengan bayaran tukang atau jasa di tanah air. Income perkapitanya pun sudah jauh berbeda. Perbedaan gaji yang mencolok akhirnya membuat kesenjangan sosial yang pada akhirnya menimbulkan pemikiran dan pandangan bahwa pekerjaan seperti tukang bangunan, pembantu rumah tangga, tukang pijet, pelayan restoran, pelayan toko, cleaning service suka dianggap sebelah mata di tanah air. Sedangkan pekerjaan di ruang kantor ber ac, meja dilengkapi layar komputer dan telepon, duduk manis di bangku empuk, dianggap lebih elite.

Di Swedia yang namanya perbedaan gaji setiap pekerja sudah pasti ada. Tapi mencolok banget sih ga. Gue bicara gaji pekerja kebanyakan ya. Makanya tak heran warga lokal di sini tidak sungkan menjadi pelayan restoran bahkan cleaning service sekalipun. Ga ada istilah malu. Karena apa? ya karena gaji mereka pun dianggap layak sama halnya dengan pekerjaan yang lain. Di Swedia jangan heran jika pekerja seperti tukang, pemasang lampu, tukang pijet, celaning service tetap punya rumah dan mobil sekelas volvo dan volkswagen. Dan bukan berarti yang bekerja di perusahaan besar lantas mobilnya lebih mewah.

IMG_5979

Makanya kalau ada kalimat yang bilang “ya elah jauh jauh ke luar negeri cuma bersih bersih toilet, nyapu nyapu!” loh kalau gajinya memadai kenapa ga? Ingat loh hidup mereka layak. Gue bukan bicara kaya ya.

Makanya di Swedia bukan hanya imigran yang kerjanya jadi cleaning service dan pelayan restoran, warga lokal pun ga pilih pilih kerja kok. Karena bagi mereka yang penting gajinya sesuai. Mereka ga peduli dengan iming iming kerja kantoran lebih elite. Di belakang meja lebih okeh, ada komputer, ada telepon. Bahkan untuk mendapatkan kesempatan kerja menjadi seorang cleaning service pun ga mudah kok. Buktinya ga semua warga Swedia punya pekerjaan.

Di Swedia ketika ada seorang pegawai kantoran meminta berhenti dari pekerjaannya dan ingin beralih menjadi supir bus bukanlah sesuatu yang aneh. Teman suami ada yang seperti itu. Dia bosan belasan tahun duduk di kursi, di depan komputer dan di dalam ruangan yang itu itu aja. Begitu beralih menjadi supir bus dia ceria banget sekarang. Karena gaji yang dia dapat di perusahan sebelumnya tidak jauh berbeda dengan dia menjadi supir bus.

Jadi intinya, pekerjaan apapun di Swedia itu tetap dihargai. Ga dipandang sebagai pekerjaan elite atau non elite. Perbedaan gaji setiap pekerja sudah jelas ada. Tapi secara keseluruhan rata rata gaji warganya tidak terlalu mencolok perbedannya. Kecuali pekerjaan jenis tertentu yang memerlukan skil luar biasa mungkin gajinya jauh lebih tinggi. Seperti perdana menteri, politikus, tenaga ahli di bidang tertentu.

IMG_5980
Foto mawar tak ada hubungannya dengan topik tulisan. Hanya sebagai penghias tulisan semata. Hahaha

Midsummer, Perayaan yang Selalu Ditunggu di Swedia

Jika ada perayaan besar yang selalu ditunggu di Swedia, dipastikan salah satunya adalah perayaan Midsummer. 

Bahkan ada yang bilang, perayaan Midsummer Eve yang diadakan setiap hari Jumat antara tanggal 19 dan 25 Juni setiap tahunnya, adalah The Real National Daynya orang Swedia. Karena perayaan tahunan ini jauh lebih meriah dan lebih berasa dimana mana. 

Midsummer atau Summer Solstice, dirayakan sebagai bentuk luapan kegembiraan akan hari yang dianggap spesial. Dianggap spesial,  karena hari itu merupakan hari dengan siang terpanjang dalam satu tahun. Yang akibatnya, malam hari pun terasa sangat pendek.    

Tentu saja kejadian seperti ini hanya berlangsung sekali dalam setahun. 

Merasakan malam yang tidak benar benar malam. Bagaimana tidak, pukul 12 malam pun pemandangan masih terlihat lumayan terang.  

IMG_8156.jpg
Foto ini gue ambil menjelang tanggal 21 Juni 2017, tepatnya pukul setengah duabelas malam. No filter. Masih terang.

Summer Solstice tahun ini terjadi pada tanggal 21 Juni 2017. Dan gue pun bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana alam sekitar terlihat masih lumayan terang menjelang pukul setengah 12 malam. Bahkan tahun lalu, gue sempat mengambil foto dengan view langit layaknya seperti sunset di sore hari. 

IMG_4446.JPG
Foto ini gue ambil tahun 2016 lalu. Mendekati pukul 12 malam. Cantik banget. Layaknya sunset di sore hari.
Sebenarnya hari yang paling terang ini tidak serta merta terjadi seperti membalikkan tangan. Lambat namun pasti (bisa bulanan), suasana tergelap di saat Winter Solstice berangsur angsur akan menghilang. Tergantikan dengan keadaan alam yang lebih terang dari hari ke hari (the lighter of the day).

Sehingga tidak heran, di saat The Lighter of The Day terjadi, pukul 8 malam serasa pukul 4 sore. Dan puncaknya pada saat Summer Solstice tadi, matahari sangat jauh dari garis Equator, yang menjadikan hari ini menjadi hari yang paling terang di tahun berlangsung.

IMG_4849.JPG

IMG_8132 (1).jpg

Tentu saja hari yang paling terang ini disambut sukacita oleh warga Swedia. Merayakan Midsummer secara besar besaran serentak di banyak tempat. Mengapa mereka harus merayakannya? ya karena hari yang paling terang tadi. Dengan kata lain, kondisi yang paling terang ini tidak berlangsung setiap hari. Ada masa masa dimana mereka hidup dengan malam yang sangat panjang. 

Jadi proses alamnya kira kira seperti ini:

Setelah Midsummer, lambat namun pasti (prosesnya sangat lama dan nyaris tidak berasa), keadaan yang paling terang ini berangsur angsur akan berkurang. Sampai akhirnya ketika winter kembali datang, matahari akan semakin sedikit bersinar. Dengan kata lain, kegelapan kembali lagi mendominasi hari demi hari.

Seperti yang gue bilang, di saat summer, pukul 8 malam layaknya pukul 4 sore, maka di saat winter keadaan ini berbanding terbalik. Pukul 4 sore serasa pukul 8 malam. Dan puncak kegelapan itu terjadi di saat Winter Solstice. Dimana malam sangat panjang dan siang sangat pendek. 

Demikianlah kondisi seperti ini berlangsung secara terus menerus setiap tahun.

IMG_8133

Secara keseluruhan, perayaan terbesar Midsummer di Swedia jatuh pada hari Jumat. Dikenal sebagai Midsummer Eve, yang resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Meskipun begitu, tidak sedikit  tempat yang merayakannya setelah hari Jumat atau sebelum hari Jumat. Seperti desa gue misalnya, perayaan Midsummer dilakukan di hari Minggu.

Intinya adalah, perayaan dilakukan dengan selisih hari yang tidak begitu jauh dari tanggal terjadinya Summer Solstice.  

Perayaan Midsummer biasanya identik dengan tarian dan alat musik tradisional.  Sebagian dari mereka mengenakan pakaian tradisional khas Swedia.
Mereka saling berpegangan tangan, membentuk lingkaran sambil mengelilingi Majstång, tiang pohon yang menjadi simbol utama perayaan Midsummer. Majstång bisa diartikan sebagai lambang kekuatan dan keseimbangan.
IMG_4873
Tiang Majstång biasanya dililit oleh daun birches. Lalu dibuat masing masing satu buket seperti di gambar ini. Kemudian buket diikat memanjang secara rapat.
IMG_4864
Setelah buket diikat memanjang, maka hasilnya seperti di gambar.
IMG_4844
Lalu dilitkan ke tiang Majstång

Majstång terdiri dari tiang kayu yang sangat tinggi dan lumayan berat. Tiang ini nantinya dililit dengan hiasan tali besar memanjang, yang terbuat dari rangkaian daun segar yang berasal dari pohon Birch. Masing masing daun disusun dan diikat secara memanjang, dari bagian awal sampai bagian akhir ikatan. Cara menyusun daun yang lumayan unik.

Sebelum acara dimulai, biasanya ada prosesi terhadap tiang Majstång. Dan dari beberapa tempat yang pernah gue datangi, masing masing memiliki tradisi yang berbeda. Ada yang mengarak arak Majstång di jalanan diiringi alunan musik, namun ada pula yang langsung meletakkan Majstång di tengah lapangan tanpa prosesi arak arakan.

Puncak dari acara Midsummer yang lumayan ditunggu dan memancing tepuk tangan serta sorak sorai adalah, ketika tiang Majstång  sempurna bisa didirikan.

Untuk mendirikan tiang ini tidaklah mudah. Karena selain panjang, Majstång  juga memiliki berat yang lumayan. Setidaknya diperlukan tenaga beberapa pria untuk bisa mendirikannya.

IMG_8138.jpg

Dan itupun masih memerlukan bantuan tambahan berupa kayu kecil. Jadi tidak bisa asal asalan. Masing masing ujung kayu berbentuk huruf X, layaknya sebuah ketapel. Ujung kayu kemudian ditancapin ke batang Majstång.

Jadi Majstång bisa berdiri bukan karena menggunakan tali, melainkan karena kayu kayu penyanggah tadi.

Kayu kayu inilah yang nantinya menjaga keseimbangan dalam proses mendirikan tiang Majstång. Karena Majstång tidak serta merta bisa berdiri dalam sekali angkat saja. Harus pelan pelan dan lumayan membutuhkan waktu lama.

Karena jika salah sedikit, Majstång bisa oleng dan jatuh lagi sebelum berdiri sempurna. Sehingga tak heran, jika warga yang menyaksikan proses pendirian Majstång sangat antusias. 

Sampai akhirnya, ketika Majstång berhasil berdiri sempurna, tak pelak lagi, semua bersorak dan bertepuk tangan. 

Acara pun berlanjut dengan tari tarian. Semua saling berpegangan tangan sembari mengelilingi Majstång dan menyanyikan lagu Midsummer “Små Gordona”

IMG_8139.jpg

Små Gordona merupakan lagu yang bercerita tentang seekor katak kecil. Mereka menari dengan melompat layaknya seekor katak, tiba tiba berpencar dan membentuk kelompok, masing masing menundukkan kepala seperti berbisik satu sama lain. Lucu!

Lucu karena yang ngelakuin ini bule. Hahahahahha.

Selain acara menari, biasanya mereka juga Fika (Coffee Break). Duduk santai bersama menikmati secangkir kopi/teh dan beberapa jenis cake manis. 

IMG_8097.jpg

IMG_8081

Seiring dengan bergulirnya waktu, perayaan Midsummer juga mulai dimasuki unsur modern, dimana para penggila mobil mobil tua beramai ramai membuat pawai.  Kebetulan teman suami salah satu anggota club mobil tua ini. Jadi tahun lalu, gue dan suami berkesempatan ikutan pawai. Asik loh!

Bisa melihat kerian perayaan Midsummer di beberapa tempat. Walaupun hanya lewat doang. Sesekali berpapasan dengan mobil lain yang berisi anak muda, lengkap dengan crown flowers di kepala. Tak cuma wanita tapi pria juga. Mobil yang mereka gunakan juga tidak tanggung tanggung. Traktor, gerobak tua sampai truk butut antik yang dihiasi daun daun. Gaya anak muda, mereka pun berteriak keras mengucapkan Glad Midsommar. Serulah.

IMG_4491.JPG

Kadang kadang, terlihat beberapa wanita dan pria memetik bunga liar di tepi jalan. Sepertinya mereka akan membuat crown flowers. 

Belum lagi pemandangan Midsummer Party di beberapa desa yang kami lewati. Mendirikan rumah plastik berwarna putih lengkap dengan meja panjang, kursi dan perlengkapan piring.

Orang orang berdiri dengan style yang lagi lagi memakai crown flowers. Ahhh crown flowers mereka cantik cantik.

Trus pakaian wanitanya lucu lucu. Gaun panjang motif bunga bunga. Modelnya simpel tapi pas banget ke badan mereka. Mirip di foto majalah dan Pinterest. Sukaaaaaa!

IMG_8143.jpg

IMG_8142.jpg

IMG_8140.jpg

IMG_8134.jpg

Gue bisa melihat dengan jelas, karena mobil antik yang kami tumpangi ga melaju kencang. Apalagi yang dilewati juga kawasan pedesaan. Memang ga boleh berkendara dengan kencang kan.

Selain suasana party, tak sedikit orang yang hanya duduk di halaman rumah, menikmati Midsummer dengan kumpul keluarga. Duduk santai sambil ngopi sepertinya. Bahkan ada yang tidak terlalu perduli, asik dengan mesin pembabat rumputnya. Hahaha.

Suka aja gue melihat semua. Gue nikmati banget.

Serunya lagi, setiap kami melewati daerah perkotaan, terlihat orang orang sudah berdiri di pinggir jalan. Mengarahkan handphone ke arah rombongan mobil antik yang kami ikuti. Sepertinya mengambil video atau gambar. 

Dan itu…..tak sedikit yang mendadah dadaaah!

Huaaaa gue kan malu. Apalagi mobil antik yang kami tumpangi ga ketutup gitu, serasa jadi artis dadakan kan didadah gitu. Hahaha. Tapi jujur emang seru banget. Bahkan di jalanan sepi sekalipun, kalau pas ketemu orang yang berdiri di jalan, pasti ngedadah.

IMG_4566

Wajar saja, mengingat penggemar mobil antik di Swedia itu lumayan banyak. Khususnya di propinsi Dalarna, hampir setiap tahun menyelenggarakan pawai besar mobil antik.

Sedangkan di desa gue sendiri, perayaan Midsummer digabung dengan beberapa desa yang tidak jauh dari tempat tinggal gue. Sehari sebelumnya, penduduk desa beramai ramai mempersiapkan hiasan untuk tiang Majstång. Ukuran tiang Maypole di desa gue lumayan tinggi dan berat. Mencapai 20 meter, yang berasal dari batang pohon Gran. Sejenis pohon yang bentuknya mirip pohon natal.

Sedangkan untuk hiasannya diambil dari ranting dan helai daun Björk/birches. Dipadu padan dengan berbagai bunga liar. Seperti gambar di atas. 

Ngegrill, party di kalangan muda sampai berada di luar hingga larut malam, adalah bentuk dan cara lain menikmati Midsummer di Dalarna. Rasanya sayang tidur terlalu cepat ketika perayaan Midsummer tiba. Itu kata suami gue.

Ada benarnya, tahun lalu, ketika kami pulang dari kota Mora, menghabiskan acara dinner party sehabis pawai, terlihat beberapa orang yang masih wara wiri di jalanan pusat kota. Bahkan ada yang berolahraga dengan mengendarai sepeda.

Belum lagi sepasang orang tua yang duduk santai di kursi taman. Begitu nikmatnya keadaan malam yang masih terlihat terang. Tak terkecuali suami, selalu semangat merayakan yang beginian. Makanan Midsumer pun wajib dia buat.

Sedangkan tahun ini, rumah gue menjadi tempat ajang berkumpul makan makan dan minum warga desa.

IMG_4861
Midsummer biasanya juga diisi dengan makan bersama keluarga di halaman. Kalau cuaca mendukung ya dan tidak hujan.

Dulu pertama tiba di Swedia, gue pikir yang namanya perayaan tradisional sudah dilupakan oleh bangsa ini. Sehingga ketika pertama sekali menyaksikan perayaan Midsummer di tahun 2014, gue lumayan kaget. 

Melihat tiang Majstång, serasa melihat pohon pinang di acara 17 Agustus. Pohon panjat pinang versi Swedia. Hahahhaha.

IMG_8092

Akhirnya selesai juga perayaan Midsummer tahun ini. Yang kalau mau jujur, ada perasaan ga enaknya. Karena proses The Lighter of The Day sudah habis tahun ini.

Dan gue harus rela dan siap, perlahan namun pasti, lamban laun situasi yang terang ini akan semakin berkurang. Dan siap bertempur dengan kegelapan di saat winter nanti. Semangat!!!

Video perayaan Midsummer 2017 bisa dilihat di Net Tv

Salam dari,

Mora, Dalarna, Swedia.

Semburat Kuning Mewarnai Sambut Paskah di Swedia

Tahun ini tahun ketiga gue merayakan Paskah di Swedia. Biasanya sebulan menjelang Paskah, suasana menyambut Paskah sudah mulai terasa di pusat pusat perbelanjaan, toko toko dan supermarket. Dan uniknya dekorasi dan pernak pernik yang dijual sebagian besar berwarna kuning.

IMG_7830.jpg
Cake berwarna kuning dengan tulisan Glad Påsk

Mengapa warna kuning menjadi warna yang mendominasi perayaan Paskah di Swedia? Jelasnya gue juga kurang tau. Tapi beberapa kalangan menyebut warna kuning diumpakan sebagai sinar/cahaya mentari yang muncul/bangkit dari tempat peraduannya. Dan jika di telaah lagi, perayaaan Paskah selalu mendekati  musim semi. Musim dimana matahari mulai bersinar lebih terang. 

Bunga adalah salah satu bentuk apreasiasi dalam merayakan Paskah di Swedia. Dan tentunya, bunga bunga yang dijual pun sedikit berbeda dari hari biasanya.

Dominan berwarna kuning. Dari sekian banyak jenis bunga yang dijual, bunga Narcissus adalah jenis bunga yang paling khas dan menjadi main flowers perayaan Paskah di Swedia. 

IMG_7849.JPG

IMG_3771.JPG

IMG_3949.JPG

Bentuknya sih biasa saja. Malah bunga lain jauh lebih menarik. Kenapa Narcissus menjadi bunga yang paling identik dengan simbol perayaan Paskah di Swedia? kemungkinan besar karena bunga ini merupakan jenis bunga Spring yang pertumbuhannya lumayan banyak menjelang atau sampai musim semi tiba. Di negara lain pun musim semi kebanyakan diawali dengan munculnya jenis bunga yang satu ini.

Namun bagi warga Swedia, Narcissus tak hanya dianggap sebagai bunga musim semi semata, tapi juga sebagai salah satu simbol perayaan Paskah. Sampai sampai negara ini memiliki sebutan khusus yaitu Påsklilja atau Lili Paskah.

Bahkan jika harus dibeli, harga Påsklilja juga lebih murah jika dibandingkan dengan jenis bunga lain. Sehingga memilih Påsklilja sebagai hiasan dalam perayaan Paskah menjadi alasan yang lumayan masuk akal. Kebetulan pula bunga ini berwana kuning. Jadi klop deh.  

Setiap berbelanja kebutuhan Paskah, mata gue nyaris selalu melihat semua keranjang pengunjung di supermarket berisi bunga Påsklilja. Dan tentunya pihak supermarket pun tak menyia nyiakan kesempatan ini. Menjual Påsklilja dengan stok yang sangat banyak. 

Sebenarnya di saat Real Spring, bunga Påsklilja lumayan banyak tumbuh di halaman desa tempat tinggal gue. Tapi di saat perayaan Paska, bunga ini belum muncul. Mungkin karena suhu sekitar yang masih relatif dingin. Dan matahari juga belum menentu sinarnya.

IMG_0788
Påsklilja (Lili Paskah)

Biasanya Påsklilja ditempatkan di dalam pot atau keranjang, supaya kelihatan lebih indah. Bahkan bisa ditambah dengan hiasan hiasan berbentuk ayam dengan ukuran yang mungil dan juga berwarna kuning. Bunga ini ada yang berukuran kecil dan ada pula yang berukuran besar.

Yang berukuran kecil memiliki aroma harum seperti sedap malam. Sedangkan yang berukuran besar aromanya sedikit bad smell. Ga ngerti juga kenapa bisa beda aromanya. Tapi itu menurut penciuman hidung gue sih. Hahaha.

Biasanya Påsklilja diletakin di dalam rumah dan jika memungkinkan di teras atau di depan halaman rumah (tergantung suhu).

img_3770

Selain Påsklilja,  jenis bunga lain pun bisa digunakan untuk menghiasi jendela rumah, meja makan, meja tamu, dan pastinya masih bernuansa kuning. Selain bunga, rumah rumah juga dihias dengan pernak pernik berwarna kuning (walaupun tidak tertutup kemungkinan menggunakan warna lain), mulai dari lilin, tempat lilin, taplak meja, sarung bantal, tissue makan, bahkan ada juga piring gelas yang dijual dengan motif motif bernuansa Paskah. Cantik!

Ibarat natal punya pohon natal, Paskah pun punya pohon Paskah. Demikianlah di Swedia, negara ini memiliki pohon Paskah unik yang dikenal dengan nama Påskris.

IMG_0795.jpg
Påskris

Påskris, terdiri dari bulu bulu ayam, yang  diikat di ujung ranting pohon yang sudah kering dan tidak memiliki daun. Mengapa tak berdaun? Seperti yang gue jelasin di atas, perayaan Paskah di Swedia biasanya jatuh di saat awal atau menjelang musim semi tiba. Dimana keadaan ini belum mampu membuat semua tanaman tumbuh dan mekar dengan baik.

Hampir di setiap rumah, toko toko dan pusat perbelanjaan memasang Påskris sebagai hiasan Paskah. Bulu ayam yang menghias ranting biasanya terdiri dari satu warna ataupun beraneka warna. Seiring tingkat kebutuhan yang melonjak, sehingga tidak heran jika menjelang Paskah, bulu bulu ayam banyak di jual di toko toko dan supermarket. Khususnya di kota Mora, setiap berjalan di kawasan pusat perbelanjaan, masing masing toko memasang Påskris. Jadi unik.

Kenapa Påskris sampai memakai bulu ayam? Ceritanya, hal ini berhubungan dengan perayaan Minggu Palma. Berhubung Swedia tidak memiliki daun Palma yang sebenarnya, sehingga dibuatlah gantinya dalam bentuk bulu ayam. Katanya sih begicuuuu. 

Dua tahun lalu, gue mencoba menghias kulit telur dengan warna dan motif yang menurut gue not badlah untuk seorang pemula.

Karena jujur saja, ketika berada di Indonesia, gue ga pernah merasakan perayaan Paskah seperti ini. Paling ibadah dan ziarah saja. Apalagi sampai menghias telur segala. Gimana, cantik ga hiasan telur gue di bawah?

Di saat Paskah, banyak juga coklat dan permen warna warni yang disediakan di rumah dan dimasukin ke dalam mangkok besar berbentuk telur. Mangkok telur ini terbuat dari kertas. Menjelang Paskah, mulai banyak dijual di supermarket. Bahkan ada juga yang dijual including permen coklat di dalamnya.

Biasanya di hari Paskah anak anak akan berdandan seperti penyihir dan datang mengetok pintu rumah, dan meminta uang atau permen coklat. Cuma tidak ke rumah gue, karena desa gue memang tidak ada anak anaknya lagi. Kalaupun ada paling cucu tetangga yang datang dari luar kota. Barulah mereka gue bagi permen. Dan biasanya pun, sebelum Paskah tiba, permen ini nyaris habis dimakan suami gue. Hahaha.

Sama halnya seperti natal, Paskah juga dirayakan dengan hidangan Paskah. Sebut saja seperti Half Egg dan Salmon.

Telur memiliki bentuk yang hampir mirip dengan matahari, dengan lingkaran warna kuning di tengahnya, menjadikan telur sebagai makanan utama dalam perayaan Paskah.

Untuk minuman, tentu saja ini tidak boleh di lewatkan. Minuman khas Swedia dikala natal dan Paskah. Apalagi kalau buka minuman favorite gue. Must!

Minuman softdrink yang rasanya mirip cocacola. Bedanya Must mengandung rempah. Must tidak dijual setiap saat. Hanya di waktu tertentu saja, disaat natal dan Paskah.

Must dijual dalam kemasan botol kaca maupun plastik. Kalau natal kemasan gambarnya berwarna merah dengan tulisan Julmust (artinya selamat natal). Sedangkan di saat Paskah kemasannya berwana kuning dengan tulisan Påskmust (artinya selamat Paskah). 

IMG_7834.jpg
Wild Salmon. Warna ga merah orange gitu. Kaya ikan biasa.
IMG_7852.jpg
Half Egg with Kaviar

Menjelang Paskah, kota kecil atau daerah pedesaan lumayan banyak dikunjungi penduduk kota besar. Istilah orang kita Mudiklah. Mereka menginap di Summer House atau di rumah orang tuanya. Ya walaupun ramainya ga seramai kampung di Indonesia sih.

Secara umum kebiasaan Paskah di Swedia hampir sama dengan negara lain termasuk Indonesia. Ada kebaktian gereja dan meletakkkan bunga di pemakaman. Seperti ziarah.

Untuk perayaan Paskah di Swedia, pemerintah negara ini pun membuat libur umum sampai di hari Senin. Karena masih terhitung ada kegiatan ibadah di gereja.

img_3943

Glad Påsk, Happy Easter dan Selamat Paskah!

Semua photo di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com