Berumur 400 Tahun Lebih, Hotel ini Menjadi Pilihan Berweekend yang Tepat

Saya lumayan sering menulis tentang beberapa penginapan yang pernah saya dan suami datangi sebagai tempat menginap. Dan rata rata hotel yang saya ceritakan tak jauh jauh dari hotel tua. Semakin lama saya semakin tertarik dan menikmati hotel tua dengan segala nuansa old style. Hotel tua bagi saya tidak sebatas sebagai tempat menginap tapi selalu ada cerita di baliknya. Selain itu suguhan interiornya pun menarik untuk dilihat.

Tapi hotel tua yang saya sukai itu bukanlah hotel yang atmosfirnya creepy banget yang sentuhan artnya beneran tidak ada. Murni menjajakan keseraman yang hakiki dan orisionil. Kalau seperti ini saya ogah. Hahaha.

IMG_9898 (1).jpeg

Berbicara mengenai hotel tua, di wilayah country side Swedia lumayan banyak jumlahnya. Sangat menarik untuk dijadikan tempat menginap dan quality time. Bedanya hotel hotel tua di country side Swedia tidak seperti kebanyakan hotel tua di eropa yang berbahan dasar material batu serta bergaya arsitektur baroque, art nouveau maupun gothic. Hotel tua di sini bisa dibilang rata rata berbahan material kayu dan sangat setia mempertahankan dan menonjolkan karakter skandinavianya. Hotel yang rata rata jika dilihat dari luar terlihat biasa. Tapi begitu masuk ke dalam akan disambut dengan interior yang unik dan tak kalah elegan. Dan uniknya nuansa hominya tetap berasa.

IMG_9820
Bar hotel Grythyttan Gästgivaregård  

Kali ini saya akan mengulas tentang salah satu hotel tua yang konon katanya lumayan terkenal di Swedia bernama Grythyttan Gästgivaregård. Terletak di daerah Grythyttan Örebro, propinsi Västmanland.

Dari tempat tinggal saya butuh sekitar dua setengah jam berkendara. Meskipun terkenal, sejujurnya saya baru mengetahui tentang hotel ini dari suami. Tepatnya di hari ulang tahun saya beberapa waktu yang lalu ketika dia memberi kejutan bahwa kami akan menginap di Grythyttan Gästgivaregård.

Hitung hitung menghabiskan weekend berdualah. Membuang kejenuhan akan gelapnya musim dingin sekaligus merayakan pertambahan umur saya yang semakin menua tentunya.

IMG_9891
Sebagian bangunan hotel tampak depan
IMG_9896
Lihat deh pintu lobbynya. Imut dan tidak seperti pintu hotel kebanyakan. Mirip rumah ya

Grythyttan Gästgivaregård bukan sebatas hotel untuk menginap. Tapi ada wisata sejarah yang ditawarkan. Kalau saya bisa berpendapat, tujuan utama para tamu hotel yang datang sepertinya hanya fokus menginap dan menikmati sensasi atmosfir abad ke 17 yang ditawarkan hotel. Jadi bukan sebagai tempat persinggahan untuk tidur semata lalu ngider melihat wisata di luar hotel.

Menilik mundur ke belakang, Grythyttan Gästgivaregård awalnya merupakan penginapan kecil layaknya losmen. Berdiri sejak tahun 1640 (sekitar emparatusan tahun silam), hotel ini memiliki ruangan kamar sebanyak 54 kamar yang dibangun semasa tahta kekuasaan ratu Kristina, ratu Swedia di masa itu.

IMG_9837.jpeg
Lobby hotel dengan sepasang foto raja dan ratu Swedia

Pada saat itu sang ratu mengeluarkan instruksi agar seluruh wilayah di Swedia dengan jarak pertujuh puluh kilometer harus memiliki Värhus atau penginapan. Masing masing penginapan ini tidak hanya menyediakan tempat beristirahat untuk para tamu tapi juga untuk ternak kuda yang mereka tunggangi. Dan khusus untuk kuda kuda ini, pemilik penginapan harus menyediakan tempat yang bisa menampung minimal 24 ekor kuda.

Kenapa harus demikian? Karena di masa itu belum ada yang namanya kendaraan maupun kereta api. Rata rata orang berpergian hanya dengan kuda. Dan ketika melakukan perjalanan jauh, mereka butuh istirahat. Sehingga diwajibkanlah seluruh wilayah di Swedia memiliki penginapan including kandang ternak.

IMG_9832.jpeg
Lobby yang luas dengan props vintage. Duduk di sini berasa keturunan bangsawan. Hahaha
IMG_9836.jpeg
Kece banget. Di sini para tamu bisa menikmati coffee/tea serta snack/dessert secara free. Rasanya dijamin tidak abal abal. Dududu…. 

IMG_9823.jpeg

IMG_9967.jpeg

Dan saya juga baru tahu jika rumah yang saya tinggali bersama suami saat ini, di masa dulu juga pernah dijadikan sebagai tempat penginapan kecil oleh keluarga suami dari generasi yang ke berapalah itu dia pun sudah tidak tau. Bahkan ada ruangan bawah tanahnya tapi sudah ditutup oleh lantai rumah. Huaaaaaaaaaaaaaaaa……kaget saya!

IMG_9829 (1).jpeg

IMG_9830.jpeg
Ruangan santai yang lain. Saya suka interiornya

Jaman berubah dan era modernisasi menyentuh kehidupan di bumi Swedia kala itu. Sekitar tahun 1879 ketika sarana transportasi kereta api memasuki wilayah Grythyttan, dibangunlah sebuah hotel yang lumayan besar di sekitar stasiun kereta api yang otomatis membawa dampak tidak baik terhadap Grythyttan Gästgivaregård yang waktu itu hanyalah sebuah penginapan kecil. Kala itu warga lebih tertarik dan memilih menginap di hotel besar dan tentunya lebih dekat ke stasiun kereta api.

IMG_9960.jpeg
Duhhh…sukaaaaaaaaaaaa!

Bisa ditebak akhirnya penginapan Grythyttan Gästgivaregård berhenti beroperasi untuk sekian lama. Hingga pada tahun 1973 pemerintah daerah setempat berniat ingin memugar bangunan penginapan ini. Rencana mana ditentang oleh dua pria bernama Arthur Lindqvist dan Yngve Henriksson yang tetap ingin mempertahankan bangunan Grythyttan Gästgivaregård ini.

IMG_9843.jpeg

IMG_0008.jpg
Table decoration

Singkat cerita Grythyttan Gästgivaregård kembali beroperasi dengan konsep managemen yang jauh berbeda. Dari sebuah penginapan biasa menjadi sebuah hotel dengan sentuhan unik, elegan serta menonjolkan sajian gastronomi high class.

Seorang Carl Jan Granqvist yang dikenal sebagai salah satu tokoh televisi, restaurateur dan pengamat food and wine terkenal di Swedia pernah menjadi Cellar Master tertinggi di Grythyttan Gästgivaregård.

IMG_9849.jpg

Meskipun kini setaraf hotel tapi embel embel kata Gästgivaregård (yang bisa diartikan losmen) di belakangnya hingga saat ini tidak pernah diganti. Hingga pada tahun 2014 asset saham dan kepemilikan Grythyttan Gästgivaregård beralih ke Spendrups Family yang tak lain merupakan pemilik perusahaan minuman besar di Swedia yang dikenal dengan brand Spendrups. 

IMG_9750.jpeg
View dari jendela kamar. Serasa gimana gitu..
IMG_9547.jpeg
Ruangan kamar bertema airy room abad ke 17. Semua serba vintage

Grythyttan Gästgivaregård memiliki 54 kamar dengan konsep airy room abad ke 17. Dan uniknya setiap pintu kamar memiliki interior yang berbeda baik dari peralatan hingga wallpaper. Dan kamar kamar di hotel ini semakinlah bertambah unik karena setiap pintu kamarnya ditempeli bingkai tulisan yang berisi sejarah Grythyttan Gästgivaregård, yang mana setiap pintu kamar memiliki cerita sejarah yang berbeda beda.

IMG_0063.jpg

IMG_0049

Grythyttan Gästgivaregård sering juga digunakan sebagai tempat pertemuan/meeting, wedding party hingga fine dining. Tak jauh dari  Grythyttan Gästgivaregård para tamu juga bisa menikmati fasilitas spa di Loka Brunn tapi beda bangunan dan lokasi.

IMG_9630.jpeg
Setiap pintu kamar memiliki cerita sejarah yang berbeda beda terkait Grythyttan Gästgivaregård . Ini cerita sejarah di pintu kamar kami menginap. 

Menelusuri setiap sudut ruang hotel selalu memberi keasikan tersendiri buat saya. Semua barang yang berjejer bener bener bikin takjub. Vintage trala la la!

Satu hal yang menarik perhatian saya, hotel ini juga menempelkan berbagai daftar menu dari berbagai hotel tua di seluruh Swedia dari masa ke masa. Saya jadi tau metamorfosis design daftar menu di setiap restoran dari jaman ke jaman. Keren ihh!

IMG_9986
Sebuah sudut loteng. Oldis banget ya auranya. Setiap dinding berhiaskan bingkai berisi daftar menu dari berbagai hotel tua di Swedia dari jaman ke jaman
IMG_9995 (1)
Bingkai berisi berbagai macam menu hotel tua di Swedia
Grythyttan Gästgivaregård juga sangat terkenal dengan kualitas makanannya. Hotel ini memiliki gastronomi high quality. Setidaknya itu yang saya baca dari buku pengantar mereka serta waitress yang selalu memberi penjelasan di setiap menu yang di sajikan ke meja. Tak jarang manu hotel ini ditangani chef terkenal dan sering memenangkan perlombaan masak bergengsi.

IMG_9668.jpeg

Dan itu sudah saya buktikan sendiri. Makanannya bener bener enak. Enak dalam arti sanggup bikin mata saya merem melek pada saat menyantap. Bukan yang sekedar enak tanpa sensasi apa apa. Saya bukan bermaksud melebihkan. Karena saya termasuk orang yang agak nyinyir untuk urusan makanan. Ga sanggup saya bilang enak kalau ternyata biasa biasa saja rasanya.

Meskipun sekilas penampilan menu tidak terlalu luar biasa, tapi untuk urusan rasa Grythyttan Gästgivaregård memang bisa diancungin jempol. Rasanya jika mereka menggunakan rumput liar sebagai garnis di menu, pasti akan saya hajar juga sangkin enaknya. Hahaha.

IMG_9766.jpeg

IMG_9764.jpeg

Selain itu mereka juga menyajikan keju berkualitas yang umurnya bisa dibilang lumayan lama. Dan untuk ini jujur lidah saya belum bisa menikmati. Aroma tengiknya sangat menggangu saya. Rasanya juga aneh. Maaf, separuh lidah saya masih katrok.

IMG_9853

Grythyttan Gästgivaregård juga sangat terkenal dengan koleksi minuman anggur/wine dengan umur yang relatif tua. Bahkan hotel ini memiliki cellar (ruang bawah tanah) yang sekitar 350 tahun yang lalu digunakan sebagai ruang penjara bagi orang orang yang menunggu hukuman pengadilan.

IMG_9858.jpg
Gudang bawang tanah. Sekitar 350 tahun lalu sempat digunakan sebagai penjara bawah tanah dan kemudian diganti sebagai tempat penyimpanan wine.

Seiring waktu akhirnya cellar atau ruang bawah tanah tersebut digunakan sebagai gudang penyimpanan wine berkualitas yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Saat ini gudang bawah tanah lebih sering digunakan tamu hotel sebagai tempat menikmati menu fine dining khususnya di saat musim panas. Bisa ngebayangin ga sih, makan cantik di ruang bawah tanah, bekas penjara………………..dan penjara 350 tahun lalu pulak! Excited sudah pasti.

IMG_9856
Dan sekarang digunakan untuk fine dining khusus di saat musim panas 
IMG_9857
Keren ya makan di tempat seperti ini. Meski digunakan hanya di saat musim panas, tapi pihak hotel tetap menata cantik meja dan dijadikan sebagai objek tour oleh para tamu hotel. 

Sehingga tak ayal harga minuman wine di restoran Grythyttan Gästgivaregård lumayan berbeda jauh dengan harga wine yang dijual di Systembolaget  (store resmi yang menjual minuman beralkohol di Swedia).

Sebagai perbandingan jika membeli sebotol red wine dengan berat kurang lebih 750 ml di systembolaget bisa dihargai 100-120 Sek, maka di Grythyttan Gästgivaregård harganya berlipat ganda menjadi 150 sek ke atas dengan berat hanya 70 ml.

Bisa dimaklumi karena rata rata anggur yang mereka tawarkan memang sudah lumayan tua. Seperti yang kami pesan misalnya sudah berumur sekitar duapuluh tahun. Bahkan yang jauh lebih tua dari itu juga ada.

IMG_9939 (1).jpeg

IMG_9937
Kalau ini ruangan restoran di lantai atas khusus bagi para tamu hotel yang ingin menikmati berbagai jenis menu daging sapi berkualitas

Restoran di Grythyttan Gästgivaregård memiliki beberapa ruangan makan yang berbeda beda. Jika ingin menikmati sajian berbagai jenis daging sapi berkualitas di waktu yang bersamaan, ada satu ruangan yang khusus disediakan untuk itu. Tapi tidak setiap saat. Dan lagi lagi design interiornya bikin saya betah.

IMG_9916

IMG_9921

IMG_9915
Decornya cakep

Grythyttan Gästgivaregård sepertinya sangat jeli melihat pelanggan pasar. Mereka tahu para tamu bakal tertarik dengan suguhan old style yang mereka sajikan. Old style yang bisa dibilang nyaris origionil karena mostly property di dalamnya bukanlah barang tua yang dipaksa terlihat menjadi tua. Tapi memang beneran uda tua. Rata rata available semua. Sehingga dengan terang terangan mereka membuka tävling atau perlombaan photography setiap bulannya.

Berikut beberapa foto property hotel :

IMG_9839

Salah satu lorong kamar hotel di lantai atas. Jika melihat foto berasa horor ya. Tapi aslinya ga kok. Lorongnya lumayan terang
IMG_9842.jpeg
Sudut yang antik abis. Lemarinya itu sudah ratusan tahun umurnya
IMG_9567.jpeg
Toilet di lobby hotel. Pintuna itu loh lucu!

IMG_9978.jpeg

Di depat toilet terdapat pernak pernik souvenir yang bisa dibeli. Melihat ruangannya ini saja bikin saya gemes. Haha
IMG_0042
Biasanya kamar mandi hotel menyediakan botol atau gelas biasa untuk menampung air mencuci mulut. Tapi hotel ini menggunakan cangkir mirip tea cup keramik seperti ini. Pengen saya bawa pulang deh. 

Jadi setiap tamu ga perlu malu malu untuk motoin segala hal yang ada di dalam maupun luar hotel. Mulai dari makanan hingga interiornya. Setiap bulan mereka akan memilih satu orang pemenang. Dan tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan ini. Lumayan kan kalau saya menang bisa menginap satu malam. Menghemat biaya. Karena biaya menginap permalam di hotel ini relatif mahal. Sekitar 2800 Sek (setara 4,2 juta rupiah). Aaaaaaaaaaaaaa………..semoga saya menang. Amin!

Berikut video lengkap Grythyttan Gästgivaregård yang saya upload di akun youtube saya. 

Berns Asiatiska

Design interior sebuah hotel, restoran, cafe, rumah, menjadi bagian yang selalu mampu menyegarkan pikiran dan penglihatan gue. Bahkan kalau mengunjungi rumah orang lain, gue suka memperhatikan design interiornya.

Apalagi yang namanya table setting udah paling gue sukalah. Di rumah ada tidak ada acara penting, gue suka menata meja. Padahal cuma gelas, pisau, garpu, sendok dan serbet. Mau modern, vintage, antik, blink blik, selama penataannya menarik, pasti gue suka. Dan itu menjadi salah satu objek foto favorite gue.

E8543909-CE8F-4C0A-87F7-D1C5A143D2F0.jpg
Cakep!

Berns Asiatiska ini adalah salah satunya. Arsitek dan interiornya cantik banget (menurut gue). Sentuhan Art Nouveau sangat berasa di dalam. Pertama sekali berkunjung ke sini sekitar tahun 2014 silam. Uniknya, meski interiornya eropa abis, tapi menu yang tersaji justru oriental (chinese food). Tapi terbuka juga sajian dari wilayah asia lainya. Seperti dari India misalnya. Jadi bisa dibilang Berns Asiatiska ini ya restoran asia. Namanya aja uda pakai asiatiska. Sedangkan bistronya menyediakan menu mediterania. Kurang lebih gitulah.

E26DB915-DA9E-4EAC-8CF5-275C598127FB

46E52CB5-9626-48D8-A91F-B4056212B934

Info websitenya menyebut jika Berns Asiatiska sudah ada sejak tahun 1940 dan merupakan restoran chinese pertama di Swedia. Gue dan suami sudah empat kali ke Berns Asiatiska ini. Sepengamatan gue, mereka selalu menyajikan menu lunch dengan sistem all you can eat. Dan selalu ramai. Bahkan suka ngantri juga. Idealnya sih booking meja dolo ya supaya dapat tempat. Harga perorang sekitar 400 sek (kurang lebih 650 ribu rupiah untuk mata Idr saat ini). Sedangkan untuk fine dining dimulai pukul 5 sore. Harganya jauh lebih mahal.

C18E8457-A8E1-4EE4-8876-9BFA8B7EC2B6.jpg

Menurut gue, kualitas rasa dari menu menunya sih enak. Aroma seafoodnya tepat sasaran. Emang bener bener makanan chinese food. Jadi bukan chinese food asal jadi. Dumpling gorengnya enak. Udangnya berasa. Ayam goreng tepungnya apalagi, yuhui. Setidaknya beda banget dengan ayam goreng tepung yang ada di kota terdekat tempat gue tinggal.

Sabtu lalu mereka menyajikan menu daging sapi suwir. Mirip Pulled Beef (Shredded beef). Bedanya suwiran daging di restoran ini sangat halus. Rasanya mirip rendang atau semur manis. Tidak pedas tapi rasanya juara banget. Beneran. Gue ampe nambah. Hahaha.  Salad, buah dan dessertnya juga banyak macam. Segar segar!

504A9371-C2DB-4847-9F7A-65C97696BDB8.jpg

Sedangkan makanan asia lainnya gue kurang tau pastinya darimana. Mungkin dari India atau timur tengah gitu. Baunya tajam banget. Aroma kari. Tapi seperti yang gue bilang, penyajiannya ga pelit. Dagingnya juga terlihat segar dan bulatannya gede gede.

15E463A4-F92F-438A-A0FB-DCAAFACF749C.jpg

Enak sih enak. Cuma dengan harga segitu, menurut gue harusnya bisalah dibuat  lebih enak lagi. Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau pengunjung secara tidak langsung juga membayar tempat. Emang nyaman.

Karena jika di compare dengan harga makanan di restoran Swedia lainnya yang juga mengusung konsep all you can eat, harga tersebut sudah di atas rata rata. Karena makan siang di restoran Swedia mostly sudah mengusung konsep all you can eat. Dan yang pernah gue datangi rata rata memasang harga 100-190 sek. Yang 190 sek uda complit banget dan enak.

E8CA688E-92EB-4613-97A0-DFB8939B1E78.jpg

Berns Asitiska ini sebenarnya bagian dari Berns Hotel. Keseluruhan bangunan Berns sudah didirikan sekitar tahun 1860 an. Terletak di pusat kota Stockholm di area Berzelii Park. Sangat dekat ke taman raja atau Kungsträdgården.

IMG_3893

Untuk hotelnya sendiri, menurut gue sih bagus. Bergaya old style. Menariklah. Tapi tidak terlalu luar biasa. Cuma lokasinya benar benar di kawasan central Stockholm. Dekat ke banyak lokasi turistik Stockholm. Restorannya sih menurut gue yang bikin Berns punya pamor.

AF42C428-992A-4D2F-9F7C-EF1F03A32320

Scandic Hotel Gamla Stan Stockholm. Kangen Interior Lamanya.

Bisa dibilang Scandic adalah hotel tersering yang gue dan suami pilih sebagai tempat menginap ketika trip di sekitaran Skandinavia.

Tidak ada alasan yang terlalu spesifik kenapa harus menginap di Scandic. Salah satunya, selain jumlahnya yang lumayan banyak (hampir di setiap kota besar wilayah Skandinavia dan Nordik hotel ini ada), lokasinya pun gampang dicari. Paling itu aja sih.

IMG_8907.jpg

Dari segi fasilitas, hotel Scandic memang terbilang nyaman. Tapi tidak ada yang terlalu luar biasa untuk diceritakan. Sehingga meskipun lumayan sering menginap di Scandic, gue belum pernah membuat reviewnya.

Terkecuali Scandic yang satu ini. Hotel Scandic Gamla Stan Stockholm. Kenapa? Lagi lagi alasan yang luar biasa pun sebenarnya tidak ada. Hahahha. Cuma memang, Scandic Gamla Stan Stockholm secara personal memiliki story ke gue.

 

IMG_8901

Jadi tahun 2014 lalu, tepatnya pada kunjungan pertama ke Swedia, suami mengajak gue jalan jalan ke Stockholm.  Dan pilihan menginap jatuh pada hotel Scandic Gamla Stan Stockholm. Cuma, waktu itu namanya masih hotel Rica

Perasaan dan kesan pertama sewaktu menginap di hotel Rica sih campur baur. Antara senang dan tidak. Dikarenakan belum terbiasa menginap di hotel bernuansa vintage, jadi gue merasa kurang nyaman dengan interiornya yang sedikit horor. Jujur dalam banyangan gue kala itu, dengan biaya sekitar 3 jutaan rupiah permalam, harusnya kamar sudah lumayan besar, interiornya cerah, layaknya sebagian besar hotel di Indonesia.

 

Bukannya malah kamar kecil berisi pernak pernik yang sedikit menakutkan. Seperti lukisan bahela, pot bunga antik, kursi dan lemari usang. Rasanya seperti berada di museum. Jauh dari kesan hotel yang biasa gue masuki. Belum lagi lobby dan ruang makan hotel yang kecil, lift yang sempit pakai banget. Cuma semeter setengah. Mana kayunya uda terkikis.

 

IMG_8911

Tapi di sisi lain, aura hotelnya memang Eropa banget. Yang secara ga langsung membuat gue merasa beneran lagi jalan jalan di Eropa. Hahahahha. Entah pola pikir apalah itu, ga ngerti juga. Apalagi pas pertama menginap, kebetulan lagi musim dingin. Di hotel inilah pertama sekali gue melihat timbunan salju memenuhi liukan kursi oak di balkon hotel. Cantik sekali. Mirip kalender.

IMG_9362

IMG_9363
Balkon hotel tempat pertama melihat salju. Hahaha

Namanya juga perjalanan pertama gue ke Eropa ya, melihat salju pula. Langsung mendalamlah. Dan berasa special, karena sehari sebelumnya pas kami tiba di hotel, salju belum turun. Begitu bangun pagi dan mau sarapan, diantara heningnya lorong hotel yang tua, tiba tiba gue melihat tumpukan salju yang kecenya idih banget. Siapa juga yang ga terwow. Gue sih maksudnya, terwow banget.

IMG_8152.jpg

 

Tapi waktu itu gue belum paham benar kalau Gamla Stan adalah kawasan kota tua yang ngehits dan turistik banget di Stockholm. Jadi dampaknya pun pasti berasa untuk bayar bayarnya. Harga menginap tiga juta rupiah permalam adalah sesuatu yang standard banget di Gamla Stan. Bahkan banyak yang jauh lebih mahal. Sementara, pengalaman liburan gue waktu itu cuma di seputaran Asia Tenggara, yang untuk mendapatkan kamar hotel berukuran luas tidak semihil di Stockholm. Emang dodol sih ya,  pake ngebandingin gitu. Ya jelas beda kan. Hahaha.

 

Masih di tahun yang sama, pas kakak dan abang gue berkunjung ke Swedia, kami kembali lagi menginap di hotel Rica. Waktu itu, lokasi hotel yang strategis menjadi alasan utama. Dengan pemikiran, kakak dan abang gue bisa dekat jalan kakinya kemana mana. Kalau capek, bisa langsung jalan kaki lagi balik hotel. Gampang kan.

 

Barulah pada kunjungan berikutnya, hotel Rica mulai mendapat tempat di hati gue. Nancepnya uda berasa tajam. Entah mengapa kok ngangenin. Gue kangen kamarnya yang mirip apartemen tua kayak di film film. Pas ngintip dari jendela langsung berhadapan dengan bangunan tua layaknya dalam cerita Zorro. 

 

Padahal kalau dipikir pikir,  waktu itu suasana Rica hotel lebih remang. Warna warna pun dominan lebih gelap. Tapi justru itu yang bikin rindu. Nuansa klasiknya lebih menonjol.

Apalagi gue sangat menyukai kawasan Gamla Stan. Karena segala cafe kozy dan resto romantis di daerah ini buka hampir larut malam. Jadi kalau menginap di Rica hotel berasa lebih aman dan mudah aja semuanya. Tinggal jalan kaki, dan ga pake lama sudah nyampe kamar hotel. Bukan apa apa, gue agak parnoan naik kereta bawah tanah di malam hari. Naik taxi? tetap aja ada perasaan was was. Belum lagi bayarnya yang bikin pusing. Hahahaha.

IMG_9364

Sampai akhirnya, tepatnya kapan gue kagak tau, Rica hotel berubah nama menjadi hotel Scandic. Menurut suami, Rica hotel available banget diambil alih oleh hotel besar sekelas Scandic. Interiornya memang autentik vintage banget. Jadi wajar dilirik ama Scandic. Karena tamu hotel yang menyukai autentik old style memang tak sedikit.

Tapi persis dan detailnya, kami kurang tau pasti apakah pergantian nama menjadi Scandic hotel ini merupakan akuisisi saham atau hanya jual beli gedung. Sejak berganti nama, kami belum pernah menginap lagi di Rica. Barulah pas kunjungan ke Stockholm beberapa waktu lalu, kami memutuskan untuk mengulang nostalgia. Welcome to Scandic Gamla Stan!  

IMG_8153

IMG_8158
Suka banget di kamar ini. Melihat ini rasanya pengen dihempas manjah ke Stockholm. Ayoooo bang!

Suasana di dalam hotel sudah sedikit berbeda. Terpoles nuansa baru yang agak modern tapi beberapa detail interior lama peninggalan Rica hotel masih  dipertahankan. Jadi nuansa klasiknya masih berasa. Kalau awalnya terkesan remang dan dominan berwarna gelap, sekarang lebih cerah.

IMG_8156

Perubahan ini sepertinya untuk menyesuaikan design interior Scandic  yang kebanyakan mengusung tema modern. Yang gue ga suka, kursi klasik di lobby hotel diganti total. Padahal menurut gue, kursi itu elegan banget. Model dan warna kulitnya mewakili era Art Nouveau. Berwarna merah maron. Gue ingat banget, pertama berdua suami pernah berfoto di depan kursi itu. Tepatnya pas nunggu taxi hendak menonton teather. Masa dimana kami berdua masih imut kece. Tidak membengkak seperti sekarang. Huaaaaaaa.

IMG_8906
Lobby Scandic yang sekarang. Wallpaper juga diganti. Dulunya berwarna hijau

Hasil fotonya terlihat tidak seperti di lobby hotel. Mirip ruang tamu bangsawan gitu. Sampai teman gue pernah mengira itu rumah gue. Bukan hotel. Hahaha.

Ahhh, intinya sih gue lebih suka interior yang sebelumnya. Tapi kalau ditanya, mau menginap lagi ga di Scandic Gamla Stan Stockholm? ya jelas mauuuu? Secara strategis banget lokasinya dan dekat kemana mana. 

IMG_8879.jpg

Untuk harga permalam tergantung seasons. Seperti kunjungan terakhir lalu, berhubung musim panas, permalamnya kami dikenai 2500 sek. Tapi kamarnya lumayan besar. Ya ga besar banget juga sih. Di Eropa mau dapat kamar yang benar benar besar, seukuran kami sih belum sanggup bayar. Incesssssslah mak! Hahaha.

IMG_9366 (1)

Hytte, Penginapan di Norwegia ini Wajib Dicoba

Salah satu yang gue rindukan dari wisata alam di Norwegia adalah penginapannya. Apagi kalau bukan Hytte!

Selain bentuknya yang membuat perasaan menghayal entah ke film film apalah itu, landscape di sekitar Hytte mostly cihuy banget. Hadeh, tak sempatlah mikir berat (Lah liburan ngapai juga mikir berat?)

IMG_6948.jpg
Hytte dengan rumput di atapnya

Di Norwegia, khususnya di wilayah pegunungan dan Fjord, Hytte merajalela banget. Sadisnya ada dimana mana. Mulai di pinggiran fjord, lembah bukit, sampai mendekati kawasan puncak pegunungan pun ada.

IMG_6369 (1).jpg

IMG_6523.jpg
Jatuh cinta dengan kabin kabin Hytte ini. Cantik banget diantara balutan salju di kawasan pegunungan

Itu ya, pas melihat kabin kabin berserak di ketinggian gunung, (kebetulan waktu itu salju masih cinta banget dengan bumi Norwegia meskipun sudah memasuki awal musim panas), sontak gue minta suami berhenti.

IMG_6367

IMG_6366

Entah mengapa gue terperangah banget melihatnya. Oiimak…cakep banget. Serasa di planet mana gitu. Sepi banget kan. Seperti sebuah komplek perumahan suku asing yang terisolasi. Ibarat film the Beach atau Kong, nemu sebuah pulau dengan pemandangan yang cakep tapi magis. Halah!

Tapi beneran. You have to be there to believe it!

Gambar yang ada pun rasanya tak cukup mewakili keindahannya. Harus dilihat langsung. Gue nih, yang notabene sehari hari menyantap tebalnya salju everyday di saat winter, tetap aja loh terhipnotis dengan kumpulan kabin diantara salju itu. Kalau dipaksakan, ya anggap saja gue lagi berada di wilayah semi artic. Halah….(lagi)

IMG_6946

IMG_6952

IMG_6954

Hytte itu bentuknya seperti rumah kayu atau kabin. Uniknya lagi, atap bangunannya kebanyakan ditanami rumput dan bunga.

Sebenarnya di wilayah Eropa lain, penginapan seperti ini juga ada. Berdiri tak jauh dari nature. Dikenal dengan kawasan camp nature. Gue pernah mencoba penginapan seperti ini di Finlandia, Swedia dan Denmark. Yang di Denmark lebih mirip cottage privat gitu deh. Tapi sejauh ini, Hytte di Norwegia jauh lebih yuhui.

IMG_6950

IMG_6945
View dari pintu Hytte. Kece

IMG_6949

Hytte sepertinya menjadi pilihan utama menginap di kawasan nature Norwegia. Bukan alternative kedua. Menurut gue, hotel kalah pamor dilibas oleh Hytte. Sekalipun ukuran sebuah kota, jika masih dekat ke kawasan nature tetap aja hotelnya jauh lebih sedikit dibanding Hytte. Setidaknya inilah yang terlihat  mata gue selama di perjalanan.

IMG_6532.jpg
Bangunan di lereng itu semuanya Hytte. Bukan rumah penduduk loh

IMG_6533.jpg

Bahkan, ada satu kota yang isinya 90 persen Hytte. Nyaris tak terlihat rumah penduduk. Di kota Lom misalnya. Ampun, itu kota cakep banget. Kabinnya berdiri bertingkat di dinding bukit. Warnanya seragam. Coklat!

Dan hotelnya cuma ada satu, selebihnya Hytte semua. Landscapenya lagi lagi bikin hati menggelora.

IMG_6957
Hytte di kota Lom

IMG_6956

Para pebisnis penginapan di Norwegia pun sudah tau banget bagaimana cara memanjakan para tamunya. Jadi pemandangan di sekitar Hytte sepertinya sudah harga mati. Ya harus cakep. Misalnya seperti gambar di bawah ini.

Kawasan Hytte bahkan bisa hanya memiliki 3 atau 5 bangunan saja. Bahkan yang ukurannya kecil banget. Jauh dari pusat kota. Tapi tetap aja laris manis. Sedangkan kawasan penginapan berskala besar, biasanya terdiri dari bangunan hotel dan Hytte. Hotelnya pun berbahan material yang dominan terbuat dari kayu.

IMG_6530
View di sekitar Hytte
IMG_6377
Hytte ini kelihatannya kecil yak. Tapi dalamnya bertingkat loh. 

Ukurannya? ya bervariasi. Ada yang besar maupun kecil. Tapi yang membuat gemes, dari luar penampakannya seperti rumah liliput. Mungil mungil layaknya rumah mainan. Begitu masuk, merasa tertipu. Mereka bisa memaksimalkan semua ruangan agar benar benar berfungsi. Jadi ada kamar, living room/dapur, bahkan toilet. Contoh gambar di bawah ini.

Harga? juga bervariasi. Tergantung daerah/lokasi mapun ukuran dan kelengkapan Hytte juga. Kalau berada di sekitar fjord, sepertinya lebih mahal.

Rata rata sih berkisar 650 Nok (setara 1 juta rupiah untuk konversi IDR saat ini), hingga 1000 Nok (setara 1 juta enamratus ribu rupiah), atau mungkin bisa juga lebih ya. Yang kami coba sih rata rata di harga segitu.

IMG_6346.jpg

Sebagai perbandingan, untuk Hytte seharga 650 Nok, kurang lebih fasilitasnya seperti di bawah ini:

  • Kamar bisa satu dan bisa juga dua.
  • Tempat tidur bertingkat, dan mostly muat untuk satu orang
  • Bantal dan selimut belum dilengkapi sarung. Tapi bisa disewa atau bawa sendiri dari rumah.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave (untuk microwave ga selalu ada)
  • Kulkas
  • Air kran bisa ada dan bisa juga tidak ada. Kalau tidak ada, harus ambil sendiri dari air ledeng utama di sekitar hytte.
  • Toilet di luar.

Sedangkan Hytte dengan harga 900 hingga 1000 Nok, berikut fasilitasnya :

  • Kamar dua.
  • Tempat tidur lebih lebar dan tidak bertingkat
  • Bantal dan selimut ada yang sudah dilengkapi sarung, tapi ada juga yang belum. Jadi semua tergantung kebijakan pengelola penginapannya.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave
  • Kulkas
  • Air kran ada
  • Toilet di di dalam kamar
IMG_6378.jpg
Hytte dengan ruangan dapur sekaligus ruang tv

Tapi fasilitas yang gue sebut di atas sifatnya tidak fix ya. Karena meskipun harganya sama, belum tentu fasilitasnya sama. Tergantung kebijakan pengelola. Seperti yang gue sebut di atas, lokasi juga mempengaruhi tingkat harga dan kelengkapan fasilitas. Di daerah A misalnya, untuk harga 1000 Nok mungkin fasilitasnya sudah sangat lengkap. Tapi belum tentu di daerah B demikian. Seperti itu kira kira.

IMG_6355

Saran gue sih, bawalah piring dan gelas plastik. Jadi ga perlu banyak cucian. Trus kalau mau repot sedikit, siapin aja bahan makanan yang agak tahan lama. Tergantung berapa lama juga sih tripnya. Tapi setidaknya lumayan terbantu untuk beberapa hari kan.

IMG_6937

Misalnya seperti ayam goreng dan rendang agak kering. Nanti tinggal masukin kulkas. Pas makan tinggal masukin microwave atau tinggal panasin. Malah gue bawa beras loh. Masak manual kayak jaman dulu. Kelupaan bawa magiccom. Hahaha.

Tapi yang namanya menginap di Hytte, ya kebanyakan seperti itu. Itulah fungsinya dikasih dapur plus peralatannya. Apalagi di sekitar Hytte biasanya restoran ga banyak. Malah kadang adanya cuma satu, ya restoran dari pemilik penginapan.  Mungkin karena itu tadi, tamu yang menginap kebanyakan bikin/masak sendiri.

IMG_6943

IMG_6942
Bangunan Hytte plus tanaman rumput di atasnya

Ya anggap sajalah lagi main masak masakan di rumah liliput. Tapi ga perlu sampai masak berat juga. Kayak menggoreng atau ngulek sambal. Apalagi goreng ikan asin. Cukuplah tinggal manasin atau masak mie instan.

IMG_6382
Hytte dengan model yang lebih modern. Pas di tepian fjord. Viewnya bisa dilihat di gambar bawah

Selain itu, lumayan menghemat juga. Bukan apa apa, Norwegia itu termasuk salah satu negara dengan biaya yang relatif mahal.

Terkhusus di saat lunch. Seperti kami misalnya, mau ga mau harus makan siang di restoran. Karena di jam segitu pastinya sudah mulai jalan kemana mana kan. Repot kalau makan di mobil. Karena kendaraan yang kami gunakan bukan mobil karavan.

IMG_6399.jpg
Mobil Karavan yang menyewa tempat di kawasan Hytte
IMG_6526.jpg
Ihhh…kawasan ini indah banget. Di sekitar Eidfjord

Untuk makan siang, rata rata perorang dikenakan 175 Nok sampai 200 Nok (setara 300 ribu rupiah). Kita bicara makanan standard ya. Bukan dinner cantik. Misalnya nih, 3 tusuk sate plus nasi segenggam dihargai hampir 300 ribu rupiah. Belum lagi rasa makanan di Norwegia itu pas pasan banget (ini menurut standard lidah gue dan suami ya, bahkan warga di desa gue pun rata rata bilang begitu)

IMG_6398.jpg

IMG_6387
Taman yang asri di sekitar Hytte dan hotel di Aurlandfjord

Jika gue bandingkan dengan harga di Swedia, sebenarnya tidak jauh berbeda. Terkhusus untuk makan malam. Tapi untuk makan siang, di Swedia lumayan terbantu. Karena sebagian besar restoran menggunakan sistem all you can eat dengan harga yang relatif ramah di kantong.

IMG_6392
Kawasan penginapan di Aurlandfjord

Hanya berkisar antara 90 hingga 110 Sek, sudah bisa makan sepuasnya including coffee dan cookies. Kalau beruntung, bisa nemu restoran yang menyediakan desserts sederhana. Tapi memang biasanya dilimit dari pukul 11 pagi hingga pukul 2 siang. Lewat dari situ harga melambung dua kali lipat bahkan lebih.

IMG_6531
Kawasan penginapan di Aurlandfjord. Kece yak!

Untuk dinner, harga di Norwegia dan Swedia ga jauh beda, masing masing memiliki harga yang kurang ramah di kantong. Bedanya, rasa makanan di Norwegia sekalipun sekelas hotel, tetap ajalah mak, kok di mulut ga berasa nikmat apa apa. Flat banget rasanya. Tapi selera lidah setiap orang ga sama sih. Jangan digeneralisasi.

IMG_6386
Hotel di kawasan penginapan Aurlandfjord
IMG_6388
Ruangan sarapan. Interior shabby vintagenya gue suka.
IMG_6389
Look at this! Barang antik yang menghiasi lobby hotel.

Nah, agar memblenya ga doble, mending sebisa mungkin dihemat kan. Kalau setiap hari harus menghabiskan uang sebanyak satu juta tigaratus ribu rupiah hanya untuk urusan makan, selama gue bisa bawa rendang dan ayam kenapa ga? Hahahha.

Lain cerita kalau ga bisa ya. Mau ga mau ya dinikmati aja meskipun mahal. Intinya sih semua sesuai kondisi. Namanya juga liburan toh.

IMG_6354

Kalau mau menginap di hotel pun bisa. Kami juga pernah mencoba penginapan hotel. Tepatnya di kawasan Aurland. Hotel di kawasan nature Norwegia juga asik. Suasananya homey banget. Karena materialnya berbahan kayu juga. Interiornya mengusung tema shabby vintage. IMG_6936

Tak hanya landscape, model bangunan di sekitarnya pun bikin gemes. Warna putihnya sukaak! Mirip rumah di majalah home design gitu. Pengen gue cabutin trus pindahin ke halaman sebelah rumah. Hahaha.

Kebayang kan, buka jendela langsung melihat gunung. Belum lagi aliran air fjordnya yang super tenang. Rasanya ga pengen pulang. Rekomen banget tempatnya. Untuk harga hotel berkisar 1400 Nok atau setara dua juta duaratus ribu rupiah. Bisa lihat gambar di bawah ini.

Ke Norwegia, pokoknya kudu nyobain Hytte deh.  Berkesempatan merasakan liburan ala ala serial Heidy. Banyak gunung, lembah hijau bahkan domba pun ada. Heaven.

IMG_6529
Hotel di kawasan Eidfjord. Hotel ini besar tapi karena berbahan kayu jadi cakep banget

Salam dari

 

Dalarna, Swedia.

“Semua photo adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”

IFA DUNAMAR HOTEL

Rasa rasanya kalau berlibur ke tempat wisata yang dekat dengan laut, memilih penginapan yang lokasinya dekat pantai menjadi kemauan. Kalau bisa lebih ngelunjak, viewnya sih menghadap laut. Setidaknya inilah yang gue dan suami lakukan sebelum memilih hotel yang kami mau.

Setelah membaca review, seperti lokasi hotel yang dekat banget ke pinggiran pantai dan centrum Playa Del Ingles, view kamar yang menghadap laut, tamu hotel yang kebanyakan datang tanpa anak anak (sampai ada note begitu loh, free dari ramainya anak anak), dan ada discountnya pula, akhirnya kami memutuskan untuk memilih IFA DUNAMAR sebagai hotel tempat kami menginap. Lokasi hotel berada di Playa Del Ingles, pusat wisata pantai di kota Maspalomas.

 

IMG_9348 (1).jpg

IMG_9350.jpg

Sempat ada kekhawatiran, hotelnya semenarik di websitenyakah, atau malah beda jauh. Ternyata tidak mengecewakan. Tampak luar, bangunan hotel memang lumayan mencolok dibanding hotel di sekitarnya.

IMG_9349

IMG_9347

Gue bilang mencolok bukan karena terlihat megah (malah menurut gue terkesan kusam warnanya), melainkan arsitek bangunannya lumayan lucu. Seperti barisan anak tangga gitu. Dan lumayan tinggi juga. Sehingga mudah melihat tubuh hotel ini dari pantai. Bahkan gue ga menyangka kalau hotel Dunamar menjadi salah satu iconic di kartu pos sekitar wisata Playa Del Ingles. 

IMG_9377.jpg
Dunamar dari sebuah sudut kota
IMG_9379.jpg
Tampak depan

IMG_9381.jpg

Di bagian tertentu, hotel Dunamar terlihat mewah. Memiliki lobby yang luas dilengkapi barisan lampu kristal dan pilar besar. Juga dinding kaca bernuansa putih di sepanjang koridor pintu masuk, tiang pilar bergaya semi klasik, hingga restoran luas yang berfungsi sebagai ruangan dinner dan breakfast.

IMG_9415.jpg

Tapi di sisi lain, beberapa bagian gedung terlihat sangat sederhana. Contohnya seperti lorong masuk ke kamar hotel, serta interior kamarnya pun terkesan biasa. Hanya saja ruangan kamar lumayan luas. Lemari pakaian besar. Laci laci di lemari banyak. Sangat cukup menampung pakaian agar tidak berantakan. Gantungan bajunya juga banyak.

Untuk toilet kamar, menurut gue sih lumayan besar. Printilan perlengkapan mandinya pun lengkap. Selain itu, kulkas dan safety box juga ada. Cuma untuk safety box harus bayar lagi. Demikian juga dengan layanan internet di ruang kamar,  harus bayar lagi. Relatif murah sih menurut gue. Only 2 Euro perhari. Tapi ya itu, lemott sangat. Aduhhh sampai tak terkatakan. Ga cuma dikamar, di lobby hotel juga.

Cuma pas gue nanya ke bagian receptionist, mereka bilang sekiranya dalam beberapa hari ke depan masih lemot, tagihan internet di kamar kami tidak dikenakan charge. Ehhh, beneran loh. Pas check out mereka ga masukin ke dalam tagihan. Padahal gue uda ikhlas meskipun tiap hari membatin dengan keleletan internet nya.

IMG_9404.jpg
View dari lantai sekian hotel
IMG_9342
View hotel dari salah satu sudut bangunan Dunamar

Satu hal yang paling gue suka dari hotel Dunamar ini adalah view dari segala penjuru hotel yang Cihuiii.

Dari balkon kamar, koridor hotel, depan bar, semuanya okeh. Bahkan gue bisa menikmati keseluruhan landscape Playa Del Ingles dari rooftop hotel. Uniknya lagi, di rooftop disediakan bangku untuk selonjoran dan berjemur. Trus ada fasilitas shower dan sauna juga.

IMG_9357.jpg
Rooftop salah satu bangunan hotel
IMG_9362
Ini di rooftopnya. Lengkap sauna dan shower
IMG_9361
View dari rooftop
IMG_9359
View dari rooftop

Swimming poolnya juga lebih dari satu. Dan beneran loh. Nyaris gue tak melihat anak kecil di hotel ini. Mostly orang dewasa dan lansia gitu. Pensiunan yang tinggal menikmati hidup. Sampai sampai kolam renangnya dijagain ama satu orang penjaga, kalau kalau ada trouble pas berenang. Maklum, yang renang uda pada berumur gitu. Tapi untuk kolam renang yang lain, lebih campur baur. Berumur 30 tahun lebih gitulah. Dan jauh lebih luas juga kolamnya.

IMG_9341
Depan restoran dan bar. Bisa duduk santai menghadap laut atau juga bisa berenang
IMG_9401
Spot favorite
IMG_9353
View dari sini kece

Untuk bar, coffee shop dan restorannya juga bagus. Nyaman. Dan viewnya okeh semua. Ada yang langsung menghadap laut. Mungkin karena arsitek hotel dibangun dengan permukaan yang bertangga gitu, jadi buat duduk santai, melihat view menjelang sore menjelang malam pun makin yuhui. Pokoknya dua hari sebelum pulang, kami sengaja menghabiskan waktu hanya di hotel dan di sekitar pantai.

IMG_9400.jpg
Setiap anak tangga selalu melewati view seperti ini
IMG_9405.jpg
Sukaak!

Hiburan hotelnya pun ada. Live musik dan dancing. Bisa melihat dan menikmati tarian Flamengo yang dibawakan oleh penari dan pemain musik profesional.

Untuk menu makanan, Dunamar hotel juga melimpah ruah. Buanyak banget. Awalnya sih kami sempat ditawarkan untuk mengambil paket makan malam selama menginap di hotel. Tapi kami pikir pikir buat apa. Namanya liburan, pengen dong mencoba makanan di tempat yang berbeda. Selain itu kurang bebas juga kan. Semisal lagi jalan di luar, mau ga mau harus balik hotel karena urusan makan. Akhirnya fix kami tolak.

IMG_9406.jpg
Restoranya luas
IMG_9408.jpg
Breakfast dan dinner di sini tempatnya

Tapi tiga hari sebelum pulang, kami malah berubah pikiran. Alasannya karena kami sudah ada bayangan, bakal ga kemana mana lagi. Paling hanya di sekitar Playa Del Ingles. Dan juga, dibanding hanya sekali, harga pun jauh lebih murah kalau mengambil paket sekaligus 3 hari berturut turut. Ya trik bisnislah itu.

Yang paling gue suka sih printilan dessert dan appetizernya. Banyak banget dan menarik semua penampilannya. Kalau rasa sih standardlah. Maksudnya enak tapi ga sampai uuueeenak banget. Trus Yogurthnya banyak macam dan rasa. Potongan buahnya juga montok montok dan segar.

IMG_9380.jpg
Lobby hotel yang luas
he
Tinggal pilih mau duduk manis dimana. Haha
h
View dari lobby yang supper ketjehhh!
IMG_9372
View dari lobby. Cihuiii!

Dan kelebihan lain hotel ini, lokasinya yang pas banget berhadapan dengan shopping center Anexo II. Selain sebagai pusat belanja, Anexo II dan sekitarnya sekaligus menjadi tempat turis menikmati berbagai menu makanan di restoran, cafe dan bar yang berbaris di sepanjang kawasan pinggir pantai. Sudah bisa bayanginlah ya.

Ohya, satu lagi, kalau mau massage, pedi manicure hingga belanja, Dunamar juga memiliki fasilitas spa dan butik. Butiknya juga relatif murah dan bagus.

IMG_9382
Tangga disamping hotel menuju pantai
IMG_9390
Hotel dari kawasan Anexo II

Trus kalau mau jalan jalan santai, tinggal beberapa langkah aja dari hotel. Bisa natap natap manjah dari ketinggian melihat pantai dan aktivitas di sekitar pantai juga. Mau sok mesra mesra sambil nunggu sunset juga bolehlah. Jalanannya apik.

Review hotel ini murni pendapat gue, tidak ada kandungan endorse apalagi penyedap rasa di dalamnya. Hahahahaha.

IMG_9421.jpg
View dari koridor kamar hotel
IMG_9360.JPG
View dari balkon kamar
IMG_9402.jpg
Salah satu kolam renang tepat di bawah balkon kamar

Lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah untuk melihat interior hotel dan view dari hotel. 

Salam ajheris.

“Semua foto merupakan dokumen pribadi ajheris.com”

Detik Detik Horor di Hotel Gammelgården

Masih berhubungan dengan cerita weekend di kawasan pegunungan Sälen, Dalarna. Kali ini, gue akan bercerita tentang sebuah hotel dan sedikit kejadian magis yang gue rasakan, di sebuah hotel tempat gue dan suami menginap. Biasanya, kalau hotel yang kami kunjungi mampu menarik perhatian, pasti gue tulis di blog. 

Sebenarnya, Sälen hanya berjarak satu setengah jam dengan mengendarai mobil dari desa gue.  Jadi tidak jauh. Malah suami gue sendiri pun, sehari harinya bekerja tidak jauh dari kawasan ini. So, kenapa harus menginap di Sälen? Seperti kurang kerjaan saja kan.

Manalagi, penginapan di Sälen bisa dibilang tidak murah (buat kami berdua tentunya), karena kawasan ini dikenal sebagai tempat wisata “musim dingin” paling hits di Dalarna. Turisnya bejibun, terkhusus di bulan bulan Januari hingga Maret (musim bermain ski). 

Cuma entah mengapa, suami gue lagi kambuh genitnya. Dia pengen menginap satu malam di Sälen. Idenya muncul ketika kami berkeinginan hendak bermain kereta seluncur anjing atau Dog Sled dan menghabiskan makan malam di Lammet & Grisen, sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari lokasi tempat kami menginap. Agar tidak repot bolak balik, dan bisa beristirahat juga sehabis bermain Dog Sled, suami pun memutuskan stay one night di Sälen. Ya sudalah, hitung hitung quality time berdua. Secara sudah lama juga ga liburan…upss pacaran maksudnya…ehhh upss lagi. Hahaha.

img_0604

IMG_0622.JPG

Hotel tempat kami menginap bernama GAMMELGÅRDEN. Sebelumnya, jika kami berkunjung ke Sälen dan melewati Gammelgården, gue suka bilang ke suami, “bagus ya hotelnya”. Bahkan suami pernah menghentikan mobil, agar gue bisa motoin bangunannya. Warna hitam wooden housenya, berpadu dengan warna putih merah di bagian jendela. Kontras sekali. Ga tau kenapa, gue suka aja ngelihatnya.

Seperti biasa, gue itu cuek banget urusan booking hotel dan tetek bengeknya. Gue pasti percayakan ke suami semua. Pemalas banget memang. Jangan ditiru deh. Gue mending disuruh masak daripada harus booking membooking.

Dan ga disangka sangka, modal cuma bilang suka dengan hotelnya, suami langsung ingat dan malah membooking penginapan di hotel Gammelgården.  Kesannya kok seperti cerita ala ala princes ya. Fiuhhh…sok banget kedengarannya. But its true, kalau boong, tar  oppung marah😛

Next time, harus sering kasih kode nih, tinggal bilang suka ini suka itu, kali aja suami ingat. *isteri ga becus. Dicela orang orang yang langsung cepat menyalah artikan candaan 😤

Singkat cerita, kami tiba di hotel. Sebenarnya, ini bukan kali pertama gue menginap di hotel bernuansa Vintage. Apalagi hotel hotel di Swedia dan Eropa, lumayan banyak yang menggunakan konsep interior tempoe doloe.

Namun keantikan Gammelgården sungguh di luar perkiraan gue. Ga nyangka sampai seakut itu. Ketika gue memasuki lobby hotel, gue melihat pemandangan yang berbeda dengan bangunan luarnya. Agak agak spooky👻

IMG_0654.JPG

FullSizeRender (41).jpg

FullSizeRender (47).jpg

Sebelumnya, gue sudah dapat bocoran dari suami, kira kira seberapa besar biaya menginap permalam yang dikenakan pihak hotel. Awalnya gue bisa memaklumi. Karena seperti yang gue bilang, antara bulan Januari hingga Maret, harga hotel di Sälen pasti melambung.

Dan begitu memasuki lobby hotel, gue disambut dengan sebuah penampakan layaknya sebuah gudang. Namun meskipun begitu, semakin diperhatikan nilai seni dari barang barang antiknya all out banget. Menjadi unik karena tidak seperti hotel kebanyakan yang memiliki lobby hotel yang luas, cahaya lampu dan lantai marmer yang mengkilat.

Sebaliknya, Gammelgården justru sangat percaya diri dengan tampilan lobby yang sempit, minim sinar lampu dan lebih menonjolkan candle light. Dan dinding kayunya itu loh, sengaja dipertahankan sesuai umurnya.

Yang namanya ceret antik, panci, lampu, buku, tempat lilin sampai hewan, semua berjejer rapat di dinding lobby hotel. Perapiannya juga sudah keliatan uzur banget. Gilanya lagi, ayunan bayi tua pun ada. Maksudnya apa coba, bikin ayunan bayi segala 🙄 Sampai gue malas motoinnya. Seperti barang barang di film Friday the 13th. Berikut di bawah ini, beberapa photo yang berhasil gue jepret.

fullsizerender-43
Beberapa buku tua sengaja disusun di atas perapian yang sudah kotor banget. Plus lentera lilin yang sudah ratusan tahun umurnya. 

Sebenarnya bukan hal yang aneh, jika hotel hotel di Dalarna, sangat percaya diri dan bangga menonjolkan interior vintage. Karena semakin antik, nilai jualnya semakin tinggi. Setidaknya untuk pangsa pasar yang menggilai nuansa jadul. Dan bukan tidak banyak orang Swedia yang menyukainya.

Bahkan di sebagian besar wilayah negara Eropa, nuansa vintage menjadi sebuah prestise yang ditawarkan pihak hotel. Mereka bangga jika mampu menampilkan koleksi  barang antiknya. Seperti Gammelgården ini misalnya, sampai kesurupan majangin semua perkakas spookynya itu.

fullsizerender-40

fullsizerender-42
Bandingkan dengan lobby hotel kebanyakan. Jauh dari kesan kinclong. 

Untuk restorannya pun, Gammelgården tetap mempertahankan konsep old style. Bedanya, terlihat lebih fresh dibanding lobby utama hotel. Dan lebih luas juga. Dominasi kayu sangat jelas terlihat. Penataannya lebih elegan.

Oh iya, Untuk kualitas makanan dan sarapannya, gue akui memang enak.

img_0618

img_0610

img_0611

img_0593

img_0615

Bagaimana dengan kamarnya? Huaaaaaaaaa…lega!

Interior kamar bergaya klasik modern. Kesan pertama sih jauh dari aroma spooky. Toiletnya juga cerah ceria. Lengkap dengan printilan botol kecil berisi shampo, handbody, dll.

Di dalam kamar juga tersedia pemanas air, bubuk kopi dan milk. Secara keseluruhan no problemlah. But………………………………..mulai deh masuk ke cerita di bawah!

IMG_0626.JPG

IMG_0625.JPG

Sungguh gue tidak menyangka, justru di kamar yang nyaman inilah, malah gue merasakan sebuah kejadian aneh nan magis. Menjelang tengah malam pula. Ngok..ngok…!

Jadi ceritanya, after dinner, gue dan suami balik hotel sekitar pukul 10 malam. Sampai hotel kami masih nonton teve. Ngobrol sebentar.

Singkat cerita, suami gue tidur dan seperti biasa, gue masih terlena dengan kamera. Tiba tiba, gue mendengar suara sendok seperti mengaduk minuman. Suaranya sangat jelas. Tapi anehnya, gue bisa ga peduli.

Gue konsen banget dengan kamera  di tangan. Dan bodohnya lagi, gue mikir kalau yang ngaduk itu tangan suami gue. Kok bisa bisanya gue punya pikiran seperti itu, jelas jelas gue tau kalau suami lagi tidur. Sepertinya pikiran gue sengaja dialihkan. Tapi gue ga takut. Beneran! Gue belum merasakan hal yang aneh saat itu.

Dan, entah mengapa, tiba tiba perut gue mules. Gue langsung ke toilet. Tapi kok gue susah pup. Tidak lama berselang, eh…gue mendengar lagi suara sendok tadi. Dan lagi lagi gue masih aja ga ngeh. Ahh…paling kamar sebelah. Tapi suaranya kok jelas banget. Sampai yang ketiga kali, barulah semacam tersadar, tepatnya seperti ada yang menyadarkan.

Dan …..tek! tiba tiba gue merinding disko dong. Tiba tiba banget.

Dan sontak ketakutan. Rasanya kepala gue gede banget. Konon kata orang dulu, kalau merasa kepala kita tiba tiba gede, berarti……huaaaaaa!

Ih, gue merasa dia ada di toilet deh. Kayanya sengaja menggiring gue ke toilet. Jahil banget kan. Nulis sambil merinding kalau ingat itu.

Dan refleks gue teriak memanggil suami. Dan suami gue dong, lama banget menjawab. Bayangin aja, sangkin takutnya, gue bukannya kabur dari toilet. Seperti terbodoh. Begitu gue panggil lagi, barulah suami nongol dengan muka kebingungan. Dia pikir ada apa kok sampai gue suruh ke toilet.  Gue cerita dong. Dan bisa ditebaklah. Kaga percaya dia.

Dia bilang, paling dari kamar sebelah. Dan memang, tadinya gue pun sempat mikir gitu kan. Tapi apa iya, orang ngaduk minuman sampai tiga kali gitu? dengan rentang waktu yang berbeda pula. Lagian kalau dari kamar sebelah, pasti beda dong suaranya. Ini jelas banget, walaupun terkesan sekelibat. Ngerti kan maksud gue. *Nanya sambil gigi gemeter.

Dan You Know What? begitu keluar dari toilet, tiba tiba suami gue bilang “ahhhhh…aku lupa minum kopiku. Kok bisa ya” Dan suami pun meminum kopinya sambil bilang, ahh udah dingin. Ga enak!

Dan barulah gue ingat, sewaktu kami tiba di kamar hotel, suami memang langsung menyeduh kopi. Tapi gue benar benar ga tau, sudah diminum apa ga. Akhirnya gue jadi mikir macam macam deh.

Jangan jangan “si dia” mau ngingetin, supaya kopi itu di minum? Dan memang agak aneh sih, karena gue tau banget kalau suami nyeduh kopi, pasti langsung diminum. Tapi kali ini dia bisa kelupaan. Pokoknya gue makin macem macemlah mikirnya.

Sebenarnya, gue termasuk orang yang tidak gampang percaya dengan mistik. Tapi kalau dengar cerita hantu suka takut juga. Hahahaha. Apalagi seperti kejadian di hotel ini, ngalami langsung pulak. Jelas aja kebawa suasana.

Tapi lucunya setelah kejadian itu, gue bukannya susah tidur. Malah blass ngorok ampe pagi. Semakin mikirlah gue, maybe si dia hanya mencoba mengingatkan supaya kopi  di gelas segera diminum. Jadi bukan iseng gangguin. Mending mikir baik baik aja daripada kepikiran terus kan.

Atau jangan jangan gue mengalami cerita seperti di film horor yak. Kebanyakan melihat barang antik di lobby hotel, trus gue diikuti sampai kamar. Hahahhaha….mulai ngayal lebay!

Jadi konon, bangunan lobby hotel Gammelgården memang benar benar minta ampun tueknya. Dibangun pada tahun 1600 an. Bayangkan saja umurnya sudah 400 tahun. Makanya diberi nama Gammelgården (Gammel=tua).

Awalnya, bangunan ini berada di sebuah kota bernama Malung. Lalu oleh pemilik hotel dibeli dan dipindahkan ke kawasan Sälen, untuk difungsikan sebagai lobby hotel dan restoran Gammelgården..

Hotel Gammelgården sendiri, menjadi salah satu hotel terkenal di Sälen, dengan biaya kamar hampir menyamai harga hotel di daerah Gamla Stan Stockholm. Meskipun mengenakan biaya yang tidak murah, sekitar 2800 Sek atau setara 4 juta rupiah lebih permalamnya (tergantung seasons), hotel ini selalu penuh pengunjung.

Hotel yang mengusung perpaduan interior kasik, vintage, kozy dan modern. Plus ada si “dia” lagi. Kurang apa coba. Hahaha.

img_0621
Tulisan di dinding yang menjelaskan jika bangunan lobby hotel dibangun sekitar tahun 1600 an. Kemudian pada tahun 1945, dipindahkan dari kota Malung ke area hotel Gammelgården di Sälen
img_0605
Gammelgården memiliki beberapa bangunan terpisah. Dan ini adalah bangunan tua yang berfungsi sebagai gedung receptionis, lobby hotel dan restoran itu 

 

img_0603
Bangunan hotel Gammelgården di bagian paling depan

So, dengan biaya 4 juta rupiah lebih  permalam, ada yang tertarik ingin mencoba bermalam di hotel ini? Psssstt…..coba lihat! Ada siapa di sebelahmu. Hihihi.

 See you in my next story

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi ajheris .com

Makan Malam di Åkerblads Tällberg

Seperti janji gue sebelumnya kali ini gue akan bercerita tentang sebuah hotel bernama Åkerblads, salah satu dari sekian hotel besar yang ada di Tällberg. Tällberg sendiri merupakan kawasan wisata yang terkenal memiliki banyak penginapan vintage.

Kunjungan gue dan suami ke Åkerblads sebenarnya bukan untuk bermalam melainkan ingin menikmati makan malam cantik. Cieeee.

Jadi ceritanya tanggal 26 Juli yang lalu kami merayakan anniversary yang kedua. Perayaan standardlah. Pengen dinner berdua. Dan pilihan pun jatuh ke hotel Åkerblads.

“Dont judge a book by its cover”, setidaknya kalimat ini sangat tepat untuk menyadarkan gue, bahwa yang terlihat di luar dan di dalam itu bisa berbeda. Sekilas Åkerblads memang terlihat relatif sederhana. Padahal satu langkah lagi hotel ini bisa menambah koleksi deretan bintang lima di dindingnya. Bahkan raja Swedia pun pernah singgah di hotel yang terkenal dengan fine diningnya ini.

img_8812
Hotel Åkerblads. Terlihat sederhana untuk ukuran hotel berbintang
IMG_8497.JPG
Bangunan hotel paling ujung
IMG_8498.JPG
Masih dari salah satu bagian hotel Åkerblads
IMG_8496.JPG
Masih dari salah satu bagian Åkerblads

Namun dibalik kesederhanaan bangunan luarnya, hotel ini menyimpan daya tarik lain. Khususnya pecinta bangunan dan barang antik, apalagi yang punya hobby photography. Rasanya pengen motoin semua props di sekitar hotel. Mulai dari bangunan kayu berwarna merah, gerobak antik berisi bunga bunga berwarna purple, pagar kayu yang sangat rustic, bangku dan meja bergaya shabby vintage, sampai halaman hotel yang diberi selipan nuansa farmer. Fotogenik banget.

IMG_8494.JPG
Gerobak retro plus bunganya
IMG_8530.JPG
Meja dan kursi di luar hotel
IMG_8521.JPG
Halaman Åkerblads.  Adem

Åkerblads sendiri memiliki bangunan yang sangat panjang. Sehingga wajar hotel ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap layaknya hotel di kota besar. Seperti ruangan spa, restoran fine dining, sampai conference room.

img_8528
Åkerblads berikut pagar rustic

Sewaktu gue masuk ke lobby hotel, gue sempat mikir, kok lobbynya sempit banget. Uda gitu kesannya seperti losmen. Dan puncaknya adalah, ketika kaki melewati tangga hotel. Menurut gue sungguh terlalu. Ada suaranya. Berdenyit…..Ngik!  Hahahhaha.

img_8502
Lobby hotel yang sangat sederhana. Menurut gue tentunya. Padahal menurut suami yang mengerti  barang antik, justru interior lobby ini luar biasa.  Retro yang availabel kata dia. Hahahahha
IMG_8814.JPG
Tangga yang kalau diinjek berdenyit….Ngik!

Barulah setelah sampai di lantai dua, gue merasa sedikit ada yang berbeda. Entah apanya. Pokoknya auranya lebih enak dilihat. Padahal dinding hotel tetep terlihat tua.

img_8503
Lantai dua  sekitar restoran di hotel Åkerblads. Gue lebih suka

Sebelum masuk ke ruangan restoran, kami harus menunggu sebentar. Sedikit mengantri dari tiga pasangan di depan kami. Tidak lama sih. Cuma menunggu pegawai restoran memeriksa daftar nama nama yang sudah mereservasi meja aja. Dan setelah oke, kami pun dipersilahkan masuk.

img_8516
Ruangan fine dining
img_8511
Table

Begitu masuk, gue ga perlu waktu lama untuk langsung terpana dengan interior restoran. Rasanya kalau melihat bangunan dari luarnya, ditambah lobby hotel yang nyaris seperti losmen itu, ga nyangka aja kalau restoran di hotel Åkerblads memiliki interior ruangan seperti ini. Klasik dan elegan. Dan bernuansa romantis tentunya. Cahaya remang lampu diantara meja yang tertutup balutan bahan berwarna hijau pastel, berikut gelas, sendok dan garpu serta serbet yang di tata sedemikian. Lagi lagi standard restoran untuk sebuah fine dininglah. Cuma yang membedakannya, sempat terkecoh dengan bangunan luarnya. Dan jujur, gue memang paling suka memperhatikan interior seperti ini.

img_8513
Ruangan fine dining

Konon katanya, hotel Åkerblads adalah salah satu hotel besar di Tällberg yang memang terkenal dengan restorannya yang oke. Dan memang terbukti sih. Tidak hanya menawan di interior, makanannya pun enak. Bicara soal makanan, selalu deh kalau makan di restoran sekelas ini, beef steaknya minim sauce. Atau kalau emak gue bilang kuah kali ya. Hahahaha

img_8515
Table
img_8508
Appetizer
img_8510
Appetizer

Ya memang sih, idealnya daging dengan kualitas bagus tidak dimakan dengan sauce yang banyak, biar citra rasa asli daging lebih berasa. Tapi namanya gue, setengah udik, jadi kalao sauce tidak tumpah ruah di piring kurang puas. Kebiasan di rumah kalau masak sendiri ya gitu. Langsung main tumpahin. Hahaha

img_8509
Main food

Sehabis fine dining, kami pun berniat menilik hotel ini. Ternyata semakin gue lihat, Åkerblads memiliki style tersendiri untuk menampilkan kesan klasik yang elegan di setiap sudut ruangnya. Kalau kata suami, gue belum paham banget nilai nilai barang antik dan interiornya, jadi terkesan tidak ada yang istimewa. Contohnya seperti lobby hotel yang gue bilang mirip losmen berikut tangga yang berdenyit tadilah. Tapi menurut suami, malah interior seperti itu memperlihatkan keunggulan hotelnya. Memiliki barang antik yang available.  Nilai jualnya justru di situ. Haiiiyaaaaa.

img_8505
Foto keluarga besar pemilik Åkerblads. Sudah generasi kesekian.

Dan semakin percayalah gue, ketika melihat beberapa piagam yang bergantungan di dinding hotel. Ternyata Akerblads sudah banyak menerima penghargaan sebagai hotel terbaik.

img_8504
Piagam penghargaan yang pernah diterima hotel Åkerblads

Namun dibalik itu semua, apapun itu, gue tetap senang bisa menikmati makan malam yang indah berdua suami di tempat ini. Tack så jätte mycket min älskling!!

IMG_8495.JPG
Suka banget lihat dekornya
img_8501
Åkerblads
img_8522
Halaman Åkerblads
img_8526
Bagian belakang hotel
IMG_8527.JPG
Bangkunya pengen minta diangkut deh

IMG_8524.JPG