Hytte, Penginapan di Norwegia ini Wajib Dicoba

Salah satu yang gue rindukan dari wisata alam di Norwegia adalah penginapannya. Apagi kalau bukan Hytte!

Selain bentuknya yang membuat perasaan menghayal entah ke film film apalah itu, landscape di sekitar Hytte mostly cihuy banget. Hadeh, tak sempatlah mikir berat (Lah liburan ngapai juga mikir berat?)

 

IMG_6948.jpg
Hytte dengan rumput di atapnya

Di Norwegia, khususnya di wilayah pegunungan dan Fjord, Hytte merajalela banget. Sadisnya ada dimana mana. Mulai di pinggiran fjord, lembah bukit, sampai mendekati kawasan puncak pegunungan pun ada.

IMG_6369 (1).jpg

IMG_6523.jpg
Jatuh cinta dengan kabin kabin Hytte ini. Cantik banget diantara balutan salju di kawasan pegunungan

Itu ya, pas melihat kabin kabin berserak di ketinggian gunung, (kebetulan waktu itu salju masih cinta banget dengan bumi Norwegia meskipun sudah memasuki awal musim panas), sontak gue minta suami berhenti.

IMG_6367

IMG_6366

Entah mengapa gue terperangah banget melihatnya. Oiimak…cakep banget. Serasa di planet mana gitu. Sepi banget kan. Seperti sebuah komplek perumahan suku asing yang terisolasi. Ibarat film the Beach atau Kong, nemu sebuah pulau dengan pemandangan yang cakep tapi magis. Halah!

Tapi beneran. You have to be there to believe it!

Gambar yang ada pun rasanya tak cukup mewakili keindahannya. Harus dilihat langsung. Gue nih, yang notabene sehari hari menyantap tebalnya salju everyday di saat winter, tetap aja loh terhipnotis dengan kumpulan kabin diantara salju itu. Kalau dipaksakan, ya anggap saja gue lagi berada di wilayah semi artic. Halah….(lagi)

IMG_6946

IMG_6952

IMG_6954

Hytte itu bentuknya seperti rumah kayu atau kabin. Uniknya lagi, atap bangunannya kebanyakan ditanami rumput dan bunga.

Sebenarnya di wilayah Eropa lain, penginapan seperti ini juga ada. Berdiri tak jauh dari nature. Dikenal dengan kawasan camp nature. Gue pernah mencoba penginapan seperti ini di Finlandia, Swedia dan Denmark. Yang di Denmark lebih mirip cottage privat gitu deh. Tapi sejauh ini, Hytte di Norwegia jauh lebih yuhui.

IMG_6950

IMG_6945
View dari pintu Hytte. Kece

IMG_6949

Hytte sepertinya menjadi pilihan utama menginap di kawasan nature Norwegia. Bukan alternative kedua. Menurut gue, hotel kalah pamor dilibas oleh Hytte. Sekalipun ukuran sebuah kota, jika masih dekat ke kawasan nature tetap aja hotelnya jauh lebih sedikit dibanding Hytte. Setidaknya inilah yang terlihat  mata gue selama di perjalanan.

IMG_6532.jpg
Bangunan di lereng itu semuanya Hytte. Bukan rumah penduduk loh

IMG_6533.jpg

Bahkan, ada satu kota yang isinya 90 persen Hytte. Nyaris tak terlihat rumah penduduk. Di kota Lom misalnya. Ampun, itu kota cakep banget. Kabinnya berdiri bertingkat di dinding bukit. Warnanya seragam. Coklat!

Dan hotelnya cuma ada satu, selebihnya Hytte semua. Landscapenya lagi lagi bikin hati menggelora.

IMG_6957
Hytte di kota Lom

IMG_6956

Para pebisnis penginapan di Norwegia pun sudah tau banget bagaimana cara memanjakan para tamunya. Jadi pemandangan di sekitar Hytte sepertinya sudah harga mati. Ya harus cakep. Misalnya seperti gambar di bawah ini.

 

Kawasan Hytte bahkan bisa hanya memiliki 3 atau 5 bangunan saja. Bahkan yang ukurannya kecil banget. Jauh dari pusat kota. Tapi tetap aja laris manis. Sedangkan kawasan penginapan berskala besar, biasanya terdiri dari bangunan hotel dan Hytte. Hotelnya pun berbahan material yang dominan terbuat dari kayu.

IMG_6530
View di sekitar Hytte
IMG_6377
Hytte ini kelihatannya kecil yak. Tapi dalamnya bertingkat loh. 

Ukurannya? ya bervariasi. Ada yang besar maupun kecil. Tapi yang membuat gemes, dari luar penampakannya seperti rumah liliput. Mungil mungil layaknya rumah mainan. Begitu masuk, merasa tertipu. Mereka bisa memaksimalkan semua ruangan agar benar benar berfungsi. Jadi ada kamar, living room/dapur, bahkan toilet. Contoh gambar di bawah ini.

Harga? juga bervariasi. Tergantung daerah/lokasi mapun ukuran dan kelengkapan Hytte juga. Kalau berada di sekitar fjord, sepertinya lebih mahal.

Rata rata sih berkisar 650 Nok (setara 1 juta rupiah untuk konversi IDR saat ini), hingga 1000 Nok (setara 1 juta enamratus ribu rupiah), atau mungkin bisa juga lebih ya. Yang kami coba sih rata rata di harga segitu.

IMG_6346.jpg

Sebagai perbandingan, untuk Hytte seharga 650 Nok, kurang lebih fasilitasnya seperti di bawah ini:

  • Kamar bisa satu dan bisa juga dua.
  • Tempat tidur bertingkat, dan mostly muat untuk satu orang
  • Bantal dan selimut belum dilengkapi sarung. Tapi bisa disewa atau bawa sendiri dari rumah.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave (untuk microwave ga selalu ada)
  • Kulkas
  • Air kran bisa ada dan bisa juga tidak ada. Kalau tidak ada, harus ambil sendiri dari air ledeng utama di sekitar hytte.
  • Toilet di luar.

Sedangkan Hytte dengan harga 900 hingga 1000 Nok, berikut fasilitasnya :

  • Kamar dua.
  • Tempat tidur lebih lebar dan tidak bertingkat
  • Bantal dan selimut ada yang sudah dilengkapi sarung, tapi ada juga yang belum. Jadi semua tergantung kebijakan pengelola penginapannya.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave
  • Kulkas
  • Air kran ada
  • Toilet di di dalam kamar
IMG_6378.jpg
Hytte dengan ruangan dapur sekaligus ruang tv

Tapi fasilitas yang gue sebut di atas sifatnya tidak fix ya. Karena meskipun harganya sama, belum tentu fasilitasnya sama. Tergantung kebijakan pengelola. Seperti yang gue sebut di atas, lokasi juga mempengaruhi tingkat harga dan kelengkapan fasilitas. Di daerah A misalnya, untuk harga 1000 Nok mungkin fasilitasnya sudah sangat lengkap. Tapi belum tentu di daerah B demikian. Seperti itu kira kira.

IMG_6355

Saran gue sih, bawalah piring dan gelas plastik. Jadi ga perlu banyak cucian. Trus kalau mau repot sedikit, siapin aja bahan makanan yang agak tahan lama. Tergantung berapa lama juga sih tripnya. Tapi setidaknya lumayan terbantu untuk beberapa hari kan.

IMG_6937

Misalnya seperti ayam goreng dan rendang agak kering. Nanti tinggal masukin kulkas. Pas makan tinggal masukin microwave atau tinggal panasin. Malah gue bawa beras loh. Masak manual kayak jaman dulu. Kelupaan bawa magiccom. Hahaha.

Tapi yang namanya menginap di Hytte, ya kebanyakan seperti itu. Itulah fungsinya dikasih dapur plus peralatannya. Apalagi di sekitar Hytte biasanya restoran ga banyak. Malah kadang adanya cuma satu, ya restoran dari pemilik penginapan.  Mungkin karena itu tadi, tamu yang menginap kebanyakan bikin/masak sendiri.

IMG_6943

IMG_6942
Bangunan Hytte plus tanaman rumput di atasnya

Ya anggap sajalah lagi main masak masakan di rumah liliput. Tapi ga perlu sampai masak berat juga. Kayak menggoreng atau ngulek sambal. Apalagi goreng ikan asin. Cukuplah tinggal manasin atau masak mie instan.

IMG_6382
Hytte dengan model yang lebih modern. Pas di tepian fjord. Viewnya bisa dilihat di gambar bawah

Selain itu, lumayan menghemat juga. Bukan apa apa, Norwegia itu termasuk salah satu negara dengan biaya yang relatif mahal.

Terkhusus di saat lunch. Seperti kami misalnya, mau ga mau harus makan siang di restoran. Karena di jam segitu pastinya sudah mulai jalan kemana mana kan. Repot kalau makan di mobil. Karena kendaraan yang kami gunakan bukan mobil karavan.

IMG_6399.jpg
Mobil Karavan yang menyewa tempat di kawasan Hytte
IMG_6526.jpg
Ihhh…kawasan ini indah banget. Di sekitar Eidfjord

Untuk makan siang, rata rata perorang dikenakan 175 Nok sampai 200 Nok (setara 300 ribu rupiah). Kita bicara makanan standard ya. Bukan dinner cantik. Misalnya nih, 3 tusuk sate plus nasi segenggam dihargai hampir 300 ribu rupiah. Belum lagi rasa makanan di Norwegia itu pas pasan banget (ini menurut standard lidah gue dan suami ya, bahkan warga di desa gue pun rata rata bilang begitu)

IMG_6398.jpg

IMG_6387
Taman yang asri di sekitar Hytte dan hotel di Aurlandfjord

Jika gue bandingkan dengan harga di Swedia, sebenarnya tidak jauh berbeda. Terkhusus untuk makan malam. Tapi untuk makan siang, di Swedia lumayan terbantu. Karena sebagian besar restoran menggunakan sistem all you can eat dengan harga yang relatif ramah di kantong.

IMG_6392
Kawasan penginapan di Aurlandfjord

Hanya berkisar antara 90 hingga 110 Sek, sudah bisa makan sepuasnya including coffee dan cookies. Kalau beruntung, bisa nemu restoran yang menyediakan desserts sederhana. Tapi memang biasanya dilimit dari pukul 11 pagi hingga pukul 2 siang. Lewat dari situ harga melambung dua kali lipat bahkan lebih.

IMG_6531
Kawasan penginapan di Aurlandfjord. Kece yak!

Untuk dinner, harga di Norwegia dan Swedia ga jauh beda, masing masing memiliki harga yang kurang ramah di kantong. Bedanya, rasa makanan di Norwegia sekalipun sekelas hotel, tetap ajalah mak, kok di mulut ga berasa nikmat apa apa. Flat banget rasanya. Tapi selera lidah setiap orang ga sama sih. Jangan digeneralisasi.

IMG_6386
Hotel di kawasan penginapan Aurlandfjord
IMG_6388
Ruangan sarapan. Interior shabby vintagenya gue suka.
IMG_6389
Look at this! Barang antik yang menghiasi lobby hotel.

Nah, agar memblenya ga doble, mending sebisa mungkin dihemat kan. Kalau setiap hari harus menghabiskan uang sebanyak satu juta tigaratus ribu rupiah hanya untuk urusan makan, selama gue bisa bawa rendang dan ayam kenapa ga? Hahahha.

Lain cerita kalau ga bisa ya. Mau ga mau ya dinikmati aja meskipun mahal. Intinya sih semua sesuai kondisi. Namanya juga liburan toh.

IMG_6354

Kalau mau menginap di hotel pun bisa. Kami juga pernah mencoba penginapan hotel. Tepatnya di kawasan Aurland. Hotel di kawasan nature Norwegia juga asik. Suasananya homey banget. Karena materialnya berbahan kayu juga. Interiornya mengusung tema shabby vintage. IMG_6936

Tak hanya landscape, model bangunan di sekitarnya pun bikin gemes. Warna putihnya sukaak! Mirip rumah di majalah home design gitu. Pengen gue cabutin trus pindahin ke halaman sebelah rumah. Hahaha.

Kebayang kan, buka jendela langsung melihat gunung. Belum lagi aliran air fjordnya yang super tenang. Rasanya ga pengen pulang. Rekomen banget tempatnya. Untuk harga hotel berkisar 1400 Nok atau setara dua juta duaratus ribu rupiah. Bisa lihat gambar di bawah ini.

Ke Norwegia, pokoknya kudu nyobain Hytte deh.  Berkesempatan merasakan liburan ala ala serial Heidy. Banyak gunung, lembah hijau bahkan domba pun ada. Heaven.

IMG_6529
Hotel di kawasan Eidfjord. Hotel ini besar tapi karena berbahan kayu jadi cakep banget

Lebih jelasnya, bisa lihat video di bawah aja ya.

Salam dari

Dalarna, Swedia.

“Semua photo adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”

IFA DUNAMAR HOTEL

Rasa rasanya kalau berlibur ke tempat wisata yang dekat dengan laut, memilih penginapan yang lokasinya dekat pantai menjadi kemauan. Kalau bisa lebih ngelunjak, viewnya sih menghadap laut. Setidaknya inilah yang gue dan suami lakukan sebelum memilih hotel yang kami mau.

Setelah membaca review, seperti lokasi hotel yang dekat banget ke pinggiran pantai dan centrum Playa Del Ingles, view kamar yang menghadap laut, tamu hotel yang kebanyakan datang tanpa anak anak (sampai ada note begitu loh, free dari ramainya anak anak), dan ada discountnya pula, akhirnya kami memutuskan untuk memilih IFA DUNAMAR sebagai hotel tempat kami menginap. Lokasi hotel berada di Playa Del Ingles, pusat wisata pantai di kota Maspalomas.

 

IMG_9348 (1).jpg

IMG_9350.jpg

Sempat ada kekhawatiran, hotelnya semenarik di websitenyakah, atau malah beda jauh. Ternyata tidak mengecewakan. Tampak luar, bangunan hotel memang lumayan mencolok dibanding hotel di sekitarnya.

IMG_9349

IMG_9347

Gue bilang mencolok bukan karena terlihat megah (malah menurut gue terkesan kusam warnanya), melainkan arsitek bangunannya lumayan lucu. Seperti barisan anak tangga gitu. Dan lumayan tinggi juga. Sehingga mudah melihat tubuh hotel ini dari pantai. Bahkan gue ga menyangka kalau hotel Dunamar menjadi salah satu iconic di kartu pos sekitar wisata Playa Del Ingles. 

IMG_9377.jpg
Dunamar dari sebuah sudut kota
IMG_9379.jpg
Tampak depan

IMG_9381.jpg

Di bagian tertentu, hotel Dunamar terlihat mewah. Memiliki lobby yang luas dilengkapi barisan lampu kristal dan pilar besar. Juga dinding kaca bernuansa putih di sepanjang koridor pintu masuk, tiang pilar bergaya semi klasik, hingga restoran luas yang berfungsi sebagai ruangan dinner dan breakfast.

IMG_9415.jpg

Tapi di sisi lain, beberapa bagian gedung terlihat sangat sederhana. Contohnya seperti lorong masuk ke kamar hotel, serta interior kamarnya pun terkesan biasa. Hanya saja ruangan kamar lumayan luas. Lemari pakaian besar. Laci laci di lemari banyak. Sangat cukup menampung pakaian agar tidak berantakan. Gantungan bajunya juga banyak.

Untuk toilet kamar, menurut gue sih lumayan besar. Printilan perlengkapan mandinya pun lengkap. Selain itu, kulkas dan safety box juga ada. Cuma untuk safety box harus bayar lagi. Demikian juga dengan layanan internet di ruang kamar,  harus bayar lagi. Relatif murah sih menurut gue. Only 2 Euro perhari. Tapi ya itu, lemott sangat. Aduhhh sampai tak terkatakan. Ga cuma dikamar, di lobby hotel juga.

Cuma pas gue nanya ke bagian receptionist, mereka bilang sekiranya dalam beberapa hari ke depan masih lemot, tagihan internet di kamar kami tidak dikenakan charge. Ehhh, beneran loh. Pas check out mereka ga masukin ke dalam tagihan. Padahal gue uda ikhlas meskipun tiap hari membatin dengan keleletan internet nya.

IMG_9404.jpg
View dari lantai sekian hotel
IMG_9342
View hotel dari salah satu sudut bangunan Dunamar

Satu hal yang paling gue suka dari hotel Dunamar ini adalah view dari segala penjuru hotel yang Cihuiii.

Dari balkon kamar, koridor hotel, depan bar, semuanya okeh. Bahkan gue bisa menikmati keseluruhan landscape Playa Del Ingles dari rooftop hotel. Uniknya lagi, di rooftop disediakan bangku untuk selonjoran dan berjemur. Trus ada fasilitas shower dan sauna juga.

IMG_9357.jpg
Rooftop salah satu bangunan hotel
IMG_9362
Ini di rooftopnya. Lengkap sauna dan shower
IMG_9361
View dari rooftop
IMG_9359
View dari rooftop

Swimming poolnya juga lebih dari satu. Dan beneran loh. Nyaris gue tak melihat anak kecil di hotel ini. Mostly orang dewasa dan lansia gitu. Pensiunan yang tinggal menikmati hidup. Sampai sampai kolam renangnya dijagain ama satu orang penjaga, kalau kalau ada trouble pas berenang. Maklum, yang renang uda pada berumur gitu. Tapi untuk kolam renang yang lain, lebih campur baur. Berumur 30 tahun lebih gitulah. Dan jauh lebih luas juga kolamnya.

IMG_9341
Depan restoran dan bar. Bisa duduk santai menghadap laut atau juga bisa berenang
IMG_9401
Spot favorite
IMG_9353
View dari sini kece

Untuk bar, coffee shop dan restorannya juga bagus. Nyaman. Dan viewnya okeh semua. Ada yang langsung menghadap laut. Mungkin karena arsitek hotel dibangun dengan permukaan yang bertangga gitu, jadi buat duduk santai, melihat view menjelang sore menjelang malam pun makin yuhui. Pokoknya dua hari sebelum pulang, kami sengaja menghabiskan waktu hanya di hotel dan di sekitar pantai.

IMG_9400.jpg
Setiap anak tangga selalu melewati view seperti ini
IMG_9405.jpg
Sukaak!

Hiburan hotelnya pun ada. Live musik dan dancing. Bisa melihat dan menikmati tarian Flamengo yang dibawakan oleh penari dan pemain musik profesional.

Untuk menu makanan, Dunamar hotel juga melimpah ruah. Buanyak banget. Awalnya sih kami sempat ditawarkan untuk mengambil paket makan malam selama menginap di hotel. Tapi kami pikir pikir buat apa. Namanya liburan, pengen dong mencoba makanan di tempat yang berbeda. Selain itu kurang bebas juga kan. Semisal lagi jalan di luar, mau ga mau harus balik hotel karena urusan makan. Akhirnya fix kami tolak.

IMG_9406.jpg
Restoranya luas
IMG_9408.jpg
Breakfast dan dinner di sini tempatnya

Tapi tiga hari sebelum pulang, kami malah berubah pikiran. Alasannya karena kami sudah ada bayangan, bakal ga kemana mana lagi. Paling hanya di sekitar Playa Del Ingles. Dan juga, dibanding hanya sekali, harga pun jauh lebih murah kalau mengambil paket sekaligus 3 hari berturut turut. Ya trik bisnislah itu.

Yang paling gue suka sih printilan dessert dan appetizernya. Banyak banget dan menarik semua penampilannya. Kalau rasa sih standardlah. Maksudnya enak tapi ga sampai uuueeenak banget. Trus Yogurthnya banyak macam dan rasa. Potongan buahnya juga montok montok dan segar.

IMG_9380.jpg
Lobby hotel yang luas
he
Tinggal pilih mau duduk manis dimana. Haha
h
View dari lobby yang supper ketjehhh!
IMG_9372
View dari lobby. Cihuiii!

Dan kelebihan lain hotel ini, lokasinya yang pas banget berhadapan dengan shopping center Anexo II. Selain sebagai pusat belanja, Anexo II dan sekitarnya sekaligus menjadi tempat turis menikmati berbagai menu makanan di restoran, cafe dan bar yang berbaris di sepanjang kawasan pinggir pantai. Sudah bisa bayanginlah ya.

Ohya, satu lagi, kalau mau massage, pedi manicure hingga belanja, Dunamar juga memiliki fasilitas spa dan butik. Butiknya juga relatif murah dan bagus.

IMG_9382
Tangga disamping hotel menuju pantai
IMG_9390
Hotel dari kawasan Anexo II

Trus kalau mau jalan jalan santai, tinggal beberapa langkah aja dari hotel. Bisa natap natap manjah dari ketinggian melihat pantai dan aktivitas di sekitar pantai juga. Mau sok mesra mesra sambil nunggu sunset juga bolehlah. Jalanannya apik.

Review hotel ini murni pendapat gue, tidak ada kandungan endorse apalagi penyedap rasa di dalamnya. Hahahahaha.

IMG_9421.jpg
View dari koridor kamar hotel
IMG_9360.JPG
View dari balkon kamar
IMG_9402.jpg
Salah satu kolam renang tepat di bawah balkon kamar

Lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah untuk melihat interior hotel dan view dari hotel. 

Salam ajheris.

“Semua foto merupakan dokumen pribadi ajheris.com”

Detik Detik Horor di Hotel Gammelgården

Masih berhubungan dengan cerita weekend di kawasan pegunungan Sälen, Dalarna. Kali ini, gue akan bercerita tentang sebuah hotel dan sedikit kejadian magis yang gue rasakan, di sebuah hotel tempat gue dan suami menginap. Biasanya, kalau hotel yang kami kunjungi mampu menarik perhatian, pasti gue tulis di blog. 

Sebenarnya, Sälen hanya berjarak satu setengah jam dengan mengendarai mobil dari desa gue.  Jadi tidak jauh. Malah suami gue sendiri pun, sehari harinya bekerja tidak jauh dari kawasan ini. So, kenapa harus menginap di Sälen? Seperti kurang kerjaan saja kan.

Manalagi, penginapan di Sälen bisa dibilang tidak murah (buat kami berdua tentunya), karena kawasan ini dikenal sebagai tempat wisata “musim dingin” paling hits di Dalarna. Turisnya bejibun, terkhusus di bulan bulan Januari hingga Maret (musim bermain ski). 

Cuma entah mengapa, suami gue lagi kambuh genitnya. Dia pengen menginap satu malam di Sälen. Idenya muncul ketika kami berkeinginan hendak bermain kereta seluncur anjing atau Dog Sled dan menghabiskan makan malam di Lammet & Grisen, sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari lokasi tempat kami menginap. Agar tidak repot bolak balik, dan bisa beristirahat juga sehabis bermain Dog Sled, suami pun memutuskan stay one night di Sälen. Ya sudalah, hitung hitung quality time berdua. Secara sudah lama juga ga liburan…upss pacaran maksudnya…ehhh upss lagi. Hahaha.

img_0604

IMG_0622.JPG

Hotel tempat kami menginap bernama GAMMELGÅRDEN. Sebelumnya, jika kami berkunjung ke Sälen dan melewati Gammelgården, gue suka bilang ke suami, “bagus ya hotelnya”. Bahkan suami pernah menghentikan mobil, agar gue bisa motoin bangunannya. Warna hitam wooden housenya, berpadu dengan warna putih merah di bagian jendela. Kontras sekali. Ga tau kenapa, gue suka aja ngelihatnya.

Seperti biasa, gue itu cuek banget urusan booking hotel dan tetek bengeknya. Gue pasti percayakan ke suami semua. Pemalas banget memang. Jangan ditiru deh. Gue mending disuruh masak daripada harus booking membooking.

Dan ga disangka sangka, modal cuma bilang suka dengan hotelnya, suami langsung ingat dan malah membooking penginapan di hotel Gammelgården.  Kesannya kok seperti cerita ala ala princes ya. Fiuhhh…sok banget kedengarannya. But its true, kalau boong, tar  oppung marah😛

Next time, harus sering kasih kode nih, tinggal bilang suka ini suka itu, kali aja suami ingat. *isteri ga becus. Dicela orang orang yang langsung cepat menyalah artikan candaan 😤

Singkat cerita, kami tiba di hotel. Sebenarnya, ini bukan kali pertama gue menginap di hotel bernuansa Vintage. Apalagi hotel hotel di Swedia dan Eropa, lumayan banyak yang menggunakan konsep interior tempoe doloe.

Namun keantikan Gammelgården sungguh di luar perkiraan gue. Ga nyangka sampai seakut itu. Ketika gue memasuki lobby hotel, gue melihat pemandangan yang berbeda dengan bangunan luarnya. Agak agak spooky👻

IMG_0654.JPG

FullSizeRender (41).jpg

FullSizeRender (47).jpg

Sebelumnya, gue sudah dapat bocoran dari suami, kira kira seberapa besar biaya menginap permalam yang dikenakan pihak hotel. Awalnya gue bisa memaklumi. Karena seperti yang gue bilang, antara bulan Januari hingga Maret, harga hotel di Sälen pasti melambung.

Dan begitu memasuki lobby hotel, gue disambut dengan sebuah penampakan layaknya sebuah gudang. Namun meskipun begitu, semakin diperhatikan nilai seni dari barang barang antiknya all out banget. Menjadi unik karena tidak seperti hotel kebanyakan yang memiliki lobby hotel yang luas, cahaya lampu dan lantai marmer yang mengkilat.

Sebaliknya, Gammelgården justru sangat percaya diri dengan tampilan lobby yang sempit, minim sinar lampu dan lebih menonjolkan candle light. Dan dinding kayunya itu loh, sengaja dipertahankan sesuai umurnya.

Yang namanya ceret antik, panci, lampu, buku, tempat lilin sampai hewan, semua berjejer rapat di dinding lobby hotel. Perapiannya juga sudah keliatan uzur banget. Gilanya lagi, ayunan bayi tua pun ada. Maksudnya apa coba, bikin ayunan bayi segala 🙄 Sampai gue malas motoinnya. Seperti barang barang di film Friday the 13th. Berikut di bawah ini, beberapa photo yang berhasil gue jepret.

fullsizerender-43
Beberapa buku tua sengaja disusun di atas perapian yang sudah kotor banget. Plus lentera lilin yang sudah ratusan tahun umurnya. 

Sebenarnya bukan hal yang aneh, jika hotel hotel di Dalarna, sangat percaya diri dan bangga menonjolkan interior vintage. Karena semakin antik, nilai jualnya semakin tinggi. Setidaknya untuk pangsa pasar yang menggilai nuansa jadul. Dan bukan tidak banyak orang Swedia yang menyukainya.

Bahkan di sebagian besar wilayah negara Eropa, nuansa vintage menjadi sebuah prestise yang ditawarkan pihak hotel. Mereka bangga jika mampu menampilkan koleksi  barang antiknya. Seperti Gammelgården ini misalnya, sampai kesurupan majangin semua perkakas spookynya itu.

fullsizerender-40

fullsizerender-42
Bandingkan dengan lobby hotel kebanyakan. Jauh dari kesan kinclong. 

Untuk restorannya pun, Gammelgården tetap mempertahankan konsep old style. Bedanya, terlihat lebih fresh dibanding lobby utama hotel. Dan lebih luas juga. Dominasi kayu sangat jelas terlihat. Penataannya lebih elegan.

Oh iya, Untuk kualitas makanan dan sarapannya, gue akui memang enak.

img_0618

img_0610

img_0611

img_0593

img_0615

Bagaimana dengan kamarnya? Huaaaaaaaaa…lega!

Interior kamar bergaya klasik modern. Kesan pertama sih jauh dari aroma spooky. Toiletnya juga cerah ceria. Lengkap dengan printilan botol kecil berisi shampo, handbody, dll.

Di dalam kamar juga tersedia pemanas air, bubuk kopi dan milk. Secara keseluruhan no problemlah. But………………………………..mulai deh masuk ke cerita di bawah!

IMG_0626.JPG

IMG_0625.JPG

Sungguh gue tidak menyangka, justru di kamar yang nyaman inilah, malah gue merasakan sebuah kejadian aneh nan magis. Menjelang tengah malam pula. Ngok..ngok…!

Jadi ceritanya, after dinner, gue dan suami balik hotel sekitar pukul 10 malam. Sampai hotel kami masih nonton teve. Ngobrol sebentar.

Singkat cerita, suami gue tidur dan seperti biasa, gue masih terlena dengan kamera. Tiba tiba, gue mendengar suara sendok seperti mengaduk minuman. Suaranya sangat jelas. Tapi anehnya, gue bisa ga peduli.

Gue konsen banget dengan kamera  di tangan. Dan bodohnya lagi, gue mikir kalau yang ngaduk itu tangan suami gue. Kok bisa bisanya gue punya pikiran seperti itu, jelas jelas gue tau kalau suami lagi tidur. Sepertinya pikiran gue sengaja dialihkan. Tapi gue ga takut. Beneran! Gue belum merasakan hal yang aneh saat itu.

Dan, entah mengapa, tiba tiba perut gue mules. Gue langsung ke toilet. Tapi kok gue susah pup. Tidak lama berselang, eh…gue mendengar lagi suara sendok tadi. Dan lagi lagi gue masih aja ga ngeh. Ahh…paling kamar sebelah. Tapi suaranya kok jelas banget. Sampai yang ketiga kali, barulah semacam tersadar, tepatnya seperti ada yang menyadarkan.

Dan …..tek! tiba tiba gue merinding disko dong. Tiba tiba banget.

Dan sontak ketakutan. Rasanya kepala gue gede banget. Konon kata orang dulu, kalau merasa kepala kita tiba tiba gede, berarti……huaaaaaa!

Ih, gue merasa dia ada di toilet deh. Kayanya sengaja menggiring gue ke toilet. Jahil banget kan. Nulis sambil merinding kalau ingat itu.

Dan refleks gue teriak memanggil suami. Dan suami gue dong, lama banget menjawab. Bayangin aja, sangkin takutnya, gue bukannya kabur dari toilet. Seperti terbodoh. Begitu gue panggil lagi, barulah suami nongol dengan muka kebingungan. Dia pikir ada apa kok sampai gue suruh ke toilet.  Gue cerita dong. Dan bisa ditebaklah. Kaga percaya dia.

Dia bilang, paling dari kamar sebelah. Dan memang, tadinya gue pun sempat mikir gitu kan. Tapi apa iya, orang ngaduk minuman sampai tiga kali gitu? dengan rentang waktu yang berbeda pula. Lagian kalau dari kamar sebelah, pasti beda dong suaranya. Ini jelas banget, walaupun terkesan sekelibat. Ngerti kan maksud gue. *Nanya sambil gigi gemeter.

Dan You Know What? begitu keluar dari toilet, tiba tiba suami gue bilang “ahhhhh…aku lupa minum kopiku. Kok bisa ya” Dan suami pun meminum kopinya sambil bilang, ahh udah dingin. Ga enak!

Dan barulah gue ingat, sewaktu kami tiba di kamar hotel, suami memang langsung menyeduh kopi. Tapi gue benar benar ga tau, sudah diminum apa ga. Akhirnya gue jadi mikir macam macam deh.

Jangan jangan “si dia” mau ngingetin, supaya kopi itu di minum? Dan memang agak aneh sih, karena gue tau banget kalau suami nyeduh kopi, pasti langsung diminum. Tapi kali ini dia bisa kelupaan. Pokoknya gue makin macem macemlah mikirnya.

Sebenarnya, gue termasuk orang yang tidak gampang percaya dengan mistik. Tapi kalau dengar cerita hantu suka takut juga. Hahahaha. Apalagi seperti kejadian di hotel ini, ngalami langsung pulak. Jelas aja kebawa suasana.

Tapi lucunya setelah kejadian itu, gue bukannya susah tidur. Malah blass ngorok ampe pagi. Semakin mikirlah gue, maybe si dia hanya mencoba mengingatkan supaya kopi  di gelas segera diminum. Jadi bukan iseng gangguin. Mending mikir baik baik aja daripada kepikiran terus kan.

Atau jangan jangan gue mengalami cerita seperti di film horor yak. Kebanyakan melihat barang antik di lobby hotel, trus gue diikuti sampai kamar. Hahahhaha….mulai ngayal lebay!

Jadi konon, bangunan lobby hotel Gammelgården memang benar benar minta ampun tueknya. Dibangun pada tahun 1600 an. Bayangkan saja umurnya sudah 400 tahun. Makanya diberi nama Gammelgården (Gammel=tua).

Awalnya, bangunan ini berada di sebuah kota bernama Malung. Lalu oleh pemilik hotel dibeli dan dipindahkan ke kawasan Sälen, untuk difungsikan sebagai lobby hotel dan restoran Gammelgården..

Hotel Gammelgården sendiri, menjadi salah satu hotel terkenal di Sälen, dengan biaya kamar hampir menyamai harga hotel di daerah Gamla Stan Stockholm. Meskipun mengenakan biaya yang tidak murah, sekitar 2800 Sek atau setara 4 juta rupiah lebih permalamnya (tergantung seasons), hotel ini selalu penuh pengunjung.

Hotel yang mengusung perpaduan interior kasik, vintage, kozy dan modern. Plus ada si “dia” lagi. Kurang apa coba. Hahaha.

img_0621
Tulisan di dinding yang menjelaskan jika bangunan lobby hotel dibangun sekitar tahun 1600 an. Kemudian pada tahun 1945, dipindahkan dari kota Malung ke area hotel Gammelgården di Sälen
img_0605
Gammelgården memiliki beberapa bangunan terpisah. Dan ini adalah bangunan tua yang berfungsi sebagai gedung receptionis, lobby hotel dan restoran itu 

 

img_0603
Bangunan hotel Gammelgården di bagian paling depan

So, dengan biaya 4 juta rupiah lebih  permalam, ada yang tertarik ingin mencoba bermalam di hotel ini? Psssstt…..coba lihat! Ada siapa di sebelahmu. Hihihi.

 See you in my next story

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi ajheris .com

Makan Malam di Åkerblads Tällberg

Seperti janji gue sebelumnya, di tulisan kali ini, gue akan bercerita tentang sebuah hotel bernama Åkerblads, salah satu dari sekian hotel besar yang ada di Tällberg. Tällberg sendiri merupakan kawasan wisata yang terkenal memiliki banyak penginapan vintage. BISA BACA di SINI 

Kunjungan kami (gue dan suami) ke Åkerblads sebenarnya bukan untuk bermalam, melainkan ingin menikmati makan malam cantik. Cieeee.

Jadi ceritanya, tanggal 26 Juli yang lalu, kami merayakan anniversary yang kedua. Perayaan standardlah, pengen dinner berdua. Dan pilihan pun jatuh ke hotel Åkerblads.

“Dont judge a book by its cover”, setidaknya kalimat ini sangat tepat untuk menyadarkan gue, bahwa yang terlihat di luar dan di dalam itu bisa berbeda. Sekilas Åkerblads memang terlihat relatif sederhana. Padahal satu langkah lagi, hotel ini bisa menambah koleksi deretan bintang lima di dindingnya. Bahkan raja Swedia pun pernah singgah di hotel yang terkenal dengan fine diningnya ini.

img_8812
Hotel Åkerblads, terlihat sederhana kan untuk ukuran hotel berbintang empat
IMG_8497.JPG
Bangunan hotel paling ujung
IMG_8498.JPG
Masih dari salah satu bagian hotel Åkerblads
IMG_8496.JPG
Masih dari salah satu bagian Åkerblads

Namun dibalik kesederhanaan bangunan luarnya, hotel ini menyimpan daya tarik lain. Khususnya pecinta bangunan dan barang antik, apalagi yang punya hobby photography. Rasanya pengen motoin semua props di sekitar hotel. Mulai dari bangunan kayu berwarna merah, gerobak antik berisi bunga bunga berwarna purple, pagar kayu yang sangat rustic, bangku dan meja bergaya shabby vintage, sampai halaman hotel yang diberi selipan nuansa farmer. Photogenic banget.

IMG_8494.JPG
Gerobak retro plus bunganya
IMG_8530.JPG
Meja dan kursi di luar hotel
IMG_8521.JPG
Halaman Åkerblads.  Adem

Åkerblads sendiri memiliki bangunan yang sangat panjang. Sehingga wajar hotel ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap layaknya hotel di kota besar. Seperti ruangan spa, restoran fine dining, sampai conference room.

img_8528
Åkerblads berikut pagar rustic

Sewaktu gue masuk ke lobby hotel, gue sempat mikir, kok lobbynya sempit banget. Uda gitu kesannya seperti losmen. Dan puncaknya adalah, ketika kaki melewati tangga hotel. Menurut gue sungguh terlalu. Ada suaranya. Berdenyit…..Ngik!  Hahahhaha.

img_8502
Lobby hotel yang sangat sederhana. Menurut gue tentunya. Padahal menurut suami yang mengerti  barang antik, justru interior lobby ini luar biasa.  Retro yang availabel kata dia. Hahahahha
IMG_8814.JPG
Tangga yang kalau diinjek berdenyit….Ngik!

Barulah setelah sampai di lantai dua, gue merasa sedikit ada yang berbeda. Entah apanya. Pokoknya auranya lebih enak dilihat. Padahal dinding hotel tetep terlihat tua.

img_8503
Lantai dua  sekitar restoran di hotel Åkerblads. Gue lebih suka

Sebelum masuk ke ruangan restoran, kami harus menunggu sebentar. Sedikit mengantri dari tiga pasangan di depan kami. Tidak lama sih. Cuma menunggu pegawai restoran memeriksa daftar nama nama yang sudah mereservasi meja aja. Dan setelah oke, kami pun dipersilahkan masuk.

img_8516
Ruangan fine dining
img_8511
Table

Begitu masuk, gue ga perlu waktu lama untuk langsung terpana dengan interior restoran. Rasanya kalau melihat bangunan dari luarnya, ditambah lobby hotel yang nyaris seperti losmen itu, ga nyangka aja kalau restoran di hotel Åkerblads memiliki interior ruangan seperti ini. Klasik dan elegan. Dan bernuansa romantis tentunya. Cahaya remang lampu diantara meja yang tertutup balutan bahan berwarna hijau pastel, berikut gelas, sendok dan garpu serta serbet yang di tata sedemikian. Lagi lagi standard restoran untuk sebuah fine dininglah. Cuma yang membedakannya, sempat terkecoh dengan bangunan luarnya. Dan jujur, gue memang paling suka memperhatikan interior seperti ini.

img_8513
Ruangan fine dining

Konon katanya, hotel Åkerblads adalah salah satu hotel besar di Tällberg yang memang terkenal dengan restorannya yang oke. Dan memang terbukti sih. Tidak hanya menawan di interior, makanannya pun enak. Bicara soal makanan, selalu deh kalau makan di restoran sekelas ini, beef steaknya minim sauce. Atau kalau emak gue bilang kuah kali ya. Hahahaha

img_8515
Table
img_8508
Appetizer
img_8510
Appetizer

Ya memang sih, idealnya daging dengan kualitas bagus tidak dimakan dengan sauce yang banyak, biar citra rasa asli daging lebih berasa. Tapi namanya gue, setengah udik, jadi kalao sauce tidak tumpah ruah di piring kurang puas. Kebiasan di rumah kalau masak sendiri ya gitu. Langsung main tumpahin. Hahaha

img_8509
Main food

Sehabis fine dining, kami pun berniat menilik hotel ini. Ternyata semakin gue lihat, Åkerblads memiliki style tersendiri untuk menampilkan kesan klasik yang elegan di setiap sudut ruangnya. Kalau kata suami, gue belum paham banget nilai nilai barang antik dan interiornya, jadi terkesan tidak ada yang istimewa. Contohnya seperti lobby hotel yang gue bilang mirip losmen berikut tangga yang berdenyit tadilah. Tapi menurut suami, malah interior seperti itu memperlihatkan keunggulan hotelnya. Memiliki barang antik yang available.  Nilai jualnya justru di situ. Haiiiyaaaaa.

img_8505
Foto keluarga besar pemilik Åkerblads. Sudah generasi kesekian.

Dan semakin percayalah gue, ketika melihat beberapa piagam yang bergantungan di dinding hotel. Ternyata Akerblads sudah banyak menerima penghargaan sebagai hotel terbaik.

img_8504
Piagam penghargaan yang pernah diterima hotel Åkerblads

Namun dibalik itu semua, apapun itu, gue tetap senang bisa menikmati makan malam yang indah berdua suami di tempat ini. Tack så jätte mycket min älskling!!

IMG_8495.JPG
Suka banget lihat dekornya
img_8501
Åkerblads
img_8522
Halaman Åkerblads
img_8526
Bagian belakang hotel
IMG_8527.JPG
Bangkunya pengen minta diangkut deh

IMG_8524.JPG

 

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

 

 

See you in my next story

BERMALAM di LÅNGHOLMEN. TIDUR di PENJARA?

Ada yang sudah pernah tidur di penjara ? Atau setidaknya masuk ke dalam penjara deh.

Kalau gue…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

SUDAH PERNAH….!!  

Rasanya? ………………….Excited!!………………. Hahaha.

Kok bisa? bisa dong. Kalian juga bisa kok. Pastinya bisa tidur di penjara bukan karena gue seorang kriminal. Melainkan karena kami (gue dan suami), menginap di sebuah hotel bernama LÅNGHOLMEN.  Tepatnya hotel bekas penjara! Ketika penjara berubah menjadi sebuah hotel, maka inilah yang bisa gue ceritakan.

Sebelum mengalami metamorfosis, Långholmen awalnya merupakan sebuah bangunan penjara tua yang dibangun pada tahun 1880. Karena dianggap sudah tidak layak pakai, akhirnya ditutup pada tahun 1975. Di masa itu, Långholmen menjadi penjara terbesar di Swedia dengan kapasitas ruangan mencapai 500 cells. Berlokasi di sebuah pulau kecil bernama pulau Långholmen,  tak jauh dari kawasan Södermalm, Stockholm, Swedia.

img_6725

Yang membedakan Långholmen dengan hotel lainnya adalah, selain sebagai tempat menginap, hotel ini juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi para tamunya. Bagaimana tidak, sebagian besar interior bangunan dan barang barang yang melengkapi hotel masih berkiblat kepada bangunan dan pernak pernik penjara sebelumnya. Mulai dari pintu dan ruangan lobby hotel, lorong sel hingga ruangan di dalam selnya sendiri. Tidak terlalu banyak dirubah.

Bahkan jeruji besi sepertinya sengaja dibuat di beberapa sudut ruangan untuk memberi kesan agar suasana penjaranya makin kelihatan. Namun meskipun begitu, Långholmen memberi sentuhan lain dengan memberi warna ruangan yang lebih cerah dan fresh. Jadi tidak terlihat suram. Setidaknya itulah yang gue rasakan ketika memasuki Långholmen. Bersih!

Ketika berjalan menuju ruangan sel, kami melewati sebuah lorong panjang dengan barisan pintu pintu sel yang unik. Sungguh sebuah pemandangan yang jauh dari pintu pintu hotel kebanyakan. Tapi jujur, tanpa disadari lumayan terbawa suasana. Karena lorongnya sepi kan. Gue berjalan sambil ngebayangin dulunya para narapidana pun berjalan ke arah sel yang sama seperti yang kami lakukan. Itu rasanya gimana ya. GOKIL! Hahaha.

img_7133
Salah satu gedung Långholmen
img_7131
Pintu hotel yang aslinya sudah kelihatan tua. Namun ketika kaki mulai melangkah masuk, otomatis terbuka. Di situ kadang gue merasa sedikit horor, terutama di saat hari mulai gelap. Hahahaha

Apalagi pas membuka pintu sel, huaaaa serasa masuk sel penjara beneran. Dan begitu masuk, hupppsssss! Beneran seperti ruangan penjara. Sempit! Terdiri dari tempat tidur tingkat, meja kecil dan sebuah kursi. Tapi space untuk berjalan uda ga bebas. Mentok banget. Untuk kamar mandinya bisa dibilang standardlah. Tidak sempit dan tidak luas. Tapi bersih.

img_6713
Ruangan sel lengkap dengan nomornya
img_6712
Lorong sel
img_6711
Yessss….this is our cell. Number 125. Hahaha
img_6708
Ruangan di dalam sel. Sempit tapi rapi dan bersih.

Gue melihat sebuah bingkai menempel di dinding. Bingkai berisi jadwal kegiatan para narapidana. Jadi ceritanya, dulu para narapidana pun memiliki jadwal rutin sehari hari. Mulai dari breakfast, olahraga, bersih bersih lingkungan penjara sampai penyegaran rohani dari pendeta. Selain itu, tempat tidur juga dihias dengan potongan koran yang berisi gambar gambar kegiatan penjara di masa dulu. Pokoknya, kami berdua sempurna menjadi narapidana penjara abad modern malam itu. Jangan lupa, jadwal kami besok paginya adalah SARAPAN! hahahhaha.

img_7128
Toilet dan perlengkapannya
img_6717
Långholmen dari lantai dua
IMG_7212.JPG
Selalu tersedia sofa kursi seperti ini. 

Ruangan sarapan hotel pun lumayan luas. Makanan juga lengkap. Banyak sofa dan kursi. Dan sebelum sampai ke ruangan breakfast, ada dua buah kursi dengan bentuk yang lumayan lucu. Bermotif garis garis hitam, dengan masing masing kursi memiliki wajah. Yang satu wajah pria dan yang satunya lagi wanita. Layaknya narapidana dengan pakaian penjara. Dan tanpa gue sadari, dan benar benar memang tidak gue sengaja, pagi itu gue mengenakan pakaian motif garis garis hitam putih. Kebetulan banget kan. Foto lucu dolo ah! *ehhh…tapi lucu ga sih* 

img_6720
Baju gue samaan ya motifnya. Beneran ga disengaja ini. Haha
img_6722
Kursi yang unik
IMG_7210 (1).JPG
Patung kayu layaknya seperti di ruang tunggu penjara
IMG_7211.JPG
Iseng mencoba borgol besi ini. Ternyata berat banget ya mak!!
img_6723
Souvenir hotel yang bisa dibeli

Seperti yang gue singgung di atas, Långholmen tidak sebatas hotel tempat menginap saja. Ada cerita sejarah yang ditawarkan. Selain sel dan pernak pernik penghias berbau penjara, Långholmen juga memiliki museum berisi barang barang peninggalan penjara sebelumnya yang masih disimpan dan dirawat dengan baik. Mulai dari ruangan sel  yang sengaja dibiarkan seperti aslinya (terlihat tidak fresh dengan lantai kayu yang kusam), beberapa jeruji besi penjara yang sengaja dipindahkan ke museum, peralatan pispot, cuci tangan, tempat tidur dengan kasur yang sudah lecek banget. Berbanding terbalik dengan sel yang kami tempati.

img_6709
Museum di Långholmen
img_6716
Långholmen sebelum dan akan direnovasi
img_7115
Gue….Hahaha
img_7213
sel penjara aslinya seperti ini dulu
img_7116
Kasur penjara yang sudah kumal. Eittssss yang pasti sel yang sekarang ga pakai ini ya. Hahahaha
img_7152
Narapidana lengkap dengan topeng penutup wajah

Selain itu, bingkai bingkai berisi surat dan tulisan tangan juga terlihat memenuhi dinding museum. Mulai dari nama nama narapidana yang pernah menghuni sel penjara,  jenis kejahatan yang mereka lakukan, sampai berapa lama hukuman penjara yang mereka terima. Dari sekian terpidana itu, ada satu yang menarik perhatian gue. Seorang narapidana yang dipenjara seumur hidup. Ketika raja Swedia memberikan Grasi terhadap dirinya, dia malah tidak mau meninggalkan penjara. Alasannya karena Långholmen dianggap sudah seperti rumahnya sendiri. Hebat ya pengaruh penjaranya. Haha.

Sisi lain yang menarik dari Långholmen adalah kawasan taman dan view danau Mälaren di sekitarnya. Ketika summer, banyak banget penghuni hotel yang berjemur di tepi danau ini.

Tak hanya itu, Långhomen menjadi terlihat asri oleh tanaman yang sengaja ditanam warga Stockholm yang hobby bercocok tanam. Mulai dari sayuran, buah dan tanaman bunga. Menjadi unik, karena ditanam bukan di halaman sekitar rumah, melainkan di lahan tanah yang khusus disediakan oleh pemerintah Swedia. Kegiatan seperti ini lumayan banyak disukai warga Stockholm yang sebagian besar bermukim di apartemen. Sekedar refreshinglah. Selain ramah lingkungan, bercocok tanam memang kegiatan yang menyenangkan kan. Konon lahan tanah ini hanya dibayar pemakainya dengan biaya yang relatif murah, bahkan cenderung gratis sangkin murahnya. Dan tentunya menjadi salah satu kegiatan yang terkenal di Stockholm di saat summer. Kawasan seperti ini biasa disebut Kolonilott. Dan untungnya, orang lain bisa menikmati keindahan tanamannya.

IMG_7155.JPG
Kawasan Kolonilott
img_6754
Rumah kecil di kawasan Kolonilott
IMG_7143.JPG
Rumah kecil di kawasan Kolonilott
img_7156
Mawar
img_6752
Bunga di kawasan Kolonilott
img_8259
Buah cherry

Enaknya lagi, Långholmen memiliki area parkir sendiri. Jadi ga perlu ribet mencari parkir yang jauh. Ini salah satu alasan mengapa suami suka banget menginap di sini. Sebenarnya Långholmen terdiri dari hotel dan hostel. Jika kurang cocok dengan sel yang terlalu sempit, sepertinya Långholmen menyediakan sel yang lebih luas.

Tapi buat yang single atau pasangan yang belum memiliki anak, sepertinya sel kecil lebih memiliki sensasi penjara. Kalau sel besar, kok ya rasanya seperti menginap di hotel biasa aja. Menurut gue sih. Dan yang lebih penting bayarannya lebih murah toh. *tetep* 

img_6729
Sekat tembok ini dulunya tempat narapidana melakukan olahraga dan sekarang dipakai sebagai tempat parkir sepeda,  membaca santai sampai bermain anak anak.
img_6726
Cafe
IMG_7141.JPG
Cafe
img_6749
Cafe
img_6750
Menara tempat mengawasi narapidana

img_7134

IMG_7215 (1).JPG
Tembok Långholmen

So…STAY IN A PRISON! 

Tidak ada salahnya mencoba sensasi bermalam di hotel penjara Långholmen. Sesekali menikmati sesuatu yang tidak biasa itu enak kok.

IMG_7144.JPG
Kawasan aliran danau Mälaren di sekitar Långholmen
IMG_7138.JPG
Boat kayu yang menjadi salah satu pemandangan asik di dekat Långholmen
img_7139
Cakep ya
img_7140
Masih dari kawasan yang sama

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

 

 

See you in my next story

SAVOY BOUTIQUE HOTEL di KOTA TUA TALLIN ESTONIA

Hotel Savoy Boutique bisa dibilang lumayan berkesan bagi kami berdua (gue dan suami). Alasannya sih cuma satu. Kami terharu. Tepatnya kami belum terbiasa dengan layanan hotel seperti ini di negara negara Eropa yang pernah kami kunjungi. Terlebih dengan gue sendiri, serasa mendapat pelayanan maksimal layaknya hotel di Indonesia. Tau sendirilah, hotel hotel di sebagian besar negara Eropa, apalagi yang sudah masuk kategori negara maju dan terbilang kaya, jauh jauh deh mendapat pelayanan dengan keramahan maksimal. Sebenarnya bukan mereka tidak ramah, tapi ya gitu deh, ramah versi negara Eropa. Standard.

Dan tentunya tidak ada yang salah dengan yang standard ini. Menjadi salah (buat gue tentunya) ketika gue harus membandingkan harga dan pelayanannya dengan hotel di Indonesia. Wah….ini mah namanya cari berantem dengan pengusaha hotel di Eropa.  Hahahahaha.

Terus terang daftar negara yang kami kunjungi memang belum banyak. Masih di seputaran Skandinavia, Finlandia dan London. Seperti diketahui, negara negara ini memiliki tingkat perkapita yang tinggi dengan biaya hidup yang relatif   mahal. Sehingga jauh rasanya kalau harus menggaji mahal pegawai hotel, hanya untuk sebuah pekerjaan yang tidak terlalu efisien dilakukan. Seperti membuka pintu taxi, mengangkat koper. Heloooo……!!!

img_5251

IMG_5898.JPG

Gue masih ingat banget, ketika kami menginap di hotel Hilton London Tower Bridge, dengan biaya kurang lebih 3000 SEK permalam, luas kamar standard dan harga pun  belum termasuk wifi di dalam kamar, ada biaya ekstra lagi sebesar 250 SEK. Jika tidak,  ya harus rela menikmati wifi massal di lobby hotel. *ngelus dada*

Demikian juga halnya dengan hotel Scandic, Best Western, yang bisa dibilang tidaklah murah, fasilitasnya ya standard aja. Ga ada yang membuat ternganga. Tapi memang nyaman. Bahkan kadang ada hotel yang rasanya tidak terlalu familiar di telinga, pun bisa mematok harga lebih mahal dengan kondisi hotel yang sangat biasa saja.  Langsung menerawang ke hotel Pullman di Bali, harga kamar sekitar 1,5 juta rupiah permalam , fasilitas sudah lengkap dan bagus banget. Kamar super luas. Ahhh pokoknya hotel di Indonesia buat gue sudah paling asik.

Sampai akhirnya kami tiba di hotel Savoy Boutique yang berlokasi di kota tua Tallin. Hotel ini sudah termasuk satu paket dengan transportasi laut  Kapal Tallink yang kami naiki menuju Estonia. Meskipun kami harus mengajukan upgrade hotel, karena merasa kurang cocok dengan penawaran hotel pertama di dalam paket kapal.

img_5237

Begitu sampai di depan gedung hotel,  kami disambut seorang bellboy. Koper kami dibawa menuju resepsionis. Pegawai resepsionis juga sangat ramah. Entah mengapa gue serasa di Indonesia. Enaknya lagi, tidak seperti hotel kebanyakan, yang rata rata hanya memperbolehkan waktu check-in  di atas pukul 12 siang, maka berbeda dengan Savoy Boutique hotel. Kami langsung diperbolehkan check-in meskipun jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dan lebih lagi, si bellboy menawarkan membawa koper ke dalam kamar. Memencet tombol lift dan mempersilahkan kami masuk. Huaaaa terharu. Serasa liburan di Bali….hahahhaha. Ini bukan persoalan kami akan memberi tips atau tidak ya. Dan juga bukan haus layanan berlebihan. Tapi hal kecil seperti ini, memberi kesan pertama yang baik terhadap pelayanan hotel. Siapa juga sih yang ga senang diberi pelayanan terbaik. Secara uda terlalu lama merasakan kefanaan di hotel hotel Skandinavia yang relatif terbilang mahal tapi  irit servis to the max.

img_5217img_5218img_5219

Begitu masuk kamar, langsung disambut dengan interior klasik, mulai dari tempat tidur dan meja kursinya. Dan tidak beberapa lama, suami gue melihat sebuah Welcome Card yang ditujukan kepada kami berdua.  Meskipun gue tau, hanyalah sebuah kartu yang tinggal di print doang, tapi tetap aja setelah membaca kata kata di dalam kartu  membuat hati terharu.  Belum lagi sebotol champagne sebagai Welcome Drink, plus dua gelas cantik yang siap menjamu mulut kami siang itu. SKÅL!!!

img_5236

Bahkan yang nyaris membuat kami tertawa, ketika melihat ada coklat di atas masing masing bantal dengan sampul bertuliskan Tallin. Ya ampun sampe segitunya pake coklat segala. *tapi hati senang*

Kalau toiletnya bagaimana? toiletnya juga gue suka, lumayan luas dan lengkap dengan bathup, plus hiasan bunga dan pernak pernik perlengkapan mandi. Entah mengapa setiap melihat pernak pernik seperti ini gue selalu suka. Ada botol shampo, shower cup, cotton bud, bahkan sampai lotionnya pun ada. Cuma nihil sikat gigi dan odol (Kalau odol dan sikat gigi  sepertinya sudah hak paten hotel di Indonesia ya….yuhui).  Sebenarnya fasilitas seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, akan tetapi menjadi istimewa ketika didapat di hotel Eropa. Meskipun  hotel Savoy Boutique termasuk hotel berbintang lima, akan tetapi jika gue bandingkan dengan harga hotel di negara Skandinavia dan Finland, harusnya perintilan kecil seperti ini bisa dilengkapi kan.  Apalagi harga hotel tidak jauh berbeda. Tapi yang ada sabun dan shampo dijadikan dalam satu botol, shower cup ga ada, sendal kamar juga ga ada. Tapi ya begitulah,  gue tidak bisa menyamakan negara Skandinavia, Finlandia dengan Estonia. Sudah lumayan jauh berbeda.

img_5212img_5213

Yang pasti kami membayar paket kapal Tallink sebesar 2500 Sek untuk berdua, sudah termasuk hotel. Tidak including makan malam di kapal ya. Artinya kalau gue perkirakan harga hotel Scandic yang rata rata di atas 1000 Sek permalamnya, dan masih kategori hotel berbintang 4, apa kabar dengan hotel Savoy yang sudah berbintang 5. Harganya mungkin tidak jauh berbeda. Atau bisa saja sama atau malah lebih murah dari hotel Scandic. Tapi servisnya sudah relatif memuaskan.

img_5248img_5246

Cafe bar dan restoran di hotel Savoy juga tak kalah bagusnya. Untuk restorannya pun layak dijadikan sebagai tempat fine dining. Makanannya enak. Bahkan ketika sarapan pun, meja sudah ditata rapi. Sudah tersedia gelas kopi dan teh, sendok dan garpu, serbet, layaknya seperti sebuah gala dinner. Dan lagi lagi di hotel lain yang pernah kami kunjungi, ga ada penataan seperti ini. Meja ya kosong melompong aja. Kalau mau minum kopi or teh ya tinggal ambil sendiri. Ini ga, teko berisi kopi atau teh dibawain ke meja, dituang ke gelas oleh pegawai hotelnya. Nah, asik toh jadi raja ratu sehari. Ga perlu jauh jauh ke Indonesia. *jogetsenang*

img_5244img_5247

Meskipun menu sarapan hotel Savoy hampir mirip dengan makanan khas Eropa lainnya, yang membedakannya adalah penyajiannya. Ditata sedemikian rumah.  Mulai dari panci makanan yang diberi pita, buah dan dessert yang tidak hanya dipotong potong ala kadarnya, tapi dibentuk sedemikian menarik. Persis kaya hotel di Indonesia gitu deh. Gue kelihatan udik banget ya kesannya. Tapi memang beneran kok. Gue suka aja. Sampai gue mendengar salah satu tamu hotel berkata ” This is fantastis. Nice breakfast. I must try all the food one by one” Hahahaha.

img_5239img_5240

Sebenarnya mungkin ada saja hotel di negara Eropa lain atau bahkan di Skandinavia  yang memiliki layanan hotel layaknya seperti di Indonesia. Cuma harga uda segambreng kali ya mahalnya. Rasanya sebagian besar hotel yang kami gunakan harganya lumayan membuat garuk kepala (di gue maksudnya), tapi fasilitas dan pelayanannya ya standar aja. Lagi lagi standard yang gue bilang di sini bukannya tidak nyaman ya. Nyaman kok. Interiornya juga bagus. Cuma menjadi kalah ketika berhadapan dengan pelayanan hotel seperti di Indonesia *lagi lagi ngotot*

img_5252

Ada sih satu hotel bernama ELITE hotel. Lumayan beda dari hotel yang lain. Ada sendal kamar, pernak pernik toilet, sarapannya juga lumayan apik penataaannya. Tetapi secara keseluruhan Hotel Savoy Boutique Tallin adalah yang paling berkesan. Gue merekomen hotel ini jika berlibur ke Tallin Estonia. Lokasinya juga berada di pusat kota tua Tallin. Dekat kemana mana.

img_5242img_5249

IMG_5899.JPG

Cerita tentang Estonia akan gue tulis di tulisan berikutnya.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

See you in my next story.