Norwegia, The Land of the Fjord!

Apalah artinya ke Norwegia, jika tak menikmati keindahan fjordnya. Negeri yang memiliki julukan The Land of the Fjord di beberapa kartu posnya ini, memang menjadikan fjord sebagai salah satu nilai jual wisata alamnya.

Eidfjord, Hardangerfjord, Simadalsfjord, Geirangerjord, Lysefjord, Naeroyfjord hingga Sognefjord yang merupakan fjord terpanjang kedua di dunia, menjadi beberapa koleksi fjord yang dimiliki negara ini.

IMG_6087

IMG_5497

IMG_6089

Untuk Geirangerjord, Naeroyfjord dan Sognefjord sendiri,  Unesco telah menetapkannya sebagai warisan dunia yang dilindungi.

Pertama kali melihat Geirangerfjord di tahun 2015, gue sempat bilang, apanya yang menarik? Toh di Indonesia kami punya danau Toba. Mirip fjord juga toh. Barulah setelah membaca sejarah dan fenomena alam yang membentuknya, gue bisa memahami mengapa fjord banyak digandrungi wisatawan yang berkunjung ke Norwegia. Khususnya yang mencintai kawasan nature.

IMG_6052

Kalau danau, mungkin hampir semua negara punya. Tapi fjord? Ga semua bisa. Hanya negara tertentu yang bisa memilikinya. Tepatnya negara negara yang mengalami musim dingin saja. Itupun tidak semua negara bersalju mampu memiliki fjord.

Hanya ada beberapa negara di dunia, seperti Amerika Utara di wilayah Alaska dan Kanada, Scandinavia, Greenland dan Iceland. Selebihnya gue kurang tau pasti.

IMG_5478.jpg

Fjord terjadi atas peristiwa alam jutaaan tahun silam. Terbentuk dan diukir oleh erosi Gletser raksasa yang super dasyat, yang ketebalannya sampai mencapai 3 kilometer. Oh my!

Erosi gletser raksasa terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama, hingga melewati masa demi masa di zaman es. Sampai akhirnya sanggup membentuk landscape yang mampu menampung aliran air laut yang super dalam.

IMG_5459.jpg

IMG_5966.jpg

IMG_5956.jpg

IMG_6078.jpg
Standing in the Land of the Fjord

Kurang lebih begitu yang bisa gue simpulkan. Semoga tidak salah. Agak runyam sih, apalagi kalau dipikir dengan akal sehat serasa cerita dongeng saja. Jadi harap maklum kalau seandainya kesimpulan yang gue tulis kurang akurat.

IMG_6085

So, berbicara fjord bukan semata soal suguhan keindahan alamnya, tapi juga cerita di balik fenomena alam yang membentuk fjord itu sendiri. Maha karya yang luar biasa. Hal inilah yang membuat fjord menjadi unik dan diminati wisatawan. Apalagi tidak di semua negara ada.

IMG_5963

Biar lebih afdol, coba klik video fjordnorway.com di bawah deh. Keren banget videonya. Gue suka.

Fjord memiliki beberapa ciri, diantaranya:

  • Berukuran sempit dan panjang. Jika ukurannya lebar dan tidak panjang, dipastikan itu bukan fjord.
  • Diapit tebing curam yang relatif berdekatan.
  • Relatif lebih tenang dibanding lautan bebas
  • Memiliki kedalaman air yang amat sangat, bahkan meskipun tidak lebar tapi mampu dilewati oleh kapal pesiar besar 
  • Airnya cenderung berwarna hijau
  • Dekat dengan laut
IMG_5959
Tebing fjord yang saling berdekatan. Meskipun sempit tapi fjord mampu dilewati kapal pesiar besar, karena kedalaman airnya yang amat sangat. Bahkan katanya bisa melebihi kedalaman air laut. Ihh unik ya!

Fjord juga memiliki view yang dramatis, akibat himpitan tebing gunung di sekitarnya. Dan biasanya, menjadi tempat favorite kawasan penginapan di wisata alam Norwegia. Contohnya seperti photo di bawah ini.

IMG_6050

IMG_6046

Gue dan suami berkesempatan melihat Sognefjord beberapa waktu lalu. Keindahannya bisa dilihat dari ketinggian view point dengan menempuh jalur puncak pegunungan Aurland. Mengutip kalimat di video fjordnorway.com di atas, “you have to be here to believe it”. Yups!

Oleh National Geographic Traveler magazine, Sognefjord disebut sebagai “area the world most iconic destination”.

IMG_6088.jpg
Gue, di kawasan viewing point Sognefjord, fjord terpanjang kedua di dunia

See you in my others story

Salam dari

Swedia

“Semua photo di tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Norwegia, Negeri Seribu Terowongan

Hingga saat ini, rasanya tidak berlebihan jika gue menjadikan Norwegia sebagai tempat wisata terfavorite. Alam negara ini sepertinya sangat tau  cara memanjakan mata para tamunya. Tiga kali bertandang ke Norwegia, tiga kali pula gue selalu terwow.

Untuk trip gue ke Norwegia sebelumnya, bisa dibaca di sini dan di siniIMG_5483.jpg

Mungkin masih banyak tempat indah dan menarik di belahan bumi lain, tapi dari sekian tempat yang sudah pernah gue datangi, keindahan alam Norwegia masih is the best. Dan gue berharap di kesempatan yang akan datang, Tuhan ijinkan gue dan suami melihat koleksi ciptaanNya yang lain. Dan gue percaya, masih banyak tempat yang jauh lebih indah di muka bumi sana.

Tapi untuk sekarang, gue cuma mensyukuri kesempatan yang ada. Bisa menghabiskan waktu di tanah Viking yang memiliki banyak keindahan fyord dan terowongan gunung. Yes, Welcome to Norwegia! (again).

IMG_5451 (1).jpg

Norwegia hanya sejarak barisan pinus dari tempat tinggal gue. Ke perbatasan terdekat kurang lebih dua jam. Negeri ini mewakili segala kecintaan gue akan indahnya farm mountain, wooden house di lereng gunung, suara gemericik air dari tebing gunung yang selalu menyapa di hampir setiap jalur jalan yang gue dan suami lewati, dentingan lonceng dari leher kawanan domba, dan lembah hijaunya itu loh..…alamak! Hampir lupa kalau mata gue sudah minus sekian.

IMG_5452.jpg

IMG_5456.jpg

IMG_5466.jpg

Masih jelas di ingatan bagaimana imutnya kawanan domba berlari menghampiri gue, hanya karena gue membidik kamera ke arah mereka. Mungkin mereka mengira, kamera yang gue pegang merupakan jenis rumput dalam kemasan yang berbeda. Menggemaskan sekali. Sewaktu kecil, terbayang pun tidak gue bisa memberi makan domba sedekat itu. Bersentuhan langsung dengan mereka. Meskipun gue akhirnya takut ketika mereka sangat agresif mengambil roti dari tangan. Hahaha.

IMG_5450

IMG_5449

IMG_4909

IMG_5489

Di Dalarna Swedia, peternak domba juga ada. Tapi domba domba tidak dibiarkan bebas di jalanan. Pun jumlahnya masih kalah banyak dengan ternak sapi.

Sedangkan di Norwegia, dari pengamatan gue selama di perjalanan, ternak domba jauh lebih banyak dibanding sapi. Sepertinya (ini menurut logika gue sih), struktur alam Norwegia lumayan berbukit bukit. Sebagian besar agak mencorong ke bawah. Dibanding ukuran sapi yang lumayan besar, domba jauh lebih gampang untuk bisa naik hingga kawasan yang jauh lebih tinggi.

Makanya tak jarang kami melihat ternak domba berkeliaran di lahan yang terjal berbatu. Anteng banget mereka berlari ke sana kemari. Kalau sapi sepertinya sudah agak susah kan. Lagi lagi ini hanyalah kesimpulan abal abal seorang ajheris. Jangan serius kali bacanya coy (mengutip bahasa anak Medan) 🙂

IMG_5486

Norwegia juga tidak melulu soal Aurora Borealis. Masih banyak hal menarik yang bisa dilihat dari negara penghasil minyak terbesar dunia setelah timur tengah ini. Misalnya air terjun yang berasal dari lelehan salju (catat, dari lelehan salju loh). Kebayang kan seberapa tebal saljunya. Meskipun memang ada beberapa air terjun permanen yang berukuran besar, yang bukan berasal dari lelehan salju. 

Jadi jangan kaget, kalau satu tebing gunung memiliki air terjun lebih dari satu. Karena lelehan saljunya berasal dari segala arah. Selain itu, lelehan salju juga mengalir halus dari celah bebatuan gunung. Kami bisa melihat dan mendengar suara airnya sangat dekat dan jelas di telinga. Cukup dari jendela mobil saja. Karena hampir seluruh tubuh pegunungan di Norwegia bisa dilewati oleh kendaraan. Akses jalannya mulus hingga ke puncak pegunungannya.

Ke Norwegia khususnya di awal bulan Juni, sensasi aroma musim panas bernuansa winter juga bisa dinikmati. Kawasan puncak fjället (pegunungan) di negara ini masih memiliki tumpukan salju setinggi tiga meter. Tapi dont worry. Suhunya rata rata sudah di atas 5 derajat celcius kok.

IMG_5497

IMG_5028

Trus apalagi? Ya pastinya Fyord! Norwegia salah satu negara yang memiliki fyord kece,  yang tidak semua negara bisa memilikinya. Bahkan Fyord terpanjang kedua di dunia juga adanya di negara ini dan oleh UNESCO ditetapkan sebagai warisan dunia yang dilindungi.

Sama halnya dengan Swedia, Norwegia memiliki fenomena alam yang dikenal dengan istilah Midnight Sun, yaitu hari hari tanpa adanya malam alias no sunset, dan sebaliknya hari hari tanpa adanya siang alias no sunrise (Polarnight). Kejadian alam ini berlaku di wilayah yang berada di lingkaran Arktik atau Artic Circle. Bagi kalian yang pengen merasakan hari hari yang 24 jam selalu terang maupun sebaliknya, silahkan datang ke Norwegia.

IMG_5499.jpg

IMG_5439.jpg

IMG_5438.jpg

IMG_5498.JPG
Layaknya bangsa Skandinavia kebanyakan, mereka suka dengan sepinya alam. Bangunan penginapan wooden house ini, berdiri gagah di kawasan puncak pegunungan yang di kala winter bisa memiliki ketebalan salju melebhi 5 meter. 

Norwegia juga punya banyak sekali terowongan gunung dengan panjangnya rata rata 6 hingga 25 kilometer lebih. Kebayang kan rasanya di dalam terowongan sepanjang itu. Sehingga tak salahlah jika gue menyebut Norwegia sebagai negeri Seribu Terowongan. Karena tak terhitung jumlah terowongan yang kami lewati. Yang kadang, antara terowongan yang satu dengan terowongan yang lain hanyalah sejarak ratusan meter.

IMG_5458

Banyaknya gunung batu yang berdiri gagah di tanah Norwegia, mengharuskan negara ini membangun terowongan gunung untuk kelancaran transportasi jalanannya. Terowongannya lebar dan nyaman untuk dilewati. Ga kebayang berapa biaya yang dikeluarkan untuk setiap terowongan yang dibuat.

IMG_5504.jpg

IMG_5502

IMG_5472.jpg

IMG_5503.jpg

Tulisan ini hanyalah bom foto hasil bidikan sepasang tangan yang tak kenal kebas. Rasanya seperti ada magnet kuat yang selalu mendorong ingin berhenti dan berhenti membidik kamera. Semua alamnya instragrammable banget. Sayang cuaca kurang bersahabat. Lady rain selalu menyapa kami meskipun datang dan pergi. Tapi tetap tak merubah kecantikan alam Norwegia. Selalu mempesona.

Biarlah gambar demi gambar yang berbicara. Cerita lengkap mengenai short trip gue ke Norwegia beberapa hari lalu, akan gue tulis secara terpisah. See you in my others story.

IMG_5440

IMG_5481.jpg

IMG_5500.jpg

IMG_5485.jpg

Trip gue ke Norwegia sudah tayang di Net Tv. Bisa klik di sini

Sedangkan Video lengkap perjalanan gue ke Norwegia, sudah tayang di youtube. Masih kacau banget. Suara gue juga jelek, tampang lecek, bahasanya apalagi. Berantakan. Hahahahha.

Tapi sudahlah, yang penting  kalian bisa lebih gampang melihat rupa si Norwegia ini. Klik langsung aja video di bawah ya.

Salam dari

Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”

Skuleberget, Kawasan High Coast Kece di Bagian Utara Swedia

Tulisan ini merupakan bagian dari liburan musim panas gue dan suami tahun lalu. Setelah selesai menikmati summer holiday di Finlandia, perjalanan pulang kami tempuh melalui beberapa wilayah di bagian utara Swedia. Salah satunya adalah kawasan High Coast (Höga Kusten) di daerah Docksta. Tepatnya lagi di kawasan pegunungan Skuleberget (Skule Mountain)

Sepanjang perjalanan menuju kawasan Skuleberget lumayan mempesona. Lanscapenya bagus. Sebut saja seperti rumah kayu berwarna merah, aliran danau yang bersih, dan sesekali melewati lahan pertanian lengkap dengan ternak sapi dombanya.

IMG_1120.JPG

Sangkin sepinya kendaraan yang melaju, jalanannya pun mengijinkan mobil melenggang mulus tanpa hambatan. Jalanan berasa milik sendiri. Penampakan lekukan gunung dan birunya langit bercampur gumpalan awan putih, membuat perjalanan jadi tidak membosankan. Berasa melewati lukisan alam yang panjangnya tiada henti. Saat itu, bumi utara Swedia sedang berbaik hati dengan kami. Cuacanya sangat cerah. Dan seperti biasa, mentari tetap setia memberi asupan terang yang luar biasa, bahkan sampai malam menjelang.

IMG_1119.JPG

Mendekati kawasan Skuleberget, kami pun disambut dengan pemandangan alam yang semakin menggila. Hamparan rumput hijau, pohon pohon yang rimbun, plus danau bersih berikut rumah rumah kecil di tepiannya.  *Lop lop lop!

IMG_1122.JPG
Vitamin alam di kaki Skuleberget

IMG_1125.JPG
Cakep yak!

IMG_1123.JPG
Sejuknya mak!

Dan tanpa membuang waktu, kami menuju loket pembelian tiket.

Skuleberget merupakan kawasan pegunungan di sekitar Höga Kusten (High Coast) Docksta, Swedia bagian utara. Menurut catatan yang ada, kawasan ini awalnya merupakan lautan es yang luas, tepatnya 9500 tahun silam.

IMG_1118.JPG
Di puncak Skuleberget

Saat itu, Skuleberget masih berada pada ketinggian 286 meter di bawah permukaan laut. Akibat kejadian alam yang maha dasyat, lautan es akhirnya berubah menjadi Gletser. Perlahan namun pasti, kawasan ini pun terbebas dari tekanan super berat bongkahan es yang sebelumnya memenuhi Skuleberget. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya daratan ke atas permukaan laut. Semakin hari semakin tinggi, menimbulkan beberapa pulau di sekitarnya, termasuk Skuleberget ini. 

IMG_1134.JPG
Ribuan tahun silam, laut ini hanyalah tumpukan es. Semakin lama daratan dalam bentuk pulau ini muncul kepermukaan

Dan selain itu, High Coast di sekitar Skuleberget dikenal juga sebagai kawasan dengan pertumbuhan daratan tercepat di dunia. Dari waktu ke waktu bahkan sampai sekarang, tidak pernah berhenti mengalami proses pertumbuhan daratan yang semakin tinggi dan tinggi di atas permukaan laut.

Sehingga atas kejadian alam yang lumayan  unik ini, Unesco menetapkan kawasan High Coast di sekitar Skuleberget sebagai heritage dunia yang dilindungi.

Untuk mencapai Toppstugan Skuleberget (kawasan puncaknya), bisa ditempuh dengan dua cara. Berjalan kaki (hiking) dan menggunakan cable car.

Di musim dingin, Skuleberget menjadi surganya para penggila olahraga ski. Sedangkan di musim panas, Skuleberget menyimpan keindahan lain. Landscape alamnya terlihat lebih kece dan mempesona. Sehingga tidak heran, jika aktivitas cable car tetap dibuka, baik di saat musim panas maupun musim dingin.

IMG_1138
View dari puncak Skuleberget

Berhubung kami berdua adalah pasangan duo gendut, yang dipastikan tidak mampu berhiking ria, cable car pun menjadi pilihan yang lumayan tepat. Menaiki cable car tak serta merta lempeng mulus tanpa beban. Tetap diselimuti perasaaan was was. Lumayan tinggi dan kaki menggantung pulak.

Dengan bimbingan petugas, kami diarahkan berdiri di sebuah tempat yang sudah diberi tanda. Dan huff, cable car pun mulai melaju. Eng ing eng! ngeri ngeri menggiurkan.

Perlahan dan pasti, cable car naik ke atas. Meskipun agak takut, gue berusaha enjoy. Ternyata nyali gue cukup kuat untuk tidak terlalu takut.  Di atas ketinggian, gue masih bisa menikmati perjalanan kami, ngobrol dengan suami, sambil melihat pengunjung lain yang berpapasan turun dengan cable car juga.

Sepertinya pengguna cable car tidak terlalu banyak. Sebagian besar adalah orang tua yang membawa anak kecil. Selebihnya memilih jalur hiking. Kalau kami berdua tidak perlu dipertanyakan. Pasangan yang sedikit berbeda. Tidak masuk dalam kedua golongan di atas. Hahahaha.

Ketika melihat sekelompok orang berjalan kaki menyusuri kaki gunung, waktu itu sempat mikir, yaelah….ada yang gampang kok nyari yang susah. Capek kan.

IMG_1127.JPG
View dari puncak Skuleberget

Namun seketika gue pun menyadari, jika manusia itu berbeda selera. Mungkin bagi mereka, dengan berjalan kaki adventurenya lebih berasa. Berkesempatan menemukan hal hal  baru ketika berjalan di alam terbuka seperti itu. Tidak hanya sekedar cussssssss langsung nyampe. Seperti kamilah. 

Berada di ketinggian  wajar saja jadi degdegdor. Selain kaki menggantung, kadang cable car suka tiba tiba berhenti. Seperti merasakan goyangan ombak halus. Kebayang kan bila kejadiannya pas di ketinggian gitu.

IMG_1140.JPG
Kabin kayunya kayak rumah dongeng

Tapi begitu melihat orang lain santai banget, gue salut aja gitu. Apalagi yang gue lihat adalah seorang ibu dengan anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Si anak selonjoran di paha ibunya. Seperti tiduran gitu. Dan si ibu duduk biasa saja tanpa terlihat seperti memegang erat tubuh anaknya. Gue yang stress. Kalau jatuh gimana. Ampe merinding. Tapi ya gitu deh. Kenyataannya semua aman aman saja. Mungkin gue aja yang terlalu parno.

IMG_1117
View dari cable car

Sampai di puncak Skuleberget, drama lain pun masih berlanjut. Cuma beda pelakon. Kali ini kebalikannya. Seorang ayah dan 3 orang anak. Dua orang anak dengan gembiranya menaiki cable car, ketawa ketiwi ketika cable car akan siap siap turun ke bawah.

Sedangkan anak yang paling kecil (sekitar 4 tahun juga kayaknya), malah bertolak belakang dengan kedua saudaranya. Si anak tidak mau naik cable car. Sepertinya dia takut.

Dan yang membuat gue miris, si anak sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil sesekali mengintip cable car yang akan membawa saudaranya turun. Sumpah deh, wajahnya ketakutan bercampur bingung. Anak 4 tahun loh mak!

Yang gue sesalkan, si ayah tidak berusaha memberi ketenangan supaya si anak lebih cooling down. Kalaupun tujuannya membuat si anak agar lebih berani, apakah ini cara yang paling tepat? Bukannya bisa menimbulkan trauma anak? *Berjalan sambil terheran heran* 

Tapi lagi lagi setiap orang tua mungkin punya cara sendiri mendidik anaknya. Sedangkan gue? Nihil pengalaman. Anak aja ga punya. Cuma beda pola pikir ajalah. Setidaknya cara itu kurang cocok ke gue.

Untungnya drama kecil di atas tergantikan dengan view kece di depan gue. Sesuatu yang luar biasa. Amazing to the Max. Bagus dan fotogenik banget.

IMG_1133
Dari puncak Skuleberget

IMG_1141
Dari puncak Skuleberget

Dari puncak Skuleberget, kami mulai menapak turun ke bawah. Jalannya penuh dengan batu kerikil dan batu berukuran besar. Katanya ada Gua” yang letaknya tidak jauh dari puncak Skuleberget ini.

Tapi semakin ke bawah kok guanya ga ketemu juga. Mana medannya makin seram lagi. Batu batunya agak curam. Jadi gue memutuskan untuk tidak melanjutkan. Hahaha

Sebenarnya setiap jalan sudah diberi tanda berwarna biru, tepatnya di atas bebatuan besar. Yang artinya jalanan itulah yang aman dan mudah untuk dilewati. Namun meskipun demikian, gue sudah membayangkan ketika balik dan naik ke atas, pasti lebih gampang capek kan. Tidak seperti menaiki tangga biasa.  Jadi ya sudahlah, toh tujuan utamanya mau melihat landscape.

IMG_1137.JPG
Jalanan berbatu di puncak Skuleberget

Di sela menikmati alam yang indah, gue sempat berpikir. Kalau dulunya view di depan mata hanyalah lautan es. Dan sekarang berubah menjadi lanscape yang menawan. Gilaak! Kerja alam emang keren ya.

IMG_1146.JPG
Coba, cafe begini masa gue bilang ga kece?

IMG_1145
View dari atas cafe di puncak Skuleberget

Di puncak Skuleberget juga terdapat sebuah cafe. Duduk santai, ngobrol, ngemil, ngopi sambil melihat view alam yang mempesona. Belum lagi suasana kozy yang ditawarkan cafe dengan nuansa wooden house yang klasik.

Dan sampai akhirnya kami kembali turun, gue pun tetap dimanjakan dengan view yang sangat mempesona, mulai dari rumah rumah yang kecil sampai akhirnya terlihat jelas ketika kami mulai mendekat ke bawah.

IMG_1121.JPG
View dari cable car

IMG_1151 (1)
View dari cable car

Jika kamu berencana berlibur ke bagian utara Swedia, Skluberget adalah tujuan wisata yang rekomen untuk dikunjungi.

See you in my next story

Salam dari Swedia.

IMG_1139

Hanimun ke London

Judulnya lebay ya. Kesannya sok banget. Sebenarnya ini cerita basi. Cuma sejak pindah platform, pelan pelan gue mau pindahin tulisan dari rumah lama ke blog ini. Gue pengen semuanya ngumpul jadi satu. Dan tentunya dengan beberapa revisi. Ngepangkas beberapa kalimat dan gambar gambar yang ga penting juga.

LONDON..!

Siapa sih yang ga kenal kota ini? Semasa gue kecil, London merupakan kota Eropa terhits yang sering banget muncul di tipi. Terutama berita sensasi dari  keluarga istananya yang membahana.

Gue dan suami berangkat ke London tanggal 4 Oktober 2014. Lagi musim gugur waktu itu. Penerbangan dari Arlanda Stockholm ke bandara Gatwick kurang lebih 2 jam 15 menit. Begitu tiba di bandara, pertama langsung feeling excited dengan lukisan besar dari wajah queen Elisabeth II yang seolah bilang “Welcome to London”

Di situ gue baru nyadar, ulala……gue ada di London. Senaaaaang!

IMG_0274.JPG
Bandara Gatwick

Dari bandara kami langsung order taxi menuju hotel Hilton di Tooley Sreet, Tower Bridge. Sekilas tentang taxi di London, harganya relatif mahal (hampir sama dengan harga taxi di Stockholm). Dengan perjalanan kurang lebih satu setengah jam, waktu itu kami dikenai harga kurang lebih dua juta enamratus ribu rupiah. Dan seketika pun langsung merindukan taxi bluebird idola gue.

IMG_0392.JPG

Sesampainya di hotel, kami langsung check in. Lokasi hotel sangat strategis dan di sekitarnya banyak restoran, bar, pub, shopping center, dan pastinya dekat banget ke Tower Bridge. Namanya sok nginep di kawasan Tooley Street ya, bayar segambreng per malam pun bukan berarti fasilitasnya cihuuy. Lobby hotel sempit, wifi cuma di area lobby dan harus bayar 400 ribu rupiah permalam untuk tambahan wifi di dalam kamar.

IMG_0275.JPG
Cafe Bar Hilton Hotel

Jika London disebut sebagai kota metropolitan dunia, emang bener sih. Kesibukannya sudah terlihat sejak kami memasuki pusat kotanya. Selalu ramai dengan aktifitas warga  maupun wisatawan.

Lalu lintas kendaraan juga lumayan ramai. Sekalipun berpredikat kota metropolitan, London tetap mempertahankan peninggalan sejarah dan budaya yang akhirnya menjadi iconic terkenal dunia. Sebut saja seperti bus tingkat berwarna merah yang setiap saat wara wiri di jalan, hingga Redbox telepon umum yang legendaris sejagat raya (yang meskipun sudah tidak terpakai, tetap difungsikan sebagai iconic kota)

IMG_0398.JPG
Kawasan Regent Street

Setibanya di hotel, kami santai sejenak di bar. Nah, gue punya pengalaman lucu nih. Berhubung anak ndeso yang taunya cuma jus mangga dan lemon tea, pas suami nanya mau minum apa, gue bilang aja terserah. Penting rasanya segar.

Ya udalah, ujuk ujuk segelas Bloody Mary pun datang. Warnanya sungguh menggugah selera. Langsung glek. Oh my rasanya! Sukses dong kayak minum tomyam yang kebanyakan kunyit! haha.

Jalan jalan kami di kota London, ini dia cerita singkatnya.

After Lunch di sekitar area hotel, hari pertama kami isi dengan mengunjungi beberapa tempat di kota London. Kami sengaja menggunakan Black Cabs, taxi London yang  super imut itu.

Berwarna hitam, bergaya antik dan jadul ala tahun 50an. Dalamnya pun lumayan luas. Mampu menampung 5 sampai 6 orang. Akibatnya para penumpang bisa duduk saling berhadapan dan selonjor kaki. Selain berwarna hitam, taxi di London juga memiliki aneka warna dan gambar.

Walaupun bayarannya relatif mahal,  konon driver taxi di kota  London terkenal dengan record yang baik. Mereka menguasai seluruh jalan dan daerah turis di kota London. Ada yang bilang, susah menemukan driver taxi di London yang sengaja berhenti untuk menanyakan jalan. Bahkan sampai ada istilah, kalau tidak mau nyasar di London, driver taxi adalah guide terbaik. Tapi itu kan katanyaaaaaaaa. Kenyataannya ada juga sih yang ga paham jalan dan nanya nanya dulu.

Cuma memang, beberapa dari supir taxi ada yang sukarela menjelaskan daerah apa saja yang wajib dikunjungi. Buka tutupnya mulai dan sampai pukul berapa. Meskipun mereka ga ditanya loh. Jadi sudah berinisiatif menjelaskan.

IMG_0273.JPG

Tempat apa saja yang kami kunjungi? Paling Piccadily Circus, semacam road junction kota Londonlah. Rame banget di sini. Pusing gue. Trus lanjut sok ala incess nyasar intip barang di Regent street dan Oxford street. Lihat doang ga beli. Ehhh tapi ada deng, jaket winter yang diskon parah ampe 70 persen. Haha 

IMG_0269.JPG
Layar heboh di Piccadily Circus

Trus masuk toko mainan Hamleys di Regent Street. Aduhh, rame banget di dalam. Tapi begitupun, gue sabar aja ngobok ngobok cari yang murah. Dan ketemulah boneka mungil Teddy Bear dan taxi Black Cabs yang gue suka banget. Sebagai pencinta souvenir mungil, setidaknya ada barang yang ramah di dompet yang bisa gue bawa pulang.

IMG_0406

Berikutnya Tower Bridge. Kebetulan karena dekat dari hotel, jadi ke sini cukup jalan kaki saja. Berkunjung ke London kalau ga ke Tower Bridge ya hambarlah mak. Emang kece sih jembatannya. Kalau mau melihat bagaimana romantisnya kota London, ya paling ga harus datang ke sekitar Tower Bridge ini. Sekalian menikmati lalu lalang kapal di River Thames.

IMG_0408.JPG
Tower Bridge di River Thames

Tower Bridge sering juga disebut sebagai Jembatan Angkat, karena dua jembatannya memang bisa terangkat. Dirancang sedemikian agar kapal kapal besar dapat melintas di bawah jembatan.

Tower Bridge juga memiliki dua tower besar, yang keduanya saling terhubung oleh walkway.

IMG_0399.JPG

Ga siang apalagi malam, jembatan ini selalu kece. Khusus di malam hari, lampu di tubuh jembatan sengaja dihidupkan. Jelita banget. Cahaya lampunya memancarkan semburat romantis. Ga heran di sekitar alun alun jembatan, ada aja pasangan yang tehipnotis untuk segera berpelukan dan tatap tatap mesra gitu. Kayak di pilem pilemlah. Hahaha. 

IMG_0266

IMG_0267

Setelah puas menikmati Tower Bridge, kami memutuskan balik ke hotel dan dinner. Makanan hotelnya enak. Terutama saladnya, berasa asam manis pedas. Mirip acar. Baru kali ini gue doyan salad yang ada paprikanya. Pokoknya makanan ludes dalam waktu seketika.

IMG_0277

Ke London tidak mencoba Irish Pub tidak sah kata suami. Dan tidak sulit mencari pub seperti itu di London. Kebetulan di seberang hotel ada sebuah Irish Pub bernama The Shipwrights Arms. Suami langsung tertarik. Bentuknya yang klasik membuat gue serasa berada di film cowboy Hollywood. Dalamnya antik banget. Malam pun kami tutup di sini.

IMG_0264
Big Ben. Beruntung sempat mendengar jam ini berdentang nyaring. Suaranya cetar

Esoknya, kami mengunjungi Westminster Abbey, gereja tua di London yang dikenal sebagai tempat dinobatkannya Ratu Elisabeth II sebagai ratu Inggris. Honestly gue serasa mimpi ada di gereja ini. Sumpah, arsitek gerejanya cantik banget.

Apalagi sebelum masuk, para turis ditawarkan apakah mau mengikuti kebaktian atau tidak. Tanpa pikir panjang, kami langsung iyess dong. Kapan lagi coba, bisa merasakan kebaktian minggu di gereja yang super famous kayak gini. Berada di Westminster Abbey, serasa gue menjadi tamu undangan resmi di pernikahan Prince Williams dan Kate Middleton. Uhukkkkk! Hahahaha.

IMG_0265.JPG
Westminster Abbey tampak luar

Di dalam gereja bener bener klasik tapi wah. Menjulang tinggi dengan pilar pilar yang kokoh. Seperti biasa, gereja tidak memperbolehkan aksi foto foto. Dan itu loh, banyak banget petugas berpakaian jas, layaknya mata mata yang selalu menyorot tajam ke arah pengunjung. Sedikit tidak nyaman memang dan agak berlebihan menurut gue. Bingung aja gitu. Kok sampai segitunya. Toh ga ada acara yang spesial banget. Dan tak sedikit turis bandel yang berusaha mengambil foto, dan langsung kena tegor petugas.

Pada saat keluar dari gereja, sudah ramai banget turis yang menunggu di luar.  Ada drama kecil ketika salah seorang turis berselisih paham dengan petugas. Mungkin si turis susah diatur kali ya ama petugas dan membuat si petugas kesal. Sampai akhirnya si turis ngomong, “who do you think you are? I dont need this country”. And dengan santainya si petugas menjawab “yes, we dont need you also” Jleb banget ya.

Dari Westminster Abbey, lanjut  ke St Pauls Cathedral,  tempat dilangsungkannya pesta pernikahan pasangan femomenal Prince Charles dan Lady Diana. Gereja yang menjadi sorotan dunia di tahun 80 an. Berada di St Paus Cathedral, lagi lagi seperti Dream Come True. Gue uda bayangin aja, Diana berjalan menuju altar. Lengkap dengan gaun putih yang memanjang sampai ke belakang itu. Aarrrgg……dan sekarang gue ada di sini, di St Pauls Cathedral!  Cubit pipi. Ihh…excited!

IMG_0415.JPG
Gedung Parlemen Inggris

Balik hotel, istirahat dan malamnya dinner di salah satu restoran di kawasan alun alun Tower Bridge. Ceritanya mau romantic dinner. Kan lagi honeymoon. Auuuw..auuw. Dapat surprise dari pelayan restoran, berupa coklat mungil sebagai ucapan selamat atas pernikahan kami. Mauliate!

IMG_0258.JPG

Esoknya, kami menuju Buckingham Palace. Sengaja mencoba sarana transportasi Tube atau London Underground. Gue pernah melihat ulasan mengenai salah satu jalur transportasi tersibuk di dunia ini di channel BBC.

Berada di dalam tube, rasanya sih ga jauh beda dengan kereta bawah tanah di Stockholm, malah ukuran di dalam tube lebih kecil (ga tau apa perasaan gue aja ya). Kecepatannya juga hampir sama. Jadi tidak ada perasaan yang luar biasa setelah mencobanya. Tapi paling ga gue uda nyoba. Hehe.

IMG_0257.JPG

Tube berhenti di Green Park, dari sini kami berjalan kaki menuju Buckingham Palace.  Green Park merupakan salah satu dari sekian banyak taman yang dibuat di sekitar area Buckingham Palace. Mungkin karena London sangat identik dengan istana Buckingham Palace, sehingga tak heran jika turis yang menunggu pergantian pengawal istananya sangat banyak. Memang meriah sih ya. Tontonan klasik yang sangat mainstream. Tapi memang worth it sih untuk dilihat. Menghibur dan sangat total paradenya. Setidaknya buat gue pribadi sih.

IMG_0254
Salah satu parade pergantian pengawal istana
IMG_0255
Buckingham Palace

Sebelum makan malam, kami menyempatkan singgah di HarrodsAtmosfir Borjuis lumayan berasa di dalam. Dan berita yang mengatakan kalau turis yang paling disukai di London adalah orang orang dari negeri Cina dan Arab itu memang bener adanya. Semua mereka numplek di Harrods. Konon bangsa arab tak perduli dengan harga, dan gue menyaksikan sendiri bagaimana mereka menenteng belanjaan yang super banyak.

IMG_0276

Malamnya kami ke London Eye. Rencananya sih mau nyobain wahana ini di siang hari. Berhubung antriannya puanjaaaang banget, akhirnya kami pending sampai malam. Eh, ternyata sama saja. Antriannya tetap super panjang.

Jika ingin melihat keindahan kota London, wahana London Eye ini adalah pilihan yang tepat. Walaupun termasuk kategori wisata berbayar, tapi penggemar London Eye super bingit.

London Eye memiliki 32 buah kapsul yang dapat menampung hingga 25 orang. Dengan kapasitas ini, kincir bisa mengangkut 800 orang sekaligus sekali putaran. Di dalam kapsul sangat luas, selain berdiri, duduk juga bisa. Bahkan penyandang disabilitas juga bisa masuk.

IMG_0252

Ketika kapsul bergerak, tidak berasa sama sekali. Kami juga diberi brosur berisi panduan titik titik kota London yang bisa dilihat. Mulai dari Bigben, gedung Parlemen, Buckingham Palace, dll. Dan keputusan kami memilih London Eye di waktu malam sudah sangat tepat, karena pemandangannya super bertabur lampu. Waktunya kurang lebih 30 menitlah.

IMG_0253
View  London di malam hari dari dalam London Eye. Cuma dari Handphone 

Hari terakhir di London, kami masih berkesempatan memasuki Tower of London. Sebuah kastil tua yang berumur hampir seribu tahun lebih dan memiliki nilai sejarah. Awalnya Tower of London berfungsi sebagai tempat kediaman raja, benteng pertahanan dan sekaligus penjara.

Beberapa tokoh dunia saat itu pernah dipenjara di kastil ini. Tower of London juga masuk dalam situs yang dilindungi oleh UNESCO. Pertama memasuki kastil  langsung terbayang kejamnya lingkungan kerajaan di masa itu. Seperti berada di film film kerajaan kuno dengan tembok batu tua dan menara menara besar dengan warna yang suram.

IMG_0250
Tower of London

Sebagian lorong kecil kastil, dilengkapi rekaman ilustrasi tentang kejadian yang pernah terjadi di masa itu. Seperti suara suara jeritan, suasana perang, pertunjukan manusia yang di makan harimau dan singa, welehhhhh merinding.

Konon katanya kastil ini berhantu loh…..korban dari manusia yang dihukum mati dan dipenjara. Di dalam kastil banyak lorong lorong sempit dengan dinding batu tua, kusam, berwarna gelap, dan nyaris sempurna bikin merinding. Juga terdapat penjara dengan jeruji besi, lengkap dengan tulisan tangan yang memenuhi dinding. Konon merupakan tulisan tangan orang orang yang  pernah menghuni penjara.

Mengelilingi semua kawasan Tower of London perlu tenaga ekstra karena sangat luas. Di dalam kastil juga terdapat museum yang menyimpan benda benda peninggalan kerajaan, seperti pakaian perang dari baja, senapan, hingga mahkota ratu elisabeth II yang dipakai pada saat penobatan.

IMG_0251
Tower of London

Oya, Tower of London sebenarnya memiliki sisi lain yang tidak begitu suram. Kami bisa menyaksikan indahnya ribuan bunga poppy yang sengaja dibuat di setiap halaman luar kastil. Sekilas bunga ini seperti bunga mawar merah yang tumbuh di tanah. Ternyata hanya bunga tiruan yang sengaja dibuat dan ditancap ke tanah. Cara pembuatannya juga bisa dilihat dalam video yang dipasang di salah satu ruangan kastil. Konon bunga ini dibuat untuk memperingati hari pahlawan mereka.

IMG_0260
Milenium Bridge, lokasi dekat St Pauls Cathedral
IMG_0407.jpg
London dari jembatan Milenium
IMG_0394
The Shard Building

Bagi gue London merupakan kota yang menarik. Secara keseluruhan semua tempat dan prasarana yang dimiliki kota ini menjadi iconic yang mendunia. Negara maju dan modern tapi tetap mempertahankan peninggalan budayanya.

So, pengen ke London lagi ga? Iyaaaa! pengen nonton konser tahunan Last Night of the Proms yang super itu. Aminnnnnn!

IMG_0262
Kubah St Pauls Cathedral

Salam dari

Swedia

 

 

Trip to Canary Island : Terkena Hipnotis? (Cerita Disimpan Sayang)

Yup! Kalau cuma gue simpan sendiri kok rasanya sayang. Kali aja ada bagian dari tulisan ini yang bisa berguna bagi yang memiliki rencana berlibur ke Canary Island (khususnya pulau Gran Canaria). Jadi tulisan ini bisa dibilang sebagai bagian akhir dari rangkaian semua cerita liburan gue di Gran Canaria, Canary Island

Bicara Hipnotis, gue percaya ga percaya sih. Tapi intinya, ada beberapa hal yang pengen gue kasih tau tentang pengalaman berlibur selama di Gran Canaria. Kalau sebelumnya gue bercerita tentang hepi dan asiknya aja, maka kali ini lebih ke cerita yang sedikit mengerikan atau membuat kurang nyaman.

Dan perlu diketahui, tulisan ini hanyalah sharing pengalaman tentang apa yang gue dan suami alami selama berada di Gran Canaria. Berupa segelintir kejadian yang tak mengenakkan dengan segelintir orang juga. Tepatnya orang orang yang tidak punya “Attitude” dalam mencari uang.

Tidak ada maksud untuk membuat kesimpulan yang bersifat general. Tapi dari pengalaman segelintir ini, mudah mudahan mampu membuat pembaca lebih berhati hati ketika berlibur. Di negara mana pun hal serupa ini bisa terjadi. Kita tidak pernah tau.

Jadi begini, selama liburan di Gran Canaria, gue dan suami menginap di kawasan pantai Playa Del Ingles Maspalomas. Tempat yang sangat menghibur memang. Banyak hotel dan cafe/restoran, pemandangannya juga bagus. Jadi wajar menjadi  kawasan favorite.

Tapi sangkin banyaknya turis di kawasan pantai ini, sepertinya membuat beberapa pihak mengambil kesempatan yang terkesan membabi buta. Tanpa perduli dengan kenyamanan wisatawan itu sendiri. Menggunakan cara yang kurang terpuji dan ujung ujungnya membikin kesal.

Ketika berjalan di sepanjang alun alun Playa Del Ingles, gue melihat lumayan banyak pria yang berdiri dan menawarkan brosur. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan kegiatan mereka ini. Bagian dari sebuah pekerjaanlah. Namanya juga kawasan wisata. Wajar saja.

33684436091_3b4ce5c278_o.jpg
Foto yang tak ada hubungan dengan tulisan. Suka aja hasilnya

Tapi menjadi sedikit membuat gerah, ketika mereka mulai memaksa orang lain untuk berhenti, bahkan harus mendengarkan mereka berceloteh panjang lebar. Dan tidak sedikit turis yang terlihat gerah, tapi harus mendengar. Atau pada saat turis berusaha menyudahi penjelasan (mungkin tidak interest, dan berhenti pun karena terpaksa), begitu beranjak jalan, para agen ini masih saja ngekori, memasang muka yang kurang sedap dilihat.

Dan semakin bikin pusing, karena brosur yang dibagikan bukan tentang tour travel semata, melainkan brosur makanan dan restoran juga. Jadi kebayang kan, bagaimana langkah kaki dikit dikit harus terhenti, atau paling ga tangan dan mulut harus memberi isyarat No.

Jujur nih, gue paling malas dipaksa dan dibuntuti kaya gini. Gimana sih, sedang liburan tapi  ga feel free to enjoy. Jangankan makan, jalan kaki pun kita butuh kenyamanan kan.

Dan bahkan di pusat perbelanjaannya pun begitu. Maksud hati cuma iseng iseng cuci mata, ehhhh diintilin terus. Gue uda bilang cuma liat liat, tapi bolak balik ditawari ini itu. Kemana pun gue melangkah diekori terus. Seperti di salah satu toko parfum. Semua botol dibukain, disuruh nyobain aromanya.

IMG_8960
Ini juga suka liat fotonya

Disamping gue udah malas ya, gue juga jadi ragu dengan kredibilitas tokonya. Selain sikap pelayan yang ambisi banget nawari produk, gue pun jadi kurang percaya dengan harganya. Mana produk brand pula. Kan agak sensitif ya. Apalagi mereknya familiar banget. Bicara brand pasti standarisasi harga adalah. Jadi kalau pun harga beda (sekalipun dengan embel embel “tax free”), ya ga segitunya juga kali ampe terjungkal abis. Kecuali lagi pesta diskon, itupun kebanyakan produk keluaran lama setau gue.

Ketauan beli barang nobrand deh. Daripada daripada kan. Sial aja rasanya beli produk yang salah. Tapi lagi lagi nih menurut gue, belanja itu feeling so good. Kalau merasa ragu, jangan beli deh. Kadang sistem pelayanan yang terlalu over dan maksa juga bikin hati jadi kurang yakin. Semakin disodorin yang ada gue malah semakin curiga.

Nah balik lagi ke topik utama. Gue melihat beberapa toko sepertinya sengaja melakukan sistem pelayanan yang lumayan memaksa, yang tanpa disadari membuat calon pembeli merasa sungkan, ga enak hati, atau berada di bawah tekanan, karena bolak balik disodorin ini itu. Buktinya nih, suami gue uda sempat merasa ga enak ketika gue bilang ga ada yang cocok. Tuh kan!

Dan puncaknya adalah ketika kami memasuki sebuah toko elektronik. Mau beli charger handphone. Gue lupa bawa dari rumah. Singkat cerita nemu barang dan harga yang cocok.

Dan anehnya, tiba tiba si pegawai nawarin charger yang mahalan. Dengan alasan kualitas lebih bagus. Karena merasa tidak perlu, ya gue tolak. Ehhh dia maksa mak. Lucunya lagi, dia langsung main turun harga, padahal gue ga bilang yes mau beli. Apalagi nawar.

Berbagai cara dia lakukan loh, sampai akhirnya gue juga ga ngerti kenapa malah beli itu charger. Meskipun selisih harganya tidak banyak. Jangan jangan yang ditawari ini malah kualitas yang lebih jelek! Grrrrr.

Dan drama pun belum berakhir. Tiba tiba dia melihat ke arah tangan gue yang memegang kamera. Dia nanya berapa harganya ketika gue beli. Dan bloonnya lagi, gue malah jawab. Wah, dengan semangat dia bilang kalau di toko mereka harganya cuma sekian. Sontak membuat gue ternganga. Tapi ga percaya. Masa sampe segitu murah? dipalsuin pun rasa rasanya ga segitu deh.

Tanpa gue minta, dia mengeluarkan lensa kamera. Entah mengapa tiba tiba hati gue merasa ga enak. Begitu tau gue menolak produk mereka, yang tadinya semanis madu, tiba tiba si pegawai toko terlihat semakin garang. Berbagai cara dilakukan untuk menahan kami agar tidak keluar dari toko.

Dan gue merasa semakin berada di bawah tekanan. Tiba tiba takut. Dan anehnya ga berani keluar dari toko. Di situlah dia berusaha merusak konsentrasi gue. Dengan bolak balik menyuruh gue melihat ke salah satu objek yang dihasilkan lensa yang terus terang membuat gue bingung apa maksudnya. Gue antara sadar dan tidak menyaksikan semua.

Sadar pengen keluar tapi kok melangkah keluar rasanya susah banget. Mata gue tetap harus melihat yang dia kasih tunjuk. Samar gue merasakan tangan suami memegang erat tangan gue. Semacam kode. Sepertinya suami gue merasakan hal yang sama dengan gue. Aduh apalagi dia ya, yang sungkanan gitu.

Dan di situlah gue pengen nangis. Sentuhan tangan suami seperti menguatkan gue kalau kami berada diantara orang yang ga bener. Ga ngerti apakah itu sebuah upaya Hipnotis. Yang jelas gue merasa takut, capek dan membatin sangat. Dan kalau dengar cerita di masa kerja dulu, korban hipnotis biasanya dibuat capek sedemikian. Juga takut. Karena sewaktu di Jakarta, gue pernah dicobai kriminal mengaku dari telkomsel. Begitu dia tau kalau gue sudah hapal trik tipuannya, dia balik ngebentak gue. Dan gue kaget banget. Sepertinya itu salah satu cara mereka, agar korban merasa lemah jantung deh.

Setiap mau keluar, rasanya langkah tertahan terus. Setiap mau keluar lagi, si pegawai menahan lagi, dengan menurunkan harga hingga empat kali lipat. Padahal gue ga niat beli apalagi nawar. Gila kan!

Dan begitu gue bilang ga, dia langsung panggil bosnya. Di sinilah puncak ketakutan gue. Diserang dua orang sekaligus. Gue juga ga ngerti perasaan takut yang gue rasakan sangat berlebihan. Entah mengapa. Rasanya takut yang tertekan batin gitu. Susah jelasinnya. Sampai sekarang kalau mengingat itu, gue juga ga habis pikir. Kok bisa.

Lalu si bos ngomong ke gue dengan mimik muka seperti tertahan marah (bayanginnya seram), “Kamu ngerti ga yang dijelasin pegawai saya?”

Gila deh. Dia maen buka komputer. Langsung nunjukin gambar gambar yang lagi lagi membuat gue bingung. Cuma gambar biasa yang ga ada artinya sama sekali. Katanya hasil kerja lensa. Pretttt! Emang gue ga bisa lihat photo bagus apa. Sayang, batin gue meskipun takut, tapi masih bisa melawanlah.

Dan disitulah gue mulai sadar, gue harus keluar dari neraka ini. Ya Tuhan, gue marasa capek dan letih banget rasanya. Seperti melawan sesuatu tapi tertahan. Dan tiba tiba gue dengar suami setengah teriak, “Ok, stop semua ini. Kami harus pergi”

Disitulah awal keberanian gue. Dan gue pun melangkah cepat keluar dan masih sempat mendengar suara ngoceh dari mulut mereka. Tapi gue tidak mau melihat ke belakang. Beneran loh, gue sedih dan ngeri kalau mengingat itu. Dan gue sedih campur baur, ketika suami gue bisa seberani itu. Ternyata dia bilang, dia sudah tak tahan. Dan dia pun ga ngerti kenapa bisa tiba tiba setegas itu ke mereka. Tuhan menolong kami.

Mereka mengaku imigran dari *Ba**desh. Perawakan wajah dan kulit memang cocok. Gue tau dari mereka sendiri. Ketika di awal awal berusaha merayu agar gue membeli lensa. “Kita saudara, sama sama dari asia” mengutip kalimat si pegawai. Untunglah gue ga jadi sodara dengan mereka. Pelaku dagang yang bar bar.

Tanpa berniat rasis, gue cuma menulis kebenaran yang gue alami. Gue juga perantau di negara orang. Tapi apa yang mereka lakukan terhadap kami, sampai sekarang pun masih membuat bergidik. Kalau kalian melihat langsung, bagaimana mimik wajah mereka yang berusaha membuat tertekan dan ketakutan, pastinya lebih bisa memahami posisi dan perasaan kami saat itu.

IMG_8958.jpg

Pengalaman lainnya adalah ketika kami berjalan menuju pantai, tiba tiba dihadang seorang pria. Ditawari selembar kartu. Gue udah males bersikap manis deh. Apalagi, si pria ini berusaha menarik perhatian kami dengan trik yang sedikit basi menurut gue.

Tiba tiba suami disuruh menggores kartu dengan koin. Dan taraaaaaa….Congratulation! “Kalian dapat hadiah. Amazing! Jarang jarang loh seperti kalian ini beruntung”. Katanya kami dapat handphone, menginap di hotel berbintang, dll. Dan tanpa basa basi, dia memanggil seorang wanita yang mengaku bosnya. Hmm, perasaan sistemnya selalu panggil bos deh.  Si wanita ini pun kembali mengulang kalimat si cowok tadi. Kalau kami beruntung dapat hadiah.

Dan gue dong ya, akibat pengalaman di toko sebelumnya, entah mengapa mulai gerah dengan semua gangguan ini. Dan merasa sontoloyo juga, kenapa harus berhenti dan  teposeliro segala dengan menerima kartu yang disodorin. Tapi taulah, lagi lagi sulit menjelaskan kekuatan apa yang dimiliki orang orang kaya mereka. Terutama suami gue nih, sudah gue wanti wanti jangan berhenti, payah deh. Sungkanan banget orangnya.

Dan tanpa bisa berlama lama lagi, gue langsung to the point aja. Menanyakan tujuan mereka kasih hadiah untuk apa. Toh kami tidak melakukan apa apa. Dan gue perhatikan ya, selalu deh jawaban mereka yang ga masuk akal gitu. Seperti berusaha mengalihkan konsentrasi. Katanya sih karena kami mempromosikan hotel yang ada di kartu. Dan untuk itu kami wajib ke kantor mereka.

Ohhhh yaaaa? Promosi hotel? kapan mak? Kartu aja baru didapat. Trus nyuruh ke kantor, kami mau dibekep dong pikirannya? Sorry deh, gue uda ga bisa berpikir positif lagi saat itu. Supaya bisa lepas dari orang orang kaya gini, ya harus punya pikiran jelek. Biar aura negatif mereka ga masuk ke batin. Bye!

Buat gue sih itu menyeramkan. Memang sih, jam terbang traveling gue masih dikiiiittttt banget. Tapi sejauh tempat yang pernah gue datangi, belum pernah mengalami hal yang menakutkan begini. Aman aman aja.

33428951950_63e218d986_o

Belum lagi, kalau makan, hampir tiap menit didatangi penjual ini itu. Yang topi, kacamata, aksesoris. Bukan mau sok atau gimana. Ga sama sekali. Tapi sepertinya ketika liburan, apalagi pas makan, kalau selalu menjawab “sorry, atau no thank you”, makanan di piring juga ga bakal habis.

Tak sedikit turis yang terganggu dengan suasana ini. Tapi tak sedikit juga yang no problem. Dan kebetulan, gue masuk tipikal yang kurang nyaman untuk urusan kaya gini. Apalagi kalau makan pas lapar. Maksud gue, kan ada tempatnya ya untuk mereka menawarkan itu. Kalau rejeki pasti adalah yang beli.

Belum lagi, ketemu orang di jalan dan tiba tiba minta uang. Kaget kan. Ga dikasih teriakkkkk kenceng. Gue ada videonya. Kebetulan waktu itu, gue lagi buat video dan ngomong lucu lucu dengan suami. Maksudnya untuk video privatlah. Bukan untuk di publish. Lagi asik ngomong di video, tiba tiba ada yang menghadang dan maksa minta uang. Karena kami ga kasih, dia teriak kencang banget. Lemas kaki gue tau ga. Video pun langsung memble.

Aduh pokoknya sayang banget deh tempat wisata secantik itu jadi lumayan terganggu. Padahal kesan pertama itu loh yang membuat turis kembali lagi atau tidak. Apalagi sumber penghasilan mereka kan memang dari kunjungan turis.

Jika ada yang belum mengerti maksud tulisan gue ini, dan kemudian salah mengartikan, ga apa sih. Kalau bisa merasakan langsung ketakutan gue mungkin baru tau kenapa reaksi gue sedemikian.

Persoalan iba maupun positif thinking selalu ada porsinya. Waktu dan kondisi yang menentukan. Rasa iba akan muncul ketika berhadapan dengan orang yang benar benar perlu ditolong, tanpa niat jelek dan di saat yang tepat. Tuhan juga pasti menjadikan kita sebagai perpanjangan tanganNya. Gue sih yakin banget itu. Hati nurani pasti bersuara.

Begitulah ketika kami bertemu seorang pak tua. Setiap malam dia memainkan seruling di pinggir jalan. Dia bekerja tanpa menggangu kenyamanan orang lain. Tanpa membuat orang lain takut. Ikhlas bekerja dengan kemampuan yang dimiliki. Hingga larut. Gue pun rasanya berat hanya melangkah dan melewati permainan serulingnya tanpa menoleh dan mengulurkan tangan.

Maksud gue yang begini inilah. Nurani pasti berbicara dan bisa membedakan, kapan harus menolong orang yang niatnya bersih dan kapan harus menghalau orang yang menginginkan sesuatu dengan niat dan perangai jelek di hatinya. Aura baik or jahat seseorang, setidaknya bisa dirasakan. Tergantung sekuat apa mental kita bisa berani menghalaunya. Setidaknya buat gue seperti itu.

Seperti yang gue bilang di atas, ini hanyalah pengalaman jelek gue dengan segelintir orang di Playa Del Ingles. Bukan berarti semuanya menjadi jelek. Karena tak sedikit juga dari mereka yang baik dan ramah. Apalagi di wilayah lain Gran Canaria, seperti Las Palmas dan Puerto De Mogan, gue tak melihat hal dan prilaku jelek dari warga setempat. Termasuk juga penjaga tokonya. Semuanya santai aja.

Tapi meskipun begitu, tidak ada salahnya tetap berhati hati. Tapi ga harus parno juga. Gue percaya banget dengan feeling. Biasanya kita bisa merasakan maksud baik dan jahat seseorang.

Buat gue pribadi, ketika berada di luar sana, diantara orang yang tidak gue kenal sama sekali, rasanya sih normal aja untuk tidak terlalu mudah percaya. Kita tidak pernah tau, bahaya apa yang menunggu kita di luar sana, termasuk ketika holiday tentunya. Semoga menjadi tulisan yang berguna.

IMG_8959

Ohya, di bawah ini adalah bagian yang agak melenceng dari cerita di atas. Tapi pengen gue sharing juga.

Sekedar info, Gran Canaria memiliki air yang kurang bagus. Jadi jangan sekali kali meminum air dari kran. Bahkan katanya, untuk memasak pun, mereka tidak menggunakan air kran. Karena air di kran diambil dari air laut yang kadar garamnya dihilangkan. So kalau mau minum, beli minuman botol.

Untuk internet? Menurut gue, ga di hotel maupun restoran, layanan internetnya lemot banget.

Masalah on time? Busnya pernah telat limabelas menit. Begitupun di pintu sebuah restoran tertulis buka pukul setengah dua siang, kenyataannya buka pukul 2 siang lewat.

Jalanan bersih? Bersih banget. Tapi di suatu pagi di hari Minggu, sekitar alun alun Playa Del Ingles, pernah melihat sampah berserak. Mulai dari tissue, botol softdrink, botol minuman, plastik, tergeletak manis di depan toko dan jalanan. Dan memang langsung dibersihkan petugas. Jadi kesimpulannya, warga luar ga semuanya tertib sampah.

Ohya, kalian punya pengalaman dengan scammerkah ketika liburan? Ayo sharing dong biar sama sama tau 🙂

See you in my next story.

Trip to Canary Island : Tour Camel dan Terwoww Melihat Gran Canyon Versi Canaria

Setelah mengikuti dua tour ke Little Venice di Puerto De Mogan dan kota Las Palmas, maka inilah puncak kebahagian gue selama mengikuti tour di Gran Canaria, Kepulauan Kanaria.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, gue itu uda suka nonton acara berbau Flora dan Fauna. Atau tempat terkenal dan menarik akibat maha karya alam yang luar biasa. Makanya selalu (tepatnya sok) menyimpan mimpi kelak bisa ke tanah Real Afrika sana, karena wilayahnya yang selalu mengisi topik ulasan di Discovery Channel, Nat Geo Wild, dan National Geographic. 

Itulah sebabnya ketika bisa melihat Gurun Pasir ala Sahara di Canary Island, gue senang banget. Sangkin terkesimanya, gue belain dua hari berturut jalan di gurun. Sampai lupa kalau jalan di gurun pasir itu melelahkan.

Nah, pas tau  ada tour Camel di list wisata yang ditawarkan Ving (travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island), gue langsung iyessss.

Padahal suami gue tidak begitu interest. Takut dia. Si gendut gue itu emang. Liburan versi dia kalau ga ke museum, ngiderin kota, duduk santai di cafe, ngebir, makan, ya apalagi kalau bukan sengaja bangun cepat dan sarapan yang buuuuanyakHahaha.

IMG_9160.jpg
Landscape sebuah pertambangan

Selain takut bulunya gatal, dia bilang si unta bisa ngamuk. Karena temannya pernah diamuk unta. Hahaha. Tapi gue sih tetap kekeh. Uda bayangin naik unta ala ala musafir (tinggi imajinasi). Untung imajinasinya ga sampai pakai jubah dan penutup muka. Uda kaya orang majus aja.

Sehari menjelang tour Camel, suami gue uda terlihat gelisah. Sampai sampai bilang gini, “mudah mudahan cuaca jelek, jadi batal deh tour Camel besok”. Segitunya coba.

Tapi sejujurnya, sedikit banyak gue jadi terpengaruh. Ngebayangin duduk sendiri di atas unta, yakin bisa? kalau tiba tiba untanya stress dan ngamuk gimana. Trus urusan duduk nih yang lumayan bikin baper. Punggung unta kan melengkung ya.  Bayangin duduk di situ kok rasanya tertusuk balok banget. Hahaha.

Bisa bisa menggelindang jatuh mak! Belum lagi terik matahari pasti ngebakar kulit. Tengil bangetlah, lupa kalau liburannya bukan di tropis 🙂

IMG_9165.JPG
View di perjalanan

Berdua akhirnya jadi mikir macem macem. Apalagi suami uda wanti wanti, jangan pake celana pendek. Tar kena bulu unta. Opung opung kalau menapak uzur gini deh jadinya. Rempongss.

Maklumlah, namanya perdana. Dan memang berdua sama sama awam tentang binatang ini. Sebenarnya, gue uda malas banget bayangin pake jeans panas panas. Tapi sialnya, takut kena panas juga. Meskipun haus sinar matahari, tapi tetap aja, gue kan produk asli Indonesia. Masih takut gosong.

Pokoknya gaya gue patenlah. Pake celana plus jaket jeans, dan tak lupa topi. Dan you know what sesampainya di sana? gue sukses mirip ondel ondel bergaya sok denim. Beda sendiri dong.

Selebihnya orang orang pada pakai tank top, celana pendek dan leggings 3/4 gitu. Kalau topi masih oke sih. Tapi untungnya gue berada diantara orang orang yang bodo amat urusan salah kostum atau beda sendiri. Ga ada waktu mereka merhatiin gue. Siapa juga kan.

IMG_9127.jpg

Kami berangkat pukul 9 pagi. Perjalanan yang sungguh memicu adrenalin. Benar benar ga nyangka harus melalui jalanan sempit, meliuk, menanjak dan menurun. Salah sedikit, alamat langsung cusss ke jurang terjal dan cadas. Sepanjang mata memandang, hanya ada tebing gunung dan jurang

Jika bertemu kendaraan lain, bus harus berhenti. Atau sebaliknya, mobil di depan yang berhenti. Akibat kecilnya ruas jalan, jadwal transportasi bus dari berbagai travel tour pun diatur sedemikian. Jadi tidak ada pertemuan antara bus yang datang maupun yang pulang. Sepertinya keberangkatan semua bus dibuat pagi deh.

IMG_9162.JPG

Sesampainya di kawasan tour Camel, aroma bau ternak mulai berasa. Seperti bau kotoran sapi. Tapi masih level tenggang rasa kok. Ga sampai membuat kepala cenat cenut. Aroma binatang kaya apa sih. Ga mungkin bau body lotion kan.

Begitu melihat gerombolan unta, gue dan suami langsung berpandangan. Sumringah tepatnya. Uda capek mikir ini itu, bertanya sendiri jawab sendiri, ternyata apa yang dikhawatirkan sama sekali tidak terjadi. Kami tidak harus menunggangi unta sendirian, melainkan cukup duduk manis di bangku yang dirancang khusus mengikuti lekukan badan unta. Jadi yang parno kena bulu unta, harusnya ga perlu pake jeans ya. Hahaha.

IMG_9132.jpg

IMG_9129.jpg

Dan enaknya lagi, gue dan suami bisa duduk bersamaan hanya dengan satu ekor unta. Biar duduknya tidak oleng, gue duduk di bangku sebelah kiri dan suami di sebelah kanan. Sebelum bangku dipasang, punggung unta harus diberi lapisan bantal busa. Agar unta juga bisa berasa lebih nyaman. Mempersiapkan semua peserta tour lumayan memakan waktu. Karena semuanya harus berangkat berbarengan. Mengikuti seorang leader di bagian terdepan.

Sebelum dinaiki, semua unta terlihat duduk santai di tanah. Barulah peserta tour satu demi satu dipanggil. Didahulukan orang tua yang membawa anak anak. Dan sepertinya  para pegawai juga memperhatikan postur tubuh peserta. Yang ini dan itu cocoknya duduk dengan siapa. Mungkin tujuannya untuk menjaga keseimbangan juga.

IMG_9128 (1).JPG

Kemudian dipasang sabuk pengaman. Kaki harus berada di tali pengait (seperti naik kuda gitulah). Keseimbangan memang sangat sangat diperhatikan. Selain hal yang sudah gue jelaskan tadi, mostly bangku diberi satu karung berisi pasir di bagian sisi kiri dan kanannya.

Untuk memperkecil resiko bahaya, mulut unta diberi jaringan pengaman. Jadi kecil kemungkinan unta mencelakai atau menggangu peserta tour di depannya. Karena jarak antara unta yang satu dengan yang lain saling berdekatan.

IMG_9131.jpg

Masing masing unta semuanya terhubung dengan seutas tali panjang. Tujuannya agar unta tetap berada di jalur yang sama. Sebab semua rombongan hanya dikendalikan oleh satu leader, yang menggiring unta berjalan di bagian depan. Dan kebetulan pula, unta yang digiring si leader adalah unta yang kami naiki.

IMG_9122.jpg

IMG_9158.jpg

Lega banget rasanya, ternyata bisa menikmati tour camel ini dengan santai. Jauh dari bayangan seram. Paling di saat unta di suruh berdiri yang agak gimana gitu. Kaya kena turbelensi. Hahahha.

IMG_9119
Viewnya kece
IMG_9120
Anggap saja lagi maen film hahaha

Soalnya badan unta kan tinggi. Jangankan mau berdiri, disuruh duduk aja agar kami bisa turun lumayan berasa goyang. Karena unta harus menekuk kakinya. Dan tangan kami pun harus memegang erat erat pegangan di bangku.

IMG_9121.jpg

IMG_9117.jpg

IMG_9118.jpg
Ini masih sebagian kecil dari sekian kaktus raksasa yang memenuhi sekitar

Apalagi sepanjang perjalananan, view yang dilewati pun mirip semi Afrika gitu. Tanah kering, tanaman kaktus berukuran besar, hingga gunung batu. Eksotiklah. Setidaknya buat gue ya. Mungkin akan berbeda sensasi jika naik untanya hanya di kawasan zoo.

Kalau mau melihat Mini Zoo juga ada.  Mini Zoonya terkesan maksa. Ga ada apa apanya. Cuma kandang kecil berisi dua ekor unta. Peserta tour bisa memberi makan unta dengan menaruh makanan di ujung mulut. Nanti si unta langsung ngambil makanan pakai mulutnya juga. Ya kalau mau merasakan ciuman dengan unta sih boleh dicoba. Hahaha.

IMG_9124.jpg
Mini Zoo. Gunung itu jadi bikin cantekkk

Nah, keseruan tour hari itu pun semakin sempurna, setelah dalam perjalanan pulang bus melewati kembali jalanan yang terjal tadi. Gue duduk dengan posisi jendela pas menghadap jurang. Seram seram menakjubkan. Dan tak jarang supir bus membunyikan klakson yang sontak membuat gue bergidik. Layaknya himbauan pasang sabuk pengaman di pesawat, bunyi klakson ini seperti mengisyaratkan puncak high risk dari semua ruas jalan yang dilewati. Salah dikit aja, boomsss deh ke bawah. Badan bus ke tepian jurang cuma sejauh pengaman besi saja. Lebih jelas bisa lihat video di akhir tulisan ini.

IMG_9161.jpg

IMG_9112.jpg
Keceeeee

Konon supir bus yang mengendara di jalanan ini harus memegang driver license khusus. Jadi Supir bus biasa tidak diperbolehkan katanya. Artinya hanya driver handal yang sudah menghapal benar medan jalan. Kapan dan dimana harus membunyikan klakson sebagai tanda isyarat agar tidak berpapasan dengan mobil lain.

Sebagai orang yang phobia naik bus di jalanan tinggi seperti ini, gue nekat aja melihat ke bawah. Cakep banget soalnya. Kalau melihat hasil video/foto, masih kalah indah dibanding melihat langsung. Feelnya dapat banget. Coba direkam pake drone, pasti kece maksimal.

IMG_9166.jpg

IMG_9167.jpg

Tapi begitu sampai di kawasan viewpoint Mirador Degollada de Las Yeguas, semua ketakutan dan desisan tertahan di bus terbayar sudah. Berdasarkan info si guide, tebing dan jurang di kawasan Yeguas ini lumayan mirip dengan tebing batu di Gran Canyon US, makanya sampai diberi julukan “Gran Canyonnya Canaria”. Mereka ini sepertinya suka banget deh memiripkan wilayahnya dengan wisata terkenal lain. Hahahaha.

IMG_9168.jpg

IMG_9163
Liukan jalan dari Viewpoint Yeguas

Sebagai pemupuk mimpi akan keindahan Gran Canyon di Amerika sono, lumayan berpengaruh juga ke gue. Ibarat menyantap appetizer sebelum maincourse. Anggap saja latihan mata dan mental. Kali aja rejeki bisa ke Arizona (…..tuh sampai di bold), jadi uda ga kalap sampai selfie gaya alay di ujung tebing dan cussss terbang ke bawah. Langsung byeeeee deh.

IMG_9114.jpg
Kaya di planet antah brantah. Apalagi kalau ngelihatnya sendirian. 
IMG_9115.jpg
Kecenya mak!

Konon bentukan jurang di kawasan Yeguas merupakan hasil muntahan lava sekitar duabelas juta tahun yang silam. Tepatnya dari tumpahan lava puncak gunung Amurga.

IMG_9116
Gundukan tebing gunung ini menjadi salah satu kemiripan patahan seperti di Gran Canyon Arizona

Sepanjang mata memandang, semuanya tebing dan jurang. Tapi kece dan magis. Percaya deh. Kalau melihat langsung pasti takjub. Serasa berada di lengkungan bumi di planet susulan.

IMG_9113.jpg

IMG_9155.jpg

Bahkan hingga perjalanan menuju pulang, view yang dilihat sukses membuat mata melek. Sampai sampai view sebuah pertambangan bumi pun bisa terlihat kece. Jalanan mereka okeh banget sih menurut gue. Meskipun kecil, meliuk dan menanjak, tapi mulus.

Video lengkap selama perjalanan bisa klik link di bawah ini

Salam dari Swedia.

“Semua foto merupakan dokumentasi ajheris.com” 

Trip to Canary Island : Las Palmas (Kota Sejuta Palma), Hingga Rumah Colombus dan Belanja Asik

Seperti yang sudah gue tulis di tulisan sebelumnya, ada beberapa tour yang kami ikuti selama berada di Canary Island, tepatnya di pulau Gran Canaria. Dan kali ini, gue akan bercerita tentang kota yang tak lain merupakan salah satu dari “dua ibukota” yang dimiliki oleh Kepulauan Kanaria (Canary Island). Apalagi kalau bukan kota Las Palmas.

Las Palmas buat gue adalah sebuah kota yang apik dan bersih. Disebut Las Palmas karena kota ini memiliki tanaman Palma yang sangat banyak. Nyaris ada di setiap sudut jalanan kotanya.

IMG_8889.jpg

IMG_8843.jpg

Sebenarnya tidak hanya di kota Las Palmas, di kota lain di pulau Gran Canaria pun, pohon Palma mudah dilihat. Mungkin karena pertumbuhannya yang subur, sehingga pemberian nama Las Palmas sebagai nama ibukota menjadi lebih tepat.  Naik bus, jalan kaki, selalu terlihat pohon Palma. Berasa lebih sejuk di suhu kota laut yang lumayan hangat.

IMG_8855.jpg

IMG_8845.jpg

IMG_8846.jpg

Las Palmas itu kece. Gambaran ibukota yang eksotic. Gue bisa menikmati barisan pohon Palma, shopping mall besar, hingga ombak laut secara bersamaan. Bahkan sambil makan ikan goreng segar, di restoran sepanjang jalan di depan laut.  Ikan gorengnya  ala Indonesia pulaaak. Bodynya masih ori. Lengkap dengan kepala, ekor, sirip, bahkan matanya. Hahaha. Sexy banget kan. Selera banget gue makannya. Salmon dan Torskfish filet langsung kalah.

IMG_8858.jpg

IMG_8842.jpg

IMG_8856.jpg

IMG_8857.jpg

Las Palmas merupakan pusat perwakilan dunia wisata di Gran Canaria. Baik hotel, toko, butik mahal hingga murah menggila, shopping mall, old town, gedung modern, dan pastinya laut, semuanya bercampur baur jadi satu paket di kota ini. Lautnya ala ala film Bay Watch gitu.

IMG_8887.jpg

IMG_8888.jpg

IMG_8885.jpg

IMG_8886.jpg
Ibukota di pinggir laut. Ga crowded pula

Salah satu objek wisata yang banyak dikunjunjungi di kota Las Palmas adalah wilayah Old Townnya. Jika gue bandingkan dengan kota tua di beberapa negara yang pernah gue kunjungi, kota tua di Las Palmas sih biasa aja. Tapi tetep menarik buat ditelusuri. Seperti gambar di bawah ini.

IMG_8873

Cuma, di kota tua Las Palmas berdiri sebuah rumah antik yang pernah ditinggali oleh sosok penjelajah yang terkenal seantero jagat. Siapa lagi kalau bukan Christopher Colombus, pria yang disebut sebut sebagai penemu benua Amerika (meskipun sampai saat ini keakuratannya masih simpang siur).

Rumah bernama Casa De Colon yang konon katanya pernah ditempati Colombus pada tahun 1492, tepatnya ketika beliau berlayar menuju Amerika. Colombus mengalami masalah dengan kapal layarnya, yang mengharuskan beliau berhenti di pulau Gran Canaria. Tujuannya adalah untuk menetap sementara di pulau ini dan melakukan perbaikan atas kapal layar yang rusak.

IMG_8869.jpg
Bagian belakang bangunan Casa De Colon (Rumah/museum Colombus)

Awalnya Casa De Colon merupakan rumah kediaman kepala pemerintahan Gran Canaria pertama di jaman itu, dan dianggap sebagai rumah kalangan elite. Mau tau salah satu ciri khas rumah kaum elitenya? Dari balkon bangunannya.

Balkon bangunan pun harus tertentu. Terbuat dari kayu ukiran. Bahkan sampai sekarang, balkon seperti ini masih dipertahankan. Jika ada rumah antik peninggalan jaman dulu yang memiliki balkon kayu dan kemudian mengalami renovasi atau dijual, maka balkon balkon tersebut tetap diambil atau digunakan ke bangunan yang baru.

Casa De Colon artinya Rumah Colombus. Rumah antik yang sudah kelihatan berumur. Setelah mengalami renovasi pada tahun 1777, di tahun 1953 Casa De Colon resmi dijadikan museum.

Dalam museum juga tidak ada yang terlalu luar biasa (lagi lagi menurut gue). Paling hanya peta peta wilayah dunia yang pernah dijelajahi Colombus, lukisan lukisan besar yang gue kurang ngerti hubungannya apa dengan sosok si penjelajah, buku buku dengan tulisan tangan yang sudah sangat tua di dalam etalase (gue ga baca tentang apa tulisan itu), miniatur kapal layar jaman bahela, dan puncaknya sebuah ruangan yang sengaja diciptakan dengan nuansa Colombus. Seperti tempat tidur Colombus lengkap dengan kursi, pernak pernik drum kayu, tali berukuran besar, jangkar, pokoknya berbau pelayaran laut jaman dululah. Lengkapnya bisa dilihat pada akhir tulisan ini. Gue nyantumin link youtube gue.

IMG_8839
Bangunan rumah sekitar katedral. Balkon diberi kain warna merah sebagai peringatan menyambut Paskah
IMG_8877
Katedral Santa Ana bersampingan dengan Casa De Colon (bagian depan)

Gue sih lebih suka melihat bangunan luarnya. Gambaran design arsitek bangunan di jamannya. Oh iya, begitu kami mau keluar, terlihat dua ekor burung kenari yang warnanya ngejreng banget. Sengaja diletakin di lantai. Sudah jinak. Jadi meskipun didekati tidak panik lagi. Kenari adalah burung yang konon memiliki habitat yang banyak di Canary Island.

Tepat di samping Casa De Colon, terdapat Katedral SantaAna. Dibangun sejak tahun 1500, namun hingga saat ini pembangunan gereja tidak rampung juga. Gila banget.

IMG_8878.jpg
Katedral Santa Ana tampak depan

Infonya sih, gereja ini sepanjang masa selalu melakukan pembangunan demi pembangunan terhadap gedung gereja. Makanya tak heran jika Santa Ana memiliki ruangan gereja yang luas dan besar, dan arsitek bangunan di bagian depan dan belakang pun mewakili tahun dan jaman yang berbeda. Bisa gotic, klasik dan semi klasik.

IMG_8870.jpg
Katedral Santa Ana dari belakang
IMG_8863.jpg
Di dalam katedral Santa Ana
IMG_8864
Bangunan lain yang menyatu dengan katedral Santa Ana

Nah enaknya lagi nih, tour yang kami ikuti memberi kesempatan berbelanja kurang lebih 3 jam. Lumayan kan waktunya. Buat gue, meskipun bukan surga belanja (karena toko tokonya tidak terlalu banyak), tapi Las Palmas bisa jadi kota yang asik untuk sekedar berbelanja. Karena lumayan murah.

Tidak di Las Palmas aja sih, bahkan di beberapa tempat lain juga lumayan murah. Bahkan di butik hotel tempat kami menginap, gue membeli gaun malam dengan harga yang relatif ramah di kantong. Cuma 20 Euro. Bahan dan jahitannya bagus. Di badan enak dipakai.

Jika berlibur, berbelanja bukanlah kegiatan yang harus di gue. Kalau sempat okeh dan kalau ga ya udah. Beda kalau souvenir ya. Itu wajib. Karena gue suka ngumpulin souvenir mini gitu.

Tapi jauh hari sebelum berangkat ke Canary Island, gue memang sudah berniat pengen belanja. Dengan asumsi, harganya pasti lebih murah dibanding Swedia. Apalagi tak sedikit barang dagangan di Swedia yang menjual made in Spain. Jadi kalau beli di Spain logikanya sih bisa lebih murah ya. Apalagi katanya (kata pegawai tokonya sih), negara ini tidak mengenakan pajak atas banyak barang dagangan. Betul ganya malas mastikan. Hahaha.

Tapi meskipun begitu, gue memang berniat belanja serius hanya di kota Las Palmas. Tidak di pusat perbelanjaan kawasan Maspalopas Playa Del Ingles tempat kami menginap. Agak takut dan kurang nyaman. Apalagi setelah mendapat pengalaman tak mengenakkan dengan beberapa pedagang di kawasan ini. Gue akan tulis terpisah tentang pengalaman nyebelin itu.

Dan yang gue lihat sih, attitude pegawai toko di Las Palmas terlihat lebih baik. Lebih santai mereka jagain tokonya. Ga ngintilin. Kasarnya sih lo beli oke, ga juga ga apa. Ga dipaksa harus membeli. Sebel ga sih, di underestimate gitu. Pas belanja pula. Sial banget rasanya.

Nah, pas belanja, gue ketemu satu toko yang nyaris membuat gue setengah kalap. Kadang insting belanja itu kan ga bisa bohong ya. Maksudnya sekalipun harga murah, kalau barangnya terlihat ga bagus, ya ga ada yang istimewa juga.

Cuma pas masuk ke toko ini, gue dan suami sampai bisik bisik, ini benar ga sih harganya. Rata rata cuma 10 dan 12 Euro. Kalaupun ada yang mahalan, paling jumlahnya ga gitu banyak. Sampai kami mikir, jangan jangan nolnya kurang nih. Bukan 10 tapi 100 Euro. Hahaha.

FA74C4BB-02B0-4323-A431-93BD2C823F7B

Gue lihat high heelsnya, baik model, bahan dan warnanya bagus bagus. Kelihatan sexy. Sepatu sneakernya juga. Lumayan nyaman di kaki. Maksudnya dengan harga segitu loh. Tasnya apalagi. Meskipun sintetis, ga kaku kaku bangetlah. Jahitan dan bagian dalamnya rapi dan talinya kuat.

Awalnya suami gue agak angot angotan pas gue suruh nyoba sepatu. Ternyata pas dia coba, lumayan enak dipake jalan. Dan sudah beberapa kali dia pake loh. Okeh aja tuh di kaki. Harganya cuma 14 Euro. Belinya nothing to loselah.

Cuma sayang banget deh, waktu itu suami gue ngajak ke toko lain. Dengan pemikiran mungkin ada yang lebih menarik lagi. Sebenarnya kalau gue sih ga harus ngider sana sini ya. Kalau uda ketemu yang cocok, ya sudah. Ngapai capek sana sini lagi. Toh di sini juga lengkap bagus. Dan bener aja. Sampai habis waktu, toko lain uda lumayan mahal.

Tapi seperti yang gue bilang tadi, memang uda niat belanja. Terutama nyari brand lokalnya. Seperti BimbaY Lola. Gue suka banget produk label ini. Bahan kulitnya lembut. Selembut saldo di tabungan melayang. Huuaaahaha. 

Pas pula ketemu yang warnanya gue suka. Peach Pink. Modelnya simple, ga terlalu besar dan ga kecil banget juga. Menurut gue bisa dipakai formil bisa juga pas santai.

Sebenarnya urusan belanja kaya gini tergantung selera sih ya. Baik model, kualitas dan murah ganya tergantung masing masing orang. Buat gue mihil mungkin bagi orang lain murah. Sebaliknya gue bilang murah mungkin bagi yang lain mihil. Atau gue bilang cakep dan kualitas lumayan, bagi orang lain malah kelihatan abal abal. So, penting bisa belanja aja uda senanglah.

Untuk melihat lebih jelas wajah kota Las Palmas, bisa klik video gue di bawah ini.

Salam dari Swedia

“Semua foto sebagian besar gue ambil dengan menggunakan handphone dan merupakan dokumentasi ajheris.com”

Mengunjungi “Little Venice”nya Gran Canaria, di Canary Island

*Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang Selayang Pandang Canary Island dan Eksotik Gurun Pasir di Playa Del Ingles*

Sebelum gue dan suami berangkat, kami menerima sebuah email dari Ving, travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island. Di email tersebut, mereka menawarkan beberapa wisata tour menarik yang ada di pulau Gran Canaria, Canary Island.

Setelah membaca teliti mulai dari hari, lama tour hingga yang paling penting urusan harga tentunya (cocok ga dikocek), kami memutuskan memilih tour selama tiga hari berturut turut. Alasan untuk mengikuti tour ini tak lain dan tak bukan, karena suami malas harus ngerental mobil atau nyetir. Lebih santai dan efisien menurut dia. Apalagi lokasi wisata yang ditawarkan memang lumayan jauh. Bisa satu jam perjalanan bahkan lebih.

Lagipula, waktu yang disediakan Ving untuk satu paket tour relatif santai dan ga buru buru. Maksudnya ga sekedar turun dari bus, foto selfie dan belum sempat liat apa apa udah naik bus lagi. Ini waktunya lumayan banyaklah.

IMG_8361
View selama perjalanan

Tour pertama yang kami ikuti adalah mengunjungi Puerto De Mogan, sebuah desa nelayan kecil yang famous di Gran Canaria. Rasa rasanya jika ke Gran Canaria sepertinya kudu ke sini deh. Soalnya selain Ving, semua brosur paket tour yang gue lihat, baik dari hotel maupun agen agen yang suka membagikan brosur, selalu menawarkan wisata ke Puerto De Mogan. Seperti wilayah lainnya, Puerto De Mogan juga punya Playa atau pantai bernama Playa De Mogan.

Berangkat sekitar pukul 8 pagi, kami harus berjalan kaki menuju hotel lain dimana bus akan menjemput kami. Ga jauh sih. Bus tidak menjemput satu persatu penumpang ke hotel. Karena masing masing penumpang menginap di hotel yang berbeda. Sepertinya untuk efisiensi waktu kali ya. Ga masalah sih harus jalan. Cuma tetap aja busnya telat 15 menit. Beberapa penumpang termasuk suami, saling bercanda terkait bus yang telat ini. Wajarlah, telat 15 menit lumayan berasa buat orang orang yang tinggal di negara dengan disiplin ontime yang tinggi.

IMG_8362
View selama perjalanan

Satu yang gue suka di setiap tour di Gran Canaria, Canary Island adalah hampir semua view yang dilewati ga ngebosenin. Buat gue sih cakep. Ya kotanya maupun luar kotanya. Seperti perjalanan ke Puerto De Mogan misalnya, view laut, gunung sampai bangunan bangunan yang memenuhi lereng tebing semua menyajikan keindahan yang berbeda. Gue suka!

Ada satu hal yang lumayan menarik perhatian gue. Ternyata dulu banget nih, orang orang di Gran Canaria menanam tomat tepat di bibir gunung yang tanahnya gersang dan sangat kering. Dan lahan gunungnya itu luasssssss banget. Ya kalau dipikir pikir sih, Spanyol memang dikenal mampu menghasilkan produk pertanian yang lumayan banyak untuk kalangan Eropa sekitarnya kan.

Cuma saat ini menurut info si guide, budi daya tomat di kawasan gunung tersebut sudah tidak ada lagi. Sumber airnya konon sudah habis. Kurang lebih gitu deh yang gue simpulkan. Mudah mudahan ga salah. Jadi untuk saat ini, budi daya tomat dikembangkan di area yang mirip green house.

IMG_8356.jpg

Begitu sampai di Puerto de Mogan, kami langsung turun dan menuju pelabuhan Marina. Pelabuhan yang digadang gadang sebagai “Little Venicenya” Gran Canaria di Canary Island. Berhubung gue belum pernah ke Venice dan cuma tau dari media sosial saja, jadi secara jelas gue ga bisa bandingin dimana kemiripannya.

IMG_8480
Ahhh..suka sekali

IMG_8482.jpg

IMG_8485

Tapi, terlepas dari julukan tadi, entah mengapa karena memang cuma sebuah desa kecil, atmosfir Puerto De Mogan itu menyajikan nuansa semi romantis. Apalagi nih, bangunan bangunan  rumah di sekitar pelabuhan membuat gue jatuh cinta. Lorong kecil, bangunan serba putih dan jejeran bunga Bougenville  yang menjuntai ke bawah dengan warna warna yang cerah. Sepertinya bunga ini secara tidak langsung menjadi ciri khas bangunan dan lorong di sana.

Puerto De Mogan, tadinya tidak memiliki pelabuhan. Lokasi desa yang tepat berada di pinggiran lautan Atlantik, mengakibatkan desa ini selalu menerima hempasan ombak yang sangat besar. Sehingga tak ayal, pemerintah kota setempat pun berinisiatif membangun pelabuhan dengan extra usaha.

Dengan cara memasang batu batu buatan berukuran besar dan tembok tinggi di beberapa titik air laut, yang tujuannya untuk bisa menahan dan menghalau ombak besar tadi. Proyek pengerjaan pelabuhan ini dilakukan mereka dengan salah satu alasan, yakni agar turis semakin banyak datang ke Puerto De Mogan. Dan itu berhasil. Karena usaha pengerjaan pelabuhan yang tidak mudah inilah, Marina Harbour mendapat penilaian dengan reputasi terbaik di mata turis. Dan cerita di balik pembuatan pelabuhan ini pun akhirnya menjadi nilai jual wisata di Puerto De Mogan.

IMG_8359
Puerto De Mogan dari ketinggian. Pelabuhan Marina tepat di atas laut Atlantik itu

Jika melihat gambar di atas, terlihat sebuah kawasan seperti berbentuk kotak. Nah, itulah pelabuhan Marina. Lebih jelas, bisa lihat video di akhir tulisan ini ya.

IMG_8477

IMG_8465

IMG_8507

IMG_8469

IMG_8473

IMG_8470
Pelabuhan Marina

Berjalan di sekitar pelabuhan lumayan menyenangkan. Airnya itu loh. Bening banget. Sampai sampai gue bisa melihat ikan berenang dalam jumlah yang lumayan banyak. Ihhh gemes. Pengen digoreng, trus disantap pakai sambel terasi. Nyossss.

IMG_8494.jpg
Ikannyaaaaa!
IMG_8493.jpg
Playa De Mogan
IMG_8463
Playa De Mogan
IMG_8462
Playa De Mogan

Ada satu hal yang menjadi keunikan lain dari desa nelayan ini. Setiap hari Jumat, mereka akan mengadakan pesta “Pasar Tradisional” atau Traditional Market yang besar. Nyaris sepanjang Puerto De Mogan ada pasar tradisionalnya. Mulai dari ujung pelabuhan sampai ke centrumnya. Dan ini menjadi salah satu kegiatan iconic Puerto De Mogan.

Maka tak heran, karena kegiatan Pasar Tradisional inilah, tour to Puerto De Mogan rata rata diadakan di hari Jumat. Cuma namanya Pasar Tradsional, sepanjang yang pernah gue lihat, ya gitu gitu aja sih bentuknya. Barang yang dijual pun hampir sama.

IMG_8468.jpg
Traditional Market
IMG_8498
Boulevard di sekitar pelabuhan
IMG_8466
Jalanan di sekitar pelabuhan

Tour yang kami ikuti ini lumayan enak. Kita tidak harus mengikuti si guide seharian. Jadi dia hanya menjelaskan secara garis besar tentang Puerto De Mogan, dan membawa kami langsung ke pelabuhan Marinanya. Sehabis itu, bebas. Mau melihat apa terserah. Asal ketemu lagi di Bus pukul sekian.

Buat gue sih cocok sistemnya. Karena gue kurang suka juga terus menerus harus ngekori guide. Kurang bebas. Yang penting kendaraannya sudah jelas ada yang menjemput dan mengantar pulang. Tour ini juga sudah masuk paket makan.

Lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah aja ya.

See you in my next story

Salam dari Swedia

“Semua foto merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

IMG_8501
Suka backroundnya

Trip to Canary Island : Playa Del Ingles dan Indahnya Gurun Ala Sahara!

Selayang Pandang tentang Canary Island sudah ada di tulisan gue sebelumnya. Kali ini gue akan menulis sedikit lebih detail tentang salah satu tempat yang gue dan suami singgahi di Canary Island.

Gue dan suami berangkat ke Canary Island pada tanggal 5 April 2017 beberapa waktu lalu. Kami membooking tiket, hotel dan pesawat melalui Ving, travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island. Melalui travel company inilah, kami bisa terbang tanpa harus jauh jauh ke Arlanda Stockholm. Cukup ke bandara udara terdekat di kota Borlange Dalarna.

IMG_8084.JPG

h.jpg
Salah satu sudut kota Playa Del Ingles

Dengan bantuan teman baik suami yang bersedia mengantar kami ke bandara, kami berangkat menjelang siang dan masih sempat lunch di kota Borlange. Setibanya di bandara, ga pake lama kami langsung check in.

IMG_8104.JPG

Sambil menunggu boarding, gue melihat semua orang di cafe bandara dipastikan warga Swedia. Dan rasa rasanya pun, dipastikan lagi mereka memang hendak liburan. Atmosfir “Welcome Holiday” sudah sangat berasa. Orang Swedia yang gue kenal sebagai penggila kopi pun, nyaris lupa kalau kopi adalah minuman kegemaran mereka. Sepertinya, awal perjalanan liburan ini bagi mereka lebih cocok dimulai dengan sebotol bir. Jadi semua meja penuh dengan bir. Kelihatan banget senang senangnya. Skål!

IMG_8101.jpg
Ketemu kejadian tidak mengenakkan di kawasan shopping center di dekat centrum ini. Akan gue tulis di bagian  scammer.

Tepat pukul 15.30 waktu Swedia, kami pun take off. Oh God, betapa perut gue kram selama penerbangan. Yang tiba tiba kena migranlah, sendi sendi kok kayanya ngilu, diajak ngomong suami marah, maunya diam aja menikmati stress. Aneh banget. Dikit dikit lihat jam tangan, trus ngomong dalam hati “ngapai harus ke Canary Island sih ampe terbang 5 jam lebih gini”.

IMG_8103.jpg

Sampai makan pun ga selera. Pokoknya benar benar depresi. Ampe mau nangis setiap turbelensi dan peringatan lampu sabuk pengaman. Sekalipun disebut turbelensi adalah hal yang wajar di dunia penerbangan, tetap aja ga ngaruh dan malah memicu syndrom gue. Cuma lagi lagi gue mikir, tenang Len, kan dirimu mau senang senang. Paling ga, dirimu sejenak melupakan setrikaan dan tang ting tung kuali di dapur.

IMG_8098.jpg

IMG_8105.jpg

Kami tiba di Las Palmas Airport sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Swedia beda satu jam lebih awal. Cuaca masih lumayan terang. Begitu bagasi beres, kami langsung bertemu perwakilan dari Ving. Langsung cek nama dan hotel, beliau pun menunjuk bus yang kami harus naiki.

IMG_8163.jpg

IMG_8082.jpg

Driver busnya agak nyebelin. Ga ada manis manisnya. Ngomongnya sedikit galak. Ga tau sih, apa memang karakternya begitu. Yang jelas namanya penumpang tetap aja kurang nyaman. Mana mood gue masih berantakan pula. Dan benar saja, nyetirnya kencang banget. Ampe suami yang jarang complain itu pun sedikit pasang muka bete. Hahaha.

IMG_8154.jpg

Berhubung di pesawat makanan ga gue sentuh sama sekali, jelas dong gue lapar. Sesampainya di hotel kami langsung berinisiatif cari makan. Dan ternyata cafe restoran masih banyak yang buka. Rata rata sampai pukul 12 malam. Kami masuk ke sebuah restoran bernuansa Brazil. Dan malam itu pun titik awal kami menikmati liburan di Canary Island. Yipiiii!

IMG_8157.jpg
IFA Dunamar Hotel. Salah satu iconic di Playal Del Ingles

Dari tujuh atau delapan pulau besar yang dimiliki Canary Island, kami memilih Gran Canaria, sebagai salah satu pulau terbesar di Canary Island setelah Tenerife. Di pulau Gran Canaria inilah terdapat kota Las Palmas, yang sekaligus  menjadi satu dari dua ibukota yang dimiliki kepulauan Kanaria (Canary Island).

IMG_8171 (1).JPG

Sebagai ibukota Canary Island, tentu saja  pembangunan infrastruktur lumayan berpusat di Gran Canaria, terutama di kota Las Palmas. Mulai dari jalanan yang oke, penataan kota yang indah, hotel dan cafe restoran dimana mana, hingga shopping center.

Selain Las Palmas dan Puerto Rico, Playa Del Ingles adalah salah satu resort  yang menjadi pusat tujuan wisata di Gran Canaria. Playa Del Ingles sendiri termasuk dalam wilayah kota Maspalomas. Pantainya indah karena memiliki bibir pantai yang luas. Bangunan hotel sangat banyak berjejer rapi di kawasan ini. Dan lokasinya rata rata tidak begitu jauh dari pantai.

IMG_8096.jpg

IMG_8070.jpg

IMG_8115.jpg

Berjalan di sekitar tepian pantai jangan kaget jika melihat banyak wisatawan yang berlalu lalang dan tiduran tanpa mengenakan pakaian alias naked. Cuma kawasan pantai sudah dibagi atas dua kelompok. Yang satu untuk kalangan Nudis dan satunya lagi Non Nudis. Terus terang, gue risih sih. Jangankan gue, suami gue yang notabene bule pun lumayan risih. Apalagi, ada beberapa wisatawan yang tetap naked dan memilih tempat berjemur di kawasan Non Nudis (campur dengan anak anak).

IMG_8153.JPG

IMG_8111.jpg

IMG_8085.jpg
Kawasan pantai ini bukan untuk Nudis. 

Apalagi Playa Del Ingles juga memiliki kawasan Gurun Pasir ala ala Sahara yang lumayan luas dan merupakan cagar nature yang dilindungi oleh pemerintah setempat.

Uniknya, gurun pasir di sekitar pantai kawasan Playal Del Ingles ini masih bersatu langsung dengan bibir pantainya. Sehingga pemandangan dari gurun pasir terlihat seperti tiga dimensi. Di satu sisi hanya terlihat hamparan dan gundukan bukit pasir, di sisi lain bisa juga melihat gurun sekaligus laut bahkan bangunan bangunan di sekitar. Eksotik sekali.

IMG_8092

IMG_8093.JPG

IMG_8089.JPG
Gundukan pasir ini kelihatannya ga tinggi ya. Aslinya tinggi loh. Dan lumayan perjuangan naik ke atasnya. 

Gue senang banget melihat gurun pasir ini. Terpersona tepatnya. Ternyata berjalan di atas gurun itu sangat melelahkan. Kebayang kan melangkah di atas gundukan pasir tebal dan kering. Apalagi kalau gurunnya berbentuk bukit dan menanjak gitu, mau naik rasanya ga nyampe nyampe karena kaki serasa terdorong ke belakang di bawa pasir. Capek banget deh. Apalagi semakin ke atas semakin berasa anginnya. Alamat pasir kena ke muka dan badan. Tapi gue ga peduli bangetlah urusan yang begini mah. Mau kena pasir apa ga, yang penting hati gue senang berada di tempat yang selama ini cuma bisa gue lihat di tipi tipi. Jadi ingat istilah kaum musafir di tengah gurun. Yang jelas, berada di gurun pasir yang gundukannya paling tinggi rasanya excited banget.

IMG_8087

IMG_8072.JPG

IMG_8091.JPG

IMG_8090.JPG

Jika memasuki kawasan gurun dari tepian pantai, banyak terlihat gundukan rumput yang lagi lagi kaum Nudis berjemur diantara semak rumput ini. Bahkan sepertinya mereka memilih masuk ke tengah tumpukan rumput dan tiduran di sana. Lebih privacy juga sih. Ide yang bagus. Hahaha. Itu kan pilihan ya. Bebas bebas ja.

IMG_8088 (1)

IMG_8206.jpg
Tumbuhan rumput ini lumayan banyak di sekitar pantai. Di kawasan Nudis, tak sedikit wisatawan yang berjemur di sekitar tanaman ini bahkan ada yang masuk ke dalam. Lebih privacy mungkin ya

Selain dari bibir pantai, gurun pasir juga bisa dilihat dari kawasan Sahara Club, semacam pedestrian di ketinggian gitu. Aksesnya bisa dinaiki melalui anak tangga yang terdapat di sekitar kawasan Shopping center Anexo II.

IMG_8077.jpg
Melihat View gurun dari sini. Jalan jalan di sini enak. Adem dan view kiri kanan oke. Ya bangunan, ya gurun juga

Menikmati pagi dan sore di jalanan ini lumayan asik. Bangunan bangunan di sekitarnya pun lumayan kece. Gue kurang tau pasti, apakah bangunan bangunan di sisi jalan merupakan rumah atau penginapan.

Bunga, kaktus, pohon palma, menjadi pelengkap keindahan kiri kanan jalanan. Dan puncaknya tentu saja hamparan gurun pasir yang bisa dilihat dari ketinggian. Melihat kepala manusia ibarat titik titik hitam yang bergerak berjalan.

Selain itu, kawasan Shopping Center Anexo II sepertinya menjadi pusat hang out di Playa Del Ingles. Cafe, bar dan restoran berjejer di sini. Berada pas di bibir pantai. Jelasnya bisa melihat link video di akhir tulisan ini.

IMG_8159.jpg
Sebagian restoran di Anexo II, pas di samping pantai
IMG_8150.jpg
Si Merah yang selalu melayang :0
IMG_8205.jpg
Menikmati sore

Mau cari souvenir juga ga perlu pindah ke lain tempat lagi. Banyak yang jual. Ada satu hal yang menarik perhatian gue. Karena banyak sekali souvenir di Playa Del Ingles berbentuk Tokek atau pernak pernik yang pasti ada tokeknya. Mulai dari mug, tempat lilin, bingkai foto, piring, hingga handuk. Sangkin penasarannya gue nanya dong ke pegawai toko. Ternyata menurut beliau, Gran Canaria memiliki populasi tokek yang sangat banyak. Bahkan bisa dilihat di tumpukan rumput di tepi pantai tempat kaum Nudis jemuran. Tapi setiap kami ke pantai ga pernah tuh nemuin tokek. Bahkan sengaja menilik ke tumpukan rumput (menilik pas ga ada orang jemuran ya..hahaha), dan tetap aja tokeknya ga keliatan.

IMG_8113
Tokek, ciri khas souvenir di Gran Canaria
IMG_8117
Flamengo, yang terbawa pulang

Dan satu lagi yang tak kalah membuat gue heran campur ketawa, souvenir dalam bentuk alat kelamin pria juga banyak banget. Kalau ini malas nanyanya kenapa. Mungkin karena daerah pantai ya. Dan banyaknya kaum Nudis yang tanpa pakaian berjemur di sekitar pantainya. Tapi jadi lucu ngelihatnya. Motif dan warnanya beraneka ragam. Bisa kamu lihat  juga pada link video di akhir tulisan ini 🙂

Oh iya, berhubung massage di Swedia lumayan mahal, jadi gue ga menyia-nyiakan massage di sini (walaupun massage kaki doang sih). Cuma 10 Euro per duapuluh menit. Ga pake appointment pula. Sangkin maruknya, tiga hari berturut turut gue mijet. Bahkan pas gue datang pertama kali, mereka lagi sibuk banget, dan bilang ga bisa melayani gue. Ehhh pas gue belum jauh ninggalin mereka, gue dipanggil lagi dong. Ternyata ya mak, mereka nelpon karyawan yang kebetulan ga tugas hari itu. Tempo 15 menit nyampe tau. Di Swedia tepatnya di Mora, impossible kuadrat rasanya bisa kaya gini. Hahahha.

IMG_8116

Kawasan di sekitar Anexo II lumayan setiap hari kami datangi. Kebetulan pas di sebelah hotel. Bahkan, dua hari sebelum balik ke Swedia, kami memutuskan hanya menghabiskan waktu di sekitar Anexo II. Berjemur di pantai, makan, minum fresh juice. Gue puas puasin deh. Secara di Mora mana ada jual fresh juice.

IMG_8074.jpg

IMG_8158.JPG

Sebenarnya ada beberapa shopping center di Playa Del Ingles. Tapi menurut gue sih kurang menarik. Semua tempat belanja di sini dinamai Shopping Center sekalipun cuma terdiri dari bebeberapa toko. Apalagi Playa Del Ingles memang orientasinya hiburan pantai ya. Jadi wajar Anexo II lebih ramai dikunjungi. Karena multi fungsi.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa klik link channel youtube gue di bawah ya.

Salam dari Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris. Plis jangan memakai foto orang lain tanpa ijin terlebih dahulu. Sudah dua kali ketemu blog yang pakai foto ajheris tanpa ijin. Apalagi sifatnya blog komersil” 

Canary Island, Surganya Warga Utara

Ada perasaan lega dan senang, akhirnya gue lumayan berhasil melawan phobia terbang dengan pesawat, yang hampir 3 tahun terakhir berhasil menahan gue untuk tidak berlibur ke tempat wisata impian.

Dan senangnya  lagi, penerbangan yang gue tempuh lumayan lama. Hampir  enam jam. Tapi depresinya tak terkatakan. But at least gue bisa lalui.

IMG_7622.jpg

IMG_7596.jpg

Sebelumnya,  gue tidak begitu familiar dengan Canary Island. Dimana letaknya pun, gue ga tau. Barulah setelah menikah, pelan pelan mulai sering mendengar suami, teman suami, kerabat bahkan tetangga, mengucapkan nama kepulauan yang termasuk dalam wilayah komunitas otonomi Spanyol ini.

IMG_7435.jpg

IMG_7436.jpg

IMG_7430.jpg

Canary Island merupakan kepulauan yang menjadi tujuan wisata yang terkenal di sebagian negara Eropa, khususnya negara yang memiliki iklim yang terlalu dingin di saat winter. Sebut saja seperti negara Nordik. Canary Island ibarat pulau Bali bagi warga Australia.

Wikipedia menyebut, Canary Island terletak di samudara Atlantik, tepatnya di sebelah barat laut Afrika (Maroko dan Sahara Barat). Sehingga, aroma alam semi Afrika lumayan bisa gue rasakan di sini.

Meskipun tidak sepanas wilayah tropis, tapi setidaknya suhu Subtropis di Canary Island mampu menghibur orang orang utara yang berlibur ke pulau yang konon menjadi lokasi pembuatan film Fast and Furious 6 ini.

IMG_7441

IMG_6246

IMG_7595.JPG

IMG_7597.jpg

Dibanding harus menempuh perjalanan yang jauh ke wilayah tropis, setidaknya jarak tempuh ke Canary Island relatif dekat dari wilayah Eropa. Akibatnya, kepulauan Kanaria menjadi santapan empuk warga Eropa yang lumayan lelah dengan winter berkepanjangan.

Jarak yang relatif dekat, suhu yang lumayan hangat, membuat nilai plus kepulauan yang juga dikenal sebagai tempat habitat burung kenari dan kadal raksasa ini. Di Swedia sendiri pun, tv lokal selalu mencantumkan text informasi terkait suhu harian di Canary Island. Bahkan beberapa daerah sengaja difasilitasi Direct Flight tanpa harus ke Arlanda Stockholm. Sesampainya di Canary Island pun, selain stasiun tv SVT Swedia yang bisa dinikmati di kamar hotel, sampai sampai gue juga melihat koran Swedia ada dijual di pulau ini.

IMG_7431

IMG_7434.jpg

Sebagian besar para pegawai restoran di Canary Island lumayan bisa mengucapkan beberapa kalimat bahasa dari negara Scandinavia. Ya namanya turis Scandinavia numplek banget di pulau ini. Tapi tak sedikit juga yang hanya mampu berbahasa Spain. Bahasa Inggris pun banyak yang tak mengerti.

IMG_7642

IMG_6122.jpg

IMG_7643.JPG

Bahkan, mereka sangat pintar menarik perhatian wisatawan dengan membuka restoran dan cafe bahkan sampai toko mainan anak anak bernuansa Jerman dan Scandinavia. Gue ga tau sih, yang punya orang orang Scandinavia atau pengusaha lokal. Yang jelas ada restoran bernama De Munich, Cafe Konditori bergaya Swedia, toko mainan bernuansa Norwegia.

IMG_7632
Mini Golf tepat di samping cafe bernuansa Swedia

IMG_7630 (1).jpg
Cafe yang menjual roti dan cake ala Swedia

IMG_7446.jpg
Ada Roti Semlanya orang Swedia. Nama cafenya pun memakai kata Konditori 🙂

IMG_7599
Gereja yang dibangun turis Skandinavia

IMG_7621.JPG
Bentuk gerejanya unik. Seperti siput atau keong.

Hebatnya lagi, tak sedikit warga Nordik yang sengaja membeli rumah maupun apartemen, dan menetap di Canary Island selama musim dingin. Kasarnya, kaburrrr dari negara asal demi menghindari suhu ekstrem di saat winter. Dan puncaknya, salah satu pulau di Canary Island bernama Gran Canaria, memiliki sebuah gereja dengan sebutan KyrkaTurist atau Gereja Turis.

Gereja yang sengaja dibangun oleh para turis yang berasal dari Scandinavia/Finlandia, agar bisa beribadah minggu selama mereka berada di sana. Gila yak, ukuran turis sampai membangun gereja. Sangkin lamanya mereka berlibur atau menetap sementara di pulau ini.

IMG_7614
Kaktus raksasa. Besar dan tinggi banget. Dan dimana mana ada. Baik yang tumbuh liar maupun yang sengaja ditanam.

Buat gue, Canary Island memiliki seribu wajah. Perpaduan kota tua dan modern, atmosfir Afrika dan Spanyol yang bersenggolan, landscape yang indah, gurun pasir yang membuat gue sumringah, bangunan berkarakter dan berjejer rapi dari atas ke bawah diantara gunung bukit, tanah yang terkesan gersang, eksotisnya lengkungan pundak unta, tepian laut dengan hamparan pasir yang luas, sampai pohon Palma dan kaktus raksasa di mana mana. Semuanya gue suka. Berada di pulau ini serasa menghantar nyata setengah mimpi gue akan atmosfir Afrika.

IMG_7645
Minimalis

IMG_7626.jpg

IMG_7644

Infrastruktur jalanannya pun bersih, rapi  dan enak dilihat. Mereka tau bagaimana cara membuai mata turis. Karena nilai jualnya memang di situ kan. Tapi bukan berarti tidak ada yang kotor. Gue pernah melihat sampah berserak di centrum salah satu kotanya. Di depan restoran dan jalanan lumayan banyak plastik, tissue dan kaleng softdrink. Lumayan kaget sih. Karena di siang hari, hampir tak ada pemandangan seperti itu gue lihat. Tapi untuk ruas jalan secara keseluruhan gue ancungin jempol bersihnya.

IMG_7647

IMG_7617

IMG_6811

IMG_7646

Gue ga tau apakah akibat malam minggu yang panjang, yang jelas petugas kebersihan yang kebetulan sudah renta, masih sigap membersihkan secara manual sampah sampah tersebut. Mau tau pakai apa? Pakai daun Palma. Hahahha.

Dan ternyata efisien loh bisa membersihkan jalanan. Dari cara tradisional, barulah debu di jalan di sapu dengan cara modern. Memakai mobil truk dengan mesin penghisap atau penyapu jalan gitu.

IMG_6236.jpg

IMG_6232

So, ga semua juga warga Eropa itu sadar kebersihan. Sampai akhirnya gue sempat mikir, jangan jangan Gran Canaria terlihat sangat bersih di siang hari, apa karena memang sengaja dibersihkan tiap pagi? Bukan karena warga yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan.

IMG_7627.jpg

IMG_7605

Canary Island memiliki dua ibukota negara, yang satu Las Palmas di pulau De Gran Canaria dan Santa Cruz De Tenerife di pulau Tenerife. Gue dan suami hanya mengunjungi pulau De Gran Canaria dengan ibukota Las Palmas. Disebut Las Palmas karena pulau ini banyak sekali pohon Palmanya. Hampir di setiap sudut kota selalu ada pohon Palma.

Tulisan ini hanya selayang pandang tentang liburan gue di Canary Island. Next akan gue tulis secara detail dan pengalaman tak mengenakkan selama berada di pulau yang ngangenin ini. Gue kangen karena begitu sampai di Swedia, gue disambut suhu yang kembali ngedrop. Bayangin aja, sampai minus 19 derajat celcius, sementara sebagian besar Eropa sudah menari nari dengan Cherry Blossom. Hiks!

IMG_7612.jpg

h.jpg

Tempat wisata apa saja yang kami kunjungi? Bagaimana harus peka terhadap trik para scammer di Gran Canaria? Apa ciri khas kulinernya? Bagaimana berbelanja di Gran Canaria? Akan gue tulis di tulisan selanjutnya. See you.

Salam dari Swedia

IMG_7607

IMG_7609

Semua foto merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com

Astrid Lindgren (Dari Bullerbyn Hingga ke Katthult)

Sebelumnya, gue sudah bercerita tentang kunjungan kami (gue dan suami) ke kota kelahiran Astrid Lindgren di Vimmerby Småland. Dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah desa yang masih termasuk wilayah Småland.

Dari Vimmerby, perjalanan kurang lebih 20 menit dengan mengendarai mobil. Tempat yang kami tuju adalah Bullerbyn. Kalau sudah biasa membaca bukunya Astrid Lindgren, tentulah Bullerbyn tidak asing lagi di telinga kalian.

IMG_3471.JPG

Bullerbyn merupakan sebuah farm place yang menceritakan tentang kehidupan 6 orang anak yang tinggal di tiga rumah yang saling berdekatan. Ternyata Bullerbyn itu beneran ada! Tidak hanya cerita semata.

IMG_3473

Tiga rumah dalam cerita Bullerbyn sampai sekarang masih berdiri kece. Dan bahkan masih ada pemiliknya loh. Di depan salah satu rumah dalam cerita Bullerbyn malah ada tulisan Privat! artinya turis tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Jadi hanya bisa melihat dari luar pagar.

Terkecuali ada satu rumah yang oleh pemiliknya, pengunjung diperbolehkan masuk. Bahkan bisa berbicara langsung dengan beliau. Sosok pria yang sudah lumayan tua. Menurut beliau, rumah di Bullerbyn jarang dia tempati, beliau hanya berkunjung ke rumah ini dikala musim panas saja.

IMG_3476
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3491.jpg
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3493.jpg
Rumah di Bullerbyn
IMG_3475.jpg
Rumah ini ada penghuninya. Ada tulisan privat di depan pagarnya. Turis tidak boleh masuk

Rumah yang sepertinya kurang dirawat. Rumput liar di sekitar halaman rumah banyak banget. Tapi tak sedikit juga bunga bunga cantiknya. Dan barang barang yang terlihat di belakang rumah juga sengaja dibiarkan sedikit berantakan. Tapi malah kelihatan unik. Kata dia supaya antik. Benar sih, rustic banget kelihatan. Jadi seperti di majalah majalah gitu. Sang pemilik juga bercerita, kalau ayah Astrid Lindgren pernah tinggal di rumah itu. Tapi kalau tidak salah hanya sampai berumur 10 tahun. Ga tau juga benar ganya.

IMG_3474.JPG
Tiga rumah Bullerbyn
IMG_3481.JPG
Sepetik
IMG_3490
Berantakan, tapi kok jadi rustic banget ya. Mirip majalah jadinya.
IMG_3489
Mirip majalah antik
IMG_3604
Suka ngelihatnya

Di Bullerbyn, kami disambut pertama sekali oleh dua orang anak. Yang satu anak lelaki dan satu lagi anak perempuan. Ketika gue bertanya siapa namanya, si anak perempuan  menjawab  “LISA”. Nama yang sama persis dengan salah satu anak dalam cerita Bullerbyn. Sepertinya dia sengaja menyebut nama itu 🙂

Kedua anak tersebut sepertinya sengaja berada disana untuk sekedar membantu para pengunjung dan memberitahu tempat parkir. Dan setelah itu, kami pun memasukan uang koin ke dalam kaleng yang sudah mereka siapkan. Sukarela lah.

IMG_3486.JPG

Di sekitar Bullerbyn terdapat landscape pedesaan yang asri. Kami pun menikmati secangkir kopi dan cake, diantara heningnya alam pedesaan Bullerbyn saat itu. Sesekali mata gue menatap anak anak yang bermain ayunan tua. Suasana desanya berasa banget. Bagaimana tidak, Bullerbyn hanya dikelilingi tiga rumah kayu khas Swedia, dua buah gudang besar dan sebuah cafe bergaya vintage. Sukakkk!

IMG_3483
View di sekitar Bullerbyn. Peace banget
IMG_3482.JPG
Cafe di Bullerbyn. Awalnya merupakan gudang. Dalamnya bagus dan kozy banget
IMG_3487
Tuh, kece kan cafenya
IMG_3485
Gila yak. Dari sebuah gudang bisa disulap jadi cafe. Suasana desanya berasa banget. Betahlah di sini.
IMG_3488
Menikmati kopi dan cake di depan cafe

Dari Bullerbyn, kami menuju Katthult. Sebuah farm place yang menjadi tempat atau lokasi pembuatan film layar lebar Emil i Lonneberga. Harga tiket untuk masuk ke tanah pertanian ini seharga 40 Sek perorang.

Dibanding Bullerbyn, atmosfir pertaniaan di Katthult lebih berasa. Ada peternakan kuda, babi, domba dan ayam. Tentu saja dengan gaya pertanian jadul jaman dulu.

Bentuk babinya itu loh, bulat montok berwarna pink. Hahahaha.

Ayamnya juga! kakinya pendek dan bulunya lebat. Kalau berjalan lucuk banget. Seperti ayam dalam film  kartun. Senang gue lihatnya. Rumah yang menggambarkan kediaman keluarga  Emil pun masih berdiri manis di Katthult.

Bahkan sesekali kami melihat pemiliknya terlihat keluar masuk dari rumah itu. Dan pengunjung juga tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Cukup melihat dari luar pagar. Bahkan di loket masuk pembelian tiket, sudah ada tulisan yang memohon agar pengunjung tidak berkunjung lewat dari pukul 7 malam. Mungkin pemilik juga butuh privacy dan ketenangan.

IMG_3496
Farm Place Katthult

Tak jauh dari sini,  kami juga  melihat sebuah  toilet dari kayu berwarna merah. Toilet dimana Emil pernah mengunci sang ayah di dalamnya. Ada juga gudang yang berisi patung patung kayu berukuran kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Patung patung yang dibuat sendiri oleh Emil ketika menjalani hukuman dari sang ayah dan mengurungnya di gudang tersebut. Kalau ini sepertinya sengaja dibuat sedemikian untuk kepentingan kunjungan wisata. Agar lebih hidup suasananya.

IMG_3514
Toilet dalaman cerita Emil. Sang ayah pernah dikurungnya di sini. Hahaha.
IMG_3516
Patung kayu yang dikerjakan Emil ketika dihukum oleh ayahnya dan mengurungnya di rumah kecil ini. 
IMG_3515
Gudang makanan

Bahkan tiang bendera dimana Emil pernah menggantung adik perempuannya juga ada dan bisa dilihat. Bisa gue bayangkan kenakalan dia.

Intinya kawasan ini benar benar dipertahankan persis seperti dalam cerita Emil i Lonneberga. Sehingga pengunjung yang datang pun dapat dengan mudah bernostalgia dan mengingat kembali cerita tersebut. Atau setidaknya bagi yang belum pernah membaca cerita bukunya, sedikit banyak ada gambaranlah.

IMG_3508
Rumah dalam cerita Emil yang difilmkan. Itu tiang benderanya. 
IMG_3605
Pemilik rumah
IMG_3510
Rumahnya kece yak
IMG_3503.jpg
Asri banget
IMG_3499
Rumah ini hanya bisa dilihat dari luar. Tidak boleh masuk. Karena pemiliknya masih tinggal menetap di sini
IMG_3504
Sekitar farm place. Gimana ga betah lihat begini coba
IMG_3517 (1)
Gudang besar di sekitar Katthult

IMG_3523

Sungguh betapa gue menikmati liburan kami saat itu. Bisa mengunjungi tempat tempat yang menjadi inspirasi tulisan seorang Astrid Lindgren. See you in my next story.

Salam dari

Swedia.

“Semua foto hanya menggunakan camera handphone”

Perjalanan Iseng ke Norwegia

Lucu kalau mengingat kegilaan gue dan suami. Ceritanya dua minggu lalu, setelah menghabiskan weekend di Sälen, kami berniat akan pulang ke rumah. Sebelum pulang, rencananya kami pengen singgah melihat salah satu kawasan pegunungan di Sälen yang belum pernah kami kunjungi.

Namun di tengah perjalanan, entah mengapa tiba tiba suami ngomongin kunjungan gue pertama kali ke Swedia sekitar 3 tahun yang lalu. Waktu itu dia mengajak gue ke Sälen, sampai ke wilayah perbatasan antara Swedia dan Norwegia. Di depan tugu perbatasan, gue minta di foto.

Dan pas mau balik ke mobil, terjatuhlah gue diantara tumpukan salju yang tebal. Susah banget waktu itu berdiri. Uda mirip ikan aja, berenang tapi di tumpukan salju. Belum terbiasa. Dan ternyata suami gue ngerekam. Dan dia suka ngulang ngulang liatin video itu. Kocak katanya. Pokoknya ingat bangetlah dia dengan kejadian itu. Sayang videonya kehapus entah karena apa. Atau gue simpan di file mana lupa.

Nah, karena ngomongin kejadian itu, tiba tiba suami gue bilang, kenapa kita ga ngulang aja perjalanan pertama kali kamu ke Swedia. Kita ke perbatasan lagi dan langsung ke Norway. Hahaha dasar si gelo, ya hayuuuulah bang!!

IMG_0803

Dan tanpa rencana ba bi bu, kami cussss jalan ke Norway. Rencana melihat puncak gunung pun berubah seketika. Sampailah kami di perbatasan itu. Ihhhh…emang dia ya, paling jago menimbulkan momen haru. Gue pas berdiri di perbatasan itu lagi, beneran dong jadi ingat kejadian tiga tahun lalu. Ya ampun, ga berasa uda tiga tahun aja. Senang banget gue!

Dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Norway, ke kota terdekat dari perbatasan. Sekalian makan siang. Dan lagi lagi, gue bilang ke suami, itu kan rumah yang dulu gue fotoin.

Gue masih ingat banget, tiga tahun lalu, ketika gue melihat tumpukan salju diantara rumah rumah kayu di Norway. Excited banget waktu itu. Mirip foto kalender. Tapi pas kemaren uda ga excited lagi. Hahhaha.

IMG_0761

IMG_0781.JPG

IMG_0764

IMG_0766.jpg

Berhubung hari Minggu, restoran pada tutup. Ketemu penjual donat. Mirip donat kampung. Polos gitu bentuknya ga macem macem. Rasanya enak dan lembut. Aroma butternya berasa. Empat donat dihargai sekitar 80 ribu rupiah. Padahal kecil.

Untungnya ada sebuah hotel yang menerima layanan makan siang. Kami memesen burger. Grrrr burgernya enak mak. Mungkin karena kami sudah lapar ya. Satu burger dikenakan harga 200 Nok kalau ga salah (sekitar 300 ribuanlah).

IMG_0776.jpg
Donatnya enak sih meskipun polos dan sederhana banget bentuknya.

IMG_1771
Burgernya juga enak, dagingnya segar dan lembut

IMG_0780.jpg

Perjalanan dari Sälen ke kota terdekat di Norway cuma satu jam. Deket banget sih. Makanya bisa jalan jalan ke luar negerinya tanpa rencana dan spontan gitu. Sorenya kami sudah nyampe rumah lagi. Gelokk emang. Modal pengen, langsung bisa ke luar negeri. Uda kaya Tangerang Jakarta aja. Berikut di bawah, beberapa foto yang berhasil gue ambil.

IMG_0770.jpg

IMG_0773.jpg

IMG_0771.jpg

IMG_0765

IMG_0772.jpg
Suka melihat batu besar penyanggah jembatan ini

Ternyata jalan jalan spontan tanpa rencana itu asik juga, apalagi seperti perjalanan napak tilas gini. Hitung hitung mengenang masa kemaren. Padahal belom lama juga sih. Hahahaha.

See You in my next story

Salam dari Mora

Dalarna, Swedia