Ketika Bangunan di Swedia Dominan Berwarna Merah. Mengapa?

Pernah berkunjung ke Swedia? terkhusus ke daerah daerah ”country sidenya”? atau mungkin sekedar melihat dari liputan televisi, internet, kalender, koran atau majalah? atau mungkin juga dari ilustrasi gambar dalam buku cerita anak sekelas Astrid Lindgren?

Jika disimak, salah satu ciri khas dari negara Skandinavia yang satu ini adalah typical bangunan bangunan rumahnya. Terutama bangunan rumah/gedung di wilayah country sidenya. Hampir semua berwarna merah! Warna merah yang berpadu dengan warna putih di setiap sisi jendelanya. Cantik, klasik dan magical. Rumah merah yang mewakili cerita fantasi dalam serial dongeng. Rumah merah yang selalu serasi dengan semburat warna di empat musim yang berbeda. Tak cuma rumah, bahkan bangunan sekolah, panti jompo, gudang, kandang ternak, pagar, hotel, sampai kotak pos pun berwarna merah.

IMG_5787.jpg

IMG_5781.jpeg
Rumah merah berpadu dengan salju putih di musim dingin. Serasi dan magical ya 🙂

Lantas mengapa bangunan di Swedia dominan berwarna merah? Ternyata ada ceritanya.

Hal ini berkaitan dengan area pertambangan biji tembaga dan besi bernama “Falu Koppargrufa” (Falun Mines) yang terletak di propinsi Dalarna, salah satu propinsi yang ada di wilayah Swedia. Pertambangan mana diperkirakan sudah ada sejak 500 atau 900 tahun silam.

40777452632_48e5cf23e4_o

40819112711_96c0b5b1f8_o.jpg
Merah!

Menilik mundur ke sejarah silam, masa dimana sebagian besar warga di sekitar Falun Dalarna berprofesi sebagai penambang tradisional, yang sehari harinya bekerja dengan memilah milah biji batu tembaga. Semisal kandungan tembaga dalam batu sedikit, kemudian dipisahkan ke suatu tempat.

Seiring waktu batu batu ini semakin menggunung. Dan tanpa mereka sadari, akibat proses pengeringan oleh alam yang cukup lama, kandungan besi oksida dan mineral dalam batu mampu membentuk limonit sedimen, yang semakin lama secara alami menghasilkan warna merah.

IMG_5687 (1).jpg

39438018790_794b43718d_o.jpg
Sebuah desa dengan rumah kayu berwarna merah

Melihat perubahan itu, para penambang tradisional berkeinginan mengolah limbah batu yang tadinya dianggap tidak berguna menjadi bahan dasar untuk menghasilkan warna merah pada cat.

Sekitar tahun 1573, King Johan III (raja Swedia saat itu) berkeinginan agar cat merah yang dihasilkan oleh para penambang tradisional digunakan untuk mewarnai atap istana. Lalu keinginan raja tersebut diikuti oleh kaum bangsawan. Saat itu kaum elite Swedia berangganpan jika memiliki rumah berwarna merah seakan mewakili sebuah harga prestise sosial.

40819114741_4e3fd5eda6_o.jpg

IMG_5746.jpg

Duaratus limapuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1764, berdirilah “Stora Enso” pabrik pertama dan tertua di Swedia bahkan dunia, yang memproduksi cat secara profesional di area pertambangan yang sama di ”Falun Mines”.

Cat berlabel “Falu Rödfärg” (yang bisa diartikan warna merah dari Falun) menjadi cat yang sangat famous di Swedia hingga saat ini. Dari abad ke 18 hingga 19, warga Swedia mulai tergila gila menggunakan cat merah dengan alasan: warna ini seolah memberi kesan jika rumah mereka terbuat dari batu bata, yang waktu itu hanya dimiliki kaum istana raja dan bangsawan. 

29452274208_7b329f2ccc_o
Pabrik penghasil cat merah, Falu Rödfärg

Tak cuma itu, seiring waktu semakin terlihatlah jika warna merah ”Falu Rödfärg” yang dihasilkan pabrik Stora Enso sangat tahan lama dan memiliki kualitas yang bagus karena mengandung mineral terurai dan minyak alami. Konon kayu yang diberi cat berwarna merah ini mampu membuat kayu menjadi tidak gampang lapuk. Tahan lama!

Konon lagi warna merah yang diproduksi oleh pabrik Stora Enso hanya cocok digunakan untuk ”bahan kayu” seperti rumah dan bangunan kayu di Swedia. Satu lagi yang unik, warna  merah ini tidak bisa ditindih dengan warna lain karena warna merahnya akan muncul kembali.

IMG_5803.jpg
Bangunan bangunan gudang yang juga berwarna merah

Ada harga dan ada rupa. Tidak bisa dipungkiri jika harga cat yang dihasilkan pabrik Stora Enso terbilang mahal. Sehingga tak sedikit warga Swedia perlahan lahan beralih ke merek lain meski kualitas warna merahnya jelas berbeda karena tidak menggunakan bahan dasar alami yang sama seperti yang dihasilkan oleh pabrik Stora Enso. Tapi bukan berarti seratus persen rumah dan bangunan kayu di Swedia itu berwarna merah ya. Warna lain juga ada kok seperti putih, kuning, biru. Cuma warna merah lebih dominan.

IMG_5802.jpg
Tempat wisata dengan bangunan dan pagar berwarna merah
IMG_5793.jpeg
Rumah masa kecil seorang Astrid Lindgren yang lagi lagi berwarna merah

Jika berkunjung ke kawasan Falun Mines, kamu bisa melihat banyak tumpukan batu menggunung di beberapa titik lokasi, yang tak lain merupakan kumpulan biji batu yang disortir para penambang dari jaman ratusan tahun silam hingga tahun 1991, ketika mereka menyambung hidup di area bekas pertambangan ini.

40777452232_a1724fc11a_o
Farmhouse yang serba merah
IMG_5790 (1).jpg
Desa itu berwarna merah. Hahaha

Dan amazingnya, batu batu yang sebagian besar sudah berumur ratusan tahun itu sampai sekarang tidak habis habis. Mengapa? karena batu batu ini tidak digunakan sekaligus untuk usaha produksi cat, dikarenakan terkumpulnya batu batu ini berasal dari tahun yang berbeda (bahkan bisa selisih ratusan tahun).

Jadi proses alami pembentukan sedimen merah pada biji batu juga butuh waktu yang sangat lama. Bisa ratusan tahun juga.

IMG_5788.jpg

40819113451_ec5171bcb5_o.jpg
Merah yang minimalis diantara tumpukan salju

Pabrik Stora Enso penghasil Falu Rödfärg (cat berwarna merah) ini bisa dilihat di lokasi wisata Falu Gruva (Falun Mines) di kota Falun ibukota propinsi Dalarna. Sampai sekarang masih ada dan tetap berproduksi. Uraian sejarah tentang  cat berwarna merah secara gamblang bisa dibaca di sekitar kawasan pabrik. Bagaimana pigmen warna bisa bekerja, mengapa rumah rumah kayu di Swedia dominan berwarna merah, dan slogan tentang cat yang dihasilkan bukan sekedar cat biasa melainkan berfungsi menjaga kestabilan kualitas kayu.

IMG_5775.jpeg
Dikala musim panas, merah dan hijau. Lagi lagi tetap serasi bukan? 

Selain itu kalian juga bisa mengeksplore lokasi di sekitar pabrik yang merupakan bekas pertambangan besar yang konon sempat menghasilkan banyak uang di masanya dan meningkatkan perekonomian Swedia di masa silam. Salah satunya adalah dengan menelusuri area pertambangan bawah tanahnya. Seruuuuuu dan memicu adrenalin.

img_5772

IMG_5773.jpeg
Bangunan merah diantara bunga liar. Cantik!

Saya sangat terkesima mendengar penjelasan guide tentang sejarah pertambangan ini. Merinding karena tak sedikit yang memakan korban jiwa dan mengandung cerita yang sedikit mistis dan horor. Bayangkan saja, berjalan di bawah tanah dengan sinar terbatas dan tangga kayu yang lumayan curam, jalanan batu yang licin, air yang masih menetes dari celah dinding batu dan suhu di bawah yang relatif dingin (kurang lebih 5 derajat celcius). Jika memungkinkan, akan saya tulis secara detail di tulisan yang terpisah.

img_5824

img_5777
Di musim gugur.  Dan warna merah tetap menawan

Demikianlah cikal bakal mengapa bangunan rumah di Swedia itu dominan berwarna merah. Bangunan rumah mana juga dijadikan sebagai souvenir di beberapa wilayah country side Swedia sebagai pertanda ciri khas wilayah mereka.

Berikut di bawah adalah beberapa foto bangunan berwarna merah yang saya foto. Mulai dari restoran, cafe, hotel, museum, souvenir, toko souvenir, komplek perumahan, gudang.

img_5818
Sebuah cafe dari bangunan gudang tua. Merah!
img_5828
Souvenir rumah. Mewakili bangunan kayu merah di Swedia.
img_5821
Perumahan tua yang dominan berwarna merah
img_5817
Restorannya kece
img_5838
Hotel yang lagi lagi berwarna merah          

IMG_5836.jpg

INAYA PUTRI BALI

Sewaktu berlibur ke Bali beberapa waktu lalu, saya dan suami berniat menginap di sebuah resort di kawasan Nusa Dua Bali. Alasan memilih Nusa Dua dikarenakan relatif lebih tenang dan tidak terlalu ramai. Jauh hari kami sudah mulai searching beberapa resort yang ada di kawasan Nusa Dua dan rata rata memang cukup menarik perhatian. Sampai akhirnya kami memutuskan memilih menginap dua malam di sebuah resort bernama  Inaya Putri Bali.

45431219582_6154b765fa_o.jpg

IMG_3194
Kebetulan ada acara wedding party

Selama menginap di Inaya Putri Bali, kami benar benar menghabiskan waktu hanya di kawasan resort. Dengan kata lain tidak ada agenda berkunjung ke kawasan wisata. Bersantai menghabiskan waktu di kawasan resort sudah cukup membuat hati kami senang. Rasanya dua malam belumlah cukup menikmati kenyamanan resort ini.

43665671320_299a0b7847_o (1).jpg

44549115705_bf02e9f284_o.jpg

Inaya Putri Bali berdiri di lahan yang lumayan luas. Tamannya asri dan bersih. Kolam renangnya luas. Bangku sofa di sekitar kolam renang, taman dan dan pantai juga banyak. Lokasi resort langsung menghadap pantai. Semua tamu hotel bisa menikmati fasilitas payung sofa yang ada di pinggiran pantai secara gratis. Dan enaknya lagi, kawasan pantainya kebanyakan digunakan oleh para tamu hotel. Jadi tidak terlalu crowded. Inaya Putri Bali juga menyediakan cafe di sekitar pinggiran pantai.

45410729232_793b7339eb_o

31621268908_784a4ffa39_o.jpg

IMG_3216.jpg

45410728882_1aeea2cc7b_o.jpg

Inaya Putri Bali memiliki lobby utama yang terpisah dengan bangunan kamar tamu hotel. Lobbynya luas dan view disekitarnya cakep. Sesekali ada hiburan musik gamelan tradisional Bali.

30554185707_a28ecb2610_o

45442852302_54b3e6e6cc_o
Tamannya asri dan bersih

Dikarenakan lobby utama terpisah dengan kamar tamu, para tamu biasanya diantar dengan menggunakan golf car. Jauh banget sih ga. Cuma kalau bawa koper memang sedikit kurang praktis. Semisal berencana hendak keluar kamar, fasilitas golf car ini juga siap menjemput kembali ke lobby kamar. Meski jalanan utamanya rapi dan bagus, tapi menjadi kurang nyaman ketika harus keluar kamar di malam hari. Harus melewati area tanaman yang agak remang. Apalagi kalau jalan sendirian. Hmmmmm… lumayan horor.

31587842978_878165356b_o
Gedung lobby utama tampak belakang. Kolam airnya bikin adem
31587843198_9f8040196a_o
Gedung lobby utama tampak depan

Untuk fasilitas di dalam kamar lumayan luas dan lengkap. Kamar mandi sangat nyaman. Ada bathup juga.

IMG_3207.jpg

IMG_3212.jpg

Inaya Putri Bali bertetanggaan dengan resort lain yang juga tak kalah menarik. Dari Inaya Putri Bali bisa berjalan kaki dan menikmati suasana beda dari resort di sebelahnya. Bisa menikmati cafe restoran dan suasana pantai yang berbeda juga.

IMG_3193

OMNIA BALI

Bali menjadi salah satu tempat berlibur yang kami (saya dan suami) inginkan jauh hari sebelum liburan ke Indonesia. Sampai sampai berita gempa yang silih berganti pun tak menyurutkan keinginan suami untuk berlibur ke sini. Kami sama sama menyukai pulau Bali. Biar dikata Bali sudah mulai kotor dan macet, tetap letsgo!

43830196820_5c28e3408a_o

Buat saya, Bali itu bukan sekedar pantai. Tapi pulau ini komplit untuk urusan liburan. Selalu inovatif dan kreatif tanpa harus meninggalkan cultur budayanya. Bali itu magis. Selalu terpanggil untuk kembali datang.  Padahal kalau dipikir banyak pantai di luar Bali yang lagi naik daun. Bahkan jauh lebih bersih dan indah. Tapi ya itu, Bali selalu sayang untuk dilewatkan. Setidaknya untuk saat ini.

45648485831_314c458c6d_o

Bali punya banyak beach club. Keren keren pula. Salah satunya ya OMNIA yang lagi hits di kalangan milenial jaman now. Saya salah satu jiwa yang penasaran ingin masuk ke beach club ini. Mostly reviewsnya bagus bagus. Meski tak sedikit yang ngeluh di urusan harga. Omnia Bali juga sering menjadi tuan rumah untuk pertunjukan DJ terkenal dunia.

43830194030_7a6570c1c1_o

30707439667_07dcb92af9_o

Sebelumnya saya sudah searching tentang Omnia. Banyak yang bilang masuk ke Omnia harus melalui pemeriksaan yang relatif ketat. Minimal berusia 21 tahun. Pakaian pun ga boleh sembarangan. Ga boleh ngejeans. Dress codenya smart casual gitulah. Ga boleh bawa kamera DLSR. Handphone atau go pro its oke. Jadi semua foto di dalam tulisan ini cuma pakai hape ya. Harap maklum.

44923567474_46d7229181_o
Serasa bukan di Bali

Kebetulan hari itu kami berencana melihat pertunjukan tari kecak di daerah Uluwatu. Berhubung pertunjukannya sore hari, kami memutuskan ke Omnia terlebih dahulu. Karena lokasinya masih di sekitaran Uluwatu. Setibanya di sana, kami harus melalui pemeriksaan security. Ga lama kok. Dan ga seheboh yang saya bayangkan juga. Berhubung kami datang bukan di hari sabtu minggu dan masih pukul setengah satu, jadi masih sepi.

Pegawai resepsionis memilihkan kami tempat di area the Cube, spot utama yang juga sekaligus iconicnya Omnia. Ada fasilitas sofa bed yang terletak di bagian paling depan. Viewnya direct ke hamparan laut hindia yang biru. Berdiri di atas tebing curam pula.

Ahhhh…………………………spektakuler bangetlah buat saya. Saya merasa bukan sedang berada di Bali. Konsepnya ga main main. Rapi dan terstruktur.

43830190140_a7e74aa8f4_o

44734126005_2a9798a95d_o
Area the Cube (iconicnya Omnia). Arsitekturnya keren.

Sehingga tidaklah heran jika omnia sangat identik dengan ajang selfie dan foto foto. Sangat bisa dimaklumi. Dan emang sayanglah hai di tempat kece gini ga fotoan. Ga perlu jaim jaim. Semua pada fotoan kok. Bahkan pegawai Omnia sesekali suka nanyain mau difotoin apa ga. Tapi jangan habisin waktu cuma buat fotoan juga yeeee…nikmati waktu ketika berada di sana. Sayang kalau sampai dilewati begitu saja.

45648485981_49d45631d3_o (1)
Kolam renang yang berdiri di atas tebing curam. Menghadap laut hindia. Di sini kebanyakan selfie dibanding renangnya. Hahaha

Untuk biaya, sepertinya dihitung berdasarkan area dan fasilitas tempat duduk yang kita pilih. Untuk tiket masuk konon biayanya sebesar duaratus ribu rupiah. Tiket belum termasuk makanan maupun minuman. Fasilitas tempat duduk juga nihil alias hanya berdiri.

44734124715_f7af0ebc56_o
Area Cabana dengan kolam renang sendiri sendiri 

Kalau mau lebih nyaman dan beneran santai, paling harus rogoh kocek agak dalam. Sebagai gambaran, untuk area the cube dengan sofa bed yang kami pilih dikenakan biaya minimum order 2,5 juta rupiah dan harus dibayar di muka. Tapi biaya sudah all in one. Semisal pesanan lebih dari harga ini, maka harus membayar biaya tambahan lagi. Dan semisal minimum order ini ternyata masih bersisa, ya harus direlain. Tidak bisa dikembalikan lagi. 

44923520584_8ef38a6a39_o
Rendang. Salah satu menu andalan mereka. Rendang yang sedikit dimodifikasi. Tapi lumayan enak kok. 

Seperti kami misalnya, biaya yang kami bayarkan masih lumayan bersisa. Padahal makanan yang kami pesan lumayan bikin kenyang. Order minuman juga beberapa kali. Bisa jadi karena kami tidak terlalu banyak memesan minuman beralkohol. Selain saya tidak begitu suka, suamipun membatasi. Karena kami akan menonton pertunjunkan tari sore harinya.

45648485871_32cb832657_o
Cemilan berat. Enak !

Tapi pegawainya baik dan jujur. Sewaktu kami hendak keluar, langsung infoin kalau kami masih punya sisa uang yang lumayan. Sampai ditawari mau order apalagi atau sisanya mending dibeliin wine botolan. Ahhh…ga perlulah sampai segitunya. Ikhlasin aja.

43830192620_33837b014e_o

44734125075_0dfb732f8f_o

Buat saya dan suami, yang paling penting bisa menikmati suasana di tempat kece ini saja sudah sangat menyenangkan. Empat jam di Omnia membuat otak kami segar. Beneran liburan.

Untuk lebih lengkapnya, bisa klik video di bawah aja ya.

Setelah Empat Tahun Lebih, Akhirnya Mudik ke Tanah Air

Setelah hampir tiga bulan tak menulis di blog……….ooooo my blog! Aku kangen!

Jadi ceritanya, saya belum lama tiba di Swedia. Tepatnya sekitar minggu lalulah. Setelah mudik ke tanah air hampir dua setengah bulan lamanya. Mudik ke kampung halaman. Dua bulan lebih rasanya tak cukup melepas rindu. Keluarga, teman, kerabat, tempat wisata, kuliner hingga keseharian yang terlihat mata. Semuanya masih jelas tersimpan dalam memori. Kemana pun kaki melangkah, kampung halaman ibarat orang tua. Selalu akan diingat.

IMG_2081

Sejak saya pindah dan menetap di Swedia di tahun 2014 silam, saya sama sekali belum pernah mudik ke tanah air. Ada alasan yang paling kuat yang membuat saya selalu mengulur waktu untuk tidak pulang. Penyakit aerophobia yang semakin meraja membuat saya malas pulang.

31033030958_2ed1e79d65_o
Malini Bali. Baru dibuka di awal tahun 2018. Rekomen

Sampai akhirnya saya mendapat kabar kalau saya harus pulang dikarenakan unit apartemen yang pernah saya beli semasa kerja di Jakarta sudah waktunya signing Akta Jual Beli (AJB). Sebelum saya berangkat ke Swedia, sebenarnya saya sudah membuat surat kuasa secara notaril agar penandatangan AJB bisa diwakili oleh saudara saya. Dikarenakan satu dan hal lainnya, saya berubah pikiran dan memutuskan untuk hadir sendiri dan pulang ke tanah air.

43665671320_299a0b7847_o

Saya berangkat sendirian tanggal 2 September 2018 dengan menggunakan penerbangan Garuda Indonesia. Suami saya menyusul datang di bulan Oktober dikarenakan dia harus bekerja. Sekilas tentang penerbangan saya, jauh jauh hari saya sudah sounding ke suami jika saya ingin terbang bersama penerbangan flat merah ini. Mengapa? karena saya punya alasan sendiri.

31621268908_784a4ffa39_o

45494234131_8c10d3748f_o

Dikarenakan phobia terbang, entah mengapa semacam ada perasaan lebih nyaman naik Garuda dibanding maskapai penerbangan lain. Maskapai penerbangan seperti KLM, Emirates dan Finair pun tak berhasil mencuri hati saya. Ini sebenarnya urusan sugesti saja sih. Saya sangat sadar malah. Tapi buat saya pribadi, selama saya bisa memilih penerbangan mana yang mampu memberi sugesti nyaman kenapa tidak? Wuihhhh, ini penerbangan jauh loh. Untuk level saya yang takut terbang, waktu belasan jam itu bukan main main. Sangat menyiksa dan melelahkan batin.

31621269278_67f6faf3f5_o

45410728882_1aeea2cc7b_o

Predikat World Best Cabin Crew yang disandang Garuda Indonesia selama 5 tahun berturut adalah alasan utama saya memilih penerbangan ini. Bersama Garuda ada semacam sugesti kalau saya punya teman baik selama penerbangan karena bisa bertemu cabin crew yang notabene orang Indonesia. Bisa berbahasa Indonesia dengan mereka. Berasa ada saudara atau teman senegara selama penerbangan. Bisa minta tolong kalau saya memerlukan sesuatu tanpa ada perasaan takut dicuekin (pengalaman dengan maskapai penerbangan dari negara sebelah). 

44923567474_46d7229181_o

Dari Arlanda Stockholm, saya naik KLM yang memang menjalin kerja sama dengan maskapai Garuda Indonesia. Saya harus transit ke bandara Schipol di Amsterdam. Begitu tiba di gate, oaaaalah kok malah cengeng. Masa membaca tulisan Garuda Indonesia di tubuh pesawat aja rasanya pengen nangis. Tubuh pesawat dengan embel embel “Indonesia” itu seolah mewakili tanah yang akan saya datangi.

31609052258_d93d93d486_o

30554185707_a28ecb2610_o

Seolah bilang “hai ajheris, welcome to Indonesia ya”. Berasa tanah air uda di depan mata. Uda ga perlu menempuh lautan benua lagi. Berasa keluarga uda menyambut haru saya. Berasa rumah uda di depan mata. Ya ampun, teryata saya beneran uda kangen tanah air. Dan betapa bangganyalah saya, ketika satu persatu para penumpang yang 90 persen adalah orang asing, silih berganti motoin badan pesawat dan selfie dengan latar tulisan Garuda Indonesia itu. Huuu huuu huuu makin terharu!

44757648084_76981a0fc1_o

31776104148_ca0760ac48_o

Sesampainya di dalam pesawat, saya langsung disambut ramah para pramugari dan alunan musik batak. Duh, makin baper deh. Meski selama penerbangan kadang kadang rasa phobia mulai melanda dikarenakan turbelensi, tapi setidaknya gue merasa aman karena ada orang Indonesia di dalam pesawat. Hahahaha. Kocak ga sih. Atau tepatnya aneh? Tapi sudahlah. Susah untuk dijelasin mak!

44029838065_799f84ed3a_o
Pandawa Beach yang kece

Tiba di bandara Soekarno Hatta, saya dijemput kakak, adek dan ponakan. Rasanya tak percaya melihat wajah mereka secara langsung karena selama ini cuma melalui video call. Cipika cipiki sambil menahan tangis gembira. Welcome to Indonesia! Tanah air cuyyy! Yuhuiiiii.

Cuma sayangnya, baru empat tahun tinggal di Swedia sudah membuat tubuh saya susah berkompromi dengan suhu panas di Jakarta. Puuuanassss mak. Bener bener kepanasan. Sudah pakai Ac masih juga kepanasan. Saya butuh satu bulan baru benar benar bisa beradaptasi dengan suhu. Tak ayal saya sering mandi pukul 1/2 satu malam. Kaga masuk angin!

44769044854_2cb4ec4620_o

Belum lagi urusan perut, hari kedua langsung mencret mencret. Hahaha. Tapi emang begitulah. Pokoknya perut saya lumayan gampang mules. Paling setelah memasuki minggu kedua ketiga, makan minum apa saja sudah mulai kebal.

Selama di tanah air, saya suka kaget dengan klakson mobil yang nyaris tak pernah lagi saya dengar selama tinggal di Swedia. Melihat kerennya pengemudi sepeda motor yang lihai menyelip sana sini. Suami saya suka ternganga kalau melihat yang beginian. Hahaha.

30922415247_de4e5b7d9d_o
Permandian air panas di Sipaholon. Kece dan instagramable sekali. Anggap saja di Iceland/Islandia. Hahaha.

Terus terang tanpa bermaksud melebih lebihkan, saya suka parnoan ketika berada di keramaian. Tapi bukan maunya saya. Perasaan itu datang dengan sendirinya. Meski baru empat tahun tinggal di Swedia, tapi keadaan tenang di desa tempat saya tinggal membuat saya merasa sangat berhati hati dengan kriminalisasi. Ga perlu jauh jauh deh, kartu debet saya belum apa apa ada yang berusaha ngebobol kok. Saya baru tau ketika kartu debet saya diblokir oleh salah satu bank di Swedia karena terlihat ada indikasi penggunaan pin yang salah sampai tiga kali berturut. Untung dana gue terselamatkan. Gila kan.

44252692474_0b4c78cbbf_o
Desa Penglipuran Bali

Selama di tanah air, saya lebih banyak memilih quality time dengan keluarga. Tidak bisa saya penuhi semua ajakan teman untuk bertemu. Paling memilih teman teman yang saya anggap sangat dekat. Buat saya, keluarga adalah yang paling utama. Bahkan untuk menggunakan kamera sekalipun saya batasi. Ya meski sesekali tetap jepret jepret juga. Dikondisikan aja waktunya. Tapi untuk ukuran saya yang suka photograpy, kamera lebih banyak tergantung. Banyakan pakai handphone doang.

31990383828_922eaa69af_o

45872591771_4480fbf227_o
Lake Toba. Saya menyebutnya sebagai Norwegianya Sumatera Utara

Liburan kemaren membuka mata hati saya betapa di umur saya yang sekarang, arti keluarga sangatlah penting. Ada rasa mengharu biru ketika saya harus meninggalkan mereka untuk kembali pulang ke Swedia. Melihat wajah kakak abang saya yang sudah mulai menua, bagaimana mereka melayani saya dengan baik, rasanya ga pengen pulang. Tapi ya memang harus pulang.

Karena rumah kita sendiri adalah tempat dimana hati kita berada. Sekalipun rumah saya berada di wilayah antah brantah mana, ada masa dimana saya kangen dengan rumah. Ketika saya di tanah air, ada perasaan rindu akan kamar tidur, dapur hingga toilet. Ada perasaan rindu akan privacy dimana saya bisa memutuskan sendiri apa yang harus saya kerjakan tanpa ada orang ramai. Ya perasaan gitu gitulah.

44044891900_ce464cd986_o

45136684234_039200dda0_o
Tanah Batak dari Hutaginjang. Danau Toba terlihat secara keseluruhan dari sini

Sehingga tak ayal, sewaktu di Jakarta (ketika suami belum datang ke Indonesia), sesekali saya memilih me time di hotel. Atau setelah suami datang, kami memilih quality time berdua beberapa hari di hotel. Keluarga gue sangat mengerti.

30522669477_58e7cd5b20_o

30522746067_1690587f31_o

Dua bulan setengah rasanya tak cukup untuk hunting semua tempat wisata dan kuliner. Tapi kami cukup tau diri dengan memilih liburan santai. Sesuaikan kemampuan energi badanlah. Bali dan Sumatra Utara adalah pilihan kami. Sekalian pulang ke tanah leluhur keluarga besar dan jiarah ke makam kedua orang tua. Selebihnya nyantai di rumah, makan bersama di luar. Meski selama di tanah air, tak sedikit kuliner yang lumayan mengecewakan. Entah mengapa kok rasanya tak seenak dulu. Atau lidah saya yang sudah berubah? Entahlah.

44948458785_881e79d1b2_o
Danau Toba dari desa Tara Bunga

Apa yang paling saya suka selama liburan di tanah air? Tentunya menyantap buah manggis sampai puas. Menyantap mangga sampai puas. Makan nenas sampai puas. Apalagi? makan salak! Pokoknya buah buah seksi yang kalau di Swedia harus mandi air mata dulu bayarnya dan belum tentu enak.

Trus….trus apalagi? massage!  Dung dung sambil tabur gendang. Muraaaaaah!

Ga keitung deh berapa kali mijet selama dua bulan lebih di tanah air. Norak skala internasional pokoknya.

Uda itu aja? ya kagalah masih ada. Hotelnya! mostly bikin terpana. Paling ga dengan harga yang relatif terjangkau, fasilitasnya relatif bagus dan bersih. Sehingga tak ayal di awal awal kedatangan, saya lumayan suka menginap di hotel dikarenakan kepanasan. Begitupun sewaktu suami baru tiba di tanah air. Nanti akan saya tulis terpisah hotel apa saja yang saya rekomen selama menginap di tanah air.

44565717954_ac761c4904_o
All Seasons Hotel di daerah Thamrin Jakarta. Sekitar 1 jutaan rupiah sudah including breakfast. Lokasi di sekitar Thamrin pula. City view dari kamar juga bagus. Hotel ini juga punya skyloft restaurant di bagian rooftop. City view dari rooftopnya kece terutama di malam hari. ******************************************************************Sedangkan gambar hotel di bawah ini cuma 400 ribu rupiah. Lokasi  dekat bandara Soeta pula. Gile deh pokoknya. 
44548684135_2c188389fb_o (1)
Whiz Prime Hotel ini permalam sekitar 700 ribu rupiah. Lokasi di seberang Mall of Indonesia. Kamarnya nyaman banget dan bagus. Kamar mandi luamyan besar. Gabung dengan gedung apa itu gue lupa. Restoran di bawahnya kozy dan nyaman buat santai sambil makan. Strategis bangetlah pokoknya. 

Smögen, Wisata Menarik di Kawasan West Coast Swedia

Beberapa tahun lalu, suami pernah mengajak gue untuk menghabiskan liburan musim panas ke wilayah west coast di Västra Götaland propinsi Bohuslän Swedia. Tepatnya tidak begitu jauh dari Smögen, salah satu tempat wisata terkenal di propinsi Bohuslän.

Kebetulan suami mendapat tawaran penginapan dari perusahaan tempat dia bekerja. Tawaran penginapan dengan harga yang relatif murah. Mumpung ada penginapanlah menurut suami. Secara untuk mendapatkan penginapan di Smögen dan sekitarnya rada rada susah. Lumayan turistik.

IMG_6140.jpg

FFD1E5FF-31AC-4176-81CE-D98136D7D09C

IMG_6116

Cuma waktu itu gue belum terlalu tertarik berlibur ke kawasan west coast ini. Mending ke luar negeri. Rumput tetangga selalu lebih menggiurkan toh.

Sebenarnya tahun ini pun kami tak ada rencana mengunjungi Smögen. Idenya muncul begitu saja. Jadi beberapa waktu lalu, ceritanya kami lagi menghabiskan weekend di Norwegia. Berhubung karena satu hal dan alasan lain, rencana kami mengunjungi salah satu objek wisata alam di Norwegia batal. Tepatnya kami batalkan.

IMG_6136

IMG_6135

Sebagai gantinya, kami memutuskan pulang ke Swedia dengan melewati kawasan west coast Swedia. Hitung hitung sekalian merayakan wedding anniversary.

Dan singkat cerita, kami tiba di propinsi Bohuslän. Kota pertama yang kami singgahi adalah Grebbestad. Dan tanpa menunggu lama, hati gue langsung kepincut. Ternyata Swedia punya wajah lain. Bukan cuma hutan. Gue pernah melihat laut di bagian selatan Swedia, tapi kawasan west coast ini beneran seperti melepas rindu gue akan nuansa mediterania. Walau masih jauh dari kata mirip. Paling ga aura dikit dikitnya adalah. Hahaha.

IMG_6067

Jadi sejujurnya nih, belakangan ini gue lagi pengen banget liburan di sekitar pantai laut nuansa mediterania. Atau paling ga yang mirip mirip gitulah. Mirip dikit juga ga apa. Secara gue tinggal di daerah hutan kan. Kaga ada lautnya. Kalaupun ada air, paling aliran air danau atau sungai.

41887412170_164eebdff9_o.jpg

Makanya begitu melihat west coast di Swedia, gue beneran sumringah. Dibilang indah luar biasa sih ga juga ya. Kemungkinan besar penyebab kegembiraan gue ya karena bisa melihat wajah laut yang belakangan ini sedang gue idamkan. Wajah laut Mediterania. Dan itu ada di Swedia. Meski terkesan kalau gue terlalu memaksakan. Wong tidak sama. Tapi imajinasi yang terlalu memaksakan itu berefek positif. Mood gue jadi gembira. Gue menikmati liburan dengan sukaria.

Apalagi baru kali ini berkunjung ke kawasan west coast di Swedia. Intinya gue tidak menyangka kalau Swedia punya wisata sekitaran west coast yang lumayan menarik. Alhasil gue gampang terwooooow.

41887412670_b8e17c3334_o.jpg

Sangkin sukanya, imajinasi gue terseret entah kemana. Pas melihat barisan rumah kayu yang dominan berwarna putih, langsung mikir kok mirip rumah di pantai Amerika ya. Padahal ke Amerika aja belum pernah. Duh…plis ya bu, daya khayalnya dikondisikan. Imajinasi yang ga nyambung sama sekali. Hahaha.

Tapi beneran, rumah rumah di kawasan west coast Swedia mostly berwarna putih. Sangat berbeda dibanding rumah rumah di sebagian besar wilayah country side Swedia yang cenderung berwarna merah. Swedia berasa USA. Tuhhh kan ngaco lagi. Hahaha.

IMG_6159.jpg

IMG_6155.jpg
Grebbestad

Trus ya, melihat cafe restorannya pun nyenengin. Padahal kalau dipikir ga jauh beda dengan restoran di Dalarna tempat gue tinggal. Rumah kayu juga. Barangkali karena scenerynya beda. Berasa di kampung nelayan. Ada di sekitar air laut. Jadi seperti melihat hal baru.

Menyantap makanan di atas balkon kayu sambil menatap aliran air laut, melihat hilir mudik kapal layar dan boat, lalu lalang manusia juga. Biarpun ramai tapi tak membuat pusing kepala. Gue sangat menikmatilah. Sukak!

IMG_6152.jpg

IMG_6147.jpg
Sukaaaaaak

Dari Grebbestad, kami memutuskan mencari penginapan. Dan baru kali inilah kami lumayan susah mencari penginapan selama berlibur di Swedia. Penuh semua. Sampai sampai tak sedikit yang menulis penginapan sudah full. Sempat mikir bakal tidur di mobil.

CB21054D-521A-4B4B-8B69-A1A438A18918
Balkon penginapan dengan view kece

Sampai akhirnya, keberuntungan masih berpihak di tangan kami. Kami mendapat kamar kosong di salah satu B&B dengan view yang lumayan kece. Meski kamar yang tersedia tidak begitu luas, tapi ada kitchen set, meja kecil dan kamar mandi dalam. Uda gitu pemilik penginapan sangat ramah. Ruangan juga bersih, ruangan breakfastnya luas, sofa dan kursi di balkon banyak. Cuma ya itu, harga permalamnya menyamai harga hotel. Dimaklumi.

IMG_6139

Malamnya kami memilih dinner di daerah Hamburgsund, tak jauh dari penginapan. Untungnya kami datang di jam yang tepat. Masih dapat meja. Menghadap laut pula. Makan malam di saat musim panas itu serasa makan siang. Matahari tetap terang. Habis bersantap, kami masih punya banyak waktu menikmati sunset. Malam itu malamnya kami. Sayaaaaaa cintah!

Dan ketika tiba di Smögen, dari atas jembatan terlihat pulau pulau dengan bangunan rumah yang lagi lagi dominan berwarna putih. Berbaris rapi dari atas ke bawah. Cantik banget.

IMG_6065

IMG_6063.jpg

Begitu kami mendekat, semakinlah gue jatuh cinta melihat bangunan rumah rumahnya. Mirip rumah di majalah. Rumah rumah yang menghadap laut. Ahhhhh ayok pindah ke sini bang! Rumah rumah ini berdiri di tebing batu. Dari atas ke bawah gitu. Cakeplah!

41883907910_9ff529d7dd_o.jpg
Cinta dengan rumah rumah ini

Jarak masing masing rumah sangat berdekatan. Mostly terpisah gang kecil. Bahkan beberapa rumah terpisah oleh sisa halaman yang sangat sedikit. Jadi jalanannya seperti meraba raba gitu. Sekilas batasan arahnya kurang jelas tapi ternyata gampang ditelusuri. Melewati beberapa anak tangga juga. Percaya deh, rumah rumahnya gemesin banget. Saling berdekatan tapi jauh dari rasa sumpek.

IMG_6097

IMG_6107

IMG_6089

Beda banget dengan desa gue yang jarak satu rumah ke rumah lain lumayan berjauhan dan rata rata memiliki halaman luas. Okelah, di beberapa kota memang ada rumah yang saling berdekatan. Tapi rumah komplek. Kurang asik dilihat. Kalau di Smögen ini beda. Mungkin karena naik turun gitu ya susunan bangunan rumahnya.

IMG_6092

IMG_6078
Deretan rumah warna warni ini merupakan gudang penyimpanan boat/kapal

Nah, di Smögen ada satu tempat yang dikenal dengan Smögenbryggan. Bisa dibilang iconicnya Smögen ya Smögenbryggan ini. Kalau mau melihat bangunan rumah kayu warna warni yang mengapung di atas air, di Smögenbryggan inilah tempatnya. Rumah kayu yang sekilas terlihat melekat ke batu batu besar di sekitarnya.

43695578301_6d5c07884b_o
Toko souvenir

Jadi kalau searching smögen di Google, maka rumah warna warni ini yang kebanyakan muncul. Rumah kayu mana yang rata rata berfungsi sebagai gudang kapal.

IMG_6070

Banyak sekali boat kecil hingga boat besar terpakir di depannya. Selain turis lokal, turis asal Norwegia, Denmark dan Jerman juga banyak yang berlayar ke sini. Sayangnya kami tak lama di Smögen. Gue berjanji akan kembali ke sini. Kelak dan semoga.

Untuk melihat video Smögen, bisa klik video di bawah ini.

Akhirnya Melihat Heddal Stave Church Norwegia

Pernah mendengar sebutan Stave Church? Itu loh, gereja kayu yang konstruksi kayunya dibangun secara vertikal (tegak berdiri). Stave church bisa ditemui di beberapa negara Nordik dan Eropa Utara. Tapi dipercaya jika Skandinavia adalah negara pertama yang memiliki bangunan gereja seperti ini.

Norwegia adalah sarangnya bangunan bangunan stave church di dunia. Banyak banget. Mencapai ratusan. Dan rata rata umurnya aji gile. Bisa mendekati 1000 tahun. Bayangin, seribu tahun untuk level bangunan kayu loh. Bukan gereja yang terbuat dari bahan batu seperti kebanyakan gereja gereja di wilayah eropa.

IMG_5732 (1).jpeg

Jauh dari bangunan gereja bergaya gothic dan baroque sudah pasti, karena tampilan stave church di bumi viking ini justru mirip rumah tradisional.  Sebagian besar terlihat seperti segi tiga yang menjulang tinggi.

Jika dilihat dari jauh, atap bangunan dan beberapa sisi dinding menyerupai sisik ular. Jadi jangan heran jika di beberapa tower bangunan stave church yang sudah sangat sangat berumur, memiliki hiasan berbentuk kepala naga atau sejenis kepala binatang (gue ga tau pastinya binatang apa).

IMG_5710
Lihat atap dan dinding bagian atasnya. Mirip sisik ular.

Gue pernah membaca sebuah artikel traveling. Gambarnya memperlihatkan keindahan wisata alam Norwegia. Ada stave church di dalam gambar itu. Perpaduan yang bagus. Landscape dan stave church. Alhasil banyak pembaca di tanah air yang bertanya, apakah daerah itu beneran ada atau cuma editan.

IMG_5159.jpeg

IMG_5149.jpeg

Dan gue mau memastikan jika gambar itu benar adanya. Karena di Norwegia memang lumayan mudah melihat bangunan bangunan stave church yang berdiri elok diantara scenery yang indah. Stave church menjadi salah satu destinasi terkenal di Norwegia.

IMG_5691.jpg

IMG_5731.jpg

IMG_5729.jpgDari sekian banyak stave church terkenal di Norwegia, Heddal Stave Church merupakan salah satunya. Berada di daerah Heddal Notodden, Propinsi Telemark, Heddal Stave Church merupakan stave church terbesar di Norwegia dan satu satunya stave church yang memiliki tiga menara sekaligus. Dari Oslo hanya butuh satu jam berkendara.

E9E16F85-1B7D-4738-A4DC-BAE555F73C36.jpeg

Meski bukan kali pertama mengunjungi Norwegia, tapi baru tahun inilah kami berkesempatan melihat Heddal Stave Church. Akhirnya rasa penasaran gue terhadap gereja ini terjawab sudah. Gereja yang unik dan cantik.

IMG_5157.jpeg

Heddal Stave Church pertama sekali dibangun sekitar abad ke 13. Karena kondisinya yang semakin buruk, pada tahun 1950an, seluruh bangunan gereja pernah dibongkar total untuk kemudian dilakukan perbaikan. Setelah itu kayu kayu dipasang kembali seperti semula.

Aroma kayu tua sangat tajam menyambut kami ketika memasuki gereja. Suasana di dalam gereja sangat jauh dari kesan gemerlap layaknya gereja gereja kebanyakan di eropa. Gue lumayan terkesima dengan dinding gereja yang dipenuhi lukisan yang sudah mulai pudar. Wajar saja, hampir seribu tahun. Lukisan mana sekilas mirip wallpaper.

IMG_5718.jpg
Dalam gereja. Lukisan yang mulai memudar di dindingnya sekilas mirip wallpaper.

Heddal Stave Church ternyata memiliki cerita legenda. Jadi konon, ada lima orang petani asal Heddal yang ingin membangun gereja di desa mereka. Suatu hari, Raud, salah satu dari lima orang petani tersebut bertemu dengan orang asing.

Singkat cerita, si orang asing tersebut bersedia membangun gereja hanya dalam tempo 3 hari. Tapi dengan catatan, sebelum gereja selesai dibangun, Raud harus memenuhi satu syarat dari tiga syarat yang diajukan.

  • Mengambil bulan dan matahari dari langit
  • Mempersempahkan darah dan nyawanya
  • atau menebak nama si orang asing tadi.  

IMG_5711.jpeg

IMG_5702.jpg

Raud pun memilih syarat nomor 3 karena dianggapnya bukanlah syarat yang terlalu sulit dan berbahaya. Menebak nama.

Pembangunan gereja pun dimulai. Dan sesuai janjinya, orang asing itu sepertinya berhasil membangun gereja hanya dalam tempo tiga hari. Raud akhirnya ketakutan karena belum bisa menebak siapa nama orang asing tersebut.

IMG_5706.jpg

Hingga tanpa disengaja, ketika Raud menebak nebak nama si orang asing sambil berjalan di sebuah lahan luas, tiba tiba dia mendengar suara wanita yang sedang bernyanyi. Dalam nyanyian tersebut, Raud mendengar sebuah nama disebut.

“Hei anakku, besok Finn akan membawakanmu bulan dan matahari, juga jiwa manusia, dan itu akan menjadi mainan yang menyenangkan buatmu” (kira kira artinya begitu). 

IMG_5731.jpg

Mendengar nyanyian itu, Raud menyadari jika si orang asing tersebut adalah seorang Troll. Esok harinya, Raud bertemu dengan si pria asing. Mereka berjalan ke arah gereja. Dan tanpa membuang waktu, Raud langsung memegang salah satu pilar gereja dan berujar “Hei Finn, sepertinya pilar gereja ini kurang lurus”.

Mendengar namanya disebut, si pria asing langsung kaget. Ternyata Raud bisa menebak namanya. Dia pun berbegas marah meninggalkan Raud. Konon, si pria asing yang tak lain merupakan troll dipercaya tinggal di Svintru, sebuah kawasan pegunungan di Norwegia. Ceritanya menarik juga ya. Serasa baca cerita dongeng.

IMG_5725.jpg

Heddal Stave Church berdiri di sekitar scenery yang lumayan mampu mengacuhkan suhu panas kala kami berkunjung. Panas yang nyaris membuat meleleh. Hamparan ladang gandum yang menguning, rumah rumah kayu, alam pedesaan dan pemandangan kuburan di sekitar yang justru menjadi daya tarik lain dari bangunan gereja. Tak berasa horor sama sekali.

Tak jauh dari gereja, pengunjung bisa naik ke atas bukit dimana terdapat open air museum. Bisa duduk santai di sebuah rumah kayu sambil menyantap ice cream atau sepotong cake. View di sekitar open air museum juga lumayan menarik.

IMG_5737
Open air museum tak jauh dari Heddal Stave Church.

Norwegia tak hanya lekat dengan aurora borealis, fyord, terowongan gunung, trolls, farm mountain yang indah, tapi wisata negara ini juga sangat lekat dengan ratusan stave church yang unik yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

IMG_5746

IMG_5226

Jika ingin melihat tampilan lain dari stave church di Norwegia dan bisa membuat kamu takjub, coba klik di SINI

Pengalaman Pertama Memasuki Sinagoga Yahudi

Josefov (Jewish Quarter) adalah tempat yang terbilang menarik untuk dikunjungi jika berlibur ke kota Praha, republik Ceko. Berkunjung ke Josefov ibarat mengunjungi dua negara, Israel dan Czech Republik. Kalimat sederhananya, Josefov adalah perkampungan kaum yahudi yang sudah ada di kota Praha sejak abad ke 13.

Terletak diantara kawasan old town square dan sungai Vltava, Josefov meliputi beberapa tempat yang hingga saat ini justru menjadi objek wisata menarik di kota Praha yang lumayan ramai didatangi turis. Sebut saja seperti Maisel Synagogue, Pinkas Synagogue, Old Jewish Cemetry, Klausen Synagogue, Ceremonial Hall, Spanish Synagogue hingga old-New Synagoge. Iya, di Josefov terdapat beberapa sinagoga (synagogue), bangunan yang menjadi pusat keagamaan bagi umat yahudi (seperti rumah ibadahlah).

2507781F-7357-4159-9948-0FD2472BE5B4.jpg

Jika ingin melihat semua objek wisata di atas, boleh membeli tiket dalam satu paket. Satu tiket bisa digunakan untuk semua tempat dan sudah termasuk ke R. Guttmann Gallery.

Tapi jika tak berniat melihat semuanya, bisa membeli tiket sesuai tempat yang ingin dimasuki. Kami (gue dan suami) membeli tiket terusan di samping bangunan old-New Synagogue. Kemungkinan semua tiket bisa dibeli di masing masing pintu masuk objek wisata. Tapi gue kurang tau pasti juga.

Tempat pertama yang kami masuki adalah Old-New Synagogue. Selesai dibangun pada tahun 1270, Old-New Synagogue merupakan bangunan bergaya gothic pertama di Praha dan menjadi sinagoga tertua di Eropa yang masih aktif hingga sekarang.

IMG_9854.jpg
Bangunan Old-New Synagogue

Ini adalah pengalaman pertama gue memasuki sinagoga. Begitu masuk, satu buah kippa (topi kecil yang biasa dipakai kaum pria yahudi ketika beribadah) diberikan petugas kepada suami secara cuma cuma. Lucu banget melihat suami memakai kippa. Kurang coock aja di kepala dia.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian gue ketika berada di dalam sinagoga. Gue baru tau kalau kaum yahudi beribadah tidak harus menghadap pemimpin ibadah (Rabi). Bangku bangkunya pun tidak disusun searah menghadap altar, tapi saling berlawanan arah. Dan bagian tengah sinagoga diberi pagar besi berukuran tinggi. Pagar mana dibuat untuk memagari satu benda berbentuk kotak besar yang berisi gulungan kain. Gulungan kain mana merupakan Tanakh atau Torah Scroll (Taurat), salah satu kitab dari tiga kitab yang dimiliki umat Yahudi. 

47EBF761-5C41-4857-B55D-BDAB210BA326
Tanakh yang disimpan di dalam kotak kaca

Berhubung penasaran, akhirnya gue bertanya ke tour guide, kenapa bangku bangku di dalam sinagoga tidak menghadap searah ke altar. Ternyata barulah gue tau, “mendengar” sudah cukup bagi jemaat tanpa harus melihat rabi ketika berbicara. Jadi tidak ada keharusan melihat rabi (semoga gue tidak salah menyimpulkan ya). Bisa melihat contoh dua gambar di bawah ini.

IMG_9864
Tulisan dengan bahasa Ibrani. Sekilas mirip tulisan arab ya

Dari Old-New Synagogue, kami berpindah ke Pinkas Synagogue, sinagoga tertua kedua di Praha. Saat ini hak pengelolaan Pinkas Synagogue dipercaya kepada Jewish Museum di Praha. Sehingga tak ayal, ketika memasuki sinagoga ini, gue lumayan terpana melihat dinding sinagoga yang mostly bertuliskan huruf huruf kecil. Jika dilihat sekilas nyaris tak terbaca oleh mata gue (yang sudah minus).

EA75DFCF-814F-44CE-A8F8-FA64C89552D9.jpg
Salah satu dinding yang dipenuhi tulisan nama nama korban Holocaust

Ibarat wallpaper bermotif huruf,  ternyata goresan huruf huruf itu adalah nama nama dari korban Holocaust. Tepatnya korban Holocaust khusus di republik Ceko. Ya Tuhan, untuk wilayah republik Ceko saja korbannya mencapai 78.000 ribu orang. Sambil melihat huruf huruf di dinding, nalar gue masih sulit membayangkan kalau itu semua adalah nama nama manusia. Bayangkan, nama nama itu ditulis dengan huruf yang sangat kecil. Dengan ukuran sekecil itupun, nyaris memenuhi dinding sinagoga.

Meski hanya goresan nama, tapi mampu bercerita banyak. Huruf nama yang seolah mewakili derita puluhan ribu jiwa yang mati sia sia. Menggiring pilu. Merinding, sedih, dan langsung terbayang entah apa apalah di benak gue. Dari yang gue baca, tak sedikit para korban yang meninggal masih berumur belasan tahun.

ADF1A2A9-8B09-494C-BB7A-641363C87EBD.jpg
Di sini, uraian demi uraian sejarah Holocaust bisa dibaca

Di luar gedung, kami juga melihat beberapa display gambar berikut penjelasan tentang para korban Holocaust. Dan gue membaca sebuah kalimat. Kalimat pendek tapi bermakna dalam. Menyentuh gue banget, “Journeys with No Return”. Ihhh…….sedih ga sih. Ketika kita diiming imingi masa depan dan tempat yang baru, kenyataannya justru menjadi tempat kita meregang nyawa. Merinding.

5AAD39A2-C464-4E23-ADE8-4ED0B2B10FA9.jpg
Journeys with No Return. Pilu.

Selanjutnya kami memasuki Old Jewish Cemetry, sebuah area pemakaman kaum yahudi yang sudah ada sejak abad ke 15 dan menjadi salah satu pemakaman yahudi terluas di eropa. Dari sekian banyak objek wisata di kawasan Josefov, bisa dibilang Old Jewish Cemetry inilah yang paling banyak dikunjungi turis.

IMG_9834 (1).jpg
Pemakaman kaum Yahudi di jaman dulu

Kalau tidak salah menyimpulkan, akibat kekurangan lahan, bangsa yahudi akhirnya menggunakan liang lahat yang sama untuk jenazah yang berbeda. Dan semisal rangka mayat orang terdahulu sudah hancur tak bersisa dan menjadi debu, mereka tidak akan membuang batu nisannya. Konon bangsa yahudi sangat menghormati leluhur mereka, sehingga membongkar batu nisan seperti itu dianggap tabu.

IMG_9840.jpg

IMG_9838.jpg

Untuk mengakali lahan yang terbatas tadi, maka satu liang lahat bisa digunakan untuk mengubur lebih dari satu orang dari generasi yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa Old Jewish Cemetry dikenal sebagai pemakaman yang memiliki level. Artinya satu liang lahat bisa memiliki lebih dari satu batu nisan. Nisan pertama atau yang paling tua diposisikan lebih tinggi. Menyusul nisan nisan selanjutnya dengan posisi lebih rendah (semoga gue tidak salah menjelaskan). Old Jewish Cemetry menjadi heritage yang dilindungi di kota Praha.

IMG_9835.jpg

052F9030-257E-4C45-9E92-9C4B5F8EDA22.jpg
Salah satu contoh liang lahat yang memiliki 3 level. Satu liang lahat terdapat 3 batu nisan.

Jika keluar dari area Old Jewish Cemetry, jangan lupa memasuki Ceremonian Hall. Lokasinya masih satu area dengan Old Jewish Cemetry. Dari luar sih terlihat seperti kastil. Bagian dalamnya sudah terlihat tua dan berisi benda benda peninggalan yahudi.

IMG_9868.jpg

IMG_9873
Ceremonian Hall

Sama halnya dengan Ceremonian Hall, ada juga Klausen Synagogue. Bangunan ini pun mostly berisi benda benda yang berhubungan dengan kaum yahudi. Kami juga sempat masuk ke R guttmann Gallery. Berhubung di dalam galeri kurang interest, jadi kami tidak lama di dalam.

IMG_9855.jpg
Klausen Synagogue. Lihat kotak kaca itu, dalamnya terdapat kitab Tanakh dan letaknya selalu di bagian tengah ruangan Sinagoga. 

Nah, yang terakhir ke Spanish Synagogue. Duh……..kalau ini beneran bikin takjub deh. Cakep banget. Sekilas mirip gereja ortodoks. Dindingnya full dengan lukisan art berwarna dominan coklat dan kuning gold. Artistik sekali. Sekilas mirip motif batik juga.

IMG_9830

IMG_9826 (1)

IMG_9820

Kunjungan kami ke Josefov bisa dibilang menambah pengalaman baru tentang kultur budaya umat yahudi yang sebelumnya gue tidak begitu paham. Menariklah untuk dikunjungi. Selalu ada cara untuk lebih mengenal sejarah bangsa lain.