Mengenal Lebih Dekat Suku Sami

Ibarat Amerika punya suku Indian, Australia punya suku Aborigin, kemudian Greenland, Canada, Alaska, Siberia punya suku Inuit dan Yupik Eskimo, maka Lapland punya suku Sami. 

Lapland sendiri merupakan kawasan luas yang meliputi negara negara seperti Norwegia, Swedia, Finlandia dan Rusia. Orang Sami merupakan suku nomaden di sekitar kawasan fjället atau pegunungan Lapland. Sejak ribuan tahun silam, suku Sami diketahui sebagai suku pertama yang mendiami wilayah Lapland.

IMG_2718

Sekilas jika dilihat wajah mereka lumayan mirip dengan orang orang Eskimo. Memiliki mata yang agak sipit. Apa mungkin karena berasal dari region yang tidak terlalu jauh dari wilayah kutub? saya juga kurang yakin. Maybe yes maybe no.

IMG_0673

Melihat lebih dekat kehidupan sejarah suku Sami menjadi salah satu keinginan saya ketika mengunjungi propinsi Lapland Swedia. Saya memang sangat interest dengan wisata seperti ini.

OK6

IMG_0946
Atmosfir Sami sangat mudah ditemukan di wilayah Lapland Swedia

Pada masanya suku Sami di Lapland Swedia sempat mendapat intimidasi keras dari pemerintah Swedia. Mereka dilarang berbicara bahasa Sami dan harus menggunakan bahasa Svenska (bahasa resmi Swedia). 

IMG_2715

OK2
Ice Hotel dengan batang kayu menyerupai tenda suku Sami

Suka atau tidak suka mereka seperti digiring meninggalkan kepercayaan yang mereka anut. Sebagai gantinya mereka diharuskan beribadah ke gereja. Di sekolah pun mereka mendapat kekerasan fisik. Perlakuan rasis dan dipandang sebelah mata oleh warga Swedia sendiri yang kala itu mulai berdatangan mendiami wilayah Lapland Swedia. Singkat cerita, suku Sami menjadi tertindas di tanah leluhur mereka sendiri.

IMG_2714

IMG_2716

Tapi itu hanyalah kepahitan dari cerita masa silam. Di jaman sekarang suku Sami justru mendapat dukungan penuh dari pemerintah Swedia. Bahkan tradisi budaya suku Sami menjadi salah satu yang dibanggakan terutama di sektor wisatanya. Mereka diberi hak untuk mendirikan parlemen sendiri. Punya bendera sendiri. Pemerintah Swedia pun tidak mencabut hak privat atas kepemilikan seluruh reindeer (rusa kutub) yang ada di hutan Lapland Swedia dari suku Sami.  

IMG_3054
Reindeer…hewan liar yang snagat identik dengan suku Sami

Reindeer dan suku Sami seolah menjadi satu kesatuan simbol. Jaman sebelum tersentuh dunia luar, suku Sami sudah merajai dan menakklukkan hewan kutub ini. Hewan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari hari. Sebagai sarana transportasi dan tentunya bahan makanan.

IMG_3055

Suku Sami mampu menghimpun ribuan reindeer yang berkeliaran di hutan Lapland ke dalam satu titik. Saya suka amazing setiap melihat liputannya di tv. Mereka sangat lihai mengendalikan rusa rusa santa caluse ini. Hewan liar tapi ada pemiliknya. Unik.

Inilah alasan mengapa pemerintah Swedia dan negara negara Nordik tidak mengutak atik keberadaan reindeer dari suku Sami. Karena sejak ribuan tahun lalu, rusa kutub di Lapland memang sudah dikendalikan oleh suku Sami.

IMG_1745
Ini cafenya cute banget deh. Menyerupai rumah suku Sami.
IMG_1742
Bagian dalam cafe. Cozy banget. Lihat tungku apinya…lagi lagi berada di bagian tengah ruangan.

Berkunjung ke Lapland Swedia, simbol simbol suku Sami sangat mudah ditemukan. Salah satunya bangunan rumah suku Sami yang bentuknya mirip segitiga atau kerucut. Dibangun dari balok kayu yang konon sebagian besar tidak dipaku.

IMG_0685

IMG_0684
Rumah Sami di sebuah desa di Lapland Swedia. Akan saya tulis di tulisan terpisah mengapa rumah rumah ini sampai ada dan hingga sekarang masih dipakai oleh orang Sami

Meski tidak dipaku mereka mampu membuat kumpulan kayu berdiri sempurna. Balok kayu yang bisa dibongkar pasang. Ciri khas lain dari rumah suku Sami terletak pada perapiannya yang selalu berada di bagian tengah ruangan. Pada bagian atap rumah selalu ada lubang yang bisa di buka tutup. Dari lubang itulah nantinya asap perapian akan keluar.

OK
Rumah Tradisional Suku Sami di jaman dulu dan hingga sekarang masih digunakan
IMG_0850
Bangunan ini tidak menggunakan paku. Tapi kayu bisa menempel sempurna. Batang kayu bisa dibuka dan disusun kembali. Gambar di bawah adalah penampakan bagian dalam rumah dengan perapian di bagian tengah. Tentunya turis diperbolehkan masuk ke dalam ya

Jadi jangan heran jika beberapa bangunan modern di Lapland Swedia berkiblat kepada bentuk bangunan rumah Sami. Seperti cafe, museum hingga gereja. Bahkan pada bangunan hotel, penginapan, restoran, rasanya pernak pernik Sami menjadi pemandangan biasa.

IMG_2871
Tenda Sami di halaman Ice Hotel
74281F0F-9C33-4FD0-8D55-0FCF0ABD9A65
Museum Sami di sekitar halaman camping penginapan
IMG_0824
Gereja di Jokkmokk yang mirip rumah suku Sami. Jokkmokk menjadi daerah yang banyak dihuni suku Sami
IMG_1276
Kiruna Church. Juga menyerupai bangunan rumah suku Sami
IMG_1321
Cafe bernuansa Sami. Perapiannya lagi lagi berada di tengah. Pernak pernik Sami dan musik Sami siap menemani jika berada di sini

Di jaman sekarang, suku Sami sudah menyebar di seluruh wilayah Swedia. Mereka menjalani kehidupan modern tapi tetap mempertahankan tradisi budaya mereka. Mereka bekerja di perusahaan, membuka usaha wisata, menjual daging reindeer hingga kerajinan tangan.

Inilah Alasan Kenapa Kamu Harus Berkunjung ke ICE HOTEL SWEDIA

Tidur di kamar es bersuhu minus 5 derajat celcius? Ini bukan hoax. Sudah tidak terhitung manusia dari berbagai penjuru bumi menjajal tidur di ice room hotel ini. Kecuali saya…haha.

Adalah sebuah desa kecil bernama Jukkäsjarvi. Letaknya 200 kilometer dari bagian utara lingkaran arktik (artic circle). Desa kecil yang damai. Seperti desa dalam buku cerita. Di sinilah pertama sekali berdiri sebuah hotel es terkenal dunia. ICE HOTEL namanya.

IMG_0955

Ice Hotel di desa Jukkasjarvi didirikan berdasarkan ide gila dari seorang pria bernama Yngve Bergqvist. Ide gila yang justru menginspirasi negara lain dan kemudian mengikuti idenya. Meski beberapa negara memiliki ice hotel, tapi Ice Hotel di Jukkasjarvi Swedia selalu dianggap sebagai Ice Hotel Origional pertama di dunia dan menjadi pionir bagi ice hotel di negara lain.

IMG_2846

Ice Hotel di Jukkasjärvi menjadi berbeda karena hotel ini memiliki Torne River. Sungai dengan air yang sangat bersih dan berkontribusi luar biasa besar terhadap berdiri hingga bertahannya Ice Hotel selama kurun waktu 30 tahun ini. Torne river ibarat nyawa bagi Ice Hotel.

IMG_2880
Midnight Sun. Memoto Torne river yang tenang pukul 12 malam lewat. Kebersihan airnya sudah diakui. 

Berdiri tahun 1989 dan resmi dibuka pada tahun 1990, awalnya Ice Hotel hanya menerima tamu di saat musim dingin. Sekitar bulan Desember hingga April. Waktunya memang relatif terbatas (hanya 4 bulan dalam setahun).

IMG_2875
Peace…

Ice Hotel dibangun tepat di samping Torne river. Semua material bangunan hotel berasal dari air natural Torne river yang membeku. Ketika musim dingin, bekuan air Torne river mampu mencapai ketebalan meteran. Hamparan luas air sungai yang membeku inilah yang kemudian dibelah dan dipotong menjadi balok balok es.

 

IMG_2874
View di sekitar Ice Hotel

Balok es inilah yang kemudian digunakan sebagai material dasar membangun kamar hotel, tempat tidur, patung, lampu, lemari, meja, kursi, piring, gelas hingga pernak pernik kecil hotel yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita. Serba es!

IMG_2849 (1)
Salju yang berubah wujud 

Ketika musim semi tiba, Ice Hotel pun menghilang. Lenyap tak berisisa. Mencair dan mengalir kembali ke habitatnya……..ke Torner river.

Konon pihak Ice Hotel merasa berat hati setiap melihat Ice Hotel mencair dan kemudian mengucapkan kata perpisahan dengan para tamunya “Sampai bertemu di musim dingin berikutnya”.

IMG_2871

IMG_0946
Kumpulan kayu berbentuk kerucut di halaman Ice Hotel. Salah satu ciri khas suku Sami

Mereka tidak lelah memutar otak agar mereka tidak perlu lagi mengucapkan kalimat perpisahan ini setiap kali musim dingin usai. Berkat kecanggihan teknologi, pihak Ice Hotel akhirnya berhasil membuat inovasi. Akhirnya Ice Hotel yang sanggup bertahan lama pun berhasil dibangun.

Mampu bertahan hingga di musim panas sekalipun. Sepanjang tahun!

IMG_2851 (1)
Ice Hotel dengan pernak pernik suku Sami

Tepatnya di tahun 2016, Ice Hotel 365 resmi dibuka. Dengan bantuan mesin dan peralatan canggih, Ice Hotel 365 mampu bertahan dan beroperasi setiap hari sepanjang tahun. Menjadi Ice Hotel permanen pertama di dunia.

IMG_2847
Saya…berdiri di depan Ice Hotel 365

Ice Hotel 365 juga memiliki Ice Bar. Luangkan waktu sekejab minum minum angkuh di sini. Rasakan sensasi bibir cekat cekut ketika bersentuhan dengan gelas es yang super dingin. Minumnya jangan lama lama nanti keburu membeku. Harga di Ice Bar lumayan mahal. Coca cola 50 ml dihargai sekitar 130 ribu rupiah. Ya… namanya juga minum dari gelas es…bikinnya susahhhhh edaaaaaa!

IMG_1067 (1)
Ngewine ngebir nge-cola di Ice Bar
IMG_1394
Mabuk dengan coca cola…hahaha

IMG_1364

Meski Ice Hotel 365 sudah dibangun, Ice hotel temporary bukan berarti berhenti. Tetap dibuka di saat musim dingin. Itulah sebabnya di bulan Maret sebelum musim semi tiba, Ice Hotel rutin mempersiapkan balok balok es dari air Torne river yang masih membeku. Kemudian potongan balok es ini disimpan di sebuah gudang di sekitar hotel untuk nantinya digunakan pada proyek pemahatan pada musim dingin berikutnya.

IMG_1161
Gudang es 

Ice hotel memiliki ice room yang super unik. Dan masing masing ice room punya tema yang berbeda. Ada tema laut, binatang, princes atau apalah itu. Bikin terwoowwww sudah pasti. Superlah.

IMG_1060
Cari kamar pak? 

Semua pahatan es di dalam Ice Hotel merupakan hasil karya para artists dari seluruh penjuru dunia. Setiap tahun di bulan November artists dari berbagai negara ikut terlibat dan datang ke Ice Hotel untuk memperlihatkan hasil kreasi mereka. Pun design art di dalam Ice Hotel tidak pernah sama setiap tahunnya. Selalu berubah. Setiap kamar akan mencantumkan nama sang artists. Tema kamar juga dijelaskan.

IMG_2853 (1)
Ketika tidur ditemani semua dayang dayang ini. Bangun bangun kelilit ubur ubur. Haha
IMG_2864
Kebayang ga sih, mereka mengerjakan ini semua di suhu yang super dingin. Gilak

Ice room di Ice Hotel sudah pasti terbuat dari es. Suhu minus 5 derajat celcius. Pihak hotel akan memberikan sleeping bag yang hangat, tempat tidur berlapis bulu reindeer yang halus dan perlengkapan hangat lain.

IMG_2857
Tenang, ada princes yang temeni kamu tidur

Ruangan kamar tidak memiliki tv, tidak ada kamar mandi atau perlengkapan layaknya hotel regular. Semisalpun ada tv, kemungkinan besar sudah tidak interest menonton. Waktu terkuras pelototin pahatan es di setiap ruangan Ice Hotel. Jadi kalau mandi bisa ke gedung sebelahnya. Ga jauh kok. Pihak Ice Hotel juga akan mengeluarkan sertipikat bagi para tamu yang sudah menginap di ice room.

IMG_2855
Ngegosip di rumah tetangga sudah biasa. Cobalah duduk di sini. Gosip gosip kita sampai plozeen
IMG_2859
Jangan disentuh. Please respect. Tempat tidur incesss itu.

Kamar es biasanya dihuni mulai pukul 6 sore hingga pagi hari. Sedangkan siang harinya sebagian besar ruang kamar bisa dilihat pengunjung. Baik itu tamu yang menginap atau hanya sekedar ingin melihat keindahan ice art di setiap ruangan Ice Hotel.

IMG_1004
Ulalala…sadis kamarnya!

IMG_0969

Tamu yang menginap di Ice Hotel bebas keluar masuk cold room selama jam buka. Sedang pengunjung di luar hotel harus merogoh kocek sekitar 600 ribu rupiah. Di setiap kamar ada bagian art yang bisa disentuh bahkan diduduki. Tapi ada juga yang tidak boleh. Baca saja tulisannya.

IMG_2858

IMG_2854 (1)
Lorong beku

Jika ingin mengitari seluruh ruangan cold room di Ice Hotel, jangan lupa mengenakkan mantel dan sarung tangan yang sudah disediakan. Tak perlu malu malu dan jaim berada di sini. Kalau mau foto silahkan saja. Semua pengunjung on dengan handphone atau kamera ditangan.

Tapi tahan ya…pastikan botol marjan ga kebawa di dalam tas. Entar sampai di ice room malah dindingnya dikorekin trus dicampurin ke sirup bikin es doger. Diminumnya diirekam pula. Pakai apa? pakai boomerang! Hahaha………………..itu mah saya doyan pakai boomerang.

IMG_1033
Ketika halu melanda…buku es pun dibaca #savemembaca #perpustakaan (ketawa guling guling)

Jika berkunjung di saat musim dingin dan berpesawat, dari bandara Kiruna kamu langsung memulai petualangan seru. Tidak perlu naik taxi karena gerombolan husky dog siap membawa kamu bermain sledding dog hingga menuju Ice Hotel. Dari bandara naik sledding dog. Sungguh terlalu! Terlalu unik.

IMG_2895
Katalog Ice Hotel 2019

Di saat musim dingin pun, akan terbuka peluang untuk melihat warna warna Northern Lights (Aurora Borealis) di sekitar Ice Hotel. Biasanya pihak hotel akan membunyikan alarm jika cahaya aurora ini muncul. Duh…….kebayanglah betapa komplit dan spesialnya liburan seperti ini. Dijemput sledding dog dan melihat goyangan aurora.

Ice Hotel punya menu andalan. Harus dicoba. Namanya Renskav. Makanan tradisional suku Sami. Renskav merupakan olahan daging reindeer yang diiris tipis tipis, ditaburi saos jamur dan disantap dengan almond potato serta lingonberry.

IMG_1387
Renskav daging reindeer bertabur saos jamur, lingonberry dan kentang almond

Irisan daging yang tipis ini sebenarnya punya cerita. Dulu banget ketika musim dingin, suku Sami selalu nyetok daging. Daging beku kalau dipotong pasti susah dong. Cara gampangnya cuma dengan mengiris tipis tipis. Mengiris daging yang membeku memang jauh lebih mudah kan. Itulah yang dilakukan suku Sami.

Selain itu Ice Hotel juga punya dessert unik. Kamu bisa makan hjortron atau cloudberry sampai puas. Secara clouberry memang tumbuh subur di wilayah Lapland dibanding wilayah lain di Swedia. Kalau di daerah tempat saya tinggal, cloudberry masuk jenis berry eksklusif. Karena buahnya tidak terlalu banyak dan metiknya lumayan capek.

IMG_1390
Puas makan cloudberry di sini

Tidak seperti blubbery atau lingonberry yang bisa dipetik menggunakan alat. Dapatnya juga langsung banyak. Beda dengan cloudberry harus satu satu. Manual pakai jari. Harganya pun jauh lebih mahal. Cloudberry itu enak banget. Aromanya spesial.

IMG_2890

Ice hotel juga menyediakan penginapan regular. Kabin kabin tipikal nordik skandinavia. Tentunya berada di kamar regular ini dijamin membuat jiwa raga tidak menggigil. Dan sangat cocok dengan saya yang bernyali tempe dan belum berani uji nyali di kamar minus itu.

IMG_2894
Kabin diantara rumput dan bunga liar

Kabin penginapan rata rata ditanami rumput di bagian atapnya. Sekelas rumput liar sekalipun menjadi matching dengan wooden house ini. Rumput liar yang berbunga. Ruangan kamarnya? Nyamanlah.

IMG_2850 (1)

IMG_0956
Ruangan kamar regularnya nyaman

Jika kamu mengunjungi Ice Hotel sekitar bulan Mei hingga pertengahan Juli, cobalah berjalan kaki di sekitar desa Jukkasjärvi. Kamu tidak akan melihat perbedaan antara pagi, siang dan malam. Terangnya maksimal selama 24 jam (midnight sun). Liburanmu dijamin tanpa malam.

IMG_2883
Beginilah pemandangan di sekitar Ice Hotel di desa Jukkasjärvi
IMG_2320 (1)
Gudang rustic, rumput ternak, gundukan gunung dan Torne river. Bawa aku ke sini lagi ….

Suasana di sekitar Ice hotel juga bikin hati adem. Gundukan gunung, wooden house, gudang rustic, bulatan bulatan awan yang rasanya pengen dipetik, hingga ketenangan air Torne river.

IMG_2318

IMG_2884
Refleksi diri…#Torneriver

Ice Hotel sering menjadi tempat upacara pernikahan bagi pasangan dari berbagai negara. Tempat pertemuan besar. Setiap tahun mereka mengeluarkan katalog baru berisi tema tema terbaru design ice roomnya.

Biar lebih nyata, kalian bisa tonton ulasan detail Discovery Channel di bawah tentang Ice Hotel berikut proses pengerjaannya. Saya suka sekali melihat liputannya. Dan memang suka banget tayangan seperti ini. 

Ice Hotel bukan sebatas hotel biasa. Hotel unik ini sekaligus menawarkan wisata briliant dari orang orang yang bekerja keras di belakang layarnya. Gabungan art, keheningan, keunikan peristiwa alam, relax, orang Sami, reindeer dan juga cloudberry dijamin semuanya membuat liburanmu menjadi tidak biasa.

IMG_1132

Dan saya pun merindu jika mengingatnya. Semoga saya bisa datang kembali ke sana di musim yang berbeda. Musim dingin tentunya (Dalarna 2019).

Berikut penampakan ruangan es yang saya rekam ketika menginap di Ice Hotel….. 

“KIRUNA”

KIRUNA…

Sebuah nama yang unik.

Pertama sekali mendengar “Kiruna” ketika saya belajar kursus bahasa di Swedia. Guru di kelas memperkenalkan beberapa kota di propinsi Swedia. Kiruna benar benar kota asing buat saya waktu itu.

Ketika guru menjelaskan letak Kiruna yang sangat jauh ke bagian paling utara Swedia, saat itu juga kota ini langsung mencuri perhatian saya. Kota dengan kehidupan keras di saat musim dingin.

Kiruna termasuk ke dalam wilayah Lapland Swedia. Berada di dalam lingkaran arktik (Artic Circle) menjadikan Kiruna sangat dingin di saat winter. Karena berada pada bagian bumi yang unik inilah wilayah Kiruna berkesempatan mengalami peristiwa “Midnight Sun” dimana manusia bisa melihat sinar matahari nonstop selama 24 jam dalam sehari.

Dan sebaliknya di saat musim dingin (di bulan Desember) Kiruna mengalami peristiwa alam yang disebut “Polar Night”, yang artinya nonstop selama 24 jam sama sekali tidak tersentuh cahaya matahari.

IMG_1083
Kota Kiruna yang sederhana tapi ngangenin

Inilah yang menjadi alasan utama saya berkunjung ke Lapland Swedia beberapa waktu lalu yang tidak lain ingin melihat kota Kiruna dengan segala keunikan wisatanya. Meski saya sedikit kecewa karena belum bisa mengunjungi Kiruna di bulan Desember di saat musim dingin.

Kenapa harus di musim dingin? Karena saya penasaran ingin merasakan liburan tanpa siang. Liburan tanpa matahari. Liburan yang gelap gelapan itu rasanya bagaimana? Bangun tidur gelap, makan siang gelap, kembali tidur juga gelap. Kedengarannya memang kurang asik. Liburan kok gelap gelapan. Tapi ya itulah rasa penasaran saya. Saya paling suka merasakan sesuatu yang tidak biasa dan unik dari hasil kerja alam. Penasaran ingin melihat langsung peristiwa Polar Night. 

IMG_1091
Berjalan kaki di Kiruna sangat nyaman. Kota ini masih jauh dari kesan menakutkan dari orang orang jahat

Meski saya tinggal di Swedia, hingga detik ini saya belum kesampaian melihat keindahan warna warna Northern Lights (aurora borealis). Katanya indah sekali bila dilihat dari sebuah desa kecil bernama Jukkasjarvi yang juga terkenal dengan Ice Hotelnya.

Saya juga penasaran akan sebuah tayangan tv yang beberapa kali saya tonton tentang bagaimana suku Sami mampu mengumpulkan ribuan rusa kutub yang berkeliaran di hutan Lapland Swedia ke dalam satu kandang yang super luas. Juga hak otonomi yang diberikan pemerintah Swedia kepada suku Sami untuk mengelola populasi rusa kutub di wilayah Lapland Swedia.

Meski keinginan berkunjung di saat winter belum terwujud, setidaknya saya masih bisa menginjakkan kaki di Kiruna di musim yang berbeda. Musim panas tepatnya. Dan ternyata di saat summer pun Kiruna mampu membuat saya jatuh cinta.

Keberangkatan kami ke Kiruna mendapat komentar pro dan kontra dari beberapa kerabat. Ada yang bilang : Ke Kiruna? Jauh banget! Jalannya membosankan! Tapi ada juga yang sangat antusias. Kiruna cantik! Kiruna unik! Dan tentunya setiap orang punya selera liburan yang berbeda.

Dari tempat tinggal saya, perjalanan ke Kiruna butuh waktu berhari dengan berkendara. Berangkat hari minggu sore dan tiba di Kiruna hari selasa siang. Tentunya kami menginap masing masing satu malam di dua daerah yang berbeda.

Inilah yang membuat saya merasa jika Kiruna berada diantah brantah mana. Meski sama sama berada di wilayah Swedia, kota ini seperti tidak terjangkau. Memang jauh. Jadi kalau masih banyak warga Swedia yang belum pernah mengunjungi Kiruna, saya bisa maklum. Sebenarnya bisa ditempuh dengan berpesawat atau kereta tapi tetap aja jauh.

Apalagi perjalanan menuju Kiruna lumayan membosankan menurut saya. Sepanjang mata memandang sebagian besar hanya hutan. Rumah rumah pun jarang sekali. Bahkan untuk sekian jarak yang sangat jauh sekalipun tidak ada tanda kehidupan. Dan itu tidak tanggung tanggung loh panjangnya. Bisa bayangkan berjam jam selama perjalanan tidak melihat rumah atau perkampungan.

Tapi lucunya, jalanan yang membosankan ini justru dianggap unik dan menjadi salah satu ciri khas perjalanan menuju Kiruna Lapland Swedia. Setidaknya itulah yang saya baca di salah satu situs resmi trip ke Lapland Swedia.

Jika diperhatikan secara seksama, pohon pohon di sepanjang hutan menuju Kiruna memang berbeda dengan pohon pohon di wilayah Swedia kebanyakan. Terutama pohon pinusnya. Cenderung bantet. Pohon pinus berumur 400-500 tahun saja tingginya seperti pohon pinus yang baru berumur 80 tahun. Relatif pendek bahkan ada yang sangat pendek. Daunnya pun sangat sedikit. Hal ini diakibatkan karena pertumbuhan pohon pohon ini berada di wilayah fjället atau pegunungan yang super dingin di saat winter.

Kiruna bukanlah kota yang cantiknya bikin terwow. Tapi entah mengapa ngangenin. Pusat kotanya berdiri pas di atas pegunungan. Bangunan bangunan di pusat kotanya saling berdekatan. Seperti tembok melingkar. Konon sengaja dibangun sedemikian agar angin yang berhembus di waktu musim dingin tidak terlalu menusuk tulang.

IMG_1077
Kiruna dengan latar pegunungan. Di saat summer pun tetap berasa dinginnya

Meskipun Kiruna berada di ujung bumi mana, saya tidak pernah menyangka jika kota ini lumayan banyak kedatangan tamu. Turisnya banyak. Bus parawisata silih berganti berlewatan. Bahkan wisatawan manca negara pun lumayan banyak. Begitulah……setiap tempat memang memiliki daya tarik tersendiri. Demikian juga Kiruna. Berada di sini memang berasa beda auranya. Makanya jangan heran jika liburan ke Kiruna kamu berkesempatan mendapatkan sertipikat Artic Circle yang menandakan kamu sudah pernah berkunjung ke wilayah bumi yang unik ini. Liburan dapat sertipikat diploma. Haha..

IMG_2719.jpg
Sertipikat sebagai tanda kenang kenangan yang dikeluarkan kantor turis Kiruna. Aggap saja souvenir yang unik dan pastinya seru

Wisata apa saja yang bisa dilihat di wilayah Kiruna sekitarnya?

1. Wisata musim dingin : sledding dog, snow scooter, ski, northern lights (aurora borealis) dan masih banyak lagi.

2. LKAB Tour (Pertambangan Biji Besi).

Ini menjadi salah satu destinasi wisata terkenal Kiruna yang sangat direkomendasikan. Mengunjungi pertambangan biji besi terluas di dunia dan paling modern. LKAB sendiri merupakan perusahaan tambang terbesar di Swedia dan sudah memiliki rekanan perusahaan di banyak negara. LKAB banyak memberi kontribusi dalam perekonomian Swedia.

IMG_1243
LKAB ini bersih dan berasa seperti di lorong carrefour. Haha

LKAB merupakan singkatan dari nama dua gunung di Kiruna bernama Luossavaara dan Kiirunavaara. Panjangnya rute pertambangan LKAB ibarat dari Paris ke Amsterdam. Gile!

LKAB sangat berperan terhadap keberadaan dan perkembangan pusat kota Kiruna. Karena pertambangan inilah kota Kiruna bisa ada hingga seperti saat ini. Dulunya Kiruna cuma dihuni suku Sami. Sampai akhirnya pertambangan ini ditemukan dan Kiruna semakin berkembang. Sebagian besar warga Kiruna bekerja di pertambangan biji besi LKAB. Dan sebagian besar warga memilih bertahan di Kiruna juga karena pertambangan ini. Jika pertambangan ini habis, kemungkinan besar pusat kota Kiruna hanyalah tinggal nama.

IMG_1217
Di dalam area pertambangan 

Logikanya, apa yang harus dipertahankan di Kiruna dengan alam yang super ekstrem di saat musim dingin? Hasil alamya nyaris tidak ada kecuali biji besi. Kayu saja tidak bisa maksimal tumbuh. Bercocok tanam pun susah. Akses juga jauh. Perputaran ekonomi darimana? Memang cuma mengandalkan pertambangan LKAB. Bayangkan saja, sekotak strawberry bisa dihargai 135 SEK di Kiruna. Di tempat saya cuma 35 sek. Kalau lagi murah murahnya malah bisa 23 sek.

IMG_1245
Ini ruangan museum di area bawah tanah pertambangan. Ada cafe juga. 

Saat ini Kiruna lagi berbenah. Kota ini akan dipindahkan sejauh 3 kilometer dari area pertambangan. Karena dikhawatirkan pusat kota Kiruna bisa anjlok ke bawah akibat pergeseran tanah di sekitar pegunungan. Dan mau tidak mau warga harus menerima karena tidak punya pilihan lain. Mereka juga sadar antara mereka dan LKAB seperti satu kesatuan yang saling menguntungkan. Saya menonton cuplikan video singkat ketika mengunjungi pertambangan ini. Warga Kiruna tentunya memiliki perasaan sentimental terkait perpindahan kota mereka. Tapi mereka bilang kalau mereka semua adalah satu society dengan LKAB dan demi kelangsungan ekonomi Kiruna sendiri.

Dan untuk menyenangkan hati warga, LKAB rela memberi kompensasi yang tinggi terkait pemindahan kota ini. Saat ini sudah ada sebagian bangunan yang dipindahkan dan sebagian besar akan dirobohkan. Wih, kalau kalian melihat betapa bagusnya bangunan dan rumah rumah di pusat kota Kiruna, rasanya sayang banget jika harus dirobohkan. Kebayang berapa besar uang yang harus dikeluarkan pihak LKAB sampai bisa memindahkan sebuah kota.

3. Kiruna Church.

Bangunan gereja ini menjadi salah satu objek wisata terkenal di Kiruna karena keunikan, keindahan serta bahan bangunannya yang terbuat dari kayu. Mirip bangunan suku Sami. Kiruna Church merupakan gereja kayu terbesar di Swedia. Berdasarkan penjajakan survey suara (poling), gereja ini berhasil mengumpulkan suara terbanyak untuk dinobatkan sebagai  bangunan terindah di Swedia.

IMG_1276
Model gerejanya tidak seperti gereja kebanyakan di Swedia

4. Jukkasjärvi.

Jukkasjärvi adalah sebuah desa kecil yang sangat menyenangkan. Kalau gampang marah dan naik tensi ada baiknya ke sini saja. Aman sentosa. Sangat tenang dan lengket banget dengan nature. Berada di sini serasa terdampar di belahan bumi bebas polusi. Berdampingan dengan Torne river, sungai yang digadang gadang sebagai sungai terbersih di Swedia.

IMG_0955
ICE HOTEL

Jukkasjärvi bisa dibilang sebagai tujuan wisata paling hits di wilayah Kiruna Lapland Swedia. Mengapa? Karena di desa inilah berdiri Ice hotel permanen pertama di dunia yang terkenal itu. Semua bongkahan es yang dipahat di dalam ice hotel berasal dari air Torne river. Nanti akan saya tulis lebih lengkap di tulisan yang terpisah.

IMG_2323 (1)
Mindnight Sun di Jukkasjärvi

Pertama kali seumur hidup saya, di desa inilah saya tidak pernah melihat yang namanya malam. Benar benar terang benderang sepanjang hari. Hingga pukul 1/2 satu malam saya dan suami masih bisa berjalan santai di sekitar ice hotel layaknya siang hari. Akhirnya saya bisa menyaksikan Midnight Sun yang unik itu. Liburan kami pun sukses tanpa malam dan gelap.

IMG_0987
Berani tidur di sini? Suhu minus 5 derajat celcius
IMG_1067
Ngebir, ngewine di Ice Bar Ice Hotel

IMG_1364

4. Melihat Atmosfir Suku Sami.

Lapland adalah tanah leluhur suku Sami. Tak terkecuali di Kiruna dan sekitarnya. Bau bau suku Sami sangat jelas terlihat. Bangunan berbentuk kerucut, simbol simbol suku sami sangat mudah ditemukan di Kiruna.

Masih dari desa Jukkasjärvi, objek wisata yang wajib dilihat adalah museum perkampungan suku sami “Sami Siida”. Museum ini terbilang sangat natural dan apa adanya. Berkesempatan melihat reindeer, rumah suku sami dan cafe unik bernuansa Sami pastinya. Minumlah kopi ditemani alunan musik dan lagu tradisional suku Sami. Unik.

IMG_2715

IMG_1321
Cafe bernuansa Sami
IMG_1286
Museum Sami

To be Continued

Berikut kumpulan video tentang perjalanan menuju Kiruna.. 

Lapland, Ketika Liburan Tanpa Merasakan Malam

Lapland…

Akhirnya kesampaian juga melihatmu.

Lapland merupakan daratan yang terletak di ujung utara Eropa Utara yang luasnya melintasi empat negara sekaligus, yaitu Finlandia, Swedia, Norwegia dan Rusia. Sehingga tak heran jika sebutan daratan ini biasanya diikuti oleh nama dari ke empat negara di atas. Seperti Lapland Finland, Lapland Swedia, Lapland Norwegia dan Lapland Rusia. 

Lapland identik dengan lingkaran arktik (Artic Circle). Artinya wilayah dari artic circle ke bagian utara artic ada masa dimana sama sekali tidak mengalami malam. Matahari bersinar tiada henti. Nonstop 24 jam terang benderang. Kejadian ini terjadi di bulan bulan musim panas seperti Juni dan Juli. Siang pun menjadi sangat panjang.

Inilah yang dikenal dengan sebutan “Midnight Sun”. Merasakan cahaya matahari hingga tengah malam.

IMG_2318

Sebaliknya, di saat musim dingin sekitar bulan Desember, wilayah artic circle ke bagian utara artic akan mengalami malam yang sangat panjang. Artinya matahari berubah drastis menjadi malas dan sama sekali tidak menampakan wajahnya selama 24 jam penuh. Hari hari penuh dengan kegelapan. Inilah yang dikenal dengan sebutan “Polar Night”.

IMG_2314
Ini adalah salah satu wilayah yang benar benar dilalui oleh artic circle. Dekat sekali ke sebuah desa kecil bernama Jokkmokk di Lapland Swedia. Di saat winter wilayah Jokkmokk bisa mencapai minus 42 derajat celcius bahkan lebih. Dan desa ini menjadi terkenal karena sangat dekat ke artic circle ini. 
IMG_0899
Ketika ngopi di sebuah cafe kozy bernuansa Sami, tepat di wilayah Artic Circle. Sesuatu sekali.

Kalau dipikir pikir memang sangat amazing. Di suatu masa, orang orang yang tinggal di circle artic hingga ujung utaranya sangat lelah dengan malam yang super panjang tanpa adanya siang. Tapi di lain masa, matahari justru menghibur mereka dengan memberi asupan siang yang super panjang tanpa adanya malam. Karya alam yang luar biasa.

IMG_2319

Ibarat Amerika punya suku Indian, Australia punya Aborigin, Siberia dan Alaska punya Eskimo, maka Lapland punya suku Sami. Orang sami adalah suku asli yang pertama sekali mendiami wilayah Lapland. Wajah orang sami dan eskimo agak mirip menurut saya. Mata mereka agak sipit.

IMG_0684

IMG_0685

IMG_0676
Ini rumah suku Sami. Saya akan tulis secara lengkap di tulisan berikutnya. Mudah mudahan otak saya masih waras. Haha..

Lapland menjadi tuan rumah bagi rusa kutub (reindeer). Jangan heran jika di ruas jalan tiba tiba terlihat gerombolan rusa kutub dengan santai berjalan menyeberangi jalanan. Konon ceritanya Santa Clause juga berasal dari Lapland. Makanya sering menunggangi rusa kutub. Hihi..

IMG_2316 (1)
Beberapa kali kami bertemu rusa kutub. Dan ini yang bisa terciduk kamera. Anak rusanya warna putih. Imut sekali. 

Lapland juga sangat identik dengan liburan musim dingin. Christmas market ala suku sami, sledding dog, snow scooter dan ski, jalanan yang super panjang tanpa ada kehidupan kecuali jejeran pohon pinus yang cenderung bantet karena sudah berada di wilayah pegunungan yang tinggi, sangat nature dan jauh dari hingar bingar. Dan pastinya, sebagian wilayah Lapland menjadi sarangnya aurora borealis menari nari di langit.

IMG_2323 (1)
Suatu hari ketika saya dan suami berjalan kaki di pukul 1/2 satu malam. Alam masih benderang menyapa kami. Dan saya pun mengabadikannya. Amazing..

Inilah sebenarnya yang membuat saya memendam keinginan untuk berlibur ke Lapland Swedia. Saya ingin sekali mengunjungi Lapland Swedia di saat winter. Bermain sledding dog, melihat aurora dari jendela kamar ice hotel. Saya penasaran bagaimana rasanya liburan tanpa melihat siang. Liburan yang segelap gelapnya itu seperti apa. Saya juga penasaran pengen melihat secara langsung bagaimana suku sami mengumpulkan ribuan reindeer yang tersebar di hutan Lapland di saat winter.

IMG_2320 (1)

IMG_2322 (1)
Ketika kami beruntung masih bisa merasakan “Midnight Sun” di wilayah Jukkasjärvi Kiruna ini

Tapi apa daya saya harus tau diri. Karena di saat winter suhu di sebagian besar wilayah Lapland ga main main. Khususnya wilayah artic circle ke bagian ujung utaranya. Suhu bisa mencapai minus 45 derajat celcius bahkan lebih. Bernapas saja sakit katanya. Dan pastinya suami pun menolak mentah mentah liburan ke Lapland di saat winter. Liburan kok ke tempat gelap kata dia. Haha..

IMG_2321
Ini juga saya foto ketika kami berjalan kaki di sekitar Ice hotel sekitar pukul 1/2 satu malam. Waktu itu beneran cantik banget semua. Tenang, nature dan benderang. 

Sebaliknya, suami justru tertarik untuk liburan ke Lapland Swedia di saat musim panas. Liburan tanpa malam itu asik kata dia. Bisa merasakan midnight sun di wilayah yang sesungguhnya. Sehingga jadilah kami mengunjungi beberapa wilayah di Lapland Swedia. Dan ternyata di musim panas pun wilayah ini mampu membuat saya jatuh cinta. Seumur hidup saya, baru di Laplandlah saya merasakan hari hari tanpa adanya malam. 

IMG_2318

Liburan kami nonstop 24 jam siang. Tidak ada malam. Tidak ada gelap.  Ternyata saya dan suami masih berkesempatan melihat nikmat alam yang unik ini. Iya…melihat langsung midnight sun di tanah Lapland Swedia.

Sebagian besar gambar di tulisan ini saya foto sewaktu berjalan kaki di sekitar Ice Hotel Jukkasjärvi kurang lebih pukul 1/2 satu malam. Kecuali foto rusa kutub, artic circle dan plank papan bertuliskan Lapland.

Gimana, tertarik mengunjungi Lapland Swedia? Sesekali bernarsis ria di tengah orang lain sudah terlelap tidur itu keren kok. Tenang, cahaya natural matahari siap membantu 24 jam penuh.  

IMG_1128
Di Ice Hotel Jukkasjärvi, late night yang benderang

To be continued..

Smögen, Wisata Menarik di Kawasan West Coast Swedia

Beberapa tahun lalu, suami pernah mengajak gue untuk menghabiskan liburan musim panas ke wilayah west coast di Västra Götaland propinsi Bohuslän Swedia. Tepatnya tidak begitu jauh dari Smögen, salah satu tempat wisata terkenal di propinsi Bohuslän.

Kebetulan suami mendapat tawaran penginapan dari perusahaan tempat dia bekerja. Tawaran penginapan dengan harga yang relatif murah. Mumpung ada penginapanlah menurut suami. Secara untuk mendapatkan penginapan di Smögen dan sekitarnya rada rada susah. Lumayan turistik.

IMG_6140.jpg

FFD1E5FF-31AC-4176-81CE-D98136D7D09C

IMG_6116

Cuma waktu itu gue belum terlalu tertarik berlibur ke kawasan west coast ini. Mending ke luar negeri. Rumput tetangga selalu lebih menggiurkan toh.

Sebenarnya tahun ini pun kami tak ada rencana mengunjungi Smögen. Idenya muncul begitu saja. Jadi beberapa waktu lalu, ceritanya kami lagi menghabiskan weekend di Norwegia. Berhubung karena satu hal dan alasan lain, rencana kami mengunjungi salah satu objek wisata alam di Norwegia batal. Tepatnya kami batalkan.

IMG_6136

IMG_6135

Sebagai gantinya, kami memutuskan pulang ke Swedia dengan melewati kawasan west coast Swedia. Hitung hitung sekalian merayakan wedding anniversary.

Dan singkat cerita, kami tiba di propinsi Bohuslän. Kota pertama yang kami singgahi adalah Grebbestad. Dan tanpa menunggu lama, hati gue langsung kepincut. Ternyata Swedia punya wajah lain. Bukan cuma hutan. Gue pernah melihat laut di bagian selatan Swedia, tapi kawasan west coast ini beneran seperti melepas rindu gue akan nuansa mediterania. Walau masih jauh dari kata mirip. Paling ga aura dikit dikitnya adalah. Hahaha.

IMG_6067

Jadi sejujurnya nih, belakangan ini gue lagi pengen banget liburan di sekitar pantai laut nuansa mediterania. Atau paling ga yang mirip mirip gitulah. Mirip dikit juga ga apa. Secara gue tinggal di daerah hutan kan. Kaga ada lautnya. Kalaupun ada air, paling aliran air danau atau sungai.

41887412170_164eebdff9_o.jpg

Makanya begitu melihat west coast di Swedia, gue beneran sumringah. Dibilang indah luar biasa sih ga juga ya. Kemungkinan besar penyebab kegembiraan gue ya karena bisa melihat wajah laut yang belakangan ini sedang gue idamkan. Wajah laut Mediterania. Dan itu ada di Swedia. Meski terkesan kalau gue terlalu memaksakan. Wong tidak sama. Tapi imajinasi yang terlalu memaksakan itu berefek positif. Mood gue jadi gembira. Gue menikmati liburan dengan sukaria.

Apalagi baru kali ini berkunjung ke kawasan west coast di Swedia. Intinya gue tidak menyangka kalau Swedia punya wisata sekitaran west coast yang lumayan menarik. Alhasil gue gampang terwooooow.

41887412670_b8e17c3334_o.jpg

Sangkin sukanya, imajinasi gue terseret entah kemana. Pas melihat barisan rumah kayu yang dominan berwarna putih, langsung mikir kok mirip rumah di pantai Amerika ya. Padahal ke Amerika aja belum pernah. Duh…plis ya bu, daya khayalnya dikondisikan. Imajinasi yang ga nyambung sama sekali. Hahaha.

Tapi beneran, rumah rumah di kawasan west coast Swedia mostly berwarna putih. Sangat berbeda dibanding rumah rumah di sebagian besar wilayah country side Swedia yang cenderung berwarna merah. Swedia berasa USA. Tuhhh kan ngaco lagi. Hahaha.

IMG_6159.jpg

IMG_6155.jpg
Grebbestad

Trus ya, melihat cafe restorannya pun nyenengin. Padahal kalau dipikir ga jauh beda dengan restoran di Dalarna tempat gue tinggal. Rumah kayu juga. Barangkali karena scenerynya beda. Berasa di kampung nelayan. Ada di sekitar air laut. Jadi seperti melihat hal baru.

Menyantap makanan di atas balkon kayu sambil menatap aliran air laut, melihat hilir mudik kapal layar dan boat, lalu lalang manusia juga. Biarpun ramai tapi tak membuat pusing kepala. Gue sangat menikmatilah. Sukak!

IMG_6152.jpg

IMG_6147.jpg
Sukaaaaaak

Dari Grebbestad, kami memutuskan mencari penginapan. Dan baru kali inilah kami lumayan susah mencari penginapan selama berlibur di Swedia. Penuh semua. Sampai sampai tak sedikit yang menulis penginapan sudah full. Sempat mikir bakal tidur di mobil.

CB21054D-521A-4B4B-8B69-A1A438A18918
Balkon penginapan dengan view kece

Sampai akhirnya, keberuntungan masih berpihak di tangan kami. Kami mendapat kamar kosong di salah satu B&B dengan view yang lumayan kece. Meski kamar yang tersedia tidak begitu luas, tapi ada kitchen set, meja kecil dan kamar mandi dalam. Uda gitu pemilik penginapan sangat ramah. Ruangan juga bersih, ruangan breakfastnya luas, sofa dan kursi di balkon banyak. Cuma ya itu, harga permalamnya menyamai harga hotel. Dimaklumi.

IMG_6139

Malamnya kami memilih dinner di daerah Hamburgsund, tak jauh dari penginapan. Untungnya kami datang di jam yang tepat. Masih dapat meja. Menghadap laut pula. Makan malam di saat musim panas itu serasa makan siang. Matahari tetap terang. Habis bersantap, kami masih punya banyak waktu menikmati sunset. Malam itu malamnya kami. Sayaaaaaa cintah!

Dan ketika tiba di Smögen, dari atas jembatan terlihat pulau pulau dengan bangunan rumah yang lagi lagi dominan berwarna putih. Berbaris rapi dari atas ke bawah. Cantik banget.

IMG_6065

IMG_6063.jpg

Begitu kami mendekat, semakinlah gue jatuh cinta melihat bangunan rumah rumahnya. Mirip rumah di majalah. Rumah rumah yang menghadap laut. Ahhhhh ayok pindah ke sini bang! Rumah rumah ini berdiri di tebing batu. Dari atas ke bawah gitu. Cakeplah!

41883907910_9ff529d7dd_o.jpg
Cinta dengan rumah rumah ini

Jarak masing masing rumah sangat berdekatan. Mostly terpisah gang kecil. Bahkan beberapa rumah terpisah oleh sisa halaman yang sangat sedikit. Jadi jalanannya seperti meraba raba gitu. Sekilas batasan arahnya kurang jelas tapi ternyata gampang ditelusuri. Melewati beberapa anak tangga juga. Percaya deh, rumah rumahnya gemesin banget. Saling berdekatan tapi jauh dari rasa sumpek.

IMG_6097

IMG_6107

IMG_6089

Beda banget dengan desa gue yang jarak satu rumah ke rumah lain lumayan berjauhan dan rata rata memiliki halaman luas. Okelah, di beberapa kota memang ada rumah yang saling berdekatan. Tapi rumah komplek. Kurang asik dilihat. Kalau di Smögen ini beda. Mungkin karena naik turun gitu ya susunan bangunan rumahnya.

IMG_6092

IMG_6078
Deretan rumah warna warni ini merupakan gudang penyimpanan boat/kapal

Nah, di Smögen ada satu tempat yang dikenal dengan Smögenbryggan. Bisa dibilang iconicnya Smögen ya Smögenbryggan ini. Kalau mau melihat bangunan rumah kayu warna warni yang mengapung di atas air, di Smögenbryggan inilah tempatnya. Rumah kayu yang sekilas terlihat melekat ke batu batu besar di sekitarnya.

43695578301_6d5c07884b_o
Toko souvenir

Jadi kalau searching smögen di Google, maka rumah warna warni ini yang kebanyakan muncul. Rumah kayu mana yang rata rata berfungsi sebagai gudang kapal.

IMG_6070

Banyak sekali boat kecil hingga boat besar terpakir di depannya. Selain turis lokal, turis asal Norwegia, Denmark dan Jerman juga banyak yang berlayar ke sini. Sayangnya kami tak lama di Smögen. Gue berjanji akan kembali ke sini. Kelak dan semoga.

Untuk melihat video Smögen, bisa klik video di bawah ini.

Skuleberget, Kawasan High Coast Kece di Bagian Utara Swedia

Tulisan ini merupakan bagian dari liburan musim panas gue dan suami tahun lalu. Setelah selesai menikmati summer holiday di Finlandia, perjalanan pulang kami tempuh melalui beberapa wilayah di bagian utara Swedia. Salah satunya adalah kawasan High Coast (Höga Kusten) di daerah Docksta. Tepatnya lagi di kawasan pegunungan Skuleberget (Skule Mountain)

Sepanjang perjalanan menuju kawasan Skuleberget lumayan mempesona. Lanscapenya bagus. Sebut saja seperti rumah kayu berwarna merah, aliran danau yang bersih, dan sesekali melewati lahan pertanian lengkap dengan ternak sapi dombanya.

IMG_1120.JPG

Sangkin sepinya kendaraan yang melaju, jalanannya pun mengijinkan mobil melenggang mulus tanpa hambatan. Jalanan berasa milik sendiri. Penampakan lekukan gunung dan birunya langit bercampur gumpalan awan putih, membuat perjalanan jadi tidak membosankan. Berasa melewati lukisan alam yang panjangnya tiada henti. Saat itu, bumi utara Swedia sedang berbaik hati dengan kami. Cuacanya sangat cerah. Dan seperti biasa, mentari tetap setia memberi asupan terang yang luar biasa, bahkan sampai malam menjelang.

IMG_1119.JPG

Mendekati kawasan Skuleberget, kami pun disambut dengan pemandangan alam yang semakin menggila. Hamparan rumput hijau, pohon pohon yang rimbun, plus danau bersih berikut rumah rumah kecil di tepiannya.  *Lop lop lop!

IMG_1122.JPG
Vitamin alam di kaki Skuleberget

IMG_1125.JPG
Cakep yak!

IMG_1123.JPG
Sejuknya mak!

Dan tanpa membuang waktu, kami menuju loket pembelian tiket.

Skuleberget merupakan kawasan pegunungan di sekitar Höga Kusten (High Coast) Docksta, Swedia bagian utara. Menurut catatan yang ada, kawasan ini awalnya merupakan lautan es yang luas, tepatnya 9500 tahun silam.

IMG_1118.JPG
Di puncak Skuleberget

Saat itu, Skuleberget masih berada pada ketinggian 286 meter di bawah permukaan laut. Akibat kejadian alam yang maha dasyat, lautan es akhirnya berubah menjadi Gletser. Perlahan namun pasti, kawasan ini pun terbebas dari tekanan super berat bongkahan es yang sebelumnya memenuhi Skuleberget. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya daratan ke atas permukaan laut. Semakin hari semakin tinggi, menimbulkan beberapa pulau di sekitarnya, termasuk Skuleberget ini. 

IMG_1134.JPG
Ribuan tahun silam, laut ini hanyalah tumpukan es. Semakin lama daratan dalam bentuk pulau ini muncul kepermukaan

Dan selain itu, High Coast di sekitar Skuleberget dikenal juga sebagai kawasan dengan pertumbuhan daratan tercepat di dunia. Dari waktu ke waktu bahkan sampai sekarang, tidak pernah berhenti mengalami proses pertumbuhan daratan yang semakin tinggi dan tinggi di atas permukaan laut.

Sehingga atas kejadian alam yang lumayan  unik ini, Unesco menetapkan kawasan High Coast di sekitar Skuleberget sebagai heritage dunia yang dilindungi.

Untuk mencapai Toppstugan Skuleberget (kawasan puncaknya), bisa ditempuh dengan dua cara. Berjalan kaki (hiking) dan menggunakan cable car.

Di musim dingin, Skuleberget menjadi surganya para penggila olahraga ski. Sedangkan di musim panas, Skuleberget menyimpan keindahan lain. Landscape alamnya terlihat lebih kece dan mempesona. Sehingga tidak heran, jika aktivitas cable car tetap dibuka, baik di saat musim panas maupun musim dingin.

IMG_1138
View dari puncak Skuleberget

Berhubung kami berdua adalah pasangan duo gendut, yang dipastikan tidak mampu berhiking ria, cable car pun menjadi pilihan yang lumayan tepat. Menaiki cable car tak serta merta lempeng mulus tanpa beban. Tetap diselimuti perasaaan was was. Lumayan tinggi dan kaki menggantung pulak.

Dengan bimbingan petugas, kami diarahkan berdiri di sebuah tempat yang sudah diberi tanda. Dan huff, cable car pun mulai melaju. Eng ing eng! ngeri ngeri menggiurkan.

Perlahan dan pasti, cable car naik ke atas. Meskipun agak takut, gue berusaha enjoy. Ternyata nyali gue cukup kuat untuk tidak terlalu takut.  Di atas ketinggian, gue masih bisa menikmati perjalanan kami, ngobrol dengan suami, sambil melihat pengunjung lain yang berpapasan turun dengan cable car juga.

Sepertinya pengguna cable car tidak terlalu banyak. Sebagian besar adalah orang tua yang membawa anak kecil. Selebihnya memilih jalur hiking. Kalau kami berdua tidak perlu dipertanyakan. Pasangan yang sedikit berbeda. Tidak masuk dalam kedua golongan di atas. Hahahaha.

Ketika melihat sekelompok orang berjalan kaki menyusuri kaki gunung, waktu itu sempat mikir, yaelah….ada yang gampang kok nyari yang susah. Capek kan.

IMG_1127.JPG
View dari puncak Skuleberget

Namun seketika gue pun menyadari, jika manusia itu berbeda selera. Mungkin bagi mereka, dengan berjalan kaki adventurenya lebih berasa. Berkesempatan menemukan hal hal  baru ketika berjalan di alam terbuka seperti itu. Tidak hanya sekedar cussssssss langsung nyampe. Seperti kamilah. 

Berada di ketinggian  wajar saja jadi degdegdor. Selain kaki menggantung, kadang cable car suka tiba tiba berhenti. Seperti merasakan goyangan ombak halus. Kebayang kan bila kejadiannya pas di ketinggian gitu.

IMG_1140.JPG
Kabin kayunya kayak rumah dongeng

Tapi begitu melihat orang lain santai banget, gue salut aja gitu. Apalagi yang gue lihat adalah seorang ibu dengan anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Si anak selonjoran di paha ibunya. Seperti tiduran gitu. Dan si ibu duduk biasa saja tanpa terlihat seperti memegang erat tubuh anaknya. Gue yang stress. Kalau jatuh gimana. Ampe merinding. Tapi ya gitu deh. Kenyataannya semua aman aman saja. Mungkin gue aja yang terlalu parno.

IMG_1117
View dari cable car

Sampai di puncak Skuleberget, drama lain pun masih berlanjut. Cuma beda pelakon. Kali ini kebalikannya. Seorang ayah dan 3 orang anak. Dua orang anak dengan gembiranya menaiki cable car, ketawa ketiwi ketika cable car akan siap siap turun ke bawah.

Sedangkan anak yang paling kecil (sekitar 4 tahun juga kayaknya), malah bertolak belakang dengan kedua saudaranya. Si anak tidak mau naik cable car. Sepertinya dia takut.

Dan yang membuat gue miris, si anak sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil sesekali mengintip cable car yang akan membawa saudaranya turun. Sumpah deh, wajahnya ketakutan bercampur bingung. Anak 4 tahun loh mak!

Yang gue sesalkan, si ayah tidak berusaha memberi ketenangan supaya si anak lebih cooling down. Kalaupun tujuannya membuat si anak agar lebih berani, apakah ini cara yang paling tepat? Bukannya bisa menimbulkan trauma anak? *Berjalan sambil terheran heran* 

Tapi lagi lagi setiap orang tua mungkin punya cara sendiri mendidik anaknya. Sedangkan gue? Nihil pengalaman. Anak aja ga punya. Cuma beda pola pikir ajalah. Setidaknya cara itu kurang cocok ke gue.

Untungnya drama kecil di atas tergantikan dengan view kece di depan gue. Sesuatu yang luar biasa. Amazing to the Max. Bagus dan fotogenik banget.

IMG_1133
Dari puncak Skuleberget

IMG_1141
Dari puncak Skuleberget

Dari puncak Skuleberget, kami mulai menapak turun ke bawah. Jalannya penuh dengan batu kerikil dan batu berukuran besar. Katanya ada Gua” yang letaknya tidak jauh dari puncak Skuleberget ini.

Tapi semakin ke bawah kok guanya ga ketemu juga. Mana medannya makin seram lagi. Batu batunya agak curam. Jadi gue memutuskan untuk tidak melanjutkan. Hahaha

Sebenarnya setiap jalan sudah diberi tanda berwarna biru, tepatnya di atas bebatuan besar. Yang artinya jalanan itulah yang aman dan mudah untuk dilewati. Namun meskipun demikian, gue sudah membayangkan ketika balik dan naik ke atas, pasti lebih gampang capek kan. Tidak seperti menaiki tangga biasa.  Jadi ya sudahlah, toh tujuan utamanya mau melihat landscape.

IMG_1137.JPG
Jalanan berbatu di puncak Skuleberget

Di sela menikmati alam yang indah, gue sempat berpikir. Kalau dulunya view di depan mata hanyalah lautan es. Dan sekarang berubah menjadi lanscape yang menawan. Gilaak! Kerja alam emang keren ya.

IMG_1146.JPG
Coba, cafe begini masa gue bilang ga kece?

IMG_1145
View dari atas cafe di puncak Skuleberget

Di puncak Skuleberget juga terdapat sebuah cafe. Duduk santai, ngobrol, ngemil, ngopi sambil melihat view alam yang mempesona. Belum lagi suasana kozy yang ditawarkan cafe dengan nuansa wooden house yang klasik.

Dan sampai akhirnya kami kembali turun, gue pun tetap dimanjakan dengan view yang sangat mempesona, mulai dari rumah rumah yang kecil sampai akhirnya terlihat jelas ketika kami mulai mendekat ke bawah.

IMG_1121.JPG
View dari cable car

IMG_1151 (1)
View dari cable car

Jika kamu berencana berlibur ke bagian utara Swedia, Skluberget adalah tujuan wisata yang rekomen untuk dikunjungi.

See you in my next story

Salam dari Swedia.

IMG_1139

Astrid Lindgren (Dari Bullerbyn Hingga ke Katthult)

Sebelumnya gue sudah bercerita tentang kunjungan kami (gue dan suami) ke kota kelahiran Astrid Lindgren di Vimmerby Småland. Dari situ kami melanjutkan perjalanan ke sebuah desa yang masih termasuk wilayah Småland.

Dari Vimmerby, perjalanan kurang lebih 20 menit berkendara. Tempat yang kami tuju adalah Bullerbyn. Kalau sudah biasa membaca bukunya Astrid Lindgren, tentulah Bullerbyn tidak asing lagi di telinga kalian.

IMG_3471.JPG

Bullerbyn merupakan sebuah farm place yang menceritakan tentang kehidupan 6 orang anak yang tinggal di tiga rumah yang saling berdekatan. Ternyata Bullerbyn itu beneran ada. Tidak hanya cerita semata. Sepertinya bukan sengaja dibangun karena ketenaran ceritanya. Tapi sudah ada sebelum cerita Bullerbyn ditulis. Karena masing masing rumah di Bullerbyn memang ada pemiliknya loh dan sampai sekarang masih ditinggali. Bahkan salah satu dari ketiga rumah ini, pernah ditinggali ayah Astrid sewaktu ayahnya masih kecil. Dan tempat inilah yang sepertinya menginspirasi seorang Astrid Lindgren untuk menulis cerita tentang Bullerbyn.

IMG_3473

Tiga rumah dalam cerita Bullerbyn sampai sekarang masih berdiri kece. Bahkan di depan salah satu rumah dalam cerita Bullerbyn malah ada tulisan privat, yang artinya si turis tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Jadi hanya bisa melihat dari luar pagar.

Terkecuali ada satu rumah yang oleh pemiliknya, pengunjung diperbolehkan masuk. Bahkan bisa berbicara langsung dengan beliau. Sosok pria yang sudah lumayan tua. Menurut beliau, rumah di Bullerbyn jarang dia tempati. Beliau hanya berkunjung ke rumah ini dikala musim panas saja.

IMG_3476
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3491.jpg
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3493.jpg
Rumah di Bullerbyn
IMG_3475.jpg
Rumah ini ada penghuninya. Ada tulisan privat di depan pagarnya. Turis tidak boleh masuk

Rumah yang sepertinya kurang dirawat. Rumput liar di sekitar halaman rumah banyak banget. Tapi tak sedikit juga bunga bunga cantiknya. Dan barang barang yang terlihat di belakang rumah juga sengaja dibiarkan sedikit berantakan. Tapi malah kelihatan unik. Kata dia supaya antik. Benar sih, rustic banget kelihatan. Jadi seperti di majalah majalah gitu. Sang pemilik juga bercerita, kalau ayah Astrid Lindgren pernah tinggal di rumah itu. Tapi kalau tidak salah hanya sampai berumur 10 tahun. Ini sih menurut cerita beliau ya.

IMG_3474.JPG
Tiga rumah Bullerbyn
IMG_3481.JPG
Sepetik
IMG_3490
Berantakan, tapi kok jadi rustic banget ya. Mirip majalah jadinya.
IMG_3489
Mirip majalah antik
IMG_3604
Suka ngelihatnya

Di Bullerbyn, kami disambut pertama sekali oleh dua orang anak. Yang satu anak lelaki dan satu lagi anak perempuan. Ketika gue bertanya siapa namanya, si anak perempuan  menjawab  “LISA”. Nama yang sama persis dengan salah satu anak dalam cerita Bullerbyn. Sepertinya dia sengaja menyebut nama itu 🙂

Kedua anak tersebut sepertinya sengaja berada disana untuk sekedar membantu para pengunjung dan memberitahu tempat parkir. Dan setelah itu, kami pun memasukan uang koin ke dalam kaleng yang sudah mereka siapkan. Sukarelalah.

IMG_3486.JPG

Di sekitar Bullerbyn terdapat landscape pedesaan yang asri. Kami pun menikmati secangkir kopi dan cake, diantara heningnya alam pedesaan Bullerbyn saat itu. Sesekali mata gue menatap anak anak yang bermain ayunan tua. Suasana desanya berasa banget. Bagaimana tidak, Bullerbyn hanya dikelilingi tiga rumah kayu khas Swedia, dua buah gudang besar dan sebuah cafe bergaya vintage. Dan akupun jatuh cinta dibuatnya.

IMG_3483
View di sekitar Bullerbyn. Peace banget
IMG_3482.JPG
Cafe di Bullerbyn. Awalnya merupakan gudang. Dalamnya bagus dan kozy banget
IMG_3487
Tuh, kece kan cafenya
IMG_3485
Gila yak. Dari sebuah gudang bisa disulap jadi cafe. Suasana desanya berasa banget. Betahlah di sini.
IMG_3488
Menikmati kopi dan cake di Bullerbyn. Keren ga sih! Hahaha

Dari Bullerbyn, kami menuju Katthult. Sebuah farm place yang menjadi tempat atau lokasi pembuatan film layar lebar Emil i Lonneberga. Harga tiket untuk masuk ke tanah pertanian ini seharga 40 Sek perorang.

Dibanding Bullerbyn, atmosfir pertaniaan di Katthult lebih berasa. Ada peternakan kuda, babi, domba dan ayam. Tentu saja dengan gaya pertanian jadul jaman dulu.

Bentuk babinya itu loh, bulat montok berwarna pink. Hahahaha.

Ayamnya juga! kakinya pendek dan bulunya lebat. Kalau berjalan lucuk banget. Seperti ayam dalam film  kartun. Senang banget melihatnya. Rumah yang menggambarkan kediaman keluarga  Emil pun masih berdiri manis di Katthult.

 

Bahkan sesekali kami melihat pemiliknya terlihat keluar masuk dari rumah itu. Dan pengunjung juga tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Cukup melihat dari luar pagar. Bahkan di loket masuk pembelian tiket, sudah ada tulisan yang memohon agar pengunjung tidak berkunjung lewat dari pukul 7 malam. Mungkin pemilik juga butuh privacy dan ketenangan.

IMG_3496
Farm Place Katthult

Tak jauh dari sini,  kami juga  melihat sebuah  toilet dari kayu berwarna merah. Toilet dimana Emil pernah mengunci sang ayah di dalamnya. Ada juga gudang yang berisi patung patung kayu berukuran kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Patung patung yang dibuat sendiri oleh Emil ketika menjalani hukuman dari sang ayah dan mengurungnya di gudang tersebut. Kalau ini sepertinya sengaja dibuat sedemikian untuk kepentingan wisata. Agar lebih hidup suasananya.

IMG_3514
Toilet dalaman cerita Emil. Sang ayah pernah dikurungnya di sini. Hahaha.
IMG_3516
Patung kayu yang dikerjakan Emil ketika dihukum oleh ayahnya dan mengurungnya di rumah kecil ini. 
IMG_3515
Gudang makanan

Bahkan tiang bendera dimana Emil pernah menggantung adik perempuannya juga ada dan bisa dilihat. Bisa gue bayangkan kenakalan dia.

Intinya kawasan ini benar benar dipertahankan persis seperti dalam cerita Emil i Lonneberga. Sehingga pengunjung yang datang pun dapat dengan mudah bernostalgia dan mengingat kembali cerita tersebut. Atau setidaknya bagi yang belum pernah membaca cerita bukunya, sedikit banyak ada gambaranlah.

IMG_3508
Rumah dalam cerita Emil yang difilmkan. Itu tiang benderanya. 
IMG_3605
Pemilik rumah
IMG_3510
Rumahnya kece yak
IMG_3503.jpg
Asri banget
IMG_3499
Rumah ini hanya bisa dilihat dari luar. Tidak boleh masuk. Karena pemiliknya masih tinggal menetap di sini
IMG_3504
Sekitar farm place. Gimana ga betah lihat begini coba
IMG_3517 (1)
Gudang besar di sekitar Katthult

IMG_3523

Sungguh betapa gue menikmati liburan kami saat itu. Bisa mengunjungi tempat tempat yang menjadi inspirasi tulisan seorang Astrid Lindgren. See you in my next story.

“Semua foto hanya menggunakan camera handphone”

Berkunjung ke Kota dan Rumah Kelahiran Astrid Lindgren

Astrid Lindgren mungkin sebuah nama yang sudah tidak asing lagi di telinga para bookreader. Seorang penulis wanita asal Swedia yang sebagian besar bukunya berisi tentang dunia anak anak. Sebut saja seperti Pippi Longstocking, Emil i Lonneberga, Karlsson on the Roof dan The six Bullerby Children. Bahkan beberapa karya tulisan Astrid sudah ada yang berhasil diangkat ke layar lebar.

Dan gue termasuk golongan aneh yang bisa bisanya tidak tahu siapa Astrid Lindgren. Sebegitu terkenalnya penulis ini tapi gue bisa tidak familiar dengan buku ceritanya. Hahaha. Dasarlah emang.

Tapi ga masalah deh. Tidak ada istilah terlambat untuk mengenal dan mengetahui apa yang belum kita tahu. Dan tentu saja gue punya cara sendiri untuk itu. Yup, gue langsung mengunjungi kota kelahirannya, mengunjungi museum dan rumah masa kecilnya, sampai mengunjungi tempat tempat yang menjadi inspirasi cerita beliau.

Astrid Lindgren lahir pada tanggal 14 November 1907, dari pasangan Samuel August dan Hanna Jonsson, di sebuah kota bernama Vimmerby, Småland, Swedia. Tepatnya di sebuah kawasan farm place bernama Näs.

Dari sinilah kunjungan gue dimulai untuk lebih mengenal cerita dan kehidupan sang penulis terkenal ini.

ASTRID LINDGREN’S WORLD 

Astrid Lindgren’s World berlokasi di kota Vimmerby, Småland, Swedia. Merupakan kawasan theme park yang mewakili berbagai karya tulisan Astrid Lindgren. Semuanya dirangkum menjadi satu di kawasan Astrid Lindgren’s World ini.

Tidak hanya itu, Astris Lindgren’s World juga meliputi berbagai fasilitas seperti restoran, cafe, tempat bermain, toko souvenir, sampai  taman asri yang terdiri dari jejeran pohon cherry dan beberapa jenis bunga.

IMG_2259.jpg

IMG_2265.jpg

Tidak hanya kalangan anak anak, tapi golongan dewasa pun tidak mau ketinggalan memasuki kawasan theme park yang lumayan luas ini. Selain orang tua yang memang sengaja datang bersama anak anak mereka, ada juga pasangan yang melenggang berdua. Pun beberapa kelompok remaja yang mungkin rindu dan mengulang nostalgia akan tulisan Astrid Lindgren semasa mereka kecil. Atau bisa juga, sewaktu kecil mereka belum sempat mengunjungi tempat ini. Atau lagi, bisa jadi seperti gue (edisi khusus. sama sekali tidak tau tentang tulisan tulisan beliau sebelumnya). Hahaha.

Harga tiket dua tahun lalu sekitar 380 Sek atau setara 600 ribu rupiah. Kalau sekarang gue kurang tau.

Para pengunjung berkesempatan melihat rumah rumah dalam cerita Pippi Longstocking, Emil i Lonneberga, Karlsson on the Roof dan The six Bullerby Children, dan sekaligus bisa masuk ke dalamnya.

Rumah rumah tersebut dibangun persis seperti rumah betulan. Ada halaman, pagar, dan di dalamnya juga tersedia perabotan perabotan layaknya sebuah hunian. Walaupun jumlahnya tidak begitu banyak.

IMG_2273 (1)
Rumah rumah mungil
IMG_2267
Uda seperti di rumah si unyil aja gue. Hahaha
IMG_2266.jpg
Tiga rumah dalam cerita Bullerbyn
Biasanya Astrid Lindgren’s World sering mengadakan pertujukan theater. Tujuannya agar para pengunjung bisa lebih mudah menikmati cerita cerita dalam tulisan Astrid Lindgren. Seperti saat kami berkunjung ke tempat ini, pertunjukan theater “Emil i Lonneberga” sedang berlangsung. Senang melihatnya. Para pemain memakai pakaian tradisional Swedia, dibarengi dengan nyanyian nyanyian yang riang layaknya seperti pertunjukan musikal. Gue lupa kalau sudah menapak uzur. Serasa dibawa ke dunia anak anak yang sesungguhnya.
IMG_2274.jpg
Pertunjukan teather Emil 
IMG_2276
Pertunjukan musik di taman 
IMG_2275
Pertunjukan theater si tokoh Emil. Yang baju violet pakai topi adalah sosok Emil

Khusus anak anak, berkesempatan juga bisa bertemu langsung dengan tokoh tokoh dalam cerita Astrid Lindgren, seperti Pippi dan Emil. Gue melihat ramainya anak anak menatap gembira para tokoh ini. Berlomba untuk bisa maju ke depan dan bersalaman langsung dengan mereka.

Ada satu lokasi di dalam kawasan Astrid Lindgrend’s World yang lumayan menarik perhatian gue. Lokasi yang terdiri dari beberapa miniatur bangunan. Mini banget sih ga ya. Tingginya kurang lebih satu setengah meter. Miniatur ini menggabarkan kota Vimmerby, yang tak lain merupakan kota asal sang penulis.

IMG_2268.jpg
Miniatur kota Vimmerby

IMG_2269.jpg

IMG_2270.jpg

Miniatur yang dibuat menyerupai kota aslinya. Rasanya lucu dan asik aja berjalan di lorong jalan dengan bangunan bangunan yang tingginya tidak terlalu beda dengan gue.

Efek dari menyaksikan kota buatan ini, kami pun berniat mengunjungi pusat kota Vimmerby yang letaknya tak begitu jauh dari Astrid Lingren’s World.

IMG_2272.jpg
Diantara miniatur bangunan

Setibanya di pusat kota, lumayan surprise juga. Berasa keren karena miniatur yang kami lihat sebelumnya memang mirip dengan bangunan aslinya. Gedung berwarna pink yang menjadi landmark Vimmerby berdiri kokoh ditengah alun alun kota. Belum lagi beberapa gedung lain. Bentuknya mirip minitaur tadi.

ASTRID LINDGREN’S NÄS

Tak jauh dari pusat kota Vimmerby, kami melanjutkan kunjungan ke Astrid Lindgren’s Näs. Sebuah tempat yang dulunya menjadi kawasan pertanian dimana keluarga besar Astrid Lindgren tinggal. Di tempat inilah Astrid Lindgren lahir dan menghabiskan masa kecilnya.

Memasuki Näs, langsung disambut bangunan kaca dan wajah Astrid dalam ukuran besar. Gedung ini merupakan museum exhibition yang menjadi pusat pengetahuan tentang perjalanan hidup seorang Astrid Lindgren.

Mulai dari masa kecilnya, kehidupan pribadinya, sampai perkembangan karirnya sehingga menjadi seorang penulis terkenal.

Beberapa gambar karikatur Astrid bisa dilihat di gedung Näs. Penjelasan gambar demi gambar, bisa didengar melalui alat audio yang dibagikan petugas di pintu loket masuk. Cukup mengarahkan audio ke tanda headset, selanjutnya tinggal mendengar saja.

Astrid Lindgren dikenal sebagai penulis yang sukses dengan karya tulisan yang universal. Penggunaan kata kata dalam setiap tulisannya selalu sederhana dan gampang dimengerti oleh pembaca. Unsur unsur kesederhanaan yang selalu tersirat disetiap tulisannya, merupakan salah satu alasan mengapa karyanya begitu disenangi.

Astrid Lindgren juga pernah menentang pemerintah Swedia atas pengenaan pajak penghasilan yang sangat tinggi terhadap dirinya. Bermodalkan kebesaran namanya, Astrid Lindgren langsung mendapat dukungan dari sebagian besar warga Swedia. Wajar saja, tidak sedikit kalangan yang fanatik akan sosok beliau di saat itu.

Dan konon, masyarakat Swedia pernah mengkritik pemerintahnya, kenapa seorang Astrid Lindgren tidak pernah menerima hadiah nobel atas karya tulisannya?  Sampai akhirnya Astrid memperoleh apresiasi sekitar bulan November 2015, melalui cetakan uang kertas senilai 20 Sek yang berisi gambar wajah sang penulis. Menyamai penulis wanita Swedia sebelumnya Selma Lagerlöf, yang sudah terlebih dahalu menerima apresiasi ini.

IMG_2286.jpg
Foto keluarga Astrid Lindgren. Suami, putra dan putrinya

Astrid Lindgren memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Lars, dari hasil hubungannya dengan seorang editor, dan yang kedua bernama Karin,  dari pernikahannya dengan  Sture Lindgren.

Suatu waktu di saat winter, Astrid berjalan di sekitar jalanan Stockholm. Di jalanan yang licin tersebut Astrid terjatuh. Mengakibatkan cidera parah yang mengharuskannya istirahat dalam waktu yang lama.

Dan dari sinilah kisah cerita Pippi Longstocking dimulai. Selama masa pemulihan kakinya, Astrid Lindgren menghabiskan waktunya untuk menulis. Tulisan  yang memang khusus dipersembahkan kepada putrinya Karin, sebagai hadiah ulangtahun yang ke 10. Berkas asli ketikan Pippi Longstocking berikut mesin ketiknya masih bisa dilihat di museum Näs.

IMG_2287
Mesin ketik dan ketikan asli Pippi Longstocking

Di dalam museum ini juga terdapat setumpuk buku yang disusun saling bertindihan. Buku yang secara tidak langsung memberikan arti betapa dunia menulis dan membaca sangat erat dengan kehidupan Astrid Lindgren.

IMG_2284

Tinggal beberapa langkah dari museum, kami sampai di sebuah rumah kayu berwarna merah. Rumah sederhana tapi masih terawat. Di rumah inilah Astrid Lindgren lahir dan menghabiskan masa kecilnya.

IMG_2295
Eksis di depan rumah kelahiran Astrid

IMG_2297.jpg

IMG_2298.jpg
Rumah pendeta di masa silam. Masih satu halaman dengan rumah kelahiran Astrid

Namun pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah. Hanya bisa melihat dari halaman luar saja. Konon, orang tua Astrid hanya menyewa rumah ini dari pihak gereja. Jadi bukan milik keluarga Astrid. Tidak jauh dari sini, terdapat sebuah bangunan rumah berukuran besar, yang tak lain merupakan rumah kediaman pendeta di jaman itu.

Meskipun Astrid Lindgren bukanlah idola gue, tapi selalu senang jika melihat kota bahkan rumah kelahiran tokoh terkenal. Amazing aja rasanya. Dan tentunya menjadi pengalaman yang mengasikkan bisa melihat langsung di dunia nyata tempat dimana mereka lahir dan dibesarkan. See you in my next story

“Semua foto hanya menggunakan camera handphone”

Serunya Melintasi Pegunungan Es Dengan Kereta Luncur Anjing

“Tar kita nyobain Dog Sled ya”

Itulah sebuah penawaran dari suami di suatu malam. Tepatnya sekitar dua bulan yang lalu. Dan sontak saja membuat gue kegirangan. Karena sejujurnya, gue sudah lama pengen bermain Dog Sled.

Tadinya gue dan suami berencana mencoba Dog Sled yang dikelola oleh sebuah keluarga, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal gue. Tapi setiap ke sana rumahnya selalu kosong. Sampai akhirnya sekitar dua bulan yang lalu, kami sepakat menghabiskan weekend di Sälen, salah satu kawasan wisata musim dingin di propinsi Dalarna Swedia.

img_0306-1

Dan berhubung Sälen merupakan tempat wisata musim dingin yang sangat digandrungi, maka kami pun tidak mau mengambil resiko. Dua bulan yang lalu, suami langsung membooking hotel sekaligus tiket bermain Dog Sled.

Gue mulai tertarik dengan kegiatan Dog Sled, setelah menonton Discovery Channel. Waktu itu Discovery meliput tentang Husky, sejenis anjing yang akrab dengan kegiatan Dog Sled. Husky berlari  menarik kereta dibelakang, diantara hamparan salju yang tebal dan luas. Seperti kereta Santa. Membayangkannya saja sudah seru.

img_0271
Gue menyebutnya Kereta Santa..Hahaha

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 10 pagi. Sebelum checkin hotel, rencananya kami langsung bermain Dog Sled. Lokasinya pas banget di depan hotel tempat kami menginap.

Gue langsung mengganti printilan di badan. Mulai dari boots, jaket, celana gunung,  hatbanie hingga sarung tangan. Begitu tiba di lokasi, gue melihat Siberian Husky yang sedang tidur dan malas malasan. Sekilas mirip serigala.

Dan tidak lama kemudian, dua buah mobil datang menurunkan Husky yang lain. Kelihatan para pegawainya sudah terlatih dan sangat akrab dengan Husky. Sesekali diajak bercanda, dicium, dielus, ceria banget mereka.

fullsizerender-38

Kegiatan Dog Sled di Sälen, ditangani team yang sangat berpengalaman dan profesional. Menjelang pukul 12 siang, si petugas mulai mendata nama peserta yang turut dalam kegiatan Dog Sled. Lalu kami disuruh merapat. Dan tanpa basa basi, si petugas langsung memberi arahan, bagaimana cara mengendarai Dog Sled yang baik. Kapan kaki harus menginjak pedal, sesekali boleh berteriak “hei” ke Husky,  jika Husky berlari dengan wajar, tidak perlu mengayuh kaki ke salju, cukup berdiri saja. Kurang lebih begitu deh.

IMG_0267.JPG

IMG_0269.JPG

Suami gue kebagian berdiri di belakang, sementara gue cukup duduk manis di dalam kereta. Kenyamanan peserta juga sangat diperhatikan. Bagian dasar kereta diberi lapisan kulit bulu. Semua permukaan sisi kereta, diikat dengan kain terpal tebal. Fungsinya untuk menutup seluruh badan.  Jadi sekalipun berjalan di atas salju, tidak berasa terlalu dingin. Bayangkan saja, waktu itu suhu sekitar minus 5, dan perjalanan yang ditempuh kurang lebih 1,5 jam.

Menjelang berangkat, gue kaget dan sedikit panik. Karena tiba tiba semua Husky secara serentak menggonggong ribut. Mengeluarkan suara yang sangat berisik. Ternyata gue baru tau, mereka tidak sabar ingin cepat cepat berlari.

img_0270

Gue masuk dan duduk di dalam kereta seluncur, dan begitu ditanya,  Are You Ready?… iyes dong!

Dan dalam hitungan detik, tik..tok..tik..tok…..and…….HERE WE GO!  Yuhui!

Kereta meluncur mulus ditarik Husky. Aduh mak, pertamanya ga nyangka. Gue pikir lari mereka lambat. Ternyata lumayan kencang! Hahaha.

IMG_0276.JPG
Husky larinya cepat.
IMG_0282.JPG
Dia melihat gue 🙂
IMG_0285.JPG
Tidak ada lelahnya mereka berlari. Sangat bertenaga

Gue menikmati menit demi menit waktu yang berjalan. Selain melihat Husky berlari, gue juga menikmati view alam yang kami lewati. Bikin mata melek. Sepanjang mata memandang, yang ada hanya hamparan salju, gundukan gunung, dan beberapa barisan pohon pinus. Sesekali kami berpapasan dengan Liftcar yang membawa pemain ski. Dan juga para pengendara snowsoocter racing.

IMG_0284.JPG
Sepanjang jalan tertutup salju
IMG_0283.JPG
Snow
IMG_0281.JPG
Kaya di film Twilight ya
img_0287
Di sekitar puncak  Storfjället di Sälen 
IMG_0288.JPG
Masih dari kawasan puncak Storfjället

Kami berhenti dan memutuskan beristirahat, di salah satu puncak pegunungan dikawasan Sälen bernama Storfjället. Di sini terdapat sebuah cafe, yang konon menjadi cafe tertua dan pertama di kawasan Sälen, bernama Storfjällsgraven. Cafe yang antik sekali. Wooden House yang  menyendiri diantara luasnya landscape tertutup salju.

Suhu di puncak pegunungan Storfjället lebih berasa dingin. Dan kami pun memesan dua porsi waffle dan dua gelas minuman coklat hangat. Lumayanlah, bikin perut hangat dan kenyang.

img_0298
Kami beristirahat di sini. Di sebuah cafe di kawasan puncak Storfjället. Landscapenya cantik. Meskipun winter, bangku tetap disediakan, karena cuaca mulai cerah
img_0291
Bangku diberi lapisan selimut bulu
img_0296
Hangat duduk di sini
IMG_0303.JPG
Katanya, ini adalah cafe pertama dan tertua tertua di kawasan Sälen. Unik ya bangunannya. Menyendiri di kawasan puncak Storfjället

Di saat istirahat, gue sempat melihat bagaimana anjing Husky bersenda gurau lagi dengan para pelatihnya. Para pelatih kelihatan sekali sangat memanjakan mereka.

Husky adalah jenis anjing yang biasa digunakan untuk kegiatan Dog Sled. Ada yang dikenal dengan sebutan Siberian Husky atau Alaskan Husky. Perawakan Husky sekilas mirip  Serigala. Bahkan lolongannya pun sama.

Bedanya, Husky bukan jenis anjing yang ganas dan galak. Sebaliknya, Husky dikenal sebagai anjing yang menyenangkan, ramah dan ceria. Bahkan dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.

fullsizerender-38

Husky memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Dan kemampuan berlarinya pun tidak perlu diragukan lagi. Dulunya, suku Chukchi (sebuah suku yang hidup di wilayah semenanjung Chukchi  Rusia), selalu membiasakan Husky menarik beban berat di atas salju.

Itulah sebabnya hingga sekarang, Husky dikenal sebagai anjing yang sangat aktif dan tidak bisa diam. Keinginan berlarinya sangat kuat. Dan ini sudah gue buktikan dan lihat sendiri. Bagaimana kawanan Husky sangat tidak sabar untuk segera berlari, ketika kami akan memulai perjalanan.

fullsizerender-37

Awalnya gue sempat berpikir, apa mungkin kawanan Husky ini bisa menarik beban gue dan suami? Yang gue tau, cuma kuda yang memiliki tenaga super. Ternyata salah. Husky pun  benaran bertenaga. Perjalanan 1,5 jam itu lumayan jauh loh. Dan mereka ga da capeknya berlari. Paling mereka berhenti disaat mau pipis doang.

Untuk biaya Dog Sled ini, berdua suami, dikenakan harga sekitar 1600 Sek (setara 2,4 juta rupiah). Memang relatif tidak murah. Tapi buat gue sih worth it ya.

Dan gue bisa memaklumi harga yang ditawarkan. Karena mereka juga butuh biaya yang tidak sedikit untuk perawatan Husky. Huskynya kelihatan sehat dan bulunya bagus. Dan satu lagi, pegawai juga perlu digaji kan.

fullsizerender-37

Perjalanan yang kami lalui, dibimbing oleh seorang Guide yang juga mengendarai Dog Sled. Kenapa harus ada Guide? Rulenya wajib seperti itu. Harus ada yang memimpin paling depan. Dan peserta lain tinggal mengikuti. Jadi yang namanya salah jalan, kemungkinan tidak ada. Gila aja, yang dilewati gunung mak. Hamparan salju yang luas. Salah dikit, bisa belok ke ke Jakarta. Hahaha.

img_0286
Guide yang memimpin di depan

img_0289

img_0279

Selain itu, tiga orang pegawai yang lain juga mengawasi perjalanan Husky. Bedanya mereka mengendarai Snowscooter. Tugas mereka adalah mengamati Husky, jika larinya tidak wajar. Contohnya, ketika salah satu Husky yang membawa kami, berlari terlalu cepat. Mereka langsung tau dan melepaskan ikatan anjing.

IMG_0273.JPG
Mirip serigala

Karena jika tidak, akan berpengaruh terhadap anjing yang lain. Dan selanjutnya, si Husky tadi pun dikeluarkan dari rombongan. Pokoknya mereka bertugas sangat cekatan.

Jika berlibur ke Swedia, khususnya di saat musim dingin, tidak ada salahnya melimpir ke daerah Sälen, Dalarna. Sesekali menikmati liburan yang tidak biasa itu enak kok. Sekalian menikmati sensasi musim dingin yang sebenarnya. Seru sudah pasti.

img_0299

IMG_0301.JPG

Video bermain dog sled ini juga pernah tayang di Net tv (program net10). Bisa klik di SINI

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Uppsala, Dalam Hitungan Jam!

Gue sebut “Hitungan Jam”, karena keberadaan gue dan suami di kota Uppsala, kurang lebih hanya dari sore hingga pukul 10 malam. Menikmati suasana kotanya hanya dalam hitungan jam saja. Selebihnya kami balik ke hotel, istirahat dan tidur. Esok paginya, kami menyempatkan singgah ke sebuah gereja, dan setelahnya buru buru menuju Arlanda Airport. Menjemput teman yang kebetulan datang dari Indonesia.

IMG_9927.JPG

IMG_9644.JPG

Uppsala merupakan kota ke empat terbesar di Swedia setelah Stockholm, Guthenburg, dan Malmo. Kota yang hanya berjarak sekitar 71 km dari Stockholm. Uppsala merupakan kota yang sudah tidak asing lagi di telinga gue, tapi tak pernah terpikirkan untuk singgah ke kota ini. Mengapa? Nanggung banget. Rasa rasanya kalau mau keluar kandang (jalan jalan ke kota besar maksudnya), langsung  ke  Stockolm ajalah. Lebih seru menurut gue.

IMG_9939.JPG

IMG_9950.JPG

Cuma, karena kepergian kami kali ini hanyalah menjemput teman di airport, akhirnya suami memutuskan stay one night di Uppsala. Kenapa tidak di Stockholm? Biasalah, suami gue paling malas mengendarai mobil ke Stockholm. Kalaupun harus menyetir, udah terpaksa dengan segala beban stressnya. Terbiasa nyetir di kota kecil yang jalanannya selalu anteng tanpa ada saingan di kiri kanan. Jalanan kosong melompong. Jadi sekalinya keluar dari zona aman, langsung stress deh. Kalau di Uppsala, meskipun kota besar, paling tidak masih cincaylah. Ga riweh banget. Hitung hitung sekalian tau juga keberadaan kota ini. Meskipun tidak banyak waktu dan hanya dalam hitungan jam saja.

img_9940

IMG_9645.JPG

img_9971

Kami tiba di Uppsala sudah sore. Sore yang lumayan berangin. Tapi masih aman dibawa berjalan kaki. Daun daun sudah mulai berguguran memenuhi beberapa ruas jalan. Seperti Autum saja, padahal baru awal Agustus. Pertama melihat kota Uppsala perasaan gue biasa saja. Apalagi di setiap jalanan kota yang kami lewati, berasa crowded banget. Ramai oleh kelompok mahasisiwa/mahasiswi yang selalu ada di mana mana.

img_9943
Salah satu kelompok mahasiswa yang sedang melakukan semacam kegiatan ospek.

Tak heran memang, karena kota ini dikenal sebagai tempat berdirinya  Uppsala University. Universitas yang dikenal sebagai The oldest center of higher education di Skandinavia (info Wikipedia, berdiri sejak tahun 1477).

IMG_9782.JPG
Mulai dari terang sampai  lumayan gelap, kami betah duduk di restoran ini. 
IMG_9654.JPG
Uppsala in the night

Apalagi saat kami tiba, kegiatan mirip Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (ospek) untuk angkatan baru sedang berlangsung. Ga ngerti juga pastinya apakah beneran ospek atau tidak. Intinya sedikit miriplah kalau gue lihat. Dandanan mereka lucu juga. Cuma tidak terlalu aneh aneh bangetlah. Mereka having fun banget. Tidak terlihat senior bentak yunior, apalagi pake nyakiti fisik. Hari gini masih ada yang doyan nyiksa? hiks! Paling rambut mereka ditempelin daun atau pakai bandana gitulah (pastinya gue ga ingat banget). Yang jelas, dipastikan tidak ada petai melingkar di leher mereka 🙂

IMG_9947.JPG

IMG_9945.JPG

Bahkan malam harinya, sebagian besar restoran cafe di Uppsala penuh dengan acara party para mahasiswa baru ini. Setiap memasuki restoran, jawaban yang kami terima selalu “penuh”. Hari Jumat pula waktu itu. Sangat cocok menerima jawaban penolakan. Tak jarang para mahasiswa terlihat berjalan kaki bahkan mengendarai sepeda dengan gaun pesta. Ibarat Yogyakarta, Uppsala kental banget dengan komunitas pelajarnya.

IMG_9951.JPG

IMG_9936.JPG
Parkir sepeda menjadi pemandangan yang biasa di Uppsala. Mahasiswa sebagian besar menggunakan sepeda kemana mana.

Namun semakin dijalani, tanpa gue sadari gue mulai menyukai kota ini. Ternyata Uppsala menyimpan keindahan lain yang pelan pelan disuguhkan ke gue. Cafe kozy dan gothic hingga bangunan bangunan tua lumayan unik. Bahkan kota ini semakin terlihat romantis oleh bunga bunga yang bergantungan di jembatan. Yang di Jakarta, pemandangan seperti ini sepertinya hanya bisa dilihat di sebuah resepsi pernikahan saja. Belum lagi semakin malam menjelang (meskipun saat itu malam tidaklah segelap winter), temaram lampu menjadikan Uppsala terlihat lebih menarik. Tidak banyak yang bisa gue jelasin, mungkin bisa disimpulkan dari beberapa foto yang gue posting di tulisan ini.

IMG_9648.JPG
Dua orang pelajar di Uppsala. Tau darimana? Nebak aje..hehe
IMG_9786.JPG
Jembatannya cantik. Bunganya uda seperti rangkaian di acara resepsi nikahan aja. 

Uppsala juga dikenal sebagai kota tempat berdirinya pusat gereja Luthern di seluruh Swedia. Semua gereja berpusat di Uppsala Cathedral.  Gereja bergaya gothic, sangat besar, klasik dan indah. Uppsala Church dibangun pertama kali pada tahun 1200 an dan direnovasi setelah mengalami kebakaran hebat di tahun 1702.

img_9651

Di dalam gereja juga terdapat makam Gustav Vasa, raja Swedia sebelumnya. Uppsala Cathedral merupakan gereja tertinggi di negara Nordic dan menjadi salah satu gereja terbesar di bagian Eropa Utara. 

img_9643

img_9642

img_9638

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com

Berikut  wajah kota Uppsala!

img_9948-1
Beneran loh, gue senang banget, jika suatu saat ke Jakarta, view seperti ini sudah ramah dimana mana:) semoga ya.

img_9783

IMG_9946.JPG
Sebenarnya bersepeda sudah menjadi kegiatan yang biasa di Swedia. Cuma kuantitas pemakaian lebih variatif di setiap kota. Di Uppsala memang kelihatan sekali transportasi ramah lingkungan ini lebih banyak penggunanya.
img_9784
Suka lihat restonya
img_9646
Salah satu view dari sebuah restoran. Di sini kami menghabiskan malam. Enak banget suasananya.

Stockholm City Hall

Sebelumnya gue sudah pernah menulis tentang kunjungan kami (gue dan suami) ke Stockholm City Hall beberapa tahun lalu, yang berujung kecewa. Tepatnya ga buka alias tutup.

Dan sampai beberapa kali kunjungan ke kota Stockholm, gedung yang menjadi salah satu tujuan wisata ini pun terlupakan oleh kami. Sampai akhirnya, tepat di bulan Desember 2016 lalu, kami menyempatkan waktu memasuki City Hall yang menjadi kebanggaan kota Stockholm tersebut.

IMG_9097.JPG

Stockholm City Hall merupakan salah satu iconic kota Stockholm dan menjadi tujuan wisata di ibukota Swedia ini. Untuk bisa masuk ke dalamnya tidaklah sembarangan. Harus mengikuti jadwal official guide yang sudah ditetapkan pihak pengelola. Jika beruntung, tidaklah terlalu lama menunggu.

IMG_9078.JPG
Souvenirnya lucu lucu

Lagian kalaupun harus menunggu, masih bisa menikmati pernak pernik atau souvenir lucu, yang dipajang di sekitar pembelian tiket masuk. Kebetulan waktu yang kami perlukan untuk bisa masuk ke dalam, kurang lebih hanya sepuluh menit. Sampai akhirnya kami dipersilahkan masuk. Sebelumnya pengunjung diberi sticker kecil yang ditempelkan di baju dan nantinya begitu masuk, harus diperlihatkan ke petugas yang sudah berdiri di depan pintu masuk.

IMG_9093.JPG

Begitu masuk, langsung terlihat ruangan besar dan luas. Tidak lama kami berhenti di sebuah hall yang dikenal dengan sebutan The Blue Hall. Dari sekian hall yang ada, bisa dibilang The Blue Hall adalah bagian yang paling terkenal dan menjadi main hall Stockholm City Hall.

Karena selain untuk penyelenggaraan event besar lainnya, The Blue Hall juga digunakan sebagai tempat perhelatan The  Great Annual Nobel Banquet atau jamuan makan para peserta Nobel Prize yang famous itu.

IMG_9079.JPG
The Blue Hall, ga ada warna birunya, paling kursinya doang yang berwarna biru.
IMG_9103.JPG
Warna biru kursi kursi ini tidak ada hubungannya dengan pemberian nama The Blue Hall.

Kenapa sampai disebut The Blue Hall? Yang jelas, sebelum dijelaskan oleh si kakak pemandu itu, gue sempat mikir, warna birunya mana? kok ga ada? Cuma dinding batu berwarna merah, berikut barisan kursi berwarna biru yang disusun rapi di tengah hall. Dan gue pikir karena kursi itu dong. Ternyata gue salah total.

IMG_9053.JPG
Contoh perlengkapan table,  untuk acara Annual Nobel Banquet.
IMG_9092.JPG
Suka banget

Konon, sang arsitek Ragnar Östberg, berkeinginan memberikan nuansa biru di semua dinding hall. Tujuannya agar para tamu bisa merasakan nuansa cerah, layaknya langit dan pantai biru di saat summer. Namun begitu bangunan selesai, rencana tersebut sontak berubah. Sang arsitek malah jatuh cinta dengan warna merah asli dari bangunan. Menurutnya lebih berkarakter dan lebih indah. Dan nuansa biru pun seketika ditiadakan.  Meskipun demikian, berhubung dari awal sudah diberi nama The Blue Hall, penggunaan warna merah tersebut tidak merubah namanya. Hingga sampai saat ini, sebutan The Blue Hall tetap eksis dipakai. Berada di dalam The Blue Hall, serasa menjadi bagian dari orang orang penting dunia. *Menghayal tak ketulungan.

IMG_9085.JPG
The Blue Hall dengan dinding berwarna merah. Warna asli bahan batunya.
IMG_9091.JPG
The Blue Hall.

Selanjutnya kami menuju The Golden Hall, ruangan bergelimang emas! Huaaaa…pengen jilatin dindingnya. The Golden Hall biasanya dipakai sebagai tempat berdansa para peserta Nobel prize setelah Nobel Banquet selesai. Berbeda dengan The Blue Hall, sebutan The Golden Hall konsisten sesuai namanya. Seluruh dinding memang dilapisi emas asli. Catet, emas asli ya bukan KaWekk.  Lapisan emas ini terdiri dari 18 juta Gold Mosaik Tiles. Kelihatan gemerlap sudah pasti. *Jadi pengen dansa ala ala princes nyasar.

IMG_9086.JPG
The Golden Hall. Nyokkk jilatin dindingnya…Hahahha.
img_9089-1
Detail Gold Mosaik Tiles di Golden Hall

Terakhir kami dibawa ke sebuah ruangan yang didominasi warna coklat kemerahan. Ruangan yang sampai sekarang masih aktif digunakan sebagai tempat pertemuan anggota Parlemen Stockholm. Gue suka interiornya, bagus. Apalagi bagian atapnya, seperti lukisan. Ruangan ini mengingatkan gue akan anggota perlemen yang suka berdebat. Tapi bukan yang suka berantem.

img_9084
Ruangan Parlemen kota Stockholm yang masih dipakai sampai saat ini.
img_9082
Ruangan Parlemen.
IMG_9083.JPG
Tiba tiba melihat ini jadi pengen duduk sambil kumur kumur ngelantur.
IMG_9080.JPG
Bagus bagian atapnya.

Stockholm City Hall juga terkenal dengan Venue for Wedding Ceremoniesnya. Dilangsungkan hanya di hari sabtu antara pukul 12.00 dan 18.00. Dan uniknya wedding ceremony ini hanya membutuhkan waktu lima menit saja. Kilat banget. Mungkin kalimat yang diucapkan hanyalah “Yessss, kami setuju menikah! Selesai deh. Bagus juga sih, ga pake ribet kan.

img_9098
Ini lagi photo nikahan. 

Makanya tidak heran, ketika berada di halaman luar City Hall, terlihat beberapa pengantin yang sedang melakukan Photo Wedding. Didukung pula dengan bangunan dan view di sekitar City Hall yang memang fotogenik banget. Berada diantara aliran danau Mälaren yang terkenal itu. Cocoklah buat Backround Photography.

img_9099
Stockholm City Hall.
IMG_9102.JPG
View di sekitar Stockholm City Hall diantara aliran danau Mälaren.
img_9095
Stockholm City Hall, pohonnya seperti film horor ya..

So, jika berkunjung ke Stockholm, The City Hall bisa menjadi salah satu tempat yang wajib kamu kunjungi. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com

img_9100

Desember di Stockholm

Baru juga Januari, uda ngomongin Desember!

FullSizeRender (11).jpg

fullsizerender-14

Ini tulisan telat, ga sempat kejar tayang Desember 2016 lalu, jadi ya sudahlah, publishnya sekarang aja. Cerita apa emang? bukan cerita sih, cuma sharing beberapa foto aja. Sayang untuk tidak dihempaskan di blog ini. Itu pun cuma foto ala kadar, namanya juga juru photo abal abal. Kegiatan yang memaksakan diri, dingin dingin masih aja rajin jepret. Habis gimana dong, gue suka.

img_9104
Stockholm
img_8887
Di kawasan Sergels torg
img_9161
Lucu
img_9151
Sehabis nonton konser, sempetin foto

Gue sudah lama pengen melihat kota Stockholm di bulan Desember. Karena dari beberapa kali kunjungan, belum pernah mengunjungi Stockholm di bulan ini. Trus ada apa dengan Desember? Biasalah, gue kan tinggal di desa kecil. Dikelilingi hutan pula. Kadang hati ini haus akan kehidupan kota dengan gemerlap lampu.  Sesekali pengen dong melihat keriaan menyambut natal di sebuah kota besar. Gue pengen melihat ornamen natal dan kilauan lampu di kota Stockholm. Pasti cantik.

img_8891
NK 
img_9133
Stockholm in the Night
fullsizerender
Kungsträdgården
img_9152
NK

Dan meskipun tidak meriah banget, setidaknya wajah Stockholm memang terlihat lebih kecelah. Lebih bertabur lampu. Pohon natal juga lumayan berdiri di beberapa sudut kota. Sayang, tidak ada saljunya.

img_9138
Cakep
img_9107
Stockholm 

Disamping itu, kebetulan kami juga menghadiri pertunjukan konser The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra, jadi makin klop.

Berikut foto foto Stockholm di bulan Desember:

img_8886
Sergels torg
img_8866
Love it
FullSizeRender (10).jpg
View dari sebuah kapal
fullsizerender-13
Stockholm in the night
IMG_9163.JPG
View dari sebuah kapal
img_9154
Suka
fullsizerender
Sedikit bokeh
img_8867
Stockholm in the night

img_8863

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com.

img_8910
Senyumlah…setidaknya membuat dunia menjadi lebih indah 🙂