Natalan di Swedia (Sebuah Pengalaman Baru)

Tahun ini merupakan tahun ketiga buat gue merayakan natal di Swedia. Rasanya masih seperti tahun tahun sebelumnya. Tidak banyak yang berubah.

Layaknya di Indonesia, perayaan natal di Swedia diisi dengan kebaktian natal gereja dan kumpul bersama keluarga. Kalau dulu gue selalu mengikuti kebaktian malam natal di tanggal 24 Desember, berbeda halnya sekarang. Gue lebih sering mengikuti kebaktian natal di tanggal 25 Desember. Dan rata rata waktunya selalu di pagi hari (mulai dari pukul 5 subuh). Jadi kebaktian malam natal di tanggal 24 Desember justru tidak ada di tempat gue.

Lumayan rindu sih dengan suasana kebaktian malam natal yang selalu ramai dengan jemaat layaknya di Indonesia dulu. Kalau di tempat gue sekarang yang cuma desa kecil, paling bangku hanya diduduki oleh beberapa jemaat. Sisanya hanya bangku kosong.

img_6543

Selama natalan di Swedia gue belum pernah merasakan suasana kumpul keluarga seperti di Indonesia. Berkumpul dengan keluarga besar yang jumlahnya lumayan banyak. Menggelar tikar yang dalam hitungan detik langsung penuh dengan tubuh beragam size. Rasanya tikar jauh lebih nikmat dibanding sofa. Tiduran boleh, duduk juga boleh. Ketawa-ketiwi, cerita dari A sampai Z, seru seruan main kartu, dan tidak lupa sambil mengunyah kacang asin. Biasanya ada aja satu dua orang yang sukarela ribet di belakang (baca dapur) dan tiba tiba nongol “minum cola ga? kacangnya cukup ga? Ahhh rindu!

FullSizeRender (7).jpg

Sepertinya suasana yang jauh dari formalitas di atas agak sulit gue temukan di Swedia. Contohnya seperti tahun lalu tepatnya di tanggal 23 Desember 2015, kami diundang tetangga sekedar ngopi dan bermain kartu. Ada sekitar 10 orang mereka.

2.jpg

Mulai dari kakek nenek sampai cucu semuanya sudah berkumpul. Tertawa, main kartu, sambil makan kacang juga. Bedanya kacang mereka almond, sedikit lebih elit dari kacang asin berlogo burung itu. Cuma mereka tidak sedasyat keluarga gue sampai menggelar tikar segala. Cukup duduk manis di kursi. Lumayan sopan untuk sebuah acara keluarga. Ketawa mereka juga pake limit volumenya. Tidak seperti keluarga gue yang nyaringnya tanpa batas hingga ke kantor lurah. Hahaha. 

img_6501
I love it
fullsizerender
Karena santa dan rusa sudah terlalu mainstream.

Masih ingat kalau nyiapin menu natal, suasana dapur  keluarga gue selalu ramai. Ramai dengan kulit bawang, jahe, kunyit, dan bumbu bumbu lain di sekitar dapur. Ditambah hebohnya bunyi eksotik ulekan, blender dan penggorengan.

Dan semakin sempurnalah suasana berisik tadi oleh suara suara asoy yang keluar dari mulut kami. Memasak sambil mengobrol. Suara suara yang beradu dengan bunyi ulekan, blender dan penggorengan. Seandainya di Swedia bisa begitu 🙂

Buat gue semua itu menyenangkan sekali.

img_6500
Penggemar  tomte akut

Meskipun sebagian besar makanan natal di Swedia bisa dibeli dalam kondisi matang, tapi gue dan suami tetap berusaha memasak sendiri. Kebetulan kami berdua memiliki keinginan yang sama. Pengen mengingat masa masa ketika natalan bersama orang tua dan keluarga di waktu dulu.  Cuma bedanya kegiatan memasak yang gue dan suami lakukan jauh dari kehebohan suara ulekan dan penggorengan. Lebih peace. Tapi kurang asik.

IMG_8411

Namun bukan berarti natalan di Swedia tidak memiliki cerita seru. Tak sedikit keseruan natal yang gue temukan di negara ini yang justru sebelumnya tidak pernah gue dapatkan sewaktu berada di tanah air.

Salah satunya ya menghias pohon natal beneran. Kalau dulu gue biasa menghias pohon natal plastik, sekarang menghias pohon natal sungguhan. Masih fresh. Bahkan pohon natal yang gue hias bukan dibeli dari toko atau supermarket. Melainkan nyari sendiri ke hutan. Memilih mana yang cocok sampai akhirnya melihat sendiri ditebang oleh suami. Dibawa pulang lalu dihias menjadi cantik. Aromanya natural sekali. Pengalaman menyambut natal yang lumayan berbeda buat gue.

1
Pohon Gran. Nebang dari hutan. Nebang pohon bukan sembarangan ya. Biasanya dari lahan hutan sendiri dan wajib ditanam kembali. Harumnya khas. 

Kalau dulu menghias pohon natal bareng keluarga, sekarang sudah beda. Berdua doang bareng suami. Menyusun santa, bola bola, dan pernak pernik kecil ke pohon natal hingga mendekor rumah. Meskipun kalau boleh memilih gue lebih suka menghias pohon natal beramai ramai.

Dan tahun ini entah mengapa gue pengen banget memberi sentuhan klasik di rumah gue. Seperti meletakkan beberapa potongan kayu pinus di bawah pohon natal atau di dalam ember kayu yang umurnya sudah ratusan tahun.

Gue tambahkan beberapa lentera lilin. Dan hasilnya lumayan cakep. Gue suka. Ga henti gue fotoin. Fotogenik banget jadinya. Makanya harap maklum jika tulisan ini dibanjir oleh foto.

IMG_8558.JPG

img_6477
Saya sukaaa
img_6530
Sukaaaa

Tahun sebelumnya gue tidak terlalu tertarik menggunakan pernak pernik natal peninggalan mertua. Ehhh semakin dilihat kok ya semakin unik. Pernak pernik yang selain dibeli, sebagian lain juga dikerjakan sendiri oleh kedua mendiang mertua. Seperti beberapa gambar di bawah ini.

FullSizeRender (6).jpg
Wajah santa buatan mertua, dibuat dari potongan kayu Birch. Sederhana tapi apik. 
img_6527
Lucu ya. Peninggalan mertua. Mereka niat banget ngerjai beginian. Detail dan rapi. Potongan kayu mirip banget dengan kayu bakar sehari hari. Kalau diperhatikan urutannya, yang pertama mengambil batang kayu, lalu batang kayu digergaji, kemudian dibelah pakai kapak,  terakhir disusun.  Salut! 
img_6559
Dan yang ini lagi membakar sosis. Hahaha.

Di Swedia pohon natal biasanya dipasang pada tanggal 24 Desember atau bahkan di tanggal 25 Desember. Pertama agak kaget sih. Kok lama bener.

Alasannya sih selain karena natal jatuh di tanggal 25 Desember, memasang pohon natal terlalu cepat dikhawatirkan berakibat pohonnya menjadi kurang fresh di saat hari H. Dan di tanggal itu semua anggota keluarga juga sudah berkumpul. Jadi lebih asik jika bisa barengan menghias pohon natalnya. Tradisi memasang pohon natal di tanggal 24 atau 25 Desember tidak hanya berlaku di Swedia, melainkan di sebagian negara barat juga.

img_6491

Tapi perbedaan ini bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Tidak memasang pohon natal pun sebenarnya tidak masalah. Namanya juga beda negara beda kultur dan tradisinya. Meskipun pada akhirnya suami bisa memahami tradisi yang berlaku di keluarga gue dulu. Akhirnya resmilah sejak dua tahun lalu kami memasang pohon natal jauh hari sebelum natal tiba. Yaiiiiii gue melanggar tradisi di desa gue!

Gran adalah jenis pohon yang kami gunakan sebagai hiasan pohon natal di rumah. Meskipun dipasang jauh jauh hari sebelum natal, pohon ini tetap terlihat fresh. Kalaupun rontok paling cuma sedikit. Bahkan tidak mengurangi keindahan warna dan penampilannya. Dua tahun lalu malah tumbuh tunas baru dari ujung batangnya. Keren kan.

Cuma memang harus diberi asupan air setiap hari. Pemanas ruangan di sekitarnya juga sebisa mungkin disetting tidak terlalu panas.

IMG_8520.JPG

Di Indonesia meskipun sudah banyak  kalangan yang menghias pohon natal dengan lampu satu warna tapi lampu warni warni seingat gue masih digemari. Malah di jaman sekarang kelap kelipnya pun bisa disetting.  Mau dibuat lambat atau cepat.

Kalau di desa gue sepertinya pohon natal hanya menggunakan lampu one color. Warna Kuning. Lampunya juga unik. Berbentuk lilin dengan ukuran yang lumayan besar. Mungkin kalau menggunakan lampu berukuran kecil sudah tidak sebanding dengan pohon Gran yang lumayan besar dan jarak dahannya yang tidak terlalu rapat.

Karena ukuran lampunya besar otomatis sinarnya pun lebih tajam. Gue pernah nanya ke suami kenapa tidak memakai lampu kelap kelip? yang langsung dijawab “itu lampu disko”  Haha.

img_6535

Ada satu tradisi yang masih berjalan baik sampai saat ini yang justru sudah lama banget tidak gue temukan di Indonesia. Gue sempat merindukan kegiatan klasik yang menjadi bagian indah menjelang natal tiba. Jaman dimana kejayaan seorang “Pak Pos” yang mengendarai motor orange dan tas coklat butut. Suara motor yang sampai sekarang masih familiar di telinga gue. Posssssssssssssssss! dan ditangannya ada kartu natal.

Bentuknya masih ingat. Mulai dari gambar salju, rusa, santa, sampai yang paling heboh kalau kartu dibuka tiba tiba mucul gambar gambar yang bisa berdiri. Ga pinter jelasin. Kaya foto di bawah ini.

img_6747-1
Kartu natal bahela yang masih ada di rumah gue. Ini yang modelnya kalau dibuka,  langsung muncul “sesuatu” dari dalam kartu. Hahaha

Sempat merindukan kegiatan klasik ini ketika diri mulai lelah dengan ucapan broadcast berantai yang tinggal copas sana copas sini. Dan isinya hampir sama semua. Itu ke itu lagi. Jujur saja membuat gue bosen dan malah terganggu 🙂

IMG_6490.JPG

img_6549
Krans natal yang gue bikin sendiri

img_6532

Sampai akhirnya kerinduan itu terkabul. Kegiatan klasik ini masih jaya berlaku di Swedia. Bahkan suami gue masih menyimpan beberapa kartu natal yang didapat dari tahun kapan.

img_6748

Lalu bagaimana dengan tradisi kado natal? Ya namanya juga dapat kado suka suka ajalah. Dulu juga suka bikin kado di bawah pohon natal. Tapi isinya kosong. Kado kadoan ceritanya. Kalau sekarang sedikit berbeda. Ada rasa penasaran karena sudah tau kalau kado di bawah pohon natal beneran berisi.

Mungkin di Indonesia sudah lumayan banyak keluarga yang melakukan tradisi tukar kado di saat natal. Tapi setau gue belum menjadi tradisi besar. Apalagi di keluarga gue dijamin tradisi seperti ini bukanlah sesuatu yang penting. Hal yang paling menarik justru acara kumpul kumpulnya. Ditambah main sikat makanan yang tersaji di meja.

img_6550

Menurut gue seru sih. Setidaknya pengalaman baru menjelang natal tiba. Mulai hunting kado (nyari sendiri sendiri), trus penasaran suami kasih apa, sampai akhirnya kado dibuka satu satu.

Biasanya gue tidak terlalu sulit memilih kado buat suami. Yang bisa dia pakai ajalah. Seperti sweter, kemeja dan gue tambah dengan kado kado penghibur yang isinya kaos kaki, sarung tangan, hatbanie atau underwear. Setiap tahun pasti itu ke itu aja sih yang gue beli. Gue bungkus satu satu. Jadi keliatan banyak.

IMG_8547 (1).JPG

fullsizerender-5

Suami pun begitu. Selain kado utama biasanya selalu nambahin kado kado kecil. Dengan tambahan kado kado kecil ini,  acara buka kado kami jadi lebih meriah. Lebih lama. Karena pas buka yang satu, masih ada dan ada lagi kado yang lain. Padahal isinya cuma lotion muka, sabun mandi, sampai vitamin rambut. Terharu juga sih. Kadang suka mikir kok dia bisa tau vitamin rambut atau lotion gue uda habis. Ngintipnya kapan yak. Hahaha.
img_6548

Ada cerita haru yang gue dapat ketika natal dua tahun lalu. Ketika kami akan menikmati makan malam di tanggal 24 Desember, tiba tiba gue mendengar handphone suami bolak balik berdering. Tidak lama berselang suami menyuruh gue keluar. Bingung iya. Di luar gelap banget soalnya.

IMG_8383.JPG

img_6423
Gue punya kampung tomte di jendela

Tiba tiba gue mendengar suara lonceng kecil. Mulai mikir kalau suami punya rencana. Dan benar saja, ternyata gue kedatangan Tomte!

Tomte itu santa versi orang Swedia. Tomtenya pakai topeng. Jauh dari sosok santa yang imut dan lucu. Belum lagi bajunya dekil. Warna abu abu. Tapi sukses membuat gue tertawa.

Mungkin karena gue pernah bilang kalau sejak kecil gue tidak pernah didatangi santa. Karena memang tidak ada tradisi seperti itu di keluarga gue. Dan sepertinya suami berusaha ngenalin ke gue bagaimana rasanya tiba tiba didatangi santa. Jujur lumayan sukses membuat gue kaget. Tapi jadi berasa seru. Lupa sudah berumur uzur waktu itu. Meskipun di rumah tidak banyak orang, suami lumayan pinter membuat suasana menjadi lebih ramai.

FullSizeRender (10).jpg
Cemilan natal

Karena penasaran akhirnya gue nanya kenapa tomte berpakaian dekil dan bajunya tidak berwarna merah. Alkisah dulu sosok tomte digambarkan sebagai  seorang pria berbadan kecil, miskin dan hidup di hutan. Pakaian  kumal selalu menempel di badannya. Sifatnya yang suka peduli dan menolong membuat tomte disayang warga. Bangun di tengah malam hanya untuk memastikan kandang sapi warga aman dari binatang rubah atau memastikan pintu rumah warga sudah dikunci apa belum. Sehingga atas kebaikannya ini warga suka meletakkan bubur nasi di depan rumah. Setidaknya tomte bisa makan.

IMG_8413.JPG
Biar adil. Kue nastar dan skippy meramaikan natal di rumah gue. Jangan makanan Swedia aja yak! Hahaha.

Tradisi memberi bubur ini sempat dilakukan suami di waktu kecil. Malam hari bubur diletakin di teras. Bangun pagi suami  senang banget melihat bubur sudah tidak ada. Padahal diam diam sudah diambil lagi sama mertua. Dan suami percaya aja kalau bubur sudah habis dimakan Tomte. Lucu banget kalau dengar ceritanya. Dan seorang Astrid Lindgren juga pernah menyelipkan tradisi memberi Tomte bubur dalam sebuah karya tulisannya. Bedanya versi Astrid buburnya malah dimakan rubah. Hahaha.

Seiring waktu cerita klasik tomte akhirnya mulai bergeser. Santa berbadan tinggi besar, berjenggot putih bersih, berkacamata lucu, berpakain merah menyala dan rapi lengkap dengan tentengan hadiah yang menggiurkan anak anak itu, perlahan mengubah image tomte yang dekil. Jadilah tomte dipercaya oleh anak anak Swedia sebagai sosok pembagi kado yang baik hati.

Setiap tanggal 24 Desember televisi Swedia selalu menayangkan legenda si tomte. Durasi filmnya hanya 10 menit. Film lama sepertinya. Hitam putihnya sadis. Hahaha.

Dibalik rasa yang kadang rindu akan masa masa menghabiskan natal dengan keluarga besar di tanah air, tapi ada bagian lain yang mampu menghibur hati gue. Setidaknya gue bisa menghabiskan natal ibarat di negeri khayalan. Natal berselimutkan salju. White Christmas!

img_6714
Mossa, tanaman liar dari hutan. Cantik dipakai sebagai hiasan. Di toko bunga biasanya dijual menjelang natal.
img_6523
Mossa menjadi hiasan kaleng antik 

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

FullSizeRender

25 Comments

  1. Kalo kata mama saya, kalo mau tau rasanya natal di luar negri gitu.. Come to manado di bulan desember, walaupun gada saljunya setidaknya katanya sudah mirip dengan luar negri 😂😂😂

    Like

      1. Wahahaha gatau kayak apa 😅 belom pernah merasakan natal disana 😭 mama saya doang yg udah..
        Wahahahah main kartu 😅 dikeluarga saya udah jarang main kartu 😅😅

        Like

  2. selalu suka sama suasana natal di luar negeri… seru dan syahdu… tapi aku baru tau loh, ternyata tradisi pasang pohon natal baru sekitar tgl 24 atau 25 desember. padahal disini, pas masuk minggu advent I juga gereja udah pasang yah, hehe… suka sama foto2nya..

    Like

    1. Sebenarnya tradisi ini lumayan banyak dijalankan di negara barat. Tadi aja baru habis kebaktian gereja masih aja nihil
      Pohon natal. Kurang asik untuk tradisi yang atu ini emang. Mkynya gue libaskan. Pasang segera jauh jauh hari hahahha

      Like

  3. Bagus-bagus photomu say..do enjoy each of them… 🙂
    Sama, aku juga kangen sama natal di Indo…thn lalu udah pulang..kt ngerayain bareng trus ke Bangkok buat new year eve..puas dan senang banget seluruh keluarga bisa ngumpul disana…ketawa ketiwi ampe subuh…

    Like

    1. Makasih jadi tersipu dipuji bagus😉😉😉😉. Ahhhh kebayang enaknya kumpul keluarga. Dan ke Bangkok pula. Kota yang ngangenin juga. Nah yang ampe subuh itu tuh, hiburan batin yang eksotik hahahaha

      Liked by 1 person

      1. Aku disini ada kenalan filmmaker, dan dia juga suka motret..senang banget dpt kenalan yang passionnya sama 🙂 Love yr works! 😉
        Iya..mana natal ini nggak pulang..hiks…miss my fam so bad

        Like

      2. Kalau di kota peluang dan pergaulan lebih terbuka. Apapun itu selama sesuai dengan hati jalankan aja. Bener, ga kaya di tanah air, modal ratusan rb juga kalau niat bisa jadi usaha. Kalau di sini, apalagi skandiv, mirdong kata orang batak duluan kepalanya hahhaha

        Like

      3. Aku boru Pardede, manggil apa aku ini. Nama ajalah ya. Pake embel embel kakak tar formil kali. Hahaha. Bagus itu dikasih marga. Aku nikah di swedia, kk abang yang ke sini. Di Indonesia cuma dibuat adat kecil kaya memberangkatkan akulah.

        Like

      4. Panggil namapun jadi..nggak masalah samaku..Kita nikah 2 kali, sekali di Greenland, satunya nikah greja di Siantar sekalian adat 🙂 Bapak mamak minta pesta adat ya kita iyakan sajalah 🙂

        Like

      5. Kalau ortu ada mungkin akan beda ceritanya dengan aku, pasti nikahnya di Indonesia. Adat juga pasti jalan. Cuma aku ortu uda meninggal dua duanya. Dan waktu itu, aku malasss semalassnya urusan birokrasi dan dokumen di tanah air. Udalah bgt RP acc lgsg urus semua

        Like

      6. Oooh iya lah pula ya..aku karena masih adanya, kalau nggak sayang uangnya 😀 mending buat yg lain…
        Bener itu birokrasi di Indo bikin pusing…sampe skrg ada surat yg sedang aku urus belum kelar2..udh 6 bulan..

        Like

      7. Tuh kan, bikin pusing. Btwy nice to talk to you sist. Semoga bisa bersua di dunia nyata suatu waktu nanti ya. Oh ya aku tergiur ke greenland itu. Benar benar tempat layaknya ulasan di discovery dan natgeo

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s