10 Fakta Menarik Tentang Rumah Sakit Swedia

FullSizeRender (25).jpg

Gue termasuk orang yang cepat panik terhadap suatu penyakit atau keluhan di badan. Penyakit biasa pun bisa diada-adain menjadi luar biasa. Doyan banget ngebayangin penyakit seram. Padahal ketika diperiksa, ternyata semuanya oke oke saja.  Entah apalah yang ada dipikiran gue ini.

Ada keluhan sedikit, baru berasa lega setelah ke dokter. Padahal yang namanya dokter sebenarnya pengen gue hindari. Ironis.

Dan ini sudah berakar sejak gue tinggal di Jakarta. Tepatnya setelah hari hari penuh dengan kelelahan.

Sejak tinggal di Swedia, barulah gue menyadari, bahwa tidak selamanya keluhan di badan harus sembuh di tangan dokter. Tubuh sendiri pun sanggup dengan baik menyembuhkan sakit. Ini pengalaman gue ketika terkena penyakit mirip Frozen Shoulder. Tapi dokter bilang bukan Frozen Shoulder. Dirujuk ke Spesialis, dan si dokter bilang, tidak ada obat yang sangat berarti yang sempurna menyembuhkan sakit gue. Walaupun sakitnya luar biasa, tapi menurutnya akan hilang dengan sendirinya. “Tunggu saja kurun waktu 6 bulan ke depan”.

Gue ingat banget ucapan beliau waktu itu. Dan ternyata benar, tanpa diobati, perlahan nyeri di punggung gue hilang. Tadinya kedua tangan gue tidak bisa dipertemukan, dan sekarang sudah tidak ada masalah.

Awalnya sempat ngedumel, udalah lama menunggu schedule ketemu si profesor ini, ujuk ujuk cuma mendengar jawaban tidak ada obat yang sangat berarti.  Tapi lucunya, gue malah percaya dengan apa yang dia bilang, dan merasa lebih tenang. Karena ketenangan beliau, dan ucapannya yang sangat meyakinkan, memberi harapan besar ke gue. Kalau sakit yang gue derita bakal sembuh meskipun tanpa harus dicekokin obat.

Dan gue pun baru mengerti, tidak selamanya ke dokter harus berujung dengan obat. Tugas utama dokter sebenarnya kan memeriksa, mengkaji dan menjelaskan apa yang dia tau, melakukan tindakan yang dianggap perlu dan menyuruh apa yang harus dan tidak boleh dilakukan pasien. Jadi ke dokter its not only about medicine.

Tahun pertama di Swedia, jujur saja membuat gue disappointed dengan sistem pelayanan kesehatan di negara ini. Gue ditampar culture shock yang lumayan menggigit. Sampai akhirnya, perbedaan yang gue lihat, bisa gue terima karena memang positif adanya.

Pengalaman gue dengan rumah sakit di Swedia lumayan banyak. Mulai dari pemeriksaan biasa, luar biasa sampai stay di hospital. Dari pengalaman itulah, gue berusaha menuangkannya dalam bentuk tulisan. Semoga saja berguna.

fullsizerender-24

Lantas apa yang bisa gue simpulkan dari Pelayanan Rumah Sakit di Swedia, khususnya di kota Mora, Dalarna?  Berikut di bawah.

1. MAKE APPOINTMENT 

Awalnya gue sangat terganggu dengan sistem ini. Ketemu dokter merasa dibatasi. Ga bisa sesuka hati kapan gue mau. Apalagi menunggu schedule bertemu dokter lumayan lama. Bisa mingguan bahkan bulanan. Kecuali jika keluhan kita sangat serius, biasanya dipercepat dalam hitungan hari (Pengalaman pribadi). Intinya tergantung keluhanlah.

Make Appointment biasanya dilakukan untuk keluhan yang sifatnya tidak terlalu emergency (kita merasa atau menduga duga  punya keluhan di tubuh, tapi kondisi fisik masih lumayan kuat,  bisa berjalan, bekerja dan beraktivitas)atau bisa juga hanya ingin berkonsultasi maupun cek rutin kesehatan, periksa ibu hamil, atau sejenisnya.

Kenapa harus Make Appointment terlebih dahulu?

Dengan membuat appointment terlebih dahulu, kita terlayani. Artinya memang jadwalnya kita. Tidak perlu mengantri. Duduk sebentar, nama langsung dipanggil. Ontime sekali. Dan yang lebih penting lagi, dokter juga fokus memeriksa kita tanpa harus dikejar bayang bayang akan antrian pasien yang lain. Kita punya waktu yang lumayan cukup untuk mendengar penjelasan dokter, pun untuk kita bebas bertanya juga.

Pengalaman gue, akibat waktu yang sangat cukup ini, dokter selalu menjelaskan dengan bahasa yang sabar dan tidak terburu buru. Jauhlah dari komunikasi satu arah, dimana pasien menjelaskan keluhan, si dokter cuma menunduk tanpa melihat wajah pasien, sambil nyahut…mmm…mmm, dan sibuk nyoretin kertas lalu “Ini ya, resepnya tebus di apotek”   Menunggu antrian sampai berjam, ketemu dokternya paling 10 menit 🙂

2. PELAYANAN EMERGENCY (GAWAT DARURAT)

Bagaimana jika pasien datang ke rumah sakit tanpa appointment terlebih dahulu? Boleh boleh saja. Emergencylah. Kadang pasien yang tau, separah apa keluhan yang dirasakan. Barulah nanti sesampainya di rumah sakit, pihak medis akan memeriksa seserius apa keluhan pasien.

Emergency tidak harus selamanya darurat, karena ada saja pasien yang datang dengan keluhan yang tidak terlalu mengkhawatirkan, atau yang lebih parah lagi cuma modal takut langsung ngibrit ke rumah sakit. Dan salah satunya itu adalah gue 🙂

Kalau tidak terlalu parah bahkan cenderung tidak berbahaya, pasien lebih banyak ditangani perawat. Dan akibatnya, harus siap menunggu dokter dalam waktu yang lumayan lama. Tapi meskipun dokter belum memeriksa pasien, dan belum ada kepastian opname atau tidak, rumah sakit langsung menempatkan pasien di dalam kamar.  Menunggu dokter sambil tidur atau istirahat. Jadi tidak dibiarkan menunggu lama di ruang tunggu.  Penanganan pertama dari suster langsung diterima pasien sebelum dokter datang.

3. FASILITAS AMBULANCE

Seumur umur, gue baru merasakan dibawa ambulance setelah tinggal di Swedia. Itupun sangat tidak disangka kejadiannya. Awalnya gue dan suami hendak belanja kebutuhan dapur. Setibanya di kota, kami bermaksud Fika  di sebuah cafe.

Entah mengapa tiba tiba gue pengen muntah. Dan langsung menuju toilet cafe. Begitu keluar, gue merasa pusing dan jantung berdegup kencang. Cemas sudah pasti iya. Karena  merasa debaran jantung gue tidak wajar. Melihat suami panik, pegawai cafe langsung aware dengan keadaan gue. Mereka pun menghubungi 112, Emergency Call Public di Swedia.

Karena sedang berada di kota, tak sampai 10 menit (kalau tidak salah), ambulance langsung datang. Awalnya gue merasa risih, kalau sampai semua orang ngeliatin gue. Dan ternyata cuma Geer semata. Orang orang berjalan biasa saja tanpa pengen tau apa yang terjadi🙈

Begitu masuk, gue melihat betapa cekatannya petugas menjalankan tugasnya diantara peralatan medis yang memenuhi ambulace. Gue langsung ditensi, detak jatung diperiksa, gue terus diajak bicara, dan entah mengapa, gue merasakan sekali Sense of Humanity dari si petugas ketika dia memberi pertolongan ke gue. Yang gue rasakan saat itu, si petugas benar benar menganggap jika nyawa gue sangat penting untuk diselamatkan.

Jadi tidak terkesan menjalankan tugas semata. Tadinya gue berpikir, liputan 991 atau acara sejenis hanyalah pencitraan dari sebuah skenario tv. Ternyata di dunia nyata beneran ada. Dan  itu gue lihat dan rasakan sendiri.

Di Swedia, fasilitas ambulance bisa dipanggil kapan saja dan dimana saja, sekalipun di desa kecil seperti tempat gue tinggal. Operator akan menghubungkan dengan rumah sakit terdekat. Petugas akan memeriksa dan membuat laporan keadaan si pasien. Begitu tiba di emergency, pasien langsung diperiksa oleh tim medis.

4. SEMUA TENAGA MEDIS DIAKUI KREDIBILITASNYA 

Ketika sebagian besar rumah sakit di tanah air sangat mudah memberi kesempatan bertemu dokter spesialisberbeda halnya dengan rumah sakit di SwediaPasien tidak bisa seenaknya main potong jalan.

Sebelum bertemu dokter umum, biasanya pasien ditangani oleh perawat. Sebelum dokter datang, perawat mengambil sampel darah untuk di cek ke laboratorium. Jadi tidak harus menunggu intruksi dokter.

Kadang kadang, seorang perawat dipercaya menjalankan layanan klinik kecil, semacam Puskesmas yang dibangun Kommun (semacam pemda), guna memberi layanan kesehatan kepada masyarakat yang tinggalnya lumayan jauh dari kota. Dan itu tanpa ada dokter.

Dari perawat kemungkinan lanjut ke dokter umum, dan jika diperlukan baru dirujuk ke dokter spesialis. Wanita hamil di Swedia pun sebagian besar hanya dilayani Barnmörska (semacam bidan) dan bertemu dokter spesialis Obgyn ketika ada masalah serius saja.

Jadi semua petugas medis di Swedia diakui kredibilitas kerjanya. Tidak ada anggapan kalau dokter spesialis lebih berbobot, dokter umum apalagi perawat jadi dianggap sebelah mata. Semua penanganan kesehatan tergantung keluhan si pasien.

5. STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) YANG MEMBUAT NYAMAN

Yang gue bahas di sini bukanlah SOP rumah sakit secara keseluruhan. Kalau itu manalah gue tau kan ya. Gue cuma membahas sesuatu  yang selalu gue dapatkan ketika berkunjung atau berobat ke rumah sakit di Swedia. Dan gue menyebutnya sebagai Standard Operating Procedure (versi gue), yang sangat menghargai gue sebagai pasien. Apa itu?

-Sesuatu yang simpel tapi sangat bermakna. Sapaan “helo, nama saya Anita (katakanlah begitu), sambil mengulurkan tangan, “Saya perawat atau saya dokter yang yang akan memeriksamu. Hur Mör Du? (Apa kabarmu?). Sapaan seperti inilah mostly gue dapatkan ketika bertemu dokter maupun perawat di rumah sakit. Walaupun cuma kalimat sederhana, tapi bermanfaat bagi si pasien. Disapa dengan senyum dan disalam hangat.

Dokter selalu keluar dari ruangan, memanggil nama kita, dan menghampiri dengan sebuah sapaan dan uluran jabat tangan. Tidak pernah gue melihat, dokter duduk manis dan menunggu  pasien dengan wajah serius di dalam ruangan. Selalu mereka yang keluar menghampiri.  Paling in case, pasien dipanggil perawat, lalu tidak lama si dokter masuk. Itupun si dokter tetap memperkenalkan diri dan menjabat tangan pasien.  

6. SETIAP TINDAKAN, DOKTER BERUSAHA MENJELASKAN

Setiap dokter melakukan tindakan, sebagian besar dibarengi penjelasan. Contohnya, “Saya akan memberi gel ke kulit leher kamu, tidak sakit cuma sedikit dingin” Atau “Saya mulai ya masukin alatnya (sambil nunjukin alat ke kita) kemudian “Sekarang saya pakai alat yang berbeda, tujuannya untuk…….. bla bla…(sambil menjelaskan).

Tadinya gue berpikir, udalah ga perlu dijelasin, karena pengen cepat selesai diperiksa. Tapi setidaknya mereka berusaha membuat pasien bisa lebih mengerti tindakan yang mereka lakukan itu gunanya untuk apa. Jadi tidak asal tindakan saja.

Bahkan sewaktu gue menjalani operasi kecil jempol tangan (duh ini sakitnya banyak banget ya), di ruang operasi (sebelum tindakan), si dokter menjelaskan fungsi operasi yang akan gue jalani untuk apa.

Dan nanti setelah operasi hasilnya akan menjadi bagaimana, bla bla bla. Jadi masuk ruang operasi, jempol gue tidak serta merta langsung dibelek.

7. ANTIBIOTIK?….oh..No..!

Begitu gampangnya gue mendapatkan antibiotik di Indonesia dulu, sampai dokter sanggup memberi antibiotik tanpa melakukan test lab terlebih dahulu. Cuma modal keluhan dari mulut pasien. Contoh sederhana aja deh. Klinik 24 jam lumayan banyak yang seperti ini. Memang sih pasien sembuh. Tapi efek ke depannya kita tidak pernah tau. Bicara obat dan antibiotik di tanah air, aroma bisnisnya lumayan berasa.

Jika ke dokter tanpa membawa pulang antibiotik, serasa ada yang kurang. Setidaknya itulah yang gue rasakan dulu. Dan itu masih terbawa sampai di awal awal ketibaaan gue di Swedia. Mindset yang sampai membuat gue kesal, karena dokter di Swedia sangat susah  memberi antibiotik.

Masih ingat pertama sekali gue masuk emergency akibat menderita diare. Dan berhubung waktu itu belum mengerti, gue mulai frustasi, kok cuma perawat yang menangani gue. Dokternya mana? Dan gue pun minta diberi obat diare.

And you know what? dokter belum bisa segera datang, karena masih menangani pasien yang lebih serius darurat.

Padahal mencret gue kurang apa coba*tutup muka dengan kedua tangan.

Trus how about my medicine? gue tidak perlu medicine katanya. Karena asupan oralit dari infus yang masuk ke badan gue sudah sangat cukup. Inilah kalau kebiasan minum En**stop.

Perawat bilang , selama oralit masuk ke tubuh, air yang terbuang melalui Bab tidak membahayakan jiwa gue. Logikanya ada yang keluar tetapi tetap ada yang masuk. Apalagi tensi gue masih normal, detak jantung juga ga masalah, dan gue tidak sampai demam.

Dan satu lagi, perawat melihat gue masih sanggup berjalan ke kamar mandi sendirian.  Sempurnalah menjadikan gue sebagai pasien yang masuk kategori cukup dirawat di rumah. Dan betul saja, dokter akhirnya datang, periksa laporan si perawat, trus memeriksa gue, dan taraaaaaaaa…..Kamu boleh pulang!

Huaaaaa….memblenya mak. Cuma segitunya sih dok. Perih! 😩

Kata si dokter, diare yang gue alami bisa gue atasi di rumah. Gue ga perlu menginap di rumah sakit. Dan tidak perlu meminum obat. Minum yang cukup saja. You dont need to be worry. Dan its true, gue sembuh dong. Dan terbukti sampai hari ini, gue masih sehat aja dan tetap menulis di blog. Hahaha.

Inti dari cerita di atas adalah, pasien manjah tidak terlalu diladeni. Selama hasil tes semuanya normal, tidak perlu merengek rengek. Wong jalan ama tegang leher aja masih bisa kok 🙂

Gue cuma terkena Culture Shock.  Terbiasa dicekokin dengan obat dan maunya sembuh cepat pakai jalan pintas.  Padahal tanpa obat pun sebenarnya bisa sembuh. Pokoknya antibiotik sesuatu yang sangat jarang diterima pasien di Swedia. Sangat hati hati. Kalaupun ada antibiotik sejuta umat yang dijual tanpa resep dokter, jenisnya juga tidak banyak. Sudah lolos sensorlah.

8. TIDAK PERNAH MELIHAT SALES FARMASI di RUMAH SAKIT

Dulu kalau menunggu antrian dokter, sering melihat para sales farmasi menunggu atau menghampiri dokter ketika lewat. Tujuannya sudah bisa dimengerti untuk apa.

Di rumah sakit Swedia gue belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Gue kurang mengerti juga, seperti apa kordinasinya. Yang gue tau hanyalah, dokter cukup menulis resep melalui sistem online yang langsung conecting ke seluruh apotek di Swedia. Jadi ga pake tulisan di selembar kertas lagi.

Nanti begitu tiba di apotek, pasien hanya memberitahu Person Number (semacam nomor kode perseorangan) dan barulah obat diterima pasien lengkap dengan keterangan obat dan cara pemakaiannya.

Begitupun dengan rekam medis pasien, semuanya memakai sistem komputerisasi. Mulai dari dokter yang pernah menangani, tindakan apa saja yang sudah dilakukan terhadap pasien, tes laboratorium, jenis obat atau vitamin yang pernah kasih. Jadi kalau next time dokternya ganti, riwayat pasien bisa kelihatan. Pasien pun tidak harus bolak balik menerangkan panjang lebar lagi.

9. LAYANAN GRATIS KESEHATAN 

Setiap warga negara dan  pemegang kartu Resident Permit di Swedia,  semuanya berkesempatan untuk mendapatkan layanan gratis kesehatan dari pemerintah. Namun ada ketentuannya.

Untuk biaya layanan rumah sakit secara keseluruhan, seperti biaya dokter, periksa kesehatan, dan opname, pasien wajib membayar biaya pengobatan sesuai jumlah tagihan di setiap kunjungannya. Namun biaya pengobatan ini hanya dibatasi sampai senilai 2000 Sek dalam setahun. Apabila sebelum jangka waktu satu tahun si pasien sudah mengeluarkan biaya sampai 2000 Sek, maka sisa bulan dalam setahun itu menjadi gratis. Demikian ketentuan ini berlaku sampai tahun tahun berikutnya.

Demikian juga dengan biaya obat obatan. Jika pembelian obat mencapai 2500 Sek sebelum jangka waktu setahun, maka pembelian obat bulan berikutnya menjadi gratis.

Sedangkan untuk perawatan gigi, jika pembayaran sudah mencapai 3000 Sek sebelum jangka waktu satu tahun, maka pembayaran selanjutnya diberi potongan 50 % (untuk gigi tidak ada layanan gratis).

10. TIDAK ADA PASIEN KELAS SATU, DUA DAN TIGA

Yup…tidak ada pasien beda kasta di rumah sakit Swedia. Semuanya sama sama mendapat pelayanan terbaik. Kalau bicara hati nurani, idealnya sih harus seperti ini ya.

fullsizerender-23

Lantas, sudah cukup puaskah warga Swedia dengan sistem pelayanan kesehatan di negaranya? Sepertinya tidak juga. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Di satu sisi ada saja keluhan akan kebijakan pemerintah Swedia yang ingin mengurangi kegiatan rumah sakit di kota kota kecil, dan menggabungkannya ke kota besar. Efisiensi waktu dan biaya oprasional menjadi faktor utama.

Tapi buat gue pribadi, dari pengalaman berobat yang gue jalani dari waktu ke waktu, semakin hari semakin merubah pola pikir gue akan pelayanan rumah sakit di Swedia. Lebih membuka matalah.

Meskipun pernah mendapat pelayanan kurang mengena di hati, tetapi secara keseluruhan rasa kemanusiannya lebih diutamakan daripada nilai uang. Gue tidak perlu menjadi orang kaya dulu baru bisa mendapat pelayanan yang baik.

FullSizeRender (26).jpg

Gue juga lebih bisa memahami, ketika sakit, ya harus sabar dan tidak perlu adu urat leher dan minta diladeni cepat. Bisa mengertilah mana yang harus diprioritaskan. Karena gue sudah mengalami semua, dari yang sakit ecek ecek sampai sakit yang benar benar menakutkan. Gue sudah melihat dan merasakan langsung, bagaimana dokter menangani pasien yang benar benar darurat dan tidak.

Contohnya ketika gue sakit sampai dibawa ambulance. Dokter seketika datang, cek darah, cek jantung, bolak balik masuk ruangan, scanning kepala, dan langsung menyuruh gue opname di rumah sakit. Jadi baru gue paham, kenapa ketika menderita diare, dokter tidak buru buru menangani gue.

Karena mengobati pasien yang kondisinya lebih kritis, bertarung dengan nafas dan nyawa, sudah sewajarnya mendapat pertolongan yang cepat. Ini semua masalah pemahaman dan pengertian kita aja🙂

See you in my next story

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

26 Comments

    1. Entahlah Ulfa, aku juga dolo lumayan sering ke rumah sakit di Jakarta. Semua mahal, nunggu antrian lama, tp ketemunya cuma sebentar. Mana obat juga dilibas harganya. Tapi semogalah sekarang lebih baik ya. Berharap ada jaminan kesehatan gratis dalam arti yang baik. Sampai tua juga

      Like

      1. Iya ka kmrn jg aku pakai BPJS akhirnya dipakai juga tuh dan lumayan ko pelayanannya klo ikuti prosedur, maklum org disini maunya komplen aja tanpa ikutin prosedur yg benar, dan klo ada yg gak bagus tinggal lapor om ahok pasti lgsg dibahas, hahaha,…klo dulu kita lapor dicuekin sebel skg gak dong.

        Like

    1. Maksimal satu ruangan 4 orang beth. Tp tergantung si pasien kalau parah banget dibuat satu kamar buat dia sendiri. Kalau terkena infeksi juga satu kamar ga boleh gabung. Kalau aku dua kali opname selalu dibuat di satu kamar dan itu kamarnya buat aku sih terlalu besar.

      Like

      1. Ya sama sih di sini kalau yang asuransi standard sekamar maksimal berempat kalau yang private maksimal berdua tapi pasien dikasih option untuk dapat kamar sendiri kalau dia mau bayar lebih. Aku trauma, opname pertama di sini sekamar bertiga dan nggak ada pembatasnya apapun. Pasien sebelah lagi dimandiin, kita bisa lihat semua… ga ada korden at all 🙈 Alhamdulillah ga harus sering opnam di RS, opnam kedua pas lahiran si Flipper, minta kamar sendiri😅

        Like

      2. Ehhh d Jerman pake asuransi beth? Bukan layanan gratis dr pemerintahkah? Kalau di Swedia kita ga bisa minta. Semua ngikut kebijakan rumah sakit. Mungkin karena layanan yang cenderung gratis itu kali ya. Tp itu pun menurut aku manusiawi bgtlah keadaannya😂 aduhhh iyalah, mau gratis kek yang namanya sakit siapa yang mau. Sakit bgt kalo sakit

        Like

      3. Pake kak, semua warga wajib punya asuransi kesehatan. Sistemnya kayak tax gitu, dipotong langsung dari gaji. Kalau yang nggak mampu atau penerima welfare dari pemerintah ya beda lagi sistemnya.

        Liked by 1 person

    2. Oh iya, pasien kelas 1, 2 , 3 di tulisan ini maksudnya bukan fokus ke layanan kamar, tp lebih kepada status sosial aja. Dimana layanan kamar yang lebih baik bisa didapat kalau kita bayar lebih. Layanan pun lebih spesial. Itu yang maksud aku ga ada di Swedia. Semua sama aja untuk urusan kamar. Adil.

      Like

  1. Helena, kamu kebalikanku. Aku sejak dulu paling anti sama dokter dan obat2an. Aku bukan anti profesinya tapi aku ga suka karena mereka kasih tau penyakit ini itu dan aku ga suka karena mereka lebih tahu. Padahal, dokter ya tugasnya itu ya haha. Akunya aja yg aneh. Makanya aku dulu anti banget ke dokter, RS atau konsumsi obat. Kalau ke RS pasti kondisinya sudah parah misalkan sakit tipes, operasi usus buntu. Selama masih bisa “ditangani” sendiri misalkan flu cukup hajar dengan air hangat kasih jeruk. Atau kalau pusing ya tidurin aja nanti bangun2 sudah sembuh. Makanya selama di Belanda juga jarang banget ke dokter umum (ya jangan sampe sering2 haha). Di sini juga segala sesuatunya lewat dokter umum. Btw, di Indonesia kalau mau beli antibiotik ga usah ke dokter. Antibiotik dijual bebas 😅
    Sejauh ini hubunganku dengan medis di Belanda menyenangkan dan menenangkan. Walaupun pas sebelum keguguran dulu lumayan shock pas telpon bidan karena aku flek lumayan banyak, trus dibilang “oh tunggu aja, itu tanda2 keguguran. Santai saja. Nanti kalau pendarahannya banyak, langsung telpon ambulance” whaatt??!! Kok ga dikasih obat penguat atau apalah itu malah disuruh nunggu keguguran. Tapi dikemudian hari aku ngeh setelah dikasih tau obgyn bahwa keguguran itu proses alami. Ga bisa ditahan dan ga ada yg tau penyebabnya. Lebih baik keluar secara alami daripada ditahan tapi ga ada hambatan perkembangan di dalam. Obgyn2 sini baik2 deh, ramah. Bidan2nya juga. Dokter giginya juga, masa kalau aku pas kontrol (1 tahun sekali), selalu ditanya “mau diputar lagu apa? Bon Jovi atau Coldplay?” Haha.

    Liked by 1 person

  2. Iya terkait keguguran itu sama penjelasan dokternya Den. Aku juga dolo mikir pasti karena ga dikasih obat penguat atau jarang di usg makanya keluar. Padahal yang namanya keguguran apalagi sebelum 3 bulan itu memang ga bisa diakali ya pasti keluar juga.
    Aku kalau demam biasa masih tahan den, yang suka itu kalau merasa ada yang aneh. Anehnya ini yang diada adain😂 kalau ga ke dokter suka nimbun sendiri pikiran jeleknya. Yang kena itulah inilah. Payah aku memang.

    Like

  3. Yang antibiotik ketinggalan 😂😂 iya bener banyak bgt dijual bebas. Tp ke dokter pun kebanyakan dikasih obat juga. Di Swedia ada beberapa yang dijual bebas. Tapi sepertinya uda lolos sensor sebagai antibiotik sejuta umat. Tidak dianggap berbahaya

    Like

  4. Oh iya ada lagi yg kelupaan. Sistem rekam medis di sini juga komputerisasi. Maksudnya meskipun ganti2 dokter, misalkan obgyn, mereka tahu riwayat kesehatan kita sebelumnya. Jadi ga perlu cerita lagi dari awal. Dan mereka juga tahu dokter2 siapa saja yg sudah menangani sebelumnya. Jadinya kan enak ya ketahuan tindakan2 apa saja yg sudah dilakukan dan apa yg harus dilakukan. Trus kalau bikin janji dengan dokter, sehari atau dua hari sebelumnya pasti ada sms yg ngingetin kalau kita ada janji dengan dokter atau rumah sakit, jadi ga bakalan lupa. Kecuali untuk rumah sakit tertentu misalkan cek TBC (wajib inj buat pendatang setiap 6 bulan sekali untuk yg dari Indonesia), mereka kirim surat. Kalau yg papsmear dan cek2 organ dalam, ini juga wajib setiap dua tahun sekali dan gratis, mereka kirim surat.

    Like

    1. Wah hampir sama Den dengan di Swedia, aku kelewatan bagian ini. Hahahha uda puyeng nulisnya. Bener sistemnya uda komputerisasi. Jadi kalau ganti dokter ga bolak balik jelasin. Sampai di klinik gigi juga gitu. Aku malah cuma jelasin ttg resep obat aja yang masuk komputerisasi online. Tar coba aku revisi. Makasih infomu den. Berguna jd saling tau. Aku juga jd tau apa yg kelewatan😘😘

      Like

  5. Ah teringat praktik di Swedia, belajar banyak ttg cara menangani pasien di ER sama di ambulance..ada loh photoku Len, pake baju kayak armi dan boots keceh..mereka kasih pinjam buat praktikan. Aku bangga banget bisa belajar sistem kesehatan Swedia. Di Greenland kerja di ruang patah tulang..sistemnya sama kayak Swedia. Dibanding suasana kerjaku waktu di RS Indonesia. Sudahlah..tidak usah dibahas 😀 ha ha ha

    Like

    1. Salut aku sama boru batak satu inilah. Pintar kali sampe dipercaya pertukaran pelajar. Mana photonya, cok dolo buat tulisan mengenai pengalaman belajarmu itu. Iya sepertinya di sakndiv dan beberapa negara maju sudah hampir samalah standard pelayanannya ya. Hhhmmm itulah maksud aku, ga perlu kita bahas panjang nostalgia kerja di tanah air dolo. Ingat makanannya ajalah yang enak enak😂😂 jadi skrg kau masih di rumah sakit kerja?. Sukses terus buat karirmu ya

      Like

  6. Aku klo ngerasa aneh di badanmalas ke rumah sakit atau ke dokter. Hehehe parno aja ntar di vonis macam2… jadinya lebih jaga kemakanan sama berjemur tiap pagi.

    Katanya emang klo di luar dokternya jarang ngasih obat klo nggak terdesak banget 🙂

    Like

    1. Betul mba, sebenarnya bukan hy di Swedia, byk yg nerapin ini. Aku maunya juga seperti dirimu mba, ga ke dokter, drpd dengar vonis macam macam, tp balik lg makin ga ke dokter yg ada aku malah makin aneh2 mikirnya😂😂😂 grrr tah apalah. Makasih buat komennya ya👍🏻🙂

      Like

  7. Beda banget ya Helen sama di Indonesia, setidaknya begitulah yang aku rasakan ketika membaca ceritamu. Dan aku jadi kagum sama kecanggihan bidang kedokteran di sana…

    Salam kenal btw 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s