Menikmati Suasana Roman di Baston Hill Park

Berbicara taman di Eropa, emang uda surganya kali ya. Setiap negara di benua ini rata rata pasti punya taman apik dan bersih. Taman merupakan fasilitas publik yang rasa rasanya wajib ada. Masing masing taman pun punya daya tarik tersendiri.

Seingat gue, belum pernah secara khusus gue mengangkat judul tulisan khusus tentang taman. Paling gue selipin di tulisan yang lain. Berhubung taman yang satu ini lumayan mencuri hati, akhirnya gue angkat ke permukaan deh khusus satu judul.

IMG_7957.jpg

Sebenarnya kota Riga Latvia memiliki beberapa taman yang lokasinya berada di jalur jalan yang sama. Cuma masing masing dipisahkan oleh bangunan saja. Menurut pengamatan gue sih begitu ya. Seperti Esplanade, Vermanes Garden dan yang paling gue suka adalah Baston Hill Garden Parknya. Nah, antara Vermanes Garden dan Baston Hill ini sekilas seperti berada di satu kawasan deh, tapi gue kurang yakin juga. Seingat gue, sewaktu berjalan dari Vermanes Park, bisa conecting ke Baston Hill.

IMG_7936.jpg

IMG_7933.jpg

Sesuai namanya, Baston Hill memiliki area yang agak berbukit. Tapi bukan bukit beneran sih. Cuma agak naik turun gitu tanahnya. Karena bertepatan di musim panas, jadi hamparan rumput di taman ini terlihat cerah banget. Hijaunya mirip karpet.

IMG_7954

IMG_7932.jpg

Secara keseluruhan, penataan tamannya tidak ada yang luar biasa. Sederhana aja. Malah nih, tanaman bunganya pun tidak terlalu banyak. Tapi Baston Hill menjadi terlihat lebih luas justru karena hamparan rumput hijaunya itu. Dan yang bikin makin sempurna, ada aliran sungai kecil di sepanjang pinggiran taman Baston Hill ini. Diantara pohon pohon rindang. Pokoknya berasa nature banget.

IMG_7930
Tuh kan, gembok cintrongnya aja banyak. Hahaha

Taman yang bukan sekedar menawarkan ketenangan, tapi juga suasana romantis. Menurut gue, untuk sebuah taman, rumput hijau yang dibarengi aliran sungai merupakan perpaduan yang paling cocok. Karena ga semua taman ada aliran sungainya kan.

Apalagi, pihak pengelola taman menyediakan perahu kayu kecil yang bisa dinaiki untuk sekedar melepas lelah sehabis mengitari kota Riga. Sembari menikmati keindahan taman dan kota Riga juga.

Perahu ini pelan pelan mengitari aliran sungai kecil di sepanjang pinggiran taman. Ih, gue suka. Peace banget. Melihat orang orang yang duduk santai di pinggiran sungai, membaca, bercengkrama dengan teman atau pacaran (ini gue nebak aja). Emang asik sih tamannya.

IMG_7956

IMG_7955.jpg

IMG_7937

Dari aliran sungai kecil di Baston Hill, perahu kemudian keluar memasuki dan melewati sungai Daugava yang besar. Mirip laut. Udah deh, tinggal nikmati aja bangunan bangunan kota Riga dari sungai ini. Apalagi perahunya ga terlalu gede, dan modelnya masih tradisional. Makin roman roman aja bawaannya kan. Hahaha.

Tepat di seberang jalan Baston Hill, berdiri Freedom Monumen, yang menjadi iconic terkenal di kota Riga. Monumen yang dibangun untuk mengenang para prajurit Latvia yang tewas memperjuangkan kemerdekaan.

IMG_7949

Tak jauh dari monumen, berdiri Nativity Catedral, gereja ortodoks Rusia yang megah. Tidak seperti gereja kebanyakan di Eropa yang bergaya barok klasik, gereja ortodoks Rusia memang sedikit berbeda. Memiliki beberapa kubah yang sekilas mirip kubah mesjid.

IMG_7926.jpg
Nativity Catedral

Di dalamnya ga usah ditanya, meriah dengan lukisan art yang memenuhi dinding gereja. Dan satu lagi, hampir tidak ada kursi, karena jemaat ortodoks selalu beribadah dengan cara berdiri. Tapi sayang, dilarang mengabadikan foto di dalam.

IMG_7962.jpg
Vermanes Garden. Dari sini bisa conecting ke Baston Hill

“Semua foto merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com” 

Semarak “Art Nouveau” di Kota Riga Latvia

Art Nouveau (New Art) merupakan karya seni yang sangat populer antara abad 19 hingga 20, tepatnya di era tahun 1890 dan 1910. Art Nouveau tidak hanya meliputi seni Arsitektur, melainkan juga Design Interior (dekorasi), dan Gaya Art Internasional (termasuk seni musik, teather, lukisan, ukiran, hingga pahatan). Art Nouveau sendiri sangat identik dengan bentuk bentuk meliuk dan lengkungan yang terinspirasi dari alam, seperti tanaman dan bunga bunga.

IMG_6850

IMG_6849
Beberapa contoh arsitektur bangunan dengan motif Art Nouveau di setiap relief dindingnya

Sehingga tidak heran, jika jenis seni yang satu ini sering memadupadankan anggota tubuh manusia dengan liukan tanaman dan bunga. Karya seni Art Nouveau sebenarnya lumayan mudah dikenali di kehidupan sehari hari. Mulai dari motif di gelas, piring, taplak meja, lemari, karpet, lukisan dinding, bingkai foto, tissue, pot bunga, wallpaper, corak kursi/sofa dan masih banyak lagi. Terkhusus barang antik, biasanya bentuk lengkungan dan liukan Art Nouveau sangat mudah didapati. Karena seperti yang gue sebut di atas, karya seni ini tidak hanya terbatas pada arsitektur bangunan, tapi juga design interior dan model art yang lebih universal.

IMG_7102

IMG_6845

IMG_6859
Kompilasi bentuk Art Nouveau

Sejujurnya, pemahaman akan Art Nouveau baru benar benar gue mengerti setelah memasuki gedung museum Art Nouveau di kota Riga Latvia. Di dalamnya terdapat berbagai macam benda Art Nouveau dengan corak dan bentuk yang sangat mudah dipahami. Khas sekali. Untuk lebih memudahkan, bisa dilihat dari gambar gambar yang gue posting ya.

IMG_7101

IMG_6854
Detail Art Nouveaunya cantik banget. Sampai besi balkonnya juga bergaya Art Nouveau

Kota Riga lumayan terkenal memiliki banyak bangunan berarsitektur Art Nouveau. Setidaknya, 30 persen bangunan Art Noveau berdiri di pusat kota ini. Riga adalah “salah satu” kota yang  memiliki bangunan bergaya Art Nouveau terbanyak di Eropa. Terutama di dua kawasan jalan bernama Alberta dan Elizabetesyang mana kedua jalan ini pun akhirnya ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata di kota Riga.

IMG_6863

IMG_6856

Di kawasan jalan Alberta dan Elizabetes inilah, bisa dilihat betapa kuatnya pengaruh Art Nouveau terhadap arsitektur bangunan di pusat kota Riga dulunya. Sehingga tak heran, dari kedua jalan tersebut, tepatnya di kawasan Alberta, berdiri museum Art Nouveau, yang lagi lagi bangunannya juga bergaya Art Nouveau. Gue sangat merekomen museum ini. Cantik!

IMG_6819
Museum Art Nouveau. Di dalamnya cantik banget semua. Nuansa abad ke 19 sangat kental berasa. Karpet di lantai bermotif Art Nouveau, bingkai foto, semuanya detail menampilkan nuansa Art Nouveau
IMG_6812
Wallpaper Art Nouveau. Jaman sekarang pun motif ini masih dipakai
IMG_6832.jpg
Ini gue foto dari lantai dasar museum. Sebuah tangga di museum yang meliuk berbentuk lingkaran. Lengkap dengan liukan gambar gambar khas Art Nouveau. Sampai pagar besi di tangganya pun bermotif Art Nouveau

IMG_6834.jpg

Dalamnya penuh dengan benda benda yang sudah pasti bernuansa Art Nouveau. Mulai dari tangga museum yang meliuk dari bawah hingga atas, para pegawai yang berpakaian abad ke 19, peralatan rumah tangga, koleksi porcelain, duh bikin gemes.

IMG_6808
Berbagai koleksi porcelain yang aduh duh duh menggemaskan. Corak Art Nouveaunya beneran membuat kalap pengen nyolongin. Hahaha
IMG_6803
Nih, design Art Nouveau di salah satu tea cup porcelain

Dari sinilah gue baru menyadari, benda benda yang sering gue lihat di rumah, ternyata bagian dari Art Nouveau. Contoh kecil, seperti tea cup dan karpet motif bunga, pegangan besi pada laci atau pintu lemari dengan ukiran meliuk. Itu familiar banget kan.

IMG_6806
Hayoo, karpet motif gini familiar banget kan! Demikian juga dengan teko dan kotak kaleng di bawah ini. Penggemar barang antik pasti familiar dengan coraknya

Berada di dalam museum sempat membuat gue terheran, tepatnya katrok. Jadi pas melewati sebuah kaca, tiba tiba muncul seorang pria mengenakan jas, sambil berjalan. Muncul, berjalan dan menghadap ke depan kaca tepatnya.  Sambil bilang “selamat datang”.

IMG_6813

IMG_6823
Lemari dengan ukiran melengkung, tempat lilinnya juga. Akrab banget di mata model yang beginian. Gantungan lampu di bawah ini juga, mirip lampu lampu antik di keraton jawa

Awalnya gue berpikir, kok bisa pas banget sih timingnya ngomong selamat datang. Pas gue lewat pula. Nah, ga lama kemudian, masuk lagi turis lain. Eh, dia nongol lagi dong dan ngucapin kalimat yang sama. Si turis itu juga sama katroknya dengan gue, mereka juga terlihat kaget dan bingung. Alhasil kami jadi liat liatan. Hahaha.

IMG_6814
Hadeh, jatuh cinta dengan sofa ini. Motif Art Nouveaunya bagus banget. Dan taplak meja itu dong, motifnya akrab di mata. Emak gue dulu suka model taplak meja mirip kayak gini. Hahaha

IMG_6815

IMG_6818

Gue kurang tau pasti, sepertinya ada alat sensor di sekitar ruangan. Mungkin dipasang di dekat kaca. Daripada penasaran, gue pun mencoba melewati kaca itu lagi dan berdiri pas di depannya. Ehhh dia muncul dan lagi lagi bilang “selamat datang”. Tuh kan, kayaknya memang ada sensornya. Niat banget kan gue, sampai ngetes kayak gitu. Kurang katrok apa coba. Hahaha.

IMG_6811

IMG_6810

Demikian juga di ruangan lain, ada kaca yang kalau kita mendekat di jarak tertentu, muncul dua orang wanita berpakaian abad ke 19. Bergerak gerak. Jadi serasa nonton film horor Noni Belanda gitu deh. Hahaha.

IMG_6801

IMG_6796
Studio photo, kamera pas di atas pintu dan dinding dindingnya penuh dengan foto abad ke 19 hingga 20

Nah, di museum ini juga tersedia studio foto. Sederhana dan praktis. Dengan merogoh kocek 2 euro, kita sudah bisa memilih pakaian ala abad ke 19 lengkap dengan topi bulu bulu melambai manja. Tinggal ikuti petunjuk. Pertama scan barcot pembayaran di mesin yang tersedia, langsung duduk manis, dan……cekrek!

Otomatis kamera di atas dinding menyala. Udah deh, tinggal print. Dapat 4 buah foto. Satu foto bisa langsung di print di museum, dan tiga foto lainnya bisa di email ke alamat email yang kita sertakan. Mayanlah, buat seru seruan. Kalau mau beli souvenir bermotif Art Nouveau juga bisa. Seperti gambar di bawah ini.

IMG_6829
Souvenir bermotif Art Nouveau
IMG_6792
Museum Art Nouveau di jalan Alberta

To be Continued…

“Semua foto adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”

Latvian Ethnographic Open Air Museum

Gue dan suami adalah pasangan yang lumayan sering mengunjungi Open Air Museum, karena  selain memiliki cerita history, bangunan di kawasan museum berjenis seperti ini mostly menampilkan berbagai bentuk rumah rumah tradisional yang unik dan lucu.

IMG_6374.jpg

Belum lagi para tim penggembira museum yang berpenampilan ala ala Little Missy yang lumayan menghibur mata. Setidaknya begitulah gambaran museum udara yang sudah pernah gue kunjungi. Seperti Den Gamle By di Aarhus Denmark, Jamtli di Ostersund, dan Skansen di Stockholm, Swedia.

IMG_6373

Tak terkecuali Riga Latvia, kota ini pun memiliki museum udara yang terbilang sangat luas bernama Latvian Ethnograhic Open Air Museum. Berdiri di kawasan yang sangat luas, kalau tidak salah kurang lebih 80-an hektar meter persegi. Di sekitar Lake Jugla dan dikelilingi hutan kayu lebat, aroma nature benar benar masih berasa di open air museum ini.

IMG_6372
Suka melihat jalanan ini. Lokasinya persis di pintu masuk museum

Buat yang memang benar benar menyukai wisata seperti ini, mengunjungi Latvian Ethnographic tidak cukup hanya 2 hingga 3 jam.  Saran gue sih, luangkan waktu seharian biar jalannya bisa santai. Fokusin agendanya hanya untuk melihat museum. Bukan apa apa sih, menurut gue  lumayan melelahkan juga mengitari semua kawasannya. Apalagi kalau dijalani buru buru, makin gempor deh.

IMG_6335

IMG_6360

Latvian Ethnographic merupakan salah satu open air museum tertua dan terluas di Eropa. Memiliki 118 bangunan bersejarah yang berasal dari berbagai propinsi di Lativia. Konon, semua bangunan dari berbagai wilayah di propinsi Latvia sengaja diangkut dan dikumpulkan menjadi satu di kawasan museum udara ini. Bangunan bangunan yang mewakili sejarah  wajah Latvia di masa lampau. Mulai dari rumah, gudang, lumbung gandum, gereja, bahkan peralatan peralatan rumah tangga yang digunakan sehari hari di masanya.

IMG_6365.jpg

IMG_6353.jpg

IMG_6330

Di museum ini pengunjung bisa melihat bagaimana kehidupan bangsa Latvia ratusan tahun silam. Seperti apa ruang tamu mereka, kamar, tempat tidur, lemari, peralatan masak, perabotan rumah, perapian, hingga cara mereka mendapatkan air pun, bisa dilihat di museum ini.

IMG_6364
Bangunan tempat mandi
IMG_6347.jpg
Daun Birch. Sehabis mandi dipukul pukul ke badan agar perendaran darah lancar katanya.

Bahkan sebuah bangunan yang dibangun sekitar tahun 1862, yang berfungsi sebagai tempat mandi/sauna juga ada. Bathtubnya terbuat dari ember kayu besar berisi air. Pemanas air berasal dari bongkahan batu batu besar di sampingnya. Sehabis mandi mereka lalu memukul mukul badan dengan ikatan ranting daun birch. Lucu juga ngebayanginnya.

IMG_6689.jpg

IMG_6348

IMG_6367

Ada pemandangan unik yang lumayan menarik perhatian gue, tepatnya ketika memasuki halaman sebuah gereja tua yang diperkirakan dibangun pada awal tahun 1700 an. Gue melihat sebuah tiang kayu lengkap dengan besi tua berbentuk lingkaran layaknya kalung besi. Awalnya gue pikir dipakai untuk memenggal kepala gitu. Ternyata salah.

IMG_6369.jpg
Bangunan gereja yang dibangun tahun 1700 an. Sedangkan foto di bawah, merupakan foto di dalam gereja yang sudah. Dan tiang kayu tempat menghukum orang

Jadi konon dahulu, jika seseorang melakukan kesalahan yang cenderung memalukan, ada hukuman sosialnya. Dan biasanya, orang tersebut akan diikat ke tiang kayu dan melinggakarkan kalung besi tadi di lehernya. Tujuannya agar dia merasa malu, ketika banyak jemaat gereja yang melihat dan mengetahui perbuatan jeleknya. Kira kira seperti icuuuuuuu!

IMG_6356.jpg

IMG_6355.jpg
Sumur beserta ember kayu untuk mengambil air

Bangsa Latvia ternyata lumayan mempercayai kekuatan gaib. Bahkan hingga sekarang kepercayaan seperti ini masih bertahan dalam bentuk pernak pernik kerajinan tangan. Sewaktu kami hendak memasuki sebuah bangunan, terlihat seorang wanita paruh baya mengibas ngibaskan sesuatu ke kami. Sesuatu yang mirip benda anyaman dari jerami.

IMG_6250.jpg
Si nenek penjaja souvenir pengusir hantu hehehe
IMG_6346
Benda yang dianggap mampu mengusir hantu

Menurut beliau, benda tersebut mampu mengusir setan. Dalamnya berisi biji bijian, yang kalau digoyang mampu mengeluarkan suara. Nah, suara suara itulah yang katanya ampuh mengusir setan. Benda pengusir setan ini bisa dibeli sebagai oleh oleh atau buah tangan.

Merasa kurang enak, kami pun membeli. Kasihan melihat si nenek uda acting dan capek jelasin, kali aja setan di rumah gue mungkin bisa kabur. Hahahaha….kagaklah becanda. Gue sih mengganggapnya sebagai barang unik dan lucu aja.  Benda yang sepertinya mewakili cerita legenda bangsa Latvia. Dan kebetulan gue memang penyuka souvenir. Si nenek tadi juga menjual kerajinan telur dan hiasan natal. Macam macamlah. Harganya berkisar antara 10 hingga 20 euro kalau tidak salah.

IMG_6354.jpg
Wanita Latvia dengan baju tradisonal Latvia

Rata rata, bangunan di Latvian Ethnographic Open Air Museum dijaga oleh pria maupun wanita berpakaian tradisional khas Latvia. Tapi sayang, beberapa dari mereka terkesan kaku dan tidak bisa bahasa Inggris juga. Kurang atraktiflah jika gue bandingkan dengan open air museum yang pernah gue datangi. Dari segi pengunjung pun, rasanya tidak terlalu banyak. Gue kurang tau pasti sih, apa karena kami datang di hari yang salah. Biasanya kalau musim panas, open air museum seperti ini selalu mengadakan acara hiburan seperti teather ala ala, atau acting kecil kecilan dari tim museum untuk memberi kesan lebih hidup akan nuansa jaman dulunya. Seperti di museum udara Jamtli Ostersund misalnya. Senang banget melihat acting tim museumnya. Jadi pas masuk ke dalam bangunan, pengunjung terhibur dengan acting mereka yang sedang memasak, menjahit, menyuci piring, membuat roti, dan kadang kadang mereka juga sambil ngobrol satu sama lain, layaknya tidak ada turis di dalam ruangan. Natural sekali actingnya. Jadi turis tidak melulu melihat benda mati. Dan tidak gampang bosan juga. 

IMG_6363
Bangunan berisi kerajinan tangan seperti kapak, pisau dan peralatan pendukung. Pengunjung bisa langsung membuat sendiri mata uang koin dengan menggunakan palu. Alatnya seperti gambar di sebelah kanan bawah.

Selain itu, penempatan semua bangunan di Latvian Etnographic Open Air Museum ini pun terkesan monoton. Bahkan ada beberapa bangunan yang diletakin menyendiri di tengah hutan dan terlihat seperti kurang terurus. Entahlah apa cuma pemikiran gue aja. Tapi menurut suami pun begitu. Dari tapak jalan dan rumput yang kami lewati, bisa kelihatan kalau jalanan itu jarang dilewati. Tapi bagi yang memang suka kesepian, feelnya dapat sih. Naturenya lebih berasa.

IMG_6576.jpg

IMG_6340.jpg

Parahnya lagi, seluas itulah museum ini, tidak ada cafe kecil untuk sekedar bisa melepas dahaga atau lapar di titik titik lokasi tertentu. Kan ga semua juga ya niat bawa air putih atau cemilan di ransel. Kalau pun ada, mau berapa botol? Namanya jalan segitu jauh pasti cepat haus kan. Bahkan bangku untuk sekedar rest sebentar pun tidak tersedia. Masa mau tancap jalan terus? Tega banget sih mak! Hahaha.

Cafe restoran cuma ada di area pintu masuk. Beda banget dengan museum udara di Skansen Stockholm. Lebih terkodinir sepertinya. Artinya mereka sudah lebih paham, seluas apa kawasan yang dilewati turis. Jadi yang namanya cafe kecil, ada aja di beberapa titik lokasi. Pun bangku bangku tempat beristirahatnya. Bangunan tuanya juga diselang seling dengan taman kecil, peternakan sapi, pabrik dan toko jadul. Jadi yang dilihat pun lebih bervariasi. Kan pengunjung bukan orang dewasa aja. Anak anak juga ada.

IMG_6325.jpg
Walking

Itu berasa banget pas kami melewati jalanan yang memang forest banget. Pas berasa cape ga tau mau rest dimana. Bangku sebiji pun kaga ada. Hal inilah yang membuat kami jadi cepat merasa bosan. Mentok cuma melihat bangunan yang lama lama bentuknya itu lagi dan itu lagi. Awalnya sih masih ecxited, lama lama mulai entahlah mak! Hahaha.

IMG_6334

IMG_6358.jpg

IMG_6366

Mana perut mulai lapar. Wajarlah uda lewat jam makan siang. Nah, kalau harus makan ke restorannya, kan uda malas ya harus balik arah lagi melihat yang lain. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sepertinya ada beberapa bangunan yang kami tidak lihat lagi.

IMG_6319.jpg
Senang duduk di luar cafe restonya. Viewnya langsung menghadap forest
IMG_6318
Country soup. Enak. Untuk semua menu makanan dan minuman dikenai 13 euro. Relatif murah dibanding harga di kawasan old town Riga.

Tapi lagi lagi ini pemikiran gue aja sih. Karena kalau melihat review, rata rata turis yang datang ke museum ini komennya oke oke aja. Mungkin karena gue bandingin dengan museum udara yang pernah gue kunjungi sebelumnya, yang lebih atraktif dengan hiburan hiburan kecilnya.

Oh iya, gue suka banget dengan cafe resto museum ini. Bangunan wooden house tua. Autentik banget. Dalamnya pun asik. Trus suasana di luarnya juga enak. Langsung menghadap forest gitu. Adem banget rasanya. Makanan di restonya relatif murah sih menurut gue. Gue merekomen menu country soupnya. Lumayan enak. Boleh dicoba.

Satu lagi, coba juga minuman Kvass khas Baltik. Minuman ini rasanya unik. Mirip soft drink bercitra rasa manis gula aren. Katanya sih minuman non alkohol. Atau beer low alcohol di bawah 2 persen. Pertama nyoba gue langsung sukaaaakkkk! Mungkin karena rasa gula aren kali yak! Hahahha.

IMG_6321
Kvass, rasa gula aren. Hahahaha

Menuju Latvian Ethnographic Open Air Museum, bisa ditempuh dengan Bus nomor 1  dari pusat kota Riga. Perjalanan kurang lebih 1/2 jam.

To be continued..

“Semua photo merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

 

Menikmati Nuansa Medieval di Negara Baltik (Riga Latvia)

Musim panas tahun ini merupakan musim yang lumayan menyita waktu gue dan suami. Terutama suami sih. Mempersiapkan lelang, terkait warisan mendiang kerabat, yang ternyata merepotkan juga. Sampai sampai suami harus cuti beberapa kali dari kantornya.

Belum lagi segala urusan yang berhubungan dengan pajak, notaris, buyer, membuat dia enggan memikirkan hal lain. Termasuklah urusan liburan. Dan gue pun bisa mengerti, karena kalau ngomongin liburan harusnya pikiran bebas dari segala urusan ini itu kan. Kalau dipaksakan yang ada liburannya malah kurang asik.

IMG_5916

Tapi cerita pun menjadi lain, karena di luar dugaan kami, ternyata segala urusan tetek bengek di atas bisa terselesaikan lebih cepat. Dan singkat cerita, akhirnya kami pun bisa dengan tenang memikirkan acara liburan musim panas tahun ini.  Dan tempat yang kami pilih juga ga jauh jauh. Masih di sekitaran wilayah Baltik, tepatnya di kota Riga, Latvia. Meskipun cuma sebentar, akhirnya kami bisa juga menikmati summer holiday, sekalian merayakan anniversary tiga tahun pernikahan kami. Huraaaaaaaaaaaaaaa!!

IMG_5805.jpg
Skål aka Cheers for anniversary!

Berkunjung ke negara bekas pecahan Uni Soviet ini, sebenarnya sudah ada dalam agenda jalan jalan kami jauh sebelumnya. Tepatnya sehabis mengunjungi kota tua Tallin Estonia tahun lalu, yang kebetulan juga sama sama berada di wilayah Baltik. Waktu itu kami benar benar terpesona dengan keindahan kota Tallin. Yang akhirnya membuat gue berinisiatif searching di google tentang negara Baltik lainnya. Dan ternyata ketemu kota Riga. 

IMG_5922.jpg

Ya uda, langsung masukin destinasi trip selanjutnya. Makanya liburan summer tahun ini, kami ga pake susah nentuin tempat berlibur. Karena Riga sudah masuk dalam agenda. Apalagi, memilih Riga sama artinya juga dengan kami bisa menikmati quality time di dalam kapal sekitaran laut Baltik yang terkenal mampu memanjakan para penumpangnya dengan berbagai fasilitas yang uhuiiii. Menikmati hari layaknya di kota berjalan. Bisa Klik di Sini.

IMG_5816.jpg

Dari Dalarna, kami berangkat dengan bus tepat pukul 9 pagi. Tiba di Stockholm sekitar pukul 3 sore. Menjadi lama karena bus harus keliling menjemput penumpang di beberapa stasiun kota. Bus yang kami tumpangi merupakan bus travel yang bekerja sama dengan Tallink Group. Perusahaan kapal besar yang melayani jasa transportasi di seputaran laut Baltik.

IMG_5702

Sekitar pukul 5 sore, kapal meninggalkan Stockholm dan tiba di kota Riga pada pukul 10 pagi. Hari itu cuaca di kota Riga lumayan panas dan terik. Ada cerita tak mengenakkan di awal ketibaan kami. Sistem layanan taxi di pelabuhan kota Riga lumayan kurang terkontrol. Ternyata main serobot masih berlaku di sini. Ga jelas menunggu taxinya dimana. Kami sempat bingung dan demikian juga dengan beberapa warga Swedia lainnya. Berdiri menunggu untuk sesuatu yang tidak jelas.

IMG_5887

Banyak orang yang sudah terlebih dahulu berdiri di halte, ditikung ama calon penumpang lain. Kami cuma bisa bengong. Di sekitar area ketibaan, tidak terlihat satu taxi pun yang parkir menunggu calon penumpang. Murni menunggu taxi yang datang. Harusnya ada yang kontrol ya. Jadi penumpang ga rebutan.

Apalagi kepala mulai berasa dipanggang. Tensi pun mulai meninggi. Mana taxinya berhenti selonong boy aja, kadang di depan halte kami, kadang di halte lain. Aduh bener benar putus asa nunggunya. Maksudnya kurang jelas gitu loh sistem nyetop taxinya seperti apa. Kalau sekiranya taxi berbaris parkir, mungkin bisa disamperin. Beres kan. Atau pakai sistem ngantri. Ini mah kagak.

IMG_5901

Nah, pas sebuah taxi melaju ke halte di sebelah, terlihat calon penumpang langsung berbicara ke supir taxi. Cuma anehnya mereka tidak jadi naik. Suami gue pun langsung sigap berlari menghampiri taxi tadi. Tidak terlalu ingat persisnya seperti apa, ga lama suami pun melambaikan tangan ke gue. Tanda isyarat kalau kami bisa masuk ke dalam taxi.  Huaaaaa, surprise!

Dan ternyata, ada cerita dibalik keberhasilan suami bernego dengan si bapak supir tadi. Ceritanya pas suami menuju taxi, ada juga calon penumpang yang berniat masuk ke dalam taxi, tapi ditolak si supir dengan alasan hotel yang mereka tuju tidak terlalu jauh.

IMG_5912

IMG_5861.jpg

Tapi anehnya, giliran suami gue diokein. Padahal tujuan sama sama ke  hotel yang juga dituju oleh calon penumpang sebelumnya. Dan akhirnya gue baru paham, ternyata ada permainan harga. Taxinya ga pakai argo. Untuk perjalanan 10 menit, kami dikenakan 20 euro. Dan itu langsung dibayar di muka. Sekitar 300 ribu rupiahlah.

Jadi kesimpulannya, supir taxi tadi tembang pilih calon penumpang. Mungkin mereka punya kemampuan melihat postur wajah si A dan si B asalnya dari negara mana. Gue ga perlu perdalamlah kalimatnya. Sedikit rasis. Dan itu nyebelin banget kan!

36032371061_80c01c4727_o

Berkiblat ke harga taxi di kota Tallin Estonia yang relatif murah, seingat gue perjalanan 10 menit cuma dikenai 6 euro. Jadi pas ditodong membayar 20 euro di kota Riga lumayan yessssssssss juga kagetnya.

Supir taxi juga bilang, kalau harga taxi di kota Riga tidak ada yang seragam. No argo. Semuanya sesuai kesepakatan. Kami sempat percaya. Sampai sampai malas naik taxi. Ternyata ga benar mak. Masih ada kok taxi yang pakai argo.

Dan itu argonya ya ampun, untuk perjalanan 5 menit cuma 3 euro malah. Dan pas balik ke Swedia, biaya argo dari hotel ke pelabuhan cuma dikenai 5 euro. Jreng jreng jreng! 

Tapi namanya juga cari nafkah ya. Rejeki si driver taxinyalah. Dan rejeki kami juga, karena tanpa dia pastinya kami masih menunggu lama di pelabuhan. Untung dapat taxi. Daripada ga, bisa ngesot sampai hotel.

Sekilas tentang Riga, kota ini  merupakan ibukota Latvia. Latvia sendiri pernah menjadi bagian dari wilayah Swedia, kemudian direbut oleh Rusia. Pada tahun 1991, Latvia memerdekakan diri dari Uni Soviet dan menjadi negara yang berdaulat penuh.

IMG_5793.jpg
Swedish Gate di kota tua Riga

Riga sampai saat ini tetap melakukan pembenahan. Bangkit dari masa masa suram di jaman pemerintah komunis dulunya. Menurut cerita suami, meskipun wilayah Swedia terbilang dekat ke kota Riga Latvia, warga Swedia dulunya tidak bisa masuk ke kota ini. Akses masuknya sangat sangat sulit. Itu sebabnya, saat ini Riga mati matian mengembangkan potensi wisatanya. Pun dengan warga Swedia, sangat menikmati era keterbukaan di kota Riga sejak Latvia merdeka.

IMG_5854.jpg

IMG_5804

Warga Riga itu sepengamatan gue, terutama kaum wanitanya, sangat fashionable. Postur wajah dan badan mereka juga oke banget. Tinggi langsing, muka tirus, mirip model model dunia gitu. Wajah wanita ex Soviet pada umumnyalah. Memang cantik cantik kan.

IMG_5864

Nah, mereka itu sepertinya untuk sekedar jalan, suka banget pakai high heels, wadges, make up full abis, lipstick merah menyala, mau di pasar, jalan agak berbatu, di bus, di tram, semuanya rata rata bergaya. Bahkan seumuran emak emak juga gaya. Tapi ada juga sih yang berpenampilan apa  adanya. Gue bicara mostlynya aja.

IMG_5814
Mobil antik Rusia di depan sebuah restoran

IMG_5862.jpg

Menjelang malam, di beberapa titik lokasi, banyak para wanita yang berdiri dengan penampilan keren. Tidak seronok dan tetap asik dilihat. Tapi kurang tau mereka berdiri menunggu apa.

IMG_5832.jpg
Menikmati malam. Kece yak!

Riga memiliki kawasan Medieval Old Town yang sangat mempesona. Berjalan kaki seharian di kota tua ini tidak pernah bosan. Secara keseluruhan mampu menampilkan aroma abad pertengahan. Kota tua yang langsung membuat gue jatuh cinta. Cafe, restoran, bar, toko souvenir, lorong lorong kecil, bunga warna warni, alamak, cantik dan romantis. Semua memiliki magnet kuat yang mengharuskan gue pengen berhenti dan berhenti lagi. Kawasan ini pun ditetapkan Unesco sebagai salah satu heritage dunia yang dilindungi. Agak mirip dengan kota Tallin Estonia, cuma Tallin memang lebih ramai dan lebih cantik menurut gue. Untuk kota Tua Tallin Estonia, bisa baca di sini.

IMG_5828.jpg

IMG_5830.jpg

Gue sangat menyukai bunga. Dan bunga bunga yang bergantungan di kota tua Riga sangat membuat gue jatuh cinta. Setidaknya untuk negara yang pernah gue kunjungi, kawasan old town Riga gila gilaan banget bunganya. Dan dengan berat hati harus gue katakan, Gamla Stan Stockholm yang selalu menjadi favorite gue itu, masih kalah saing dengan bunga bunga di Medival Old Town Riga. Percayalah, kamu harus ke Riga untuk membuktikannya!

IMG_5799

IMG_5839.jpg

IMG_5798

IMG_5819

IMG_5913
Bunga bunga di sekitar cafe restoran

Di kota tua Riga, banyak sekali dijumpai cafe restoran unik bergaya Autentik Medieval  atau abad pertengahan. Crazy to the max melihatnya. Dan enaknya lagi, kota tua Riga surganya wifi gratis. Sepertinya semua bangunan punya wifi. Apalagi cafe restonya. Bahkan, berdiri di tengah alun alun kotanya pun kadang bisa dapat wifi. Entah wifi dari cafe dan resto mana sangkin bersenggolan dan berdekatan gitu. Hahaha. Makanya kalau melihat map tourist, lambang lambang wifi selalu ada di setiap tempat wisatanya. Ya meskipun agak lemot sih. Tapi namanya juga gratis.

IMG_5855

IMG_5834

Oh iya, harga makanan di kawasan old town Riga terbilang tidak murah juga. Setidaknya untuk cafe resto yang kami coba, menyajikan harga yang relatif mahal. Contohnya, segelas bir, wine non alkohol, seporsi chicken wings, dan segelas air putih, dihargai 30 euro. Demikian juga makan di salah satu resto bergaya abad pertengahan, dihargai sekitar 45 euro.

IMG_5845
Duh, cafe restonya bikin terlena

Souvenirnya juga, rata rata berkisar mulai dari 6 hingga 8 euro lebih. Mungkin karena kawasan medieval ini merupakan pusat kunjungan para turis. Semua nyaris numplek di kota tua ini.

Tapi begitu keluar dari kawasan kota tuanya, harga pun terbilang anjlok. Contoh lagi, kami makan 2 mangkok country soup ukuran besar, satu gelas ice cream porsi gede, 2 gelas Kvass (sejenis minuman soft drink), hingga satu botol air putih, cuma dikenai 13 euro. Padahal itu di kawasan wisata juga, di open air museumnya.

IMG_5836

IMG_5808

IMG_5813
Minuman ini enak banget

Riga memang sangat melekat dengan medieval old townnya. Banyak banget yang bisa di explore di sini. Memiliki predikat sebagai the Home to Many museumsalah satunya adalah Museum of the Occupation of Latvia. Kami tidak sempat ke museum ini. Apalagi museum lagi direnovasi dan semua benda benda di museum dipindahkan ke gedung lain yang lokasinya agak jauh dari pusat old townya.

image_6483441.JPG

IMG_5920
Menara St Peter’s Church. Sedangkan yang paling atas sebelah kanan menara Main Church di kota tua Riga

Jangan lupa masuk ke St. Peter’s Church, gereja tua yang menjadi incaran para turis di old town Riga. Gue sangat merekomen. Kenapa? karena dari tower gereja inilah landscape indah kota Riga bisa dilihat dari ketinggian.

IMG_5893
Di dalam St. Peter’s Church

Enaknya lagi, untuk bisa mencapai ketinggian tower, pengunjung tidak perlu capek naik turun tangga, karena tower gereja sudah dilengkapi dengan fasilitas lift. Lift hanya bisa digunakan dalam hitungan persepuluh menit.

IMG_5879

IMG_5883

IMG_5880
Landscape kota Riga dari menara St. Peter’s Church

Sambil menunggu, mata bisa menyaksikan tayangan di layar tv yang sengaja dpasang di atas pintu lift. Berisi sejarah tower gereja yang memiliki ketinggian total 123 meter. Mengalami kerusakan parah akibat serangan bom di jaman perang dunia ke II. Perbaikan kerusakan tower gereja kemudian dimulai pada tahun 1968 dan selesai pada tahun 1970.  Kalau tidak salah, view pointnya berada di ketinggian 75 meter. Dan lift berhenti sampai di ketinggian ini saja. 

IMG_5909

IMG_5906

IMG_5904

Selain itu, ada the House of the Blackheads, bangunan yang sangat ngehits di seantero Riga bahkan Latvia. Jika kamu mengetik kata kunci “Riga” di mbah Google, mostly yang muncul adalah bangunan the House of the Blackheads ini.

IMG_5865.jpg
The House of the Blackheads

The House of the Blackheads kalau tidak salah nih, awalnya dibangun pada abad ke 14. Merupakan bangunan yang diperuntukkan bagi Botherhood of Blackheads, semacam perhimpunan/asosiasi pengusaha (pria kaya) asal Jerman tapi tidak menikah. Katanya di era itu banyak pria Jerman yang sukses dan membentuk asosiasi seperti ini. Asosiasi yang sangat terkenal. Gue juga masih samar samar tentang defenisi Botherhood of Blackheads ini. Kurang lebih gitu deh. Mudah mudahan ga salah menyimpulkan. 

IMG_5868.jpg

IMG_5866

Akibat keganasan perang dunia, bangunan the House of the Blackheads hancur total tak bersisa. Kemudian dibangun kembali dengan model yang hampir sama. Jadi bangunan yang ada sekarang bisa dibilang bukan bangunan tua. Tapi entah mengapa, lagi lagi turis tidak boleh masuk. Sepertinya Riga memang lagi repot banget dengan segala renovasi bangunan dimana mana. Menurut info petugas di kantor tourist information, belum tau sampai kapan bangunan ini dibuka untuk umum.  

IMG_5815

Masih bercerita tentang bangunan tua, di medieval old town Riga, tepatnya di Maza Pils Street, terdapat 3 buah bangunan tua yang saling berdampingan bernama Three Brothers. Disebut Three Brothers karena dibangun oleh 3 pria dari sebuah keluarga dalam periode tahun yang berbeda. Three Brothes merupakan bangunan medieval tertua di kota Riga dan menjadi salah satu iconic terkenal di kota ini.

IMG_5915.jpg
Three Brothers. Bangunan paling tua nomor 17 berwarna putih, yang ditengah nomor 19 dan warna hijau nomor 21

Setiap bangunan mewakili era di masanya. Bangunan nomor 17, merupakan bangunan tertua bergaya Gotic dengan sentuhan design abad pertengahan awal yang dibangun di abad 15. Bangunan nomor 19, dibangun pada tahun 1646 bergaya Medieval Belanda. Dan bangunan terakhir nomor 21, dibangun pada abad ke 17 dengan model bangunan bergaya Barok. Three Brothers konon menyamai bangunan tua Three Sisters di kota tua Tallin Estonia. Nemu aja ya bangunan yang sama gitu. Atau dipaksain biar terlihat sama? Hahahha.

IMG_5914.jpg

Mengelilingi old town Riga bisa ditempuh dengan berjalan kaki, pun dengan kereta lucu ala ala dan cukup membayar 5 euro.  Selain itu,  juga ada transportasi becak ala kota Riga dan  bus hop-on hop-off.

Itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak tempat menarik di medieval old town Riga. Bahkan sekelas toko souvenirnya pun mampu membuat menggila. Lucu lucu dan unik banget.

Perhiasan seperti kalung, anting dan gelang batu berwarna kuning kecoklatan, menjadi pemandangan yang biasa di toko souvenir kota tua ini. Batu batu yang konon katanya berasal dari lautan Baltik. Lucunya, selain dijual di pinggir jalan dengan box yang rata rata mirip keranjang anyaman rotan, perhiasan batu ini juga dijual di toko bahkan butik berkelas dengan harga yang menggile. Muncul pertanyaan, bedanya dimana ya, kalau memang sama sama dari lautan Baltik, kenapa bisa timpang banget harga yang di kaki lima dengan di toko butiknya? Berhubung gue tidak tertarik dengan perhiasan kayak gini, jadi mahal or murah biarkan saja. Hahahaha

IMG_5825
Keranjang kotak mirip anyaman bambu. Sebagian besar pedagang souvenir jalanan menjual dagangan di tempat seperti ini

Bicara souvenir, gue justru lebih tertarik dengan souvenir autentik berbentuk boneka dan rumah warna warni khas Riga. Tapi herannya, hampir kebanyakan toko souvenir di kota tua Riga menempatkan dagangan souvenirnya di dalam lemari kaca. Dan itu dikunci.

IMG_5715
Kios souvenir berbentuk drum kayu. Unik dan lucu banget. Hahaha

Apa alasanya gue juga kurang tau pasti. Tebakan yang paling jitu sih apalagi kalau bukan takut dicolong. Pas gue masuk ke salah satu toko souvenir dan bermaksud hendak membayar belanjaan, beberapa turis asing masuk ke dalam toko.

Dan jreng jreng…………….si penjaga toko langsung ninggalin belanjaan gue dong. Keren banget kan langsung main ninggalin belanjaan gue gitu aja, padahal mau hitung hitungan. Hahahaha. Dan dia pun nanar memperhatikan turis yang masuk. Tebakan gue mendekati kebenaran.

IMG_5711

IMG_5713
Sebagian besar toko souvenir di Riga menjual rumah warna warni  kayak gini. Mewakili rumah rumah tua di kawasan old townnya. Gue menyebutnya “Rumah dongeng”

Apalagi rata rata wajah pelayan tokonya dingin banget. Flat tanpa senyum. Kalaupun senyum ya seadanya. Yang ramah itu menurut gue mostly pelayan restoran. Bahkan malah ada yang kelewat ramah. Mungkin sangkin banyaknya cafe restoran di sekitar old town ini. Jadi pelayanan terbaik merupakan cara jitu menarik pelangggan.

IMG_5709
Boneka imut juga menjadi bentuk lain souvenir di Riga. Bahkan banyak boneka yang berpakaian tradisional Latvia

Meskipun berpredikat sebagai kota tua, di sekitar old town Riga berdiri sebuah store modern bernama Galeri Center (GC), store yang menjual berbagai perlengkapan fashion brand terkenal. Tak jauh dari GC, berdiri pula sepasang restoran siap saji yang sangat digemari di Indonesia. Pizza Hut dan KFC. Huaaaa……ada KFC!

IMG_5858.jpg
KFC……..anyone?

Sudah lama gue merindukan kriuk kriuk KFC. Tapi entah mengapa, gue ga sempat atau berasa tidak terlalu antusias untuk mencobanya. Sejujurnya sih gue lebih merindukan KFC Indonesia. Mungkin karena pernah mencoba makan KFC di kota Kopenhagen Denmark, dan rasanya entahlah mak, kok kurang nendang. Efeknya jadi tidak terlalu antusias pas melihat KFC di kota Riga. Atau mungkin juga karena gue lebih terlena dan memilih duduk manis di cafe cafe bergaya madievalnya.

IMG_5826

Nah, jika kamu bosan dengan liburan yang kotanya itu lagi dan itu lagi, negara Baltik ini bisa jadi pilihan berliburmu.

To be continued…

“Semua photo merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Loiten Lys, Surganya Pencinta Candle

Candle? Ihh…gue suka banget!

Kecuali lilin batangan model klasik yang warnanya putih. Kalau itu gue kurang suka, karena selalu mengingatkan gue dengan tradisi mati lampu sewaktu kecil dulu. Masa masa setiap hari mati lampu, sampai tau jadwalnya. Hari ini giliran gang rumah gue, besok gang di sebelah. Sadis. Makanya familiar banget dengan lilin putih. Nyalainnya aja uda pake dongkol. Haha.

IMG_9682
Koleksi lilin dari Loyten Lys

Tak bisa gue pungkiri, kecintaan terhadap lilin mulai bertambah dan bertambah sejak gue tinggal di Swedia. Selain bentuk dan warnanya yang beraneka, harganya pun sangat terjangkau. Dapatinnya juga mudah. Maksudnya untuk sebuah lilin cantik, ga harus ke toko khusus. Di supermarket biasa pun ada.

IMG_9683.jpg
Hasil hunting, bahkan ada yang gue beli sewaktu liburan

Masih ingat banget, tahun pertama di Swedia, gue kalap tralala trilili setiap masuk toko dan supermarket. Selalu beli lilin. Percaya atau ga, meja ukuran satu setengah meter sampai penuh dengan lilin. Malah sebagian disusun di tempat lain. Entah buat apa coba. Mungkin di situlah masa masa dimana suami gue bingung tralala juga melihat isterinya.  Hahaha.

IMG_9677
Nemu di Christmas Market. Tertarik dengan bentuk dan motifnya. Motif lilin langsung dilukis sendiri oleh si penjual loh.

Sampai akhirnya, kegilaan mulai berkurang, karena gue harus menghabiskan lilin yang banyak itu. Apalagi semakin ke sininya, gue semakin tau kalau lilin lilin yang gue beli sebelumnya, ternyata masih kalah menarik jika dibandingkan lilin yang khusus dijual di toko tertentu. Nah, biasanya lilin seperti ini ga akan gue pakai. Tapi gue simpan sebagai koleksi.

34794436014_22db116fcc_o (1)
Loyten Lys

Bahkan, pernah ketika gue liburan, souvenir yang gue beli justru lilin. Asal ketemu lilin yang unik, biasanya gue beli.

Di awal musim gugur hingga musim dingin, sehari harinya gue selalu memasang lilin di rumah. Suka bangetlah pokoknya. Sampai di Instagram pun nyampah lilin.

5

34826704613_df2489d473_o

Demikianlah ketika gue dan suami berlibur ke Norwegia, kami singgah ke sebuah store lilin yang gila banget luasnya. Sampai disebut store, bukan toko lagi. Banyangin aja, store lilin ini terdiri dari tiga lantai, yang masing masing lantainya luas pake banget. Mirip kastil.

35505222401_97146bf31d_o (1)

34826704553_6056bde40a_o.jpg

Berlokasi di daerah Loten,  store lilin bernama Loiten Lys ini sudah berdiri sejak tahun 1991. Loiten Lys bukan toko lilin biasa. Selain memiliki banyak koleksi lilin dalam aneka bentuk dan warna, Loiten Lys juga unggul dalam interior designnya.

35467631002_6b26b47caf_o

Semua lilin disusun sedemikian, dipadu padan dengan berbagai props menarik. Untuk memaksimalkan design interiornya, setiap lantai gedung memiliki tema lilin yang berbeda. Mulai tema mawar, teratai, binatang, cake, buah buahan, ruangan ala istana, wedding, fine dining, hingga tema horor berbau tengkorak pun ada.

35635500965_b1ebb7028c_o

35635501045_231b4621a9_o.jpg

Khusus tema horor, ruangan yang dipakai sengaja dibuat agak gelap. Dindingnya mirip gua. Lumayan horor juga.

Nah, yang paling gue suka nih, tema jamuan makan malam. Mereka niat banget menata meja sampai segitu panjang. Penuh dengan lilin, candle holder, tissue, piring, gelas, sendok, garpu, hingga bunga.

35596372526_f20621f40a_o.jpg

34794436694_c27ea1251e_o.jpg

Kombinasi warna pun sangat detail diperhatikan. Semisal lilin berwarna ungu, props pelengkap lainnya  pun menggunakanan warna senada. Penyampaian temanya berhasil.

35467631002_6b26b47caf_o

Bahkan ada semacam kamar yang berisi lilin, disusun di meja rias yang bingkainya berwarna keperakan. Semakin terlihat glamour. Princessss!

34794436634_1c231c9d6c_o

Belum lagi sebagian besar meja terdiri dari lilin dengan warna senada. Biru, kuning, pink, hijau. Ihhhh….rasanya pengen gue tiup masuk mobil semua. Gemes.

Untuk gedungnya sendiri, dari luar terlihat semi klasik. Tapi di bagian dalam cenderung kozy dan romantic.

34826701883_2d3b425bfd_o

35248994470_1c24acb58c_o (1)

Berada di Loyten Lys serasa terbawa khayal ke negeri peri. Mirip dongeng kerajaan. Baik bentuk, warna dan interiornya semuanya girly. Apalagi gedungnya juga mirip kastil. Gedeeeee.

Harganya? untuk harga sih bervariasi. Tergantung size dan kerumitan pengerjaan. Rata rata berkisar 65 hingga 400 Nok atau setara seratus hingga tujuh ratus ribu rupiah. Size lilinnya ada yang sampai setengah meter lebih kalau ga salah.

Sangkin cantiknya, Loyten Lys ini menjadi incaran para turis juga. Tujuan utama mereka sepertinya ingin menikmati suasana di dalam. Jadi urusan membeli atau tidak nomor sekian. Emang bener sih, di dalam bikin betah. Interiornya manjain mata banget.

Kalau kamu penyuka lilin, Loyten Lys sangat gue rekomen. Dijamin jatuh cintahhhhhhh. Hahaha.

Salam dari

Swedia

Kjeåsen, Riwayatmu Dulu

“Ini adalah tulisan yang sangat menyentuh gue. Tulisan yang gue tulis pakai hati dan niat. Entah mengapa tempat yang gue kunjungi beberapa waktu lalu, mampu menggiring emosi. Akal sehat gue agak sulit membayangkan ada manusia manusia kuat yang harus hidup terisolasi padahal mereka bukanlah suku primitif. Sengaja gue memilih beberapa video dari Youtube agar yang rela membaca tulisan ini bisa lebih mudah memahami gambaran nyata sebuah tempat yang akan gue ceritakan. Selamat membaca”

*******************************

Suatu malam gue dan suami secara tak sengaja menonton sebuah acara televisi. Sayangnya acara itu sudah tayang beberapa menit sebelumnya. Liputannya mirip tayangan dokumenter di National Geographic or Discovery Channel. Dan seperti biasa gue termasuk orang yang menyukai acara televisi sejenis ini.

Kurang lebih bercerita tentang  seorang pria tua dan anak lelakinya yang tetap bertahan dan memilih hidup di Farm Mountain yang sepi, jauh dari keramaian dan kehidupan sosial. Cenderung terisolasi.

Keseharian hidup mereka bisa dibilang sedikit tidak wajar. Apalagi jika dibandingkan dengan kehidupan serba canggih di zaman sekarang. Di sebuah negara yang notabene dikenal bukan negara kere pula. Norwegia!

Tidak ada akses jalan dan transportasi. Nihil listrik! bahkan kalau tidak salah air ledeng pun tidak ada. Menurut mereka, memilih tetap bertahan di farm mountain yang terisolasi seperti itu, tak lain karena mereka lahir dan besar di sana. Tidak ada alasan untuk tidak tetap tinggal. “This farm is the only one of the most beautiful” ujar si bapak tua itu.

Melihat si bapak tua tadi berjalan tertatih saja sudah membuat gue miris. Bagaimana kalau mendadak sakit? Punya telepon ga? Di liputan itu kurang detail dijelaskan. Kalau sesekali sih mungkin masih bisa ditolerir ya. Seperti summer house di Swedia misalnya, masih banyak pemilik yang memang dengan sengaja tidak menyediakan fasilitas listrik dan air, tapi akses jalan sih sudah okeh. Lah ini? Seumur hidup menjalani keseharian tanpa fasilitas vital. Belum lagi akses kendaraan menuju kediamaan mereka ini susah sekali.

Sampai sekarang sepertinya masih ada beberapa kawasan farm mountain di Norwegia yang cenderung terisolasi. Dan itu tetap dihuni. Namun memilih bertahan untuk tetap menjalani kehidupan di tempat terisolasi seperti itu bagi beberapa kalangan dianggap unik dan luar biasa. Mendapat perhatian sudah pasti. Tak terkecuali oleh media televisi dan juga turis.

Berangkat dari tontonan itulah, rasa penasaran dan ingin tahu gue berkobar. Pengen banget melihat farm mountain langka seperti itu. Rasanya amazing aja kalau berhasil melihat langsung. Gue bilang amazing karena tempat tempat seperti itu sudah tidak banyak kan. Terkhusus di zaman modern ini. Ada nilai historinya pula.

Nah, akhirnya suami pun memberitahu gue kalau sebenarnya Norwegia mempunyai wisata farm mountain lumayan terkenal. Lengkap dengan cerita fantastisnya. Hah? Makin penasaran. Dan tanpa direncanakan sebelumnya, kami pun memutuskan untuk melakukan trip ke Norwegia. Coba….betapa sadisnya dampak acara tv itu. Hahaha.

Singkat cerita setelah beberapa hari menikmati wisata alam Norwegia akhirnya di hari terakhir kunjungan kami, perjalanan menuju kawasan pegunungan pun dimulai. Sebuah kawasan yang lumayan melegenda. Farm mountain berbalut cerita haru biru. Namanya Kjeåsen! (Bacanya kira kira seperti ini : Keosen)

IMG_8534.jpg
Kjeåsen

Sehari sebelumnya kami menginap di kawasan Eidfjord. Dari Eidfjord sampai ke perbatasan kaki gunung, kami butuh waktu tak sampai setengah jam. Dari jalan utama kami berhenti di sebuah jalanan kecil menuju puncak farm mountain.

Sejenak membaca jadwal kendaraan yang tertulis di sebuah plank. Ternyata rute jalan menuju Kjeåsen hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan.

Bahkan beberapa ruas jalan kondisinya lumayan curam dan terjal. Sehingga demi menghindari pertemuan mobil dari arah yang berlawanan dan untuk menjaga keselamatan pengendara juga maka jadwal kendaraan pun diatur sedemikan.

Untuk kendaraan yang naik hanya diperbolehkan dalam hitungan persatu jam. Mulai pukul 9, 10, 11, 12, dan seterusnya hingga pukul lima sore. Sedangkan untuk kendaraan yang akan turun dihitung persetenga jam. Mulai pukul 9.30, 10.30, 11.30, 12.30, demikian seterusnya hingga pukul setengah enam sore.

Jadi semisal kita tiba dan hendak naik di luar jadwal yang sudah ditentukan, katakanlah pukul 10.30 misalnya, maka mau tidak mau ya harus menunggu. Demi menghindari kemungkinan bertemu dengan mobil yang turun.

Demikianlah pas menuju puncak Kjeåsen waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Melewati jalanan yang walaupun sempit tapi masih lumayan nyaman untuk dilewati. Kiri kanan jalan banyak pohon, tebing gunung yang besar, juga landscape yang sesekali membuat terwow. Indah.

Sampai akhirnya kami memasuki sebuah terowongan tua. Terowongan dengan kondisi yang jauh berbeda dibanding terowongan yang biasa kami lewati. Selain suram dan gelap juga berasa creepy alias horor.

IMG_8529
Gue meminta suami menyalakan lampu mobil agar kondisi di dalam terowongan bisa dilihat. Jika tidak gelap gulita banget.

Mana terowongannya juga sangat panjang. Rasanya tidak habis habis kami berada di kegelapan. Kalau bukan karena lampu mobil, nyaris tak terlihat apa apa. Begitu keluar terowongan kami langsung memarkirkan mobil. Lumayan jauh dari mulut terowongan.

Dan cerita Kjeåsen pun dimulai…….

Di bawah jalan gue melihat jurang terjal. Rimbunnya pohon hijau serta derasnya suara air yang mengalir diantara bebatuan gunung. Suara yang meraja diantara sepinya alam Kjeåsen hari itu. Super Nature!

Dan dari celah ranting pohon yang rimbun, gue melihat sekelibat air yang sangat tenang. Spontan membuat mulut gue komat kamit ga jelas. Ada fjord di bawah!

IMG_8528.jpg

Kaki gue melangkah dan melangkah menyusuri jalanan lembab akibat salju yang belum lama mencair. Dan terlihatlah bangunan kayu super tua menyambut kedatangan kami. Huaaaaa….bangunan yang gue lihat menyebar di om google. Ada di depan mata!

So, inikah Kjeåsen yang melegenda itu?

Gue semakin terpesona setelah melihat pemandangan di bawah. Sebuah lukisan alam. Landscape fjord secara utuh dan jelas. Tuhan….indah sekali. Tenangnya aliran air fjord, bersanding dengan besarnya tebing gunung yang rasanya dekat sekali ke wajah gue. Hening banget. Syurgaaaaa!

Punya rumah dengan view seperti ini, kapan stressnya?…………….but wait…!

IMG_8532

IMG_8549
Fjord di sekitar Kjeåsen.

Sebelum melanjutkan, gue sarankan untuk menonton video dari Pål-Harald Uthus di bawah ini.

Agar kalian lebih mudah memahami bahwa bukan karena keindahan alamnya saja yang membuat Kjeåsen terkenal, melainkan cerita pilu yang membalut Kjeåsen. Iya…cerita pilu yang justru berasal dari beratnya medan sekitar.

Jika melihat video di atas setidaknya bisa dibayangkan bagaimana kerdilnya rumah rumah kayu renta itu diantara gagahnya gunung besar di sekelilingnya. Gunung dengan tebing curam, terjal dan cadas. Dataran tanah di sekitar farm mountain ini pun tidak terlalu luas dan langsung mengarah ke bibir tebing. Terpeleset sedikit alamat siap dimakan fjord yang super dalam.

Keindahan alam Kjeåsen tidaklah cukup memberi nilai sempurna ketika gue membaca history Kjeåsen yang jujur membuat gue teriba. Honestly sampai tulisan ini gue tulis, wajah Kjeåsen masih jelas berkelibat. Entah mengapa.

Kjeåsen bermula dari sebuah keluarga petani yang berjuang bertahan hidup. Dengan apa mereka mampu bertahan? Ya tentu saja dengan lahan pertanian. Pertanian yang tanahnya subur, asupan rumput yang banyak, ternak bisa makan sampai kenyang, sinar matahari cukup, bisa berburu hewan, bisa memancing ikan. Dan semuanya itu hanya ada di Kjeåsen.

IMG_8545.jpg

IMG_8536

Unik memang. Kjeåsen yang tidak begitu luas berdiri subur diantara dominannya tebing batu. Tapi sayang…….kekayaan alam di sekitar Kjeåsen harus dibayar mahal.

Wilayah yang mereka temukan tidak memiliki akses jalan sama sekali. Benar benar di atas gunung dengan medan yang kejam dan berbahaya. Satu satunya jalan menuju Kjeåsen hanyalah dengan memanjat tebing terjal. Mereka harus sempurna mendaki agar tidak terpeleset dan jatuh ke fjord.

IMG_8551.jpg
Foto ini menggambarkan perjalanan mulai dari tepian fjord hingga mendaki tebing batu

Melewati gunung batu yang terletak di atas Simadalsfjord, dengan ketinggian mencapai 600 meter di atas permukaan laut. Jika melihat langsung lokasi curamnya tebing gunung di Kjeåsen, rasanya sulit dicerna akal sehat ada kehidupan di situ.

Untuk lebih jelasnya bisa melihat dua buah video dari Visitedfjord di bawah. Di salah satu video terlihat titik titik putih yang sengaja dibuat oleh pemilik akun agar memudahkan penonton mengerti bagaimana curam dan ngerinya tebing yang sehari hari selalu dilalui keluarga petani Kjeåsen dulunya.

Mereka memasang tangga, tali, paku, bahkan batang pohon di atas permukaan tebing batu. Tujuannya agar mereka lebih mudah sekaligus aman berjalan, memanjat bahkan kadang berseluncur di atas tebing. Sedih 😦

IMG_8550
Agar bisa berjalan dengan mudah dan tidak tergelincir, mereka membuat tangga kayu, tali dan balok kayo di permukaan tebing batu

Dan yang membuat miris tralalala, rute itu mutlak adanya. No choice.

Sehari harinya harus melewati jalan angker. Untuk berapa lama? beratus ratus tahun. Sepanjang hidup mereka! 

Jadi bukan cuma sekali dua kali, layaknya kegiatan hiking. Kebayang kan. Gimana gue ga baper coba. Entahlah apa gue mahluk aneh yang tiba tiba cengeng ga jelas. Apalagi pas ngebaca historynya, gue berdiri langsung di tanah Kjeåsen. Yang wujud alamnya terlihat nyata di depan mata. Mungkin itu yang bikin feelnya langsung ngena.

IMG_8533.jpg

IMG_8553

Kjeåsen pertama sekali ditemukan sekitar tahun 1600. Dalam kondisi tidak berpenghuni. Kemudian mereka membangun rumah di atas gunung ini. Semua material bangunan seperti kayu, mereka bawa dari daratan bawah. And you know what? Bahan material itu mereka gendong di punggung atau dijinjing satu demi satu ke atas gunung. Satu satu loh!

Memanjat tebing sambil membawa beban berat. Akibatnya, untuk menyelesaikan satu bangunan rumah kayu, mereka butuh waktu hingga 30 tahun. Gilak!

“Many generations have carried all they need on their backs up to Kjeåsen. It took 30 years to build one of the houses. All the materials had to be carried up, plank by plank. The haviest load carried up to Kjeåsen is said to be 90 kilogram grindstone.” (Mengutip tulisan yang gue baca).

Bayangin, membawa Grindstone seberat 90 kilogram sambil mendaki tebing gunung. Sekalipun jalan tikus berbukit, selama tidak terjal masih lumayan aman. Lah ini jalanan jelas jelas mendaki terus. Gendongin beban berat pulak. Gimana ga sampai 30 tahun coba nyelesain rumahnya. Jadi masuk akal jika beberapa bangunan yang ada di Kjeåsen diselesaikan oleh generasi yang berbeda.

Konon lagi agar bisa memelihara ternak, mereka harus memulai dari ukuran baby. Agar ternak bisa digendong. Kalau sudah besar ya susah kan.

IMG_8543

IMG_8537.jpg
Kayu bangunan yang dulunya diangkut satu satu dipunggung mereka

Keluarga petani di Kjeåsen terdiri dari dua keluarga. Hidup terisolasi dari dunia luar. Diperkirakan selama beberapa generasi, ada 13 orang anak yang lahir di farm mountain ini. Setiap hari mereka harus berangkat ke sekolah melewati jalanan berbahaya. Naik turun tebing.

Dan sedihnya lagi, di saat winter anak anak harus berpisah dengan kedua orang tua mereka. Karena tebalnya salju yang menyelimuti tebing gunung. Tak baik untuk keselamatan mereka. Bayangkan saja, winter itu kan bisa sampai 6 bulan lebih. Selama bersekolah, setiap tahunnya ada beberapa masa dimana mereka harus berpisah dengan orang tua. Anak anak ini tinggal di rumah kerabat yang bermukim di kawasan Simadal, daratan di tepian Fjord.

IMG_8552
Peace!

Kepiluan ini berlangsung hingga tahun 1974. Sampai akhirnya sebuah perusahaan listrik Sima membangun akses jalan dan terowongan ke Kjeåsen demi kepentingan bisnis mereka. Jadi bukan karena menolong keluarga petani ini.

Bermula dari keberadaan akses jalan dan terowongan inilah, secara tidak langsung Era modern mulai memasuki Kjeåsen. Dan cerita Kjeåsen yang fantastis pun mulai terkuak ke publik. Mungkin ada yang tidak tau, jika di kawasan Kjeåsen ada kehidupan yang sudah berlangsung ratusan tahun lamanya.

Seiring waktu Kjeåsen mulai banyak diminati berbagai kalangan. Dan menempatkan Kjeåsen sebagai “The One of the Famous Visited Tourist Venues” in Simadals Hardanger Comunity.

Bermodalkan cerita pilunya, ditambah lagi keindahan alam yang mempesona, membuat Kjeåsen lumayan mudah menghipnotis orang orang untuk bertandang ke sana.

Hingga saat ini turis bisa bernostalgia melewati jalanan yang dulunya dilewati keluarga petani di Kjeåsen. Semua masih ada. Mulai tangga kayu, paku dan tali.

Gue sebenarnya pengen banget berjalan dan melihat langsung jalanan angker itu. Tapi manalah gue berani. Mungkin kalau sudah terbiasa hiking tidak ada masalah.

IMG_8538.jpg
Salah satu spot cantik di Kjeåsen

Sewaktu kami datang sepertinya belum high season. Karena rumah rumah di Kjeåsen pada tertutup. Sepertinya di saat real summer baru dibuka untuk turis. Hingga saat ini rumah petani Kjeåsen sudah tidak berpenghuni.

Ada satu rumah yang sepertinya dijadikan hunian summer house. Bertuliskan private di depannya. Mungkin masih memiliki pertalian.

IMG_8544.jpg
Eko Life

Tapi berdasarkan info yang ada, waktu yang paling tepat mengunjungi Kjeåsen adalah mulai bulan Mei/Juni hingga awal Oktober. Katanya cuaca sudah mulai dan bagus di bulan bulan tersebut. Alasan tepatnya sih menurut gue karena salju sudah tidak ada.

Senang rasanya bisa menambah pengalaman traveling seperti ini. Mengunjungi sebuah tempat yang penuh cerita sejarah. Tak heran jika bapak tua yang gue lihat di tv, pun nekat ga mau pindah dari farm mountainnya.

IMG_8611.jpg

IMG_8612.jpg
Standing in the land of Kjeåsen

Mungkin cerita masa lalu lebih kuat mengikat kehidupannya dibanding kehidupan modern. Toh ini hanya masalah niat. Niat besar bertahan hidup sekalipun dengan segala keterbatasan. Urusan listrik, air ledeng, akses jalan, internet, mungkin uda urusan taik kucing ama dia. Uda ga perlu.

Alam yang segar, bebas polusi, peace all the time,  green arround, jauh dari teror bom dan demonstrasi brutal, bahkan kalau ada perang, mungkin musuh tak tau kalau dia tinggal di situ. Hahahha.

Begitupun gue, meskipun terbawa perasaan pilu akan beratnya perjuangan hidup keluarga petani di Kjeåsen, belum tentu juga mereka dulunya sepilu hati gue. Kali aja semangat hidup yang mereka miliki mengalahkan semua lelah dan ancaman nyawa. Yang terpenting mereka berhasil kaya, bisa memiliki lahan pertanian yang subur. Itu ibarat emas kan.

IMG_8535

Jika kamu ke Norwegia, tak ada salahnya merasakan cerita dibalik Kjeåsen ini. Sesekali nikmatilah perjalanan liburan yang tidak melulu urusan gedung gedung bertingkat dan hiruk pikuk manusia. Liburan penuh history sambil menikmati magisnya alam di sekitar Simadalsfjord yang indah.

Untuk melihat akses jalan dan horornya terowongan yang dibangun di sekitar Kjeåsen, boleh klik video di bawah.

Salam dari

Swedia.

Hytte, Penginapan di Norwegia ini Wajib Dicoba

Salah satu yang gue rindukan dari wisata alam di Norwegia adalah penginapannya. Apagi kalau bukan Hytte!

Selain bentuknya yang membuat perasaan menghayal entah ke film film apalah itu, landscape di sekitar Hytte mostly cihuy banget. Hadeh, tak sempatlah mikir berat (Lah liburan ngapai juga mikir berat?)

IMG_6948.jpg
Hytte dengan rumput di atapnya

Di Norwegia, khususnya di wilayah pegunungan dan Fjord, Hytte merajalela banget. Sadisnya ada dimana mana. Mulai di pinggiran fjord, lembah bukit, sampai mendekati kawasan puncak pegunungan pun ada.

IMG_6369 (1).jpg

IMG_6523.jpg
Jatuh cinta dengan kabin kabin Hytte ini. Cantik banget diantara balutan salju di kawasan pegunungan

Itu ya, pas melihat kabin kabin berserak di ketinggian gunung, (kebetulan waktu itu salju masih cinta banget dengan bumi Norwegia meskipun sudah memasuki awal musim panas), sontak gue minta suami berhenti.

IMG_6367

IMG_6366

Entah mengapa gue terperangah banget melihatnya. Oiimak…cakep banget. Serasa di planet mana gitu. Sepi banget kan. Seperti sebuah komplek perumahan suku asing yang terisolasi. Ibarat film the Beach atau Kong, nemu sebuah pulau dengan pemandangan yang cakep tapi magis. Halah!

Tapi beneran. You have to be there to believe it!

Gambar yang ada pun rasanya tak cukup mewakili keindahannya. Harus dilihat langsung. Gue nih, yang notabene sehari hari menyantap tebalnya salju everyday di saat winter, tetap aja loh terhipnotis dengan kumpulan kabin diantara salju itu. Kalau dipaksakan, ya anggap saja gue lagi berada di wilayah semi artic. Halah….(lagi)

IMG_6946

IMG_6952

IMG_6954

Hytte itu bentuknya seperti rumah kayu atau kabin. Uniknya lagi, atap bangunannya kebanyakan ditanami rumput dan bunga.

Sebenarnya di wilayah Eropa lain, penginapan seperti ini juga ada. Berdiri tak jauh dari nature. Dikenal dengan kawasan camp nature. Gue pernah mencoba penginapan seperti ini di Finlandia, Swedia dan Denmark. Yang di Denmark lebih mirip cottage privat gitu deh. Tapi sejauh ini, Hytte di Norwegia jauh lebih yuhui.

IMG_6950

IMG_6945
View dari pintu Hytte. Kece

IMG_6949

Hytte sepertinya menjadi pilihan utama menginap di kawasan nature Norwegia. Bukan alternative kedua. Menurut gue, hotel kalah pamor dilibas oleh Hytte. Sekalipun ukuran sebuah kota, jika masih dekat ke kawasan nature tetap aja hotelnya jauh lebih sedikit dibanding Hytte. Setidaknya inilah yang terlihat  mata gue selama di perjalanan.

IMG_6532.jpg
Bangunan di lereng itu semuanya Hytte. Bukan rumah penduduk loh

IMG_6533.jpg

Bahkan, ada satu kota yang isinya 90 persen Hytte. Nyaris tak terlihat rumah penduduk. Di kota Lom misalnya. Ampun, itu kota cakep banget. Kabinnya berdiri bertingkat di dinding bukit. Warnanya seragam. Coklat!

Dan hotelnya cuma ada satu, selebihnya Hytte semua. Landscapenya lagi lagi bikin hati menggelora.

IMG_6957
Hytte di kota Lom

IMG_6956

Para pebisnis penginapan di Norwegia pun sudah tau banget bagaimana cara memanjakan para tamunya. Jadi pemandangan di sekitar Hytte sepertinya sudah harga mati. Ya harus cakep. Misalnya seperti gambar di bawah ini.

Kawasan Hytte bahkan bisa hanya memiliki 3 atau 5 bangunan saja. Bahkan yang ukurannya kecil banget. Jauh dari pusat kota. Tapi tetap aja laris manis. Sedangkan kawasan penginapan berskala besar, biasanya terdiri dari bangunan hotel dan Hytte. Hotelnya pun berbahan material yang dominan terbuat dari kayu.

IMG_6530
View di sekitar Hytte
IMG_6377
Hytte ini kelihatannya kecil yak. Tapi dalamnya bertingkat loh. 

Ukurannya? ya bervariasi. Ada yang besar maupun kecil. Tapi yang membuat gemes, dari luar penampakannya seperti rumah liliput. Mungil mungil layaknya rumah mainan. Begitu masuk, merasa tertipu. Mereka bisa memaksimalkan semua ruangan agar benar benar berfungsi. Jadi ada kamar, living room/dapur, bahkan toilet. Contoh gambar di bawah ini.

Harga? juga bervariasi. Tergantung daerah/lokasi mapun ukuran dan kelengkapan Hytte juga. Kalau berada di sekitar fjord, sepertinya lebih mahal.

Rata rata sih berkisar 650 Nok (setara 1 juta rupiah untuk konversi IDR saat ini), hingga 1000 Nok (setara 1 juta enamratus ribu rupiah), atau mungkin bisa juga lebih ya. Yang kami coba sih rata rata di harga segitu.

IMG_6346.jpg

Sebagai perbandingan, untuk Hytte seharga 650 Nok, kurang lebih fasilitasnya seperti di bawah ini:

  • Kamar bisa satu dan bisa juga dua.
  • Tempat tidur bertingkat, dan mostly muat untuk satu orang
  • Bantal dan selimut belum dilengkapi sarung. Tapi bisa disewa atau bawa sendiri dari rumah.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave (untuk microwave ga selalu ada)
  • Kulkas
  • Air kran bisa ada dan bisa juga tidak ada. Kalau tidak ada, harus ambil sendiri dari air ledeng utama di sekitar hytte.
  • Toilet di luar.

Sedangkan Hytte dengan harga 900 hingga 1000 Nok, berikut fasilitasnya :

  • Kamar dua.
  • Tempat tidur lebih lebar dan tidak bertingkat
  • Bantal dan selimut ada yang sudah dilengkapi sarung, tapi ada juga yang belum. Jadi semua tergantung kebijakan pengelola penginapannya.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave
  • Kulkas
  • Air kran ada
  • Toilet di di dalam kamar
IMG_6378.jpg
Hytte dengan ruangan dapur sekaligus ruang tv

Tapi fasilitas yang gue sebut di atas sifatnya tidak fix ya. Karena meskipun harganya sama, belum tentu fasilitasnya sama. Tergantung kebijakan pengelola. Seperti yang gue sebut di atas, lokasi juga mempengaruhi tingkat harga dan kelengkapan fasilitas. Di daerah A misalnya, untuk harga 1000 Nok mungkin fasilitasnya sudah sangat lengkap. Tapi belum tentu di daerah B demikian. Seperti itu kira kira.

IMG_6355

Saran gue sih, bawalah piring dan gelas plastik. Jadi ga perlu banyak cucian. Trus kalau mau repot sedikit, siapin aja bahan makanan yang agak tahan lama. Tergantung berapa lama juga sih tripnya. Tapi setidaknya lumayan terbantu untuk beberapa hari kan.

IMG_6937

Misalnya seperti ayam goreng dan rendang agak kering. Nanti tinggal masukin kulkas. Pas makan tinggal masukin microwave atau tinggal panasin. Malah gue bawa beras loh. Masak manual kayak jaman dulu. Kelupaan bawa magiccom. Hahaha.

Tapi yang namanya menginap di Hytte, ya kebanyakan seperti itu. Itulah fungsinya dikasih dapur plus peralatannya. Apalagi di sekitar Hytte biasanya restoran ga banyak. Malah kadang adanya cuma satu, ya restoran dari pemilik penginapan.  Mungkin karena itu tadi, tamu yang menginap kebanyakan bikin/masak sendiri.

IMG_6943

IMG_6942
Bangunan Hytte plus tanaman rumput di atasnya

Ya anggap sajalah lagi main masak masakan di rumah liliput. Tapi ga perlu sampai masak berat juga. Kayak menggoreng atau ngulek sambal. Apalagi goreng ikan asin. Cukuplah tinggal manasin atau masak mie instan.

IMG_6382
Hytte dengan model yang lebih modern. Pas di tepian fjord. Viewnya bisa dilihat di gambar bawah

Selain itu, lumayan menghemat juga. Bukan apa apa, Norwegia itu termasuk salah satu negara dengan biaya yang relatif mahal.

Terkhusus di saat lunch. Seperti kami misalnya, mau ga mau harus makan siang di restoran. Karena di jam segitu pastinya sudah mulai jalan kemana mana kan. Repot kalau makan di mobil. Karena kendaraan yang kami gunakan bukan mobil karavan.

IMG_6399.jpg
Mobil Karavan yang menyewa tempat di kawasan Hytte
IMG_6526.jpg
Ihhh…kawasan ini indah banget. Di sekitar Eidfjord

Untuk makan siang, rata rata perorang dikenakan 175 Nok sampai 200 Nok (setara 300 ribu rupiah). Kita bicara makanan standard ya. Bukan dinner cantik. Misalnya nih, 3 tusuk sate plus nasi segenggam dihargai hampir 300 ribu rupiah. Belum lagi rasa makanan di Norwegia itu pas pasan banget (ini menurut standard lidah gue dan suami ya, bahkan warga di desa gue pun rata rata bilang begitu)

IMG_6398.jpg

IMG_6387
Taman yang asri di sekitar Hytte dan hotel di Aurlandfjord

Jika gue bandingkan dengan harga di Swedia, sebenarnya tidak jauh berbeda. Terkhusus untuk makan malam. Tapi untuk makan siang, di Swedia lumayan terbantu. Karena sebagian besar restoran menggunakan sistem all you can eat dengan harga yang relatif ramah di kantong.

IMG_6392
Kawasan penginapan di Aurlandfjord

Hanya berkisar antara 90 hingga 110 Sek, sudah bisa makan sepuasnya including coffee dan cookies. Kalau beruntung, bisa nemu restoran yang menyediakan desserts sederhana. Tapi memang biasanya dilimit dari pukul 11 pagi hingga pukul 2 siang. Lewat dari situ harga melambung dua kali lipat bahkan lebih.

IMG_6531
Kawasan penginapan di Aurlandfjord. Kece yak!

Untuk dinner, harga di Norwegia dan Swedia ga jauh beda, masing masing memiliki harga yang kurang ramah di kantong. Bedanya, rasa makanan di Norwegia sekalipun sekelas hotel, tetap ajalah mak, kok di mulut ga berasa nikmat apa apa. Flat banget rasanya. Tapi selera lidah setiap orang ga sama sih. Jangan digeneralisasi.

IMG_6386
Hotel di kawasan penginapan Aurlandfjord
IMG_6388
Ruangan sarapan. Interior shabby vintagenya gue suka.
IMG_6389
Look at this! Barang antik yang menghiasi lobby hotel.

Nah, agar memblenya ga doble, mending sebisa mungkin dihemat kan. Kalau setiap hari harus menghabiskan uang sebanyak satu juta tigaratus ribu rupiah hanya untuk urusan makan, selama gue bisa bawa rendang dan ayam kenapa ga? Hahahha.

Lain cerita kalau ga bisa ya. Mau ga mau ya dinikmati aja meskipun mahal. Intinya sih semua sesuai kondisi. Namanya juga liburan toh.

IMG_6354

Kalau mau menginap di hotel pun bisa. Kami juga pernah mencoba penginapan hotel. Tepatnya di kawasan Aurland. Hotel di kawasan nature Norwegia juga asik. Suasananya homey banget. Karena materialnya berbahan kayu juga. Interiornya mengusung tema shabby vintage. IMG_6936

Tak hanya landscape, model bangunan di sekitarnya pun bikin gemes. Warna putihnya sukaak! Mirip rumah di majalah home design gitu. Pengen gue cabutin trus pindahin ke halaman sebelah rumah. Hahaha.

Kebayang kan, buka jendela langsung melihat gunung. Belum lagi aliran air fjordnya yang super tenang. Rasanya ga pengen pulang. Rekomen banget tempatnya. Untuk harga hotel berkisar 1400 Nok atau setara dua juta duaratus ribu rupiah. Bisa lihat gambar di bawah ini.

Ke Norwegia, pokoknya kudu nyobain Hytte deh.  Berkesempatan merasakan liburan ala ala serial Heidy. Banyak gunung, lembah hijau bahkan domba pun ada. Heaven.

IMG_6529
Hotel di kawasan Eidfjord. Hotel ini besar tapi karena berbahan kayu jadi cakep banget

Salam dari

 

Dalarna, Swedia.

“Semua photo adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”