Praha, Kenapa Tak Mampu Mencuri Hatiku?

Praha menjadi salah satu kota yang ingin gue kunjungi sewaktu masih tinggal di Indonesia. Terlebih setelah mendengar pengakuan dari beberapa orang yang gue kenal, tulisan tulisan dan berbagai gambar di internet, ditambah lagi cerita suami, yang mostly menyebut Praha adalah kota yang indah. Jadi, tidaklah salah jika akhirnya gue menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap kota yang memiliki predikat sebagai “kota tercantik di dunia” ini.

28762999408_3b8155cb6d_o.jpg

Ironisnya, meski sudah masuk dalam list liburan, keinginan untuk mengunjungi Praha selalu terkendala oleh alasan alasan yang gue sendiri pun ga ngerti. Sebaliknya, destinasi liburan yang justru tidak masuk dalam agenda malah terealisasi.

Sampai akhirnya, setelah gue mengunjungi Tallin Estonia dan Riga Latvia, perlahan lahan keinginan mengunjungi Praha pun semakin kendor. Buat gue, keindahan kota Tallin dan Riga justru lebih memukau dibanding Praha, yang waktu itu masih gue tau dari internet. Well, selera setiap umat memang berbeda. Penglihatan gue kurang normal barangkali?

41736592005_3fcb974aca_o.jpg

Berbeda dengan gue, suami justru lebih menyukai Praha dibanding Tallin dan Riga.  “Kamu belum melihat Praha secara langsung” begitulah dia meyakinkan gue. Sampai akhirnya gue berpikir ada benarnya juga. Mungkin feelnya akan menjadi berbeda jika melihat secara langsung. Demikianlah akhirnya kami memutuskan liburan ke Praha bulan lalu, yang kalau mau jujur ini pun terealisasi karena ada drama dibaliknya (malas ceritalah).

40828128280_240853fc88_o.jpg

Mendekati hari H, gue tetap kurang bersemangat. Bahkan mencari tau tempat apa saja yang akan kami kunjungi di Praha pun gue tidak antusias. Mungkin karena perjalanan ke Praha harus kami tempuh dengan berpesawat. Sepertinya gue sudah stress duluan.

28763433588_59012a206c_o

Singkat cerita, kami sampai di bandara Havel pukul 10 pagi setempat. Entah mengapa, pas menunggu suami ke toilet, secara tak sengaja gue melihat info tentang mata uang czech republik yang letaknya tak jauh dari money changer.

Ternyata barulah gue tau kalau czech republik memiliki mata uang czech koruna. Bukan euro. Sementara sebelum berangkat ke Praha, kami dengan percaya diri menukar sebagian uang ke mata uang Euro. Hahaha. Geblek!

41737015105_732ce0be74_o.jpg

41737014405_85e3e4dd7f_o.jpg

Suami gue pun ga ngeh. Terakhir kali ke Praha puluhan tahun silam dan dia pikir Czech republik sudah bergabung dengan mata uang Euro. Sungguh terlalu kan (kata bang Roma). Tapi untungnya, transaksi dengan mata uang euro sangat diterima di kota Praha. Jadi ya sudahlah.

Dan seperti yang sudah sudah, kami adalah pasangan pemalas. Awalnya sok berjuang pengen naik bus dari bandara ke hotel. Begitu melihat counter taxi………………ehh malah membelok. Setelah kami hitung, relatif tidak terlalu mahal mengingat jarak antara bandara ke hotel lumayan jauh.

34B64AA7-C885-437A-B348-F6A127D5C27C.jpg

Nah, pas nanya harga, si pegawai menawarkan promo. Jika kami membeli tiket taxi dari bandara ke hotel dan dari hotel ke bandara, maka kami akan mendapat diskon. Kami pun langsung menerima tawaran itu karena memang berencana akan naik taxi juga setelah check out dari hotel.

42636564691_0698ea3070_o.jpg

Sewaktu melakukan penawaran harga, si pegawai counter menyebut dalam mata uang euro. Mungkin agar kami lebih mudah menghitung kali ya. Tapi pas didebet, angka yang muncul dalam bentuk czech kurona. Dan itu nolnya langsung banyak banget kan. Trus suami nanya dong. Si pegawai langsung menjawab kalau nilainya setara dengan nilai euro yang dia sebut sebelumnya. Entah mengapa gue uda mikir jelek. Cuma karena antrian di belakang kami lumayan panjang, dan sopir taxi pun sudah menunggu, akhirnya kami memilih buru buru naik taxi. Pas di dalam taxi, barulah gue hitung. Dan you know what? Ternyata sama aja mak. Kaga ada diskonnya. Hahaha.

41963640104_ff3e70f34e_o.jpg

28762994888_62f89751fc_o.jpg

Duhhh beneran deh boong banget. Biasanya gue paling ga suka dibohongi. Cuma gue mikir gini, diskon kaga diskon memang kami tetap akan naik taxi. Jadi gue ikhlasin. Anggap saja membayar taxi tanpa embel embel diskon. Daripada memble kan. Untung sopir taxinya baik. Selama perjalanan selalu memberi tahu nama nama tempat yang kami lewati. Jadi lumayan membuat mood kembali waras.

41781904415_6dae8afbaf_o

28808417338_20582d5c36_o

Hotel tempat kami menginap letaknya pas di kawasan old town square kota Praha. Jadi kemana kemana lumayan dekat. Berhubung kami tiba masih pagi, kami belum bisa check in. Kami memutuskan mengitari kawasan old town square dengan berjalan kaki. Dan liburan pun dimulai. Welcome to Prague!

IMG_9550.jpg

Dan benar saja, hari pertama di Praha tak mampu membuat gue jatuh cinta. Gue berusaha menikmati suasana kota ini tapi gagal terus. Salah jika gue bilang kalau Praha bukan kota yang cantik. Kota ini memang cantik!

Tapi entah mengapa kurang menarik di mata gue. Kaga ngerti juga. Setidaknya itu yang gue rasakan. Tidak ada yang luar biasa. Gue merasa sama aja dengan kota eropa kebanyakan. Sementara pujian terhadap kota ini luar biasa banget. Dan itu bukan omong kosong belaka. Praha selalu dibanjiri turis. Sampai menyeberang jalan pun susah. Layaknya menonton konser. Dan sukses membuat gue stress di hari pertama itu. Mana Praha waktu itu panasnya minta ampun. Apalagi di area Charles Bridge. Duh, beneran tak bisa menikmati. Suami gue tiba tiba minta balik hotel karena ga tahan dengan panasnya. Mungkin karena terlalu banyak orang juga kali ya. Alhasil kami pun memilih istirahat di hotel.

Tiba malamnya, kami pikir tidak terlalu ramai lagi. Ternyata sama aja. Tak ada perbedaan antara siang dan malam. Praha seolah tak pernah tidur. Sampai pukul 1/2 duabelas malam masih rameeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee banget manusianya. Sangatlah tepat kami memilih menginap di kawasan old town square. Kami bisa nongkrong di cafe dekat hotel tanpa takut sudah larut malam.

3D190D69-D1AB-4D3F-BE4D-2720B089BF70.jpg

Hari kedua, gue mulai bisa menikmati liburan kami. Meskipun gue tetap belum  “terwow”, tapi gue mencoba menikmati setiap lorong jalan yang kami lewati. Menikmati landscape kota Praha yang bisa dilihat dari berbagai penjuru. Dari tower charles bridge, tower gereja, tower kastil, hingga kawasan hill seperti metronom.

F2556E92-88B6-4CD0-ACEC-5C474920B31A.jpg

Gue malah lebih tertarik dengan arsitek bangunan St.Vitus Cathedral yang berdiri pas di tengah kastil Praha. Sampai mikir, kok bisa ya di kehidupan yang nyaris seribu tahun lalu, orang orang bisa mendirikan bangunan sebesar dan sedetail ini. Jaman belum tersentuh teknologi. Jaman serba manual. Gila banget.

40878005360_7e6f14883f_o

Bagian dalam cathedral bisa dilihat secara gratis. Tapi ya itu, sebatas pintu masuknya saja. Tidak boleh melewati tali pembatas. Jika ingin melihat keseluruhan bagian dalam cathedral, harus membeli tiket yang harganya sudah sepaket dengan tiket masuk ke dalam kastil. Kami tidak melihat semua isi kastil. Kurang menarik. Lebih tertarik melihat cathedralnya. Kalau bukan karena cathedral ini, kami uda malas harus ngantri. Parah banget antriannya. Sampai sampai kami membatalkan masuk dan memutuskan kembali esok harinya. Maksudnya agak pagianlah. Ternyata sama saja. Rameeeeeeee!

42637820212_af652aaf28_o

Suasana kota Praha juga dapat dinikmati dengan boat yang berseliweran di sepanjang sungai Vltava. Cuma hati hati dengan agen penjual tiket yang berada di sekitar Charles Bridge. Kami adalah salah satu korban. Si wanita penjual tiket menyebut, kalau kapal akan berangkat pukul 6 sore. Dan kami diberitahu agar menunggu kapal di salah satu dermaga. Dan itu lumayan jauh dari tempat kami membeli tiket.

42636213401_2246cc455f_o.jpg

Mendekati pukul 6 sore, gue melihat seorang pria dan wanita mendekati petugas boat di dermaga. Dan benar saja. Ternyata bukan hanya kami yang menjadi korban. Pasangan ini juga. Menurut keterangan petugas, ternyata sudah tak ada lagi kapal yang berangkat pukul 6 sore. Dan ketika ditanya masalah tiket yang sudah kami beli, dengan entengnya si petugas bilang kalau mereka ga bisa berbuat apa apa. Si pasangan tadi cuma terlihat pasrah gitu. Sama kayak suami gue juga, lebih memilih diam dan menerima takdir. Wah, kalau gue beda mak. Ga terima gue. Kalau si petugas menjelaskan baik baik, gue masih bisa menahan sikap ya. Lah ini terkesan buang badan. Mana ngomongnya ketus gitu.

E8E5FD3C-9598-47A2-A0EB-8C5192066864

4BF58E0F-027A-45D6-9659-A9166540F15E.jpg

Dan dalam hitungan detik, gue pun berubah menjadi tiger, lion, macan, crocodile, serigala, polar bear, atau apalah itu. Dengan suara kenceng, gue pertanyakan tiket yang kami beli, gue bilang kalau mereka menipu, membodohi, tak bertanggung jawab, bla bla….!

Dan eng ing eng…..!!!! si petugas kaget kali ya dengar suara gue. Dan keluarlah pegawai lainnya dari boat. Singkat cerita, kami diover ke dermaga lain. Kami naik boat yang berbeda.

Nah kan! Kadang kadang ga semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan lemah lembut. Lupakan itu kalau kalian ketemu jenis manusia kadal. Karena manusia berjenis seperti ini masih banyak berkeliaran di muka bumi. Hantam saja langsung. Hahaha.

Sepertinya mereka gambling. Sukur sukur kalau kami ga bawel. Okelah, mungkin akan berhasil jika korbannya setype suami gue yang malas ribut. Tapi tidak dengan gue. Sejujurnya yang paling bikin gue kesel adalah cara menjawab si petugas yang terkesan ga mau tau. Responsibilty kurang. Gue adalah pribadi sangat tidak suka dibohongi. Merasa dibodohi. Dan kalau gue hanya diam, makin berasa bodohlah gue.

05845E9B-875C-44DF-9019-A8D36C471ADB.jpg

Biarlah foto foto di tulisan ini yang mewakili keindahan kota Praha. Mungkin bagi sebagian besar yang sudah pernah ke kota ini akan berpendapat lain. Tapi setiap orang juga punya selera yang berbeda. Next akan gue tulis sisi lain tentang kota Praha. See ya!

*Semua foto foto di tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com

Menikmati Suasana Roman di Baston Hill Park

Berbicara taman di Eropa, emang uda surganya kali ya. Setiap negara di benua ini rata rata pasti punya taman apik dan bersih. Taman merupakan fasilitas publik yang rasa rasanya wajib ada. Masing masing taman pun punya daya tarik tersendiri.

Seingat gue, belum pernah secara khusus gue mengangkat judul tulisan khusus tentang taman. Paling gue selipin di tulisan yang lain. Berhubung taman yang satu ini lumayan mencuri hati, akhirnya gue angkat ke permukaan deh khusus satu judul.

IMG_7957.jpg

Sebenarnya kota Riga Latvia memiliki beberapa taman yang lokasinya berada di jalur jalan yang sama. Cuma masing masing dipisahkan oleh bangunan saja. Menurut pengamatan gue sih begitu ya. Seperti Esplanade, Vermanes Garden dan yang paling gue suka adalah Baston Hill Garden Parknya. Nah, antara Vermanes Garden dan Baston Hill ini sekilas seperti berada di satu kawasan deh, tapi gue kurang yakin juga. Seingat gue, sewaktu berjalan dari Vermanes Park, bisa conecting ke Baston Hill.

IMG_7936.jpg

IMG_7933.jpg

Sesuai namanya, Baston Hill memiliki area yang agak berbukit. Tapi bukan bukit beneran sih. Cuma agak naik turun gitu tanahnya. Karena bertepatan di musim panas, jadi hamparan rumput di taman ini terlihat cerah banget. Hijaunya mirip karpet.

IMG_7954

IMG_7932.jpg

Secara keseluruhan, penataan tamannya tidak ada yang luar biasa. Sederhana aja. Malah nih, tanaman bunganya pun tidak terlalu banyak. Tapi Baston Hill menjadi terlihat lebih luas justru karena hamparan rumput hijaunya itu. Dan yang bikin makin sempurna, ada aliran sungai kecil di sepanjang pinggiran taman Baston Hill ini. Diantara pohon pohon rindang. Pokoknya berasa nature banget.

IMG_7930
Tuh kan, gembok cintrongnya aja banyak. Hahaha

Taman yang bukan sekedar menawarkan ketenangan, tapi juga suasana romantis. Menurut gue, untuk sebuah taman, rumput hijau yang dibarengi aliran sungai merupakan perpaduan yang paling cocok. Karena ga semua taman ada aliran sungainya kan.

Apalagi, pihak pengelola taman menyediakan perahu kayu kecil yang bisa dinaiki untuk sekedar melepas lelah sehabis mengitari kota Riga. Sembari menikmati keindahan taman dan kota Riga juga.

Perahu ini pelan pelan mengitari aliran sungai kecil di sepanjang pinggiran taman. Ih, gue suka. Peace banget. Melihat orang orang yang duduk santai di pinggiran sungai, membaca, bercengkrama dengan teman atau pacaran (ini gue nebak aja). Emang asik sih tamannya.

IMG_7956

IMG_7955.jpg

IMG_7937

Dari aliran sungai kecil di Baston Hill, perahu kemudian keluar memasuki dan melewati sungai Daugava yang besar. Mirip laut. Udah deh, tinggal nikmati aja bangunan bangunan kota Riga dari sungai ini. Apalagi perahunya ga terlalu gede, dan modelnya masih tradisional. Makin roman roman aja bawaannya kan. Hahaha.

Tepat di seberang jalan Baston Hill, berdiri Freedom Monumen, yang menjadi iconic terkenal di kota Riga. Monumen yang dibangun untuk mengenang para prajurit Latvia yang tewas memperjuangkan kemerdekaan.

IMG_7949

Tak jauh dari monumen, berdiri Nativity Catedral, gereja ortodoks Rusia yang megah. Tidak seperti gereja kebanyakan di Eropa yang bergaya barok klasik, gereja ortodoks Rusia memang sedikit berbeda. Memiliki beberapa kubah yang sekilas mirip kubah mesjid.

IMG_7926.jpg
Nativity Catedral

Di dalamnya ga usah ditanya, meriah dengan lukisan art yang memenuhi dinding gereja. Dan satu lagi, hampir tidak ada kursi, karena jemaat ortodoks selalu beribadah dengan cara berdiri. Tapi sayang, dilarang mengabadikan foto di dalam.

IMG_7962.jpg
Vermanes Garden. Dari sini bisa conecting ke Baston Hill

“Semua foto merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com” 

Semarak “Art Nouveau” di Kota Riga Latvia

Art Nouveau (New Art) merupakan karya seni yang sangat populer antara abad 19 hingga 20, tepatnya di era tahun 1890 dan 1910. Art Nouveau tidak hanya meliputi seni Arsitektur, melainkan juga Design Interior (dekorasi), dan Gaya Art Internasional (termasuk seni musik, teather, lukisan, ukiran, hingga pahatan). Art Nouveau sendiri sangat identik dengan bentuk bentuk meliuk dan lengkungan yang terinspirasi dari alam, seperti tanaman dan bunga bunga.

IMG_6850

IMG_6849
Beberapa contoh arsitektur bangunan dengan motif Art Nouveau di setiap relief dindingnya

Sehingga tidak heran, jika jenis seni yang satu ini sering memadupadankan anggota tubuh manusia dengan liukan tanaman dan bunga. Karya seni Art Nouveau sebenarnya lumayan mudah dikenali di kehidupan sehari hari. Mulai dari motif di gelas, piring, taplak meja, lemari, karpet, lukisan dinding, bingkai foto, tissue, pot bunga, wallpaper, corak kursi/sofa dan masih banyak lagi. Terkhusus barang antik, biasanya bentuk lengkungan dan liukan Art Nouveau sangat mudah didapati. Karena seperti yang gue sebut di atas, karya seni ini tidak hanya terbatas pada arsitektur bangunan, tapi juga design interior dan model art yang lebih universal.

IMG_7102

IMG_6845

IMG_6859
Kompilasi bentuk Art Nouveau

Sejujurnya, pemahaman akan Art Nouveau baru benar benar gue mengerti setelah memasuki gedung museum Art Nouveau di kota Riga Latvia. Di dalamnya terdapat berbagai macam benda Art Nouveau dengan corak dan bentuk yang sangat mudah dipahami. Khas sekali. Untuk lebih memudahkan, bisa dilihat dari gambar gambar yang gue posting ya.

IMG_7101

IMG_6854
Detail Art Nouveaunya cantik banget. Sampai besi balkonnya juga bergaya Art Nouveau

Kota Riga lumayan terkenal memiliki banyak bangunan berarsitektur Art Nouveau. Setidaknya, 30 persen bangunan Art Noveau berdiri di pusat kota ini. Riga adalah “salah satu” kota yang  memiliki bangunan bergaya Art Nouveau terbanyak di Eropa. Terutama di dua kawasan jalan bernama Alberta dan Elizabetesyang mana kedua jalan ini pun akhirnya ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata di kota Riga.

IMG_6863

IMG_6856

Di kawasan jalan Alberta dan Elizabetes inilah, bisa dilihat betapa kuatnya pengaruh Art Nouveau terhadap arsitektur bangunan di pusat kota Riga dulunya. Sehingga tak heran, dari kedua jalan tersebut, tepatnya di kawasan Alberta, berdiri museum Art Nouveau, yang lagi lagi bangunannya juga bergaya Art Nouveau. Gue sangat merekomen museum ini. Cantik!

IMG_6819
Museum Art Nouveau. Di dalamnya cantik banget semua. Nuansa abad ke 19 sangat kental berasa. Karpet di lantai bermotif Art Nouveau, bingkai foto, semuanya detail menampilkan nuansa Art Nouveau
IMG_6812
Wallpaper Art Nouveau. Jaman sekarang pun motif ini masih dipakai
IMG_6832.jpg
Ini gue foto dari lantai dasar museum. Sebuah tangga di museum yang meliuk berbentuk lingkaran. Lengkap dengan liukan gambar gambar khas Art Nouveau. Sampai pagar besi di tangganya pun bermotif Art Nouveau

IMG_6834.jpg

Dalamnya penuh dengan benda benda yang sudah pasti bernuansa Art Nouveau. Mulai dari tangga museum yang meliuk dari bawah hingga atas, para pegawai yang berpakaian abad ke 19, peralatan rumah tangga, koleksi porcelain, duh bikin gemes.

IMG_6808
Berbagai koleksi porcelain yang aduh duh duh menggemaskan. Corak Art Nouveaunya beneran membuat kalap pengen nyolongin. Hahaha
IMG_6803
Nih, design Art Nouveau di salah satu tea cup porcelain

Dari sinilah gue baru menyadari, benda benda yang sering gue lihat di rumah, ternyata bagian dari Art Nouveau. Contoh kecil, seperti tea cup dan karpet motif bunga, pegangan besi pada laci atau pintu lemari dengan ukiran meliuk. Itu familiar banget kan.

IMG_6806
Hayoo, karpet motif gini familiar banget kan! Demikian juga dengan teko dan kotak kaleng di bawah ini. Penggemar barang antik pasti familiar dengan coraknya

Berada di dalam museum sempat membuat gue terheran, tepatnya katrok. Jadi pas melewati sebuah kaca, tiba tiba muncul seorang pria mengenakan jas, sambil berjalan. Muncul, berjalan dan menghadap ke depan kaca tepatnya.  Sambil bilang “selamat datang”.

IMG_6813

IMG_6823
Lemari dengan ukiran melengkung, tempat lilinnya juga. Akrab banget di mata model yang beginian. Gantungan lampu di bawah ini juga, mirip lampu lampu antik di keraton jawa

Awalnya gue berpikir, kok bisa pas banget sih timingnya ngomong selamat datang. Pas gue lewat pula. Nah, ga lama kemudian, masuk lagi turis lain. Eh, dia nongol lagi dong dan ngucapin kalimat yang sama. Si turis itu juga sama katroknya dengan gue, mereka juga terlihat kaget dan bingung. Alhasil kami jadi liat liatan. Hahaha.

IMG_6814
Hadeh, jatuh cinta dengan sofa ini. Motif Art Nouveaunya bagus banget. Dan taplak meja itu dong, motifnya akrab di mata. Emak gue dulu suka model taplak meja mirip kayak gini. Hahaha

IMG_6815

IMG_6818

Gue kurang tau pasti, sepertinya ada alat sensor di sekitar ruangan. Mungkin dipasang di dekat kaca. Daripada penasaran, gue pun mencoba melewati kaca itu lagi dan berdiri pas di depannya. Ehhh dia muncul dan lagi lagi bilang “selamat datang”. Tuh kan, kayaknya memang ada sensornya. Niat banget kan gue, sampai ngetes kayak gitu. Kurang katrok apa coba. Hahaha.

IMG_6811

IMG_6810

Demikian juga di ruangan lain, ada kaca yang kalau kita mendekat di jarak tertentu, muncul dua orang wanita berpakaian abad ke 19. Bergerak gerak. Jadi serasa nonton film horor Noni Belanda gitu deh. Hahaha.

IMG_6801

IMG_6796
Studio photo, kamera pas di atas pintu dan dinding dindingnya penuh dengan foto abad ke 19 hingga 20

Nah, di museum ini juga tersedia studio foto. Sederhana dan praktis. Dengan merogoh kocek 2 euro, kita sudah bisa memilih pakaian ala abad ke 19 lengkap dengan topi bulu bulu melambai manja. Tinggal ikuti petunjuk. Pertama scan barcot pembayaran di mesin yang tersedia, langsung duduk manis, dan……cekrek!

Otomatis kamera di atas dinding menyala. Udah deh, tinggal print. Dapat 4 buah foto. Satu foto bisa langsung di print di museum, dan tiga foto lainnya bisa di email ke alamat email yang kita sertakan. Mayanlah, buat seru seruan. Kalau mau beli souvenir bermotif Art Nouveau juga bisa. Seperti gambar di bawah ini.

IMG_6829
Souvenir bermotif Art Nouveau
IMG_6792
Museum Art Nouveau di jalan Alberta

To be Continued…

“Semua foto adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”

Latvian Ethnographic Open Air Museum

Gue dan suami adalah pasangan yang lumayan sering mengunjungi Open Air Museum, karena  selain memiliki cerita history, bangunan di kawasan museum berjenis seperti ini mostly menampilkan berbagai bentuk rumah rumah tradisional yang unik dan lucu.

IMG_6374.jpg

Belum lagi para tim penggembira museum yang berpenampilan ala ala Little Missy yang lumayan menghibur mata. Setidaknya begitulah gambaran museum udara yang sudah pernah gue kunjungi. Seperti Den Gamle By di Aarhus Denmark, Jamtli di Ostersund, dan Skansen di Stockholm, Swedia.

IMG_6373

Tak terkecuali Riga Latvia, kota ini pun memiliki museum udara yang terbilang sangat luas bernama Latvian Ethnograhic Open Air Museum. Berdiri di kawasan yang sangat luas, kalau tidak salah kurang lebih 80-an hektar meter persegi. Di sekitar Lake Jugla dan dikelilingi hutan kayu lebat, aroma nature benar benar masih berasa di open air museum ini.

IMG_6372
Suka melihat jalanan ini. Lokasinya persis di pintu masuk museum

Buat yang memang benar benar menyukai wisata seperti ini, mengunjungi Latvian Ethnographic tidak cukup hanya 2 hingga 3 jam.  Saran gue sih, luangkan waktu seharian biar jalannya bisa santai. Fokusin agendanya hanya untuk melihat museum. Bukan apa apa sih, menurut gue  lumayan melelahkan juga mengitari semua kawasannya. Apalagi kalau dijalani buru buru, makin gempor deh.

IMG_6335

IMG_6360

Latvian Ethnographic merupakan salah satu open air museum tertua dan terluas di Eropa. Memiliki 118 bangunan bersejarah yang berasal dari berbagai propinsi di Lativia. Konon, semua bangunan dari berbagai wilayah di propinsi Latvia sengaja diangkut dan dikumpulkan menjadi satu di kawasan museum udara ini. Bangunan bangunan yang mewakili sejarah  wajah Latvia di masa lampau. Mulai dari rumah, gudang, lumbung gandum, gereja, bahkan peralatan peralatan rumah tangga yang digunakan sehari hari di masanya.

IMG_6365.jpg

IMG_6353.jpg

IMG_6330

Di museum ini pengunjung bisa melihat bagaimana kehidupan bangsa Latvia ratusan tahun silam. Seperti apa ruang tamu mereka, kamar, tempat tidur, lemari, peralatan masak, perabotan rumah, perapian, hingga cara mereka mendapatkan air pun, bisa dilihat di museum ini.

IMG_6364
Bangunan tempat mandi
IMG_6347.jpg
Daun Birch. Sehabis mandi dipukul pukul ke badan agar perendaran darah lancar katanya.

Bahkan sebuah bangunan yang dibangun sekitar tahun 1862, yang berfungsi sebagai tempat mandi/sauna juga ada. Bathtubnya terbuat dari ember kayu besar berisi air. Pemanas air berasal dari bongkahan batu batu besar di sampingnya. Sehabis mandi mereka lalu memukul mukul badan dengan ikatan ranting daun birch. Lucu juga ngebayanginnya.

IMG_6689.jpg

IMG_6348

IMG_6367

Ada pemandangan unik yang lumayan menarik perhatian gue, tepatnya ketika memasuki halaman sebuah gereja tua yang diperkirakan dibangun pada awal tahun 1700 an. Gue melihat sebuah tiang kayu lengkap dengan besi tua berbentuk lingkaran layaknya kalung besi. Awalnya gue pikir dipakai untuk memenggal kepala gitu. Ternyata salah.

IMG_6369.jpg
Bangunan gereja yang dibangun tahun 1700 an. Sedangkan foto di bawah, merupakan foto di dalam gereja yang sudah. Dan tiang kayu tempat menghukum orang

Jadi konon dahulu, jika seseorang melakukan kesalahan yang cenderung memalukan, ada hukuman sosialnya. Dan biasanya, orang tersebut akan diikat ke tiang kayu dan melinggakarkan kalung besi tadi di lehernya. Tujuannya agar dia merasa malu, ketika banyak jemaat gereja yang melihat dan mengetahui perbuatan jeleknya. Kira kira seperti icuuuuuuu!

IMG_6356.jpg

IMG_6355.jpg
Sumur beserta ember kayu untuk mengambil air

Bangsa Latvia ternyata lumayan mempercayai kekuatan gaib. Bahkan hingga sekarang kepercayaan seperti ini masih bertahan dalam bentuk pernak pernik kerajinan tangan. Sewaktu kami hendak memasuki sebuah bangunan, terlihat seorang wanita paruh baya mengibas ngibaskan sesuatu ke kami. Sesuatu yang mirip benda anyaman dari jerami.

IMG_6250.jpg
Si nenek penjaja souvenir pengusir hantu hehehe
IMG_6346
Benda yang dianggap mampu mengusir hantu

Menurut beliau, benda tersebut mampu mengusir setan. Dalamnya berisi biji bijian, yang kalau digoyang mampu mengeluarkan suara. Nah, suara suara itulah yang katanya ampuh mengusir setan. Benda pengusir setan ini bisa dibeli sebagai oleh oleh atau buah tangan.

Merasa kurang enak, kami pun membeli. Kasihan melihat si nenek uda acting dan capek jelasin, kali aja setan di rumah gue mungkin bisa kabur. Hahahaha….kagaklah becanda. Gue sih mengganggapnya sebagai barang unik dan lucu aja.  Benda yang sepertinya mewakili cerita legenda bangsa Latvia. Dan kebetulan gue memang penyuka souvenir. Si nenek tadi juga menjual kerajinan telur dan hiasan natal. Macam macamlah. Harganya berkisar antara 10 hingga 20 euro kalau tidak salah.

IMG_6354.jpg
Wanita Latvia dengan baju tradisonal Latvia

Rata rata, bangunan di Latvian Ethnographic Open Air Museum dijaga oleh pria maupun wanita berpakaian tradisional khas Latvia. Tapi sayang, beberapa dari mereka terkesan kaku dan tidak bisa bahasa Inggris juga. Kurang atraktiflah jika gue bandingkan dengan open air museum yang pernah gue datangi. Dari segi pengunjung pun, rasanya tidak terlalu banyak. Gue kurang tau pasti sih, apa karena kami datang di hari yang salah. Biasanya kalau musim panas, open air museum seperti ini selalu mengadakan acara hiburan seperti teather ala ala, atau acting kecil kecilan dari tim museum untuk memberi kesan lebih hidup akan nuansa jaman dulunya. Seperti di museum udara Jamtli Ostersund misalnya. Senang banget melihat acting tim museumnya. Jadi pas masuk ke dalam bangunan, pengunjung terhibur dengan acting mereka yang sedang memasak, menjahit, menyuci piring, membuat roti, dan kadang kadang mereka juga sambil ngobrol satu sama lain, layaknya tidak ada turis di dalam ruangan. Natural sekali actingnya. Jadi turis tidak melulu melihat benda mati. Dan tidak gampang bosan juga. 

IMG_6363
Bangunan berisi kerajinan tangan seperti kapak, pisau dan peralatan pendukung. Pengunjung bisa langsung membuat sendiri mata uang koin dengan menggunakan palu. Alatnya seperti gambar di sebelah kanan bawah.

Selain itu, penempatan semua bangunan di Latvian Etnographic Open Air Museum ini pun terkesan monoton. Bahkan ada beberapa bangunan yang diletakin menyendiri di tengah hutan dan terlihat seperti kurang terurus. Entahlah apa cuma pemikiran gue aja. Tapi menurut suami pun begitu. Dari tapak jalan dan rumput yang kami lewati, bisa kelihatan kalau jalanan itu jarang dilewati. Tapi bagi yang memang suka kesepian, feelnya dapat sih. Naturenya lebih berasa.

IMG_6576.jpg

IMG_6340.jpg

Parahnya lagi, seluas itulah museum ini, tidak ada cafe kecil untuk sekedar bisa melepas dahaga atau lapar di titik titik lokasi tertentu. Kan ga semua juga ya niat bawa air putih atau cemilan di ransel. Kalau pun ada, mau berapa botol? Namanya jalan segitu jauh pasti cepat haus kan. Bahkan bangku untuk sekedar rest sebentar pun tidak tersedia. Masa mau tancap jalan terus? Tega banget sih mak! Hahaha.

Cafe restoran cuma ada di area pintu masuk. Beda banget dengan museum udara di Skansen Stockholm. Lebih terkodinir sepertinya. Artinya mereka sudah lebih paham, seluas apa kawasan yang dilewati turis. Jadi yang namanya cafe kecil, ada aja di beberapa titik lokasi. Pun bangku bangku tempat beristirahatnya. Bangunan tuanya juga diselang seling dengan taman kecil, peternakan sapi, pabrik dan toko jadul. Jadi yang dilihat pun lebih bervariasi. Kan pengunjung bukan orang dewasa aja. Anak anak juga ada.

IMG_6325.jpg
Walking

Itu berasa banget pas kami melewati jalanan yang memang forest banget. Pas berasa cape ga tau mau rest dimana. Bangku sebiji pun kaga ada. Hal inilah yang membuat kami jadi cepat merasa bosan. Mentok cuma melihat bangunan yang lama lama bentuknya itu lagi dan itu lagi. Awalnya sih masih ecxited, lama lama mulai entahlah mak! Hahaha.

IMG_6334

IMG_6358.jpg

IMG_6366

Mana perut mulai lapar. Wajarlah uda lewat jam makan siang. Nah, kalau harus makan ke restorannya, kan uda malas ya harus balik arah lagi melihat yang lain. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sepertinya ada beberapa bangunan yang kami tidak lihat lagi.

IMG_6319.jpg
Senang duduk di luar cafe restonya. Viewnya langsung menghadap forest
IMG_6318
Country soup. Enak. Untuk semua menu makanan dan minuman dikenai 13 euro. Relatif murah dibanding harga di kawasan old town Riga.

Tapi lagi lagi ini pemikiran gue aja sih. Karena kalau melihat review, rata rata turis yang datang ke museum ini komennya oke oke aja. Mungkin karena gue bandingin dengan museum udara yang pernah gue kunjungi sebelumnya, yang lebih atraktif dengan hiburan hiburan kecilnya.

Oh iya, gue suka banget dengan cafe resto museum ini. Bangunan wooden house tua. Autentik banget. Dalamnya pun asik. Trus suasana di luarnya juga enak. Langsung menghadap forest gitu. Adem banget rasanya. Makanan di restonya relatif murah sih menurut gue. Gue merekomen menu country soupnya. Lumayan enak. Boleh dicoba.

Satu lagi, coba juga minuman Kvass khas Baltik. Minuman ini rasanya unik. Mirip soft drink bercitra rasa manis gula aren. Katanya sih minuman non alkohol. Atau beer low alcohol di bawah 2 persen. Pertama nyoba gue langsung sukaaaakkkk! Mungkin karena rasa gula aren kali yak! Hahahha.

IMG_6321
Kvass, rasa gula aren. Hahahaha

Menuju Latvian Ethnographic Open Air Museum, bisa ditempuh dengan Bus nomor 1  dari pusat kota Riga. Perjalanan kurang lebih 1/2 jam.

To be continued..

“Semua photo merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

 

Menikmati Nuansa Medieval di Negara Baltik (Riga Latvia)

Musim panas tahun ini merupakan musim yang lumayan menyita waktu gue dan suami. Terutama suami sih. Mempersiapkan lelang, terkait warisan mendiang kerabat, yang ternyata merepotkan juga. Sampai sampai suami harus cuti beberapa kali dari kantornya.

Belum lagi segala urusan yang berhubungan dengan pajak, notaris, buyer, membuat dia enggan memikirkan hal lain. Termasuklah urusan liburan. Dan gue pun bisa mengerti, karena kalau ngomongin liburan harusnya pikiran bebas dari segala urusan ini itu kan. Kalau dipaksakan yang ada liburannya malah kurang asik.

IMG_5916

Tapi cerita pun menjadi lain, karena di luar dugaan kami, ternyata segala urusan tetek bengek di atas bisa terselesaikan lebih cepat. Dan singkat cerita, akhirnya kami pun bisa dengan tenang memikirkan acara liburan musim panas tahun ini.  Dan tempat yang kami pilih juga ga jauh jauh. Masih di sekitaran wilayah Baltik, tepatnya di kota Riga, Latvia. Meskipun cuma sebentar, akhirnya kami bisa juga menikmati summer holiday, sekalian merayakan anniversary tiga tahun pernikahan kami. Huraaaaaaaaaaaaaaa!!

IMG_5805.jpg
Skål aka Cheers for anniversary!

Berkunjung ke negara bekas pecahan Uni Soviet ini, sebenarnya sudah ada dalam agenda jalan jalan kami jauh sebelumnya. Tepatnya sehabis mengunjungi kota tua Tallin Estonia tahun lalu, yang kebetulan juga sama sama berada di wilayah Baltik. Waktu itu kami benar benar terpesona dengan keindahan kota Tallin. Yang akhirnya membuat gue berinisiatif searching di google tentang negara Baltik lainnya. Dan ternyata ketemu kota Riga. 

IMG_5922.jpg

Ya uda, langsung masukin destinasi trip selanjutnya. Makanya liburan summer tahun ini, kami ga pake susah nentuin tempat berlibur. Karena Riga sudah masuk dalam agenda. Apalagi, memilih Riga sama artinya juga dengan kami bisa menikmati quality time di dalam kapal sekitaran laut Baltik yang terkenal mampu memanjakan para penumpangnya dengan berbagai fasilitas yang uhuiiii. Menikmati hari layaknya di kota berjalan. Bisa Klik di Sini.

IMG_5816.jpg

Dari Dalarna, kami berangkat dengan bus tepat pukul 9 pagi. Tiba di Stockholm sekitar pukul 3 sore. Menjadi lama karena bus harus keliling menjemput penumpang di beberapa stasiun kota. Bus yang kami tumpangi merupakan bus travel yang bekerja sama dengan Tallink Group. Perusahaan kapal besar yang melayani jasa transportasi di seputaran laut Baltik.

IMG_5702

Sekitar pukul 5 sore, kapal meninggalkan Stockholm dan tiba di kota Riga pada pukul 10 pagi. Hari itu cuaca di kota Riga lumayan panas dan terik. Ada cerita tak mengenakkan di awal ketibaan kami. Sistem layanan taxi di pelabuhan kota Riga lumayan kurang terkontrol. Ternyata main serobot masih berlaku di sini. Ga jelas menunggu taxinya dimana. Kami sempat bingung dan demikian juga dengan beberapa warga Swedia lainnya. Berdiri menunggu untuk sesuatu yang tidak jelas.

IMG_5887

Banyak orang yang sudah terlebih dahulu berdiri di halte, ditikung ama calon penumpang lain. Kami cuma bisa bengong. Di sekitar area ketibaan, tidak terlihat satu taxi pun yang parkir menunggu calon penumpang. Murni menunggu taxi yang datang. Harusnya ada yang kontrol ya. Jadi penumpang ga rebutan.

Apalagi kepala mulai berasa dipanggang. Tensi pun mulai meninggi. Mana taxinya berhenti selonong boy aja, kadang di depan halte kami, kadang di halte lain. Aduh bener benar putus asa nunggunya. Maksudnya kurang jelas gitu loh sistem nyetop taxinya seperti apa. Kalau sekiranya taxi berbaris parkir, mungkin bisa disamperin. Beres kan. Atau pakai sistem ngantri. Ini mah kagak.

IMG_5901

Nah, pas sebuah taxi melaju ke halte di sebelah, terlihat calon penumpang langsung berbicara ke supir taxi. Cuma anehnya mereka tidak jadi naik. Suami gue pun langsung sigap berlari menghampiri taxi tadi. Tidak terlalu ingat persisnya seperti apa, ga lama suami pun melambaikan tangan ke gue. Tanda isyarat kalau kami bisa masuk ke dalam taxi.  Huaaaaa, surprise!

Dan ternyata, ada cerita dibalik keberhasilan suami bernego dengan si bapak supir tadi. Ceritanya pas suami menuju taxi, ada juga calon penumpang yang berniat masuk ke dalam taxi, tapi ditolak si supir dengan alasan hotel yang mereka tuju tidak terlalu jauh.

IMG_5912

IMG_5861.jpg

Tapi anehnya, giliran suami gue diokein. Padahal tujuan sama sama ke  hotel yang juga dituju oleh calon penumpang sebelumnya. Dan akhirnya gue baru paham, ternyata ada permainan harga. Taxinya ga pakai argo. Untuk perjalanan 10 menit, kami dikenakan 20 euro. Dan itu langsung dibayar di muka. Sekitar 300 ribu rupiahlah.

Jadi kesimpulannya, supir taxi tadi tembang pilih calon penumpang. Mungkin mereka punya kemampuan melihat postur wajah si A dan si B asalnya dari negara mana. Gue ga perlu perdalamlah kalimatnya. Sedikit rasis. Dan itu nyebelin banget kan!

36032371061_80c01c4727_o

Berkiblat ke harga taxi di kota Tallin Estonia yang relatif murah, seingat gue perjalanan 10 menit cuma dikenai 6 euro. Jadi pas ditodong membayar 20 euro di kota Riga lumayan yessssssssss juga kagetnya.

Supir taxi juga bilang, kalau harga taxi di kota Riga tidak ada yang seragam. No argo. Semuanya sesuai kesepakatan. Kami sempat percaya. Sampai sampai malas naik taxi. Ternyata ga benar mak. Masih ada kok taxi yang pakai argo.

Dan itu argonya ya ampun, untuk perjalanan 5 menit cuma 3 euro malah. Dan pas balik ke Swedia, biaya argo dari hotel ke pelabuhan cuma dikenai 5 euro. Jreng jreng jreng! 

Tapi namanya juga cari nafkah ya. Rejeki si driver taxinyalah. Dan rejeki kami juga, karena tanpa dia pastinya kami masih menunggu lama di pelabuhan. Untung dapat taxi. Daripada ga, bisa ngesot sampai hotel.

Sekilas tentang Riga, kota ini  merupakan ibukota Latvia. Latvia sendiri pernah menjadi bagian dari wilayah Swedia, kemudian direbut oleh Rusia. Pada tahun 1991, Latvia memerdekakan diri dari Uni Soviet dan menjadi negara yang berdaulat penuh.

IMG_5793.jpg
Swedish Gate di kota tua Riga

Riga sampai saat ini tetap melakukan pembenahan. Bangkit dari masa masa suram di jaman pemerintah komunis dulunya. Menurut cerita suami, meskipun wilayah Swedia terbilang dekat ke kota Riga Latvia, warga Swedia dulunya tidak bisa masuk ke kota ini. Akses masuknya sangat sangat sulit. Itu sebabnya, saat ini Riga mati matian mengembangkan potensi wisatanya. Pun dengan warga Swedia, sangat menikmati era keterbukaan di kota Riga sejak Latvia merdeka.

IMG_5854.jpg

IMG_5804

Warga Riga itu sepengamatan gue, terutama kaum wanitanya, sangat fashionable. Postur wajah dan badan mereka juga oke banget. Tinggi langsing, muka tirus, mirip model model dunia gitu. Wajah wanita ex Soviet pada umumnyalah. Memang cantik cantik kan.

IMG_5864

Nah, mereka itu sepertinya untuk sekedar jalan, suka banget pakai high heels, wadges, make up full abis, lipstick merah menyala, mau di pasar, jalan agak berbatu, di bus, di tram, semuanya rata rata bergaya. Bahkan seumuran emak emak juga gaya. Tapi ada juga sih yang berpenampilan apa  adanya. Gue bicara mostlynya aja.

IMG_5814
Mobil antik Rusia di depan sebuah restoran

IMG_5862.jpg

Menjelang malam, di beberapa titik lokasi, banyak para wanita yang berdiri dengan penampilan keren. Tidak seronok dan tetap asik dilihat. Tapi kurang tau mereka berdiri menunggu apa.

IMG_5832.jpg
Menikmati malam. Kece yak!

Riga memiliki kawasan Medieval Old Town yang sangat mempesona. Berjalan kaki seharian di kota tua ini tidak pernah bosan. Secara keseluruhan mampu menampilkan aroma abad pertengahan. Kota tua yang langsung membuat gue jatuh cinta. Cafe, restoran, bar, toko souvenir, lorong lorong kecil, bunga warna warni, alamak, cantik dan romantis. Semua memiliki magnet kuat yang mengharuskan gue pengen berhenti dan berhenti lagi. Kawasan ini pun ditetapkan Unesco sebagai salah satu heritage dunia yang dilindungi. Agak mirip dengan kota Tallin Estonia, cuma Tallin memang lebih ramai dan lebih cantik menurut gue. Untuk kota Tua Tallin Estonia, bisa baca di sini.

IMG_5828.jpg

IMG_5830.jpg

Gue sangat menyukai bunga. Dan bunga bunga yang bergantungan di kota tua Riga sangat membuat gue jatuh cinta. Setidaknya untuk negara yang pernah gue kunjungi, kawasan old town Riga gila gilaan banget bunganya. Dan dengan berat hati harus gue katakan, Gamla Stan Stockholm yang selalu menjadi favorite gue itu, masih kalah saing dengan bunga bunga di Medival Old Town Riga. Percayalah, kamu harus ke Riga untuk membuktikannya!

IMG_5799

IMG_5839.jpg

IMG_5798

IMG_5819

IMG_5913
Bunga bunga di sekitar cafe restoran

Di kota tua Riga, banyak sekali dijumpai cafe restoran unik bergaya Autentik Medieval  atau abad pertengahan. Crazy to the max melihatnya. Dan enaknya lagi, kota tua Riga surganya wifi gratis. Sepertinya semua bangunan punya wifi. Apalagi cafe restonya. Bahkan, berdiri di tengah alun alun kotanya pun kadang bisa dapat wifi. Entah wifi dari cafe dan resto mana sangkin bersenggolan dan berdekatan gitu. Hahaha. Makanya kalau melihat map tourist, lambang lambang wifi selalu ada di setiap tempat wisatanya. Ya meskipun agak lemot sih. Tapi namanya juga gratis.

IMG_5855

IMG_5834

Oh iya, harga makanan di kawasan old town Riga terbilang tidak murah juga. Setidaknya untuk cafe resto yang kami coba, menyajikan harga yang relatif mahal. Contohnya, segelas bir, wine non alkohol, seporsi chicken wings, dan segelas air putih, dihargai 30 euro. Demikian juga makan di salah satu resto bergaya abad pertengahan, dihargai sekitar 45 euro.

IMG_5845
Duh, cafe restonya bikin terlena

Souvenirnya juga, rata rata berkisar mulai dari 6 hingga 8 euro lebih. Mungkin karena kawasan medieval ini merupakan pusat kunjungan para turis. Semua nyaris numplek di kota tua ini.

Tapi begitu keluar dari kawasan kota tuanya, harga pun terbilang anjlok. Contoh lagi, kami makan 2 mangkok country soup ukuran besar, satu gelas ice cream porsi gede, 2 gelas Kvass (sejenis minuman soft drink), hingga satu botol air putih, cuma dikenai 13 euro. Padahal itu di kawasan wisata juga, di open air museumnya.

IMG_5836

IMG_5808

IMG_5813
Minuman ini enak banget

Riga memang sangat melekat dengan medieval old townnya. Banyak banget yang bisa di explore di sini. Memiliki predikat sebagai the Home to Many museumsalah satunya adalah Museum of the Occupation of Latvia. Kami tidak sempat ke museum ini. Apalagi museum lagi direnovasi dan semua benda benda di museum dipindahkan ke gedung lain yang lokasinya agak jauh dari pusat old townya.

image_6483441.JPG

IMG_5920
Menara St Peter’s Church. Sedangkan yang paling atas sebelah kanan menara Main Church di kota tua Riga

Jangan lupa masuk ke St. Peter’s Church, gereja tua yang menjadi incaran para turis di old town Riga. Gue sangat merekomen. Kenapa? karena dari tower gereja inilah landscape indah kota Riga bisa dilihat dari ketinggian.

IMG_5893
Di dalam St. Peter’s Church

Enaknya lagi, untuk bisa mencapai ketinggian tower, pengunjung tidak perlu capek naik turun tangga, karena tower gereja sudah dilengkapi dengan fasilitas lift. Lift hanya bisa digunakan dalam hitungan persepuluh menit.

IMG_5879

IMG_5883

IMG_5880
Landscape kota Riga dari menara St. Peter’s Church

Sambil menunggu, mata bisa menyaksikan tayangan di layar tv yang sengaja dpasang di atas pintu lift. Berisi sejarah tower gereja yang memiliki ketinggian total 123 meter. Mengalami kerusakan parah akibat serangan bom di jaman perang dunia ke II. Perbaikan kerusakan tower gereja kemudian dimulai pada tahun 1968 dan selesai pada tahun 1970.  Kalau tidak salah, view pointnya berada di ketinggian 75 meter. Dan lift berhenti sampai di ketinggian ini saja. 

IMG_5909

IMG_5906

IMG_5904

Selain itu, ada the House of the Blackheads, bangunan yang sangat ngehits di seantero Riga bahkan Latvia. Jika kamu mengetik kata kunci “Riga” di mbah Google, mostly yang muncul adalah bangunan the House of the Blackheads ini.

IMG_5865.jpg
The House of the Blackheads

The House of the Blackheads kalau tidak salah nih, awalnya dibangun pada abad ke 14. Merupakan bangunan yang diperuntukkan bagi Botherhood of Blackheads, semacam perhimpunan/asosiasi pengusaha (pria kaya) asal Jerman tapi tidak menikah. Katanya di era itu banyak pria Jerman yang sukses dan membentuk asosiasi seperti ini. Asosiasi yang sangat terkenal. Gue juga masih samar samar tentang defenisi Botherhood of Blackheads ini. Kurang lebih gitu deh. Mudah mudahan ga salah menyimpulkan. 

IMG_5868.jpg

IMG_5866

Akibat keganasan perang dunia, bangunan the House of the Blackheads hancur total tak bersisa. Kemudian dibangun kembali dengan model yang hampir sama. Jadi bangunan yang ada sekarang bisa dibilang bukan bangunan tua. Tapi entah mengapa, lagi lagi turis tidak boleh masuk. Sepertinya Riga memang lagi repot banget dengan segala renovasi bangunan dimana mana. Menurut info petugas di kantor tourist information, belum tau sampai kapan bangunan ini dibuka untuk umum.  

IMG_5815

Masih bercerita tentang bangunan tua, di medieval old town Riga, tepatnya di Maza Pils Street, terdapat 3 buah bangunan tua yang saling berdampingan bernama Three Brothers. Disebut Three Brothers karena dibangun oleh 3 pria dari sebuah keluarga dalam periode tahun yang berbeda. Three Brothes merupakan bangunan medieval tertua di kota Riga dan menjadi salah satu iconic terkenal di kota ini.

IMG_5915.jpg
Three Brothers. Bangunan paling tua nomor 17 berwarna putih, yang ditengah nomor 19 dan warna hijau nomor 21

Setiap bangunan mewakili era di masanya. Bangunan nomor 17, merupakan bangunan tertua bergaya Gotic dengan sentuhan design abad pertengahan awal yang dibangun di abad 15. Bangunan nomor 19, dibangun pada tahun 1646 bergaya Medieval Belanda. Dan bangunan terakhir nomor 21, dibangun pada abad ke 17 dengan model bangunan bergaya Barok. Three Brothers konon menyamai bangunan tua Three Sisters di kota tua Tallin Estonia. Nemu aja ya bangunan yang sama gitu. Atau dipaksain biar terlihat sama? Hahahha.

IMG_5914.jpg

Mengelilingi old town Riga bisa ditempuh dengan berjalan kaki, pun dengan kereta lucu ala ala dan cukup membayar 5 euro.  Selain itu,  juga ada transportasi becak ala kota Riga dan  bus hop-on hop-off.

Itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak tempat menarik di medieval old town Riga. Bahkan sekelas toko souvenirnya pun mampu membuat menggila. Lucu lucu dan unik banget.

Perhiasan seperti kalung, anting dan gelang batu berwarna kuning kecoklatan, menjadi pemandangan yang biasa di toko souvenir kota tua ini. Batu batu yang konon katanya berasal dari lautan Baltik. Lucunya, selain dijual di pinggir jalan dengan box yang rata rata mirip keranjang anyaman rotan, perhiasan batu ini juga dijual di toko bahkan butik berkelas dengan harga yang menggile. Muncul pertanyaan, bedanya dimana ya, kalau memang sama sama dari lautan Baltik, kenapa bisa timpang banget harga yang di kaki lima dengan di toko butiknya? Berhubung gue tidak tertarik dengan perhiasan kayak gini, jadi mahal or murah biarkan saja. Hahahaha

IMG_5825
Keranjang kotak mirip anyaman bambu. Sebagian besar pedagang souvenir jalanan menjual dagangan di tempat seperti ini

Bicara souvenir, gue justru lebih tertarik dengan souvenir autentik berbentuk boneka dan rumah warna warni khas Riga. Tapi herannya, hampir kebanyakan toko souvenir di kota tua Riga menempatkan dagangan souvenirnya di dalam lemari kaca. Dan itu dikunci.

IMG_5715
Kios souvenir berbentuk drum kayu. Unik dan lucu banget. Hahaha

Apa alasanya gue juga kurang tau pasti. Tebakan yang paling jitu sih apalagi kalau bukan takut dicolong. Pas gue masuk ke salah satu toko souvenir dan bermaksud hendak membayar belanjaan, beberapa turis asing masuk ke dalam toko.

Dan jreng jreng…………….si penjaga toko langsung ninggalin belanjaan gue dong. Keren banget kan langsung main ninggalin belanjaan gue gitu aja, padahal mau hitung hitungan. Hahahaha. Dan dia pun nanar memperhatikan turis yang masuk. Tebakan gue mendekati kebenaran.

IMG_5711

IMG_5713
Sebagian besar toko souvenir di Riga menjual rumah warna warni  kayak gini. Mewakili rumah rumah tua di kawasan old townnya. Gue menyebutnya “Rumah dongeng”

Apalagi rata rata wajah pelayan tokonya dingin banget. Flat tanpa senyum. Kalaupun senyum ya seadanya. Yang ramah itu menurut gue mostly pelayan restoran. Bahkan malah ada yang kelewat ramah. Mungkin sangkin banyaknya cafe restoran di sekitar old town ini. Jadi pelayanan terbaik merupakan cara jitu menarik pelangggan.

IMG_5709
Boneka imut juga menjadi bentuk lain souvenir di Riga. Bahkan banyak boneka yang berpakaian tradisional Latvia

Meskipun berpredikat sebagai kota tua, di sekitar old town Riga berdiri sebuah store modern bernama Galeri Center (GC), store yang menjual berbagai perlengkapan fashion brand terkenal. Tak jauh dari GC, berdiri pula sepasang restoran siap saji yang sangat digemari di Indonesia. Pizza Hut dan KFC. Huaaaa……ada KFC!

IMG_5858.jpg
KFC……..anyone?

Sudah lama gue merindukan kriuk kriuk KFC. Tapi entah mengapa, gue ga sempat atau berasa tidak terlalu antusias untuk mencobanya. Sejujurnya sih gue lebih merindukan KFC Indonesia. Mungkin karena pernah mencoba makan KFC di kota Kopenhagen Denmark, dan rasanya entahlah mak, kok kurang nendang. Efeknya jadi tidak terlalu antusias pas melihat KFC di kota Riga. Atau mungkin juga karena gue lebih terlena dan memilih duduk manis di cafe cafe bergaya madievalnya.

IMG_5826

Nah, jika kamu bosan dengan liburan yang kotanya itu lagi dan itu lagi, negara Baltik ini bisa jadi pilihan berliburmu.

To be continued…

“Semua photo merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Loiten Lys, Surganya Pencinta Candle

Candle? Ihh…gue suka banget!

Kecuali lilin batangan model klasik yang warnanya putih. Kalau itu gue kurang suka, karena selalu mengingatkan gue dengan tradisi mati lampu sewaktu kecil dulu. Masa masa setiap hari mati lampu, sampai tau jadwalnya. Hari ini giliran gang rumah gue, besok gang di sebelah. Sadis. Makanya familiar banget dengan lilin putih. Nyalainnya aja uda pake dongkol. Haha.

IMG_9682
Koleksi lilin dari Loyten Lys

Tak bisa gue pungkiri, kecintaan terhadap lilin mulai bertambah dan bertambah sejak gue tinggal di Swedia. Selain bentuk dan warnanya yang beraneka, harganya pun sangat terjangkau. Dapatinnya juga mudah. Maksudnya untuk sebuah lilin cantik, ga harus ke toko khusus. Di supermarket biasa pun ada.

IMG_9683.jpg
Hasil hunting, bahkan ada yang gue beli sewaktu liburan

Masih ingat banget, tahun pertama di Swedia, gue kalap tralala trilili setiap masuk toko dan supermarket. Selalu beli lilin. Percaya atau ga, meja ukuran satu setengah meter sampai penuh dengan lilin. Malah sebagian disusun di tempat lain. Entah buat apa coba. Mungkin di situlah masa masa dimana suami gue bingung tralala juga melihat isterinya.  Hahaha.

IMG_9677
Nemu di Christmas Market. Tertarik dengan bentuk dan motifnya. Motif lilin langsung dilukis sendiri oleh si penjual loh.

Sampai akhirnya, kegilaan mulai berkurang, karena gue harus menghabiskan lilin yang banyak itu. Apalagi semakin ke sininya, gue semakin tau kalau lilin lilin yang gue beli sebelumnya, ternyata masih kalah menarik jika dibandingkan lilin yang khusus dijual di toko tertentu. Nah, biasanya lilin seperti ini ga akan gue pakai. Tapi gue simpan sebagai koleksi.

34794436014_22db116fcc_o (1)
Loyten Lys

Bahkan, pernah ketika gue liburan, souvenir yang gue beli justru lilin. Asal ketemu lilin yang unik, biasanya gue beli.

Di awal musim gugur hingga musim dingin, sehari harinya gue selalu memasang lilin di rumah. Suka bangetlah pokoknya. Sampai di Instagram pun nyampah lilin.

5

34826704613_df2489d473_o

Demikianlah ketika gue dan suami berlibur ke Norwegia, kami singgah ke sebuah store lilin yang gila banget luasnya. Sampai disebut store, bukan toko lagi. Banyangin aja, store lilin ini terdiri dari tiga lantai, yang masing masing lantainya luas pake banget. Mirip kastil.

35505222401_97146bf31d_o (1)

34826704553_6056bde40a_o.jpg

Berlokasi di daerah Loten,  store lilin bernama Loiten Lys ini sudah berdiri sejak tahun 1991. Loiten Lys bukan toko lilin biasa. Selain memiliki banyak koleksi lilin dalam aneka bentuk dan warna, Loiten Lys juga unggul dalam interior designnya.

35467631002_6b26b47caf_o

Semua lilin disusun sedemikian, dipadu padan dengan berbagai props menarik. Untuk memaksimalkan design interiornya, setiap lantai gedung memiliki tema lilin yang berbeda. Mulai tema mawar, teratai, binatang, cake, buah buahan, ruangan ala istana, wedding, fine dining, hingga tema horor berbau tengkorak pun ada.

35635500965_b1ebb7028c_o

35635501045_231b4621a9_o.jpg

Khusus tema horor, ruangan yang dipakai sengaja dibuat agak gelap. Dindingnya mirip gua. Lumayan horor juga.

Nah, yang paling gue suka nih, tema jamuan makan malam. Mereka niat banget menata meja sampai segitu panjang. Penuh dengan lilin, candle holder, tissue, piring, gelas, sendok, garpu, hingga bunga.

35596372526_f20621f40a_o.jpg

34794436694_c27ea1251e_o.jpg

Kombinasi warna pun sangat detail diperhatikan. Semisal lilin berwarna ungu, props pelengkap lainnya  pun menggunakanan warna senada. Penyampaian temanya berhasil.

35467631002_6b26b47caf_o

Bahkan ada semacam kamar yang berisi lilin, disusun di meja rias yang bingkainya berwarna keperakan. Semakin terlihat glamour. Princessss!

34794436634_1c231c9d6c_o

Belum lagi sebagian besar meja terdiri dari lilin dengan warna senada. Biru, kuning, pink, hijau. Ihhhh….rasanya pengen gue tiup masuk mobil semua. Gemes.

Untuk gedungnya sendiri, dari luar terlihat semi klasik. Tapi di bagian dalam cenderung kozy dan romantic.

34826701883_2d3b425bfd_o

35248994470_1c24acb58c_o (1)

Berada di Loyten Lys serasa terbawa khayal ke negeri peri. Mirip dongeng kerajaan. Baik bentuk, warna dan interiornya semuanya girly. Apalagi gedungnya juga mirip kastil. Gedeeeee.

Harganya? untuk harga sih bervariasi. Tergantung size dan kerumitan pengerjaan. Rata rata berkisar 65 hingga 400 Nok atau setara seratus hingga tujuh ratus ribu rupiah. Size lilinnya ada yang sampai setengah meter lebih kalau ga salah.

Sangkin cantiknya, Loyten Lys ini menjadi incaran para turis juga. Tujuan utama mereka sepertinya ingin menikmati suasana di dalam. Jadi urusan membeli atau tidak nomor sekian. Emang bener sih, di dalam bikin betah. Interiornya manjain mata banget.

Kalau kamu penyuka lilin, Loyten Lys sangat gue rekomen. Dijamin jatuh cintahhhhhhh. Hahaha.

Salam dari

Swedia

Kjeåsen, Riwayatmu Dulu

“Ini adalah tulisan yang sangat menyentuh gue. Tulisan yang gue tulis pakai hati dan niat. Entah mengapa tempat yang gue kunjungi beberapa waktu lalu, mampu menggiring emosi. Akal sehat gue agak sulit membayangkan ada manusia manusia kuat yang harus hidup terisolasi padahal mereka bukanlah suku primitif. Sengaja gue memilih beberapa video dari Youtube agar yang rela membaca tulisan ini bisa lebih mudah memahami gambaran nyata sebuah tempat yang akan gue ceritakan. Selamat membaca”

*******************************

Suatu malam gue dan suami secara tak sengaja menonton sebuah acara televisi. Sayangnya acara itu sudah tayang beberapa menit sebelumnya. Liputannya mirip tayangan dokumenter di National Geographic or Discovery Channel. Dan seperti biasa gue termasuk orang yang menyukai acara televisi sejenis ini.

Kurang lebih bercerita tentang  seorang pria tua dan anak lelakinya yang tetap bertahan dan memilih hidup di Farm Mountain yang sepi, jauh dari keramaian dan kehidupan sosial. Cenderung terisolasi.

Keseharian hidup mereka bisa dibilang sedikit tidak wajar. Apalagi jika dibandingkan dengan kehidupan serba canggih di zaman sekarang. Di sebuah negara yang notabene dikenal bukan negara kere pula. Norwegia!

Tidak ada akses jalan dan transportasi. Nihil listrik! bahkan kalau tidak salah air ledeng pun tidak ada. Menurut mereka, memilih tetap bertahan di farm mountain yang terisolasi seperti itu, tak lain karena mereka lahir dan besar di sana. Tidak ada alasan untuk tidak tetap tinggal. “This farm is the only one of the most beautiful” ujar si bapak tua itu.

Melihat si bapak tua tadi berjalan tertatih saja sudah membuat gue miris. Bagaimana kalau mendadak sakit? Punya telepon ga? Di liputan itu kurang detail dijelaskan. Kalau sesekali sih mungkin masih bisa ditolerir ya. Seperti summer house di Swedia misalnya, masih banyak pemilik yang memang dengan sengaja tidak menyediakan fasilitas listrik dan air, tapi akses jalan sih sudah okeh. Lah ini? Seumur hidup menjalani keseharian tanpa fasilitas vital. Belum lagi akses kendaraan menuju kediamaan mereka ini susah sekali.

Sampai sekarang sepertinya masih ada beberapa kawasan farm mountain di Norwegia yang cenderung terisolasi. Dan itu tetap dihuni. Namun memilih bertahan untuk tetap menjalani kehidupan di tempat terisolasi seperti itu bagi beberapa kalangan dianggap unik dan luar biasa. Mendapat perhatian sudah pasti. Tak terkecuali oleh media televisi dan juga turis.

Berangkat dari tontonan itulah, rasa penasaran dan ingin tahu gue berkobar. Pengen banget melihat farm mountain langka seperti itu. Rasanya amazing aja kalau berhasil melihat langsung. Gue bilang amazing karena tempat tempat seperti itu sudah tidak banyak kan. Terkhusus di zaman modern ini. Ada nilai historinya pula.

Nah, akhirnya suami pun memberitahu gue kalau sebenarnya Norwegia mempunyai wisata farm mountain lumayan terkenal. Lengkap dengan cerita fantastisnya. Hah? Makin penasaran. Dan tanpa direncanakan sebelumnya, kami pun memutuskan untuk melakukan trip ke Norwegia. Coba….betapa sadisnya dampak acara tv itu. Hahaha.

Singkat cerita setelah beberapa hari menikmati wisata alam Norwegia akhirnya di hari terakhir kunjungan kami, perjalanan menuju kawasan pegunungan pun dimulai. Sebuah kawasan yang lumayan melegenda. Farm mountain berbalut cerita haru biru. Namanya Kjeåsen! (Bacanya kira kira seperti ini : Keosen)

IMG_8534.jpg
Kjeåsen

Sehari sebelumnya kami menginap di kawasan Eidfjord. Dari Eidfjord sampai ke perbatasan kaki gunung, kami butuh waktu tak sampai setengah jam. Dari jalan utama kami berhenti di sebuah jalanan kecil menuju puncak farm mountain.

Sejenak membaca jadwal kendaraan yang tertulis di sebuah plank. Ternyata rute jalan menuju Kjeåsen hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan.

Bahkan beberapa ruas jalan kondisinya lumayan curam dan terjal. Sehingga demi menghindari pertemuan mobil dari arah yang berlawanan dan untuk menjaga keselamatan pengendara juga maka jadwal kendaraan pun diatur sedemikan.

Untuk kendaraan yang naik hanya diperbolehkan dalam hitungan persatu jam. Mulai pukul 9, 10, 11, 12, dan seterusnya hingga pukul lima sore. Sedangkan untuk kendaraan yang akan turun dihitung persetenga jam. Mulai pukul 9.30, 10.30, 11.30, 12.30, demikian seterusnya hingga pukul setengah enam sore.

Jadi semisal kita tiba dan hendak naik di luar jadwal yang sudah ditentukan, katakanlah pukul 10.30 misalnya, maka mau tidak mau ya harus menunggu. Demi menghindari kemungkinan bertemu dengan mobil yang turun.

Demikianlah pas menuju puncak Kjeåsen waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Melewati jalanan yang walaupun sempit tapi masih lumayan nyaman untuk dilewati. Kiri kanan jalan banyak pohon, tebing gunung yang besar, juga landscape yang sesekali membuat terwow. Indah.

Sampai akhirnya kami memasuki sebuah terowongan tua. Terowongan dengan kondisi yang jauh berbeda dibanding terowongan yang biasa kami lewati. Selain suram dan gelap juga berasa creepy alias horor.

IMG_8529
Gue meminta suami menyalakan lampu mobil agar kondisi di dalam terowongan bisa dilihat. Jika tidak gelap gulita banget.

Mana terowongannya juga sangat panjang. Rasanya tidak habis habis kami berada di kegelapan. Kalau bukan karena lampu mobil, nyaris tak terlihat apa apa. Begitu keluar terowongan kami langsung memarkirkan mobil. Lumayan jauh dari mulut terowongan.

Dan cerita Kjeåsen pun dimulai…….

Di bawah jalan gue melihat jurang terjal. Rimbunnya pohon hijau serta derasnya suara air yang mengalir diantara bebatuan gunung. Suara yang meraja diantara sepinya alam Kjeåsen hari itu. Super Nature!

Dan dari celah ranting pohon yang rimbun, gue melihat sekelibat air yang sangat tenang. Spontan membuat mulut gue komat kamit ga jelas. Ada fjord di bawah!

IMG_8528.jpg

Kaki gue melangkah dan melangkah menyusuri jalanan lembab akibat salju yang belum lama mencair. Dan terlihatlah bangunan kayu super tua menyambut kedatangan kami. Huaaaaa….bangunan yang gue lihat menyebar di om google. Ada di depan mata!

So, inikah Kjeåsen yang melegenda itu?

Gue semakin terpesona setelah melihat pemandangan di bawah. Sebuah lukisan alam. Landscape fjord secara utuh dan jelas. Tuhan….indah sekali. Tenangnya aliran air fjord, bersanding dengan besarnya tebing gunung yang rasanya dekat sekali ke wajah gue. Hening banget. Syurgaaaaa!

Punya rumah dengan view seperti ini, kapan stressnya?…………….but wait…!

IMG_8532

IMG_8549
Fjord di sekitar Kjeåsen.

Sebelum melanjutkan, gue sarankan untuk menonton video dari Pål-Harald Uthus di bawah ini.

Agar kalian lebih mudah memahami bahwa bukan karena keindahan alamnya saja yang membuat Kjeåsen terkenal, melainkan cerita pilu yang membalut Kjeåsen. Iya…cerita pilu yang justru berasal dari beratnya medan sekitar.

Jika melihat video di atas setidaknya bisa dibayangkan bagaimana kerdilnya rumah rumah kayu renta itu diantara gagahnya gunung besar di sekelilingnya. Gunung dengan tebing curam, terjal dan cadas. Dataran tanah di sekitar farm mountain ini pun tidak terlalu luas dan langsung mengarah ke bibir tebing. Terpeleset sedikit alamat siap dimakan fjord yang super dalam.

Keindahan alam Kjeåsen tidaklah cukup memberi nilai sempurna ketika gue membaca history Kjeåsen yang jujur membuat gue teriba. Honestly sampai tulisan ini gue tulis, wajah Kjeåsen masih jelas berkelibat. Entah mengapa.

Kjeåsen bermula dari sebuah keluarga petani yang berjuang bertahan hidup. Dengan apa mereka mampu bertahan? Ya tentu saja dengan lahan pertanian. Pertanian yang tanahnya subur, asupan rumput yang banyak, ternak bisa makan sampai kenyang, sinar matahari cukup, bisa berburu hewan, bisa memancing ikan. Dan semuanya itu hanya ada di Kjeåsen.

IMG_8545.jpg

IMG_8536

Unik memang. Kjeåsen yang tidak begitu luas berdiri subur diantara dominannya tebing batu. Tapi sayang…….kekayaan alam di sekitar Kjeåsen harus dibayar mahal.

Wilayah yang mereka temukan tidak memiliki akses jalan sama sekali. Benar benar di atas gunung dengan medan yang kejam dan berbahaya. Satu satunya jalan menuju Kjeåsen hanyalah dengan memanjat tebing terjal. Mereka harus sempurna mendaki agar tidak terpeleset dan jatuh ke fjord.

IMG_8551.jpg
Foto ini menggambarkan perjalanan mulai dari tepian fjord hingga mendaki tebing batu

Melewati gunung batu yang terletak di atas Simadalsfjord, dengan ketinggian mencapai 600 meter di atas permukaan laut. Jika melihat langsung lokasi curamnya tebing gunung di Kjeåsen, rasanya sulit dicerna akal sehat ada kehidupan di situ.

Untuk lebih jelasnya bisa melihat dua buah video dari Visitedfjord di bawah. Di salah satu video terlihat titik titik putih yang sengaja dibuat oleh pemilik akun agar memudahkan penonton mengerti bagaimana curam dan ngerinya tebing yang sehari hari selalu dilalui keluarga petani Kjeåsen dulunya.

Mereka memasang tangga, tali, paku, bahkan batang pohon di atas permukaan tebing batu. Tujuannya agar mereka lebih mudah sekaligus aman berjalan, memanjat bahkan kadang berseluncur di atas tebing. Sedih 😦

IMG_8550
Agar bisa berjalan dengan mudah dan tidak tergelincir, mereka membuat tangga kayu, tali dan balok kayo di permukaan tebing batu

Dan yang membuat miris tralalala, rute itu mutlak adanya. No choice.

Sehari harinya harus melewati jalan angker. Untuk berapa lama? beratus ratus tahun. Sepanjang hidup mereka! 

Jadi bukan cuma sekali dua kali, layaknya kegiatan hiking. Kebayang kan. Gimana gue ga baper coba. Entahlah apa gue mahluk aneh yang tiba tiba cengeng ga jelas. Apalagi pas ngebaca historynya, gue berdiri langsung di tanah Kjeåsen. Yang wujud alamnya terlihat nyata di depan mata. Mungkin itu yang bikin feelnya langsung ngena.

IMG_8533.jpg

IMG_8553

Kjeåsen pertama sekali ditemukan sekitar tahun 1600. Dalam kondisi tidak berpenghuni. Kemudian mereka membangun rumah di atas gunung ini. Semua material bangunan seperti kayu, mereka bawa dari daratan bawah. And you know what? Bahan material itu mereka gendong di punggung atau dijinjing satu demi satu ke atas gunung. Satu satu loh!

Memanjat tebing sambil membawa beban berat. Akibatnya, untuk menyelesaikan satu bangunan rumah kayu, mereka butuh waktu hingga 30 tahun. Gilak!

“Many generations have carried all they need on their backs up to Kjeåsen. It took 30 years to build one of the houses. All the materials had to be carried up, plank by plank. The haviest load carried up to Kjeåsen is said to be 90 kilogram grindstone.” (Mengutip tulisan yang gue baca).

Bayangin, membawa Grindstone seberat 90 kilogram sambil mendaki tebing gunung. Sekalipun jalan tikus berbukit, selama tidak terjal masih lumayan aman. Lah ini jalanan jelas jelas mendaki terus. Gendongin beban berat pulak. Gimana ga sampai 30 tahun coba nyelesain rumahnya. Jadi masuk akal jika beberapa bangunan yang ada di Kjeåsen diselesaikan oleh generasi yang berbeda.

Konon lagi agar bisa memelihara ternak, mereka harus memulai dari ukuran baby. Agar ternak bisa digendong. Kalau sudah besar ya susah kan.

IMG_8543

IMG_8537.jpg
Kayu bangunan yang dulunya diangkut satu satu dipunggung mereka

Keluarga petani di Kjeåsen terdiri dari dua keluarga. Hidup terisolasi dari dunia luar. Diperkirakan selama beberapa generasi, ada 13 orang anak yang lahir di farm mountain ini. Setiap hari mereka harus berangkat ke sekolah melewati jalanan berbahaya. Naik turun tebing.

Dan sedihnya lagi, di saat winter anak anak harus berpisah dengan kedua orang tua mereka. Karena tebalnya salju yang menyelimuti tebing gunung. Tak baik untuk keselamatan mereka. Bayangkan saja, winter itu kan bisa sampai 6 bulan lebih. Selama bersekolah, setiap tahunnya ada beberapa masa dimana mereka harus berpisah dengan orang tua. Anak anak ini tinggal di rumah kerabat yang bermukim di kawasan Simadal, daratan di tepian Fjord.

IMG_8552
Peace!

Kepiluan ini berlangsung hingga tahun 1974. Sampai akhirnya sebuah perusahaan listrik Sima membangun akses jalan dan terowongan ke Kjeåsen demi kepentingan bisnis mereka. Jadi bukan karena menolong keluarga petani ini.

Bermula dari keberadaan akses jalan dan terowongan inilah, secara tidak langsung Era modern mulai memasuki Kjeåsen. Dan cerita Kjeåsen yang fantastis pun mulai terkuak ke publik. Mungkin ada yang tidak tau, jika di kawasan Kjeåsen ada kehidupan yang sudah berlangsung ratusan tahun lamanya.

Seiring waktu Kjeåsen mulai banyak diminati berbagai kalangan. Dan menempatkan Kjeåsen sebagai “The One of the Famous Visited Tourist Venues” in Simadals Hardanger Comunity.

Bermodalkan cerita pilunya, ditambah lagi keindahan alam yang mempesona, membuat Kjeåsen lumayan mudah menghipnotis orang orang untuk bertandang ke sana.

Hingga saat ini turis bisa bernostalgia melewati jalanan yang dulunya dilewati keluarga petani di Kjeåsen. Semua masih ada. Mulai tangga kayu, paku dan tali.

Gue sebenarnya pengen banget berjalan dan melihat langsung jalanan angker itu. Tapi manalah gue berani. Mungkin kalau sudah terbiasa hiking tidak ada masalah.

IMG_8538.jpg
Salah satu spot cantik di Kjeåsen

Sewaktu kami datang sepertinya belum high season. Karena rumah rumah di Kjeåsen pada tertutup. Sepertinya di saat real summer baru dibuka untuk turis. Hingga saat ini rumah petani Kjeåsen sudah tidak berpenghuni.

Ada satu rumah yang sepertinya dijadikan hunian summer house. Bertuliskan private di depannya. Mungkin masih memiliki pertalian.

IMG_8544.jpg
Eko Life

Tapi berdasarkan info yang ada, waktu yang paling tepat mengunjungi Kjeåsen adalah mulai bulan Mei/Juni hingga awal Oktober. Katanya cuaca sudah mulai dan bagus di bulan bulan tersebut. Alasan tepatnya sih menurut gue karena salju sudah tidak ada.

Senang rasanya bisa menambah pengalaman traveling seperti ini. Mengunjungi sebuah tempat yang penuh cerita sejarah. Tak heran jika bapak tua yang gue lihat di tv, pun nekat ga mau pindah dari farm mountainnya.

IMG_8611.jpg

IMG_8612.jpg
Standing in the land of Kjeåsen

Mungkin cerita masa lalu lebih kuat mengikat kehidupannya dibanding kehidupan modern. Toh ini hanya masalah niat. Niat besar bertahan hidup sekalipun dengan segala keterbatasan. Urusan listrik, air ledeng, akses jalan, internet, mungkin uda urusan taik kucing ama dia. Uda ga perlu.

Alam yang segar, bebas polusi, peace all the time,  green arround, jauh dari teror bom dan demonstrasi brutal, bahkan kalau ada perang, mungkin musuh tak tau kalau dia tinggal di situ. Hahahha.

Begitupun gue, meskipun terbawa perasaan pilu akan beratnya perjuangan hidup keluarga petani di Kjeåsen, belum tentu juga mereka dulunya sepilu hati gue. Kali aja semangat hidup yang mereka miliki mengalahkan semua lelah dan ancaman nyawa. Yang terpenting mereka berhasil kaya, bisa memiliki lahan pertanian yang subur. Itu ibarat emas kan.

IMG_8535

Jika kamu ke Norwegia, tak ada salahnya merasakan cerita dibalik Kjeåsen ini. Sesekali nikmatilah perjalanan liburan yang tidak melulu urusan gedung gedung bertingkat dan hiruk pikuk manusia. Liburan penuh history sambil menikmati magisnya alam di sekitar Simadalsfjord yang indah.

Untuk melihat akses jalan dan horornya terowongan yang dibangun di sekitar Kjeåsen, boleh klik video di bawah.

Salam dari

Swedia.

Hytte, Penginapan di Norwegia ini Wajib Dicoba

Salah satu yang gue rindukan dari wisata alam di Norwegia adalah penginapannya. Apagi kalau bukan Hytte!

Selain bentuknya yang membuat perasaan menghayal entah ke film film apalah itu, landscape di sekitar Hytte mostly cihuy banget. Hadeh, tak sempatlah mikir berat (Lah liburan ngapai juga mikir berat?)

IMG_6948.jpg
Hytte dengan rumput di atapnya

Di Norwegia, khususnya di wilayah pegunungan dan Fjord, Hytte merajalela banget. Sadisnya ada dimana mana. Mulai di pinggiran fjord, lembah bukit, sampai mendekati kawasan puncak pegunungan pun ada.

IMG_6369 (1).jpg

IMG_6523.jpg
Jatuh cinta dengan kabin kabin Hytte ini. Cantik banget diantara balutan salju di kawasan pegunungan

Itu ya, pas melihat kabin kabin berserak di ketinggian gunung, (kebetulan waktu itu salju masih cinta banget dengan bumi Norwegia meskipun sudah memasuki awal musim panas), sontak gue minta suami berhenti.

IMG_6367

IMG_6366

Entah mengapa gue terperangah banget melihatnya. Oiimak…cakep banget. Serasa di planet mana gitu. Sepi banget kan. Seperti sebuah komplek perumahan suku asing yang terisolasi. Ibarat film the Beach atau Kong, nemu sebuah pulau dengan pemandangan yang cakep tapi magis. Halah!

Tapi beneran. You have to be there to believe it!

Gambar yang ada pun rasanya tak cukup mewakili keindahannya. Harus dilihat langsung. Gue nih, yang notabene sehari hari menyantap tebalnya salju everyday di saat winter, tetap aja loh terhipnotis dengan kumpulan kabin diantara salju itu. Kalau dipaksakan, ya anggap saja gue lagi berada di wilayah semi artic. Halah….(lagi)

IMG_6946

IMG_6952

IMG_6954

Hytte itu bentuknya seperti rumah kayu atau kabin. Uniknya lagi, atap bangunannya kebanyakan ditanami rumput dan bunga.

Sebenarnya di wilayah Eropa lain, penginapan seperti ini juga ada. Berdiri tak jauh dari nature. Dikenal dengan kawasan camp nature. Gue pernah mencoba penginapan seperti ini di Finlandia, Swedia dan Denmark. Yang di Denmark lebih mirip cottage privat gitu deh. Tapi sejauh ini, Hytte di Norwegia jauh lebih yuhui.

IMG_6950

IMG_6945
View dari pintu Hytte. Kece

IMG_6949

Hytte sepertinya menjadi pilihan utama menginap di kawasan nature Norwegia. Bukan alternative kedua. Menurut gue, hotel kalah pamor dilibas oleh Hytte. Sekalipun ukuran sebuah kota, jika masih dekat ke kawasan nature tetap aja hotelnya jauh lebih sedikit dibanding Hytte. Setidaknya inilah yang terlihat  mata gue selama di perjalanan.

IMG_6532.jpg
Bangunan di lereng itu semuanya Hytte. Bukan rumah penduduk loh

IMG_6533.jpg

Bahkan, ada satu kota yang isinya 90 persen Hytte. Nyaris tak terlihat rumah penduduk. Di kota Lom misalnya. Ampun, itu kota cakep banget. Kabinnya berdiri bertingkat di dinding bukit. Warnanya seragam. Coklat!

Dan hotelnya cuma ada satu, selebihnya Hytte semua. Landscapenya lagi lagi bikin hati menggelora.

IMG_6957
Hytte di kota Lom

IMG_6956

Para pebisnis penginapan di Norwegia pun sudah tau banget bagaimana cara memanjakan para tamunya. Jadi pemandangan di sekitar Hytte sepertinya sudah harga mati. Ya harus cakep. Misalnya seperti gambar di bawah ini.

Kawasan Hytte bahkan bisa hanya memiliki 3 atau 5 bangunan saja. Bahkan yang ukurannya kecil banget. Jauh dari pusat kota. Tapi tetap aja laris manis. Sedangkan kawasan penginapan berskala besar, biasanya terdiri dari bangunan hotel dan Hytte. Hotelnya pun berbahan material yang dominan terbuat dari kayu.

IMG_6530
View di sekitar Hytte
IMG_6377
Hytte ini kelihatannya kecil yak. Tapi dalamnya bertingkat loh. 

Ukurannya? ya bervariasi. Ada yang besar maupun kecil. Tapi yang membuat gemes, dari luar penampakannya seperti rumah liliput. Mungil mungil layaknya rumah mainan. Begitu masuk, merasa tertipu. Mereka bisa memaksimalkan semua ruangan agar benar benar berfungsi. Jadi ada kamar, living room/dapur, bahkan toilet. Contoh gambar di bawah ini.

Harga? juga bervariasi. Tergantung daerah/lokasi mapun ukuran dan kelengkapan Hytte juga. Kalau berada di sekitar fjord, sepertinya lebih mahal.

Rata rata sih berkisar 650 Nok (setara 1 juta rupiah untuk konversi IDR saat ini), hingga 1000 Nok (setara 1 juta enamratus ribu rupiah), atau mungkin bisa juga lebih ya. Yang kami coba sih rata rata di harga segitu.

IMG_6346.jpg

Sebagai perbandingan, untuk Hytte seharga 650 Nok, kurang lebih fasilitasnya seperti di bawah ini:

  • Kamar bisa satu dan bisa juga dua.
  • Tempat tidur bertingkat, dan mostly muat untuk satu orang
  • Bantal dan selimut belum dilengkapi sarung. Tapi bisa disewa atau bawa sendiri dari rumah.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave (untuk microwave ga selalu ada)
  • Kulkas
  • Air kran bisa ada dan bisa juga tidak ada. Kalau tidak ada, harus ambil sendiri dari air ledeng utama di sekitar hytte.
  • Toilet di luar.

Sedangkan Hytte dengan harga 900 hingga 1000 Nok, berikut fasilitasnya :

  • Kamar dua.
  • Tempat tidur lebih lebar dan tidak bertingkat
  • Bantal dan selimut ada yang sudah dilengkapi sarung, tapi ada juga yang belum. Jadi semua tergantung kebijakan pengelola penginapannya.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave
  • Kulkas
  • Air kran ada
  • Toilet di di dalam kamar
IMG_6378.jpg
Hytte dengan ruangan dapur sekaligus ruang tv

Tapi fasilitas yang gue sebut di atas sifatnya tidak fix ya. Karena meskipun harganya sama, belum tentu fasilitasnya sama. Tergantung kebijakan pengelola. Seperti yang gue sebut di atas, lokasi juga mempengaruhi tingkat harga dan kelengkapan fasilitas. Di daerah A misalnya, untuk harga 1000 Nok mungkin fasilitasnya sudah sangat lengkap. Tapi belum tentu di daerah B demikian. Seperti itu kira kira.

IMG_6355

Saran gue sih, bawalah piring dan gelas plastik. Jadi ga perlu banyak cucian. Trus kalau mau repot sedikit, siapin aja bahan makanan yang agak tahan lama. Tergantung berapa lama juga sih tripnya. Tapi setidaknya lumayan terbantu untuk beberapa hari kan.

IMG_6937

Misalnya seperti ayam goreng dan rendang agak kering. Nanti tinggal masukin kulkas. Pas makan tinggal masukin microwave atau tinggal panasin. Malah gue bawa beras loh. Masak manual kayak jaman dulu. Kelupaan bawa magiccom. Hahaha.

Tapi yang namanya menginap di Hytte, ya kebanyakan seperti itu. Itulah fungsinya dikasih dapur plus peralatannya. Apalagi di sekitar Hytte biasanya restoran ga banyak. Malah kadang adanya cuma satu, ya restoran dari pemilik penginapan.  Mungkin karena itu tadi, tamu yang menginap kebanyakan bikin/masak sendiri.

IMG_6943

IMG_6942
Bangunan Hytte plus tanaman rumput di atasnya

Ya anggap sajalah lagi main masak masakan di rumah liliput. Tapi ga perlu sampai masak berat juga. Kayak menggoreng atau ngulek sambal. Apalagi goreng ikan asin. Cukuplah tinggal manasin atau masak mie instan.

IMG_6382
Hytte dengan model yang lebih modern. Pas di tepian fjord. Viewnya bisa dilihat di gambar bawah

Selain itu, lumayan menghemat juga. Bukan apa apa, Norwegia itu termasuk salah satu negara dengan biaya yang relatif mahal.

Terkhusus di saat lunch. Seperti kami misalnya, mau ga mau harus makan siang di restoran. Karena di jam segitu pastinya sudah mulai jalan kemana mana kan. Repot kalau makan di mobil. Karena kendaraan yang kami gunakan bukan mobil karavan.

IMG_6399.jpg
Mobil Karavan yang menyewa tempat di kawasan Hytte
IMG_6526.jpg
Ihhh…kawasan ini indah banget. Di sekitar Eidfjord

Untuk makan siang, rata rata perorang dikenakan 175 Nok sampai 200 Nok (setara 300 ribu rupiah). Kita bicara makanan standard ya. Bukan dinner cantik. Misalnya nih, 3 tusuk sate plus nasi segenggam dihargai hampir 300 ribu rupiah. Belum lagi rasa makanan di Norwegia itu pas pasan banget (ini menurut standard lidah gue dan suami ya, bahkan warga di desa gue pun rata rata bilang begitu)

IMG_6398.jpg

IMG_6387
Taman yang asri di sekitar Hytte dan hotel di Aurlandfjord

Jika gue bandingkan dengan harga di Swedia, sebenarnya tidak jauh berbeda. Terkhusus untuk makan malam. Tapi untuk makan siang, di Swedia lumayan terbantu. Karena sebagian besar restoran menggunakan sistem all you can eat dengan harga yang relatif ramah di kantong.

IMG_6392
Kawasan penginapan di Aurlandfjord

Hanya berkisar antara 90 hingga 110 Sek, sudah bisa makan sepuasnya including coffee dan cookies. Kalau beruntung, bisa nemu restoran yang menyediakan desserts sederhana. Tapi memang biasanya dilimit dari pukul 11 pagi hingga pukul 2 siang. Lewat dari situ harga melambung dua kali lipat bahkan lebih.

IMG_6531
Kawasan penginapan di Aurlandfjord. Kece yak!

Untuk dinner, harga di Norwegia dan Swedia ga jauh beda, masing masing memiliki harga yang kurang ramah di kantong. Bedanya, rasa makanan di Norwegia sekalipun sekelas hotel, tetap ajalah mak, kok di mulut ga berasa nikmat apa apa. Flat banget rasanya. Tapi selera lidah setiap orang ga sama sih. Jangan digeneralisasi.

IMG_6386
Hotel di kawasan penginapan Aurlandfjord
IMG_6388
Ruangan sarapan. Interior shabby vintagenya gue suka.
IMG_6389
Look at this! Barang antik yang menghiasi lobby hotel.

Nah, agar memblenya ga doble, mending sebisa mungkin dihemat kan. Kalau setiap hari harus menghabiskan uang sebanyak satu juta tigaratus ribu rupiah hanya untuk urusan makan, selama gue bisa bawa rendang dan ayam kenapa ga? Hahahha.

Lain cerita kalau ga bisa ya. Mau ga mau ya dinikmati aja meskipun mahal. Intinya sih semua sesuai kondisi. Namanya juga liburan toh.

IMG_6354

Kalau mau menginap di hotel pun bisa. Kami juga pernah mencoba penginapan hotel. Tepatnya di kawasan Aurland. Hotel di kawasan nature Norwegia juga asik. Suasananya homey banget. Karena materialnya berbahan kayu juga. Interiornya mengusung tema shabby vintage. IMG_6936

Tak hanya landscape, model bangunan di sekitarnya pun bikin gemes. Warna putihnya sukaak! Mirip rumah di majalah home design gitu. Pengen gue cabutin trus pindahin ke halaman sebelah rumah. Hahaha.

Kebayang kan, buka jendela langsung melihat gunung. Belum lagi aliran air fjordnya yang super tenang. Rasanya ga pengen pulang. Rekomen banget tempatnya. Untuk harga hotel berkisar 1400 Nok atau setara dua juta duaratus ribu rupiah. Bisa lihat gambar di bawah ini.

Ke Norwegia, pokoknya kudu nyobain Hytte deh.  Berkesempatan merasakan liburan ala ala serial Heidy. Banyak gunung, lembah hijau bahkan domba pun ada. Heaven.

IMG_6529
Hotel di kawasan Eidfjord. Hotel ini besar tapi karena berbahan kayu jadi cakep banget

Salam dari

 

Dalarna, Swedia.

“Semua photo adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”

Norwegia, The Land of the Fjord!

Apalah artinya ke Norwegia, jika tak menikmati keindahan fjordnya. Negeri yang memiliki julukan The Land of the Fjord di beberapa kartu posnya ini, memang menjadikan fjord sebagai salah satu nilai jual wisata alamnya.

Eidfjord, Hardangerfjord, Simadalsfjord, Geirangerjord, Lysefjord, Naeroyfjord hingga Sognefjord yang merupakan fjord terpanjang kedua di dunia, menjadi beberapa koleksi fjord yang dimiliki negara ini.

IMG_6087

IMG_5497

IMG_6089

Untuk Geirangerjord, Naeroyfjord dan Sognefjord sendiri,  Unesco telah menetapkannya sebagai warisan dunia yang dilindungi.

Pertama kali melihat Geirangerfjord di tahun 2015, gue sempat bilang, apanya yang menarik? Toh di Indonesia kami punya danau Toba. Mirip fjord juga toh. Barulah setelah membaca sejarah dan fenomena alam yang membentuknya, gue bisa memahami mengapa fjord banyak digandrungi wisatawan yang berkunjung ke Norwegia. Khususnya yang mencintai kawasan nature.

IMG_6052

Kalau danau, mungkin hampir semua negara punya. Tapi fjord? Ga semua bisa. Hanya negara tertentu yang bisa memilikinya. Tepatnya negara negara yang mengalami musim dingin saja. Itupun tidak semua negara bersalju mampu memiliki fjord.

Hanya ada beberapa negara di dunia, seperti Amerika Utara di wilayah Alaska dan Kanada, Scandinavia, Greenland dan Iceland. Selebihnya gue kurang tau pasti.

IMG_5478.jpg

Fjord terjadi atas peristiwa alam jutaaan tahun silam. Terbentuk dan diukir oleh erosi Gletser raksasa yang super dasyat, yang ketebalannya sampai mencapai 3 kilometer. Oh my!

Erosi gletser raksasa terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama, hingga melewati masa demi masa di zaman es. Sampai akhirnya sanggup membentuk landscape yang mampu menampung aliran air laut yang super dalam.

IMG_5459.jpg

IMG_5966.jpg

IMG_5956.jpg

IMG_6078.jpg
Standing in the Land of the Fjord

Kurang lebih begitu yang bisa gue simpulkan. Semoga tidak salah. Agak runyam sih, apalagi kalau dipikir dengan akal sehat serasa cerita dongeng saja. Jadi harap maklum kalau seandainya kesimpulan yang gue tulis kurang akurat.

IMG_6085

So, berbicara fjord bukan semata soal suguhan keindahan alamnya, tapi juga cerita di balik fenomena alam yang membentuk fjord itu sendiri. Maha karya yang luar biasa. Hal inilah yang membuat fjord menjadi unik dan diminati wisatawan. Apalagi tidak di semua negara ada.

IMG_5963

Biar lebih afdol, coba klik video fjordnorway.com di bawah deh. Keren banget videonya. Gue suka.

Fjord memiliki beberapa ciri, diantaranya:

  • Berukuran sempit dan panjang. Jika ukurannya lebar dan tidak panjang, dipastikan itu bukan fjord.
  • Diapit tebing curam yang relatif berdekatan.
  • Relatif lebih tenang dibanding lautan bebas
  • Memiliki kedalaman air yang amat sangat, bahkan meskipun tidak lebar tapi mampu dilewati oleh kapal pesiar besar 
  • Airnya cenderung berwarna hijau
  • Dekat dengan laut
IMG_5959
Tebing fjord yang saling berdekatan. Meskipun sempit tapi fjord mampu dilewati kapal pesiar besar, karena kedalaman airnya yang amat sangat. Bahkan katanya bisa melebihi kedalaman air laut. Ihh unik ya!

Fjord juga memiliki view yang dramatis, akibat himpitan tebing gunung di sekitarnya. Dan biasanya, menjadi tempat favorite kawasan penginapan di wisata alam Norwegia. Contohnya seperti photo di bawah ini.

IMG_6050

IMG_6046

Gue dan suami berkesempatan melihat Sognefjord beberapa waktu lalu. Keindahannya bisa dilihat dari ketinggian view point dengan menempuh jalur puncak pegunungan Aurland. Mengutip kalimat di video fjordnorway.com di atas, “you have to be here to believe it”. Yups!

Oleh National Geographic Traveler magazine, Sognefjord disebut sebagai “area the world most iconic destination”.

IMG_6088.jpg
Gue, di kawasan viewing point Sognefjord, fjord terpanjang kedua di dunia

See you in my others story

Salam dari

Swedia

“Semua photo di tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Norwegia, Negeri Seribu Terowongan

Hingga saat ini rasanya tidak berlebihan jika gue menjadikan Norwegia sebagai tempat wisata terfavorite. Alam negara ini sepertinya sangat tahu cara memanjakan mata para tamunya. Tiga kali bertandang ke Norwegia tiga kali pula gue selalu terwow.

Untuk trip gue ke Norwegia sebelumnya bisa dibaca di sini dan di siniIMG_5483.jpg

Mungkin masih banyak tempat indah dan menarik di belahan bumi lain tapi dari sekian tempat yang sudah pernah gue datangi keindahan alam Norwegia masih is the best. Dan gue berharap di kesempatan yang akan datang Tuhan ijinkan gue dan suami melihat koleksi ciptaanNya yang lain. Dan gue percaya masih banyak tempat yang jauh lebih indah di muka bumi sana.

Tapi untuk sekarang gue cuma mensyukuri kesempatan yang ada. Bisa menghabiskan waktu di tanah Viking yang memiliki banyak keindahan fyord dan terowongan gunung. Yes, welcome to Norwegia! (again).

IMG_5451 (1).jpg

Norwegia hanya sejarak barisan pinus dari tempat tinggal gue. Ke perbatasan terdekat kurang lebih dua jam. Negeri ini mewakili segala kecintaan gue akan indahnya farm mountain, wooden house di lereng gunung, suara gemericik air dari tebing gunung yang selalu menyapa di hampir setiap jalur jalan yang gue dan suami lewati, dentingan lonceng dari leher kawanan domba, dan lembah hijaunya itu loh..…alamak! Hampir lupa kalau mata gue sudah minus sekian.

IMG_5452.jpg

IMG_5456.jpg

IMG_5466.jpg

Masih jelas di ingatan bagaimana imutnya kawanan domba berlari menghampiri gue hanya karena gue membidik kamera ke arah mereka. Mungkin mereka mengira kamera yang gue pegang merupakan jenis rumput dalam kemasan yang berbeda. Menggemaskan sekali. Sewaktu kecil terbayang pun tidak gue bisa memberi makan domba sedekat itu. Bersentuhan langsung dengan mereka. Meskipun gue akhirnya takut ketika mereka sangat agresif mengambil roti dari tangan. Hahaha.

IMG_5450

IMG_5449

 

IMG_5489

Di Dalarna Swedia peternak domba juga ada. Tapi domba domba tidak dibiarkan bebas di jalanan. Pun jumlahnya masih kalah banyak dengan ternak sapi.

Sedangkan di Norwegia, dari pengamatan gue selama di perjalanan, ternak domba jauh lebih banyak dibanding sapi. Sepertinya (ini menurut logika gue sih) struktur alam Norwegia lumayan berbukit bukit. Sebagian besar agak mencorong ke bawah. Dibanding ukuran sapi yang lumayan besar, domba jauh lebih gampang untuk bisa naik hingga kawasan yang jauh lebih tinggi.

Makanya tak jarang kami melihat ternak domba berkeliaran di lahan yang terjal berbatu. Anteng banget mereka berlari ke sana kemari. Kalau sapi sepertinya sudah agak susah kan. Lagi lagi ini hanyalah kesimpulan abal abal seorang ajheris.

IMG_5486

Norwegia juga tidak melulu soal Aurora Borealis. Masih banyak hal menarik yang bisa dilihat dari negara penghasil minyak terbesar dunia setelah timur tengah ini. Misalnya air terjun yang berasal dari lelehan salju (catat, dari lelehan salju loh). Kebayang kan seberapa tebal saljunya. Meskipun memang ada beberapa air terjun permanen yang berukuran besar yang bukan berasal dari lelehan salju. 

34989993112_83b4fe525e_o.jpg
Salah satu foto favorite. Gue suka banget barn lapuk dan lembah di bawahnya. Ada dombanya lagi. Mirip serial Heidy 

Jadi jangan kaget, kalau satu tebing gunung memiliki air terjun lebih dari satu. Karena lelehan saljunya berasal dari segala arah. Selain itu, lelehan salju juga mengalir halus dari celah bebatuan gunung. Kami bisa melihat dan mendengar suara airnya sangat dekat dan jelas di telinga. Cukup dari jendela mobil saja. Karena hampir seluruh tubuh pegunungan di Norwegia bisa dilewati oleh kendaraan. Akses jalannya mulus hingga ke puncak pegunungannya.

Ke Norwegia khususnya di awal bulan Juni, sensasi aroma musim panas bernuansa winter juga bisa dinikmati. Kawasan puncak fjället (pegunungan) di negara ini masih memiliki tumpukan salju setinggi tiga meter. Tapi dont worry. Suhunya rata rata sudah di atas 5 derajat celcius kok.

IMG_5497

IMG_5028

Trus apalagi? Ya pastinya Fyord! Norwegia salah satu negara yang memiliki fyord kece yang tidak semua negara bisa memilikinya. Bahkan Fyord terpanjang kedua di dunia juga adanya di negara ini dan oleh UNESCO ditetapkan sebagai warisan dunia yang dilindungi.

Sama halnya dengan Swedia, Norwegia memiliki fenomena alam yang dikenal dengan istilah Midnight Sun yaitu hari hari tanpa adanya malam alias tidak ada sunset. Sebaliknya hari hari tanpa adanya siang alias no sunrise (Polarnight). Kejadian alam ini berlaku di wilayah yang berada di lingkaran Arktik atau Artic Circle. Bagi kalian yang pengen merasakan hari hari yang 24 jam selalu terang maupun sebaliknya silahkan datang ke Norwegia.

IMG_5499.jpg

IMG_5439.jpg

IMG_5438.jpg

IMG_5498.JPG
Layaknya bangsa Skandinavia kebanyakan, mereka suka dengan sepinya alam. Bangunan penginapan wooden house ini, berdiri gagah di kawasan puncak pegunungan yang di kala winter bisa memiliki ketebalan salju melebhi 5 meter. 

Norwegia juga punya banyak sekali terowongan gunung dengan panjangnya rata rata 6 hingga 25 kilometer lebih. Kebayang kan rasanya di dalam terowongan sepanjang itu. Sehingga tak salahlah jika gue menyebut Norwegia sebagai negeri Seribu Terowongan. Karena tak terhitung jumlah terowongan yang kami lewati. Yang kadang antara terowongan yang satu dengan terowongan yang lain hanyalah sejarak ratusan meter.

IMG_5458

Banyaknya gunung batu yang berdiri gagah di tanah Norwegia mengharuskan negara ini membangun terowongan gunung untuk kelancaran transportasi jalanannya. Terowongannya lebar dan nyaman untuk dilewati. Ga kebayang berapa biaya yang dikeluarkan untuk setiap terowongan yang dibuat.

IMG_5504.jpg

IMG_5502

IMG_5472.jpg

IMG_5503.jpg

Tulisan ini hanyalah bom foto hasil bidikan sepasang tangan yang tak kenal kebas. Rasanya seperti ada magnet kuat yang selalu mendorong ingin berhenti dan berhenti membidik kamera. Semua alamnya instragrammable banget. Sayang cuaca kurang bersahabat. Lady rain selalu menyapa kami meskipun datang dan pergi. Tapi tetap tak merubah kecantikan alam Norwegia. Selalu mempesona.

Biarlah gambar demi gambar yang berbicara. Cerita lengkap mengenai short trip gue ke Norwegia beberapa hari lalu, akan gue tulis secara terpisah. See you in my others story.

IMG_5440

IMG_5481.jpg

IMG_5500.jpg

IMG_5485.jpg

Trip gue ke Norwegia sudah tayang di Net Tv. Bisa klik di sini

Salam dari

Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”

Hanimun ke London

Judulnya lebay ya. Kesannya sok banget. Sebenarnya ini cerita basi. Cuma sejak pindah platform, pelan pelan gue mau pindahin tulisan dari rumah lama ke blog ini. Gue pengen semuanya ngumpul jadi satu. Dan tentunya dengan beberapa revisi. Ngepangkas beberapa kalimat dan gambar gambar yang ga penting juga.

LONDON..!

Siapa sih yang ga kenal kota ini? Semasa gue kecil, London merupakan kota Eropa terhits yang sering banget muncul di tipi. Terutama berita sensasi dari  keluarga istananya yang membahana.

Gue dan suami berangkat ke London tanggal 4 Oktober 2014. Lagi musim gugur waktu itu. Penerbangan dari Arlanda Stockholm ke bandara Gatwick kurang lebih 2 jam 15 menit. Begitu tiba di bandara, pertama langsung feeling excited dengan lukisan besar dari wajah queen Elisabeth II yang seolah bilang “Welcome to London”

Di situ gue baru nyadar, ulala……gue ada di London. Senaaaaang!

IMG_0274.JPG
Bandara Gatwick

Dari bandara kami langsung order taxi menuju hotel Hilton di Tooley Sreet, Tower Bridge. Sekilas tentang taxi di London, harganya relatif mahal (hampir sama dengan harga taxi di Stockholm). Dengan perjalanan kurang lebih satu setengah jam, waktu itu kami dikenai harga kurang lebih dua juta enamratus ribu rupiah. Dan seketika pun langsung merindukan taxi bluebird idola gue.

IMG_0392.JPG

Sesampainya di hotel, kami langsung check in. Lokasi hotel sangat strategis dan di sekitarnya banyak restoran, bar, pub, shopping center, dan pastinya dekat banget ke Tower Bridge. Namanya sok nginep di kawasan Tooley Street ya, bayar segambreng per malam pun bukan berarti fasilitasnya cihuuy. Lobby hotel sempit, wifi cuma di area lobby dan harus bayar 400 ribu rupiah permalam untuk tambahan wifi di dalam kamar.

IMG_0275.JPG
Cafe Bar Hilton Hotel

Jika London disebut sebagai kota metropolitan dunia, emang bener sih. Kesibukannya sudah terlihat sejak kami memasuki pusat kotanya. Selalu ramai dengan aktifitas warga  maupun wisatawan.

Lalu lintas kendaraan juga lumayan ramai. Sekalipun berpredikat kota metropolitan, London tetap mempertahankan peninggalan sejarah dan budaya yang akhirnya menjadi iconic terkenal dunia. Sebut saja seperti bus tingkat berwarna merah yang setiap saat wara wiri di jalan, hingga Redbox telepon umum yang legendaris sejagat raya (yang meskipun sudah tidak terpakai, tetap difungsikan sebagai iconic kota)

IMG_0398.JPG
Kawasan Regent Street

Setibanya di hotel, kami santai sejenak di bar. Nah, gue punya pengalaman lucu nih. Berhubung anak ndeso yang taunya cuma jus mangga dan lemon tea, pas suami nanya mau minum apa, gue bilang aja terserah. Penting rasanya segar.

Ya udalah, ujuk ujuk segelas Bloody Mary pun datang. Warnanya sungguh menggugah selera. Langsung glek. Oh my rasanya! Sukses dong kayak minum tomyam yang kebanyakan kunyit! haha.

Jalan jalan kami di kota London, ini dia cerita singkatnya.

After Lunch di sekitar area hotel, hari pertama kami isi dengan mengunjungi beberapa tempat di kota London. Kami sengaja menggunakan Black Cabs, taxi London yang  super imut itu.

Berwarna hitam, bergaya antik dan jadul ala tahun 50an. Dalamnya pun lumayan luas. Mampu menampung 5 sampai 6 orang. Akibatnya para penumpang bisa duduk saling berhadapan dan selonjor kaki. Selain berwarna hitam, taxi di London juga memiliki aneka warna dan gambar.

Walaupun bayarannya relatif mahal,  konon driver taxi di kota  London terkenal dengan record yang baik. Mereka menguasai seluruh jalan dan daerah turis di kota London. Ada yang bilang, susah menemukan driver taxi di London yang sengaja berhenti untuk menanyakan jalan. Bahkan sampai ada istilah, kalau tidak mau nyasar di London, driver taxi adalah guide terbaik. Tapi itu kan katanyaaaaaaaa. Kenyataannya ada juga sih yang ga paham jalan dan nanya nanya dulu.

Cuma memang, beberapa dari supir taxi ada yang sukarela menjelaskan daerah apa saja yang wajib dikunjungi. Buka tutupnya mulai dan sampai pukul berapa. Meskipun mereka ga ditanya loh. Jadi sudah berinisiatif menjelaskan.

IMG_0273.JPG

Tempat apa saja yang kami kunjungi? Paling Piccadily Circus, semacam road junction kota Londonlah. Rame banget di sini. Pusing gue. Trus lanjut sok ala incess nyasar intip barang di Regent street dan Oxford street. Lihat doang ga beli. Ehhh tapi ada deng, jaket winter yang diskon parah ampe 70 persen. Haha 

IMG_0269.JPG
Layar heboh di Piccadily Circus

Trus masuk toko mainan Hamleys di Regent Street. Aduhh, rame banget di dalam. Tapi begitupun, gue sabar aja ngobok ngobok cari yang murah. Dan ketemulah boneka mungil Teddy Bear dan taxi Black Cabs yang gue suka banget. Sebagai pencinta souvenir mungil, setidaknya ada barang yang ramah di dompet yang bisa gue bawa pulang.

IMG_0406

Berikutnya Tower Bridge. Kebetulan karena dekat dari hotel, jadi ke sini cukup jalan kaki saja. Berkunjung ke London kalau ga ke Tower Bridge ya hambarlah mak. Emang kece sih jembatannya. Kalau mau melihat bagaimana romantisnya kota London, ya paling ga harus datang ke sekitar Tower Bridge ini. Sekalian menikmati lalu lalang kapal di River Thames.

IMG_0408.JPG
Tower Bridge di River Thames

Tower Bridge sering juga disebut sebagai Jembatan Angkat, karena dua jembatannya memang bisa terangkat. Dirancang sedemikian agar kapal kapal besar dapat melintas di bawah jembatan.

Tower Bridge juga memiliki dua tower besar, yang keduanya saling terhubung oleh walkway.

IMG_0399.JPG

Ga siang apalagi malam, jembatan ini selalu kece. Khusus di malam hari, lampu di tubuh jembatan sengaja dihidupkan. Jelita banget. Cahaya lampunya memancarkan semburat romantis. Ga heran di sekitar alun alun jembatan, ada aja pasangan yang tehipnotis untuk segera berpelukan dan tatap tatap mesra gitu. Kayak di pilem pilemlah. Hahaha. 

IMG_0266

IMG_0267

Setelah puas menikmati Tower Bridge, kami memutuskan balik ke hotel dan dinner. Makanan hotelnya enak. Terutama saladnya, berasa asam manis pedas. Mirip acar. Baru kali ini gue doyan salad yang ada paprikanya. Pokoknya makanan ludes dalam waktu seketika.

IMG_0277

Ke London tidak mencoba Irish Pub tidak sah kata suami. Dan tidak sulit mencari pub seperti itu di London. Kebetulan di seberang hotel ada sebuah Irish Pub bernama The Shipwrights Arms. Suami langsung tertarik. Bentuknya yang klasik membuat gue serasa berada di film cowboy Hollywood. Dalamnya antik banget. Malam pun kami tutup di sini.

IMG_0264
Big Ben. Beruntung sempat mendengar jam ini berdentang nyaring. Suaranya cetar

Esoknya, kami mengunjungi Westminster Abbey, gereja tua di London yang dikenal sebagai tempat dinobatkannya Ratu Elisabeth II sebagai ratu Inggris. Honestly gue serasa mimpi ada di gereja ini. Sumpah, arsitek gerejanya cantik banget.

Apalagi sebelum masuk, para turis ditawarkan apakah mau mengikuti kebaktian atau tidak. Tanpa pikir panjang, kami langsung iyess dong. Kapan lagi coba, bisa merasakan kebaktian minggu di gereja yang super famous kayak gini. Berada di Westminster Abbey, serasa gue menjadi tamu undangan resmi di pernikahan Prince Williams dan Kate Middleton. Uhukkkkk! Hahahaha.

IMG_0265.JPG
Westminster Abbey tampak luar

Di dalam gereja bener bener klasik tapi wah. Menjulang tinggi dengan pilar pilar yang kokoh. Seperti biasa, gereja tidak memperbolehkan aksi foto foto. Dan itu loh, banyak banget petugas berpakaian jas, layaknya mata mata yang selalu menyorot tajam ke arah pengunjung. Sedikit tidak nyaman memang dan agak berlebihan menurut gue. Bingung aja gitu. Kok sampai segitunya. Toh ga ada acara yang spesial banget. Dan tak sedikit turis bandel yang berusaha mengambil foto, dan langsung kena tegor petugas.

Pada saat keluar dari gereja, sudah ramai banget turis yang menunggu di luar.  Ada drama kecil ketika salah seorang turis berselisih paham dengan petugas. Mungkin si turis susah diatur kali ya ama petugas dan membuat si petugas kesal. Sampai akhirnya si turis ngomong, “who do you think you are? I dont need this country”. And dengan santainya si petugas menjawab “yes, we dont need you also” Jleb banget ya.

Dari Westminster Abbey, lanjut  ke St Pauls Cathedral,  tempat dilangsungkannya pesta pernikahan pasangan femomenal Prince Charles dan Lady Diana. Gereja yang menjadi sorotan dunia di tahun 80 an. Berada di St Paus Cathedral, lagi lagi seperti Dream Come True. Gue uda bayangin aja, Diana berjalan menuju altar. Lengkap dengan gaun putih yang memanjang sampai ke belakang itu. Aarrrgg……dan sekarang gue ada di sini, di St Pauls Cathedral!  Cubit pipi. Ihh…excited!

IMG_0415.JPG
Gedung Parlemen Inggris

Balik hotel, istirahat dan malamnya dinner di salah satu restoran di kawasan alun alun Tower Bridge. Ceritanya mau romantic dinner. Kan lagi honeymoon. Auuuw..auuw. Dapat surprise dari pelayan restoran, berupa coklat mungil sebagai ucapan selamat atas pernikahan kami. Mauliate!

IMG_0258.JPG

Esoknya, kami menuju Buckingham Palace. Sengaja mencoba sarana transportasi Tube atau London Underground. Gue pernah melihat ulasan mengenai salah satu jalur transportasi tersibuk di dunia ini di channel BBC.

Berada di dalam tube, rasanya sih ga jauh beda dengan kereta bawah tanah di Stockholm, malah ukuran di dalam tube lebih kecil (ga tau apa perasaan gue aja ya). Kecepatannya juga hampir sama. Jadi tidak ada perasaan yang luar biasa setelah mencobanya. Tapi paling ga gue uda nyoba. Hehe.

IMG_0257.JPG

Tube berhenti di Green Park, dari sini kami berjalan kaki menuju Buckingham Palace.  Green Park merupakan salah satu dari sekian banyak taman yang dibuat di sekitar area Buckingham Palace. Mungkin karena London sangat identik dengan istana Buckingham Palace, sehingga tak heran jika turis yang menunggu pergantian pengawal istananya sangat banyak. Memang meriah sih ya. Tontonan klasik yang sangat mainstream. Tapi memang worth it sih untuk dilihat. Menghibur dan sangat total paradenya. Setidaknya buat gue pribadi sih.

IMG_0254
Salah satu parade pergantian pengawal istana
IMG_0255
Buckingham Palace

Sebelum makan malam, kami menyempatkan singgah di HarrodsAtmosfir Borjuis lumayan berasa di dalam. Dan berita yang mengatakan kalau turis yang paling disukai di London adalah orang orang dari negeri Cina dan Arab itu memang bener adanya. Semua mereka numplek di Harrods. Konon bangsa arab tak perduli dengan harga, dan gue menyaksikan sendiri bagaimana mereka menenteng belanjaan yang super banyak.

IMG_0276

Malamnya kami ke London Eye. Rencananya sih mau nyobain wahana ini di siang hari. Berhubung antriannya puanjaaaang banget, akhirnya kami pending sampai malam. Eh, ternyata sama saja. Antriannya tetap super panjang.

Jika ingin melihat keindahan kota London, wahana London Eye ini adalah pilihan yang tepat. Walaupun termasuk kategori wisata berbayar, tapi penggemar London Eye super bingit.

London Eye memiliki 32 buah kapsul yang dapat menampung hingga 25 orang. Dengan kapasitas ini, kincir bisa mengangkut 800 orang sekaligus sekali putaran. Di dalam kapsul sangat luas, selain berdiri, duduk juga bisa. Bahkan penyandang disabilitas juga bisa masuk.

IMG_0252

Ketika kapsul bergerak, tidak berasa sama sekali. Kami juga diberi brosur berisi panduan titik titik kota London yang bisa dilihat. Mulai dari Bigben, gedung Parlemen, Buckingham Palace, dll. Dan keputusan kami memilih London Eye di waktu malam sudah sangat tepat, karena pemandangannya super bertabur lampu. Waktunya kurang lebih 30 menitlah.

IMG_0253
View  London di malam hari dari dalam London Eye. Cuma dari Handphone 

Hari terakhir di London, kami masih berkesempatan memasuki Tower of London. Sebuah kastil tua yang berumur hampir seribu tahun lebih dan memiliki nilai sejarah. Awalnya Tower of London berfungsi sebagai tempat kediaman raja, benteng pertahanan dan sekaligus penjara.

Beberapa tokoh dunia saat itu pernah dipenjara di kastil ini. Tower of London juga masuk dalam situs yang dilindungi oleh UNESCO. Pertama memasuki kastil  langsung terbayang kejamnya lingkungan kerajaan di masa itu. Seperti berada di film film kerajaan kuno dengan tembok batu tua dan menara menara besar dengan warna yang suram.

IMG_0250
Tower of London

Sebagian lorong kecil kastil, dilengkapi rekaman ilustrasi tentang kejadian yang pernah terjadi di masa itu. Seperti suara suara jeritan, suasana perang, pertunjukan manusia yang di makan harimau dan singa, welehhhhh merinding.

Konon katanya kastil ini berhantu loh…..korban dari manusia yang dihukum mati dan dipenjara. Di dalam kastil banyak lorong lorong sempit dengan dinding batu tua, kusam, berwarna gelap, dan nyaris sempurna bikin merinding. Juga terdapat penjara dengan jeruji besi, lengkap dengan tulisan tangan yang memenuhi dinding. Konon merupakan tulisan tangan orang orang yang  pernah menghuni penjara.

Mengelilingi semua kawasan Tower of London perlu tenaga ekstra karena sangat luas. Di dalam kastil juga terdapat museum yang menyimpan benda benda peninggalan kerajaan, seperti pakaian perang dari baja, senapan, hingga mahkota ratu elisabeth II yang dipakai pada saat penobatan.

IMG_0251
Tower of London

Oya, Tower of London sebenarnya memiliki sisi lain yang tidak begitu suram. Kami bisa menyaksikan indahnya ribuan bunga poppy yang sengaja dibuat di setiap halaman luar kastil. Sekilas bunga ini seperti bunga mawar merah yang tumbuh di tanah. Ternyata hanya bunga tiruan yang sengaja dibuat dan ditancap ke tanah. Cara pembuatannya juga bisa dilihat dalam video yang dipasang di salah satu ruangan kastil. Konon bunga ini dibuat untuk memperingati hari pahlawan mereka.

IMG_0260
Milenium Bridge, lokasi dekat St Pauls Cathedral
IMG_0407.jpg
London dari jembatan Milenium
IMG_0394
The Shard Building

Bagi gue London merupakan kota yang menarik. Secara keseluruhan semua tempat dan prasarana yang dimiliki kota ini menjadi iconic yang mendunia. Negara maju dan modern tapi tetap mempertahankan peninggalan budayanya.

So, pengen ke London lagi ga? Iyaaaa! pengen nonton konser tahunan Last Night of the Proms yang super itu. Aminnnnnn!

IMG_0262
Kubah St Pauls Cathedral

Salam dari

Swedia

 

 

Trip to Canary Island : Terkena Hipnotis? (Cerita Disimpan Sayang)

Yup! Kalau cuma gue simpan sendiri kok rasanya sayang. Kali aja ada bagian dari tulisan ini yang bisa berguna bagi yang memiliki rencana berlibur ke Canary Island (khususnya pulau Gran Canaria). Jadi tulisan ini bisa dibilang sebagai bagian akhir dari rangkaian semua cerita liburan gue di Gran Canaria, Canary Island

Bicara Hipnotis, gue percaya ga percaya sih. Tapi intinya, ada beberapa hal yang pengen gue kasih tau tentang pengalaman berlibur selama di Gran Canaria. Kalau sebelumnya gue bercerita tentang hepi dan asiknya aja, maka kali ini lebih ke cerita yang sedikit mengerikan atau membuat kurang nyaman.

Dan perlu diketahui, tulisan ini hanyalah sharing pengalaman tentang apa yang gue dan suami alami selama berada di Gran Canaria. Berupa segelintir kejadian yang tak mengenakkan dengan segelintir orang juga. Tepatnya orang orang yang tidak punya “Attitude” dalam mencari uang.

Tidak ada maksud untuk membuat kesimpulan yang bersifat general. Tapi dari pengalaman segelintir ini, mudah mudahan mampu membuat pembaca lebih berhati hati ketika berlibur. Di negara mana pun hal serupa ini bisa terjadi. Kita tidak pernah tau.

Jadi begini, selama liburan di Gran Canaria, gue dan suami menginap di kawasan pantai Playa Del Ingles Maspalomas. Tempat yang sangat menghibur memang. Banyak hotel dan cafe/restoran, pemandangannya juga bagus. Jadi wajar menjadi  kawasan favorite.

Tapi sangkin banyaknya turis di kawasan pantai ini, sepertinya membuat beberapa pihak mengambil kesempatan yang terkesan membabi buta. Tanpa perduli dengan kenyamanan wisatawan itu sendiri. Menggunakan cara yang kurang terpuji dan ujung ujungnya membikin kesal.

Ketika berjalan di sepanjang alun alun Playa Del Ingles, gue melihat lumayan banyak pria yang berdiri dan menawarkan brosur. Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan kegiatan mereka ini. Bagian dari sebuah pekerjaanlah. Namanya juga kawasan wisata. Wajar saja.

33684436091_3b4ce5c278_o.jpg
Foto yang tak ada hubungan dengan tulisan. Suka aja hasilnya

Tapi menjadi sedikit membuat gerah, ketika mereka mulai memaksa orang lain untuk berhenti, bahkan harus mendengarkan mereka berceloteh panjang lebar. Dan tidak sedikit turis yang terlihat gerah, tapi harus mendengar. Atau pada saat turis berusaha menyudahi penjelasan (mungkin tidak interest, dan berhenti pun karena terpaksa), begitu beranjak jalan, para agen ini masih saja ngekori, memasang muka yang kurang sedap dilihat.

Dan semakin bikin pusing, karena brosur yang dibagikan bukan tentang tour travel semata, melainkan brosur makanan dan restoran juga. Jadi kebayang kan, bagaimana langkah kaki dikit dikit harus terhenti, atau paling ga tangan dan mulut harus memberi isyarat No.

Jujur nih, gue paling malas dipaksa dan dibuntuti kaya gini. Gimana sih, sedang liburan tapi  ga feel free to enjoy. Jangankan makan, jalan kaki pun kita butuh kenyamanan kan.

Dan bahkan di pusat perbelanjaannya pun begitu. Maksud hati cuma iseng iseng cuci mata, ehhhh diintilin terus. Gue uda bilang cuma liat liat, tapi bolak balik ditawari ini itu. Kemana pun gue melangkah diekori terus. Seperti di salah satu toko parfum. Semua botol dibukain, disuruh nyobain aromanya.

IMG_8960
Ini juga suka liat fotonya

Disamping gue udah malas ya, gue juga jadi ragu dengan kredibilitas tokonya. Selain sikap pelayan yang ambisi banget nawari produk, gue pun jadi kurang percaya dengan harganya. Mana produk brand pula. Kan agak sensitif ya. Apalagi mereknya familiar banget. Bicara brand pasti standarisasi harga adalah. Jadi kalau pun harga beda (sekalipun dengan embel embel “tax free”), ya ga segitunya juga kali ampe terjungkal abis. Kecuali lagi pesta diskon, itupun kebanyakan produk keluaran lama setau gue.

Ketauan beli barang nobrand deh. Daripada daripada kan. Sial aja rasanya beli produk yang salah. Tapi lagi lagi nih menurut gue, belanja itu feeling so good. Kalau merasa ragu, jangan beli deh. Kadang sistem pelayanan yang terlalu over dan maksa juga bikin hati jadi kurang yakin. Semakin disodorin yang ada gue malah semakin curiga.

Nah balik lagi ke topik utama. Gue melihat beberapa toko sepertinya sengaja melakukan sistem pelayanan yang lumayan memaksa, yang tanpa disadari membuat calon pembeli merasa sungkan, ga enak hati, atau berada di bawah tekanan, karena bolak balik disodorin ini itu. Buktinya nih, suami gue uda sempat merasa ga enak ketika gue bilang ga ada yang cocok. Tuh kan!

Dan puncaknya adalah ketika kami memasuki sebuah toko elektronik. Mau beli charger handphone. Gue lupa bawa dari rumah. Singkat cerita nemu barang dan harga yang cocok.

Dan anehnya, tiba tiba si pegawai nawarin charger yang mahalan. Dengan alasan kualitas lebih bagus. Karena merasa tidak perlu, ya gue tolak. Ehhh dia maksa mak. Lucunya lagi, dia langsung main turun harga, padahal gue ga bilang yes mau beli. Apalagi nawar.

Berbagai cara dia lakukan loh, sampai akhirnya gue juga ga ngerti kenapa malah beli itu charger. Meskipun selisih harganya tidak banyak. Jangan jangan yang ditawari ini malah kualitas yang lebih jelek! Grrrrr.

Dan drama pun belum berakhir. Tiba tiba dia melihat ke arah tangan gue yang memegang kamera. Dia nanya berapa harganya ketika gue beli. Dan bloonnya lagi, gue malah jawab. Wah, dengan semangat dia bilang kalau di toko mereka harganya cuma sekian. Sontak membuat gue ternganga. Tapi ga percaya. Masa sampe segitu murah? dipalsuin pun rasa rasanya ga segitu deh.

Tanpa gue minta, dia mengeluarkan lensa kamera. Entah mengapa tiba tiba hati gue merasa ga enak. Begitu tau gue menolak produk mereka, yang tadinya semanis madu, tiba tiba si pegawai toko terlihat semakin garang. Berbagai cara dilakukan untuk menahan kami agar tidak keluar dari toko.

Dan gue merasa semakin berada di bawah tekanan. Tiba tiba takut. Dan anehnya ga berani keluar dari toko. Di situlah dia berusaha merusak konsentrasi gue. Dengan bolak balik menyuruh gue melihat ke salah satu objek yang dihasilkan lensa yang terus terang membuat gue bingung apa maksudnya. Gue antara sadar dan tidak menyaksikan semua.

Sadar pengen keluar tapi kok melangkah keluar rasanya susah banget. Mata gue tetap harus melihat yang dia kasih tunjuk. Samar gue merasakan tangan suami memegang erat tangan gue. Semacam kode. Sepertinya suami gue merasakan hal yang sama dengan gue. Aduh apalagi dia ya, yang sungkanan gitu.

Dan di situlah gue pengen nangis. Sentuhan tangan suami seperti menguatkan gue kalau kami berada diantara orang yang ga bener. Ga ngerti apakah itu sebuah upaya Hipnotis. Yang jelas gue merasa takut, capek dan membatin sangat. Dan kalau dengar cerita di masa kerja dulu, korban hipnotis biasanya dibuat capek sedemikian. Juga takut. Karena sewaktu di Jakarta, gue pernah dicobai kriminal mengaku dari telkomsel. Begitu dia tau kalau gue sudah hapal trik tipuannya, dia balik ngebentak gue. Dan gue kaget banget. Sepertinya itu salah satu cara mereka, agar korban merasa lemah jantung deh.

Setiap mau keluar, rasanya langkah tertahan terus. Setiap mau keluar lagi, si pegawai menahan lagi, dengan menurunkan harga hingga empat kali lipat. Padahal gue ga niat beli apalagi nawar. Gila kan!

Dan begitu gue bilang ga, dia langsung panggil bosnya. Di sinilah puncak ketakutan gue. Diserang dua orang sekaligus. Gue juga ga ngerti perasaan takut yang gue rasakan sangat berlebihan. Entah mengapa. Rasanya takut yang tertekan batin gitu. Susah jelasinnya. Sampai sekarang kalau mengingat itu, gue juga ga habis pikir. Kok bisa.

Lalu si bos ngomong ke gue dengan mimik muka seperti tertahan marah (bayanginnya seram), “Kamu ngerti ga yang dijelasin pegawai saya?”

Gila deh. Dia maen buka komputer. Langsung nunjukin gambar gambar yang lagi lagi membuat gue bingung. Cuma gambar biasa yang ga ada artinya sama sekali. Katanya hasil kerja lensa. Pretttt! Emang gue ga bisa lihat photo bagus apa. Sayang, batin gue meskipun takut, tapi masih bisa melawanlah.

Dan disitulah gue mulai sadar, gue harus keluar dari neraka ini. Ya Tuhan, gue marasa capek dan letih banget rasanya. Seperti melawan sesuatu tapi tertahan. Dan tiba tiba gue dengar suami setengah teriak, “Ok, stop semua ini. Kami harus pergi”

Disitulah awal keberanian gue. Dan gue pun melangkah cepat keluar dan masih sempat mendengar suara ngoceh dari mulut mereka. Tapi gue tidak mau melihat ke belakang. Beneran loh, gue sedih dan ngeri kalau mengingat itu. Dan gue sedih campur baur, ketika suami gue bisa seberani itu. Ternyata dia bilang, dia sudah tak tahan. Dan dia pun ga ngerti kenapa bisa tiba tiba setegas itu ke mereka. Tuhan menolong kami.

Mereka mengaku imigran dari *Ba**desh. Perawakan wajah dan kulit memang cocok. Gue tau dari mereka sendiri. Ketika di awal awal berusaha merayu agar gue membeli lensa. “Kita saudara, sama sama dari asia” mengutip kalimat si pegawai. Untunglah gue ga jadi sodara dengan mereka. Pelaku dagang yang bar bar.

Tanpa berniat rasis, gue cuma menulis kebenaran yang gue alami. Gue juga perantau di negara orang. Tapi apa yang mereka lakukan terhadap kami, sampai sekarang pun masih membuat bergidik. Kalau kalian melihat langsung, bagaimana mimik wajah mereka yang berusaha membuat tertekan dan ketakutan, pastinya lebih bisa memahami posisi dan perasaan kami saat itu.

IMG_8958.jpg

Pengalaman lainnya adalah ketika kami berjalan menuju pantai, tiba tiba dihadang seorang pria. Ditawari selembar kartu. Gue udah males bersikap manis deh. Apalagi, si pria ini berusaha menarik perhatian kami dengan trik yang sedikit basi menurut gue.

Tiba tiba suami disuruh menggores kartu dengan koin. Dan taraaaaaa….Congratulation! “Kalian dapat hadiah. Amazing! Jarang jarang loh seperti kalian ini beruntung”. Katanya kami dapat handphone, menginap di hotel berbintang, dll. Dan tanpa basa basi, dia memanggil seorang wanita yang mengaku bosnya. Hmm, perasaan sistemnya selalu panggil bos deh.  Si wanita ini pun kembali mengulang kalimat si cowok tadi. Kalau kami beruntung dapat hadiah.

Dan gue dong ya, akibat pengalaman di toko sebelumnya, entah mengapa mulai gerah dengan semua gangguan ini. Dan merasa sontoloyo juga, kenapa harus berhenti dan  teposeliro segala dengan menerima kartu yang disodorin. Tapi taulah, lagi lagi sulit menjelaskan kekuatan apa yang dimiliki orang orang kaya mereka. Terutama suami gue nih, sudah gue wanti wanti jangan berhenti, payah deh. Sungkanan banget orangnya.

Dan tanpa bisa berlama lama lagi, gue langsung to the point aja. Menanyakan tujuan mereka kasih hadiah untuk apa. Toh kami tidak melakukan apa apa. Dan gue perhatikan ya, selalu deh jawaban mereka yang ga masuk akal gitu. Seperti berusaha mengalihkan konsentrasi. Katanya sih karena kami mempromosikan hotel yang ada di kartu. Dan untuk itu kami wajib ke kantor mereka.

Ohhhh yaaaa? Promosi hotel? kapan mak? Kartu aja baru didapat. Trus nyuruh ke kantor, kami mau dibekep dong pikirannya? Sorry deh, gue uda ga bisa berpikir positif lagi saat itu. Supaya bisa lepas dari orang orang kaya gini, ya harus punya pikiran jelek. Biar aura negatif mereka ga masuk ke batin. Bye!

Buat gue sih itu menyeramkan. Memang sih, jam terbang traveling gue masih dikiiiittttt banget. Tapi sejauh tempat yang pernah gue datangi, belum pernah mengalami hal yang menakutkan begini. Aman aman aja.

33428951950_63e218d986_o

Belum lagi, kalau makan, hampir tiap menit didatangi penjual ini itu. Yang topi, kacamata, aksesoris. Bukan mau sok atau gimana. Ga sama sekali. Tapi sepertinya ketika liburan, apalagi pas makan, kalau selalu menjawab “sorry, atau no thank you”, makanan di piring juga ga bakal habis.

Tak sedikit turis yang terganggu dengan suasana ini. Tapi tak sedikit juga yang no problem. Dan kebetulan, gue masuk tipikal yang kurang nyaman untuk urusan kaya gini. Apalagi kalau makan pas lapar. Maksud gue, kan ada tempatnya ya untuk mereka menawarkan itu. Kalau rejeki pasti adalah yang beli.

Belum lagi, ketemu orang di jalan dan tiba tiba minta uang. Kaget kan. Ga dikasih teriakkkkk kenceng. Gue ada videonya. Kebetulan waktu itu, gue lagi buat video dan ngomong lucu lucu dengan suami. Maksudnya untuk video privatlah. Bukan untuk di publish. Lagi asik ngomong di video, tiba tiba ada yang menghadang dan maksa minta uang. Karena kami ga kasih, dia teriak kencang banget. Lemas kaki gue tau ga. Video pun langsung memble.

Aduh pokoknya sayang banget deh tempat wisata secantik itu jadi lumayan terganggu. Padahal kesan pertama itu loh yang membuat turis kembali lagi atau tidak. Apalagi sumber penghasilan mereka kan memang dari kunjungan turis.

Jika ada yang belum mengerti maksud tulisan gue ini, dan kemudian salah mengartikan, ga apa sih. Kalau bisa merasakan langsung ketakutan gue mungkin baru tau kenapa reaksi gue sedemikian.

Persoalan iba maupun positif thinking selalu ada porsinya. Waktu dan kondisi yang menentukan. Rasa iba akan muncul ketika berhadapan dengan orang yang benar benar perlu ditolong, tanpa niat jelek dan di saat yang tepat. Tuhan juga pasti menjadikan kita sebagai perpanjangan tanganNya. Gue sih yakin banget itu. Hati nurani pasti bersuara.

Begitulah ketika kami bertemu seorang pak tua. Setiap malam dia memainkan seruling di pinggir jalan. Dia bekerja tanpa menggangu kenyamanan orang lain. Tanpa membuat orang lain takut. Ikhlas bekerja dengan kemampuan yang dimiliki. Hingga larut. Gue pun rasanya berat hanya melangkah dan melewati permainan serulingnya tanpa menoleh dan mengulurkan tangan.

Maksud gue yang begini inilah. Nurani pasti berbicara dan bisa membedakan, kapan harus menolong orang yang niatnya bersih dan kapan harus menghalau orang yang menginginkan sesuatu dengan niat dan perangai jelek di hatinya. Aura baik or jahat seseorang, setidaknya bisa dirasakan. Tergantung sekuat apa mental kita bisa berani menghalaunya. Setidaknya buat gue seperti itu.

Seperti yang gue bilang di atas, ini hanyalah pengalaman jelek gue dengan segelintir orang di Playa Del Ingles. Bukan berarti semuanya menjadi jelek. Karena tak sedikit juga dari mereka yang baik dan ramah. Apalagi di wilayah lain Gran Canaria, seperti Las Palmas dan Puerto De Mogan, gue tak melihat hal dan prilaku jelek dari warga setempat. Termasuk juga penjaga tokonya. Semuanya santai aja.

Tapi meskipun begitu, tidak ada salahnya tetap berhati hati. Tapi ga harus parno juga. Gue percaya banget dengan feeling. Biasanya kita bisa merasakan maksud baik dan jahat seseorang.

Buat gue pribadi, ketika berada di luar sana, diantara orang yang tidak gue kenal sama sekali, rasanya sih normal aja untuk tidak terlalu mudah percaya. Kita tidak pernah tau, bahaya apa yang menunggu kita di luar sana, termasuk ketika holiday tentunya. Semoga menjadi tulisan yang berguna.

IMG_8959

Ohya, di bawah ini adalah bagian yang agak melenceng dari cerita di atas. Tapi pengen gue sharing juga.

Sekedar info, Gran Canaria memiliki air yang kurang bagus. Jadi jangan sekali kali meminum air dari kran. Bahkan katanya, untuk memasak pun, mereka tidak menggunakan air kran. Karena air di kran diambil dari air laut yang kadar garamnya dihilangkan. So kalau mau minum, beli minuman botol.

Untuk internet? Menurut gue, ga di hotel maupun restoran, layanan internetnya lemot banget.

Masalah on time? Busnya pernah telat limabelas menit. Begitupun di pintu sebuah restoran tertulis buka pukul setengah dua siang, kenyataannya buka pukul 2 siang lewat.

Jalanan bersih? Bersih banget. Tapi di suatu pagi di hari Minggu, sekitar alun alun Playa Del Ingles, pernah melihat sampah berserak. Mulai dari tissue, botol softdrink, botol minuman, plastik, tergeletak manis di depan toko dan jalanan. Dan memang langsung dibersihkan petugas. Jadi kesimpulannya, warga luar ga semuanya tertib sampah.

Ohya, kalian punya pengalaman dengan scammerkah ketika liburan? Ayo sharing dong biar sama sama tau 🙂

See you in my next story.