Skuleberget, Kawasan High Coast Kece di Bagian Utara Swedia

Tulisan ini merupakan bagian dari liburan musim panas gue dan suami tahun lalu. Setelah selesai menikmati summer holiday di Finlandia, perjalanan pulang kami tempuh melalui beberapa wilayah di bagian utara Swedia. Salah satunya adalah kawasan High Coast (Höga Kusten) di daerah Docksta. Tepatnya lagi di kawasan pegunungan Skuleberget (Skule Mountain)

Sepanjang perjalanan menuju kawasan Skuleberget lumayan mempesona. Lanscapenya bagus. Sebut saja seperti rumah kayu berwarna merah, aliran danau yang bersih, dan sesekali melewati lahan pertanian lengkap dengan ternak sapi dombanya.

IMG_1120.JPG

Sangkin sepinya kendaraan yang melaju, jalanannya pun mengijinkan mobil melenggang mulus tanpa hambatan. Jalanan berasa milik sendiri. Penampakan lekukan gunung dan birunya langit bercampur gumpalan awan putih, membuat perjalanan jadi tidak membosankan. Berasa melewati lukisan alam yang panjangnya tiada henti. Saat itu, bumi utara Swedia sedang berbaik hati dengan kami. Cuacanya sangat cerah. Dan seperti biasa, mentari tetap setia memberi asupan terang yang luar biasa, bahkan sampai malam menjelang.

IMG_1119.JPG

Mendekati kawasan Skuleberget, kami pun disambut dengan pemandangan alam yang semakin menggila. Hamparan rumput hijau, pohon pohon yang rimbun, plus danau bersih berikut rumah rumah kecil di tepiannya.  *Lop lop lop!

IMG_1122.JPG
Vitamin alam di kaki Skuleberget

IMG_1125.JPG
Cakep yak!

IMG_1123.JPG
Sejuknya mak!

Dan tanpa membuang waktu, kami menuju loket pembelian tiket.

Skuleberget merupakan kawasan pegunungan di sekitar Höga Kusten (High Coast) Docksta, Swedia bagian utara. Menurut catatan yang ada, kawasan ini awalnya merupakan lautan es yang luas, tepatnya 9500 tahun silam.

IMG_1118.JPG
Di puncak Skuleberget

Saat itu, Skuleberget masih berada pada ketinggian 286 meter di bawah permukaan laut. Akibat kejadian alam yang maha dasyat, lautan es akhirnya berubah menjadi Gletser. Perlahan namun pasti, kawasan ini pun terbebas dari tekanan super berat bongkahan es yang sebelumnya memenuhi Skuleberget. Hal inilah yang kemudian memicu munculnya daratan ke atas permukaan laut. Semakin hari semakin tinggi, menimbulkan beberapa pulau di sekitarnya, termasuk Skuleberget ini. 

IMG_1134.JPG
Ribuan tahun silam, laut ini hanyalah tumpukan es. Semakin lama daratan dalam bentuk pulau ini muncul kepermukaan

Dan selain itu, High Coast di sekitar Skuleberget dikenal juga sebagai kawasan dengan pertumbuhan daratan tercepat di dunia. Dari waktu ke waktu bahkan sampai sekarang, tidak pernah berhenti mengalami proses pertumbuhan daratan yang semakin tinggi dan tinggi di atas permukaan laut.

Sehingga atas kejadian alam yang lumayan  unik ini, Unesco menetapkan kawasan High Coast di sekitar Skuleberget sebagai heritage dunia yang dilindungi.

Untuk mencapai Toppstugan Skuleberget (kawasan puncaknya), bisa ditempuh dengan dua cara. Berjalan kaki (hiking) dan menggunakan cable car.

Di musim dingin, Skuleberget menjadi surganya para penggila olahraga ski. Sedangkan di musim panas, Skuleberget menyimpan keindahan lain. Landscape alamnya terlihat lebih kece dan mempesona. Sehingga tidak heran, jika aktivitas cable car tetap dibuka, baik di saat musim panas maupun musim dingin.

IMG_1138
View dari puncak Skuleberget

Berhubung kami berdua adalah pasangan duo gendut, yang dipastikan tidak mampu berhiking ria, cable car pun menjadi pilihan yang lumayan tepat. Menaiki cable car tak serta merta lempeng mulus tanpa beban. Tetap diselimuti perasaaan was was. Lumayan tinggi dan kaki menggantung pulak.

Dengan bimbingan petugas, kami diarahkan berdiri di sebuah tempat yang sudah diberi tanda. Dan huff, cable car pun mulai melaju. Eng ing eng! ngeri ngeri menggiurkan.

Perlahan dan pasti, cable car naik ke atas. Meskipun agak takut, gue berusaha enjoy. Ternyata nyali gue cukup kuat untuk tidak terlalu takut.  Di atas ketinggian, gue masih bisa menikmati perjalanan kami, ngobrol dengan suami, sambil melihat pengunjung lain yang berpapasan turun dengan cable car juga.

Sepertinya pengguna cable car tidak terlalu banyak. Sebagian besar adalah orang tua yang membawa anak kecil. Selebihnya memilih jalur hiking. Kalau kami berdua tidak perlu dipertanyakan. Pasangan yang sedikit berbeda. Tidak masuk dalam kedua golongan di atas. Hahahaha.

Ketika melihat sekelompok orang berjalan kaki menyusuri kaki gunung, waktu itu sempat mikir, yaelah….ada yang gampang kok nyari yang susah. Capek kan.

IMG_1127.JPG
View dari puncak Skuleberget

Namun seketika gue pun menyadari, jika manusia itu berbeda selera. Mungkin bagi mereka, dengan berjalan kaki adventurenya lebih berasa. Berkesempatan menemukan hal hal  baru ketika berjalan di alam terbuka seperti itu. Tidak hanya sekedar cussssssss langsung nyampe. Seperti kamilah. 

Berada di ketinggian  wajar saja jadi degdegdor. Selain kaki menggantung, kadang cable car suka tiba tiba berhenti. Seperti merasakan goyangan ombak halus. Kebayang kan bila kejadiannya pas di ketinggian gitu.

IMG_1140.JPG
Kabin kayunya kayak rumah dongeng

Tapi begitu melihat orang lain santai banget, gue salut aja gitu. Apalagi yang gue lihat adalah seorang ibu dengan anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Si anak selonjoran di paha ibunya. Seperti tiduran gitu. Dan si ibu duduk biasa saja tanpa terlihat seperti memegang erat tubuh anaknya. Gue yang stress. Kalau jatuh gimana. Ampe merinding. Tapi ya gitu deh. Kenyataannya semua aman aman saja. Mungkin gue aja yang terlalu parno.

IMG_1117
View dari cable car

Sampai di puncak Skuleberget, drama lain pun masih berlanjut. Cuma beda pelakon. Kali ini kebalikannya. Seorang ayah dan 3 orang anak. Dua orang anak dengan gembiranya menaiki cable car, ketawa ketiwi ketika cable car akan siap siap turun ke bawah.

Sedangkan anak yang paling kecil (sekitar 4 tahun juga kayaknya), malah bertolak belakang dengan kedua saudaranya. Si anak tidak mau naik cable car. Sepertinya dia takut.

Dan yang membuat gue miris, si anak sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil sesekali mengintip cable car yang akan membawa saudaranya turun. Sumpah deh, wajahnya ketakutan bercampur bingung. Anak 4 tahun loh mak!

Yang gue sesalkan, si ayah tidak berusaha memberi ketenangan supaya si anak lebih cooling down. Kalaupun tujuannya membuat si anak agar lebih berani, apakah ini cara yang paling tepat? Bukannya bisa menimbulkan trauma anak? *Berjalan sambil terheran heran* 

Tapi lagi lagi setiap orang tua mungkin punya cara sendiri mendidik anaknya. Sedangkan gue? Nihil pengalaman. Anak aja ga punya. Cuma beda pola pikir ajalah. Setidaknya cara itu kurang cocok ke gue.

Untungnya drama kecil di atas tergantikan dengan view kece di depan gue. Sesuatu yang luar biasa. Amazing to the Max. Bagus dan fotogenik banget.

IMG_1133
Dari puncak Skuleberget

IMG_1141
Dari puncak Skuleberget

Dari puncak Skuleberget, kami mulai menapak turun ke bawah. Jalannya penuh dengan batu kerikil dan batu berukuran besar. Katanya ada Gua” yang letaknya tidak jauh dari puncak Skuleberget ini.

Tapi semakin ke bawah kok guanya ga ketemu juga. Mana medannya makin seram lagi. Batu batunya agak curam. Jadi gue memutuskan untuk tidak melanjutkan. Hahaha

Sebenarnya setiap jalan sudah diberi tanda berwarna biru, tepatnya di atas bebatuan besar. Yang artinya jalanan itulah yang aman dan mudah untuk dilewati. Namun meskipun demikian, gue sudah membayangkan ketika balik dan naik ke atas, pasti lebih gampang capek kan. Tidak seperti menaiki tangga biasa.  Jadi ya sudahlah, toh tujuan utamanya mau melihat landscape.

IMG_1137.JPG
Jalanan berbatu di puncak Skuleberget

Di sela menikmati alam yang indah, gue sempat berpikir. Kalau dulunya view di depan mata hanyalah lautan es. Dan sekarang berubah menjadi lanscape yang menawan. Gilaak! Kerja alam emang keren ya.

IMG_1146.JPG
Coba, cafe begini masa gue bilang ga kece?

IMG_1145
View dari atas cafe di puncak Skuleberget

Di puncak Skuleberget juga terdapat sebuah cafe. Duduk santai, ngobrol, ngemil, ngopi sambil melihat view alam yang mempesona. Belum lagi suasana kozy yang ditawarkan cafe dengan nuansa wooden house yang klasik.

Dan sampai akhirnya kami kembali turun, gue pun tetap dimanjakan dengan view yang sangat mempesona, mulai dari rumah rumah yang kecil sampai akhirnya terlihat jelas ketika kami mulai mendekat ke bawah.

IMG_1121.JPG
View dari cable car

IMG_1151 (1)
View dari cable car

Jika kamu berencana berlibur ke bagian utara Swedia, Skluberget adalah tujuan wisata yang rekomen untuk dikunjungi.

See you in my next story

Salam dari Swedia.

IMG_1139

Astrid Lindgren (Dari Bullerbyn Hingga ke Katthult)

Sebelumnya, gue sudah bercerita tentang kunjungan kami (gue dan suami) ke kota kelahiran Astrid Lindgren di Vimmerby Småland. Dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah desa yang masih termasuk wilayah Småland.

Dari Vimmerby, perjalanan kurang lebih 20 menit dengan mengendarai mobil. Tempat yang kami tuju adalah Bullerbyn. Kalau sudah biasa membaca bukunya Astrid Lindgren, tentulah Bullerbyn tidak asing lagi di telinga kalian.

IMG_3471.JPG

Bullerbyn merupakan sebuah farm place yang menceritakan tentang kehidupan 6 orang anak yang tinggal di tiga rumah yang saling berdekatan. Ternyata Bullerbyn itu beneran ada! Tidak hanya cerita semata.

IMG_3473

Tiga rumah dalam cerita Bullerbyn sampai sekarang masih berdiri kece. Dan bahkan masih ada pemiliknya loh. Di depan salah satu rumah dalam cerita Bullerbyn malah ada tulisan Privat! artinya turis tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Jadi hanya bisa melihat dari luar pagar.

Terkecuali ada satu rumah yang oleh pemiliknya, pengunjung diperbolehkan masuk. Bahkan bisa berbicara langsung dengan beliau. Sosok pria yang sudah lumayan tua. Menurut beliau, rumah di Bullerbyn jarang dia tempati, beliau hanya berkunjung ke rumah ini dikala musim panas saja.

IMG_3476
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3491.jpg
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3493.jpg
Rumah di Bullerbyn
IMG_3475.jpg
Rumah ini ada penghuninya. Ada tulisan privat di depan pagarnya. Turis tidak boleh masuk

Rumah yang sepertinya kurang dirawat. Rumput liar di sekitar halaman rumah banyak banget. Tapi tak sedikit juga bunga bunga cantiknya. Dan barang barang yang terlihat di belakang rumah juga sengaja dibiarkan sedikit berantakan. Tapi malah kelihatan unik. Kata dia supaya antik. Benar sih, rustic banget kelihatan. Jadi seperti di majalah majalah gitu. Sang pemilik juga bercerita, kalau ayah Astrid Lindgren pernah tinggal di rumah itu. Tapi kalau tidak salah hanya sampai berumur 10 tahun. Ga tau juga benar ganya.

IMG_3474.JPG
Tiga rumah Bullerbyn
IMG_3481.JPG
Sepetik
IMG_3490
Berantakan, tapi kok jadi rustic banget ya. Mirip majalah jadinya.
IMG_3489
Mirip majalah antik
IMG_3604
Suka ngelihatnya

Di Bullerbyn, kami disambut pertama sekali oleh dua orang anak. Yang satu anak lelaki dan satu lagi anak perempuan. Ketika gue bertanya siapa namanya, si anak perempuan  menjawab  “LISA”. Nama yang sama persis dengan salah satu anak dalam cerita Bullerbyn. Sepertinya dia sengaja menyebut nama itu 🙂

Kedua anak tersebut sepertinya sengaja berada disana untuk sekedar membantu para pengunjung dan memberitahu tempat parkir. Dan setelah itu, kami pun memasukan uang koin ke dalam kaleng yang sudah mereka siapkan. Sukarela lah.

IMG_3486.JPG

Di sekitar Bullerbyn terdapat landscape pedesaan yang asri. Kami pun menikmati secangkir kopi dan cake, diantara heningnya alam pedesaan Bullerbyn saat itu. Sesekali mata gue menatap anak anak yang bermain ayunan tua. Suasana desanya berasa banget. Bagaimana tidak, Bullerbyn hanya dikelilingi tiga rumah kayu khas Swedia, dua buah gudang besar dan sebuah cafe bergaya vintage. Sukakkk!

IMG_3483
View di sekitar Bullerbyn. Peace banget
IMG_3482.JPG
Cafe di Bullerbyn. Awalnya merupakan gudang. Dalamnya bagus dan kozy banget
IMG_3487
Tuh, kece kan cafenya
IMG_3485
Gila yak. Dari sebuah gudang bisa disulap jadi cafe. Suasana desanya berasa banget. Betahlah di sini.
IMG_3488
Menikmati kopi dan cake di depan cafe

Dari Bullerbyn, kami menuju Katthult. Sebuah farm place yang menjadi tempat atau lokasi pembuatan film layar lebar Emil i Lonneberga. Harga tiket untuk masuk ke tanah pertanian ini seharga 40 Sek perorang.

Dibanding Bullerbyn, atmosfir pertaniaan di Katthult lebih berasa. Ada peternakan kuda, babi, domba dan ayam. Tentu saja dengan gaya pertanian jadul jaman dulu.

Bentuk babinya itu loh, bulat montok berwarna pink. Hahahaha.

Ayamnya juga! kakinya pendek dan bulunya lebat. Kalau berjalan lucuk banget. Seperti ayam dalam film  kartun. Senang gue lihatnya. Rumah yang menggambarkan kediaman keluarga  Emil pun masih berdiri manis di Katthult.

Bahkan sesekali kami melihat pemiliknya terlihat keluar masuk dari rumah itu. Dan pengunjung juga tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Cukup melihat dari luar pagar. Bahkan di loket masuk pembelian tiket, sudah ada tulisan yang memohon agar pengunjung tidak berkunjung lewat dari pukul 7 malam. Mungkin pemilik juga butuh privacy dan ketenangan.

IMG_3496
Farm Place Katthult

Tak jauh dari sini,  kami juga  melihat sebuah  toilet dari kayu berwarna merah. Toilet dimana Emil pernah mengunci sang ayah di dalamnya. Ada juga gudang yang berisi patung patung kayu berukuran kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Patung patung yang dibuat sendiri oleh Emil ketika menjalani hukuman dari sang ayah dan mengurungnya di gudang tersebut. Kalau ini sepertinya sengaja dibuat sedemikian untuk kepentingan kunjungan wisata. Agar lebih hidup suasananya.

IMG_3514
Toilet dalaman cerita Emil. Sang ayah pernah dikurungnya di sini. Hahaha.
IMG_3516
Patung kayu yang dikerjakan Emil ketika dihukum oleh ayahnya dan mengurungnya di rumah kecil ini. 
IMG_3515
Gudang makanan

Bahkan tiang bendera dimana Emil pernah menggantung adik perempuannya juga ada dan bisa dilihat. Bisa gue bayangkan kenakalan dia.

Intinya kawasan ini benar benar dipertahankan persis seperti dalam cerita Emil i Lonneberga. Sehingga pengunjung yang datang pun dapat dengan mudah bernostalgia dan mengingat kembali cerita tersebut. Atau setidaknya bagi yang belum pernah membaca cerita bukunya, sedikit banyak ada gambaranlah.

IMG_3508
Rumah dalam cerita Emil yang difilmkan. Itu tiang benderanya. 
IMG_3605
Pemilik rumah
IMG_3510
Rumahnya kece yak
IMG_3503.jpg
Asri banget
IMG_3499
Rumah ini hanya bisa dilihat dari luar. Tidak boleh masuk. Karena pemiliknya masih tinggal menetap di sini
IMG_3504
Sekitar farm place. Gimana ga betah lihat begini coba
IMG_3517 (1)
Gudang besar di sekitar Katthult

IMG_3523

Sungguh betapa gue menikmati liburan kami saat itu. Bisa mengunjungi tempat tempat yang menjadi inspirasi tulisan seorang Astrid Lindgren. See you in my next story.

Salam dari

Swedia.

“Semua foto hanya menggunakan camera handphone”

Berkunjung ke Kota dan Rumah Kelahiran Astrid Lindgren

Astrid Lindgren mungkin sebuah nama yang sudah tidak asing lagi di telinga para bookreader. Seorang penulis wanita asal Swedia, yang sebagian besar bukunya berisi tentang dunia anak anak. Sebut saja seperti Pippi Longstocking, Emil i Lonneberga, Karlsson on the Roof dan The six Bullerby Children. Bahkan beberapa karya tulisan Astrid, sudah ada yang berhasil diangkat ke layar lebar.

Dan gue termasuk golongan aneh yang bisa bisanya tidak tahu siapa Astrid Lindgren. Sebegitu terkenalnya penulis ini tapi gue bisa tidak familiar dengan buku ceritanya. Hahaha. Dasarlah emang.

Tapi ga masalah deh. Tidak ada istilah terlambat untuk mengenal dan mengetahui apa yang belum kita tahu. Dan tentu saja gue punya cara sendiri untuk itu. Yup, gue langsung mengunjungi kota kelahirannya, mengunjungi museum dan rumah masa kecilnya, sampai mengunjungi tempat tempat yang menjadi inspirasi cerita beliau.

Astrid Lindgren lahir pada tanggal 14 November 1907, dari pasangan Samuel August dan Hanna Jonsson, di sebuah kota bernama Vimmerby, Småland, Swedia. Tepatnya di sebuah kawasan farm place bernama Näs.

Dari sinilah kunjungan gue dimulai untuk lebih mengenal cerita dan kehidupan sang penulis terkenal ini.

ASTRID LINDGREN’S WORLD 

Astrid Lindgren’s World berlokasi di kota Vimmerby, Småland, Swedia. Merupakan kawasan theme park yang mewakili berbagai karya tulisan Astrid Lindgren. Semuanya dirangkum menjadi satu di kawasan Astrid Lindgren’s World ini.

Tidak hanya itu, Astris Lindgren’s World juga meliputi berbagai fasilitas seperti restoran, cafe, tempat bermain, toko souvenir, sampai  taman asri yang terdiri dari jejeran pohon cherry dan beberapa jenis bunga.

IMG_2259.jpg

IMG_2265.jpg

Tidak hanya kalangan anak anak, tapi golongan dewasa pun tidak mau ketinggalan memasuki kawasan theme park yang lumayan luas ini. Selain orang tua yang memang sengaja datang bersama anak anak mereka, ada juga pasangan yang melenggang berdua. Pun beberapa kelompok remaja yang mungkin rindu dan mengulang nostalgia akan tulisan Astrid Lindgren semasa mereka kecil. Atau bisa juga, sewaktu kecil mereka belum sempat mengunjungi tempat ini. Atau lagi, bisa jadi seperti gue (edisi khusus, sama sekali tidak tau tentang tulisan tulisan beliau sebelumnya). Hahaha.

Harga tiket dua tahun lalu sekitar 380 Sek atau setara 600 ribu rupiah. Kalau sekarang gue kurang tau.

Para pengunjung berkesempatan melihat rumah rumah dalam cerita Pippi Longstocking, Emil i Lonneberga, Karlsson on the Roof dan The six Bullerby Children, dan sekaligus bisa masuk ke dalamnya.

Rumah rumah tersebut dibangun persis seperti rumah betulan. Ada halaman, pagar, dan di dalamnya juga tersedia perabotan perabotan layaknya sebuah hunian. Walaupun jumlahnya tidak begitu banyak.

IMG_2273 (1)
Rumah rumah mungil
IMG_2267
Uda seperti di rumah si unyil aja gue. Hahaha
IMG_2266.jpg
Tiga rumah dalam cerita Bullerbyn
Biasanya Astrid Lindgren’s World sering mengadakan pertujukan theater. Tujuannya agar para pengunjung bisa lebih mudah menikmati cerita cerita dalam tulisan Astrid Lindgren. Seperti saat kami berkunjung ke tempat ini, pertunjukan theater “Emil i Lonneberga” sedang berlangsung. Senang melihatnya. Para pemain memakai pakaian tradisional Swedia, dibarengi dengan nyanyian nyanyian yang riang layaknya seperti pertunjukan musikal. Gue lupa kalau sudah menapak uzur. Serasa dibawa ke dunia anak anak yang sesungguhnya.
IMG_2274.jpg
Pertunjukan teather Emil 
IMG_2276
Pertunjukan musik di taman 
IMG_2275
Pertunjukan theater si tokoh Emil. Yang baju violet pakai topi adalah sosok Emil

Khusus anak anak, berkesempatan juga bisa bertemu langsung dengan tokoh tokoh dalam cerita Astrid Lindgren, seperti Pippi dan Emil. Gue melihat ramainya anak anak menatap gembira para tokoh ini. Berlomba untuk bisa maju ke depan dan bersalaman langsung dengan mereka.

Ada satu lokasi di dalam kawasan Astrid Lindgrend’s World yang lumayan menarik perhatian gue. Lokasi yang terdiri dari beberapa miniatur bangunan. Mini banget sih ga ya. Tingginya kurang lebih satu setengah meter. Miniatur ini menggabarkan kota Vimmerby, yang tak lain merupakan kota asal sang penulis.

IMG_2268.jpg
Miniatur kota Vimmerby

IMG_2269.jpg

IMG_2270.jpg

Miniatur yang dibuat menyerupai kota aslinya. Rasanya lucu dan asik aja berjalan di lorong jalan dengan bangunan bangunan yang tingginya tidak terlalu beda dengan gue.

Efek dari menyaksikan kota buatan ini, kami pun berniat mengunjungi pusat kota Vimmerby yang letaknya tak begitu jauh dari Astrid Lingren’s World.

IMG_2272.jpg
Diantara miniatur bangunan

Setibanya di pusat kota, lumayan surprise juga. Berasa keren karena miniatur yang kami lihat sebelumnya memang mirip dengan bangunan aslinya. Gedung berwarna pink, yang menjadi landmark Vimmerby berdiri kokoh ditengah alun alun kota. Belum lagi beberapa gedung lain. Bentuknya mirip minitaur tadi.

ASTRID LINDGREN’S NÄS

Tak jauh dari pusat kota Vimmerby, kami melanjutkan kunjungan ke Astrid Lindgren’s Näs. Sebuah tempat yang dulunya menjadi kawasan pertanian dimana keluarga besar Astrid Lindgren tinggal. Di tempat inilah Astrid Lindgren lahir dan menghabiskan masa kecilnya.

Memasuki Näs, langsung disambut bangunan kaca dan wajah Astrid dalam ukuran besar. Gedung ini merupakan museum exhibition yang menjadi pusat pengetahuan tentang perjalanan hidup seorang Astrid Lindgren.

Mulai dari masa kecilnya, kehidupan pribadinya, sampai perkembangan karirnya sehingga menjadi seorang penulis terkenal.

Beberapa gambar karikatur Astrid bisa dilihat di gedung Näs. Penjelasan gambar demi gambar, bisa didengar melalui alat audio yang dibagikan petugas di pintu loket masuk. Cukup mengarahkan audio ke tanda headset, selanjutnya tinggal mendengar saja.

Astrid Lindgren dikenal sebagai penulis yang sukses dengan karya tulisan yang universal. Penggunaan kata kata dalam setiap tulisannya selalu sederhana dan gampang dimengerti oleh pembaca. Unsur unsur kesederhanaan yang selalu tersirat disetiap tulisannya, merupakan salah satu alasan mengapa karyanya begitu disenangi.

Astrid Lindgren juga pernah menentang pemerintah Swedia atas pengenaan pajak penghasilan yang sangat tinggi terhadap dirinya. Bermodalkan kebesaran namanya, Astrid Lindgren langsung mendapat dukungan dari sebagian besar warga Swedia. Wajar saja, tidak sedikit kalangan yang fanatik akan sosok beliau di saat itu.

Dan konon, masyarakat Swedia pernah mengkritik pemerintahnya, kenapa seorang Astrid Lindgren tidak pernah menerima hadiah nobel atas karya tulisannya?  Sampai akhirnya sekitar bulan November 2015, beredarlah uang kertas senilai 20 Sek yang berisi gambar wajah sang penulis. Menyamai penulis wanita Swedia sebelumnya Selma Lagerlöf, yang sudah terlebih dahalu menerima apresiasi ini.

IMG_2286.jpg
Foto keluarga Astrid Lindgren. Suami, putra dan putrinya

Astrid Lindgren memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Lars, dari hasil hubungannya dengan seorang editor, dan yang kedua bernama Karin,  dari pernikahannya dengan  Sture Lindgren.

Suatu waktu di saat winter, Astrid berjalan di sekitar jalanan Stockholm. Di jalanan yang licin tersebut Astrid terjatuh. Mengakibatkan cidera parah yang mengharuskannya istirahat dalam waktu yang lama.

Dan dari sinilah kisah cerita Pippi Longstocking dimulai. Selama masa pemulihan kakinya, Astrid Lindgren menghabiskan waktunya untuk menulis. Tulisan  yang memang khusus dipersembahkan kepada putrinya Karin, sebagai hadiah ulangtahun yang ke 10. Berkas asli ketikan Pippi Longstocking berikut mesin ketiknya masih bisa dilihat di museum Näs.

IMG_2287
Mesin ketik dan ketikan asli Pippi Longstocking

Di dalam museum ini juga terdapat setumpuk buku yang disusun saling bertindihan. Buku yang secara tidak langsung memberikan arti betapa dunia menulis dan membaca sangat erat dengan kehidupan Astrid Lindgren.

IMG_2284

Tinggal beberapa langkah dari museum, kami sampai di sebuah rumah kayu berwarna merah. Rumah sederhana tapi masih terawat. Di rumah inilah Astrid Lindgren lahir dan menghabiskan masa kecilnya.

IMG_2295
Eksis di depan rumah kelahiran Astrid

IMG_2297.jpg

IMG_2298.jpg
Rumah pendeta di masa silam. Masih satu halaman dengan rumah kelahiran Astrid

Namun pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah. Hanya bisa melihat dari halaman luar saja. Konon, orang tua Astrid hanya menyewa rumah ini dari pihak gereja. Jadi bukan milik keluarga Astrid. Tidak jauh dari sini, terdapat sebuah bangunan rumah berukuran besar, yang tak lain merupakan rumah kediaman pendeta di jaman itu.

Meskipun Astrid Lindgren bukanlah idola gue, tapi selalu senang jika melihat kota bahkan rumah kelahiran tokoh terkenal. Amazing aja rasanya. Dan tentunya menjadi pengalaman yang asik.

See you in my next story

Salam dari Swedia

“Semua foto hanya menggunakan camera handphone”

Serunya Melintasi Pegunungan Es Dengan Kereta Luncur Anjing

“Tar kita nyobain Dog Sled ya”

Itulah sebuah penawaran dari suami di suatu malam. Tepatnya sekitar dua bulan yang lalu. Dan sontak saja membuat gue kegirangan. Karena sejujurnya, gue sudah lama pengen bermain Dog Sled.

Tadinya gue dan suami berencana mencoba Dog Sled yang dikelola oleh sebuah keluarga, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal gue. Tapi setiap ke sana rumahnya selalu kosong. Sampai akhirnya sekitar dua bulan yang lalu, kami sepakat menghabiskan weekend di Sälen, salah satu kawasan wisata musim dingin di propinsi Dalarna Swedia.

img_0306-1

Dan berhubung Sälen merupakan tempat wisata musim dingin yang sangat digandrungi, maka kami pun tidak mau mengambil resiko. Dua bulan yang lalu, suami langsung membooking hotel sekaligus tiket bermain Dog Sled.

Gue mulai tertarik dengan kegiatan Dog Sled, setelah menonton Discovery Channel. Waktu itu Discovery meliput tentang Husky, sejenis anjing yang akrab dengan kegiatan Dog Sled. Husky berlari  menarik kereta dibelakang, diantara hamparan salju yang tebal dan luas. Seperti kereta Santa. Membayangkannya saja sudah seru.

img_0271
Gue menyebutnya Kereta Santa..Hahaha

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 10 pagi. Sebelum checkin hotel, rencananya kami langsung bermain Dog Sled. Lokasinya pas banget di depan hotel tempat kami menginap.

Gue langsung mengganti printilan di badan. Mulai dari boots, jaket, celana gunung,  hatbanie hingga sarung tangan. Begitu tiba di lokasi, gue melihat Siberian Husky yang sedang tidur dan malas malasan. Sekilas mirip serigala.

Dan tidak lama kemudian, dua buah mobil datang menurunkan Husky yang lain. Kelihatan para pegawainya sudah terlatih dan sangat akrab dengan Husky. Sesekali diajak bercanda, dicium, dielus, ceria banget mereka.

fullsizerender-38

Kegiatan Dog Sled di Sälen, ditangani team yang sangat berpengalaman dan profesional. Menjelang pukul 12 siang, si petugas mulai mendata nama peserta yang turut dalam kegiatan Dog Sled. Lalu kami disuruh merapat. Dan tanpa basa basi, si petugas langsung memberi arahan, bagaimana cara mengendarai Dog Sled yang baik. Kapan kaki harus menginjak pedal, sesekali boleh berteriak “hei” ke Husky,  jika Husky berlari dengan wajar, tidak perlu mengayuh kaki ke salju, cukup berdiri saja. Kurang lebih begitu deh.

IMG_0267.JPG

IMG_0269.JPG

Suami gue kebagian berdiri di belakang, sementara gue cukup duduk manis di dalam kereta. Kenyamanan peserta juga sangat diperhatikan. Bagian dasar kereta diberi lapisan kulit bulu. Semua permukaan sisi kereta, diikat dengan kain terpal tebal. Fungsinya untuk menutup seluruh badan.  Jadi sekalipun berjalan di atas salju, tidak berasa terlalu dingin. Bayangkan saja, waktu itu suhu sekitar minus 5, dan perjalanan yang ditempuh kurang lebih 1,5 jam.

Menjelang berangkat, gue kaget dan sedikit panik. Karena tiba tiba semua Husky secara serentak menggonggong ribut. Mengeluarkan suara yang sangat berisik. Ternyata gue baru tau, mereka tidak sabar ingin cepat cepat berlari.

img_0270

Gue masuk dan duduk di dalam kereta seluncur, dan begitu ditanya,  Are You Ready?… iyes dong!

Dan dalam hitungan detik, tik..tok..tik..tok…..and…….HERE WE GO!  Yuhui!

Kereta meluncur mulus ditarik Husky. Aduh mak, pertamanya ga nyangka. Gue pikir lari mereka lambat. Ternyata lumayan kencang! Hahaha.

IMG_0276.JPG
Husky larinya cepat.
IMG_0282.JPG
Dia melihat gue 🙂
IMG_0285.JPG
Tidak ada lelahnya mereka berlari. Sangat bertenaga

Gue menikmati menit demi menit waktu yang berjalan. Selain melihat Husky berlari, gue juga menikmati view alam yang kami lewati. Bikin mata melek. Sepanjang mata memandang, yang ada hanya hamparan salju, gundukan gunung, dan beberapa barisan pohon pinus. Sesekali kami berpapasan dengan Liftcar yang membawa pemain ski. Dan juga para pengendara snowsoocter racing.

IMG_0284.JPG
Sepanjang jalan tertutup salju
IMG_0283.JPG
Snow
IMG_0281.JPG
Kaya di film Twilight ya
img_0287
Di sekitar puncak  Storfjället di Sälen 
IMG_0288.JPG
Masih dari kawasan puncak Storfjället

Kami berhenti dan memutuskan beristirahat, di salah satu puncak pegunungan dikawasan Sälen bernama Storfjället. Di sini terdapat sebuah cafe, yang konon menjadi cafe tertua dan pertama di kawasan Sälen, bernama Storfjällsgraven. Cafe yang antik sekali. Wooden House yang  menyendiri diantara luasnya landscape tertutup salju.

Suhu di puncak pegunungan Storfjället lebih berasa dingin. Dan kami pun memesan dua porsi waffle dan dua gelas minuman coklat hangat. Lumayanlah, bikin perut hangat dan kenyang.

img_0298
Kami beristirahat di sini. Di sebuah cafe di kawasan puncak Storfjället. Landscapenya cantik. Meskipun winter, bangku tetap disediakan, karena cuaca mulai cerah
img_0291
Bangku diberi lapisan selimut bulu
img_0296
Hangat duduk di sini
IMG_0303.JPG
Katanya, ini adalah cafe pertama dan tertua tertua di kawasan Sälen. Unik ya bangunannya. Menyendiri di kawasan puncak Storfjället

Di saat istirahat, gue sempat melihat bagaimana anjing Husky bersenda gurau lagi dengan para pelatihnya. Para pelatih kelihatan sekali sangat memanjakan mereka.

Husky adalah jenis anjing yang biasa digunakan untuk kegiatan Dog Sled. Ada yang dikenal dengan sebutan Siberian Husky atau Alaskan Husky. Perawakan Husky sekilas mirip  Serigala. Bahkan lolongannya pun sama.

Bedanya, Husky bukan jenis anjing yang ganas dan galak. Sebaliknya, Husky dikenal sebagai anjing yang menyenangkan, ramah dan ceria. Bahkan dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.

fullsizerender-38

Husky memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Dan kemampuan berlarinya pun tidak perlu diragukan lagi. Dulunya, suku Chukchi (sebuah suku yang hidup di wilayah semenanjung Chukchi  Rusia), selalu membiasakan Husky menarik beban berat di atas salju.

Itulah sebabnya hingga sekarang, Husky dikenal sebagai anjing yang sangat aktif dan tidak bisa diam. Keinginan berlarinya sangat kuat. Dan ini sudah gue buktikan dan lihat sendiri. Bagaimana kawanan Husky sangat tidak sabar untuk segera berlari, ketika kami akan memulai perjalanan.

fullsizerender-37

Awalnya gue sempat berpikir, apa mungkin kawanan Husky ini bisa menarik beban gue dan suami? Yang gue tau, cuma kuda yang memiliki tenaga super. Ternyata salah. Husky pun  benaran bertenaga. Perjalanan 1,5 jam itu lumayan jauh loh. Dan mereka ga da capeknya berlari. Paling mereka berhenti disaat mau pipis doang.

Untuk biaya Dog Sled ini, berdua suami, dikenakan harga sekitar 1600 Sek (setara 2,4 juta rupiah). Memang relatif tidak murah. Tapi buat gue sih worth it ya.

Dan gue bisa memaklumi harga yang ditawarkan. Karena mereka juga butuh biaya yang tidak sedikit untuk perawatan Husky. Huskynya kelihatan sehat dan bulunya bagus. Dan satu lagi, pegawai juga perlu digaji kan.

fullsizerender-37

Perjalanan yang kami lalui, dibimbing oleh seorang Guide yang juga mengendarai Dog Sled. Kenapa harus ada Guide? Rulenya wajib seperti itu. Harus ada yang memimpin paling depan. Dan peserta lain tinggal mengikuti. Jadi yang namanya salah jalan, kemungkinan tidak ada. Gila aja, yang dilewati gunung mak. Hamparan salju yang luas. Salah dikit, bisa belok ke ke Jakarta. Hahaha.

img_0286
Guide yang memimpin di depan

img_0289

img_0279

Selain itu, tiga orang pegawai yang lain juga mengawasi perjalanan Husky. Bedanya mereka mengendarai Snowscooter. Tugas mereka adalah mengamati Husky, jika larinya tidak wajar. Contohnya, ketika salah satu Husky yang membawa kami, berlari terlalu cepat. Mereka langsung tau dan melepaskan ikatan anjing.

IMG_0273.JPG
Mirip serigala

Karena jika tidak, akan berpengaruh terhadap anjing yang lain. Dan selanjutnya, si Husky tadi pun dikeluarkan dari rombongan. Pokoknya mereka bertugas sangat cekatan.

Jika berlibur ke Swedia, khususnya di saat musim dingin, tidak ada salahnya melimpir ke daerah Sälen, Dalarna. Sesekali menikmati liburan yang tidak biasa itu enak kok. Sekalian menikmati sensasi musim dingin yang sebenarnya. Seru sudah pasti.

img_0299

IMG_0301.JPG

Pengen tau bagaimana anjing Husky menarik kereta seluncur?  Bisa langsung klik video di bawah ini. See You in my next story.

Video bermain dog sled ini juga pernah tayang di Net tv (program net10). Bisa klik di SINI

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”