Pesta Bunga di Musim Semi

Bagi gue yang tinggal di negara empat musim, pergantian musim selalu memiliki warna dan keindahan yang berbeda. Tidak terkecuali dengan musim Semi (Spring). 

Tidaklah salah, jika pergantian musim dingin ke musim semi, gue sebut sebagai pergantian musim yang ditunggu. Excited.

Wajar, setelah berbulan bulan hidup dengan siang yang lebih pendek dan malam yang lebih panjang, sinar mentari yang terbatas, dingin yang tidak berkesudahan,  tidak ada  bunga, tidak ada rumput,  hanya pohon dan ranting  tanpa daun. Semua tanah tertutup oleh salju. Ditambah lagi suasana hening yang bebas dari kicauan burung.

Dan akhirnya, ketika matahari semakin rajin menampakkan wajahnya, hari demi hari pun semakin cerah dan terang. Salju mulai mencair. Air danau di sebelah rumah sudah mengalir seperti biasa. Tidak membeku lagi.

FullSizeRender (32).jpg

Rumput yang tadinya menguning perlahan berubah menjadi hijau muda. Pohon pohon mulai berdiri sempurna, memiliki tunas daun di bagian rantingnya. Dan yang lebih excited lagi, bunga bunga liar yang mungil dan beraneka warna mulai bermunculan dimana mana. Ahhh, rasanya awesome sekali. Penantian lama yang berujung indah 🌸🌺🌷

Ditambah lagi, keadaan hening yang sebelumnya meraja, mulai berasa ramai oleh kicauan burung, terutama di saat bangun pagi. Ya Tuhan, kedengarannya enak banget di telinga gue.

FullSizeRender (31).jpg

Bangun tidur jauh lebih bersemangat. Pokoknya bener bener menyenangkanlah. Mungkin karena gue tinggal di lingkungan pedesaan ya. Jadi berasa banget bedanya.

Di saat winter, gue memang bisa melihat burung, bahkan sengaja diberi makan supaya mereka tidak kelaparan. Tapi mereka tidak mengeluarkan kicauan, cuma makan. Keadaan alam yang berbeda inilah, yang selalu membuat gue tidak sabar menanti datangnya musim semi.  

Kalau boleh gue bilang,  musim semi bukanlah musim yang paling sempurna untuk mendapatkan hangatnya sinar matahari. Akan tetapi, di musim ini gue sudah merasakan suhu yang lumayan hangat dari hari ke hari. Sudah tidak terlalu dingin. Sudah tidak di bawah nol derajat celcius. Sudah tidak ada yang namanya minus 30an.

img_3092
Bunga liar di musim semi.
fullsizerender-31

Bahkan kadang, kalau cuaca bersahabat, gue bisa menikmati hari layaknya musim panas. Jaket yang gue pakai pun sudah berbeda. Tidak terlalu tebal. Demikian juga dengan sepatu, tidak perlu boots dengan lapisan bulu tebal di dalamnya. Setidaknya perintilan berat di badan gue lumayan ringan.

Biasanya alam akan memperlihatkan tanda tanda jika satu musim akan segera atau sudah berganti.
Tentu saja, semakin terbiasa, semakin lumayan mudah merasakan tanda tandanya. Satu bulan sebelum musim semi, tanda tanda sudah mulai kelihatan. Misalnya: 

  • Suhu udara relatif sudah tidak terlalu rendah.
  • Bongkahan salju di atap rumah mulai mencair, suaranya mirip rintik hujan. Tiik..tik..tik. Suka mendengarnya.
  • Memasuki April, biasanya suhu sudah berkisar diantara 5 sampai 11 Derajat Celcius. Namun, bukanlah jaminan suhu ini tidak akan berubah. Bulan April adalah bulan yang suka membuat terkecoh. Dari cuaca yang sangat cerah, tiba tiba berangin, mendung dan hujan. Kemudian cerah lagi, dan mendung lagi. Dan puncaknya, tanpa dimau, salju kembali turun dengan derasnya. Turun di saat sudah memasuki awal Spring. Rasanya dalam sehari bisa mengalami empat musim sekaligus. Tipikal cuaca di bulan April. Suka memberi harapan palsu. 
img_3067
Unggas liar di tepi danau sebelah rumah. Gue senang banget setiap mereka muncul.
  • Unggas liar mulai berdatangan ke lapangan rumput dan tepi danau di sebelah rumah. Kehadiran mereka selalu menjadi tanda mujarab jika musim semi sudah mulai tiba. Mendengar suara mereka, melihat mereka memakan rumput, berenang di danau, ihhh..sukalah!
img_3016
Burung Cuckoo. Selalu mengeluarkan suara Kuk..Kuk. Source: animal-dream.com
  • Sering mendengar suara burung Cuckoo. Kuk..kuk, mirip jam antik. Ternyata oleh penduduk desa gue, suara burung ini bisa dijadikan tanda, kalau musim semi mulai tiba. Jadi selama burung ini masih bersuara, artinya spring belum berakhir sempurna. 

img_3075
Bunga Lilja,  bunga musim semi di Swedia.

FullSizeRender (33).jpg
Siapa yang tidak senang, bunga mungil ini muncul begitu saja memenuhi rumput.
img_3052
Gue lupa namanya, ini juga menjadi salah satu jenis bunga yang mulai muncul di saat musim semi. Tapi bukan bunga liar.
Meskipun bulan April bisa disebut sebagai awal datangnya musim semi di banyak wilayah, desa gue malah relatif  telat. Ketika orang orang sudah menikmati mekarnya bunga dimana mana, gue harus sabar menikmati tanaman yang masih gersang dari sisa winter. Kalaupun ada bunga yang mekar, masih sedikit banget.  

Paling yang membuat gue senang adalah,   toko bunga dan supermarket mulai ramai menjual bunga tulip. Setiap melihat tulip, hati gue langsung merasa winter akan segara berakhir.

fullsizerender-33
Tulip. Selalu menghiasi meja rumah.

Dua tahun lalu, gue masih berkesempatan melihat bagaimana bunga tulip yang gue tanam tumbuh dan mekar pertama sekali di halaman rumah. Senang luar biasa. Sayangnya setelah itu, umbinya gue cabut semua. Pertumbuhannya tidak terlalu bagus di sekitar tempat tinggal gue. Masih terlalu dingin sepertinya. Kebanyakan gagal dan cuma sebagian saja yang berhasil tumbuh.

Buat gue, musim semi sama artinya dengan Pesta bunga dimulai! Bunga bunga mulai bermekaran. Baik itu yang sengaja ditanam maupun bunga bunga liar. Dan yang paling membuat gue takjub adalah, ketika melihat bunga bunga liar bermunculan dimana mana. Di tepi jalan, di hutan, di sela rumput, satu demi satu muncul silih berganti. Jumlahnya banyak!

fullsizerender-32
Bunga ini tumbuh di samping halaman kosong sebelah rumah. Akhirnya gue mencoba tanam di halaman depan rumah. Berhasil!
Uniknya lagi, rata rata bunga liar tersebut hanya bertahan dalam hitungan minggu. Kurang lebih seminggulah. Kemudian disusul jenis bunga liar yang lain. Bentuknya mungil mungil, warna beraneka ragam. Kuning, merah jambu, biru, ungu, putih. Setiap waktu, ada saja bunga baru yang muncul dari permukaan tanah. 

Sekalipun hanya bunga liar, tapi keindahannya tidak perlu diragukan. Mampu membuat mata segar. Rasanya excited banget setiap melihat pergantian jenis bunga yang muncul. Ciptaan Tuhan memang luar biasa. 

Bunga liar pertama yang muncul di sekitar tempat tinggal gue adalah Tussilago, bunga kecil berwarna kuning (seperti gambar di atas di sebelah bunga tulip). Bunga ini tumbuh secara berkelompok dalam jumlah yang lumayan banyak. Kemudian disusul oleh bunga liar lainnya, seperti Vitsippa, dan Liljekonvalj.

Vitsippa merupakan jenis bunga liar yang sangat identik dengan musim semi di daerah sekitar tempat tinggal gue. Warnanya putih, tumbuh subur memenuhi sepanjang jalan di depan hutan. Cantik sekali jika dilihat dari jauh. 

fullsizerender-34

fullsizerender-32
Vitsippa. Warna putihnya memenuhi jalanan di depan hutan dan jalan raya.
Sedangkan Liljekonvalj merupakan salah satu jenis bunga yang digemari di desa gue. Tumbuh liar di hutan. Sebagian warga dulunya sengaja mengambil bunga ini dari hutan, dan menanamnya di halaman rumah mereka. Bentuknya yang mungil dan aromanya yang harum, menjadikan Liljekonvalj sebagai bunga liar elite di saat musim semi.

Karena terlalu kecil dan mungil, Liljekonvalj cenderung tidak terlihat diantara rimbun daunnya yang tumbuh rapat. Mirip daun tulip. Dahulu, sebelum libur sekolah dimulai, anak anak suka memetik Liljekonvalj di hutan dan memberikannya kepada guru. Benar atau tidak, dibalik kecantikan dan keharumannya, konon katanya Liljekonvalj mengandung racun yang berbahaya.  

FullSizeRender (31).jpg
Liljekonvalj. Mungilnya seperti bunga melati. Harum.

Di saat musim semi, kegiatan menanam bunga di halaman sekitar rumah sudah bisa dimulai. Biasanya bunga yang di tanam adalah jenis bunga yang memang cocok untuk musim ini. Ada beberapa jenis bunga yang sangat identik dengan musim semi. Salah satunya adalah bunga Pansy.

Bunga dengan beragam warna mulai dari ungu, kuning, biru, merah jambu, coklat, dan putih. Seperti gambar di bawah ini.

Kelopaknya bunganya sangat lembut tapi lumayan kuat berada di suhu relatif dingin. Pansy hanya bertahan sampai di penghujung musim semi.

Ada satu tradisi di Swedia dalam menyambut musim semi. Nmanya Valborgsmässa. Tradisi ini serentak dilakukan di akhir bulan April. Dengan membakar ranting ranting kayu dalam jumlah yang banyak bahkan dalam ukuran yang sangat besar. Tradisi menyalakan api ini dimaknai sebagai berakhirnya musim dingin (winter) dan akan digantikan dengan musim yang lebih hangat dan lebih terang.

Setiap musim memiliki keindahan buat gue. Hidup di negara empat musim masing masing memiliki cerita sendiri. Hidup setiap waktu lebih bervariasi. Sadar atau tidak, ada perubahan yang ditunggu. Meskipun winter hanya memiliki salju, namun putih salju memberi kesempatan ke gue untuk bisa merasakan kehidupan layaknya di dalam cerita dongeng. Di Negeri Winter Wonderland. 

Dan cerita dongeng pun berganti menjadi sebuah musim, dengan suasana  yang lebih berwarna. Warna warni flora yang baru! Ciptaan Tuhan yang luar biasa.

Baidewai, musim semi masih beberapa bulan lagi, uda ga sabar aja nulis di blog. Hahaha. Tetap semangat!

fullsizerender-34

“Semua photo di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com.  Terkecuali ada keterangan tertentu”

Salam dari Mora, 

Dalarna, Swedia

 

fullsizerender-31

9 Comments

  1. Bunganya cantik- cantik banget ka, aku disini beli bunga klo lebaran aja.. Pasti seneng klo punya halaman banyak bunga warna warni ya, oh iya foto bunga yg diatas itu bunga yg klo ditiup terbang bukan ka?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s