Mengenal “FÄBOD” Di Dalarna Swedia

Gue yakin kalian pasti asing dengan kata “Fäbod”. Dimaklumi.

Fäbod merupakan sebutan yang sangat familiar dan sudah tidak asing lagi di propinsi Dalarna Swedia. Sudah ada sejak 450 atau 500 tahun silam. Bahkan hingga saat ini (meskipun tidak banyak lagi) masih ada fäbod yang bertahan.

Fäbod merupakan sebuah sejarah. Sejarah peradaban masa silam di sebagian wilayah Dalarna yang mostly menggantungkan hidup dari bertani.

Fäbod bisa dibilang sebuah “kawasan” yang dihuni secara “musiman”. Tepatnya hunian di saat musim panas. Tapi fäbod bukanlah summer house yang identik dengan liburan musim panas, santai, me time atau apalah itu yang menyegarkan badan dan pikiran, melainkan hunian yang dipakai para petani ketika harus tetap menggembalakan ternak mereka.

Mmmm…..bisa diperjelas lagi?

Jadi begini…

Dalarna itu adalah salah satu propinsi di Swedia yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi hutan pinus, danau maupun sungai. Dalarna juga relatif lebih dingin dibanding ujung selatan Swedia. Sudah dekatlah ke perbatasan bagian utaranya. Sedangkan lahan lahan kosong untuk pertaniannya pun sebagian besar relatif terbatas.

Faktor geographis ini membuat Dalarna kurang bisa maksimal menghasilkan produksi tanaman pertanian termasuklah rumput untuk bahan pangan ternak. Ditambah lagi Dalarna mengalami musim dingin yang relatif lebih panjang dan lama.

IMG_9720

Ketika musim panas tiba, para petani di sebagian wilayah Dalarna memaksimalkan keterbatasan lahan dengan menanam rumput di sebagian lahan yang mereka punya untuk kemudian digunakan untuk makanan ternak.

Berhubung lahan terbatas, hasil panen di musim panas ini pun otomatis tidak mencukupi stok pangan ternak untuk satu tahun penuh. Kasarnya hanya cukup untuk stok musim dingin. Bahkan rumput liar yang tumbuh di sekitar hutan dekat rumah pun tidak ketinggalan dipotong untuk dijadikan stok pangan ternak.

Lalu masalah pun muncul. Jika rumput liar dan rumput yang sengaja ditanam tidak mencukupi, bagaimana kelangsungan hidup ternak ternak ini di saat musim panas tiba?

Kemudian muncul ide….

Selama musim panas para petani akhirnya tidak membiarkan ternak untuk tinggal di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Karena jika tidak, otomatis tanaman rumput bakal habis dimakan ternak. Padahal itu akan digunakan untuk stok musim dingin.

Lalu kemana ternak ternak ini dibawa? Ke sebuah wilayah yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Seberapa jauh? Bisa 10 hingga 40 kilometer.

Hah? ….Terus setiap hari pulang pergi bawa ternak segitu jauh? 400 tahun silam belum ada kendaraan toh. Bawa ternak sapi pula. Sapi kan gendut gendut. Belum lagi bawa ternak lainnya. Kuda, domba, ayam, itik…ble ble ble.

Nah, itulah gigihnya mereka. Mereka sadar jika harus pulang pergi setiap hari sudah jelas akan sangat merepotkan. Selain tidak efesien di waktu juga akan menguras tenaga. Bisa bisa belum sampai tujuan uda keburu malam.

Sehingga mau tidak mau mereka harus rela membangun hunian baru di kawasan dimana mereka akan menggembalakan ternaknya. Biasanya kawasan yang dipilih adalah dataran yang agak tinggi dan tetap dekat dengan hutan. Di sini mereka bikin rumah sendiri, ngebor air secara manual dan semuanya serba bikin sendiri. Selama musim panas mereka berpindah ke hunian baru ini. Kawasan inilah yang kemudian dinamai FÄBOD.

IMG_9829
Sapi di sebuah kawasan fäbod yang masih bertahan hingga saat ini

Sepanjang musim panas mereka jarang bahkan nyaris tidak menempati rumah di desa mereka. Mereka bekerja menggembalakan ternak agar tetap kenyang menikmati rumput di kawasan fäbod.

Kemudian setelah musim panas usai, mereka pun kembali ke desa berikut dengan seluruh ternak. Saat musim dingin tiba ternak pun tetap kenyang memiliki asupan stok makanan karena di saat musim panas tanaman rumput di sekitar desa sama sekali tidak dimakan ternak.

Setiap desa di sebagian wilayah Dalarna rata rata warganya membangun kawasan fäbod. Bahkan satu desa masing masing warga bisa memiliki fäbod yang berbeda beda. Gue sendiri masih bisa melihat peninggalan fäbod warisan keluarga suami.

Tapi tidak semua wilayah di Dalarna memiliki Fäbod. Jika lahan mereka mencukupi, mereka tidak perlu membangun kawasan fäbod.

Fäbod umumnya ada di wilayah yang lahan pertaniannya terbatas. Lebih banyak hutannya. Contohnya seperti warga di wilayah Selatan Swedia, mereka memang tidak memerlukan Fäbod. Karena wilayah selatan Swedia memiliki lahan pertanian yang lumayan luas dan cuaca yang lebih hangat.

Meskipun ada satu dua fäbod yang masih bertahan hingga saat ini, Fäbod lebih diingat sebagai peninggalan sejarah. Saat ini sistem pertanian sudah sangat canggih. Tapi fäbod mengingatkan generasi ke generasi betapa beratnya usaha petani di masa silam untuk bisa bertahan hidup.

Namun dari sekian banyak Fäbod di Dalarna ada beberapa yang justru menjadi tujuan wisata. Sebut saja seperti Fryksås Fäbod yang sangat terkenal dengan keindahan landskapnya dan Kättboåsen Fabodar. 

IMG_9789
Rumah di kawasan fäbod yang sering gue kunjungi. Dalamnya bersih loh dan antik. Tanpa polesan make up dia. Haha..

IMG_9756

Kättboåsen Fabodar adalah kawasan fäbod yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal gue. Setiap tahun gue dan suami selalu mampir ke sini. Entah mengapa gue selalu suka. Keaslian lingkungan sekitarnya membuat gue seolah lupa jika gue hidup di tahun saat ini.

IMG_9825
Sapi di sekitar fäbod

Kättboåsen Fabodar dikelola pasangan suami isteri yang sangat setia dengan kehidupan jaman bahela. Bayangkan setiap musim panas mereka bener bener menjalankan apa yang dilakukan para petani Dalarna ratusan tahun silam.

IMG_9799
Bunga menjadi lebih cantik ketika berada diantara yang rustic

Mereka meninggalkan rumahnya dan hidup dengan ternak ternaknya selama musim panas di kawasan fäbod milik mereka. Rumahnya beneren ga dipoles. Apa adanya seperti ratusan tahun silam. Perlengkapan peralatan di dalam rumah pun masih orisionil.

IMG_9788
Semakin kusam warna kayunya semakin tertarik orang berkunjung haha

Setiap kami ke sana mereka selalu berpakaian tradisional Dalarna. Masak pakai kayu bakar, cuci tangan di baskom bukan di wastafel. Beneran kehidupan jaman dulu.

Setiap musim panas mereka membuka ruang untuk turis tanpa dipungut biaya. Paling mereka mendapat keuntungan dari hasil menjual roti, keju, cake yang mereka buat sendiri. Kejunya mereka bikin sendiri loh dari ternak sapi mereka. Cakenya juga enak. Beneran deh, apa saja akan menjadi lebih nikmat jika disantap di suasana jadul seperti ini. Karena berasa serba terbatas kan.

IMG_9725
Sekitar halaman fäbod yang adem asri

Ngopi sambil dengerin suara aummm sapi dan kukuruyuk ayam yang super montok, mencium aroma asap kayu bakar, hingga kabin kabin tua yang super rustic. Beneran lupa kalau sekarang uda tahun 2019. Hahaha.

IMG_9740
Nah….di sini ngopinya.. sesimple itu Marimar! Air panasnya dibakar di atas kayu bakar. Lupakan mencari air kemasan botol di sini. 
IMG_9786
Ember kayu jaman dulu dan kuali besi hitam yang masih bertahan

Semua turis yang ke sini tidak pandang umur. Anak anak, remaja, dewasa dan tua. Semua menikmati dan antusias mengelilingi kawasan fäbod. Berikut beberapa gambar di kawasan Kättboåsen Fabodar yang masih bertahan hingga saat ini.

IMG_9835
Mereka juga nanam grain untuk menghasilkan tepung rye
IMG_3927
Ini kucing mereka. Cute banget. Begitu hendak gue foto sepertinya dia tau. Dia berhenti loh dan menoleh gitu. Ini Foto empat tahun lalu dan sampai sekarang si kucing ini masih ada.
IMG_9817
Jerami

IMG_9718

Jaman sekarang tidak sedikit yang menjadikan bangunan rumah di kawasan fäbod yang sudah tidak terpakai lagi menjadi summer house. Dan itu lumayan banyak diincar. Sedangkan untuk fäbod yang masih bertahan biasanya menjadi ajang tempat wisata musim panas.

Note: Semua foto di dalam tulisan ini hanya menggunakan handphone

Lupiner, Cantik Tapi Berbahaya

Setiap musim panas, ada satu jenis tanaman yang menghiasi beberapa wilayah Swedia. Terkhusus di wilayah Dalarna. Beraroma semerbak dan beraneka warna. Cantik.

Di Swedia orang orang menyebutnya Lupiner. Sedangkan asal katanya berasal dari bahasa Latin yaitu Lupinus yang artinya serigala. Dinamai demikian karena keganasan lupiner yang mampu mengekspansi pertumbuhan tanaman di sekitarnya sehingga sulit berkembang.

IMG_8908 (1)

Awalnya gue berpikir jika tanaman ini hanya tumbuh di wilayah dingin. Ternyata tidak. Malah dari beberapa sumber yang gue baca,  di wilayah panas seperti Indonesia pun lupiner bisa dibudidayakan. Dan gue juga baru tau jika lupiner dianggap berbahaya terhadap kelangsungan hidup species lain di sekitarnya. Karena sifat serigalanya itu tadi.

IMG_8913

Beberapa waktu lalu, pemerhati lingkungan di Swedia mulai dibikin resah oleh ekspansi tanaman ini. Dihimbau agar warga yang melihat lupiner sebaiknya segera menebas dan membakarnya agar tidak membawa pengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman liar lain yang dianggap lebih nature.

Walaupun dalam kenyataan yang gue lihat, warga tetap membiarkan bunga ini hidup dan menikmati keindahan warna warninya. Emang cantik sih. Ibarat melengkapi keindahan musim panaslah. Apalagi kalau dilihat dari jauh, warna ungunya mirip bunga lavender.

IMG_8898 (1)
Mirip Lavender

Lupiner aslinya berasal dari Amerika Utara dan Selatan. Konon di sana bunga ini sangat terkenal. Selain di Swedia, lupiner juga tumbh subur di wilayah New Zealand, Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Konon biji Lupiner bisa dimakan dan sering menjadi suguhan dalam bentuk  cemilan di wilayah mediterania.

IMG_8911

IMG_8909

Lupiner sangat menyukai air. Makanya tanaman ini lebih subur di tanah yang memiliki kandungan air yang banyak. Seperti di pinggiran sungai, pantai dan danau. Sehingga kalau gue lihat, tanaman ini tumbuhnya memang tak jauh jauh dari sekitar air. Tumbuh di pinggir jalanpun karena jalanan berada tak jauh dari sungai atau danau. Atau di sekitar selokan yang ada aliran airnya. Jadi tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat.

IMG_8898

Di wilayah eropa lainnya, lupiner ternyata dibudidayakan untuk dijual di toko bunga. Ahhh so lucky me bisa melihat hamparan mereka dan bisa memetik sepuasnya.

IMG_8915

Saat gue menulis tulisan ini, lupiner lagi banyak banyaknya bermunculan. Dan gue pun tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan momen cantik ini dalam bentuk video.

Bisa klik video di bawah …

Dikutip dari berbagai sumber termasuk Wikipedia

Ketika Bangunan di Swedia Dominan Berwarna Merah. Mengapa?

Pernah berkunjung ke Swedia? terkhusus ke daerah daerah ”country sidenya”? atau mungkin sekedar melihat dari liputan televisi, internet, kalender, koran atau majalah? atau mungkin juga dari ilustrasi gambar dalam buku cerita anak sekelas Astrid Lindgren?

Jika disimak, salah satu ciri khas dari negara Skandinavia yang satu ini adalah typical bangunan bangunan rumahnya. Terutama bangunan rumah/gedung di wilayah country sidenya. Hampir semua berwarna merah! Warna merah yang berpadu dengan warna putih di setiap sisi jendelanya. Cantik, klasik dan magical. Rumah merah yang mewakili cerita fantasi dalam serial dongeng. Rumah merah yang selalu serasi dengan semburat warna di empat musim yang berbeda. Tak cuma rumah, bahkan bangunan sekolah, panti jompo, gudang, kandang ternak, pagar, hotel, sampai kotak pos pun berwarna merah.

IMG_5787.jpg

IMG_5781.jpeg
Rumah merah berpadu dengan salju putih di musim dingin. Serasi dan magical ya 🙂

Lantas mengapa bangunan di Swedia dominan berwarna merah? Ternyata ada ceritanya.

Hal ini berkaitan dengan area pertambangan biji tembaga dan besi bernama “Falu Koppargrufa” (Falun Mines) yang terletak di propinsi Dalarna, salah satu propinsi yang ada di wilayah Swedia. Pertambangan mana diperkirakan sudah ada sejak 500 atau 900 tahun silam.

40777452632_48e5cf23e4_o

40819112711_96c0b5b1f8_o.jpg
Merah!

Menilik mundur ke sejarah silam, masa dimana sebagian besar warga di sekitar Falun Dalarna berprofesi sebagai penambang tradisional, yang sehari harinya bekerja dengan memilah milah biji batu tembaga. Semisal kandungan tembaga dalam batu sedikit, kemudian dipisahkan ke suatu tempat.

Seiring waktu batu batu ini semakin menggunung. Dan tanpa mereka sadari, akibat proses pengeringan oleh alam yang cukup lama, kandungan besi oksida dan mineral dalam batu mampu membentuk limonit sedimen, yang semakin lama secara alami menghasilkan warna merah.

IMG_5687 (1).jpg

39438018790_794b43718d_o.jpg
Sebuah desa dengan rumah kayu berwarna merah

Melihat perubahan itu, para penambang tradisional berkeinginan mengolah limbah batu yang tadinya dianggap tidak berguna menjadi bahan dasar untuk menghasilkan warna merah pada cat.

Sekitar tahun 1573, King Johan III (raja Swedia saat itu) berkeinginan agar cat merah yang dihasilkan oleh para penambang tradisional digunakan untuk mewarnai atap istana. Lalu keinginan raja tersebut diikuti oleh kaum bangsawan. Saat itu kaum elite Swedia berangganpan jika memiliki rumah berwarna merah seakan mewakili sebuah harga prestise sosial.

40819114741_4e3fd5eda6_o.jpg

IMG_5746.jpg

Duaratus limapuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1764, berdirilah “Stora Enso” pabrik pertama dan tertua di Swedia bahkan dunia, yang memproduksi cat secara profesional di area pertambangan yang sama di ”Falun Mines”.

Cat berlabel “Falu Rödfärg” (yang bisa diartikan warna merah dari Falun) menjadi cat yang sangat famous di Swedia hingga saat ini. Dari abad ke 18 hingga 19, warga Swedia mulai tergila gila menggunakan cat merah dengan alasan: warna ini seolah memberi kesan jika rumah mereka terbuat dari batu bata, yang waktu itu hanya dimiliki kaum istana raja dan bangsawan. 

29452274208_7b329f2ccc_o
Pabrik penghasil cat merah, Falu Rödfärg

Tak cuma itu, seiring waktu semakin terlihatlah jika warna merah ”Falu Rödfärg” yang dihasilkan pabrik Stora Enso sangat tahan lama dan memiliki kualitas yang bagus karena mengandung mineral terurai dan minyak alami. Konon kayu yang diberi cat berwarna merah ini mampu membuat kayu menjadi tidak gampang lapuk. Tahan lama!

Konon lagi warna merah yang diproduksi oleh pabrik Stora Enso hanya cocok digunakan untuk ”bahan kayu” seperti rumah dan bangunan kayu di Swedia. Satu lagi yang unik, warna  merah ini tidak bisa ditindih dengan warna lain karena warna merahnya akan muncul kembali.

IMG_5803.jpg
Bangunan bangunan gudang yang juga berwarna merah

Ada harga dan ada rupa. Tidak bisa dipungkiri jika harga cat yang dihasilkan pabrik Stora Enso terbilang mahal. Sehingga tak sedikit warga Swedia perlahan lahan beralih ke merek lain meski kualitas warna merahnya jelas berbeda karena tidak menggunakan bahan dasar alami yang sama seperti yang dihasilkan oleh pabrik Stora Enso. Tapi bukan berarti seratus persen rumah dan bangunan kayu di Swedia itu berwarna merah ya. Warna lain juga ada kok seperti putih, kuning, biru. Cuma warna merah lebih dominan.

IMG_5802.jpg
Tempat wisata dengan bangunan dan pagar berwarna merah
IMG_5793.jpeg
Rumah masa kecil seorang Astrid Lindgren yang lagi lagi berwarna merah

Jika berkunjung ke kawasan Falun Mines, kamu bisa melihat banyak tumpukan batu menggunung di beberapa titik lokasi, yang tak lain merupakan kumpulan biji batu yang disortir para penambang dari jaman ratusan tahun silam hingga tahun 1991, ketika mereka menyambung hidup di area bekas pertambangan ini.

40777452232_a1724fc11a_o
Farmhouse yang serba merah
IMG_5790 (1).jpg
Desa itu berwarna merah. Hahaha

Dan amazingnya, batu batu yang sebagian besar sudah berumur ratusan tahun itu sampai sekarang tidak habis habis. Mengapa? karena batu batu ini tidak digunakan sekaligus untuk usaha produksi cat, dikarenakan terkumpulnya batu batu ini berasal dari tahun yang berbeda (bahkan bisa selisih ratusan tahun).

Jadi proses alami pembentukan sedimen merah pada biji batu juga butuh waktu yang sangat lama. Bisa ratusan tahun juga.

IMG_5788.jpg

40819113451_ec5171bcb5_o.jpg
Merah yang minimalis diantara tumpukan salju

Pabrik Stora Enso penghasil Falu Rödfärg (cat berwarna merah) ini bisa dilihat di lokasi wisata Falu Gruva (Falun Mines) di kota Falun ibukota propinsi Dalarna. Sampai sekarang masih ada dan tetap berproduksi. Uraian sejarah tentang  cat berwarna merah secara gamblang bisa dibaca di sekitar kawasan pabrik. Bagaimana pigmen warna bisa bekerja, mengapa rumah rumah kayu di Swedia dominan berwarna merah, dan slogan tentang cat yang dihasilkan bukan sekedar cat biasa melainkan berfungsi menjaga kestabilan kualitas kayu.

IMG_5775.jpeg
Dikala musim panas, merah dan hijau. Lagi lagi tetap serasi bukan? 

Selain itu kalian juga bisa mengeksplore lokasi di sekitar pabrik yang merupakan bekas pertambangan besar yang konon sempat menghasilkan banyak uang di masanya dan meningkatkan perekonomian Swedia di masa silam. Salah satunya adalah dengan menelusuri area pertambangan bawah tanahnya. Seruuuuuu dan memicu adrenalin.

img_5772

IMG_5773.jpeg
Bangunan merah diantara bunga liar. Cantik!

Saya sangat terkesima mendengar penjelasan guide tentang sejarah pertambangan ini. Merinding karena tak sedikit yang memakan korban jiwa dan mengandung cerita yang sedikit mistis dan horor. Bayangkan saja, berjalan di bawah tanah dengan sinar terbatas dan tangga kayu yang lumayan curam, jalanan batu yang licin, air yang masih menetes dari celah dinding batu dan suhu di bawah yang relatif dingin (kurang lebih 5 derajat celcius). Jika memungkinkan, akan saya tulis secara detail di tulisan yang terpisah.

img_5824

img_5777
Di musim gugur.  Dan warna merah tetap menawan

Demikianlah cikal bakal mengapa bangunan rumah di Swedia itu dominan berwarna merah. Bangunan rumah mana juga dijadikan sebagai souvenir di beberapa wilayah country side Swedia sebagai pertanda ciri khas wilayah mereka.

Berikut di bawah adalah beberapa foto bangunan berwarna merah yang saya foto. Mulai dari restoran, cafe, hotel, museum, souvenir, toko souvenir, komplek perumahan, gudang.

img_5818
Sebuah cafe dari bangunan gudang tua. Merah!
img_5828
Souvenir rumah. Mewakili bangunan kayu merah di Swedia.
img_5821
Perumahan tua yang dominan berwarna merah
img_5817
Restorannya kece
img_5838
Hotel yang lagi lagi berwarna merah          

IMG_5836.jpg

Kaffestuga Hemslöjd, Toko Kece yang Bikin Betah

Kamu suka belanja di toko souvenir ga sih? atau di toko kerajinan tangan gitu. Kalau gue termasuk suka. Apalagi kalau tempatnya seperti Kaffestuga Hemslöjd yang terletak di kawasan Tällberg  Dalarna ini. Bikin betah.

IMG_9876.jpg

Jadi sesuai namanya, Kaffestuga Hemslöjd merupakan bangunan toko souvenir dan barang hasil kerajinan tangan warga lokal dan sekaligus ada cafe juga di lantai duanya. Kenapa sih gue niat banget sampai nulis toko ini di blog? ya karena gue suka banget dengan konsepnya.

IMG_9880
Toko souvenir dan kerajinan tangan Hemslöjd. Sukak!

Hemsslöjd tidak seperti toko souvenir atau kerajinan tangan kebanyakan yang pernah gue lihat sejauh ini. Mulai dari bangunan wooden house hingga interior shabby vintagenya lumayan mencuri perhatian gue. Tidak monoton. Barang yang dijual tidak asal ditumpukin tanpa sentuhan interior sama sekali. Sebagian besar ditata semenarik mungkin. Jenis barangnya pun lucu lucu tidak seperti barang kebanyakan. Dan sebagian besar merupakan handmade. Candle holder, bantal, sendal, rumah tradisional Dalarna, telenan, patung domba, gantungan kunci, dan masih banyak lagilah. 

IMG_9686.jpg

IMG_9685
Ini dia ruangan tempat pengunjung istirahat dan duduk santai. Suka banget

Berada di dalam serasa memasuki museum, karena secara tidak langsung barang barang yang dijual mewakili cerita rakyat masyarakat Dalarna. Dan yang terpenting menurut gue interior di dalamnya itu loh, sukaaaa bangetlah. Mungkin karena dominan kayu ya. Jadi feeling warm aja di dalam. Homi banget.

IMG_9699.jpg

IMG_9698.jpg
Bantal ini dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Anyone?

Toko ini juga punya satu ruangan berisi meja dan kursi kayu plus pernak pernik pelengkap. Mirip rumah rumah di majalah tapi atmosfirnya vintage banget. Mana waktu berkunjung pas pula turun salju. Memandang keluar jendela serasa gimana aja gitu. Berasa tidak di toko souvenir. Happynya lagi ternyata ruangan ini bisa digunakan pengunjung untuk bisa duduk beristirahat juga. Kerenlah.

IMG_9694.jpg

IMG_9695
Candle holdernya lucu. Wanita dan pria berpakaian khas Leksand Dalarna. Lilinnya dipasang di kedua tangan patung. Harganya sekitar 750 sek atau sekitar 1,2 juta rupiah per satuannya. 

Enaknya lagi nih, masuk ke dalam toko feel free bisa melihat lihat sepuasnya tanpa terbeban harus membeli. Tidak diintilin pegawai tokonya. Cuma ada ga enaknya juga. Harganya bikin pusing. Hahaha.

IMG_9680.jpg
Candle holdernya sangat simple dan ukurannya juga kecil. Berhubung designnya autentik jadi gitu deh. Satunya dihargai 550 sek atau setara 900 ribu rupiah 

Setidaknya menurut kemampuan kocek gue sih relatif mahal ya. Bayangin aja untuk sebuah candle holder rata rata dihargai jutaan bahkan mencapai 2495 sek atau setara 4 juta rupiah. Padahal menurut gue sih biasa aja. Menarik juga ga. Jadi ingat candle holder di rumah yang modelnya sama persis seperti di toko ini. Ceritanya pertama tiba di Swedia, gue tidak mengerti tentang kualitas barang barang peninggalan mendiang mertua. Sempat berkeinginan hendak masukin ke gudang sangkin ga suka dengan modelnya. Bikin sumpek aja banyak barang. Gue pikir cuma tempat lilin biasa. Ternyata barang bagus. Itupun setelah dikasih tau suami dan tetap aja sampai sekarang ga ngaruh sih. Gue kaga suka dengan model dan warnanya. Hahaha. Menurut kalian modelnya cakep ga? Contohnya bisa lihat gambar di bawah, candle holder berwarna hitam lengkap dengan simbol ayam di atasnya.

Cuma gue ga punya foto yang di toko. Jadi gue fotoin candle holder yang di rumah aja. Bentuk dan warnanya sama persis. Menurut gue dihargai mehong sampai segitu karena selain handmade bahannya juga terbuat dari iron. Dan ini lumayan berat. Designnya mewakili simbol kota Leksand Dalarna, kota dimana kawasan Tällberg berada.

Dan ternyata candle holder ini memiliki philosophy kepercayaan kristen yang bisa diartikan sebagai berikut :

Bentuk hati adalah tanda cinta kasih, 10 buah daun sebagai lambang 12 murid Jesus, 5 lubang di sebelah kiri kanan sebagai tanda 10 hukum taurat, 3 buah lilin sebagai simbol trinitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus), ayam sebagai simbol bahwa manusia harus tetap spirit dan tidak malas. Kurang lebih begitu.

Selain itu toko Hemslöjd juga memiliki barang lain yang tak kalah heboh harganya. Seperti bantal yang dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Ada juga telenan kayu seharga 450 sek atau setara 750 ribu rupiah, rumah puzzle khas Tällberg Dalarna seharga 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah. Jelasnya bisa klik link video di akhir tulisan ini. 

IMG_9696.jpg
Bangunan puzzel ini menarik sekali.  Mewakili rumah, cottage dan bangunan di kawasan resort Tällberg. Rumah rumah ini bisa kita bongkar pasang layaknya puzzel. Harga berkisar antara 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah

Ada sih yang masih terjangkau seperti patung domba ukuran kecil seharga 200 ribu rupiah atau gantungan kunci kecil seharga 60 ribu rupiah. Tapi mostly harganya memang harga langit untuk ukuran buah tangan atau oleh oleh. Cuma untuk kualitas emang bagus sih karena menggunakan bahan asli dan pengerjaan masih manual alias handmade. 

IMG_9711
Yang terbawa pulang. Gue sukaaaaaa banget patung mungil domba ini. Harganya sekitar 125 sek atau setara 200 ribu rupiah. Bulunya dari domba asli.

Toko Hemslöjd ini sudah tayang di Net Tv program Net 10 beberapa waktu lalu. Kalau mau melihat langsung videonya bisa klik link di bawah ini.

http://netcj.co.id/Travelling/video/225263/Barang-di-Toko-Ini-Mahal-tapi-Bikin-Betah

Menikmati Hari di Desa Kecil yang Terkenal ini (Tällberg)

Entah sudah berapa sering gue dan suami berkunjung ke desa kecil ini. Rasanya tak pernah bosan. Desa dengan segala keautentikannya. Ibarat gadis desa yang polos tapi mampu mencuri hati. Ada kalimat yang menyebut “Ke Dalarna tanpa ke Tällberg ibarat ke pesta nikah tanpa melihat pengantinnya”

Tällberg terletak di wilayah Leksand. Tepatnya lagi di propinsi Dalarna Swedia. Tällberg adalah desa kecil yang beruntung. Setidaknya itulah menurut pendapat gue. Dibanding desa kecil lain di propinsi Dalarna (termasuk desa gue), Tällberg ibarat artis papan atas dan desa kecil lain ibarat artis nanggung. Dan desa gue meniti karir pun belum. Apalagi fans berat Tällberg sebagian besar berasal dari luar kota, seperti Stockholm dan kota kota besar lain di Swedia. Bahkan tidak sedikit wisatawan asing terkhusus yang berasal dari Jerman dan Belanda juga suka mengunjungi desa ini.

img_7515
Tällberg
img_7516
Tällberg

Meskipun hanya sebuah desa kecil tapi Tällberg memiliki nama yang lumayan besar. Rasanya warga Dalarna dan wisatawan yang sangat menggilai resort bernuansa alam plus bangunan antik sangat mengenal desa nyentrik ini.

Dahulu kala misalnya kaum borju Stockholm sengaja beramai ramai membangun villa dan summer house tak jauh dari Tällberg. Kala itu memiliki villa dan summer house di dekat desa Tällberg menjadi trend yang bergengsi. Semacam pembuktian status sosial. Contohnya seperti villa summer house di bawah ini.

Sampai sekarang bangunan bangunan villa dan summer house ini masih bisa dilihat di sisi kiri dan kanan jalanan menuju Tällberg. Wooden house tradisional.

Ibarat diva, ketenaran Tällberg sampai pada puncaknya ketika desa kecil ini pernah beberapa kali dikunjungi oleh Kung Carl XVI Gustav. Raja Swedia saat ini.

IMG_7587

IMG_7590

Lalu apa yang membuat Tällberg sedemikian menarik? Agak susah menjelaskan. Tergantung selera masing masing. Tapi menurut gue ada dua faktor. Salah satunya adalah Tällberg berada dilingkungan alam pedesaan yang sangat natural dan asli, dengan struktur tanah yang sedikit berbukit, membuat landscape alam di sekitar Tällberg menjadi sangat menawan. Belum lagi tenangnya air danau Siljan sebagai danau terbesar di Dalarna cukup membuat sentuhan ekolife berasa banget di Tällberg.

Yang kedua meskipun hanya desa kecil, sebagian besar wilayah Tällberg justru dipenuhi bangunan penginapan. Setidaknya ada 200 rumah tinggal, 400 penginapan villa/cottage dan 8 hotel besar berbintang dengan fasilitas yang lumayan lengkap di desa ini. Dan mostly bangunan yang berdiri di Tällberg terbuat dari kayu dengan model interior yang masih tradisional. Real scandinavian.

Alam yang tenang, udara yang segar hingga bangunan vintage. Pembenci keributan sangat cocok ke tempat ini. Gue garansilah. Kebanyakan orang yang menginap di Tällberg hanya bersantai di penginapan atau berjalan kaki di sekitar resort dan melihat museum maupun toko kerajinan tangan. Ibarat di puncaklah ya.

img_7619
Landscape di desa Tällberg diantara aliran air danau Siljan 
img_7514
Landscape di desa Tällberg. Kabin kabin seperti ini ibarat penghias halaman di Tällberg. Menggemaskan.
img_7520
Landscape Tällberg di saat summer

Mengapa Tällberg sarat dengan penginapan? ceritanya berawal sekitar tahun 1900. Beberapa petani yang berasal dari Tällberg berkeinginan agar desa mereka mendapat kunjungan wisatawan. Demikianlah sampai akhirnya sebagian besar warga Tällberg membangun penginapan kayu bahkan berkembang menjadi hotel. Hingga akhirnya perlahan Tällberg dikenal bukan lagi sebagai desa kecil saja tetapi juga menjadi salah satu resort terbaik di Swedia.

IMG_8562

Hotel di Tällberg terdiri dari hotel biasa sampai hotel berbintang. Dengan pembayaran permalam yang bisa dibilang tidaklah murah. Bahkan biaya menginap permalam di hotel besar Tällberg mampu menyaingi harga hotel di kota besar Swedia.

Rata rata hotel besar di Tällberg memasang tarif sekitar 1250 hingga 3000 sek permalam (setara dua hingga lima juta rupiah permalam).  Tergantung seasons juga. Hotel hotel ini biasanya menyediakan juga paket penginapan including makan malam maupun spa. Harganya berkisar 4500 hingga 5000 sek (setara 7,5 sampai 8 juta permalam).

Padahal jika dilihat bangunan hotel sangat biasa dan jauh dari kesan mewah. Tapi inilah yang menjadi daya tarik Tällberg. Desa ini memiliki karakter yang sangat kuat. Jika menyebut kata Tällberg yang pertama terlintas di kepala adalah bangunan bangunan kayu tradisional. Bangunan kayu tua menjurus horor. Sampai pagar hotel pun terbuat dari kayu. Terkesan tidak  fresh dan dibiarkan seperti aslinya. Rustic banget. Lantai kayu hotelnya sampai mengeluarkan suara denyit ketika diinjak….ngikk! Hahaha.

Berikut di bawah ini beberapa bangunan hotel di Tällberg :

IMG_7506.JPG
Sumpah ini kece banget
img_7533
Hotel di Tällberg. Unik ya
img_7522
Salah satu hotel di Tällberg
img_7537
Salah satu villa di Tällberg
img_8548
Salah satu hotel di Tällberg
img_7557
Hotel di Tällberg
IMG_7531.JPG
Cottage. Dan uniknya sebagian kamarnya menggunakan bangunan Härbre yaitu gudang tempat menyimpan gandum di jaman dulu. Tapi menjadi beda dan unik.

Bagi yang tidak paham atau bukanlah golongan penggemar bangunan antik, mungkin rasanya rugi harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit hanya untuk menginap di sebuah penginapan kayu. Namun berbeda dengan kebanyakan warga lokal di Swedia, nuansa super vintage justru memiliki sensasi tersendiri. Ibarat kata serasa menggiring mereka ke ratusan tahun silam. Suami gue salah satunya. Sangat menyukai penginapan bergaya old style.

img_7598
Kawasan ini semacam centralnya desa Tällberg
img_7602
Kawasan ini semacam centralnya desa Tällberg
img_7601
Halaman cafe

Nuansa inilah yang ditawarkan Tällberg kepada tamu tamunya. Bangunan boleh terlihat tua dan sederhana dari luar tapi mereka mampu mengemas interior di dalam menjadi elegan, romantis bahkan berkelas.

Layaknya di kota besar, hotel besar di Tällberg memiliki fasilitas lengkap seperti ruangan spa, pool, restoran fine dining, hingga conference room. Tak jarang forum berskala besar diselenggarakan di desa ini.

Foto di bawah salah satu contoh ruangan lobby, kamar dan restoran yang ditata manis diantara balutan kayu tua. IMG_7357

IMG_7358
Restoran fine dining di salah satu hotel Tällberg yang ditata klasik diantara dinding kayu hotel yang sudah tua. Tetap terlihat elegan kan ya.

Tällberg adalah resort yang selalu bangga dan percaya diri menjadikan bangunan bangunan tua sebagai pelengkap keindahan halaman halaman di penginapannya. Mulai dari kabin kecil dan gudang tua yang memang sengaja di tempatkan di beberapa titik lokasi di kawasan Tällberg. Mirip open air museum.

Bayangkan bangunan gudang tua loh. Bahkan kandang kuda pun mereka jadikan hiasan di halaman penginapan. Mereka tidak malu dan malah bangga. Tujuannya secara tidak langsung hendak memperlihatkan ke pengunjung bagaimana kehidupan warga Dalarna dulunya.

Salah satu contoh bangunannya bisa melihat foto di bawah ini.

img_8161
Salah satu bangunan kayu antik yang menghiasi desa Tällberg

Tak hanya penginapan, cafe dan berbagai museum antik pun cukup lengkap menghiasi desa Tällberg. Di saat summer, duduk santai di kursi dan meja kayu sambil menikmati sepotong roti dan segelas kopi/teh sambil melihat keindahan alam pedesaan dan aliran air danau Siljan yang membentang luas. Layaknya sebuah lukisan alam. Sangat tenang.

Foto di bawah ini adalah salah satu contoh kafe bernuansa vintage di Tällberg.

Tällberg boleh dibilang tidak hanya mahal di urusan penginapan. Masuk ke toko souvenirnya pun mampu membuat sakit kepala. Bagaimana tidak, harga souvenir yang dijual untuk ukuran buah tangan atau oleh oleh tidak tanggung tanggung. Ribuan Swedish Kronor alias jutaan rupiah.

Hal ini dikarenakan sebagian besar souvenir merupakan hasil kerajinan tangan warga lokal (handmade). Kalau pun ada yang lebih murah, jatuhnya bukan handmade lagi. Toko souvenir terbesar di Tällberg adalah Kaffestuga Hemsljöd. Berada  di dalam toko yang mirip museum kecil ini cuma bisa bengong. Muahal!

Kaffestuga Hemsljöd tidak semata mata menjual barang souvenir saja tapi secara tidak langsung seperti memperkenalkan kultur budaya Swedia kepada pengunjung yang masuk ke toko ini. Pelayan tokonya ramah. Dan enaknya lagi bisa puas melihat barang barang tanpa terbebani harus membeli. Pegawai toko tidak ngintilan kita. Kalau diikuti rasanya gimana ya. Berasa ditodong harus beli. Cerita lengkap tentang toko handmade ini akan gue tulis terpisah. 

IMG_7352 (1)
Negeri dongeng
IMG_7577.JPG
Tällberg di kala winter

Untuk toko dan museum di Tällberg kebanyakan dibuka di saat summer. Dan lagi lagi harga barangnya pun bisa gue bilang gila gilaan. Masih terang banget di ingatan gue (efek belum bisa menerima tepatnya), saat perayaan midsummer beberapa tahun lalu. Ceritanya waktu itu suami berkeinginan membeli boneka kecil dari salah satu toko handmade di Tällberg.

Sebenarnya gue tidak terlalu suka sih. Tapi dibilang ga mau ya ga juga. Cuma waktu itu gue ga tau kalau harga boneka mencapai 500 Sek. Tepatnya lagi gue belum paham banget waktu itu kalau barang handmade di Swedia dihargai relatif tinggi. Berhubung ga doyan doyan banget, gue sibuk melihat printilan yang lain. Dengan pemikiran kalau suami mau beli ya sudahlah. Namanya juga dibeliin. Dan suami pun memang niat kan. Nah, barulah setelah keluar toko, gue iseng melihat si boneka tadi. Dan ternyata harganya membuat gue bete. Suami pun menjelaskan kalau harga boneka worth it dengan kualitasnya. Belum lagi ngebuatnya ga mudah. Tangannya capek kata suami. Tapi semakin dilihat emang lucu sih bonekanya. Bulunya kriwil kriwil gitu. Haha.

IMG_7534.JPG
Cafe di Tällberg. Atapnya ditanami rumput

Tapi lagi lagi memang begitulah harga di Tällberg. Sebagian besar bisa dibilang mahal untuk ukuran wisata di desa kecil. Mungkin bagi penduduk lokal negeri ini, mahalnya harga di Tällberg sepadan dengan apa yang sudah ditawarkan desa ini. Sebagaimana legowonya suami gue bisa memaklumi harga boneka tadi.

IMG_7561.JPG
Toko handmade
img_7556
Toko handmade di sekitar Tällberg. Bangunannya unik dan lucu lucu banget. Sukalah pokoknya.

Di saat summer, dipastikan Tallberg lebih kebanjiran tamu. Apalagi desa ini selalu mengadakan perayaan Midsummer, sebuah tradisi besar di Swedia yang dikenal dengan pesta menari di hari yang paling terang dalam setahun.

IMG_7555.JPG
Alun alun T’ällberg. Di musim panas alun alun ini selalu dipakai sebagai tempat merayakan midsummer di Tällberg. Ada tiang Majstång (simbol midsummer)

Di mata gue Tällberg itu ibarat desa metropolitan. Bagaimana tidak, untuk ukuran desa kecil banyak banget plang kayu layaknya informasi lalu lintas di setiap ruas jalanan desanya. Ngalahin kota besar. Contohnya seperti foto di bawah ini.

Hal ini dikarenakan banyaknya penginapan, museum, dan cafe di Tällberg. Belum lagi di saat winter, Tällberg menjadi desa yang sarat dengan cahaya lampu lampu hotel. Cakep.

Tällberg selalu cantik di setiap musim yang berbeda. Cantik buat foto narsis juga. Tinggal pilih mau berdiri di mana. Wooden house dan alamnya siap menjadi backround gratis.

Saat winter Tällberg ibarat negeri dongeng. Tumpukan salju ada di mana mana. Sebaliknya di saat summer desa ini terlihat segar dengan permadani alam yang hijau, bunga dan rumput liar dimana mana, bahkan sampai barisan pohon apel dengan buah ranumnya yang menggemaskan. Pengen metik masukin karung trus jadikan props foto. Hahaha.

Berkunjung ke Tällberg mengingatkan gue akan bangunan asli sopo di kampung gue tanah batak sana. Meskipun tidak semua ya, tapi masih ada beberapa desa terpencil yang memiliki rumah sopo tapi seperti diterlantarkan. Sayang banget. Kalau di sini, bangunan bersejarah seperti itu sudah dilirik dan dijadikan objek wisata. Kalau gue pulang kampung kelak, akan gue abadikan rumah sopo itu sebagai objek photography yang indah. Kangen gue!

Apalagi semakin ke sini, gue melihat banyak sekali obejek wisata baru di tanah air yang malah berlomba lomba membuka wisata bertema eropa. Bingung juga sih. Tapi ironisnya memang wisata seperti ini mendapat apresiasi yang besar dari masyarakat kita. Lumayan menghibur mereka. Hitung hitung lebih hemat daripada terbang langsung ke eropa.

Tulisan ini gue post ulang dengan beberapa revisi. Salam dari Swedia.

IMG_7622
Beautiful wild flower
img_7566
Tällberg di saat summer. Hijau!  Tidak sedikit bangunan yang menggunakan pagar kayu seperti ini. Tapi malah terlihat unik

IMG_7202

TOMTELAND

Pernah mendengar kata “Tomte”?

Tomte merupakan tokoh dalam cerita legenda masyarakat Swedia. Sosok yang digambarkan sebagai pria bertubuh kerdil, berpenampilan kucel, hidup di hutan dan sangat suka menolong orang. Tomte tidak sungkan memeriksa kandang ternak warga dan memastikan tidak ada rubah yang masuk. Memastikan pintu rumah apakah sudah dikunci atau belum ketika warga tertidur lelap . Akibat kebaikannya ini, warga suka memberi tomte bubur dan meletakkannya di depan rumah.

Gambaran sosok tomte pertama sekali ditulis oleh seorang penyair terkenal Swedia bernama Viktor Rydbergs. Kebetulan suami masih punya bukunya.

IMG_1241

Cerita tomte pun akhirnya berkembang dan melekat di ingatan warga Swedia terutama kalangan anak anak.  Suami gue sendiri pernah dengan sengaja meletakkan bubur di depan rumah menjelang natal tiba. Betapa senang hatinya ketika keesokan hari melihat bubur habis dan tak bersisa. Dengan yakinnya dia kalau yang makan bubur itu adalah tomte. Padahal suami tidak tau kalau yang mengambil bubur adalah mendiang mama mertua. Cerita masa kecil yang lucu.

Jaman semakin maju, legenda tomte mulai bergeser dan sedikit menyesuaikan diri dengan cerita santa yang mendunia. Tomte pun dianggap sebagai malaikat pemberi kado dan hadiah. Setidaknya itulah gambaran tomte di mata anak anak Swedia jaman sekarang.

IMG_1220

Untuk lebih menghidupkan legenda tomte, di tahun 1984 dibangunlah Tomteland. Sebuah  theme park natural yang berada di kawasan pegunungan Gesunda Dalarna dan diantara rimbunnya barisan pohon gran  pinus. Jauh dari keramaian kota.

Konon tomteland merupakan satu satunya kampung tomte terbesar di Swedia  yang berdiri di kawasan mountain dan deep forest, serta menjadi salah satu wisata musim dingin favorite di Dalarna Swedia.

Jangan pernah membayangkan tomteland sebagai sarana wisata yang sarat dengan kemewahan, gemerlap lampu lampu layaknya di kota besar. Tomteland ditata sedemikian dengan kesederhanaan layaknya kehidupan di desa. Sangat apa adanya. Tomteland mengusung konsep klasik alam pedesaan yang setidaknya mampu menggiring khayalan akan cerita klasik natal. Yang meskipun sederhana tapi langsung nancep di hati. Feelnya dapat.

IMG_1243

Kebayang ga sih melihat wooden house bergaya skandinavia diantara lebatnya hutan pinus dan pohon gran berselimut salju tebal. Rasanya seperti berada di sebuah kampung beneran. Bukan di sebuah theme park. Belum lagi sajian mistery rumah trolls yang super besar. Mirip bangunan kastil. Batunya gede gede. Pokoknya serasa berada dalam cerita klasik natal. Kalau pernah melihat kalender dengan rumah rumah kayu berlapis salju dan pohon pinus yang nyaris memutih, tomteland bisa dibilang sebagai jawaban nyatanya.

IMG_1245
Winter Wonderland. Cakep ya

Aktifitas tomteland ditampilkan layaknya negeri dongeng tapi kayak sungguhan. Mulai dari kuda kuda berlapis bulu siap membawa pengunjung mengitari hutan pinus bersalju, pertunjukan theater di alam terbuka, hingga toko souvenir dan  cafe/restoran bernuansa wooden house yang sangat autentik.

IMG_1269

Memasuki kawasan tomteland yang pertama terlihat adalah rumah kayu kecil berisi patung patung tomte. Tak jauh dari rumah kayu ini berdiri sebuah bangunan dari batu mirip rumah liliput. Sayangnya pengunjung tidak bisa masuk dan hanya boleh mengintip lubang kuncinya. Uniknya begitu melihat dari lubang kunci yang terlihat seperti gambar tiga dimensi. Mirip terowongan bawah tanah.

Konon rumah ini merupakan tempat dimana tomte mendapatkan emas dan besi. Dari sinilah tomte bisa membeli berbagai kebutuhan natal untuk anak anak.

IMG_1272
Kalau ngintip pintunya terlihat terowongan panjang mirip tiga dimensi.
IMG_1268
Rumah Trolls. Besar banget.

Ada juga rumah kembar berbentuk kerucut. Rumah Trolls!

Dalamnya agak creepy lengkap dengan berbagai simbol laba laba di setiap dindingnya. Warna kayu dan lantainya terlihat kusam. Tangga bangunan jika diinjak mengeluarkan bunyi derik. Peralatan dapurnya super tua.  Batu perapiannya besar banget. Dari luar sekilas seperti rumah penyihir.

IMG_1232
Sekilas mirip rumah Minangkabau ya. Hahaha.

Tak jauh dari rumah trolls terdapat bangunan yang sekilas mirip rumah suku Minangkabau. Rumah Tomte!  Sebagian besar pengunjung yang masuk ke rumah tomte terkhusus anak anak  menulis wish list. Anak anak juga bisa berfoto dengan tomte. Dan orang tua pun sabar ngantreeee menemani anak anaknya.

Sebelum berfoto terlebih dahulu tomte membaca nama dan alamat si anak yang tertera di kartu wish list. Seru sih melihat anak anak ini sangat antusias. Terlihat dari tatapan penuh harap agar wish list mereka dikabulkan. Bahkan tidak hanya anak anak saja, terlihat sekelompok ibu ibu hebring dari negara “manalah itu” yang hebohnya melebihi anak anak. Dimaklumi karena mereka juga manusia yang kadang rindu dengan nostalgia dimasa kecil.  IMG_1225

IMG_1226
Dapur tomte. Bagus banget deh. Kayak dapur beneran. Antik banget.

Keseruan yang lain di rumah tomte adalah ruangan berisi hiasan pohon natal dan tumpukan kado dalam jumlah yang banyak. Ceritanya Tomte bekerja sampai larut malam menyiapkan kado kado ini untuk dibagi bagikan kepada anak anak ketika natal tiba. Rasanya jiwa anak anak gue kembali muncul melihat susunan kado ini. Seru!

IMG_1222
Ceritanya ini ruang kerja tomte. Mempersiapkan segala kado untuk anak anak

Di ruangan ini juga tersedia sebuah buku besar dan tebal yang menyimpan daftar nama nama anak yang baik. Rata rata anak kecil yang berkunjung ke tomteland dengan senang hati mengisi daftar buku.  Mereka percaya kalau anak baik akan mendapat hadiah natal dari tomte.

Gue aja yang sudah nyaris ubanan gini masih terbawa perasaan bagaimana enaknya di posisi mereka dengan segala khayalan akan menerima kado dari seorang tomte. Pastilah menyenangkan. Wong bentuk kado kado diruangan ini memang lumayan menggoda. Jadi wajar jika anak anak ini begitu antusias menulis buku besar itu. IMG_1230

Gue sangat suka melihat tingkah laku mereka. Masa kanak kanak memang masa yang paling menyenangkan. Buku tamu yang sebagian besar ditulis oleh anak anak ini sejak tomteland berdiri masih tersimpan rapi di rumah tomte.

Dari sini kita lanjut ke sebuah bangunan paling besar dikawasan tomteland. Sebuah bangunan rumah kayu yang di dalamnya terdapat restoran dan toko souvenir. Konsep dekorasi natalnya gue suka. Bernuansa dominan kayu. Pernak pernik tomtenya banyak banget. Mayoritas  berwarna merah. Mulai dari tomte kecil hingga besar. Tersedia juga berbagai jenis permen natal atau jenis permen lain. Konsep toko ini juga dibuat layaknya toko tradisional dengan pelayan berpakaian ala liliput. IMG_1238

IMG_1239
Toko souvenirnya bernuansa kayu

Jika pengen duduk santai atau ngopi, tomteland juga memiliki sebuah cafe kozy. Lokasi cafe berada agak diketinggian (ga tinggi banget juga sih). Dari sini kita bisa melihat keindahan landscape Tomteland yang dikelilingi hutan pinus dan view danau di dekat cafe.

27187563059_5568fd9943_o

IMG_1235
Souvenirnya lucu lucu

Harga tiket per orang dikenakan 220 Sek atau sekitar 362 ribu rupiah untuk kurs rupiah saat ini. Tidak termasuk naik kereta kuda, ada extra bayaran sebesar 50 Sek. Tomteland buka mulai November hingga Januari setiap tahunnya. Khusus di akhir pekan saja. Mulai Jumat sampai Minggu dari pukul 10 pagi hingga 4 sore.

IMG_1237
Souvenir klasik tapi christmas banget

Saran gue jika berkunjung ke tomteland harus bener bener memperhatikan perlengkapan di badan. Karena suhu di tempat ini lumayan dingin. Tapi dont worry, selama pakaian winter kamu nyaman ga masalah kok. Apalagi di beberapa titik kawasan ini disediakan api unggun. Jadi sekali kali bisa hangatin tangan kamu dekat api.IMG_1244

IMG_1242
Diantara tumpukan salju, suhu yang dingin, dan aroma kayu bakar

 

10 Tempat Menarik yang Bisa Dikunjungi di Kota Mora

Mora merupakan salah satu kota yang terletak di propinsi Dalarna, Swedia. Sebuah kota kecil dengan penduduk berjumlah kurang lebih 20.279 jiwa (per 2016). Jarak dari kota Mora ke kota Stockholm kurang lebih 270 kilometer, yang bisa di tempuh dengan berkendara, kereta api, bahkan pesawat. Meskipun terbilang kota kecil, kota Mora lumayan memiliki catatan penting sejarah, terkhusus di Dalarna dan Swedia pada umumnya.

IMG_4049

Tidak butuh waktu lama untuk bisa mengitari seluruh pusat kota Mora. Karena jarak fasilitas umum di kota ini saling berdekatan. Mulai dari supermarket, toko pakaian, store, gedung olahraga, rumah sakit hingga restoran. 

IMG_4253.jpg

Tentu saja, jumlahnya tidak sebanyak dan selengkap di kota kota besar. Berhubung cuma kota kecil, dipastikan kota Mora tidak memiliki shopping mall. Kebanyakan dalam bentuk toko butik, dan beberapa store seperti H&M, Åhlens, dan Lindex. Sedangkan pusat berbagai grosir belanja dialokasikan di sebuah wilayah di luar pusat kotanya.

IMG_4055

Secara pribadi, no shopping mall di kota Mora bukan suatu masalah, karena pada dasarnya, gue lebih menyukai berbelanja di toko toko kecil. Lebih tenang, tidak terlalu ramai, model serta bahannya juga lebih nyaman dipakai dan enak dilihat. Dalam arti, satu jenis barang tidak dijual dalam jumlah yang begitu banyak. Makanya jika berkunjung ke kota besar seperti Stockholm, gue termasuk jarang ngemall. Bahkan sampai saat ini pun, yang namanya Mall of Skandinavia belum pernah gue injak. Entahlah. Mungkin next time.

IMG_4052.jpg

Untuk urusan makanan, kota Mora juga memiliki beberapa restoran. Baik restoran berjenis makanan lokal maupun Asia, seperti Shushi, Thailand sampai China restaurant.

IMG_4057.jpg
Salah satu restoran bergaya rumahan. Apik sekali

Mora juga dikenal sebagai kota penghasil “Moraklocka” atau Jam Mora. Jam yang sudah di buat sejak abad ke 18 dan menjadi salah satu simbol kerajinan tangan di kota ini.  Ukurannya mulai dari yang kecil sampai yang besar (kurang lebih dua meter).

Jam ini memiliki bentuk yang lumayan unik, layaknya seperti tubuh seorang wanita. Tinggi langsing dan memiliki lekukan. Bisa dilihat pada gambar di bawah. Mulai size kecil hingga setinggi 2 meter lebih.

Selain Moraklocka, kota ini pun penghasil “Mora Kniv”, sejenis pisau yang sudah diakui kualitasnya. Ketajaman pisau ini tidak perlu diragukan lagi. Bentuknya sedikit klasik dan memiliki ukuran kecil hingga sedang. Mora Kniv sebagian besar digunakan untuk menyelasaikan pekerjaan kerajinan tangan.

Memiliki beberapa tempat bersejarah, Mora menjadi destinasi wisata para turis lokal maupun asing. Berikut beberapa tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di kota Mora Dalarna.

 

1. MUSEUM ZORN

Museum Zorn didedikasikan kepada seorang pelukis terkenal dunia yang berasal dari kota Mora bernama ANDERS ZORNMuseum yang sebagian besar berisi karya lukisan beliau. Salah satu karya Zorn yang terkenal adalah lukisan seorang wanita yang mengepang rambut sambil menggigit sebuah karet di mulutnya. Lukisan ini pun bisa dilihat di museum Zorn.

IMG_4255.jpg
Museum Zorn. Bahkan di sekitar museum juga terdapat beberapa bangku kayu yang konon merupakan hasil design Zorn sendiri. Bisa dilihat pada gambar di bawah. Kursi berwarna merah. 

Persis di samping museum Zorn, terdapat sebuah rumah kayu antik berukuran besar, yang tak lain merupakan rumah kediaman sang pelukis. Halaman di sekitar rumah dan museum Zorn tertata rapi. Ditanami rumput hijau dan berbagai tanaman bunga. Nyaman untuk dijalani.

Museum Zorn terletak di Vasagatan 36, Mora, persis di samping bangunan Mora Church (Mora Kyrka).

Zorn merupakan sosok pria multi talenta dan terbilang sukses secara materi. Memiliki rumah besar dan halaman super luas, didukung perabotan yang selalu membuat decak kagum. Mewah!

IMG_4365.jpg

IMG_4254.jpg
Di saat rumah kayu di Mora berukuran kecil, Zorn sudah memiliki rumah kayu super besar seperti ini.

Beliau memiliki satu ruangan khusus berisi koleksi keramik. Dan semuanya itu satu warna. Biru!

Ruang makan yang elegan, dengan meja dilengkapi micropohone untuk memanggil pelayan. Belum lagi ruangan dapur yang jumlahnya sampai tiga. Dapur memasak dan ngebaking beda. Kamar tidurnya? mirip kamar pangeran. Hahaha.

IMG_4368
Taman di sekitar halaman rumah Zorn

IMG_4363

Bahkan di jaman orang orang belum familiar dengan vacuum cleaner, Zorn sudah punya. Dan tidak tanggung tanggung, harga vacum cleaner di jaman itu sama halnya dengan membeli satu unit mobil di Swedia jaman sekarang. Gilak!

Zorn dikenal sebagai pribadi yang memiliki selera tinggi dan pergaulan luas. Dekat dengan beberapa anggota kerajaan Swedia di masa itu. Sehingga tak ayal, rumahnya sering menjadi tempat berkunjung orang orang penting, termasuk pangeran Swedia di masa dulu. Lukisan Zorn juga dihargai mahal, yang sampai menembus pangsa pasar atau kalangan tokoh penting dunia. Seperti dua orang mantan presiden Amerika Serikat. Gue lupa namanya. *Maafkan…hahaha.

IMG_4077.jpg
Rumah kayu ini aslinya bagus banget meskipun sudah tua.  Digunakan Zorn sebagai tempat melukis

IMG_4256

Sehingga tidaklah heran, jika memasuki rumah beliau ini, aroma borjunya langsung berasa. Rumah orang berduit di masa dulu. Untuk bisa masuk ke dalam rumah beliau, tidak boleh sembarangan. Harus mengikuti jadwal guide. Pun di dalam tidak boleh berjalan sesuka hati apalagi memotret barang barang. Rekomen bangetlah untuk dimasuki. Nuansa Vintage yang elegan dan apik.

IMG_4358

Buat gue pribadi, berada di dalam rumah Zorn dan sekitar tamannya jauh lebih menyenangkan ketimbang memasuki museumnya. Mungkin karena gue tidak begitu mengerti tentang dunia lukisan. Kalau mau melihat karya lukisannya, silahkan di Google saja. Gue sudah pernah masuk sekitar tahun 2014. Dalamnya bagus. 

IMG_4076.jpg
Rumah ini berada tepat di samping rumah kediaman Zorn. Dibangun untuk dia persembahkan kepada ibunya. 

Selain rumah tinggal, di sekitar rumah kediaman Zorn juga terdapat beberapa bangunan antik. Seperti gudang besar dan panjang yang sekarang disulap menjadi cafe. Bayangin, gudang bekas kandang kuda dijadikan cafe. Mana kozy banget lagi. Unik! Bahkan, kereta kuda yang menjadi alat transportasi sehari hari Zorn masih dipajang di cafe  bekas gudang ini.

IMG_4075.jpg
Gudang yang super besar dan panjang. Disulap menjadi cafe

Selain itu ada beberapa bangunan wooden house antik, yang salah satunya digunakan Zorn sebagai tempat melukis.  

 

2. MORA CHURCH (MORA KYRKA)

Mora Church atau Mora Kyrka termasuk salah satu gereja tua di Swedia, khususnya di propinsi Dalarna.

Mora Church pertama sekali dibangun sekitar tahun 1200. Dan kemudian beberapa kali mengalami renovasi.

Mora Church semakin terkenal, karena jalanan tepat di samping gereja ini digunakan sebagai garis line perlombaan ski berskala internasional bernama Vasaloppet.

IMG_4048.jpg

Mora Church bisa dibilang sebagai landmark kota Mora. Menaranya terlihat dari berbagai sudut kota Mora. Dan uniknya lagi, lonceng gerejanya terpisah dari bangunan utama gereja. Memiliki rumah sendiri. Bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Bangunan mirip kerucut berwarna merah.

IMG_4143

3. PATUNG GUSTAV VASA

Patung Gustav Vasa adalah patung seorang raja Swedia di masa lampau. Mengapa sampai patung sang raja berdiri di kota Mora, karena berkaitan dengan lahirnya perlombaan olahraga ski internasional yang melegenda bernama Vasaloppet.

Pertandingan olahraga yang sengaja diselenggarakan  untuk mengingat kembali perjuangan Gustav Vasa di masa lampau, yang melarikan diri dari serangan raja Denmark. Konon di dalam pelariannya, Gustav Vasa hanya menggunakan ski.

Pelarian itupun sampai membawanya ke Mora. Setibanya di kota Mora, beliau mengajak beberapa warga untuk bergabung melawan prajurit Denmark. Menang melawan raja Denmark, Gustav Vasa lalu dinobatkan menjadi raja Swedia. Untuk mengingat perjuangan sang raja, maka lahirlah Vasaloppet yang legendaris itu. Patung Gustav Vasa dibangun tepat di sebuah bukit kecil di tepi jalan utama kota Mora, tak jauh dari Mora Church.

 

4. VASALOPPET MÅL dan MUSEUM VASALOPPET

Tak jauh dari patung Gustav Vasa, terdapat Vasaloppet Mål atau Tugu Garis Finish Vasaloppet. Sekilas tidak ada yang istimewa dari tugu ini. Namun meskipun demikian, Vasaloppet Mål selalu dijadikan sebagai objek foto sebagian besar turis yang berkunjung ke Mora. Tugu yang lumayan akrab di mata  pencinta olahraga ski, ketika setiap tahunnya pertandingan Vasaloppet disiarkan secara langsung oleh tv lokal Swedia dan beberapa negara di Eropa lainnya.

IMG_4090.jpg

IMG_4129
Tugu garis finish Vasaloppet

Masih di lokasi yang sama, terdapat Museum Vasaloppet. Museum yang sengaja dibangun untuk memberi kesempatan publik mengenal lebih jauh tentang sejarah terbentuknya Vasaloppet. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Vasaloppet ada di museum ini. Bahkan kita bisa menyaksikan video layar lebar di dalam museum. 

Di depan museum juga berdiri  beberapa tugu yang bertuliskan nama para pemenang Vasaloppet dari tahun ke tahun. Kurang lengkap rasanya, jika berkunjung ke kota Mora, tanpa melihat kawasan Vasaloppet yang menjadi kebanggan kota Mora ini. Penasaran tentang kebesaran Vasaloppet? Bisa klik di sini

 

5. PATUNG DALAHORSE

Dalahorse merupakan patung kuda yang sudah tidak asing lagi di Swedia. Patung yang memenuhi hampir sebagian besar toko souvenir di negara ini. Awalnya, Dalahorse merupakan kerajinan tangan yang berasal dari sebagian besar wilayah di Dalarna.

IMG_4094.jpg

Sampai akhirnya, secara profesional dipopulerkan oleh Olsson bersaudara dari desa Nusnäs, Mora. Sehingga tidak heran, di beberapa sudut kota Mora, sangat mudah melihat sosok Dalahorse. Termasuk Dalahorse terbesar yang terletak di pinggiran danau Siljan. Uraian Dalahorese secara lengkap ada di sini

 

6. VIEW di SEKITAR DANAU SILJAN

Ketika musim panas (summer) tiba, Mora menjadi terlihat lebih cantik. Karena kota ini berada tepat diantara aliran danau Siljan, danau terbesar di Dalarna.

Pinggiran danau Siljan sangat cocok dijadikan sebagai tempat bersantai. Menikmati view sekitar danau yang adem. Dermaga yang dipenuhi kapal kapal, jalanan ditumbuhi pohon hijau, bebek liar yang berenang di air danau, sampai kicauan burung yang terbang dalam jumlah yang sangat banyak dan sesekali hinggap di sekitar pinggiran danau. Atau sekedar melihat hilir mudiknya pejalan kaki, yang bersepeda, berolahraga, semuanya bisa dinikmati gratis.  Atau jika mau lebih nikmat, cukup membeli ice cream di cafe sekitar danau. 

IMG_4108
Cafe terapung layaknya kapal. Cafe bernama Glassbåten ini hanya muncul di saat summer hingga pertengahan autumn. Dan yang dijual pun cuma ice cream. Sehabis summer, cafe ini diangkut lagi karena di saat winter air danau membeku. 

IMG_4098

7. KAPAL GUSTAV WASA

Kapal Gustav Wasa, merupakan alternatif lain menikmati suasana malam yang terlihat seperti siang di kota Mora dan sekitarnya. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan di saat musim panas tiba.

Gustav Wasa menyediakan acara dinner dengan suasana semi romantis. Meskipun tidak terlalu luas dan besar, akan tetapi kapal ini lumayan menghibur. Menghabiskan waktu dengan teman, sodara, keluarga atau orang terkasih. Bersama Gustav Wasa, sajian wajah kota Mora dan beberapa wilayah di sekitar bisa dilihat sambil menikmati makan malam yang rasanya seperti siang.

 

8. LISSÄLBY (GAMLA MORA)

Lissälby dulunya merupakan sebuah kota tua. Kawasan ini mengalami kebakaran hebat sekitar ratusan tahun silam. Kemudian dibangun kembali dengan konsep hunian berbentuk komplek perumahan. Namun komplek hunian ini menjadi unik, karena sengaja dibangun dengan model bangunan old style. Masing masing rumah memanjang dan berdempetan, dengan ukuran yang terbilang pendek dan lumayan berbeda jika dibandingkan kebanyakan bangunan rumah di kota Mora. Tidak ada halaman!

IMG_4113.jpg

IMG_4257 (1).jpg

Dan lokasinya pun langsung berada di jalanan yang bebas dilalui oleh siapa saja. Seperti sebuah gang, namun sedikit lebar dan panjang. Predikat kota tua tetap melekat pada Lissälby, meskipun saat ini aslinya merupakan kota tua buatan

Dinding rumah beberapa warga ditanami bunga mawar nan cantik yang seolah menjadi ciri Lissälby. Sekilas modelnya hampir mirip dengan bangunan rumah di kawasan museum HC.Andersens di Odense Denmark.

 

9. NUSNÄS

Desa Nusnäs merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam pemerintahan kota Mora. Dari desa inilah pertama sekali lahir pabrik industri yang memproduksi patung Dalahorse secara profesional. Sosok patung kuda yang menjadi brand souvenir terkenal di Swedia.

IMG_4258.jpg

IMG_4259.jpg

Dalahorse bisa dijumpai di sebagian besar toko souvenir di Swedia. Sampai ada istilah, “Jangan bilang ke Swedia, jika belum membawa pulang patung Dalahorse”.

Dalahorse juga memiliki bandrol harga yang cukup mahal. Maklum saja, karena patung ini masuk kategori barang handmade.

Pabrik Dalahorse yang ada di desa Nusnäs, didirikan oleh Olsson bersaudara. Mereka inilah yang pada akhirnya mempopulerkan Dalahorse secara profesional hingga ke luar negeri.

Toko dan pabrik  Nils Olsson Hemslöjd dan Grannas A Olsson Hemslöjd, menjadi tempat yang wajib dikunjungi jika mengunjungi Nusnäs. Apalagi perjalanan dari Mora ke desa Nusnäs dijamin mampu menyegarkan mata.

IMG_4124

Pemandangan alam pedesaan yang dipenuhi bangunan tua yang sebagian besar berwarna merah. Sangat khas dan terlihat unik, karena berada diantara jalanan kecil dan saling berdekatan.

Cerita lengkap Dalahorse bisa baca di sini

 

10. SOLLERÖN

Gue baru saja menulis tentang peninggalan sejarah Viking dan keindahan alam di sebuah desa bernama Solleron. Uraian lengkapnya bisa baca di sini

IMG_3554.jpg

Kota Mora hanyalah sebuah kota kecil di Dalarna. Dibanding kota kota lain di Swedia, bukanlah kota yang luar biasa. Apalagi di saat winter, kota ini cenderung kaku dan kurang menarik. Namun di saat summer, Mora lumayan mampu memberi keindahan tersendiri buat gue. Dan kota ini setiap minggu wajib gue datangi. Memenuhi segala kebutuhan dapur. Kota yang sejauh ini masih damai dan relatif aman. Dan gue berharap selamanya begitu.

IMG_4145.jpg

IMG_4093.jpg