Mengunjungi Kota dan Rumah Kelahiran Hans Christian Andersen (Terharu)

Waktu kecil, gue suka banget nonton kartun kartun yang diangkat dari karya tulisan Hans Christian Andersen (H.C. Andersen). Pangeran Katak, Si Itik Buruk Rupa, Raja Tanpa Pakaian, Swans, ahhh masih banyaklah, ga inget semua. Berkat dialah, menjelang sore gue uda duduk manis mantengin TVRI.

Namanya juga anak kecil, sehabis nonton (apalagi kalau ada pangerannya), uda ngerti aja genit genitan. Bayangin diri sendiri pake baju ala ala princes. Trus kalau ceritanya sedih, pasti tiba tiba mau nangis….Hahaha.

Tapi waktu itu, ga pernah terbayang bakalan berkunjung ke kota kelahiran si bapak yang katanya berperawakan jangkung ini. Apalagi nginjakin kaki di rumahnya. Di negara mana dia tinggal pun gue ga tau, sosoknya kaya apa juga ga tau.

Gue lumayan suka berkunjung ke rumah tokoh tokoh terkenal. Ga harus idola sih. Buat gue, rumah yang memiliki nilai history lebih touching.

Makanya, ketika gue dan suami memutuskan berlibur ke Denmark dua tahun lalu, gue uda wanti wanti ke suami. Pokoknya harus ke Odense, kota kelahiran sekaligus tempat museum Andersen dibangun. Sayangnya, kami tiba uda agak sorean, karena kelamaan di Legoland (cerita Legoland nyusul ya).

IMG_2393.jpg
Museum H.C. Andersen
IMG_2394
Bangunan mirip istana di taman museum
IMG_2383.JPG
Halaman yang asri

Di Odense inilah, berdiri museum H.C. Andersen dengan tampilan arsitek kaca, dan  memiliki taman asri yang lumayan luas. Mulai dari pohon rindang, bunga bunga, kolam buatan sampai bangunan mirip istana pun ada.

IMG_2368 (1)
Perabotan sewaktu Andersen tinggal di sebuah apartemen di kota Kopenhagen

Seperti  museum kebanyakan, museum H.C. Andersen berisi barang  barang peninggalan beliau. Mulai dari buku tua bertuliskan pena asli, benda kenangan yang diterima dari kaum bangsawan, perlengkapan perabotan rumah sewaktu beliau tinggal di sebuah apartemen di Kopenhagen, pakaian dan sepatu, lukisan wajah beliau, bahkan sampai ukuran telapak kaki Andersen pun sengaja dibuat, yang konon menjadi salah satu keunikan bagian tubuhnya. Ukuran telapak kakinya lumayan panjang. Dan ketika mencoba dengan telapak kaki gue, benar saja. Cuma setengah telapak kaki beliau.

IMG_2363

IMG_2365
Pena yang biasa dipakai Andersen
IMG_2366.JPG
Buku Andersen
IMG_2367.JPG
Beberapa koleksi hasil pemberian para bangsawan kepada H.C. Andersen
IMG_2372
Perpustakaan

Sedangkan di ruangan lain, kami bisa melihat patung tokoh tokoh di tulisan Hans Christian Andersen. Seperti swans, raja tak berpakaian, dan lain lain. Selain itu ada perpustakaan juga. Lumayan luas dan bersih.

Museum ini menjadi lebih menarik, karena conecting ke sebuah bangunan rumah berwarna kuning, yang tidak lain merupakan rumah kelahiran H.C. Andersen. Rumah dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

Rumah kelahirannya  ini langsung menyentuh hati banget deh. Seperti menyimpan cerita sedih. Cerita sedih apa gue juga ga tau. Merasa gitu aja. Langsung terbayang wajah Andersen  yang memang kelihatan kurang ceria itu.

IMG_2391
Rumah kelahiran H.C. Andersen
IMG_2371
Meja dan bangku sederhana

IMG_2392

Jadi rumah kelahiran Andersen bukanlah rumah orang tuanya. Waktu itu orang tuanya hanya menumpang di rumah sang  nenek. Ada meja kayu kecil dengan dua buah kursi. Sampai tempat tidur beliau jugamasih ada. Tidak banyak barang di dalamnya. Sederhana banget. Ya ampun, pas melihat tempat tidurnya, sampai ga percaya kalau gue berada di kamar seorang tokoh legendaris. So, gue beneran berdiri di kamar seorang H.C. Andersen gitu? cuma bisa bilang, gue terharu. Pengen nangis…huhuhu.

Konon, Andersen hanya sampai berumur dua tahun tinggal di rumah sang nenek. Sampai akhirnya mereka pindah ke rumah sendiri. Namun lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kelahirannya. Di rumah inilah Andersen menghabiskan masa kecilnya. Kalau tidak salah, di usia 14 tahun, Andersen memutuskan hijrah ke Kopenhagen.

IMG_2380
Dari rumah sang nenek, akhirnya keluarga Andersen pindah ke rumah ini
IMG_2378
Peralatan sepatu

IMG_2377.JPGRumah kediaman mereka ini jauh lebih kecil dibanding rumah sang nenek. Beberapa benda kayu tersusun rapi di atas sebuah meja. Benda benda yang digunakan untuk membuat sepatu.

Iya, ayah Andersen adalah seorang tukang sepatu di jaman itu. Entah kenapalah, pokoknya gue cengeng banget terbawa suana di dalam. Langsung terbayang kehidupan mereka di masa itu.  Ihhh, ginilah rasanya kalau memasuki rumah idola ya.

Sayang, sepertinya kartun kartun yang diangkat dari tulisan beliau, sudah ga musim lagi di jaman sekarang. Uda dilibas dengan kartun kartun Jepang.

IMG_2386.jpg
Restoran Under Lindetraeet
IMG_2388
Bagian depan restoran

IMG_2408 (1).jpg

Ohya, tepat di depan rumah kelahiran Andersen, ada sebuah restoran bernama Under Lindetraeet. Awalnya gue pikir hanya sebuah cafe biasa. Ternyata pas suami membaca keterangan di dinding luar restoran, Under Lindetraeet merupakan restoran tua yang memberikan layanan makan untuk sebuah fine dining.

IMG_2396.jpg
Di dalam restoran

Dalamnya bertolak belakang dengan tampilan luar yang sederhana. Bergaya Eropa kuno dan mostly berisi barang antik. Mejanya ditata apik. Main Coursenya mantap. Ada daging bebeknya.  Cuma Apptizernya sedikit aneh rasanya. Ga jelas gitu rasa apa. Penampilan sih okeh.

Berhubung kami tidak merencanakan sebelumnya, sepertinya hanya kami berdua pasangan yang berpakaian gembel dibanding pengunjung lain yang sedikit formil. Tapi sebodo amatlah. Penting makan enak. Ya ga! Hahaha

IMG_2406.jpg
Daging bebek ini enak

IMG_2405

IMG_2407

Selesai makan, kami memutuskan menikmati dessert di bangku luar restoran. Kapan lagi ngemil dessert kaya gini, pas di depan rumah seorang H.C.Andersen. Betul tak? hahaha.

Dari buku menu, bisa dilihat kalau bangunan restoran sudah berdiri  sejak tahun 1771. Uda tuek bingits. Dan mampu menampung hingga 50 orang. Selain rumah kelahiran  H.C. Andersen, di sebelah restoran juga terdapat sebuah toko souvenir yang menjual pernak pernik sang penulis. Dan ternyata, restoran Under Lindettraeet ini pun termasuk sebagai salah satu iconic souvenir khas Odense, Denmark.

IMG_2390
Toko souvenir

Hal lain yang menarik perhatian gue adalah, berbagai bangunan rumah di sekitar museum H.C. Andersen yang memiliki aneka warna. Ga ada halaman. Bangunan langsung nempel ke jalanan komplek.  Rumahnya pendek pendek. Dan gue suka banget melihat barisan pohon mawar yang rata rata tumbuh subur di depan rumah warga. Padahal numbuhnya di tanah yang cuma seupil. Selebihnya hanya lapisan batu.

IMG_2384
Rumah beraneka warna
IMG_2385
Mawar di depan rumah
IMG_2382
Mawar di depan rumah
IMG_2381
Mawar di depan rumah

Demark tidak hanya memiliki wisata kota Kopenhagen, ada kota Aarhus dan Billund juga. Dan jika berlibur ke Denmark, rasanya sayang untuk tidak singgah ke kota Odense. Kurang afdol rasanya kalau cuma melihat patung Andersen di Kopenhagen doang. Dari Kopenhagen ke Odense tidak terlalu jauh kok. Demikian juga ke Aarhus. Menurut gue sih. Tapi semua terserah kepada anda pemirsah.

See you in my next story

Salam dari Mora,

Dalarna Swedia.

“Semua photo hanya  menggunakan Handphone”

5 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s