Mengenal Hidangan Khas Natal di Swedia

Meskipun memegang predikat sebagai negara maju, Swedia tetap setia dengan beberapa tradisi yang masih dijalankan hingga saat ini. Termasuk penyajian berbagai jenis makanan tradisional yang disajikan di saat natal. Bahkan sebulan sebelum natal tiba, berbagai jenis makanan natal sudah dapat dinikmati di restoran,  yang menyajikan menu Julbord.

IMG_8793.JPG

Sebenarnya makanan natal di Swedia, sebagian besar dapat ditemukan dan disantap di hari biasa. Bedanya  di saat natal,  makanan yang banyak tersebut disajikan sekaligus dan bersamaan. Mengingat jenisnya yang beragam, tergantung keluarga mau disajikan lengkap atau seadanya saja. Apalagi jika bukan keluarga besar seperti kami (gue dan suami), biasanya cukup menyajikan menu yang paling utama saja. Dan umumnya, semua jenis makanan ini dapat dibeli di supermarket dalam keadaan siap saji, jadi sebagian tinggal dimasukin oven atau microwave.

fullsizerender

Tapi bagi sebagian orang, ada saja yang membeli bahan mentah dan mengolah sendiri di rumah, termasuk gue dan suami. Sebagian besar makanan kami olah sendiri. Selain lebih fresh, pun kegiatan menyambut natal jadi lebih berasa.

Berikut beberapa jenis makanan natal di Swedia,  yang lumayan sering disajikan di atas meja:

1. JULSKINKA

Salah satu makanan khas natal yang paling terkenal di Swedia dan rasa rasanya wajib ada di setiap rumah adalah Julskinka. Pork berbentuk bulat memanjang dengan ukuran yang lumayan besar. Julskinka memiliki tekstur daging yang lembut dan gurih, karena diambil dari bagian paha atas.

Proses memasak Julskinka bisa dibilang sangat sederhana tapi harus teliti dan hati hati. Apalagi menyangkut tingkat kematangan dagingnya. Karena daging dimasak dalam ukuran lumayan besar. Julskinka direbus di dalam air yang sudah dicampur dengan bawang bombay dan wortel. Sangatlah penting memperhatikan suhu air ketika merebus daging. Disarankan agar menggunakan termometer suhu. Perubahan suhu di dalam daging, perlahan lahan bisa dilihat melalui termometer.

img_8781

Jika suhu termometer sudah berada diantara 72 sampai 80 derajat celcius, barulah daging bisa dikatakan matang. Waktu yang kita perlukan sekitar dua jam untuk sampai di suhu ini.

Meskipun begitu, tidak sedikit kalangan yang mengabaikan penggunaan termometer. Bagi mereka, untuk melihat tingkat kematangan, cukup menusuk jarum besar ke dalam daging, kemudian sedikit bermain dengan feeling. Dan biasanya feeling orang dulu jauh lebih jago kata suami gue.

Julskinka biasanya dimasak sebelum tanggal 24 Desember atau tepatnya di tanggal 23 Desember. Jadi ada waktu untuk mendinginkan daging dalam waktu sehari. Konon, tekstur dan rasa daging akan menjadi lebih baik dan enak. Bisa dibuat di dalam kulkas atau di ruangan bersuhu rendah.

IMG_8750.JPG

Esok harinya barulah kulit Skinka diberi lapisan yang terdiri dari campuran kuning telur dan Senap atau mustard. Lalu diberi taburan Ströbröd atau Bread Crumbs. Agar tampilannya lebih bagus, biasanya permukaan ditusuk butiran cengkeh. Kemudian di panggang di dalam oven. Rasanya? Gurih dan enak pastinya. Selain sebagai Plat Principal,  Julskiynka juga disantap melengkapi roti natal beraroma Kanel atau Cinnamon.

2. KÖTTBULLAR (MEATBALLS)

Rasanya warga Swedia tidak ada yang tidak mengenal bakso ini. Dan tentunya menjadi salah satu menu yang familiar di saat natal. Terbuat dari daging sapi yang sudah digiling, dicampur dengar telur, bread crumbs, sedikit krim, merica dan irisan bawang bombay yang sebelumnya sudah ditumis dengan butter. Kemudian dibentuk bola bola seperti bakso dan ditumis dengan butter sampai matang.

fullsizerender

IMG_8801.JPG

Kalau gue, lebih sering menggunakan daging rusa, karena stok daging ini lumayan banyak di freezer (dari hasil berburu). Rasanya jauh lebih enak. Kalau di hari biasa, menyantap meatballs selalu sepaket dengan taburan saos melimpah plus selai Lingonberry. Berbeda halnya dikala natal, Swedish Meatballs disajikan apa adanya. Tanpa embel embel saos dan selai. Kenapa? Karena meatballs dinikmati berbarengan dengan makanan lainnya dalam satu piring, yang notabene sudah mengandung banyak krim dan saos.

3. LAX  (SALMON)

Salmon juga salah satu menu favorite di acara natal. Disajikan dalam ukuran yang besar. Jadi tidak seperti salmon yang biasa dimakan sehari hari dengan potongan size kecil. Ada Smoke Salmon dan ada juga yang dipanggang di oven. Gue lebih sering menyajikan salmon panggang dengan campuran bumbu sederhana yang terdiri dari perasan lemon, garam, dill, paprika dan lada bubuk, serta sedikit potongan butter. Rasanya sudah diakui oleh suami dan tetangga gue.

IMG_8797 (1).JPG

Ada juga Gravadlax yaitu daging salmon yang dicampur dengan garam dan beberapa rempah seperti merica dan dill, kemudian ditekan sekuat mungkin menggunakan alat berat, dengan tujuan agar air di dalam daging salmon keluar dan garam cepat menyerap ke dalam. Dan biasanya, daging salmon dibiarkan kurang lebih seminggu tanpa dimasak. Kemudian ketika hendak disajikan, daging salmon diiris tipis tipis.

4. SILTA

Silta dulunya berasal dari potongan potongan pork berukuran kecil yang umumnya merupakan sisa daging yang nyaris tak terpakai tapi sayang untuk dibuang. Misalnya ketika kita memotong ternak, kadang ada bagian daging yang tersisa dan melekat di tulang. Bagian inilah yang digunakan untuk membuat Silta.

IMG_8798.JPG

Namun di jaman modern sekarang, kadang  daging utuh malah sengaja dipotong kecil kecil untuk menghasilkan Silta. Biasanya potongan daging dicampur dengan Gelatin dan rempah cengkeh yang sudah dicincang kasar. Lalu didingankan. Seperti membuat puding agar agar . Aromanya sangat khas. Karena mengandung gelatin, jadi berasa sedikit kenyal dan dingin di mulut. Gue kurang suka.

 5. JANSONS FRESTELSE

Bahan utamanya adalah  kentang yang di potong memanjang seperti french fries junckfood. Kemudian dicampur dengan krim dan irisan bawang bombay. Untuk membuat aroma lebih khas biasanya di tambahkan Ansjovis, sejenis ikan Sill yang berukuran kecil yang dapat dibeli dalam kemasan kaleng. Dan terakhir dipanggang di dalam oven. Ini menu kesukaan gue banget. Leker!

6. SILL

Sill merupakan jenis ikan tradisional yang sangat disukai warga Swedia (terutama warga lokalnya). Menurut gue baunya kurang sedap di hidung. Tapi disuruh nyium ikan asin okeh okeh saja. Hahahaha. Sill dibiarkan berair dalam waktu yang lama. Ini yang membuat gue berasa geli, layaknya suami gue geli jika melihat ikan asin.

Sill biasanya diproses dengan cara mencampur ikan ke dalam air yang sudah diberi garam. Kemudian dibiarkan kurang lebih satu minggu. Tahap selanjutnya ikan diangkat dan diletakin di wadah baru, lalu disiram dengan air cuka. Tujuannya agar ikan bener bener bersih dari bakteri.

Barulah dibiarkan di dalam kulkas kurang lebih dua hari. Setelah itu, Sill sudah bisa dikomsumsi. Jangankan di saat natal, di hari biasa pun olahan ikan ini sering disantap. Biasanya Sill dimakan bersama Smörgås (Open sandwich ala Swedia). Tapi entah mengapa, ketika Sill berukuran kecil dicampur ke olahan Jansons Frestelse, gue malah ga jijik. Aya aya wae.

7. RÖDBETSSALLAD

Ini merupakan salad favorit gue. Rasanya legit dan asam. Terbuat dari mayones dan irisan bit, sejenis umbian berwarna violet tua cenderung kemerahan.

img_8788-1

8. RÖDKÅL

Daun kol berwarna merah yang biasanya ditumis bersamaan dengan Russin/raisin/kismis, ditambah Ljus Sirap/Light Syrup (sejenis gula sirup) dan air kaldu dari sisa rebusan Julskinka yang saya sebut di atas.

IMG_8795.JPG

9. GOBBRÖRA

Makanan ini juga lumayan banyak ditemukan di saat natal. Terbuat dari Gräddfil yaitu sejenis Sour CreamDill dan Ansjovois (ikan Sill dalam ukuran kecil). Ketiganya diaduk memakai tangan dengan tempo yang cepat. Lalu ditambahkan dengan irisan telur dan kentang rebus serta bawang merah. Baru diaduk pelan pelan.

IMG_8789.JPG

10. SOSIS

Kalau ini sepertinya sudah tidak asing ya, cukup membeli di supermarket. Dan di rumah tinggal ditumis dengan butter.

IMG_8800.JPG

11. ÄGGHALVOR (HALF EGG)

Telur yang sangat famous dikala natal ini sangat gampang membuatnya. Bentuknya simpel tapi sangat menarik. Terbuat dari telur rebus, kemudian kulitnya dibuang dan dibagi menjadi dua bagian (makanya disebut Ägghalvor/Halfegg). 

Permukaan telur diberi mayones, Räkor (sejenis udang) dan Kaviar. Untuk menambah aroma biasanya ditambahkan daun Dill segar. Tapi jika mau dibuat varian lain juga boleh.

IMG_9039.JPG

img_8856

12. JULMUST

Minuman musiman yang tidak setiap saat bisa dibeli. Hanya di bulan tertentu saja. Julmust sejenis softdrink yang sangat famous di Swedia dikala natal. Mirip Cocacola tapi tetap tak sama. Must memiliki rasa dan aroma yang khas. Konon selain gula dan carbonated water, ada kandungan rempah/spices di dalam minuman ini.

fullsizerender-10

Julmust mulai banyak dijual di bulan Nopember dan Desember. Selain itu, Must juga dijual menjelang Paskah. Rasanya sama aja sih, cuma beda di warna kemasan dan nama saja. Di saat Paskah dinamai Påskmust, dengan label kemasan berwarna kuning. Intinya minuman ini menjadi minuman pelengkap di saat natal dan Paskah.

 13. GLÖGG

Minuman lain yang tak kalah digemari di saat natal adalah Glögg. Minuman Red Wine dengan kandungan alkohol maupun non alkohol. Glögg sedikit berbeda dengan minuman red wine biasa, karena diramu dengan berbagai jenis rempah, seperti Cinnamon Stick (Kayu manis), Star Anise, biji cengkeh dll. Namun Glögg banyak juga tersedia di toko minuman, tinggal beli saja. Biasanya sebelum diminum, Glögg harus dihangatkan terlebih dahulu, lalu dicampur dengan biji almond dan raisin.

IMG_8806.JPG
Glögg dan gelas kecil, berikut almond dan raisin.

Ada sedikit sensasi ketika meminum Glögg, selain aroma rempahnya, campuran almond dan raisin memang pas dengan minuman ini. Di mulut ada yang dikunyah gitulah. Glögg biasanya diminum di dalam gelas berukuran kecil atau tidak terlalu besar.

14. KNÄCK

Knäck merupakan permen tradisional yang biasa disajikan sebagai cemilan dikala natal. Selain coklat tentunya. Berbahan dasar gula pasir, Ljus Sirap/Light Syrup (Sirup Gula), Krim, dimasak hingga mengental dan berwarna seperti karamel. Lalu ditambahkan almond cincang. Uniknya, permen ini tidak dibungkus plastik maupun kertas, melainkan langsung dituang ke dalam cetakan kertas kecil (seperti mini cup).

img_8837
Knäck. Enak!

Biasanya, menjelang natal, Knäck lumayan banyak dijual di pasar natal tradisional. Rasanya manis, gurih dan kenyal di mulut. Gue sukaaaaa banget permen ini. Setiap tahun wajib buat. Bahkan kadang, sebelum natal tiba, Knäck sudah habis gue makan. Termasuk suami tentunya. Hahahha.

img_8838
Knäck. Lucu ya bentuknya.

Sebenarnya masih ada jenis makanan lainnya, tapi gue cuma bisa menjelaskan yang kebetulan kami hidangkan di saat natal, dan memang jenis makanan ini yang paling umum disajikan. Selain roti, keju juga menjadi pelengkap penting di saat natal. Biasanya menjelang natal, keju Holland dengan bungkus plastik berwarna merah, menjadi keju sejuta umat. Banyak dijual soalnya. Pelengkap roti/smörgås atau makanan lainnya.

img_8860
Smörgås,  tidak hanya di saat natal, di hari biasa pun menjadi santapan yang sering dimakan. Bedanya di saat natal, Smörgås wajib diberi  irisan Julskinka. Baru kalau mau ditambahkan yang lain  silahkan. Sesuai selera. 

Barangkalai negara barat lain memiliki menu yang sama? Gue kurang tau pasti. Yang jelas, seperti itulah jenis makanan dan minuman natal yang biasa disajikan di Swedia.

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Merry Christmas from Sweden!

Rasanya belum terlambat  jika gue memposting tulisan ini. Bau natal masih berasa. Dan sebelum 2016  berakhir, tulisan bertema natal masih berlaku sah*ngotot*

Biasanya dua hari sebelum natal, gue dan suami ikutan heboh meramaikan supermarket di kota Mora. Rasanya kurang afdol, tidak merasakan euforia mendorong troli berisi keperluan natal. Mulai dari daging, bahan salad, salmon, krim, keju, roti, coklat dan entah apa lagi. Hedon! Padahal cuma berdua, tapi belanjanya segambreng. Ya sudahlah, perayaan setahun sekali. Selain doyan makan, kami berdua merupakan team kompak ketika berada di dapur. Mulai dari memasak bareng sampai menata meja juga.

fullsizerender-13

Biasanya, rumah selalu kedatangan tamu, entah siapalah itu. Bisa teman baik suami maupun tetangga yang memang hidup melajang. Jadi suka makan malam bersama mereka. Namun natal tahun ini, makan malam hanya kami nikmati berdua. Sepertinya tamu tamu itu punya acara sendiri.

Paginya, tepat di tanggal 24 Desember, kami kedatangan uncle dan onti. Kedatangan mereka tidak direncanakan. Akhirnya sarapan bareng. Karena agenda makan bersama sudah disepakati di tanggal 26 Desember.

img_8387

img_8383

Kami sarapan Risgrynsgröt (bubur nasi) dan Smörgås (open sandwich ala Swedia). Tradisi kecil yang masih dijalankan di desa gue sampai saat ini. Jadi sebelum menyantap makan malam, biasanya perut diisi dengan makanan ini dulu. Bubur nasi sederhana, yang rasa dan aromanya jelas berbeda dengan bubur ayam di tanah air. Berbahan utama beras, sedikit Smör (butter) dan susu. Konsistensi bubur sangat kental. Disantap hangat dengan taburan kanel (cinnamon) plus milk. Kalau mau divariasikan juga boleh. Ditambahkan selai blueberry atau lingonberry (ini versi gue tentunya). Rasanya memang tidak setelolet bubur ayam gerobak. Aroma dan taste origional nasi di Risgrynsgröt masih berasa banget. Yang membuat special paling bau cinnamonnya. Setidaknya di lidah gue masih dapat diterima dengan aman.

img_8553
Risgrynsgröt (Bubur Nasi) dengan taburan cinnamon dan selai blueberry

Jaman dulu, anak kecil di desa gue suka meletakkan piring berisi bubur di teras rumah. Dengan harapan, bubur akan dimakan Tomte (santa versi Swedia yang baik hati dan suka menolong). Suami tidak ketinggalan menjalankan tradisi ini. Walaupun sebenarnya bubur yang diletakin di teras, tidak pernah dimakan Tomte, karena diam diam diambil lagi sama mendiang mertua. Bahkan seorang Astrid Lindgren pun pernah menyelipkan tradisi memberi Tomte bubur di salah satu karya tulisannya. Bedanya, versi Astrid, buburnya malah dimakan rubah, bukan Tomte. Hahahaha. Cerita legenda Tomte lebih jelasnya sudah pernah disinggung di tulisan gue sebelumnya.

img_8609
Smörgås

Sedangkan Smörgås, terdiri dari roti (biasanya di saat natal menggunakan roti gandum beraroma cinnamon), dilapisi butter, dan diberi Julskinka (irisan tipis pork), dan selanjutnya suka suka aja mau ditambahkan apa. Bisa pickled, köttbullar (Swedish Meatballs) dan sedikit sentuhan mayones. Enak!

img_8415

img_8556

Sebelum makan malam dimulai, biasanya ada satu tontonan di televisi yang selalu gue tunggu. Tontonan yang sepertinya menjadi tradisi hiburan natal di Swedia setiap tanggal 24 Desember. Acara yang sangat terkenal, dan sudah ditayangin berulang ulang sejak kapan tau. Bahkan sepertinya sudah mendarah daging, tidak hanya di kalangan anak anak saja, tapi juga kaum dewasa yang sekaligus mengingatkan mereka akan kebiasaan di masa kecil dulu. Menonton Kalle Anka. Si Donal Duck dan konco konconya. Bebek yang selalu membuat tertawa walaupun cuma sebatas lambaian ekor, kumur kumur ga jelas dan nyaris tak banyak bicara. Tipikal Disneylah. Belum lagi tokoh Disney lain seperti Mickey Mouse, Cinderella, Robin Hood, sampai nyanyian manusia liliput dengan vibra suara yang kocak abis. Acara yang menyenangkan untuk dilihat. Mengutip istilah yang lagi viral, Bahagia itu sederhana! 

fullsizerender-10

Konon, televisi Swedia yang menayangkan Kalle Anka, pernah berniat ingin menghentikan acara ini. Dengan pemikiran sudah terlalu sering ditayangkan ulang. Sontak saja rencana tersebut mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Bahkan gue sempat melihat liputan dokumenternya di televisi, ketika salah satu olahragawan Swedia mengumpat kesal ke stasiun tv tersebut. Segitu hebatnya pesona kartun Disney ini.

img_8547-1

IMG_8563.JPG

Program hiburan natal di televisi Swedia memang sangat berasa. Seharian penuh bisa dibilang All About Christmas. Mulai dari film, kartun, sampai konser natal. Bahkan di tanggal 23 Desember, satu acara disiarkan secara live mulai pukul 7 hingga pukul 12 malam. Namanya Bingo, acara lotre. Tapi tetap diselipi hiburan natal. Kami iseng nyoba ikutan. Ahhh ternyata seru banget melingkari nomor nomor di kolom kertas yang sudah kami beli. Hadiahnya gila gilaan. Banyak yang menang. Beberapa orang mendapatkan Volkswagen, bahkan ada yang dapat 1 juta Sek *jilat jilat bibir* Gue nyaris menang loh, tinggal satu angka lagi,  lolos ke Canary Island *hahaha…ngimpi*

fullsizerender

Acara natal di Swedia, khususnya di desa gue, benar benar berasa justru di tanggal 23 dan 24 Desember. Keluarga mulai pada ngumpul. Mulai mempersiapkan makanan. Kalau di tanggal 25 Desember, sudah berasa hari biasa. Malah di tanggal ini, rata rata menyempatkan waktu beraktivitas di luar. Seperti Walk in the Forest. Tidak terkecuali gue dan suami. Meskipun dingin, tetap meluangkan waktu exercise ke hutan. Bukan apa apa, yang dimakan leker semua. Kalau tidak dibawa jalan, suka bloon sendiri. Hahaha.

img_8413
Ketika Nastar dan Skippy Cookies bersanding 🙂

Apalagi yang tinggal di kota besar, yang sengaja datang merayakan natal bersama orang tua di desa, di tanggal ini kebanyakan menikmati ekolife di sekitar forest. Bahkan ada yang berburu. Gila ya, padahal masih natal beneran itu. Sempat sempatnya berburu. Aroma natalnya langsung bye bye.

img_8412
Anyone?

Sejauh ini, gue sudah bisa menikmati sebagian besar menu natal di Swedia. Mulai dari Julskinka, Köttbullar, Rödbetssallad, Salmon, Jansons Frestelse, Ägg Halvor, dan masih banyak lagi. Menu natal yang leker dan delicious menurut gue. Di saat natal seperti ini, siap siaplah menggemuk. Makan coklat (untungnya gue ga gitu doyan coklat sekarang), minum Julmust (soft drink khas natal), hingga Glögg (minuman wine dengan aroma rempah yang tajam berisi almond dan russin). Akan gue tulis secara detail di tulisan berikutnya.

fullsizerender

Untuk kue kering, Swedia memiliki Pepparkaka, sejenis kue kering tipis, beraroma dan bercitra rasa kanel (cinnamon/kayu manis) dan Ingefära (jahe). Bentuknya macam macam. Bisa bulat, bentuk love, snowman, suka sukalah. Tapi gue jarang menyediakan ini di rumah. Kurang suka. Gue malah rutin membuat nastar dan skippy cookies. Suami juga suka. Sedikit sensasi Indonesialah. Baideway, dua hari berturut melahap menu natal, bikin perut teriak “Tan, Indomie Tan! 

fullsizerender-12

Sehabis makan malam, biasanya dilanjutkan dengan kegiatan membuka kado natal. Di Swedia, kado natal dibuka di saat Christmas Eve (malam natal). Jadi bukan di tanggal 25 Desember. Tahun ini masih seperti tahun sebelumnya. Meskipun ada satu kado yang memang gue minta langsung ketika berdua suami di sebuah store. Sempat juga membuat list, kado apa yang gue pengen. List yang lumayan kurang ajar sih, makanya sukses ditolak. Hahaha.

img_8561

IMG_8519.JPG

Satu hal yang setidaknya menurut gue lucu, ketika ke kota dan berniat mencari kado untuk suami dan uncle/onti (kado buat gue sudah dibeli suami jauh hari sebelumnya), secara blak blakan gue bilang ke suami kalau pengen beli sepasang sepatu untuknya. Sudah niatlah. Singkat cerita, kami masuk ke toko sepatu langganan. Begitu masuk, yang ada gue malah tertarik mencoba sepasang boots yang modelnya gue suka. Sibuklah nyobain kiri kanan. Sambil nyobain boots, gue meminta suami memilih model sepatu seperti apa yang dia suka.

Suami pun nemu sepatu kesukaannya. Cek harga, puji Tuhan tabungan masih cukup. Dan jreng jreng jreng….pas bayar ke kasir, suami  malah mengambil boots dari tangan gue. Katanya dia yang bayar sebagai kado natal. What! senang bangetlah coyy!

Jadi lucunya itu karena, gue bayar sepatu buat suami dan suami bayar boots buat gue. Dan lebih lucunya lagi, kami tetap meminta kasir membungkus masing masing kotak sepatu sebagai hadiah natal. “Biar kami ada kegiatan di malam natal” kata suami kepada si kasir sambil tertawa. Maklumlah, natal hanya kami habiskan berdua. Tidak ada keluarga besar. Jadi dibuat sebahagianya kami aja. Dengan cara kami tentunya. Yang pasti, acara buka kado di malam natal kemaren, sebenarnya buat gue pribadi sudah tidak surprise lagi. Karena gue sudah tau isinya. Kecuali kado yang sudah dibeli suami jauh hari sebelumnya. Mau tau apa? Taraaaaaaaaa…….. ini dia!

img_8596

Dikadoin sebuah Tripod. Senang sih. Artinya suami mendukung gue. Tapi jujur, untuk sekarang rasanya gue belum terlalu membutuhkan tripod. Sejauh ini sudah cukup puas dengan hasil jepreten sendiri tanpa bantuan tripod. Apalagi memakai tripod rasanya kok ribet. Harus nempelin dolo, ngencengin. Tapi namanya pemberian, dari sebuah niat baik pula. Siapa tahu hobby photography gue semakin baik.

Seperti biasa, gue selalu nyelipin kado kado kecil ke suami. Berisi kaos kaki, underwear dan longjohn. Jadi acara membuka kado pun tidak cepat selesai. Berbeda dengan suami, tahun ini dia tidak memberi kado kado kecil lagi. Dimaklumi, tiga kado sudah sangat sangat cukup buat gue.

img_8557
Salju yang turun kira kira seminggu sebelum christmas. Coba pas christmas datangnya.

fullsizerender-11

Sayang tahun ini No White Cristmas. Padahal seminggu sebelum natal, gumpalan salju masih tebal memutih. Menjelang natal malah mencair. Ada sih sisa saljunya, tapi sedikit. Doa dan harapan gue, semoga berdua suami diberi kesehatan, panjang umur dan kesempatan melewati penghujung tahun 2016, melewati 2017 dengan segala harapan dan berkat. Semoga keluarga, kerabat dan teman semua juga demikian adanya. Meskipun telat, buat teman teman yang merayakan natal, ijinkan gue mengucapkan Merry Christmas from Sweden! Tuhan memberkati! See you in my next story.

img_8388

fullsizerender-10

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Konser Besar “The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra”

Gue suka musik. Dan sampai sekarang pun masih. Hanya tidak semaniak ketika berumur duapuluhan. Dulu, tidak pernah ketinggalan mantengin MTV, dengerin top 40, pokoknya lumayan taulah soal musik dan lagu hits. Kalau sekarang sudah banyak ketinggalan, paling taunya cuma satu dua. Ahhh waktu dan keadaan ternyata mampu merubah hobby gue. Walaupun musik tidaklah sebatas umur, yang jelas gue mulai tua. Selera musiknya mulai kendor.

FullSizeRender (10).jpg

Terkecuali terhadap jenis musik yang satu ini. Musik yang selalu dipasang mendiang bokap dan terbiasa gue dengar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Yaaaiiiii………. Musik Klasik!

Mungkin bagi sebagian kalangan, musik klasik adalah musik aneh sekaligus membosankan. Atau musik dari planet antah brantah. Ini nyata kok, ketika dulu teman gue terheran heran, di usia terbilang muda, gue sudah memiliki koleksi kaset Wolfgang Amadeus Mozart, Bethoven, Antonio Vivaldi, Johans Strauss, Chopin, Handel, The Mormon Tabernacle. Belum lagi kalau mampir ke toko dan membeli Compact Disc (baca jaman dulu belinya), kadang pegawai toko masih saja memperlihatkan mimik ternganga *Ga sampai ternganga deng, paling keningnya berkerut*. Kenapa ya?

FullSizeRender.jpg

Mungkin di benak mereka, tampang tua, serius, ubanan, berkacamata minus, lebih pantas menjadi penggemar musik yang satu ini. Meskipun di sisi lain, sudah mulai banyak anak jaman sekarang yang diperkenalkan dan berhasil meraih prestasi di bidang musik klasik. Bahkan konon, musik klasik pun disarankan didengar ibu hamil.

Buat gue, musik klasik itu obat, terapi jiwa. Bukan musik disko, namun mampu membuat kepala, tangan dan kaki gue bergoyang. Meskipun tidak semua judul dan nama komponis musik ini gue ingat dengan baik. Buat gue, mendengar dan menikmati saja sudah cukuplah.

fullsizerender-14

Setiap melihat konser musik klasik di tv dan youtube, yang dibawakan group orchestra sekelas Viena Philmarmonic, London Philharmonic, California Philharmonic, The Mormon Taberncale (paduan suara yang tidak ada tandingannya menurut gue) dan masih banyak lagi, rasanya daya hayal gue melambung cepat. Ahhh kapan ya bisa menyaksikan secara langsung konser  Orchestra dan paduan suara sekaliber mereka. Nulisnya sampai merinding. Pengennnn mak!

img_7575
Cakep! Dulu cuma bisa melihat di TV doang.

Hingga pelan pelan, mimpi itu mulai terealisasi. Ketika tahun lalu, salah satu group musik orkestra dari Viena melakukan konser tahun baru di beberapa kota besar di Swedia, gue pun tidak mau ketinggalan. Oh my, itu saja sudah membuat gue terpana, konon pula jika melihat The New Year’s Concert of Viena Philharmonic yang fenomenal itu. Merinding disko bayanginnya. Someday semoga terwujud. Amin.

FullSizeRender (18).jpg

Dan tahun ini pun, gue berkesempatan melihat konser musik klasik dan paduan suara The Royal Stockholm Philharmonic, sebuah group orkestra besar di Swedia.  Mereka mengadakan Konser Natal Besar selama tiga hari berturut turut. Tentu saja kesempatan ini tidak boleh gue sia siakan.

Jauh hari kami sudah memboking tiket agar mendapat posisi bangku yang pas. Walaupun pada akhirnya, harus menelan kenyataan, duduk di balkon yang bukan menjadi keinginan kami. Disebabkan suami yang lupa mengklik bagian payment, alhasil sampai berhari hari, kok rasanya kami tidak menerima email balasan dan tiket pun tidak sampai ke rumah. Pas dicek baru deh ketauan gongnya. Terpaksa booking ulang lagi, dengan konsekwensi bangku yang kami pesan sebelumnya sudah dibooking orang lain.

IMG_7774.JPG

The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra atau Kungliga Filharmonikerna, merupakan group  musik orkestra yang dibentuk sejak tahun 1902 dan berbasis di Stockholm, Swedia. Tepatnya di Stockholm Concert Hall ( Stockholms Konserthus).

Di gedung utama inilah The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra mengadakan konser konser besar mereka. Bahkan ceremony pemberian Nobel Prize yang terkenal itu, pun dilangsungkan di gedung ini. Tidak terkecuali dengan konser bertajuk Stora Julkonsert (The Big Concert) yang kami hadiri beberapa waktu lalu, juga dilangsungkan di Stockholm Concert Hall.

Selain sukses merilis album, The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra juga dikenal sebagai group orkestra, yang selalu dipercaya mengisi alunan musik acara Nobel Prize dan Polar Prize Music Celebration.

FullSizeRender (16).jpg
Bagian Balkon yang tidak jadi diduduki. Hahaha
fullsizerender-15
Gue foto sebelum konser dimulai
FullSizeRender (13).jpg
Balkon 

Konser dimulai tepat pukul 6 sore. Dibuka dengan penampilan seorang pria bersuara baritone. Disusul lagu Jingle Bells yang dibawakan paduan suara secara kompak dan ceria.

Demikian seterusnya, satu demi satu lagu dan musik dimainkan dengan baik. Konser dimeriahkan oleh dua orang penyanyi opera, dan satu penyanyi bersuara pop. Konser malam itu merupakan perpaduan musik natal klasik dan modern. Dikemas dengan gabungan musik slow dan ceria. Sound systemnya juga bagus. Gue seolah tak henti berdecak kagum. Mungkin karena mendengar dan melihat secara langsung, sensasinya itu sangat sangat jelas berbeda. Terdengar sangat asik. Ahh menyenangkanlah.

FullSizeRender (12).jpg
Gedung Stockholm Cocert Hall (Stockholms Koserthus)

Meskipun ada beberapa bagian musik dan lagu yang kedengarannya kurang menyatu, masing masing pemain musik, paduan suara dan singers saling menonjolkan suaranya agar terdengar lebih kuat, yang akhirnya terdengar kurang kompak. Halah! pengamat abal abal sok tau banget deh. Hahahhaa.

img_7573
Di dalam Stockholm Concert Hall. Bagus ya. Pemberian Nobel Prize juga diadakan di sini

Satu hal  yang membuat konser menjadi sedikit terganggu, terlalu banyak diselipi perfomance hostnya. Hampir sebagian besar setelah lagu dan musik selesai, si bapak host selalu  muncul. Alangkah lebih baik, mendengar konser tanpa ada embel embel seperti ini. Kalau pun harus muncul, ya durasinya jangan terlalu sering. Terlalu banyak bicara di sebuah konser musik rasanya kok ya garing banget. Kan bukan panggung comedy. Buat gue sih kurang asik. Atau mungkin karena gue terlalu bersemangat mendengar alunan musik dan paduan suara berikutnya, sehingga penampilan si host ini menggangu gue banget.

fullsizerender-11
Suka banget dengan pilar pilar tinggi berhiaskan lampu ini. Plus patung dengan beragam ekspresi. Klasik banget

Tapi secara keseluruhan, konser sukses menghibur gue. Kurang lama rasanya. Semoga kelak, jika Tuhan mengijinkan, kami diberi kesempatan melihat paduan suara The Mormon Tabernacle dan Viena Philharmonic Orchestra yang legendaris itu. Sekali lagi Amin!

Berikut di bawah ini adalah link video yang gue unggah di instagram. Untuk lebih jelasnya lagi, performance The Royal Stockholm Philharmonic Orchestra bisa dilihat di youtube

Oh ya, kalau kalian suka musik klasik ga sih?

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa persetujuan dari yang bersangkutan”

IMG_7600.JPG
Sehabis konser, sepetik di depan Concert Hall 🙂

 

Natalan di Swedia, Serunya Menghias Rumah dan Pohon Natal

Tahun ini merupakan tahun ketiga buat gue, merayakan natal di negeri Fika Swedia. Rasanya masih seperti tahun tahun sebelumnya. Tidak banyak yang berubah. Minggu Adven, Christmas Market, Julskyltning, Advent Calender, Julbord, sampai Konser Natal, semuanya menjadi kegiatan yang tetap menarik dan menghibur.

Layaknya di Indonesia, perayaan natal di Swedia diisi dengan kebaktian natal gereja dan kumpul bersama keluarga. Kalau dulu, gue selalu mengikuti kebaktian natal di tanggal 24 Desember, malam hari tepatnya. Berbeda dengan sekarang, gue lebih sering mengikuti kebaktian di tanggal 25 Desember. Dan rata rata waktunya selalu di pagi hari, di mulai dari pukul 5 pagi.

Lumayan rindu sih, suasana kebaktian malam natal yang selalu ramai dengan jemaat, layaknya di Indonesia dulu. Kalau di tempat gue sekarang, berhubung cuma desa kecil, paling bangku hanya diduduki oleh beberapa jemaat. Sisanya hanyalah bangku bangku kosong.

img_6543

Selama natalan di Swedia, gue belum pernah merasakan suasana kumpul keluarga seperti di Indonesia. Berkumpul dengan keluarga besar, yang jumlahnya lumayan banyak. Menggelar tikar di lantai, yang dalam hitungan detik langsung penuh dengan tubuh tubuh kami yang beragam size itu. Rasanya, tikar jauh lebih nikmat dibanding sofa, secara sekali ngumpul orangnya banyak. Tiduran boleh, duduk juga boleh, ketawa-ketiwi, cerita dari A sampai Z, seru seruan main kartu, dan tidak lupa sambil ngunyah kacang asin. Biasanya, ada aja satu dua orang yang sukarela ribet di belakang (baca dapur), dan nanti tiba tiba nongol “mau minum cocacola ga? kacangnya cukup ga? Ahhh rindulah!

FullSizeRender (7).jpg

Sepertinya suasana yang jauh dari formalitas di atas agak sulit gue temukan di Swedia. Seperti tahun lalu,  kami diundang ke rumah tetangga. Lumayanlah jumlah mereka ada 10 orang.

Mulai dari kakek nenek sampai cucu semuanya ngumpul. Tertawa, main kartu, sambil makan kacang juga. Bedanya kacang mereka almond, lebih elit dikitlah dari kacang asin berlogo burung itu. Dan satu lagi, mereka ga sedasyat keluarga gue, sampai menggelar tikar segala. Cukup duduk manis di kursi. Lumayan sopan untuk sebuah acara keluarga. Ketawa mereka juga volumenya pake limit, tidak seperti keluarga gue, tanpa batas dan nyampe ke ke kantor lurah. 

img_6501
I love it
fullsizerender
Karena santa dan rusa sudah terlalu mainstream.

Masih ingat, kalau nyiapin menu natal, suasana dapur  keluarga gue selalu ramai. Ramai dengan kulit bawang, jahe, kunyit, dan bumbu bumbu lain di sekitar dapur. Ditambah hebohnya bunyi eksotik dari ulekan, blender dan penggorengan.

Dan semakin sempurnalah suasana berisik tadi, oleh suara suara asoy yang keluar dari mulut kami. Memasak sambil ngobrol. Suara suara yang beradu dengan bunyi ulekan, blender dan penggorengan. Seandainya di Swedia bisa begitu 🙂

img_6500
Penggemar  Santa akut

Buat gue semua itu menyenangkan sekali. Meskipun sebagian besar makanan natal di Swedia bisa dibeli dalam kondisi matang, tapi gue dan suami tetap berusaha memasak sendiri. Kebetulan kami berdua memiliki keinginan yang sama, pengen mengingat masa masa ketika natalan bersama orang tua dan keluarga di waktu dulu.  Cuma bedanya, kegiatan memasak yang gue dan suami lakukan, jauh dari kehebohan suara ulekan dan penggorengan. Lebih peace. Tapi ya gitu deh, kurang asik.

img_6533

Namun, ada cerita lain yang juga tidak kalah menarik sejak gue merayakan natalan di Swedia. Banyak  keseruan baru yang gue lihat  dan rasakan, yang sebelumnya tidak pernah gue dapatkan di Indonesia.

Salah satunya ya menghias pohon natal. Kalau dulu, gue biasa menghias pohon natal KaWe, sekarang menghias pohon natal sungguhan. Masih fresh. Bahkan pohon natal yang gue hias, bukan dibeli dari toko atau supermarket, tapi nyari sendiri ke hutan. Memilih mana yang cocok, sampai akhirnya melihat sendiri ditebang oleh suami. Dibawa pulang lalu dihias menjadi cantik. Aromanya natural sekali. Beneran asik.

Lagi lagi masih dari cerita kenangan, dulu menghias pohon natal bareng keluarga, dan sekarang sudah beda. Berdua doang bareng suami. Menyusun santa, bola bola, dan pernak pernik kecil ke pohon natal, menambah hiasan lain di ruangan rumah,  semuanya menjadi kegiatan yang sangat gue suka. Apalagi sekarang, hiasan natalnya juga lucu lucu kan.

Dan tahun ini, entah mengapa gue pengen banget memberi sentuhan klasik di rumah gue, seperti meletakkan beberapa potongan kayu pinus di bawah pohon natal, atau menempatkan kayu pinus di dalam ember kayu yang umurnya sudah ratusan tahun, dan gue tambahkan dengan beberapa lentera lilin. Dan hasilnya lumayan cakep. Gue suka. Ga henti gue fotoin. Fotogenik banget jadinya. Makanya harap maklum jika tulisan ini banjir foto.

img_6477
Saya sukaaa
img_6530
Sukaaaa

Tahun sebelumnya, gue tidak terlalu tertarik menggunakan pernak pernik natal peninggalan mertua. Ehhh semakin dilihat kok ya makin unik. Pernak pernik yang selain dibeli, sebagian dikerjakan sendiri oleh kedua mertua. Seperti beberapa gambar di bawah ini.

FullSizeRender (6).jpg
Wajah santa buatan mertua, dibuat dari potongan kayu Birch. Sederhana tapi apik. 
img_6527
Lucu ya, peninggalan mertua. Niat banget ngerjai ginian. Detail dan rapi. Potongan kayu mirip banget dengan kayu bakar sehari hari. Kalau diperhatikan urutannya, yang pertama mengambil batang kayu, lalu batang kayu digergaji, kemudian dibelah pakai kapak,  terakhir disusun.  Salut! 
img_6559
Dan yang ini, lagi bakar sosis 

Di Swedia, pohon natal biasanya dipasang pada tanggal 24 Desember atau bahkan di tanggal 25 Desember. Pertama agak kaget sih, kok lama bener! Selain karena natal jatuh di tanggal 25 Desember, memasang pohon natal terlalu cepat, dikhawatirkan membuat pohon rusak dan terlihat tidak fresh lagi di saat hari H. Tentunya lebih asik juga kan, menghias  pohon natal bareng anggota keluarga. Dan sepertinya, tradisi memasang pohon natal di tanggal 24 atau 25 Desember, tidak hanya berlaku di Swedia, melainkan di sebagian besar negara barat.

img_6491

Tapi perbedaan ini bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Tidak memasang pohon natal pun sebenarnya tidak masalah. Namanya juga beda negara dan benua, beda juga kultur dan tradisinya. Ya meskipun pada akhirnya, suami gue bisa mengerti dan memahami tradisi yang berlaku di keluarga gue. Dan akhirnya, resmilah sejak dua tahun lalu, kami memasang pohon natal jauh hari sebelum natal tiba. Yaiiiiii gue melanggar tradisi!

Gran, adalah jenis pohon yang kami gunakan sebagai hiasan pohon natal di rumah. Meskipun dipasang jauh jauh hari sebelum natal, pohon ini tetap terlihat fresh. Kalaupun rontok,  paling cuma sedikit.  Tidak mengurangi keindahan warna dan penampilannya. Bahkan tahun lalu, tumbuh tunas baru dari ujung batangnya. Keren kan. Cuma memang, setiap hari asupan airnya harus cukup. Pemanas ruangan juga dibuat tidak terlalu panas.

img_6476

Di Indonesia, meskipun sudah banyak  kalangan yang menghias pohon natal dengan lampu satu warna, tapi lampu warni warni tetap aja masih berkibar. Malah di jaman sekarang, kelap kelipnya pun bisa disetting.  Mau dibuat lambat atau cepat.

Kalau di desa gue, sepertinya pohon natal hanya menggunakan lampu one color. Warna Kuning. Lampunya juga unik, berbentuk lilin dengan ukuran yang lumayan besar. Mungkin kalau menggunakan lampu berukuran kecil, sudah tidak sebanding dengan pohon Gran yang lumayan besar dan jarak dahannya yang tidak terlalu rapat.

Karena ukuran lampunya besar, otomatis sinar nya pun lebih tajam. Gue pernah nanya ke suami, kenapa tidak mau pake lampu kelap kelip? yang langsung dijawab “itu lampu disko”  Haha.

img_6535

Ada satu tradisi yang masih berjalan baik sampai saat ini, yang justru sudah lama banget tidak gue temukan di Indonesia. Gue sempat merindukan kegiatan klasik yang menjadi bagian indah menjelang natal tiba. Jaman dimana kejayaan seorang “Pak Pos” dengan motor orange dan tas coklat bututnya. Suara motor yang sampai sekarang masih familiar di telinga gue. Ihhh suka banget deh pokoknya kalau dengar suaranya, suka geer sendiri, kali aja berhenti di depan pagar rumah. Dan ternyata beneran berhenti. Posssss…! Aihhhh di tangan pak pos ada Kartu Natal! 

img_6490

Bentuknya masih ingatlah, mulai dari gambar salju, rusa, santa, sampai yang paling heboh, kalau kartu dibuka, tiba tiba mucul aja gitu gambar gambar yang bisa berdiri. Ga pinter jelasin. Kaya foto di bawah ini.

img_6747-1
Kartu natal bahela yang masih ada di rumah gue. Ini yang modelnya kalau dibuka,  langsung muncul “sesuatu” dari dalam kartu

Sempat merindukan kegiatan klasik ini dulu, ketika diri mulai lelah dengan ucapan broadcast berantai yang tinggal copas sana copas sini, dan isinya hampir sama semua. Itu ke itu lagi. Jujur saja membuat gue bosen dan malah terganggu 🙂

img_6549

img_6532

Sampai akhirnya kerinduan itu terkabul. Kegiatan klasik ini masih jaya berlaku di Swedia. Bahkan suami gue masih menyimpan beberapa kartu natal yang didapat dari tahun kapan.

Walaupun sekarang sudah sedikit berbeda, tidak seantusias dulu lagi. Selain karena sudah melihat langsung gambar gambar salju dan pohon pinus di kartu natal itu, rasanya kurang cocok  juga jingkrak kesenangan layaknya abegeh. Apalagi yang nganter sudah ga pakai teriak……Posssss!!!!! Bahkan pas dianter pun kadang gue tidak tau, karena petugasnya datang ga pake motor. Yang tentu saja jauh dari suara mesin berisik. Hahahha.

img_6748

Lalu gimana dengan kado natal, suka ga? sukaaaaaaaaaaaaaa! Dulu, gue juga punya banyak kado di bawah pohon natal. Tapi isinya kosong. Kado kadoan ceritanya. Kalau sekarang, melihat ada bungkusan kado di bawah pohon natal, rasanya gimana gitu, apalagi tahu itu kado beneran. Uhuiii dongs.

Mungkin di Indonesia, sudah lumayan banyak keluarga yang melakukan tradisi tukar kado di saat natal. Tapi setau gue, belum menjadi tradisi besar. Apalagi di keluarga gue, dijamin tradisi seperti ini bukanlah sesuatu yang penting. Hal yang paling menarik justru acara kumpul kumpulnya. Ditambah acara main sikat makanan di meja.

img_6550

Menurut gue seru sih. Mulai dari hunting kado (nyari sendiri sendiri), trus penasaran suami kasih apa, sampai akhirnya tiba, kado dibukain satu satu. Biasanya, gue tidak terlalu sulit memilih kado buat suami. Yang bisa dia pakai ajalah. Seperti sweter, kemeja, dan gue tambah dengan kado kado penghibur yang isinya kaos kaki, sarung tangan, hatbanie atau underwear. Setiap tahun pasti itu ke itu aja sih yang gue beli. Gue bungkus satu satu semua. Jadi keliatan banyak.

fullsizerender-5

img_6552

Suami pun begitu, selain kado utama, biasanya selalu nambahin kado kado kecil. Dengan tambahan kado kado kecil ini,  acara buka kado kami jadi lebih meriah. Lebih lama. Karena pas buka yang satu, masih ada dan ada lagi kado yang lain. Padahal isinya cuma obat rambut, lotion muka, sabun mandi, vitamin rambut, hahhahaha. Terharu juga sih. Kadang suka mikir, kapan sih dia intip intipnya. Kok bisa tau vitamin rambut gue uda habis, bodylotion gue tinggal sedikit.

img_6548

Ada cerita haru yang gue dapat ketika natal dua tahun lalu, ketika kami akan menikmati makan malam di tanggal 24 Desember, tiba tiba gue mendengar handphone suami bolak balik berdering. Tidak berapa lama, suami menyuruh keluar. Bingung dong. Di luar gelap banget soalnya.

img_6423
Gue punya kampung santa di jendela

Tiba tiba gue mendengar suara lonceng kecil gitu, mulai mikir deh, ahhhh suami bikin rencana apalagi ini. Dan benar ajalah, ternyata gue kedatangan Tomte! oalaaaaa.

Tomte itu santa versi Swedia. Mana Tomtenya kocak lagi, pakai topeng gitu. Jauh dari sosok santa yang imut dan lucu. Belum lagi bajunya dekil amat. Warna abu abu gitulah. Tapi sukses membuat gue tertawa lepas. Si Tomte meluk gue dan bilang GodJul!

Begitulah, karena gue pernah bilang, sejak kecil yang namanya dikunjungi santa ga ada dalam tradisi keluarga gue. Jadi kayanya, meskipun uda menjelang uzur gini, dia berusaha ngenalin gue, gimana sih rasanya tiba tiba didatangi santa. Jujur lumayan sukses membuat gue kaget. Tapi jadi berasa seru. Meskipun di rumah tidak banyak orang, suami lumayan pinter membuat suasana menjadi lebih ramai.

Dan akhirnya gue nanya dong, kenapa pakaian santanya dekil dan warnanya ga merah. Alkisah dulu, sosok Tomte digambarkan sebagai  seorang pria berbadan kecil, miskin dan hidup di desa sepi. Pakaian  kumal selalu menempel di badannya. Sifatnya yang suka peduli dan menolong, membuat Tomte disayang warga. Bangun di tengah malam hanya untuk memastikan kandang sapi warga aman dari binatang rubah, pintu rumah warga sudah dikunci apa belum, sehingga atas kebaikannya ini, warga suka meletakkan bubur nasi di depan rumah. Setidaknya Tomte bisa makanlah.

img_6494

Tradisi memberi bubur ini sempat dilakukan suami di waktu kecil. Malam hari bubur diletakin di teras. Bangun pagi, suami  senang banget melihat bubur sudah tidak ada. Padahal diam diam sudah diambil lagi sama mertua. Dan suami percaya aja bubur habis dimakan Tomte. Lucu banget kalau dengar ceritanya. Dan seorang Astrid Lindgren juga pernah menyelipkan tradisi memberi Tomte bubur dalam sebuah karya tulisannya. Bedanya, versi Astrid, bubur malah dimakan rubah. Hahaha.

Seiring waktu, cerita klasik Tomte pun mulai bergeser. Santa berbadan tinggi besar, berjenggot putih bersih, berkacamata lucu, berpakain merah menyala dan rapi, lengkap dengan tentengan hadiah yang menggiurkan anak anak itu. Jauh dari kesan dekil. Setiap tanggal 24 Desember, televisi Swedia selalu menayangkan legenda si Tomte. Durasi filmnya hanya 10 menit. Aduhh itu film kayanya udah lama banget deh. Hitam putihnya sadis. Hahaha.

img_6714
Mossa, tanaman liar dari hutan. Cantik dipakai sebagai hiasan. Di toko bunga biasanya dijual menjelang natal.
img_6523
Mossa menjadi hiasan kaleng antik 

Kira kira, natal tahun ini gue dapat kado apa ya dari suami? trus gue dan suami akan masak menu apa aja natal nanti? Tunggu di tayangan berikutnya. Uda mulai letoi nulisnya. Hahaha. See you in my next story.

img_6553
Mossa 
img_6693
Teras rumah dengan sentuhan kayu, lilin dan daun Gran.

 

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

Makan Kenyang di Julbord

Di Indonesia, perayaan hari raya besar keagamaan pastilah identik dengan makanan khas masing masing. Sebut saja seperti ketupat dan makanan bersantan di saat lebaran. Atau seperti keluarga gue misalnya, di saat natal selalu menyediakan ikan mas arsik atau kembang loyang.

Tapi umumnya, makanan tersebut hanya disediakan di rumah rumah. Rasanya gue belum pernah melihat ada restoran yang dengan sengaja menjual khusus makanan khas natal atau lebaran sebulan sebelum hari besar itu tiba. Ini bukan bicara toko yang menjual kue kering ya.

Di Swedia, tepatnya di minggu minggu adven, ada semacam kebiasaan atau tradisi, dimana berbagai restoran di negara ini dengan sengaja membuat pengumuman atau iklan, baik di website maupun koran, yang isinya memberitahu jika mereka akan mengadakan  Julbord. 

fullsizerender-11
Salah satu restoran di kota Rättvik yang mengadakan jamuan Julbord

Julbord sendiri bisa diartikan sebagai Jamuan Meja Natal (Christmas Table), dengan berbagai macam makanan yang disajikan secara bersamaan dengan sistem prasmanan. Sebagian besar restoran masih bertahan dengan penyajian menu Swedish Traditional Food.  Bahkan lumayan ada beberapa restoran yang mengadakan Julbord dengan menu oriental. Tapi yang jelas, konsep Julbord sendiri pada awalnya selalu berkiblat pada menu menu yang terdiri dari Swedish Traditional Food. Dan pastinya, Christmas Table di dalam tulisan ini  pun, tentunya mengacu pada  menu menu tradisional versi Swedia.

IMG_5657.JPG

Biasanya, yang mengadakan Julbord adalah restoran restoran yang lumayan besar. Tentu saja dengan harga yang bervariasi. IKEA, sebagai salah satu retail besar di Swedia, juga tidak ketinggalan ambil bagian dalam tradisi ini. Cuma memang, menunya lebih simple dan sederhana. Harga juga relatif lebih murah. Kualitas rasa juga relatif standard. Ini sih gue tau dari suami, tetangga dan beberapa orang yang gue kenal yang pernah mencoba Julbord IKEA. Gue sendiri belum pernah mencoba. Taste masing masing lidah berbeda tentunya.

Setiap tahun, rasanya kami wajib mengunjungi Julbord. Karena suami gue penggemar berat makanan makanan yang disajikan. Dari beberapa restoran yang kami datangi, rata rata membuka harga dikisaran 500 Sek sampai 750 Sek per orang. Lumayan mahal memang. Tapi kualitas rasa relatif memuaskan. Dan tentu saja jenis makanan yang disajikan pun terbilang lengkap.

Julbord menggunakan konsep All You Can Eat dengan jenis hidangan yang beraneka ragam dan menarik. Pengaturan ruangan sampai penataan menu makanan diatur sedemikian. Tidak hanya itu, meja makan untuk pengunjung pun ditata secantik mungkin. Mulai dari taplak meja yang umumnya berwarna merah, candle light, bunga, sampai berbagai gelas kaca yang tersusun rapi. Cakeplah.

FullSizeRender (10).jpg
Christmas Table Decoration

Untuk meja, beberapa restoran ada yang menyediakan maksimal untuk  empat orang, ada juga untuk enam orang, bahkan untuk belasan orang dalam bentuk meja panjang.

Setiap meja terdiri dari jenis makanan yang berbeda. Dan biasanya, meja pertama yang dilalui adalah meja yang terdiri dari berbagai jenis olahan ikan. Seperti Sill, olahan ikan tradisional yang diramu dengan air, gula dan rempah. Menurut gue, baunya agak amis! Masih mending ikan asin versi Indonesia, amis tapi kering. Ini uda amis berarir pula. Entah mengapa suami gue suka banget, sebagaimana gue sangat menyukai ikan asin juga. Ada satu jenis makanan yang mengandung campuran Sill, yang gue lumayan doyan. Dan biasanya disajikan di acara Julbord. Namanya Jansons Frestelse, berupa irisian irisan kentang, bawang bombay, krim dan sill ukuran kecil. Rasanya gurih dan leker.

FullSizeRender (13).jpg
Salah satu meja dengan olahan ikan salmon

Jenis ikan lainnya adalah Salmon, mulai dari Smoked Salmon, Steam Salmon, semuanya berukuran besar. Ada juga Gravadlax, daging salmon mentah yang diiris tipis, dicampur dengan garam dan  Dill.

Meja berikutnya terdiri dari menu Daging. Mulai dari Silta yaitu daging olahan pork yang diiris tipis. Ada juga Julskynka, pork dengan rasa gurih yang direbus dalam bentuk bulat utuh dan agak memanjang. Kemudian Röktkött (sejenis daging asap), dan berbagai olahan sosis berukuran besar dan kecil. Tidak ketinggalan Köttbullar atau Meatballs, sampai olahan daging pork yang dimasak dengan bumbu kayu manis, mirip semur daging. Masing masing meja dilengkapi dengan berbagai jenis saos maupun krim.

FullSizeRender (12).jpg
Meja bagian daging, motonya cuma sekedar aja, itupun lihat situasi, malu mak foto foto molo hahaha.

Bahan makanan dari telur juga ada, seperti Eggröra atau lebih familiar dengan sebutan Srcambled Eggs, kemudian yang paling famous adalah Half Eggs, telur rebus yang dibagi dua, dan permukaannya diberi kaviar dan Räkor (sejenis udang rebus).

Jenis salad juga turut melengkapi Julbord, dan yang paling terkenal adalah Rödbetssallad, salad berwarna pink keunguan, dengan irisan bit merah yang dicampur krim. Gue suka banget. Perpaduan rasa yang sedikit asam dengan krim yang legit.

img_5772

IMG_5770.JPG

Meja terakhir adalah Meja Desserts, berisi berbagai jenis buah, cake, coklat, permen dan tidak ketinggalan kopi.

Sebenarnya, jenis makanan yang disajikan di Julbord, sehari harinya bisa juga ditemui di supermarket bahkan  disantap di hari biasa sekalipun.  Bedanya di saat Julbord, berbagai ragam jenis makanan tersebut disajikan secara bersamaan atau serentak. Istilahnya, semua jenis makanan secara kompak terhidang di meja.

img_6030-1

Ada sebutan yang menyebut,  ketika berada di Julbord,  mulailah menyantap menu olahan ikan terlebih dahulu. Konon, ikan tidak gampang membuat kenyang dibanding daging dagingan. Sehingga tidak heran, jika sebagian besar susunan meja di acara Julbord, biasanya selalu dimulai dengan meja berisi olahan ikan. Gue suka memperhatikan suami, dan beberapa teman yang bergabung dengan kami,  rata rata porsi makanan yang diambil lumayan banyak. Porsi yang tidak pake istilah malu malu!

Wong ini bayarnya mahal kok, begitu kata mereka. Cuma caranya ga brutal. Tetap santai. Biasanya mereka makan sangat perlahan lahan, diselingi ngobrol malah. Dan satu lagi, piring akan bersih ludes. Ga ada yang tersisa. Artinya, makanan yang diambil sudah diperhitungkan sesuai kesanggupan perut. Jadi tidak lapar mata. Pelayan juga akan dengan sigap mengambil piring yang ada di meja, apabila sudah terlihat kosong.

Biasanya, kalau menu pertama sudah habis, mereka ngobrol santai dulu, lumayan lama juga ngobrolnya. Ga buru burulah istilahnya. Kalau dirasa rasa sudah waktunya nambah, barulah melanjutkan makanan berikutnya ke meja olahan daging. Logikanya sih, dengan memberikan jedah, perut tidak berasa penuh dan makanan lain masih bisa masuk dengan nyaman. Jadi walaupun prinsipnya sudah dibayar mahal, bukan berarti main sikat aja, padahal perut sudah ga nerima.

Tapi bukan berarti semboyan di atas wajib dilakukan ya. Suka suka aja. Mau langsung ke meja olahan daging okeh, mau dicampur ikan dan daging juga okeh. Ga ada larangan. Gue aja gitu kok, gue campur aja mana yang gue suka. Hahahaha.

IMG_5766.JPG
Salah satu minuman khas natal, sejenis softdrink mirip Coca Cola. Bedanya minuman ini sedikit berbau rempah atau apa ya, ga ngerti jelasinnya. Pokonya aroma lebih tajam sedikit dari Coca Cola. Dan gue lebih suka ini. Namanya Must. Biasanya Must  mulai ramai dijual menjelang  natal dan Paskah. Di saat natal , namanya Julmust. Dan di saat Paskah disebut Påskmust. Rasanya ya sama aja, cuma beda di warna kemasannya. Kalau Julmust kemasannya dominan merah sedangkan Påskmust dominan kuning.

Kalau gue hitung, dari mulai makan sampai ditutup ke menu desserts lumayan  lama juga. Mulai pukul 7 malam sampai pukul 10 malam bahkan lebih. Sepertinya sudah di setting seperti itu oleh pihak restoran. Dan biasanya, pihak restoran hanya menerima pengunjung yang sudah memboking meja sebelumnya, jadi tidak menerima pengunjung lain lagi. Dan selalu penuh sih.

Perusahaan atau kantor di Swedia pun tidak sedikit yang mengadakan Julbord. Seperti kantor suami gue misalnya, hampir setiap tahun mengadakan acara jamuan seperti ini. Dan biasanya pihak perusahaan menggunakan jasa restoran untuk mempersiapkan menunya.

Sebenarnya, beberapa restoran yang tidak terlalu besar pun, kadang suka juga mengadakan Julbord. Cuma ya itu, biasanya jenis makanan yang disajikan tidak terlalu banyak dan lumayan terbatas. Dan  biasanya lagi, kalau beruntung, bisa langsung datang tanpa ngebooking meja terlebih dahulu. Bahkan ada yang mengadakan acara Jultallrik, jamuan natal yang tidak memakai sistem prasmanan. Tapi sudah dijatah di piring. Sistem ini sepertinya kurang banyak diminati, karena sistem prasmanan justru memberi sensasi tersendiri karena bebas memilih menu makanannya.

Tahun ini, kami mencoba Julbord yang diadakan oleh sebuah restoran kecil tidak jauh dari rumah. Restoran tua. Bangunannya sih yang tua, tapi restoran ini hanya aktif di saat musim panas saja. Entah mengapa tahun ini mereka berniat mengadakan Julbord. Harganya relatif murah. Sekitar 250 Sek perorang. Tapi seperti yang gue bilang di atas, jenis makanannya terbatas. Kualitas makanan jujur memang agak jauh ketinggalan dibanding restoran besar yang biasa mengadakan acara seperti ini. Chef yang nangani beda kali ya. Tapi suasananya itu loh, gue suka banget. Namanya restoran tua ya, meskipun letaknya di pinggir jalan, tapi menyendiri gitu di dekat hutan, jadi berasa sepi banget. Serasa makan di antah brantah mana, tapi kok ya kaya di film film juga. Gimana dong. Hahaha.

FullSizeRender (10).jpg
Restoran tua yang rustic banget. Lihat deh potongan kayu dan  lilin di depan pintunya,  padahal biasa banget kan, tapi enak aja dilihat.
IMG_5650.JPG
Christmas Table Decoration
IMG_5658.JPG
Simple dan klasik

Baik luar maupun dalamnya klasik banget. Dinding bangunan terbuat dari  batu tua, tetapi begitu masuk semuanya dominan kayu. Kayu tua lagi. Mana ada fire place bahelanya, hangatnya enak aja gitu di dalam. Aroma kayu bakarnya juga enak dicium. Tradisional bangetlah. Mejanya dikasih pot rustic berisi rumput hutan, dan tidak lupa lilin tentunya. Ahhh suka 🙂

Berhubung suami memang penggila Julbord, jadi kurang puas rasanya tidak mencoba Julbord yang benar benar lengkap. Rencananya, kalau tidak ada halangan, kami akan mencoba Julbord di sebuah restoran kapal. Dimanakah? Tar ya ditunggu aja di tulisan berikutnya.

img_5654

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

LUSSEKAT (ROTI LUCIA)

Menjelang Hari Lucia atau Lucia Day, toko bakery maupun supermarket di Swedia mulai banyak menjajakan satu jenis roti, yang bisa dibilang tidak setiap saat bisa ditemukan. Roti musiman ini hanya muncul di sekitar bulan November sampai hari Lucia Day tiba di bulan Desember. Roti yang dikenal dengan sebutan Lusekatt (Lucia Cat) atau Lussebulle. Kenapa sampai diberi nama Lussekat (Lucia Cat), gue juga ga ngerti. Apa hubungannya dengan kucing. Mungkin ada cerita dibalik nama tersebut? Entahlah, sampai sekarang gue belum menemukan jawabannya.

FullSizeRender (7).jpg
Lussekat yang dibeli dari toko bakery, permukaan dan bagian dalamnya kering banget. Gue ga gitu suka.

Lussekat memiliki bentuk dan warna yang lumayan unik. Menyerupai hutuf S atau angka 8, dengan warna kuning keemasan. Tidak hanya toko bakery, kalangan keluarga pun lumayan suka membuat sendiri roti ini di rumah.

Karena mengandung bahan rempah yang berasal dari Saffran atau saffron, membuat rasa dan aroma roti ini menjadi khas banget. Saffron merupakan  jenis rempah berwarna merah, yang berasal dari putik bunga Crocus Sativus. Konon saffron di klaim sebagai rempah termahal di dunia menurut versi negara Barat. Bisa jadi bener, karena berat setengah gram bubuk saffron bisa dihargai 20 Sek atau sekitar 30 ribu rupiah. Kebayang kan, jika sekilonya bisa mencapai belasan atau puluhan juta rupiah. Untuk gambar saffron bisa cek di Google ya.

Saffron akan berubah warna menjadi kuning ketika dicampur dengan bahan makanan lain. Hal ini disebabkan karena rempah ini mengandung zat pewarna alami yang disebut Crocin, yang membuat makanan menjadi kuning keemasan. Seperti Roti di bawah ini contohnya, warna kuningnya berasal dari saffron. Konon, aroma dan warna safron yang mahal inilah, yang membuat roti Lucia menjadi terkenal.

FullSizeRender (5).jpg
Lussekat yang gue beli di pasar natal tradisional. Lebih lembut dan permukaannya lebih terlihat berlemak dan tidak terlalu kering. Homemade. Warna kuningnya berasal dari saffron.
img_5763
Bagian dalam roti yang berwarna kuning.

Bagaimana dengan rasanya? kalau pertanyaan ini ditujukan ke gue, pasti gue jawab kurang enak!  Menurut gue, rasa dan aromanya sedikit aneh. Bau obat. Hahahha. Tapi jika ditanya ke sebagian besar warga Swedia (terutama warga lokalnya), Lussekat bisa menjadi salah satu roti yang lezat dan harum. Beda selera.

Roti sobek sepertinya lebih bersahabat di lidah gue. Tapi gue punya cara sendiri untuk bisa menikmati Lussekat. Makannya gue campur ice cream. Dan lumayan cocok. Jadi aroma saffronnya tidak begitu tajam. Seperti makan es krim kampung jaman doloe. Pakai roti. Hahahahha.

Wokehhhh…see you in my next story

FullSizeRender (9).jpg

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Tradisi Advent Calender di Swedia

Banyak sekali tradisi di minggu adven yang nyaris tidak pernah gue rasakan ketika berada di Indonesia. Bahkan Advent Calender pun, baru benar benar gue nikmati setelah stay di Swedia . Hal inilah yang menyebabkan, mengapa gue lumayan sering menulis beberapa  tradisi di Swedia, yang dijalankan di minggu adven. Yang kalau mau jujur, masih terbilang baru buat gue.

Kali ini gue akan bercerita tentang Advent Calender, semacam penanggalan Kristen yang dimulai dari tanggal 1 Desember sampai dengan tanggal 24 Desember. Biasanya, hitungan tanggal pada Advent Calender, diisi dengan kegiatan membuka bingkisan yang terdiri dari 24 kotak, atau bisa juga dalam bentuk bungkusan lainnya. Dan bingkisan tersebut tidak dibuka sekaligus, melainkan satu per satu setiap harinya. Dimulai dari tanggal 1 Desember sebanyak satu kotak, demikian seterusnya sampai berakhir di tanggal 24 Desember.

IMG_5255.JPG
Satu kotak bingkisan Advent Calender, di dalamnya terdiri dari kotak kotak kecil berisi asesoris.

Kegiatan membuka bingkisan ini, awalnya diperuntukkan bagi kalangan anak anak saja. Tujuannya agar mereka tidak terlalu bosan menunggu lama, akan iming iming hadiah natal dari Santa di tanggal 25 Desember. Untuk mengisi kejenuhan itulah, akhirnya disediakan satu kado kecil setiap hari. Biasanya berisi permen atau coklat.

Namun, lagi lagi yang namanya jaman semakin maju, rasanya permen dan coklat sudah tidak cukup untuk membuat anak anak lebih bersabar menunggu sampai natal tiba. Kemudian tahun demi tahun tradisi ini pun mulai kental dengan aroma bisnis dari kaum kapitalis. Tidak sedikit bingkisan berisi barang mainan, yang harganya bisa dibilang relatif mahal.

Dan tidak hanya itu, bingikisan Advent Calender pun mulai bergeser ke kalangan remaja maupun dewasa, yang berpeluang mendapatkan Advent Calender. Apakah kalangan remaja dan dewasa ini sudah tidak cukup sabar menanti hadiah natal yang sesungguhnya? Jawabannya tentu saja tidak. Yang jelas, kegiatan ini hanyalah sebuah keseruan belaka. Tidak bisa dipungkiri, ada sedikit sensasi yang dirasakan ketika membuka kotak demi kotak setiap harinya.

IMG_5263.JPG
Salah satu asesoris liontin di dalam kotak Advent Calender. Berbentuk tas biru dengan size yang imut banget. Hahaha

Gue sendiri sudah merasakan sedikit keseruan itu, tepatnya ketika melihat kegiatan Julskyltning tahun lalu. Sangkin asiknya melihat santa, tanpa gue sadari, ternyata suami diam diam membeli satu kotak bingkisan Advent Calender. “This is nothing, just for fun”, itulah kalimat yang terucap ketika suami menyerahkan sebuah kotak sederhana ke tangan gue.

Lumayan terharu sih. Sekalipun gue tahu sebagian besar Advent Calender hanya diberikan kepada anak anak, tapi gue tidak terlalu ambil pusing. Gue cuma melihat sisi baik dan niat suami yang berusaha memperkenalkan gue dengan tradisi yang dia tahu tidak begitu familiar dengan kehidupan gue dulu. Seperti yang dia bilang, isinya tidak seberapa. Dan jujur sampai sekarang pun, tidak ada dari isi bingkisan itu yang bisa gue pakai, karena memang tidak terlalu suka dengan asesoris. Lebih suka berlian gue mah. Hahahah. Minta dijewer!

img_5270
Liontinnya berbentuk sepatu. Imut juga.

Sebenarnya lucu lucu sih bentuknya. Mungil mungil banget. Ada liontin bentuk sepatu, tas, pohon natal, simbol salju, bahkan cincin mutiara. Sebenarnya kalau mau dipakai sesekali cantik juga. Cuma ya itu tadi, gue ga gitu suka pakai perhiasan asesoris.

Tapi memang lumayan serulah,  ketika setiap hari  membuka kotak satu demi satu. Hari ini apa ya, atau besok apa ya. Bahkan gue pernah ga sabar, gue buka sekaligus untuk dua hari. Walaupun kadang,  gue juga suka lupa. Kalau banyak kerjaan, sampai beberapa  hari isi kotaknya ga dibuka. Hahaha. Tapi setidaknya, ada baiknya suami kasih bingkisan itu. Jadi gue bisa tau, tradisi Advent Calender yang sesungguhnya. Lalu tahun ini dapat ga? Udalah ga perluuuuuuuu! Kecuali isinya berliannnnn. Mauuuuuu!

So, kalian sudah pernahkah merasakan serunya membuka bingkisan Advent Calender?

img_5257-1

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

Tradisi Julskyltning di Kota Mora

IMG_5098.JPGSeperti biasamenjelang natal, sebagian besar toko toko, store dan shopping mall, berlomba lomba membuat dekorasi natal seindah mungkin. Tidak terkecuali dengan pusat perbelanjaan di sebagian besar wilayah Swedia. Bahkan kegiatan seperti ini, sudah menjadi  tradisi  yang berjalan sejak ratusan tahun silam. Tepatnya dimulai sejak tahun 1800. Tradisi yang dikenal dengan nama Julskyltning, baca Yulhultning. Sengaja gue kasih tau, biar ga susah bacanya. Biasalah, penulisan dan pengucapan bahasa Swedish itu suka ga sama. Makanya sampai sekarang gue ga tamat tamat dengan bahasa mereka. Malas belajarnya. Hahaha. Wokeh lanjut!

IMG_5070.JPG

Julskyltning sama artinya dengan Christmas Decoration. Atau lebih lengkapnya lagi, sebuah kegiatan dimana toko toko atau pusat perbelanjaaan, menghias atau mendekor display kaca toko mereka, agar terlihat cantik dan menarik di mata pembeli. Kaca toko biasanya diisi  contoh persediaan barang  yang mereka jual, yang nantinya bisa juga digunakan sebagai kado natal atau christmas gift. Selain contoh barang, biasanya display kaca toko juga dilengkapi hiasan warna warni khas natal, seperti patung santa, bintang bintang, lampu lampu, dan sebagainya.

IMG_5071.JPG

Menurut Wikipedia, tradisi Christmas Decoration di Swedia, awalnya dijalankan di minggu adven ketiga atau keempat. Namun berbeda dengan jaman sekarang, demi kepentingan bisnis, tradisi ini mulai bergeser. Dibuat lebih awal, yakni di minggu pertama adven. Bahkan konon katanya, NK (Nordiska Kompaniet), sebuah department store company besar dan bergengsi di Stockholm, yang terkenal dengan barang barang brandednya, sudah memulai kegiatan ini seminggu atau sebelum minggu adven tiba.

IMG_5078.JPG
Salah satu toko dengan dekorasi natalnya

Long time ago,  toko toko belum sebanyak sekarang. Biasanya, sehari sebelum Julskyltning tiba, display toko dihias tanpa ada orang yang melihat. Dan kaca toko ditutup tirai. Jadi sebelum Julskyltning dimulai, orang orang tidak ada yang tau, bagaimana bentuk hiasan dan barang natal yang akan dijual. Berbekal rasa penasaran yang tinggi, meskipun jam waktunya belum dimulai, anak anak sudah berkumpul di depan toko, terutama toko yang khusus menjual barang mainan. Dan ketika tiba tirai dibuka, sontak mereka melihat display dengan wajah wajah mupeng (istilah anak sekarang). Suami gue masih sempat merasakan perayaan Christmas Decoration yang sangat tradisional seperti ini. Dan itu lebih seru kata dia. Hahaha, kocak ya.

Tentunya di jaman sekarang, tradisi bahela di atas sudah lumayan berbeda. Kalau boleh gue bilang sih, kegiatan Julskyltning saat ini hanyalah meneruskan istilah yang sudah pernah ada. Karena kenyataannya, kaca depan toko sudah dihias dan bisa dilihat sebelum  Julskyltning dimulai.

Seperti di kota Mora misalnya, Julskyltning dijalankan tepat di Minggu pertama Adven. Tapi seminggu bahkan jauh hari sebelumnya, walaupun tidak semua, sebagian besar kaca kaca toko sudah penuh dengan berbagai dekorasi natal. Dan dekorasi ini tetap dipakai sampai Julskyltning tiba. Makanya ga heran, seperti gue misalnya, karena sebelumnya sudah kadung melihat, jadi pas tiba waktunya berasa biasa aja. Mungkin ada sih yang belom sempat melihat, dan pas Julskyltning tiba,  semuanya tetap terlihat menarik. Cuma Mora kan kota kecil, rasa rasanya orang pasti ngelewati centrumnya paling ga seminggu sekali. Gue aja yang tinggal di desa kecil bisa dua kali seminggu ngunjungi kota ini. Apalagi yang tinggal di kota. Tapi di jaman sekarang, bukan hanya dekorasinya sih yang harus menarik, tapi penawarannya juga. Seberapa besar discount barang yang ditawarkan. Hahaha.

img_5086
Lucu gaunnya 

Kegiatan Julskylning di Mora, tidak sebatas pada dekorasi natal dan contoh barang di kaca toko saja. Melainkan dimeriahkan oleh pedagang tradisional, yang menjajakan barang dagangannya di meja kayu yang sangat apa adanya. Selain orang tua, pedagang musiman ini juga diikuti muda mudi sekolah. Barang yang dijual kebanyakan homemade. Baik itu makanan berupa coklat, roti, permen dan minuman khas natal seperti Glögg, sampai pernak pernik kerajinan tangan.

img_5073
Pedagang tradisional

Kalau boleh menebak, mungkin sebagian besar orang yang datang, memiliki selera yang sama dengan gue. Lebih tertarik dengan dagangan tradisional di sekitar jalanan luar toko. Belum lagi suasana di sekitar, seperti pohon pinus yang sengaja didirikan di beberapa tempat, polos tanpa hiasan apa apa, tiang kayu yang terlihat sudah tidak fresh, gemericik api kayu bakar di tengah jalan, dan cahaya lilin di sebagian besar pintu toko, berbaur dengan dinginnya cuaca plus aroma asap dari kayu bakar, buat gue semua itu punya sensasi sendiri. Sederhana namun nuansa klasiknya berasa.

Satu hal lagi, di setiap kegiatan Julskyltning, pedagang caramel apple tidak pernah absen meramaikan kegiatan. Dan seperti biasa lagi, gue pasti beli. Bukan karena suka apelnya, tapi suka ngejilati caramelnya. Hahaha.

img_5081
Pedagang tradisional di acara Julskyltning kota Mora
IMG_5088.JPG
Suasana kota Mora di acara Julskyltning. Sederhana tapi gue suka

Kadang gue suka mikir, Swedia itu suka banget membuat kegiatan dengan istilah yang berbeda tapi in the fact kegiatan satu sama lainnya beda beda tipis. Intinya sih jualan jualan juga. Seperti Julskyltning di kota Mora ini, kok kayanya malah lebih mirip dengan tradisi pasar natal atau JulmarknadTapi at least bisa menjadi bahan hiburanlah daripada benjol. Hahaha. 

Agar terlihat lebih menarik, Julskyltning pun turut dimeriahkan santa clause. Anak anak bisa foto bareng bersama santa. Bahkan kuda kuda sengaja disiapkan untuk membawa anak anak keliling sekitar centrum. Disamping itu, kegiatan pemilihan putri Santa Lucia, merupakan acara yang selalu diselipkan di setiap kegiatan Julskyltning di kota Mora. Sayang tahun ini gue ga bisa melihat semuanya, entah mengapa badan gue kurang fit, dan cuaca juga dingin banget. Ga kuat berlama lama di luar.

Di kota Mora, tradisi Julskyltning bukan lagi sekedar dekorasi natal yang indah, tapi lebih menikmati suasana klasik dari acara hiburan di sekitar jalanan di depan toko. Begitulah kira kira.

IMG_5097.JPG

IMG_5079.JPG
Kuda yang bisa dinaiki anak anak.

img_5099

Di akhir bulan November dan Desember, aktivitas di blog ini lumayan meningkat. Penting ga penting, semua kegiatan dan tradisi natal yang gue kunjungi akan gue tulis. Hahaha. Lumayan mengisi waktu luang di saat gelap yang membuat lelah hati. Gue ga butuh dopping, tangan lagi on banget buat nulis. Fiuhhh.

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Tradisi Minggu Adven di Swedia

Adven di dalam gereja kristen artinya periode sebelum natal. Berasal dari bahasa Latin yaitu Adventus yang artinya Kedatangan. Adven selalu dimulai pada hari minggu yang terdekat dengan tanggal 30 November (antara 27 November dan 3 Desember) dan berlangsung sampai malam natal 24 Desember. Setiap tahun panjangnya masa Adven pertahun berbeda beda, tetapi selau terdiri dari 4 minggu.

img_4654

Buat gue pribadi, Minggu Adven merupakan minggu yang lumayan menghibur. Lebih bersemangat, karena ada yang gue tunggu, Natal. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, kadang membuat rindu. Ingat masa masa di waktu kumpul bersama keluarga. Ingat orangtua yang sudah tiada juga. Tapi sebisa mungkin, gue menikmati semuanya dengan kehidupan yang ada, tentunya bersama si gendut gue, yang memiliki semangat yang sama menyambut natal.

Tahun ini adalah tahun ketiga, gue merayakan minggu adven di Swedia. Perayaan yang lumayan berbeda jika gue bandingkan dengan perayaan adven di Indonesia.  Di minggu minggu adven, Swedia memiliki tradisi yang dikenal dengan Adventsljulsstake yaitu sebuah tradisi menyalakan lampu berbentuk lilin yang umumnya terdiri dari delapan buah lilin.

img_4657
Lampu adven

Susunan lilin dalam lampu ini memiliki arti. Bila lilin dihitung dari bagian kiri maupun kanan, maka jumlahnya akan berakhir di hitungan angka empat. Hal ini berangkat dari filosofi minggu adven yang memang terdiri dari empat minggu, sebelum natal tiba.

IMG_4647.JPG
Lampu adven di jendela rumah
IMG_4651.JPG
Lampu adven di jendela rumah

Lampunya unik, sebagian besar disusun mulai dari yang terendah hingga yang paling tinggi. Mengapa? Karena tradisi menyalakan lampu adven,  berhubungan dengan kebiasaan menyalakan lilin sebanyak empat buah di minggu minggu adven. Yang mana lilin lilin tersebut tidak dinyalakan sekaligus, melainkan secara bertahap. Seperti gambar di bawah ini.

Di minggu adven pertama dinyalakan satu lilin. Biasanya dinyalakan tidak sampai habis, paling tidak ukuran lilin berkuranglah. Minggu kedua, dua lilin (sisa lilin pertama plus lilin kedua). Minggu ketiga, tiga lilin (sisa lilin pertama, kedua dan lilin yang ketiga) dan minggu ke empat, empat lilin (mulai dari sisa lilin pertama, kedua, ketiga dan lilin ke empat). Jadi logikanya, lilin yang terlebih dahulu dinyalakan otomatis ukurannya akan lebih rendah, dan lilin terakhir akan terlihat lebih tinggi. Yang jika disatukan akan terlihat seperti garis miring atau berbentuk segitiga.

IMG_4650.JPG
Lilin yang dinyalakan selama minggu adven. Susunannya terlihat miring dan sekilas seperti bentuk lampu adven kan (setengah bagiannya). Yang paling rendah dinyalakan di minggu pertama dan yang paling tinggi dinyalakan di minggu keempat.

Seiring waktu,  bentuk klasik lampu ini pun mulai banyak mengalami perubahan. Lebih dimodifikasi tepatnya. Ada yang susunannya mendatar, ada yang jumlah lilinnya lima, ada dalam bentuk santa, bintang, pohon natal, sampai bola lampu biasa. Apalagi  di jaman sekarang, menyalakan lampu adven sudah dianggap seperti tradisi tahunan yang bersifat umum, tanpa harus  melihat latar belakang agamanya. Dan gue sendiri pun tidak terlalu pusing juga sih, mau model klasik apa ga. Gue juga beli yang modelnya modern. Abis cakep. Hahaha.

IMG_4660.JPG
Lampu adven dipadukan dengan santa.
IMG_4661.JPG
Lampu adven model santa.

Idealnya lampu adven dinyalakan tepat di minggu pertama Adven, tapi tidak sedikit juga yang sudah menyalakannya sebelum minggu Adven tiba. Termasuk gue. Biasanya sehari atau dua hari sebelum minggu adven, gue sudah mempersiapkan lampu lampu ini di rumah. Bukan apa apa, malas aja pas harinya ribet masang lampu sana sini. Habis banyak banget, sampai duabelas jendela.

IMG_4659.JPG
Lampu advennya lumayan banyak karena dipasang pada setiap jendela.

Malah gue punya tetangga, yang sudah menyalakan lampu adven seminggu sebelum adven tiba. Bisa dimaklumi, lampunya memang cantik. Baik model dan cahayanya, bikin suasana rumah lebih meriah. Namun sebagain besar warga di desa gue, selalu menyalakan lampu ini benar benar pas di minggu pertama adven. Jadi begitu tiba harinya, sontak semua jendela seragam  memiliki lampu adven. Cakep!

Jika kamu berkunjung ke Swedia di bulan Desember, apalagi di kota kota kecil yang masih menjalankan tradisi Adventsljulsstake dengan baik,  lumayan mudah melihat lampu lampu adven menghiasi  jendela rumah dan apartemen. Bahkan gedung perkantoran, bank dan rumah sakit pun tidak ketinggalan, turut memasang lampu ini. Dan tidak hanya satu jendela, rata rata setiap jendela ada lampu advennya. Jika dilihat dari luar memang menarik sekali. Karena setiap jendela ada lampu dengan model yang hampir sama.

FullSizeRender (1).jpg
Lampu adven di salah satu cafe
FullSizeRender (2).jpg
Lampu adven di salah satu gedung bank

Selain menyalakan lampu dan lilin, minggu adven juga diramaikan dengan beberapa jenis bunga yang lumayan banyak dijual di toko florist dan supermarket. Kebanyakan jenis bunga  umbi umbian, seperti Amarylis atau di Indonesia lebih mirip bunga Bakung.

Selain itu ada juga Julstärna, atau dikenal dengan bunga Poinsettia,  bunga yang memang sangat familiar di minggu adven sampai natal tiba, hampir di banyak negara sepertinya. Bunga berwarna merah ini memang cantik, warna merahnya segar. Sekilas juga seperti berbentuk bintang. Perpaduan warna merah dan hijaunya, membuat Poinsettia  sangat cocok menjadi pelengkap minggu adven dan natal.

IMG_4664.JPG
Bunga Poinsettia

Dan yang lebih seru lagi, tidak sedikit yang sengaja memasang pohon pinus di halaman rumah,  lengkap dengan hiasan lampunya. Bahkan ada juga yang memasang lampu di dinding atau atap rumah. Alhasil  suasana gelap lumayan tertolong dengan cahaya lampu lampu ini.

img_4668
Candle

Sebenarnya masih ada beberapa kegiatan/tradisi lain di Swedia, yang dijalankan di minggu adven menjelang natal tiba. Akan gue tulis satu persatu nantinya. Di tunggu saja ya.

Selamat menjalankan Minggu Adven buat yang menjalankan.

img_4653

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”

Christmas Market (Julmarknad), Pasar Musiman Menjelang Natal Tiba

Menjelang natal di bulan Desember, pasar musiman Christmas Market (Julmarknad), biasanya bermunculan di berbagai tempat di Swedia. Pasar ini mulai ramai di minggu minggu adven. Bahkan sebelum memasuki minggu adven pun, beberapa tempat sudah melakukan kegiatan christmas market. Salah satunya seperti di desa tempat gue tinggal. Satu minggu sebelum minggu pertama adven, kegiatan christmas market sudah dilakukan.

Gue lumayan suka mengunjungi christmas market. Sekalipun cuma diadakan di desa kecil, dan tidak  seramai/sebesar di kota besar, tapi feel christmasnya ngena banget. Padahal jauh dari kesan gemerlap dan lampu lampu. Cuma melihat ranting ranting pinus digeletakin gitu aja, rasanya suasana natal sudah terwakili. Belum lagi ember kayu tua dan lilin di sekitar ranting pinus, yang terbayang langsung film film natal klasik.

Apalagi barang barang yang dijual, masih bertahan dengan model hiasan natal tempo doloe. Dan sebagian besar merupakan barang handmade yang dihasilkan oleh tangan tangan terampil wanita wanita sepuh desa.

Semuanya lucu lucu banget. Dan meskipun handmade, harganya juga relatif murah. Bahkan ada yang sangat sangat murah. Sepertinya kegiatan pasar natal di desa gue, keuntungan besar bukanlah prioritas, tapi lebih melestarikan tradisi yang sudah berlangsung dari jaman ke jaman. Apalagi mereka bisa kumpul dan ngobrol satu sama lain. Namanya juga desa kecil ya. Biasanya kegiatan pasar natal ini, tidak hanya diramaikan oleh warga desa gue aja, melainkan dari desa maupun kota lain.

Selain handmade, barang non handmade juga ada. Mulai dari titipan orang (minta bantu dijualkan), atau stok barang yang belum laku, bahkan barang barang yang sudah tidak dipakai lagi atau secondhand juga ada. Itulah mengapa harganya relatif murah.

Berikut di bawah ini, barang barang yang dijual, mulai dari bantal handmade, kaos kaki handmade, pernak pernik natal, candleholder sampai patung patung trolls ukuran kecil.

Walaupun bertajuk christmas market, tapi bukan berarti barang yang dijual semuanya harus pernak pernik natal. Apa saja boleh. Selain pernak pernik natal, ada juga cookies, roti, aksesoris, karpet tenun bahkan barang bekas. Meskipun barang bekas, kualitasnya masih bagus semua. Sempat sih kepikiran, pengen bergabung di acara seperti ini tahun depan, mengingat di rumah gue banyak banget barang barang yang tidak terpakai.

Tapi herannya, setiap mengunjungi christmas market seperti ini, ada saja yang gue beli. Padahal kalau dipikir pikir, di rumah juga banyak. Rasa rasanya, barang di pasar natal seperti ini kok ya terlihat lebih menarik aja gitu, dibanding pernak pernik antik peninggalan mendiang mertua di rumah.

Biasanya yang suka membuat gue kalap itu adalah printilan printilan kecil seperti candle, santa, atau pernak pernik yang lucu lucu. Apalagi kualitas barang rata rata handmade kan. Dan harganya murah pula. Jelas aja membuat mupeng. Kalau barang lain sih biasanya gue abaikan. Seperti barang modern, mending ga usah. Di shopping mall aja sekalian. Lebih banyak dan modelnya pun lebih macem macem. Kalau barang antik, buat apa, di gudang rumah juga banyak. Hahahaha.

img_4562
Barang barang yang dijual.
IMG_4565.JPG
Karpet Tenun. Ga tertarik, karena di rumah juga banyak ga kepakai. Hahaha

Nah, kemaren gue berhasil memboyong beberapa printilan yang gue sukaaaaaa banget semuanya. Harganya juga membuat takjub. Ada satu meja, yang khusus menjual candle holders handmade. Hasil kerja tangan seorang wanita dari kota lain. Terkesima gue. Rapi banget dia ngerjai. Masih muda, tapi uda punya keahlian gitu. Mulai dari patung santa, trolls, tempat lilin, semuanya cakep cekep. Malah lebih oke dari yang gue pernah lihat di salah satu store di kota Mora. Harga juga cuma 60 SEK untuk satu candle holders. Dan meja dia laris manis. Lumayan banyak yang beli. Seperti gambar di bawah ini.

IMG_4576.JPG
Candle holders berhasil dibawa pulang. Satunya 60 Sek

Masih berbau candle, gue menemukan sebuah candle holders terbuat dari kayu. Barang second. Lengkap dengan hiasannya. Segitu besar cuma 50 Sek. Permukaan kayunya mulus banget. Antik dan lucuuuu. Fotonya di bawah.

Dari meja yang sama juga, dan ini asli membuat gue gemeeeeesss. Patung nenek berkacamata yang sedang duduk di bangku. Harganya? cuma 10 Sek.  Aduh itu si nenek lucu banget deh. Seperti grandma di kartun Disney gitu. Dan bangkunya itu loh yang buat ga nahan. Fotonya juga di bawah ya.

Di bagian lain, nemu pedagang pernak pernik santa. Ohh my God, santanya pengen gue tempelin di ketiak. Hahaha. Empuk banget dipegang.  Berbahan rajutan dan rajutannya rapi pula. Kata yang jual, dia buat sendiri. Ngiri gue, pengen bisa buat kaya gituan. Tadinya mau ambil satu doang, tapi ga boleh. Kata yang jual, santanya satu keluarga, bapak ibu dan anak. Hahhahaha. Untuk tiga santa dihargai 30 Sek. Ya udalah gue sambar langsung.

Ada juga sleepers wool handmade. Harganya sekitar 150 Sek. Nyaman banget dipakai di kaki. Dan sudah pasti hangat ya. Ketika gue nawar,  malah diketawain ama suami dan si penjual. Jangan ditawar lagi katanya. Karena ngebuatnya aja uda ribet banget. Harga 150 Sek  termasuk murah jika harus dibeli di toko handmade. Bisa dua atau tiga kali lipet harganya.

Nah, di meja lain, ketemu grandma yang menjual stok barang lama. Ceritanya sebagian barangnya belum laku. Nemulah sarung tangan yang lagi lagi berbahan rajutan. Handmade juga. Cuma 50 sek. Ooalaaaa, mana warnanya gue suka. Berbau christmas gitu. Langsung tarik mangggg. Selain itu, si grandma juga menjual beberapa tempat lilin mungil. Cuma 10 Sek. Padahal lumayan antik menurut gue. Terbuat dari besi. Ada lima buah tempat lilin,  model dan warnanya sama. Pengen gue beli semua, tapi buat apa coba sebanyak itu kalau model warnanya sama *Baguslah ya masih sempat waras*

Itulah enaknya kalau mengunjungi pasar natal di desa kecil. Rata rata yang jual uda pada sepuh. Dan mereka ini memang jago banget kan urusan kerajinan tangan. Dan satu, uang bukan segalanya lagi buat mereka. Bisa ikut di kegiatan semacam gini uda cukup menyenangkan. Setidaknya mereka juga bisa ngobrol satu sama lain.

Berikut barang barang yang berhasil gue bawa pulang. Cekidot! Hahahha

img_4567
Tempat lilin dari kayu ini antik dan unik. Suami bilang, coba aja bongkar gudang, pasti ada tempat lilin mirip mirip kaya gini. Dan seperti biasa, katanya gue pasti tidak terlalu interest. Giliran ada yang jual aja,  selalu tertarik. Rumput tetangga selalu lebih hijau kan ya. Haha
IMG_4546.JPG
Santa Family. Imut kan mereka. Rajutan tangan. Cuma 30 Sek! 
IMG_4568.JPG
Ahhhh unyuuu sekali mereka ini.
img_4569
Sleepers dari wool. Modelnya cute, hangat dan nyaman banget di kaki. Kebayangkan sleepers ini dikerjakan mulai dari bahan wool sampai bisa menjadi sepatu gini. Lop lop
img_4575-1
Sarung tangan seharga 50 Sek. Rajutan tangan.
IMG_4573.JPG
Tempat lilin seharga 10 Sek.
img_4572
Ahhhh…si grandma ini lucu sekali. Bangkunya juga ga nahan. Haha

Sleepers di kaki dan sarung tangan di tangan. SUKAAAAAA!

Ini masih pasar natal di desa gue sih. Minggu depan gue akan mengunjungi pasar natal di kota Mora. Tunggu liputannya ya. Mudah mudahan banyak yang lucu lucu. Hahahaha.

See you in my next story.

img_4471

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

 

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”