Merry Christmas from Sweden!

Rasanya belum terlambat  jika gue memposting tulisan ini. Bau natal masih berasa. Dan sebelum 2016  berakhir, tulisan bertema natal masih berlaku sah*ngotot*

Biasanya dua hari sebelum natal, gue dan suami ikutan heboh meramaikan supermarket di kota Mora. Rasanya kurang afdol, tidak merasakan euforia mendorong troli berisi keperluan natal. Mulai dari daging, bahan salad, salmon, krim, keju, roti, coklat dan entah apa lagi. Hedon! Padahal cuma berdua, tapi belanjanya segambreng. Ya sudahlah, perayaan setahun sekali. Selain doyan makan, kami berdua merupakan team kompak ketika berada di dapur. Mulai dari memasak bareng sampai menata meja juga.

fullsizerender-13

Biasanya, rumah selalu kedatangan tamu, entah siapalah itu. Bisa teman baik suami maupun tetangga yang memang hidup melajang. Jadi suka makan malam bersama mereka. Namun natal tahun ini, makan malam hanya kami nikmati berdua. Sepertinya tamu tamu itu punya acara sendiri.

Paginya, tepat di tanggal 24 Desember, kami kedatangan uncle dan onti. Kedatangan mereka tidak direncanakan. Akhirnya sarapan bareng. Karena agenda makan bersama sudah disepakati di tanggal 26 Desember.

img_8387

img_8383

Kami sarapan Risgrynsgröt (bubur nasi) dan Smörgås (open sandwich ala Swedia). Tradisi kecil yang masih dijalankan di desa gue sampai saat ini. Jadi sebelum menyantap makan malam, biasanya perut diisi dengan makanan ini dulu. Bubur nasi sederhana, yang rasa dan aromanya jelas berbeda dengan bubur ayam di tanah air. Berbahan utama beras, sedikit Smör (butter) dan susu. Konsistensi bubur sangat kental. Disantap hangat dengan taburan kanel (cinnamon) plus milk. Kalau mau divariasikan juga boleh. Ditambahkan selai blueberry atau lingonberry (ini versi gue tentunya). Rasanya memang tidak setelolet bubur ayam gerobak. Aroma dan taste origional nasi di Risgrynsgröt masih berasa banget. Yang membuat special paling bau cinnamonnya. Setidaknya di lidah gue masih dapat diterima dengan aman.

img_8553
Risgrynsgröt (Bubur Nasi) dengan taburan cinnamon dan selai blueberry

Jaman dulu, anak kecil di desa gue suka meletakkan piring berisi bubur di teras rumah. Dengan harapan, bubur akan dimakan Tomte (santa versi Swedia yang baik hati dan suka menolong). Suami tidak ketinggalan menjalankan tradisi ini. Walaupun sebenarnya bubur yang diletakin di teras, tidak pernah dimakan Tomte, karena diam diam diambil lagi sama mendiang mertua. Bahkan seorang Astrid Lindgren pun pernah menyelipkan tradisi memberi Tomte bubur di salah satu karya tulisannya. Bedanya, versi Astrid, buburnya malah dimakan rubah, bukan Tomte. Hahahaha. Cerita legenda Tomte lebih jelasnya sudah pernah disinggung di tulisan gue sebelumnya.

img_8609
Smörgås

Sedangkan Smörgås, terdiri dari roti (biasanya di saat natal menggunakan roti gandum beraroma cinnamon), dilapisi butter, dan diberi Julskinka (irisan tipis pork), dan selanjutnya suka suka aja mau ditambahkan apa. Bisa pickled, köttbullar (Swedish Meatballs) dan sedikit sentuhan mayones. Enak!

img_8415

img_8556

Sebelum makan malam dimulai, biasanya ada satu tontonan di televisi yang selalu gue tunggu. Tontonan yang sepertinya menjadi tradisi hiburan natal di Swedia setiap tanggal 24 Desember. Acara yang sangat terkenal, dan sudah ditayangin berulang ulang sejak kapan tau. Bahkan sepertinya sudah mendarah daging, tidak hanya di kalangan anak anak saja, tapi juga kaum dewasa yang sekaligus mengingatkan mereka akan kebiasaan di masa kecil dulu. Menonton Kalle Anka. Si Donal Duck dan konco konconya. Bebek yang selalu membuat tertawa walaupun cuma sebatas lambaian ekor, kumur kumur ga jelas dan nyaris tak banyak bicara. Tipikal Disneylah. Belum lagi tokoh Disney lain seperti Mickey Mouse, Cinderella, Robin Hood, sampai nyanyian manusia liliput dengan vibra suara yang kocak abis. Acara yang menyenangkan untuk dilihat. Mengutip istilah yang lagi viral, Bahagia itu sederhana! 

fullsizerender-10

Konon, televisi Swedia yang menayangkan Kalle Anka, pernah berniat ingin menghentikan acara ini. Dengan pemikiran sudah terlalu sering ditayangkan ulang. Sontak saja rencana tersebut mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Bahkan gue sempat melihat liputan dokumenternya di televisi, ketika salah satu olahragawan Swedia mengumpat kesal ke stasiun tv tersebut. Segitu hebatnya pesona kartun Disney ini.

img_8547-1

IMG_8563.JPG

Program hiburan natal di televisi Swedia memang sangat berasa. Seharian penuh bisa dibilang All About Christmas. Mulai dari film, kartun, sampai konser natal. Bahkan di tanggal 23 Desember, satu acara disiarkan secara live mulai pukul 7 hingga pukul 12 malam. Namanya Bingo, acara lotre. Tapi tetap diselipi hiburan natal. Kami iseng nyoba ikutan. Ahhh ternyata seru banget melingkari nomor nomor di kolom kertas yang sudah kami beli. Hadiahnya gila gilaan. Banyak yang menang. Beberapa orang mendapatkan Volkswagen, bahkan ada yang dapat 1 juta Sek *jilat jilat bibir* Gue nyaris menang loh, tinggal satu angka lagi,  lolos ke Canary Island *hahaha…ngimpi*

fullsizerender

Acara natal di Swedia, khususnya di desa gue, benar benar berasa justru di tanggal 23 dan 24 Desember. Keluarga mulai pada ngumpul. Mulai mempersiapkan makanan. Kalau di tanggal 25 Desember, sudah berasa hari biasa. Malah di tanggal ini, rata rata menyempatkan waktu beraktivitas di luar. Seperti Walk in the Forest. Tidak terkecuali gue dan suami. Meskipun dingin, tetap meluangkan waktu exercise ke hutan. Bukan apa apa, yang dimakan leker semua. Kalau tidak dibawa jalan, suka bloon sendiri. Hahaha.

img_8413
Ketika Nastar dan Skippy Cookies bersanding 🙂

Apalagi yang tinggal di kota besar, yang sengaja datang merayakan natal bersama orang tua di desa, di tanggal ini kebanyakan menikmati ekolife di sekitar forest. Bahkan ada yang berburu. Gila ya, padahal masih natal beneran itu. Sempat sempatnya berburu. Aroma natalnya langsung bye bye.

img_8412
Anyone?

Sejauh ini, gue sudah bisa menikmati sebagian besar menu natal di Swedia. Mulai dari Julskinka, Köttbullar, Rödbetssallad, Salmon, Jansons Frestelse, Ägg Halvor, dan masih banyak lagi. Menu natal yang leker dan delicious menurut gue. Di saat natal seperti ini, siap siaplah menggemuk. Makan coklat (untungnya gue ga gitu doyan coklat sekarang), minum Julmust (soft drink khas natal), hingga Glögg (minuman wine dengan aroma rempah yang tajam berisi almond dan russin). Akan gue tulis secara detail di tulisan berikutnya.

fullsizerender

Untuk kue kering, Swedia memiliki Pepparkaka, sejenis kue kering tipis, beraroma dan bercitra rasa kanel (cinnamon/kayu manis) dan Ingefära (jahe). Bentuknya macam macam. Bisa bulat, bentuk love, snowman, suka sukalah. Tapi gue jarang menyediakan ini di rumah. Kurang suka. Gue malah rutin membuat nastar dan skippy cookies. Suami juga suka. Sedikit sensasi Indonesialah. Baideway, dua hari berturut melahap menu natal, bikin perut teriak “Tan, Indomie Tan! 

fullsizerender-12

Sehabis makan malam, biasanya dilanjutkan dengan kegiatan membuka kado natal. Di Swedia, kado natal dibuka di saat Christmas Eve (malam natal). Jadi bukan di tanggal 25 Desember. Tahun ini masih seperti tahun sebelumnya. Meskipun ada satu kado yang memang gue minta langsung ketika berdua suami di sebuah store. Sempat juga membuat list, kado apa yang gue pengen. List yang lumayan kurang ajar sih, makanya sukses ditolak. Hahaha.

img_8561

IMG_8519.JPG

Satu hal yang setidaknya menurut gue lucu, ketika ke kota dan berniat mencari kado untuk suami dan uncle/onti (kado buat gue sudah dibeli suami jauh hari sebelumnya), secara blak blakan gue bilang ke suami kalau pengen beli sepasang sepatu untuknya. Sudah niatlah. Singkat cerita, kami masuk ke toko sepatu langganan. Begitu masuk, yang ada gue malah tertarik mencoba sepasang boots yang modelnya gue suka. Sibuklah nyobain kiri kanan. Sambil nyobain boots, gue meminta suami memilih model sepatu seperti apa yang dia suka.

Suami pun nemu sepatu kesukaannya. Cek harga, puji Tuhan tabungan masih cukup. Dan jreng jreng jreng….pas bayar ke kasir, suami  malah mengambil boots dari tangan gue. Katanya dia yang bayar sebagai kado natal. What! senang bangetlah coyy!

Jadi lucunya itu karena, gue bayar sepatu buat suami dan suami bayar boots buat gue. Dan lebih lucunya lagi, kami tetap meminta kasir membungkus masing masing kotak sepatu sebagai hadiah natal. “Biar kami ada kegiatan di malam natal” kata suami kepada si kasir sambil tertawa. Maklumlah, natal hanya kami habiskan berdua. Tidak ada keluarga besar. Jadi dibuat sebahagianya kami aja. Dengan cara kami tentunya. Yang pasti, acara buka kado di malam natal kemaren, sebenarnya buat gue pribadi sudah tidak surprise lagi. Karena gue sudah tau isinya. Kecuali kado yang sudah dibeli suami jauh hari sebelumnya. Mau tau apa? Taraaaaaaaaa…….. ini dia!

img_8596

Dikadoin sebuah Tripod. Senang sih. Artinya suami mendukung gue. Tapi jujur, untuk sekarang rasanya gue belum terlalu membutuhkan tripod. Sejauh ini sudah cukup puas dengan hasil jepreten sendiri tanpa bantuan tripod. Apalagi memakai tripod rasanya kok ribet. Harus nempelin dolo, ngencengin. Tapi namanya pemberian, dari sebuah niat baik pula. Siapa tahu hobby photography gue semakin baik.

Seperti biasa, gue selalu nyelipin kado kado kecil ke suami. Berisi kaos kaki, underwear dan longjohn. Jadi acara membuka kado pun tidak cepat selesai. Berbeda dengan suami, tahun ini dia tidak memberi kado kado kecil lagi. Dimaklumi, tiga kado sudah sangat sangat cukup buat gue.

img_8557
Salju yang turun kira kira seminggu sebelum christmas. Coba pas christmas datangnya.

fullsizerender-11

Sayang tahun ini No White Cristmas. Padahal seminggu sebelum natal, gumpalan salju masih tebal memutih. Menjelang natal malah mencair. Ada sih sisa saljunya, tapi sedikit. Doa dan harapan gue, semoga berdua suami diberi kesehatan, panjang umur dan kesempatan melewati penghujung tahun 2016, melewati 2017 dengan segala harapan dan berkat. Semoga keluarga, kerabat dan teman semua juga demikian adanya. Meskipun telat, buat teman teman yang merayakan natal, ijinkan gue mengucapkan Merry Christmas from Sweden! Tuhan memberkati! See you in my next story.

img_8388

fullsizerender-10

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Jumat Sore di M/S Waxholm III

Setiap tahun rasanya wajib buat gue dan suami menikmati berbagai jenis menu tradisional yang disajikan secara prasmanan di jamuan Julbord (Christmas Table). Untuk lebih jelasnya, silahkan baca di sini mengenai tradisi Julbord di Swedia. 

Kali ini kami mencoba menikmati Julbord dengan suasana yang sedikit berbeda. Di kota Stockholm, tepatnya di sebuah restoran kapal. Sengaja memilih kota ini karena berdua suami ingin melewati indahnya weekend di Stockholm. Dengan asumsi menjelang perayaan natal pasti banyak ornamen natalnya. Jadi sambil menikmati sajian Julbord sekaligus melihat semarak kota dan sekitarnya. Maklumlah anak desa 🙂

Sebenarnya kami ingin menikmati Julbord di malam hari. Berhubung penuh akhirnya suami membooking meja untuk pukul 2 siang. Dan setelah dipikir pikir waktunya lumayan cocok. Karena bisa menikmati keindahan Stockholm  baik di saat terang maupun gelap. Buat gue, melihat gemerlap lampu di saat winter sangatlah tepat. Kilaunya setajam silet. Syeettttttt!!

img_7650
Table Decoration

Ada beberapa kapal yang mengadakan acara Julbord hari itu. Tapi kami memutuskan memilih M/S Waxholm III. Kapal yang tidak terlalu besar tapi lumayan nyaman. Tepat pukul 2 siang kami masuk ke dalam kapal. Ketika pegawai memperlihatkan meja, senang sekali rasanya. Karena dari sekian meja yang ada, gue dan suami dipilihkan meja yang hanya untuk kami berdua. Tidak gabung dengan orang lain. Dan letaknya juga paling pojok. Wah…ini area yang lumayan cocok untuk melancarkan aksi foto foto tanpa rasa gusar. Tau aja kalau gue punya niat mulia. Setidaknya privacy sedikit terlindungi. Maaf…….ini penting banget soalnya. Hahaha.

Kalau ga salah ada sekitar 15 sampai 20 menit kami menunggu sampai kapal bergerak meninggalkan dermaga. Lumayan lapar sih karena sebelumnya kami sengaja tidak makan siang. Biar puas menikmati menunyalah. Sebelum kapal bergerak, gue menyempatkan waktu untuk mengambil  beberapa foto ala photographer nyasar. Haseeek…lumayan buat pamerin di blog.

IMG_7654.JPG

IMG_7651.JPG

Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya ketika berada di Julbord, disarankan terlebih dahulu menyantap menu olahan ikan. Tidak terkecuali dengan Julbord di Waxholm III. Setiap meja sengaja diberi catatan kecil berisi aturan menyantap menu Julbord yang ideal itu seperti apa. Dimulai dan ditutup dengan jenis makanan apa saja.  Mengapa disarankan demikian, gue sudah jelasin di tulisan sebelumnya.

img_7708
Catatan kecil di meja tentang cara ideal memulai santapan menu Julbord. Dimulai dari jenis ikan bernama Sill.

M/S Waxholm III mengenakan harga sekitar 750 Sek perorang. Tapi worth it dengan kepuasan batin yang didapat. Setidaknya buat kami berdua, gue dan suami. Sebelum menyantap menu, kami diberi suguhan Glögg (minuman tradisional natal yang bercitra rasa dan beraroma rempah, berisi kacang almond dan russin).

img_7652
Minuman khas natal Glögg

Dan tidak lama satu persatu menu Julbord dengan manis meluncur di mulut. Enak. Sesekali melihat view di luar kapal. Meskipun masih terbilang sore, suasana di luar sudah terlihat gelap. Kilau lampu merubah Stockholm terlihat semakin cantik.

img_7653
Menu olahan ikan. Ini enak banget
img_7655
Menu olahan daging, plus salad dan kentang
img_7656
Menu olahan daging

Secara keseluruhan menu yang disajikan memang enak. Terutama olahan ikannya. Biasanya gue hanya memilih olahan ikan salmon, tapi kali ini jenis ikan lain pun gue coba. Dan itu gue akui memang enak. Tapi ada beberapa menu yang masih kalah rasa, jika gue bandingkan dengan restoran yang sudah pernah kami coba sebelumnya. Untuk dessert, M/S Waxholm III memang menampilkan berbagai jenis cake, coklat, puding dalam banyak varian. Meskipun tidak semuanya bercitra rasa sempurna.

IMG_7657.JPG
Desserts

Tapi yang jelas, kami sangat menikmati waktu di dalam kapal. Makan enak sambil melihat keindahan Stockolm di saat winter. Buat penikmat makanan non halal, quality time seperti ini bisa menjadi pilihan ketika berada di Stockholm, khususnya di bulan Desember. Jika ingin melihat dan menikmati berbagai jenis makanan tradisional Swedia dalam waktu yang bersamaan, datanglah ke Julbord.  Apalagi diadakan di kapal seperti M/S Waxholm ini, tentu memberi nuansa hiburan yang sedikit berbeda. See you in my next story.

img_7662
View di luar kapal
IMG_7661.JPG
View di luar kapal
img_7658
View di luar kapal

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.comDilarang menggunakan tanpa seijin yang bersangkutan”

Natalan di Swedia (Sebuah Pengalaman Baru)

Tahun ini merupakan tahun ketiga buat gue merayakan natal di Swedia. Rasanya masih seperti tahun tahun sebelumnya. Tidak banyak yang berubah.

Layaknya di Indonesia, perayaan natal di Swedia diisi dengan kebaktian natal gereja dan kumpul bersama keluarga. Kalau dulu gue selalu mengikuti kebaktian malam natal di tanggal 24 Desember, berbeda halnya sekarang. Gue lebih sering mengikuti kebaktian natal di tanggal 25 Desember. Dan rata rata waktunya selalu di pagi hari (mulai dari pukul 5 subuh). Jadi kebaktian malam natal di tanggal 24 Desember justru tidak ada di tempat gue.

Lumayan rindu sih dengan suasana kebaktian malam natal yang selalu ramai dengan jemaat layaknya di Indonesia dulu. Kalau di tempat gue sekarang yang cuma desa kecil, paling bangku hanya diduduki oleh beberapa jemaat. Sisanya hanya bangku kosong.

img_6543

Selama natalan di Swedia gue belum pernah merasakan suasana kumpul keluarga seperti di Indonesia. Berkumpul dengan keluarga besar yang jumlahnya lumayan banyak. Menggelar tikar yang dalam hitungan detik langsung penuh dengan tubuh beragam size. Rasanya tikar jauh lebih nikmat dibanding sofa. Tiduran boleh, duduk juga boleh. Ketawa-ketiwi, cerita dari A sampai Z, seru seruan main kartu, dan tidak lupa sambil mengunyah kacang asin. Biasanya ada aja satu dua orang yang sukarela ribet di belakang (baca dapur) dan tiba tiba nongol “minum cola ga? kacangnya cukup ga? Ahhh rindu!

FullSizeRender (7).jpg

Sepertinya suasana yang jauh dari formalitas di atas agak sulit gue temukan di Swedia. Contohnya seperti tahun lalu tepatnya di tanggal 23 Desember 2015, kami diundang tetangga sekedar ngopi dan bermain kartu. Ada sekitar 10 orang mereka.

2.jpg

Mulai dari kakek nenek sampai cucu semuanya sudah berkumpul. Tertawa, main kartu, sambil makan kacang juga. Bedanya kacang mereka almond, sedikit lebih elit dari kacang asin berlogo burung itu. Cuma mereka tidak sedasyat keluarga gue sampai menggelar tikar segala. Cukup duduk manis di kursi. Lumayan sopan untuk sebuah acara keluarga. Ketawa mereka juga pake limit volumenya. Tidak seperti keluarga gue yang nyaringnya tanpa batas hingga ke kantor lurah. Hahaha. 

img_6501
I love it
fullsizerender
Karena santa dan rusa sudah terlalu mainstream.

Masih ingat kalau nyiapin menu natal, suasana dapur  keluarga gue selalu ramai. Ramai dengan kulit bawang, jahe, kunyit, dan bumbu bumbu lain di sekitar dapur. Ditambah hebohnya bunyi eksotik ulekan, blender dan penggorengan.

Dan semakin sempurnalah suasana berisik tadi oleh suara suara asoy yang keluar dari mulut kami. Memasak sambil mengobrol. Suara suara yang beradu dengan bunyi ulekan, blender dan penggorengan. Seandainya di Swedia bisa begitu 🙂

Buat gue semua itu menyenangkan sekali.

img_6500
Penggemar  tomte akut

Meskipun sebagian besar makanan natal di Swedia bisa dibeli dalam kondisi matang, tapi gue dan suami tetap berusaha memasak sendiri. Kebetulan kami berdua memiliki keinginan yang sama. Pengen mengingat masa masa ketika natalan bersama orang tua dan keluarga di waktu dulu.  Cuma bedanya kegiatan memasak yang gue dan suami lakukan jauh dari kehebohan suara ulekan dan penggorengan. Lebih peace. Tapi kurang asik.

IMG_8411

Namun bukan berarti natalan di Swedia tidak memiliki cerita seru. Tak sedikit keseruan natal yang gue temukan di negara ini yang justru sebelumnya tidak pernah gue dapatkan sewaktu berada di tanah air.

Salah satunya ya menghias pohon natal beneran. Kalau dulu gue biasa menghias pohon natal plastik, sekarang menghias pohon natal sungguhan. Masih fresh. Bahkan pohon natal yang gue hias bukan dibeli dari toko atau supermarket. Melainkan nyari sendiri ke hutan. Memilih mana yang cocok sampai akhirnya melihat sendiri ditebang oleh suami. Dibawa pulang lalu dihias menjadi cantik. Aromanya natural sekali. Pengalaman menyambut natal yang lumayan berbeda buat gue.

1
Pohon Gran. Nebang dari hutan. Nebang pohon bukan sembarangan ya. Biasanya dari lahan hutan sendiri dan wajib ditanam kembali. Harumnya khas. 

Kalau dulu menghias pohon natal bareng keluarga, sekarang sudah beda. Berdua doang bareng suami. Menyusun santa, bola bola, dan pernak pernik kecil ke pohon natal hingga mendekor rumah. Meskipun kalau boleh memilih gue lebih suka menghias pohon natal beramai ramai.

Dan tahun ini entah mengapa gue pengen banget memberi sentuhan klasik di rumah gue. Seperti meletakkan beberapa potongan kayu pinus di bawah pohon natal atau di dalam ember kayu yang umurnya sudah ratusan tahun.

Gue tambahkan beberapa lentera lilin. Dan hasilnya lumayan cakep. Gue suka. Ga henti gue fotoin. Fotogenik banget jadinya. Makanya harap maklum jika tulisan ini dibanjir oleh foto.

IMG_8558.JPG

img_6477
Saya sukaaa
img_6530
Sukaaaa

Tahun sebelumnya gue tidak terlalu tertarik menggunakan pernak pernik natal peninggalan mertua. Ehhh semakin dilihat kok ya semakin unik. Pernak pernik yang selain dibeli, sebagian lain juga dikerjakan sendiri oleh kedua mendiang mertua. Seperti beberapa gambar di bawah ini.

FullSizeRender (6).jpg
Wajah santa buatan mertua, dibuat dari potongan kayu Birch. Sederhana tapi apik. 
img_6527
Lucu ya. Peninggalan mertua. Mereka niat banget ngerjai beginian. Detail dan rapi. Potongan kayu mirip banget dengan kayu bakar sehari hari. Kalau diperhatikan urutannya, yang pertama mengambil batang kayu, lalu batang kayu digergaji, kemudian dibelah pakai kapak,  terakhir disusun.  Salut! 
img_6559
Dan yang ini lagi membakar sosis. Hahaha.

Di Swedia pohon natal biasanya dipasang pada tanggal 24 Desember atau bahkan di tanggal 25 Desember. Pertama agak kaget sih. Kok lama bener.

Alasannya sih selain karena natal jatuh di tanggal 25 Desember, memasang pohon natal terlalu cepat dikhawatirkan berakibat pohonnya menjadi kurang fresh di saat hari H. Dan di tanggal itu semua anggota keluarga juga sudah berkumpul. Jadi lebih asik jika bisa barengan menghias pohon natalnya. Tradisi memasang pohon natal di tanggal 24 atau 25 Desember tidak hanya berlaku di Swedia, melainkan di sebagian negara barat juga.

img_6491

Tapi perbedaan ini bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Tidak memasang pohon natal pun sebenarnya tidak masalah. Namanya juga beda negara beda kultur dan tradisinya. Meskipun pada akhirnya suami bisa memahami tradisi yang berlaku di keluarga gue dulu. Akhirnya resmilah sejak dua tahun lalu kami memasang pohon natal jauh hari sebelum natal tiba. Yaiiiiii gue melanggar tradisi di desa gue!

Gran adalah jenis pohon yang kami gunakan sebagai hiasan pohon natal di rumah. Meskipun dipasang jauh jauh hari sebelum natal, pohon ini tetap terlihat fresh. Kalaupun rontok paling cuma sedikit. Bahkan tidak mengurangi keindahan warna dan penampilannya. Dua tahun lalu malah tumbuh tunas baru dari ujung batangnya. Keren kan.

Cuma memang harus diberi asupan air setiap hari. Pemanas ruangan di sekitarnya juga sebisa mungkin disetting tidak terlalu panas.

IMG_8520.JPG

Di Indonesia meskipun sudah banyak  kalangan yang menghias pohon natal dengan lampu satu warna tapi lampu warni warni seingat gue masih digemari. Malah di jaman sekarang kelap kelipnya pun bisa disetting.  Mau dibuat lambat atau cepat.

Kalau di desa gue sepertinya pohon natal hanya menggunakan lampu one color. Warna Kuning. Lampunya juga unik. Berbentuk lilin dengan ukuran yang lumayan besar. Mungkin kalau menggunakan lampu berukuran kecil sudah tidak sebanding dengan pohon Gran yang lumayan besar dan jarak dahannya yang tidak terlalu rapat.

Karena ukuran lampunya besar otomatis sinarnya pun lebih tajam. Gue pernah nanya ke suami kenapa tidak memakai lampu kelap kelip? yang langsung dijawab “itu lampu disko”  Haha.

img_6535

Ada satu tradisi yang masih berjalan baik sampai saat ini yang justru sudah lama banget tidak gue temukan di Indonesia. Gue sempat merindukan kegiatan klasik yang menjadi bagian indah menjelang natal tiba. Jaman dimana kejayaan seorang “Pak Pos” yang mengendarai motor orange dan tas coklat butut. Suara motor yang sampai sekarang masih familiar di telinga gue. Posssssssssssssssss! dan ditangannya ada kartu natal.

Bentuknya masih ingat. Mulai dari gambar salju, rusa, santa, sampai yang paling heboh kalau kartu dibuka tiba tiba mucul gambar gambar yang bisa berdiri. Ga pinter jelasin. Kaya foto di bawah ini.

img_6747-1
Kartu natal bahela yang masih ada di rumah gue. Ini yang modelnya kalau dibuka,  langsung muncul “sesuatu” dari dalam kartu. Hahaha

Sempat merindukan kegiatan klasik ini ketika diri mulai lelah dengan ucapan broadcast berantai yang tinggal copas sana copas sini. Dan isinya hampir sama semua. Itu ke itu lagi. Jujur saja membuat gue bosen dan malah terganggu 🙂

IMG_6490.JPG

img_6549
Krans natal yang gue bikin sendiri

img_6532

Sampai akhirnya kerinduan itu terkabul. Kegiatan klasik ini masih jaya berlaku di Swedia. Bahkan suami gue masih menyimpan beberapa kartu natal yang didapat dari tahun kapan.

img_6748

Lalu bagaimana dengan tradisi kado natal? Ya namanya juga dapat kado suka suka ajalah. Dulu juga suka bikin kado di bawah pohon natal. Tapi isinya kosong. Kado kadoan ceritanya. Kalau sekarang sedikit berbeda. Ada rasa penasaran karena sudah tau kalau kado di bawah pohon natal beneran berisi.

Mungkin di Indonesia sudah lumayan banyak keluarga yang melakukan tradisi tukar kado di saat natal. Tapi setau gue belum menjadi tradisi besar. Apalagi di keluarga gue dijamin tradisi seperti ini bukanlah sesuatu yang penting. Hal yang paling menarik justru acara kumpul kumpulnya. Ditambah main sikat makanan yang tersaji di meja.

img_6550

Menurut gue seru sih. Setidaknya pengalaman baru menjelang natal tiba. Mulai hunting kado (nyari sendiri sendiri), trus penasaran suami kasih apa, sampai akhirnya kado dibuka satu satu.

Biasanya gue tidak terlalu sulit memilih kado buat suami. Yang bisa dia pakai ajalah. Seperti sweter, kemeja dan gue tambah dengan kado kado penghibur yang isinya kaos kaki, sarung tangan, hatbanie atau underwear. Setiap tahun pasti itu ke itu aja sih yang gue beli. Gue bungkus satu satu. Jadi keliatan banyak.

IMG_8547 (1).JPG

fullsizerender-5

Suami pun begitu. Selain kado utama biasanya selalu nambahin kado kado kecil. Dengan tambahan kado kado kecil ini,  acara buka kado kami jadi lebih meriah. Lebih lama. Karena pas buka yang satu, masih ada dan ada lagi kado yang lain. Padahal isinya cuma lotion muka, sabun mandi, sampai vitamin rambut. Terharu juga sih. Kadang suka mikir kok dia bisa tau vitamin rambut atau lotion gue uda habis. Ngintipnya kapan yak. Hahaha.
img_6548

Ada cerita haru yang gue dapat ketika natal dua tahun lalu. Ketika kami akan menikmati makan malam di tanggal 24 Desember, tiba tiba gue mendengar handphone suami bolak balik berdering. Tidak lama berselang suami menyuruh gue keluar. Bingung iya. Di luar gelap banget soalnya.

IMG_8383.JPG

img_6423
Gue punya kampung tomte di jendela

Tiba tiba gue mendengar suara lonceng kecil. Mulai mikir kalau suami punya rencana. Dan benar saja, ternyata gue kedatangan Tomte!

Tomte itu santa versi orang Swedia. Tomtenya pakai topeng. Jauh dari sosok santa yang imut dan lucu. Belum lagi bajunya dekil. Warna abu abu. Tapi sukses membuat gue tertawa.

Mungkin karena gue pernah bilang kalau sejak kecil gue tidak pernah didatangi santa. Karena memang tidak ada tradisi seperti itu di keluarga gue. Dan sepertinya suami berusaha ngenalin ke gue bagaimana rasanya tiba tiba didatangi santa. Jujur lumayan sukses membuat gue kaget. Tapi jadi berasa seru. Lupa sudah berumur uzur waktu itu. Meskipun di rumah tidak banyak orang, suami lumayan pinter membuat suasana menjadi lebih ramai.

FullSizeRender (10).jpg
Cemilan natal

Karena penasaran akhirnya gue nanya kenapa tomte berpakaian dekil dan bajunya tidak berwarna merah. Alkisah dulu sosok tomte digambarkan sebagai  seorang pria berbadan kecil, miskin dan hidup di hutan. Pakaian  kumal selalu menempel di badannya. Sifatnya yang suka peduli dan menolong membuat tomte disayang warga. Bangun di tengah malam hanya untuk memastikan kandang sapi warga aman dari binatang rubah atau memastikan pintu rumah warga sudah dikunci apa belum. Sehingga atas kebaikannya ini warga suka meletakkan bubur nasi di depan rumah. Setidaknya tomte bisa makan.

IMG_8413.JPG
Biar adil. Kue nastar dan skippy meramaikan natal di rumah gue. Jangan makanan Swedia aja yak! Hahaha.

Tradisi memberi bubur ini sempat dilakukan suami di waktu kecil. Malam hari bubur diletakin di teras. Bangun pagi suami  senang banget melihat bubur sudah tidak ada. Padahal diam diam sudah diambil lagi sama mertua. Dan suami percaya aja kalau bubur sudah habis dimakan Tomte. Lucu banget kalau dengar ceritanya. Dan seorang Astrid Lindgren juga pernah menyelipkan tradisi memberi Tomte bubur dalam sebuah karya tulisannya. Bedanya versi Astrid buburnya malah dimakan rubah. Hahaha.

Seiring waktu cerita klasik tomte akhirnya mulai bergeser. Santa berbadan tinggi besar, berjenggot putih bersih, berkacamata lucu, berpakain merah menyala dan rapi lengkap dengan tentengan hadiah yang menggiurkan anak anak itu, perlahan mengubah image tomte yang dekil. Jadilah tomte dipercaya oleh anak anak Swedia sebagai sosok pembagi kado yang baik hati.

Setiap tanggal 24 Desember televisi Swedia selalu menayangkan legenda si tomte. Durasi filmnya hanya 10 menit. Film lama sepertinya. Hitam putihnya sadis. Hahaha.

Dibalik rasa yang kadang rindu akan masa masa menghabiskan natal dengan keluarga besar di tanah air, tapi ada bagian lain yang mampu menghibur hati gue. Setidaknya gue bisa menghabiskan natal ibarat di negeri khayalan. Natal berselimutkan salju. White Christmas!

img_6714
Mossa, tanaman liar dari hutan. Cantik dipakai sebagai hiasan. Di toko bunga biasanya dijual menjelang natal.
img_6523
Mossa menjadi hiasan kaleng antik 

“Semua foto di dalam tulisan ini, merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

FullSizeRender

Julmarknad di Swedia (Pasar Musiman Menjelang Natal Tiba)

Khusus di bulan Desember, sebagian besar negara barat biasanya mulai diramaikan dengan berbagai kegiatan pasar musiman Christmas Market (Julmarknad). Tak terkecuali di Swedia pasar ini mulai ramai di minggu minggu adven. Bahkan sebelum memasuki minggu adven pun beberapa tempat sudah melakukan kegiatan christmas market. Salah satunya seperti di desa tempat gue tinggal. Satu minggu sebelum minggu pertama adven, kegiatan christmas market sudah dilakukan.

Gue lumayan suka mengunjungi christmas market. Sekalipun cuma diadakan di desa kecil dan tidak semeriah di kota besar tapi suasana cristmasnya langsung ngena di hati. Feelnya dapat.

Padahal jauh dari kesan gemerlap dan lampu lampu. Melihat ranting pinus digeletakin begitu saja rasanya natal sudah terwakili. Belum lagi cahaya lilin serta perlengkapan ember kayu antik di sekitarnya langsung melambungkan khayal akan cerita dongeng dan drama natal di film klasik. Autentik sekali.

IMG_4471.JPG

Apalagi barang barang yang dijual masih bertahan dengan model hiasan natal tempo doloe. Dan sebagian besar merupakan barang handmade yang dihasilkan oleh tangan tangan terampil wanita wanita sepuh desa. Dan semuanya lucu lucu.

Meskipun barang handmade harganya juga relatif murah. Bahkan ada yang sangat sangat murah. Sepertinya kegiatan christmas market di desa gue mengejar keuntungan besar bukanlah sebuah prioritas. Melainkan lebih melestarikan tradisi yang sudah berlangsung dari jaman ke jaman. Apalagi dengan adanya kegiatan musiman ini membuka peluang bagi mereka bisa berkumpul dan mengobrol satu sama lain.

Selain handmade, barang non handmade juga ada. Mulai dari titipan orang (minta bantu dijualkan) atau stok barang yang belum laku. Bahkan barang barang yang sudah tidak dipakai lagi atau secondhand juga ada. Itulah mengapa harganya relatif murah.

Berikut di bawah adalah sebagian barang barang yang dijual. Mulai dari bantal handmade, kaos kaki handmade, pernak pernik natal, candleholder sampai patung patung trolls ukuran kecil. Lucu lucu!

IMG_4564.JPG

Meskipun bertajuk christmas market bukan berarti barang yang dijual pernak pernik natal semata. Apa saja boleh. Bisa cookies, roti, aksesoris, karpet tenun. Khusus barang second hand kualitasnya masih terlihat bagus. Sempat sih kepikiran pengen bergabung di acara seperti ini tahun depan karena mengingat banyaknya barang barang yang tidak terpakai di rumah gue.

IMG_0436
Gue suka banget patung patung imut kayak gini. Lucu yak!

Tapi herannya setiap mengunjungi christmas market seperti ini ada saja yang gue beli. Padahal kalau dipikir pikir di rumah juga banyak. Rasa rasanya barang di pasar natal seperti ini kok ya terlihat lebih menarik dibanding pernak pernik antik peninggalan mendiang mertua di rumah.

Biasanya yang suka membuat gue kalap itu adalah printilan printilan kecil seperti candle, santa, atau pernak pernik yang terlihat lucu. Apalagi kualitas barang yang dijual rata rata handmade kan. Dan harganya murah pula.

img_4562
Barang barang yang dijual.
IMG_4565.JPG
Karpet Tenun. Ga tertarik karena di rumah juga banyak ga kepakai. Hahaha

Nah, kemaren gue berhasil memboyong beberapa printilan yang gue suka. Harganya juga membuat takjub. Kebetulan ada satu meja yang khusus menjual candle holders handmade. Hasil kerja tangan seorang wanita yang kebetulan khusus datang dari kota untuk meramaikan kegiatan cristmas market.

IMG_4563

Gue terkesima melihat hasil kerjanya. Rapi banget. Padahal masih muda tapi sudah punya keahlian seperti itu. Mulai dari patung santa, trolls, tempat lilin, semuanya cakep cekep. Harga cuma 60 SEK untuk satu candle holders. Dan dagangan dia laris manis. Lumayan banyak yang beli. Contohnya seperti gambar di bawah.

IMG_4576.JPG
Candle holders berhasil dibawa pulang. Satunya 60 Sek

Gue juga nemu sebuah patung nenek tua berkacamata yang sedang duduk di bangku. Harganya? cuma 10 Sek.  Aduh itu si nenek lucu banget deh. Seperti grandma di kartun disney gitu. Dan bangkunya itu loh yang buat ga nahan.

IMG_4572
Ahhhh…si grandma ini lucu sekali. Bangkunya juga ga nahan. Langsung kebayang grandma di kartun disney kan. Hahaha.

IMG_0430.jpg

Di bagian lain nemu pedagang pernak pernik tomte (santa versi Swedia). Ohh my God! tomtenya pengen gue tempelin di ketiak. Hahaha. Empuk banget dipegang.  Berbahan rajutan dan rajutannya rapi pula. Dikerjai sendiri oleh penjualnya. Ngiri rasanya pengen bisa bikin kaya gituan. Tadinya mau ambil satu doang tapi ga boleh. Karena sepaket. Ada bapak, ibu dan anaknya. Hahhahaha. Untuk tiga santa dihargai 30 Sek. Duh murahnya!

Ada juga sleepers wool handmade. Harganya sekitar 150 Sek. Nyaman banget dipakai di kaki. Dan sudah pasti hangat ya. Ketika gue nawar malah diketawain ama suami dan si penjual. Jangan ditawar lagi katanya. Karena ngebuatnya aja uda ribet banget. Harga 150 Sek  termasuk murah jika harus dibeli di toko handmade. Mahalnya bisa dua atau tiga kali lipat.

Nah, di meja lain ada yang menjual stok barang dagangan yang belum laku dari taon kapan. Nemulah sarung tangan yang lagi lagi berbahan rajutan. Handmade juga. Cuma 50 sek. Ooalaaaa mana warnanya gue suka. Bermotif christmas gitu. Langsung tarik mangggg.

Selain itu ada juga beberapa tempat lilin berukuran mungil. Cuma 10 Sek. Terbuat dari besi. Ada lima buah tempat lilin dengan model dan warna yang sama. Pengen gue beli semua. Tapi buat apa jika model dan warnanya sama *Baguslah ya masih sempat waras*

Itulah enaknya kalau mengunjungi pasar natal di desa kecil. Rata rata yang jualan uda pada sepuh. Dan mereka ini memang jago banget kan urusan kerajinan tangan. Dan uang bukan segalanya lagi buat mereka. Bisa ikut di kegiatan semacam ini uda cukup menyenangkan mereka.

Berikut barang barang yang berhasil gue bawa pulang. Cekidot! Hahahha

img_4567
Tempat lilin dari kayu ini antik dan unik. Suami bilang coba aja bongkar gudang, pasti ada tempat lilin mirip mirip kaya gini. Dan seperti biasa gue pasti tidak terlalu interest. Giliran ada yang jual aja selalu tertarik. Rumput tetangga selalu lebih hijau kan ya. Haha
IMG_4546.JPG
Tomte Family. Imut kan mereka. Rajutan tangan. Cuma 30 Sek!  Sekitar 50 ribu rupiah doang. Imutna kalian nak! 
IMG_4568.JPG
Ahhhh unyuuu sekali mereka ini.
img_4569
Sleepers dari wool. Modelnya cute, hangat dan nyaman banget di kaki. Kebayangkan sleepers ini dikerjakan mulai dari bahan wool sampai bisa menjadi sepatu gini. Lop lop deh
FullSizeRender.jpg
Sukaaakkk
img_4575-1
Sarung tangan seharga 50 Sek. Rajutan tangan.
IMG_4573.JPG
Tempat lilin seharga 10 Sek atau cuma 18 ribu rupiah. Padahal holdernya dari besi loh.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”