Musim Berburu Telah Tiba (Mengenal Seluk Beluk Berburu di Swedia dan Segala Aturannya)

Jika mendengar kata berburu kok kesannya kejam dan barbar  ya. Identik dengan sesuatu yang illegal. Sesuatu yang liar. Tapi berbeda halnya di negara Swedia, berburu merupakan kegiatan resmi dan legal. Bahkan untuk kegiatan ini, ada setoran biaya tahunan ke pemerintah daerah yang harus dibayar oleh peserta sebesar 300 sek, agar bisa mendapatkan kartu “Hunting Permit”.

Kegiatan berburu di Swedia sudah semacam tradisi. Sudah berlangsung ratusan tahun. Tak ayal memang, karena alam negara ini sangat dominan ditumbuhi hutan pinus yang menjadi hunian ternak liar dalam jumlah relatif banyak.

Menjelang musim berburu tiba, stasiun tv lokal pun turut memberitakan suasana euforianya.  Apalagi kegiatan berburu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari petani, karyawan, pengusaha, profesional, dokter, tanpa terkecuali.

Pun ketika mengajukan cuti kerja dengan alasan “akan berburu” sangat bisa dimaklumi, karena para atasan dan bawahan tak sedikit yang ikutan berburu. Jadi sudah saling mengerti. Tidak tanggung tanggung, mereka mengambil cuti hingga seminggu penuh.

Meskipun kegiatan berburu dilegalkan di Swedia, para pemburu harus mengikuti dan tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Departemen perlindungan alam/nature Swedia (Nature Vards Verket).

IMG_5232.jpg
Hunting Permit Card yang dikeluarkan Departemen Perlindungan Alam Swedia

Kapan musim berburu bisa dimulai dan berakhir?

Memasuki musim gugur atau awal bulan September. Di wilayah paling utara Swedia biasanya mendapat giliran lebih awal. Wilayah Lapland Swedia misalnya, kegiatan berburu sudah dimulai bulan September. Sedangkan di wilayah Dalarna, biasanya dapat giliran di bulan Oktober minggu kedua. Dan berakhir di bulan Januari.

Berburu besar, umumnya diikuti oeh banyak peserta. Seperti di desa tempat gue tinggal, ada sekitar 30 orang peserta.  Mereka melakukan kegitan berburu rutin dalam seminggu penuh. Tapi jika target berburu masih jauh terpenuhi, kadang dilanjutkan di lain hari. Bedanya peserta yang turut tidak sebanyak sebelumnya. Mungkin selain harus bolak balik cuti, faktor tempat tinggal juga berpengaruh. Karena tak sedikit dari peserta yang tinggal di kota besar seperti Stockholm.

Mengapa harus dimulai di musim gugur? Bukan di musim panas? 

Ada beberapa alasan. Karena memasuki musim gugur atau di bulan September, suhu udara sudah mulai dingin. Sangat cocok untuk mempertahankan kualitas daging agar tetap fresh meskipun berhari hari disimpan di rumah potong.

IMG_5216.jpg

Dan konon, antara bulan September hingga Januari, binatang liar tidak melakukan kegiatan reproduksi.  Dan mulai bereproduksi di atas bulan Januari hingga summer. Itulah sebabnya, di musim panas dilarang berburu. Karena reproduksi hewan liar di musim ini relatif aktif.  Selain itu, berburu di saat summer juga kurang baik untuk mempertahankan kualitas daging agar tetap segar.

Binatang jenis apa yang diburu?

Musim berburu di Swedia sangat identik dengan hewan liar bernama Moose atau di Swedia lebih dikenal dengan sebutan Älg atau Elk. Hewan ini masih tergolong jenis rusa, tapi berukuran jauh lebih besar dan tinggi.

Berapa banyak moose yang bisa diburu dalam setahun?

Pemerintah Swedia melalui Nature Vards Verket (semacam departemen perlindungan alam), mengeluarkan kebijakan terkait batasan jumlah hewan yang bisa diburu. Demi menjaga kesinambungan populasi hewan di masa yang akan datang.

Masing masing wilayah memiliki batas maksimal yang berbeda beda tergantung seberapa luas lahan hutannya. Contohnya di desa tempat gue tinggal, batas maksimal moose yang bisa diburu adalah 14 ekor setiap tahunnya.

Jenis moose seperti apa yang bisa diburu?

Jenis moose yang berumur tua maupun yang masih muda. Artinya jumlah moose yang sudah tua maupun muda haruslah sama. Misalnya 7 ekor moose tua dan 7 ekor moose muda. Nature Vards Verket membuat kebijakan ini agar keseimbangan populasi moose tetap stabil dan terjaga.

Seandainya hanya memburu jenis moose yang tua, populasi moose bisa membludak. Hal ini juga kurang baik bagi usaha pertanian warga yang bergerak dibidang perkayuan. Bibit pohon yang ditanam bisa cepat rusak. Atau pohon pohon yang daun rantingnya masih terbilang muda, bisa habis dilahap moose. Sementara kayu hutan merupakan komoditas penting dalam perekonomian Swedia. Selain itu, populasi moose yang tidak terkontrol dapat memicu meningkatnya rawan kecelakaan di jalan. Karena hewan hewan ini bisa saja muncul seketika tanpa terduga.

Pun jika hanya memburu moose yang masih muda tidak baik. Karena bisa mengurangi populasi moose itu sendiri.

Apakah setiap tahun target terpenuhi?

Tentu saja tidak. Berburu moose tidaklah mudah. Karena penciuman binatang ini sangat peka terhadap bau manusia. Bahkan kadang dalam dua hari berturut, para hunter tidak berhasil sama sekali. Tapi di lain hari, bisa dapat 3 ekor moose sekaligus. Jadi faktor alam dan keberuntungan juga berpengaruh.

Secara keseluruhan, para hunter jaranglah memenuhi target. Maksimalnya paling dapat 6 hingga 8 ekor dalam setahun. Atau kadang kadang bisa 10 ekor dalam setahun. Tapi tidak sering.

Jika moose lewat di sekitar rumah warga, apakah boleh ditembak?

Tidak boleh!

Tempat berburu sudah ditentukan. Jadi tidak bisa disembarang tempat. Gila aja nembak hewan di dekat rumah. Hahaha.

Apa syarat untuk suatu wilayah baru boleh melakukan kegiatan berburu?

Yang pasti wajib memiliki lahan hutan. Lahan hutan yang memang merupakan milik warga sendiri. Kepemilikian lahan hutan di Swedia terbilang unik, karena lebih dari 50 persen kepemilikannya justru dipegang warga biasa. Selebihnya baru dikuasai gereja, perusahaan, baru negara.

IMG_4492.jpg

Setiap wilayah memiliki satu komunitas berburu yang dipimpin oleh seorang leader. Dari sekian warga yang memiliki lahan hutan, biasanya sepakat jika lahan hutan yang mereka miliki digunakan sebagai area berburu.

Dan sebagai konpensasinya, mereka mendapat bayaran sewa lahan secara proporsional (sesuai luas lahan masing masing), yang mana uang ini berasal dari kumpulan biaya administrasi yang dibayarkan oleh setiap peserta, termasuklah dari si pemilik lahan sendiri.

Jadi misalnya, jika si A memiliki lahan hutan, kemudian lahannya dipakai sebagai tempat area berburu, maka si A akan mendapat konpensasi bayaran dari pemakaian lahan tersebut. Tapi berhubung si A juga turut sebagai peserta, maka dia pun wajib  membayar administrasi kepada komunitas berburu yang sudah menyewa lahannya.

Meskipun kadang, biaya adminitrasi yang dibayarkan si A tidak sebesar biaya yang dia dapat dari hasil penyewaan (jika lahan yang disewakan terbilang banyak).Lalu kenapa si A harus turut membayar? karena nantinya, si A tidak hanya berburu di lahan hutannya saja, melainkan berpindah pindah ke lahan hutan orang lain yang juga disewakan oleh sang pemilik.

Siapa saja yang bisa ikut bergabung? Dan bagaimana sistem administrasinya?

  • Pemilik lahan hutan dan anggota keluarganya. Anggota keluarga pun dibatasi hanya sampai garis suami/isteri, anak, serta menantu. Cucu, kakek,  nenek, paman, bibi sudah tidak termasuk. Diberlakukan demikian agar pemerintah lebih mudah mengontrol peserta.
  • Pihak lain yang tidak memiliki lahan hutan.

Untuk sistem pembayaran administrasinya pun berbebeda beda. Berikut rinciannya :

Misalnya si A  memiliki lahan hutan seluas 1 hingga 80 hektar, maka si A wajib membayar 1000 sek agar bisa mendapatkan 1 kartu izin berburu dari leader komunitas. Kemudian, jika si A memiliki istri/suami, anak, menantu, maka masing masing dari mereka harus membayar kepada leader komunitas sebesar 1000 sek untuk biaya izin berburu dan 1000 sek untuk mendapatkan kartu izin berburu. Jadi ada biaya untuk mendapatkan izin, dan ada pula biaya untuk mendapatkan katu izin.

Jika si A memiliki lahan yang lebih luas, mulai dari 80 hingga 160 hektar, maka si A wajib membayar 2000 sek agar bisa mendapatkan 2 buah kartu izin berburu. Dan jika si A memiliki istri/suami, anak, menantu, maka salah satu dari mereka tidak perlu membayar izin berburu, cukup membayar kartu saja sebesar 1000 sek. Sedangkan sisa anggota keluarga lainnya masing masing harus membayar sebesar 1000 sek untuk izin berburu dan 1000 sek untuk mendapatkan kartu.

IMG_5233
Kartu Izin Berburu yang dikeluarkan komunitas daerah setempat

Demikianlah seterusnya, jika si A memiliki lahan lebih luas lagi dengan kelipatan 80 hektar, maka kemungkinan besar anggota keluarga lainnya tidak dikenakan biaya izin berburu lagi, melainkan hanya biaya kartusebesar 1000 sek.

Lalu bagaimana dengan orang orang yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan si A, yang juga tidak memiliki lahan hutan? apakah boleh berburu?

Boleh boleh saja. Tapi biaya yang mereka bayarkan biasanya jauh lebih besar. Karena mereka harus membayar izin menyewa lahandari pemilik seluas 1 hingga 80 hektar.

Harga izin menyewa lahan ini biasanya lebih mahal dan tergantung kesepakatan masing masing. Setelah itu, pemilik lahan akan memberitahu leader komunitas kalau tanahnya akan dipakai berburu oleh si penyewa.  Kemudian orang tersebut harus membayar ke leader komunitas sebesar 1000 sek untuk mendapatkan kartu izin berburu.

Selain warga biasa, siapa lagi yang bisa menyewakan dan memberi ijin berburu di lahan hutan? 

Pihak pihak yang menjadi owner atas lahan hutan. Diantaranya adalah :

  • Pihak gereja
  • Perusahaan swasta yang bergerak di sektor kehutanan
  • Perusahaan milik Negara yang bergerak di sektor kehutanan

Apa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hunter?

IMG_5231.jpg

  • Minimun berumur 18 tahun
  • Memiliki senjata berizin
  • Mengikuti latihan pra berburu dua bulan sebelum hari H
  • Wajib memiliki asuransi untuk claim pertanggungan jika terjadi kecelakaan tak terduga selama berburu
  • Wajib mengantongi Hunting Permit Card dari departemen pemerintah daerah, dengan membayar iuran sebesar 300 sek pertahun (setoran ke pemerintah daerah setempat)
  • Wajib membayar Hunting Permit dan Kartu Berburu ke leader komunitas (setoran untuk komunitas berburu setempat atas pemakaian lahan hutan)

IMG_5188.jpg
Latihan berburu dua bulan sebelum hari H

Kapan seorang hunter dicabut ijinnya?

Ketika berburu tidak pada waktunya.

Dan jika seseorang berburu tanpa mengindahkan syarat dan ketentuan berburu seperti yang dijelaskan di atas, selain senjatanya ditarik, juga diproses secara hukum.

Bagaimana cara agar para hunter lebih mudah mendapatkan  Moose?

Dua bulan sebelumnya, para hunter akan melakukan meeting. Meninjau beberapa titik lokasi yang akan dijadikan tempat berburu. Contohnya, kalau ada 20 titik lokasi, maka mereka akan berpindah pindah ke 20 lokasi dengan cara mengepung atau mengelilingi semua area di satu lokasi tersebut. Ibarat lingkaranlah.

Tapi jarak masing masing hunter lumayan berjauhan. Jika tidak, moose bakalan mencium bau manusia yang terlalu banyak. Para hunter hanya duduk diam di kursi lipat yang mereka bawa. Jadi bukan berjalan jalan. Mereka dilengkapi radio talki untuk mempermudah komunikasi.

Nantinya ada satu leader yang akan berjalan dengan anjing pelacak. Anjing inilah yang akan membantu keberadaan moose di lokasi yang dikepung. Jika anjing  mencium aroma tubuh moose, maka anjing akan menggonggong. Leader harus memiliki stamina yang kuat, karena harus berjalan kurang lebih selama 9 jam menggiring anjing. Paling istirahat sesekali.

Yang menjadi persoalan, jika lokasi yang dikepung belum tentu ada moosenya. Karena pergerakan binatang ini sangat lincah. Itulah sebabnya, mengapa dalam sehari para hunter harus berpindah pindah tempat. Setidaknya,  diperlukan sekitar 9 jam dalam sehari untuk berburu. Makanya para hunter sudah harus mempersiapkan stamina dan peralatan mereka, mulai dari kursi lipat, minuman, makanan, cemilan, kopi, dll.

Kadang gue suka ga habis pikir, apa enaknya menunggu dan duduk selama 9 jam. Di hutan sepi dan dingin pula.  Tapi menurut mereka, berburu bukan sekedar menembak, tapi menghabiskan waktu dengan rasa degdegan, justru di situlah pengalaman luar biasanya.

Lalu setelah berhasil mendapat buruan, apa langkah selanjutnya?

Moose akan dibawa ke rumah pemotongan. Bayangin, setiap desa di Swedia yang melakukan aktivitas berburu tahunan pasti memiliki rumah potong sendiri. Dan itu ga tanggung tanggung besarnya. Jadi kegiatan ini memang benar benar sudah dipersiapkan. Bukan berburu asal asalan. Bisa dibilang hunter profesional. Wong cara memotong daging aja uda pintar dan lihai banget. Mereka sudah tau mana bagian daging yang cocok untuk steak, mana yang cocok untuk meatballs, mana yang harus dibuang.

IMG_5203.jpg
Rumah pemotongan di sebuah desa. Gue malas moto lagi, pakai stok foto pas winter aja.

Biasanya bagian kulit dan jeroan langsung sesegera mungkin dibuang. Tujuannya agar daging tetap fresh dan tidak gampang tertular bakteri. Lalu digantung tanpa dicuci air. Dibiarkan selama berhari hari. Mengapa? Agar tekstur daging nantinya tidak menjadi keras. Sebab jika langsung dipotong potong, apalagi langsung dimasak, daging cenderung alot dan mengeras.  

Barulah nantinya, di hari ke 7 (hari terakhir berburu), semua peserta berkumpul dan bersama sama memotong daging moose. Masing masing potongan ditempatkan secara terpisah di atas meja berlapis alumunium. Misalnya bagian fillet dada, paha, punggung, semuanya disusun terpisah. Yang diambil fillet semua.

IMG_5187.jpg
Aktivitas di rumah potong

Sedangkan bagian tulang dibuang. Rasanya sayang banget kalau melihat daging yang masih menempel di tulang iga harus dibuang. Hampir satu mobil pickup. Mengingat di pasar tradisional tanah air semuanya bisa dijual dan diolah.

1.jpg
Bagian fillet ini cocok untuk steak

Selanjutnya potongan daging tadi dibagi rata ke semua peserta. Sesampainya di rumah masing masing, para pemburu akan memotong motong kembali daging ke ukuran yang lebih kecil. Dipilah pilah bagian mana yang ada lemaknya. Bagian kikil dibuang. Daging yang agak kasar biasanya digiling untuk dijadikan meatballs maupun burger. Bagian fillet dengan tekstur lembut akan dijadikan steak.

Semua bahan daging lalu dimasukin ke dalam plastik yang masing masing beratnya disesuaikan untuk sekali masak. Diberi nama dan tahun juga, biar pas memasak tidak bingung.

Enakan mana dibanding daging sapi?

Kalau ini sih tergantung selera lidah. Tapi banyak yang bilang daging moose jauh lebih enak. Termasuk gue. Yang jelas dagingnya tidak beraroma susu. Rasanya manis. Dan dagingnya relatif empuk. Dijadikan dendeng juga cocok banget. Jika sudah merasakan dendeng moose, dendeng sapi pun jadi kurang nendang. Hehe.

IMG_5186.jpg
Yang ada lemaknya dibikin meatballs. Digiling dan dibungkus plastik untuk stok setahun

Daging moose kadar lemaknya juga rendah. Dikarenakan moose merupakan binatang liar yang memiliki pergerakan aktif. Makanannya pun rumput dan daun pohon di hutan. Dua orang peserta berburu di desa gue kebetulan berprofesi sebagai dokter. Mereka menjelaskan, jika kadar lemak di tubuh moose memang rendah.

IMG_5179.jpg
Bagian kikil ini dibuang

Satu dua restoran tradisional di Dalarna kadang kadang menyajikan menu olahan moose. Sebagai menu fine dining dengan harga yang relatif mahal. Daging moose jarang ada di supermarket Swedia, sekalipun di Dalarna. Kalau pun ada, harganya dua kali lipat harga daging sapi. Karena memang untuk mendapatkan daging moose hanya melalui kegiatan berburu dan itupun tidak bisa setiap saat dilakukan. Sementara para hunter moose sebagian besar hanya mengkonsumsi daging moose untuk mereka sendiri dan jarang diperjual belikan.

36528856164_53a14939f1_o
Dendeng daging moose
IMG_5209.jpg
Steak daging moose

Minggu depan, desa gue akan memulai kegiatan berburu selama seminggu. Dan biasanya, sebagian dari mereka melakukan tradisi makan bersama sebelum berburu dimulai. Tahun lalu, gue mendapat giliran memasak menu dinner untuk mereka. Gue menyajikan menu Indonesia!

IMG_5217.jpg

37191635286_647fd4d2fa_o.jpg

Julmarknad di Swedia (Pasar Musiman Menjelang Natal Tiba)

Khusus di bulan Desember, sebagian besar negara barat biasanya mulai diramaikan dengan berbagai kegiatan pasar musiman Christmas Market (Julmarknad). Tak terkecuali di Swedia pasar ini mulai ramai di minggu minggu adven. Bahkan sebelum memasuki minggu adven pun beberapa tempat sudah melakukan kegiatan christmas market. Salah satunya seperti di desa tempat gue tinggal. Satu minggu sebelum minggu pertama adven, kegiatan christmas market sudah dilakukan.

Gue lumayan suka mengunjungi christmas market. Sekalipun cuma diadakan di desa kecil dan tidak semeriah di kota besar tapi suasana cristmasnya langsung ngena di hati. Feelnya dapat.

Padahal jauh dari kesan gemerlap dan lampu lampu. Melihat ranting pinus digeletakin begitu saja rasanya natal sudah terwakili. Belum lagi cahaya lilin serta perlengkapan ember kayu antik di sekitarnya langsung melambungkan khayal akan cerita dongeng dan drama natal di film klasik. Autentik sekali.

IMG_4471.JPG

Apalagi barang barang yang dijual masih bertahan dengan model hiasan natal tempo doloe. Dan sebagian besar merupakan barang handmade yang dihasilkan oleh tangan tangan terampil wanita wanita sepuh desa. Dan semuanya lucu lucu.

Meskipun barang handmade harganya juga relatif murah. Bahkan ada yang sangat sangat murah. Sepertinya kegiatan christmas market di desa gue mengejar keuntungan besar bukanlah sebuah prioritas. Melainkan lebih melestarikan tradisi yang sudah berlangsung dari jaman ke jaman. Apalagi dengan adanya kegiatan musiman ini membuka peluang bagi mereka bisa berkumpul dan mengobrol satu sama lain.

Selain handmade, barang non handmade juga ada. Mulai dari titipan orang (minta bantu dijualkan) atau stok barang yang belum laku. Bahkan barang barang yang sudah tidak dipakai lagi atau secondhand juga ada. Itulah mengapa harganya relatif murah.

Berikut di bawah adalah sebagian barang barang yang dijual. Mulai dari bantal handmade, kaos kaki handmade, pernak pernik natal, candleholder sampai patung patung trolls ukuran kecil. Lucu lucu!

IMG_4564.JPG

Meskipun bertajuk christmas market bukan berarti barang yang dijual pernak pernik natal semata. Apa saja boleh. Bisa cookies, roti, aksesoris, karpet tenun. Khusus barang second hand kualitasnya masih terlihat bagus. Sempat sih kepikiran pengen bergabung di acara seperti ini tahun depan karena mengingat banyaknya barang barang yang tidak terpakai di rumah gue.

IMG_0436
Gue suka banget patung patung imut kayak gini. Lucu yak!

Tapi herannya setiap mengunjungi christmas market seperti ini ada saja yang gue beli. Padahal kalau dipikir pikir di rumah juga banyak. Rasa rasanya barang di pasar natal seperti ini kok ya terlihat lebih menarik dibanding pernak pernik antik peninggalan mendiang mertua di rumah.

Biasanya yang suka membuat gue kalap itu adalah printilan printilan kecil seperti candle, santa, atau pernak pernik yang terlihat lucu. Apalagi kualitas barang yang dijual rata rata handmade kan. Dan harganya murah pula.

img_4562
Barang barang yang dijual.
IMG_4565.JPG
Karpet Tenun. Ga tertarik karena di rumah juga banyak ga kepakai. Hahaha

Nah, kemaren gue berhasil memboyong beberapa printilan yang gue suka. Harganya juga membuat takjub. Kebetulan ada satu meja yang khusus menjual candle holders handmade. Hasil kerja tangan seorang wanita yang kebetulan khusus datang dari kota untuk meramaikan kegiatan cristmas market.

IMG_4563

Gue terkesima melihat hasil kerjanya. Rapi banget. Padahal masih muda tapi sudah punya keahlian seperti itu. Mulai dari patung santa, trolls, tempat lilin, semuanya cakep cekep. Harga cuma 60 SEK untuk satu candle holders. Dan dagangan dia laris manis. Lumayan banyak yang beli. Contohnya seperti gambar di bawah.

IMG_4576.JPG
Candle holders berhasil dibawa pulang. Satunya 60 Sek

Gue juga nemu sebuah patung nenek tua berkacamata yang sedang duduk di bangku. Harganya? cuma 10 Sek.  Aduh itu si nenek lucu banget deh. Seperti grandma di kartun disney gitu. Dan bangkunya itu loh yang buat ga nahan.

IMG_4572
Ahhhh…si grandma ini lucu sekali. Bangkunya juga ga nahan. Langsung kebayang grandma di kartun disney kan. Hahaha.

IMG_0430.jpg

Di bagian lain nemu pedagang pernak pernik tomte (santa versi Swedia). Ohh my God! tomtenya pengen gue tempelin di ketiak. Hahaha. Empuk banget dipegang.  Berbahan rajutan dan rajutannya rapi pula. Dikerjai sendiri oleh penjualnya. Ngiri rasanya pengen bisa bikin kaya gituan. Tadinya mau ambil satu doang tapi ga boleh. Karena sepaket. Ada bapak, ibu dan anaknya. Hahhahaha. Untuk tiga santa dihargai 30 Sek. Duh murahnya!

Ada juga sleepers wool handmade. Harganya sekitar 150 Sek. Nyaman banget dipakai di kaki. Dan sudah pasti hangat ya. Ketika gue nawar malah diketawain ama suami dan si penjual. Jangan ditawar lagi katanya. Karena ngebuatnya aja uda ribet banget. Harga 150 Sek  termasuk murah jika harus dibeli di toko handmade. Mahalnya bisa dua atau tiga kali lipat.

Nah, di meja lain ada yang menjual stok barang dagangan yang belum laku dari taon kapan. Nemulah sarung tangan yang lagi lagi berbahan rajutan. Handmade juga. Cuma 50 sek. Ooalaaaa mana warnanya gue suka. Bermotif christmas gitu. Langsung tarik mangggg.

Selain itu ada juga beberapa tempat lilin berukuran mungil. Cuma 10 Sek. Terbuat dari besi. Ada lima buah tempat lilin dengan model dan warna yang sama. Pengen gue beli semua. Tapi buat apa jika model dan warnanya sama *Baguslah ya masih sempat waras*

Itulah enaknya kalau mengunjungi pasar natal di desa kecil. Rata rata yang jualan uda pada sepuh. Dan mereka ini memang jago banget kan urusan kerajinan tangan. Dan uang bukan segalanya lagi buat mereka. Bisa ikut di kegiatan semacam ini uda cukup menyenangkan mereka.

Berikut barang barang yang berhasil gue bawa pulang. Cekidot! Hahahha

img_4567
Tempat lilin dari kayu ini antik dan unik. Suami bilang coba aja bongkar gudang, pasti ada tempat lilin mirip mirip kaya gini. Dan seperti biasa gue pasti tidak terlalu interest. Giliran ada yang jual aja selalu tertarik. Rumput tetangga selalu lebih hijau kan ya. Haha
IMG_4546.JPG
Tomte Family. Imut kan mereka. Rajutan tangan. Cuma 30 Sek!  Sekitar 50 ribu rupiah doang. Imutna kalian nak! 
IMG_4568.JPG
Ahhhh unyuuu sekali mereka ini.
img_4569
Sleepers dari wool. Modelnya cute, hangat dan nyaman banget di kaki. Kebayangkan sleepers ini dikerjakan mulai dari bahan wool sampai bisa menjadi sepatu gini. Lop lop deh
FullSizeRender.jpg
Sukaaakkk
img_4575-1
Sarung tangan seharga 50 Sek. Rajutan tangan.
IMG_4573.JPG
Tempat lilin seharga 10 Sek atau cuma 18 ribu rupiah. Padahal holdernya dari besi loh.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

“Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com. Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”