Astrid Lindgren (Dari Bullerbyn Hingga ke Katthult)

Sebelumnya, gue sudah bercerita tentang kunjungan kami (gue dan suami) ke kota kelahiran Astrid Lindgren di Vimmerby Småland. Dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah desa yang masih termasuk wilayah Småland.

Dari Vimmerby, perjalanan kurang lebih 20 menit dengan mengendarai mobil. Tempat yang kami tuju adalah Bullerbyn. Kalau sudah biasa membaca bukunya Astrid Lindgren, tentulah Bullerbyn tidak asing lagi di telinga kalian.

IMG_3471.JPG

Bullerbyn merupakan sebuah farm place yang menceritakan tentang kehidupan 6 orang anak yang tinggal di tiga rumah yang saling berdekatan. Ternyata Bullerbyn itu beneran ada! Tidak hanya cerita semata.

IMG_3473

Tiga rumah dalam cerita Bullerbyn sampai sekarang masih berdiri kece. Dan bahkan masih ada pemiliknya loh. Di depan salah satu rumah dalam cerita Bullerbyn malah ada tulisan Privat! artinya turis tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Jadi hanya bisa melihat dari luar pagar.

Terkecuali ada satu rumah yang oleh pemiliknya, pengunjung diperbolehkan masuk. Bahkan bisa berbicara langsung dengan beliau. Sosok pria yang sudah lumayan tua. Menurut beliau, rumah di Bullerbyn jarang dia tempati, beliau hanya berkunjung ke rumah ini dikala musim panas saja.

IMG_3476
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3491.jpg
Salah satu rumah di Bullerbyn
IMG_3493.jpg
Rumah di Bullerbyn
IMG_3475.jpg
Rumah ini ada penghuninya. Ada tulisan privat di depan pagarnya. Turis tidak boleh masuk

Rumah yang sepertinya kurang dirawat. Rumput liar di sekitar halaman rumah banyak banget. Tapi tak sedikit juga bunga bunga cantiknya. Dan barang barang yang terlihat di belakang rumah juga sengaja dibiarkan sedikit berantakan. Tapi malah kelihatan unik. Kata dia supaya antik. Benar sih, rustic banget kelihatan. Jadi seperti di majalah majalah gitu. Sang pemilik juga bercerita, kalau ayah Astrid Lindgren pernah tinggal di rumah itu. Tapi kalau tidak salah hanya sampai berumur 10 tahun. Ga tau juga benar ganya.

IMG_3474.JPG
Tiga rumah Bullerbyn
IMG_3481.JPG
Sepetik
IMG_3490
Berantakan, tapi kok jadi rustic banget ya. Mirip majalah jadinya.
IMG_3489
Mirip majalah antik
IMG_3604
Suka ngelihatnya

Di Bullerbyn, kami disambut pertama sekali oleh dua orang anak. Yang satu anak lelaki dan satu lagi anak perempuan. Ketika gue bertanya siapa namanya, si anak perempuan  menjawab  “LISA”. Nama yang sama persis dengan salah satu anak dalam cerita Bullerbyn. Sepertinya dia sengaja menyebut nama itu 🙂

Kedua anak tersebut sepertinya sengaja berada disana untuk sekedar membantu para pengunjung dan memberitahu tempat parkir. Dan setelah itu, kami pun memasukan uang koin ke dalam kaleng yang sudah mereka siapkan. Sukarela lah.

IMG_3486.JPG

Di sekitar Bullerbyn terdapat landscape pedesaan yang asri. Kami pun menikmati secangkir kopi dan cake, diantara heningnya alam pedesaan Bullerbyn saat itu. Sesekali mata gue menatap anak anak yang bermain ayunan tua. Suasana desanya berasa banget. Bagaimana tidak, Bullerbyn hanya dikelilingi tiga rumah kayu khas Swedia, dua buah gudang besar dan sebuah cafe bergaya vintage. Sukakkk!

IMG_3483
View di sekitar Bullerbyn. Peace banget
IMG_3482.JPG
Cafe di Bullerbyn. Awalnya merupakan gudang. Dalamnya bagus dan kozy banget
IMG_3487
Tuh, kece kan cafenya
IMG_3485
Gila yak. Dari sebuah gudang bisa disulap jadi cafe. Suasana desanya berasa banget. Betahlah di sini.
IMG_3488
Menikmati kopi dan cake di depan cafe

Dari Bullerbyn, kami menuju Katthult. Sebuah farm place yang menjadi tempat atau lokasi pembuatan film layar lebar Emil i Lonneberga. Harga tiket untuk masuk ke tanah pertanian ini seharga 40 Sek perorang.

Dibanding Bullerbyn, atmosfir pertaniaan di Katthult lebih berasa. Ada peternakan kuda, babi, domba dan ayam. Tentu saja dengan gaya pertanian jadul jaman dulu.

Bentuk babinya itu loh, bulat montok berwarna pink. Hahahaha.

Ayamnya juga! kakinya pendek dan bulunya lebat. Kalau berjalan lucuk banget. Seperti ayam dalam film  kartun. Senang gue lihatnya. Rumah yang menggambarkan kediaman keluarga  Emil pun masih berdiri manis di Katthult.

Bahkan sesekali kami melihat pemiliknya terlihat keluar masuk dari rumah itu. Dan pengunjung juga tidak diperbolehkan memasuki halaman rumah. Cukup melihat dari luar pagar. Bahkan di loket masuk pembelian tiket, sudah ada tulisan yang memohon agar pengunjung tidak berkunjung lewat dari pukul 7 malam. Mungkin pemilik juga butuh privacy dan ketenangan.

IMG_3496
Farm Place Katthult

Tak jauh dari sini,  kami juga  melihat sebuah  toilet dari kayu berwarna merah. Toilet dimana Emil pernah mengunci sang ayah di dalamnya. Ada juga gudang yang berisi patung patung kayu berukuran kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Patung patung yang dibuat sendiri oleh Emil ketika menjalani hukuman dari sang ayah dan mengurungnya di gudang tersebut. Kalau ini sepertinya sengaja dibuat sedemikian untuk kepentingan kunjungan wisata. Agar lebih hidup suasananya.

IMG_3514
Toilet dalaman cerita Emil. Sang ayah pernah dikurungnya di sini. Hahaha.
IMG_3516
Patung kayu yang dikerjakan Emil ketika dihukum oleh ayahnya dan mengurungnya di rumah kecil ini. 
IMG_3515
Gudang makanan

Bahkan tiang bendera dimana Emil pernah menggantung adik perempuannya juga ada dan bisa dilihat. Bisa gue bayangkan kenakalan dia.

Intinya kawasan ini benar benar dipertahankan persis seperti dalam cerita Emil i Lonneberga. Sehingga pengunjung yang datang pun dapat dengan mudah bernostalgia dan mengingat kembali cerita tersebut. Atau setidaknya bagi yang belum pernah membaca cerita bukunya, sedikit banyak ada gambaranlah.

IMG_3508
Rumah dalam cerita Emil yang difilmkan. Itu tiang benderanya. 
IMG_3605
Pemilik rumah
IMG_3510
Rumahnya kece yak
IMG_3503.jpg
Asri banget
IMG_3499
Rumah ini hanya bisa dilihat dari luar. Tidak boleh masuk. Karena pemiliknya masih tinggal menetap di sini
IMG_3504
Sekitar farm place. Gimana ga betah lihat begini coba
IMG_3517 (1)
Gudang besar di sekitar Katthult

IMG_3523

Sungguh betapa gue menikmati liburan kami saat itu. Bisa mengunjungi tempat tempat yang menjadi inspirasi tulisan seorang Astrid Lindgren. See you in my next story.

Salam dari

Swedia.

“Semua foto hanya menggunakan camera handphone”

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s