Cafe Di Tengah Hutan

Helooooo blog

Test test test….

Masih ada nafasnyakah blog ini? Hahaha..

Ya sudahlah daripada benjol mending nulis recehan saja. Bingung soalnya mau nulis apa. Beneran mood menulis di blog lagi jelek banget.

Saya mau cerita tentang sebuah cafe yang terletak di kawasan Dalarna. Namanya Cafe Ryggasstugan. Setelah 5 tahun stay di Swedia justru saya baru tahu jika ada cafe kozy dan kece yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Cuma 30 menit berkendara.

IMG_8377

IMG_8342
Ahhh tenangnya…

Dan lucunya lokasi cafe dekat sekali dengan rumah yang kebetulan tidak kami (saya dan suami) tinggali tapi lumayan sering kami datangi untuk keperluan sewa menyewa. Cuma 5 menit berkendara. Ya ampun kemana saja sih????

IMG_9688
Bisa melihat sekeliling sambil jalan kaki
IMG_9666
Di saat summer bangku kayu disediakan di tepi danau

Dan semakin berasa gerrrrrrrrrr…..ketika suami bilang kalau dia sudah lama tahu soal cafe ini. Cuma karena bukan wilayah yang setiap hari dilewati, jadi dia ga kepikiran saja untuk ngajak fika di situ.

IMG_9662
Forest….

Singkat cerita pas musim panas kemaren sangkin sukanya saya dengan cafe ini, saya berkunjung hingga 3 kali dalam waktu lumayan berdekatan. Saya memang pencinta cafe resto dan hotel bernuansa vintage terkhusus dari material kayu. Apalagi berdiri di sekitar nature.

IMG_8376
Coba lihat cafenya….mungil banget diantara pinus. Dan gerobak tua itu dong semakin membuat suasana vintagenya menggila. Haha..

Cafe Ryggasstugan dikelola pasangan muda. Sebenarnya untuk jenis pastry dan makanan yang dijual sih biasa saja. Cuma suana yang ditawarkan cafe ini yang membuat orang orang selalu datang. Apalagi ada cottage kecil dan bangunan kabin di sekitar cafe. Duhhh tenang banget.

IMG_8365
Duh ini cakep banget tau. Apalagi mendengar suara aliran deras air dari kayu tua itu. 
IMG_8346
Saya hanya mendengar suara air dan menghirup harum nature
IMG_8362
Unik banget. Aliran airnya dari kayu. 

Cafe berdiri pas di tengah hutan pinus dan viewnya langsung menghadap danau. Bangunan cafenya pun pengen minta diangkut bawa pulang. Suka bangetlah. Katanya sih kalau musim gugur mereka adain paket tea time. Ada perapian dan candle light. Duh kebayang terapinya. Tapi hingga sekarang paket ini belum ada tanda tanda akan dimulai.

IMG_9543
Suasana di dalam cafe yang tenang

Jalan jalan di sekitar cafe juga asik. Untuk latar fotography pun bagus. Padahal lokasi cafe ini lumayan jauh dari jalan umum. Bayangin saja di sekitar hutan gitu. Tapi lumayan digemari katanya.

Biar foto sajalah yang bercerita…..

Melihat Smurfs di Dunia Nyata

Saya penggemar garis keras Amanita Muscaria. Tak pernah bosan saya fotoin mereka. Mungkin followers di instagram saya sudah eneg dengan postingan koleksi foto jamur liar yang satu ini. Kegalauan saya berpisah dengan summer lumayan terhibur dengan kehadiran mereka. Iya…dengan munculnya jamur liar ini pertanda musim gugur akan segera tiba.

Saya sudah pernah menulis lebih detail tentang musim jamur di Dalarna di tulisan sebelumnya

Bisa dibaca di situ juga. Koleksi fotonya lebih lengkap.

IMG_5023

IMG_4921

IMG_4688
Istana Smurfs…Hahaha
IMG_5015
Ini ukurannya besar banget loh. Sendirian dia di depan danau kece itu

IMG_4684

IMG_4687
Rumah Smurfs di dunia nyata

Untuk melihat lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah. Bentuknya lucu lucu.

Anggap saja sedang melihat smurf di dunia nyata.

Mengenal “FÄBOD” Di Dalarna Swedia

Gue yakin kalian pasti asing dengan kata “Fäbod”. Dimaklumi.

Fäbod merupakan sebutan yang sangat familiar dan sudah tidak asing lagi di propinsi Dalarna Swedia. Sudah ada sejak 450 atau 500 tahun silam. Bahkan hingga saat ini (meskipun tidak banyak lagi) masih ada fäbod yang bertahan.

Fäbod merupakan sebuah sejarah. Sejarah peradaban masa silam di sebagian wilayah Dalarna yang mostly menggantungkan hidup dari bertani.

Fäbod bisa dibilang sebuah “kawasan” yang dihuni secara “musiman”. Tepatnya hunian di saat musim panas. Tapi fäbod bukanlah summer house yang identik dengan liburan musim panas, santai, me time atau apalah itu yang menyegarkan badan dan pikiran, melainkan hunian yang dipakai para petani ketika harus tetap menggembalakan ternak mereka.

Mmmm…..bisa diperjelas lagi?

Jadi begini…

Dalarna itu adalah salah satu propinsi di Swedia yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi hutan pinus, danau maupun sungai. Dalarna juga relatif lebih dingin dibanding ujung selatan Swedia. Sudah dekatlah ke perbatasan bagian utaranya. Sedangkan lahan lahan kosong untuk pertaniannya pun sebagian besar relatif terbatas.

Faktor geographis ini membuat Dalarna kurang bisa maksimal menghasilkan produksi tanaman pertanian termasuklah rumput untuk bahan pangan ternak. Ditambah lagi Dalarna mengalami musim dingin yang relatif lebih panjang dan lama.

IMG_9720

Ketika musim panas tiba, para petani di sebagian wilayah Dalarna memaksimalkan keterbatasan lahan dengan menanam rumput di sebagian lahan yang mereka punya untuk kemudian digunakan untuk makanan ternak.

Berhubung lahan terbatas, hasil panen di musim panas ini pun otomatis tidak mencukupi stok pangan ternak untuk satu tahun penuh. Kasarnya hanya cukup untuk stok musim dingin. Bahkan rumput liar yang tumbuh di sekitar hutan dekat rumah pun tidak ketinggalan dipotong untuk dijadikan stok pangan ternak.

Lalu masalah pun muncul. Jika rumput liar dan rumput yang sengaja ditanam tidak mencukupi, bagaimana kelangsungan hidup ternak ternak ini di saat musim panas tiba?

Kemudian muncul ide….

Selama musim panas para petani akhirnya tidak membiarkan ternak untuk tinggal di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Karena jika tidak, otomatis tanaman rumput bakal habis dimakan ternak. Padahal itu akan digunakan untuk stok musim dingin.

Lalu kemana ternak ternak ini dibawa? Ke sebuah wilayah yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Seberapa jauh? Bisa 10 hingga 40 kilometer.

Hah? ….Terus setiap hari pulang pergi bawa ternak segitu jauh? 400 tahun silam belum ada kendaraan toh. Bawa ternak sapi pula. Sapi kan gendut gendut. Belum lagi bawa ternak lainnya. Kuda, domba, ayam, itik…ble ble ble.

Nah, itulah gigihnya mereka. Mereka sadar jika harus pulang pergi setiap hari sudah jelas akan sangat merepotkan. Selain tidak efesien di waktu juga akan menguras tenaga. Bisa bisa belum sampai tujuan uda keburu malam.

Sehingga mau tidak mau mereka harus rela membangun hunian baru di kawasan dimana mereka akan menggembalakan ternaknya. Biasanya kawasan yang dipilih adalah dataran yang agak tinggi dan tetap dekat dengan hutan. Di sini mereka bikin rumah sendiri, ngebor air secara manual dan semuanya serba bikin sendiri. Selama musim panas mereka berpindah ke hunian baru ini. Kawasan inilah yang kemudian dinamai FÄBOD.

IMG_9829
Sapi di sebuah kawasan fäbod yang masih bertahan hingga saat ini

Sepanjang musim panas mereka jarang bahkan nyaris tidak menempati rumah di desa mereka. Mereka bekerja menggembalakan ternak agar tetap kenyang menikmati rumput di kawasan fäbod.

Kemudian setelah musim panas usai, mereka pun kembali ke desa berikut dengan seluruh ternak. Saat musim dingin tiba ternak pun tetap kenyang memiliki asupan stok makanan karena di saat musim panas tanaman rumput di sekitar desa sama sekali tidak dimakan ternak.

Setiap desa di sebagian wilayah Dalarna rata rata warganya membangun kawasan fäbod. Bahkan satu desa masing masing warga bisa memiliki fäbod yang berbeda beda. Gue sendiri masih bisa melihat peninggalan fäbod warisan keluarga suami.

Tapi tidak semua wilayah di Dalarna memiliki Fäbod. Jika lahan mereka mencukupi, mereka tidak perlu membangun kawasan fäbod.

Fäbod umumnya ada di wilayah yang lahan pertaniannya terbatas. Lebih banyak hutannya. Contohnya seperti warga di wilayah Selatan Swedia, mereka memang tidak memerlukan Fäbod. Karena wilayah selatan Swedia memiliki lahan pertanian yang lumayan luas dan cuaca yang lebih hangat.

Meskipun ada satu dua fäbod yang masih bertahan hingga saat ini, Fäbod lebih diingat sebagai peninggalan sejarah. Saat ini sistem pertanian sudah sangat canggih. Tapi fäbod mengingatkan generasi ke generasi betapa beratnya usaha petani di masa silam untuk bisa bertahan hidup.

Namun dari sekian banyak Fäbod di Dalarna ada beberapa yang justru menjadi tujuan wisata. Sebut saja seperti Fryksås Fäbod yang sangat terkenal dengan keindahan landskapnya dan Kättboåsen Fabodar. 

IMG_9789
Rumah di kawasan fäbod yang sering gue kunjungi. Dalamnya bersih loh dan antik. Tanpa polesan make up dia. Haha..

IMG_9756

Kättboåsen Fabodar adalah kawasan fäbod yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal gue. Setiap tahun gue dan suami selalu mampir ke sini. Entah mengapa gue selalu suka. Keaslian lingkungan sekitarnya membuat gue seolah lupa jika gue hidup di tahun saat ini.

IMG_9825
Sapi di sekitar fäbod

Kättboåsen Fabodar dikelola pasangan suami isteri yang sangat setia dengan kehidupan jaman bahela. Bayangkan setiap musim panas mereka bener bener menjalankan apa yang dilakukan para petani Dalarna ratusan tahun silam.

IMG_9799
Bunga menjadi lebih cantik ketika berada diantara yang rustic

Mereka meninggalkan rumahnya dan hidup dengan ternak ternaknya selama musim panas di kawasan fäbod milik mereka. Rumahnya beneren ga dipoles. Apa adanya seperti ratusan tahun silam. Perlengkapan peralatan di dalam rumah pun masih orisionil.

IMG_9788
Semakin kusam warna kayunya semakin tertarik orang berkunjung haha

Setiap kami ke sana mereka selalu berpakaian tradisional Dalarna. Masak pakai kayu bakar, cuci tangan di baskom bukan di wastafel. Beneran kehidupan jaman dulu.

Setiap musim panas mereka membuka ruang untuk turis tanpa dipungut biaya. Paling mereka mendapat keuntungan dari hasil menjual roti, keju, cake yang mereka buat sendiri. Kejunya mereka bikin sendiri loh dari ternak sapi mereka. Cakenya juga enak. Beneran deh, apa saja akan menjadi lebih nikmat jika disantap di suasana jadul seperti ini. Karena berasa serba terbatas kan.

IMG_9725
Sekitar halaman fäbod yang adem asri

Ngopi sambil dengerin suara aummm sapi dan kukuruyuk ayam yang super montok, mencium aroma asap kayu bakar, hingga kabin kabin tua yang super rustic. Beneran lupa kalau sekarang uda tahun 2019. Hahaha.

IMG_9740
Nah….di sini ngopinya.. sesimple itu Marimar! Air panasnya dibakar di atas kayu bakar. Lupakan mencari air kemasan botol di sini. 
IMG_9786
Ember kayu jaman dulu dan kuali besi hitam yang masih bertahan

Semua turis yang ke sini tidak pandang umur. Anak anak, remaja, dewasa dan tua. Semua menikmati dan antusias mengelilingi kawasan fäbod. Berikut beberapa gambar di kawasan Kättboåsen Fabodar yang masih bertahan hingga saat ini.

IMG_9835
Mereka juga nanam grain untuk menghasilkan tepung rye
IMG_3927
Ini kucing mereka. Cute banget. Begitu hendak gue foto sepertinya dia tau. Dia berhenti loh dan menoleh gitu. Ini Foto empat tahun lalu dan sampai sekarang si kucing ini masih ada.
IMG_9817
Jerami

IMG_9718

Jaman sekarang tidak sedikit yang menjadikan bangunan rumah di kawasan fäbod yang sudah tidak terpakai lagi menjadi summer house. Dan itu lumayan banyak diincar. Sedangkan untuk fäbod yang masih bertahan biasanya menjadi ajang tempat wisata musim panas.

Note: Semua foto di dalam tulisan ini hanya menggunakan handphone

Lupiner, Cantik Tapi Berbahaya

Setiap musim panas, ada satu jenis tanaman yang menghiasi beberapa wilayah Swedia. Terkhusus di wilayah Dalarna. Beraroma semerbak dan beraneka warna. Cantik.

Di Swedia orang orang menyebutnya Lupiner. Sedangkan asal katanya berasal dari bahasa Latin yaitu Lupinus yang artinya serigala. Dinamai demikian karena keganasan lupiner yang mampu mengekspansi pertumbuhan tanaman di sekitarnya sehingga sulit berkembang.

IMG_8908 (1)

Awalnya gue berpikir jika tanaman ini hanya tumbuh di wilayah dingin. Ternyata tidak. Malah dari beberapa sumber yang gue baca,  di wilayah panas seperti Indonesia pun lupiner bisa dibudidayakan. Dan gue juga baru tau jika lupiner dianggap berbahaya terhadap kelangsungan hidup species lain di sekitarnya. Karena sifat serigalanya itu tadi.

IMG_8913

Beberapa waktu lalu, pemerhati lingkungan di Swedia mulai dibikin resah oleh ekspansi tanaman ini. Dihimbau agar warga yang melihat lupiner sebaiknya segera menebas dan membakarnya agar tidak membawa pengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman liar lain yang dianggap lebih nature.

Walaupun dalam kenyataan yang gue lihat, warga tetap membiarkan bunga ini hidup dan menikmati keindahan warna warninya. Emang cantik sih. Ibarat melengkapi keindahan musim panaslah. Apalagi kalau dilihat dari jauh, warna ungunya mirip bunga lavender.

IMG_8898 (1)
Mirip Lavender

Lupiner aslinya berasal dari Amerika Utara dan Selatan. Konon di sana bunga ini sangat terkenal. Selain di Swedia, lupiner juga tumbh subur di wilayah New Zealand, Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Konon biji Lupiner bisa dimakan dan sering menjadi suguhan dalam bentuk  cemilan di wilayah mediterania.

IMG_8911

IMG_8909

Lupiner sangat menyukai air. Makanya tanaman ini lebih subur di tanah yang memiliki kandungan air yang banyak. Seperti di pinggiran sungai, pantai dan danau. Sehingga kalau gue lihat, tanaman ini tumbuhnya memang tak jauh jauh dari sekitar air. Tumbuh di pinggir jalanpun karena jalanan berada tak jauh dari sungai atau danau. Atau di sekitar selokan yang ada aliran airnya. Jadi tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat.

IMG_8898

Di wilayah eropa lainnya, lupiner ternyata dibudidayakan untuk dijual di toko bunga. Ahhh so lucky me bisa melihat hamparan mereka dan bisa memetik sepuasnya.

IMG_8915

Saat gue menulis tulisan ini, lupiner lagi banyak banyaknya bermunculan. Dan gue pun tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan momen cantik ini dalam bentuk video.

Bisa klik video di bawah …

Dikutip dari berbagai sumber termasuk Wikipedia

Ketika Bangunan di Swedia Dominan Berwarna Merah. Mengapa?

Pernah berkunjung ke Swedia? terkhusus ke daerah daerah ”country sidenya”? atau mungkin sekedar melihat dari liputan televisi, internet, kalender, koran atau majalah? atau mungkin juga dari ilustrasi gambar dalam buku cerita anak sekelas Astrid Lindgren?

Jika disimak, salah satu ciri khas dari negara Skandinavia yang satu ini adalah typical bangunan bangunan rumahnya. Terutama bangunan rumah/gedung di wilayah country sidenya. Hampir semua berwarna merah! Warna merah yang berpadu dengan warna putih di setiap sisi jendelanya. Cantik, klasik dan magical. Rumah merah yang mewakili cerita fantasi dalam serial dongeng. Rumah merah yang selalu serasi dengan semburat warna di empat musim yang berbeda. Tak cuma rumah, bahkan bangunan sekolah, panti jompo, gudang, kandang ternak, pagar, hotel, sampai kotak pos pun berwarna merah.

IMG_5787.jpg

IMG_5781.jpeg
Rumah merah berpadu dengan salju putih di musim dingin. Serasi dan magical ya 🙂

Lantas mengapa bangunan di Swedia dominan berwarna merah? Ternyata ada ceritanya.

Hal ini berkaitan dengan area pertambangan biji tembaga dan besi bernama “Falu Koppargrufa” (Falun Mines) yang terletak di propinsi Dalarna, salah satu propinsi yang ada di wilayah Swedia. Pertambangan mana diperkirakan sudah ada sejak 500 atau 900 tahun silam.

40777452632_48e5cf23e4_o

40819112711_96c0b5b1f8_o.jpg
Merah!

Menilik mundur ke sejarah silam, masa dimana sebagian besar warga di sekitar Falun Dalarna berprofesi sebagai penambang tradisional, yang sehari harinya bekerja dengan memilah milah biji batu tembaga. Semisal kandungan tembaga dalam batu sedikit, kemudian dipisahkan ke suatu tempat.

Seiring waktu batu batu ini semakin menggunung. Dan tanpa mereka sadari, akibat proses pengeringan oleh alam yang cukup lama, kandungan besi oksida dan mineral dalam batu mampu membentuk limonit sedimen, yang semakin lama secara alami menghasilkan warna merah.

IMG_5687 (1).jpg

39438018790_794b43718d_o.jpg
Sebuah desa dengan rumah kayu berwarna merah

Melihat perubahan itu, para penambang tradisional berkeinginan mengolah limbah batu yang tadinya dianggap tidak berguna menjadi bahan dasar untuk menghasilkan warna merah pada cat.

Sekitar tahun 1573, King Johan III (raja Swedia saat itu) berkeinginan agar cat merah yang dihasilkan oleh para penambang tradisional digunakan untuk mewarnai atap istana. Lalu keinginan raja tersebut diikuti oleh kaum bangsawan. Saat itu kaum elite Swedia berangganpan jika memiliki rumah berwarna merah seakan mewakili sebuah harga prestise sosial.

40819114741_4e3fd5eda6_o.jpg

IMG_5746.jpg

Duaratus limapuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1764, berdirilah “Stora Enso” pabrik pertama dan tertua di Swedia bahkan dunia, yang memproduksi cat secara profesional di area pertambangan yang sama di ”Falun Mines”.

Cat berlabel “Falu Rödfärg” (yang bisa diartikan warna merah dari Falun) menjadi cat yang sangat famous di Swedia hingga saat ini. Dari abad ke 18 hingga 19, warga Swedia mulai tergila gila menggunakan cat merah dengan alasan: warna ini seolah memberi kesan jika rumah mereka terbuat dari batu bata, yang waktu itu hanya dimiliki kaum istana raja dan bangsawan. 

29452274208_7b329f2ccc_o
Pabrik penghasil cat merah, Falu Rödfärg

Tak cuma itu, seiring waktu semakin terlihatlah jika warna merah ”Falu Rödfärg” yang dihasilkan pabrik Stora Enso sangat tahan lama dan memiliki kualitas yang bagus karena mengandung mineral terurai dan minyak alami. Konon kayu yang diberi cat berwarna merah ini mampu membuat kayu menjadi tidak gampang lapuk. Tahan lama!

Konon lagi warna merah yang diproduksi oleh pabrik Stora Enso hanya cocok digunakan untuk ”bahan kayu” seperti rumah dan bangunan kayu di Swedia. Satu lagi yang unik, warna  merah ini tidak bisa ditindih dengan warna lain karena warna merahnya akan muncul kembali.

IMG_5803.jpg
Bangunan bangunan gudang yang juga berwarna merah

Ada harga dan ada rupa. Tidak bisa dipungkiri jika harga cat yang dihasilkan pabrik Stora Enso terbilang mahal. Sehingga tak sedikit warga Swedia perlahan lahan beralih ke merek lain meski kualitas warna merahnya jelas berbeda karena tidak menggunakan bahan dasar alami yang sama seperti yang dihasilkan oleh pabrik Stora Enso. Tapi bukan berarti seratus persen rumah dan bangunan kayu di Swedia itu berwarna merah ya. Warna lain juga ada kok seperti putih, kuning, biru. Cuma warna merah lebih dominan.

IMG_5802.jpg
Tempat wisata dengan bangunan dan pagar berwarna merah
IMG_5793.jpeg
Rumah masa kecil seorang Astrid Lindgren yang lagi lagi berwarna merah

Jika berkunjung ke kawasan Falun Mines, kamu bisa melihat banyak tumpukan batu menggunung di beberapa titik lokasi, yang tak lain merupakan kumpulan biji batu yang disortir para penambang dari jaman ratusan tahun silam hingga tahun 1991, ketika mereka menyambung hidup di area bekas pertambangan ini.

40777452232_a1724fc11a_o
Farmhouse yang serba merah
IMG_5790 (1).jpg
Desa itu berwarna merah. Hahaha

Dan amazingnya, batu batu yang sebagian besar sudah berumur ratusan tahun itu sampai sekarang tidak habis habis. Mengapa? karena batu batu ini tidak digunakan sekaligus untuk usaha produksi cat, dikarenakan terkumpulnya batu batu ini berasal dari tahun yang berbeda (bahkan bisa selisih ratusan tahun).

Jadi proses alami pembentukan sedimen merah pada biji batu juga butuh waktu yang sangat lama. Bisa ratusan tahun juga.

IMG_5788.jpg

40819113451_ec5171bcb5_o.jpg
Merah yang minimalis diantara tumpukan salju

Pabrik Stora Enso penghasil Falu Rödfärg (cat berwarna merah) ini bisa dilihat di lokasi wisata Falu Gruva (Falun Mines) di kota Falun ibukota propinsi Dalarna. Sampai sekarang masih ada dan tetap berproduksi. Uraian sejarah tentang  cat berwarna merah secara gamblang bisa dibaca di sekitar kawasan pabrik. Bagaimana pigmen warna bisa bekerja, mengapa rumah rumah kayu di Swedia dominan berwarna merah, dan slogan tentang cat yang dihasilkan bukan sekedar cat biasa melainkan berfungsi menjaga kestabilan kualitas kayu.

IMG_5775.jpeg
Dikala musim panas, merah dan hijau. Lagi lagi tetap serasi bukan? 

Selain itu kalian juga bisa mengeksplore lokasi di sekitar pabrik yang merupakan bekas pertambangan besar yang konon sempat menghasilkan banyak uang di masanya dan meningkatkan perekonomian Swedia di masa silam. Salah satunya adalah dengan menelusuri area pertambangan bawah tanahnya. Seruuuuuu dan memicu adrenalin.

img_5772

IMG_5773.jpeg
Bangunan merah diantara bunga liar. Cantik!

Saya sangat terkesima mendengar penjelasan guide tentang sejarah pertambangan ini. Merinding karena tak sedikit yang memakan korban jiwa dan mengandung cerita yang sedikit mistis dan horor. Bayangkan saja, berjalan di bawah tanah dengan sinar terbatas dan tangga kayu yang lumayan curam, jalanan batu yang licin, air yang masih menetes dari celah dinding batu dan suhu di bawah yang relatif dingin (kurang lebih 5 derajat celcius). Jika memungkinkan, akan saya tulis secara detail di tulisan yang terpisah.

img_5824

img_5777
Di musim gugur.  Dan warna merah tetap menawan

Demikianlah cikal bakal mengapa bangunan rumah di Swedia itu dominan berwarna merah. Bangunan rumah mana juga dijadikan sebagai souvenir di beberapa wilayah country side Swedia sebagai pertanda ciri khas wilayah mereka.

Berikut di bawah adalah beberapa foto bangunan berwarna merah yang saya foto. Mulai dari restoran, cafe, hotel, museum, souvenir, toko souvenir, komplek perumahan, gudang.

img_5818
Sebuah cafe dari bangunan gudang tua. Merah!
img_5828
Souvenir rumah. Mewakili bangunan kayu merah di Swedia.
img_5821
Perumahan tua yang dominan berwarna merah
img_5817
Restorannya kece
img_5838
Hotel yang lagi lagi berwarna merah          

IMG_5836.jpg

Kaffestuga Hemslöjd, Toko Kece yang Bikin Betah

Kamu suka belanja di toko souvenir ga sih? atau di toko kerajinan tangan gitu. Kalau gue termasuk suka. Apalagi kalau tempatnya seperti Kaffestuga Hemslöjd yang terletak di kawasan Tällberg  Dalarna ini. Bikin betah.

IMG_9876.jpg

Jadi sesuai namanya, Kaffestuga Hemslöjd merupakan bangunan toko souvenir dan barang hasil kerajinan tangan warga lokal dan sekaligus ada cafe juga di lantai duanya. Kenapa sih gue niat banget sampai nulis toko ini di blog? ya karena gue suka banget dengan konsepnya.

IMG_9880
Toko souvenir dan kerajinan tangan Hemslöjd. Sukak!

Hemsslöjd tidak seperti toko souvenir atau kerajinan tangan kebanyakan yang pernah gue lihat sejauh ini. Mulai dari bangunan wooden house hingga interior shabby vintagenya lumayan mencuri perhatian gue. Tidak monoton. Barang yang dijual tidak asal ditumpukin tanpa sentuhan interior sama sekali. Sebagian besar ditata semenarik mungkin. Jenis barangnya pun lucu lucu tidak seperti barang kebanyakan. Dan sebagian besar merupakan handmade. Candle holder, bantal, sendal, rumah tradisional Dalarna, telenan, patung domba, gantungan kunci, dan masih banyak lagilah. 

IMG_9686.jpg

IMG_9685
Ini dia ruangan tempat pengunjung istirahat dan duduk santai. Suka banget

Berada di dalam serasa memasuki museum, karena secara tidak langsung barang barang yang dijual mewakili cerita rakyat masyarakat Dalarna. Dan yang terpenting menurut gue interior di dalamnya itu loh, sukaaaa bangetlah. Mungkin karena dominan kayu ya. Jadi feeling warm aja di dalam. Homi banget.

IMG_9699.jpg

IMG_9698.jpg
Bantal ini dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Anyone?

Toko ini juga punya satu ruangan berisi meja dan kursi kayu plus pernak pernik pelengkap. Mirip rumah rumah di majalah tapi atmosfirnya vintage banget. Mana waktu berkunjung pas pula turun salju. Memandang keluar jendela serasa gimana aja gitu. Berasa tidak di toko souvenir. Happynya lagi ternyata ruangan ini bisa digunakan pengunjung untuk bisa duduk beristirahat juga. Kerenlah.

IMG_9694.jpg

IMG_9695
Candle holdernya lucu. Wanita dan pria berpakaian khas Leksand Dalarna. Lilinnya dipasang di kedua tangan patung. Harganya sekitar 750 sek atau sekitar 1,2 juta rupiah per satuannya. 

Enaknya lagi nih, masuk ke dalam toko feel free bisa melihat lihat sepuasnya tanpa terbeban harus membeli. Tidak diintilin pegawai tokonya. Cuma ada ga enaknya juga. Harganya bikin pusing. Hahaha.

IMG_9680.jpg
Candle holdernya sangat simple dan ukurannya juga kecil. Berhubung designnya autentik jadi gitu deh. Satunya dihargai 550 sek atau setara 900 ribu rupiah 

Setidaknya menurut kemampuan kocek gue sih relatif mahal ya. Bayangin aja untuk sebuah candle holder rata rata dihargai jutaan bahkan mencapai 2495 sek atau setara 4 juta rupiah. Padahal menurut gue sih biasa aja. Menarik juga ga. Jadi ingat candle holder di rumah yang modelnya sama persis seperti di toko ini. Ceritanya pertama tiba di Swedia, gue tidak mengerti tentang kualitas barang barang peninggalan mendiang mertua. Sempat berkeinginan hendak masukin ke gudang sangkin ga suka dengan modelnya. Bikin sumpek aja banyak barang. Gue pikir cuma tempat lilin biasa. Ternyata barang bagus. Itupun setelah dikasih tau suami dan tetap aja sampai sekarang ga ngaruh sih. Gue kaga suka dengan model dan warnanya. Hahaha. Menurut kalian modelnya cakep ga? Contohnya bisa lihat gambar di bawah, candle holder berwarna hitam lengkap dengan simbol ayam di atasnya.

Cuma gue ga punya foto yang di toko. Jadi gue fotoin candle holder yang di rumah aja. Bentuk dan warnanya sama persis. Menurut gue dihargai mehong sampai segitu karena selain handmade bahannya juga terbuat dari iron. Dan ini lumayan berat. Designnya mewakili simbol kota Leksand Dalarna, kota dimana kawasan Tällberg berada.

Dan ternyata candle holder ini memiliki philosophy kepercayaan kristen yang bisa diartikan sebagai berikut :

Bentuk hati adalah tanda cinta kasih, 10 buah daun sebagai lambang 12 murid Jesus, 5 lubang di sebelah kiri kanan sebagai tanda 10 hukum taurat, 3 buah lilin sebagai simbol trinitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus), ayam sebagai simbol bahwa manusia harus tetap spirit dan tidak malas. Kurang lebih begitu.

Selain itu toko Hemslöjd juga memiliki barang lain yang tak kalah heboh harganya. Seperti bantal yang dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Ada juga telenan kayu seharga 450 sek atau setara 750 ribu rupiah, rumah puzzle khas Tällberg Dalarna seharga 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah. Jelasnya bisa klik link video di akhir tulisan ini. 

IMG_9696.jpg
Bangunan puzzel ini menarik sekali.  Mewakili rumah, cottage dan bangunan di kawasan resort Tällberg. Rumah rumah ini bisa kita bongkar pasang layaknya puzzel. Harga berkisar antara 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah

Ada sih yang masih terjangkau seperti patung domba ukuran kecil seharga 200 ribu rupiah atau gantungan kunci kecil seharga 60 ribu rupiah. Tapi mostly harganya memang harga langit untuk ukuran buah tangan atau oleh oleh. Cuma untuk kualitas emang bagus sih karena menggunakan bahan asli dan pengerjaan masih manual alias handmade. 

IMG_9711
Yang terbawa pulang. Gue sukaaaaaa banget patung mungil domba ini. Harganya sekitar 125 sek atau setara 200 ribu rupiah. Bulunya dari domba asli.

Toko Hemslöjd ini sudah tayang di Net Tv program Net 10 beberapa waktu lalu. Kalau mau melihat langsung videonya bisa klik link di bawah ini.

http://netcj.co.id/Travelling/video/225263/Barang-di-Toko-Ini-Mahal-tapi-Bikin-Betah

Satu Malam di Dalecarlia

Bulan February lalu, gue dan suami berkunjung untuk kesekian kalinya ke sebuah desa kecil bernama Tällberg. Desa kecil sekaligus resort favorite di Dalarna Swedia. Berbeda dengan kunjungan kunjungan sebelumnya, kunjungan kali ini kami putuskan untuk stay one night di Tällberg. Lucu juga kalau dipikir secara Tällberg hanya sejam limabelas menit dari rumah. Memutuskan untuk stay one night bukanlah keinginan mendadak. Sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya. Hitung hitung ngerayain pertambahan umur gue yang semakin menapak senja itu. Hahaha. 

Meskipun cuma satu malam, setidaknya otak gue lumayan terhibur dari kelelahan musim dingin yang berkepanjangan. Sejenak melupakan tugas tugas sekolah dan tidak mikirin dapur juga. Selain itu ada alasan lain yang membuat kami memilih bermalam di Tällberg. Gue rindu jaccuzi dan dipijet!

IMG_8764
View dari jendela kamar

Iya, gue suka banget yang namanya jaccuzi dan massage. Kebetulan di Tällberg ada hotel yang memiliki fasilitas spa. Pilihan kami jatuh ke Quality Hotel Dalecarlia. Dari sekian banyak penginapan di Tällberg, bisa dibilang Dalecarlia lumayan digemari. Karena selain viewnya yang apik langsung menghadap danau Siljan (danau terbesar di Dalarna), hotel ini pun memiliki fasilitas spa relatif lengkap.

Jadi kebanyakan orang yang menginap di Dalecarlia salah satunya karena fasilitas spa ini. Untuk foto foto Dalecarlia bisa lihat di sini.

Kebanyakan hotel di Swedia tidak dilengkapi fasilitas spa seperti massage, sauna, kolam renang hangat, ruangan khusus relaksasi hingga jacuzzi. Tapi Dalecarlia punya. Bahkan hotel ini punya hot tub out door (gue ga yakin namanya ini apa ga). Berendam di air hangat menjurus panas dengan view nature. Dan itu di suhu minus derajat celcius. Penggemarnya banyak. Termasuk gue dan dan suami.

IMG_8734

Yang gue tau orang orang Nordik sepertinya suka banget berendam di out door dekat alam terbuka gitu. Sekalipun suhunya di bawah nol derajat celcius. Bahkan ada yang setelah berendam di air panas langsung melompat ke air danau yang ga ngerti lagi deh dinginnya kaya apa. Dari situ mereka lanjut sauna dan berendam lagi.

Kegiatan ini sudah dilakukan dari jaman kapan tau dan konon katanya bangus banget buat peredaran darah. Gue pernah melihat langsung sehabis berendam mereka berlari ke arah danau dan melompat ke dalam. Speechless gue. Air danau di saat winter ga tanggung loh dinginnya. Apalagi lompat ke dalam modal kulit doang. Brrrr!

Berendam di out door memang sensasional menurut gue. Sudah dua kali gue coba. Jadi begitu keluar dari ruangan (waktu itu suhu sekitar minus 2 hingga 4 derajat celcius), badan rasanya seperti korslet. Dingin banget. Tapi begitu masuk ke dalam air, udah deh dinginnya ga berasa lagi. Apalagi kalau viewnya bagus seperti di Dalecarlia ini. Langsung menghadap danau Siljan. Sayangnya pada saat kami berendam sudah malam. Jadi ga terlihat apa apa lagi. Fotonya bisa lihat di sini

IMG_8733

Pokoknya malam itu gue ga mau rugi. Gue cobain semua. Kecuali kolam renang ya karena gue ga bisa berenang. Rasanya badan dan kepala gue ringan banget. Sebenarnya kalau mau jujur, buat gue massage di Indonesia udah paling asik. Baik dari segi harga maupun lamanya. Pas nyobain massage di Dalecarlia ini, rasanya baru aja mata gue merem uda selesai aja dong. Cuma 20 menit dan pijitannya kurang berasa. Melayang deh uang sekejap. Hahaha.

IMG_8726.jpg

Tapi begitupun rasa rindu akan pijitan di badan lumayan terobati.  Sayangnya gedung spa di Dalecarlia ini terpisah dari bangunan hotelnya. Harus jalan ke bawah lagi. Tidak jauh sih. Sambil jalan bisa melihat view sekitar. Paling lima menit. Setiap tamu yang menginap sudah mendapat kupon gratis masuk ke dalam. Tapi khusus massage harus bayar lagi.

IMG_8728.jpg
Lobby atas 

Dalecarlia adalah hotel pertama yang dibangun di Tällberg. Bangunan luarnya khas banget. Terbuat dari kayu berwarna merah. Interior di dalam hotel merupakan perpaduan modern dan old style. Bahkan ruangan kamarnya mirip banget dengan design interior IKEA gitu. Scandinavia di era modern.

IMG_7286

IMG_6673
Restoran dan bar

Tapi ada satu hal yang pengen gue ceritain nih. Sangat mencuri perhatian gue. Dan buat gue ini keren!

Biasanya lobby hotel letaknya kebanyakan di lantai dasar kan ya atau di lantai satu gitulah. Tapi Dalecarlia ini agak beda. Selain lantai dasar, lantai atasnya juga terdapat lobby yang dipenuhi barisan sofa. Menurut gue dibuat sedemikian karena dari lantai atas ini tamu hotel bisa duduk santai sambil melihat view danau Siljan. Kalau dari lantai dasar viewnya kurang jelas. Selain itu ada perapiannya juga. Duh gue beneran suka kalau ada perapian. Buat gue suara gemericik api di perapian seperti membuat gue lupa kalau di luar sana masih banyak tumpukan salju.

IMG_8754.jpg

IMG_8716.jpg

IMG_8724
Ruangan dengan interior yang super antik. Horor tapi keren. Berbanding terbalik dengan interioir di lobby hotel. 

Nah, di samping lobby atas ini terdapat satu ruangan kecil. Mirip dapur jaman bahela (baca dapur horor). Ruangan ini sengaja ditempelkan menjadi satu bagian dengan hotel.  Berisi barang barang antik.

Bertolak belakang dengan interior di sekitar lobby yang terlihat lebih modern dan fresh, ruangan kayu ini terkesan suram. Tapi bersih. Bau kayunya berasa banget. Konon bangunan kayu ini sudah berumur ratusan tahun. Autentik bangetlah. Bangunan sengaja dipindahkan dan disatukan dengan bangunan hotel. Fungsinya? Cuma buat hiasan doang.

IMG_8721.jpg
Ayunan bayi berumur ratusan tahun ini pun menjadi props yang mampu membanggakan pihak hotel. Hahaha. 

Begitulah rata rata hotel di Dalarna. Selalu berlomba menampilkan sesuatu yang antik. Karena antik itu menjadi salah satu nilai jual bagi para tamunya. Semacam prestise.

Jadi ketika berjalan di sekitar lobby dan masuk ke ruangan antik ini, atmosfirnya berasa beda banget. Mulai dari lemari, perapian, meja, jam kayu, sampai ayunan bayi juga ada yang umurnya ditaksir sekitar 150 tahun. Aji gile.

IMG_8798
Salju dan hotel kayu di belakang itu. Cintahh..

Sebelum check in dan setelah check out hotel, kami punya banyak waktu untuk menikmati keindahan Tällberg. Sekalipun winter, tetap aja cakep. Sebelum pulang Tällberg sempat turun salju. Duh beneran cantik banget deh. Kolaborasi salju dengan bangunan kayu tua berwarna merah. Serasa di film film. Rasa rasanya setiap sudut cantik banget buat difotoin. Di depan kandang kuda aja kece. Hahaha.

Narsis dengan backround layaknya di foto kalender, kartu natal atau cerita dongeng maupun film, rasa rasanya hayuuuu deh bang!  

IMG_6944

IMG_6951

IMG_7337
One of my favorite