Enaknya Memetik Blueberry dan Lingonberry di Hutan

Ehhh…siapa yang suka blueberry? Lingonberry barangkali? Atau Rapsberry?

Berhubung summer masih lama, jadi mari kita menghayal yang enak enak saja. Kali ini, gue akan bercerita tentang berbagai jenis Berry, yang bisa gue dapatkan secara gratis tanpa batas di sekitar lingkungan gue. Dan…pssstttt…semuanya Ekologis!

Blueberry, Lingonberry, Rapsberry, berbagai jenis berry ini  numbuh liar di sekitar hutan dan halaman yang tidak jauh dari hunian gue. Akibat tumbuh secara liar, rasa dan aroma berbagai jenis berry ini pun lumayan berbeda dengan berry di supermarket. Lebih enak dan segar. Bisa gratisan makan berry organik sampai puas, itu sesuatu banget. Mengingat manfaatnya juga sangat baik ke tubuh. So, How Lucky I am. 

Yang namanya selai homemade, selalu ready stok di rumah. Bisa sampai setaon dan kami (gue dan suami), jarang membeli selai. Kecuali jenis selai yang jarang atau tidak pernah kami buat.

img_1366

Pertama sekali melihat blueberry dan lingonberry melimpah ruah di hutan, serasa tidak percaya. Ini beneran blueberry? Karena yang terlihat cuma tanaman semak yang memenuhi lahan hutan. Bukan sebuah pohon besar seperti dalam bayangan gue selama ini. Kebayang kan, setiap jalan di hutan, dimana mana ada buah blueberry. Dan saat itu gue langsung terbayang dengan harga blueberry di supermarket Jakarta.

Memetik blueberry di Swedia itu bebas. Bisa di hutan siapa saja tanpa harus melihat siapa pemiliknya. Selama dikonsumsi sendiri dan bukan diperjualbelikan atau dibisniskan. Meskipun dalam kenyataannya, banyak sekali pekerja musiman yang berdatangan dari negara lain yang mencoba keberuntungan di saat musim blueberry tiba. Mereka memetik blueberry sampai semobil penuh. Kemudian dijual ke agen penampungan.

img_1361
Tanaman semak Blueberry dan Lingonberry tumbuh berdampingan di hutan. 

img_1364

Tidak sengaja pernah melihat pekerja musiman seperti ini memetik blueberry di lahan hutan sendiri. Mobil pick up penuh dengan keranjang berisi blueberry. Tapi namanya mereka mengadu nasib, kasihan juga kan. Dengar dengar harga blueberry yang mereka petik ditawar murah oleh agen. Padahal memetik bluberry itu lumayan capek loh. Wajah lelah mereka kelihatan sekali. Meskipun kami tau ada bisnis dibalik kegiatan mereka, sangkin ibanya, suami gue sampai membeli satu keranjang. Hitung hitung kami ga perlu memetik lagi.

fullsizerender-20
Sirup Blueberry

img_1352

Cuma satu yang kami dan warga desa suka khawatir, mereka ini jumlahnya banyak. Kadang suka smoking gitu. Rawan kebakaran kan. Makanya tidak sedikit warga di desa gue yang sengaja memasang gembok plang agar pihak lain tidak bebas masuk ke wilayah hutan. Bukan karena blueberrynya, tapi menghindari bahaya kebakaran tadi dari orang orang  yang tidak bertanggung jawab. Termasuk juga merusak bibit pinus yang masih muda banget.

BLUEBERY 

Blueberry masuk kategori tanaman semak. Berbeda dengan blueberry di Amerika Utara yang katanya bisa mencapai ketinggian empat meter, di Swedia justru sebaliknya. Sangkin kecilnya, sekilas terlihat seperti rumput. Blueberry di hutan Dalarna masuk jenis blueberry semak rendah alias liar. Hampir semua lahan hutan pinus di Dalarna Swedia, dibanjiri semak liar blueberry.

img_1365

Kapan Blueberry hutan mulai berbuah dan bisa dipetik?

Di saat musim panas. Umumnya sih di bulan Juli sampai pertengahan Agustus. Biasanya di awal bulan Juli, buah mungil blueberry mulai bermunculan.

Dan baru sempurna dipanen sekitar akhir Juli sampai pertengahan Agustus. Sebenarnya sampai akhir Agustus pun masih ada sih, tapi tinggal sedikit. Tergantung cuacalah.

Blueberry liar buahnya tidak sebesar blueberry di supermarket. Warnanya juga jauh lebih gelap dan meninggalkan bekas tajam jika terkena kain dan kulit. Dan juga sangat harum. Harumnya baru tercium setelah menumpuk di wadah. Kalau cuma sebiji dua biji tidak terlalu berasa aromanya. Untuk rasa sudah jelas jauh lebih enak (menurut gue).

IMG_1348.JPG
Sebagian dari hasil panen di hutan.

Blueberry liar teksturnya sangat lembut dan gampang hancur. Metikinnya harus pake alat. Kalau mengandalkan jari tangan, yang ada malah nginep di hutan ga pulang pulang. Hahahaha.

Alat yang dipakai sangat sederhana, tapi tepat sasaran kerjanya. Seperti sodokan besi dan ada geriginya. Trus tinggal disodok ke semak blueberry. Nanti blueberry otomatis masuk melalui sekat gerigi. Sedangkan daunnya tetap di tanah dan tidak ikut tercabut. Sehingga pertumbuhannya tetap terjaga. Kalau lagi banyak banyaknya, gampang banget penuh, dalam sejam bisa dapat satu setengah ember.

H1.jpg
Ini alatnya. Tinggal disodok aja dan blueberry masuk ke dalam. Dan photo di bawah ini adalah blueberry yang masih tercampur dengan sedikit buah lingonberry dan beberapa helai daun. Harus dibersihkan.
IMG_1458.JPG
Cara membersihkan blueberry dengan menaruh di wadah seperti ini. Tinggal digoyang goyang, biasanya daun dan lingonberry akan terbuang. Sedangkan photo di bawah ini adalah blueberry yang sudah bersih dan siap diolah menjadi selai atau saft (sirup)

Blueberry bisa diolah menjadi Selai dan Saft (sirup). Untuk menghasilkan selai dengan kualitas yang baik, blueberry harus dibersihkan dari lingonberry muda dan helai daun semak yang masuk ke dalam alat.  Bagian membersihkan ini lumayan membosankan. Memakan waktu. Biasanya suami yang lebih sabar.

Berhubung kulitnya sangat lembut dan gampang pecah, blueberry cukup ditempatkan di panci berlubang, dan dicuci sebentar di bawah air kran yang tidak terlalu kencang. Baru dimasak dengan gula pasir. Blueberry disusun berlapis dengan gula pasir secara bergantian. Cuma butuh waktu limabelas menit untuk menghasilkan selai homemade yang luar biasa lezat.

Buat gue, blueberry terlezat yang pernah gue makan ya olahan homemade yang selalu kami buat setiap tahun. Yang dijual di supermarket udah ga doyan. Jika dimasukin freezer, selai blueberry lumayan tahan lama. Harus dimasukin di mangkok plastik, bukan di dalam toples berbahan kaca. Dikhawatirkan bisa retak atau pecah.

Selai blueberry bisa digunakan sebagai pelengkap rasa dessert, roti, pancake dan masih banyak lagi.

img_1367
Blueberry Jam. Ini masih sebagian aja.
img_1345
Saft atau sirup blueberry. Ini juga segar banget. Tahan bertahun dan tinggal dimasukin freezer.
FullSizeRender (19).jpg
Blueberry Saft. Segar!
IMG_1340.JPG
Frozen Cheese Cake buatan sendiri. Blueberry jam sebagai topping. Beghh…tidak perlu diragukan lezatnya. Sudah bisa buka cafe kita mak! Hahaha
IMG_1342.JPG
Swedish Pancake, dengan taburan blueberry jam.

Sedangkan untuk saft atau sirup, proses ngebersihinnya lebih mudah. Sekalipun masih tercampur dengan biji lingonberry tidak masalah. Karena blueberry dimasak bersama gula dengan cara disteam. Air menetes ke bawah dan keluar melaui selang. Airnya saja yang diambil, buah blueberrynya tidak perlu. Ada panci yang didesign khusus untuk mengolah sirup ini. Sehingga sangat memudahkan proses pembuatannya.

Sirup blueberry segar banget. Konsistensi air tidak kental seperti sirup yang kebanyakan gula daripada sari buahnya. Tinggal diminum dengan memberi sedikit air atau es batu saja. Ya setidaknya, dengan membuat sendiri, kita taulah apa yang kita konsumsi.

LINGONBERRY

Selain bluberry, Lingonberry adalah buah yang juga banyak memenuhi semak hutan. Buah ini muncul lebih telat dari blueberry. Tapi sudah kelihatan ketika blueberry akan dipanen. Makanya ketika memetik blueberry, lingonberry suka tercampur masuk ke dalam alat. Tapi masih kecil dan berwarna hijau muda atau pink muda. Lingonberry biasanya mulai dipanen di bulan September.

img_1455
Lingonberry

Sebaliknya, ketika memanen lingonberry, giliran sisa sisa blueberry yang suka tercampur ke dalam alat. Jadi setiap memanen kedua berry ini, pasti saling nyampur satu sama lain. Alat yang dipakai juga sama.

Sekilas lingonberry mirip blueberry, tapi detailnya tetap berbeda. Daun dan batangnya lebih keras. Warnanya merah, dan buahnya tidak selembut blueberry. Warna merah lingonberry tidak setajam warna blueberry. Tidak melekat di kulit maupun di helai kain.

img_1376

img_1344

Sama halnya dengan blueberry, lingonberry biasanya dibuat menjadi selai dan sirup juga. Bedanya sirup lingonberry lebih sering digunakan di restoran sebagai pilihan minuman. Mungkin karena rasanya lebih ringan, tidak telalu manis dan warnanya pun lebih bening. Selai lingonberry biasanya digunakan sebagi pelengkap menu daging dagingan. Salah satunya, paling sering disantap bersama Swedish Meatballs.

IMG_1457.JPG
Lingonberry
IMG_1347.JPG
Sebagian selai Lingonberry. 
IMG_1363.JPG
Homemade Swedish Meatballs. Dengan tambahan selai lingonberry.

Konon, lingonberry memiliki zat kimia alami, yang mengakibatkan olahan jenis berry ini mampu bertahan lama hingga tahunan sekalipun tidak dimasukin ke dalam freezer. Cukup di suhu kulkas. Dimasukin ke dalam toples kaca, yang sebelumnya sudah disterilkan di dalam oven. Berhubung jumlahnya banyak, kami cukup menyimpan selai lingonberry di dalam Root Cellar, semacam gudang bawah tanah dengan suhu yang relatif stabil di sepanjang musim yang ada. Dan lagi lagi, selai lingonberry buatan sendiri itu jauh lebih nikmat dan segar dibanding restoran dan supermarket. Maaf, sedikit pede ya pemirsahhh.

RAPSBERRY

img_1368
Pohon Rapsberry di sekitar halaman rumah.

Kalau Rapsberry numbuh liar di halaman sebelah rumah. Jarang dipetik karena pohonnya rapat banget. Lebih banyak terbuang dan membusuk. Bentuk buahnya tidak sebesar dan semulus di supermarket. Kecil kecil banget. Namun sekalipun kecil, rasanya jauh lebih manis dan segar. Biasanya gue buat smoothie dan selai.

img_1349
Rapsberry Jam.
img_1362
Rapsberry Jam.

REDCURRENT

Kalau Redcurrent tidak terlalu banyak, cuma sedikit. Sengaja ditanam mendiang mertua dulu. Cukup dipandangi saja. Jadi sama sekali belum pernah dikonsumsi. Redcurrent enak banget dijadikan Gelé. Semacam selai padat mirip jeli gitu deh. Rasanya segar banget. Asam dan manis. Cocok untuk steak daging.

IMG_1350.JPG
Redcurrent di sekitar halaman rumah. Tidak banyak.

So, kalian punya pengalaman seperti gue kah? memetik blueberry di hutan?

Jika ingin melihat lebih jelas tanaman Blueberry dan Lingonberry di hutan, dan bagaimana cara memetiknya, bisa melihat video di bawah ini.  

Gue share ya cara metik bluebeery

A post shared by dapursicongok 9.6.16 (@dapursicongok) on

Redberrynya sudah banyak.

A post shared by dapursicongok 9.6.16 (@dapursicongok) on

Semua foto dan video di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

Dalahorse, Si Patung Kuda yang Mahal

Dari sekian banyak propinsi yang ada di Swedia, propinsi Dalarna adalah salah satunya. Ibukota Dalarna bernama Falun. Di sinilah gue tinggal, tepatnya di sebuah desa kecil bagian dari kota Mora. Dalarna sendiri bisa dibilang berada di wilayah pertengahan Swedia. Di musim dingin,  propinsi ini memiliki temperature udara yang lumayan kejam. Dingin bangetttt!

Sebagian besar wilayah Dalarna berada diantara hutan pinus yang lebat. Sehingga tidak heran, jika Dalarna diclaim sebagai salah satu dari sekian propinsi di Swedia, yang mampu menghasilkan kayu pinus dalam jumlah yang banyak. Pun kualitas pinusnya sudah diakui, karena pertumbuhan pinus di hutan Dalarna termasuk stabil, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. 

Luasnya hutan di alam Dalarna, serta merta berpengaruh terhadap kehidupan orang orang yang bermukim di sekitarnya. Hampir bisa dikatakan, sebagian besar rumah penduduk tidak jauh dari hutan. Apalagi di desa tempat tinggal gue, meskipun tidak harus keluar, jejeran hutan pinus bisa dilihat dari jendela rumah. Hutan kayu ada dimana mana. Bahkan jarak dari pusat kota ke lokasi hutan, bisa dibilang tidak terlalu jauh. Pun ketika berada di dalam mobil, mata lumayan terbiasa dengan suguhan pohon pinus  di ruas kiri kanan jalan.

Berangkat dari kondisi alam Dalarna inilah, gue akan bercerita tentang asal usul sebuah patung kuda, yang tidak hanya di kenal di Swedia, namun juga di beberapa wilayah negara. Patung yang familiar dengan sebutan Dalahäst atau Dalahorse. Dala artinya Dalarna dan Häst adalah Kuda. Jadi Dalahäst bisa diartikan Kuda dari Dalarna.

img_0480

Cerita Dalahorse diawali dari kehidupan masayarakat Dalarna di sekitar abad ke 16. Kala itu bertani adalah kegiatan mereka sehari hari. Tempat tinggal pun sudah jelas, berada diantara lebatnya hutan pinus, yang jarak satu sama lain lumayan berjauhan.

Persoalan pun muncul ketika musim dingin tiba. Malam datang menjelang, tanpa tahu harus mengerjakan apa. Ketika duduk bersama, mulailah terpikirkan untuk membuat mainan sederhana, yang akan diberikan kepada anak anak mereka. Tentu saja dengan menggunakan bahan yang mudah didapat. Apalagi kalau bukan batang kayu yang tumbuh subur di sekitar tempat tinggal mereka. Singkat cerita, pilihan jatuh ke sebuah patung berbentuk kuda. Kenapa harus kuda? Karena kuda adalah jenis binatang yang sangat akrab dengan kehidupan mereka sehari hari. Yang banyak membantu aktivitas mereka. Awalnya mereka membuat patung kuda dengan bentuk yang sangat sederhana dan apa adanya. Polos dan tanpa warna. 

img_0612
Dalahorse yang dibuat oleh kakek suami, masih polos.

Sekitar tahun 1830 an, seorang seniman Swedia bernama Stika Erik Hansson, tertarik dengan patung kuda yang dihasilkan sekelompok masyarakat Dalarna. Dia berinisiatif memberi sentuhan lukisan dengan motif dan warna khas Dalarna di tubuh patung yang masih polos. Seiring waktu, sosok Dalahorse juga menginspirasi Grannas Anders Olsson, seorang pria yang berasal dari Nusnäs, sebuah desa kecil yang letaknya tidak jauh dari Mora.

Tanpa pernah disadari oleh Grannas, inspirasinya justru merupakan awal kesuksesan besar, yang berhasil mempopulerkan Dalahorse menjadi sebuah brand terkenal. Dan tentu saja berimbas kepada kepopuleran desa Nunäs sendiri hingga sampai saat ini.

img_0560
Toko Grannas di desa Nusnäs.  Pendirinya adalah orang yang pertama sekali memberikan ide cemerlang, agar adik adiknya membuat patung Dalahorse dalam jumlah yang banyak. Toko yang sekaligus menjadi pabrik pembuatan Dalahorse.
img_0559
Toko dan pabrik  Nils, lokasinya bersebelahan dengan toko Grannas.

Alkisah, Grannas memiliki dua orang saudara laki laki, bernama Nils Olsson dan Jannes Olsson. Lahir dari keluarga yang serba pas pasan, mendorong Grannas meminta kedua adiknya untuk membuat patung kuda dalam jumlah yang banyak. Prinsip Grannas kala itu, selama bayi masih berada di dalam ayunan, maka mereka akan membutuhkan mainan.

img_0608

Tidak tanggung tanggung, sekitar tahun 1928, Nils Olsson (sang adik) memberanikan diri mengajukan kredit ke bank sebesar 400 SEK. Yang justru mendapat tangisan dari sang ibu, karena cemas sang anak tidak sanggup mengembalikan pinjaman tersebut. Namun sungguh diluar dugaan, usaha yang dikelola Nils bersama adiknya Jannes Ollson terbilang sukses di pasaran. Toko yang diberi nama Nils Olsson Hemslojd berkembang dan maju pesat.

Melihat kesuksesan Nils, Grannas akhirnya mengikuti jejak sang adik. Sebagai orang yang pertama sekali memberi gagasan dan ide kepada adiknya, tentu saja bisnis yang dikelola Nils membuat Grannas tergiur. Sampai akhirnya dia pun membuka toko sejenis, tepat di sebelah toko sang adik dan diberi nama Grannas A Olsson Hemslojd.

Dua toko bersaudara inilah yang sampai sekarang sukses bertahan secara turun temurun, dan berhasil membawa desa Nusnäs menjadi salah satu tujuan wisata terkenal di Dalarna bahkan Swedia. Desa pertama yang berhasil mempopulerkan Dalahorse.

img_0609

Belum puas dengan sukses yang mereka raih, pada tahun 1939, tiga Olsson bersaudara berangkat menghadiri salah satu pameran seni terbesar di New York, Amerika Serikat. Di pameran inilah kemudian mereka memperoleh penjualan Dalahorse dalam jumlah yang fantastis. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh banyaknya imigran Swedia yang saat itu sudah menetap di Amerika Serikat.

Bahkan sebuah patung Dalahorse dengan ukuran yang lumayan besar,  pun bisa dilihat di Amerika Serikat. Di sebuah daerah bernama Mora, tepatnya di Minnesota, Kanabec, USA. 

Daerah yang sengaja dibentuk oleh komunitas imigran Swedia yang berasal dari kota Mora Dalarna. Hal ini tertuang dalam buku karangan Anne Marie Radstrom berjudul Dalahästen (penerjemah pak suami…haha).

img_0488
Dalahorse, masih peninggalan dari keluarga besar suami. 

Dalahorse bukan sekedar cerita yang mewakili masyarakat Dalarna, namun juga menjadi simbol negara Swedia secara keseluruhan. Sampai ada istilah “Jangan bilang ke Swedia jika belum membawa pulang Dalahorse”.

Bisa jadi, karena hampir semua toko souvenir di Swedia menjual patung kuda ini. Bahkan tas, tshirt, topi, sarung bantal, gantungan kunci, kartu pos dan masih banyak lagi, tidak sedikit yang menggunakan motif bergambarkan Dalahorse.

img_0610
Dalahorse berumur 80 tahun. Lengkap dengan pelana yang sekaligus berfungis sebagai tempat lilin. Hahaha.
img_0491
Lucu ya pelananya.

Jika berada di kota Mora, tidaklah sulit untuk bisa melihat Dalahorse dalam bentuk dan ukuran yang beraneka. Mulai dari toko, taman, restoran, bakery, rumah sakit, perkatoran sampai bank  besar. Semua memajang patung ini. Bahkan supermarket sejuta umat di Swedia pun dengan bangga menjadikan Dalahorse sebagai penghias halaman parkir toko.

Sama halnya dengan rumah tinggal warga Dalarna, Dalahorse wajib adanya. Sejauh yang gue lihat, belum pernah menemukan rumah yang nihil dengan patung Dalahorse. Jumlahnya pun selalu lebih dari satu. Sebagian besar  patung tersebut ada yang dibeli dan ada juga dibuat sendiri. Bahkan tidak sedikit yang diperoleh melalui warisan keluarga. Seperti Dalahorse di rumah gue, selain dibeli ada juga yang didapat dari warisan keluarga besar suami. Bentuknya sangat lucu, lengkap dengan pelana yang sekaligus bisa digunakan sebagai tempat lilin. Umurnya? sudah tua, sekitar 80 tahun.

img_0625
Dalahorse tertinggi di kota Mora.
img_0507
Dalahorse di depan toko supermarket besar di Swedia.

Sebelum menetap di Swedia, gue pernah melihat Dalahorse di kedutaan besar Swedia di Jakarta. Ukurannya lumayan besar. Tidak sengaja sebenarnya, terlihat ketika berbicara dengan pegawai front office kedutaan. Yang jelas, waktu itu gue belum familiar dengan si Dalahorse ini. Bahkan ketika berlibur ke Tallin Estonia, gue lumayan bingung dan sedikit kaget, melihat toko souvenir di sana menjual Dalahorse sebagai souvenir. Segitu hebatnya. 

Kehebatan Dalahorse juga bisa dilihat di sebuah kota bernama Avesta. Di kota ini terdapat sebuah patung Dalahorse yang berdiri gagah. Ketinggiannya mencapai 13 meter, yang sekaligus menjadi patung kuda tertinggi di Swedia.

Tak hanya itu, Dalahorse juga diakui sebagai pengganti piagam atau piala, untuk pertandingan olahraga tertentu di Dalarna. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana hebatnya pamor patung kuda ini.

IMG_0624.JPG
Dalahorse tertinggi di Swedia, dengan ketinggian mencapai 13 meter. Terletak di kota Avesta.

Satu lagi yang membuat Dalahorse bertambah unik adalah harganya. Iya, harganya sangat unik dan tidak main main. Mahal. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa Dalahorse menjadi terkenal. Tidak seperti souvenir kebanyakan, harganya suka membuat sakit kepala.

Bayangkan saja, ukuran patung terkecil (sekitar 5 cm) bisa dihargai 145 SEK atau setara dengan 200 ribu rupiah lebih (untuk mata uang IDR saat ini). Tak heran jika satu Dalahorse berukuran sedang maupun besar bisa mencapai jutaan rupiah. Apalagi jika membeli dari sekelompok pencari laba besar, harga Dalahorse bisa dipatok lebih tinggi, dibanding harga factory di toko Grannas dan Nils Olsson.

img_0502
Dalahorse,  di toko Nils Olsson yang ada di kota Mora
img_0503
Dalahorse yang masih polos.
IMG_0501.JPG
Dalahorse berukuran 5 cm. Ada juga yang berbentuk babi dan ayam. Harga sekecil ini sekitar 145 SEK, atau setara 200 ribu rupiah lebih.
img_0553
Dalahorse di pabrik Nils Olsson.  Masih polos. Perhatikan harga bagian atas dan bawah. Lebih mahal di bagian atas. Karena lekukan patung tidak terlihat kasar dan lebih halus.

Mahalnya harga Dalahorse bukan semata mata dilihat dari besar kecilnya ukuran patung. Melainkan dari tingkat kesulitan pengerjaannya. Mulai dari lekukan patung, motif lukisan bahkan warna pun bisa mempengaruhi harga. Jadi jangan kaget, ukuran patung 5 cm bisa lebih mahal dibanding 7 cm. Atau ukuran boleh sama, tapi harga bisa berbeda.

img_0606
Dalahorse peninggalan keluarga besar suami. Bewarna biru. Sebesar ini bisa mencapai 2500 SEK bahkan lebih. Tergantung warna, motif serta lekukannya
img_0605
Patung Dalahorse versi modern. Gue beli pas ada pameran di toko Nils Olsson. Harganya murah. Karena potongan patung terlihat sangat tajam. Kurang lekukan. Dan cat yang dipakai pun berbeda bahannya. Serta motif lukisannya juga sangat sedikit dan sederhana

Dalahorse berasal dari satu batang kayu pinus. Dipotong kasar membentuk gambar atau pola. Kemudian dilanjutkan dengan proses finishing. Proses finishing inilah yang lumayan menyita waktu. Memerlukan kesabaran dan ketelitian. Membentuk pola agar benar benar kelihatan seperti kuda, lumayan membuat tangan pegal. Tidak segampang yang kita bayangkan. Proses pembuatannya 90 persen manual. Tangan yang bekerja. Permukaan kulit patung harus dibuat benar benar halus. Kemudian direndam dengan warna dasar, dikeringkan, dilukis satu demi satu,  dikeringkan kembali, dan baru diberi lapisan  cat terakhir agar terlihat mengkilat. Proses yang lama dan panjang inilah, yang menjadi alasan mengapa Dalahorse dihargai mahal. Handmade!

img_0552
Setelah pola dipotong kasar memakai mesin, dipahat memakai pisau, dihaluskan, kemudian di dalam ruangan inilah patung Dalahorse dicelup dengan warna dasar. Sangat manual. Baju pegawainya juga kotor.  Bermain dengan cat setiap hari. Jadi wajar mereka meminta  harga yang tinggi. Hahaha
img_0547
Setelah dicelup dengan warna dasar, Dalahorse dikeringkan.
img_0549
Proses melukis Dalahorse. Satu satu dilukis dengan tangan. Kebayangkan capeknya.
IMG_0545.JPG
Ruangan khusus yang dipakai untuk mengeringkan dan melukis Dalahorse. Turis bisa melihat langsung ketika proses melukis patung dilakukan
img_0546
Proses pengeringan untuk kesekian kalinya

Dalahorse identik dengan warna merah. Sekalipun ada warna lain, seperti biru, kuning, hijau, hitam dan merah jambu, namun warna merah tetap yang paling dominan. Iya, warna merah adalah warna yang pertama sekali digunakan dalam sejarah mewarnai patung Dalahorse. Maka tidak heran jika Dalahorse yang berdiri di tempat tempat  umum selalu berwarna merah.

IMG_0482.JPG
Dalahorse itu identik dengan warna merah. Warna khas Dalarna tentunya
IMG_0604.JPG
Dalahorse gue…hihi

Sampai saat ini, tidak bisa dipungkiri, meskipun ada beberapa produsen yang mencoba menjajal keberuntungan dari bisnis Dalahorse, toko Olsson bersaudara sudah menjadi brand pertama, yang berhasil mempopulerkan Dalahorse dengan sistem penjualan yang profesional.

Kualitas patung yang mereka hasilkan tidak perlu diragukan lagi. Produksi Dalahorse yang mereka hasilkan, mampu mewakili simbol Dalahorse secara keseluruhan di Swedia. Predikat Dalahorse sudah sangat lekat dengan dua toko bersaudara ini.  

img_0541
Warna warni Dalahorse.
img_0544-1
Dalahorse siap dijual dengan berbagai warna.

Selain Dalahorse, sebenarnya masih ada bentuk patung lain yang menjadi ciri khas kerajinan tangan khas Dalarna. Sebut saja Dalatupp, patung berbentuk ayam jantan yang meskipun tidak sepamor Dalahorse, tapi harganya jauh lebih mahal dibanding Dalahorse. Konon katanya, proses pembuatan ayam jantan ini lebih sulit, karena memiliki banyak lekukan dibeberapa bagiannya. Dan ditambah lagi, bobotnya lumayan aduhai, berat! Hahaha.

IMG_0607.JPG
Dalatupp, patung ayam yang harganya pun menggila.  Lumayan berat.
IMG_0722.JPG
Kartu pos dengan gambar Dalahorse, Dalatupp dan desa Nusnäs dimana toko Grannas dan Nils Olsson berada.

Nusnäs merupakan salah satu destinasi wisata yang sepertinya wajib dikunjungi ketika berada di Dalarna, khususnya Mora. Di saat musim panas, desa ini ramai dikunjungi turis. Membeli Dalahorse di toko souvenir biasa, tentu saja memiliki sensasi yang berbeda ketika membeli langsung dari pabriknya. Apalagi bisa menyaksikan proses pembuatan patung Dalahorse dari awal sampai selesai, tentu saja membawa pengalaman baru bagi yang melihat.

img_0558
Dalahorse dan Dalatupp, di depan toko Olsson bersaudara.
DSCF5358.JPG
Toko Nils di saat winter.
img_0500
Cabang toko Nils di kota Mora.

“Jangan bilang ke Swedia sebelum membawa pulang Dalahorse, karena satu Dalahorse mampu mewakili berbagai tempat yang kamu kunjungi di negara ini”

img_0682

Semua foto yang ada di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

see you in my next story

Tällberg, Desa Kecil Yang Unik

 

Sebenarnya gue sudah pernah bercerita tentang keindahan desa kecil yang terkenal ini di rumah gue yang lama (blogspot)Cuma waktu itu foto foto di tulisan lebih dominan winter. Nah, kebetulan di akhir bulan Juli lalu, gue dan suami kembali berkunjung ke desa kece ini. Sampai akhirnya, gue pun memutuskan untuk menulis keindahan Tällberg yang tidak hanya bernuansa winter, tapi summer juga. Dan bagi kamu yang belum pernah membaca tulisan gue sebelumnya, cukup tau dari tulisan yang sekarang aja. Lebih efisien kan.

So, mengapa harus menulis dengan latar belakang dua musim yang berbeda? jawabannya tak lain dan tak bukan karena……………gue kerajinan!! Hahaha. 

Tällberg terletak di propinsi Dalarna Swedia, tepatnya lagi merupakan desa yang menjadi bagian dari pemerintahan kota Leksand. Tällberg adalah desa yang beruntung. Setidaknya itulah pendapat seorang ajheris terhadap desa kecil ini. Dibanding desa lain di propinsi Dalarna, apalagi desa gue, Tällberg ibarat artis papan atas dan desa lain ibarat artis nanggung. Dan desa gue, meniti karir saja pun belum. Belum lagi fans berat Tällberg sebagian besar berasal dari luar kota, seperti Stockholm dan kota kota besar lainnya di Swedia. Bahkan  tidak sedikit wisatawan asing  dari Jerman dan Belanda yang rutin mengunjungi desa ini.

img_7515
Tällberg
img_7516
Tällberg

Meskipun hanya sebuah desa kecil, tapi Tällberg memiliki nama yang lumayan besar. Rasanya tidak ada warga Dalarna yang tidak mengenal Tällberg. Bahkan wisatawan yang sangat menggilai resort bernuansa alam plus bangunan antik, pun sangat mengenal desa nyentrik ini. Dahulu kala misalnya, kaum borju Stockholm sengaja beramai ramai membangun villa dan summer house di sekitar jalanan menuju Tällberg. Kala itu, memiliki Villa tidak jauh dari Tällberg menjadi trend yang bergengsi. Semacam pembuktian status sosial.  Sampai sekarang bangunan bangunan villa dan summer house ini masih bisa dilihat di sisi kiri dan kanan jalanan menuju Tällberg. Bangunan rumah kayu dengan model yang unik. Ibarat Diva, ketenaran Tällberg sampai pada puncaknya, ketika desa kecil ini mendapat kunjungan dari Kung Carl Gustav, raja sekaligus pemimpin negara tertinggi Swedia saat ini.

img_7594
Bangunan summer house  yang tidak terlalu jauh dari desa Tällberg
img_7593
Bangunan summer house yang tidak terlalu jauh dari  desa Tällberg

Lalu apa yang membuat Tällberg sedemikian terkenalnya? Menurut gue ada dua faktor. Salah satunya, Tällberg berada dilingkungan alam pedesaan yang sangat natural, dengan struktur tanah yang sedikit berbukit, membuat landscape alam di sekitar Tällberg menjadi sangat menawan. Belum lagi aliran air danau Siljan (danau terbesar di Dalarna) yang menghiasi sepanjang tubuh desa ini, membuat Tällberg semakin sempurna kecenya.

img_7619
Landscape di desa Tällberg, diantara aliran air danau Siljan 
img_7514
Landscape di desa Tällberg
img_7520
Landscape di desa Tällberg
img_8564
Tällberg di saat winter
img_7587
Tällberg di saat winter

Yang kedua, meskipun disebut desa, sebagian besar wilayah Tällberg justru dipenuhi bangunan hotel, hostel, villa, dan cottage. Konon mengapa Tällberg sarat dengan penginapan, berawal dari niat beberapa petani di desa Tällberg untuk menarik wisatawan berkunjung datang. Demikianlah sampai akhirnya jejak mereka pun diikuti oleh warga lain. Hingga satu demi satu lahan tanah yang mereka miliki disulap menjadi  hotel, cafe dan museum.

Hotel di Tällberg terdiri dari hotel biasa sampai hotel berkelas. Dengan pembayaran permalam yang bisa dibilang tidak terlalu murah. Bahkan biaya menginap permalam di hotel besar Tällberg mampu menyaingi harga hotel di kota besar Swedia. MAHAL!

Berikut di bawah ini beberapa bangunan hotel di Tällberg:

img_7533
Hotel di Tällberg. Unik ya
img_7522
Salah satu hotel di Tällberg
img_7537
Salah satu villa di Tällberg
IMG_7591.JPG
Kawasan hotel di Tällberg
img_7596
Hotel di Tällberg
img_8548
Salah satu hotel di Tällberg
img_7557
Hotel di Tällberg
IMG_7536 (1).JPG
Bangunan hotel di Tällberg
img_8569
Terlihat horor ya
img_8759
Salah satu hotel besar di Tällberg

Inilah yang menjadi daya tarik Tällberg. Desa ini memiliki karakter yang sangat kuat. Jika menyebut kata Tällberg, yang pertama terlintas di kepala adalah bangunan bangunan kayu bergaya vintage, bahkan menjurus horor. Sampai pagar hotel pun terbuat dari kayu. Terkesan tidak  fresh dan dibiarkan seperti aslinya. Rustic banget.

Meskipun begitu, jangan kaget jika harus mengeluarkan kocek sebesar 1300 Sek, bahkan bisa lebih, hanya untuk sebuah penginapan dengan model bangunan yang sangat sederhana. Yang bahkan jika berjalan di lantai atau tangga hotelnya, akan disuguhi suara kayu berdenyit….Ngikkk!…….Hahahah.

img_7518
Sepertinya bangunan ini bersifat privat. Milik salah seorang warga Tällberg 
img_7534
Cafe di Tällberg

Bagi yang tidak paham atau bukanlah seorang penggemar bangunan antik, rasanya rugi harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit, hanya untuk sebuah hotel tua dengan model bangunan yang sederhana. Namun berbeda dengan kebanyakan warga lokal di Swedia, nuansa super vintage justru memiliki sensasi tersendiri. Ibarat kata, serasa hidup di abad ratusan tahun silam.

img_7598
Kawasan ini semacam centralnya desa Tällberg
img_7602
Kawasan ini semacam centralnya desa Tällberg
img_7601
Halaman cafe
IMG_8762.JPG
Lobby utama di salah satu hotel besar di Tällberg
IMG_8763 (1).JPG
Bar
IMG_8764.JPG
Lobby hotel di lantai dua salah satu hotel di Tällberg

Nuansa inilah yang ditawarkan Tällberg kepada tamu tamunya. Bangunan boleh tua dan sederhana, tapi mereka mampu mengemas interior ruangan menjadi elegan dan romantis. Bahkan terlihat berkelas. Layaknya hotel besar di kota besar, tidak sedikit hotel di Tällberg yang memiliki fasilitas lengkap seperti ruangan Spa, pool, restoran fine dining, sampai conference room. Tak jarang pertemuan berskala besar diselenggarakan di desa ini.

img_8161
Salah satu bangunan kayu antik yang menghiasi desa Tällberg
img_8162
Museum kecil
img_7513
Mirip rumah di film Hobbit ya

Tak hanya penginapan, cafe dan berbagai museum antik pun cukup lengkap menghiasi desa Tällberg. Di saat summer, duduk santai di kursi dan meja kayu sambil menikmati sepotong roti dan segelas kopi/teh, melihat keindahan alam pedesaan dan aliran air danau Siljan yang membentang luas. Layaknya sebuah lukisan alam. Sangat tenang. Heaven!

img_7511
Salah satu cafe di Tällberg
img_7509
Meja dan kursi kayu yang sederhana. Suasana pedesaannya itu loh, menyejukkan hati
img_7529
Ruangan di dalam salah satu cafe di Tällberg. Kaya film apa ya kalau ngeliat gini. 
img_7620
Bangunan cafe yang Rustic.

Tällberg boleh dibilang tidak hanya mahal di urusan penginapan. Masuk ke toko souvenirnya pun mampu membuat sakit kepala. Bagaimana tidak, harga souvenir yang dijual untuk ukuran buah tangan atau oleh oleh tidak tanggung tanggung. Ribuan Swedish Kronor!

img_7564
Toko souvenir handmade
IMG_7597.JPG
Toko souvenir handmade

Hal ini dikarenakan sebagian besar souvenir merupakan hasil kerajinan tangan (handmade). Kalau pun ada yang lebih murah, jatuhnya bukan handmade lagi. Toko souvenir terbesar di Tällberg adalah Kaffestuga Hemsljöd. Berada  di dalam toko yang mirip museum kecil ini,  cuma bisa bengong. Muahalll!

img_7586
Sendal kayu khas Dalarna
img_7585
Patung kuda Dalahorse. Souvenir paling top di Swedia. Satu kuda berukuran sedang  bisa dihargai hampir 2000 Sek.  Mendekati 3 juta rupiah. 
IMG_8643.JPG
Souvenir yang terbawa pulang, ini sih ga terlalu mahal. Mini home yang bisa dibongkar pasang layaknya sebuah puzzel

Kaffestuga Hemsljöd tidak semata mata menjual barang souvenir saja, tapi secara tidak langsung seperti memperkenalkan kultur budaya Swedia kepada pengunjung yang masuk ke toko ini. Pelayan toko sangat ramah. Dan enaknya lagi, bisa puas melihat barang barang tanpa terbebani harus membeli. Pegawai toko tidak ngintilan kita. Kalau diikuti rasanya gimana ya, seperti ditodong. Harus beli!  Hahahha.

Untuk toko dan museum di Tällberg, kebanyakan dibuka di saat summer. Dan lagi lagi harga barangnya pun bisa gue bilang gila gilaan. Masih terang banget di ingatan gue (efek belum bisa menerima tepatnya), saat perayaan midsummer dua tahun lalu. Ceritanya waktu itu suami berkeinginan membeli boneka kecil dari salah satu toko handmade. Sebenarnya gue ga terlalu suka. Tapi dibilang ga mau ya ga juga. Cuma waktu itu gue ga mikir kalau harga boneka mencapai 500 Sek. Tepatnya waktu itu gue belum paham banget kalau barang handmade di negeri ini dihargai relatif tinggi. Berhubung ga doyan doyan banget, gue sibuk melihat printilan yang lain. Dengan pemikiran kalau suami mau beli ya sudahlah. Namanya juga dibeliin. Dan suami pun memang niat kan. Nah, barulah setelah keluar toko, gue iseng melihat si boneka tadi. Dan ternyata harganya membuat gue bete.

Dan kekurangan gue selalu tidak bisa menyembunyikan ekspresi ketidaksenangan gue. Harusnya gue menghargai niat suami yak. Ditengah kebetean gue itu, suami masih sabar menjelaskan kalau harga boneka itu worth it dengan kualitasnya. Belum lagi ngebuat itu ga mudah. Tangannya capek kata suami. Hmmmm. Tapi sekarang gue jadi suka liat bonekanya. Liat gambarnya deh, lucu ya bulunya.

img_7554
Butik/toko barang handmade. Ini juga mahallll!!

Tapi lagi lagi emang begitulah harga Tällberg. Sebagian besar bisa dibilang mahal untuk ukuran wisata di desa kecil. Mungkin bagi penduduk lokal negeri ini, mahalnya harga di Tällberg sepadan dengan apa yang sudah ditawarkan desa ini. Sebagaimana legowonya suami gue bisa memaklumi harga boneka tadi.

IMG_7561.JPG
Toko lain 
img_7556
Toko di sekitar Tällberg
img_7559
Barisan butik handmade dan museum kecil
img_7558
Permen jadul

Di saat summer, dipastikan Tallberg lebih kebanjiran tamu. Apalagi desa ini selalu mengadakan perayaan Midsummer, sebuah tradisi yang dikenal dengan pesta menari di hari yang paling terang di kurun waktu setahun. Lengkapnya ada di tulisan Midsummer ini.

img_7555
Di saat summer, alun alun Tällberg ini selalu dijadikan sebagai tempat merayakan Midsummer. Ada tiang  Majstång, simbol perayaan midsummer
img_7560
Tiang Majstång, simbol perayaan midsummer

Di mata gue, Tällberg itu ibarat desa metropolitan. Bagaimana tidak, untuk ukuran desa kecil, gue melihat banyak banget plang kayu layaknya informasi jalan di setiap ruas jalanan Tällberg. Ngalahin kota besar.

img_8570
Sebagian dari plang kayu yang ada di jalanan Tällberg. Dan masih banyak yang lainnya lagi

Hal ini dikarenakan banyaknya hotel, cafe, dan museum di Tällberg. Belum lagi di saat winter, Tällberg menjadi desa yang sarat dengan cahaya lampu lampu hotel. Cantik.

img_8757
Di saat winter lampu hotel menjadi terlihat menarik 
img_7577
Salah satu foto favorite gue. Mengingatkan gue pada design christmas card
img_7592
Cottege di antara balutan salju. Seperti negeri dongeng ya
IMG_7589.JPG
Ini juga, seperti di film film. 
img_8561
Ahhhh….mirip kalender
img_8562
Tällberg di saat winter
img_8563
Tällberg di saat winter

Baik winter maupun summer, Tällberg tetap memiliki wajah yang indah. Yang sudah tentu keindahan masing masing musim berbeda. Di saat winter Tällberg ibarat negeri dongeng. Tumpukan salju di mana mana. Di saat summer, desa ini terlihat segar dengan hamparan rumput hijau, bunga dan rumput liar dimana mana, bahkan sampai barisan pohon apel dengan buah yang sangat meng-gemyesss-kan. Pengen metik, masukin karung trus jadi props foto. Hahaha

img_7622
Bunga liar di sekitar Tällberg. Gemes
img_7523
Bunga liar di Tällberg
img_7526
Bunga liar di Tällberg
img_7519
Rumput liar
img_7531
Cottage
img_7566
Tällberg di saat summer. Hijau!  Tidak sedikit bangunan yang menggunakan pagar kayu seperti ini. Tapi malah terlihat unik
IMG_7530.JPG
Tällberg dengan koleksi Härbrenya

Tällberg, desa kecil yang beruntung, wajahmu sarat dengan pesona hotel bintang empat, yang jelas membuat diriku juueles. Kapan desa gue bisa seperti dirimu. Huuuuuuuuu!

img_7506

Untuk  kunjungan kami ke salah satu hotel di Tällberg,  akan gue tulis di tulisan berikutnya.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

See you in my next story.

Pentingnya Gudang Bagi Warga Pedesaan Dalarna Swedia

Jika berkunjung ke Swedia, khususnya ke wilayah countryside atau pedesaannya, jangan heran jika hampir sebagian besar pemandangan yang terlihat adalah bangunan bangunan kayu dengan warna yang sangat dominan. MERAH!

Dan uniknya, bukan hanya bangunan rumah, rata rata untuk satu halaman warga, biasanya berdampingan dengan bangunan lain yang bentuknya bisa dibilang mirip, bahkan memiliki warna yang sama. Merah juga!

Meskipun dari jauh tampak seperti rumah, dipastikan bangunan bangunan lain di sekitar rumah utama itu bukanlah rumah tetangga, melainkan bangunan yang berfungsi sebagai gudang, guest house, bahkan tidak sedikit yang memiliki Härbre, sejenis rumah kayu yang dulunya (ratusan tahun silam) dipakai sebagai lumbung gandum.

Gudang dan Härbre yang kebanyakan diperoleh dari warisan keluarga besar, yang tetap dijaga, dipelihara serta dipertahankan sampai sekarang. Bahkan bisa dibilang menjadi kebanggaan warga pedesaan Dalarna. Sebagai penggila barang antik, warga Dalarna memiliki pandangan yang berbeda terhadap bangunan modern. Contohnya, jika harus membangun gudang di jaman modern seperti sekarang ini, bisa dibilang kalah pamor dibanding gudang yang sudah berumur ratusan tahun.

img_7974
Rumah diantara bangunan gudang

Secara pribadi, setiap mendengar kata gudang, yang pertama terlintas di benak gue adalah ruangan sumpek, berantakan atau kotor. Meskipun tidak selamanya benar ya. Di Indonesia, setiap rumah tidaklah wajib harus memiliki gudang. Kalau pun ada, biasanya menggunakan ruangan kecil saja. Artinya bukanlah sesuatu yang penting banget dan harus ada. Kalau ada oke, dan jika tidak pun ya ga masalah. Yang gue tau sih, gudang hanya wajib dimiliki oleh sebagian besar kalangan pengusaha pabrik atau juga petani, untuk kepentingan penyimpanan stok barang atau hasil panen.

Namun kondisi di atas berbeda atau bisa dibilang berbanding terbalik dengan lingkungan pedesaan di sebagian besar wilayah Swedia. Termasuk Dalarna, salah satu propinsi dimana gue bermukim. Pertama tiba di Swedia, tepatnya di desa gue yang sekarang, kebingungan lumayan mendera. Kenapa di sekitar rumah banyak sekali bangunan lain, yang bukan rumah hunian. Tidak hanya satu dua, melainkan sampai lima. Dan tidak tanggung tanggung, ukurannya pun lumayan besar dan sebagian nyaris menyerupai sebuah rumah. Yang jika digabungkan, luas keseluruhannya melampaui luas rumah yang kami (gue dan suami) tempati.

img_7776
Gudang besar di sisi kiri dan kanan rumah utama

Tadinya gue berpikir, bangunan bangunan seperti ini hanya ada di sekitar halaman rumah kami saja. Ternyata gue salah. Setelah gue perhatikan, hampir semua warga desa memiliki gudang. Dan jumlahnya hampir bersamaan. Lebih dari satu! Dan fantastisnya lagi (gue sampai mengernyitkan alis), ukurannya itu loh, kok ya bisa samaan. BESAR!  Hahahaha.

Dengan ukurannya yang lumayan besar, memberi kesan seolah olah warga yang tinggal di desa gue banyak banget. Karena dari jauh memang kelihatan seperti rumah kan. Padahal cuma gudang gudang kayu  yang berdiri mengelilingi rumah utama. Hihihi

img_7698
Jika dilihat dari jauh, bangunan rumah dan gudang hampir mirip ya

Waktu itu, pertanyaan yang muncul di kepala adalah: Buat apa gudang sebanyak dan sebesar ini? Bukannya kata suami yang tinggal di desa ini cuma sedikit? dengan asumsi (waktu itu), paling satu rumah rata rata cuma dihuni dua orang. Belum lagi bangunan lain, yang kesannya berserak dimana mana. Sampai akhirnya barulah gue mengerti apa alasan dibalik berdirinya gudang gudang tersebut.

Kehidupan bertani yang sebagian besar menjadi kegiatan sehari hari di masa lampau, menjadi alasan yang kuat bagi sebagian besar warga pedesaan Dalarna, untuk harus memiliki Härbre dan gudang besar. Awalnya gudang gudang ini hanya berfungsi untuk kepentingan pertanian, seperti tempat tinggal sapi, kuda, babi bahkan unggas. Orang orang yang hidup di jaman ratusan tahun silam, tidak pernah membayangkan kalau gudang yang mereka bangun akan menjadi warisan antik yang digemari oleh para generasi berikutnya. 

Bergulirnya sang waktu, akhirnya fungsi gudang di atas pun bergeser, tidak hanya untuk kepentingan pertanian, melainkan bisa dipakai sebagai tempat menyimpan berbagai jenis barang. Salah satunya barang peninggalan (warisan) keluarga besar. Barang yang dianggap memiliki nilai memori, sekalipun tidak dipakai, tetap disimpan di dalam gudang.

Hal inilah yang terjadi di gudang sekitar rumah gue. Barang peninggalan dari kakek buyut suami, masih tersimpan dengan baik, meskipun susunannya tidak rapi. Mulai dari barang pecah belah, perabot rumah seperti lemari, tempat tidur, meja sampai kursi antik. Ada juga kereta kuda, peralatan pertanian jaman bahela, kaleng tempat perasan susu, berbagai jenis ember kayu, toples dan botol retro. Bahkan sampai ayunan bayi yang sudah turun temurun, sampai terakhir digunakan sebagai ayunan suami ketika masih bayi juga ada. Yang namanya barang antik/retro sudah menjadi pemandangan yang biasa buat gue ketika memasuki gudang.

IMG_7781.JPG
Gudang yang sangat panjang dan besar. Dulunya digunakan sebagai tempat tinggal sapi dan kuda di saat winter
img_7789
Salah satu gudang milik tetangga
img_7790
Masih gudang milik tetangga  
img_7947
Masih gudang milik tetangga. Letaknya saling berdekatan dengan kedua gambar di atas

Berhubung sebagian besar gudang yang ada merupakan warisan turun temurun keluarga, dan kegiatan bertani bukanlah pekerjaan yang dominan di jaman sekarang (ada sih beberapa kalangan yang tetep bertani), namun seperti yang gue jelaskan di atas, gudang gudang tersebut tetap dipertahankan dan menjadi kebanggaan keluarga tertentu. Bahkan jangan heran, jika harga sebuah rumah dalam transaksi jual beli, bisa dipengaruhi oleh ada tidaknya gudang. Rumah tanpa gudang rasanya kurang sempurna. Sebab gudang sangat identik dengan bangunan antik. Dan warga lokal Swedia khususnya di pedesaan, sangat menggilai yang namanya barang dan bangunan antik. Dan satu lagi, tinggal di lingkungan yang memiliki gudang antik, bagi warga Dalarna serasa kembali ke jaman leluhur mereka dulu.

img_7783
Gudang tetangga  lengkap denga sebuah Härbre. Tetangga gue rela mengeluarkan kocek  yang tidak sedikit untuk memperbaiki atap Härbre yang mulai rusak. Härbre ibarat sebuah pajangan antik di halaman rumah. Menjadi kebanggan pemiliknya
img_7699-1
Rumah kayu berukuran kecil. Dulu dipakai sebagai kandang Babikkkk!!!  Gile, Babikk  aja punya rumah ya dulu. Hahhaha
IMG_7772 (1).JPG
Gudang multi fungsi. Bisa tempat barang bekas maupun mobil

Selain itu, hidup dilingkungan pedesaan, meskipun tidak memelihara ternak, tapi gudang tetap menjadi bangunan yang sangat diperlukan. Contohnya, sebagai tempat menyimpan kayu bakar, peralatan mesin (seperti bengkel pribadilah, lengkap dengan segala onderdilnya). Bahkan mobil dan traktor ukuran besar pun bisa dimasukin ke dalam gudang. Khususnya di saat musim dingin. Jangankan di lingkungan pedesaan, di kota kecil saja pun gudang tetap diperlukan, meskipun barang yang disimpan di dalam tidak terlalu banyak.

IMG_7944.JPG
Gudang tempat menyimpan kayu bakar. Bagi warga pedesaan di Dalarna, khususnya di desa gue,  kayu bakar sangat penting. Butuh satu gudang khusus untuk menyimpannya. 
img_7792
Gudang Tua 
img_7794-1
Tanpa disadari, bangunan gudang tua seperti ini menjadi daya tarik sebuah desa. Apalagi diantara bunga bunga liar di musim panas. Cakep

Percaya atau tidak, gudang adalah salah satu tempat favorite warga pedesaan Dalarna untuk mengerjakan sesuatu yang berbau teknikal. Entah itu mengutak atik mesin, menghaluskan permukaan kayu, apa aja deh, gue juga ga ngerti. Intinya mereka tahan berlama lama di dalam gudang. Karena tidak seperti di Indonesia yang apa apa semua bisa dikerjakan orang lain, tinggal bayar jasa. Kalau di sini tidak demikian. Kebanyakan dikerjakan sendiri. Membangun rumah saja kalau bisa dikerjai sendiri. Satu gudang bisa berisi mesin baut, berbagai jenis obeng, berjejer rapi di dinding layaknya sebuah bengkel. Pertama ngelihat lumayan salut sih. Bisa lengkap gitu.

img_7782
Barisan gudang
img_7773
Gudang tempat menyimpan hasil pertanian

Meskipun tidak termasuk gudang (menurut suami), bangunan lain yang lumayan unik menurut gue adalah Jurdkällare (Root Cellar). Berukuran kecil, dan berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan. Makanan mampu bertahan lama untuk kurun waktu yang relatif lama. Mengapa? Karena suhu di dalam Root Cellar cenderung stabil sepanjang waktu. Berkisar antara 3 sampai 5 derajat celcius. Tidak terlalu terpengaruh dengan suhu luar baik di saat summer maupun winter. Tidak jarang kami memasukkan bahan makanan seperti kentang, selai Lingonberry, buah semangka ke dalam gudang ini. Kondisi tetap awet. Sekalipun di saat winter, makanan di atas tidak frozen. Bangunan yang tebuat dari dinding batu, lantai pasir dan atap yang ditutup tanaman rumput atau bunga semak, menjadi faktor utama yang membuat suhu ruangan tetap stabil. Dan satu lagi, ruangan di dalamnya sangat gelap dan tidak ada cahaya.

img_7975
Root Cellar. Jaman dulu hampir semua warga desa memiliki rumah tempat menyimpan bahan makanan ini. Tapi di jaman sekarang sudah jarang. Kebanyakan sudah tidak berfungsi lagi karena rusak. Ciri khas Root Cellar adalah tanaman rumput atau bunga semak di atas atapnya. Dan bangunannya terbuat dari batu. Jadi pintu kayu merah ini hanyalah akses menuju Root Cellar
img_7942
Ini adalah ruangan di dalam Root Cellar. Aslinya gelap banget.  Sampai sekarang ruangan ini masih berfungsi dengan baik. Baik  untuk menyimpan hasil panen kentang, selai lingonberry, wine maupun buah (seperti buah semangka).  Jadi ceritanya, sebelum kulkas ada, dahulu kala warga pedesaan di Swedia, khususnya Dalarna, mengawetkan makanan ke dalam Root Cellar. Kalau dipikir pikir pinter banget idenya ya. Beneran loh. Suhu di dalamnya mirip suhu di dalam kulkas. 
img_7793-1
Root Cellar 
img_7795
Root Cellarnya antik ya …hahahha

Dari sekian jenis bangunan yang berdiri di sekitar rumah, bisa dibilang Härbre adalah bangunan yang paling mendapat perhatian khusus dari warga Dalarna di abad modern ini. Terdiri dari balok balok kayu berukuran besar dan disusun seperti puzzle. Bisa dibongkar pasang. Pintunya pun sangat berat dengan permukaan kayu yang dilapisi besi. Kemungkinan besar karena Härbre digunakan sebagai tempat menyimpan gandum, jadi untuk menghindari hal terburuk, Härbre pun dibangun dengan design seaman mungkin.

img_7945
Härbre, bangunan kayu antik yang sangat digemari. Suami gue bolak balik memandangi bangunan ini ketika selesai dipindahkan ke halaman rumah. Hahaha.

Di samping itu, Härbre rata rata berumur di atas duaratus tahun lebih. Jadi keantikannya jelas mendapat perhatian khusus. Gue masih ingat, ketika kami akan memindahkan Härbre dari desa sebelah ke halaman samping rumah. Tidak sedikit tetangga yang datang untuk menyaksikan. Bahkan teman kantor suami jauh hari sudah merencakanan untuk datang. Tidak hanya itu, salah seorang anak tetangga yang tinggal di luar kota, bolak balik mengingatkan suami agar tidak lupa mengambil dokumentasi foto ketika proses bongkar pasang Härbre berlangsung. Gila ya segitu antusiasnya.

IMG_7777.JPG
Proses bongkar pasang Härbre. Seperti puzzel.  Jadi  pertama tama batang balok  dilepas, baru dipasang kembali sesuai susunan semula. Cepat banget proses pemasangannya. Kesannya balok balok kayu hanya dicemplungin gitu aja. Menurut gue keren sih arsiteknya. Jaman ratusan tahun silam gitu loh. Untuk memudahkan proses penyusunan kembali, masing masing balok diberi nomor. Tertulis di lingkaran merah permukaan balok. 
img_7784
Bagian bawah Härbre yang hanya ditopang oleh batu batu besar dengan ukuran yang tidak sama. Tapi susunan batu harus sama tingginya.  Jadi Härbre bisa berdiri sempurna. Batu batu ini diambil langsung dari batuan di hutan loh. Lumayan susah ngumpulinnya. Karena bentuknya harus seperti kotak gitu.

Di jaman sekarang, keunikan Härbre melahirkan inspirasi baru bagi warga pedesaan dan kalangan pebisnis. Disulap menjadi summer house,  guest house, bahkan menjadi kamar hotel. Selain itu, beberapa bangunan Härbre juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah Swedia, dan menetapkannya sebagai heritage yang dilindungi oleh negara.

img_7797
 Härbre menjadi guest house
img_7946-1
Härbre berubah menjadi guest house
img_7787
Härbre di desa gue. Berumur 400 tahun lebih dan menjadi heritage yang dilindungi pemerintah Swedia.

img_7788

img_7531
Härbre di kawasan hotel
img_7530
Härbre yang antik di kawasan hotel

Mungkin bagi kalangan yang tidak begitu paham, bangunan gudang, Härbre dan Root Cellar menjadi sesuatu yang Nothing. Tapi tidak dengan warga pedesaan di Dalarna. Gudang dan sejenisnya bukan hanya sekedar warisan keluarga, melainkan sudah menjadi bagian dari kultur budaya yang akhirnya mendapat perhatian dari banyak kalangan. Bahkan bisa dibilang menjadi salah satu ciri khas wilayah pedesaan di Swedia khususnya Dalarna.

Salah satu contoh misalnya, jika mengunjungi desa Nusnäs, sebuah desa tidak jauh dari kota Mora, Dalarna, mata akan dimanjakan dengan barisan gudang dimana mana. Seperti pagar yang mengelilingi sebuah desa. Saling berdekatan satu sama lain. Yang pada akhirnya membuat jalanan ini dikenal karena memiliki banyak gudang antik.

IMG_7802.JPG
Desa dengan barisan gudang dimana mana
img_7803
Gudang di tepi jalanan utama desa
img_7950
Bangunan ini terkesan seperti rumah rumah penduduk. Padahal sebagian besar merupakan bangunan gudang.
img_7798
Dimana mana terlihat gudang
img_7744-1
Rumah, Härbre dan gudang
img_7951
Lihat bangunan gudang ini, panjang banget kan

Berkunjung ke wilayah pedesaan Dalarna, bersiaplah menerima sambutan barisan pohon pinus, aliran danau, landscape pertanian, dan tentunya bangunan rumah kayu berwarna merah, lengkap dengan gudang dan Härbre di sekitarnya. Landscape yang menawan yang justru menjadi ciri khas salah satu propinsi di Swedia ini.

img_7768
Bangunan bangunan gudang dan Härbre di sebuah kawasan Fäbod, Fryksås, Dalarna. Dulunya tempat ini merupakan pemukiman sapi di saat summer. Karena memiliki gudang sapi yang sangat banyak, menjadikan Fryksås dianggap unik dan menjadi salah satu tempat wisata yang dikenal di Dalarna.
img_7804
Berfoto dengan latar belakang gudang. Cerita lengkap bisa klik link di bawah

Jika ingin melihat gudang bekas tempat tinggal sapi di kawasan Fäbod ratusan tahun silam, yang sampai membuat sebuah desa menjadi tujuan wisata yang cukup dikenal di propinsi Dalarna,  BISA MEMBACA di LINK INI .

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

See you in my next story