Mari Berkenalan Dengan “Smörgåstårta”

Setiap negara tentulah punya panganan khas masing masing. Tak terkecuali Swedia. Semakin lidah gue terbiasa, makanan di negara ini ternyata lumayan enak.

Salah satunya adalah Smörgås. Semacam open sandwich gitu. Kalau tidak salah, smörgås lumayan popular di negara Nordik. Paling yang membedakan hanyalah bentuk variasi serta sebutan namanya. Smörgås biasanya disantap di kala pagi hari ketika sarapan, menjelang sore atau malah pengganti makan malam.

7CBD068F-5D09-49A7-96A3-A0B5D431B107

Kalau di Swedia, umumnya mereka menggunakan roti yang disebut knäckebröd, roti crispy yang kalau dikunyah kriuk kriuk. Gue kaga suka roti ini. Di mulut sakit. Hahaha. Ada juga yang menggunakan sandwich bread/white bread maupun rye bread. Nah, untuk topping sesuai selera. Umumnya diolesi butter dan diberi sayuran, keju, ham, telur, udang, hati sapi hingga kaviar. Pokoknya sesuai seleralah.

41C3A35F-9E99-45F7-8315-E4B0E89C57B7.jpg
Super leker

Rasa rasanya sebagian besar warga lokal di Swedia sangat menyukai smörgås. Suami gue apalagi. Kayak kecanduan. Smörgås makanan favorite dia banget. Meski sekarang dia harus mengurangi dikarenakan program kesehatan yang sedang dijalani. Meski kadang kadang dia kaga perduli juga. Si bandel. Hahaha.

37260307145_b6cbd969b6_o.jpg

Varian lain smörgås yang sangat terkenal di Swedia adalah Smörgåstårta atau Swedish Sandwich Cake. Disebut smörgåstårta karena bentuknya menyerupai cake. Smörgåstårta juga dihiasi berbagai macam sayuran maupun keju, ham, telur, kaviar, dll. Dan lagi lagi sesuai selera mau dihias pakai apa. Tapi jarang dihiasi dengan buah. Kurang cocok.

FAEE06DB-2D00-44D3-9D49-73E5C44E5EED

Yang membedakannya dengan smörgås biasa, smörgåstårta terdiri dari beberapa layer roti yang diolesi campuran mayones. Umumnya disajikan di acara ulang tahun atau perayaan acara keluarga. Bahkan disajikan sebagai santapan di hari biasa pun sah saja. Di cafe lumayan sering dijual. Bisa dibeli perslice.

Smörgåstårta yang gue bikin terdiri dari enam layer. Kalau mau dibikin empat layer juga bisa. Gue menggunakan jenis roti dari Polarbröd. Bisa lihat di sini. Jenis Polarbröd ini lumayan banyak sih. Pilihlah yang khusus untuk membuat smörgåstårta dengan rasa tawar (tidak manis).

IMG_3641.jpg
Whippy cream cair, sejenis sour cream, dill dan mayones. Tapi untuk dill usahakan yang fresh. Lebih tajam aromanya. 

Smörgåstårta wajib memakai cream mayones agar lapisan roti bisa merekat satu sama lain. Dan hiasan bisa menempel juga.

Mayones bisa dicampur dengan hati sapi, tuna atau sesuai selera. Roti harus disusun horizontal dan vertikal secara bergantian agar proses memotong lebih mudah. Contohnya roti yang gue pakai bentuknya melingkar. Dan umumnya roti yang  dijual sudah dalam kondisi terbagi dua. Jadi ketika menyusun, pertemukan masing masing potongan agar membentuk lingkaran, yang mana bagian tengah mengarah vertikal. Lalu lapisan kedua mengarah horizontal.  Bisa lihat di sini

E9374BF6-A7F3-425B-AB17-A50A1C5549C2.jpg

Konsistensi campuran mayones idealnya tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental. Intinya seperti membuat lapisan cake saja dan mudah diratakan dengan pisau. Kalau gue, mayonesnya dicampur sedikit sour cream kental (gue pakai creme fraiche) atau bisa juga dengan sedikit whippy cream cair. Jadi hasil konsistensinya lebih bagus menurut gue. Kualitas mayones pun usahakan yang berkualitas. Setiap lembar roti jangan lupa diolesi butter dulu sebelum diberi lapisan campuran mayones.

37117610571_d8349e970f_o.jpg

Dan untuk campuran mayones gue selalu tambahkan dengan tuna kaleng atau hati sapi atau skagenröra. Mengapa? Karena citra rasa dan aromanya klasik dan khas banget. Apalagi skagenröra itu, wajib ada deh kayaknya. Ini yang bikin enak banget. Bisa dibeli di supermarket. Di bawah ini contoh gambar skagenröra yang bisa dibeli di supermarket. Gue ga tau di Indonesia ada apa ga ya. 

Semisal sulit didapat, bisa dibuat sendiri. Terdiri dari mayones dan sourcream, vinegar, mustard, gula, garam, lada bubuk, udang rebus, kaviar, dan jangan lupa Dill. Aroma dill pada smörgåstårta lumayan berasa. Dan herbal ini memang tajam sekali harumnya. Gue sukaaaaaaaaaa banget. Pokoknya main feeling aja. Dont worry. Ga bakal gagal. Karena ini bukan ngebaking. Membuat smörgåstårta ibarat bermain dengan khayalan. Khayalan berkreasi.

6060A90A-C543-4EEB-8D4A-D0A6D496D480 (1)

Smörgåstårta yang gue bikin adalah sebagai berikut :

  • Lapisan roti pertama terdiri dari mayones dicampur dengan hati sapi dan sedikit whippy cream cair
  • Lapisan roti kedua terdiri dari mayones dicampur dengan sour cream dan tuna kaleng
  • Lapisan roti ketiga terdiri dari rödbetssallad (bisa lihat di sini), berupa campuran mayones dan potongan bit merah (tinggal beli di supermarket)  
  • Lapisan keempat terdiri dari campuran skagenröra (sudah gue jelasin di atas)
  • Lapisan yang kelima terdiri dari mayones dicampur sour cream dan tuna kaleng
  • Lapisan keenam terdiri dari campuran mayones dan sour cream. Olesi ke seluruh sisi permukaan roti hingga tertutup rata.
  • Baru hiaslah sesuai selera. Seperti yang ada di foto, warna hijau pada smörgåstårta berasal dari potongan rucola salad dan dill. Selebihnya bisa diberi tomat, timun, ham, udang, kaviar atau terserah anda pemirsah!
  • Atau lebih mudahnya lagi, berkreasi sendiri saja dengan bahan yang ada. Yang paling penting sudah punya gambaran kan, kalau smörgåstårta ini sebenarnya hanya lapisan roti bercampur cream mayones.

7C4D9D6E-5984-42F7-A7C0-A08F96E4B758.jpg

BE0CDF09-97D8-4847-9060-1B918E85E2D3.jpg

Jika ingin melihat berbagai varian hiasan smörgåstårta, BISA LIHAT di SINI

Berhasil Bikin Croissant!

Inilah puncak kegembiraan gue sepanjang karir ngebaking di dapur. Akhirnya gue berhasil menaklukkan keraguan yang selama ini menjadi penghalang untuk tidak merasa minder dengan kemampuan diri sendiri. Mengingat proses pembuatannya yang lumayan tricky. Adonan bolak balik keluar masuk chiller, laminating yang tepat agar butter tidak meluber kesana kemari, hingga proses folding yang beberapa kali cukup membuat gue maju mundur di tempat. Sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk mencoba. Dan yaiiiii………………gue berhasil bikin croissant!

Adrenalin gue berasa terpacu selama proses ngebaking berlangsung. Antara takut gagal dan berhasil. Dan kalaupun berhasil, hasilnya akan seperti croissant di toko rotikah? Bahkan ketika searching resep sana sini, pusingnya uda lumayan berasa. Bingung mau pilih yang mana. Yang jelas gue butuh resep yang bisa dimengertilah. Tidak terlalu riweh dan ngejlimet. Dan yang terpenting adalah resultnya. Sejujurnya ada beberapa resep yang kurang cocok di hati gue. Alasannya sih sederhana.

Namanya juga pemula, tampilan croissant secara kasat mata sangat berpengaruh kan. Ada beberapa resep dimana croissant terlihat kurang mengembang sempurna. Kulitnya kelihatan tebal. Layernya kurang kelihatan. Juga terkesan tidak flaky.

6AEAB92A-9152-417B-AB9E-639F13E2A864 (1).jpg

A8362CD1-E6FA-4F90-A55A-B5C3DD4B5659

Sampai akhirnya gue menemukan satu resep yang cocok di hati. Sangkin tidak ingin gagal, gue mencari tau background si pemilik resep. Ternyata beliau memang pernah sekolah boga di Perancis dan berkarir di negeri asal croissant itu. Dan sekarang menetap di US. Melihat cara dia memasak dan ngebaking, gue langsung tersugesti jika beliau ini adalah seorang profesional. Tangannya cekatan. Langsung gue subscribe. Resepnya menarik semua. Ditambah lagi orangnya lucu dan sedikit sableng di setiap videonya. Makin mantaplah hati gue untuk memilih dan mencoba resepnya. Hahaha.

E4BE882B-716B-4D63-BE0E-B2DB20614F38.jpg

Hingga akhirnya gue menyimpulkan jika gue tak salah tersugesti oleh backround pendidikan dan pengalaman beliau. Resepnya memang jitu. Ya okelah, anggap gue lagi lucky. Mencoba perdana langsung berhasil. Gue ga bilang sempurna ya. Tapi sebodo amat kan, namanya juga perdana dan langsung berhasil pula. Masa gue tega bilang kalau resepnya abal abal? Dan yang terpenting, resep beliau ini tidak terlalu ribet dibanding yang lain. Masih bisa dimengerti. Penyampaian informasi dan tipsnya lumayan lengkap (setidaknya menurut gue sih begitu).

A01E02A1-161D-4F73-BCCC-1BEF9F72AF5D

Menurut beliau, croissant bukan brioche. Jadi tidak perlu menggunakan air susu dan telur. Gue melihat ada beberapa resep lain yang menggunakan cairan susu dan telur. Kebetulan atau tidak, yang ada tampilan layer croissant malah kurang terlihat dan terkesan tidak flaky. 

Hal penting lainnya, untuk adonan tepung dan butter yang dimasukin terpisah ke dalam chiller, harus memiliki konsistensi yang sama ketika proses laminating antara butter dan adonan dilakukan. Artinya sebelum tahap ini, butter harus dikeluarkan dari chiller ke suhu ruang agar konsistensinya menjadi lebih lembut (bukan melting ya). Selain itu, adonan tepung harus melalui proses proofing terlebih dahulu sebelum dimasukin ke chiller. Jadi sehabis diuleni, tidak langsung dimasukin ke kulkas. 

F6184621-0DCE-4212-874E-19F106451127.jpg

Menurut gue kesabaran tingkat tinggi benar benar diuji selama proses pembuatan berlangsung. Terutama untuk hasil akhir proofing. Pastikan benar benar mengembang untuk menghasilkan rongga di bagian dalam dan flaky di bagian luar. Butter juga harus berkualitas bagus. Standart eropa kalau bisa (begitu saran si pemilik resep). Adonan bisa diuleni manual pakai tangan (seperti di resep asli) tapi gue pakai mesin.

Resep yang gue share di sini hanyalah penyesuaian dari resep aslinya. Artinya ada beberapa bagian yang gue sesuaikan dengan kemampuan gue. Untuk ukuran panjang dan lebar, mungkin ada sedikit selisih. Tapi at least, meski beda beda dikit, croissant gue lumayan berhasil kok. Gue share resepnya ya!

0C6E3998-E68E-4DAC-83D5-048833733261
Proses proofing dimulai

Bahan I :

  • 250 gr air (suhu ruang 25 derajat celcius)
  • 14 gr ragi kering
  • 500 gr unbleached bread flour
  • 12 gr garam
  • 50 gr gula pasir (butiran halus)
  • 100 gr butter (harus kualitas bagus)

Bahan II :

  • 250 gr softened unsalted butter(gue pakai normal salted butter tidak masalah). Softened di sini maksudnya bukan melting ya. Tapi konsistensinya padat lembut agar mudah dirolling)

Bahan III : 

Telur untuk olesan (kocok rata)

46CEE844-C9D6-4F50-98E8-C7543BD90C8E.jpg

Cara membuat :

  • Campur rata tepung, garam dan gula  ke dalam wadah mesin roti
  • Lalu di bagian lain, campur dan kocok rata ragi dan air. Segera masukkan ke dalam campuran tepung di mesin roti
  • Hidupkan mesin di level rendah selama 1 menit agar adonan tercampur rata
  • Kemudian masukkan butter dan naikkan level mesin ke level tinggi (saya dari level 1 ke level 2)atau kenali mesin roti masing masing ya. Biasanya kalian menggunakan maksimal di level berapa untuk mengadon roti.
  • Adon di mesin hingga 5 menit
  • Keluarkan adonan dari mesin. Bulatkan dan taruh di dalam wadah bertutup
  • Biarkan mengembang di suhu ruang (sekitar 24 derajat celcius adalah suhu yang ideal untuk resep). Kurang lebih waktunya sekitar 2 jam. Atau supaya lebih mudah, untuk acuan lihat saja adonan berubah menjadi double size
  • Setelah mengembang sempurna, tabur tepung secukupnya di atas meja kerja
  • Taruh adonan di atas meja yang sudah ditaburi tepung.
  • Ratakan adonan hingga membentuk persegi panjang
  • Pertemukan bagian sisi kiri dan kanannya hingga masing masing pinggirannya bertemu.
  • Lalu lipat bagian ujung atas dan bawahnya saling tindih.
  • Ratakan lagi dengan tangan membentuk persegi.
  • Bungkus dengan plastic wrap.
  • Masukin ke dalam kulkas (chiller).
  • Biarkan overnight (12 hingga 16 jam)
  • Siapkan bahan II
  • Siapkan plastik dengan lebar 21-22 cm
  • Masukkan butter ke dalam plastik.
  • Ratakan pelan pelan dengan rolling pin.
  • Ratakan sampai menghasilkan panjang 18 cm dan lebar 21-22 cm
  • Masukin ke dalam kulkas (chiller)
  • Esok harinya, keluarkan adonan butter dari chiller dan biarkan sesaat di suhu ruang agar menghasilkan konsistensi yang lembut. Ingat, konsistensi butter harus sama dengan adonan bahan I (adonan tepung) agar pada saat dirolling lebih mudah dan smoother (menurut gue feeling bermainlah ya).
  • Jika butter sudah terlihat tidak mengeras lagi, keluarkan adonan dari chiller.
  • Ratakan adonan dengan rolling pin hingga membentuk persegi dengan panjang 38 cm
  • Lalu letakin butter di satu sisi adonan dan lipat sisa adonan ke bagian atas butter.
  • Tekan pelan pelan adonan dengan rolling pin dari ujung ke ujung
  • Ratakan lagi hingga menghasilkan panjang 60 cm dan lebar 20 cm
  • Lalu lipat bagian ujung adonan sepanjang 45 cm. Dan sisanya lipat ke sisi lipatan pertama (saling bertemu).
  • Ratakan kembali
  • Lalu lipat ujung yang satu dengan yang lain saling bertindihan
  • Tekan pelan dengan rolling pin dan ratakan lagi hingga menghasilkan panjang 60 cm dan lebar 20 cm
  • Lalu lipat ujung yang satu dengan yang lain saling bertindihan
  • Ratakan kembali dengan panjang sekitar 40 cm dan lebar 20 cm
  • Bungkus denga plastic wrap dan masukin kulkas (chiller) selama 1 jam
  • Setelah satu jam, keluarkan adonan
  • Ratakan dengan rolling pin hingga menghasilkan panjang 60 cm dan lebar 20 cm
  • Lalu bagi menjadi  dua bagian
  • Satu bagian biarkan di meja kerja dan sisanya masukin kembali ke kulkas agar tidak kelamaan di suhu ruang (menghindari butter menjadi meleleh)
  • Lalu ratakan adonan di meja kerja hingga menghasilkan panjang 46 cm dan lebar 23 cm.
  • Buang pinggiran adonan yang sekiranya terlihat tidak rata
  • Potong adonan berbentuk segitiga (lebarnya kira kira 5 cm)
  • Sebelum digulung, stretch (renggangkan) adonan pelan pelan dari ujung ke ujung
  • Lalu gulung dari bagian yang paling lebar hingga ke bagian paling runcing
  • Susun di baking ray berlapis baking paper
  • Biarkan mengembang hingga double size (tergantung suhu ruang masing masing)
  • Olesi permukaan croissant dengan lapisan telur yang sudah dikocok rata (putih plus kuningnya)
  • Siapkan oven di suhu 200 derajat celcius
  • Masukkan adonan dan oven selama 10 menit
  • Setelah 10 menit, turunkan suhu ke 180 atau 185 derajat celcius
  • Lanjutkan dioven selama 12-15 menit (tergantung jenis oven ya. Jadi rajin rajin aja mantengin)
  • Croissant siap disajikan. Good Luck!

3C369240-1DCC-45F9-A781-86C08D2D8008.jpg

Note : 

  • Ketika baru keluar dari oven, tampilan rongga di bagian dalam croissant belum terlalu kelihatan karena butter masih melting. Kalau mau memotong croissant, lakukan setelah benar benar dingin.
  • Pastikan ketika meratakan adonan, selalu ada tepung di meja kerja agar tidak lengket
  • Tapi setiap melakukan folding (lipatan) pastikan sisa tepung di permukaan adonan harus dibersihkan. 
  • Demikian juga ketika menggulung dan membentuk croissant, pastikan tidak ada tepung di permukaannya agar adonan bisa digulung sempurna.
  • Kalau adonan dikerjakan manual pakai tangan, pastikan pada saat menguleni, tidak ada tepung di atas meja kerja. Penggunaan tepung di atas meja kerja hanya diperlukan pada saat meratakan adonan (supaya tidak lengket) 
  • Croissant ini disantap dalam kondisi masih hangat ueeenak banget. Fluffy di bagian dalam, flaky di bagian luar, dan buttery banget. Tapi kalau mau divariasikan juga boleh. Dengan menambahkan tuna, ham, chicken, sayuran, seperti yang ada di foto juga boleh. Tapi harus bener benar dingin dulu ya croissantnya.
  • Menurut gue, kalau cuma melihat, membaca dan mengikuti resep melalui tulisan agak sulit ya. Apalagi resep yang gue share ini tidak dilengkapi foto tutorial. Jadi saran gue sih tidak ada salahnya melihat video si pemilik resep. Gue share resep di blog karena beberapa followers di instagram minta dibuatin resep (versi Indonesia). Itupun lumayan riweh nulisnya. Panjang banget. Hahaha. Semoga bergunalah ya. Kalau ada yang kurang harap maklum. 
  • Di bawah ini gue sertakan link video si pemilik resep. Mr. Bruno Albouze

https://www.youtube.com/watch?v=2OAUM0MRgQw

Gue Introvert atau Schizoid?

Basicly gue bukan seorang yang kurang bergaul. Tapi terlalu bergaul pun tidak juga. Yang gue ingat, sewaktu kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), gue lumayan punya banyak teman. Terutama dari lingkungan sekolah maupun bimbingan les di luar sekolah.

Dari mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, gue pasti punya genk alias teman teman kompak. Dan sejujurnya jika sudah klik banget di hati,  gue cenderung malas mengembangkan sayap ke sana kemari demi mencari teman baru.

Masih ingat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), gue punya beberapa teman dekat. Kemana mana selalu bersama. Pulang sekolah suka main bareng. Nginap di rumah. Sampai dikejar kambing pun pernah bareng bareng. Teman gue pipis di celana sangkin takutnya. Hahaha.

Sangkin dekatnya,  teman sekelas yang lain memberi julukan genk “Madona” ke kami. Entah apa maksud mereka memberi julukan itu. Dari segi penampilan dan wajah saja kami sangat berbeda jauh dengan Madona. Yang satu blonde abis sedangkan kami siborong borong abis. Kocak.

Begitupun di tingkat SMA hingga kuliah, gue selalu punya genk sendiri. Dari yang cuma kenal muka tapi jarang bicara, kenal baik, hingga kenal sangat baik.

Khusus di kalangan teman kampus, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan dua orang teman baik. Sedangkan yang lain kadang kadang bicara, jalan bareng, tapi tidak sesering dengan kedua teman gue tersebut. Kami bertiga pernah dijuluki “trio”.

Tapi justru setelah tamat kuliah dan merantau, kesempatan mengenal lebih baik teman teman sekampus yang lain semakin terbuka. Dari yang tidak begitu dekat menjadi lebih dekat. Satu sama lain lumayan sering nongkrong bareng di akhir pekan.

Memasuki dunia kerja di ibukota, padatnya waktu kerja sedikit banyak mempengaruhi lingkup pertemanan gue. Bahkan gue tidak punya banyak waktu untuk bersosial media. Paling di Path. Gue malah ga punya instagram.

35138529154_4668a8fc8d_o.jpg

Bertemu teman semakin hari semakin jarang. Weekend lebih sering gue habiskan di apartemen atau di mall tak jauh dari tempat tinggal. Macetnya Jakarta yang sudah tidak manusiawi itu sedikit banyak membuat semangat bersua teman semakin kendor. Yang satu di Jakarta mana dan gue di Jakarta belahan mana. Lingkungan kantor pun tak sempat membuat gue banyak bergaul dengan yang lain. Paling sekedarnya aja. Teman dekat di kantor paling cuma dua tiga orang.

Dan tidak hanya itu, lelah di pekerjaan, usia yang semakin bertambah, tenaga yang mulai letoi,  membuat gue cukup puas dengan segelintir teman. Segelintir teman yang kira kira easy dan sehati diajak jalan bareng tanpa harus pusing memutuskan ketemu dimana. Teman yang punya selera sama dalam memilih tempat ngemall atau nongkrong. Daerah kelapa gading aja. Dekat ke apartemen gue. Hahaha (egois).

Sadar atau tidak, gue tidak seantusias di kala muda dulu. Ini terjadi bukan karena gue kecewa dengan pertemanan yang ada. Sama sekali tidak. Seingat gue, semua teman yang gue kenal rata rata adalah teman yang baik. Bukan teman yang menusuk dari belakang. Bukan teman yang dengki. Bukan teman bermuka dua dan pengadu domba. Bahkan mereka punya kepedulian satu sama lain. Terutama teman teman kampus gue. Mereka sangat menjalin silahturahmi sepanjang waktu.

Jika gue membaca banyak postingan di media sosial yang mengeluh tentang pertemanan, gue lumayan beruntung tidak berteman dengan orang orang yang salah. Setidaknya itu yang gue rasakan. Sampai sekarang pun hubungan gue dengan teman teman gue tetap baik meskipun tak terlalu sering berinteraksi. Gue tipikal yang lumayan bisa memilah siapa yang bisa gue jadikan teman. Puji Tuhan tidak ada yang terlalu neko neko. Kalau cuma selisih paham kecil itu hal biasa.

Sekira I feel uncomfortable dengan seseorang yang cuma mengambil kesempatan dikala senang, pengadu domba, nyinyir, selalu dipenuhi rasa benci, perlahan akan gue jauhi.

Di rumah pun, gue tipikal pertapa. Sewaktu tinggal di rumah kakak, kebanyakan gue habiskan di dalam kamar. Tahan bulukan di kamar. Nonton tv, tidur, jika keluar karena mau makan aja. Beneran adik yang kurang ajarlah. Hahaha.

Kalau gue mood, ya ngobrol sih dengan mereka. Malah jalan makan bareng ke mall. Tapi kalau lagi ga mood pasti deh banyakan di kamar.

Sampai akhirnya semakin gue menyadari, terkhusus setelah gue tinggal di Swedia, sifat ingin menyendiri gue itu ternyata malah semakin parah. Ga ngerti kenapa. Apa karena suasana tempat tinggal yang sepi mengkondisikan demikian, yang jelas saat ini gue lebih suka menikmati hari hari gue bersama suami. Semakin lama gue merasa kalau suami adalah teman sehati yang tepat. Mungkin karena 24 jam, kebanyakan hanya wajah dia yang gue liat. Hahaha.

Awal tiba di desa gue, gue masih lumayan suka menghadiri acara ini itu. Ketemu warga lain. Kalau mereka bertamu ke rumah, gue malah senang karena berasa ga sepi. Tapi semakin ke sini, setiap ada pertemuan atau acara pesta, gue sudah mulai jenuh. Mulai tidak terlalu menikmati. Semakin lama semakin berubah. Kalau tetangga terlalu sering datang ke rumah, gue malah terganggu. Suami gue sampai heran. Bukan karena gue malas harus meladeni bikin ini itu ya, karena ga harus juga. Gue merasa terganggu aja. Tapi herannya di waktu yang berbeda, gue pengen juga ada yang datang ke rumah. Didatangi tetangga atau siapa ajalah itu. Jadi moodnya bener bener aneh.

Dulu suami pernah bilang kalau dia tidak bisa membayangkan tinggal di rumah yang bangunannya berdempetan dengan tetangga, dia merasa ruang geraknya kurang bebas. Bisa bisa pipis pun kedengaran. Karena ada masanya dia pengen pake kolor aja di rumah, ada masanya dia pengen mesra mesraan dengan gue, dan masih banyak lagi lah.  Mendengar itu gue cuma bisa mikir “kok bisa” sih sampai punya pikiran parah begitu. Dan lama kelamaan ternyata sifat itu menular ke gue.

Jadi ceritanya, ketika tiba di desa gue empat tahun lalu, gue merasa kalau desanya terlalu sepi. Gue menghayal seandainya rumah kosong di depan rumah segera ditempati penghuninya. Kalau dihuni kan berasa lebih ramailah. Tapi kenyataannya cuma ditempati sesekali. Pemiliknya tinggal di daerah lain dan hanya berkunjung di saat weekend atau liburan.

Dan sekarang gue mendengar kabar, kalau si pemilik yang tak lain merupakan teman kecil suami itu berencana akan pindah dan menempati rumah tersebut. Herannya justru jadi dilema buat gue sendiri. Menyikapinya antara senang dan tidak. Di satu sisi gue senang karena rumah itu bakalan terlihat lebih terang oleh cahaya lampu terkhusus di saat winter, tapi di sisi lain gue malah merasa tak nyaman.

IMG_1654 (1)

Semisal gue lagi menyiram bunga, duduk duduk di luar, atau fotoin bunga di halaman, malas banget deh kalau terlihat mereka, apalagi kalau sering diajak bicara. Coba, parah banget kan gue. Padahal tetangga gue itu baik dan pacarnya apalagi, wise banget. Tapi entah mengapa susah banget match ke hati gue. Mereka cuma gue anggap sebagai tetangga dan bukan teman bicara yang klik di hati. Padahal tetangga gue itu teman baik suami sejak kecil. Dan setiap berkunjung ke desa gue, dia dan pacarnya pasti main ke rumah. Ngobrol lama ampe malam. Gue pastikan tidak ada yang salah dengan mereka. Justru gue merasa kalau diri guelah yang salah. Semakin susah klik dengan orang lain.

Waktu empat tahun rasanya cukup membuat gue sangat terbiasa dengan keseharian yang menyendiri dan tidak ada yang menggangu. Karena tetangga yang lain rumahnya jauh jauh. Artinya mereka kebanyakan berkunjung ke rumah ketika suami gue ada di rumah. Selebihnya, gue ya sendiri menikmati dunia gue. Kesendirian gue.

Sampai kini pun gue tak punya teman baik di Swedia. Entah itu dari kalangan warga Indonesia maupun Swedia. Dan gue merasa fine aja. Tidak stress apalagi depresi. Beneran. Setidaknya itu yang gue rasakan. Gue menikmati hidup gue yang sekarang. Gue bahagia.

Apakah gue introvert? atau cenderung Schizoid? Hehehe.

Sepertinya usia dan lingkungan sangat cepat menempa gue untuk tidak lagi terlalu pusing dengan urusan pertemanan. Bukan karena apatis apalagi anti sosial ya. Karena di suatu kesempatan, gue masih mau kok bertemu dengan orang lain. Apalagi kalau traveling, gue ga bisa pergi sendirian.

Jika merasa hidup gue tenang banget dengan keadaan yang sekarang trus mau gimana dong. Emang gue menikmatinya. Jauh dari gosip, jauh dari sirik sirikan. Karena semakin bertambah usia bukan kuantitas lagi yang gue cari. Tapi kualitas berteman. Satu pun selama cocok dan tidak dengki dengkian uda bagus banget buat gue.

Jujur…..di lain kesempatan gue pengen punya satu atau dua teman baik di Swedia yang benar benar bisa dijadikan teman suka duka. Yang klik di hati. Kalau ketemu aja teman kayak gini, yesss hobby nongkrong di cafe itu pasti gue akan ulang lagi.

Yang suka menyindir, bermuka dua, merasa bijaksana sendiri, cepat sakit hati, pengadu domba, cepat marah kalau tak sepemikiran, bisa gue bayangkan lelahnya hati berada diantara orang seperti ini. Daripada pusing mending menjauh perlahan. Hari ini haha hihi di medsos, besoknya uda sindir sindiran. Wueeeek banget.

68503CAF-2EA5-48BF-8F45-5E8CD38E2FFC.jpg
Salam dari si pertapa

Kira kira, pembaca budiman ada yang seperti gue ga sih? Semakin lama lumayan susah membuka diri dengan orang lain? Semakin lama merasa fine aja jika tidak punya banyak teman?

Semakin Cinta (Baking)

Iya nih, gue semakin cinta ngebaking. Seminggu kaga ngebaking rasanya kayak gimana gitu. Terapi bagus bangetlah buat gue. Akibat lumayan sering ngebaking (terutama roti rotian), berasa kalau hasil bakingan makin memuaskan (hati gue).

Jadi begini….

Belakangan ini gue lagi suka ngebaking soft buns ala ala roti Indonesia dengan metode overnight. Dulu gue suka mikir, semakin adonan cepat mengembang berarti adonan semakin sempurna. Atau semakin panas ruangan, semakin bagus untuk proses proofing. Ada benarnya sih. Apalagi kalau penggunaan raginya sedikit berlebihan. Semakin cetarlah si adonan membulat besar.

26052249127_8a80aedd4c_o
Roti kelapa yang super lembut

Padahal sebenarnya, adonan yang cepat mengembang itu mostly justru bikin roti hanya lembut di awal, tapi begitu dingin malah menjadi agak keras. Apalagi sampai berhari, berasa banget kerasnya dan tekstur malah makin kering.

Belum lagi kalau menggunakan ragi dalam takaran yang berlebihan. Misalnya untuk 500 gram tepung, raginya sampai 11 hingga 14 gram. Menurut gue kebanyakan. Dan itu bikin roti makin cepat jamuran dan tidak tahan lama.

26052248997_db38f2c64d_o

Adonan roti dengan sistem overnight ini lumayan bagus membuat roti lebih tahan lama. Dan lembutnya itu loh, tetap konsisten meski berhari. Pernah sampai 5 hari, roti yang gue bikin tetap lembut dan pluffy. Asal dibuat di wadah tertutup. Serat roti pun lebih kelihatan panjang dan ketika dibentuk sangat berasa sekali elastisitasnya. Jadi bukan sekedar lembut doang.

IMG_1567
Adonan overnight di kulkas

Konon katanya toko roti banyak yang menerapkan proofing adonan dengan metode overnight. Karena itu tadi, roti mampu lebih bertahan lama dan tetap lembut meski berhari. Caranya bagaimana?

Ada yang pakai biang (campuran ragi, air, gula dan sedikit tepung) lalu dimasukin kulkas selama 16 jam. Baru kemudian ditambahkan bahan adonan utama. Jadi yang diovernight itu adalah biangnya.

Tapi kalau gue kaga. Gue bikin sekaligus (ga pakai adonan biang), tapi langsung aja gue mixer semua bahan di mesin roti hingga kalis elastis. Lalu gue taruh di wadah yang sudah dilapisi miyak. Baru gue cover dengan plastik. Gue biarkan kurang lebih 20 menit di suhu ruang dan kemudian gue masukin ke kulkas selama 16 jam. Esok harinya baru gue keluarin dari kulkas. Biarkan di suhu ruang sampai adonan tidak terlihat kaku dan agak lembut ketika dipencet.

40031341595_9854d91b62_o

Coba, dimasukin kulkas! Ternyata malah lebih bagus. Dulu manalah gue kepikiran kalau adonan bisa proofing di suhu kulkas. Jadi ternyata, suhu yang dingin membuat proses permentasi roti lebih lambat dan stabil. Awalnya gue tau sistem ini ketika membuat sourdough bread. Dan gue liat di youtobe beberapa baker luar negeri ngebaking dengan sistem overnight juga. Beneran deh, sistem ini rekomen banget!

Selain itu, gue juga nemu teknik baru yang lain. Hahaha.

Ternyata adonan roti bisa dimasukin freezer mak. Iya sih bener, gue pernah melihat bakpao beku siap dikukus atau adonan pizza beku yang siap pakai di supermarket. Tapi gue ga pernah kepikiran sama sekali jika harus memasukkan adonan roti ke dalam freezer. Gue mikirnya si ragi pasti mati. Ternyata salah besar!

IMG_1551.jpg
Adonan yang dimasukin freezer. Setelah 6 hari di freezer, gue keluarin dan gue bikin mexican buns (roti boy)

Caranya………?

Jadi sehabis dimixer, sesegara mungkin langsung dibentuk bulat dengan berat sesuai selara (gue sekitar 60 gr) dan susun di wadah yang ada tutupnya. Begitu selesai dibentuk semua, secepatnya dimasukin ke dalam freezer agar adonan tidak sempat mengalami proses permentasi alias proofing di suhu ruang. Lalu biarkanlah di freezer.

Kapan kapan kalau mau baking, ya tinggal keluarin aja sesuai kebutuhan berapa jumlah yang diinginkan. Adonan bisa bertahan hingga 2 bulan di dalam freezer.

Tapi sehabis dikeluarin dari freezer sebaiknya jangan dibuat di suhu ruang. Agar adonan tidak stress dengan perbedaan suhu yang terlalu mencolok. Jadi idealnya masukin ke kulkas dulu sebelum dibentuk atau mau dijadikan roti apa.

Biarkan di kulkas hingga 12 atau 16 jam. Baru deh keluarin dan biarkan di suhu ruang sekitar 15-20 menit. Lalu bentuk sesuai selera dan biarkan mengembang dua kali lipat. Oven deh.

IMG_1554.jpg
Adonan dari freeze yang sudah membatu, bisa kembali lembut dan mengembang cantik 🙂

Ssitem ini lumayan efisien buat orang yang tak punya banyak waktu bolak balik untuk mixer adonan roti baru. Belum tentu habis juga karena adonan yang kebanyakan. Mubazir.

Kalau ini kan tinggal pilih aja mau seberapa banyak yang dibaking. Apalagi kayak gue nih, yang mesin rotinya lumayan gede. Jadi kalau ngadon adonan yang sedikit kok ya mesinnya kurang maximal kerjanya, karena alat pengadonnya ga bisa mengais adonan yang terlalu dikit. Sekarang kalau ngadon langsung bikin dua kilo gue. Sisa masukin freezer. Metode yang membantu gue banget.

42D1DC07-8FAE-4BDC-A8C5-FE54B99E707A

Systembolaget (Ketika Sistim Monopoli Ada di Swedia)

Pernah mendengar “Systembolaget”? mungkin buat teman teman di tanah air atau luar Swedia terdengar agak aneh. Apa itu systembolaget? Jika kamu berkunjung ke Swedia dan melihat store bertuliskan “Systembolaget”, tak lain merupakan store berisi berbagai jenis minuman keras. Minuman keras berkadar alkohol mulai dari 3,5 persen hingga 40 persen (meskipun minuman non alkohol bisa juga ditemukan di store ini).

Terus istimewanya apa? Menjadi istimewa (setidaknya buat gue) karena systembolaget ini adalah “satu satunya” toko yang boleh menjual minuman keras berkadar alkohol 3,5 persen ke atas. Dan itu berlaku untuk seluruh wilayah Swedia.

Yup, systembolaget merupakan perpanjangan sistem monopoli perdagangan minuman keras di Swedia yang dikendalikan langsung oleh pemerintahnya. Monopoli di sini sama artinya dengan : tidak ada toko/store atau pihak manapun yang bisa menjual minuman keras di level tersebut selain systembolaget. Supermarket besar sekalipun tak terkecuali. Apalagi individu ke individu lainnya. Ketauan alamat kena sanksi.

Supermarket hanya diperbolehkan menjual minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen. Sebuah kadar alkohol yang relatif rendah. Gue saja yang tidak begitu familiar dengan minuman keras, jika meminum minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen sama sekali tidak berasa. Tidak pusing apalagi mabuk. Seperti minum sofdrink biasa saja.

Ketika pemerintah Indonesia memberlakukan larangan penjualan alkohol di sana sini, gue masih bisa memaklumi terkait kultur budaya dan alasan “segala macamnya”. Lah ini di Swedia. Kok bisa? Kalau bicara “aturan di bawah umur”, setau gue hampir di sebagian besar wilayah negara eropa menerapkan batasan umur untuk seseorang mulai bisa mengkomsusmi minuman beralkohol tinggi. Meskipun penerapan tentang batasan umur di setiap negara bisa beragam. Tapi ini penjualannya sampai dimonopoli loh. Dan tidak semua negara yang melegalkan minuman beralkohol menerapkan sistem ini.

Dan amazingnya lagi, toko systembolaget tidak ada di setiap tempat. Mostly hanya ada satu untuk satu wilayah kotamdaya (kommun). Kecuali di kota kota besar kemungkinan bisa lebih, tergantung luas wilayah dan jumlah penduduknya. Pembelian minuman di systembolaget pun dibatasi. Hanya boleh dibeli mulai pukul 10 pagi hingga pukul 7 malam. Pemberlakukan aturan inilah kemungkinan yang membuat mengapa harga minuman beralkohol di berbagai bar dan restoran di wilayah Swedia sangat mahal jika dibanding membeli langsung di systembolaget.

Sekitar 50 tahun yang lalu, penerapan systembolaget malah lebih kejam. Hanya ada satu di setiap ibukota propinsi. Contohnya di propinsi tempat gue tinggal yaitu Dalarna hanya ada di kota Falun. Kebayang ga sih jauhnya. Dari tempat gue saja jaraknya bisa mencapai 130 kilometer. Kemudian seiring waktu, aturan systembolaget dibikin lebih longgar dengan menunjuk satu agen perwakilan resmi systembolaget di  wilayah kotamadya masing masing, sehingga warga bisa mengorder melalui perwakilan yang ditunjuk ini. Bayangin ribetnya. Hahaha.

Lantas mengapa sampai sedemikian ekstremnya penerapan penjualan minuman alkohol berkadar tinggi di Swedia? sampai sampai harus dimonopoli pemerintahnya?

Hal ini berhubungan dengan sejarah Swedia di masa silam. Masa dimana sebagian besar kaum laki laki di negara ini sangat menggilai minuman keras dan suka bermabuk mabukan. Jika dirunut lagi, kehidupan serba sulit yang menyelimuti bangsa Swedia di masa silam sedikit banyak mempengaruhi mental warganya. Kapan?  ratusan tahun silam kurang lebih sekitar tahun 1700-1800an, ketika Swedia memegang predikat sebagai salah satu negara termiskin di eropa sebelum menjadi negara maju seperti sekarang ini.  Minum hingga mabuk sepertinya menjadi salah satu alasan untuk bisa melupakan sejenak kepahitan hidup. Apalagi waktu itu minuman keras bisa dibeli dengan mudah antar sesama warga. Bahkan minuman keras berkadar alkohol tinggi dan tidak terkontrol bisa dibikin sendiri oleh warganya.  Akibatnya tak sedikit warga yang suka lost control ketika menggambil sebuah keputusan. Salah satunya ketika terperangkap dalam bujuk rayu pengusaha kaya.

IMG_5837

Makanya ada pepatah orang Swedia yang menyebut ” I Den Ena Fickan Hade Dom En Flaska, Och I Den Andra Hade Dom Bibeln” yang artinya di saku yang satu ada sebuah botol (diartikan minuman) dan di saku lain ada alkitab. Pepatah ini muncul karena tak sedikit warga Swedia di jaman dulu dengan gampangnya masuk perangkap pengusaha kaya yang hendak membeli lahan milik warga. Para pengusaha digambarkan sebagai pelaku sandiwara yang jitu dan sangat jeli melihat karakter korbannya.

Sekira mereka tau sasaran korban adalah pribadi yang hobby minum hingga mabuk, maka mereka menawarkan sebotol minuman. Diajak minum terlebih dahulu dan ditawari untuk menjual murah lahannya. Ujung ujungnya si warga pun mabuk dan akhirnya mau menandatangani surat jual beli. Sedangkan kalau sekira korban yang dilirik sangat agamais, para pengusaha ini pura pura berlagak seperti pendeta. Membacakan ayat alkitab demi mencuri hati si warga. Lahan pun dijual dengan murah. Konyol banget kan. Hahaha. Kurang lebih cerita singkatnya seperti itulah.

IMG_5805

Berkiblat dari parahnya efek yang ditimbulkan minuman keras ini, banyak pihak yang mulai gerah. Terutama kaum wanita karena merasa berada di pihak yang dirugikan. Kehilangan aset tanpa mereka tau. Inilah titik awal mengapa akhirnya setiap jual beli tanah, lahan hutan  dan rumah di Swedia harus melibatkan pasangan. Agar terhindar dari kejadian menjual aset di bawah pengaruh alkohol. Kemudian kampanye akan bahaya minuman keras mulai digaungkan oleh beberapa kalangan dengan membentuk organisasi anti minuman beralkohol.

Hingga akhirnya kebijakan final pun dibuat. Semua produksi minuman alkohol baik dalam negeri maupun luar, dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia di bawah lembaga pemerintah bernama “Vin och Spritcentralen” (Sentral wine dan alkohol). Dari sinilah hotel dan restoran dan bar di Swedia bisa membeli stok minuman keras.

Dan pada tahun 1955, didirikanlah systembolaget dengan pangsa pasar warga biasa. Sebuah toko minuman keras berkadar alkohol tinggi yang dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia.

IMG_3675

Pembatasan umur pun dilakukan. Di Swedia, meski batas umur untuk bisa meminum alkohol dimulai dari umur 18 tahun, tapi untuk bisa membeli minuman alkohol di systembolaget harus berumur minimum 20 tahun. Bayangkan, untuk mulai bisa membeli dan mengkonsumsi saja dibedakan loh umurnya. Jadi yang berumur 18 tahun hanya boleh membeli minuman di bar atau restoran dalam hitungan pergelas tanpa boleh dibawa pulang.  Sehingga tak ayal, para kasir di systembolaget ditugaskan juga untuk sangat jeli memasang insting apakah para buyer sudah cukup umur apa tidak. Kalau sekiranya ragu, mereka wajib meminta identity card (KTP).

Bahkan pemerintah Swedia tak jarang mempekerjakan secara random para remaja di bawah usia 20 tahun dan masuk ke dalam systembolaget untuk kemudian berpura pura sebagai konsumen. Hal ini dilakukan demi memastikan apakah para kasir menjalankan tugasnya dengan baik. Jika ternyata mereka ceroboh memainkan instingnya dan kemudian tidak meminta KTP, maka alamat kena sanksi tegas (kemungkinan bisa dipecat). Sadis meeeen.

fullsizerender-31

Pemberlakuan aturan tegas ini suka atau tidak suka, memang harus dipatuhi warga Swedia terutama bagi para pelaku bisnis restoran dan bar. Gue pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ketika berada di sebuah cafe bar di Stockholm. Ketika dua orang pria dimintai KTP oleh pelayan bar. Kasat mata sih sepertinya sudah berumur 20 tahun. Tapi entah bagaimana si pelayan bar bisa dengan baik memainkan instingnya. Dan taraaa banget deh. Ternyata beneran masih di bawah umur 18 tahun. Dan mereka pun tidak diperbolehkan memesan minuman alkohol yang mereka mau.

Waktu itu gue berpikir awam banget. Gila banget sampai dicek sedemikian. Seumpama pun bener mereka masih di bawah umur, toh kalau dibolehin ga ada yang tau juga kan? (maksudnya gue berpikir demikian dari segi bisnisnya loh. Kok rasa peduli si pelayan bar lebih tinggi daripada mendapat keuntungan semata). Akhirnya gue bisa memahami. Semisal mereka sampai mabuk atau katakanlah lebih parah lagi ternyata mereka adalah suruhan pemerintah? ijin menjual minuman keras oleh pemilik bar kemungkinan besar akan dicabut kan.

img_5248

Bahkan sampai sekarang pun, setiap bar yang menjual minuman keras di Swedia, jika mereka memperbolehkan para pengunjung minum di luar bar, misalnya di halaman bar, maka bar wajib memiliki pagar pembatas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kalau pengunjung minum di sembarang tempat.

Suami gue masih ingat banget, sekitar 40 tahun silam, aturan tentang penjualan minuman alkohol di bar dan restoran Swedia malah jauh lebih ketat. Restoran bar hanya boleh menjual minuman alkohol jika pengunjung juga memesan makanan. Kalau tamu restoran ujuk ujuk datang hanya untuk memesan minuman, alamat tidak dibolehin. Dan untuk mengontrol dan mengendalikan kebijakan ini, pemerintah Swedia lagi lagi dengan sengaja mempekerjakan satu orang pegawai suruhan mereka untuk khusus melayani bagian minuman.

Jadi bartendernya bukan pegawai restoran yang bersangkutan loh, melainkan pegawai yang dipekerjakan langsung oleh pemerintahnya. Kemungkinan pemilik restoran untuk berlaku tidak jujur dengan hanya menjual minuman  kepada para tamunya pun sangat kecil, karena bartender hanya boleh mengeluarkan minuman jika pemilik restoran memperlihatkan kertas bertuliskan daftar makanan apa saja yang dipesan oleh tamu restoran.

Bahkan konon sempat loh setiap orang hanya boleh membeli minuman alkohol dengan menunjukkan kupon. Dan kupon ini juga dibatasi jumlahnya untuk kurun waktu tertentu.

Belum lagi ketika liburan ke luar Swedia, warga Swedia hanya diperbolehkan membawa pulang satu botol minuman keras. Sampai akhirnya kebijakan ini mulai berubah sejak Swedia bergabung dengan Uni Eropa. Kebahagian warga Swedia pun dimulai karena mereka bisa membeli minuman alkohol dari tempat berlibur dalam jumlah tak terbatas. Gila bangetlah pokoknya.

img_5215

Tapi menurut gue pribadi, alasan pemberlakuan monopoli perdagangan minuman keras oleh pemerintah Swedia, lumayan masuk akal juga. Selain cerita sejarah di masa silam, hingga saat ini pun keinginan warganya untuk mengkonsumsi minuman keras lumayan besar. Jadi dengan adanya systembolaget ini setidaknya membatasi ruang bebas mereka untuk bisa membeli kapan dan dimana saja minuman berkadar alkohol tinggi. Minum minuman beralkohol tidak dilarang, bahkan menjurus mabuk pun sepertinya masih dianggap wajar selama tidak membuat onar dan mengendara. Dan systembolaget dianggap pemerintah Swedia sebagai media pengaman penggunaan minuman alkohol yang berlebihan.

Buat gue semua ini sangatlah menarik. Karena aturan tegas ini justru diberlakukan di negara barat yang notabene identik banget dengan minuman alkohol. Dan aturannya itu ga main main. Bukan sekedar aturan yang bersifat teori yang dicatatkan dalam sebuah lembaran negara. Tapi benar benar direalisasikan. Karena kalau bicara teori undang undang, setiap negara pasti punya. Cuma pelaksaanannya yang suka berbeda.

Setau gue (koreksi bila salah) tak banyak negara yang memberlakukan sistem monopoli perdagangan minuman keras berkadar alkohol tinggi. Hanya ada beberapa negara seperti Finland, Norway, Iceland, Canada. Kalau ternyata masih ada yang lain, gue kurang tau pasti.

IMG_4685

When in Sweden (Part 1)

Meskipun terbilang masih bau kencur, ada beberapa hal yang lumayan mencuri perhatian gue selama tinggal di Swedia (kurang lebih empat tahunlah). Terlebih di awal awal ketibaan gue. tidaklah mudah untuk bisa cepat beradaptasi. Butuh waktu. Negara dan kultur baru yang semuanya terlihat asing. Tamparan culture shock sudah pasti ada. Terutama masalah disiplin, karakter dan kebiasaan.

Tulisan gue kali ini hanyalah sebuah pendapat. Pendapat seorang ajheris tentang kebiasaan dan karakter masyarakat Swedia yang pernah gue lihat. Tulisan ini bukan sebuah kesimpulan yang teruji secara ilmiah dan bersifat universal. Karena belum tentu juga semuanya benar. Tulisan yang ditulis berdasarkan apa yang gue lihat dari negara yang gue sebut sebagai tanah tinggal baru. Gue tulis secara random. Apa saja itu?  Berikut di bawah.

1. Cuek Bukan Berarti Tidak Respek

Bule itu individualis. Bule itu cuek. Bule itu atheis. Bule itu…dan masih banyak lagi. Gue dulu termasuk salah satu yang memiliki anggapan seperti ini dan melihat dari sisi jeleknya saja. Emang benar sih bule itu cuek, individualis, atheis (meski tidak semua). Tapi jangan melulu dilihat dari pemikiran negatif. Semua itu berhubungan dengan privacy. Mereka tidak mau mencampuri dan mengusik kehidupan pribadi orang lain dan terhadap sesuatu yang bukan urusan mereka.

Orang lain atheis, living together without marriage, kissing in public area, tetangga tiba tiba beli mobil baru dan suka belanja sana sini, its not your business. Kira kira seperti itu. Mereka sangat respek akan pilihan hidup orang lain. Paling takut menghakimi. Ini bukan urusan benar atau salah. Buat kita kebiasaan mereka mungkin cenderung salah sebaliknya kebiasaan yang kita anggap benar, mungkin buat mereka terasa aneh dan tidak logika.

Bahkan untuk urusan belangsungkawa saja, mereka sangat hati hati. Misalnya ada kerabat atau teman yang sedang kehilangan anak, saudara atau orang tua, tidak lantas ujuk ujuk langsung ditelepon atau dikunjungi silih berganti kemudian memberi ucapan duka. Justru mereka takut mengganggu privacy si orang yang lagi berduka. Dengan pemikiran si orang tersebut mungkin lagi pengen sendiri. Tidak mau diganggu. Bangsa membentuk karakter bangsanya. Orang di sini jika mengalami musibah atau kemalangan, lebih banyak menutup diri. Dan jujur di awal awal ketibaan gue semua ini sangat mengherankan. Asing.

IMG_0447.jpg
Pake foto winter aja ya. Hahaha

Urusan pribadi sangat sensitif bagi orang Swedia. Bahkan selevel best friend pun bisa tidak terlalu terbuka untuk saling bercerita. Entah itu urusan pacar baru, perceraian, masalah keluarga dan lainnya. Tak ada yang berani untuk menanyakan secara langsung apalagi kepo. Kecuali kalau yang bersangkutan mau bercerita terlebih dulu.

Memberi respek terhadap privacy orang lain sangat penting di sini. Sewaktu gue hamil, teman baik suami memberi ucapan selamat ke gue. Itupun karena suami memberitahu dia. Tapi begitu dia tau kalau gue mengalami keguguran, you know what? dia ga bilang apa apa. Sama sekali diam ketika kami bertemu. Ga ada kalimat kalimat klasik seperti “yang kuat ya” atau “saya turut bersedih” apalagi kalimat yang tanpa hati dan menjurus kepo “kok bisa” “kamu makan apa? jangan jangan kamu kebanyakan naik turun tangga?” nah loh bikin mumet kan.

Menurut gue orang di sini sangat berhati hati menyikapi peristiwa sedih atau kemalangan. Bisa berdampak sensitif jika salah berucap. Tar kalau dibilang “yang kuat ya” trus dijawab “loh yang bilang gue ga kuat siapa? tau darimana gue ga kuat? gue kuat kok” dijawab gitu kan keselek. Kurang lebih analoginya seperti itu.

2. Suka Menyapa “Hej” (Hai)

Meski katanya orang Skandinavia itu tak banyak bicara, tapi kenyataan yang gue lihat tak sedikit orang Swedia yang suka saling tegor ketika berpapasan dengan orang lain meskipun mereka tidak saling kenal. Jadi ketika kamu berada di Swedia dan ada orang lain yang kamu tidak kenal tiba tiba menyapa “hej”, maka tidak perlu heran dan kaget. Itu adalah bagian dari kebiasaan warga di negara ini.

Sebagai orang yang beranggapan kalau rata rata bule adalah sosok manusia cuek, jelas ketika gue disapa “hej” oleh orang yang tidak gue kenal membuat gue sedikit heran. Jadi pertama gue tiba di Swedia tahun 2014, tepatnya sewaktu gue dan suami hendak membeli roti ke toko bakery. Dari arah yang berlawanan terlihat seorang wanita muda berjalan dan tersenyum kecil sambil menyapa “hej” ke gue. Lah gue bingung dong. Gue kan ga kenal. Dan apa balasan gue terhadap sapaannya itu? Gue ga jawab apa apa. Gue jalan aja gitu sambil terheran. Hahaha!

IMG_0450.jpg

Belum habis rasa heran gue, pas nyampe di depan pintu toko, gue berpapasan lagi dengan seorang cowok. Sebuah senyuman tampan pun kembali menyapa gue. “hej” sapa dia sambil berjalan dan berlalu. Gitu aja. Dan lagi lagi gue masih ga kasih respon apa apa. Beneran gue belum ngerti waktu itu. Pun begitu juga pas di supermarket, lagi dorong trolli dan berpapasan dengan konsumen lain, mereka menyapa hej ke gue.

Bahkan pernah gue disapa “hej” di trotoar jalan oleh seorang wanita, padahal sebelumnya gue melihat dia lagi asik mengobrol dengan teman prianya. Begitu gue lewat, sempat aja si wanita tadi meluangkan waktu say hai ke gue. Kalau dipikir pikir harus banget ga sih luangkan sedetik hanya untuk bilang hai ke orang yang ga dikenal. Hahaha

IMG_0449

Karena penasaran akhirnya gue tanya ke suami. Kenapa mereka menyapa gue. Gue kan ga kenal mereka. Dan ternyata saling sapa dengan orang yang tidak dikenal di Swedia adalah hal yang wajar. Sampai akhirnya suami bilang ke gue kalau gue di sapa hej, alangkah baiknya jika gue balas hej juga. Ya namanya juga pendatang baru dan belum terbiasa. Pokoknya waktu itu gue lumayan takjublah. Nyaris ga percaya kalau bule ternyata bisa sangat ramah.

Berhubung gue tinggal di wilayah propinsi yang hanya memiliki kota kota kecil, sapaan hej ini memang lebih berasa dibanding jika gue berada kota besar seperti Stockholm. Bisa jadi karena Stockholm merupakan capital city dengan penghuni yang lebih majemuk dan kompetitif, sehingga orang orang sebagian besar bawannya sangat serius. No time for Hej. Hahaha. Begitupun ada aja kok yang lumayan ramah menyapa hej!

IMG_0452

Jujur aja sih selama tinggal di Indonesia, rasa rasanya belum pernah gue menerima sapaan hai dari orang yang sama sekali tidak gue kenal. Maksudnya ketika berpapasan di jalan atau di tempat umum ya. Kalau pun ada ya karena tujuan dan kepentingan tertentu. Misalnya nanya alamat. Bukan ujuk ujuk berpapasan trus ramah banget bilang haiiiiiiiiii!

Yang ada malah dikira aneh atau curiga. Jangan jangan itu orang seorang penghipnotis, kriminal, copet, jangan jangan orang tidak waras, jangan jangan………..dan masih banyak jangan jangan yang lain. Akibat kebanyakan dengar issue kriminal dimana mana.

3. Suka Ngobrol 

Seperti yang gue tulis di atas, banyak yang bilang kalau orang orang Skandinavia itu terkesan dingin dan tidak banyak bicara. Tapi jika mereka sudah mengenal baik satu sama lain, malah sebaliknya. Suka banget ngobrol ngolor ngidul alias kombur kombur kalau kata orang Medan. Setidaknya inilah menurut penglihatan gue.

IMG_0792.jpg

Tetangga gue, teman kantor dan kerabat suami, tahan berlama lama ngobrol di telepon. Bahkan ada tetangga gue yang hampir setiap hari ngobrol di telepon dengan suami. Yang dibicarakan padahal seputaran itu ke itu lagi. Kalau bukan masalah kayu, berita, sampai undian berhadiah. Padahal tetangga loh. Main ke rumah pun lumayan sering. Tapi masih aja suka teleponan. Kadang gue suka ngomel ke suami dan bilang mirip perempuan doyan ngobrol. Hahaha.

Parahnya lagi, sering banget pas tamu pamit pulang, bukannya langsung cuss buka pintu dan keluar, malah lanjut lagi ngobrol sambil berdiri. Obrolannya masih bersambung. Dan itu lama! Padahal posisi sudah di depan pintu. Beneran adegan yang paling ga gue suka deh.

4. Sangat On Time

Yup…! jangan berspekulasi urusan waktu dengan orang Swedia. Mereka bisa moody. Disiplin dan ontime sekali. Janji pukul 10 pagi datanglah pukul 10 pagi. Bahkan datang lebih awal pun tidak.

Gue pernah menonton salah satu channel youtuber asal England yang bercerita tentang bagaimana orang orang Swedia sangat tepat waktu di sebuah acara pesta. Dia lumayan heran karena begitu acara dimulai para tamu sudah hadir semua. Tidak ada penampakan dimana masih ada satu dua tiga tamu yang datang belakangan. Gue sependapat sih. Karena gue melihat sendiri di acara pesta pernikahan gue. Pun di acara pesta lainnya.

IMG_0446

Kalau di Indonesia biasanya yang namanya telat dalam sebuah acara bukan hal aneh. Begitupun yang datang lebih cepat juga ada. Berbeda kalau di Swedia, 10 menit sebelum acara dimulai biasanya para tamu belum pada datang. Tapi amazingnya, 10 menit kemudian tanpa sadar tiba tiba uda hadir aja semua.

Mereka benar benar datang sesuai waktu yang disepakati. Datang lebih awal pun bukan kebiasaan mereka karena takut malah membuat yang punya hajatan belum siap. Kalaupun datang lebih awal paling 5 menit sebelum acara atau kalaupun ada satu dua yang telat paling telat sekitar 5 menit. Meskipun begitu, ada aja yang molornya lumayan parah. Suami punya teman yang suka molor kalau ada acara. Dan itu beneran ga disuka ama yang lain.

5. Mengundang Tamu Masaknya Ga Ribet 

Semisal orang Swedia mengundang makan tamu, percayalah menunya tidak seheboh menu orang Indonesia. Main coursenya cukup semacam. Simple dari segi ragam.

IMG_0468 (1).jpg

Kalau steak ya steak aja. Salmon ya salmon aja. Ditambah kentang dan salad. Jaranglah sampai dua macam gitu. Tapi yang namanya kopi dan makanan penutup biasanya selalu ada. Entah itu cake maupun ice cream. Porsinya pun biasanya sudah mereka perhitungkan sesuai jumlah tamu yang diundang. Jadi jarang yang namanya makanan berlebih. Lupakan kebiasaan bungkus plastik bawa pulang. Bukan tradisi mereka. Kecuali kalau yang ngadain acara sesama orang Indonesia, mungkin pasangan masing masing bisa mengerti. Duh bungkus bawa pulang itu emang klasik banget kan ya. Kalau bisa sering sering. Hahaha.

IMG_0456.jpg

Sajian menu irit inilah yang belum bisa gue realisasikan kalau mengundang tamu ke rumah. Selalu tradisi ala Indonesia yang dominan keluar. Meja makan biasanya tersaji lebih dari satu menu utama. Entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang kalau cuma menyajikan semacam. Apalagi kalau sampai mengundang 10 orang, wihhh bisa repot banget gue mikir ini itu untuk menu yang harus dimasak. Makanya setiap tamu yang kami undang selalu terwow begitu melihat menu yang tersaji.

Gue ingat banget bagaimana mimik wajah kakak gue ketika kami diundang makan oleh sepupu suami. Mungkin dalam bayangannya, meja akan penuh dengan berbagai macam menu khas Swedia layaknya di tanah air. Ternyata yang muncul cuma sajian salmon dan kentang rebus tok. Hahaha. Mati ketawa kalau ingat itu.

6. Belanja Sesuai Kebutuhan

Kalau ke supemarket, tak sedikit warga Swedia yang belanja dengan secarik kertas di tangan. Isinya daftar belanjaan. Jadi yang dibeli sesuai yang ditulis. Kalau gue payah, mencoba menerapkan tapi tetap saja suka ga disiplin. Malah beli ini itu di luar catatan. Bahkan kadang ga dicatat. Malas! Hahaha

7. Suka Makan Knackbröd

Rasa rasanya orang Swedia doyan banget makan ini. Roti crispy tapi menurut gue malah cenderung keras dan sakit di mulut ketika dikunyah. Rasanya pun aneh. Tapi roti ini lumayan direkomen oleh dokter di Swedia. Karena kandungan seratnya sangat tinggi. Kalau dimakan agak berlendir gitu emang. Biasanya dimakan dengan lapisan butter berikut toppingan sayur maupun ikan tuna atau telur. Sarapannya orang Swedia selain Fillmjölk (mirip yogurth).

8. Suka Membicarakan Cuaca

Orang Swedia suka ngomongin cuaca? Yup betul sekali kakaaaak! Gue kalau ketemu siapa aja, biasanya mereka suka banget bilang :

wah cuaca hari ini cerah ya” atau “uhhh dingin banget hari ini padahal semalam sudah lumayan hangat” atau “lusa kabarnya salju turun lagi” atau “suhu tadi pagi minus 33 derajat celcius”.

Pokoknya di setiap pertemuan, biasanya mereka suka menyelipkan seputaran cuaca. Tak heran memang mengingat cuaca sangat berpengaruh terhadap mood orang orang di sini.  Termasuk guelah.

9.  Tidak terlalu suka Rumah Berdekatan

Lagi lagi soal privacy. Kalau bisa memilih, orang Swedia lebih suka jika rumah mereka tidak berdekatan dengan rumah orang lain. Khususnya di desa tempat gue tinggal, meskipun warganya saling mengenal dengan baik, tapi untuk ruang gerak sehari hari mereka lebih suka tak perlu diketahui orang lain.

IMG_0453

Apalagi ada masa masa dimana mereka kurang mood berbicara dengan orang lain. Masa masa dimana mereka merasa bebas melakukan apa saja baik itu di dalam maupun di luar rumah tanpa harus dilihat orang lain. Dan ini sudah mulai menular ke diri gue (nanti akan gue tulis di tulisan yang berbeda). Orang Swedia lumayan menyukai suasana yang hening. Makanya tak jarang satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya lumayan berjauhan. Bahkan ada yang menyendiri dan tidak ada tetangga kiri kanan. Kalau teriak ya teriak aja cuma didengar angin.

10. Percaya Kalau Orang Lain Jujur

Jika kamu ke Swedia terutama di kota kota kecilnya, ada beberapa toko yang tidak memiliki penjaga. Rekaman CCTV pun tak ada. Kamu bisa membeli barang dan cukup meletakkan uang di tempat yang tersedia. Kalau dicuri? Pertanyaan ini ga terbersit di benak mereka. Karena mereka percaya bahwa orang yang masuk ke toko bukanlah pencuri. Mereka percaya kalau pengunjung yang datang adalah manusia jujur. Gila kan. Pertama tau rasanya amazing aja gitu. Awalnya gue tidak percaya tidak ada cctv, pas suami bilang memang beneran tidak ada dan kalaupun ada bisa terlihat di pintu masuk toko. Karena hukum di Swedia tidak memperbolehkan pemasangan cctv yang sifatnya secret tanpa ada pemberitahuan tertulis di pintu masuk toko.

11. Bukan Menjadi Penonton

Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika di tanah air terjadi kecelakaan malah jadi bahan tontonan semata sebelum pihak yang berwenang datang menolong. Ditolong ga difotoin iya. Diunggah ke media sosial lengkap dengan darah darahnya. Padahal korban sudah terkapar kesakitan. Banyak alasan juga kenapa masyarakat kita bersikap sedemikian. Issue lama yang menyebut “menolong sama artinya berurusan dengan polisi” menjadi sebuah momok yang ribet dan ibarat simalakama bagi warga.

Suatu hari sekitar pukul 5 pagi,  gue dan suami pulang dari rumah sakit. Musim panas waktu itu. Jadi meskipun masih pukul 5 pagi tapi matahari sudah bersinar terang. Kami melewati jalanan sepi. Tiba tiba terlihat seorang pria muda dengan mobil yang sedikit menjorok ke selokan. Suami berhenti. Dan gue pun memberi reaksi tidak setuju ketika suami tiba tiba menghentikan mobil. Gue takut kalau orang tersebut cuma drama. Inilah karena kebanyakan membaca dan menonton berita modus kriminal sewaktu tinggal di tanah air dan membuat gue ga gampang percaya dengan orang lain. Berbeda dengan suami. Mungkin dia jelas lebih paham tentang negaranya. Sehingga yang dia tau cuma menghentikan mobil dan segera menolong.

IMG_0796.jpg

Dan ternyata beneran dong, si pria itu mengalami kecelakaan. Katanya dia lepas kendali akibat mengantuk. Dia sudah menelepon polisi. Sambil menunggu polisi datang, suami langsung menyuruh pria itu masuk ke dalam mobil. Dan entah mengapa, tetap saja saat itu kekhawatiran masih mendera kepala gue. Bolak balik gue memastikan kalau si pria itu tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan. Gue cuma mikir “ini jalanan sepi, kalau tiba tiba dia punya teman lain dan muncul menyerang kami?” Coba parah banget kan gue. Hahaha. Tapi percayalah, ini tidak mudah untuk gue bisa langsung yesss menerima segala situasi dan kondisi yang berbeda jauh dengan tanah air di tahun pertama ketibaan gue.

12. Kasih Kado, Hadiah, Cindera mata

Kalian pernah ga sih pengen beli kado, oleh oleh, bingkisan atau apalah itu yang sejenis, suka pusing sendiri. Suka ga enakan. Suka mikir “kemurahan ga ya”, “tar dia suka ga ya”. Gue pernah!

Tapi setelah beberapa tahun di Swedia rasa sungkan itu mulai hilang. Terinspirasi dari cara orang orang di sini kalau memberi kado atau bingkisan. Relatif simpel bahkan sangat simple malah. Memberi sesuai kemampuan dan fungsinya. Bukan malah jadi beban dan bikin pusing. Jujur ketika gue memberi sesuatu kepada warga di sini, gue feel free banget. Ga ada perasaan apakah pemberian gue bakal disuka atau tidak. Apalagi menjadi bahan omongan di belakang layar. Seperti gue bertanya pada diri sendiri ketika pertama kali menerima kado natal dari kerabat. Cuma tissue makan doang gitu? Perih! Hahaha.

IMG_0789.jpg

Gue berusaha jujur aja sih kalau waktu itu emang gue beneran ga nyangka cuma dikasih tissue makan doang. Tapi semakin ke sini gue mulai bisa mengerti kalau memberi itu ga harus yang okeh okeh banget. Lihat momentnya juga. Kalau kado nikahan atau ulang tahun ke 50 tahun mungkin agak beda.  Biasanya pun suka urunan belinya. Misalnya terkumpul hingga 2500 sek. Barulah beli barang yang kira kira diperlu yang bersangkutan.

Orang Swedia tidak gampang memberi kado dan cindera mata. Hanya di saat tertentu. Seperti di hari natal atau ulang tahun ke 50 tahun. Bagi yang belum terbiasa, bisa heran melihat jenis barang yang mereka kasih. Tissue, serbet dapur, sebuah sendok, hingga sabun. Ada juga sih yang kasih buku.

Untuk saat ini itu dulu deh. Biar ga kepanjangan bacanya. See you in my next story.

IMG_0455.jpg
Semua foto anggap saja penghias tulisan. 

Kaffestuga Hemslöjd, Toko Kece yang Bikin Betah

Kamu suka belanja di toko souvenir ga sih? atau di toko kerajinan tangan gitu. Kalau gue termasuk suka. Apalagi kalau tempatnya seperti Kaffestuga Hemslöjd yang terletak di kawasan Tällberg  Dalarna ini. Bikin betah.

IMG_9876.jpg

Jadi sesuai namanya, Kaffestuga Hemslöjd merupakan bangunan toko souvenir dan barang hasil kerajinan tangan warga lokal dan sekaligus ada cafe juga di lantai duanya. Kenapa sih gue niat banget sampai nulis toko ini di blog? ya karena gue suka banget dengan konsepnya.

IMG_9880
Toko souvenir dan kerajinan tangan Hemslöjd. Sukak!

Hemsslöjd tidak seperti toko souvenir atau kerajinan tangan kebanyakan yang pernah gue lihat sejauh ini. Mulai dari bangunan wooden house hingga interior shabby vintagenya lumayan mencuri perhatian gue. Tidak monoton. Barang yang dijual tidak asal ditumpukin tanpa sentuhan interior sama sekali. Sebagian besar ditata semenarik mungkin. Jenis barangnya pun lucu lucu tidak seperti barang kebanyakan. Dan sebagian besar merupakan handmade. Candle holder, bantal, sendal, rumah tradisional Dalarna, telenan, patung domba, gantungan kunci, dan masih banyak lagilah. 

IMG_9686.jpg

IMG_9685
Ini dia ruangan tempat pengunjung istirahat dan duduk santai. Suka banget

Berada di dalam serasa memasuki museum, karena secara tidak langsung barang barang yang dijual mewakili cerita rakyat masyarakat Dalarna. Dan yang terpenting menurut gue interior di dalamnya itu loh, sukaaaa bangetlah. Mungkin karena dominan kayu ya. Jadi feeling warm aja di dalam. Homi banget.

IMG_9699.jpg

IMG_9698.jpg
Bantal ini dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Anyone?

Toko ini juga punya satu ruangan berisi meja dan kursi kayu plus pernak pernik pelengkap. Mirip rumah rumah di majalah tapi atmosfirnya vintage banget. Mana waktu berkunjung pas pula turun salju. Memandang keluar jendela serasa gimana aja gitu. Berasa tidak di toko souvenir. Happynya lagi ternyata ruangan ini bisa digunakan pengunjung untuk bisa duduk beristirahat juga. Kerenlah.

IMG_9694.jpg

IMG_9695
Candle holdernya lucu. Wanita dan pria berpakaian khas Leksand Dalarna. Lilinnya dipasang di kedua tangan patung. Harganya sekitar 750 sek atau sekitar 1,2 juta rupiah per satuannya. 

Enaknya lagi nih, masuk ke dalam toko feel free bisa melihat lihat sepuasnya tanpa terbeban harus membeli. Tidak diintilin pegawai tokonya. Cuma ada ga enaknya juga. Harganya bikin pusing. Hahaha.

IMG_9680.jpg
Candle holdernya sangat simple dan ukurannya juga kecil. Berhubung designnya autentik jadi gitu deh. Satunya dihargai 550 sek atau setara 900 ribu rupiah 

Setidaknya menurut kemampuan kocek gue sih relatif mahal ya. Bayangin aja untuk sebuah candle holder rata rata dihargai jutaan bahkan mencapai 2495 sek atau setara 4 juta rupiah. Padahal menurut gue sih biasa aja. Menarik juga ga. Jadi ingat candle holder di rumah yang modelnya sama persis seperti di toko ini. Ceritanya pertama tiba di Swedia, gue tidak mengerti tentang kualitas barang barang peninggalan mendiang mertua. Sempat berkeinginan hendak masukin ke gudang sangkin ga suka dengan modelnya. Bikin sumpek aja banyak barang. Gue pikir cuma tempat lilin biasa. Ternyata barang bagus. Itupun setelah dikasih tau suami dan tetap aja sampai sekarang ga ngaruh sih. Gue kaga suka dengan model dan warnanya. Hahaha. Menurut kalian modelnya cakep ga? Contohnya bisa lihat gambar di bawah, candle holder berwarna hitam lengkap dengan simbol ayam di atasnya.

Cuma gue ga punya foto yang di toko. Jadi gue fotoin candle holder yang di rumah aja. Bentuk dan warnanya sama persis. Menurut gue dihargai mehong sampai segitu karena selain handmade bahannya juga terbuat dari iron. Dan ini lumayan berat. Designnya mewakili simbol kota Leksand Dalarna, kota dimana kawasan Tällberg berada.

Dan ternyata candle holder ini memiliki philosophy kepercayaan kristen yang bisa diartikan sebagai berikut :

Bentuk hati adalah tanda cinta kasih, 10 buah daun sebagai lambang 12 murid Jesus, 5 lubang di sebelah kiri kanan sebagai tanda 10 hukum taurat, 3 buah lilin sebagai simbol trinitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus), ayam sebagai simbol bahwa manusia harus tetap spirit dan tidak malas. Kurang lebih begitu.

Selain itu toko Hemslöjd juga memiliki barang lain yang tak kalah heboh harganya. Seperti bantal yang dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Ada juga telenan kayu seharga 450 sek atau setara 750 ribu rupiah, rumah puzzle khas Tällberg Dalarna seharga 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah. Jelasnya bisa klik link video di akhir tulisan ini. 

IMG_9696.jpg
Bangunan puzzel ini menarik sekali.  Mewakili rumah, cottage dan bangunan di kawasan resort Tällberg. Rumah rumah ini bisa kita bongkar pasang layaknya puzzel. Harga berkisar antara 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah

Ada sih yang masih terjangkau seperti patung domba ukuran kecil seharga 200 ribu rupiah atau gantungan kunci kecil seharga 60 ribu rupiah. Tapi mostly harganya memang harga langit untuk ukuran buah tangan atau oleh oleh. Cuma untuk kualitas emang bagus sih karena menggunakan bahan asli dan pengerjaan masih manual alias handmade. 

IMG_9711
Yang terbawa pulang. Gue sukaaaaaa banget patung mungil domba ini. Harganya sekitar 125 sek atau setara 200 ribu rupiah. Bulunya dari domba asli.

Toko Hemslöjd ini sudah tayang di Net Tv program Net 10 beberapa waktu lalu. Kalau mau melihat langsung videonya bisa klik link di bawah ini.

http://netcj.co.id/Travelling/video/225263/Barang-di-Toko-Ini-Mahal-tapi-Bikin-Betah