Ketika Vlogger Mengeksploitasi Kata “Bule”. Segitunyakah?

Gue adalah salah satu orang yang lumayan suka menonton youtube. Dan sebenarnya gue ga terlalu memilih milih tema apa yang harus gue tonton. Jadi apa yang muncul di time line youtube dan sekiranya menarik ya gue akan coba tonton.

Seperti menonton hot news di tanah air, resep, kecantikan, gosip artis dunia dan tanah air, mantengin orang korea makan secara brutal, mukbang enak, dan yang terakhir adalah tayangan vlog.

Nah yang terakhir ini yang akan gue bahas…

Sebenarnya gue tidak terlalu rutin menonton vlog. Apalagi dari beberapa tayangan vlog yang gue tonton, rata rata temanya sama. Daily Vlog yang isinya itu lagi dan itu lagi. Bersihkan rumah, masak kilat lalu makan, ngantar anak sekolah, belanja, Q&A. Seputaran itulah. Dan lucunya, tema ini seolah olah sudah mendarah daging. Tapi mau gimana lagi, namanya juga daily vlog. Pastinya tentang keseharian. Cuma jujur saja gue bilang, nilai edukatifnya kurang (menurut gue). Tak sedikit para vlogger yang lebih mengejar kuantitas tayang daripada kualitas. Sekalipun cuma daily vlog, bukan berarti hanya nampilin nyapu rumah, nyetrika, masak. Karena keseharian ga melulu cuma kegiatan itu kan. Maksud gue seperti itu.

IMG_1970.jpg

Menurut gue, tidak ada yang salah dengan daily vlog. Asalkan sesekali adalah informasi yang menambah wawasan penonton untuk bisa disampaikan. Misalnya ketika sarapan, alangkah lebih baik menyelipkan cerita tentang kebiasaan sarapan di wilayah negara mereka tinggal seperti apa. Misalnya seperti di Swedia, mereka mostly sarapan pakai smögås (sandwich ala Swedia) atau fil, sejenis yogurth tradisional asal Swedia dan bukan greek yogurth. Mereka tidak langsung minum kopi, tidak sarapan dengan donat atau cake. Ga minum coklat hangat. Kira kira begitulah.

Atau apa kebiasaan orang orang di sekitar mereka kalau musim panas tiba. Yang simple aja. Ya ga perlu cerita yang berat berat. Karena namanya juga merantau di negara orang, pasti menemukan yang namanya culture shock. Dan itu bisa jadi cerita menarik. Bisalah diselipin dalam sebuah video daily vlog.

Jadi tidak melulu hanya menampilkan muka bangun tidur yang disorot kamera. Ujuk Ujuk ke dapur dan sarapan di meja. Jadi kasarnya penonton hanya liatin mereka sarapan. Ada kucing lewat, kucingnya diajak ngomong. Anaknya nangis ga henti juga terpampang nyata di video. Adakah yang menonton tayangan yang cuma begitu? ya ada. Faktanya malah banyak.

Masyarakat kita justru tak sedikit yang tertarik melihat isi vlog seperti itu. Sekalipun para vlogger ini bukanlah tokoh ternama atau public figure. Bayangkan hanya  untuk sebuah tayangan video berjudul “Hari Ini Pasang Gorden di Kamar Tidur” vierwsnya bisa langsung ribuan dalam hitungan jam. Dasyat kan. Padahal cuma pasang gorden loh. Catet…………………Pasang Gorden (itu sudah gue bold ya). Untung pas pasang gorden sempak kolor beha ga berserak. IMG_1941.jpg

Dan ada beberapa vlogger yang terkesan hanya mengejar jam tayang. Sadar atau tidak, ada kepentingan keluarga yang terlalu terekspos. Tak sedikit anak yang terlihat tidak mau lagi direcord. Mungkin lelah harus tampil lagi dan lagi di dalam video. Mulai dari pasang muka manyun hingga terang terangan bilang ga mau. Tapi record on terus demi sebuah target tayang. Sehingga kemunculan para anak anak ini menjadi sangat dominan di dalam tayangan video. Atau memang disengaja menjadi nilai jual sebuah konten saya juga kurang paham. Golongan anak bule blasteran yang imut menggemaskan. Dan itu tak bisa disangkal. Para subscriber memang lebih suka menonton keluarga komplit seperti ini. Suami bule yang ganteng dan anak yang imut. Bebas memilih toh?

Ada salah satu vlogger yang gue lihat lumayan menjaga privacy keluarganya. Jadi dia lebih suka menampilkan dirinya sendiri dalam bentuk video mukbang. Dan ditanya dong, suaminya mana? Ada anak ga? Mertuanya mana? Sesekali ditayangin dong!

Meski si vlogger ini sudah mengklarifikasi bahwa dia tidak akan pernah menampilkan anggota keluarganya, tetap saja kurang dimengerti. Bahkan ada yang lama lama membully. Dibilanglah suaminya ga cinta, dibilanglah malu menampilkan suaminya karena sudah tua. Sadis!

Sebegitu pentingkah? Inilah kenyataan yang ada. Gue ga abis pikir, sebegitu spesialnya sosok bule di mata mereka seolah olah bule adalah sosok langka yang super lezat untuk ditonton atau mungkin juga mahluk tampan dari planet jadi jadian.

Dan hebatnya lagi ketertarikan para subscriber akan sosok kehidupan keluarga bule ini dipandang jeli oleh beberapa vlogger yang bersuamikan bule (meski tidak semua). Dibuatlah judul judul dramatis yang hampir semua kontennya menggunakan kata “Bule”.

“Suami Bule Makan Jengkol, Suami Bule Bisa Makan Pedas, Suami Bule Makan Pete, Suami Bule Makan Durian, Suami Bule Makan Ikan Asin, Anak Bule Makan Ayam Goreng, Mertua Bule Makan Kolak Pisang, Jalan Jalan Bareng Mertua Bule”. 

Semua pakai kata “Bule”. Suami bule, mertua bule, anak bule, saudara bule, teman bule, kantor bule, ………buleeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!

IMG_1841.JPG
Foto tidak ada hubungan dengan cerita…

Belum lagi tayangan para suami bule menyantap makanan Indonesia. Makanan mana justru sering diintolerir dalam kehidupan nyata dunia per-bule-an. Suami Bule doyan Ikan Asin, suami bule doyan jengkol, suami bule doyan pete, suami bule doyan terasi, suami bule doyan durian. Judulnya “doyan” loh. Bukan sekedar “mencoba makan”. Bule canggih.

Kalau dibuat judul judul sedemikian, jelas sangat menarik minat subscriber untuk menonton. Gilaaaaaak…bule makan ikaan asin brorr!

Atau meski baru bisa mengucapkan satu dua kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah (itupun gagap dan harus mengulang beberapa kali setelah diajari), judulnya dong langsung “Suami bule mahir ngomong Indonesia, atau mahir ngomong Jawa, atau fasih ngomong batak. Mahir dan fasih itu artinya berbeda dengan bisa. Kalau mahir konotasinya sudah lancar berbicara dalam beberapa kalimat tanpa harus diajari lagi. Tapi itulah trik menulis judul bombastis. Click Bait yang mampu menarik perhatian netizen untuk menonton. Target penonton pun tercapai. Tapi buat gue sih ini lumayan sontoloyo dan terlalu berpura pura (sorry to say). Boleh kan beropini? Ga ngajak makar ini.

Ada satu vlogger yang sampai membuat gue geleng kepala. Hampir semua judul kontennya pakai kata bule. Bahkan sangat dramatis. Dan sedihnya itu, rahasia rumah tangganya tercurah habis di dalam tayangan video. Rahasia kelam dan hubungan yang sangat intim. Alih alih ingin berbagi katanya. Di luar sana yang mendengar justru tidak dia dikenal sama sekali. Kadang gue suka mikir, suami dan keluarganya tau ga sih?

IMG_1926.jpg

Tidak ada yang salah dengan ngevlog. Silahkan ngevlog. Banyak juga para vlogger yang memuat konten konten berkualitas dan setidaknya tidak membosankan. Jagalah sedikit privacy di sekitarmu karena di luar sana tak pernah tau berapa banyak predator yang menunggu.

Kalau kalian bagaimana pendapatnya? komen ya!

**************************************

Gue,

Si isteri BULE 🙂

Lagi Suka Videography

Sudah lama saya berkeinginan merekam video dari kamera dan lensa gede seperti Dslr. Kalau cuma merekam sih ga ada masalah. Trus peralatan seperti kamera lensa dan tripodnya juga ada. Persoalannya adalah saya ga ngerti proses mengedit di laptopnya. Hahaha. Duh…beneran angkatan jadul banget saya.

Selama ini cuma bermain di zona aman dan simple. Pakai iphone only. Toh hasilnya juga jernih dan mampu menghasilkan uang yang lumayan karena lolos kualifikasi tayang ke salah satu stasiun tv swasta di tanah air.

Cuma ya itulah, efek rekam dari kamera Dslr itu kan beda ya. Smooth banget. Hingga akhirnya gue iseng iseng nanya ponakan. Ternyata di luar dugaan jago banget dia soal edit mengedit. Gue ga nyangka karena profesi dia kan guru. Gue pikir manalah kepikiran menekuni dunia edit mengedit ya kan. Makanya gue ga pernah nanya dia. Dan entah kenapa tiba tiba jadi nanya ke dia dan ternyata membuahkan hasil.

Dengan segala tingkat kesabaran, diajarilah gue yang awal awalnya sempat nyerah karena merasa edit video di laptop itu lebih riweh. Lamaaaaaaaaaaaaaa! Sampai akhirnya gue merasa bisa dan mulai rileks mengedit setiap rekaman yang gue ambil melalui kamera dslr.

Gue senang banget karena akhirnya berhasil membuat video masak dan baking sesuai keinginan gue. Sejauh ini gue puas dengan hasil rekam dan editannya. Meski bagi orang lain mungkin masih amatiran.

Dan kemaren iseng iseng gue merekam bunga di halaman rumah. Senang banget lihat hasilnya. Pokoknya sekarang lagi ketagihan merekam dan mengeditlah.

Video di bawah adalah salah satu hasil rekaman dan editan gue. Mudah mudahan kalian suka. Oh iya, kasih pendapat ya di kolom komen. Thank youuuuuuuuuuuuuu!

Baking With Natural Yeast (Starter Sourdough)

Mungkin ini adalah untuk yang kesekian kalinya saya menulis tentang adonan asam (sourdough). Iya, baking with natural yeast. Ragi Natural yang saya bikin sendiri sekitar tahun 2017 lalu dan saya beri nama Stumpan.

IMG_4798
Roti Sobek. Mantul banget ngembangnya. Oh iya, roti yang menggunakan ragi natural biasanya permukaannya tidak sehalus jika menggunakan ragi instan ya.
IMG_4882
Lihat serat rotinya. Halus dan panjang. Tidak gampang putus jika ditarik. Lembut sudah pasti dan lembab banget. 

Dan sudah entah berapa banyak adonan roti yang saya hasilkan dari kerja si Stumpan itu. Ah…I love you Stumpan!

IMG_8048.jpeg
Bombolone/bomboloni sebelum difilling nutella

Jika sebelumnya saya mengulas lebih banyak tentang hasil kerja ragi natural pada jenis roti crusty, maka kali ini lumayan berbeda. Saya mencoba pada adonan donat dan soft buns. Hasilnya? Amazing dong. So pluffy ! Dan lembab banget.

IMG_8087
Roti gandum ini sangat lembab dan seperti roti basah. Dan amazingnya disimpan di wadah tertutup hingga 9 hari tidak berjamur tanpa mempengaruhi tekstur roti (tetap lembab). Padahal kondisi suhu ruang rumah saya lumayan hangat karena lagi musim panas. Suami saya sampai bilang “amazing”

IMG_8066

Menghasilkan donat yang harum sekali. Sangat saya rekomen deh bikin donat pakai ragi natural. Beneran harum dan yang penting meski menggunakan ragi natural, rasa asamnya tidak berasa sama sekali. Meski lamanya waktu fermentasi atau proofing rata rata hingga 20 jam bahkan ada yang lebih.

IMG_4856
Lihat donat ini. Montok banget. Percaya ga kalau ini bukan hasil kerja ragi instan? Ini hasil kerja ragi yang saya bikin sendiri. Wow kan! Hahaha
IMG_4830
Dan aroma donat pakai ragi natural sangat beda dibanding pakai ragi instan. Harumnya sulit dijelasin. Saya ada tips, jika menggunakan ragi instan tapi hasilnya akan mirip seperti ini, pakailah ragi instan dalam takaran yang tidak banyak. Lalu proofing di dalam kulkas. 

Donat yang saya buat hanya satu kali proofing. Seperti biasa, starter sourdough difeeding rutin 3 kali sehari selama 4-5 hari berturut. Kerjanya josss banget deh. Mengembang sempurna. Donatnya menul menul dan seksi. Ring whitenya kelihatan. Asal pada saat menggoreng, minyak harus bener bener panas di suhu 180 derajat celcius. Api kompor harus kecil.

IMG_4854
Donat meski sudah dingin tetap moist dan tidak mengeras. Asal simpan di wadah tertutup. 

Saya juga sangat surprise hasil kerja ragi natural pada roti sobek dan roti gandum. Mengembang sempurna. Padahal bahan whole wheat flour pada roti gandum sangat dominan. Biasanya kalau takaran tepung gandumnya banyak, adonan tidak mengembang terlalu tinggi. Bener bener jago si Stumpan ini. Hahaha.

IMG_8137 (1).jpeg
Bomboloni nutella ini super pluffy. Beneran ga bohong deh. Sebenarnya saya bukan penggemar nutella. Bomboloni ini saya bikin untuk dibagi ke paman onti dan tetangga di hari perayaan nasional day di Swedia beberapa waktu lalu. 

IMG_8142 (1).jpeg

Saya tidak akan banyak bercerita. Biarlah foto foto yang saya share sebagai bukti nyata kerja si ragi natural ini. Kerja si “Stumpan” kesayangan saya.

Untuk resep tutorial, lebih jelasnya kalian bisa lihat di channel youtube Dapursicongok

Artisan Bread

Artisan Bread memang lagi naik daun di kalangan pencinta roti sehat di tanah air. Meski di dunia barat sebenarnya roti ini sudah ada sejak kapan tau. Kemudian di era modern kembali digaungkan para baker profesional karena dianggap lebih sehat dan mudah dicerna perut.

image_6483441 (1).JPG

Artisan bread sangat identik dengan roti sourdough atau roti ala eropa yang cenderung keras dan tidak selembut roti sobek, roti bantal, roti kasur ala Indonesia. Sebut saja seperti berbagai jenis crusty bread yang menjadi menu santapan breakfast di hotel hotel eropa maupun hotel besar di tanah air.

IMG_6948.jpeg

Digadang gadang sebagai roti sehat, setiap tahap proses pembuatan artisan bread umumnya memang dilakukan dengan sangat hati hati dan menggunakan bahan bahan berkualitas seperti tepung gandum utuh, rye dan biji bijian. Pengerjaannya pun sangat panjang dengan durasi slow fermentasi yang cukup lama (menembus waktu proses lebih dari 24 jam tiada henti). Akibat fermentasi yang relatif lama inilah memampukan enzim yang terdapat di dalam adonan tepung dapat memecah gluten dengan baik. Sehingga ketika dikonsumsi, diklaim lebih mudah dicerna oleh lambung.

IMG_7312.jpeg
Artisan Crusty Bread menggunakan Ragi Instan
IMG_6939.jpeg
Artisan Crusty Sourdough Bread menggunakan Levain atau Ragi Natural. Hampir mirip kan dengan gambar di atas yang menggunakan ragi instan?

Tapi jika ditelisik lagi, artisan bread tidaklah melulu soal sourdough. Tidak melulu soal crusty bread. Tidak melulu soal roti eropa. Artisan bread secara harfiah bisa dimaknai sebagai roti yang dibuat si pembuat roti dengan tangannya sendiri. Jadi no mesin. Bener bener mengandalkan tangan si baker. Pengerjaannya dilakukan secara manual dan cenderung kembali ke sistem konvensional (tradisional).

IMG_0906.jpg
Crusty Sourdough Bread. Kerja si ragi liar yang menghasilkan open crumbs pada bagian dalam roti

Jika berkiblat ke makna harfiahnya, semua roti bisa dikategorikan sebagai roti artisan atau artisan bread selama dikerjakan manual dengan tangan dan bukan dengan mesin. Bahan bahan yang digunakan juga terpilih dan berkualitas. Bukan roti pabrikan dan lebih condong ke homebakery.

Tapi lagi lagi karena artisan bread sangat identik dengan roti sourdough atau roti ala eropa, sehingga artisan bread yang dijual lebih condong ke jenis crusty bread dan konco konconya. Tentunya roti artisan ini tidak dijual dalam partai besar. Namanya juga dikerjakan mengandalkan tangan dengan waktu pengerjaan yang super duper lama dan sangat hati hati. Artisan bread biasanya mostly ditemukan di toko bakery/homebakery tertentu dengan harga yang relatif lebih mahal.

Artisan bread tidak melulu harus menggunakan ragi natural (sourdough) akan tetapi bisa juga menggunakan ragi instan. Contohnya untuk jenis crusty bread, jika diolah dengan menggunakan ragi natural maupun ragi instan, secara kasat mata akan terlihat sama. Tetapi kalau sudah terbiasa membuat dan menyantap sourdough bread akan tau bedanya. Sourdough bread terutama untuk jenis roti crusty jauh lebih lembab dan lebih kenyal.

IMG_6775.jpeg

Kebanyakan crusty bread memang dibuat menggunakan starter sourdough atau natural yeast (levain). Akan tetapi tak sedikit kalangan penyuka baking yang masih meraba raba cara kerja si ragi liar ini. Belum lagi dilema perasaan trauma akan rasa asam yang berlebihan pada roti karena kurang paham menggunakan takaran starter sourdough, fermentasi dan feeding. Keluhan mana yang gue ketahui dari para followers di instagram yang lumayan tertarik akan roti roti ala eropa.

IMG_7325.jpeg
Ini pakai ragi instan. Cakep juga kan? Jadi ga harus pakai ragi natural kok.

Menurut gue kalau memang sangat tertarik dengan roti artisan ala eropa seperti crusty bread tapi belum siap mental mencoba bikin dengan menggunakan starter sourdough, cobalah menggunakan ragi instan terlebih dahulu. Daripada nungguin harus mahir menggunakan ragi natural yang nota bene masih membuat bingung ya kan. Bisa bisa nunggu kelamaan ga bisa nyicipin crusty bread buatan sendiri. Jatuhnya cuma wacana.

IMG_7338.jpeg

Buat teman teman yang ingin membuat artisan bread di rumah, baik menggunakan starter sourdough atau ragi isntan, bisa berkunjung ke instagram @dapursicongok dan channel youtubenya. 

Kalian bisa melihat resep dan mengikuti totorial sederhananya di sana.

image_6483441 (5).JPG

46326746525_5fed82fa25_o.jpg
Menggunakan ragi natural

Curhat Cuaca!

Ketika gue datang ke Swedia di tahun 2014 silam, gue merasakan musim semi yang masih dingin. Bahkan hingga musim panas, gue masih sering jaketan. Curah hujan masih teratur datang. Ini berlaku hingga tahun 2017.

Tapi di tahun 2018, panasnya itu ga ketulungan. Panas banget. Awalnya sih gue senang senang aja karena berasa ga ribet dengan jaket dan bisa bener bener menikmati musim panas. Tapi ketika cuaca panas ini membawa dampak hingga blueberry liar di hutan tidak berbuah, kemudian rumput di halaman berubah warna gersang kecoklatan, hingga puncaknya sebagian besar hutan di Swedia mengalami kebakaran besar dan hebat. Membuat gue sedikit cemas melewati musim semi dan musim panas tahun ini. Gue berhadapan dengan alam. Jelas ga bisa gue larang. Ramalan cuaca aja bisa salah ya kan.

IMG_7394.jpg

Musim semi tahun ini lebih aneh. Di bulan April biasanya masih berasa dingin. Tapi tahun ini uda panas banget layaknya musim panas. Sampai sampai desa tempat gue tinggal tidak mengadakan Valborg (tradisi menyalakan api unggun di akhir bulan April). Warga khawatir karena rumput di sekitar terlalu kering. Jadi langsung sadar diri mereka. Bayangin masih bulan April tapi sudah kelihatan gersang kering. Padahal salju yang berbulan bulan menumpuk aja belum lama meleleh. Suhu Panas membuat rumput dan tanah yang tadinya basah oleh salju seketika berubah kering.

IMG_7400 (1).jpg

Dan anehnya lagi bulan Mei lalu si salju kembali turun. Bulan Mei turun salju. Salju di musim semi. Hahaha. Kadang kadang dalam sehari bisa merasakan suhu 4 musim sekaligus. Adem sepoi mirip spring dan autum, panas layaknya summer dan dingin banget layaknya winter.

Sempat selama seminggu lebih suhu kembali ngedrop hingga minus menjelang malam dan subuh. Dan setelah itu tiba tiba panasssss banget. Dan sekarang curah hujan yang turun. Entah mengapa kalau sekarang hujan turun gue senang. Setidaknya tanaman di sekitar ga mati.

IMG_7398.jpg

Dan tau ga…pohon birches di sebelah rumah gue saat ini daunnya sudah menguning. Layaknya musim gugur. Bayangin aja masih musim semi loh. Belum melewati musim panas. Sangkin kepanasannya itu daun pas cuaca panas beberapa waktu lalu. Gue berharap semoga cuaca bumi kembali stabil. Gue trauma kalau sampai hutan kebakaran lagi.

Swedia 2019 

Penggila Jajanan Pasar

Ya Tuhannnnnnnnnnn….!

Blog ini masih ada nafasnya ga sih? Sekian lama ga difeeding…hahaha!

Entah mengapa kok rasanya gue semakin ga punya waktu menulis di blog. Padahal sering kepikiran mau nulis ini itu. Ujung ujungnya tetap stabil di titik “malas”. Iya, semakin hari semakin malas bercerita. Semoga tidak berkepanjangan.

Belakangan ini gue lebih aktif bermain masak masakan dan baking bakingan di instagram @dapursicongok yang gue kelola. Hobby baking dan memasak ternyata lebih menyita perhatian dan waktu gue dibanding ngeblog. Senang aja gue bisa berbagi pengalaman memasak dan baking di sana. Terutama baking. Lagi cinta cinta sangat.

IMG_6350.jpg

IMG_6364.jpg

Berhubung sekarang lagi ramadhan, sepertinya asik nih cerita tentang tajil. Ya hitung hitung blog ini ada tulisan barulah. Biar tidak terlalu lama kelaparan karena ga diberi giji. Haha.

IMG_7093.jpg

Ramadhan sendiri buat gue pribadi merupakan bulan yang sering mengingatkan kenangan masa silam. Meski tidak menjalankan puasa, tapi ramadhan selalu membuat gue gembira. Khususnya sewaktu gue masih stay di Medan. Dari kecil hingga dewasa selalu senang hunting makanan berbuka puasa. Lebih semangat dari yang berpuasa malah. Hahaha.

Kala itu kota Medan selalu ramai dengan penjaja kue tradisional dan jajanan pasar. Pokoknya ramai bangetlah. Senang banget. Mulai dari klepon, lupis, dadar gulung, wajik, talam ketan, kolak, bubur cendil, mie goreng, pecal, berjejer manis membuat tak cuma perut tapi mata juga lapar. Bahkan tak jarang gue sudah menunggu sabar si tukang kue langganan padahal dianya masih beres beres.

Demikian juga dengan lebaran, gue ikutan semangat. Menunggu bedug takbiran lewat dari depan rumah. Meski sudah lama juga tradisi ini tak terlihat lagi. Berhubung teman teman gue lumayan banyak yang muslim, uda gue atur agendanya mau bertandang kemana. Makan lontong pakai rendang, telor dan tauca (ngetik sambil ces cesan). Bahkan pernah naik motor rame rame bareng teman ikutan takbiran. Sampai subuh. Asik banget. Hahaha.

Makanya meski sudah jauh di Swedia, gue suka bikin jajanan pasar di rumah. Kebetulan gue suka banget yang namanya jajanan pasar terkhusus kue kue tradisional. Jadi kalau dibilang homesick akan makanan Indonesia, rasa rasanya sudah tidak terlalu lagilah. Karena mostly sudah bisa dibikin sendiri. Rasa juga nyaris mendekati keinginan lidah.

Bahkan untuk beberapa jenis makanan rasanya sudah lebih enak masakan sendiri dibanding yang dijual di tanah air (pengalaman ketika balik liburan ke tanah air tahun lalu berasa makanan di lidah sudah tidak terlalu nikmat lagi).

Foto foto di dalam tulisan ini adalah jenis kudapan yang paling gue suka. Kolak biji salak, bubur sumsum cendil, lupis, klepon, risol, bubur kacang hijau ketan hitam, es teler, es campur medan, es melon marjan……gleekk!

IMG_6644.jpeg
Kolak Ubi Biji Salak

Apalagi lepat bugis ketan hitam itu. Sampai belain blender ketan hitam beberapa kali untuk mendapatkan hasil tepung yang maksimal. Rasanya sama persis dengan yang dijual. Huaaaaaaaa aku terharu sekali. Gue masukin freezer dan setiap kali pengen baru gue kukus lagi. Maknyusssss sekali mak!

Sebenarnya ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak jajanan pasar yang gue suka. Rasanya sampai kapanpun gue menetap di negeri orang, makanan Indonesia tetap yang terenak buat gue. Wajarlah ya, namanya juga makanan sejak kecil hingga  dewasa. Kalau kalian suka jajanan pasar seperti ini ga sih?

Kalau kalian pengen bikin sendiri jajanan pasar dan resep resep lainnya, bisa follow dan subscribe instagram @dapursicongok dan channel youtube Dapursicongok

IMG_6627

Tentang Sourdough Bread

Saya adalah penghuni semesta yang hobby baking. Terutama baking roti rotian. Dan tak terasa sudah setahun lebih saya belajar dan latihan membuat roti dengan bantuan Levain (starter sourdough) secara otodidak. Levain juga dikenal sebagai wild yeast (ragi liar) atau natural yeast (ragi alami) yang bisa dibikin sendiri oleh siapapun. Untuk selanjutnya saya tulis Levain.

Saya mulai menggeluti sourdough sekitar bulan September 2017 lalu. Dan Levain yang saya bikin itu sudah berumur satu tahun lebih dan saya beri nama Stumpan. Tulisan tentang starter sourdough dan sourdough bread pernah saya tulis di sini dan di sini.

IMG_0764.jpg

Senang rasanya bisa menghasilkan roti artisan yang notabene dikerjakan tangan sendiri. Ga harus beli mahal mahal. Apalagi di tanah air jenis roti artisan sudah mulai naik daun dan konon harganya jauh lebih mahal dibanding roti biasa.

Membuat roti dengan bantuan levain tidak semudah dibanding membuat roti dengan menggunakan ragi instan. Apalagi jika roti yang dibuat berjenis artisan crusty bread. Tehniknya lumayan berbeda menurut saya. Pengerjaan adonan mengandalkan tangan dan bukan mesin. Tidak diuleni alias no knead. Serba hati hati dan punya teknik sendiri.

IMG_0788.jpg

Levain tidak semata mata hanya digunakan untuk jenis crusty bread, tapi juga untuk segala jenis roti lain termasuk jenis soft buns, pizza atau donat. Bahkan tidak terbatas pada roti rotian saja, melainkan juga untuk segala panganan yang memerlukan bantuan ragi seperti beberapa jenis kue.  Mengapa? ya karena levain memang ragi. 

46326746525_5fed82fa25_o.jpg

Hanya kerja levain lebih slow dibanding ragi instan. Apalagi jika levain digunakan untuk jenis crusty bread, mostly butuh waktu nonstop 24 jam untuk bisa menghasilkan roti matang. Karena proofingnya sangat lambat alias slow fermentation. 

Untuk levain yang saya bikin sendiri, 85 persen saya gunakan untuk membuat crusty bread. Jarang sekali saya gunakan membuat softbuns, donat atau cemilan berbahan ragi. Mungkin lain waktu akan saya coba pelan pelan. Saat ini masih fokus membuat crusty bread. Untuk jenis sofbuns dan donat, saya masih menggunakan ragi biasa atau ragi instan.

IMG_0784.jpg

*Dipakai atau tidak dipakai, Levain harus diberi makan (feeding) agar tetap hidup. Idealnya sih feeding secara teratur. Sekali dalam 3 hari sudah cukuplah atau dua kali dalam seminggu. Caranya dengan membuang sebagian levain (kira kira setengah bagian) dan kemudian menambahkan tepung dan air dalam takaran yang sama. Misalnya tepung 50 gram dan air 50 gram. Setelahnya dimasukin ke dalam kulkas dan wadahnya harus ditutup rapat*.

Tapi jika hendak digunakan untuk membuat roti atau makanan lainnya, levain dari dalam kulkas jangan langsung dicampur ke dalam adonan. Karena kondisi levain kemungkinan besar tidak dalam kondisi strong. Ini pengalaman saya. 

Empat hari sebelum hendak membuat roti, cobalah menambah kuantitas feeding lebih teratur lagi secara rutin dua kali dalam sehari selama 3 sampai 4 hari berturut turut. Levain akan lebih strong dan aktif serta aroma dan rasa asamnya pun tidak terlalu tajam.

IMG_0756.jpg

Setelah itu barulah ambil sebagian levain sesuai kebutuhan resep roti dan taruh di wadah baru untuk kembali diberi asupan tepung dan air (feeding terakhir). Sebagai contoh: jika di resep ditulis butuh sekitar 65 gram levain, maka levainnya jangan langsung dikeluarin seberat 65 gram. Cukup keluarin 20 gram saja dari wadah dan taruh di wadah/jar baru. Kemudian lakukan feeding terakhir dengan memberi air sekitar 40 gram serta tepung 40 gram. Biarkan sampai mengembang 3 kali lipat dan suhunya mencapai antara 26 hingga 27 derajat celcius. Kemudian barulah gunakan levain seberat 65 gram seperti yang ditulis di resep. Sisanya yang tinggal sedikit bisa dimasukin ke dalam wadah/jar yang pertama. 

Sedangkan untuk sisa levain di wadah yang pertama bisa disimpan di dalam kulkas dan jangan lupa untuk feeding sekali dalam 3 hari atau 2 kali dalam seminggu agar levain tetap hidup (seperti yang sudah saya jelaskan di atas*).   

Untuk feeding setiap minggu (in case levain dipakai atau tidak) tidak ada ketentuan mutlak harus berapa gram tepung dan air yang digunakan. Feeling juga bermain dan nantinya akan paham sendiri. Ga usah takut takut banget. Cuma saran saya, karena ada sistem buang sebagian dan biar tepung ga mubazir, beri seperlunya aja. Kalau saya lebih sering menggunakan tepung dan air di sekitar 50 gram tepung dan 50 gram air.

Tapi jika levain akan digunakan untuk membuat roti, lakukan feeding seperti yang saya urai di atas. Tingkatkan kuantitas feeding secara rutin 2 kali sehari selama 4 hari berturut. Dan kalkulasi feeding terakhir sesuaikan dengan kebutuhan di resep.

IMG_0794.jpg

Selain levain harus dalam kondisi fresh dan strong, beberapa point penting yang biasanya saya perhatikan sewaktu mengerjakan artisan sourdough bread (khusus yang crusty bread) adalah :

  • Suhu Oven harus benar benar panas berkisar antara 230 hingga 250 derajat celcius)
  • Menggunakan iron cast agar suhu panas lebih stabil
  • Sebelum digunakan untuk memanggang roti, iron cast harus dimasukin ke dalam oven di suhu 230-250 derajat celcius selama 30 menit
  • Menghindari penggunaan bleaching flour (tepung yang menggunakan pemutih kimia) untuk menghindari gangguan pada kinerja levain
  • Memperhatikan suhu levain ketika akan dicampur ke dalam adonan (sekitar 26 hingga 27 derajat celcius).
  • Memperhatikan suhu adonan (sekitar 26 hingga 27 rajat celcius)

46326746405_1fdd18f786_o.jpg

Sedangkan tahap tahap yang paling umum dan sering saya lakukan dalam proses pengerjaan artisan sourdough bread (khusus crusty bread) adalah :

  • Metode Autolyse (tahap penyerapan air oleh tepung sehingga gluten merekat dan menghasilkan adonan yang elastis dan lembut. Waktu yang dibutuhkan bisa bervariasi, ada yang setengah setengah jam, satu jam bahkan 4 jam tergantung suhu ruang juga)
  • Pemberian Strong Levain
  • Pemberian garam
  • Fold (tehnik melipat adonan) 
  • Lamination (tehnik laminasi)
  • Stretch and Fold (tehnik merenggangkan dan melipat adonan) dan tahap ini bisa diulang 3 hingga 4 kali hingga adonan mencapai suhu 26 hingga 27 derajat celcius 
  • Shape (membentuk adonan)
  • Proof (tahap menunggu adonan hingga mengembang sempurna)
  • Bake (tahap memanggang adonan di dalam oven)

IMG_0767.jpg

Butuh waktu setahun agar saya bisa membuat artisan crusty bread yang menghasilkan Open Crumb” secara jelas di bagian dalam. Penampakan bolong bolong di bagian dalam roti yang menjadi impian sebagian besar orang yang hobby membuat roti sejenis ini.

IMG_0862.jpeg
“Open crumb” pada sourdough artisan bread 

Menurut saya tidaklah cukup hanya membaca resep tertulis. Karena tahap demi tahap tidak sesimple pengertiannya. Apalagi tehnik mengaduk adonan, fold, laminasi, merenggangkan dan melipat, membentuk, tidak sesimple yang dibaca dalam tulisan. Prakteknya lebih rumit. Tidak bisa main hantam kromo mainin tangan ke adonan. Serba pelan pelan semua. Salah dikit, biasanya open crumbnya ga nongol.

IMG_0919.jpeg

IMG_0900.jpg

Jadi alangkah baiknya jika langsung melihat tutorial dalam video. Karena kalau hanya membaca tulisan nantinya bisa salah pengertian dan saya pun kurang pintar menjabarkan dalam tulisan. Karena saya tau prakteknya lebih tricky.

Baca pelan pelan tulisan saya agar lebih bisa memahami proses pengerjaan. Percayalah, kelihatannya mudah tapi untuk menghasilkan open crumb itu lumayan susah. Sebenarnya tidak melulu harus open crumb sih. Bukan berarti kalau bolong bolongnya tidak kelihatan langsung dikategorikan gagal. Tanpa open crumb pun sebenarnya bisa dimakan dan tetap enak. Cuma alangkah senangnya hati jika rasa enak dan penampakannya juga paripurna.

Dan mohon diingat, apa yang saya tulis di sini hanya berdasar pengalaman saya sendiri. Bukan berbagi sesuatu yang mutlak benar. Artinya apa yang saya tulis mungkin saja berbeda dengan cara kerja orang lain. Cara bisa berbeda tapi tujuan akhirnya hampir sama….menghasilkan roti yang paripurna. Eaaaaaaaaaaaaa.

IMG_0771.jpg

Video tutorial akan menyusul tayang di channel youtube DAPURSICONGOK

Note : tulisan ini lebih fokus terhadap penggunaan levain untuk artisan crusty bread ya dan murni mengandalkan tangan bukan mesin.