Mengenal “FÄBOD” Di Dalarna Swedia

Gue yakin kalian pasti asing dengan kata “Fäbod”. Dimaklumi.

Fäbod merupakan sebutan yang sangat familiar dan sudah tidak asing lagi di propinsi Dalarna Swedia. Sudah ada sejak 450 atau 500 tahun silam. Bahkan hingga saat ini (meskipun tidak banyak lagi) masih ada fäbod yang bertahan.

Fäbod merupakan sebuah sejarah. Sejarah peradaban masa silam di sebagian wilayah Dalarna yang mostly menggantungkan hidup dari bertani.

Fäbod bisa dibilang sebuah “kawasan” yang dihuni secara “musiman”. Tepatnya hunian di saat musim panas. Tapi fäbod bukanlah summer house yang identik dengan liburan musim panas, santai, me time atau apalah itu yang menyegarkan badan dan pikiran, melainkan hunian yang dipakai para petani ketika harus tetap menggembalakan ternak mereka.

Mmmm…..bisa diperjelas lagi?

Jadi begini…

Dalarna itu adalah salah satu propinsi di Swedia yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi hutan pinus, danau maupun sungai. Dalarna juga relatif lebih dingin dibanding ujung selatan Swedia. Sudah dekatlah ke perbatasan bagian utaranya. Sedangkan lahan lahan kosong untuk pertaniannya pun sebagian besar relatif terbatas.

Faktor geographis ini membuat Dalarna kurang bisa maksimal menghasilkan produksi tanaman pertanian termasuklah rumput untuk bahan pangan ternak. Ditambah lagi Dalarna mengalami musim dingin yang relatif lebih panjang dan lama.

IMG_9720

Ketika musim panas tiba, para petani di sebagian wilayah Dalarna memaksimalkan keterbatasan lahan dengan menanam rumput di sebagian lahan yang mereka punya untuk kemudian digunakan untuk makanan ternak.

Berhubung lahan terbatas, hasil panen di musim panas ini pun otomatis tidak mencukupi stok pangan ternak untuk satu tahun penuh. Kasarnya hanya cukup untuk stok musim dingin. Bahkan rumput liar yang tumbuh di sekitar hutan dekat rumah pun tidak ketinggalan dipotong untuk dijadikan stok pangan ternak.

Lalu masalah pun muncul. Jika rumput liar dan rumput yang sengaja ditanam tidak mencukupi, bagaimana kelangsungan hidup ternak ternak ini di saat musim panas tiba?

Kemudian muncul ide….

Selama musim panas para petani akhirnya tidak membiarkan ternak untuk tinggal di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Karena jika tidak, otomatis tanaman rumput bakal habis dimakan ternak. Padahal itu akan digunakan untuk stok musim dingin.

Lalu kemana ternak ternak ini dibawa? Ke sebuah wilayah yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Seberapa jauh? Bisa 10 hingga 40 kilometer.

Hah? ….Terus setiap hari pulang pergi bawa ternak segitu jauh? 400 tahun silam belum ada kendaraan toh. Bawa ternak sapi pula. Sapi kan gendut gendut. Belum lagi bawa ternak lainnya. Kuda, domba, ayam, itik…ble ble ble.

Nah, itulah gigihnya mereka. Mereka sadar jika harus pulang pergi setiap hari sudah jelas akan sangat merepotkan. Selain tidak efesien di waktu juga akan menguras tenaga. Bisa bisa belum sampai tujuan uda keburu malam.

Sehingga mau tidak mau mereka harus rela membangun hunian baru di kawasan dimana mereka akan menggembalakan ternaknya. Biasanya kawasan yang dipilih adalah dataran yang agak tinggi dan tetap dekat dengan hutan. Di sini mereka bikin rumah sendiri, ngebor air secara manual dan semuanya serba bikin sendiri. Selama musim panas mereka berpindah ke hunian baru ini. Kawasan inilah yang kemudian dinamai FÄBOD.

IMG_9829
Sapi di sebuah kawasan fäbod yang masih bertahan hingga saat ini

Sepanjang musim panas mereka jarang bahkan nyaris tidak menempati rumah di desa mereka. Mereka bekerja menggembalakan ternak agar tetap kenyang menikmati rumput di kawasan fäbod.

Kemudian setelah musim panas usai, mereka pun kembali ke desa berikut dengan seluruh ternak. Saat musim dingin tiba ternak pun tetap kenyang memiliki asupan stok makanan karena di saat musim panas tanaman rumput di sekitar desa sama sekali tidak dimakan ternak.

Setiap desa di sebagian wilayah Dalarna rata rata warganya membangun kawasan fäbod. Bahkan satu desa masing masing warga bisa memiliki fäbod yang berbeda beda. Gue sendiri masih bisa melihat peninggalan fäbod warisan keluarga suami.

Tapi tidak semua wilayah di Dalarna memiliki Fäbod. Jika lahan mereka mencukupi, mereka tidak perlu membangun kawasan fäbod.

Fäbod umumnya ada di wilayah yang lahan pertaniannya terbatas. Lebih banyak hutannya. Contohnya seperti warga di wilayah Selatan Swedia, mereka memang tidak memerlukan Fäbod. Karena wilayah selatan Swedia memiliki lahan pertanian yang lumayan luas dan cuaca yang lebih hangat.

Meskipun ada satu dua fäbod yang masih bertahan hingga saat ini, Fäbod lebih diingat sebagai peninggalan sejarah. Saat ini sistem pertanian sudah sangat canggih. Tapi fäbod mengingatkan generasi ke generasi betapa beratnya usaha petani di masa silam untuk bisa bertahan hidup.

Namun dari sekian banyak Fäbod di Dalarna ada beberapa yang justru menjadi tujuan wisata. Sebut saja seperti Fryksås Fäbod yang sangat terkenal dengan keindahan landskapnya dan Kättboåsen Fabodar. 

IMG_9789
Rumah di kawasan fäbod yang sering gue kunjungi. Dalamnya bersih loh dan antik. Tanpa polesan make up dia. Haha..

IMG_9756

Kättboåsen Fabodar adalah kawasan fäbod yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal gue. Setiap tahun gue dan suami selalu mampir ke sini. Entah mengapa gue selalu suka. Keaslian lingkungan sekitarnya membuat gue seolah lupa jika gue hidup di tahun saat ini.

IMG_9825
Sapi di sekitar fäbod

Kättboåsen Fabodar dikelola pasangan suami isteri yang sangat setia dengan kehidupan jaman bahela. Bayangkan setiap musim panas mereka bener bener menjalankan apa yang dilakukan para petani Dalarna ratusan tahun silam.

IMG_9799
Bunga menjadi lebih cantik ketika berada diantara yang rustic

Mereka meninggalkan rumahnya dan hidup dengan ternak ternaknya selama musim panas di kawasan fäbod milik mereka. Rumahnya beneren ga dipoles. Apa adanya seperti ratusan tahun silam. Perlengkapan peralatan di dalam rumah pun masih orisionil.

IMG_9788
Semakin kusam warna kayunya semakin tertarik orang berkunjung haha

Setiap kami ke sana mereka selalu berpakaian tradisional Dalarna. Masak pakai kayu bakar, cuci tangan di baskom bukan di wastafel. Beneran kehidupan jaman dulu.

Setiap musim panas mereka membuka ruang untuk turis tanpa dipungut biaya. Paling mereka mendapat keuntungan dari hasil menjual roti, keju, cake yang mereka buat sendiri. Kejunya mereka bikin sendiri loh dari ternak sapi mereka. Cakenya juga enak. Beneran deh, apa saja akan menjadi lebih nikmat jika disantap di suasana jadul seperti ini. Karena berasa serba terbatas kan.

IMG_9725
Sekitar halaman fäbod yang adem asri

Ngopi sambil dengerin suara aummm sapi dan kukuruyuk ayam yang super montok, mencium aroma asap kayu bakar, hingga kabin kabin tua yang super rustic. Beneran lupa kalau sekarang uda tahun 2019. Hahaha.

IMG_9740
Nah….di sini ngopinya.. sesimple itu Marimar! Air panasnya dibakar di atas kayu bakar. Lupakan mencari air kemasan botol di sini. 
IMG_9786
Ember kayu jaman dulu dan kuali besi hitam yang masih bertahan

Semua turis yang ke sini tidak pandang umur. Anak anak, remaja, dewasa dan tua. Semua menikmati dan antusias mengelilingi kawasan fäbod. Berikut beberapa gambar di kawasan Kättboåsen Fabodar yang masih bertahan hingga saat ini.

IMG_9835
Mereka juga nanam grain untuk menghasilkan tepung rye
IMG_3927
Ini kucing mereka. Cute banget. Begitu hendak gue foto sepertinya dia tau. Dia berhenti loh dan menoleh gitu. Ini Foto empat tahun lalu dan sampai sekarang si kucing ini masih ada.
IMG_9817
Jerami

IMG_9718

Jaman sekarang tidak sedikit yang menjadikan bangunan rumah di kawasan fäbod yang sudah tidak terpakai lagi menjadi summer house. Dan itu lumayan banyak diincar. Sedangkan untuk fäbod yang masih bertahan biasanya menjadi ajang tempat wisata musim panas.

Note: Semua foto di dalam tulisan ini hanya menggunakan handphone

Bagaimana Cara Membuat “Ragi Natural” Atau Levain?

Tulisan ini saya tulis terkait semakin banyaknya teman teman yang bertanya tentang adonan menggunakan Ragi Natural atau Levain. Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang berbagai macam jenis adonan asam yang berhasil saya bikin. Contohnya seperti gambar di bawah ini.

47309040012_857580c624_o

33485618928_125553d011_o.jpg

Satu hal yang perlu diingat, bergelut dengan ragi natural tidaklah mudah. Butuh waktu dan ada tahapan proses. Dan itu tidak singkat. Tidak cukup membaca satu dua kali segala referensi yang berhubungan dengan adonan asam ini. Butuh berkali kali dan butuh banyak latihan.

Dari gagal dan banyak latihan itulah nantinya secara otomatis akan membantu kita untuk lebih memahami cara kerja si ragi. Dimana kekukarangan adonan yang kita buat. Ingat, kita berhadapan dengan sesuatu yang hidup dan liar. Yang cara kerjanya sesuka mereka. Bukan dengan ragi yang sengaja disetting kemampuan kerjanya layaknya ragi komersial yang beredar di pasaran.

IMG_9649.jpeg

Jadi jika dirasa bingung dan kurang mengerti jangan langsung memble. Jangan cepat cepat menyimpulkan sendiri. Jangan menduga duga. Baca dan tonton tutorialnya dengan seksama.

Jangan melayangkan pertanyaan yang jelas jelas sudah dijelasin di resep dan tutorial. Ulangi dibaca dan bila perlu berkali kali. Boleh bertanya sepanjang pertanyaannya memang benar benar tidak ditemukan jawabannya di tutorial.

Di tulisan ini akan saya jelaskan bagaimana cara membuat ragi natural serta feedingnya. Ragi natural yang akan saya jelaskan ini khusus ragi yang terbuat dari bahan tepung. Bukan dari buah buahan. Jadi kalau ada pertanyaan, tanyalah sesuai dengan yang saya tulis.

Langsung saja …………….

Hari Pertama :

Campur 20 gram air, 20 gram tepung gandum utuh (Whole Wheat Flour) dan 5 gram madu ke dalam jar/toples. Lalu aduk rata. Kemudian diamkan selama 24 jam.

Hari Kedua :

Campur 40 gram air, 40 gram tepung gandum utuh, dan 5 gram madu ke dalam toples berisi campuran di hari pertama. Lalu Aduk rata. Kemudian biarkan selama 24 jam.

Hari Ketiga :

Campur 80 gram air dan 80 gram tepung gandum utuh ke dalam toples berisi campuran di hari kedua. Lalu aduk rata. Kemudian diamkan selama 24 jam.

Hari keempat :

Campur 100 gram air dan 100 gram tepung serba guna ke dalam toples berisi campuran di hari ketiga. Lalu Aduk rata. Kemudian diamkan selama 12 jam atau hingga mengembang 3 kali lipat.

Hari kelima : 

IMG_9659.jpeg

IMG_9648.jpeg

Campuran terlihat mengembang dan berbuih. Artinya ragi natural berhasil dan hidup. Meskipun demikian, ragi ini belum bisa dibilang matang dan dewasa. Artinya belum benar benar aktif untuk digunakan ke dalam sebuah resep adonan. Jika dipaksa malah akan menghasilkan roti yang tidak maksimal. Ibarat bayi baru lahir terus disuruh kerja kan repot.

IMG_9660.jpeg

Lalu bagaimana cara agar si ragi muda ini bisa aktif dan cukup strong untuk digunakan ke dalam sebuah adonan? Jawabannya harus difeeding dengan air dan tepung dalam takaran yang sama. Caranya?

Ambil ragi seberat 100 gram. Masukkan ke dalam sebuah toples baru. Sisa ragi boleh dibuang (tidak diperlukan lagi). Jadi fokus pada ragi seberat 100 gram tadi. Kemudian masukkan air dan tepung masing masing seberat 100 gram. Aduk rata dan biarkan mengembang hingga 3 kali lipat.

Setelah itu ulangi hal yang sama untuk feeding yang kedua. Ingat, di setiap feeding ada sisa yang dibuang. Jadi untuk feeding kedua, ambil 100 gram ragi dari hasil feeding pertama. Sisanya bisa dibuang. Lalu tambahkan air dan tepung masing masing seberat 100 gram. Biarkan hingga mengembang 3 kali lipat.

Hari keenam, lakukan feeding dengan cara yang sama yaitu sistem buang sebagian dari hasil feeding kedua. Cuma takaran tepung dan air cukup 50 gram saja agar tidak terlalu banyak sisa tepung yang terbuang. Lakukan seterusnya hingga total mencapai 14 kali feeding terhitung dari hari kelima. Setelah itu ragi sudah bisa digunakan.

Dan saran saya, cobalah segera membuat adonan roti dan gunakan si ragi untuk mengetahui kinerjanya. Setelah digunakan ke adonan resep, sisa ragi yang tidak terpakai bisa ditutup rapat dan disimpan di dalam kulkas.

Lantas bagaimana kelanjutan sisa ragi yang disimpan di dalam kulkas? 

Tetap harus difeeding. Kalau tidak, bisa bisa si ragi akan mati. Ingat, ragi natural itu hidup. Ada masa dimana dia akan lapar dan haus. Jadi harus difeeding secara berkala. Beri makan dan minum.

Kapan sebaiknya difeeding?

Nah, untuk feeding tidak ada aturan mutlak harus rutin berapa kali sehari atau berapa kali seminggu. Tapi agar kualitas ragi tetap terjaga, pastinya kita harus memberi makan minum dong. Jangan cuma pengen bikin doang tapi feedingnya malas.

Meskipun demikian, saya akan beri contoh atau gambaran agar kalian tidak terlalu pusing urusan feeding ini. Satu hal yang perlu diketahui bahwa kuantitas feeding ragi natural relatif tidak sama. Tergantung kebutuhannya saja.

Contoh :

Jika kalian rutin baking satu kali seminggu, maka feedinglah si ragi natural setiap hari. Cukup satu kali sehari dan tidak perlu lagi masukin ke kulkas. Kenapa? Karena kalian sudah pasti menggunakannya setiap minggu.

Jika ternyata kalian tidak rutin ngebaking, misalnya cuma dua kali seminggu atau satu kali dalam sebulan, maka kalian cukup feeding 1 atau 2 kali seminggu.

Tapi begitu kalian akan gunakan ke resep, sebaiknya tingkatkan kuantitas feedingnya. Minimal 4 hari sebelum kalian baking. Rutinlah feeding sebanyak 3 kali sehari selama 4 hari berturut. Kenapa? Karena sebelumnya raginya relatif lama tidak digunakan dan feedingnya terbatas. Artinya dia belum benar benar kenyang untuk bekerja. Kurang strong karena tidak bertenaga. Jadi idealnya diberi makan minum yang cukup dulu.

Berapa rationya? bisa 1:1:1 atau 1:2:2

Misalnya ragi 50, tepung 50 dan air 50 gram atau ragi 25, tepung 50 dan air 50 gram.

Takaran tidak harus sama persis seperti yang saya sebut. Ini hanya contoh saja. Sesuai kebutuhanlah. Misalnya feeding di awal gunakan ratio 1:1:1 supaya sisa ragi yang terbuang tidak terlalu banyak. Lalu untuk feeding terakhir, ratio bisa ditingkat menjadi 1:2:2.

Pusing? Baca pelan pelan aja. Jangan main kilat bacanya.

Kenapa sih harus ada yang dibuang? jawabannya kalau tidak dibuang sebagian, ragi akan semakin asam dan sangat asam. Ingat, levain itu adonan asam loh. Kalau ditumpuk terus tanpa ada yang dibuang sebagian, roti kalian akan seasam jeruk nipis.

Saya kurang merekomen ragi natural ini jika kalian bakingnya malas malasan. Misalnya bikin roti cuma satu kali 3 bulan. Mubazir membuang buang tepung.

Lantas sisa ragi yang dibuang itu bisa dipakai tidak? Bisa. Tapi ke adonan yang ringan ringan saja seperti jenis kue kuean. Kalau untuk adonan berat seperti donat jangan ya. Karena logikanya sisa ragi yang dibuang adalah ragi yang belum bener bener strong yang dibuang di masa proses feeding masih berlangsung. Adonan donat lumayan berat sama halnya dengan adonan roti.

Selama proses feeding masih berlangsung (misalnya rutin harus difeeding selama beberapa hari), ragi jangan dimasukin ke dalam kulkas ya. Ragi dimasukin ke dalam kulkas setelah proses feeding selesai (Misalnya minggu ini cuma feeding satu kali karena tidak ada rencana baking dalam waktu dekat), baru boleh langsung dimasukin ke dalam kulkas.

Untuk Tutorial Lengkap Cara Pembuatan Ragi Natural berikut feeding, bisa melihat pada tayangan video di bawah. Saya sudah share di channel youtube @Dapursicongok. 

Dikerjai “Brioche”

Pertama sekali bikin Brioche sekitar dua tahun lalu. Berhasil!

Waktu itu adonannya menggunakan starter sourdough (ragi natural). Keberhasilan itu tentunya sukses membuat hati saya berbunga bunga. Montok dan seksi hasilnya. Hanya brioche yang saya bikin waktu itu bisa dibilang brioche ala ala. Butter dan telurnya tidak banyak. Bisa dibilang lebih mirip roti kasur, roti bantal, roti sobek dan konco konconya. Brioche ala Indonesialah.

IMG_9219.jpeg

Berbicara brioche yang sesungguhnya tentu saja sangat identik dengan penggunaan jumlah telur dan takaran butter yang relatif banyak. Artinya penggunaan bahan telur dan butter dalam adonan brioche tidak seperti adonan roti kebanyakan yang penggunaan butter dan telur relatif lebih sedikit. Sehingga tak ayal aroma dan rasa brioche memang melelehkan hati. Apalagi sewaktu dipanggang di dalam oven. Du….du….du …..banget.

IMG_9220.jpeg

IMG_9226.jpeg

Brioche sendiri berasal dari Perancis. Negara yang memang famous sekali dengan kualitas roti roti lezatnya. Selayaknya bikin adonan croissant dan puff pastry, dibutuhkan tingkat kesabaran dan kehati hatian dalam proses pembuatan brioche.

IMG_2435 (2).JPG

Menurut pengalaman saya yang sudah beberapa kali melakukan uji coba dan gagal, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan tidak boleh dianggap sepele. Misalnya seperti suhu ruang, suhu oven, suhu adonan, suhu bahan bahan seperti butter, telur dan cairan air/susu yang harus dingin hingga ukuran loyang yang tepat dengan berat total adonan. 

IMG_9222.jpeg

Karena mengandung bahan telur dan butter yang relatif banyak, proses pengulenan adonan brioche pun otomatis memakan waktu yang relatif lebih lama dari adonan roti biasa. Untuk bisa menghasilkan sebuah adonan yang kalis elastis, setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Meskipun relatif lama, amazingnya adonan tidak over mix dan kering. Tetap smooth dan lentur. Karena apa? ya karena si butter tadilah.

IMG_9221.jpeg

Untuk menghindari suhu adonan cepat naik ketika dimixer, sebaiknya telur, susu atau air dalam kondisi dingin (suhu kulkas). Sedangkan butter mutlak harus dingin (suhu kulkas).

Untuk proses fermentasi wajib overnight di dalam kulkas. Sekitar 12-16 jam. Fungsinya untuk menghasilkan adonan yang jauh lebih padat mengeras serta memudahkannya pada saat dibentuk. Slow fermentasi di dalam kulkas juga akan membuat tasty roti lebih rich, pluffy, berserat halus dan tentunya lebih tahan lama.

IMG_2425 (1).JPG

Sedangkan fermentasi selanjutnya dilakukan di suhu ruang sekitar 3-4 jam. Fermentasi di suhu ruang tetap relatif lama karena ketika akan diproofing suhu adonan masih dingin. Jadi adonan harus menyesuaikan dengan suhu ruang terlebih dahulu barulah setelahnya bisa mengembang sempurna.

Adonan brioche lumayan sensitif menurut saya. Karena kandungan butter yang relatif banyak tadi. Apalagi kalau butter yang digunakan sudah sempat terkena suhu ruang hingga menjadi soft butter, alamat suhu adonan akan cepat naik ketika dimixer. Susah merekat dan permukaan menjadi pecah pecah. Ketika dioven malah terlihat pucat dan mengeras karena si butter kadung cepat meleleh. Warna golden brownnya pun tidak keluar. Jelek!

IMG_2481 (1).JPG

Suhu ideal oven menurut saya sekitar 170 celcius. Saya pernah mencoba di suhu 180 derajat celcius, alhasil permukaan sudah sangat gelap tapi bagian pertengahan adonan masih liat dan belum matang. Bisa jadi juga karena susunan adonan terlalu sempit dan berat dan tidak ideal dengan ukuran loyang. Saya lupa kalau adonan yang mengandung butter yang luamayan banyak akan lebih susah mengembang ke atas.

Belum lagi adonan dirounding terlalu lama. Sehingga permukaannya menjadi lebih tipis dari bagian bawah. Ketika diproofing yang ada permukaan adonan terlihat mau sobek karena terlalu tipis. Padahal bagian bawah masih belum sempurna mengembang. Puncaknya ketika dimasukin ke dalam oven, akhirnya bagian bawah mendorong paksa ke bagian atas. Hasilnya menjadi kurang mulus dan terlihat seperti terbelah di bagian tengahnya. Beberapa kali saya lumayan kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginan saya. Meski jika dimakan sudah enak. Tapi tetap tak memuaskan.

IMG_2449

Brioche itu warnanya lumayan khas. Golden brownnya lebih gelap dan tajam. Ini efek dari pengolesan kuning telur. Nah…..aroma kuning telur inilah salah satu yang membuat adonan brioche lebih sempurna. Seperti bukan memanggang roti melainkan cake. Ini masih pakai ragi instan loh. Gimana lagi kalau pakai ragi natural. Saya yakin pasti lebih harum.

IMG_9214

Ternyata membuat brioche yang bener bener menggunakan takaran butter dan telur yang banyak itu tidak semudah yang saya bayangkan marimar! Saya gagal beberapa kali!

Namun akhirnya happy ending karena berhasil juga menaklukkan adonannya. Puas banget saya. Hingga hari ketiga brioche tetap enak. Tetap lembut dan aroma butternya lebih keluar. Ini menjadi salah satu roti andalan saya. Enak!

Saya sangat mencintai dunia perbakingan. Beberapa kali gagal tidak membuat saya menyerah. Saya anggap tepung dan konco konconya adalah teman teman saya.

Kalian bisa mencobanya di rumah. Resepnya sudah saya uji coba hingga 4 kali baru berani share. Tutorialnya bisa melihat video di bawah.

Lupiner, Cantik Tapi Berbahaya

Setiap musim panas, ada satu jenis tanaman yang menghiasi beberapa wilayah Swedia. Terkhusus di wilayah Dalarna. Beraroma semerbak dan beraneka warna. Cantik.

Di Swedia orang orang menyebutnya Lupiner. Sedangkan asal katanya berasal dari bahasa Latin yaitu Lupinus yang artinya serigala. Dinamai demikian karena keganasan lupiner yang mampu mengekspansi pertumbuhan tanaman di sekitarnya sehingga sulit berkembang.

IMG_8908 (1)

Awalnya gue berpikir jika tanaman ini hanya tumbuh di wilayah dingin. Ternyata tidak. Malah dari beberapa sumber yang gue baca,  di wilayah panas seperti Indonesia pun lupiner bisa dibudidayakan. Dan gue juga baru tau jika lupiner dianggap berbahaya terhadap kelangsungan hidup species lain di sekitarnya. Karena sifat serigalanya itu tadi.

IMG_8913

Beberapa waktu lalu, pemerhati lingkungan di Swedia mulai dibikin resah oleh ekspansi tanaman ini. Dihimbau agar warga yang melihat lupiner sebaiknya segera menebas dan membakarnya agar tidak membawa pengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman liar lain yang dianggap lebih nature.

Walaupun dalam kenyataan yang gue lihat, warga tetap membiarkan bunga ini hidup dan menikmati keindahan warna warninya. Emang cantik sih. Ibarat melengkapi keindahan musim panaslah. Apalagi kalau dilihat dari jauh, warna ungunya mirip bunga lavender.

IMG_8898 (1)
Mirip Lavender

Lupiner aslinya berasal dari Amerika Utara dan Selatan. Konon di sana bunga ini sangat terkenal. Selain di Swedia, lupiner juga tumbh subur di wilayah New Zealand, Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Konon biji Lupiner bisa dimakan dan sering menjadi suguhan dalam bentuk  cemilan di wilayah mediterania.

IMG_8911

IMG_8909

Lupiner sangat menyukai air. Makanya tanaman ini lebih subur di tanah yang memiliki kandungan air yang banyak. Seperti di pinggiran sungai, pantai dan danau. Sehingga kalau gue lihat, tanaman ini tumbuhnya memang tak jauh jauh dari sekitar air. Tumbuh di pinggir jalanpun karena jalanan berada tak jauh dari sungai atau danau. Atau di sekitar selokan yang ada aliran airnya. Jadi tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat.

IMG_8898

Di wilayah eropa lainnya, lupiner ternyata dibudidayakan untuk dijual di toko bunga. Ahhh so lucky me bisa melihat hamparan mereka dan bisa memetik sepuasnya.

IMG_8915

Saat gue menulis tulisan ini, lupiner lagi banyak banyaknya bermunculan. Dan gue pun tak ingin ketinggalan untuk mengabadikan momen cantik ini dalam bentuk video.

Bisa klik video di bawah …

Dikutip dari berbagai sumber termasuk Wikipedia

Ketika Vlogger Mengeksploitasi Kata “Bule”. Segitunyakah?

Gue adalah salah satu orang yang lumayan suka menonton youtube. Dan sebenarnya gue ga terlalu memilih milih tema apa yang harus gue tonton. Jadi apa yang muncul di time line youtube dan sekiranya menarik ya gue akan coba tonton.

Seperti menonton hot news di tanah air, resep, kecantikan, gosip artis dunia dan tanah air, mantengin orang korea makan secara brutal, mukbang enak, dan yang terakhir adalah tayangan vlog.

Nah yang terakhir ini yang akan gue bahas…

Sebenarnya gue tidak terlalu rutin menonton vlog. Apalagi dari beberapa tayangan vlog yang gue tonton, rata rata temanya sama. Daily Vlog yang isinya itu lagi dan itu lagi. Bersihkan rumah, masak kilat lalu makan, ngantar anak sekolah, belanja, Q&A. Seputaran itulah. Dan lucunya, tema ini seolah olah sudah mendarah daging. Tapi mau gimana lagi, namanya juga daily vlog. Pastinya tentang keseharian kan.

IMG_1970.jpg

Menurut gue, tidak ada yang salah dengan daily vlog. Asalkan sesekali adalah informasi yang menambah wawasan penonton untuk bisa disampaikan. Misalnya ketika sarapan, alangkah lebih baik menyelipkan cerita tentang kebiasaan sarapan di wilayah negara mereka tinggal seperti apa. Misalnya seperti di Swedia, mereka mostly sarapan pakai smögås (sandwich ala Swedia) atau fil, sejenis yogurth tradisional asal Swedia dan bukan greek yogurth. Mereka tidak langsung minum kopi, tidak sarapan dengan donat atau cake. Ga minum coklat hangat. Kira kira begitulah.

Atau apa kebiasaan orang orang di sekitar mereka kalau musim panas tiba. Yang simple aja. Ya ga perlu cerita yang berat berat. Karena namanya juga merantau di negara orang, pasti menemukan yang namanya culture shock. Dan itu bisa jadi cerita menarik. Bisalah diselipin dalam sebuah video daily vlog.

Jadi tidak melulu hanya menampilkan muka bangun tidur yang disorot kamera. Ujuk Ujuk ke dapur dan sarapan di meja. Jadi kasarnya penonton hanya liatin mereka sarapan. Ada kucing lewat, kucingnya diajak ngomong. Anaknya nangis ga henti juga terpampang nyata di video. Adakah yang menonton tayangan yang cuma begitu? ya ada. Faktanya malah banyak.

Masyarakat kita justru tak sedikit yang tertarik melihat isi vlog seperti itu. Sekalipun para vlogger ini bukanlah tokoh ternama atau public figure. Bayangkan hanya  untuk sebuah tayangan video berjudul “Hari Ini Pasang Gorden di Kamar Tidur” vierwsnya bisa langsung ribuan dalam hitungan jam. Dasyat kan. Padahal cuma pasang gorden loh. IMG_1941.jpg

Dan ada beberapa vlogger yang terkesan hanya mengejar jam tayang. Sadar atau tidak, ada kepentingan keluarga yang terlalu terekspos. Tak sedikit anak yang terlihat tidak mau lagi direcord. Mungkin lelah harus tampil lagi dan lagi di dalam video. Mulai dari pasang muka manyun hingga terang terangan bilang ga mau. Tapi record on terus demi sebuah target tayang. Sehingga kemunculan para anak anak ini menjadi sangat dominan di dalam tayangan video. Atau memang disengaja menjadi nilai jual sebuah konten saya juga kurang paham. Golongan anak bule blasteran yang imut menggemaskan. Dan itu tak bisa disangkal. Para subscriber memang lebih suka menonton keluarga komplit seperti ini. Suami bule yang ganteng dan anak yang imut. Bebas memilih toh?

Ada salah satu vlogger yang gue lihat lumayan menjaga privacy keluarganya. Jadi dia lebih suka menampilkan dirinya sendiri dalam bentuk video mukbang. Dan ditanya dong, suaminya mana? Ada anak ga? Mertuanya mana? Sesekali ditayangin dong!

Meski si vlogger ini sudah mengklarifikasi bahwa dia tidak akan pernah menampilkan anggota keluarganya, tetap saja kurang dimengerti. Bahkan ada yang lama lama membully. Dibilanglah suaminya ga cinta, dibilanglah malu menampilkan suaminya karena sudah tua. Sadis!

Sebegitu pentingkah? Inilah kenyataan yang ada. Gue ga abis pikir, sebegitu spesialnya sosok bule di mata mereka seolah olah bule adalah sosok langka yang super lezat untuk ditonton atau mungkin juga mahluk tampan dari planet jadi jadian.

Dan hebatnya lagi ketertarikan para subscriber akan sosok kehidupan keluarga bule ini dipandang jeli oleh beberapa vlogger yang bersuamikan bule (meski tidak semua). Dibuatlah judul judul dramatis yang hampir semua kontennya menggunakan kata “Bule”.

“Suami Bule Makan Jengkol, Suami Bule Bisa Makan Pedas, Suami Bule Makan Pete, Suami Bule Makan Durian, Suami Bule Makan Ikan Asin, Anak Bule Makan Ayam Goreng, Mertua Bule Makan Kolak Pisang, Jalan Jalan Bareng Mertua Bule”. 

Semua pakai kata “Bule”. Suami bule, mertua bule, anak bule, saudara bule, teman bule, kantor bule, ………buleeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!

IMG_1841.JPG
Foto tidak ada hubungan dengan cerita…

Belum lagi tayangan para suami bule menyantap makanan Indonesia. Makanan mana justru sering diintolerir dalam kehidupan nyata dunia per-bule-an. Suami Bule doyan Ikan Asin, suami bule doyan jengkol, suami bule doyan pete, suami bule doyan terasi, suami bule doyan durian. Judulnya “doyan” loh. Bukan sekedar “mencoba makan”. Bule canggih.

Kalau dibuat judul judul sedemikian, jelas sangat menarik minat subscriber untuk menonton. Gilaaaaaak…bule makan ikaan asin brorr!

Atau meski baru bisa mengucapkan satu dua kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah (itupun gagap dan harus mengulang beberapa kali setelah diajari), judulnya dong langsung “Suami bule mahir ngomong Indonesia, atau mahir ngomong Jawa, atau fasih ngomong batak. Mahir dan fasih itu artinya berbeda dengan bisa. Kalau mahir konotasinya sudah lancar berbicara dalam beberapa kalimat tanpa harus diajari lagi. Tapi itulah trik menulis judul bombastis. Click Bait yang mampu menarik perhatian netizen untuk menonton. Target penonton pun tercapai. Tapi buat gue sih ini lumayan sontoloyo dan terlalu berpura pura (sorry to say). Boleh kan beropini? Ga ngajak makar ini.

Ada satu vlogger yang sampai membuat gue geleng kepala. Hampir semua judul kontennya pakai kata bule. Bahkan sangat dramatis. Dan sedihnya itu, rahasia rumah tangganya tercurah habis di dalam tayangan video. Rahasia kelam dan hubungan yang sangat intim. Alih alih ingin berbagi katanya. Di luar sana yang mendengar justru tidak dia dikenal sama sekali. Kadang gue suka mikir, suami dan keluarganya tau ga sih?

IMG_1926.jpg

Tidak ada yang salah dengan ngevlog. Silahkan ngevlog. Pendapat pro dan kontra hanyalah pendapat. Sebebas para vlogger memuat isi kontennya.

Kalau kalian bagaimana pendapatnya? komen ya!

**************************************

Gue,

Si isteri BULE 🙂

Lagi Suka Videography

Sudah lama saya berkeinginan merekam video dari kamera dan lensa gede seperti Dslr. Kalau cuma merekam sih ga ada masalah. Trus peralatan seperti kamera lensa dan tripodnya juga ada. Persoalannya adalah saya ga ngerti proses mengedit di laptopnya. Hahaha. Duh…beneran angkatan jadul banget saya.

Selama ini cuma bermain di zona aman dan simple. Pakai iphone only. Toh hasilnya juga jernih dan mampu menghasilkan uang yang lumayan karena lolos kualifikasi tayang ke salah satu stasiun tv swasta di tanah air.

Cuma ya itulah, efek rekam dari kamera Dslr itu kan beda ya. Smooth banget. Hingga akhirnya gue iseng iseng nanya ponakan. Ternyata di luar dugaan jago banget dia soal edit mengedit. Gue ga nyangka karena profesi dia kan guru. Gue pikir manalah kepikiran menekuni dunia edit mengedit ya kan. Makanya gue ga pernah nanya dia. Dan entah kenapa tiba tiba jadi nanya ke dia dan ternyata membuahkan hasil.

Dengan segala tingkat kesabaran, diajarilah gue yang awal awalnya sempat nyerah karena merasa edit video di laptop itu lebih riweh. Lamaaaaaaaaaaaaaa! Sampai akhirnya gue merasa bisa dan mulai rileks mengedit setiap rekaman yang gue ambil melalui kamera dslr.

Gue senang banget karena akhirnya berhasil membuat video masak dan baking sesuai keinginan gue. Sejauh ini gue puas dengan hasil rekam dan editannya. Meski bagi orang lain mungkin masih amatiran.

Dan kemaren iseng iseng gue merekam bunga di halaman rumah. Senang banget lihat hasilnya. Pokoknya sekarang lagi ketagihan merekam dan mengeditlah.

Video di bawah adalah salah satu hasil rekaman dan editan gue. Mudah mudahan kalian suka. Oh iya, kasih pendapat ya di kolom komen. Thank youuuuuuuuuuuuuu!

Baking With Natural Yeast (Starter Sourdough)

Mungkin ini adalah untuk yang kesekian kalinya saya menulis tentang adonan asam (sourdough). Iya, baking with natural yeast. Ragi Natural yang saya bikin sendiri sekitar tahun 2017 lalu dan saya beri nama Stumpan.

IMG_4798
Roti Sobek. Mantul banget ngembangnya. Oh iya, roti yang menggunakan ragi natural biasanya permukaannya tidak sehalus jika menggunakan ragi instan ya.
IMG_4882
Lihat serat rotinya. Halus dan panjang. Tidak gampang putus jika ditarik. Lembut sudah pasti dan lembab banget. 

Dan sudah entah berapa banyak adonan roti yang saya hasilkan dari kerja si Stumpan itu. Ah…I love you Stumpan!

IMG_8048.jpeg
Bombolone/bomboloni sebelum difilling nutella

Jika sebelumnya saya mengulas lebih banyak tentang hasil kerja ragi natural pada jenis roti crusty, maka kali ini lumayan berbeda. Saya mencoba pada adonan donat dan soft buns. Hasilnya? Amazing dong. So pluffy ! Dan lembab banget.

IMG_8087
Roti gandum ini sangat lembab dan seperti roti basah. Dan amazingnya disimpan di wadah tertutup hingga 9 hari tidak berjamur tanpa mempengaruhi tekstur roti (tetap lembab). Padahal kondisi suhu ruang rumah saya lumayan hangat karena lagi musim panas. Suami saya sampai bilang “amazing”

IMG_8066

Menghasilkan donat yang harum sekali. Sangat saya rekomen deh bikin donat pakai ragi natural. Beneran harum dan yang penting meski menggunakan ragi natural, rasa asamnya tidak berasa sama sekali. Meski lamanya waktu fermentasi atau proofing rata rata hingga 20 jam bahkan ada yang lebih.

IMG_4856
Lihat donat ini. Montok banget. Percaya ga kalau ini bukan hasil kerja ragi instan? Ini hasil kerja ragi yang saya bikin sendiri. Wow kan! Hahaha
IMG_4830
Dan aroma donat pakai ragi natural sangat beda dibanding pakai ragi instan. Harumnya sulit dijelasin. Saya ada tips, jika menggunakan ragi instan tapi hasilnya akan mirip seperti ini, pakailah ragi instan dalam takaran yang tidak banyak. Lalu proofing di dalam kulkas. 

Donat yang saya buat hanya satu kali proofing. Seperti biasa, starter sourdough difeeding rutin 3 kali sehari selama 4-5 hari berturut. Kerjanya josss banget deh. Mengembang sempurna. Donatnya menul menul dan seksi. Ring whitenya kelihatan. Asal pada saat menggoreng, minyak harus bener bener panas di suhu 180 derajat celcius. Api kompor harus kecil.

IMG_4854
Donat meski sudah dingin tetap moist dan tidak mengeras. Asal simpan di wadah tertutup. 

Saya juga sangat surprise hasil kerja ragi natural pada roti sobek dan roti gandum. Mengembang sempurna. Padahal bahan whole wheat flour pada roti gandum sangat dominan. Biasanya kalau takaran tepung gandumnya banyak, adonan tidak mengembang terlalu tinggi. Bener bener jago si Stumpan ini. Hahaha.

IMG_8137 (1).jpeg
Bomboloni nutella ini super pluffy. Beneran ga bohong deh. Sebenarnya saya bukan penggemar nutella. Bomboloni ini saya bikin untuk dibagi ke paman onti dan tetangga di hari perayaan nasional day di Swedia beberapa waktu lalu. 

IMG_8142 (1).jpeg

Saya tidak akan banyak bercerita. Biarlah foto foto yang saya share sebagai bukti nyata kerja si ragi natural ini. Kerja si “Stumpan” kesayangan saya.

Untuk resep tutorial, lebih jelasnya kalian bisa lihat di channel youtube Dapursicongok