Menikmati Summer di Summer House

Musim panas tahun ini adalah musim panas yang sepanas panasnya selama gue tinggal di Swedia. Mencapai 33 derajat celcius bahkan lebih. Jarang banget hujan. Dan sekalinya hujan cuma rintik rintik. Itupun cuma sebentar. Alhasil tanaman bunga dan sayuran serta rumput menjadi cepat kering.

Biasanya di musim panas, suami lumayan sering menggilas rumput di halaman sekitar rumah. Tapi tahun ini baru sekali doang. Rumput di sekitar rumah nyaris kehilangan kesegaran. Hijaunya berubah menjadi kuning gersang. Hidup segan mati tak mau. Sudah disiram air hingga beberapa jam tetap tak terlalu berpengaruh. Keringnya benar benar parah. Sampai blueberry di hutan pun nyaris tak terlihat buahnya. Kecil kemungkinan bisa dipetik dalam jumlah yang maksimal. Bahkan beberapa kenalan yang memelihara kuda, sedikit mengeluh karena kekurangan rumput untuk makanan ternak.

29538983788_62fac4fbe4_o.jpg

IMG_4138.jpg

Meskipun begitu, gue lebih memilih musim panas yang seperti ini. Real summer. Bukan musim panas yang harus tetap jaketan karena berasa dingin. Bukan juga summer yang lebih sering hujan, angin kencang dan mendung. Pakai tank top dan shorts kaga bisa. Bah…malas banget.

36FA9770-14D8-468E-9D8B-7C068CE6A01E.jpg
Bunga, pinus dan gubuk. 

Pokoknya musim panas tahun ini sangat gue nikmati. Aktivitas di luar tidak terganggu. Nanam nanam, naik boat dan mancing di danau sebelah rumah, piknik, selonjoran di kursi halaman, sampai makan pun lebih sering di halaman depan rumah. Kulit gosong uda ga gue pikirilah. Sebodo aja. Kapan lagi mak bisa begini. Paling cuma sampai Agustus. September udah mulai dingin. Memble!

DF5AEDEC-BBF2-4EA3-9A62-E317CE4F183A

Berhubung tahun ini kami lebih fokus menikmati musim panas di Swedia, dan kebetulan juga cuacanya cerah, kami putuskan untuk lebih sering mengunjungi summer house yang tidak terlalu jauh dari rumah. Paling cuma 5 menit berkendara. Anggap saja kami lagi liburan dan menginap di cottage.

054C3839-B48B-4D7B-A744-1C5E1BA05F97
Bagian dalam summer house. Vintage dan klasik

Dan lagi lagi baru tahun inilah gue betah berlama lama di summer house. Bisa seharian. Bahkan kami berencana akan menginap. Selama ini terkendala perasaan tak nyaman akan toilet yang berada di luar dan masih sangat tradisional. Trus kamar mandi kaga ada. Kalau mau mandi ya ke danau sekitar.

235C992B-DF20-47E8-9C91-DD24788DB52D
Bunga liar. Not bad kan?

Cuma setelah benar benar dibersihkan oleh suami, ternyata masih bisa ditoleransi. Meski belum nyaman banget. Namanya toilet tua ya. Masih tradisional. Lagian rumah dekat ini, semisal malas banget ya tinggal ke toilet rumah aja. Kalau urusan mandi mah gampang. Gue ga wajib mandi tiap hari kok. Kecuali berasa keringatan banget. Hahaha.

IMG_4015.jpg
And I love this so much

Nah, sudah beberapa kali kami berlama lama di summer house. Gue sengaja bawa makanan dari rumah. Bahkan pernah terbersit ide, gimana kalau kami berdua makan siang cantik di halaman summer house? Sayang kan punya view kece malah dianggurin. Cari suasana bedalah ceritanya.

IMG_4364.jpg

IMG_4367

Dan akhirnya ide itu gue realisasikan. Gue masak pie salmon. Lahaplah makannya. Ternyata makan sambil dipelototin pohon pinus itu beda. Makan sambil dengerin kicau burung itu beda. Table setting bolehlah mirip ala ala restoran tapi nyatanya kami bukan di restoran. Sekeliling kami cuma nature. Justru sensasi beda inilah yang gue suka. Kami makan diantara nature yang masih ramah. Danau kecil, semilir angin, love bangetlah. Tinggal beruang aja yang ga keluar. Hahahaha.

Gue sempat mikir, kemana aja selama ini? kok bisa ga kepikiran berlama lama di sini. Ketagihanlah akhirnya. Datang, selonjoran layaknya di pantai tapi bukan di pantai. Melainkan di hutan! Gue menatap langit biru plus awan awannya. Juga ranting pinus yang saling bertemu. Tidur ahhhhh. Zzzzzzzzzzzz.

IMG_4027
Gue……..di keheningan

Pernah suatu waktu turun hujan. Tapi cuma rintik rintik dan itupun tidak lama. Gue sengaja ga masuk ke dalam. Gue cuma duduk bengong di teras sambil menatap ke arah danau. Mencium bau tanah yang terkena air hujan. Ihhhh suka!

42660351492_1e484dce0c_o

Belum lagi kalau melihat suami mendayung canoe. Rasanya heaven banget hanya dia seorang di tengah air itu. Hening. Sesekali cuma terdengar percik air ketika dayung canoe menyentuh air. Duhhh, beneran jauh dari hingar bingar.

IMG_3991

IMG_4003
Reflection

Summer house ini merupakan peninggalan keluarga suami. Dibangun oleh kakeknya pada tahun 1931. Sudah berumur 87 tahun. Bangunannya rustic dan fotogenik. Sehingga tak ayal kamera gue tak lelah menciduk.

Bagi yang suka nuansa vintage, kemungkinan besar suka suasana di dalamnya. Teman kerja gue pernah berkunjung ke sini. Langsung jatuh hati dia. Dia bilang cukup duduk bengong, minum kopi, udah puas dia.

E3227695-C617-4470-BBF6-F37722EB599E.jpg

1EBE3048-3FBB-4E7A-9912-DE1BFAAB50B5

Selain itu, summer house ini punya guest house kecil. Seperti rumah rumahan. Gue menyebutnya rumah liliput. Tapi begitu dibuka ya lumayan mampu menampung orang. Ada perapiannya pula. Hahaha. Niat bangetlah pokoknya si mendiang kakek bangun ini. Bentuk cerobong asapnya aja dari batu batu gitu. Beneran kayak rumah kartun.

27D7A2B1-6B1A-4A76-841E-2CE446A8D069
Gue menyebutnya rumah liliput. Meski terlihat mungil, tapi dalamnya ada tempat lesehan dan perapian loh. Lihat cerobong asapnya, bentuk batunya jaman dulu banget kan. Gemessss.

Dan tahun ini, kami sudah mantap akan menyewakan summer house ini ke publik. Karena tidak setiap saat juga kami berkunjung ke sini. Sayang juga dibiarkan kosong. Kami sudah pasang infonya di blocket.se. Nothing to loselah.

Dan sejauh ini sudah ada beberapa orang yang ngebooking untuk 5 hari dan dua hari di bulan Agustus. Kebetulan ada pertandingan olahraga sepeda di kota terdekat. Semoga rejeki ya. Kalau tidak ada halangan, lusa rencananya kami akan ke summer house lagi. Gue sukaaaaaaa!

B711FE69-2C65-4C30-B267-96E6A60D9D13.jpg

1C8350E3-473A-4B23-8714-E337B9D799FF.jpg

Berkunjung ke summer house menjadi alternatif menghabiskan liburan musim panas di Swedia. Selain itu, rumah musim panas ibarat tempat meditasi bagi para pemilik dan pengunjungnya, karena sebagian besar dibangun di area yang privat. Dekat dengan alam, tidak terlalu ramai (menjurus sepi), bahkan menyendiri di tengah hutan. Sebelumnya, gue sudah pernah menulis uraian lengkap tentang summer house di Swedia berikut foto fotonya yang lucu. Bisa baca di sini

Pengalaman Pertama Memasuki Sinagoga Yahudi

Josefov (Jewish Quarter) adalah tempat yang terbilang menarik untuk dikunjungi jika berlibur ke kota Praha, republik Ceko. Berkunjung ke Josefov ibarat mengunjungi dua negara, Israel dan Czech Republik. Kalimat sederhananya, Josefov adalah perkampungan kaum yahudi yang sudah ada di kota Praha sejak abad ke 13.

Terletak diantara kawasan old town square dan sungai Vltava, Josefov meliputi beberapa tempat yang hingga saat ini justru menjadi objek wisata menarik di kota Praha yang lumayan ramai didatangi turis. Sebut saja seperti Maisel Synagogue, Pinkas Synagogue, Old Jewish Cemetry, Klausen Synagogue, Ceremonial Hall, Spanish Synagogue hingga old-New Synagoge. Iya, di Josefov terdapat beberapa sinagoga (synagogue), bangunan yang menjadi pusat keagamaan bagi umat yahudi (seperti rumah ibadahlah).

2507781F-7357-4159-9948-0FD2472BE5B4.jpg

Jika ingin melihat semua objek wisata di atas, boleh membeli tiket dalam satu paket. Satu tiket bisa digunakan untuk semua tempat dan sudah termasuk ke R. Guttmann Gallery.

Tapi jika tak berniat melihat semuanya, bisa membeli tiket sesuai tempat yang ingin dimasuki. Kami (gue dan suami) membeli tiket terusan di samping bangunan old-New Synagogue. Kemungkinan semua tiket bisa dibeli di masing masing pintu masuk objek wisata. Tapi gue kurang tau pasti juga.

Tempat pertama yang kami masuki adalah Old-New Synagogue. Selesai dibangun pada tahun 1270, Old-New Synagogue merupakan bangunan bergaya gothic pertama di Praha dan menjadi sinagoga tertua di Eropa yang masih aktif hingga sekarang.

IMG_9854.jpg
Bangunan Old-New Synagogue

Ini adalah pengalaman pertama gue memasuki sinagoga. Begitu masuk, satu buah kippa (topi kecil yang biasa dipakai kaum pria yahudi ketika beribadah) diberikan petugas kepada suami secara cuma cuma. Lucu banget melihat suami memakai kippa. Kurang coock aja di kepala dia.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian gue ketika berada di dalam sinagoga. Gue baru tau kalau kaum yahudi beribadah tidak harus menghadap pemimpin ibadah (Rabi). Bangku bangkunya pun tidak disusun searah menghadap altar, tapi saling berlawanan arah. Dan bagian tengah sinagoga diberi pagar besi berukuran tinggi. Pagar mana dibuat untuk memagari satu benda berbentuk kotak besar yang berisi gulungan kain. Gulungan kain mana merupakan Tanakh atau Torah Scroll (Taurat), salah satu kitab dari tiga kitab yang dimiliki umat Yahudi. 

47EBF761-5C41-4857-B55D-BDAB210BA326
Tanakh yang disimpan di dalam kotak kaca

Berhubung penasaran, akhirnya gue bertanya ke tour guide, kenapa bangku bangku di dalam sinagoga tidak menghadap searah ke altar. Ternyata barulah gue tau, “mendengar” sudah cukup bagi jemaat tanpa harus melihat rabi ketika berbicara. Jadi tidak ada keharusan melihat rabi (semoga gue tidak salah menyimpulkan ya). Bisa melihat contoh dua gambar di bawah ini.

IMG_9864
Tulisan dengan bahasa Ibrani. Sekilas mirip tulisan arab ya

Dari Old-New Synagogue, kami berpindah ke Pinkas Synagogue, sinagoga tertua kedua di Praha. Saat ini hak pengelolaan Pinkas Synagogue dipercaya kepada Jewish Museum di Praha. Sehingga tak ayal, ketika memasuki sinagoga ini, gue lumayan terpana melihat dinding sinagoga yang mostly bertuliskan huruf huruf kecil. Jika dilihat sekilas nyaris tak terbaca oleh mata gue (yang sudah minus).

EA75DFCF-814F-44CE-A8F8-FA64C89552D9.jpg
Salah satu dinding yang dipenuhi tulisan nama nama korban Holocaust

Ibarat wallpaper bermotif huruf,  ternyata goresan huruf huruf itu adalah nama nama dari korban Holocaust. Tepatnya korban Holocaust khusus di republik Ceko. Ya Tuhan, untuk wilayah republik Ceko saja korbannya mencapai 78.000 ribu orang. Sambil melihat huruf huruf di dinding, nalar gue masih sulit membayangkan kalau itu semua adalah nama nama manusia. Bayangkan, nama nama itu ditulis dengan huruf yang sangat kecil. Dengan ukuran sekecil itupun, nyaris memenuhi dinding sinagoga.

Meski hanya goresan nama, tapi mampu bercerita banyak. Huruf nama yang seolah mewakili derita puluhan ribu jiwa yang mati sia sia. Menggiring pilu. Merinding, sedih, dan langsung terbayang entah apa apalah di benak gue. Dari yang gue baca, tak sedikit para korban yang meninggal masih berumur belasan tahun.

ADF1A2A9-8B09-494C-BB7A-641363C87EBD.jpg
Di sini, uraian demi uraian sejarah Holocaust bisa dibaca

Di luar gedung, kami juga melihat beberapa display gambar berikut penjelasan tentang para korban Holocaust. Dan gue membaca sebuah kalimat. Kalimat pendek tapi bermakna dalam. Menyentuh gue banget, “Journeys with No Return”. Ihhh…….sedih ga sih. Ketika kita diiming imingi masa depan dan tempat yang baru, kenyataannya justru menjadi tempat kita meregang nyawa. Merinding.

5AAD39A2-C464-4E23-ADE8-4ED0B2B10FA9.jpg
Journeys with No Return. Pilu.

Selanjutnya kami memasuki Old Jewish Cemetry, sebuah area pemakaman kaum yahudi yang sudah ada sejak abad ke 15 dan menjadi salah satu pemakaman yahudi terluas di eropa. Dari sekian banyak objek wisata di kawasan Josefov, bisa dibilang Old Jewish Cemetry inilah yang paling banyak dikunjungi turis.

IMG_9834 (1).jpg
Pemakaman kaum Yahudi di jaman dulu

Kalau tidak salah menyimpulkan, akibat kekurangan lahan, bangsa yahudi akhirnya menggunakan liang lahat yang sama untuk jenazah yang berbeda. Dan semisal rangka mayat orang terdahulu sudah hancur tak bersisa dan menjadi debu, mereka tidak akan membuang batu nisannya. Konon bangsa yahudi sangat menghormati leluhur mereka, sehingga membongkar batu nisan seperti itu dianggap tabu.

IMG_9840.jpg

IMG_9838.jpg

Untuk mengakali lahan yang terbatas tadi, maka satu liang lahat bisa digunakan untuk mengubur lebih dari satu orang dari generasi yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa Old Jewish Cemetry dikenal sebagai pemakaman yang memiliki level. Artinya satu liang lahat bisa memiliki lebih dari satu batu nisan. Nisan pertama atau yang paling tua diposisikan lebih tinggi. Menyusul nisan nisan selanjutnya dengan posisi lebih rendah (semoga gue tidak salah menjelaskan). Old Jewish Cemetry menjadi heritage yang dilindungi di kota Praha.

IMG_9835.jpg

052F9030-257E-4C45-9E92-9C4B5F8EDA22.jpg
Salah satu contoh liang lahat yang memiliki 3 level. Satu liang lahat terdapat 3 batu nisan.

Jika keluar dari area Old Jewish Cemetry, jangan lupa memasuki Ceremonian Hall. Lokasinya masih satu area dengan Old Jewish Cemetry. Dari luar sih terlihat seperti kastil. Bagian dalamnya sudah terlihat tua dan berisi benda benda peninggalan yahudi.

IMG_9868.jpg

IMG_9873
Ceremonian Hall

Sama halnya dengan Ceremonian Hall, ada juga Klausen Synagogue. Bangunan ini pun mostly berisi benda benda yang berhubungan dengan kaum yahudi. Kami juga sempat masuk ke R guttmann Gallery. Berhubung di dalam galeri kurang interest, jadi kami tidak lama di dalam.

IMG_9855.jpg
Klausen Synagogue. Lihat kotak kaca itu, dalamnya terdapat kitab Tanakh dan letaknya selalu di bagian tengah ruangan Sinagoga. 

Nah, yang terakhir ke Spanish Synagogue. Duh……..kalau ini beneran bikin takjub deh. Cakep banget. Sekilas mirip gereja ortodoks. Dindingnya full dengan lukisan art berwarna dominan coklat dan kuning gold. Artistik sekali. Sekilas mirip motif batik juga.

IMG_9830

IMG_9826 (1)

IMG_9820

Kunjungan kami ke Josefov bisa dibilang menambah pengalaman baru tentang kultur budaya umat yahudi yang sebelumnya gue tidak begitu paham. Menariklah untuk dikunjungi. Selalu ada cara untuk lebih mengenal sejarah bangsa lain.

10 Hal Tentang Praha

Sebelumnya gue sudah menulis tentang keindahan kota Praha yang belum mampu mencuri hati gue.  Akan tetapi bukan berarti selama liburan itu gue tidak menikmati liburan sama sekali. Dan sesuai janji, kali ini gue akan menulis tentang apa yang bisa gue ceritakan terkait pengalaman berlibur di kota bertabur kristal ini.

1. Polisi di kota Praha itu nyaris ada di mana mana

Berhubung tinggal di desa kecil, yang kalau berkendara ke kota pun cuma sebatas kota kecil juga, rasa rasanya jarang banget gue melihat polisi. Bahkan selevel kota Stockholm yang notabene sebuah ibukota negara pun jarang. Paling sebatas suara sirene mobil polisi. Sampai sempat mikir, Swedia punya polisi ga sih? Dan ternyata punya. Hahaha.

28838503708_42353424e0_o

Nah, pas di Praha malah sebaliknya. Gampang banget melihat sosok polisi. Dimana mana nyaris ada. Terutama di kawasan yang ramai pelancong. Bahkan mereka melakukan security check di beberapa objek wisata. Para turis wajib membuka tas yang berimbas antrian menjadi panjang banget. Alasan jelasnya gue kurang paham mengapa sampai sedemikian. Jawaban paling mudah ya sudah pasti alasan keamanan. Mengingat beberapa serangan teror di beberapa kota eropa belakangan ini. Dan jumlah turis di Praha itu kan aji gile banyaknya. Logikanya sih rentan sasaran teror. Mungkin itu yang menjadi alasan mereka (menurut pemikiran gue sih). Tapi lebih baik mencegah kan daripada kejadian.

2. Pengemis bersujut

Pengemis tidak hanya ada di negara berkembang, di negara negara barat juga banyak. Termasuk di kota Praha. Tapi gaya meminta minta para pengemis di kota ini lumayan beda menurut gue. Setidaknya baru kali ini gue lihat. Dan itu ada di kota Praha.

Mereka seperti bersujut, tangannya diposisikan ke depan. Lihat gambar di bawah aja ya. Bahkan ada loh yang bersujut sambil menundukkan wajah nyaris ke atas tanah. Gue pertama melihat kok ya miris. Ga tega banget. Pas gue mengulurkan tangan sekedar memberi, terlihat sepasang muda mudi seperti terheran dengan apa yang gue lakukan. Apa salah ya menolong orang lain?

IMG_9503.jpg
Setidaknya masih ada manusia lain yang perduli

Dan ternyata setelah beberapa hari di Praha, pemandangan seperti ini menjadi biasa. Bukan cuma satu, tapi banyak pengemis yang gaya minta mintanya seperti itu. Sepertinya mereka sudah akur dan idem memutuskan gaya meminta yang sedemikian. Tapi terlepas dari apapun masalah dan alasan mereka melakukannya, gue percaya banget kalau mereka juga tidak mau hidup di posisi demikian.

3. Toko permen unik

Jika biasanya permen dijual di dalam kotak tertutup, maka toko permen di Praha lumayan beda. Permennya disusun di atas drum kayu layaknya cemilan. Bentuknya pun lucu lucu. Strawberry, macarons, pizza, lemon, cherry, telor mata sapi, buah pisang dan masih banyak lagi. Toko permen bernama “Captai Candy” ini lumayan cepat mencuri perhatian turis karena konsep jualnya yang berbeda.

Cuma ya itu, harga permennya terbilang mahal. Sampai suami gue ketawa sewaktu selesai membayar di kasir. Cuma duapuluh biji, harga nyaris duaratus ribu rupiah. Sehingga tak ayal, ramainya turis di dalam toko cuma mau motoin doang.

74FFE21A-FC43-4BBE-8937-1BA4E6FDC502.jpg

IMG_9903.jpg

IMG_8253

Ya dimaklumilah, mengingat bentuk permennya artistik banget semua. Kan butuh akal dan tenaga membuatnya. Dalam tokonya juga asik. Berasa di dalam kapal bajak laut. Banyak drum kayunya. Makanya diberi nama captain candy kali ya. Toko permen ini mudah dijumpai di kawasan old town square kota Praha.

4. Trdelnik

Yup, cemilan pastry ini menjadi pemandangan yang sohor banget di Praha. Gampang dicari karena dimana mana nyaris ada yang menjual. Orang orang yang berjalan sambil memegang dan mencicipi trdelnik menjadi pemandangan biasa di kota Praha. Bercitra rasa manis, trdelnik terbuat dari adonan pastry, digulung di kayu, dibakar di atas arang dan ditaburi gula serta walnut.

F028014C-44F4-4D7E-A321-E8F8E05AE2C6.jpg

Kalau mau diberi varian isi juga boleh seperti caramel apel dan cinnamon, nutela, hingga ice cream. Gue sih lebih suka ice creamnya karena rasanya tidak terlalu manis. Untuk rasa dari kulit trdelniknya sendiri, menurut gue biasa aja. Beda dengan suami, dia doyan banget trdelnik ini. Setiap hari dibeli.

5. Makan daging bebek dan Knödel (Knedliky)

Gue lumayan suka makanan di Praha. Apalagi menu di restoran tradisionalnya. Gampang banget nemu daging bebek. Dan mostly disajikan dengan knödel, sejenis dumpling dari bahan roti maupun kentang atau daging dagingan. Bentuknya seperti bakso yang dipotong potong.

41968688784_220603d039_o.jpg
Daging bebek dengan knödel

6. Bir Tradisional

Iyes, Praha punya banyak bir tradisional. Rasanya enak segar. Dan alkoholnya tidak terlalu kuat. Ke Praha rasanya wajib mencoba birnya (bagi yang mau minum ya). Sehingga tak heran, jika salah satu souvenir di kota ini berbentuk gelas berisi bir. Bahkan tempat wisata mengunjungi museum bir, pembuatan permentasi bir hingga berkesempatan merasakan berbagai macam jenis bir menjadi penawaran menarik di banyak brosur wisata di kota Praha.

BEB259EE-69E3-48B9-94E1-77CA29A1B0B2.jpg

IMG_2574.jpg
Souvenir gelas berisi bir

7. Surganya kristal

Czech Republik dikenal memiliki produksi kristal rumah tangga dari wilayah Bohemia. Dan produk kristal dari daerah Bohemia ini bertabur di toko kristal kota Praha. Bikin mata kelilipan sudah pasti. Syantik syantik tapi bukan syoksyantiiik. Bahkan barang barang souvenir pada umumnya terkesan tenggelam oleh kristal yang mendominasi. Harganya pun bervariasi. Tetapi terbilang relatif mahal. Meskipun begitu masih ada yang terjangkaulah. Dan kita diberi sertipikat juga. Kalau mau yang kelas premium juga ada. Harganya membuat lidah pengen jilatin puncak monas (hubungannya???????). Jiwa langsung terhempas passssssssss…….! Layaknya batu mulia, harga menyesuaikan design, tingkat kesulitan pengerjaan dan kualitas batunya.

41812649335_2ee0eaefae_o.jpg

1FBFAE88-F5B0-4C1B-8354-CE58FB90EA6D.jpeg
Salah satu contoh produk kristal dari daerah Bohemia

Dan satu lagi, pencita asesoris kristal berlabel swarovski, bisa jejerit di sini. Buanyak banget dan murahhhhhhhh! Kalau nyampe Indonesia jelas harganya sudah meroket jauh. Meski asalnya dari Austria, tapi swarovski bisa dibilang membanjiri toko toko kristal di kota Praha. Mungkin tuntutan pangsa pasar yang membuat demikian. Gue bukan pencinta asesoris kristal. Tapi pas melihat warna warni kristal di kota Praha lumayan mampu bikin panik. Dan akhirnya gue beli untuk oleh oleh keluarga di tanah air. Lumayanlah harga terjangkau ya kan.

IMG_2570

8. Mobil Antik dan Kereta kuda

Praha sepertinya sangat jeli mengumpulkan pundi pundi dari para pelancong. Sebut saja mobil mobil antik yang hilir mudik membawa turis keliling kota. Dan konon mobil mobil ini bukan mobil antik beneran loh. Melainkan mobil jaman now yang sengaja didesign antik.

Sedangkan untuk kereta kudanya juga tak kalah antik. Mirip kereta kencana. Kereta princes! Hahaha. Gue lumayan tertarik loh naik kereta kuda. Apalagi keliling kota dengan kereta kuda jauh lebih nikmat dibanding bus atau mobil. Karena kereta kuda jalannya lambat. Jadi beneran bisa menikmati pemandangan yang dilewati. Naik kereta kencana melewati lorong kecil, gedung tua bergaya jugen style atau art nouveau. Berasa seperti Meghan Markle dan Prince Harry. Cuma beda kolor aja. Hahaha. Intinya asiklah naik kereta kuda ini. Gue suka. Biayanya kurang lebih sekitar 650 ribu rupiah per satu jam.

28838505928_ffa9f098b0_o.jpg

42712291661_df9d04ea1a_o

10. Cafe restoran

Gue sangat menyukai cafe restoran dengan konsep yang unik dan beda. Vintage, kozy dan banyak bunganya sudah menjadi selera gue. Meski bunga bunga di cafenya tidak terlalu banyak, tapi lumayan juga untuk dijadikan tempat nongkrong. Berikut beberapa contoh cafenya. Nama namanya ga ingat.

28813215948_0bb8f2f9f4_o

42637571092_de59e162b0_o
Ini kece restorannya

Selesai mengunjungi St Vitus Cathedral di kastil Praha, kami pulang melewati sebuah jalan kecil yang kiri kanannya terdapat banyak cafe restoran yang lumayan sanggup membuat hati sumringah. Meski tidak sampai terwow juga. Kebetulan pas kami berjalan di sekitar area ini, turis tidak terlalu banyak. Jadi nyaman aja berjalan di sekitar bangunan tuanya.

42633078632_5b7abe71bf_o.jpg

40877327290_b661a95920_o

Dan sambil berjalan, secara tak sengaja kami melihat segerombolan turis berjalan ke arah jalan kecil. Pas kami lewati, ternyata ada sebuah dinding yang penuh dengan coretan warna. Dinding yang dikenal dengan John Lenon Wall. Ya ampunnnnnnn itu yang pada foto foto bunyak banget silih berganti. Sampai badan ketemu badan. Geli sendiri gue melihat. Hahahha. Tapi ironisnya gue ikutan latah. Ikutan foto juga. Dan lucky banget, pas giliran gue, kiri kanan gue kosong. Hahahha. Mungkin pada males kali ya barengan muka gue fotonya.

BF82385E-F07E-4833-93E0-E6C51E015930

Praha, Kenapa Tak Mampu Mencuri Hatiku?

Praha menjadi salah satu kota yang ingin gue kunjungi sewaktu masih tinggal di Indonesia. Terlebih setelah mendengar pengakuan dari beberapa orang yang gue kenal, tulisan tulisan dan berbagai gambar di internet, ditambah lagi cerita suami, yang mostly menyebut Praha adalah kota yang indah. Jadi, tidaklah salah jika akhirnya gue menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap kota yang memiliki predikat sebagai “kota tercantik di dunia” ini.

28762999408_3b8155cb6d_o.jpg

Ironisnya, meski sudah masuk dalam list liburan, keinginan untuk mengunjungi Praha selalu terkendala oleh alasan alasan yang gue sendiri pun ga ngerti. Sebaliknya, destinasi liburan yang justru tidak masuk dalam agenda malah terealisasi.

Sampai akhirnya, setelah gue mengunjungi Tallin Estonia dan Riga Latvia, perlahan lahan keinginan mengunjungi Praha pun semakin kendor. Buat gue, keindahan kota Tallin dan Riga justru lebih memukau dibanding Praha, yang waktu itu masih gue tau dari internet. Well, selera setiap umat memang berbeda. Penglihatan gue kurang normal barangkali?

41736592005_3fcb974aca_o.jpg

Berbeda dengan gue, suami justru lebih menyukai Praha dibanding Tallin dan Riga.  “Kamu belum melihat Praha secara langsung” begitulah dia meyakinkan gue. Sampai akhirnya gue berpikir ada benarnya juga. Mungkin feelnya akan menjadi berbeda jika melihat secara langsung. Demikianlah akhirnya kami memutuskan liburan ke Praha bulan lalu, yang kalau mau jujur ini pun terealisasi karena ada drama dibaliknya (malas ceritalah).

40828128280_240853fc88_o.jpg

Mendekati hari H, gue tetap kurang bersemangat. Bahkan mencari tau tempat apa saja yang akan kami kunjungi di Praha pun gue tidak antusias. Mungkin karena perjalanan ke Praha harus kami tempuh dengan berpesawat. Sepertinya gue sudah stress duluan.

28763433588_59012a206c_o

Singkat cerita, kami sampai di bandara Havel pukul 10 pagi setempat. Entah mengapa, pas menunggu suami ke toilet, secara tak sengaja gue melihat info tentang mata uang czech republik yang letaknya tak jauh dari money changer.

Ternyata barulah gue tau kalau czech republik memiliki mata uang czech koruna. Bukan euro. Sementara sebelum berangkat ke Praha, kami dengan percaya diri menukar sebagian uang ke mata uang Euro. Hahaha. Geblek!

41737015105_732ce0be74_o.jpg

41737014405_85e3e4dd7f_o.jpg

Suami gue pun ga ngeh. Terakhir kali ke Praha puluhan tahun silam dan dia pikir Czech republik sudah bergabung dengan mata uang Euro. Sungguh terlalu kan (kata bang Roma). Tapi untungnya, transaksi dengan mata uang euro sangat diterima di kota Praha. Jadi ya sudahlah.

Dan seperti yang sudah sudah, kami adalah pasangan pemalas. Awalnya sok berjuang pengen naik bus dari bandara ke hotel. Begitu melihat counter taxi………………ehh malah membelok. Setelah kami hitung, relatif tidak terlalu mahal mengingat jarak antara bandara ke hotel lumayan jauh.

34B64AA7-C885-437A-B348-F6A127D5C27C.jpg

Nah, pas nanya harga, si pegawai menawarkan promo. Jika kami membeli tiket taxi dari bandara ke hotel dan dari hotel ke bandara, maka kami akan mendapat diskon. Kami pun langsung menerima tawaran itu karena memang berencana akan naik taxi juga setelah check out dari hotel.

42636564691_0698ea3070_o.jpg

Sewaktu melakukan penawaran harga, si pegawai counter menyebut dalam mata uang euro. Mungkin agar kami lebih mudah menghitung kali ya. Tapi pas didebet, angka yang muncul dalam bentuk czech kurona. Dan itu nolnya langsung banyak banget kan. Trus suami nanya dong. Si pegawai langsung menjawab kalau nilainya setara dengan nilai euro yang dia sebut sebelumnya. Entah mengapa gue uda mikir jelek. Cuma karena antrian di belakang kami lumayan panjang, dan sopir taxi pun sudah menunggu, akhirnya kami memilih buru buru naik taxi. Pas di dalam taxi, barulah gue hitung. Dan you know what? Ternyata sama aja mak. Kaga ada diskonnya. Hahaha.

41963640104_ff3e70f34e_o.jpg

28762994888_62f89751fc_o.jpg

Duhhh beneran deh boong banget. Biasanya gue paling ga suka dibohongi. Cuma gue mikir gini, diskon kaga diskon memang kami tetap akan naik taxi. Jadi gue ikhlasin. Anggap saja membayar taxi tanpa embel embel diskon. Daripada memble kan. Untung sopir taxinya baik. Selama perjalanan selalu memberi tahu nama nama tempat yang kami lewati. Jadi lumayan membuat mood kembali waras.

41781904415_6dae8afbaf_o

28808417338_20582d5c36_o

Hotel tempat kami menginap letaknya pas di kawasan old town square kota Praha. Jadi kemana kemana lumayan dekat. Berhubung kami tiba masih pagi, kami belum bisa check in. Kami memutuskan mengitari kawasan old town square dengan berjalan kaki. Dan liburan pun dimulai. Welcome to Prague!

IMG_9550.jpg

Dan benar saja, hari pertama di Praha tak mampu membuat gue jatuh cinta. Gue berusaha menikmati suasana kota ini tapi gagal terus. Salah jika gue bilang kalau Praha bukan kota yang cantik. Kota ini memang cantik!

Tapi entah mengapa kurang menarik di mata gue. Kaga ngerti juga. Setidaknya itu yang gue rasakan. Tidak ada yang luar biasa. Gue merasa sama aja dengan kota eropa kebanyakan. Sementara pujian terhadap kota ini luar biasa banget. Dan itu bukan omong kosong belaka. Praha selalu dibanjiri turis. Sampai menyeberang jalan pun susah. Layaknya menonton konser. Dan sukses membuat gue stress di hari pertama itu. Mana Praha waktu itu panasnya minta ampun. Apalagi di area Charles Bridge. Duh, beneran tak bisa menikmati. Suami gue tiba tiba minta balik hotel karena ga tahan dengan panasnya. Mungkin karena terlalu banyak orang juga kali ya. Alhasil kami pun memilih istirahat di hotel.

Tiba malamnya, kami pikir tidak terlalu ramai lagi. Ternyata sama aja. Tak ada perbedaan antara siang dan malam. Praha seolah tak pernah tidur. Sampai pukul 1/2 duabelas malam masih rameeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee banget manusianya. Sangatlah tepat kami memilih menginap di kawasan old town square. Kami bisa nongkrong di cafe dekat hotel tanpa takut sudah larut malam.

3D190D69-D1AB-4D3F-BE4D-2720B089BF70.jpg

Hari kedua, gue mulai bisa menikmati liburan kami. Meskipun gue tetap belum  “terwow”, tapi gue mencoba menikmati setiap lorong jalan yang kami lewati. Menikmati landscape kota Praha yang bisa dilihat dari berbagai penjuru. Dari tower charles bridge, tower gereja, tower kastil, hingga kawasan hill seperti metronom.

F2556E92-88B6-4CD0-ACEC-5C474920B31A.jpg

Gue malah lebih tertarik dengan arsitek bangunan St.Vitus Cathedral yang berdiri pas di tengah kastil Praha. Sampai mikir, kok bisa ya di kehidupan yang nyaris seribu tahun lalu, orang orang bisa mendirikan bangunan sebesar dan sedetail ini. Jaman belum tersentuh teknologi. Jaman serba manual. Gila banget.

40878005360_7e6f14883f_o

Bagian dalam cathedral bisa dilihat secara gratis. Tapi ya itu, sebatas pintu masuknya saja. Tidak boleh melewati tali pembatas. Jika ingin melihat keseluruhan bagian dalam cathedral, harus membeli tiket yang harganya sudah sepaket dengan tiket masuk ke dalam kastil. Kami tidak melihat semua isi kastil. Kurang menarik. Lebih tertarik melihat cathedralnya. Kalau bukan karena cathedral ini, kami uda malas harus ngantri. Parah banget antriannya. Sampai sampai kami membatalkan masuk dan memutuskan kembali esok harinya. Maksudnya agak pagianlah. Ternyata sama saja. Rameeeeeeee!

42637820212_af652aaf28_o

Suasana kota Praha juga dapat dinikmati dengan boat yang berseliweran di sepanjang sungai Vltava. Cuma hati hati dengan agen penjual tiket yang berada di sekitar Charles Bridge. Kami adalah salah satu korban. Si wanita penjual tiket menyebut, kalau kapal akan berangkat pukul 6 sore. Dan kami diberitahu agar menunggu kapal di salah satu dermaga. Dan itu lumayan jauh dari tempat kami membeli tiket.

42636213401_2246cc455f_o.jpg

Mendekati pukul 6 sore, gue melihat seorang pria dan wanita mendekati petugas boat di dermaga. Dan benar saja. Ternyata bukan hanya kami yang menjadi korban. Pasangan ini juga. Menurut keterangan petugas, ternyata sudah tak ada lagi kapal yang berangkat pukul 6 sore. Dan ketika ditanya masalah tiket yang sudah kami beli, dengan entengnya si petugas bilang kalau mereka ga bisa berbuat apa apa. Si pasangan tadi cuma terlihat pasrah gitu. Sama kayak suami gue juga, lebih memilih diam dan menerima takdir. Wah, kalau gue beda mak. Ga terima gue. Kalau si petugas menjelaskan baik baik, gue masih bisa menahan sikap ya. Lah ini terkesan buang badan. Mana ngomongnya ketus gitu.

E8E5FD3C-9598-47A2-A0EB-8C5192066864

4BF58E0F-027A-45D6-9659-A9166540F15E.jpg

Dan dalam hitungan detik, gue pun berubah menjadi tiger, lion, macan, crocodile, serigala, polar bear, atau apalah itu. Dengan suara kenceng, gue pertanyakan tiket yang kami beli, gue bilang kalau mereka menipu, membodohi, tak bertanggung jawab, bla bla….!

Dan eng ing eng…..!!!! si petugas kaget kali ya dengar suara gue. Dan keluarlah pegawai lainnya dari boat. Singkat cerita, kami diover ke dermaga lain. Kami naik boat yang berbeda.

Nah kan! Kadang kadang ga semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan lemah lembut. Lupakan itu kalau kalian ketemu jenis manusia kadal. Karena manusia berjenis seperti ini masih banyak berkeliaran di muka bumi. Hantam saja langsung. Hahaha.

Sepertinya mereka gambling. Sukur sukur kalau kami ga bawel. Okelah, mungkin akan berhasil jika korbannya setype suami gue yang malas ribut. Tapi tidak dengan gue. Sejujurnya yang paling bikin gue kesel adalah cara menjawab si petugas yang terkesan ga mau tau. Responsibilty kurang. Gue adalah pribadi sangat tidak suka dibohongi. Merasa dibodohi. Dan kalau gue hanya diam, makin berasa bodohlah gue.

05845E9B-875C-44DF-9019-A8D36C471ADB.jpg

Biarlah foto foto di tulisan ini yang mewakili keindahan kota Praha. Mungkin bagi sebagian besar yang sudah pernah ke kota ini akan berpendapat lain. Tapi setiap orang juga punya selera yang berbeda. Next akan gue tulis sisi lain tentang kota Praha. See ya!

*Semua foto foto di tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com

Trevlig Midsommar

Setiap tahun Swedia selalu merayakan tradisi besar yang dikenal dengan Midsommar Eve. Merayakan hari “yang paling terang atau siang yang paling panjang” yang hanya terjadi dalam satu hari sepanjang satu tahun berlangsung. Meskipun secara kasat mata, perbedaan hari yang paling terang ini tidak terlalu berasa di rentang waktu menjelang atau sesudah perayaan midsommar eve.

IMG_8139
Foto perayaan midsommar tahun 2017 lalu

Seperti biasa setiap tahun, gue dan suami mempersiapkan menu midsommar di rumah. Tahun ini gue bikin coktail andalan yang resepnya gue dapat dari mendiang kakak ipar. Sudah puluhan tahun memakai resep ini. Aroma dan rasanya selalu mengingatkan gue akan perayaan natal bersama keluarga. Bahannya terdiri dari buah nenas, pepaya setengah matang, markisa buah (passion fruit), gula pasir, perasan lemon atau jeruk nipis, dan sirup markisa (bisa diganti softdrink rasa orange). Dibiarkan overnight di kulkas dan diminum pakai es batu. Boleh dicoba. Segar dan aromanya khas banget. Perpaduan semua bahan sangat matching. Gue ga begitu suka buah pepaya, tapi khsusus di coktail ini, pepaya menjadi markotop rasa dan aromanya. Sedangkan untuk menu makanan, gue serahkan ke suami. Gue lagi malas ngerjai yang berat berat di dapur.

B1F30EAB-D88B-44F5-8D5E-10F6E781B640

C6D6A26E-87A1-40A3-8192-03F2D0C37966

Jumat kemaren, kami berencana keliling berkendara melihat perayaan midsommar di beberapa tempat di sekitaran Dalarna. Tapi sayang, cuaca belakangan ini selalu dingin dan berangin. Serasa musim gugur. Dan ini berdampak terhadap perayan midsommar tahun ini. Jalanan tidak terlalu ramai. Biasanya terlihat meja meja panjang di halaman rumah warga yang akan mengadakan pesta keluarga. Gue cuma melihat beberapa orang yang memetik bunga liar. Sepertinya mereka akan membuat hiasan bunga. Oh iya, gue juga bikin loh. Gue paling suka dengan bunga liar. Lumayan sering gue jadikan hiasan di meja teras. Seperti gambar di bawah ini. Gimana, cantik ga?

image_6483441 (6)

34A1B017-FC2E-47E9-8699-D752106F7464.jpeg

Sebenarnya tujuan utama kami adalah ke Tällberg. Selain landscape alamnya yang kece, kami berencana makan siang di salah satu hotel tua yang ada di resort ini. Kebetulan dari beberapa kunjungan ke Tällberg, menu di restoran hotel Tällbergsgården belum pernah kami coba. Untungnya ada satu meja yang bersisa. Biasanya harus booking dulu.

4F605D37-BCEA-4A01-A0C0-41A1158BBE9A.jpeg

BF16C46D-1DD2-4046-B30B-D86B8A9A025C.jpeg
Beberapa bangunan cafe dan cottage di Tällberg

Begitu masuk ke restoran hotel, gue sudah menebak interiornya bakal kece. Karena rata rata hotel di Tällberg emang selalu bikin mupeng suasananya. Ga pake lamalah gue langsung jatuh hati. Sukaaaak!

image_6483441 (1)

796B4FF3-C619-4718-904A-0CD5A6B6AF3E (1)
View dari jendela restoran

View dari jendela restoran juga kece. Langsung menghadap ke danau Siljan (danau terbesar di Dalarna). Dan makanannya itu loh, enak banget mak! Sejenis ikan sill (herring) yang tadinya kurang gue suka, ehhhhh…………..malah bisa nambah! Mereka bisa mengolahnya menjadi sangat sesuatu. Pakai rempah apa gue kurang tau. Dan sepertinya dikasih madu juga. Jadi ada manis manisnya gitu.

Trus ya, ruangan untuk ngopi dibikin terpisah dari meja utama. Jadi kita ga ngopi atau ngedesserts di meja yang sama. Udah gitu banyak kamar kamarnya. Asik banget suasananya. Shabby vintage. Rasanya pengen gue fotoin semua sangkin suka. Wallpaper setiap kamar kamarnya pun beda beda. Demikian juga kursi sofanya. Beneran deh bikin betah.

4E254D49-AB25-42C0-BAF2-68CFAAFF6028.jpg

image_6483441 (7)
Ruangan tempat ngopi. Cakep kan!

Di luar hotel pun begitu. Bangku kayu berwarna putih berjejer rapi. Teras hotelnya tidak begitu lebar, tapi jika cuaca bagus, duduk sambil menatap ke danau dijamin mantap jiwa. Hahaha.

image_6483441 (4)

image_6483441
Teras hotel dengan view danau Siljan

Sehabis makan, kami mengitari Tällberg sambil menunggu acara midsommar dimulai. Tapi berhubung dingin banget dan angin semakin kencang, belum lagi sesekali turun hujan, mood pun menjadi memble. Mana acaranya lama banget dimulai. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sampai rumah kami minum cocktail buatan gue. Segarrrr! Sedangkan menu midsommar yang sudah dibeli suami, kami putuskan untuk menyantapnya hari ini. Karena kami sudah kekenyangan kemaren.

612274F2-46F1-4C65-B095-46098E25EFD7
Menu simple di rumah

Jika kalian belum sempat membaca tulisan lengkap gue tentang Tällberg, bisa baca di sini.

Trevlig Midsommar!

Cerita Random

Meski tak merayakan lebaran, pastinya gue sering ikutan heboh di dapur masak lontong dan rendang. Komplit dengan telor balado, tauco pedas, lodeh nangka, bihun goreng. Lontong medan kesukaan pun tersaji. Seharian ini, sudah dua piring gue makan yang berakibat perut gue kepanasan akibat kepedasan. Hahaha. image_6483441 (2)

Sejujurnya gue kangen nulis nih. Tapi gue lebih fokus ke sekolah dulu dan lebih menikmati musim panas yang tak lama ini. Oh iya, blog gue belakangan ini sering dibaca oleh para reader dari Canada dan USA. Setiap hari pasti ada. Dan persentasenya lumayan tinggi dibanding negara lain.  Padahal dulu ga begitu. Gue senang aja sih.

IMG-0882

IMG-0883

Cuma gue agak worry, kalau yang baca ini justru scammer. Karena belakangan ini, bersamaan juga gue sering dapat telepon dari Kanada, Maroko, Afrika Selatan atau United Kingdom. Gue ga pernah mau jawab sih. Malas aja. Tapi semoga saja, bukan scammer ya yang baca tulisan gue. Kalau ternyata bukan, ya gue senang aja ada orang yang rajin dan tertarik baca blog ini. Tetaplah menjadi pembaca setia blog gue ya. Hihihi.

image_6483441 (5)

Baidewai, selamat merayakan Idul Fitri buat yang merayakan. Maaf lahir batin.

Opera Cake

Pencinta cake coklat, rasa rasanya sangat familiar dengan cake asal Perancis yang sudah mendunia ini. Penampilannya minimalis namun tasty maksimal. Nom nom!

Cerita asal mula opera cake memiliki banyak versi. Konon katanya pertama sekali diperkenalkan oleh Clichy di tahun 1903 di acara “Paris Exposition Culinaire”. Namun kala itu, sepertinya Clichy belum berhasil mendongkrak nama opera cake. Hingga di tahun 1955, sebuah rumah pastry di Paris berlabel “Dalloyau” berhasil mempopulerkan opera cake dan menyedot perhatian para penyuka cake bercitra rasa coklat dan kopi. Lalu mengapa sampai diberi nama Opera Cake? Inipun cerita persisnya tidak ada yang tau.

Ada yang bilang kemungkinan karena lapisan dan glazingnya yang mulus mengkilat, serasa mewakili gedung opera yang elegan. Entahlah.

Opera cake terdiri dari beberapa layers. Mulai dari Jaconde (Almond Sponge Cake disiram coffee syrup), coffee buttercream, ganache, dan chocolate glaze. Perpaduan butiran halus almond yang renyah, coklat, butter cream beraroma kopi, menghasilkan citra rasa yang glamour (lebay ihh). Hahaha.5F4E436D-88CA-49EE-931A-6F7045BD3AC7

Idealnya opera cake dibuat dengan ketebalan yang tidak melebihi empat centimeter. Bisa dimaklumi karena masing masing layernya terdiri dari ganache, coffee buttercream hingga chocolate glaze. Dipastikan sangat sanggup membuat kenyang. Jadi jika ketebalannya melebih ukuran idealnya, dikhawatirkan malah bikin eneg. Meski pada kenyataannya, ada saja opera cake yang memiliki ketebalan melebihi empat centimeter.

Nah, beberapa waktu yang lalu dengan segala keberanian tingkat Monas, akhirnya gue berhasil bikin opera cake sendiri. Meski masih jauh dari kata sempurna, seperti kurang rapi, glazingnya kurang mulus (malah terlihat ada sidik jari gue haha). Tapi untuk rasa, beneran deh, mirip di toko bakery. E4007664-226E-406F-806F-E2AF76AD1DFC

Sekilas terlihat mudah, tapi untuk level gue yang masih amatir, beneran ribet banget bikinnya. Nyiapin Jaconde si almond sponge cakenya aja uda riweh, belum ganache, butter cream, coffee syrup, hingga glazing. Apalagi butter creamnya bukan sekedar dikocok semata, tapi suhu dan konsistensinya harus siperhatikan juga. Sebenarnya sih ga susah, tapi mempersiapkan printilan untuk layersnya itu yang bikin berasa ribet. Lumayan capek juga loh.

Untuk resep, gue nyontek resepnya Bruno Albouze. Chef kesukaan gue. Kalau kalian berniat pengen nyobain resep beliau, bisa klik video di bawah.