Random Cooking

Sejak berhasil membuat croissant beberapa waktu lalu, akhirnya gue jadi ketagihan mencoba panganan yang masih berhubungan dengan adonan pastry. Kebetulan juga, gue lagi pengen makan bolen pisang ala ala Kartika Sari Bandung atau bakpia Medan maupun martabak telor.

Selama ini kalau membuat bolen pisang atau martabak telor, gue cukup membeli bahan kulit siap pakai di supermarket. Tapi percayalah, yang namanya dibikin sendiri jelas beda rasanya. Misalnya untuk pisang bolen, hasilnya jadi lembut banget dan cenderung tidak kering bagian kulitnya. Sedangkan martabak telor juga gitu, ketika menggunakan kulit lumpia, jadi terlalu renyah banget dan begitu dingin mengempes. Sehingga gue putuskan untuk bikin sendiri bahan kulitnya. Dan oimakkk, berat badan gue makin memasuki tahap super. Itu enak banget.

78E645CA-BA42-48A4-BC08-A11A91E0989C

Berikut adalah menu menu yang gue jajal di dapur belakangan ini

Bolen Pisang

Meski belum sesempurna bolen pisang Bandung, tapi beneran mengobati rasa rindu gue akan panganan leker ini. Isinya sengaja gue bikin pisang yang super matang (biar aromanya lebih tajam) dicampur dengan butter cair dan sedikit garam. Baru ditambah ceres. Harumnya beneran deh, sampai ke lantai dua rumah. Gue ga bohong pemirsah!

40013319100_470e8e7846_o (1)

Martabak Telor

Huaaaaa, makan ini kayak kejar kejaran dengan suami. Saingan. Hahaha. Dia sukaaaaaa banget. Sampai gue bikin dua kali. Ternyata bikin kulit martabak telor itu ga susah. Asal adonannya jangan kebanyakan air atau jangan kekurangan air. Resepnya ada gue share di instagram @dapursicongok (ga wajib di follow kok). 

Palingan yang bikin nervesssss pas menggoreng. Kok kayaknya merasa ribet sendiri dan ga bisa sesantai atau secanggih si abang abang martabak. Duh lupakan deh main hempas hempaskan kulit martabak ke udara. Yang ada ketutup ke muka. Hahaha. Gue cuma ratakan di atas meja kerja cukup berhasil kok. Selama adonannya pas, oke oke saja.

Bakpia Medan

Yup, bakpia yang gue suka cuma bakpia Medan. Bakpia pathok atau apalagilah yang lainnya gue ga begitu tertarik. Menurut gue beda rasanya. Ini masalah selera lagi sih. Aslinya bakpia Medan layernya lebih kelihatan. Yang gue bikin ini kurang maksimal jika dilihat dari penampilan luar. Tapi kalau rasa sudah mendekati sasaran. Isinya kacang ijo. Next mau bikin isi kacang hitam. Nyam nyam!

26952626547_51ecc8507d_o

Gulai Kale

Daun kale bisa dibilang menjadi pengganti daun singkongnya anak rantau Indonesia di luar negeri khususnya eropa. Daunnya yang tidak selembut daun bayam atau kangkung, membuat daun kale lumayan cocok dimasak layaknya memasak daun singkong. Gue kemaren memasak kale dengan cara digulai. Pakai ikan teri goreng dan udang kecepe. Oimak harum banget.

Kalau di Swedia, daun kale ini sering dijadikan sop dan di saat perayaan natal menjadi salah satu menu tradisional. Gue cuma tertarik memasak daun kale dengan versi seperti ini. Atau ditumbuk halus, dimasak pakai santan. Seperti memasak daun ubi tumbuk versi daerah sumatra utara.

IMG_5201.jpg

Toast Skagen

Nah biar adil, yang ini menu ala ala bule. Toast Skagen ini lumayan sering dijadikan sebagai menu pembuka di resto fine dining di Swedia. Rasanya enak. Renyah di bagian rotinya dan leker di bagian toppingnya. Mayones, udang, kaviar, dill, atau ikan menjadi campuran utamanya. Mau ditambah varian lain sih oke oke saja. Kalau di Swedia, campuran mayones ini banyak dijual di supermarket. Tinggal beli aja.

Nikmati dunia dari dapur kita sendiri! 

40922070725_f3fbbf5264_o

Ketika Swedia Menjadi Lautan Api

Setiap tahun di akhir bulan April tepatnya setiap tanggal 30 April, sebagian besar wilayah di Swedia menjalankan tradisi Valborg, sebuah tradisi untuk menyambut musim semi. Tradisi yang mewakili luapan kegembiraan warga Swedia setelah berbulan bulan mengalami musim dingin yang lumayan berat. Kurang lebih 6 bulan!

Sehingga tak ayal, rasa senang bangsa ini diluapkan dalam bentuk perayaan besar. Dibanding pergantian musim panas dan musim gugur, pergantian musim dingin ke musim semi memang jelas berbeda. Lebih excited.

Sebuah perubahan musim yang sangat berasa perbedaannya. Dari hamparan salju yang memutih tebal, hari hari dengan malam yang sangat panjang, berubah menjadi lebih berwarna oleh rumput dan bunga bunga liar, daun daun yang mulai bermunculan, serta perubahan siang yang semakin lama tentulah sangat masuk akal untuk disambut dengan sukaria.

Beberapa negara lain konon juga menjalankan tradisi menyalakan api unggun, tapi makna dan tujuannya berbeda beda (wikipedia). Kalau di Swedia penyalaan api unggun memang diadakan untuk merayakan datangnya musim semi. 

Tradisi Valborg sangat identik dengan bonfire atau api unggun berukuran besar. Seluruh warga bersuka ria, bernyanyi (menyanyikan lagu Sköna Maj), meminum bir bahkan berpesta semalam suntuk. Apalagi setelah malam perayaan Valborg yaitu tanggal 1 Mei, adalah hari libur nasional yang dikenal dengan Mayday.

Kalau di kota kota besar, pelaksanaan tradisi Valborg lumayan banyak disaksikan oleh warga. Sedangkan di desa kecil seperti tempat tinggal gue tidak begitu ramai. Karena jumlah warganya juga sedikit. Paling bedanya, kalau di tempat gue ada acara makan bersama. Menunya tinggal di bawa masing masing oleh warga dan nantinya saling sharing.

IMG_5145.jpg
Ini aslinya gede dan tinggi banget

Dan puncaknya adalah menyalakan api unggun yang berasal dari tumpukan tumpukan ranting. Tumpukan ranting mana mulai dikumpulkan oleh warga secara bergantian sejak musim gugur tahun lalu. Tumpukan ranting sengaja diletakin tak jauh dari tepi danau. Tujuannya untuk menghindari kemungkinan besar bahaya kebakaran. Sebelum api dinyalakan pun, rumput di sekitar harus disiram agar tetap basah. Selang air tetap disediakan untuk jaga jaga. Jadi tidak asal main bakar.

Berhubung di Swedia sudah mulai memasuki “siang hari yang semakin panjang” maka tak ayal matahari pun terbenam semakin lama. Sekitar pukul 9 malam. Dan siang yang panjang ini akan semakin panjang hingga menjelang perayaan midsummer di bulan Juni yang akan datang.

Sebagian besar wilayah di Swedia akan menyalakan api setelah matahari terbenam. Dan idealnya memang seperti itu. Tujuannya agar cahaya api terlihat lebih bagus.  Jadi kebayang kan jika dilihat dari udara, bisa jadi wajah Swedia seperti lautan cahaya api. Pasti cantik.

Api dilambangkan sebagai cahaya terang yang hangat. Mewakili tipikal musim semi yang semakin terang dan tidak sedingin musim dingin lagi.

Menyaksikan tradisi negara lain itu selalu menarik. Menjadi pengalaman baru tanpa harus melupakan tradisi dari bangsa sendiri. Welcome Spring and Happy Valborg!

F2EE7474-85EC-46A6-8372-158B7359696F.jpg

Berns Asiatiska

Design interior sebuah hotel, restoran, cafe, rumah, menjadi bagian yang selalu mampu menyegarkan pikiran dan penglihatan gue. Bahkan kalau mengunjungi rumah orang lain, gue suka memperhatikan design interiornya.

Apalagi yang namanya table setting udah paling gue sukalah. Di rumah ada tidak ada acara penting, gue suka menata meja. Padahal cuma gelas, pisau, garpu, sendok dan serbet. Mau modern, vintage, antik, blink blik, selama penataannya menarik, pasti gue suka. Dan itu menjadi salah satu objek foto favorite gue.

E8543909-CE8F-4C0A-87F7-D1C5A143D2F0.jpg
Cakep!

Berns Asiatiska ini adalah salah satunya. Arsitek dan interiornya cantik banget (menurut gue). Sentuhan Art Nouveau sangat berasa di dalam. Pertama sekali berkunjung ke sini sekitar tahun 2014 silam. Uniknya, meski interiornya eropa abis, tapi menu yang tersaji justru oriental (chinese food). Tapi terbuka juga sajian dari wilayah asia lainya. Seperti dari India misalnya. Jadi bisa dibilang Berns Asiatiska ini ya restoran asia. Namanya aja uda pakai asiatiska. Sedangkan bistronya menyediakan menu mediterania. Kurang lebih gitulah.

E26DB915-DA9E-4EAC-8CF5-275C598127FB

46E52CB5-9626-48D8-A91F-B4056212B934

Info websitenya menyebut jika Berns Asiatiska sudah ada sejak tahun 1940 dan merupakan restoran chinese pertama di Swedia. Gue dan suami sudah empat kali ke Berns Asiatiska ini. Sepengamatan gue, mereka selalu menyajikan menu lunch dengan sistem all you can eat. Dan selalu ramai. Bahkan suka ngantri juga. Idealnya sih booking meja dolo ya supaya dapat tempat. Harga perorang sekitar 400 sek (kurang lebih 650 ribu rupiah untuk mata Idr saat ini). Sedangkan untuk fine dining dimulai pukul 5 sore. Harganya jauh lebih mahal.

C18E8457-A8E1-4EE4-8876-9BFA8B7EC2B6.jpg

Menurut gue, kualitas rasa dari menu menunya sih enak. Aroma seafoodnya tepat sasaran. Emang bener bener makanan chinese food. Jadi bukan chinese food asal jadi. Dumpling gorengnya enak. Udangnya berasa. Ayam goreng tepungnya apalagi, yuhui. Setidaknya beda banget dengan ayam goreng tepung yang ada di kota terdekat tempat gue tinggal.

Sabtu lalu mereka menyajikan menu daging sapi suwir. Mirip Pulled Beef (Shredded beef). Bedanya suwiran daging di restoran ini sangat halus. Rasanya mirip rendang atau semur manis. Tidak pedas tapi rasanya juara banget. Beneran. Gue ampe nambah. Hahaha.  Salad, buah dan dessertnya juga banyak macam. Segar segar!

504A9371-C2DB-4847-9F7A-65C97696BDB8.jpg

Sedangkan makanan asia lainnya gue kurang tau pastinya darimana. Mungkin dari India atau timur tengah gitu. Baunya tajam banget. Aroma kari. Tapi seperti yang gue bilang, penyajiannya ga pelit. Dagingnya juga terlihat segar dan bulatannya gede gede.

15E463A4-F92F-438A-A0FB-DCAAFACF749C.jpg

Enak sih enak. Cuma dengan harga segitu, menurut gue harusnya bisalah dibuat  lebih enak lagi. Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau pengunjung secara tidak langsung juga membayar tempat. Emang nyaman.

Karena jika di compare dengan harga makanan di restoran Swedia lainnya yang juga mengusung konsep all you can eat, harga tersebut sudah di atas rata rata. Karena makan siang di restoran Swedia mostly sudah mengusung konsep all you can eat. Dan yang pernah gue datangi rata rata memasang harga 100-190 sek. Yang 190 sek uda complit banget dan enak.

E8CA688E-92EB-4613-97A0-DFB8939B1E78.jpg

Berns Asitiska ini sebenarnya bagian dari Berns Hotel. Keseluruhan bangunan Berns sudah didirikan sekitar tahun 1860 an. Terletak di pusat kota Stockholm di area Berzelii Park. Sangat dekat ke taman raja atau Kungsträdgården.

IMG_3893

Untuk hotelnya sendiri, menurut gue sih bagus. Bergaya old style. Menariklah. Tapi tidak terlalu luar biasa. Cuma lokasinya benar benar di kawasan central Stockholm. Dekat ke banyak lokasi turistik Stockholm. Restorannya sih menurut gue yang bikin Berns punya pamor.

AF42C428-992A-4D2F-9F7C-EF1F03A32320

Hidup Untuk Diingat

Gue tau tentang berita kematiannya justru di hari Sabtu tanggal 21 April kemaren. Kami melewati kawasan central Sergels Torg di Stockholm. Buanyaaak banget orang. Ternyata hari itu sedang dilangsungkan sebuah acara tribute untuk mengenang beliau. Duh, gue sedih tau. Meski bukan penggemar berat, tapi lagu dan musiknya lumayan familiar di telinga gue. Jaman gue ngantor di Jakarta, lagu Levels lumayan sering dipasang teman gue ketika kami kerja over time hingga malam. Musik musiknya lumayan menghibur. Sejenak mampu membuat gue lupa kalau sudah menapak uzur.

Beberapa hari ini gue sering mantengin youtube. Yang tadinya hanya sebatas mendengar dan menikmati, jadi semakin pengen tau lebih jauh perjalanan karirnya. Ga tau kenapa, gue melowww aja. MASIH MUDA BANGET! Meninggal ketika kesuksesan masih terbuka luas di depan mata.

Gue termasuk orang yang mudah cengeng, kalau mendengar seseorang meninggal di usia muda. Bayangkan sampai gue berniat menulis di blog ini. Berasa gue uda kenal baik banget dengan beliau. Semakin gue teliti lagi lirik lirik lagunya, semakin sedih. Seolah mewakili perasaan dia sendiri. Huaaaaaa pengen nangis. Kenapa sih gue?

“Feeling my way through the darkness. Guided by a beating heart. I can’t tell where the journey will end but I know where to start. They tell me I’m too young to understand. They say I’m caught up in a dream. Well life will pass me by if I don’t open up my eyes. Well that’s fine by me. So wake me up when it’s all over. When I’m wiser and I’m older. All this time I was finding myself, and I didn’t know I was lost. I tried carrying the weight of the world. But I only have two hands. Hope I get the chance to travel the world. But I don’t have any plans. Wish that I could stay forever this young. Not afraid to close my eyes.

Itu sebagian lirik dari “Wake Me Up” yang menyentuh perasaan. Apalagi yang sengaja gue bold, beneran pengen bikin nangis.
Menjadi terkenal dan sukses merupakan impian bagi sebagian besar orang. Tapi mungkin setelah dijalani tidaklah mudah. Apalagi di usia beliau yang masih muda dan menurutnya tak pernah dia sangka akan sesukses itu. Tekanan pasti ada kan.
Kalau melihat penampilannya yang semakin kurus tapi tetap konser dimana mana, makin bikin hati gue gimana gitu. Bahkan sampai di rumah sakit pun masih tetap bekerja sampai dikomplain dokter. Demi sebuah pencapaian musik. Gue yakin bukanlah uang semata yang menjadi target, tapi kegilaannya terhadap dunia musik yang membuat dia demikian tak mengenal waktu.
Sampai akhirnya dia memutuskan pensiun dari tour musik di tahun 2016 dikarenakan alasan kesehatan, masih ada aja loh yang nanya maksa seolah olah ga ngerti dengan keputusan beliau. Melontarkan pertanyaan “tapi kamu masih akan tour kan?”. Orang orang yang haus keuntungan dan selalu mengambil kesempatan dari kebesaran nama beliau. Gue nonton salah satu wawancara beliau yang menyebut, tak tertutup kemungkinan dia berada diantara orang orang seperti ini.
Banyak sekali lirik lagu yang dia hasilkan seperti mewakili perasaan dia. Ahhh too young to die 😦
“One day you will leave this world behind, so live a life you will remember”
“When I decided when I die, I want to be remembared for the life I live, not the money I make”
“When you have alot of money, then you don’t need it anymore”
Avicii (Tim Bergling)
Rest in Peace
35921616566_7a6bab091c_o.jpg

Mari Berkenalan Dengan “Smörgåstårta”

Setiap negara tentulah punya panganan khas masing masing. Tak terkecuali Swedia. Semakin lidah gue terbiasa, makanan di negara ini ternyata lumayan enak.

Salah satunya adalah Smörgås. Semacam open sandwich gitu. Kalau tidak salah, smörgås lumayan popular di negara Nordik. Paling yang membedakan hanyalah bentuk variasi serta sebutan namanya. Smörgås biasanya disantap di kala pagi hari ketika sarapan, menjelang sore atau malah pengganti makan malam.

7CBD068F-5D09-49A7-96A3-A0B5D431B107

Kalau di Swedia, umumnya mereka menggunakan roti yang disebut knäckebröd, roti crispy yang kalau dikunyah kriuk kriuk. Gue kaga suka roti ini. Di mulut sakit. Hahaha. Ada juga yang menggunakan sandwich bread/white bread maupun rye bread. Nah, untuk topping sesuai selera. Umumnya diolesi butter dan diberi sayuran, keju, ham, telur, udang, hati sapi hingga kaviar. Pokoknya sesuai seleralah.

41C3A35F-9E99-45F7-8315-E4B0E89C57B7.jpg
Super leker

Rasa rasanya sebagian besar warga lokal di Swedia sangat menyukai smörgås. Suami gue apalagi. Kayak kecanduan. Smörgås makanan favorite dia banget. Meski sekarang dia harus mengurangi dikarenakan program kesehatan yang sedang dijalani. Meski kadang kadang dia kaga perduli juga. Si bandel. Hahaha.

37260307145_b6cbd969b6_o.jpg

Varian lain smörgås yang sangat terkenal di Swedia adalah Smörgåstårta atau Swedish Sandwich Cake. Disebut smörgåstårta karena bentuknya menyerupai cake. Smörgåstårta juga dihiasi berbagai macam sayuran maupun keju, ham, telur, kaviar, dll. Dan lagi lagi sesuai selera mau dihias pakai apa. Tapi jarang dihiasi dengan buah. Kurang cocok.

FAEE06DB-2D00-44D3-9D49-73E5C44E5EED

Yang membedakannya dengan smörgås biasa, smörgåstårta terdiri dari beberapa layer roti yang diolesi campuran mayones. Umumnya disajikan di acara ulang tahun atau perayaan acara keluarga. Bahkan disajikan sebagai santapan di hari biasa pun sah saja. Di cafe lumayan sering dijual. Bisa dibeli perslice.

Smörgåstårta yang gue bikin terdiri dari enam layer. Kalau mau dibikin empat layer juga bisa. Gue menggunakan jenis roti dari Polarbröd. Bisa lihat di sini. Jenis Polarbröd ini lumayan banyak sih. Pilihlah yang khusus untuk membuat smörgåstårta dengan rasa tawar (tidak manis).

IMG_3641.jpg
Whippy cream cair, sejenis sour cream, dill dan mayones. Tapi untuk dill usahakan yang fresh. Lebih tajam aromanya. 

Smörgåstårta wajib memakai cream mayones agar lapisan roti bisa merekat satu sama lain. Dan hiasan bisa menempel juga.

Mayones bisa dicampur dengan hati sapi, tuna atau sesuai selera. Roti harus disusun horizontal dan vertikal secara bergantian agar proses memotong lebih mudah. Contohnya roti yang gue pakai bentuknya melingkar. Dan umumnya roti yang  dijual sudah dalam kondisi terbagi dua. Jadi ketika menyusun, pertemukan masing masing potongan agar membentuk lingkaran, yang mana bagian tengah mengarah vertikal. Lalu lapisan kedua mengarah horizontal.  Bisa lihat di sini

E9374BF6-A7F3-425B-AB17-A50A1C5549C2.jpg

Konsistensi campuran mayones idealnya tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental. Intinya seperti membuat lapisan cake saja dan mudah diratakan dengan pisau. Kalau gue, mayonesnya dicampur sedikit sour cream kental (gue pakai creme fraiche) atau bisa juga dengan sedikit whippy cream cair. Jadi hasil konsistensinya lebih bagus menurut gue. Kualitas mayones pun usahakan yang berkualitas. Setiap lembar roti jangan lupa diolesi butter dulu sebelum diberi lapisan campuran mayones.

37117610571_d8349e970f_o.jpg

Dan untuk campuran mayones gue selalu tambahkan dengan tuna kaleng atau hati sapi atau skagenröra. Mengapa? Karena citra rasa dan aromanya klasik dan khas banget. Apalagi skagenröra itu, wajib ada deh kayaknya. Ini yang bikin enak banget. Bisa dibeli di supermarket. Di bawah ini contoh gambar skagenröra yang bisa dibeli di supermarket. Gue ga tau di Indonesia ada apa ga ya. 

Semisal sulit didapat, bisa dibuat sendiri. Terdiri dari mayones dan sourcream, vinegar, mustard, gula, garam, lada bubuk, udang rebus, kaviar, dan jangan lupa Dill. Aroma dill pada smörgåstårta lumayan berasa. Dan herbal ini memang tajam sekali harumnya. Gue sukaaaaaaaaaa banget. Pokoknya main feeling aja. Dont worry. Ga bakal gagal. Karena ini bukan ngebaking. Membuat smörgåstårta ibarat bermain dengan khayalan. Khayalan berkreasi.

6060A90A-C543-4EEB-8D4A-D0A6D496D480 (1)

Smörgåstårta yang gue bikin adalah sebagai berikut :

  • Lapisan roti pertama terdiri dari mayones dicampur dengan hati sapi dan sedikit whippy cream cair
  • Lapisan roti kedua terdiri dari mayones dicampur dengan sour cream dan tuna kaleng
  • Lapisan roti ketiga terdiri dari rödbetssallad (bisa lihat di sini), berupa campuran mayones dan potongan bit merah (tinggal beli di supermarket)  
  • Lapisan keempat terdiri dari campuran skagenröra (sudah gue jelasin di atas)
  • Lapisan yang kelima terdiri dari mayones dicampur sour cream dan tuna kaleng
  • Lapisan keenam terdiri dari campuran mayones dan sour cream. Olesi ke seluruh sisi permukaan roti hingga tertutup rata.
  • Baru hiaslah sesuai selera. Seperti yang ada di foto, warna hijau pada smörgåstårta berasal dari potongan rucola salad dan dill. Selebihnya bisa diberi tomat, timun, ham, udang, kaviar atau terserah anda pemirsah!
  • Atau lebih mudahnya lagi, berkreasi sendiri saja dengan bahan yang ada. Yang paling penting sudah punya gambaran kan, kalau smörgåstårta ini sebenarnya hanya lapisan roti bercampur cream mayones.

7C4D9D6E-5984-42F7-A7C0-A08F96E4B758.jpg

BE0CDF09-97D8-4847-9060-1B918E85E2D3.jpg

Jika ingin melihat berbagai varian hiasan smörgåstårta, BISA LIHAT di SINI

Berhasil Bikin Croissant!

Inilah puncak kegembiraan gue sepanjang karir ngebaking di dapur. Akhirnya gue berhasil menaklukkan keraguan yang selama ini menjadi penghalang untuk tidak merasa minder dengan kemampuan diri sendiri. Mengingat proses pembuatannya yang lumayan tricky. Adonan bolak balik keluar masuk chiller, laminating yang tepat agar butter tidak meluber kesana kemari, hingga proses folding yang beberapa kali cukup membuat gue maju mundur di tempat. Sampai akhirnya gue memberanikan diri untuk mencoba. Dan yaiiiii………………gue berhasil bikin croissant!

Adrenalin gue berasa terpacu selama proses ngebaking berlangsung. Antara takut gagal dan berhasil. Dan kalaupun berhasil, hasilnya akan seperti croissant di toko rotikah? Bahkan ketika searching resep sana sini, pusingnya uda lumayan berasa. Bingung mau pilih yang mana. Yang jelas gue butuh resep yang bisa dimengertilah. Tidak terlalu riweh dan ngejlimet. Dan yang terpenting adalah resultnya. Sejujurnya ada beberapa resep yang kurang cocok di hati gue. Alasannya sih sederhana.

Namanya juga pemula, tampilan croissant secara kasat mata sangat berpengaruh kan. Ada beberapa resep dimana croissant terlihat kurang mengembang sempurna. Kulitnya kelihatan tebal. Layernya kurang kelihatan. Juga terkesan tidak flaky.

6AEAB92A-9152-417B-AB9E-639F13E2A864 (1).jpg

A8362CD1-E6FA-4F90-A55A-B5C3DD4B5659

Sampai akhirnya gue menemukan satu resep yang cocok di hati. Sangkin tidak ingin gagal, gue mencari tau background si pemilik resep. Ternyata beliau memang pernah sekolah boga di Perancis dan berkarir di negeri asal croissant itu. Dan sekarang menetap di US. Melihat cara dia memasak dan ngebaking, gue langsung tersugesti jika beliau ini adalah seorang profesional. Tangannya cekatan. Langsung gue subscribe. Resepnya menarik semua. Ditambah lagi orangnya lucu dan sedikit sableng di setiap videonya. Makin mantaplah hati gue untuk memilih dan mencoba resepnya. Hahaha.

E4BE882B-716B-4D63-BE0E-B2DB20614F38.jpg

Hingga akhirnya gue menyimpulkan jika gue tak salah tersugesti oleh backround pendidikan dan pengalaman beliau. Resepnya memang jitu. Ya okelah, anggap gue lagi lucky. Mencoba perdana langsung berhasil. Gue ga bilang sempurna ya. Tapi sebodo amat kan, namanya juga perdana dan langsung berhasil pula. Masa gue tega bilang kalau resepnya abal abal? Dan yang terpenting, resep beliau ini tidak terlalu ribet dibanding yang lain. Masih bisa dimengerti. Penyampaian informasi dan tipsnya lumayan lengkap (setidaknya menurut gue sih begitu).

A01E02A1-161D-4F73-BCCC-1BEF9F72AF5D

Menurut beliau, croissant bukan brioche. Jadi tidak perlu menggunakan air susu dan telur. Gue melihat ada beberapa resep lain yang menggunakan cairan susu dan telur. Kebetulan atau tidak, yang ada tampilan layer croissant malah kurang terlihat dan terkesan tidak flaky. 

Hal penting lainnya, untuk adonan tepung dan butter yang dimasukin terpisah ke dalam chiller, harus memiliki konsistensi yang sama ketika proses laminating antara butter dan adonan dilakukan. Artinya sebelum tahap ini, butter harus dikeluarkan dari chiller ke suhu ruang agar konsistensinya menjadi lebih lembut (bukan melting ya). Selain itu, adonan tepung harus melalui proses proofing terlebih dahulu sebelum dimasukin ke chiller. Jadi sehabis diuleni, tidak langsung dimasukin ke kulkas. 

F6184621-0DCE-4212-874E-19F106451127.jpg

Menurut gue kesabaran tingkat tinggi benar benar diuji selama proses pembuatan berlangsung. Terutama untuk hasil akhir proofing. Pastikan benar benar mengembang untuk menghasilkan rongga di bagian dalam dan flaky di bagian luar. Butter juga harus berkualitas bagus. Standart eropa kalau bisa (begitu saran si pemilik resep). Adonan bisa diuleni manual pakai tangan (seperti di resep asli) tapi gue pakai mesin.

Resep yang gue share di sini hanyalah penyesuaian dari resep aslinya. Artinya ada beberapa bagian yang gue sesuaikan dengan kemampuan gue. Untuk ukuran panjang dan lebar, mungkin ada sedikit selisih. Tapi at least, meski beda beda dikit, croissant gue lumayan berhasil kok. Gue share resepnya ya!

0C6E3998-E68E-4DAC-83D5-048833733261
Proses proofing dimulai

Bahan I :

  • 250 gr air (suhu ruang 25 derajat celcius)
  • 14 gr ragi kering
  • 500 gr unbleached bread flour
  • 12 gr garam
  • 50 gr gula pasir (butiran halus)
  • 100 gr butter (harus kualitas bagus)

Bahan II :

  • 250 gr softened unsalted butter(gue pakai normal salted butter tidak masalah). Softened di sini maksudnya bukan melting ya. Tapi konsistensinya padat lembut agar mudah dirolling)

Bahan III : 

Telur untuk olesan (kocok rata)

46CEE844-C9D6-4F50-98E8-C7543BD90C8E.jpg

Cara membuat :

  • Campur rata tepung, garam dan gula  ke dalam wadah mesin roti
  • Lalu di bagian lain, campur dan kocok rata ragi dan air. Segera masukkan ke dalam campuran tepung di mesin roti
  • Hidupkan mesin di level rendah selama 1 menit agar adonan tercampur rata
  • Kemudian masukkan butter dan naikkan level mesin ke level tinggi (saya dari level 1 ke level 2)atau kenali mesin roti masing masing ya. Biasanya kalian menggunakan maksimal di level berapa untuk mengadon roti.
  • Adon di mesin hingga 5 menit
  • Keluarkan adonan dari mesin. Bulatkan dan taruh di dalam wadah bertutup
  • Biarkan mengembang di suhu ruang (sekitar 24 derajat celcius adalah suhu yang ideal untuk resep). Kurang lebih waktunya sekitar 2 jam. Atau supaya lebih mudah, untuk acuan lihat saja adonan berubah menjadi double size
  • Setelah mengembang sempurna, tabur tepung secukupnya di atas meja kerja
  • Taruh adonan di atas meja yang sudah ditaburi tepung.
  • Ratakan adonan hingga membentuk persegi panjang
  • Pertemukan bagian sisi kiri dan kanannya hingga masing masing pinggirannya bertemu.
  • Lalu lipat bagian ujung atas dan bawahnya saling tindih.
  • Ratakan lagi dengan tangan membentuk persegi.
  • Bungkus dengan plastic wrap.
  • Masukin ke dalam kulkas (chiller).
  • Biarkan overnight (12 hingga 16 jam)
  • Siapkan bahan II
  • Siapkan plastik dengan lebar 21-22 cm
  • Masukkan butter ke dalam plastik.
  • Ratakan pelan pelan dengan rolling pin.
  • Ratakan sampai menghasilkan panjang 18 cm dan lebar 21-22 cm
  • Masukin ke dalam kulkas (chiller)
  • Esok harinya, keluarkan adonan butter dari chiller dan biarkan sesaat di suhu ruang agar menghasilkan konsistensi yang lembut. Ingat, konsistensi butter harus sama dengan adonan bahan I (adonan tepung) agar pada saat dirolling lebih mudah dan smoother (menurut gue feeling bermainlah ya).
  • Jika butter sudah terlihat tidak mengeras lagi, keluarkan adonan dari chiller.
  • Ratakan adonan dengan rolling pin hingga membentuk persegi dengan panjang 38 cm
  • Lalu letakin butter di satu sisi adonan dan lipat sisa adonan ke bagian atas butter.
  • Tekan pelan pelan adonan dengan rolling pin dari ujung ke ujung
  • Ratakan lagi hingga menghasilkan panjang 60 cm dan lebar 20 cm
  • Lalu lipat bagian ujung adonan sepanjang 45 cm. Dan sisanya lipat ke sisi lipatan pertama (saling bertemu).
  • Ratakan kembali
  • Lalu lipat ujung yang satu dengan yang lain saling bertindihan
  • Tekan pelan dengan rolling pin dan ratakan lagi hingga menghasilkan panjang 60 cm dan lebar 20 cm
  • Lalu lipat ujung yang satu dengan yang lain saling bertindihan
  • Ratakan kembali dengan panjang sekitar 40 cm dan lebar 20 cm
  • Bungkus denga plastic wrap dan masukin kulkas (chiller) selama 1 jam
  • Setelah satu jam, keluarkan adonan
  • Ratakan dengan rolling pin hingga menghasilkan panjang 60 cm dan lebar 20 cm
  • Lalu bagi menjadi  dua bagian
  • Satu bagian biarkan di meja kerja dan sisanya masukin kembali ke kulkas agar tidak kelamaan di suhu ruang (menghindari butter menjadi meleleh)
  • Lalu ratakan adonan di meja kerja hingga menghasilkan panjang 46 cm dan lebar 23 cm.
  • Buang pinggiran adonan yang sekiranya terlihat tidak rata
  • Potong adonan berbentuk segitiga (lebarnya kira kira 5 cm)
  • Sebelum digulung, stretch (renggangkan) adonan pelan pelan dari ujung ke ujung
  • Lalu gulung dari bagian yang paling lebar hingga ke bagian paling runcing
  • Susun di baking ray berlapis baking paper
  • Biarkan mengembang hingga double size (tergantung suhu ruang masing masing)
  • Olesi permukaan croissant dengan lapisan telur yang sudah dikocok rata (putih plus kuningnya)
  • Siapkan oven di suhu 200 derajat celcius
  • Masukkan adonan dan oven selama 10 menit
  • Setelah 10 menit, turunkan suhu ke 180 atau 185 derajat celcius
  • Lanjutkan dioven selama 12-15 menit (tergantung jenis oven ya. Jadi rajin rajin aja mantengin)
  • Croissant siap disajikan. Good Luck!

3C369240-1DCC-45F9-A781-86C08D2D8008.jpg

Note : 

  • Ketika baru keluar dari oven, tampilan rongga di bagian dalam croissant belum terlalu kelihatan karena butter masih melting. Kalau mau memotong croissant, lakukan setelah benar benar dingin.
  • Pastikan ketika meratakan adonan, selalu ada tepung di meja kerja agar tidak lengket
  • Tapi setiap melakukan folding (lipatan) pastikan sisa tepung di permukaan adonan harus dibersihkan. 
  • Demikian juga ketika menggulung dan membentuk croissant, pastikan tidak ada tepung di permukaannya agar adonan bisa digulung sempurna.
  • Kalau adonan dikerjakan manual pakai tangan, pastikan pada saat menguleni, tidak ada tepung di atas meja kerja. Penggunaan tepung di atas meja kerja hanya diperlukan pada saat meratakan adonan (supaya tidak lengket) 
  • Croissant ini disantap dalam kondisi masih hangat ueeenak banget. Fluffy di bagian dalam, flaky di bagian luar, dan buttery banget. Tapi kalau mau divariasikan juga boleh. Dengan menambahkan tuna, ham, chicken, sayuran, seperti yang ada di foto juga boleh. Tapi harus bener benar dingin dulu ya croissantnya.
  • Menurut gue, kalau cuma melihat, membaca dan mengikuti resep melalui tulisan agak sulit ya. Apalagi resep yang gue share ini tidak dilengkapi foto tutorial. Jadi saran gue sih tidak ada salahnya melihat video si pemilik resep. Gue share resep di blog karena beberapa followers di instagram minta dibuatin resep (versi Indonesia). Itupun lumayan riweh nulisnya. Panjang banget. Hahaha. Semoga bergunalah ya. Kalau ada yang kurang harap maklum. 
  • Di bawah ini gue sertakan link video si pemilik resep. Mr. Bruno Albouze

https://www.youtube.com/watch?v=2OAUM0MRgQw

Gue Introvert atau Schizoid?

Basicly gue bukan seorang yang kurang bergaul. Tapi terlalu bergaul pun tidak juga. Yang gue ingat, sewaktu kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), gue lumayan punya banyak teman. Terutama dari lingkungan sekolah maupun bimbingan les di luar sekolah.

Dari mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, gue pasti punya genk alias teman teman kompak. Dan sejujurnya jika sudah klik banget di hati,  gue cenderung malas mengembangkan sayap ke sana kemari demi mencari teman baru.

Masih ingat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), gue punya beberapa teman dekat. Kemana mana selalu bersama. Pulang sekolah suka main bareng. Nginap di rumah. Sampai dikejar kambing pun pernah bareng bareng. Teman gue pipis di celana sangkin takutnya. Hahaha.

Sangkin dekatnya,  teman sekelas yang lain memberi julukan genk “Madona” ke kami. Entah apa maksud mereka memberi julukan itu. Dari segi penampilan dan wajah saja kami sangat berbeda jauh dengan Madona. Yang satu blonde abis sedangkan kami siborong borong abis. Kocak.

Begitupun di tingkat SMA hingga kuliah, gue selalu punya genk sendiri. Dari yang cuma kenal muka tapi jarang bicara, kenal baik, hingga kenal sangat baik.

Khusus di kalangan teman kampus, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan dua orang teman baik. Sedangkan yang lain kadang kadang bicara, jalan bareng, tapi tidak sesering dengan kedua teman gue tersebut. Kami bertiga pernah dijuluki “trio”.

Tapi justru setelah tamat kuliah dan merantau, kesempatan mengenal lebih baik teman teman sekampus yang lain semakin terbuka. Dari yang tidak begitu dekat menjadi lebih dekat. Satu sama lain lumayan sering nongkrong bareng di akhir pekan.

Memasuki dunia kerja di ibukota, padatnya waktu kerja sedikit banyak mempengaruhi lingkup pertemanan gue. Bahkan gue tidak punya banyak waktu untuk bersosial media. Paling di Path. Gue malah ga punya instagram.

35138529154_4668a8fc8d_o.jpg

Bertemu teman semakin hari semakin jarang. Weekend lebih sering gue habiskan di apartemen atau di mall tak jauh dari tempat tinggal. Macetnya Jakarta yang sudah tidak manusiawi itu sedikit banyak membuat semangat bersua teman semakin kendor. Yang satu di Jakarta mana dan gue di Jakarta belahan mana. Lingkungan kantor pun tak sempat membuat gue banyak bergaul dengan yang lain. Paling sekedarnya aja. Teman dekat di kantor paling cuma dua tiga orang.

Dan tidak hanya itu, lelah di pekerjaan, usia yang semakin bertambah, tenaga yang mulai letoi,  membuat gue cukup puas dengan segelintir teman. Segelintir teman yang kira kira easy dan sehati diajak jalan bareng tanpa harus pusing memutuskan ketemu dimana. Teman yang punya selera sama dalam memilih tempat ngemall atau nongkrong. Daerah kelapa gading aja. Dekat ke apartemen gue. Hahaha (egois).

Sadar atau tidak, gue tidak seantusias di kala muda dulu. Ini terjadi bukan karena gue kecewa dengan pertemanan yang ada. Sama sekali tidak. Seingat gue, semua teman yang gue kenal rata rata adalah teman yang baik. Bukan teman yang menusuk dari belakang. Bukan teman yang dengki. Bukan teman bermuka dua dan pengadu domba. Bahkan mereka punya kepedulian satu sama lain. Terutama teman teman kampus gue. Mereka sangat menjalin silahturahmi sepanjang waktu.

Jika gue membaca banyak postingan di media sosial yang mengeluh tentang pertemanan, gue lumayan beruntung tidak berteman dengan orang orang yang salah. Setidaknya itu yang gue rasakan. Sampai sekarang pun hubungan gue dengan teman teman gue tetap baik meskipun tak terlalu sering berinteraksi. Gue tipikal yang lumayan bisa memilah siapa yang bisa gue jadikan teman. Puji Tuhan tidak ada yang terlalu neko neko. Kalau cuma selisih paham kecil itu hal biasa.

Sekira I feel uncomfortable dengan seseorang yang cuma mengambil kesempatan dikala senang, pengadu domba, nyinyir, selalu dipenuhi rasa benci, perlahan akan gue jauhi.

Di rumah pun, gue tipikal pertapa. Sewaktu tinggal di rumah kakak, kebanyakan gue habiskan di dalam kamar. Tahan bulukan di kamar. Nonton tv, tidur, jika keluar karena mau makan aja. Beneran adik yang kurang ajarlah. Hahaha.

Kalau gue mood, ya ngobrol sih dengan mereka. Malah jalan makan bareng ke mall. Tapi kalau lagi ga mood pasti deh banyakan di kamar.

Sampai akhirnya semakin gue menyadari, terkhusus setelah gue tinggal di Swedia, sifat ingin menyendiri gue itu ternyata malah semakin parah. Ga ngerti kenapa. Apa karena suasana tempat tinggal yang sepi mengkondisikan demikian, yang jelas saat ini gue lebih suka menikmati hari hari gue bersama suami. Semakin lama gue merasa kalau suami adalah teman sehati yang tepat. Mungkin karena 24 jam, kebanyakan hanya wajah dia yang gue liat. Hahaha.

Awal tiba di desa gue, gue masih lumayan suka menghadiri acara ini itu. Ketemu warga lain. Kalau mereka bertamu ke rumah, gue malah senang karena berasa ga sepi. Tapi semakin ke sini, setiap ada pertemuan atau acara pesta, gue sudah mulai jenuh. Mulai tidak terlalu menikmati. Semakin lama semakin berubah. Kalau tetangga terlalu sering datang ke rumah, gue malah terganggu. Suami gue sampai heran. Bukan karena gue malas harus meladeni bikin ini itu ya, karena ga harus juga. Gue merasa terganggu aja. Tapi herannya di waktu yang berbeda, gue pengen juga ada yang datang ke rumah. Didatangi tetangga atau siapa ajalah itu. Jadi moodnya bener bener aneh.

Dulu suami pernah bilang kalau dia tidak bisa membayangkan tinggal di rumah yang bangunannya berdempetan dengan tetangga, dia merasa ruang geraknya kurang bebas. Bisa bisa pipis pun kedengaran. Karena ada masanya dia pengen pake kolor aja di rumah, ada masanya dia pengen mesra mesraan dengan gue, dan masih banyak lagi lah.  Mendengar itu gue cuma bisa mikir “kok bisa” sih sampai punya pikiran parah begitu. Dan lama kelamaan ternyata sifat itu menular ke gue.

Jadi ceritanya, ketika tiba di desa gue empat tahun lalu, gue merasa kalau desanya terlalu sepi. Gue menghayal seandainya rumah kosong di depan rumah segera ditempati penghuninya. Kalau dihuni kan berasa lebih ramailah. Tapi kenyataannya cuma ditempati sesekali. Pemiliknya tinggal di daerah lain dan hanya berkunjung di saat weekend atau liburan.

Dan sekarang gue mendengar kabar, kalau si pemilik yang tak lain merupakan teman kecil suami itu berencana akan pindah dan menempati rumah tersebut. Herannya justru jadi dilema buat gue sendiri. Menyikapinya antara senang dan tidak. Di satu sisi gue senang karena rumah itu bakalan terlihat lebih terang oleh cahaya lampu terkhusus di saat winter, tapi di sisi lain gue malah merasa tak nyaman.

IMG_1654 (1)

Semisal gue lagi menyiram bunga, duduk duduk di luar, atau fotoin bunga di halaman, malas banget deh kalau terlihat mereka, apalagi kalau sering diajak bicara. Coba, parah banget kan gue. Padahal tetangga gue itu baik dan pacarnya apalagi, wise banget. Tapi entah mengapa susah banget match ke hati gue. Mereka cuma gue anggap sebagai tetangga dan bukan teman bicara yang klik di hati. Padahal tetangga gue itu teman baik suami sejak kecil. Dan setiap berkunjung ke desa gue, dia dan pacarnya pasti main ke rumah. Ngobrol lama ampe malam. Gue pastikan tidak ada yang salah dengan mereka. Justru gue merasa kalau diri guelah yang salah. Semakin susah klik dengan orang lain.

Waktu empat tahun rasanya cukup membuat gue sangat terbiasa dengan keseharian yang menyendiri dan tidak ada yang menggangu. Karena tetangga yang lain rumahnya jauh jauh. Artinya mereka kebanyakan berkunjung ke rumah ketika suami gue ada di rumah. Selebihnya, gue ya sendiri menikmati dunia gue. Kesendirian gue.

Sampai kini pun gue tak punya teman baik di Swedia. Entah itu dari kalangan warga Indonesia maupun Swedia. Dan gue merasa fine aja. Tidak stress apalagi depresi. Beneran. Setidaknya itu yang gue rasakan. Gue menikmati hidup gue yang sekarang. Gue bahagia.

Apakah gue introvert? atau cenderung Schizoid? Hehehe.

Sepertinya usia dan lingkungan sangat cepat menempa gue untuk tidak lagi terlalu pusing dengan urusan pertemanan. Bukan karena apatis apalagi anti sosial ya. Karena di suatu kesempatan, gue masih mau kok bertemu dengan orang lain. Apalagi kalau traveling, gue ga bisa pergi sendirian.

Jika merasa hidup gue tenang banget dengan keadaan yang sekarang trus mau gimana dong. Emang gue menikmatinya. Jauh dari gosip, jauh dari sirik sirikan. Karena semakin bertambah usia bukan kuantitas lagi yang gue cari. Tapi kualitas berteman. Satu pun selama cocok dan tidak dengki dengkian uda bagus banget buat gue.

Jujur…..di lain kesempatan gue pengen punya satu atau dua teman baik di Swedia yang benar benar bisa dijadikan teman suka duka. Yang klik di hati. Kalau ketemu aja teman kayak gini, yesss hobby nongkrong di cafe itu pasti gue akan ulang lagi.

Yang suka menyindir, bermuka dua, merasa bijaksana sendiri, cepat sakit hati, pengadu domba, cepat marah kalau tak sepemikiran, bisa gue bayangkan lelahnya hati berada diantara orang seperti ini. Daripada pusing mending menjauh perlahan. Hari ini haha hihi di medsos, besoknya uda sindir sindiran. Wueeeek banget.

68503CAF-2EA5-48BF-8F45-5E8CD38E2FFC.jpg
Salam dari si pertapa

Kira kira, pembaca budiman ada yang seperti gue ga sih? Semakin lama lumayan susah membuka diri dengan orang lain? Semakin lama merasa fine aja jika tidak punya banyak teman?