Cafe Di Tengah Hutan

Helooooo blog

Test test test….

Masih ada nafasnyakah blog ini? Hahaha..

Ya sudahlah daripada benjol mending nulis recehan saja. Bingung soalnya mau nulis apa. Beneran mood menulis di blog lagi jelek banget.

Saya mau cerita tentang sebuah cafe yang terletak di kawasan Dalarna. Namanya Cafe Ryggasstugan. Setelah 5 tahun stay di Swedia justru saya baru tahu jika ada cafe kozy dan kece yang lokasinya tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Cuma 30 menit berkendara.

IMG_8377

IMG_8342
Ahhh tenangnya…

Dan lucunya lokasi cafe dekat sekali dengan rumah yang kebetulan tidak kami (saya dan suami) tinggali tapi lumayan sering kami datangi untuk keperluan sewa menyewa. Cuma 5 menit berkendara. Ya ampun kemana saja sih????

IMG_9688
Bisa melihat sekeliling sambil jalan kaki
IMG_9666
Di saat summer bangku kayu disediakan di tepi danau

Dan semakin berasa gerrrrrrrrrr…..ketika suami bilang kalau dia sudah lama tahu soal cafe ini. Cuma karena bukan wilayah yang setiap hari dilewati, jadi dia ga kepikiran saja untuk ngajak fika di situ.

IMG_9662
Forest….

Singkat cerita pas musim panas kemaren sangkin sukanya saya dengan cafe ini, saya berkunjung hingga 3 kali dalam waktu lumayan berdekatan. Saya memang pencinta cafe resto dan hotel bernuansa vintage terkhusus dari material kayu. Apalagi berdiri di sekitar nature.

IMG_8376
Coba lihat cafenya….mungil banget diantara pinus. Dan gerobak tua itu dong semakin membuat suasana vintagenya menggila. Haha..

Cafe Ryggasstugan dikelola pasangan muda. Sebenarnya untuk jenis pastry dan makanan yang dijual sih biasa saja. Cuma suana yang ditawarkan cafe ini yang membuat orang orang selalu datang. Apalagi ada cottage kecil dan bangunan kabin di sekitar cafe. Duhhh tenang banget.

IMG_8365
Duh ini cakep banget tau. Apalagi mendengar suara aliran deras air dari kayu tua itu. 
IMG_8346
Saya hanya mendengar suara air dan menghirup harum nature
IMG_8362
Unik banget. Aliran airnya dari kayu. 

Cafe berdiri pas di tengah hutan pinus dan viewnya langsung menghadap danau. Bangunan cafenya pun pengen minta diangkut bawa pulang. Suka bangetlah. Katanya sih kalau musim gugur mereka adain paket tea time. Ada perapian dan candle light. Duh kebayang terapinya. Tapi hingga sekarang paket ini belum ada tanda tanda akan dimulai.

IMG_9543
Suasana di dalam cafe yang tenang

Jalan jalan di sekitar cafe juga asik. Untuk latar fotography pun bagus. Padahal lokasi cafe ini lumayan jauh dari jalan umum. Bayangin saja di sekitar hutan gitu. Tapi lumayan digemari katanya.

Biar foto sajalah yang bercerita…..

Rahasia Membuat Pindang Telur Hingga Berwarna Hitam

Saya penggemar telur. Mau diapain juga sukaaaaa! Direbus, diceplok, didadar, disambel, hingga dipindang.

Dulu sewaktu saya tinggal di Medan, saya lumayan suka menjajal kuliner china food di jalan semarang dan selat panjang. Apapun menu makanannya mostly pesan extra telur pindang. Suka banget saya.

Pindang telur umumnya direbus di api kecil. Ada yang direbus berikut kulitnya ada pula yang direbus tanpa kulit. Dan kebanyakan direbus dengan teh untuk menghasilkan warna kecoklatan.

IMG_5672

Tapi tidak sedikit juga yang menggunakan karamelisasi gula pasir. Saya termasuk salah satu yang menggunakan cara ini. Menurut saya hasilnya jauh lebih cakep. Mirip di resto china food. Coklat kehitaman dan lumayan mengkilat.

IMG_5680

Pindang telur jangan dimasak buru buru. Biar hasilnya enak. Kalau cuma menginginkan warna telur yang kecoklatan, 5 menit pun sudah berubah coklat kok. Cuma tekstur telur masih lembek layaknya telur rebus biasa. Masaklah di api kecil kurang lebih 2,5 jam. Setelah itu biarkan semalaman baru disantap. Tekstur telur akan memadat dan kenyal. Bagian dalam putih telur pun berwarna kecoklatan. Warna kuning telur lebih menyala. Dan pastinya rempah rempah meresap hingga ke bagian dalam telur. Enak!

IMG_5685

IMG_5679

Hal penting yang tidak boleh dianggap sepele, sebelum dipindang sebaiknya telur harus dipastikan benar benar matang ketika direbus. Lalu begitu matang buang air rebusan dan segera rendam di air yang benar benar dingin. Bila perlu ganti air dinginnya hingga suhu telur tidak panas lagi. Kemudian kupas kulit telur secara perlahan agar menghasilkan permukaan telur yang mulus. Pastikan lapisan tipis di permukaan telur tidak tertinggal.

IMG_5913

IMG_5912

IMG_5676

Pindang telur bisa dijadikan pelengkap gudeg, mie ayam, mie goreng, nasi tim, nasi hainam, nasi goreng, bubur ayam  atau mau dicemil gitu aja juga enak. Hahaha..

Dan pastinya bikinnya tidak susah. Bisa dicoba.

RESEP DAN TUTORIAL PINDANG TELUR BISA KLIK VIDEO di BAWAH INI

Melihat Smurfs di Dunia Nyata

Saya penggemar garis keras Amanita Muscaria. Tak pernah bosan saya fotoin mereka. Mungkin followers di instagram saya sudah eneg dengan postingan koleksi foto jamur liar yang satu ini. Kegalauan saya berpisah dengan summer lumayan terhibur dengan kehadiran mereka. Iya…dengan munculnya jamur liar ini pertanda musim gugur akan segera tiba.

Saya sudah pernah menulis lebih detail tentang musim jamur di Dalarna di tulisan sebelumnya

Bisa dibaca di situ juga. Koleksi fotonya lebih lengkap.

IMG_5023

IMG_4921

IMG_4688
Istana Smurfs…Hahaha
IMG_5015
Ini ukurannya besar banget loh. Sendirian dia di depan danau kece itu

IMG_4684

IMG_4687
Rumah Smurfs di dunia nyata

Untuk melihat lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah. Bentuknya lucu lucu.

Anggap saja sedang melihat smurf di dunia nyata.

Suka Pizza? Bikin Sendiri Saja!

Siapalah mak yang tidak tahu Pizza. Makanan Italia ini memang sangat mendunia. Kamu penyuka pizza? Kalau saya dibilang suka banget sih ga. Tapi icip icip maulah. Suami saya tuh baru doyan banget.

Pizza yang ideal itu sudah barang tentu berkiblat ke negara asalnya di Italia sana. Jadi bukan pizza modal ditaburi keju dan aneka topping tapi teksturnya tak beda dengan roti biasa. Jatuhnya jadi roti pizza. Pizza yang teksturnya mirip softbuns. Terlalu membengkak. Pizza itu idealnya ga perlu pakai telur dan butter. Karena pizza bukan roti tawar, bukan sandwich bread, bukan roti sobek.

IMG_4630

Pizza yang saya bikin ini condong ke Neapolitan Pizza. Pizza tipis dan lumayan kriuk meski tidak kriuk kriuk banget. Jika harus bersanding dengan hasil bikinan pakar pizza sudah jelas terhempas ciaaoooooo. Tapi setidaknya bisa makan pizza ala italia hasil bikinan sendiri cukup mampu membuat hati berbangga. Apalagi menurut suami dan tetangga, pizza buatan saya memang enak pakai bengeeeetttttt. Bukan hoax….hahaha.

IMG_4673

IMG_4662

Menurut saya adonan pizza tingkat toleransinya lumayan tinggi. Kemungkinan gagalnya relatif rendah. Semisal hasilnya tidak begitu sempurna tapi ketika dimakan rasanya tetap ga aneh di mulut. Tetap rasa pizza. Mungkin karena ketutup aneka topping. Meskipun begitu jika mampu menghasilkan adonan pizza yang lentur dan elastis, gampang direnggangkan dan tidak mudah sobek, tentulah akan menghasilkan pizza yang lebih flavor dan renyah di bagian pinggirannya.

IMG_4634
Berhubung sodokan pizza saya tidak terlalu besar, jadinya lingkaran pizza sengaja saya bikin tidak terlalu lebar. Ini hanya bagian pinggirnya saja yang terlihat tebal akibat gelembung udara  yang dihasilkan fermentasi yang lama. Bagian bawahnya tetap tipis

Pizza Italia itu identik dengan pizza tipis. Pinggirannya cenderung tidak rapi rapi banget, bergelembung akibat gelembung udara dari hasil fermentasi yang relatif lama. Dan toppingnya tidak terlalu heboh karena mereka mainnya di keju. Bahkan jaman dulu malah ga harus ditaburi keju. Cukup dengan saos tomat.

Untuk menghasilkan pizza yang sempurna idealnya dipanggang di suhu yang cukup tinggi (high temperature) di oven batu menggunakan kayu bakar. Cara tradisional yang hingga sekarang masih tetap dijalankan.

IMG_4648

Lalu bagaimana dengan oven rumahan? Bukankah suhunya relatif terbatas? Jawabannya tentu bisa. Cuma hasilnya memang tidak sama persis dengan pizza yang dipanggang di oven batu. Untuk menghasilkan pizza rumahan yang mendekati sempurna, bisa diakali dengan bantuan baking stone. Caranya dengan memasukkan baking stone ke dalam oven ketika oven sudah mencapai suhu tertingginya.

IMG_4636

Sebaiknya masukkanlah adonan pizza ke dalam oven tanpa harus ditaburi keju maupun topping terlebih dahulu. Tujuannya agar adonan pizza lebih gampang diletakin di atas baking stone. Ingat…size baking stone untuk oven pada umumnya relatif terbatas dan tidak terlalu besar. Jadi kalau tangan belum terbiasa dengan teknik menekuk sodokan pizza, kemungkinan besar ada resiko adonan tetap stay di sodokan pizza. Adonan yang belum ditaburi keju dan topping biasanya lebih mudah diletakin ke baking stone karena tidak terlalu berat. Apalagi ketika adonan dimasukkan ke dalam oven, suhu oven sangat panas. Kemungkinan besar keju bisa cepat melting dan lengket disodokan.

Hmmmmm…..kalau baking stone ga punya? Do Not Panic!

Bisa diakali dengan menggunakan baking tray atau loyang. Loyang cukup ditelungkupin. Kemudian letakin adonan pizza di atasnya. Jadi hasilnya lebih cepat kering dan garing.

IMG_4637
Sengaja bikin agak tebal seperti pan pizza

Jika ingin menghasilkan pizza yang benar benar kriuk, gunakanlah loyang khusus yang bagian bawahnya sudah dibolong bolongin. Topping tidak perlu terlalu banyak termasuk saos tomatnya.

Jika ingin menghasilkan pizza yang tebal dan bertekstur lembut, bisa menggunakan pan atau loyang bagian dalam (tidak perlu ditelungkupin). Sebelum memberi topping jangan lupa menusuk nusuk permukaan adonan terlebih dahulu. Baru beri tambahan topping yang lumayan padat. Lama di dalam oven harus disesuaikan dengan ketebalan adonan pizza dan topping. Agar pizza matang sempurna.

IMG_4669

Selain itu bisa juga dengan cara memasukan loyang atau pan berisi adonan pizza yang cuma diolesi saos tomat (tanpa keju dan topping). Lalu panggang di oven selama 5 menit (tergantung ketebalan pizza dan ukuran loyang). Setelah itu baru dikeluarkan dan diberi tambahan topping dan keju. Kemudian dimasukkan kembali ke dalam oven sekitar 10 menit.

Pengulenan adonan pizza bisa beragam. Ada yang nihil pengulenan (no knead) dan langsung difermentasi over night sekitar 12 hingga 18 jam di suhu ruang. Ada juga yang diuleni sebatas kalis atau hingga smooth elastis. Saya pernah mencoba semuanya. Menurut saya adonan yang smooth dan elastis setelah difermentasi hasilnya lebih lentur, ringan dan renyah. 

IMG_4670

Proses fermentasi pada adonan pizza juga beragam. Ada yang short fermentasi cuma sekitar 15 hingga 1/2 jam langsung dimasukin oven. Ada yang cuma 2 jam, 6 jam bahkan long fermentasi selama 24 jam hingga 75 jam di suhu kulkas. Pilihan di tangan anda. Saya memilih fermentasi di atas 24 jam dengan metode slow fermentasi di suhu ruang dan juga suhu kulkas. 

Slow fermentasi dengan rentang waktu yang relatif lama akan menghasilkan adonan pizza yang lebih berongga dan lentur. Lebih mudah direnggangkan dan tidak mudah sobek karena tingkat elastisitas adonan sangat tinggi. Tekstur pizza lebih ringan. Ketika adonan ditekan gelembung udara sangat jelas terlihat.

Sedangkan fermentasi yang singkat membuat adonan minim rongga dan gelembung udara. Akibatnya meski sudah elastis tapi kelenturan adonan belum maksimal. Adonan masih berasa berat dan kurang ringan. Jadi ketika ditekan tekan dengan jari, gelembung udara belum banyak keluar karena adonan masih relatif rapat. Ini menurut pandangan berdasarkan pengalaman saya. 

IMG_4671
Fermentasi yang relatif panjang, biasanya sangat mudah menghasilkan rongga dan gelembung pada bagian pinggir pizza seperti di foto. Dan lebih tasty juga. 

IMG_4635

Sebaiknya penggunaan ragi pada adonan pizza tidak perlu terlalu banyak. Ragi yang relatif sedikit akan melalui proses slow fermentasi. Slow fermentasi butuh waktu lumayan lama. Adonan pizza akan mengembang secara perlahan dan menghasilkan adonan yang lentur sempurna. Konon katanya baker besar di Italia hanya menggunakan 1/2 hingga 1 gram ragi untuk 1 kilogram tepung bahkan bisa lebih. Bisa mengembang? Bisa dong! saya sudah pernah mencoba. Hasil adonan super pluffy.

Berikut resep pizza yang saya bikin (Total fermentasi lebih dari 24 jam). 

Bahan :

  • 500 gram tepung serba guna
  • 2 gram ragi instan
  • 22 gram olive oil
  • 6 gram garam
  • 330 gram air hangat

Saos Tomat :

Untuk saos tomat sebaiknya ditambahkan bubuk merica, bubuk bawang putih, garam dan Thymes herbs (optional).

Untuk keju : gunakan keju kualitas bagus

Cara Membuat:

  • Masukkan air ke dalam wadah. Tambahkan ragi. Kemudian aduk rata (pakai tangan juga boleh)
  • Masukkan olive oil dan tepung. Aduk dengan tangan hingga rata saja.
  • Lalu tuang adonan ke atas meja kerja
  • Uleni sekitar 3 menit (jika adonan lengket di tangan sebaiknya cuci tangan anda dan lanjut menguleni)
  • Setelah diuleni selama 3 menit, tutup adonan dengan serbet basah dan biarkan sekitar 1/2 jam
  • Setelah 1/2 jam lanjutkan menguleni adonan hingga smooth dan elastis (saya butuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit)
  • Lalu bulatkan adonan, masukkan ke dalam wadah yang sudah diolesi dengan sedikit olive oil (minyak zitun)
  • Tutup dengan plastic wrap secara rapat dan timpa dengan serbet basah.
  • Biarkan mengembang di suhu ruang hingga double size (Saya butuh waktu sekitar 6 jam sesuai suhu ruang saya)
  • Setelah adonan mengembang hingga double size tuang ke atas meja kerja.
  • Bulatkan adonan. Bagi menjadi 3 atau 4 bagian (sesuai kebutuhan)
  • Susun masing masing potongan adonan di atas loyang yang sudah ditaburi tepung.
  • Taburi permukaan adonan dengan tepung.
  • Tutup rapat dengan plastik wrap.
  • Masukkan ke dalam kulkas selama 16-18 jam
  • Lalu setelah itu keluarkan dari dalam kulkas dan biarkan di suhu ruang sekitar 1 1/2 jam
  • Setelah adonan dibiarkan di suhu ruang sekitar 40 hingga 45 menit, panaskan oven di suhu 250 atau 275 (suhu tertinggi oven masing masing)
  • Setelah suhu oven tercapai, masukkan baking stone ke dalam oven dan biarkan selama 30 hingga 40 menit.
  • Lalu keluarkan adonan pizza secara hati hati dan perlahan dari dalam loyang menggunakan bantuan scraper.
  • Tuang ke dalam wadah berisi tepung.
  • Letakin di atas meja kerja
  • Tekan tekan permukaan adonan dengan 10 jari tangan mulai dari bawah hingga batas 1 cm dari sisi lingkaran adonan. Jadi sisi lingkaran menggelembung dengan lebar sekitar 1 cm.
  • Balikkan adonan
  • Lalu bolak balik perlahan dengan bantuan dua tangan
  • Kemudian posisikan kedua tangan di bagian central adonan (bisa dikepal atau direnggangkan)
  • Perlahan lahan stretching (renggangkan) adonan dengan cara memutar kedua tangan secara perlahan
  • Lalu letakin adonan di atas sodokan pizza yang sudah ditaburi tepung
  • Tabur saos tomat. Sisakan sekitar 1 cm (tidak terkena saos tomat)
  • Masukkan ke dalam oven selama 5 menit
  • Lalu keluarkan dari dalam oven
  • Taburi mozzarella
  • Beri topping sesuai selera
  • Panggang kembali di oven selama 5 hingga 7 menit (sambil dipantau aja ya)
  • Keluarkan pizza dan siap disantap.

Tutorial jelasnya bisa klik video di bawah ini :