Random Cooking and Baking

Hai hai…..!

Rasanya sudah lumayan lama tidak menghempaskan aroma aroma makanan di blog ini. Dan mumpung lagi senggang, mari pamer pamer dikitlah (gede juga ga apa) hasil masak memasak dan baking di dapur. Tentunya tidak saya posting semua. Paling beberapa saja. Yang paling syurrrlah menurut saya. Apa saja?

Ini dia….cekidot!

Ayam Panggang Bumbu Semur

Jadi ceritanya, suami saya sukaaaaaaaaaaaaaaa banget menyantap ayam utuh. Belum dipotong potong. Mungkin lebih menyelerakan buat dia. Meski setelah matang, ya harus dipotong potong juga. Kali ini saya pakai bumbu yang terbersit di kepala. Campur campur saja semua. Hasilnya mirip bumbu semur. Tidak mengecewakanlah.

IMG_2624.jpeg
Aku seksehhh

Hekeng (Ngohiong)

Ahhhh….kesampaian juga bikin ini. Sampai bela belain bawa kulit tahu dari Indonesia. Secara di Mora kaga ada dijual. Hekeng konon kuliner khas Pontianak. Tapi sebenarnya di resto cina lumayan sering ada. Dijadikan pelengkap mie goreng.

45187390965_732df04e6d_o.jpg

1E20132D-A1E2-4516-B4FC-CC856FC7E8CA.jpg

A54BA7AE-B8BA-4D33-A177-56FCC7AF0FB2.jpg
Dan ini enak sekali. Bisa pakai ayam udang atau pork udang

Hekeng dikukus saja sudah enak apalagi digoreng. Nah, sewaktu saya posting di instagram, ehhh malah ada yang direct message. Katanya pengen dan langsung orderYa udalah berarti rejeki saya.

Baking Roti Tawar

Sebenarnya saya lumayan sering bikin roti tawar. Tapi baru kali ini ngebaking roti tawar menggunakan cetakan/loaf tertutup. Dan hasilnya bikin gue terpana. Rapi dan bagus banget. Udalah shayyy…buka toko roti aja nyukkk. Hahahaha.

44948516175_6a8a2e08ec_o.jpg
Senang sekali melihat hasilnya. Mirip di toko roti (saya pede…hihi)
45137061464_a57ab9e184_o (1).jpg
Setiap melihat hasil bakingan selalu sumringah sendiri

45137061324_165c31f5b5_o.jpg

44044997740_592ce4083a_o (1).jpg

Trus pernah kebanyang roti tawar Ganda yang ada di Siantar, bikin lagilah roti tawar yang mirip mirip roti tawar Ganda Siantar. Meski hasilnya ga sempurna mirip, tapi setidaknya untuk teksturnya tidak mengecewakanlah. Super lembut dan kempes gitu kalau ditekan. Pengen saya jadikan bantal sangkin gemesnya. Hahaha.

IMG_3453 (1).jpg
Montok montok
IMG_3455
Pengen saya tiduri aja. Hahaha

IMG_3454 (1).jpg

Ketika Makan Sate Padang di Swedia

Belakangan ini sebenarnya gue lagi repot banget. Banyak yang harus diberesin. Gue kangen nulis juga. Tapi anehnya di tengah waktu yang terbatas, semangat memasak dan baking di dapur justru sangat menggila. Gue cukup tau mengapa bisa demikian. Karena kalau lagi banyak pikiran, larinya pasti ke dapur untuk ngebaking maupun cooking makanan kesukaan. Aneh ga sih?

Bahkan gue lagi spirit banget menata highlight instagram gue @dapursicongok  lebih terlihat rapi dan teratur. Bukan untuk menarik followers sih. Beneran engga. Lebih kepada kepuasan batin gue aja. Gue merasa hasil karya dapur gue bisa gue nikmati di sana. Semisal followers gue juga turut menikmati ya bonuslah. Gue makin senang.

D76C57BB-DDE7-4035-AE13-F9A9B43549B3

Banyak loh masakan enak yang gue bikin belakangan ini. Hahaha. Segitu soknya ya. Jadi dari beberapa kali mengulang jenis masakan yang sama, tentu saja ada pengalaman dan ilmu baru yang didapat. Bagaimana membuat rasa masakan semakin rich di lidah. Trik ini itunya bagaimana dan seperti apa.

F77CB5CF-3EC2-44AA-B480-6BA524D87858

Salah satunya ya Sate Padang ini. Entah sudah berapa kali gue bikin sate padang sejak menetap tinggal di Swedia. Akhirnya lumayan terbiasa dengan racikannya. Bagaimana mengatasi kuah sate agar konsistensinya tidak berubah total setelah dingin. Membuat sate padang bisa dibilang bukanlah pekerjaan yang ringan. Rempahnya ga bisa ngasal. Belum lontongnya. Bawang gorengnya. Nyalain arang dan bakar dagingnya. Semuanya gue kerjai manual. Tapi hasil akhirnya setidaknya tak mengecewakan.

IMG_7877

Bisa makan sate padang di Swedia itu sunggulah sesuatu. Dari dapur sendiri pula. Dan semuanya gue kerjai pakai hati dan kesabaran. Karena buat gue, ngerjai sesuatu yang ribet kalau cuma asal, ya sama aja buang waktu kalau akhirnya ga kemakan.

93356B85-CF21-4D2F-988F-140510956E06

Untuk sate padang kali ini, gue bikin sesimple mungkin tahap tahapnya tanpa mengabaikan urusan rasa. Misalnya bagaimama menggunakan bumbu dalam semua proses. Baik bumbu untuk merebus, menumis atau bumbu kuahnya Gue bikin all in aja. Sampai gue niat bikin video tutorialnya di youtube. Biar followers yang suka komen dan nanya di DM lebih gampang ngepraktekin. Selagi bisa berbagi kenapa ga ya kan.

Kalau kalian mau mencoba resep sate padang gue ini, bisa klik video di bawah. Cuma ya itu, videonya masih amatiran. Modal handphone doang. Hehehe…

Random Cooking

Sejak berhasil membuat croissant beberapa waktu lalu, akhirnya gue jadi ketagihan mencoba panganan yang masih berhubungan dengan adonan pastry. Kebetulan juga, gue lagi pengen makan bolen pisang ala ala Kartika Sari Bandung atau bakpia Medan maupun martabak telor.

Selama ini kalau membuat bolen pisang atau martabak telor, gue cukup membeli bahan kulit siap pakai di supermarket. Tapi percayalah, yang namanya dibikin sendiri jelas beda rasanya. Misalnya untuk pisang bolen, hasilnya jadi lembut banget dan cenderung tidak kering bagian kulitnya. Sedangkan martabak telor juga gitu, ketika menggunakan kulit lumpia, jadi terlalu renyah banget dan begitu dingin mengempes. Sehingga gue putuskan untuk bikin sendiri bahan kulitnya. Dan oimakkk, berat badan gue makin memasuki tahap super. Itu enak banget.

78E645CA-BA42-48A4-BC08-A11A91E0989C

Berikut adalah menu menu yang gue jajal di dapur belakangan ini

Bolen Pisang

Meski belum sesempurna bolen pisang Bandung, tapi beneran mengobati rasa rindu gue akan panganan leker ini. Isinya sengaja gue bikin pisang yang super matang (biar aromanya lebih tajam) dicampur dengan butter cair dan sedikit garam. Baru ditambah ceres. Harumnya beneran deh, sampai ke lantai dua rumah. Gue ga bohong pemirsah!

40013319100_470e8e7846_o (1)

Martabak Telor

Huaaaaa, makan ini kayak kejar kejaran dengan suami. Saingan. Hahaha. Dia sukaaaaaa banget. Sampai gue bikin dua kali. Ternyata bikin kulit martabak telor itu ga susah. Asal adonannya jangan kebanyakan air atau jangan kekurangan air. Resepnya ada gue share di instagram @dapursicongok (ga wajib di follow kok). 

Palingan yang bikin nervesssss pas menggoreng. Kok kayaknya merasa ribet sendiri dan ga bisa sesantai atau secanggih si abang abang martabak. Duh lupakan deh main hempas hempaskan kulit martabak ke udara. Yang ada ketutup ke muka. Hahaha. Gue cuma ratakan di atas meja kerja cukup berhasil kok. Selama adonannya pas, oke oke saja.

Bakpia Medan

Yup, bakpia yang gue suka cuma bakpia Medan. Bakpia pathok atau apalagilah yang lainnya gue ga begitu tertarik. Menurut gue beda rasanya. Ini masalah selera lagi sih. Aslinya bakpia Medan layernya lebih kelihatan. Yang gue bikin ini kurang maksimal jika dilihat dari penampilan luar. Tapi kalau rasa sudah mendekati sasaran. Isinya kacang ijo. Next mau bikin isi kacang hitam. Nyam nyam!

26952626547_51ecc8507d_o

Gulai Kale

Daun kale bisa dibilang menjadi pengganti daun singkongnya anak rantau Indonesia di luar negeri khususnya eropa. Daunnya yang tidak selembut daun bayam atau kangkung, membuat daun kale lumayan cocok dimasak layaknya memasak daun singkong. Gue kemaren memasak kale dengan cara digulai. Pakai ikan teri goreng dan udang kecepe. Oimak harum banget.

Kalau di Swedia, daun kale ini sering dijadikan sop dan di saat perayaan natal menjadi salah satu menu tradisional. Gue cuma tertarik memasak daun kale dengan versi seperti ini. Atau ditumbuk halus, dimasak pakai santan. Seperti memasak daun ubi tumbuk versi daerah sumatra utara.

IMG_5201.jpg

Toast Skagen

Nah biar adil, yang ini menu ala ala bule. Toast Skagen ini lumayan sering dijadikan sebagai menu pembuka di resto fine dining di Swedia. Rasanya enak. Renyah di bagian rotinya dan leker di bagian toppingnya. Mayones, udang, kaviar, dill, atau ikan menjadi campuran utamanya. Mau ditambah varian lain sih oke oke saja. Kalau di Swedia, campuran mayones ini banyak dijual di supermarket. Tinggal beli aja.

Nikmati dunia dari dapur kita sendiri! 

40922070725_f3fbbf5264_o

Yok Bikin Paella!

Pertama nyobain Paella ketika liburan ke Canary Island beberapa bulan lalu. Waktu itu gue lumayan penasaran dengan jenis panganan yang satu ini. Hampir semua restoran di pinggir pantai Playa Del Ingles menyajikan Paella di pintu masuk restoran. Bukan saja karena sebutannya yang lucu, tapi juga penampakan di gambar lumayan mampu mencuri perhatian. Berhiaskan udang segar, kerang hijau, nasi kuning dalam wajan bertangkai. Mirip kuali.

IMG_6057.jpg

Karena belum tau dan berhubung lapar, sewaktu memesan Paella ini, gue lumayan tidak sabar karena nyampe di meja lama banget. Ternyata memang lama masaknya. Hampir satu jam. Karena begitu dipesan, ya berasnya dimasak saat itu juga. Gue taunya dari penjelasan pegawai restoran.

IMG_6056.jpg

Paella atau Paeyya, merupakan Traditional Rice Dish yang sangat terkenal di Spanyol. Asalnya dari sebuah kota bernama Valencia. Bahan inti Paella tentu saja beras. Menggunakan beras Spanyol dengan butiran bulat, yang jika dimasak akan menghasilkan nasi yang tidak lengket atau tidak pulen. Cenderung memisah butirannya.

IMG_6051.jpg

Sedangkan untuk rempah inti, Paella menggunakan Saffron, jenis rempah yang diklaim sebagai rempah termahal di dunia menurut versi barat. Di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Kuma Kuma atau serbuk bunga Pacar.

Gue bukan penyuka aroma saffron. Tapi khusus Paella, kok ya lumayan suka. Bahkan sudah dua kali gue memasak Paella di rumah. Tiba tiba kangen aja dengan rasanya. Meskipun tak seenak di restoran yang pernah gue coba, tapi seenggaknya lumayanlah. Ga susah kok ngebuatnya. Bisa dibilang anti gagal.

IMG_6059.jpg

Asal berasnya jangan memakai jenis beras Jasmine atau yang pulen. Pilihlah beras yang hasil matangnya tidak lengket satu sama lain atau gampang misah. Gue memakai beras Uncle Ben’s dengan tingkat kematangan 10 menit. Banyak sih jenis beras Uncle Ben’s. Jenis Jasmine pun ada. Jadi dibaca dulu keterangannya sebelum dibeli.

Menurut gue sih, memasak Paella itu seperti memancing kreasi memasak. Bumbu mau ditambah pun ga masalah. Mau dicampur apa aja juga oke. Tapi resep yang gue bikin ini sepertinya masih Paella yang sederhana. Gue sadur dari Jamie Oliver. Resepnya jitu dan anti gagal menurut gue.  Langsung aja ya!

IMG_6053 (1).jpg

Bahan:

  • 250 gr beras (gue pakai Uncle Ben’s)
  • 1500 ml air kaldu (gue pakai kaldu ayam, gue masak seperti memasak sop. Dikasih bawang putih, jahe, serai, jadi aromanya lebih harum)
  • 150 gr tomat parut
  • 1 sdm paprika bubuk biasa
  • 1 1/2 sdm smoke paprika bubuk
  • 1 sdt bubuk lada putih
  • garam secukupnya (tes rasa)
  • 0,5 gr bubuk saffron
  • 2 siung bawang putih, cincang halus
  • 450 gr daging ayam fillet (gue pilih bagian paha atas, karena lebih gurih dan tidak gampang kering
  • 8 buah udang gala (atau udang kupas berukuran agak besar)
  • 50-80 ml olive oil

Cara membuat:

  • Siapkan wajan bulat (gue pakai diameter 30 cm dengan tinggi 5-6 cm. Pas banget untuk porsi resep ini).
  • Hidupkan kompor di api sedang.
  • Panaskan minyak di wajan.
  • Tumis ayam hingga berwarna kecoklatan (sesekali dibalik ya).
  • Lalu masukkan udang, tumis hingga berubah warna.
  • Tambahkan bumbu bubuk, bawang putih, dan tomat.
  • Aduk pelan hingga merata.
  • Biarkan hingga terlihat agak sedikit mengering dan berminyak.
  • Lalu masukkan air kaldu dan garam, aduk sebentar (tes rasa).
  • Tambahkan saffron, aduk lagi.
  • Setelah mendidih, masukkan beras, aduk sebentar. Ngaduknya pelan aja.
  • Biarkan selama 5 menit.
  • Setelah 5 menit, naikkan api kompor ke level tinggi.
  • Masak sekitar 10 menit.
  • Setelah 10 menit, turunkan api ke level rendah.
  • Biarkan selama 6 menit dan jangan pernah diaduk lagi.
  • Setelah 6 menit, tutup wajan dengan alumunium foil.
  • Biarkan selama 5 menit.
  • Setelah 5 menit, matikan kompor.
  • Biarkan wajan tetap tertutup selama 5 menit.
  • Setelah itu baru buka alumunium foilnya dan Voilaaaaaa! Harum!
  • Beri hiasan sesuai selera. Bisa pakai rosemary, irisan paprika, daun bawang, atau apa saja.
  • Kalau mau berkreasi dengan sayuran juga boleh. Tapi komposisi bahan dikira kira aja agar berasnya matang sempurna.
  • Amannya sih untuk di awal ikuti resep dolo aja.
  • Selamat mencoba!

IMG_6055.jpg

Kue Lupis

Gue masih bisa mengurangi makan nasi. Tapi urusan ngemil kudapan khas Indonesia, duh…susah bangetlah mak. Gue doyan banget jajanan pasar. Apalagi sejak stay di Swedia, makin menjadi jadi sukanya karena susah dapatinnya kan. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang bikinin. Mana tahan lidah kalau harus nunggu pulang ke tanah air. Bisa ngences lautan.

Nah, kue lupis adalah jenis kue yang paling gue suka. Mostly kue berbahan ketan memang gue suka.

Tapi nih, gue tipikal orang yang lumayan cerewet urusan enak ganya makanan. Apalagi kalau sudah makan di luar. Protesnya banyak. Orang yang kenal baik dengan gue, tau banget sifat gue yang satu ini. Bisa sih gue toleran, tapi ya gitulah. Mukanya suka ga bisa nahan kecewa. Hahaha.

IMG_2282 (1).jpg

Meskipun di instagram banyak yang sharing resep, ga semua juga bikin gue ngiler. Hanya ada beberapa akun yang sanggup membuat gue ngences.

Atau kalau ada pertemuan yang menampilkan berbagai makanan khas Indonesia, terkhusus jenis kudapan, biasanya dari penampakannya gue cenderung tau enak apa ga. Contohnya nih kayak cendol, kue dadar atau klepon, kalau warnanya rada aneh alias pake pewarna dan bukan warna asli pandan, dijamin malas melirik tajam. Gue emang kejam urusan kayak gini. Hahaha.

IMG_2266 (1).jpg

Berangkat dari sinilah, jika gue pengen sesuatu, ya gue harus total bikinnya. Artinya kalau memang pengen, ya jangan nanggung. Kalau mau capek ya sekalian capek beneran. Pengen cendol misalnya, kalau sekiranya stok gula merah asli Indonesia habis, ya gue tahankan ga makan cendol. Ga mau pake gula merah ecek ecek. Trus kalau makan lupis, ya gue rela parut manual kelapanya. Ogah pake kelapa frozen.

Kesannya jongos banget ya ngomongnya. Ya tapi emang begitu. Mau gimana lagi. Selera lidah beda beda sih.

IMG_2281.jpg

IMG_2304

Dulu sewaktu pertama merantau ke Jakarta, menderita banget kalau pengen lupis, tekstur ketannya lembek ga padat, gula merahnya pucat dan encer. Kudu ke tempat tertentu baru bisa dapati lupis enak.

Menurut lidah gue, lupis yang enak ya itu tadi. Tidak lembek tapi padat. Agak kenyal dan sedikit lengket kalau dipotong pakai sendok. Gula merah jangan encer!

Nah, bicara gula merah, gue uda fanatik banget dengan gula merah Sumut. Gue bela belain import dari Indonesia. Walaupun sakit hati bayar ongkos kirimnya. Gue selalu pesan dari temen baik gue yang kebetulan tinggal dan bertugas di Kabanjahe Karo. Dia biasa ambil langsung dari rumah produksinya. Ampun deh, gula merahnya harum. Warnanya juga ga pucat. Bentuk sih urusan ke sekianlah. Penting rasanya.

IMG_2284

IMG_2283

Gue share resepnya ya :

Bahan:

  • 500 gr beras ketan
  • 1/2 butir kelapa (agak muda lebih bagus), buang kulit coklatnya dan parut. Taburi sedikit garam. Sisihkan. Kelapa gue ga kukus. Rasanya lebih enak tanpa dikukus. Lebih gurih.
  • Daun pisang, panaskan dolo biar tidak sobek kalau dilipat
  • Tusuk gigi secukupnya
  • Bahan kuah :
  • 130 gr gula merah kualitas bagus
  • 2 sdm gula pasir
  • 50 ml air
  • garam secukupnya
  • Air merebus secukupnya

Cara Membuat :

  • Cuci ketan, tiriskan dan beri sedikit garam ke dalamnya. Aduk rata (Gue ga pake kapur sirih dan ga direndam juga. No problem)
  • Ambil daun pisang dengan lebar kurang lebih 5 cm
  • Lipat seperti corong
  • Masukkan ketan kurang lebih 3/4 bagian corong
  • Tutup denga sisa ujung daun pisang
  • Rekatkan dengan tusuk gigi
  • Rebus di dalam air (usahakan lupis terendam air tapi jangan terlalu banyak banget airnya. Jangan sampai lupis mengapung2)
  • Tutup dan biarkan sampai matang (kurang lebih 2 jam)
  • Kalau sudah matang, angkat dan tiriskan
  • Biarkan benar benar dingin biar teksturnya lebih kenyal dan padat
  • Masak bahan kuah
  • Campur gula merah, gula pasir, 50 ml air dan garam. Masak di api kecil
  • Aduk aduk  sampai mendidih
  • Setelah mendidih, aduk terus sampai terlihat agak mengental
  • Dinginkan
  • Buka bungkus lupis, taburi dengan kelapa
  • Tuang gula merah sesuai selera.
  • Sajikan
  • Selamat mencoba

116DA4BD-FB0D-4D18-B013-7BD730039BCD.jpg

Sate Padang Memang Juara!

Yaiiiii!

Nyate lagi………….!

Kali ini gue bikin sate kesukaan. Sate Padang.

Meskipun sedikit ribet dibanding ngebikin sate kacang, tapi begitu sepiring sate padang di tangan lengkap dengan hempasan aroma bawang gorengnya, onde mande udaaaa……sodap nian pun.

Pertama ngebuat sate padang sekitar 3 tahun lalu. Cuma waktu itu masih sangat apa adanya. Pake bumbu standard. Kali ini gue bikin lumayan lengkap. Apalagi yang namanya Jinten dan biji Kapulaga ternyata ada dijual di supermarket Swedia. Modal translate di aplikasi, nemu deh namanya. Hahaha.

IMG_1177

Ayo, bikin sate padang ala kamu sendiri. Lebih puas. Kuahnya bikin sampai tumpah ruah. Hahaha.

Bahan Daging dan air :

  • 500 gr daging sapi segar
  • 1500 ml air

Bahan Bumbu Halus 1 :

  • 1 1/2 sdm cabe merah giling
  • 5 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 5 butir kemiri
  • 2 cm jahe
  • 1 1/2 cm kunyit

Bahan Bumbu Halus 2 :

  • 1 sdt merica butir
  • 1 sdt jinten
  • 1 sdt biji kapulaga
  • 3/4 sdm ketumbar biji

Bahan Bumbu Non Halus :

  • 10 butir cengkeh
  • 2 butir bunga lawang
  • 3 batang serai, geprak
  • 2 ruas ukuran jempol tangan lengkuas, geprak
  • 1 buah asam kandis
  • 5 lembar daun jeruk nipis

Bahan bumbu lain :

  • 3/4 sdm kayu manis bubuk
  • 1 1/2 sdm bumbu kari siap jadi atau bubuk kari kering

Bahan Tepung :

  • 70-75 gr tepung beras

Bahan bahan lain dan pelengkap :

  • Secukupnya tusuk sate, rendam terlebih dahulu kurang lebih 1 jam
  • Secukupnya lontong beras
  • Secukupnya bawang goreng
  • Secukupnya garam
  • Secukupnya minyak untuk menumis dan membakar
  • Secukupnya penyedap rasa (untuk sate padang sepertinya memang pakailah ya, lebih nancep…hahaha)
  • Secukupnya daun pisang sebagai alas di piring
  • Secukupnya arang

Cara Membuat :

  • Siapkan 1500 ml air di wadah
  • Tambahkan satu ruas lengkuas, 1 buah bunga lawang, satu batang serai, secukupnya garam dan masukkan daging
  • Rebus di api sedang kurang lebih 30 menit.
  • Tiriskan dan biarkan dingin
  • Potong dadu, jangan terlalu tebal
  • Sisihkan
  • Siapkan Bumbu
  • Haluskan bumbu 1 dan bumbu 2 secara terpisah
  • Lalu tumis dengan minyak di api sedang
  • Masukkan bumbu Non Halus dan bumbu lain (lihat bahan bahan ya)
  • Tambahkan daging yang sudah dipotong potong
  • Tambahkan 200 ml air dari sisa rebusan daging
  • Aduk sebentar lalu tutup
  • Sesekali boleh dibuka dan aduk lagi
  • Masak kurang lebih 45 menit agar daging lebih lembut (tergantung jenis dagingnya sih)
  • Menjelang 30 menit matang, tambahkan asam kandis. Jadi ga perlu di awal masukin asamnya. Biar rasanya ga asam banget. Kalau gue, setelah matang asamnya gue keluarin lagi dan buang. Ini sesuai selera aja sih
  • Lalu keluarkan daging dari kuali secara pelan pelan dengan sendok
  • Biarkan dingin dan mengering sendiri. Lalu tusuk daging ke tusukan lidi
  • Siapkan saos
  • Ambil 500 ml air dari sisa rebusan daging
  • Masukkan ke dalam sisa bumbu tumisan
  • Saring
  • Lalu ambil secukupnya air yang sudah disaring tadi dan campur ke dalam tepung
  • Aduk rata hingga tidak bergerindil
  • Campur kembali ke dalam sisa air tumisan
  • Masak di api kecil
  • Aduk aduk terus jangan ditinggal
  • Menjelang mengental, aduknya agak dicepetin biar tidak bergumpal
  • Biarkan sampai mengental dengan konsistensi jika dituang tidak lengket
  • Matikan kompor
  • Siapkan bahan bakaran arang
  • Olesi daging dengan sedikit minyak
  • Bakar di atas arang
  • Sebentar saja, asal aroma bakarannya keluar. Karena daging sudah matang  sebelumnya.
  • Siapkan irisan lontong dan taruh di atas piring berlapis daun pisang
  • Susun sate di atasnya
  • Tuang saos secukupnya
  • Beri taburan bawang goreng
  • Selamat mencoba
  • Nom nom nom

IMG_1176

IMG_1174

Salam dari

Swedia

Summer, Saatnya Nyateeeeee!

Summer buat gue sama artinya dengan Ngegrill….!

Berhubung gue tinggalnya di kawasan pedesaan, halaman rumah juga lumayan luas, ngegrill di halaman menjadi salah satu kegiatan favorite.

Dan tentu saja, kesempatan ngegrill ala anak bangsa pun terbuka lebar. Tee….sateeeeee!

Meskipun bisa dipanggang di dalam oven, tetap aja yang namanya sate lebih asoi jika dibakar barengan asap arang. Aromanya lebih yuhuii.

Salah satu sate yang selalu gue bikin di saat summer adalah sate kacang. Kebetulan suami gue suka. Dia memang penggila makanan yang berbau kacang.

IMG_9759.jpg

Bayangin aja, kemiri pernah dimakan karena dia pikir kacang. Kacang versi Indonesia katanya. Hajab kan. Hahaha.

Untuk sate kacang versi gue, gampang kok ngebuatnya, kebetulan ada beberapa followers di Instagram yang sudah mencoba dan syukurlah kata mereka cocok resepnya.

IMG_9761.jpg

Bahan Sate :

  • 650 gr daging ayam filet (potong dadu kecil. Lalu rendam dengan garam, sedikit merica bubuk dan minyak selama 1/2 jam).
  • Tusuk sate (rendam selama 1 jam dulu dengan air)

Bahan Saos :

  • 150 gr kacang tanah (goreng dan haluskan. Bisa paka blender juga)
  • 2 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 5 lembar daun jeruk nipis
  • 2 sdm penuh kecap manis
  • 30 gr gula merah
  • garam secukupnya
  • 500-600 ml air (kekentalan sesuai selera)

Bahan pelengkap :

  • Lontong
  • Jeruk Limau
  • Bawang goreng
  • Sambel rawit

Cara membuat :

  • Siapkan bumbu saos
  • Haluskan bawang, lalu tumis dengan sedikit minyak, beri air, kacang, garam, dan jeruk nipis, gula merah dan kecap. Masak di api kecil.
  • Aduk sesekali, dan masak hingga relatif mengental dan terlihat mengkilat berminyak
  • Sisihkan
  • Siap bahan sate
  • Tusuk sate ke tusukan
  • olesi dengan sedikit saos kacang
  • Bakar di atas arang atau di dalam oven
  • Setelah matang, susun di piring bersama lontong
  • Lalu tuang saos kacang secukupnya
  • Beri bahan pelengkap lainnya seperti sambel, limau dan jangan lupa taburan bawang merah.
  • Selamat mencoba
  • Untuk Lontong cara membuatnya juga gampang. Gue cuma pake alumunium foil. Gue gulung pake Rolling Pin, ujungnya direkat seperti pita permen. Lalu masukin beras yang sudah dicuci dengan ukuran setengah bagian panjang ukuran lontong yang dimau. Baru rekat lagi bagian ujungnya. Rebus kurang lebih 2 jam. Lalu tiriskan dan biarkan dingin baru dipotong. Berasnya juga gue ga pake rendam dolo, jadi jadi aja tuh. Hahaha.

Salam dari

Swedia