Kue Lupis

Gue masih bisa mengurangi makan nasi. Tapi urusan ngemil kudapan khas Indonesia, duh…susah bangetlah mak. Gue doyan banget jajanan pasar. Apalagi sejak stay di Swedia, makin menjadi jadi sukanya karena susah dapatinnya kan. Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang bikinin. Mana tahan lidah kalau harus nunggu pulang ke tanah air. Bisa ngences lautan.

Nah, kue lupis adalah jenis kue yang paling gue suka. Mostly kue berbahan ketan memang gue suka.

Tapi nih, gue tipikal orang yang lumayan cerewet urusan enak ganya makanan. Apalagi kalau sudah makan di luar. Protesnya banyak. Orang yang kenal baik dengan gue, tau banget sifat gue yang satu ini. Bisa sih gue toleran, tapi ya gitulah. Mukanya suka ga bisa nahan kecewa. Hahaha.

IMG_2282 (1).jpg

Meskipun di instagram banyak yang sharing resep, ga semua juga bikin gue ngiler. Hanya ada beberapa akun yang sanggup membuat gue ngences.

Atau kalau ada pertemuan yang menampilkan berbagai makanan khas Indonesia, terkhusus jenis kudapan, biasanya dari penampakannya gue cenderung tau enak apa ga. Contohnya nih kayak cendol, kue dadar atau klepon, kalau warnanya rada aneh alias pake pewarna dan bukan warna asli pandan, dijamin malas melirik tajam. Gue emang kejam urusan kayak gini. Hahaha.

IMG_2266 (1).jpg

Berangkat dari sinilah, jika gue pengen sesuatu, ya gue harus total bikinnya. Artinya kalau memang pengen, ya jangan nanggung. Kalau mau capek ya sekalian capek beneran. Pengen cendol misalnya, kalau sekiranya stok gula merah asli Indonesia habis, ya gue tahankan ga makan cendol. Ga mau pake gula merah ecek ecek. Trus kalau makan lupis, ya gue rela parut manual kelapanya. Ogah pake kelapa frozen.

Kesannya jongos banget ya ngomongnya. Ya tapi emang begitu. Mau gimana lagi. Selera lidah beda beda sih.

IMG_2281.jpg

IMG_2304

Dulu sewaktu pertama merantau ke Jakarta, menderita banget kalau pengen lupis, tekstur ketannya lembek ga padat, gula merahnya pucat dan encer. Kudu ke tempat tertentu baru bisa dapati lupis enak.

Menurut lidah gue, lupis yang enak ya itu tadi. Tidak lembek tapi padat. Agak kenyal dan sedikit lengket kalau dipotong pakai sendok. Gula merah jangan encer!

Nah, bicara gula merah, gue uda fanatik banget dengan gula merah Sumut. Gue bela belain import dari Indonesia. Walaupun sakit hati bayar ongkos kirimnya. Gue selalu pesan dari temen baik gue yang kebetulan tinggal dan bertugas di Kabanjahe Karo. Dia biasa ambil langsung dari rumah produksinya. Ampun deh, gula merahnya harum. Warnanya juga ga pucat. Bentuk sih urusan ke sekianlah. Penting rasanya.

IMG_2284

IMG_2283

Gue share resepnya ya :

Bahan:

  • 500 gr beras ketan
  • 1/2 butir kelapa (agak muda lebih bagus), buang kulit coklatnya dan parut. Taburi sedikit garam. Sisihkan. Kelapa gue ga kukus. Rasanya lebih enak tanpa dikukus. Lebih gurih.
  • Daun pisang, panaskan dolo biar tidak sobek kalau dilipat
  • Tusuk gigi secukupnya
  • Bahan kuah :
  • 130 gr gula merah kualitas bagus
  • 2 sdm gula pasir
  • 50 ml air
  • garam secukupnya
  • Air merebus secukupnya

Cara Membuat :

  • Cuci ketan, tiriskan dan beri sedikit garam ke dalamnya. Aduk rata (Gue ga pake kapur sirih dan ga direndam juga. No problem)
  • Ambil daun pisang dengan lebar kurang lebih 5 cm
  • Lipat seperti corong
  • Masukkan ketan kurang lebih 3/4 bagian corong
  • Tutup denga sisa ujung daun pisang
  • Rekatkan dengan tusuk gigi
  • Rebus di dalam air (usahakan lupis terendam air tapi jangan terlalu banyak banget airnya. Jangan sampai lupis mengapung2)
  • Tutup dan biarkan sampai matang (kurang lebih 2 jam)
  • Kalau sudah matang, angkat dan tiriskan
  • Biarkan benar benar dingin biar teksturnya lebih kenyal dan padat
  • Masak bahan kuah
  • Campur gula merah, gula pasir, 50 ml air dan garam. Masak di api kecil
  • Aduk aduk  sampai mendidih
  • Setelah mendidih, aduk terus sampai terlihat agak mengental
  • Dinginkan
  • Buka bungkus lupis, taburi dengan kelapa
  • Tuang gula merah sesuai selera.
  • Sajikan
  • Selamat mencoba

116DA4BD-FB0D-4D18-B013-7BD730039BCD.jpg