Mendadak Ke”Lontong”an

Beberapa minggu belakangan ini gue kangen banget makan Lontong Medan. Semenjak tinggal di Swedia, mendadak gue genius banget masak si lontong ini. Ada beberapa kali gue bikin.

Cuma ya itu, Lontong Medan termasuk jenis lontong yang isinya komplit. Agak ribet masaknya. Karena isinya tidak melulu sayur lodeh. Melainkan bakwan, teri kacang, keripik kentang, bihun goreng, tauco pedas, serundeng, bahkan sampai edisi luxury pun ada, dengan menambahkan daging rendang maupun gulai ayam.

Lontongnya juga sebagian besar dimasak dengan bungkusan daun pisang. Jarang pakai plastik.

IMG_7830.jpg

Menurut gue, ciri khas Lontong Medan itu rasanya relatif pedas, aroma tauconya khas banget. Trus bihun goreng dan bakwannya itu loh, memang pernak pernik yang cocok banget saling bersanding. Makanya kalau bikin Lontong Medan, sekalipun rempongnya ga ketulungan, gue jabani bikin komplit. Maksudnya kalau memang bener bener pengen, ngapai juga kerja nanggung. Sekalian lebih capek pun rela. Tapi ya puas. Serasa makan lontong di Medan aja.

Pokoknya, yang namanya tauco, bakwan, bihun goreng, wajib ada ketika gue masak Lontong Medan. Kalau rendang sih relatiflah. Tergantung mood. Apalagi serundeng, gue kurang suka.

860DDE42-D650-4A5C-9D67-E7081ABE4FCA.jpg

Menjelang lebaran, mulai deh kepala gue encok (encok kok di kepala sih?) gegara melihat foto makanan khas lebaran berseliweran di Instagram. Termasuklah si lontong ini.

Dan puncaknya adalah hari ini. Suasana menyambut lebaran di Instagram berhasil membuat mata makin nanar. Ga bisa nahan selera lagi. Makin Kelontongan deh.

IMG_7832

Begitu pulang ibadah, langsung grasak grusuk di dapur. Oalamak, uda kayak persiapan open house aja. Gue nyaris seharian di dapur.

Rendang, opor ayam, bakwan, bihun goreng, tauco cabe hijau, telur sambal, lodeh nangka, lontong, menjadi bukti kerempongan gue tadi.

Mana lontongnya gue rebus pakai daun pisang. Padahal daun pisang mihilll banget di Swedia. Sangkin terobsesinya harus sama dengan lontong di Medan. Tapi memang lebih harum sih kalau pakai daun pisang.

Belum lagi ketika masak rendang waktunya lumayan lama. Karena gue bikin sampai agak kering. Sedangkan opor ayam memang sengaja gue masak untuk suami. Karena opor no chili kan.

Tapi begitu selesai, OMG, terbalaskan sudah. Makannya pun sambil disayang sayang.

EA47E70B-551E-4792-A3F5-B03E3C899E1F.jpg

Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri buat teman teman yang merayakan!

Salam dari

Swedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s