Kaffestuga Hemslöjd, Toko Kece yang Bikin Betah

Kamu suka belanja di toko souvenir ga sih? atau di toko kerajinan tangan gitu. Kalau gue termasuk suka. Apalagi kalau tempatnya seperti Kaffestuga Hemslöjd yang terletak di kawasan Tällberg  Dalarna ini. Bikin betah.

IMG_9876.jpg

Jadi sesuai namanya, Kaffestuga Hemslöjd merupakan bangunan toko souvenir dan barang hasil kerajinan tangan warga lokal dan sekaligus ada cafe juga di lantai duanya. Kenapa sih gue niat banget sampai nulis toko ini di blog? ya karena gue suka banget dengan konsepnya.

IMG_9880
Toko souvenir dan kerajinan tangan Hemslöjd. Sukak!

Hemsslöjd tidak seperti toko souvenir atau kerajinan tangan kebanyakan yang pernah gue lihat sejauh ini. Mulai dari bangunan wooden house hingga interior shabby vintagenya lumayan mencuri perhatian gue. Tidak monoton. Barang yang dijual tidak asal ditumpukin tanpa sentuhan interior sama sekali. Sebagian besar ditata semenarik mungkin. Jenis barangnya pun lucu lucu tidak seperti barang kebanyakan. Dan sebagian besar merupakan handmade. Candle holder, bantal, sendal, rumah tradisional Dalarna, telenan, patung domba, gantungan kunci, dan masih banyak lagilah. 

IMG_9686.jpg

IMG_9685
Ini dia ruangan tempat pengunjung istirahat dan duduk santai. Suka banget

Berada di dalam serasa memasuki museum, karena secara tidak langsung barang barang yang dijual mewakili cerita rakyat masyarakat Dalarna. Dan yang terpenting menurut gue interior di dalamnya itu loh, sukaaaa bangetlah. Mungkin karena dominan kayu ya. Jadi feeling warm aja di dalam. Homi banget.

IMG_9699.jpg

IMG_9698.jpg
Bantal ini dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Anyone?

Toko ini juga punya satu ruangan berisi meja dan kursi kayu plus pernak pernik pelengkap. Mirip rumah rumah di majalah tapi atmosfirnya vintage banget. Mana waktu berkunjung pas pula turun salju. Memandang keluar jendela serasa gimana aja gitu. Berasa tidak di toko souvenir. Happynya lagi ternyata ruangan ini bisa digunakan pengunjung untuk bisa duduk beristirahat juga. Kerenlah.

IMG_9694.jpg

IMG_9695
Candle holdernya lucu. Wanita dan pria berpakaian khas Leksand Dalarna. Lilinnya dipasang di kedua tangan patung. Harganya sekitar 750 sek atau sekitar 1,2 juta rupiah per satuannya. 

Enaknya lagi nih, masuk ke dalam toko feel free bisa melihat lihat sepuasnya tanpa terbeban harus membeli. Tidak diintilin pegawai tokonya. Cuma ada ga enaknya juga. Harganya bikin pusing. Hahaha.

IMG_9680.jpg
Candle holdernya sangat simple dan ukurannya juga kecil. Berhubung designnya autentik jadi gitu deh. Satunya dihargai 550 sek atau setara 900 ribu rupiah 

Setidaknya menurut kemampuan kocek gue sih relatif mahal ya. Bayangin aja untuk sebuah candle holder rata rata dihargai jutaan bahkan mencapai 2495 sek atau setara 4 juta rupiah. Padahal menurut gue sih biasa aja. Menarik juga ga. Jadi ingat candle holder di rumah yang modelnya sama persis seperti di toko ini. Ceritanya pertama tiba di Swedia, gue tidak mengerti tentang kualitas barang barang peninggalan mendiang mertua. Sempat berkeinginan hendak masukin ke gudang sangkin ga suka dengan modelnya. Bikin sumpek aja banyak barang. Gue pikir cuma tempat lilin biasa. Ternyata barang bagus. Itupun setelah dikasih tau suami dan tetap aja sampai sekarang ga ngaruh sih. Gue kaga suka dengan model dan warnanya. Hahaha. Menurut kalian modelnya cakep ga? Contohnya bisa lihat gambar di bawah, candle holder berwarna hitam lengkap dengan simbol ayam di atasnya.

Cuma gue ga punya foto yang di toko. Jadi gue fotoin candle holder yang di rumah aja. Bentuk dan warnanya sama persis. Menurut gue dihargai mehong sampai segitu karena selain handmade bahannya juga terbuat dari iron. Dan ini lumayan berat. Designnya mewakili simbol kota Leksand Dalarna, kota dimana kawasan Tällberg berada.

Dan ternyata candle holder ini memiliki philosophy kepercayaan kristen yang bisa diartikan sebagai berikut :

Bentuk hati adalah tanda cinta kasih, 10 buah daun sebagai lambang 12 murid Jesus, 5 lubang di sebelah kiri kanan sebagai tanda 10 hukum taurat, 3 buah lilin sebagai simbol trinitas (Bapa, Anak dan Roh Kudus), ayam sebagai simbol bahwa manusia harus tetap spirit dan tidak malas. Kurang lebih begitu.

Selain itu toko Hemslöjd juga memiliki barang lain yang tak kalah heboh harganya. Seperti bantal yang dihargai 2500 Sek atau setara 4,1 juta rupiah. Ada juga telenan kayu seharga 450 sek atau setara 750 ribu rupiah, rumah puzzle khas Tällberg Dalarna seharga 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah. Jelasnya bisa klik link video di akhir tulisan ini. 

IMG_9696.jpg
Bangunan puzzel ini menarik sekali.  Mewakili rumah, cottage dan bangunan di kawasan resort Tällberg. Rumah rumah ini bisa kita bongkar pasang layaknya puzzel. Harga berkisar antara 350 hingga 500 sek atau setara 600 hingga 800 ribu rupiah

Ada sih yang masih terjangkau seperti patung domba ukuran kecil seharga 200 ribu rupiah atau gantungan kunci kecil seharga 60 ribu rupiah. Tapi mostly harganya memang harga langit untuk ukuran buah tangan atau oleh oleh. Cuma untuk kualitas emang bagus sih karena menggunakan bahan asli dan pengerjaan masih manual alias handmade. 

IMG_9711
Yang terbawa pulang. Gue sukaaaaaa banget patung mungil domba ini. Harganya sekitar 125 sek atau setara 200 ribu rupiah. Bulunya dari domba asli.

Toko Hemslöjd ini sudah tayang di Net Tv program Net 10 beberapa waktu lalu. Kalau mau melihat langsung videonya bisa klik link di bawah ini.

http://netcj.co.id/Travelling/video/225263/Barang-di-Toko-Ini-Mahal-tapi-Bikin-Betah

Satu Malam di Dalecarlia

Bulan February lalu, gue dan suami berkunjung untuk kesekian kalinya ke sebuah desa kecil bernama Tällberg. Desa kecil sekaligus resort favorite di Dalarna Swedia. Berbeda dengan kunjungan kunjungan sebelumnya, kunjungan kali ini kami putuskan untuk stay one night di Tällberg. Lucu juga kalau dipikir secara Tällberg hanya sejam limabelas menit dari rumah. Memutuskan untuk stay one night bukanlah keinginan mendadak. Sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya. Hitung hitung ngerayain pertambahan umur gue yang semakin menapak senja itu. Hahaha. 

Meskipun cuma satu malam, setidaknya otak gue lumayan terhibur dari kelelahan musim dingin yang berkepanjangan. Sejenak melupakan tugas tugas sekolah dan tidak mikirin dapur juga. Selain itu ada alasan lain yang membuat kami memilih bermalam di Tällberg. Gue rindu jaccuzi dan dipijet!

IMG_8764
View dari jendela kamar

Iya, gue suka banget yang namanya jaccuzi dan massage. Kebetulan di Tällberg ada hotel yang memiliki fasilitas spa. Pilihan kami jatuh ke Quality Hotel Dalecarlia. Dari sekian banyak penginapan di Tällberg, bisa dibilang Dalecarlia lumayan digemari. Karena selain viewnya yang apik langsung menghadap danau Siljan (danau terbesar di Dalarna), hotel ini pun memiliki fasilitas spa relatif lengkap.

Jadi kebanyakan orang yang menginap di Dalecarlia salah satunya karena fasilitas spa ini. Untuk foto foto Dalecarlia bisa lihat di sini.

Kebanyakan hotel di Swedia tidak dilengkapi fasilitas spa seperti massage, sauna, kolam renang hangat, ruangan khusus relaksasi hingga jacuzzi. Tapi Dalecarlia punya. Bahkan hotel ini punya hot tub out door (gue ga yakin namanya ini apa ga). Berendam di air hangat menjurus panas dengan view nature. Dan itu di suhu minus derajat celcius. Penggemarnya banyak. Termasuk gue dan dan suami.

IMG_8734

Yang gue tau orang orang Nordik sepertinya suka banget berendam di out door dekat alam terbuka gitu. Sekalipun suhunya di bawah nol derajat celcius. Bahkan ada yang setelah berendam di air panas langsung melompat ke air danau yang ga ngerti lagi deh dinginnya kaya apa. Dari situ mereka lanjut sauna dan berendam lagi.

Kegiatan ini sudah dilakukan dari jaman kapan tau dan konon katanya bangus banget buat peredaran darah. Gue pernah melihat langsung sehabis berendam mereka berlari ke arah danau dan melompat ke dalam. Speechless gue. Air danau di saat winter ga tanggung loh dinginnya. Apalagi lompat ke dalam modal kulit doang. Brrrr!

Berendam di out door memang sensasional menurut gue. Sudah dua kali gue coba. Jadi begitu keluar dari ruangan (waktu itu suhu sekitar minus 2 hingga 4 derajat celcius), badan rasanya seperti korslet. Dingin banget. Tapi begitu masuk ke dalam air, udah deh dinginnya ga berasa lagi. Apalagi kalau viewnya bagus seperti di Dalecarlia ini. Langsung menghadap danau Siljan. Sayangnya pada saat kami berendam sudah malam. Jadi ga terlihat apa apa lagi. Fotonya bisa lihat di sini

IMG_8733

Pokoknya malam itu gue ga mau rugi. Gue cobain semua. Kecuali kolam renang ya karena gue ga bisa berenang. Rasanya badan dan kepala gue ringan banget. Sebenarnya kalau mau jujur, buat gue massage di Indonesia udah paling asik. Baik dari segi harga maupun lamanya. Pas nyobain massage di Dalecarlia ini, rasanya baru aja mata gue merem uda selesai aja dong. Cuma 20 menit dan pijitannya kurang berasa. Melayang deh uang sekejap. Hahaha.

IMG_8726.jpg

Tapi begitupun rasa rindu akan pijitan di badan lumayan terobati.  Sayangnya gedung spa di Dalecarlia ini terpisah dari bangunan hotelnya. Harus jalan ke bawah lagi. Tidak jauh sih. Sambil jalan bisa melihat view sekitar. Paling lima menit. Setiap tamu yang menginap sudah mendapat kupon gratis masuk ke dalam. Tapi khusus massage harus bayar lagi.

IMG_8728.jpg
Lobby atas 

Dalecarlia adalah hotel pertama yang dibangun di Tällberg. Bangunan luarnya khas banget. Terbuat dari kayu berwarna merah. Interior di dalam hotel merupakan perpaduan modern dan old style. Bahkan ruangan kamarnya mirip banget dengan design interior IKEA gitu. Scandinavia di era modern.

IMG_7286

IMG_6673
Restoran dan bar

Tapi ada satu hal yang pengen gue ceritain nih. Sangat mencuri perhatian gue. Dan buat gue ini keren!

Biasanya lobby hotel letaknya kebanyakan di lantai dasar kan ya atau di lantai satu gitulah. Tapi Dalecarlia ini agak beda. Selain lantai dasar, lantai atasnya juga terdapat lobby yang dipenuhi barisan sofa. Menurut gue dibuat sedemikian karena dari lantai atas ini tamu hotel bisa duduk santai sambil melihat view danau Siljan. Kalau dari lantai dasar viewnya kurang jelas. Selain itu ada perapiannya juga. Duh gue beneran suka kalau ada perapian. Buat gue suara gemericik api di perapian seperti membuat gue lupa kalau di luar sana masih banyak tumpukan salju.

IMG_8754.jpg

IMG_8716.jpg

IMG_8724
Ruangan dengan interior yang super antik. Horor tapi keren. Berbanding terbalik dengan interioir di lobby hotel. 

Nah, di samping lobby atas ini terdapat satu ruangan kecil. Mirip dapur jaman bahela (baca dapur horor). Ruangan ini sengaja ditempelkan menjadi satu bagian dengan hotel.  Berisi barang barang antik.

Bertolak belakang dengan interior di sekitar lobby yang terlihat lebih modern dan fresh, ruangan kayu ini terkesan suram. Tapi bersih. Bau kayunya berasa banget. Konon bangunan kayu ini sudah berumur ratusan tahun. Autentik bangetlah. Bangunan sengaja dipindahkan dan disatukan dengan bangunan hotel. Fungsinya? Cuma buat hiasan doang.

IMG_8721.jpg
Ayunan bayi berumur ratusan tahun ini pun menjadi props yang mampu membanggakan pihak hotel. Hahaha. 

Begitulah rata rata hotel di Dalarna. Selalu berlomba menampilkan sesuatu yang antik. Karena antik itu menjadi salah satu nilai jual bagi para tamunya. Semacam prestise.

Jadi ketika berjalan di sekitar lobby dan masuk ke ruangan antik ini, atmosfirnya berasa beda banget. Mulai dari lemari, perapian, meja, jam kayu, sampai ayunan bayi juga ada yang umurnya ditaksir sekitar 150 tahun. Aji gile.

IMG_8798
Salju dan hotel kayu di belakang itu. Cintahh..

Sebelum check in dan setelah check out hotel, kami punya banyak waktu untuk menikmati keindahan Tällberg. Sekalipun winter, tetap aja cakep. Sebelum pulang Tällberg sempat turun salju. Duh beneran cantik banget deh. Kolaborasi salju dengan bangunan kayu tua berwarna merah. Serasa di film film. Rasa rasanya setiap sudut cantik banget buat difotoin. Di depan kandang kuda aja kece. Hahaha.

Narsis dengan backround layaknya di foto kalender, kartu natal atau cerita dongeng maupun film, rasa rasanya hayuuuu deh bang!  

IMG_6944

IMG_6951

IMG_7337
One of my favorite

Makan Malam di Åkerblads Tällberg

Seperti janji gue sebelumnya kali ini gue akan bercerita tentang sebuah hotel bernama Åkerblads, salah satu dari sekian hotel besar yang ada di Tällberg. Tällberg sendiri merupakan kawasan wisata yang terkenal memiliki banyak penginapan vintage.

Kunjungan gue dan suami ke Åkerblads sebenarnya bukan untuk bermalam melainkan ingin menikmati makan malam cantik. Cieeee.

Jadi ceritanya tanggal 26 Juli yang lalu kami merayakan anniversary yang kedua. Perayaan standardlah. Pengen dinner berdua. Dan pilihan pun jatuh ke hotel Åkerblads.

“Dont judge a book by its cover”, setidaknya kalimat ini sangat tepat untuk menyadarkan gue, bahwa yang terlihat di luar dan di dalam itu bisa berbeda. Sekilas Åkerblads memang terlihat relatif sederhana. Padahal satu langkah lagi hotel ini bisa menambah koleksi deretan bintang lima di dindingnya. Bahkan raja Swedia pun pernah singgah di hotel yang terkenal dengan fine diningnya ini.

img_8812
Hotel Åkerblads. Terlihat sederhana untuk ukuran hotel berbintang
IMG_8497.JPG
Bangunan hotel paling ujung
IMG_8498.JPG
Masih dari salah satu bagian hotel Åkerblads
IMG_8496.JPG
Masih dari salah satu bagian Åkerblads

Namun dibalik kesederhanaan bangunan luarnya, hotel ini menyimpan daya tarik lain. Khususnya pecinta bangunan dan barang antik, apalagi yang punya hobby photography. Rasanya pengen motoin semua props di sekitar hotel. Mulai dari bangunan kayu berwarna merah, gerobak antik berisi bunga bunga berwarna purple, pagar kayu yang sangat rustic, bangku dan meja bergaya shabby vintage, sampai halaman hotel yang diberi selipan nuansa farmer. Fotogenik banget.

IMG_8494.JPG
Gerobak retro plus bunganya
IMG_8530.JPG
Meja dan kursi di luar hotel
IMG_8521.JPG
Halaman Åkerblads.  Adem

Åkerblads sendiri memiliki bangunan yang sangat panjang. Sehingga wajar hotel ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap layaknya hotel di kota besar. Seperti ruangan spa, restoran fine dining, sampai conference room.

img_8528
Åkerblads berikut pagar rustic

Sewaktu gue masuk ke lobby hotel, gue sempat mikir, kok lobbynya sempit banget. Uda gitu kesannya seperti losmen. Dan puncaknya adalah, ketika kaki melewati tangga hotel. Menurut gue sungguh terlalu. Ada suaranya. Berdenyit…..Ngik!  Hahahhaha.

img_8502
Lobby hotel yang sangat sederhana. Menurut gue tentunya. Padahal menurut suami yang mengerti  barang antik, justru interior lobby ini luar biasa.  Retro yang availabel kata dia. Hahahahha
IMG_8814.JPG
Tangga yang kalau diinjek berdenyit….Ngik!

Barulah setelah sampai di lantai dua, gue merasa sedikit ada yang berbeda. Entah apanya. Pokoknya auranya lebih enak dilihat. Padahal dinding hotel tetep terlihat tua.

img_8503
Lantai dua  sekitar restoran di hotel Åkerblads. Gue lebih suka

Sebelum masuk ke ruangan restoran, kami harus menunggu sebentar. Sedikit mengantri dari tiga pasangan di depan kami. Tidak lama sih. Cuma menunggu pegawai restoran memeriksa daftar nama nama yang sudah mereservasi meja aja. Dan setelah oke, kami pun dipersilahkan masuk.

img_8516
Ruangan fine dining
img_8511
Table

Begitu masuk, gue ga perlu waktu lama untuk langsung terpana dengan interior restoran. Rasanya kalau melihat bangunan dari luarnya, ditambah lobby hotel yang nyaris seperti losmen itu, ga nyangka aja kalau restoran di hotel Åkerblads memiliki interior ruangan seperti ini. Klasik dan elegan. Dan bernuansa romantis tentunya. Cahaya remang lampu diantara meja yang tertutup balutan bahan berwarna hijau pastel, berikut gelas, sendok dan garpu serta serbet yang di tata sedemikian. Lagi lagi standard restoran untuk sebuah fine dininglah. Cuma yang membedakannya, sempat terkecoh dengan bangunan luarnya. Dan jujur, gue memang paling suka memperhatikan interior seperti ini.

img_8513
Ruangan fine dining

Konon katanya, hotel Åkerblads adalah salah satu hotel besar di Tällberg yang memang terkenal dengan restorannya yang oke. Dan memang terbukti sih. Tidak hanya menawan di interior, makanannya pun enak. Bicara soal makanan, selalu deh kalau makan di restoran sekelas ini, beef steaknya minim sauce. Atau kalau emak gue bilang kuah kali ya. Hahahaha

img_8515
Table
img_8508
Appetizer
img_8510
Appetizer

Ya memang sih, idealnya daging dengan kualitas bagus tidak dimakan dengan sauce yang banyak, biar citra rasa asli daging lebih berasa. Tapi namanya gue, setengah udik, jadi kalao sauce tidak tumpah ruah di piring kurang puas. Kebiasan di rumah kalau masak sendiri ya gitu. Langsung main tumpahin. Hahaha

img_8509
Main food

Sehabis fine dining, kami pun berniat menilik hotel ini. Ternyata semakin gue lihat, Åkerblads memiliki style tersendiri untuk menampilkan kesan klasik yang elegan di setiap sudut ruangnya. Kalau kata suami, gue belum paham banget nilai nilai barang antik dan interiornya, jadi terkesan tidak ada yang istimewa. Contohnya seperti lobby hotel yang gue bilang mirip losmen berikut tangga yang berdenyit tadilah. Tapi menurut suami, malah interior seperti itu memperlihatkan keunggulan hotelnya. Memiliki barang antik yang available.  Nilai jualnya justru di situ. Haiiiyaaaaa.

img_8505
Foto keluarga besar pemilik Åkerblads. Sudah generasi kesekian.

Dan semakin percayalah gue, ketika melihat beberapa piagam yang bergantungan di dinding hotel. Ternyata Akerblads sudah banyak menerima penghargaan sebagai hotel terbaik.

img_8504
Piagam penghargaan yang pernah diterima hotel Åkerblads

Namun dibalik itu semua, apapun itu, gue tetap senang bisa menikmati makan malam yang indah berdua suami di tempat ini. Tack så jätte mycket min älskling!!

IMG_8495.JPG
Suka banget lihat dekornya
img_8501
Åkerblads
img_8522
Halaman Åkerblads
img_8526
Bagian belakang hotel
IMG_8527.JPG
Bangkunya pengen minta diangkut deh

IMG_8524.JPG