Gue Introvert atau Schizoid?

Basicly gue bukan seorang yang kurang bergaul. Tapi terlalu bergaul pun tidak juga. Yang gue ingat, sewaktu kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), gue lumayan punya banyak teman. Terutama dari lingkungan sekolah maupun bimbingan les di luar sekolah.

Dari mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, gue pasti punya genk alias teman teman kompak. Dan sejujurnya jika sudah klik banget di hati,  gue cenderung malas mengembangkan sayap ke sana kemari demi mencari teman baru.

Masih ingat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), gue punya beberapa teman dekat. Kemana mana selalu bersama. Pulang sekolah suka main bareng. Nginap di rumah. Sampai dikejar kambing pun pernah bareng bareng. Teman gue pipis di celana sangkin takutnya. Hahaha.

Sangkin dekatnya,  teman sekelas yang lain memberi julukan genk “Madona” ke kami. Entah apa maksud mereka memberi julukan itu. Dari segi penampilan dan wajah saja kami sangat berbeda jauh dengan Madona. Yang satu blonde abis sedangkan kami siborong borong abis. Kocak.

Begitupun di tingkat SMA hingga kuliah, gue selalu punya genk sendiri. Dari yang cuma kenal muka tapi jarang bicara, kenal baik, hingga kenal sangat baik.

Khusus di kalangan teman kampus, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan dua orang teman baik. Sedangkan yang lain kadang kadang bicara, jalan bareng, tapi tidak sesering dengan kedua teman gue tersebut. Kami bertiga pernah dijuluki “trio”.

Tapi justru setelah tamat kuliah dan merantau, kesempatan mengenal lebih baik teman teman sekampus yang lain semakin terbuka. Dari yang tidak begitu dekat menjadi lebih dekat. Satu sama lain lumayan sering nongkrong bareng di akhir pekan.

Memasuki dunia kerja di ibukota, padatnya waktu kerja sedikit banyak mempengaruhi lingkup pertemanan gue. Bahkan gue tidak punya banyak waktu untuk bersosial media. Paling di Path. Gue malah ga punya instagram.

35138529154_4668a8fc8d_o.jpg

Bertemu teman semakin hari semakin jarang. Weekend lebih sering gue habiskan di apartemen atau di mall tak jauh dari tempat tinggal. Macetnya Jakarta yang sudah tidak manusiawi itu sedikit banyak membuat semangat bersua teman semakin kendor. Yang satu di Jakarta mana dan gue di Jakarta belahan mana. Lingkungan kantor pun tak sempat membuat gue banyak bergaul dengan yang lain. Paling sekedarnya aja. Teman dekat di kantor paling cuma dua tiga orang.

Dan tidak hanya itu, lelah di pekerjaan, usia yang semakin bertambah, tenaga yang mulai letoi,  membuat gue cukup puas dengan segelintir teman. Segelintir teman yang kira kira easy dan sehati diajak jalan bareng tanpa harus pusing memutuskan ketemu dimana. Teman yang punya selera sama dalam memilih tempat ngemall atau nongkrong. Daerah kelapa gading aja. Dekat ke apartemen gue. Hahaha (egois).

Sadar atau tidak, gue tidak seantusias di kala muda dulu. Ini terjadi bukan karena gue kecewa dengan pertemanan yang ada. Sama sekali tidak. Seingat gue, semua teman yang gue kenal rata rata adalah teman yang baik. Bukan teman yang menusuk dari belakang. Bukan teman yang dengki. Bukan teman bermuka dua dan pengadu domba. Bahkan mereka punya kepedulian satu sama lain. Terutama teman teman kampus gue. Mereka sangat menjalin silahturahmi sepanjang waktu.

Jika gue membaca banyak postingan di media sosial yang mengeluh tentang pertemanan, gue lumayan beruntung tidak berteman dengan orang orang yang salah. Setidaknya itu yang gue rasakan. Sampai sekarang pun hubungan gue dengan teman teman gue tetap baik meskipun tak terlalu sering berinteraksi. Gue tipikal yang lumayan bisa memilah siapa yang bisa gue jadikan teman. Puji Tuhan tidak ada yang terlalu neko neko. Kalau cuma selisih paham kecil itu hal biasa.

Sekira I feel uncomfortable dengan seseorang yang cuma mengambil kesempatan dikala senang, pengadu domba, nyinyir, selalu dipenuhi rasa benci, perlahan akan gue jauhi.

Di rumah pun, gue tipikal pertapa. Sewaktu tinggal di rumah kakak, kebanyakan gue habiskan di dalam kamar. Tahan bulukan di kamar. Nonton tv, tidur, jika keluar karena mau makan aja. Beneran adik yang kurang ajarlah. Hahaha.

Kalau gue mood, ya ngobrol sih dengan mereka. Malah jalan makan bareng ke mall. Tapi kalau lagi ga mood pasti deh banyakan di kamar.

Sampai akhirnya semakin gue menyadari, terkhusus setelah gue tinggal di Swedia, sifat ingin menyendiri gue itu ternyata malah semakin parah. Ga ngerti kenapa. Apa karena suasana tempat tinggal yang sepi mengkondisikan demikian, yang jelas saat ini gue lebih suka menikmati hari hari gue bersama suami. Semakin lama gue merasa kalau suami adalah teman sehati yang tepat. Mungkin karena 24 jam, kebanyakan hanya wajah dia yang gue liat. Hahaha.

Awal tiba di desa gue, gue masih lumayan suka menghadiri acara ini itu. Ketemu warga lain. Kalau mereka bertamu ke rumah, gue malah senang karena berasa ga sepi. Tapi semakin ke sini, setiap ada pertemuan atau acara pesta, gue sudah mulai jenuh. Mulai tidak terlalu menikmati. Semakin lama semakin berubah. Kalau tetangga terlalu sering datang ke rumah, gue malah terganggu. Suami gue sampai heran. Bukan karena gue malas harus meladeni bikin ini itu ya, karena ga harus juga. Gue merasa terganggu aja. Tapi herannya di waktu yang berbeda, gue pengen juga ada yang datang ke rumah. Didatangi tetangga atau siapa ajalah itu. Jadi moodnya bener bener aneh.

Dulu suami pernah bilang kalau dia tidak bisa membayangkan tinggal di rumah yang bangunannya berdempetan dengan tetangga, dia merasa ruang geraknya kurang bebas. Bisa bisa pipis pun kedengaran. Karena ada masanya dia pengen pake kolor aja di rumah, ada masanya dia pengen mesra mesraan dengan gue, dan masih banyak lagi lah.  Mendengar itu gue cuma bisa mikir “kok bisa” sih sampai punya pikiran parah begitu. Dan lama kelamaan ternyata sifat itu menular ke gue.

Jadi ceritanya, ketika tiba di desa gue empat tahun lalu, gue merasa kalau desanya terlalu sepi. Gue menghayal seandainya rumah kosong di depan rumah segera ditempati penghuninya. Kalau dihuni kan berasa lebih ramailah. Tapi kenyataannya cuma ditempati sesekali. Pemiliknya tinggal di daerah lain dan hanya berkunjung di saat weekend atau liburan.

Dan sekarang gue mendengar kabar, kalau si pemilik yang tak lain merupakan teman kecil suami itu berencana akan pindah dan menempati rumah tersebut. Herannya justru jadi dilema buat gue sendiri. Menyikapinya antara senang dan tidak. Di satu sisi gue senang karena rumah itu bakalan terlihat lebih terang oleh cahaya lampu terkhusus di saat winter, tapi di sisi lain gue malah merasa tak nyaman.

IMG_1654 (1)

Semisal gue lagi menyiram bunga, duduk duduk di luar, atau fotoin bunga di halaman, malas banget deh kalau terlihat mereka, apalagi kalau sering diajak bicara. Coba, parah banget kan gue. Padahal tetangga gue itu baik dan pacarnya apalagi, wise banget. Tapi entah mengapa susah banget match ke hati gue. Mereka cuma gue anggap sebagai tetangga dan bukan teman bicara yang klik di hati. Padahal tetangga gue itu teman baik suami sejak kecil. Dan setiap berkunjung ke desa gue, dia dan pacarnya pasti main ke rumah. Ngobrol lama ampe malam. Gue pastikan tidak ada yang salah dengan mereka. Justru gue merasa kalau diri guelah yang salah. Semakin susah klik dengan orang lain.

Waktu empat tahun rasanya cukup membuat gue sangat terbiasa dengan keseharian yang menyendiri dan tidak ada yang menggangu. Karena tetangga yang lain rumahnya jauh jauh. Artinya mereka kebanyakan berkunjung ke rumah ketika suami gue ada di rumah. Selebihnya, gue ya sendiri menikmati dunia gue. Kesendirian gue.

Sampai kini pun gue tak punya teman baik di Swedia. Entah itu dari kalangan warga Indonesia maupun Swedia. Dan gue merasa fine aja. Tidak stress apalagi depresi. Beneran. Setidaknya itu yang gue rasakan. Gue menikmati hidup gue yang sekarang. Gue bahagia.

Apakah gue introvert? atau cenderung Schizoid? Hehehe.

Sepertinya usia dan lingkungan sangat cepat menempa gue untuk tidak lagi terlalu pusing dengan urusan pertemanan. Bukan karena apatis apalagi anti sosial ya. Karena di suatu kesempatan, gue masih mau kok bertemu dengan orang lain. Apalagi kalau traveling, gue ga bisa pergi sendirian.

Jika merasa hidup gue tenang banget dengan keadaan yang sekarang trus mau gimana dong. Emang gue menikmatinya. Jauh dari gosip, jauh dari sirik sirikan. Karena semakin bertambah usia bukan kuantitas lagi yang gue cari. Tapi kualitas berteman. Satu pun selama cocok dan tidak dengki dengkian uda bagus banget buat gue.

Jujur…..di lain kesempatan gue pengen punya satu atau dua teman baik di Swedia yang benar benar bisa dijadikan teman suka duka. Yang klik di hati. Kalau ketemu aja teman kayak gini, yesss hobby nongkrong di cafe itu pasti gue akan ulang lagi.

Yang suka menyindir, bermuka dua, merasa bijaksana sendiri, cepat sakit hati, pengadu domba, cepat marah kalau tak sepemikiran, bisa gue bayangkan lelahnya hati berada diantara orang seperti ini. Daripada pusing mending menjauh perlahan. Hari ini haha hihi di medsos, besoknya uda sindir sindiran. Wueeeek banget.

68503CAF-2EA5-48BF-8F45-5E8CD38E2FFC.jpg
Salam dari si pertapa

Kira kira, pembaca budiman ada yang seperti gue ga sih? Semakin lama lumayan susah membuka diri dengan orang lain? Semakin lama merasa fine aja jika tidak punya banyak teman?

Nge-Dansa?

Setelah menulis tentang kebiasaan nge-Wine di Swedia, masih di seputar kebiasaan di acara pesta. Kali ini gue akan menulis tentang sesuatu yang lebih menghempas. Hempaskan badan kakakkkkk! Nyok dansa nyooooook!

Sepengamatan gue warga Dalarna lumayan menggilai pesta dansa. Makanya tak heran jika wilayah yang menjadi salah satu propinsi di Swedia ini dipercaya sebagai tempat ajang diselenggarakannya pesta dansa terbesar di Swedia di kala musim panas. Tepatnya di kota Malung.

Tidak tanggung tanggung acara pesta dansa ini berlangsung seminggu berturut. Sampai sampai kota Malung yang sehari harinya tampak sepi berubah drastis menjadi kota yang seakan tak mampu menampung parkir berbagai kendaraan yang datang dari berbagai penjuru. Bahkan dari Norwegia dan Finlandia. Ramai oleh tamu tamu yang ikutan meramaikan pesta dansa tahunan itu. Halaman rumah dan perkantoran pun dilayakkan sebagai tempat parkir. Semuanya bersukaria.

Tidak hanya itu, di lain waktu pun ada saja beberapa kota atau desa yang menyelenggarakan pesta dansa. Pemberitahuannya melalui majalah atau koran kota. Yang datang boleh siapa saja. Selama bayar.

Pesertanya? muda tua hingga lansia. Wuihhh yang lansia masih jago dan energik loh. Lincah mak. Ga kenal capek. Kadang suka terpana melongo melihatnya.

Cuma yang pengen gue bahas di sini adalah tentang gue. Iya…gue yang lagi lagi belum bisa enjoy dengan pesta dansa. Entah apalah yang salah dengan gue. Dansa bareng suami pun masih suka malu. Apalagi dengan orang lain. Suka gugup duluan dan malu diliatin. Padahal jelas jelas yang lain sibuk dengan gerakan mereka masing masing. Manalah peduli dengan gue ya kan. Akhirnya gue lebih sering memilih duduk bloon di sepanjang acara. Hahaha.

IMG_3927

Sejak menikah, gue dan suami belum pernah menghadiri acara pesta “khusus dansa”. Pernah sih memberanikan diri ikutan berdansa di acara pesta tahunan desa. Itupun setelah semua ikutan berdansa dan suami ngajakin. Uhhh tak tenang banget. Rasanya kaki gue ga ngeinjek lantai. Hahaha. Gusar dan malu. Padahal ama suami sendiri dan yang hadir pun cuma warga desa.

Suami beberapa kali pernah ngajakin dan bilang pengen berdansa berdua khusus di acara pesta dansa. Tapi gue selalu menolak. Cuma ketertarikan dia akan pesta dansa bisa dibilang tidak terlalu akut. Bukan fanatik beratlah.

Beda ama tetangga gue. Hampir di setiap acara pesta dansa selalu datang. Mungkin karena masih single. Lebih bersemangat. Karena dengar dengar pesta dansa bisa juga jadi ajang mencari pasangan atau paling ga teman tapi mesralah.

IMG_3926

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, gue dan suami berikut 3 orang teman menghadiri pesta dansa yang diadakan di Älvdalen. Kebetulan kota ini merupakan asal band musik dansa terkenal di Swedia. Dan malam itu mereka performance. Sehingga tak ayal banyak yang datang

Jauh hari sebelum pesta dansa tiba, gue uda bolak balik ingatin suami kalau gue ga mau turun ngelantai. Sangkin gusarnya gue sempat mutusin ga mau ikut dan menyuruh suami pergi bareng teman teman. Tapi malah diketawai ama dia. Punya bini kok malah ga ikut. Lagian salah dia juga main iyain ga nanya gue dolo. Uda tau gue ga gitu interest. Tapi setelah dipikir pikir di rumah juga gue ngapai. Mana uda dibayar pulak. Sayang makan malamnya juga *tepatnya kaga mau rugi*. Hahaha.

35563774645_f89abfff2a_o

Entah mengapa gue kok malu ya ngedansa gitu. Kurang pede aja. Suka malu sendiri. Paling gusarnya takut kalau sampai ada yang ngajakin dansa. Apalagi di acara pesta dansa kayak gini, rata rata selalu ganti ganti pasangan kan. Mental kakak kurang siap mak. Soalnya pada ga kenal. Dansa dengan suami dan teman baik aja kadang gue merasa ga pede, konon pulak orang yang gue ga kenal.

Jadi selama pesta dansa berlangsung gue dan suami hanya duduk doang kayak orang aneh. Cuma liatin orang dansa dan mendengar musik. Mana jenis musiknya gue ga suka pulak. Makin sempurnalah tingkat boring gue malam itu. Mau minta pulang ga enak juga sementara teman teman yang lain sangat menikmati. Di tengah orang bersukaria, kami seperti pasangan idiot yang merasa kesepian di tengah keramaian (tepatnya gue sih) hahaha.

35604625656_c9a1bef362_o

Sampai sampai perempuan di depan meja sesekali melihat ke arah kami. Mungkin heran kok kami ga turun melantai sama sekali. Ke tempat dansa kalau ga dansa ngapai coba. Kalau cuma duduk……lah atuh? Apalagi gue sengaja mepet ke suami karena takut cowo di depan sepertinya ngasih sinyal mau ngajakin dansa (bukan geer).

Parahnya lagi ada perempuan nanya ke suami apakah kami baru jadian dan sedang kasmaran? gue tau sih dia nanya itu sudah dibawah pengaruh alkohol. Lucu juga.

Sejujurnya gue merasa ga enak ke suami dan nanya apakah merasa ga nyaman dengan keadaan dimana gue ga mau dansa sama sekali. Untungnya suami gue bisa ngerti. Dan yang bikin gue lega dia bilang lakukan apa yang gue nyaman aja. Dont care about people (dia pura pura atau beneran ikhlas ga tau juga hahaha).  

Alhasil gue pun secara ga langsung jadi memperhatikan orang orang yang berdansa malam itu. Yang awalnya gue merasa risih tapi lama lama merasa kocak dan lucu. Jadi yang hadir malam itu kalau gue tidak salah tebak rata rata sudah berumur 40 tahun ke atas. Ada sih sekitar 25 tahunan tapi ga begitu banyak. Bahkan yang berumur 70 tahun pun tak sedikit loh.

34757612400_af41842d66_o

Gila bener deh mereka masih lincah dan energik. Nah yang bikin gue agak risih yang dansa romantic itu loh. Mereka saling berpelukan mesra layaknya pasangan beneran. Padahal saling ga kenal. Jadi pasangan kita dansa ama yang lain dan kitanya dansa ama yang lain juga. Dansanya beneran diresapi banget. Beneran kayak pasangan. Hahaha.

Lama lama gue jadi salut sendiri dengan ketidaksungkanan mereka satu sama lain. Tadinya gue bilang ke suami kalau mau dansa ama yang lain silahkan aja. Tapi mungkin dia tau apa yang ada di pikiran gue. Sejujurnya kalau melihat suami dansa dengan wanita lain pasti gue risih. Bukan cemburu ya (beneran). Cuma risih aja. Ngerti kan maksud gue? Kalau ga juga ga apa. Hahaha.

Kocaknya lagi nih, teman kami lagi mesra mesraan dengan pacarnya tiba tiba ada yang ngajakin dansa. Langsung diokein. Sang pacar pun very welcome aja. Yang dasyatnya lagi yang ngajakin dansa itu seorang wanita lansia. Sekitar 70 tahunlah. Dan tiba tiba langsung meluk si teman dan berdansalah mereka.

Si nenek berdansa layaknya remaja aja gitu. Mesra. Gue terkesima aja. Mereka rilex banget satu sama lain. Dan yang gue salut mereka ga pilih pilih loh. Mau tua muda atau kakek nenek yang ngajakin, mereka sangat menikmati dansa malam itu. Yang penting dansaaaaaaaaa mak!

Trus yang bikin gue ketawa nih, kan keliatan ya kalau pengaruh alkohol mulai bekerja. Biasanya tingkat kegemberiaan mimik wajah itu lebih kentara, tertawa ga jelas, bicara terus menerus dan semakin aktif.

IMG_3928

Jadi ada nih cowo yang baru selesai dansa trus jalan ke arah mejanya (mungkin). Tiba tiba papasanlah dengan cewe. Bisa loh langsung lanjut ngedansa lagi mereka berdua.   Padahal si cowo tadi baru selesai dansa. Hahaha. Asli gue ketawa liatnya. Apalagi kalau musiknya lumayan rock n roll. Semakin takjub aja liat kelincahan mereka.

Teman kami juga lucu. Pacarnya lagi dansa dengan wanita lain. Begitu ganti musik tiba tiba dia langsung berdiri. Mau tau apa yang terjadi? dengan entengnya si teman kami nyamperin cowo yang lagi berdiri ngantri menunggu kopi.  Tanpa membuang waktu si cowo langsung melupakan kopinya. Dansa dooong aahh.

Intinya siapa yang terlihat mata langsung tarik mang! Hahaha.

Gue pernah melihat acara dansa di salah satu tv swasta di Indonesia. Tapi beda banget rasanya jika melihat langsung. Meskipun risih lama lama terlihat kocak.

Nah, kalian sama ga sih dengan gue? Suka ga pede kalau diajak dansa? Atau malah suka dansa?

IMG_3921
Si manusia katrok….Hahaha

Nge-WINE?

Hampir empat tahun menetap di Swedia bisa dibilang gue belum sepenuhnya mampu menjunjung tinggi langit negara ini. Ada beberapa kebiasaan orang di sini yang sampai sekarang belum betul betul bisa gue ikuti. Tepatnya karena gue “belum terbiasa” aja. Dan kalau ada yang beranggapan gue katrok ya ga apa juga sih. Gue cuma pengen menjalani dan menikmati apa yang gue rasa cocok dan suka aja.

Jadi teringat liburan dua tahun lalu, pernah diledekin teman sewaktu gue ngepost minuman suami dan segelas jus mango di Path. Temen gue ngeledekin sudah bertahun di Swedia minuman gue kok masih berwarna kuning aja. Hahaha. Its oke. Gue tau dia cuma bercanda. Teman baik gue kok.

Habis mau gimana lagi. Kebiasaan minum es teh manis or jus kedondong tiba ditodong level sprytus ya keliyengan. Hahaha.IMG_3681.jpg

Namun tulisan ini sama sekali tidak ada maksud mendiskreditkan kebiasaan di negara orang. Tidak ada maksud bilang ini kebiasaan yang salah atau ga. Karena gue tau setiap negara punya habit yang berbeda. Apa yang gue bahas di tulisan ini, di Indonesia pun sebenarnya ada yang melakoni. Pilihan ada di tangan masing masing.  Jelas dong ya, gue bukan siapa siapa untuk bilang ohhh ini kebiasaan yang nista. Apalagi membawa dosa neraka surga segala. Bukan kompetensi gue. Kadar micin di kepala gue masih normal kok.

Meskipun tinggal di kawasan desa kecil tapi yang namanya party lumayan ada beberapa kali gue datangi. Entah itu pesta ulang tahun, pesta kawin, pesta tahunan desa, hingga pesta pergantian tahun. Meskipun kategori pesta yang gue sebut ini bukanlah pesta besar.

Sejauh yang gue lihat, pesta bule itu lumayan identik dengan minuman beralkohol. Satu hal yang sampai sekarang masih belum bisa gue nikmati di acara pesta maupun undangan makan. Banyak jenis minuman beralkohol yang belum bisa diterima lidah gue. Terutama wine. Padahal jenis minuman wine lumayan sering jadi suguhan minum di sebuah acara pesta dan undangan makan. Tapi bukan berarti gue ga pernah nyobain loh. Justru karena gue sudah pernah nyobain makanya gue berani bilang gue kurang suka.

IMG_3679.jpg

Di instagram lumayan sering gue ngeposting botol wine, champagne, dan gelas berisi minuman. Mungkin ada yang berpikir kalau gue penggila minuman beralkohol. Ga pa pa juga. Hahaha.

Sebenarnya lebih kepada hobby photography aja sih. Menurut gue botol dan gelas berisi minuman selalu fotogenik jika difoto. Keliatan elegant. Di rumah kebetulan ada beberapa koleksi minuman beralkohol yang belum diminum sampai sekarang. Kebanyakan pemberian kerabat dan teman. Kado perkawinan, ulang tahun, maupun sekedar tentengan tangan ketika tamu bertandang. Ukuran botolnya lumayan besar. Jadi kalau dibuka lumayan sayang juga ga keminum. Karena suami gue pun bukan tipikal peminum berat. Paling di acara pesta atau liburan aja atau sesekali jika kami makan malam cantik di rumah di saat weekend (FredagsMys). 

Di awal awal ketibaan gue di Swedia, gue masih suka basa basi meminum wine demi menghargai yang punya acara. Tapi entah mengapa (apa ini sugesti gue aja) sehabis minum perut gue suka panas, mata rasanya cepat capek (tepatnya ngantuk). Semakin ke sini gue sudah berani bilang ga. Daripada kebuang percuma kan. Mending bilang terus terang aja. Dan beberapa teman suami juga sudah tau. Jadi kalau kami diundang, mereka sediakan minuman non alkohol.

Sejujurnya ada perasaan ga enak juga atau tepatnya sampai kapan sih gue terus bilang ga. Secara yang namanya nge-wine bisa dibilang bagian dari kebiasaan berkumpul orang di sini. Ibarat kita nyuguhi teh kalau kedatangan tamu. Tapi untungnya orang orang di sini tipikal yang tidak rempong memaksakan kehendak. Ga kepo nanyain “kok kamu ga suka wine? kok bisa…..! sayang banget! bla bla bla…”

IMG_3677.jpg
Cognac eller Brandy

Mereka menghargai dan bisa mengerti juga kalau gue memang belum bisa bener bener menikmati semua minuman beralkohol. Prinsipnya senyaman guenya ajalah.

Tapi ada loh minuman alkohol yang bisa gue minum tanpa rasa beban. Bir, margarita dan champagne lumayan bisa diterima lidah gue. Itupun ga bisa banyak. Atau yang beraroma buah dan berasa agak manis. Nah, yang begini ini gue masih lempeng minumnya. Perut panas atau mata capek jadi ga begitu berasa. Hahaha.

Natal tahun lalu gue dikerjai suami dan teman teman. Pas kumpul di rumah ceritanya. Suami suguhin Glögg (minuman khas natal) yang terbuat dari red wine bercampur rempah. Kebetulan ada tetangga dari Stockholm yang ngasih sebagai bingkisan natal. Kalau ga salah kadar alkoholnya 21 persen. Pas gue minum langsunglah kakakmu ini terbatuk batuk ya kan. Dada rasanya panas terbakar. Hahaha.

Duh kebayang ga sih minum whiskey berkadar 40 persen? Bisa bisa api keluar dari leher gue. Duarrrrrrrrr.

IMG_3674.jpg
Whiskey anyone?

Kalian punya pengalaman minum minuman beralkohol?

Salam dari

Swedia

Tradisi “Mandok Hata” di Suku Batak (Malam Tahun Baru)

Malam tahun baru bagi orang batak sangat identik dengan dua kata ini : Mandok Hata!

Apa itu Mandok Hata? Secara harfiah “Mandok” bisa diartikan “Mengucapkan” sedangkan “Hata” sama artinya dengan “Kata atau omongan/ucapan”. Jadi Mandok Hata secara luas bisa dimaknai mengucapkan kata kata atau kalimat atau ungkapan kalimat yang dikeluarkan oleh seseorang kepada orang lain dalam sebuah acara tertentu. Bisa di acara adat, pertemuan, atau tradisi keluarga di pergantian malam tahun baru.

Pergantian malam tahun baru di jaman now yang sarat aktivitas berbagai media sosial, mulai banyak dipenuhi postingan meme/joke bertuliskan “Mandok Hata Coming Soon” atau “Brace Yourself, Mandok Hata is Coming” atau “Mandok Hata Loading” yang diupload oleh teman teman suku batak. Postingan mana yang sengaja dituliskan di gambar atau foto orang terkenal sekelas bintang Holywood atau seorang Dian Sastro misalnya. Cukup mampu membuat gelak tawa.

Lantas mengapa sampai sedemikian hebohnya meme joke tersebut?

Jadi begini…

Seperti defenisi di atas, Mandok Hata hanyalah mengucapkan kalimat. Tapi faktanya mengucapkan kata kata di sini bukan sembarang berucap. Ada situasi dan kondisi yang terbilang relatif kompleks di dalam. Kondisi yang lumayan formil untuk sebuah ukuran acara keluarga. Kondisi yang mengharu biru karena berefek pada sebuah tetesan air mata, penyesalan, meminta maaf, hingga kesiapan mental untuk siap membongkar dan dibongkar kesalahannya selama kurun waktu setahun.

IMG_3230.jpg

Belum lagi bagi orang yang tidak terbiasa atau tepatnya tidak punya bakat berbicara layaknya di hadapan khalayak ramai, Mandok Hata bisa menjadi momok yang menakutkan dan membuat gusar karena meskipun hanya di lingkungan keluarga tetap saja berasa berpidato di depan umum dan ditonton banyak orang. Dan itu benar adanya karena semua mata tertuju ke kita. Apalagi jika anggota keluarga yang berkumpul jumlahnya tingkat dewa. Buaaaaanyakkk!

Ada kakek nenek, saudara sekandung, ponakan, sepupu, paman bibi, bisa bisa sehari sebelum Mandok Hata bukan tidak mungkin ada yang mempersiapkan dan menyusun atau mungkin juga menghapal kalimat kalimat apa yang akan diucapkan nantinya. Mempersiapkan mental agar tidak grogi. Tiba harinya malah berujung memble dan gagal total. Ga tau mau memulai darimana. Pikiran seketika blank. Kalimat demi kalimat yang sudah diatur pun buyar. Gue uda pernah mengalami hal ini. Tepatnya sewaktu remaja dulu. Hahaha.

Belum lagi jika anggota keluarga yang berkumpul mencapai 50 orang. Dan itu satu persatu wajib Mandok Hata. Bayangkan jika 50 orang satu demi satu bergilir Mandok Hata. Katakanlah anak anak dan remaja lebih simple penyampaian kalimatnya, yang bikin keder kalau giliran orang tua. Dari A hingga Z dikupas tuntas setajam silet. Deg deg plassss. Kapan nih borok gue dipublish, kapan nih gue disuruh nikah, kapan nih kuliah gue ditanyain. Pokoknya segala kemungkinan pasti ada. Yang namanya duduk di menit menit tidak tenang itu sudah pasti ada.

Pokoknya kelar banget deh malam tahun barunya. Bisa 4 jam duduk di tikar dan mendengar omongan yang mostly itu ke itu lagi bahasannya. Bosan sudah pasti pun mengantuk iya.

Dentuman suara kembang api hanya menumpang lewat di telinga. Di kala orang orang berhura hura menikmati meriahnya fireworks, orang batak memilih diam di rumah dengan tradisi Mandok Hata ini. Bisa bayangkan kan, di satu sisi harus mendengar nasehat dan di sisi lain pikiran terbawa keriaan suasana pesta kembang api di luar rumah. Batin pun berucap “Ini malam tahun baruku, mana malam tahun barumu?” Hahaha.

Tapi di sisi lain ada nilai nilai emosional yang didapat dari tradisi Mandok Hata. Keharuan, kekerabatan, cinta kasih berkeluarga, belajar saling memaafkan, perbaikan diri untuk tidak mengulang kesalahan, tekat menyongsong tahun baru yang lebih baik, hingga puncaknya kepekaan akan nasehat. Artinya ketika saling mengingatkan dan menasehati terutama dari kaum tua ke muda, ada air mata yang keluar. Air mata keharuan. Inilah keunikan dari tradisi ini.

IMG_3235.jpg

Dulu sebelum era digital meramaikan jagat raya, pesta kembang api belum sebanyak sekarang. Gue masih ingat sekitar tahun 80an ketika masih menjadi anak menginjak remaja. Sebelum detik detik pergantian tahun keluarga gue malah kebanyakan uda pada tidur. Begitu lonceng gereja berbunyi pukul 00 barulah dibangunin.

Gue masih ingat bagaimana kami bernyanyi dengan suara lirih karena masih terkantuk kantuk. Suara didominasi mendiang bapak dan mamak saja. Sampai sampai ditegur oleh bapak supaya nyanyinya lebih bersemangat. Suara lonceng gereja yang nonstop berdering selama 1/2 jam secara tidak langsung menjadi musik pengiring acara kebaktian kala itu.

Sedikit berbeda di jaman sekarang, kaum muda mungkin sudah berbeda selera. Pesta kembang api yang semarak hingga suara terompet yang memekak telinga, membuat situasi yang sedikit formil di acara Mandok Hata terbagi rasa. Setengah menyenangkan dan setengah membosankan. Sehingga tidaklah heran luapan tersebut diungkapkan dalam bentuk joke seperti kalimat kalimat meme di bawah.

IMG_3243

Untuk mengimbangi situasi jaman now, tak sedikit keluarga yang menggeser waktu pelaksanaan tradisi Mandok Hata. Misalnya dimulai sebelum pukul 12 malam atau yang berbicara cukup diwakili oleh beberapa anggota keluarga saja. Tujuannya tak lain agar mereka bisa melihat kemeriahan acara kembang api di luar sana. Bahkan yang gue tau ada beberapa kalangan yang tidak lagi menjalankan tradisi ini. Cukup berdoa, bernyanyi dan bersalam salaman.

Di keluarga gue sendiri jika kami berkumpul di malam tahun baru, tradisi lama yang konservatif masih tetap dilaksanakan. Kadang suka tertawa jika para ponakan berkoar koar beberapa jam sebelum acara dimulai, “Mandok Hata dimulai!”

Bahkan ada yang berusaha merayu dan menciptakan siasat bagaimana caranya agar Mandok Hata ini dipersingkat atau untung untung ditiadakan. Tapi itu hanyalah mimpi semata. Hahaha.

Lucunya lagi ketika gue akan berangkat dan menetap di Swedia, beberapa ponakan menggoda gue dengan kalimat “Asik ya tan, ga Mandok Hata lagi”. Kocak.

IMG_3221

Tapi begitulah. Sejujurnya jika gue ditanya bagaimana menyikapi tradisi Mandok Hata ini maka gue akan menjawab 50:50. Di satu sisi gue suka dengan kebersamaan keluarga tapi di sisi lain gue juga merasa kurang menikmati akibat dilanda rasa bosan dengan ucapan ucapan kalimat yang berputar putar di seputaran itu lagi itu lagi.

Apalagi di sesi yang membongkar kesalahan dan kekurangan masing masing anggota keluarga ya, kadang kadang merasa ditelanjangi. Ya namanya juga manusia, hati orang sapa yang tau. Bisa aja mereka malu kan. Dan ironisnya kita harus menerima.

Meskipun sebenarnya kita bisa memberi argumen akan kesalahan dan kekurangan kita. Bebas bebas aja. Tapi lagi lagi tak sedikit yang mengalah dan memilih untuk diam patuh karena enggan merusak suasana formil yang telah tercipta malam itu. Dan begitu acara usai segala nasehat pun terbang keluar dari telinga dan kembali menabung kesalahan untuk kembali di bombardir di acara Mandok Hata tahun berikutnya. Hahaha.

Happy New Year 2018

Salam dari Swedia!

IMG_3219.jpg

Jag Går i Skolan Igen.

Jalan empat tahun di Swedia, kemampuan berbahasa Svenska gue bisa dibilang masih jauh dari kata “bagus”. Kenapa? Karena gue malas ngelanjutin sekolah. Hahaha.

Sejujurnya malasnya gue itu BUKAN TANPA ALASAN (sengaja pake huruf besar). Gue pernah curcol di blog ini, marah terhadap seseorang yang sok tau tentang hidup gue. Menggurui dan menghakimi pula. Kampret.

Setelah tiga bulan menetap di Swedia, tepatnya di tahun 2014, gue langsung mendaftar ke SFI (Svenska för Invandrare atau Swedish for Immigrants)Di SFI inilah gue mulai sekolah dan belajar dasar dasar bahasa Svenska (bahasa resmi di Swedia).

Berhubung waktu itu masih newbie banget, manusiawi sekali jika gue terkena culture shock.  Gue susah beradaptasi di kelas. Apalagi para murid yang mengikuti SFI berasal dari berbagai negara. Semuanya serba asing. Tak terkecuali dengan sistem belajar mengajarnya. Under pressure. 

Sekilas sih terlihat santai, guru gurunya juga tidak galak. Tapi waktu belajarnya benar benar menuntut gue harus bisa. Dalam artian,  setiap jam berlalu dan seketika itu pula materi berubah. Sekilat itu juga vocabulary bertambah. Yang satu belum nancap di kepala, vocabulary lain sudah ngantri panjang. Dan semua itu harus gue tancepin di otak dalam waktu singkat. Jika tidak, alamat selamat datang bengong. 

IMG_7195

Bahasa Svenska itu bagi gue (dan sepertinya bagi sebagian orang yang pernah mempelajarinya) bukanlah bahasa yang gampang dikuasai dalam waktu singkat. Karena banyak sekali kata yang penulisan dan pengucapannya berbeda. Gramatiknya pun sedikit berbeda dengan bahasa Inggris. Bahkan huruf vokalnya saja terdiri dari dua jenis, ada Hard Vocal seperti Aa Oo Uu Åa  dan Soft Vocal seperti Ee Ii Ää Öö Yy, yang kalau diucapkan kadang kadang bikin mulut keplintir. Rempong mak!

Sebagai contoh, hurup O diucapkan menjadi U. Sedangkan huruf U pengucapannya tetap U. Yang membedakannya adalah intonasi serta penggunaan bibir, lidah dan gigi. Dan di lain cerita, ada juga huruf O yang pengucapannya terdengar seperti O bukan U. Itu harus diingat kan.

Selain itu harus tau kapan mengucapkan sebuah kata dengan intonasi dan penekanan, karena kalau terdengar tidak pas, bisa diartikan berbeda. Belum lagi nih, ketika huruf K ketemu huruf Y, contohnya seperti kata “Kyrka”, maka huruf K pengucapannya seperti huruf C  berdesis versi Inggris, atau dalam bahasa Indonesia sekilas mirip huruf S yang diseret. Diseret loh mak! Hahaha.

Yang lebih horor lagi, kalau huruf SK saling bertemu. Pengucapannya mirip Hu. Contohnya seperti kata “Skinka”, kurang lebih pengucapannya jadi Huingka. Coba, mampus ga sih.

Bahkan untuk menulis cara pengucapannya saja pun kadang susah karena ga bisa beneran sama. Dikarenakan adanya penekanan dan intonasi pada lidah, gigi dan bibir tadi. Jadi semisal gue tulis cara ngebacanya menjadi Huingka, kurang lebih mendekati seperti itu. Aslinya sih menurut gue diantara Hu dan Ing pengucapannya lebih mendesis. *Ular kali mendesis. Hahahaa. Ahhh…susah ngejelasinnya.

Terus terang bagi gue yang pertama membaca, menulis dan mengucapkan, bukanlah sesuatu yang mudah waktu itu. Apalagi ketika belajar mengajar dimulai, gurunya langsung gaspol menjelaskan dengan bahasa Svenska. Selingan bahasa Inggris sangat irit.

Setiap hari yang namanya dialog dan diskusi berbahasa Sevenska pasti ada. Diawali dengan membaca artikel hingga tanya jawab.  Ngerti atau tidak ngerti harus melek. Tujuannya agar murid lebih terbiasa mendengar, menulis dan merasakan bagaimana kelezatan kata perkata di mulut. Perkara salah apa ga emang sih nomor sekian. Gurunya ga bakal marah.

Cuma kan tetap aja merasa gimana gitu. Kalau ga ngerti kok ya malu. Kalau ditanya, mau jawab apa juga ga tau. Karena pas gurunya nanya, emang belum ngerti kan apa yang ditanya. Trus kalau sekiranya tau, mulut malah terasa terkunci dan ga percaya diri menjawab. Takut salah. Takut diliatin. Pokoknya pikiran jelek dan negatif langganan bangetlah di otak. Padahal yang lain pun sama aja, bingung bingung juga. Sementara di lain sisi, gue pengen dong ada ilmu yang bisa gue bawa pulang. Akhirnya jadi tertekan batin sendiri.

Mau protes? kesiapa? ke guru? ke pihak sekolah? lah gue ada dimana? suka ga suka, gue harus mengikuti sistem mereka kan. Ga mungkin sistem sekolah yang mengikuti apa maunya gue.  Pernah sih di awal awal gue sekolah, gue merasa dissapointed banget. Gue merasa ga berhasil mengikuti dengan baik materi pelajaran. Apalagi jika harus mengingat bangun pagi, melewati gelapnya hari, dan suhu dingin sudah pasti. Menunggu bus rasanya lonly sangat. 

Dan puncaknya gue pernah menangis di bus. Nangis karena marah dan kesal. Sudah bangun pagi, gelap, perjalanan lumayan jauh, tapi rasa rasanya ga membawa hasil yang maksimal. Gue bukan menyalahkan sistem belajar mengajarnya. Gue cuma marah pada diri gue. Pada waktu yang gue lalui. Waktu yang rasanya gue jalani percuma. Juga pada otak gue yang mungkin uda ga kuat menerima pelajaran dengan sistem kilat.

IMG_7193

Hingga akhirnya setelah diskusi dengan suami, gue memutuskan cuti dari sekolah. Prinsip gue, ga ada kata terlambat untuk menimba ilmu. Gue akan sekolah lagi di waktu yang tepat. Gue harus memutar strategi.

Mendekati empat tahun di Swedia, sehari hari telinga gue mulai terbiasa mendengar suami, tetangga dan kerabat berbicara dalam bahasa Svenska. Setidaknya kalimat kalimat yang gue dengar mulai beradaptasi di telinga. Dan gue pun memutuskan untuk mendaftar SFI lagi. Sepertinya batin gue sudah lebih siap. Apalagi empat tahun lumayan memberi gue waktu mengenal alam negara Viking ini.

Dan puji Tuhan, proses belajar mengajar kali ini bisa gue ikuti lebih rilex. Berbeda jauh dengan tiga tahun yang lalu. Gue lebih mudah mengerti dengan apa yang guru ucapkan. Kata perkata lebih gampang terekam di otak gue. Bibit percaya diri gue juga mulai tumbuh. Gue sudah berani berdialog dalam bahasa Svenska. Meskipun masih kaku. Kali ini gue bertekat harus bisa.

IMG_7197

Di kelas yang baru sekarang, ada beberapa murid yang sepertinya mengalami hal yang sama dengan apa yang gue rasakan tiga tahun yang lalu. Wajah mereka mewakili dan mengingatkan akan kebingungan gue di masa pertama masuk SFI. Gue sangat bisa mengerti. Tapi setiap manusia punya cara masing masing untuk mau bertahan atau ga. Selagi kuat, ya jalani. Kalau kira kira sangat menyiksa, take a break. Kita yang lebih tau prioritas hidup kita sendiri.

Meskipun berat dan tidak mudah, kali ini gue lebih spirit menjalani proses belajar mengajar di sekolah. Gue bilang berat dan tidak mudah, karena gue tinggal di desa kecil. Yang mengharuskan gue bangun pagi lebih awal terkait jadwal bus yang tidak setiap jam ada. 

Apalagi mendekati musim dingin seperti sekarang ini, gue harus melawan rasa malas ketika bangun pagi. Gue harus melawan rasa takut akan gelapnya waktu. Gue harus bisa membagi waktu antara belajar, menjalankan hobby ngebaking, photography dan menulis di blog abal abal ini.

Sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. Gue sih ga mau terlalu fokus hanya ke satu hal. Bagi gue semua bisa dijalani asal dimanage dengan baik. Kebahagian batin jelas penting. Gue ga mau stress. Gembirakanlah hatimu, karena hati yang gembira adalah obat. 

Dan…………..akhirnya gue sekolah lagi. Jag Går i Skolan Igen! Huraaaaa. 

IMG_7194

Menyimpan Barang Kenangan?

Setelah menikah, gue baru tau rasanya tidak memiliki benda kenangan di waktu kecil. Bahkan foto diri sendiri pun cuma ada satu yang tersimpan. Kalau gue runut, sepertinya bokap nyokap bukan tipikal orang tua yang sering membuat foto untuk anak anaknya. Ada sih, tapi tidak banyak. Satu satunya benda kenangan yang bisa gue bawa ke Swedia hanyalah foto sewaktu kecil bareng bokap nyokap.

IMG_2313.jpg

Bercerita benda kenangan, dulu sewaktu bokap pensiun dan mulai sakit sakitan, dia rajin menulis ulang lagu lagu pujian rohani dari Buku Ende (semacam kidung pujian rohani berbasa batak). Ditulis di buku notes kecil. Tebal banget. Waktu itu gue masih kuliah dan sempat berpikir kalau bokap seperti kurang kerjaan. Lah jelas jelas sudah ada bukunya buat apa ditulis ulang lagi.

IMG_2316
Kumpulan kitab berumur ratusan tahun dari generasi ke generasi

Hingga suatu hari bokap pernah bilang jika ajal memanggil, buku berisi tulisan tangannya itu akan menjadi memory. Dan benar saja setelah bokap meninggal, buku itu menjadi rebutan. Dan sekarang tetap disimpan oleh saudara gue.

Dulu gue lumayan suka menulis diary. Bahkan sampai gue lulus kuliah dan bekerja, masih suka curcol di buku. Setelah bekerja di Jakarta, barulah kebiasaan curcol di buku  berhenti.

Begitu berencana pindah ke Swedia, gue mulai menyortir semua barang. Sebagian gue buang. Termasuklah buku diary itu. Sekarang menyesalllll banget. Padahal gue masih lumayan ingat apa aja yang gue tulis. Lucu kan kalau dibaca ulang.

Bahkan souvenir yang gue beli ketika traveling, sempat mau gue hibahkan ke saudara. Tapi waktu itu suami nyaranin sebaiknya gue bawa ke Swedia. Kata dia, suatu saat nanti gue akan mengerti kalau benda benda itu akan memiliki nilai memory.

IMG_2315.jpg

Sesampainya di Swedia, barulah gue sadar betapa telatennya keluarga suami menjaga barang barang mereka. Kadang nih, suami gue sampai tau cerita dibalik sebuah barang. Siapa yang kasih, atau dibeli dimana dan kapan waktunya. Mulai dari cerita lucu hingga mengharukan. Ga tanggung tanggung, barang yang disimpan mulai dari beberapa generasi.

IMG_2909
Gambar hasil karya tangan suami ketika berumur 9 tahun. Masih nempel di dinding rumah sampai sekarang. Oh my God!

Contohnya nih, sampai kumpulan kitab Bible dari tahun 1777 masih ada. Lembarannya uda sobek dan dekil. Fontnya pun masih bergaya gotic. Pertama melihat, gue sampai geleng kepala. Uda kayak benda di museum aja. Disimpan dari abad ke abad dan diperoleh secara turun temurun.

IMG_2319
Kitab dari tahun 1777. Uda kayak benda museum aja yak!

Salutnya lagi, mereka selalu mencantumkan tulisan tangan di lembaran pertama atau terakhir kitab. Lengkap dengan tanggal, bulan dan tahunnya. Bahkan jika kitabnya merupakan hadiah dari seseorang atau dari pihak gereja, ada nama yang memberi dan ada juga nama yang menerima.

IMG_2321.jpg
Tulisan tangan di buku kitab. Vintage.

Tak hanya itu, perlengkapan balita suami dan kedua mendiang mertua gue pun masih ada. Lagi lagi masih tersimpan baik. Kondisinya masih bagus!

Diperkirakan baju baju bayi mendiang mertua sudah berumur kurang lebih 85 tahun. Warnanya masih jelas. Modelnya imut dan lucu. Rendanya mirip baju baju kerajaan. Rasanya pengen gue bingkai aja. Hahaha.

37AC619C-AB4C-457D-8974-1DEAC1A41008.jpg
Huaaaa…gemes. Baju mendiang mertua ketika balita. Baju baju ini kurang lebih sudah berumur 85 tahun tahun dan masih okeh

Bahkan sepatu kakeknya suami (catat ya kakeknya suami…huaaaa) juga masih ada!  Sepatu waktu kakeknya masih balita juga. Kulitnya uda ampe terkelupas. Ratusan tahun umurnya. Generasi orang tua suami dan kakeknya loh. Kepikiran aja bisa nyimpannya. Itu uda lama banget kan. Bukan nyimpan benda kenangan biasa lagi.

Yang membuat gue terharu, gambar hasil karya tangan suami ketika dia berumur 9 tahun, sengaja disimpan mendiang mertua dan sampai sekarang masih ditempel di dinding rumah. Itu umur 9 tahun loh. Salut.

IMG_1318
Hahaha…sepatu suami waktu bayi. Lutunaaa!

Tak hanya itu, ketika pertama tiba di Swedia, gue melihat boneka butut, dekil dan sedikit sobek di dalam keranjang. Gue mau buang dong. Sampai akhirnya suami minta pengertian, agar gue tidak membuang boneka itu.

Terus terang gue tidak terlalu banyak nanya, kenapa harus disimpan. Waktu itu gue cuma mikir, mungkin boneka ataupun benda lainnya, memiliki memory tersendiri buat suami. Terutama masa kecilnya bersama bokap nyokapnya. Gue berusaha memahami aja sih. Meskipun gue ga suka boneka itu. Ga ada manis manisnya. Hahahha.

IMG_2826
Sepatu suami sewaktu bayi. Seandainya gue punya satu aja sapatu peninggalan kaya gini. Envyyy!

Barang barang kenangan yang gue posting di tulisan ini, baru sebagian kecil saja. Masih banyak barang antik yang kalau diurai satu demi satu ga ada habisnya. Sebenarnya tidak hanya di keluarga suami aja sih, semua warga di desa gue juga begitu. Menyimpan benda warisan keluarga secara turun temurun.

IMG_2829.JPG
Boneka kesayangan suami waktu dia masih balita
IMG_2830.JPG
Koper keranjang tempat menyimpan baju baju balita di atas. Ini saja pun bentuknya menggemaskan.

Nah kalau kamu, punya barang kenangan yang masih disimpankah? Terutama barang barang ketika kamu masih balita gitu?

Salam dari

Swedia

Tradisi Kematian di Suku Batak dan Swedia

Menjelang akhir tahun lalu, gue menghadiri sebuah acara pemakaman kerabat jauh keluarga suami. Sejak tinggal di Swedia, ini acara Funeral kedua yang gue hadiri. Yang satu meninggal karena bunuh diri dan yang satunya lagi karena sudah lanjut umur (hampir 100 tahun).

Jelas sekali perbedaan tradisi yang gue lihat. Apalagi jika harus membandingkan dengan acara kematian di adat Batak. Kenapa harus Batak? Ya karena darah yang mengalir di tubuh gue seratus persen batak. Lahir dan tumbuh besar dari keluarga yang masih menjunjung tinggi nilai nilai budaya batak. Sebuah suku dengan adat istiadat yang sulit dan kompleks.

Orang batak sehari harinya tidak bisa lepas dari adat. Seumur hidup, harus siap membayar adat. Bahkan kadang, tersirat kalau urusan perut menjadi nomor sekian, demi menjunjung tinggi nilai adat. Seringnya adat memanggil, dan sesering itu pulalah uang mengalir keluar!

FullSizeRender (34).jpg

Nikah pakai adat, anak lahir pakai adat, anak dewasa secara gereja pakai adat, lulus sarjana juga pakai adat, memberangkatkan anak ke perantauan kadang pake adat, memasuki rumah pakai adat, sampai puncaknya, di saat kematian pun, suku batak tetap menjalankan adat. Dan itu terbilang sangat fantastis. Baik dari segi waktu, tenaga maupun dana yang dikeluarkan. Ketika semua itu harus gue bandingkan dengan peristiwa kematian di Swedia, maka inilah yang bisa gue simpulkan.

A. MENINGGAL DENGAN SEBUAH GELAR

Ketika orang  batak meninggal, dan  meninggalkan satu atau beberapa orang anak, dan semuanya sudah berumah tangga, memiliki cucu bahkan cicit, maka yang meninggal tadi diberi gelar “SAUR MATUA”.

Saur Matua artinya meninggal sempurna secara duniawi. Sebagai orang tua, dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Membesarkan, mendidik hingga menghantarkan anak anaknya sampai ke jenjang pernikahan. Dan semasa hidupnya pun, kebahagiannya dianggap sempurna, karena sudah memiliki cucu bahkan cicit. Sehingga kematian seseorang yang Saur Matua, bukan lagi  sekedar cerita sedih semata, tapi ada unsur suka cita dan bangga di dalamnya. Terutama bagi seluruh keturunannya, karena memiliki orang tua yang sehat, panjang umur dan meninggal di usia yang relatif tua.

Sebaliknya, jika seseorang meninggal dunia tetapi belum berhasil menikahkan seluruh anak anaknya, maka gelar yang diberikan padanya adalah “SARI MATUA”.

Di Swedia? Dipastikan tidak ada memakai embel embel gelar seperti di atas. Jika seseorang meninggal dunia, baik tua, muda, belum menikah atau sudah menikah, memiliki cucu atau cicit, sama saja. Tidak ada bedanya.  Tidak ada yang spesial. Tidak ada perbedaan prosesi funeral. Meninggal sama artinya dengan:  dikebumikan tanpa adat yang melelahkan.

B. PENGUBURAN JENAZAH RELATIF LAMA

Sudah  bukan rahasia umum lagi, jika acara kematian di adat batak memakan waktu yang lumayan lama. Bisa berhari hari, bahkan berminggu. Apalagi jika meninggal dengan gelar Saur Matua tadi. Selain karena menjalankan adat penuh, faktor kehadiran anggota keluarga pun bisa menjadi alasan.  Jadi jangan heran, jika penguburan jenazah bisa saja diperlama hanya karena menunggu kehadiran anggota keluarga di perantauan.

FullSizeRender (37).jpg

Di Swedia? Ternyata lebih lama lagi!  Bisa dua atau  tiga minggu terhitung sejak tanggal kematiannya. Bedanya, jenazah lama dikubur bukan karena alasan adat, melainkan karena harus menunggu tanggal yang tepat untuk acara Funeral. Tidak ditangisi dan tidak juga dilihat sama sekali. Tidak ada prosesi acara apapun terkait jenazah, sampai funeral tiba waktunya. 

C. FULL ACARA ADAT

Di suku batak, acara kematian seseorang sangat kental dengan unsur adat. Selama jenazah belum dikebumikan, setiap hari adatnya berjalanBernyanyi, mengangkat jenazah ke tempat tidur, manortor, kemudian memasukkan jenazah ke dalam peti mati, sampai mengeluarkan peti jenazah ke luar rumah. Diletakin di tengah halaman dan dikelilingi sambil menari (manortor). Semua ritual di atas tidak dilakukan dalam sehari. Tapi berhari hari sesuai lamanya acara adat. Dan itu sangat sangat melelahkan. Energi terkuras. Kurang tidur sudah pasti.

Di Swedia? Selain tidak mengenal acara adat, jenazah tidak pernah dibawa pulang ke rumah, melainkan disimpan di rumah sakit. Dan begitu tiba waktunya, jenazah akan dibawa ke acara Funeral. Acara Funeral pun berlangsung sangat cepat. Hening dan tidak crowded.

FullSizeRender (32).jpg
Dari Dia dan akan kembali ke Dia 🙂

Jika orang batak lebih banyak mengurus sendiri prosesi adat dan pemakaman, maka di Swedia bisa memilih. Mengurus sendiri atau menggunakan jasa lembaga pemakaman. Dan kebanyakan memang menggunakan jasa pemakaman untuk mengurus segala sesuatunya. Mulai dari pemesanan peti jenazah, bunga, iklan di koran, makan jika ada, singer, dll. Jadi anggota keluarga tinggal tenang. Tidak ada wajah wajah lelah, kurang tidur atau apalah, karena sibuk mempersiapkan ini itu. Apalagi menjalankan adat berhari hari.

D. ORANG YANG DATANG MELAYAT SANGAT BANYAK

Orang batak terkenal akan eratnya hubungan pertalian kekerabatan. Kasarnya nih, yang tadinya tidak ada ikatan persaudaraan, kalau talinya ditarik paksa jadinya bersaudara juga. Jadi tidaklah heran, jika di sebuah acara kematian suku batak, yang namanya pelayat hingga ratusan orang itu sudah hal biasa. Apalagi di puncak acara adatnya. Buanyaaakkkkkk banget!

Di Swedia? Malah sebaliknya. Orang yang datang melayat relatif sedikitBahkan kadang, tidak ada satu orang pun yang datang melihat. Apalagi jika semakin tua, semakin tidak ada yang datang. Terbalik banget dengan orang batak yang meninggal Saur Matua. Yang melayat malah makin mengguncang bumi.

FullSizeRender (33).jpg
Di sebuah acara funeral. Cuma berlima. Beda banget dengan suasana di acara kematian suku batak yang ramai.

Bahkan, ketika seseorang meninggal dunia di Swedia, tetangga sebelah rumah pun belum tentu datang melayat. Kalau sampai hal ini terjadi di acara kematian orang batak, sudah panjanglah bahasan urusan etika dan norma norma kehidupan.

E. TANGISAN MEMILUKAN

Buat gue, menangis di sebuah acara kematian batak, merupakan momen yang sangat memilukan. Sampai ke ulu hati. Mengapa? karena sebagain besar tangisan orang batak cenderung sangat ekspresif. Sangat emotional. Tidak cukup dengan isak tangis dan air mata saja. Mereka menangis sambil berbicara, mengeluarkan kata kata dari mulutnya. Seperti kesedihan yang tertumpah dari dalam hati. All out sekali. Mereka menangis dengan sebuah ungkapan. Tindakan ini dikenal dengan istilah Mangandungi (Menangisi jenazah sambil mengeluarkan kata kata, bahkan ada yang sambil bernyanyi).

FullSizeRender (34).jpg

Jika seseorang Mangandungi, biasanya yang lain akan terbawa suasana. Dan akhirnya sama sama menangis. Dan ruangan pun tiba tiba penuh dengan suara tangisan campur jeritan.

Di Swedia? Beda jauh! Suasananya sangat formil dan hening. Nyaris tidak terdengar suara tangisan apalagi jeritan. Kalaupun ada, sebatas isakan. Tidak sampai mengeluarkan kata kata yang menyentuh. Biasanya di acara Funeral, selain bernyanyi, kebanyakan acara diisi dengan diam semata. Seperti mengheningkan cipta. Mengingat kembali kenangan dengan yang meninggal. Biasanya, pada saat inilah mereka meneteskan air mata. Khususnya dari keluarga inti. Namun meskipun cuma isak tangis yang cenderung tertahan, suasana hening juga mampu menyeret emosi.

Gue pribadi sangat sedih, ketika mengikuti acara Funeral salah satu kerabat. Tidak ada orang lain di dalam gereja. Cuma keluarga inti, berlima bareng suami dan tiga kerabat lainnya. Bagi gue keadaan itu lumayan membangkitkan rasa pilu. Ketika meninggal di usia tua, tidak ada handai tolan yang melihat.

F. BIAYA KEMATIAN RELATIF BESAR

Yup, biaya kematian suku batak memang relatif besar. Kebayanglah, acaranya saja berhari hari bahkan sampai berminggu. Orang yang datang pun jumlahnya hingga ratusan. Dan setiap hari, para pelayat harus diberi minum, diberi lapet (kudapan khas batak), diberi kacang. Berapa kilogram gula dan kopi yang dibutuhkan setiap harinya.

Biasanya juga, keluarga akan memotong satu ekor anak babi ukuran kecil. Dimasak dan diberi kepada orang orang yang menjaga mayat semalam suntuk. Kebayang kan setiap hari motong satu ekor babi. Dan puncaknya adalah, ketika yang meninggal dunia sudah Saur Matua, seekor kerbau besar pun siap dipotong. Satu ekor kerbau! Hitung saja harganya 🙂

FullSizeRender (33).jpg
Mawar merupakan bunga yang wajib ada di sebuah acara funeral di Swedia.

Pihak keluarga harus menyiapkan uang di dalam amplop, dibagi bagikan kepada handai tolan yang hadir. Besar kecilnya tergantung kesuksesan ekonomi mereka. Biasanya, acara membagi bagikan uang ini dianggap juga sebagai salah satu bentuk prestise di sebuah acara kematian adat batak. Semakin besar nominalnya, dianggap keturunan yang meninggal semakin memiliki prestise luar biasa. Oalaaa mak! udalah kemalangan harus ngeluarin uang pulak!

Belum lagi berbagai dana untuk dokumentasi pribadi, mulai dari seragam keluarga, biaya salon, album photo, liputan video sampai musik. Jadi jangan kaget, jika biaya kematian di suku batak bisa melebihi biaya perkawinan. Puluhan bahkan ratusan juta juga bisa.

Kalau tidak punya uang? Ya tetap jalan. Dengan membuat acara yang paling STANDARD. Tapi tetap aja, jatuhnya mahal juga. Maka tidak sedikit yang pusing setelah acara pemakaman selesai. Bayar tagihan kiri kanan. Jual emas bila perlu. Demi jalannya sebuah adat kematian. Sigh!

FullSizeRender (36).jpg
Peti jenazah di Swedia. Untuk satu peti jenazah kayu ini, bisa mencapai 40 juta rupiah. Mahal!

Di Swedia? Ternyata biayanya pun jauh lebih mahal! Kalau di suku batak, selain biaya lainnya, biaya kematian menjadi mahal karena jumlah pelayat yang sangat banyak. Dan otomatis berpengaruh ke urusan catering dan tetek bengek yang gue sebut di atas. Nah, di Swedia malah sebaliknya.

Mahalnya biaya funeral bukan karena banyaknya pelayat yang datang, melainkan karena pengeluaran biaya untuk hal hal seperti iklan di koran (biaya iklan ini memang lumayan mahal), peti jenazah (bisa mencapai puluhan juta), bunga mawar, musik dan solois jika diperlukan, biaya makan untuk segelintir orang, biaya jasa perusahaan yang mengurus persiapan Funeral dari awal hingga akhir.

Dan untuk semua itu, biayanya bisa mencapai 70 juta rupiah. Meskipun memang, biaya ini sifatnya relatif dan tidak harus. Tergantung kesanggupan ekonomi pihak keluarga.

FullSizeRender (36).jpg
Jika memungkinkan dan keluarga sanggup, setelah funeral selesai, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Baik itu untuk keluarga inti  saja maupun para pelayat. Tergantung kebijakan pihak keluarga. Jadi TIDAK HARUS!
fullsizerender-37
Di suku batak, memberi makanan kepada pelayat wajib hukumnya. Bedanya, penataan tidak seformil ini. Cenderung crowded. Wajar saja,   sudah ratusan orang yang diberi makan. Makanan pun biasanya sudah dijatah di piring.
FullSizeRender (32).jpg
Acara makan bersama setelah funeral

Di Swedia, jika yang meninggal merupakan anggota tetap gereja, dan ingin menjalankan funeral secara liturgi kristen, mereka tidak dikenakan biaya atas penggunaan gedung gereja dan jasa pendeta. Karena setiap tahunnya, para anggota tetap gereja membayar pajak keanggotaan.

Lantas jika bukan anggota tetap gereja bagaimana? Boleh boleh saja, tapi mereka dikenakan biaya atas penggunaan gedung gereja dan jasa pendeta.  

Kalau dana tidak ada?

Jika benar benar tidak memiliki dana (ini juga ga bisa asal asalan, harus bisa dibuktikan), biasanya pemerintah akan memberi bantuan biaya. Biaya untuk sebuah acara funeral yang sangat simple. Tidak ada iklan di koran, tidak ada acara makan bersama, hanya musik gereja tanpa singer, peti jenazahnya pun terbuat dari kayu biasa

G. RATA RATA UKURAN MAKAM SANGAT BESAR

Selain berukuran kecil (layaknya pemakamaman pada umumnya), bangunan makam di kampung batak juga memiliki ukuran yang sangat besar dan mewah. Meskipun begitu aura magis dan horornya tetap berasa.

Satu bangunan makam berisi peti jenazah dari anggota keluarga yang sudah wafat terlebih dahulu. Setelah acara kematian, jenazah dimasukin ke dalam bangunan makam. Jadi tidak dikubur ke dalam tanah. Dan biasanya, pemakaman besar seperti ini cenderung menggunakan tanah adat ulayat. Bisa di sebelah rumah atau di lingkungan desa.

FullSizeRender (32).jpg
Kawasan makam di halaman gereja. Cantik dengan berbagai tumbuhan bunga.

Di Swedia? Dipastikan tidak ada bentuk bangunan kuburan seperti ini. Semuanya sangat simple dan kecil. Horor? Tidak! Jauh dari kesan magis dan menyeramkan. Sebaliknya terlihat nyaman, cantik dan fotogenik. Bertabur tumbuhan bunga di sekitarnya.

Kalau di Batak, bangunan makam bisa diisi dengan peti jenazah dalam jumlah yang banyak, maka Swedia hanya memperbolehkan maksimal empat peti jenazah untuk satu liang lahat. 

Bagaimana jika lebih? Biasanya dikremasi. Sedangkan tanah pemakaman yang digunakan pun, tidak bisa sembarangan. Melainkan sudah ditentukan oleh pihak pengelola gereja. Di Swedia, lembaga administrasi gereja merupakan pihak yang dipercaya pemerintah dalam mengelola tanah makam dan urusan kematian semua warga. Jadi bukan terpaku pada agama kristiani saja.

Nantinya tanah makam akan dibagi menjadi dua jenis, makam untuk semua warga tanpa melihat jenis agamanya dan satu lagi tanah makam khusus bagi anggota tetap gereja (ini pun hanya wilayah tertentu saja, di gereja gereja kecil pedesaan). 

fullsizerender-32
Sebuah gereja mungil di desa gue. Halaman sekitar gereja yang asri digunakan sebagai tempat pemakaman 

img_4332

Setiap warga berhak mendapat layanan kematian di kemudian hari. Contohnya seperti tersedianya lahan makam, acara penguburan yang dilakukan lembaga pengelolaan gereja (jika yang bersangkutan tidak memiliki keluarga atau sebatang kara).

Itulah sebabnya, setiap warga Swedia yang sudah bekerja, wajib membayar pajak kematian setiap tahunnya, sebesar 0,32 persen dari total penghasilan, yang dikenal dengan  sebutan Begravningsavgift.

See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.