Korban Beauty Vlogger

Menjadi terlihat cantik menjadi impian “sebagian” kaum wanita. Artinya cantik yang saya maksud di sini tidak pakai embel embel inner beauty atau cantik hatinya atau apalah itu, melainkan cantik fisik. Lebih tepatnya lagi cantik karena perawatan. Cantik karena dandan. Cantik karena ditopengilah kasarnya.

Ada yang bilang menjadi tua adalah takdir. Tapi untuk terlihat tetap muda dan cantik adalah pilihan. Terutama di jaman sekarang, menutupi keriput di kulit bukan hal yang sulit. Ga perlu sampai program operasi plastik duluhlah, mari bicara yang gampang aja. Penggunaan produk skin care hingga make up misalnya. Masalah harga bisa menyesuaikan budget. Harga toh bervariasi. Murah, menengah, mahal, mahal banget, mahal bikin jejerit hingga mahal sampai ngejual organ seperti kata Suhay Shalim. Haha..

IMG_7466.jpeg

Sekarang mari fokus bicara make up. Ga usah merambah kemana mana. Saya sendiri bukan seorang yang terlalu menggilai make up. Artinya kemana mana harus mekapan. Jadi tergantung mood.

Tak jarang saya keluar tanpa mekapan sama sekali, bahkan mekap yang paling standart seperti bedak, lipstick sekalipun. Paling cuma menggunakan moisturizer. Tapi bukan berarti perlengkapan make up tidak ada. Kebanyakan cuma jadi penghias lemari rias. Kecuali kalau lagi rajin ya baru mekapan. Bisa full make up.

Bukan baru baru ini saya rajin menonton tutorial make up dari para beauty vlogger di youtube. Sudah lama. Tapi hanya sebatas nonton. Rasanya suka aja melihat transformasi before afternya. Suka takjub dengan keahlian mereka. Bikin eyeshadownya itu loh gradasi warnanya keren keren banget. Uda gitu cepat banget ngeblendnya. Kelihatannya gampang padahal setelah dipraktekin susahhhhh!

IMG_7472.jpeg
ABH eyeshadow palette : Prism, Norvina dan Soft Glam. Sekilas warna warnanya sama ya tapi sebenarnya tidak. Dan masing masing palette ada beberapa yang warna bener benar berbeda.

Saya pernah mencoba bikin smokey eyes. Hasilnya? mirip hantu kena tonjok. Hahaha. Perasaan kalau bikin sendiri tanpa harus mengikuti tutorial berasa lebih gampang deh dan hasilnya pun lebih bagus.  Mungkin karena lebih feel free kali ya dan saya belum terbiasa menggunakan brush. Biasanya cuma pakai ujung jari. Kalaupun ada brush ya itu tadi cuma jadi penghias meja rias. Sampai akhirnya pelan pelan saya coba beberapa kali. Lama lama tangan saya jadi lebih rilex (baca meski tetap sedikit kaku). Meski hasilnya masih jauh banget dari kata bagus. Apalagi penggunaan warna untuk menghasilkan gradasi yang sempurna masih minim pengalaman banget. Sejauh ini cuma main sikat seenak jidat.

IMG_7487
Fresh Glow Satin Blush Soft Pink. Tapi di foto kok seperti warna coklat muda ya..
IMG_7484.jpeg
Sebelumnya saya pernah menggunakan produk body butter dari Estelle & Thild Stockholm. Kemudian berganti dengan produk apotek karena store yang menjual produk ini tutup di kota terdekat tempat saya tinggal. Akhirnya pas ke Stockholm beberapa waktu lalu, saya tertarik mencoba Sheer Shimmer Healty Glow Sun Powdernya. Menurut saya, shimmer tapi dijadikan contour dan blush on juga bisa. Mudah diaplikasikan dan langsung terlihat hasilnya.  Di kemasan juga tertulis jika produk sudah mendapat certified organic.

Karena niatnya cuma pengen menonton, akibatnya produk apapun yang digunakan dan direkomen para beauty vlogger ga sampai membuat saya harus membeli produk yang mereka pakai. Kalaupun saya harus membeli paling murni karena inisiatif saya sendiri.

Tapi entah mengapa belakangan ini kuantitas menonton tutorial make up semakin menjadi jadi. Ga hanya di youtube, video singkat seperti di instagram pun saya suka liat. Bahkan sampai ngefollow beberapa brand make up di instagram. Tadinya saya beneran ga tertarik loh apalagi sampai follow instagram segala. Tapi sekarang suka banget apalagi untuk tutorial eyeshadow.

Dan puncaknya saya percaya dan tergiur untuk membeli produk yang direkomen oleh mereka. Salah satunya produk seri eyeshadow palette dari Anastasia Baverly Hills (ABH) dan foundation Dior. Meski brandnya sudah tak asing di telinga, tapi justru saya baru tertarik membeli setelah salah satu beauty vlogger Indonesia merekomendasikan.

Sejauh ini sih produknya relatif memuaskan. Full coverage dan mudah diblend. Warnanya juga pigmented. Sedang beberapa produk lain yang saya pakai murni saya beli karena memang sudah cocok dengan produknya. Seperti Estelle & thild Stockholm, smashbox, clinique, ga perlu sebut semua (malas nulis mak). Berhubung saya lagi fokus bikin eyeshadow ala ala beauty vlogger, palette ABH tidak mengecewakanlah. Pigmented hasilnya.

IMG_7493 (1).jpeg
Dior Prestige Le Cushion Teint De Rose. Selain kemasannya yang kece, spongenya lembut, harumnya juga enak banget dicium. Aroma parfume gitu deh. Hasil fondinya juga coveragelah. Setidaknya bintik di wajah saya tersamarkan. Hahaha. Rekomen menurut saya. Ga salah saya mengikuti saran si beauty vlogger terkenal itu. Untuk harga sih buat saya lumayan mahal ya. Tapi worth it kok.

Berikut hasil gores gores makeup selama latihan beberapa kali. Belum keliatan konsep make upnya. Belum berkarakter. Masih acak adut. Contournya juga masih samar. Hahaha.

Saya mencoba pakai lashes palsu. Ohhh my God…..hahaha……daku tersiksa!

Nah cerita tentang lashes palsu ini memang bener sangat memegang peranan penting untuk kesempurnaan look eyeshadow. Warna eyeshadow terlihat lebih oke setelah dipasangkan dengan si bulu mata kawe ini. Begitu dibuka dan dilepas langsung berasa banget bedanya. Warna eyeshadow terlihat kurang keluar. Jadi ga heran jika mostly beauty vlogger selalu menggunakan lashes palsu di tutorial make up mereka. Untungnya sudah banyak lashes palsu yang dikemas lebih halus. Jadi lebih mudah menyesuaikan ke matalah apalagi untuk pemula. Menjadi cantik kan harus menahan sakit katanya. Haha..

Trus untuk apa sampai belain make up beginian? yaaaaa tidak untuk apa apa sih mak! cuma penasaran pengen nyobain aja. Dan ternyata asik juga. Hitung hitung terlihat lebih keceehhhh….ups!

Saya pun tidak bisa memastikan sampai kapan menggores gores make up di wajah saya. Jangan jangan bulan depan uda bosan dan letoi. Who knows…dibawa senang saja. Hidup jangan terlalu serius shayyyyy!

img_7500
Beberapa produk yang saya pakai. Mulai dari fondi, shimmer, highlights, blush on, eyeshadow palette, glitter, primer, dan concealer. Nihil contour, eyelinear, eyeliner, eyebrows pencil dan lipstick. Mau motoin lagi malas jadi nyomot foto dari tulisan saya tentang Belanja Online. Haha.. 

Berikut di bawah ini hasil make up yang saya racik (catet ya : RACIK! hahaha apaan coba diracik). Make up super abal abal. Beneran belum berkarakter hasilnya. Begitupun sudah lumayanlah menipu publik kalau wajah asli saya sebenarnya jauh lebih berantakan.

Sebenarnya agak malas nampilin wajah gede gede di blog. Lebih dari satu pula. Kalau di instagram sih masih mending karena saya privat. Tapi ya sudahlah, sapa tau dengan melihat hasil make up foto foto di bawah ada yang berniat ngajari saya tips bermake up yang lebih bagus? Saya tunggu….twink!

4CF71BBC-EB29-41C8-B8AF-5BF9530BC10D (1).jpeg
Saya suka warna lipsticknya. Produk Viva La diva Iris Mate 308 dan harganya murah! Warna aslinya violet terang dan saya beri lipliner warna pink serta lipgloss pink. Warnanya lebih rich. 
IMG_8714
Eyeshadownya pakai palette Prism dan Soft Glam dari ABH. Suka warna warnanya dan menjadi hancur berantakan ketika diaplikasikan oleh tangan saya. Haha..
30861D6A-81C9-42EB-9180-043A5799F9C1
Contournya kurang tegas. Tapi sudahlah…
C910BF6E-7C5C-4228-81D3-890B71EDAE7B
Salah satu warna lipstick kesukaan saya. Sudah lama setia pakai produk Loreal Color Riche Matte 633 Moka Chic. Beberapa produk lipstick lain dengan warna yang agak mirip justru jarang saya pakai. Lebih cocok dengan produk satu ini. Saya sudah beli sampai 3 kali. Harga juga terjangkau. Cuma di foto ini saya combine dengan Loreal Color Riche Matte 634 Greige Perfecto dan lipliner warna coklat. Warna aslinya lebih soft. Untuk smokey eyesnya belum kelihatan sukses 😦

When in Sweden (Part 2) Perubahan Selera Terhadap Beberapa Jenis Makanan

Melanjuti tulisan sebelumnya yang pernah saya tulis di sini, kali ini saya akan bercerita tentang perubahan selera terhadap beberapa jenis makanan. Jika tadinya suka banget terhadap jenis makanan tertentu menjadi kurang begitu suka. Demikian sebaliknya yang tadinya tidak suka menjadi suka. Perubahan mana saya rasakan setelah sekian tahun menetap di Swedia. Apa saja?

1. Makanan beraroma Dill

Dill semacam herbal yang beraroma tajam. Tajam banget menurut penciuman hidung saya. Pertama sekali mencium aromanya berasa aneh. Benci bangetlah. Menyantap makanan berbahan dill tentunya lumayan menyiksa saya di awal awal. Sepenglihatan saya, makanan Swedia itu lumayan sering dicampur dengan dill. Daging dan ikan terutama ikan salmon biasanya selalu menggunakan bahan campuran dill. Tak cuma itu, berbagai jenis pickled dan smörgås (open sandwich ala Swedia) pun menggunakan dill.

IMG_8135
Contoh tanaman dill segar (dibelakang selada air)
IMG_3633
Dill kering dalam kemasan botolan

Akibatnya lama kelamaan hidung dan lidah saya terbilang sering mencium aroma dan merasakannya. Waktu perlahan lahan menyesuaikan ke lidah saya. Ternyata memang enak. Apalagi salmon bercampur dill. Serasi sekali. Makan salmon tanpa dill rasanya seperti makan lalapan tanpa sambel pedas. Saya suka!

Sekarang stok dill menjadi wajib ada di dalam lemari dapur saya.

IMG_7984
Olahan salmon menggunakan dill
IMG_8141
Half egg, salah satu menu terkenal di Swedia yang sering menggunakan dill sebagai garnis

2. Makanan Bersaos Menyerupai Selai

Ya Tuhan….di awal awal beneran jonggg banget setiap melihat suami makan pakai saos yang mirip selai. Kebayang ga sih makan nasi pakai selai? Atau makan kentang daging pakai selai? roti pakai selai iya. Haha..

Nah kalau di Swedia makanan berat seperti kentang dan daging sangat sering disantap barengan saos yang mirip selai. Tepatnya selai lingonberry atau berbagai jenis current. Rasanya asam manis. Ada juga yang diolah menjadi jelly jam.

Mostly jenis selai yang digunakan untuk makanan berat berasal dari lingonberry dan red/blackcurent. Bukan strawberry, blueberry, nenas, mangga atau buah lainlah. Mungkin karena pertumbuhan lingon berry sangat subur di hutan Swedia. Bisa diambil secara gratis.

IMG_8086
Menu daging menggunakan selai lingon
IMG_8136
Swedish meatballs with lingonberry sauce

Untuk lingonberry konsistensinya lebih encer dan biasa dimakan sebagai pelengkap rasa Swedish meatballs maupun steak. Sedangkan blackcuuret/redcurrent sering dijadikan jelly jam (lebih padat). Nah jelly jam ini biasa digunakan untuk daging dagingan seperti beef steak atau moose steak.

IMG_8137
Lingon buatan sendiri. Hasil metik di hutan. Buahnya seperti gambar di bawah ini.

Dan lagi lagi makanan yang disantap dengan selai mulai cocok di lidah saya. Perlahan namun pastilah ceritanya. Malah terkesan nancep poll dan sayaaa sukaaaa! Saya harus mengakui jika menyantap menu seperti steak daging barulah sempurna kelezatannya jika dilengkapi selai.

IMG_8094
Meatloaf with gele (baca : huelle) yang mirip jelly jam. Enak!

3. Susu

Saya benci susu! beneran!

Dulu kalau minum susu rasanya tersiksa sekali. Ribet bangetlah sampai harus menutup hidung dan sering sekali berasa mau muntah habis nyium aromanya. Aroma coklat, vanila atau apalah itu ga akan ngaruh. Bauk!

IMG_8284.jpg

Tapi sejak tinggal di Swedia lidah saya lumayan bertenggang rasa dengan produk fresh milk di sini. Aroma dan rasanya plain. Apalagi pilihan kadar lemaknya lengkap. Meski dibilang belum suka banget tapi setidaknya saya lumayan enjoy menikmati produk susu di Swedia tanpa harus menutup hidung. Apalagi jika dicampur dengan homemade selai blueberry. Saya nikmati banget. Enak dan segar.

4. Seafood Dingin

Makan seafood tapi sedingin suhu kulkas. Ya cuma di Swedia pertama nyoba. Dulu suka benci melihat sajian seafood dingin. Aneh aja rasanya. Apalagi kalau diundang makan atau makan di restoran, seafoodnya dingin.

Duhhh…………….langsung teringat seafood Indonesia yang tersaji lengkap dengan kepulan asapnya.

43399733965_e3df9fd04b_o
Kräfftor alias udang darat. Dimakan ketika dingin

Kebayang ga sih makan lobster, udang, kepiting tapi sedingin suhu kulkas. Beneran ga enak kalau bagi pemula. Apalagi jenis seafood di tempat saya mostly sudah melalui proses perebusan dan penggaraman terlebih dahulu. Rasanya asin tanpa ada aroma bumbu.

IMG_8109
Lobster, dimakan juga ketika dingin. Mana rasanya asin

Awal awalnya suka pusing kalau melihat suami dan beberapa orang yang saya kenal menyantap seaffod dingin. Tapi lama lama jadi terbiasa. Dan ternyata enak juga. Lebih tepatnya “daripada ga ada” ya kan. Mengharapkan sama persis dengan seaffod di tanah air ya keburu air liur kering.

IMG_8099
Smörgås dan udang dingin
IMG_8734
Half egg yang dingin dengan topping udang yang lagi lagi juga dingin

Tidak hanya seafood tapi ada beberapa jenis makanan di Swedia yang jika dimakan idealnya memang dalam kondisi dingin.

5. Salad Sayur

Saya bukan penggemar sayur tapi kalau buah iya. Namun sejak menetap di Swedia yang namanya sayur saya suka banget. Bayangkan sampai sayur mentah pun saya jadi suka. Setiap makan ke restoran selalu makan salad. Dan porsinya lumayan. Apalagi dressing salad di Swedia menurut saya memang enak.

Dulu hanya salad buah yang saya suka. Jadi ceritanya ketika suami berkunjung pertama sekali ke Indonesia sekitar 5 tahun lalu, kami berdua pernah makan di salah satu restoran pizza. Lalu dia pengen makan salad. Saya bantuin mengambil salad tapi hanya bagian buahnya yang saya pilih. Jelas dia bingung. Karena yang dia tau kalau untuk makan ya salad sayur bukan buah. Haha..

6. Es Krim

Kalau ini kebalikannya. Dari yang dulunya suka banget menjadi kurang begitu suka. Tapi bukan berarti tidak mau memakan sama sekali loh. Kuantitasnya aja yang jauh berkurang.  IMG_8090

Jika dulu saya sangat menyukai es krim, sekarang malah tidak terlalu suka. Dulu yang namanya segala jenis es krim saya suka. Mulai dari es krim kampung sampai es krim yang harganya lumayan nguras dompet. Dulu kalau makan es krim rasanya ga pernah puas dan pengen nambah terus.

IMG_8103

Ironisnya setelah sampai di Swedia, dimana es krim yang enak itu gampang didapat malah semakin kurang suka. Awal awal sih doyan banget sampai winter pun tetap nyantapin es krim. Lama lama eneg. Haha..

IMG_8096

Apa karena porsinya banyak banget dan es krimnya terlalu enak, jadi berasa cepat kenyang. Mungkin juga karena kuantitas memakan es krim yang lumayan sering menjadikan diri ini cepat bosan. Tapi bukan berarti saya tidak mau memakan es krim lagi loh. Kuantitasnya saja yang sudah jauh berkurang.

7. Coklat

Eropa itu sarangnya coklat enak toh. Swedia saja yang bukan penghasil coklat terenak bisa enak banget coklatnya. Dulu saya kalau beli coklat ga rela berbagi dengan siapapun. Apalagi coklat enak di tanah air itu buat saya lumayan mahal.

IMG_8139

Hingga ketika menetap di Swedia dan melihat banyaknya tumpukan coklat enak di rak supermarket, entah mengapa disitulah diri ini berasa eneg. Berasa melihat butiran beras (lebay) dan akhirnya rasa cinta itupun berlalu, menghepas, menjauh, dari yang namanya coklat. Haha..

IMG_8104

Jadi kalau sekarang jarang sekali saya ngunyah coklat. Semisal pengen makan coklat ya cuma sekedar. Apalagi saat perayaan natal, duhhh pusing kepala kakak nih. Coklat sana sini.

8. Potato Chips

Ini lagi ya Tuhan…………favorite saya banget dulu. Makannya ga satu satu tapi langsung segenggam masuk mulut. Rakus! Haha..

IMG_8270.jpg

Tiba di Swedia perlahan lahan kecintaan dengan potato chips semakin berkurang. Padahal kentang asli loh. Dan lagi lagi dikarenakan terlalu sering melihat bungkusan potato chips yang segede gede gaban di rak supermarket, membuat diri ini berasa kalau cemilan yang satu ini bukan sesuatu yang luar biasa lagi. Apalagi pengaruh rasanya yang lumayan asin. Tapi meskipun begitu, sesekali saya masih mau ngemil potatos chips. Tapi jarang sekalilah.

Kalian ada yang seperti saya ga, lama lama memiliki selera makan terhadap makanan tertentu menjadi berubah? 

Drama Belanja Online

Online shop mamaaaahhhhh! ouyeeeeeee! 

Sistem belanja yang sangat digandrungi. Mendunialah. Bahkan teror iklannya tak lelah lelah bermunculan di timeline media sosial. Harga yang konon lebih murah, praktis, waktu yang efisien, model barang komplit, modal keahlian ngutak ngatik handphone laptop udah deh…….tarik mang! Gampang kan. Tidak perlu keluar rumah atau macet macetan barangkali? Inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa online shop mendapat tempat di sini *menunjuk dompet dan kartu*. 

Jadi begini….

Saya dan suami bisa dibilang generasi kolot yang tidak terlalu menggemari dunia online shop. Artinya bukan menjadi kebiasaan kami belanja di online shop dengan kuantitas yang terbilang sering. Tapi jika dibilang pernah……iya!

Tentu kami punya alasan, terkhusus saya pribadi (suami bukan type yang suka belanja) untuk lebih memilih berbelanja dengan sistem konvensional dibanding belanja online.

Sebenarnya belanja online maupun konvensional sama sama punya keasikan tersendiri bagi orang yang menyukai. Tinggal pilih aja. Warga bumi semakin berubah wajar. Teknologi semakin maju dan sistemnya makin canggih. Kalau ada yang praktis ngapai pilih yang ribet? Bukan begitu? Apalagi dengan belanja online efisiensi waktu lumayan berasa bagi sebagian besar orang yang cocok dengan sistemnya. Koleksi barang barang di online shop pun tak kalah menggoda selera. Harus diakui itu.

Tapi buat saya yang namanya berbelanja bukan sekedar membeli. Ibarat ke warung beli gula telor lalu cussssss langsung pulang, bukan begitu. Belanja itu sekalian terapi. Terapi dengan barang barang yang ada di depan mata secara real. Apalagi kalau barang yang dibeli terbilang tidak murah, buat saya sangatlah tidak puas hanya dengan melihat gambar. Barang harus bisa disentuh dulu, dipegang pegang, dielus elus, dicium jika perlu, dicoba warna ini itu, bongkar lagi coba lagi, cocok bayar, bawa pulang tanpa harus menunggu berhari berminggu bahkan berbulan. Di situ nikmatnya. Buat saya loh.

Apalagi pengalaman saya, barang yang saya beli secara online semuanya harus saya ambil ke kota. Tidak diantar ke rumah. Mengapa? karena kejauhan rumah saya. Jadi sama saja. Mending beli di toko atau storenya langsung. Semisal kurang cocok? ya tinggal tukar lagi tanpa harus mengirim kembali (yang mengirim kembali ini saya paling malas). 

Kalau beli di toko dan ada masalah, kesempatan berbicara dan bertatap muka langsung dengan petugas lebih terbuka dan lebih puas. Setidaknya sudah tau tempat yang akan didatangi. Ga perlu jauh jauhlah. Apalagi kalau pakai berantem dengan petugas tokonya kan lebih enak tatap muka langsung. *saya beri kesempatan untuk menertawakan gaya belanja saya yang klasik*. Haha.

Trus masalah pembayaran menggunakan kartu membuat saya semakin phobia karena semakin tingginya tingkat kriminalisasi di dunia cyber. Meski banyak website online shop yang bisa dipercaya tetap aja parno. Berbagai alasan di ataslah yang membuat saya tetap lebih tertarik berbelanja ke toko/store. Belanja langsung ke toko atau store juga pakai kartu sih. Tapi entah mengapa merasa lebih nyaman aja dibanding menulis nomor kartu di onlineshop.

IMG_7490.jpeg

Belum lagi tak sedikit pemilik toko kecil di kota terdekat saya tinggal mulai mengeluh. Income mereka berkurang. Bahkan sampai gulung tikar. Mereka harus putar otak agar tetap bertahan diantara maraknya online shop. Kasihan juga.

Saya pernah belanja online kurang lebih 6 kali. Beberapa diantaranya membuat saya kecewa. Pernah beli tshirt online shop asal USA. Tertarik membeli karena tulisan di tshirt lucu lucu. Sialnya saya salah ngeklik di kolom warna. Pas saya info ke mereka, saya cuma mendapat jawaban “sorry” karena warna tshirt tidak bisa diganti.

Uda gitu nyampenya relatif lama hampir satu bulan. Begitu nyampe ternyata tidak sebagus dan semenarik seperti yang saya lihat di website. Kadang kenyatan seperti ini yang suka bikin kecewa. Penampakan di website tak sesuai dengan harapan.

Lebih riweh lagi, pernah kejadian dimana kartu debit saya ditolak dan saya diharuskan membayar menggunakan kartu kredit. Berawal dari sebuah keinginan untuk membeli sebuah mixer roti. Intinya saya ingin mengganti mixer lama peninggalan mendiang mertua yang sudah rusak akibat ulah saya sendiri. Singkat cerita saya memilih mixer Kitchen Aid (bukan iklan dan selanjutnya saya tulis KA) sebagai pengganti mesin yang sudah rusak.

Dan setelah searching sana sini sepertinya saat itu seri lengkap si KA ini cuma ada di website A. Baca baca reviewnya tidak sedikit yang memberi pendapat jika produk KA untuk seri tertentu lumayan gampang panas jika mengadon roti dalam takaran besar. Suara juga lumayan ngiunggggg dan agak berisik.

IMG_7445.jpg
Sedikit review : KA seri professional ini sudah saya pakai hampir satu tahun. Saya puas. Suaranya tidak berisik. Ngadon roti tidak panas. Adonan relatif cepat kalis elastis. Maksimal daya tampung lupa (malas buka bukunya haha). Kurang lebih 6 liter barangkali. Untuk pengocokan telur juga sangat bagus hasilnya.  

Sampai akhirnya saya memantapkan jiwa memutuskan membeli seri lain yang cocok dengan keinginan saya. Saya sempat bertanya dengan salah seorang teman yang lumayan paham tentang KA. Beliau merekomen seri yang saya pilih ini. Yaaaa meskipun jiwa raga hampir terhempas terantuk dengan harganya. Untung ga sampai jual organ. Hahaha!

Alih alih ingin membeli KA malah jadi drama. Orderan saya ditolak di website A karena melakukan pembayaran dengan kartu debit. Awalnya saya berpikir apa mungkin mereka mengira kalau saya adalah scammer? karena traksaksi yang saya lakukan di website A adalah perdana. Dan jumlahnya relatif besar (setidaknya bagi saya jumlah itu lumayan besarlah mak hanya untuk sebuah mesin mixer roti).

Kemudian saya diminta agar mengganti menggunakan kartu kredit. Tapi yang ada saya malah parno duluan. Diminta macem macem malah bikin saya bingung. Berhubung saya tidak mau menggunakan kartu kredit yang saya punya, akhirnya mereka meminta agar saya ngefax kartu debit dan alamat rumah. Saya makin tidak mau dong. Saya lupa kejadian pastinya, akun saya akhirnya diblokir dan tidak bisa bertransaksi lagi.

IMG_7428.jpeg
Review : Material stainless pada egg wishk, hook dan beater.
IMG_7427.jpeg
Review: Dough Hook mixer terbuat dari stainless dan lumayan berat

Akhirnya saya datang ke bank dan menjelaskan perihal ditolaknya kartu debit saya dan permintaan pihak penjual agar saya mengirim copy kartu dan alamat rumah. Oleh pihak bank malah tidak dianjurkan membagi copy data apapun terkait kartu yang mereka keluarkan apalagi ke online shop.

Pihak bank kemudian mengecek perihal ditolaknya transaksi kartu debet saya. Dan ternyata setelah dicek ulalalalalaaaaaaaaaaa……….nomor handphone saya belum terdata di bank!

Kemungkinan besar inilah penyebab transaksi saya ditolak karena tanpa kode transaki melalui sms, transaksi saya tidak bisa dilanjutkan. Kasarnya harus melalui otorisasi bank. Dan ini pula yang membuat pihak website A memblokir akun saya. Dikhawatirkan jika kartu saya berada di tangan orang yang salah.

Berhubung website A tergolong onlineshop raksasa yang sudah menyebar dimana mana, sebenarnya saya setuju dengan kehati-hatian mereka agar kartu saya aman dari tangan tangan yang tidak bertanggung jawab. Tapi saya juga ga bisa memastikan apakah yang meminta copian kartu debet saya itu orang yang berkompeten. Apalagi bank juga melarang. Serba salah kan. Huh..belanja aja ribet. Haha.

Trus bagaimana solusinya? Cari akal dong shayyyy!

Berhubung uda jatuh cinta dengan si KA merah ini, akhirnya saya meminta tolong teman agar mengorder barang yang saya mau melalui akunnya. Uangnya saya transfer lebih dulu tentunya ke beliau.

Jujur awalnya suami saya agak kaget kok saya berani transfer uang ke seseorang yang sama sekali belum pernah ketemu langsung dengan saya. Tapi saya meyakinkan suami kalau teman saya bisa dipercaya. Seratus persen saya percaya. Meski belum pernah ketemu dan kenal hanya melalui salah satu group di whatsapp, tapi naluri saya sangat percaya dengan beliau. Saya tidak perlu jelasin panjang lebar. Dan ternyata saya benar, melalui bantuannyalah akhirnya si mesin merah sudah bertengger manis di dapur saya. Makasih ya mak! Kalaupun pak suami sedikit cemas di awal awal harap maklum.

Point dari cerita di atas adalah betapa saya merasa belanja online saat itu sangat ribet. Kasarnya ada duit tapi kok susah banget dapatin barang. Kepala saya malah stress mikiri kenapa harus kartu kredit yang mereka minta. Sebenarnya saya bisa saja membayar pakai kartu kredit, tapi karena waktu itu saya merasa sudah cemas duluan karena tidak terbiasa belanja online jadinya banyak pertanyaan aneh muncul di kepala. Langsung auto mindset. Ini web yang saya masuki bener ga sih? jangan jangan kriminal. Uda parno duluan. Padahal kalau dipikir pikir penggunaan kartu debet memang justru lebih high risk kan. Kalau bukan karena butuh tidak bakal saya order deh. Seandainya ada dijual di kota tempat saya tinggal bakal saya beli di toko aja.

IMG_7441.jpeg
Review : Food Processor masih dari KA yang saya pesan melalui salah satu onlineshop di Swedia. Ini tidak pakai drama tapi lama banget nyampe. Sangat oke untuk menghaluskan daging. Terutama bikin bakso. Ini penting mak! Hahaha

Begitulah, semua barang yang saya beli secara online dipastikan karena tidak bisa saya temukan di toko konvensional di kota terdekat tempat saya tinggal. Jangan jangan ke depannya semakin berkurang toko toko di kota saya. Apalagi salah satu store besarnya sudah tutup. Mau tidak mau harus ke ibukota propinsi.

IMG_7437.jpeg
Review : Body dan warnanya kece. Saya makin suka karena ada tombol pulsenya. Jadi proses menghaluskan daging lebih rata. Terus mampu menampung hingga 3,1 liter dan terdiri dari dua wadah berukuran besar dan sedang. 
IMG_7434 (1).jpeg
Review : Printilan FP KA ini disimpan dalam satu kotak yang menurut saya kualitasnya tidak asal jadi. Rapi, kuat dan designnya bagus. Buka tutupnya tidak susah.
IMG_7432.jpeg
Review : Printilannya juga kuat dan gede. Pisaunya bisa untuk takaran besar dan ada juga untuk takaran medium. Ada pisau untuk adonan roti. Jadi bisa bikin adonan roti juga untuk takaran standart. Tapi saya hanya fokus untuk menghaluskan daging saja. Pemotong sayuran juga ada dua dan lumayan berat. Pokoknya terlihat kokoh semua bahannya. 

IMG_7433.jpegDemikian juga dengan perlengkapan make up (ini akan saya tulis lebih lengkap di tulisan berikutnya). Meski bukan manusia yang menggilai dunia permekapan, tapi saya juga seorang wanita yang sesekali pengen terlihat fresh dan kece. Saya ga begitu paham brand make up yang terupdate.

IMG_7500.jpg
Review menyusul
IMG_7479.jpeg
Sttt bocorin dikit….ini warrrbiasa. Sukaaaa meski baru pakai sebagian.
img_7468
Warna palettenya bagus bagus

Kalaupun ada brand ini itu yang lagi viral, belum tentu saya interest. Cuma belakangan ini entah hantu mana yang jitak kepala saya sehingga saya menjadi korban keganasan para beauty vlogger. Alhasil saya terbawa arus hedonisme. Dan lagi lagi tidak bisa saya beli di toko. Kaga ada di kota saya. Harus ke Stockholm. Ya sudahlah akhirnya belanja onlen.

Trus ke depannya apakah saya akan tetap belanja di online shop? jika barang yang saya butuhkan tidak ada dijual di tempat saya tentu saja iya. Apalagi yang namanya peralatan baking, sepertinya mau tak mau saya harus memilih online shop. Lebih lengkap ya. Happy shopping online!

Siapa dari kalian yang menjadi pelanggan setia online shop? Atau pernah merasa ribet ga sih belanja onlen itu? atau malah fine fine aja? share di komen ya 🙂

Gue Introvert atau Schizoid?

Basicly gue bukan seorang yang kurang bergaul. Tapi terlalu bergaul pun tidak juga. Yang gue ingat, sewaktu kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), gue lumayan punya banyak teman. Terutama dari lingkungan sekolah maupun bimbingan les di luar sekolah.

Dari mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, gue pasti punya genk alias teman teman kompak. Dan sejujurnya jika sudah klik banget di hati,  gue cenderung malas mengembangkan sayap ke sana kemari demi mencari teman baru.

Masih ingat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), gue punya beberapa teman dekat. Kemana mana selalu bersama. Pulang sekolah suka main bareng. Nginap di rumah. Sampai dikejar kambing pun pernah bareng bareng. Teman gue pipis di celana sangkin takutnya. Hahaha.

Sangkin dekatnya,  teman sekelas yang lain memberi julukan genk “Madona” ke kami. Entah apa maksud mereka memberi julukan itu. Dari segi penampilan dan wajah saja kami sangat berbeda jauh dengan Madona. Yang satu blonde abis sedangkan kami siborong borong abis. Kocak.

Begitupun di tingkat SMA hingga kuliah, gue selalu punya genk sendiri. Dari yang cuma kenal muka tapi jarang bicara, kenal baik, hingga kenal sangat baik.

Khusus di kalangan teman kampus, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan dua orang teman baik. Sedangkan yang lain kadang kadang bicara, jalan bareng, tapi tidak sesering dengan kedua teman gue tersebut. Kami bertiga pernah dijuluki “trio”.

Tapi justru setelah tamat kuliah dan merantau, kesempatan mengenal lebih baik teman teman sekampus yang lain semakin terbuka. Dari yang tidak begitu dekat menjadi lebih dekat. Satu sama lain lumayan sering nongkrong bareng di akhir pekan.

Memasuki dunia kerja di ibukota, padatnya waktu kerja sedikit banyak mempengaruhi lingkup pertemanan gue. Bahkan gue tidak punya banyak waktu untuk bersosial media. Paling di Path. Gue malah ga punya instagram.

35138529154_4668a8fc8d_o.jpg

Bertemu teman semakin hari semakin jarang. Weekend lebih sering gue habiskan di apartemen atau di mall tak jauh dari tempat tinggal. Macetnya Jakarta yang sudah tidak manusiawi itu sedikit banyak membuat semangat bersua teman semakin kendor. Yang satu di Jakarta mana dan gue di Jakarta belahan mana. Lingkungan kantor pun tak sempat membuat gue banyak bergaul dengan yang lain. Paling sekedarnya aja. Teman dekat di kantor paling cuma dua tiga orang.

Dan tidak hanya itu, lelah di pekerjaan, usia yang semakin bertambah, tenaga yang mulai letoi,  membuat gue cukup puas dengan segelintir teman. Segelintir teman yang kira kira easy dan sehati diajak jalan bareng tanpa harus pusing memutuskan ketemu dimana. Teman yang punya selera sama dalam memilih tempat ngemall atau nongkrong. Daerah kelapa gading aja. Dekat ke apartemen gue. Hahaha (egois).

Sadar atau tidak, gue tidak seantusias di kala muda dulu. Ini terjadi bukan karena gue kecewa dengan pertemanan yang ada. Sama sekali tidak. Seingat gue, semua teman yang gue kenal rata rata adalah teman yang baik. Bukan teman yang menusuk dari belakang. Bukan teman yang dengki. Bukan teman bermuka dua dan pengadu domba. Bahkan mereka punya kepedulian satu sama lain. Terutama teman teman kampus gue. Mereka sangat menjalin silahturahmi sepanjang waktu.

Jika gue membaca banyak postingan di media sosial yang mengeluh tentang pertemanan, gue lumayan beruntung tidak berteman dengan orang orang yang salah. Setidaknya itu yang gue rasakan. Sampai sekarang pun hubungan gue dengan teman teman gue tetap baik meskipun tak terlalu sering berinteraksi. Gue tipikal yang lumayan bisa memilah siapa yang bisa gue jadikan teman. Puji Tuhan tidak ada yang terlalu neko neko. Kalau cuma selisih paham kecil itu hal biasa.

Sekira I feel uncomfortable dengan seseorang yang cuma mengambil kesempatan dikala senang, pengadu domba, nyinyir, selalu dipenuhi rasa benci, perlahan akan gue jauhi.

Di rumah pun, gue tipikal pertapa. Sewaktu tinggal di rumah kakak, kebanyakan gue habiskan di dalam kamar. Tahan bulukan di kamar. Nonton tv, tidur, jika keluar karena mau makan aja. Beneran adik yang kurang ajarlah. Hahaha.

Kalau gue mood, ya ngobrol sih dengan mereka. Malah jalan makan bareng ke mall. Tapi kalau lagi ga mood pasti deh banyakan di kamar.

Sampai akhirnya semakin gue menyadari, terkhusus setelah gue tinggal di Swedia, sifat ingin menyendiri gue itu ternyata malah semakin parah. Ga ngerti kenapa. Apa karena suasana tempat tinggal yang sepi mengkondisikan demikian, yang jelas saat ini gue lebih suka menikmati hari hari gue bersama suami. Semakin lama gue merasa kalau suami adalah teman sehati yang tepat. Mungkin karena 24 jam, kebanyakan hanya wajah dia yang gue liat. Hahaha.

Awal tiba di desa gue, gue masih lumayan suka menghadiri acara ini itu. Ketemu warga lain. Kalau mereka bertamu ke rumah, gue malah senang karena berasa ga sepi. Tapi semakin ke sini, setiap ada pertemuan atau acara pesta, gue sudah mulai jenuh. Mulai tidak terlalu menikmati. Semakin lama semakin berubah. Kalau tetangga terlalu sering datang ke rumah, gue malah terganggu. Suami gue sampai heran. Bukan karena gue malas harus meladeni bikin ini itu ya, karena ga harus juga. Gue merasa terganggu aja. Tapi herannya di waktu yang berbeda, gue pengen juga ada yang datang ke rumah. Didatangi tetangga atau siapa ajalah itu. Jadi moodnya bener bener aneh.

Dulu suami pernah bilang kalau dia tidak bisa membayangkan tinggal di rumah yang bangunannya berdempetan dengan tetangga, dia merasa ruang geraknya kurang bebas. Bisa bisa pipis pun kedengaran. Karena ada masanya dia pengen pake kolor aja di rumah, ada masanya dia pengen mesra mesraan dengan gue, dan masih banyak lagi lah.  Mendengar itu gue cuma bisa mikir “kok bisa” sih sampai punya pikiran parah begitu. Dan lama kelamaan ternyata sifat itu menular ke gue.

Jadi ceritanya, ketika tiba di desa gue empat tahun lalu, gue merasa kalau desanya terlalu sepi. Gue menghayal seandainya rumah kosong di depan rumah segera ditempati penghuninya. Kalau dihuni kan berasa lebih ramailah. Tapi kenyataannya cuma ditempati sesekali. Pemiliknya tinggal di daerah lain dan hanya berkunjung di saat weekend atau liburan.

Dan sekarang gue mendengar kabar, kalau si pemilik yang tak lain merupakan teman kecil suami itu berencana akan pindah dan menempati rumah tersebut. Herannya justru jadi dilema buat gue sendiri. Menyikapinya antara senang dan tidak. Di satu sisi gue senang karena rumah itu bakalan terlihat lebih terang oleh cahaya lampu terkhusus di saat winter, tapi di sisi lain gue malah merasa tak nyaman.

IMG_1654 (1)

Semisal gue lagi menyiram bunga, duduk duduk di luar, atau fotoin bunga di halaman, malas banget deh kalau terlihat mereka, apalagi kalau sering diajak bicara. Coba, parah banget kan gue. Padahal tetangga gue itu baik dan pacarnya apalagi, wise banget. Tapi entah mengapa susah banget match ke hati gue. Mereka cuma gue anggap sebagai tetangga dan bukan teman bicara yang klik di hati. Padahal tetangga gue itu teman baik suami sejak kecil. Dan setiap berkunjung ke desa gue, dia dan pacarnya pasti main ke rumah. Ngobrol lama ampe malam. Gue pastikan tidak ada yang salah dengan mereka. Justru gue merasa kalau diri guelah yang salah. Semakin susah klik dengan orang lain.

Waktu empat tahun rasanya cukup membuat gue sangat terbiasa dengan keseharian yang menyendiri dan tidak ada yang menggangu. Karena tetangga yang lain rumahnya jauh jauh. Artinya mereka kebanyakan berkunjung ke rumah ketika suami gue ada di rumah. Selebihnya, gue ya sendiri menikmati dunia gue. Kesendirian gue.

Sampai kini pun gue tak punya teman baik di Swedia. Entah itu dari kalangan warga Indonesia maupun Swedia. Dan gue merasa fine aja. Tidak stress apalagi depresi. Beneran. Setidaknya itu yang gue rasakan. Gue menikmati hidup gue yang sekarang. Gue bahagia.

Apakah gue introvert? atau cenderung Schizoid? Hehehe.

Sepertinya usia dan lingkungan sangat cepat menempa gue untuk tidak lagi terlalu pusing dengan urusan pertemanan. Bukan karena apatis apalagi anti sosial ya. Karena di suatu kesempatan, gue masih mau kok bertemu dengan orang lain. Apalagi kalau traveling, gue ga bisa pergi sendirian.

Jika merasa hidup gue tenang banget dengan keadaan yang sekarang trus mau gimana dong. Emang gue menikmatinya. Jauh dari gosip, jauh dari sirik sirikan. Karena semakin bertambah usia bukan kuantitas lagi yang gue cari. Tapi kualitas berteman. Satu pun selama cocok dan tidak dengki dengkian uda bagus banget buat gue.

Jujur…..di lain kesempatan gue pengen punya satu atau dua teman baik di Swedia yang benar benar bisa dijadikan teman suka duka. Yang klik di hati. Kalau ketemu aja teman kayak gini, yesss hobby nongkrong di cafe itu pasti gue akan ulang lagi.

Yang suka menyindir, bermuka dua, merasa bijaksana sendiri, cepat sakit hati, pengadu domba, cepat marah kalau tak sepemikiran, bisa gue bayangkan lelahnya hati berada diantara orang seperti ini. Daripada pusing mending menjauh perlahan. Hari ini haha hihi di medsos, besoknya uda sindir sindiran. Wueeeek banget.

68503CAF-2EA5-48BF-8F45-5E8CD38E2FFC.jpg
Salam dari si pertapa

Kira kira, pembaca budiman ada yang seperti gue ga sih? Semakin lama lumayan susah membuka diri dengan orang lain? Semakin lama merasa fine aja jika tidak punya banyak teman?

Nge-Dansa?

Setelah menulis tentang kebiasaan nge-Wine di Swedia, masih di seputar kebiasaan di acara pesta. Kali ini gue akan menulis tentang sesuatu yang lebih menghempas. Hempaskan badan kakakkkkk! Nyok dansa nyooooook!

Sepengamatan gue warga Dalarna lumayan menggilai pesta dansa. Makanya tak heran jika wilayah yang menjadi salah satu propinsi di Swedia ini dipercaya sebagai tempat ajang diselenggarakannya pesta dansa terbesar di Swedia di kala musim panas. Tepatnya di kota Malung.

Tidak tanggung tanggung acara pesta dansa ini berlangsung seminggu berturut. Sampai sampai kota Malung yang sehari harinya tampak sepi berubah drastis menjadi kota yang seakan tak mampu menampung parkir berbagai kendaraan yang datang dari berbagai penjuru. Bahkan dari Norwegia dan Finlandia. Ramai oleh tamu tamu yang ikutan meramaikan pesta dansa tahunan itu. Halaman rumah dan perkantoran pun dilayakkan sebagai tempat parkir. Semuanya bersukaria.

Tidak hanya itu, di lain waktu pun ada saja beberapa kota atau desa yang menyelenggarakan pesta dansa. Pemberitahuannya melalui majalah atau koran kota. Yang datang boleh siapa saja. Selama bayar.

Pesertanya? muda tua hingga lansia. Wuihhh yang lansia masih jago dan energik loh. Lincah mak. Ga kenal capek. Kadang suka terpana melongo melihatnya.

Cuma yang pengen gue bahas di sini adalah tentang gue. Iya…gue yang lagi lagi belum bisa enjoy dengan pesta dansa. Entah apalah yang salah dengan gue. Dansa bareng suami pun masih suka malu. Apalagi dengan orang lain. Suka gugup duluan dan malu diliatin. Padahal jelas jelas yang lain sibuk dengan gerakan mereka masing masing. Manalah peduli dengan gue ya kan. Akhirnya gue lebih sering memilih duduk bloon di sepanjang acara. Hahaha.

IMG_3927

Sejak menikah, gue dan suami belum pernah menghadiri acara pesta “khusus dansa”. Pernah sih memberanikan diri ikutan berdansa di acara pesta tahunan desa. Itupun setelah semua ikutan berdansa dan suami ngajakin. Uhhh tak tenang banget. Rasanya kaki gue ga ngeinjek lantai. Hahaha. Gusar dan malu. Padahal ama suami sendiri dan yang hadir pun cuma warga desa.

Suami beberapa kali pernah ngajakin dan bilang pengen berdansa berdua khusus di acara pesta dansa. Tapi gue selalu menolak. Cuma ketertarikan dia akan pesta dansa bisa dibilang tidak terlalu akut. Bukan fanatik beratlah.

Beda ama tetangga gue. Hampir di setiap acara pesta dansa selalu datang. Mungkin karena masih single. Lebih bersemangat. Karena dengar dengar pesta dansa bisa juga jadi ajang mencari pasangan atau paling ga teman tapi mesralah.

IMG_3926

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu, gue dan suami berikut 3 orang teman menghadiri pesta dansa yang diadakan di Älvdalen. Kebetulan kota ini merupakan asal band musik dansa terkenal di Swedia. Dan malam itu mereka performance. Sehingga tak ayal banyak yang datang

Jauh hari sebelum pesta dansa tiba, gue uda bolak balik ingatin suami kalau gue ga mau turun ngelantai. Sangkin gusarnya gue sempat mutusin ga mau ikut dan menyuruh suami pergi bareng teman teman. Tapi malah diketawai ama dia. Punya bini kok malah ga ikut. Lagian salah dia juga main iyain ga nanya gue dolo. Uda tau gue ga gitu interest. Tapi setelah dipikir pikir di rumah juga gue ngapai. Mana uda dibayar pulak. Sayang makan malamnya juga *tepatnya kaga mau rugi*. Hahaha.

35563774645_f89abfff2a_o

Entah mengapa gue kok malu ya ngedansa gitu. Kurang pede aja. Suka malu sendiri. Paling gusarnya takut kalau sampai ada yang ngajakin dansa. Apalagi di acara pesta dansa kayak gini, rata rata selalu ganti ganti pasangan kan. Mental kakak kurang siap mak. Soalnya pada ga kenal. Dansa dengan suami dan teman baik aja kadang gue merasa ga pede, konon pulak orang yang gue ga kenal.

Jadi selama pesta dansa berlangsung gue dan suami hanya duduk doang kayak orang aneh. Cuma liatin orang dansa dan mendengar musik. Mana jenis musiknya gue ga suka pulak. Makin sempurnalah tingkat boring gue malam itu. Mau minta pulang ga enak juga sementara teman teman yang lain sangat menikmati. Di tengah orang bersukaria, kami seperti pasangan idiot yang merasa kesepian di tengah keramaian (tepatnya gue sih) hahaha.

35604625656_c9a1bef362_o

Sampai sampai perempuan di depan meja sesekali melihat ke arah kami. Mungkin heran kok kami ga turun melantai sama sekali. Ke tempat dansa kalau ga dansa ngapai coba. Kalau cuma duduk……lah atuh? Apalagi gue sengaja mepet ke suami karena takut cowo di depan sepertinya ngasih sinyal mau ngajakin dansa (bukan geer).

Parahnya lagi ada perempuan nanya ke suami apakah kami baru jadian dan sedang kasmaran? gue tau sih dia nanya itu sudah dibawah pengaruh alkohol. Lucu juga.

Sejujurnya gue merasa ga enak ke suami dan nanya apakah merasa ga nyaman dengan keadaan dimana gue ga mau dansa sama sekali. Untungnya suami gue bisa ngerti. Dan yang bikin gue lega dia bilang lakukan apa yang gue nyaman aja. Dont care about people (dia pura pura atau beneran ikhlas ga tau juga hahaha).  

Alhasil gue pun secara ga langsung jadi memperhatikan orang orang yang berdansa malam itu. Yang awalnya gue merasa risih tapi lama lama merasa kocak dan lucu. Jadi yang hadir malam itu kalau gue tidak salah tebak rata rata sudah berumur 40 tahun ke atas. Ada sih sekitar 25 tahunan tapi ga begitu banyak. Bahkan yang berumur 70 tahun pun tak sedikit loh.

34757612400_af41842d66_o

Gila bener deh mereka masih lincah dan energik. Nah yang bikin gue agak risih yang dansa romantic itu loh. Mereka saling berpelukan mesra layaknya pasangan beneran. Padahal saling ga kenal. Jadi pasangan kita dansa ama yang lain dan kitanya dansa ama yang lain juga. Dansanya beneran diresapi banget. Beneran kayak pasangan. Hahaha.

Lama lama gue jadi salut sendiri dengan ketidaksungkanan mereka satu sama lain. Tadinya gue bilang ke suami kalau mau dansa ama yang lain silahkan aja. Tapi mungkin dia tau apa yang ada di pikiran gue. Sejujurnya kalau melihat suami dansa dengan wanita lain pasti gue risih. Bukan cemburu ya (beneran). Cuma risih aja. Ngerti kan maksud gue? Kalau ga juga ga apa. Hahaha.

Kocaknya lagi nih, teman kami lagi mesra mesraan dengan pacarnya tiba tiba ada yang ngajakin dansa. Langsung diokein. Sang pacar pun very welcome aja. Yang dasyatnya lagi yang ngajakin dansa itu seorang wanita lansia. Sekitar 70 tahunlah. Dan tiba tiba langsung meluk si teman dan berdansalah mereka.

Si nenek berdansa layaknya remaja aja gitu. Mesra. Gue terkesima aja. Mereka rilex banget satu sama lain. Dan yang gue salut mereka ga pilih pilih loh. Mau tua muda atau kakek nenek yang ngajakin, mereka sangat menikmati dansa malam itu. Yang penting dansaaaaaaaaa mak!

Trus yang bikin gue ketawa nih, kan keliatan ya kalau pengaruh alkohol mulai bekerja. Biasanya tingkat kegemberiaan mimik wajah itu lebih kentara, tertawa ga jelas, bicara terus menerus dan semakin aktif.

IMG_3928

Jadi ada nih cowo yang baru selesai dansa trus jalan ke arah mejanya (mungkin). Tiba tiba papasanlah dengan cewe. Bisa loh langsung lanjut ngedansa lagi mereka berdua.   Padahal si cowo tadi baru selesai dansa. Hahaha. Asli gue ketawa liatnya. Apalagi kalau musiknya lumayan rock n roll. Semakin takjub aja liat kelincahan mereka.

Teman kami juga lucu. Pacarnya lagi dansa dengan wanita lain. Begitu ganti musik tiba tiba dia langsung berdiri. Mau tau apa yang terjadi? dengan entengnya si teman kami nyamperin cowo yang lagi berdiri ngantri menunggu kopi.  Tanpa membuang waktu si cowo langsung melupakan kopinya. Dansa dooong aahh.

Intinya siapa yang terlihat mata langsung tarik mang! Hahaha.

Gue pernah melihat acara dansa di salah satu tv swasta di Indonesia. Tapi beda banget rasanya jika melihat langsung. Meskipun risih lama lama terlihat kocak.

Nah, kalian sama ga sih dengan gue? Suka ga pede kalau diajak dansa? Atau malah suka dansa?

IMG_3921
Si manusia katrok….Hahaha

Nge-WINE?

Hampir empat tahun menetap di Swedia bisa dibilang gue belum sepenuhnya mampu menjunjung tinggi langit negara ini. Ada beberapa kebiasaan orang di sini yang sampai sekarang belum betul betul bisa gue ikuti. Tepatnya karena gue “belum terbiasa” aja. Dan kalau ada yang beranggapan gue katrok ya ga apa juga sih. Gue cuma pengen menjalani dan menikmati apa yang gue rasa cocok dan suka aja.

Jadi teringat liburan dua tahun lalu, pernah diledekin teman sewaktu gue ngepost minuman suami dan segelas jus mango di Path. Temen gue ngeledekin sudah bertahun di Swedia minuman gue kok masih berwarna kuning aja. Hahaha. Its oke. Gue tau dia cuma bercanda. Teman baik gue kok.

Habis mau gimana lagi. Kebiasaan minum es teh manis or jus kedondong tiba ditodong level sprytus ya keliyengan. Hahaha.IMG_3681.jpg

Namun tulisan ini sama sekali tidak ada maksud mendiskreditkan kebiasaan di negara orang. Tidak ada maksud bilang ini kebiasaan yang salah atau ga. Karena gue tau setiap negara punya habit yang berbeda. Apa yang gue bahas di tulisan ini, di Indonesia pun sebenarnya ada yang melakoni. Pilihan ada di tangan masing masing.  Jelas dong ya, gue bukan siapa siapa untuk bilang ohhh ini kebiasaan yang nista. Apalagi membawa dosa neraka surga segala. Bukan kompetensi gue. Kadar micin di kepala gue masih normal kok.

Meskipun tinggal di kawasan desa kecil tapi yang namanya party lumayan ada beberapa kali gue datangi. Entah itu pesta ulang tahun, pesta kawin, pesta tahunan desa, hingga pesta pergantian tahun. Meskipun kategori pesta yang gue sebut ini bukanlah pesta besar.

Sejauh yang gue lihat, pesta bule itu lumayan identik dengan minuman beralkohol. Satu hal yang sampai sekarang masih belum bisa gue nikmati di acara pesta maupun undangan makan. Banyak jenis minuman beralkohol yang belum bisa diterima lidah gue. Terutama wine. Padahal jenis minuman wine lumayan sering jadi suguhan minum di sebuah acara pesta dan undangan makan. Tapi bukan berarti gue ga pernah nyobain loh. Justru karena gue sudah pernah nyobain makanya gue berani bilang gue kurang suka.

IMG_3679.jpg

Di instagram lumayan sering gue ngeposting botol wine, champagne, dan gelas berisi minuman. Mungkin ada yang berpikir kalau gue penggila minuman beralkohol. Ga pa pa juga. Hahaha.

Sebenarnya lebih kepada hobby photography aja sih. Menurut gue botol dan gelas berisi minuman selalu fotogenik jika difoto. Keliatan elegant. Di rumah kebetulan ada beberapa koleksi minuman beralkohol yang belum diminum sampai sekarang. Kebanyakan pemberian kerabat dan teman. Kado perkawinan, ulang tahun, maupun sekedar tentengan tangan ketika tamu bertandang. Ukuran botolnya lumayan besar. Jadi kalau dibuka lumayan sayang juga ga keminum. Karena suami gue pun bukan tipikal peminum berat. Paling di acara pesta atau liburan aja atau sesekali jika kami makan malam cantik di rumah di saat weekend (FredagsMys). 

Di awal awal ketibaan gue di Swedia, gue masih suka basa basi meminum wine demi menghargai yang punya acara. Tapi entah mengapa (apa ini sugesti gue aja) sehabis minum perut gue suka panas, mata rasanya cepat capek (tepatnya ngantuk). Semakin ke sini gue sudah berani bilang ga. Daripada kebuang percuma kan. Mending bilang terus terang aja. Dan beberapa teman suami juga sudah tau. Jadi kalau kami diundang, mereka sediakan minuman non alkohol.

Sejujurnya ada perasaan ga enak juga atau tepatnya sampai kapan sih gue terus bilang ga. Secara yang namanya nge-wine bisa dibilang bagian dari kebiasaan berkumpul orang di sini. Ibarat kita nyuguhi teh kalau kedatangan tamu. Tapi untungnya orang orang di sini tipikal yang tidak rempong memaksakan kehendak. Ga kepo nanyain “kok kamu ga suka wine? kok bisa…..! sayang banget! bla bla bla…”

IMG_3677.jpg
Cognac eller Brandy

Mereka menghargai dan bisa mengerti juga kalau gue memang belum bisa bener bener menikmati semua minuman beralkohol. Prinsipnya senyaman guenya ajalah.

Tapi ada loh minuman alkohol yang bisa gue minum tanpa rasa beban. Bir, margarita dan champagne lumayan bisa diterima lidah gue. Itupun ga bisa banyak. Atau yang beraroma buah dan berasa agak manis. Nah, yang begini ini gue masih lempeng minumnya. Perut panas atau mata capek jadi ga begitu berasa. Hahaha.

Natal tahun lalu gue dikerjai suami dan teman teman. Pas kumpul di rumah ceritanya. Suami suguhin Glögg (minuman khas natal) yang terbuat dari red wine bercampur rempah. Kebetulan ada tetangga dari Stockholm yang ngasih sebagai bingkisan natal. Kalau ga salah kadar alkoholnya 21 persen. Pas gue minum langsunglah kakakmu ini terbatuk batuk ya kan. Dada rasanya panas terbakar. Hahaha.

Duh kebayang ga sih minum whiskey berkadar 40 persen? Bisa bisa api keluar dari leher gue. Duarrrrrrrrr.

IMG_3674.jpg
Whiskey anyone?

Kalian punya pengalaman minum minuman beralkohol?

Salam dari

Swedia

Tradisi “Mandok Hata” di Suku Batak (Malam Tahun Baru)

Malam tahun baru bagi orang batak sangat identik dengan dua kata ini : Mandok Hata!

Apa itu Mandok Hata? Secara harfiah “Mandok” bisa diartikan “Mengucapkan” sedangkan “Hata” sama artinya dengan “Kata atau omongan/ucapan”. Jadi Mandok Hata secara luas bisa dimaknai mengucapkan kata kata atau kalimat atau ungkapan kalimat yang dikeluarkan oleh seseorang kepada orang lain dalam sebuah acara tertentu. Bisa di acara adat, pertemuan, atau tradisi keluarga di pergantian malam tahun baru.

Pergantian malam tahun baru di jaman now yang sarat aktivitas berbagai media sosial, mulai banyak dipenuhi postingan meme/joke bertuliskan “Mandok Hata Coming Soon” atau “Brace Yourself, Mandok Hata is Coming” atau “Mandok Hata Loading” yang diupload oleh teman teman suku batak. Postingan mana yang sengaja dituliskan di gambar atau foto orang terkenal sekelas bintang Holywood atau seorang Dian Sastro misalnya. Cukup mampu membuat gelak tawa.

Lantas mengapa sampai sedemikian hebohnya meme joke tersebut?

Jadi begini…

Seperti defenisi di atas, Mandok Hata hanyalah mengucapkan kalimat. Tapi faktanya mengucapkan kata kata di sini bukan sembarang berucap. Ada situasi dan kondisi yang terbilang relatif kompleks di dalam. Kondisi yang lumayan formil untuk sebuah ukuran acara keluarga. Kondisi yang mengharu biru karena berefek pada sebuah tetesan air mata, penyesalan, meminta maaf, hingga kesiapan mental untuk siap membongkar dan dibongkar kesalahannya selama kurun waktu setahun.

IMG_3230.jpg

Belum lagi bagi orang yang tidak terbiasa atau tepatnya tidak punya bakat berbicara layaknya di hadapan khalayak ramai, Mandok Hata bisa menjadi momok yang menakutkan dan membuat gusar karena meskipun hanya di lingkungan keluarga tetap saja berasa berpidato di depan umum dan ditonton banyak orang. Dan itu benar adanya karena semua mata tertuju ke kita. Apalagi jika anggota keluarga yang berkumpul jumlahnya tingkat dewa. Buaaaaanyakkk!

Ada kakek nenek, saudara sekandung, ponakan, sepupu, paman bibi, bisa bisa sehari sebelum Mandok Hata bukan tidak mungkin ada yang mempersiapkan dan menyusun atau mungkin juga menghapal kalimat kalimat apa yang akan diucapkan nantinya. Mempersiapkan mental agar tidak grogi. Tiba harinya malah berujung memble dan gagal total. Ga tau mau memulai darimana. Pikiran seketika blank. Kalimat demi kalimat yang sudah diatur pun buyar. Gue uda pernah mengalami hal ini. Tepatnya sewaktu remaja dulu. Hahaha.

Belum lagi jika anggota keluarga yang berkumpul mencapai 50 orang. Dan itu satu persatu wajib Mandok Hata. Bayangkan jika 50 orang satu demi satu bergilir Mandok Hata. Katakanlah anak anak dan remaja lebih simple penyampaian kalimatnya, yang bikin keder kalau giliran orang tua. Dari A hingga Z dikupas tuntas setajam silet. Deg deg plassss. Kapan nih borok gue dipublish, kapan nih gue disuruh nikah, kapan nih kuliah gue ditanyain. Pokoknya segala kemungkinan pasti ada. Yang namanya duduk di menit menit tidak tenang itu sudah pasti ada.

Pokoknya kelar banget deh malam tahun barunya. Bisa 4 jam duduk di tikar dan mendengar omongan yang mostly itu ke itu lagi bahasannya. Bosan sudah pasti pun mengantuk iya.

Dentuman suara kembang api hanya menumpang lewat di telinga. Di kala orang orang berhura hura menikmati meriahnya fireworks, orang batak memilih diam di rumah dengan tradisi Mandok Hata ini. Bisa bayangkan kan, di satu sisi harus mendengar nasehat dan di sisi lain pikiran terbawa keriaan suasana pesta kembang api di luar rumah. Batin pun berucap “Ini malam tahun baruku, mana malam tahun barumu?” Hahaha.

Tapi di sisi lain ada nilai nilai emosional yang didapat dari tradisi Mandok Hata. Keharuan, kekerabatan, cinta kasih berkeluarga, belajar saling memaafkan, perbaikan diri untuk tidak mengulang kesalahan, tekat menyongsong tahun baru yang lebih baik, hingga puncaknya kepekaan akan nasehat. Artinya ketika saling mengingatkan dan menasehati terutama dari kaum tua ke muda, ada air mata yang keluar. Air mata keharuan. Inilah keunikan dari tradisi ini.

IMG_3235.jpg

Dulu sebelum era digital meramaikan jagat raya, pesta kembang api belum sebanyak sekarang. Gue masih ingat sekitar tahun 80an ketika masih menjadi anak menginjak remaja. Sebelum detik detik pergantian tahun keluarga gue malah kebanyakan uda pada tidur. Begitu lonceng gereja berbunyi pukul 00 barulah dibangunin.

Gue masih ingat bagaimana kami bernyanyi dengan suara lirih karena masih terkantuk kantuk. Suara didominasi mendiang bapak dan mamak saja. Sampai sampai ditegur oleh bapak supaya nyanyinya lebih bersemangat. Suara lonceng gereja yang nonstop berdering selama 1/2 jam secara tidak langsung menjadi musik pengiring acara kebaktian kala itu.

Sedikit berbeda di jaman sekarang, kaum muda mungkin sudah berbeda selera. Pesta kembang api yang semarak hingga suara terompet yang memekak telinga, membuat situasi yang sedikit formil di acara Mandok Hata terbagi rasa. Setengah menyenangkan dan setengah membosankan. Sehingga tidaklah heran luapan tersebut diungkapkan dalam bentuk joke seperti kalimat kalimat meme di bawah.

IMG_3243

Untuk mengimbangi situasi jaman now, tak sedikit keluarga yang menggeser waktu pelaksanaan tradisi Mandok Hata. Misalnya dimulai sebelum pukul 12 malam atau yang berbicara cukup diwakili oleh beberapa anggota keluarga saja. Tujuannya tak lain agar mereka bisa melihat kemeriahan acara kembang api di luar sana. Bahkan yang gue tau ada beberapa kalangan yang tidak lagi menjalankan tradisi ini. Cukup berdoa, bernyanyi dan bersalam salaman.

Di keluarga gue sendiri jika kami berkumpul di malam tahun baru, tradisi lama yang konservatif masih tetap dilaksanakan. Kadang suka tertawa jika para ponakan berkoar koar beberapa jam sebelum acara dimulai, “Mandok Hata dimulai!”

Bahkan ada yang berusaha merayu dan menciptakan siasat bagaimana caranya agar Mandok Hata ini dipersingkat atau untung untung ditiadakan. Tapi itu hanyalah mimpi semata. Hahaha.

Lucunya lagi ketika gue akan berangkat dan menetap di Swedia, beberapa ponakan menggoda gue dengan kalimat “Asik ya tan, ga Mandok Hata lagi”. Kocak.

IMG_3221

Tapi begitulah. Sejujurnya jika gue ditanya bagaimana menyikapi tradisi Mandok Hata ini maka gue akan menjawab 50:50. Di satu sisi gue suka dengan kebersamaan keluarga tapi di sisi lain gue juga merasa kurang menikmati akibat dilanda rasa bosan dengan ucapan ucapan kalimat yang berputar putar di seputaran itu lagi itu lagi.

Apalagi di sesi yang membongkar kesalahan dan kekurangan masing masing anggota keluarga ya, kadang kadang merasa ditelanjangi. Ya namanya juga manusia, hati orang sapa yang tau. Bisa aja mereka malu kan. Dan ironisnya kita harus menerima.

Meskipun sebenarnya kita bisa memberi argumen akan kesalahan dan kekurangan kita. Bebas bebas aja. Tapi lagi lagi tak sedikit yang mengalah dan memilih untuk diam patuh karena enggan merusak suasana formil yang telah tercipta malam itu. Dan begitu acara usai segala nasehat pun terbang keluar dari telinga dan kembali menabung kesalahan untuk kembali di bombardir di acara Mandok Hata tahun berikutnya. Hahaha.

Happy New Year 2018

Salam dari Swedia!

IMG_3219.jpg