IFA DUNAMAR HOTEL

Rasa rasanya kalau berlibur ke tempat wisata yang dekat dengan laut, memilih penginapan yang lokasinya dekat pantai menjadi kemauan. Kalau bisa lebih ngelunjak, viewnya sih menghadap laut. Setidaknya inilah yang gue dan suami lakukan sebelum memilih hotel yang kami mau.

Setelah membaca review, seperti lokasi hotel yang dekat banget ke pinggiran pantai dan centrum Playa Del Ingles, view kamar yang menghadap laut, tamu hotel yang kebanyakan datang tanpa anak anak (sampai ada note begitu loh, free dari ramainya anak anak), dan ada discountnya pula, akhirnya kami memutuskan untuk memilih IFA DUNAMAR sebagai hotel tempat kami menginap. Lokasi hotel berada di Playa Del Ingles, pusat wisata pantai di kota Maspalomas.

 

IMG_9348 (1).jpg

IMG_9350.jpg

Sempat ada kekhawatiran, hotelnya semenarik di websitenyakah, atau malah beda jauh. Ternyata tidak mengecewakan. Tampak luar, bangunan hotel memang lumayan mencolok dibanding hotel di sekitarnya.

IMG_9349

IMG_9347

Gue bilang mencolok bukan karena terlihat megah (malah menurut gue terkesan kusam warnanya), melainkan arsitek bangunannya lumayan lucu. Seperti barisan anak tangga gitu. Dan lumayan tinggi juga. Sehingga mudah melihat tubuh hotel ini dari pantai. Bahkan gue ga menyangka kalau hotel Dunamar menjadi salah satu iconic di kartu pos sekitar wisata Playa Del Ingles. 

IMG_9377.jpg
Dunamar dari sebuah sudut kota
IMG_9379.jpg
Tampak depan

IMG_9381.jpg

Di bagian tertentu, hotel Dunamar terlihat mewah. Memiliki lobby yang luas dilengkapi barisan lampu kristal dan pilar besar. Juga dinding kaca bernuansa putih di sepanjang koridor pintu masuk, tiang pilar bergaya semi klasik, hingga restoran luas yang berfungsi sebagai ruangan dinner dan breakfast.

IMG_9415.jpg

Tapi di sisi lain, beberapa bagian gedung terlihat sangat sederhana. Contohnya seperti lorong masuk ke kamar hotel, serta interior kamarnya pun terkesan biasa. Hanya saja ruangan kamar lumayan luas. Lemari pakaian besar. Laci laci di lemari banyak. Sangat cukup menampung pakaian agar tidak berantakan. Gantungan bajunya juga banyak.

Untuk toilet kamar, menurut gue sih lumayan besar. Printilan perlengkapan mandinya pun lengkap. Selain itu, kulkas dan safety box juga ada. Cuma untuk safety box harus bayar lagi. Demikian juga dengan layanan internet di ruang kamar,  harus bayar lagi. Relatif murah sih menurut gue. Only 2 Euro perhari. Tapi ya itu, lemott sangat. Aduhhh sampai tak terkatakan. Ga cuma dikamar, di lobby hotel juga.

Cuma pas gue nanya ke bagian receptionist, mereka bilang sekiranya dalam beberapa hari ke depan masih lemot, tagihan internet di kamar kami tidak dikenakan charge. Ehhh, beneran loh. Pas check out mereka ga masukin ke dalam tagihan. Padahal gue uda ikhlas meskipun tiap hari membatin dengan keleletan internet nya.

IMG_9404.jpg
View dari lantai sekian hotel
IMG_9342
View hotel dari salah satu sudut bangunan Dunamar

Satu hal yang paling gue suka dari hotel Dunamar ini adalah view dari segala penjuru hotel yang Cihuiii.

Dari balkon kamar, koridor hotel, depan bar, semuanya okeh. Bahkan gue bisa menikmati keseluruhan landscape Playa Del Ingles dari rooftop hotel. Uniknya lagi, di rooftop disediakan bangku untuk selonjoran dan berjemur. Trus ada fasilitas shower dan sauna juga.

IMG_9357.jpg
Rooftop salah satu bangunan hotel
IMG_9362
Ini di rooftopnya. Lengkap sauna dan shower
IMG_9361
View dari rooftop
IMG_9359
View dari rooftop

Swimming poolnya juga lebih dari satu. Dan beneran loh. Nyaris gue tak melihat anak kecil di hotel ini. Mostly orang dewasa dan lansia gitu. Pensiunan yang tinggal menikmati hidup. Sampai sampai kolam renangnya dijagain ama satu orang penjaga, kalau kalau ada trouble pas berenang. Maklum, yang renang uda pada berumur gitu. Tapi untuk kolam renang yang lain, lebih campur baur. Berumur 30 tahun lebih gitulah. Dan jauh lebih luas juga kolamnya.

IMG_9341
Depan restoran dan bar. Bisa duduk santai menghadap laut atau juga bisa berenang
IMG_9401
Spot favorite
IMG_9353
View dari sini kece

Untuk bar, coffee shop dan restorannya juga bagus. Nyaman. Dan viewnya okeh semua. Ada yang langsung menghadap laut. Mungkin karena arsitek hotel dibangun dengan permukaan yang bertangga gitu, jadi buat duduk santai, melihat view menjelang sore menjelang malam pun makin yuhui. Pokoknya dua hari sebelum pulang, kami sengaja menghabiskan waktu hanya di hotel dan di sekitar pantai.

IMG_9400.jpg
Setiap anak tangga selalu melewati view seperti ini
IMG_9405.jpg
Sukaak!

Hiburan hotelnya pun ada. Live musik dan dancing. Bisa melihat dan menikmati tarian Flamengo yang dibawakan oleh penari dan pemain musik profesional.

Untuk menu makanan, Dunamar hotel juga melimpah ruah. Buanyak banget. Awalnya sih kami sempat ditawarkan untuk mengambil paket makan malam selama menginap di hotel. Tapi kami pikir pikir buat apa. Namanya liburan, pengen dong mencoba makanan di tempat yang berbeda. Selain itu kurang bebas juga kan. Semisal lagi jalan di luar, mau ga mau harus balik hotel karena urusan makan. Akhirnya fix kami tolak.

IMG_9406.jpg
Restoranya luas
IMG_9408.jpg
Breakfast dan dinner di sini tempatnya

Tapi tiga hari sebelum pulang, kami malah berubah pikiran. Alasannya karena kami sudah ada bayangan, bakal ga kemana mana lagi. Paling hanya di sekitar Playa Del Ingles. Dan juga, dibanding hanya sekali, harga pun jauh lebih murah kalau mengambil paket sekaligus 3 hari berturut turut. Ya trik bisnislah itu.

Yang paling gue suka sih printilan dessert dan appetizernya. Banyak banget dan menarik semua penampilannya. Kalau rasa sih standardlah. Maksudnya enak tapi ga sampai uuueeenak banget. Trus Yogurthnya banyak macam dan rasa. Potongan buahnya juga montok montok dan segar.

IMG_9380.jpg
Lobby hotel yang luas
he
Tinggal pilih mau duduk manis dimana. Haha
h
View dari lobby yang supper ketjehhh!
IMG_9372
View dari lobby. Cihuiii!

Dan kelebihan lain hotel ini, lokasinya yang pas banget berhadapan dengan shopping center Anexo II. Selain sebagai pusat belanja, Anexo II dan sekitarnya sekaligus menjadi tempat turis menikmati berbagai menu makanan di restoran, cafe dan bar yang berbaris di sepanjang kawasan pinggir pantai. Sudah bisa bayanginlah ya.

Ohya, satu lagi, kalau mau massage, pedi manicure hingga belanja, Dunamar juga memiliki fasilitas spa dan butik. Butiknya juga relatif murah dan bagus.

IMG_9382
Tangga disamping hotel menuju pantai
IMG_9390
Hotel dari kawasan Anexo II

Trus kalau mau jalan jalan santai, tinggal beberapa langkah aja dari hotel. Bisa natap natap manjah dari ketinggian melihat pantai dan aktivitas di sekitar pantai juga. Mau sok mesra mesra sambil nunggu sunset juga bolehlah. Jalanannya apik.

Review hotel ini murni pendapat gue, tidak ada kandungan endorse apalagi penyedap rasa di dalamnya. Hahahahaha.

IMG_9421.jpg
View dari koridor kamar hotel
IMG_9360.JPG
View dari balkon kamar
IMG_9402.jpg
Salah satu kolam renang tepat di bawah balkon kamar

Lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah untuk melihat interior hotel dan view dari hotel. 

Salam ajheris.

“Semua foto merupakan dokumen pribadi ajheris.com”

Trip to Canary Island : Tour Camel dan Terwoww Melihat Gran Canyon Versi Canaria

Setelah mengikuti dua tour ke Little Venice di Puerto De Mogan dan kota Las Palmas, maka inilah puncak kebahagian gue selama mengikuti tour di Gran Canaria, Kepulauan Kanaria.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, gue itu uda suka nonton acara berbau Flora dan Fauna. Atau tempat terkenal dan menarik akibat maha karya alam yang luar biasa. Makanya selalu (tepatnya sok) menyimpan mimpi kelak bisa ke tanah Real Afrika sana, karena wilayahnya yang selalu mengisi topik ulasan di Discovery Channel, Nat Geo Wild, dan National Geographic. 

Itulah sebabnya ketika bisa melihat Gurun Pasir ala Sahara di Canary Island, gue senang banget. Sangkin terkesimanya, gue belain dua hari berturut jalan di gurun. Sampai lupa kalau jalan di gurun pasir itu melelahkan.

Nah, pas tau  ada tour Camel di list wisata yang ditawarkan Ving (travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island), gue langsung iyessss.

Padahal suami gue tidak begitu interest. Takut dia. Si gendut gue itu emang. Liburan versi dia kalau ga ke museum, ngiderin kota, duduk santai di cafe, ngebir, makan, ya apalagi kalau bukan sengaja bangun cepat dan sarapan yang buuuuanyakHahaha.

IMG_9160.jpg
Landscape sebuah pertambangan

Selain takut bulunya gatal, dia bilang si unta bisa ngamuk. Karena temannya pernah diamuk unta. Hahaha. Tapi gue sih tetap kekeh. Uda bayangin naik unta ala ala musafir (tinggi imajinasi). Untung imajinasinya ga sampai pakai jubah dan penutup muka. Uda kaya orang majus aja.

Sehari menjelang tour Camel, suami gue uda terlihat gelisah. Sampai sampai bilang gini, “mudah mudahan cuaca jelek, jadi batal deh tour Camel besok”. Segitunya coba.

Tapi sejujurnya, sedikit banyak gue jadi terpengaruh. Ngebayangin duduk sendiri di atas unta, yakin bisa? kalau tiba tiba untanya stress dan ngamuk gimana. Trus urusan duduk nih yang lumayan bikin baper. Punggung unta kan melengkung ya.  Bayangin duduk di situ kok rasanya tertusuk balok banget. Hahaha.

Bisa bisa menggelindang jatuh mak! Belum lagi terik matahari pasti ngebakar kulit. Tengil bangetlah, lupa kalau liburannya bukan di tropis 🙂

IMG_9165.JPG
View di perjalanan

Berdua akhirnya jadi mikir macem macem. Apalagi suami uda wanti wanti, jangan pake celana pendek. Tar kena bulu unta. Opung opung kalau menapak uzur gini deh jadinya. Rempongss.

Maklumlah, namanya perdana. Dan memang berdua sama sama awam tentang binatang ini. Sebenarnya, gue uda malas banget bayangin pake jeans panas panas. Tapi sialnya, takut kena panas juga. Meskipun haus sinar matahari, tapi tetap aja, gue kan produk asli Indonesia. Masih takut gosong.

Pokoknya gaya gue patenlah. Pake celana plus jaket jeans, dan tak lupa topi. Dan you know what sesampainya di sana? gue sukses mirip ondel ondel bergaya sok denim. Beda sendiri dong.

Selebihnya orang orang pada pakai tank top, celana pendek dan leggings 3/4 gitu. Kalau topi masih oke sih. Tapi untungnya gue berada diantara orang orang yang bodo amat urusan salah kostum atau beda sendiri. Ga ada waktu mereka merhatiin gue. Siapa juga kan.

IMG_9127.jpg

Kami berangkat pukul 9 pagi. Perjalanan yang sungguh memicu adrenalin. Benar benar ga nyangka harus melalui jalanan sempit, meliuk, menanjak dan menurun. Salah sedikit, alamat langsung cusss ke jurang terjal dan cadas. Sepanjang mata memandang, hanya ada tebing gunung dan jurang

Jika bertemu kendaraan lain, bus harus berhenti. Atau sebaliknya, mobil di depan yang berhenti. Akibat kecilnya ruas jalan, jadwal transportasi bus dari berbagai travel tour pun diatur sedemikian. Jadi tidak ada pertemuan antara bus yang datang maupun yang pulang. Sepertinya keberangkatan semua bus dibuat pagi deh.

IMG_9162.JPG

Sesampainya di kawasan tour Camel, aroma bau ternak mulai berasa. Seperti bau kotoran sapi. Tapi masih level tenggang rasa kok. Ga sampai membuat kepala cenat cenut. Aroma binatang kaya apa sih. Ga mungkin bau body lotion kan.

Begitu melihat gerombolan unta, gue dan suami langsung berpandangan. Sumringah tepatnya. Uda capek mikir ini itu, bertanya sendiri jawab sendiri, ternyata apa yang dikhawatirkan sama sekali tidak terjadi. Kami tidak harus menunggangi unta sendirian, melainkan cukup duduk manis di bangku yang dirancang khusus mengikuti lekukan badan unta. Jadi yang parno kena bulu unta, harusnya ga perlu pake jeans ya. Hahaha.

IMG_9132.jpg

IMG_9129.jpg

Dan enaknya lagi, gue dan suami bisa duduk bersamaan hanya dengan satu ekor unta. Biar duduknya tidak oleng, gue duduk di bangku sebelah kiri dan suami di sebelah kanan. Sebelum bangku dipasang, punggung unta harus diberi lapisan bantal busa. Agar unta juga bisa berasa lebih nyaman. Mempersiapkan semua peserta tour lumayan memakan waktu. Karena semuanya harus berangkat berbarengan. Mengikuti seorang leader di bagian terdepan.

Sebelum dinaiki, semua unta terlihat duduk santai di tanah. Barulah peserta tour satu demi satu dipanggil. Didahulukan orang tua yang membawa anak anak. Dan sepertinya  para pegawai juga memperhatikan postur tubuh peserta. Yang ini dan itu cocoknya duduk dengan siapa. Mungkin tujuannya untuk menjaga keseimbangan juga.

IMG_9128 (1).JPG

Kemudian dipasang sabuk pengaman. Kaki harus berada di tali pengait (seperti naik kuda gitulah). Keseimbangan memang sangat sangat diperhatikan. Selain hal yang sudah gue jelaskan tadi, mostly bangku diberi satu karung berisi pasir di bagian sisi kiri dan kanannya.

Untuk memperkecil resiko bahaya, mulut unta diberi jaringan pengaman. Jadi kecil kemungkinan unta mencelakai atau menggangu peserta tour di depannya. Karena jarak antara unta yang satu dengan yang lain saling berdekatan.

IMG_9131.jpg

Masing masing unta semuanya terhubung dengan seutas tali panjang. Tujuannya agar unta tetap berada di jalur yang sama. Sebab semua rombongan hanya dikendalikan oleh satu leader, yang menggiring unta berjalan di bagian depan. Dan kebetulan pula, unta yang digiring si leader adalah unta yang kami naiki.

IMG_9122.jpg

IMG_9158.jpg

Lega banget rasanya, ternyata bisa menikmati tour camel ini dengan santai. Jauh dari bayangan seram. Paling di saat unta di suruh berdiri yang agak gimana gitu. Kaya kena turbelensi. Hahahha.

IMG_9119
Viewnya kece
IMG_9120
Anggap saja lagi maen film hahaha

Soalnya badan unta kan tinggi. Jangankan mau berdiri, disuruh duduk aja agar kami bisa turun lumayan berasa goyang. Karena unta harus menekuk kakinya. Dan tangan kami pun harus memegang erat erat pegangan di bangku.

IMG_9121.jpg

IMG_9117.jpg

IMG_9118.jpg
Ini masih sebagian kecil dari sekian kaktus raksasa yang memenuhi sekitar

Apalagi sepanjang perjalananan, view yang dilewati pun mirip semi Afrika gitu. Tanah kering, tanaman kaktus berukuran besar, hingga gunung batu. Eksotiklah. Setidaknya buat gue ya. Mungkin akan berbeda sensasi jika naik untanya hanya di kawasan zoo.

Kalau mau melihat Mini Zoo juga ada.  Mini Zoonya terkesan maksa. Ga ada apa apanya. Cuma kandang kecil berisi dua ekor unta. Peserta tour bisa memberi makan unta dengan menaruh makanan di ujung mulut. Nanti si unta langsung ngambil makanan pakai mulutnya juga. Ya kalau mau merasakan ciuman dengan unta sih boleh dicoba. Hahaha.

IMG_9124.jpg
Mini Zoo. Gunung itu jadi bikin cantekkk

Nah, keseruan tour hari itu pun semakin sempurna, setelah dalam perjalanan pulang bus melewati kembali jalanan yang terjal tadi. Gue duduk dengan posisi jendela pas menghadap jurang. Seram seram menakjubkan. Dan tak jarang supir bus membunyikan klakson yang sontak membuat gue bergidik. Layaknya himbauan pasang sabuk pengaman di pesawat, bunyi klakson ini seperti mengisyaratkan puncak high risk dari semua ruas jalan yang dilewati. Salah dikit aja, boomsss deh ke bawah. Badan bus ke tepian jurang cuma sejauh pengaman besi saja. Lebih jelas bisa lihat video di akhir tulisan ini.

IMG_9161.jpg

IMG_9112.jpg
Keceeeee

Konon supir bus yang mengendara di jalanan ini harus memegang driver license khusus. Jadi Supir bus biasa tidak diperbolehkan katanya. Artinya hanya driver handal yang sudah menghapal benar medan jalan. Kapan dan dimana harus membunyikan klakson sebagai tanda isyarat agar tidak berpapasan dengan mobil lain.

Sebagai orang yang phobia naik bus di jalanan tinggi seperti ini, gue nekat aja melihat ke bawah. Cakep banget soalnya. Kalau melihat hasil video/foto, masih kalah indah dibanding melihat langsung. Feelnya dapat banget. Coba direkam pake drone, pasti kece maksimal.

IMG_9166.jpg

IMG_9167.jpg

Tapi begitu sampai di kawasan viewpoint Mirador Degollada de Las Yeguas, semua ketakutan dan desisan tertahan di bus terbayar sudah. Berdasarkan info si guide, tebing dan jurang di kawasan Yeguas ini lumayan mirip dengan tebing batu di Gran Canyon US, makanya sampai diberi julukan “Gran Canyonnya Canaria”. Mereka ini sepertinya suka banget deh memiripkan wilayahnya dengan wisata terkenal lain. Hahahaha.

IMG_9168.jpg

IMG_9163
Liukan jalan dari Viewpoint Yeguas

Sebagai pemupuk mimpi akan keindahan Gran Canyon di Amerika sono, lumayan berpengaruh juga ke gue. Ibarat menyantap appetizer sebelum maincourse. Anggap saja latihan mata dan mental. Kali aja rejeki bisa ke Arizona (…..tuh sampai di bold), jadi uda ga kalap sampai selfie gaya alay di ujung tebing dan cussss terbang ke bawah. Langsung byeeeee deh.

IMG_9114.jpg
Kaya di planet antah brantah. Apalagi kalau ngelihatnya sendirian. 
IMG_9115.jpg
Kecenya mak!

Konon bentukan jurang di kawasan Yeguas merupakan hasil muntahan lava sekitar duabelas juta tahun yang silam. Tepatnya dari tumpahan lava puncak gunung Amurga.

IMG_9116
Gundukan tebing gunung ini menjadi salah satu kemiripan patahan seperti di Gran Canyon Arizona

Sepanjang mata memandang, semuanya tebing dan jurang. Tapi kece dan magis. Percaya deh. Kalau melihat langsung pasti takjub. Serasa berada di lengkungan bumi di planet susulan.

IMG_9113.jpg

IMG_9155.jpg

Bahkan hingga perjalanan menuju pulang, view yang dilihat sukses membuat mata melek. Sampai sampai view sebuah

Salam dari Swedia.

“Semua foto merupakan dokumentasi ajheris.com” 

Trip to Canary Island : Las Palmas (Kota Sejuta Palma), Hingga Rumah Colombus dan Belanja Asik

Seperti yang sudah gue tulis di tulisan sebelumnya, ada beberapa tour yang kami ikuti selama berada di Canary Island, tepatnya di pulau Gran Canaria. Dan kali ini, gue akan bercerita tentang kota yang tak lain merupakan salah satu dari “dua ibukota” yang dimiliki oleh Kepulauan Kanaria (Canary Island). Apalagi kalau bukan kota Las Palmas.

Las Palmas buat gue adalah sebuah kota yang apik dan bersih. Disebut Las Palmas karena kota ini memiliki tanaman Palma yang sangat banyak. Nyaris ada di setiap sudut jalanan kotanya.

IMG_8889.jpg

IMG_8843.jpg

Sebenarnya tidak hanya di kota Las Palmas, di kota lain di pulau Gran Canaria pun, pohon Palma mudah dilihat. Mungkin karena pertumbuhannya yang subur, sehingga pemberian nama Las Palmas sebagai nama ibukota menjadi lebih tepat.  Naik bus, jalan kaki, selalu terlihat pohon Palma. Berasa lebih sejuk di suhu kota laut yang lumayan hangat.

IMG_8855.jpg

IMG_8845.jpg

IMG_8846.jpg

Las Palmas itu kece. Gambaran ibukota yang eksotic. Gue bisa menikmati barisan pohon Palma, shopping mall besar, hingga ombak laut secara bersamaan. Bahkan sambil makan ikan goreng segar, di restoran sepanjang jalan di depan laut.  Ikan gorengnya  ala Indonesia pulaaak. Bodynya masih ori. Lengkap dengan kepala, ekor, sirip, bahkan matanya. Hahaha. Sexy banget kan. Selera banget gue makannya. Salmon dan Torskfish filet langsung kalah.

IMG_8858.jpg

IMG_8842.jpg

IMG_8856.jpg

IMG_8857.jpg

Las Palmas merupakan pusat perwakilan dunia wisata di Gran Canaria. Baik hotel, toko, butik mahal hingga murah menggila, shopping mall, old town, gedung modern, dan pastinya laut, semuanya bercampur baur jadi satu paket di kota ini. Lautnya ala ala film Bay Watch gitu.

IMG_8887.jpg

IMG_8888.jpg

IMG_8885.jpg

IMG_8886.jpg
Ibukota di pinggir laut. Ga crowded pula

Salah satu objek wisata yang banyak dikunjunjungi di kota Las Palmas adalah wilayah Old Townnya. Jika gue bandingkan dengan kota tua di beberapa negara yang pernah gue kunjungi, kota tua di Las Palmas sih biasa aja. Tapi tetep menarik buat ditelusuri. Seperti gambar di bawah ini.

IMG_8873

Cuma, di kota tua Las Palmas berdiri sebuah rumah antik yang pernah ditinggali oleh sosok penjelajah yang terkenal seantero jagat. Siapa lagi kalau bukan Christopher Colombus, pria yang disebut sebut sebagai penemu benua Amerika (meskipun sampai saat ini keakuratannya masih simpang siur).

Rumah bernama Casa De Colon yang konon katanya pernah ditempati Colombus pada tahun 1492, tepatnya ketika beliau berlayar menuju Amerika. Colombus mengalami masalah dengan kapal layarnya, yang mengharuskan beliau berhenti di pulau Gran Canaria. Tujuannya adalah untuk menetap sementara di pulau ini dan melakukan perbaikan atas kapal layar yang rusak.

IMG_8869.jpg
Bagian belakang bangunan Casa De Colon (Rumah/museum Colombus)

Awalnya Casa De Colon merupakan rumah kediaman kepala pemerintahan Gran Canaria pertama di jaman itu, dan dianggap sebagai rumah kalangan elite. Mau tau salah satu ciri khas rumah kaum elitenya? Dari balkon bangunannya.

Balkon bangunan pun harus tertentu. Terbuat dari kayu ukiran. Bahkan sampai sekarang, balkon seperti ini masih dipertahankan. Jika ada rumah antik peninggalan jaman dulu yang memiliki balkon kayu dan kemudian mengalami renovasi atau dijual, maka balkon balkon tersebut tetap diambil atau digunakan ke bangunan yang baru.

Casa De Colon artinya Rumah Colombus. Rumah antik yang sudah kelihatan berumur. Setelah mengalami renovasi pada tahun 1777, di tahun 1953 Casa De Colon resmi dijadikan museum.

Dalam museum juga tidak ada yang terlalu luar biasa (lagi lagi menurut gue). Paling hanya peta peta wilayah dunia yang pernah dijelajahi Colombus, lukisan lukisan besar yang gue kurang ngerti hubungannya apa dengan sosok si penjelajah, buku buku dengan tulisan tangan yang sudah sangat tua di dalam etalase (gue ga baca tentang apa tulisan itu), miniatur kapal layar jaman bahela, dan puncaknya sebuah ruangan yang sengaja diciptakan dengan nuansa Colombus. Seperti tempat tidur Colombus lengkap dengan kursi, pernak pernik drum kayu, tali berukuran besar, jangkar, pokoknya berbau pelayaran laut jaman dululah. Lengkapnya bisa dilihat pada akhir tulisan ini. Gue nyantumin link youtube gue.

IMG_8839
Bangunan rumah sekitar katedral. Balkon diberi kain warna merah sebagai peringatan menyambut Paskah
IMG_8877
Katedral Santa Ana bersampingan dengan Casa De Colon (bagian depan)

Gue sih lebih suka melihat bangunan luarnya. Gambaran design arsitek bangunan di jamannya. Oh iya, begitu kami mau keluar, terlihat dua ekor burung kenari yang warnanya ngejreng banget. Sengaja diletakin di lantai. Sudah jinak. Jadi meskipun didekati tidak panik lagi. Kenari adalah burung yang konon memiliki habitat yang banyak di Canary Island.

Tepat di samping Casa De Colon, terdapat Katedral SantaAna. Dibangun sejak tahun 1500, namun hingga saat ini pembangunan gereja tidak rampung juga. Gila banget.

IMG_8878.jpg
Katedral Santa Ana tampak depan

Infonya sih, gereja ini sepanjang masa selalu melakukan pembangunan demi pembangunan terhadap gedung gereja. Makanya tak heran jika Santa Ana memiliki ruangan gereja yang luas dan besar, dan arsitek bangunan di bagian depan dan belakang pun mewakili tahun dan jaman yang berbeda. Bisa gotic, klasik dan semi klasik.

IMG_8870.jpg
Katedral Santa Ana dari belakang
IMG_8863.jpg
Di dalam katedral Santa Ana
IMG_8864
Bangunan lain yang menyatu dengan katedral Santa Ana

Nah enaknya lagi nih, tour yang kami ikuti memberi kesempatan berbelanja kurang lebih 3 jam. Lumayan kan waktunya. Buat gue, meskipun bukan surga belanja (karena toko tokonya tidak terlalu banyak), tapi Las Palmas bisa jadi kota yang asik untuk sekedar berbelanja. Karena lumayan murah.

Tidak di Las Palmas aja sih, bahkan di beberapa tempat lain juga lumayan murah. Bahkan di butik hotel tempat kami menginap, gue membeli gaun malam dengan harga yang relatif ramah di kantong. Cuma 20 Euro. Bahan dan jahitannya bagus. Di badan enak dipakai.

Jika berlibur, berbelanja bukanlah kegiatan yang harus di gue. Kalau sempat okeh dan kalau ga ya udah. Beda kalau souvenir ya. Itu wajib. Karena gue suka ngumpulin souvenir mini gitu.

Tapi jauh hari sebelum berangkat ke Canary Island, gue memang sudah berniat pengen belanja. Dengan asumsi, harganya pasti lebih murah dibanding Swedia. Apalagi tak sedikit barang dagangan di Swedia yang menjual made in Spain. Jadi kalau beli di Spain logikanya sih bisa lebih murah ya. Apalagi katanya (kata pegawai tokonya sih), negara ini tidak mengenakan pajak atas banyak barang dagangan. Betul ganya malas mastikan. Hahaha.

Tapi meskipun begitu, gue memang berniat belanja serius hanya di kota Las Palmas. Tidak di pusat perbelanjaan kawasan Maspalopas Playa Del Ingles tempat kami menginap. Agak takut dan kurang nyaman. Apalagi setelah mendapat pengalaman tak mengenakkan dengan beberapa pedagang di kawasan ini. Gue akan tulis terpisah tentang pengalaman nyebelin itu.

Dan yang gue lihat sih, attitude pegawai toko di Las Palmas terlihat lebih baik. Lebih santai mereka jagain tokonya. Ga ngintilin. Kasarnya sih lo beli oke, ga juga ga apa. Ga dipaksa harus membeli. Sebel ga sih, di underestimate gitu. Pas belanja pula. Sial banget rasanya.

Nah, pas belanja, gue ketemu satu toko yang nyaris membuat gue setengah kalap. Kadang insting belanja itu kan ga bisa bohong ya. Maksudnya sekalipun harga murah, kalau barangnya terlihat ga bagus, ya ga ada yang istimewa juga.

Cuma pas masuk ke toko ini, gue dan suami sampai bisik bisik, ini benar ga sih harganya. Rata rata cuma 10 dan 12 Euro. Kalaupun ada yang mahalan, paling jumlahnya ga gitu banyak. Sampai kami mikir, jangan jangan nolnya kurang nih. Bukan 10 tapi 100 Euro. Hahaha.

FA74C4BB-02B0-4323-A431-93BD2C823F7B

Gue lihat high heelsnya, baik model, bahan dan warnanya bagus bagus. Kelihatan sexy. Sepatu sneakernya juga. Lumayan nyaman di kaki. Maksudnya dengan harga segitu loh. Tasnya apalagi. Meskipun sintetis, ga kaku kaku bangetlah. Jahitan dan bagian dalamnya rapi dan talinya kuat.

Awalnya suami gue agak angot angotan pas gue suruh nyoba sepatu. Ternyata pas dia coba, lumayan enak dipake jalan. Dan sudah beberapa kali dia pake loh. Okeh aja tuh di kaki. Harganya cuma 14 Euro. Belinya nothing to loselah.

Cuma sayang banget deh, waktu itu suami gue ngajak ke toko lain. Dengan pemikiran mungkin ada yang lebih menarik lagi. Sebenarnya kalau gue sih ga harus ngider sana sini ya. Kalau uda ketemu yang cocok, ya sudah. Ngapai capek sana sini lagi. Toh di sini juga lengkap bagus. Dan bener aja. Sampai habis waktu, toko lain uda lumayan mahal.

Tapi seperti yang gue bilang tadi, memang uda niat belanja. Terutama nyari brand lokalnya. Seperti BimbaY Lola. Gue suka banget produk label ini. Bahan kulitnya lembut. Selembut saldo di tabungan melayang. Huuaaahaha. 

Pas pula ketemu yang warnanya gue suka. Peach Pink. Modelnya simple, ga terlalu besar dan ga kecil banget juga. Menurut gue bisa dipakai formil bisa juga pas santai.

Sebenarnya urusan belanja kaya gini tergantung selera sih ya. Baik model, kualitas dan murah ganya tergantung masing masing orang. Buat gue mihil mungkin bagi orang lain murah. Sebaliknya gue bilang murah mungkin bagi yang lain mihil. Atau gue bilang cakep dan kualitas lumayan, bagi orang lain malah kelihatan abal abal. So, penting bisa belanja aja uda senanglah.

Salam dari Swedia

“Semua foto sebagian besar gue ambil dengan menggunakan handphone dan merupakan dokumentasi ajheris.com”

Mengunjungi “Little Venice”nya Gran Canaria, di Canary Island

*Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang Selayang Pandang Canary Island dan Eksotik Gurun Pasir di Playa Del Ingles*

Sebelum gue dan suami berangkat, kami menerima sebuah email dari Ving, travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island. Di email tersebut, mereka menawarkan beberapa wisata tour menarik yang ada di pulau Gran Canaria, Canary Island.

Setelah membaca teliti mulai dari hari, lama tour hingga yang paling penting urusan harga tentunya (cocok ga dikocek), kami memutuskan memilih tour selama tiga hari berturut turut. Alasan untuk mengikuti tour ini tak lain dan tak bukan, karena suami malas harus ngerental mobil atau nyetir. Lebih santai dan efisien menurut dia. Apalagi lokasi wisata yang ditawarkan memang lumayan jauh. Bisa satu jam perjalanan bahkan lebih.

Lagipula, waktu yang disediakan Ving untuk satu paket tour relatif santai dan ga buru buru. Maksudnya ga sekedar turun dari bus, foto selfie dan belum sempat liat apa apa udah naik bus lagi. Ini waktunya lumayan banyaklah.

IMG_8361
View selama perjalanan

Tour pertama yang kami ikuti adalah mengunjungi Puerto De Mogan, sebuah desa nelayan kecil yang famous di Gran Canaria. Rasa rasanya jika ke Gran Canaria sepertinya kudu ke sini deh. Soalnya selain Ving, semua brosur paket tour yang gue lihat, baik dari hotel maupun agen agen yang suka membagikan brosur, selalu menawarkan wisata ke Puerto De Mogan. Seperti wilayah lainnya, Puerto De Mogan juga punya Playa atau pantai bernama Playa De Mogan.

Berangkat sekitar pukul 8 pagi, kami harus berjalan kaki menuju hotel lain dimana bus akan menjemput kami. Ga jauh sih. Bus tidak menjemput satu persatu penumpang ke hotel. Karena masing masing penumpang menginap di hotel yang berbeda. Sepertinya untuk efisiensi waktu kali ya. Ga masalah sih harus jalan. Cuma tetap aja busnya telat 15 menit. Beberapa penumpang termasuk suami, saling bercanda terkait bus yang telat ini. Wajarlah, telat 15 menit lumayan berasa buat orang orang yang tinggal di negara dengan disiplin ontime yang tinggi.

IMG_8362
View selama perjalanan

Satu yang gue suka di setiap tour di Gran Canaria, Canary Island adalah hampir semua view yang dilewati ga ngebosenin. Buat gue sih cakep. Ya kotanya maupun luar kotanya. Seperti perjalanan ke Puerto De Mogan misalnya, view laut, gunung sampai bangunan bangunan yang memenuhi lereng tebing semua menyajikan keindahan yang berbeda. Gue suka!

Ada satu hal yang lumayan menarik perhatian gue. Ternyata dulu banget nih, orang orang di Gran Canaria menanam tomat tepat di bibir gunung yang tanahnya gersang dan sangat kering. Dan lahan gunungnya itu luasssssss banget. Ya kalau dipikir pikir sih, Spanyol memang dikenal mampu menghasilkan produk pertanian yang lumayan banyak untuk kalangan Eropa sekitarnya kan.

Cuma saat ini menurut info si guide, budi daya tomat di kawasan gunung tersebut sudah tidak ada lagi. Sumber airnya konon sudah habis. Kurang lebih gitu deh yang gue simpulkan. Mudah mudahan ga salah. Jadi untuk saat ini, budi daya tomat dikembangkan di area yang mirip green house.

IMG_8356.jpg

Begitu sampai di Puerto de Mogan, kami langsung turun dan menuju pelabuhan Marina. Pelabuhan yang digadang gadang sebagai “Little Venicenya” Gran Canaria di Canary Island. Berhubung gue belum pernah ke Venice dan cuma tau dari media sosial saja, jadi secara jelas gue ga bisa bandingin dimana kemiripannya.

IMG_8480
Ahhh..suka sekali

IMG_8482.jpg

IMG_8485

Tapi, terlepas dari julukan tadi, entah mengapa karena memang cuma sebuah desa kecil, atmosfir Puerto De Mogan itu menyajikan nuansa semi romantis. Apalagi nih, bangunan bangunan  rumah di sekitar pelabuhan membuat gue jatuh cinta. Lorong kecil, bangunan serba putih dan jejeran bunga Bougenville  yang menjuntai ke bawah dengan warna warna yang cerah. Sepertinya bunga ini secara tidak langsung menjadi ciri khas bangunan dan lorong di sana.

Puerto De Mogan, tadinya tidak memiliki pelabuhan. Lokasi desa yang tepat berada di pinggiran lautan Atlantik, mengakibatkan desa ini selalu menerima hempasan ombak yang sangat besar. Sehingga tak ayal, pemerintah kota setempat pun berinisiatif membangun pelabuhan dengan extra usaha.

Dengan cara memasang batu batu buatan berukuran besar dan tembok tinggi di beberapa titik air laut, yang tujuannya untuk bisa menahan dan menghalau ombak besar tadi. Proyek pengerjaan pelabuhan ini dilakukan mereka dengan salah satu alasan, yakni agar turis semakin banyak datang ke Puerto De Mogan. Dan itu berhasil. Karena usaha pengerjaan pelabuhan yang tidak mudah inilah, Marina Harbour mendapat penilaian dengan reputasi terbaik di mata turis. Dan cerita di balik pembuatan pelabuhan ini pun akhirnya menjadi nilai jual wisata di Puerto De Mogan.

IMG_8359
Puerto De Mogan dari ketinggian. Pelabuhan Marina tepat di atas laut Atlantik itu

Jika melihat gambar di atas, terlihat sebuah kawasan seperti berbentuk kotak. Nah, itulah pelabuhan Marina. Lebih jelas, bisa lihat video di akhir tulisan ini ya.

IMG_8477

IMG_8465

IMG_8507

IMG_8469

IMG_8473

IMG_8470
Pelabuhan Marina

Berjalan di sekitar pelabuhan lumayan menyenangkan. Airnya itu loh. Bening banget. Sampai sampai gue bisa melihat ikan berenang dalam jumlah yang lumayan banyak. Ihhh gemes. Pengen digoreng, trus disantap pakai sambel terasi. Nyossss.

IMG_8494.jpg
Ikannyaaaaa!
IMG_8493.jpg
Playa De Mogan
IMG_8463
Playa De Mogan
IMG_8462
Playa De Mogan

Ada satu hal yang menjadi keunikan lain dari desa nelayan ini. Setiap hari Jumat, mereka akan mengadakan pesta “Pasar Tradisional” atau Traditional Market yang besar. Nyaris sepanjang Puerto De Mogan ada pasar tradisionalnya. Mulai dari ujung pelabuhan sampai ke centrumnya. Dan ini menjadi salah satu kegiatan iconic Puerto De Mogan.

Maka tak heran, karena kegiatan Pasar Tradisional inilah, tour to Puerto De Mogan rata rata diadakan di hari Jumat. Cuma namanya Pasar Tradsional, sepanjang yang pernah gue lihat, ya gitu gitu aja sih bentuknya. Barang yang dijual pun hampir sama.

IMG_8468.jpg
Traditional Market
IMG_8498
Boulevard di sekitar pelabuhan
IMG_8466
Jalanan di sekitar pelabuhan

Tour yang kami ikuti ini lumayan enak. Kita tidak harus mengikuti si guide seharian. Jadi dia hanya menjelaskan secara garis besar tentang Puerto De Mogan, dan membawa kami langsung ke pelabuhan Marinanya. Sehabis itu, bebas. Mau melihat apa terserah. Asal ketemu lagi di Bus pukul sekian.

Buat gue sih cocok sistemnya. Karena gue kurang suka juga terus menerus harus ngekori guide. Kurang bebas. Yang penting kendaraannya sudah jelas ada yang menjemput dan mengantar pulang. Tour ini juga sudah masuk paket makan.

See you in my next story

Salam dari Swedia

“Semua foto merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

IMG_8501
Suka backroundnya

Trip to Canary Island (Playa Del Ingles dan Indahnya Gurun Ala Sahara)

Selayang Pandang tentang Canary Island sudah ada di tulisan gue sebelumnya. Kali ini gue akan menulis sedikit lebih detail tentang salah satu tempat yang gue dan suami singgahi di Canary Island.

Kami berangkat ke Canary Island pada tanggal 5 April 2017. Membooking tiket, hotel dan pesawat melalui Ving, travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island. 

Melalui travel company inilah kami bisa terbang tanpa harus jauh jauh ke Arlanda Stockholm. Cukup ke bandara udara terdekat di kota Borlange Dalarna.

IMG_8084.JPG

h.jpg
Salah satu sudut kota Playa Del Ingles

Dengan bantuan teman baik suami yang bersedia mengantar kami ke bandara, kami berangkat menjelang siang dan masih sempat lunch di kota Borlange. Setibanya di bandara, tidak pake lama kami langsung check in.

IMG_8104.JPG

Sambil menunggu boarding, gue melihat semua orang di cafe bandara dipastikan warga Swedia. Dan rasa rasanya pun dipastikan lagi mereka memang hendak liburan.

Atmosfir “Welcome Holiday” sudah sangat berasa. Orang Swedia yang gue kenal sebagai penggila kopi pun nyaris lupa kalau kopi adalah minuman kegemaran mereka. Sepertinya awal perjalanan liburan ini bagi mereka lebih cocok dimulai dengan sebotol bir. Jadi semua meja penuh dengan bir. Kelihatan sekali senang senangnya. Skål!

IMG_8101.jpg
Ketemu kejadian tidak mengenakkan di kawasan shopping center di dekat centrum ini. Akan gue tulis di bagian  scammer.

Tepat pukul 15.30 waktu Swedia pesawat take off. Oh God!

Betapa perut gue kram selama penerbangan. Yang tiba tiba kena migranlah, sendi sendi kok kayanya ngilu, diajak ngomong suami marah, maunya diam aja menikmati stress. Aneh banget. Dikit dikit melihat jam tangan. Trus ngomong dalam hati “ngapai harus ke Canary Island sih ampe terbang 5 jam lebih gini”.

IMG_8103.jpg

Sampai makan pun ga selera. Pokoknya benar benar depresi. Ampe mau nangis setiap turbelensi dan peringatan lampu sabuk pengaman. Sekalipun disebut turbelensi adalah hal yang wajar di dunia penerbangan, tetap aja ga ngaruh dan malah memicu syndrom gue. Cuma lagi lagi gue mikir “tenang, kan gue mau senang senang. Paling ga sejenak bisa melupakan timbunan setrikaan dan tang ting tung sendok kuali di dapur”.

IMG_8098.jpg

IMG_8105.jpg

Kami tiba di Las Palmas Airport sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Swedia beda satu jam lebih awal. Cuaca masih lumayan terang. Begitu bagasi beres, kami langsung bertemu perwakilan dari Ving. Langsung cek nama dan hotel, beliau pun menunjuk bus yang kami harus naiki.

IMG_8163.jpg

IMG_8082.jpg

Driver busnya agak nyebelin. Ga ada manis manisnya. Ngomongnya sedikit galak. Apa memang karakternya begitu kurang tau juga. Yang jelas namanya penumpang tetap aja kurang nyaman. Mana mood gue masih berantakan pula. Dan benar saja, nyetirnya kencang banget. Ampe suami gue yang jarang complain itu pun sedikit pasang muka bete. IMG_8154.jpg

Berhubung makanan di pesawat ga gue sentuh sama sekali, jelas dong gue lapar. Sesampainya di hotel kami langsung berinisiatif mencari makan. Dan ternyata cafe restoran masih banyak yang buka. Rata rata sampai pukul 12 malam. Kami masuk ke sebuah restoran bernuansa Brazil. Dan malam itu pun titik awal kami menikmati liburan di Canary Island. Yipiiii!

IMG_8157.jpg
IFA Dunamar Hotel. Salah satu iconic di Playal Del Ingles

Dari tujuh atau delapan pulau besar yang dimiliki Canary Island, kami memilih Gran Canaria sebagai salah satu pulau terbesar di Canary Island setelah Tenerife. Di pulau Gran Canaria inilah terdapat kota Las Palmas yang sekaligus  menjadi satu dari dua ibukota yang dimiliki kepulauan Kanaria (Canary Island).

IMG_8171 (1).JPG

Sebagai ibukota Canary Island tentu saja  pembangunan infrastruktur lumayan berpusat di Gran Canaria terutama di kota Las Palmas. Mulai dari jalanan yang oke, penataan kota yang indah, hotel dan cafe restoran dimana mana, hingga shopping center.

Selain Las Palmas dan Puerto Rico, Playa Del Ingles adalah salah satu resort  yang menjadi pusat tujuan wisata di Gran Canaria. Playa Del Ingles sendiri termasuk dalam wilayah kota Maspalomas. Pantainya indah karena memiliki bibir pantai yang luas. Bangunan hotel sangat banyak berjejer rapi di kawasan ini. Dan lokasinya rata rata tidak begitu jauh dari pantai.

IMG_8096.jpg

IMG_8070.jpg

IMG_8115.jpg

Berjalan di sekitar tepian pantai jangan kaget jika melihat banyak wisatawan yang berlalu lalang dan tiduran tanpa mengenakan pakaian alias naked. Cuma kawasan pantai memang dibagi dua kelompok. Yang satu untuk kalangan Nudis dan satunya lagi Non Nudis.

Terus terang gue risih sih. Jangankan gue, suami gue yang notabene bule pun lumayan risih. Apalagi ada beberapa wisatawan yang tetap naked dan memilih tempat berjemur di kawasan Non Nudis (campur dengan anak anak).

IMG_8153.JPG

IMG_8111.jpg

IMG_8085.jpg
Kawasan pantai ini bukan untuk Nudis. 

Playa Del Ingles juga memiliki kawasan Gurun Pasir ala ala Sahara yang lumayan luas dan merupakan cagar nature yang dilindungi oleh pemerintah setempat.

Gurun pasir di sekitar pantai kawasan Playal Del Ingles ini masih bersatu langsung dengan bibir pantainya. Sehingga pemandangan dari gurun pasir terlihat seperti tiga dimensi. Di satu sisi hanya terlihat hamparan gundukan bukit pasir, di sisi lain bisa juga melihat gurun sekaligus laut bahkan bangunan bangunan di sekitar. Eksotik sekali.

IMG_8092

IMG_8093.JPG

IMG_8089.JPG
Gundukan pasir ini kelihatannya ga tinggi ya. Aslinya tinggi loh. Dan lumayan perjuangan naik ke atasnya. 

Gue senang banget melihat gurun pasir ini. Terpersona tepatnya. Ternyata berjalan di atas gurun itu sangat melelahkan. Kebayang kan melangkah di atas gundukan pasir tebal dan kering.

Apalagi kalau gurunnya berbentuk bukit dan menanjak gitu, mau naik rasanya ga nyampe nyampe karena kaki serasa terdorong ke belakang di bawa pasir. Capek banget. Semakin ke atas semakin berasa anginnya. Alamat pasir kena ke muka dan badan.

Tapi gue ga peduli bangetlah urusan yang begini mah. Mau kena pasir apa ga yang penting hati gue senang berada di tempat yang selama ini cuma bisa gue lihat di tipi tipi. Jadi ingat istilah kaum musafir di tengah gurun. Yang jelas berada di gurun pasir yang gundukannya paling tinggi rasanya excited banget.

IMG_8087

IMG_8072.JPG

IMG_8091.JPG

IMG_8090.JPG

Jika memasuki kawasan gurun dari tepian pantai banyak terlihat gundukan rumput yang lagi lagi kaum Nudis berjemur diantara semak rumput ini. Bahkan sepertinya mereka memilih masuk ke tengah tumpukan rumput dan tiduran di sana. Lebih privacy juga sih. Ide yang bagus. Hahaha.

IMG_8088 (1)

IMG_8206.jpg
Tumbuhan rumput ini lumayan banyak di sekitar pantai. Di kawasan Nudis, tak sedikit wisatawan yang berjemur di sekitar tanaman ini bahkan ada yang masuk ke dalam. Lebih privacy mungkin ya

Selain dari bibir pantai, gurun pasir juga bisa dilihat dari kawasan Sahara Club. Semacam pedestrian di ketinggian gitu. Aksesnya bisa dinaiki melalui anak tangga yang terdapat di sekitar kawasan Shopping center Anexo II.

IMG_8077.jpg
Melihat View gurun dari sini. Jalan jalan di sini enak. Adem dan view kiri kanan oke. Ya bangunan, ya gurun juga

Menikmati pagi dan sore di jalanan ini lumayan asik. Bangunan bangunan di sekitarnya pun lumayan kece. Gue kurang tau pasti apakah berbagai bangunan di sisi jalan merupakan rumah atau penginapan.

Bunga, kaktus, pohon palma, menjadi pelengkap keindahan kiri kanan jalan. Dan puncaknya tentu saja hamparan gurun pasir yang bisa dilihat dari ketinggian. Melihat kepala manusia ibarat titik titik hitam yang bergerak berjalan.

Selain itu kawasan Shopping Center Anexo II sepertinya menjadi pusat hang out di Playa Del Ingles. Cafe, bar dan restoran berjejer di sini. Berada pas di bibir pantai.

IMG_8159.jpg
Sebagian restoran di Anexo II, pas di samping pantai
IMG_8150.jpg
Si Merah yang selalu melayang :0
IMG_8205.jpg
Menikmati sore

Mau cari souvenir juga ga perlu pindah ke lain tempat lagi. Banyak yang jual. Ada satu hal yang menarik perhatian gue. Karena banyak sekali souvenir di Playa Del Ingles berbentuk Tokek (kadal raksasa) atau pernak pernik yang pasti ada tokeknya. Mulai dari mug, tempat lilin, bingkai foto, piring, hingga handuk.

Sangkin penasarannya gue nanya dong ke pegawai toko. Ternyata menurut beliau, Gran Canaria memiliki populasi tokek yang sangat banyak. Bahkan bisa dilihat di tumpukan rumput di tepi pantai tempat kaum Nudis jemuran. Tapi setiap kami ke pantai ga pernah tuh nemuin tokek. Bahkan sengaja menilik ke tumpukan rumput (menilik pas ga ada orang jemuran ya..hahaha), dan tetap aja tokeknya ga keliatan.

IMG_8113
Tokek, ciri khas souvenir di Gran Canaria
IMG_8117
Flamengo, yang terbawa pulang

Dan satu lagi yang tak kalah membuat gue heran campur ketawa, souvenir dalam bentuk alat kelamin pria juga banyak banget. Kalau ini malas nanyanya kenapa. Hahaha.

Mungkin karena daerah pantai ya. Dan banyaknya kaum Nudis yang tanpa pakaian berjemur di sekitar pantainya. Tapi jadi lucu ngelihatnya. Motif dan warnanya beraneka ragam.

Oh iya, berhubung massage di Swedia lumayan mahal, jadi gue ga menyia-nyiakan massage di sini (walaupun massage kaki doang sih). Cuma 10 Euro per duapuluh menit. Ga pake appointment pula. Sangkin maruknya tiga hari berturut turut gue mijet.

Bahkan pas gue datang pertama kali, mereka lagi sibuk banget dan bilang tidak bisa melayani gue. Ehhh pas gue belum jauh ninggalin mereka, gue dipanggil lagi dong. Ternyata ya mak……mereka nelpon karyawan yang kebetulan ga tugas hari itu. Tempo 15 menit nyampe tau. Di Swedia tepatnya di Mora, impossible kuadrat rasanya bisa kaya gini. Hahahha.

IMG_8116

Kawasan di sekitar Anexo II lumayan setiap hari kami datangi. Kebetulan pas di sebelah hotel. Bahkan dua hari sebelum balik ke Swedia kami memutuskan hanya menghabiskan waktu di sekitar Anexo II. Berjemur di pantai, makan, minum fresh juice. Gue puas puasin deh. Secara di Mora mana ada jual fresh juice.

IMG_8074.jpg

IMG_8158.JPG

Sebenarnya ada beberapa shopping center di Playa Del Ingles. Tapi menurut gue sih kurang menarik. Semua tempat belanja di sini dinamai Shopping Center sekalipun cuma terdiri dari bebeberapa toko. Apalagi Playa Del Ingles memang orientasinya hiburan pantai ya. Jadi wajar Anexo II lebih ramai dikunjungi. Karena multi fungsi.

Salam dari Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris”