Systembolaget (Ketika Sistim Monopoli Ada di Swedia)

Pernah mendengar “Systembolaget”? mungkin buat teman teman di tanah air atau luar Swedia terdengar agak aneh. Apa itu systembolaget? Jika kamu berkunjung ke Swedia dan melihat store bertuliskan “Systembolaget”, tak lain merupakan store berisi berbagai jenis minuman keras. Minuman keras berkadar alkohol mulai dari 3,5 persen hingga 40 persen (meskipun minuman non alkohol bisa juga ditemukan di store ini).

Terus istimewanya apa? Menjadi istimewa (setidaknya buat gue) karena systembolaget ini adalah “satu satunya” toko yang boleh menjual minuman keras berkadar alkohol 3,5 persen ke atas. Dan itu berlaku untuk seluruh wilayah Swedia.

Yup, systembolaget merupakan perpanjangan sistem monopoli perdagangan minuman keras di Swedia yang dikendalikan langsung oleh pemerintahnya. Monopoli di sini sama artinya dengan : tidak ada toko/store atau pihak manapun yang bisa menjual minuman keras di level tersebut selain systembolaget. Supermarket besar sekalipun tak terkecuali. Apalagi individu ke individu lainnya. Ketauan alamat kena sanksi.

Supermarket hanya diperbolehkan menjual minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen. Sebuah kadar alkohol yang relatif rendah. Gue saja yang tidak begitu familiar dengan minuman keras, jika meminum minuman berkadar alkohol di bawah 3,5 persen sama sekali tidak berasa. Tidak pusing apalagi mabuk. Seperti minum sofdrink biasa saja.

Ketika pemerintah Indonesia memberlakukan larangan penjualan alkohol di sana sini, gue masih bisa memaklumi terkait kultur budaya dan alasan “segala macamnya”. Lah ini di Swedia. Kok bisa? Kalau bicara “aturan di bawah umur”, setau gue hampir di sebagian besar wilayah negara eropa menerapkan batasan umur untuk seseorang mulai bisa mengkomsusmi minuman beralkohol tinggi. Meskipun penerapan tentang batasan umur di setiap negara bisa beragam. Tapi ini penjualannya sampai dimonopoli loh. Dan tidak semua negara yang melegalkan minuman beralkohol menerapkan sistem ini.

Dan amazingnya lagi, toko systembolaget tidak ada di setiap tempat. Mostly hanya ada satu untuk satu wilayah kotamdaya (kommun). Kecuali di kota kota besar kemungkinan bisa lebih, tergantung luas wilayah dan jumlah penduduknya. Pembelian minuman di systembolaget pun dibatasi. Hanya boleh dibeli mulai pukul 10 pagi hingga pukul 7 malam. Pemberlakukan aturan inilah kemungkinan yang membuat mengapa harga minuman beralkohol di berbagai bar dan restoran di wilayah Swedia sangat mahal jika dibanding membeli langsung di systembolaget.

Sekitar 50 tahun yang lalu, penerapan systembolaget malah lebih kejam. Hanya ada satu di setiap ibukota propinsi. Contohnya di propinsi tempat gue tinggal yaitu Dalarna hanya ada di kota Falun. Kebayang ga sih jauhnya. Dari tempat gue saja jaraknya bisa mencapai 130 kilometer. Kemudian seiring waktu, aturan systembolaget dibikin lebih longgar dengan menunjuk satu agen perwakilan resmi systembolaget di  wilayah kotamadya masing masing, sehingga warga bisa mengorder melalui perwakilan yang ditunjuk ini. Bayangin ribetnya. Hahaha.

Lantas mengapa sampai sedemikian ekstremnya penerapan penjualan minuman alkohol berkadar tinggi di Swedia? sampai sampai harus dimonopoli pemerintahnya?

Hal ini berhubungan dengan sejarah Swedia di masa silam. Masa dimana sebagian besar kaum laki laki di negara ini sangat menggilai minuman keras dan suka bermabuk mabukan. Jika dirunut lagi, kehidupan serba sulit yang menyelimuti bangsa Swedia di masa silam sedikit banyak mempengaruhi mental warganya. Kapan?  ratusan tahun silam kurang lebih sekitar tahun 1700-1800an, ketika Swedia memegang predikat sebagai salah satu negara termiskin di eropa sebelum menjadi negara maju seperti sekarang ini.  Minum hingga mabuk sepertinya menjadi salah satu alasan untuk bisa melupakan sejenak kepahitan hidup. Apalagi waktu itu minuman keras bisa dibeli dengan mudah antar sesama warga. Bahkan minuman keras berkadar alkohol tinggi dan tidak terkontrol bisa dibikin sendiri oleh warganya.  Akibatnya tak sedikit warga yang suka lost control ketika menggambil sebuah keputusan. Salah satunya ketika terperangkap dalam bujuk rayu pengusaha kaya.

IMG_5837

Makanya ada pepatah orang Swedia yang menyebut ” I Den Ena Fickan Hade Dom En Flaska, Och I Den Andra Hade Dom Bibeln” yang artinya di saku yang satu ada sebuah botol (diartikan minuman) dan di saku lain ada alkitab. Pepatah ini muncul karena tak sedikit warga Swedia di jaman dulu dengan gampangnya masuk perangkap pengusaha kaya yang hendak membeli lahan milik warga. Para pengusaha digambarkan sebagai pelaku sandiwara yang jitu dan sangat jeli melihat karakter korbannya.

Sekira mereka tau sasaran korban adalah pribadi yang hobby minum hingga mabuk, maka mereka menawarkan sebotol minuman. Diajak minum terlebih dahulu dan ditawari untuk menjual murah lahannya. Ujung ujungnya si warga pun mabuk dan akhirnya mau menandatangani surat jual beli. Sedangkan kalau sekira korban yang dilirik sangat agamais, para pengusaha ini pura pura berlagak seperti pendeta. Membacakan ayat alkitab demi mencuri hati si warga. Lahan pun dijual dengan murah. Konyol banget kan. Hahaha. Kurang lebih cerita singkatnya seperti itulah.

IMG_5805

Berkiblat dari parahnya efek yang ditimbulkan minuman keras ini, banyak pihak yang mulai gerah. Terutama kaum wanita karena merasa berada di pihak yang dirugikan. Kehilangan aset tanpa mereka tau. Inilah titik awal mengapa akhirnya setiap jual beli tanah, lahan hutan  dan rumah di Swedia harus melibatkan pasangan. Agar terhindar dari kejadian menjual aset di bawah pengaruh alkohol. Kemudian kampanye akan bahaya minuman keras mulai digaungkan oleh beberapa kalangan dengan membentuk organisasi anti minuman beralkohol.

Hingga akhirnya kebijakan final pun dibuat. Semua produksi minuman alkohol baik dalam negeri maupun luar, dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia di bawah lembaga pemerintah bernama “Vin och Spritcentralen” (Sentral wine dan alkohol). Dari sinilah hotel dan restoran dan bar di Swedia bisa membeli stok minuman keras.

Dan pada tahun 1955, didirikanlah systembolaget dengan pangsa pasar warga biasa. Sebuah toko minuman keras berkadar alkohol tinggi yang dikendalikan langsung oleh pemerintah Swedia.

IMG_3675

Pembatasan umur pun dilakukan. Di Swedia, meski batas umur untuk bisa meminum alkohol dimulai dari umur 18 tahun, tapi untuk bisa membeli minuman alkohol di systembolaget harus berumur minimum 20 tahun. Bayangkan, untuk mulai bisa membeli dan mengkonsumsi saja dibedakan loh umurnya. Jadi yang berumur 18 tahun hanya boleh membeli minuman di bar atau restoran dalam hitungan pergelas tanpa boleh dibawa pulang.  Sehingga tak ayal, para kasir di systembolaget ditugaskan juga untuk sangat jeli memasang insting apakah para buyer sudah cukup umur apa tidak. Kalau sekiranya ragu, mereka wajib meminta identity card (KTP).

Bahkan pemerintah Swedia tak jarang mempekerjakan secara random para remaja di bawah usia 20 tahun dan masuk ke dalam systembolaget untuk kemudian berpura pura sebagai konsumen. Hal ini dilakukan demi memastikan apakah para kasir menjalankan tugasnya dengan baik. Jika ternyata mereka ceroboh memainkan instingnya dan kemudian tidak meminta KTP, maka alamat kena sanksi tegas (kemungkinan bisa dipecat). Sadis meeeen.

fullsizerender-31

Pemberlakuan aturan tegas ini suka atau tidak suka, memang harus dipatuhi warga Swedia terutama bagi para pelaku bisnis restoran dan bar. Gue pernah melihat dengan mata kepala sendiri, ketika berada di sebuah cafe bar di Stockholm. Ketika dua orang pria dimintai KTP oleh pelayan bar. Kasat mata sih sepertinya sudah berumur 20 tahun. Tapi entah bagaimana si pelayan bar bisa dengan baik memainkan instingnya. Dan taraaa banget deh. Ternyata beneran masih di bawah umur 18 tahun. Dan mereka pun tidak diperbolehkan memesan minuman alkohol yang mereka mau.

Waktu itu gue berpikir awam banget. Gila banget sampai dicek sedemikian. Seumpama pun bener mereka masih di bawah umur, toh kalau dibolehin ga ada yang tau juga kan? (maksudnya gue berpikir demikian dari segi bisnisnya loh. Kok rasa peduli si pelayan bar lebih tinggi daripada mendapat keuntungan semata). Akhirnya gue bisa memahami. Semisal mereka sampai mabuk atau katakanlah lebih parah lagi ternyata mereka adalah suruhan pemerintah? ijin menjual minuman keras oleh pemilik bar kemungkinan besar akan dicabut kan.

img_5248

Bahkan sampai sekarang pun, setiap bar yang menjual minuman keras di Swedia, jika mereka memperbolehkan para pengunjung minum di luar bar, misalnya di halaman bar, maka bar wajib memiliki pagar pembatas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kalau pengunjung minum di sembarang tempat.

Suami gue masih ingat banget, sekitar 40 tahun silam, aturan tentang penjualan minuman alkohol di bar dan restoran Swedia malah jauh lebih ketat. Restoran bar hanya boleh menjual minuman alkohol jika pengunjung juga memesan makanan. Kalau tamu restoran ujuk ujuk datang hanya untuk memesan minuman, alamat tidak dibolehin. Dan untuk mengontrol dan mengendalikan kebijakan ini, pemerintah Swedia lagi lagi dengan sengaja mempekerjakan satu orang pegawai suruhan mereka untuk khusus melayani bagian minuman.

Jadi bartendernya bukan pegawai restoran yang bersangkutan loh, melainkan pegawai yang dipekerjakan langsung oleh pemerintahnya. Kemungkinan pemilik restoran untuk berlaku tidak jujur dengan hanya menjual minuman  kepada para tamunya pun sangat kecil, karena bartender hanya boleh mengeluarkan minuman jika pemilik restoran memperlihatkan kertas bertuliskan daftar makanan apa saja yang dipesan oleh tamu restoran.

Bahkan konon sempat loh setiap orang hanya boleh membeli minuman alkohol dengan menunjukkan kupon. Dan kupon ini juga dibatasi jumlahnya untuk kurun waktu tertentu.

Belum lagi ketika liburan ke luar Swedia, warga Swedia hanya diperbolehkan membawa pulang satu botol minuman keras. Sampai akhirnya kebijakan ini mulai berubah sejak Swedia bergabung dengan Uni Eropa. Kebahagian warga Swedia pun dimulai karena mereka bisa membeli minuman alkohol dari tempat berlibur dalam jumlah tak terbatas. Gila bangetlah pokoknya.

img_5215

Tapi menurut gue pribadi, alasan pemberlakuan monopoli perdagangan minuman keras oleh pemerintah Swedia, lumayan masuk akal juga. Selain cerita sejarah di masa silam, hingga saat ini pun keinginan warganya untuk mengkonsumsi minuman keras lumayan besar. Jadi dengan adanya systembolaget ini setidaknya membatasi ruang bebas mereka untuk bisa membeli kapan dan dimana saja minuman berkadar alkohol tinggi. Minum minuman beralkohol tidak dilarang, bahkan menjurus mabuk pun sepertinya masih dianggap wajar selama tidak membuat onar dan mengendara. Dan systembolaget dianggap pemerintah Swedia sebagai media pengaman penggunaan minuman alkohol yang berlebihan.

Buat gue semua ini sangatlah menarik. Karena aturan tegas ini justru diberlakukan di negara barat yang notabene identik banget dengan minuman alkohol. Dan aturannya itu ga main main. Bukan sekedar aturan yang bersifat teori yang dicatatkan dalam sebuah lembaran negara. Tapi benar benar direalisasikan. Karena kalau bicara teori undang undang, setiap negara pasti punya. Cuma pelaksaanannya yang suka berbeda.

Setau gue (koreksi bila salah) tak banyak negara yang memberlakukan sistem monopoli perdagangan minuman keras berkadar alkohol tinggi. Hanya ada beberapa negara seperti Finland, Norway, Iceland, Canada. Kalau ternyata masih ada yang lain, gue kurang tau pasti.

IMG_4685

4 Comments

  1. Ya, agak aneh memang. Sy bru dngar dr Anda. Tp stlh diulas dg pnjang lbar dan detil, sy jd tahu bnget, dan systembolaget itu logis bnget ya. Beda bnget dg di Indonesia yg ktanya agamis tp regulasinya gak seketat dsana. Pokoknya sy setuju dech dg ulasan artikel mbak Ajheris ini, jlas dan mudah dipahami.

    Itu ajah komennya.👌👍

    Liked by 1 person

    1. Makasih mas. Penerapan systembolaget ini memang masih masuk akal terkait sejarah silam dan sampai sekarang pun warga Swedia masih memiliki keinginan besar mengkonsumsi alkohol

      Like

    1. Awal bulan ini masuk akal juga ya secara baru gajian. Dan faktor kultur budaya setempat juga sehingga melarang ”minum” di depan umum. Kebijakannya beda beda tapi tujuannya sama sepertinya. Cuma India tidak menerapkan sistem sampai dimonopoli ya. Siapa saja masih bisa menjual

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s