Tempat Wisata Menarik Yang Bisa dikunjungi di Stockholm

Mungkin bagi beberapa kalangan, Stockholm bukanlah kota wisata sepopuler kota kota besar di wilayah Schengen lainnya. Sebut saja seperti Italia, Perancis, Jerman, Austria, Belgia, Swiss atau Spanyol.

Namun buat gue pribadi, standard keindahan kota di Eropa juga ada pada Stockholm. Bangunan tua? ada. Gereja kuno? ada juga. Museum? apalagi, sampai museum udaranya pun ada. Trus taman kota? ini mah uda wajib adalah ya. Cafe cafe kozy?  bukan cuma kozy, yang rustic dan bernuansa romantis pun ada. Dan satu lagi, istana raja juga adaaaaa!

Ditambah pula Stockholm berada diantara kanal kanal air yang bersih, yang membuat kota ini semakin cantik dan menawan. Sehingga tidak heran jika Stockholm sampai diberi julukan Venice Utara Eropa.

Dan uniknya lagi, Stockholm merupakan kota yang berdiri di atas belasan pulau. Pulau pulau kecil yang saling berdekatan, yang satu dan lainnya hanya sejarak jembatan.

IMG_1097.JPG

Stockholm adalah ibukota sekaligus kota nomor satu terbesar di Swedia. Sebagai capital city, tidak heran Stockholm menjadi pusat perhatian para turis lokal maupun asing. Beberapa tempat wisata menarik bisa dilihat di kota ini. Di saat musim panas, Stockholm menjadi kota yang lumayan crowded. Turisnya ramai banget.

Entah sudah berapa kali berkunjung ke Stockholm, herannya gue tidak pernah merasa  bosan. Mungkin karena kunjungan pertama yang sangat berkesan, setiap ke Stockholm semangatnya ga pernah luntur. Padahal jarak Stockolm dari tempat tinggal gue lumayan jauh.

So, wisata apa saja yang bisa dilihat di Stockholm? Berikut ceritanya!

GAMLA STAN 

Ada seutas tali kuat yang selalu menarik gue untuk datang ke Stockholm. Dan setelah dipikir, dari beberapa kali kunjungan, sepertinya kawasan ini tidak pernah terlewatkan oleh kami (gue dan suami). Kawasan yang terbilang mainstream. 

Apalagi kalau bukan Gamla Stan. Berkunjung ke Stockholm tanpa ke Gamla Stan, ibarat makan rujak tanpa cabe.

Berikut foto bangunan di Gamla Stan

Gamla Stan artinya Kota Tua. Seperti kebanyakan kota di Eropa, Stockholm juga memiliki kawasan Old Town yang berdiri sejak abad pertengahan.

Gue cinta banget dengan Gamla Stan. Selain memiliki bangunan tua, Gamla Stan juga sarat dengan  gang kecil. Gang yang sebagian besar terdiri dari cafe cafe kozy, toko souvenir dan fashion.

Tidak itu saja, ketika berjalan di setiap gang, sesekali mata dan telinga akan terhibur dengan hiburan gratis para seniman jalanan. Gang kecil yang memberi suguhan abad Renaisans. Baik dikala siang maupun malam, Gamla Stan selalu mempesona.

Berada di Gamla Stan seakan melintas waktu dan jaman. Dan tentunya berkesempatan merasakan sensasi kota “Tempoe Doloe”.

img_1096
Gamla Stan
IMG_1088.JPG
Gamla Stan
IMG_0985.JPG
Gamla Stan

Ada satu gang terkecil di Gamla Stan yang sangat terkenal. Yang menjadi kunjungan wajib ketika berada di kota tua ini. Apalagi kalau bukan Mårten Trotzigs Gränd. Gang kecil yang bisa dibilang less than a metre wide. Ga nyampe semeter.

Meskipun terkesan biasa, akan tetapi Mårten Trotzigs Gränd mampu menghipnotis para wisatawan (tidak terkecuali gue), untuk berjalan di lorong gang  yang katanya cuma selebar 90 cm itu.

Di saat summer,  Mårten Trotzigs Gränd jarang terlihat sepi. Ada saja turis yang lewat. Bahkan harus rela ngantri. Padahal kalau dipikir pikir cuma gang biasa. Tapi  kalau bicara liburan, sesuatu yang famous selalu sayang untuk dilewatkan. Dan biar sah juga 😊

Bagian lain yang sekaligus menjadi pusat keramaian di Gamla Stan adalah Stortorget. Big square yang selalu dipenuhi lalu lalang turis. Ngapai aja turis di sini? foto foto! Nongkrong di cafe juga boleh. Atau biar lebih irit, duduk di bangku kayu bahkan di tangga museum Nobel yang terkenal itu. Yang walaupun terkenal, sampai sekarang gue belum pernah masuk ke dalam. Cuma dilewati doang. Maybe someday.

img_0041
Stortorget, bangunan merah dan coklat merupakan iconic

Berada di Gamla Stan, jangan lupa mencoba berbagai macam kelezatan cake dan roti di sebuah toko bakery bernama Sundbergs Konditori. Toko bakery tertua di Stockholm yang sudah berdiri sejak tahun 1785. 

KATEDRAL STOCKHOLM (STORKYRKAN)

Wisata Eropa lumayan identik dengan gereja. Memasuki gereja bukan lagi sebatas urusan ritual agama tertentu. Melainkan kunjungan wisata yang bersifat universal. Sehingga menjadi hal biasa jika pintu pintu gereja di benua ini selalu terbuka untuk publik setiap harinya, sekalipun bukan di jam beribadah. Pun dengan Stockholm, kota yang memiliki beberapa bangunan gereja dan terus terang membuat gue terkesima.

IMG_1192.JPG

Salah satu gereja terkenal di Stockholm adalah Katedral Stockholm (Storkyrkan). Letaknya masih di sekitar Gamla Stan. Kalau ditanya gereja Eropa mana yang pertama sekali gue kunjungi, jawabnya ya katedral Stockholm ini. Jadi wajar jika gue terwow!

Selain untuk kebaktian umum, katedral Stockholm juga dikenal sebagai gereja resmi keluarga kerajaan Swedia. Terutama di saat perayaan besar seperti pernikahan dan baptisan keluarga.

img_1464
Gereja yang megah

Pertama kali mengunjungi katedral Stockholm pada saat musim dingin bulan Januari 2014. Kala itu pengunjung sepi. Gue dan suami pun bisa masuk tanpa dipungut biaya. Berbeda dengan kunjungan kedua di musim panas bulan Juli 2014 (dalam rangka menemani saudara saya yang lagi berkunjung ke Swedia), kami dikenakan biaya masuk. Mungkin karena saat itu pengunjung gereja sangat ramai.

Gereja megah! Perpaduan pilar pilar tinggi dan kokoh, altar indah, sampai dua mahkota besar di sisi kiri kanan ruangan gereja, yang konon menjadi tempat duduk raja dan permaisuri. Dua mahkota inilah yang menurut gue menjadi daya tarik gereja. Mahkota yang identik dengan keluarga raja.

RIDDARHOLM CHURCH 

Masih dari Gamla Stan, kali ini tentang sebuah bangunan gereja tua bernama Riddarholm Church. Meskipun memakai embel embel kata “gereja”, tapi Riddarholm Church hanya dipakai sebagai tempat menyimpan peti jenazah raja raja Swedia terdahulu. Jadi bukan tempat ibadah.

Peti mati berukuran besar, menjadi pemandangan yang biasa di dalam gereja ini. Konon, di bawah lantai gereja juga terdapat makam. Lantainya mirip batu nisan.

img_0044
Di dalam bangunan gereja inilah raja raja Swedia sebelumnya dimakamkan
IMG_1361.JPG
Salah satu peti jenazah raja Swedia
IMG_1359.JPG
Lantai gereja. Konon di bawah lantai gereja ini pun ada makam. Masing masing makam ditandai dengan lantai berbentuk kotak dengan ukiran batu bertuliskan sesuatu di atasnya

THE ROYAL PALACE (KUNGLIGA SLOTTET)

Jika ingin merasakan nuansa dongeng dalam dunia nyata, The Royal Palace (Kungliga Slottet) adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Istana raja Swedia yang juga berada di kawasan Gamla Stan. Sejak tahun 1981, The Royal Palace tidak lagi menjadi tempat tinggal raja dan keluarga. Katanya sih karena terlalu dekat ke pusat perkotaan Stockholm.

The Royal Palace bukanlah istana yang dikelilingi pagar tinggi layaknya Buckingham Palace di London. Jangankan masuk ke halamannya, menikmati keindahan di dalam istana pun bisa. Walaupun harus dipungut biaya. Tapi worth it !

IMG_1178.JPG

Berada di dalam istana tentu saja membuat gue sedikit nanar. Gile aja, cantik banget. Bisa bayangin kan, istana raja kaya apa. Luas dan mewah. Masing masing ruangan memiliki cerita, mulai dari raja raja swedia yang pernah tinggal di istana, dimana kamar, ruang tamu, ruang baca, ruang istirahat sampai ruang makannya, semua bisa dilihat.

Begitupun lukisan, karpet, kursi, jejeran lampu kristal, ruangan meeting raja, meja makan menjamu tamu negara, sampai ruangan berisi nama nama pemimpin dunia yang sudah pernah berkunjung ke istana,  juga ada dan bisa dilihat dengan jelas. Tapi cukup dilihat saja, tidak boleh di jepret.

Bagian lain yang tidak kalah menarik adalah gedung penyimpanan mahkota raja. Yang jelas, mata gue kelilipan tak kala melihat berlian, safir, zamrut dan batu mulia yang melekat di setiap mahkota. Gila ya, perasaan raja raja Eropa selalu identik dengan batu mulia. Kadang suka mikir, kenapa mereka selalu memiliki koleksi berlian dan batu mulia yang gila gilaan. Nemu dimana sih. Hahaha.

Bagi yang suka melihat prajurit ganteng, boleh kok. Pas pergantian pengawal istana. Kegiatan yang bisa dibilang semacam desserts atau appetizer, untuk jenis wisata kaya gini. Hiburan klasik yang sepertinya menjadi  satu paket. Tapi gue ga tau apakah setiap hari diadakan atau tidak. Tapi menurut gue bukan sesuatu yang luar biasa sih. Standard banget. Tidak seseru pergantian pengawal di Buckingham Palace London.

IMG_1353.JPG

Tidak jauh dari The Royal Palace, terdapat bangunan Riksdag atau Swedish Parliament. Gedung parlemen yang terhubung dengan kawasan pedestrian Drottninggatan. Keduanya terhubung oleh sebuah jembatan yang tidak terlalu panjang.  Di sekitar jembatan inilah orang orang sering mengabadikan momen dengan camera, atau sekedar berdiri menikmati keindahan kota Stockholm. Kanal air, bangunan tua, sungguh perpaduan yang sempurna. Menjadikan kawasan di sekitar Riksdag menjadi menawan.

Jangan lupa melangkahkan kaki dan berjalan ke kawasan ini. Dan  cobalah untuk berhenti. Bidiklah satu momen indah dengan latar kota Stockholm diantara kanal air dan bangunan tua.

img_0979
Gedung Parlemen Swedia
img_2448
Sekitar gedung parlemen yang selalu ramai. Banyak turis mengabadikan momen dengan berfoto di sekitar jembatan
IMG_1469.JPG
Pedestrian di sekitar gedung parlemen
img_2480
View dari jembatan di sekitar gedung parlemen
img_2478
View dari jembatan di sekitar gedung parlemen

Jangan lupa melewati kawasan pedestrian Drottninggatan (Queen Street), nikmati berjalan kaki tanpa harus takut di serempet motor apalagi  dihadang asap knalpot. Kapan lagi bebas berjalan kaki di seluruh bagian ruas jalan. Bahkan di tengah jalan sekalipun.

Drottninggatan dikenal sebagai kawasan crowded. Hampir tiap menit dilewati langkah kaki turis. Terutama di saat musim panas.  Yang doyan shopping, Drottninggatan siap melayani. Banyak toko fashion disepanjang jalan dengan berbagai koleksi brand terkenal.

IMG_1263.JPG
Pedestrian Drottninggatan

DROTTNINGHOLM PALACE

Seperti yang gue jelasin di atas, The Royal Palace bukanlah istana yang dipakai sebagai hunian sehari hari raja Swedia untuk saat ini. Raja Carl XVI Gustav dan ratu Silvia, memilih tempat yang lumayan jauh dari pusat kota Stockholm. Drottningholm Palace adalah Private Residence of the Swedish Royal Family. Di istana inilah raja dan keluarga sehari harinya tinggal.

IMG_2456.JPG

Drottningholm Palace dibangun pada tahun 1662 dan kemudian mengalami renovasi besar besaran. Sampai akhirnya pada tahun 1981, istana ini resmi menjadi tempat kediaman The Swedish Royal Family.

Keunggulan Drottningholm Palace terletak pada keindahan tamannya. Di depan istana terdapat danau besar dan di bagian belakang taman yang sangat luas. Penataan taman sangat rapi. Dominan berwarna hijau. Taman istana juga memiliki labirin kecil yang bisa digunakan sebagai wahana bermain. Tidak jauh dari sekitar istana terdapat sebuah cafe. Bisa singgah sekedar meluruskan otot kaki yang lelah berjalan. Santai sejenak, ditemani secangkir kopi dan sepotong cake, sambil menikmati keindahan danau di depan istana. Damai dan tenang rasanya.

img_2457

IMG_2458.JPG

Pengen tau di dalam istana seperti apa? cukup membeli tiket seharga 100 Sek (kalau sekarang gue kurang tau). Tapi dibanding The Royal Palace, istana Drottningholm terkesan biasa. Ruangan yang bisa dilihat juga terbatas dan tidak banyak isinya.

MUSEUM VASA (VASAMUSEET)

Stockholm memiliki banyak museum bersejarah, diantaranya adalah Museum Vasa, berada di Galärvarvägen 14, Stockholm. Museum Vasa menjadi ada karena history masa lalu. Bermula dari ambisi seorang Gustavus, raja Swedia di masa lampau, yang ingin memperlihatkan kehebatan militernya di mata dunia. Kehebatan militer melawan bangsa Polandia dan Lithuania. Dan ambisi itu pun berlabuh pada pembuatan kapal perang yang tidak terkalahkan. Setidaknya itulah mimpi sang raja kala itu. Proyek raksasa yang dimulai sejak tahun 1626 sampai dengan 1628, melibatkan ratusan orang pekerja dan ribuan kubik kayu.

Cerita tenggelamnya kapal Vasa memiliki kemiripan dengan Titanic. Tenggelam di saat pelayaran perdana. Tepatnya pada tanggal 10 Agustus 1628, kapal Vasa berangkat menuju perairan Baltik disaksikan ribuan pengunjung yang bersemangat ingin melihat perjalanan perdana kapal. Namun cerita menjadi lain setelah kapal berjalan sejauh 1.300 meter dari dermaga. Tanpa diketahui penyebab pastinya, badan kapal perlahan miring hingga akhirnya tenggelam di perairan laut Baltik. Namun berbagai pendapat pun muncul, salah satunya menyebut beban kapal yang terlalu berat menjadi alasan penyebab tenggelamnya kapal.

Menurut cerita, kapal Vasa sudah dibangun sedemikian sempurna, namun muatan yang melebihi kapasitas memudahkan kapal tenggelam. Bayangkan saja, selain penumpang berjumlah 150 orang, kapal Vasa juga berisi 64 meriam, ditambah senapan dan amunisi. Beban yang tidak sanggup dipikul oleh sebuah kapal kayu di masa itu.

IMG_2566.JPG
Gedung museum Vasa. Foto dari Handphone dan apa adanya aja

Di balik cerita tragisnya, setelah berada di dasar laut kurang lebih selama 300 tahun, usaha pengangkatan kapal ke permukaan laut pun mulai dilakukan pertama sekali pada tahun 1961. Setelah melalui proses panjang dan waktu yang tidak sebentar, kapal Vasa berhasil diangkat dalam kondisi lumayan utuh, mulai dari bangkai kapal, meriam dan peralatan lainnya. Amazing!

Kemudian kapal Vasa ditarik ke pinggiran laut, dan di pinggiran laut inilah  akhirnya museum Vasa dibangun. Sebelum resmi dibuka pada tahun 1990, ribuan orang berdatangan dan menyaksikan proses pendirian museum. Cerita dibalik tragisnya kapal yang berlatar belakang ambisi ini, membuat banyak kalangan tertarik untuk menyaksikan proses pembangunan museum.

IMG_2564.JPG
Gue dengan backround kapal Vasa. Foto  hanya dari handphone.

Penjelasan demi penjelasan di setiap ruangan museum sangat detail. Mulai dari proses penarikan sampai pembersihan kapal, lengkap dengan kliping koran yang super heboh memberitakan penemuan Vasa di masanya. Semua barang yang ditemukan di dalam kapal disimpan dengan rapi, seperti meriam, senapan, peralatan makan para penumpang, pakaian sampai sepatu. Di dalam museum juga disediakan sebuah layar yang memberi efek dimensi (gue sebut gitu aja deh, kurang ingat namanya apa), yang mampu  memperlihatkan  warna asli kapal Vasa sebelum tenggelam. Keren!

Jadi ternyata, warna asli kapal tidak terdiri dari satu warna saja (coklat), melainkan ada warna lain yang ikut meramaikan permukaan dindingnya. Seperti merah, kuning emas dan pink. Contohnya seperti pada gambar di bawah ini.

IMG_2555.JPG
Miniatur kapal Vasa. Kira kira seperti inilah warna asli kapal
IMG_2401.JPG
Ini adalah pantulan warna asli kapal Vasa yang muncul di layar dimensi. Pantulan langsung dari badan kapal. Padahal warna kapal sekarang sudah berubah coklat seperti gambar di bawah ini. Tapi bisa terlihat warna aslinya. Keren ya!
IMG_2556.JPG
Bangkai kapal yang berhasil diangkat dari dasar laut. Full berwarna coklat

Hebatnya lagi, tengkorak korban penumpang kapal juga disimpan dengan baik di ruangan bagian bawah museum. Dan kondisi tengkorak pun masih utuh. Tidak itu saja, untuk bisa mengenal wajah para korban, maka dibuatlah patung lilinnya. Patung lilin lengkap dengan nama dan sebagai apa jabatannya di dalam kapal. Salut deh pokoknya.

Kadang yang begini ini yang suka membuat gue ga habis pikir. Betapa mereka ini sangat haus akan sejarah masa lalu negaranya. Berbagai cara dilakukan supaya peninggalan sejarah bisa lebih jelas diketahui warganya sendiri maupun khalayak ramai. Dan untuk merealisasikannya bukanlah sesuatu yang mudah kan. Butuh waktu puluhan tahun dan menghabiskan dana yang tidak sedikit.

IMG_2404.JPG
Patung lilin dari salah satu korban di kapal Vasa

Museum Vasa juga memiliki restoran besar dan cantik, jadi setelah lelah berkeliling, sangat pas sebagai alternatif melepas dahaga dan lapar. Berkunjung ke Museum Vasa kalau tidak salah (dua tahun lalu) dikenakan biaya sebesar 100 Sek per orang. Dan museum  mulai dibuka sekitar pukul 10 pagi hingga pukul 5 sore. Gue sangat sangat merekomen museum ini. Bagus!

SKANSEN (OPEN AIR MUSEUM)

Masih berada di wilayah yang tidak jauh dari Museum Vasa, Skansen merupakan Museum Udara Terbuka pertama, tertua dan terluas di Swedia. Bahkan konon di Skandinavia. Luasnya jangan di tanya, sangat luas. Museum udara yang mewakili sejarah peradaban masyarakat Swedia sebelum memasuki era industrialisasi.

IMG_9093.JPG
Rumah tua di Skansen
IMG_9068.JPG
Rumah tua di Skansen

Skansen ibarat sebuah miniatur sejarah di masa silam. Berisi kumpulan bangunan bangunan tua di masa lalu, yang sengaja dipindahkan dari berbagai pelosok wilayah di Swedia. Didirikan pada tahun 1891 oleh seorang pria bernama Arthur Hazelius. Selain bangunan tua, banyak kegiatan di abad silam yang dapat  dilihat di Skansen. Lebih detail dan jelasnya, cerita Skansen bisa dibaca di link ini.

GLOBEN SKY VIEW

Globen Sky View  merupakan salah satu sarana wisata yang berada di kawasan Stockholm Globe City, tepatnya di sebuah gedung arena bernama Ericsson Globe. Selain pusat perkantoran, cafe/restoran dan shopping mall, jantung dari kawasan Globe City sendiri adalah 4 gedung arena utama yang saling berdekatan (dikenal dengan Globen Arena), termasuklah Globen Sky View yang berada di gedung Ericsson Globe.

IMG_1519.JPG

Melalui gondola yang berbentuk seperti bola kaca, pengunjung bisa melihat keindahan landscape kota Stokholm. Bisa masuk ke dalam gondola tidaklah sembarangan.  Masing masing pengunjung sudah ditentukan jamnya. Seperti kami misalnya, meskipun sudah membeli tiket online, harus menunggu sekitar 20 menit, karena mendapat giliran pukul 2 siang. Sebelum menaiki gondola, pengunjung diberi tontonan berupa cuplikan film singkat tentang kawasan Stockholm Globe City.

IMG_1522.JPG

Di malam tertentu, biasanya gedung Ericsson Globe akan menampilkan warna warna lampu yang indah, khususnya untuk memperingati sebuah perayaan ataupun sebagai tanda empati terhadap sebuah kejadian.

Masih terang di ingatan gue, ketika hendak menonton konser Madona di Tele Arena yang lokasinya persis di sebelah Ericsson Globe, gue melihat perubahan pada dinding Ericsson Globe.Yang siangnya berwana putih, malam harinya berubah menjadi warna warna  yang melambangkan bendera Perancis. Hal itu dilakukan sebagai tanda empati akan tragedi kemanusian (akibat serangan bom) di kota Paris, yang memakan korban jiwa. Globen menjadi cantik sekali malam itu.

KING’S GARDEN (KUNGSTRÄDGÅRDEN)

King’s Garden merupakan sebuah taman di pusat kota Stockholm. Di taman ini banyak terdapat cafe outdoor yang cantik. Terutama di saat musim panas. King’s Garden juga menjadi pilihan yang tepat untuk sekedar melepas penat, duduk santai sambil menikmati burung burung  liar yang hinggap di tanah. Tak jarang pertunjukan hiburan dan bazar makanan dilakukan di taman ini. Di saat musim semi, King’s Garden  berubah menjadi negeri Sakura. Bertabur warna pink yang berasal dari keindahan bunga Cherry Blossom.

IMG_2485.JPG
Cherry Blossom di King’s Garden di saat Musim Semi
img_1176
Salah satu cafe di sekitar taman

 GRÖNA LUND

Tidak jauh dari Skansen, terdapat Gröna Lund. Sebuah theme park yang tidak terlalu luas tapi memiliki beberapa  wahana permainan yang lumayan mengerikan. Kebetulan gue dan suami pernah menginap di hotel yang sangat dekat dengan Gröna Lund. Hotel gratisan dari hadiah perkawinan. Dan biasalah, nginapnya dimana, tapi malah sibuk jalan ke pusat kota. Pas balik dan niat membeli tiket, malah ditolak dengan alasan sudah tutup.

img_1473
Gröna Lund

Dari kapal ferry maupun loby hotel, gue bisa melihat para penggila wahana ini. Belum lagi suara jeritannya…welehhhh. Tapi bagi yang gemar permainan ekstrem dan penuh tantangan, sepertinya Gröna Lund menjadi pilihan yang tidak salah untuk dicoba.

Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi sih. Tapi anehnya meskipun sudah beberapa kali ke Stockholm, sampai sekarang gue dan suami selalu tidak sempat mengunjungi. Dan penyebabnya kalau bukan karena telat datang, ya tempat wisatanya memang tidak buka di hari kami datang.

Seperti Stockholm City Hall misalnya, ini gedung cakep banget. Acara jamuan makan Nobel Prize yang terkenal itu adanya di gedung ini. Sayangnya ketika kami datang, lagi lagi salah hari. Tidak buka alias tutup. Gue cuma bisa foto foto aja di sekitar gedungnya. Dan sampai sekarang akhirnya bablas tidak berkunjung. Terhipnotis cafe cafe di Gamla Stan. Hahahha.

IMG_2399.JPG
City Hall

Pun demikian dengan museum ABBA, tau kan? group musik legendaris asal Swedia. Meskipun gue bukan penggemar mereka, tapi gue lumayan tertarik melihat museum yang isinya artis terkenal. Sayangnya ketika kami datang, waktu bukanya tinggal 15 menit lagi.

img_2460

Nah yang ini paling aneh, sampai sampai suami gue bilang “kok kita belum nyoba tour kanal di Stockholm ya” hahahhaa…beneran emang. Setiap liburan ke negara lain, selama ada tour kanalnya pasti kami nyobain, kok malah di Stokholm kaga! Padahal pasti cakep banget. Tapi setidaknya masih banyak waktu untuk mencoba dan mengunjugi semua tempat yang belum kami lihat.

img_1126

Satu hal yang gue suka ketika berlibur ke Stockholm adalah restoran asianya. Tidak terlalu susah menemukan restoran asia di kota ini. Dan enaknya lagi, di jam makan siang antara pukul 11 hingga pukul 2 siang, kebanyakan restoran di Stockholm memberi konsep makanan yang rasanya relatif ramah di kantong. Dengan sistem all you can eat (buffet), sudah bisa makan sepuasnya dengan hanya membayar rata rata sekitar 90 hingga 110 SEK saja. Itu gue rata ratakan saja ya.

Gue bilang relatif murah, karena Swedia itu negara mahal untuk urusan bayar bayar. Makanya ketika bisa makan dengan harga segitu, ya lumayan membantu. Kapan lagi di Swedia bisa makan sepuasnya kalau bukan di jam yang gue sebut tadi. Karena biasanya, lewat dari pukul 2 siang, hitungan harga bisa naik dua kali lipat. Itu pun untuk  porsi makanan yang terbatas, satu macam doang!

Makanya jika berada di Swedia, khususnya kota Stokholm, jika tidak ingin mengeluarkan kocek yang lebih mahal, usahakanlah makan siang sebelum pukul 2. Kalau tidak resikolah.

img_2477
View dari sekitar gedung Parlemen
img_2451
Stockholm

Dari sekian restoran yang ada, gue paling suka restoran Chopstick. Restoran yang selalu ramai menurut gue. Namun berhubung ruangannya luas, jadi rata rata pengunjung selalu kebagian kursi. Gue suka kalap di sini, terutama di hari Sabtu atau Minggu. Kalau tidak salah, mereka membuat menu spesial. Menu Premier istilahnya. Ada dinsum siomay, bebek goreng (baca irisan bebek gorengnya tebal….haha), berbagai olahan udang, ayam, mie goreng, nasi goreng….haaaaaa…lengkap nian.

Bahkan kita bisa memilih seafood segar beserta bumbunya dan menyuruh koki restoran memasak langsung. Fresh food banget. Cuma harganya memang lebih mahal, kalau ga salah sekitar 179 SEK atau lebih dikit deh. Tapi puas. Gue serasa di Indonesialah. Cuma kudu hati hati sih, karena ada menu non halalnya.

IMG_1100.JPG

Keindahan landscape kota Stockholm juga bisa dilihat dari  sebuah restoran gantung di daerah Södermalm Stockholm. Lengkapnya bisa dibaca di  SORE MENJELANG MALAM di GONDOLEN, yang sudah pernah gue tulis sebelumnya.  Asik restorannya!

Semoga next time masih ada bagian lain dari kota Stockholm yang bisa gue ceritakan. Dan semoga juga tulisan ini berguna bagi siapa saja yang membacanya. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

Semua foto di dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi ajheris.com . Dilarang menggunakan tanpa seijin penulis”.

Stockholm, I Really Heart You!

Setidaknya inilah kalimat yang bisa gue sampaikan ke kota cantik nan romantis ini. Kota yang tidak hanya membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi juga meninggalkan kesan dan pengalaman baru, yang sampai sekarang pun kalau gue ingat, pengen rasanya memutar mesin waktu dan merasakan kembali bagaimana luapan kebahagian gue, keheboan gue, keudikan gue, ketika pertama kali mengunjungi kota yang memiliki julukan Venice Utara ini. Rasanya banyak sekali kalimat yang ingin gue utarakan, tapi lagi lagi tidak pandai mengurai kata.

IMG_1511.JPG

Padahal baru dua tahun berlalu, rasanya seperti kenangan di masa kecil saja. Terlalu menyenangkan buat gue. Seperti tidur dan mimpi indah. Ketika gue memiliki rencana dan bilang dalam hati “Ahh, nabunglah. Biar bisa keliling Eropa” Dan gue pun serius. Di sela cicilan apartemen yang harus gue bayar setiap bulannya, gue mulai menyisihkan sedikit sisah gaji yang ada. Pokoknya harus melihat Eropa!

IMG_1508.JPG

Tapi cerita pun menjadi lain, ketika harus berjodoh dengan seseorang yang Tuhan sudah pilihkan. Tentunya ini merupakan bagian dari rencana indah, yang Tuhan sudah atur di dalam kehidupan gue.

Dan singkat cerita, akhirnya gue diperkenankan melihat lebih cepat benua yang sejak kecil menjadi bahan khayal gue, tanpa harus bersusah payah menumpuk angka saldo di buku tabungan. Bisa melihat negeri dongeng di benua yang indah. Iyesss tra la la, gue berhasil menginjakkan kaki di Eropa. Walaupun hanya sebatas satu kota, namanya Stokholm!

IMG_1503.JPGBerhubung kunjungan pertama, jelas saja semangatnya tingkat dewa. Jangankan ke Singapur or Thailand, liburan di Indonesia pun gue selalu bersemangat. Konon pula ke Eropa. Bah!

Heboh dan udiknya nyampur jadi satu. Sampai sampai phobia naik pesawat yang menjadi sindrom ganas yang selalu menyerang gue, berhasil gue halau. Boro boro penerbangan 18 jam, yang dua jam saja sudah membuat gue pengen guling guling.  Rekor bangetlah pokoknya, ketika gue tidak mengalami stress parah, yang sampai membuat gue susah tidur. Malah sebaliknya, gue lebih tenang dan santai. Kalaupun muncul rasa cemas, masih  sebatas normal.

IMG_1509.JPG

Kunjungan pertama ke Stockholm jelas merupakan pengalaman yang indah buat gue. Iya, Stockholm adalah kota yang sampai saat ini selalu mendapat tempat di hati. Kota  pertama yang meyakinkan gue kalau negeri dongeng itu ada. Negeri salju itu ada.  Rumah tua di jaman zorro itu ada. Gambar klasik di kartu natal itu ada.  Dan kota inilah yang pertama sekali membuat mimpi dan khayalan gue akan indahnya negeri Eropa tergenapi. Nyata di depan mata. Ahhh…ini nulisnya sambil terharu biru dan senyum senyum senang.

img_1521
Wajah kota Stockholm
img_1513
Wajah kota Stockholm

Ketika apa yang selama ini cuma bisa didengar dari cerita orang, dilihat dari media cetak/televisi bahkan media sosial, akhirnya menjadi sebuah realita, sungguh pengalaman luar biasa buat gue. Apalagi untuk sebuah kunjungan pertama. Ada satu kejadian yang sangat gue ingat, kejadian yang mungkin bagi sebagian kalangan terkesan “apaan sih”. Tapi tidak bagi gue.  Kala itu gue dan suami menginap di sebuah hotel tua di daerah Gamla Stan. Ketika bangun dan hendak sarapan, seketika langkah gue terhenti di depan balkon teras lantai dua hotel.Balkon yang tidak terlalu luas. Kaki gue terhenti akibat terpana oleh sebuah pemandangan yang selama ini cuma ada dalam khayalan. Sesuatu yang berwarna putih. SALJU!

IMG_1646.JPG
Dari sekian dokumentasi foto yang gue punya, inilah foto yang paling gue suka. Gue simpan terus. Foto yang berhasil membuat gue terpana. Timbunan salju di kursi dengan model meliuk liuk itu membuat gue gemyessss!
img_1653
Ahhh…pengen mengulang masa dua tahun yang lalu. Habisnya kalau sekarang melihat salju tidak se-excited waktu di foto ini. 
img_1643
Ini juga membuat gue terkesima.  Pertama melihat barisan pohon dibelakang itu, entah mengapa langsung merasa familiar banget dengan foto foto winter. Langsung cusss deh foto. Topi gue aja ga nahan itu modelnya. Rusia banget. Sekarang udah males pake topi gituan. Hahahha.  Ahhh, pengalaman pertama itu memang selalu menyenangkan

Iya, ada salju di depan gue. Putih dan bersih! Bertumpuk menghiasi meja dan kursi tua di balkon hotel. Beneran gue terpana. Tumpukan salju yang gue lihat pas banget dengan gambar di kalender dan lukisan. Cantik. Apalagi atap atap gedung sekitar hotel juga penuh dengan balutan salju. Dan entah mengapa momen melihat salju di pagi itu sangatlah tepat. Silent banget! Tidak ada orang lain, cuma gue dan suami.

Momen yang menggiring emosional gue. Ohhh…inikah salju dalam cerita dongeng itu? Gue pegang dan gue lempar. Ahhh..ada salju di tangan gue. Sukses membuat gue seperti kembali ke umur belasan tahun.  Ternyata  kartun Disney dan Hans Christian Andersens itu ga pernah bohong. Salju dalam sajian cerita mereka benar adanya. Hahaha.

Gue ga tau, apakah orang lain yang pertama sekali melihat salju seperti gue jugakah? Yang jelas rasa dingin yang menggigit tubuh kala itu, terkalahkan oleh rasa suka yang mendera.

IMG_1466.JPG

Ketika beberapa kalangan mengeluhkan salju dan musim dingin, berbeda dengan gue. Tidak perduli seberapa dingin dan tebalnya salju. Bahkan ketika salju terhembus angin sekalipun, gue tetap setia dengan aksi foto foto. Gila aja gue ga foto foto, ada salju pula. Setidaknya itulah pemikiran gue saat itu. Maaf, jika gue terlalu Indonesia sekali 🙂 

img_1512
Wajah kota Stockholm
img_1501
Wajah kota Stockholm dari sebuah restoran

Stockholm tidak hanya menawarkan gue keindahan salju, tapi juga sajian luar biasa akan hebatnya para penyanyi tenor dan sofran di teater kota ini. Semakin menyadarkan gue, jika pertunjukan live jauh lebih wow dibanding media televisi.

Dan untuk pertama kalinya, Stockholm jugalah yang memberi kesempatan ke gue, untuk bisa menikmati pertunjukan live tersebut. Terbayang pun tidak, bisa memasuki gedung teater berskala Eropa. Rasanya merinding. Seperti bermimpi. Berada di gedung dengan interior klasik dan elegan. Bisa melihat orang bernyanyi dengan suara melengking dan menggelegar.  Ternyata bukan hanya Luciano Pavarotti atau Andrea Bocelli yang memiliki suara tenor bagus, jika didengarkan secara langsung pun, penyanyi dan pemain teater di Stockholm buaaaanyak banget yang bersuara mirip.

img_1132
Gedung Teater di Stockholm
img_1636
Mejeng di gedung teater
img_1637
Gedung teater. Gue senang banget pertama masuk ke gedung ini. 

Seperti kebanyakan kota Eropa, Stockholm berada diantara bangunan bangunan tua yang masih terjaga dengan baik. Gedung tua dengan lorong lorong jalan yang sempit. Romantis. Ditambah lagi kanal kanal air bersih yang mengalir di sebagian besar ruas kota, membuat Stockholm terlihat lebih indah. Awalnya gue tidak menyadari jika Stockholm adalah kota yang berdiri di atas pulau pulau kecil. Kalau tidak salah sampai belasan pulau. Pulau pulau ini saling berdekatan satu sama lain, artinya hanya terpisahkan oleh jembatan sejauh puluhan atau ratusan meter saja.Sangkin pendeknya jarak jembatan dari satu pulau ke pulau yang lain, sampai gue tidak menyadari kalau wilayah kota yang satu dengan yang lain sudah berbeda pulau. Kota yang unik bukan?

img_1516
Kota yang cantik
IMG_1472.JPG
Suka sekali dengan model bangunan tuanya
IMG_1212.JPG
Stockholm diantara kanal air yang bersih
IMG_1518.JPG
Stockholm diantara kanal air yang bersih
img_1177
The Royal Palace
IMG_1181.JPG
Suka dengan lorong jembatannya
IMG_1504.JPG
Beautiful Stockholm

Stokholm adalah kota yang memberi garansi, ketika restoran padang susah ditemukan, Dont Worry! Gue masih bisa makan nasi. Bisa makan bebek goreng, capcay, bahkan dinsum kesukaan.  Jelas saja, pertama berada di negeri bule, dan bisa merasakan sensasi restoran asia, rasanya berlipat lipat ganda senangnya.

Stockholm itu artistik. Lihat saja stasiun kereta bawah tanahnya. Unik banget. Serasa berada di dalam sebuah gua besar. Tapi tidak suram apalagi menjijikkan. Malah sebaliknya, terlihat unik dengan polesan warna warni lukisan yang dihasilkan tangan tangan seniman di Stockholm. Lukisan yang justru menjadikannya sebagai stasiun kereta bawah tanah dengan nilai seni terindah di dunia. Katanya sih begitu.

IMG_1389.JPG
Tunnelbana. Kereta api bawah tanah Stockholm
IMG_1480.JPG
Stasiun kereta bawah tanahnya seperti gua ya
IMG_1482.JPG
Dinding batu yang dilukis
IMG_1481.JPG
Artistik

Stockholm itu nyenengin. Ga ngebosenin. Selalu terpanggil untuk datang ke kota ini. Di setiap musim, Stokholm selalu cantik. Summer, spring, autum bahkan winter. Kota ini sangat tahu bagaimana caranya membuat gue betah. Taman, cafe, kanal, kapal kapal di dermaga, semuanya memberi keindahan tersendiri.

img_1330
Kungsträdgården Stokholm di saat musim semi. Kawasan taman yang berada di pusat kota Stockholm
IMG_1477.JPG
Senja di Stockholm
img_1475
Stockholm di malam hari
img_1476
Kawasan cafe romantis di Gamla Stan Stockholm
IMG_1483.JPG
Stockholm diantara kilau lampunya
img_1520
Cherry Blossom in Stockholm

Cuma satu yang membuat gue agak senewen, semakin ke sini, setiap berkunjung ke Stockholm, selalu saja ada perbaikan jalan, renovasi bangunan, yang membuat pemandangan kota ini menjadi kurang enak dilihat. Semoga proyek proyek ini segera usai.

IMG_1470.JPG
Gamla Stan. Cerita tentang old town ini akan menyusul ya

Tulisan ini hanya cerita berbagi suka, ketika sebuah khayalan dan mimpi menjadi nyata, seperti apa rasanya. Siapa juga sih yang tidak suka mengunjungi belahan dunia lain. Ketika gue berencana menabung agar bisa keliling Eropa, dan ternyata Tuhan membuatnya menjadi lebih mudah, apa iya gue cuma bilang semuanya biasa saja. So, jika ada orang yang begitu antusias bercerita pengalaman pertama berkunjung ke suatu tempat atau kemana pun itu, gue bisa paham.  Karena gue sudah melalui rasa senang yang demikian.

img_1105
Kanal air
IMG_1124.JPG
Wajah kota Stockholm
img_1261
Cafe di Gamla Stan. Cafe yang selalu ramai. Gue suka interiornya

IMG_1517.JPG

Sebenarnya gue sudah pernah menulis wisata Stockholm di blog yang lama. Cuma ga lama setelah gue post, gue delete. Fotonya jelek. Hahahaha. Sampai akhirnya gue sabar ngumpulin foto satu demi satu setiap gue mengunjungi kota ini. Tapi yang ada malah kepending terus oleh tulisan yang lain.  Namun setelah melihat postingan kota Stockholm dari seorang  bebe  di blog beberapa waktu lalu, semakin terbawa semangatlah gue untuk segera menulis kecantikan Stockholm yang selalu tertunda. So thank you mama Jo, sudah berhasil memotivasi gue untuk tidak menunda nunda tulisan jelek ini. Hahaha.

Berikut foto foto wajah kota Stockholm yang sayang gue simpan!

img_1502

 

img_1378
Di saat summer, Stockholm sangat ramai oleh kunjungan turis
img_1117
Restoran di atas kapal
img_1467
Suka!
img_1276
Beautiful
img_1471
Kapal kapal di dermaga
IMG_1351.JPG
Sepetik….!

Ahhh….Stokholm, I really heart you!

Kunjungan gue ke beberapa tempat wisata di Stockholm akan gue tulis di tulisan berikutnya. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

.

 

 

BERMALAM di LÅNGHOLMEN. TIDUR di PENJARA?

Ada yang sudah pernah tidur di penjara ? Atau setidaknya masuk ke dalam penjara deh.

Kalau gue…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

SUDAH PERNAH….!!  

Rasanya? ………………….Excited!!………………. Hahaha.

Kok bisa? bisa dong. Kalian juga bisa kok. Pastinya bisa tidur di penjara bukan karena gue seorang kriminal. Melainkan karena kami (gue dan suami), menginap di sebuah hotel bernama LÅNGHOLMEN.  Tepatnya hotel bekas penjara! Ketika penjara berubah menjadi sebuah hotel, maka inilah yang bisa gue ceritakan.

Sebelum mengalami metamorfosis, Långholmen awalnya merupakan sebuah bangunan penjara tua yang dibangun pada tahun 1880. Karena dianggap sudah tidak layak pakai, akhirnya ditutup pada tahun 1975. Di masa itu, Långholmen menjadi penjara terbesar di Swedia dengan kapasitas ruangan mencapai 500 cells. Berlokasi di sebuah pulau kecil bernama pulau Långholmen,  tak jauh dari kawasan Södermalm, Stockholm, Swedia.

img_6725

Yang membedakan Långholmen dengan hotel lainnya adalah, selain sebagai tempat menginap, hotel ini juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi para tamunya. Bagaimana tidak, sebagian besar interior bangunan dan barang barang yang melengkapi hotel masih berkiblat kepada bangunan dan pernak pernik penjara sebelumnya. Mulai dari pintu dan ruangan lobby hotel, lorong sel hingga ruangan di dalam selnya sendiri. Tidak terlalu banyak dirubah.

Bahkan jeruji besi sepertinya sengaja dibuat di beberapa sudut ruangan untuk memberi kesan agar suasana penjaranya makin kelihatan. Namun meskipun begitu, Långholmen memberi sentuhan lain dengan memberi warna ruangan yang lebih cerah dan fresh. Jadi tidak terlihat suram. Setidaknya itulah yang gue rasakan ketika memasuki Långholmen. Bersih!

Ketika berjalan menuju ruangan sel, kami melewati sebuah lorong panjang dengan barisan pintu pintu sel yang unik. Sungguh sebuah pemandangan yang jauh dari pintu pintu hotel kebanyakan. Tapi jujur, tanpa disadari lumayan terbawa suasana. Karena lorongnya sepi kan. Gue berjalan sambil ngebayangin dulunya para narapidana pun berjalan ke arah sel yang sama seperti yang kami lakukan. Itu rasanya gimana ya. GOKIL! Hahaha.

img_7133
Salah satu gedung Långholmen
img_7131
Pintu hotel yang aslinya sudah kelihatan tua. Namun ketika kaki mulai melangkah masuk, otomatis terbuka. Di situ kadang gue merasa sedikit horor, terutama di saat hari mulai gelap. Hahahaha

Apalagi pas membuka pintu sel, huaaaa serasa masuk sel penjara beneran. Dan begitu masuk, hupppsssss! Beneran seperti ruangan penjara. Sempit! Terdiri dari tempat tidur tingkat, meja kecil dan sebuah kursi. Tapi space untuk berjalan uda ga bebas. Mentok banget. Untuk kamar mandinya bisa dibilang standardlah. Tidak sempit dan tidak luas. Tapi bersih.

img_6713
Ruangan sel lengkap dengan nomornya
img_6712
Lorong sel
img_6711
Yessss….this is our cell. Number 125. Hahaha
img_6708
Ruangan di dalam sel. Sempit tapi rapi dan bersih.

Gue melihat sebuah bingkai menempel di dinding. Bingkai berisi jadwal kegiatan para narapidana. Jadi ceritanya, dulu para narapidana pun memiliki jadwal rutin sehari hari. Mulai dari breakfast, olahraga, bersih bersih lingkungan penjara sampai penyegaran rohani dari pendeta. Selain itu, tempat tidur juga dihias dengan potongan koran yang berisi gambar gambar kegiatan penjara di masa dulu. Pokoknya, kami berdua sempurna menjadi narapidana penjara abad modern malam itu. Jangan lupa, jadwal kami besok paginya adalah SARAPAN! hahahhaha.

img_7128
Toilet dan perlengkapannya
img_6717
Långholmen dari lantai dua
IMG_7212.JPG
Selalu tersedia sofa kursi seperti ini. 

Ruangan sarapan hotel pun lumayan luas. Makanan juga lengkap. Banyak sofa dan kursi. Dan sebelum sampai ke ruangan breakfast, ada dua buah kursi dengan bentuk yang lumayan lucu. Bermotif garis garis hitam, dengan masing masing kursi memiliki wajah. Yang satu wajah pria dan yang satunya lagi wanita. Layaknya narapidana dengan pakaian penjara. Dan tanpa gue sadari, dan benar benar memang tidak gue sengaja, pagi itu gue mengenakan pakaian motif garis garis hitam putih. Kebetulan banget kan. Foto lucu dolo ah! *ehhh…tapi lucu ga sih* 

img_6720
Baju gue samaan ya motifnya. Beneran ga disengaja ini. Haha
img_6722
Kursi yang unik
IMG_7210 (1).JPG
Patung kayu layaknya seperti di ruang tunggu penjara
IMG_7211.JPG
Iseng mencoba borgol besi ini. Ternyata berat banget ya mak!!
img_6723
Souvenir hotel yang bisa dibeli

Seperti yang gue singgung di atas, Långholmen tidak sebatas hotel tempat menginap saja. Ada cerita sejarah yang ditawarkan. Selain sel dan pernak pernik penghias berbau penjara, Långholmen juga memiliki museum berisi barang barang peninggalan penjara sebelumnya yang masih disimpan dan dirawat dengan baik. Mulai dari ruangan sel  yang sengaja dibiarkan seperti aslinya (terlihat tidak fresh dengan lantai kayu yang kusam), beberapa jeruji besi penjara yang sengaja dipindahkan ke museum, peralatan pispot, cuci tangan, tempat tidur dengan kasur yang sudah lecek banget. Berbanding terbalik dengan sel yang kami tempati.

img_6709
Museum di Långholmen
img_6716
Långholmen sebelum dan akan direnovasi
img_7115
Gue….Hahaha
img_7213
sel penjara aslinya seperti ini dulu
img_7116
Kasur penjara yang sudah kumal. Eittssss yang pasti sel yang sekarang ga pakai ini ya. Hahahaha
img_7152
Narapidana lengkap dengan topeng penutup wajah

Selain itu, bingkai bingkai berisi surat dan tulisan tangan juga terlihat memenuhi dinding museum. Mulai dari nama nama narapidana yang pernah menghuni sel penjara,  jenis kejahatan yang mereka lakukan, sampai berapa lama hukuman penjara yang mereka terima. Dari sekian terpidana itu, ada satu yang menarik perhatian gue. Seorang narapidana yang dipenjara seumur hidup. Ketika raja Swedia memberikan Grasi terhadap dirinya, dia malah tidak mau meninggalkan penjara. Alasannya karena Långholmen dianggap sudah seperti rumahnya sendiri. Hebat ya pengaruh penjaranya. Haha.

Sisi lain yang menarik dari Långholmen adalah kawasan taman dan view danau Mälaren di sekitarnya. Ketika summer, banyak banget penghuni hotel yang berjemur di tepi danau ini.

Tak hanya itu, Långhomen menjadi terlihat asri oleh tanaman yang sengaja ditanam warga Stockholm yang hobby bercocok tanam. Mulai dari sayuran, buah dan tanaman bunga. Menjadi unik, karena ditanam bukan di halaman sekitar rumah, melainkan di lahan tanah yang khusus disediakan oleh pemerintah Swedia. Kegiatan seperti ini lumayan banyak disukai warga Stockholm yang sebagian besar bermukim di apartemen. Sekedar refreshinglah. Selain ramah lingkungan, bercocok tanam memang kegiatan yang menyenangkan kan. Konon lahan tanah ini hanya dibayar pemakainya dengan biaya yang relatif murah, bahkan cenderung gratis sangkin murahnya. Dan tentunya menjadi salah satu kegiatan yang terkenal di Stockholm di saat summer. Kawasan seperti ini biasa disebut Kolonilott. Dan untungnya, orang lain bisa menikmati keindahan tanamannya.

IMG_7155.JPG
Kawasan Kolonilott
img_6754
Rumah kecil di kawasan Kolonilott
IMG_7143.JPG
Rumah kecil di kawasan Kolonilott
img_7156
Mawar
img_6752
Bunga di kawasan Kolonilott
img_8259
Buah cherry

Enaknya lagi, Långholmen memiliki area parkir sendiri. Jadi ga perlu ribet mencari parkir yang jauh. Ini salah satu alasan mengapa suami suka banget menginap di sini. Sebenarnya Långholmen terdiri dari hotel dan hostel. Jika kurang cocok dengan sel yang terlalu sempit, sepertinya Långholmen menyediakan sel yang lebih luas.

Tapi buat yang single atau pasangan yang belum memiliki anak, sepertinya sel kecil lebih memiliki sensasi penjara. Kalau sel besar, kok ya rasanya seperti menginap di hotel biasa aja. Menurut gue sih. Dan yang lebih penting bayarannya lebih murah toh. *tetep* 

img_6729
Sekat tembok ini dulunya tempat narapidana melakukan olahraga dan sekarang dipakai sebagai tempat parkir sepeda,  membaca santai sampai bermain anak anak.
img_6726
Cafe
IMG_7141.JPG
Cafe
img_6749
Cafe
img_6750
Menara tempat mengawasi narapidana

img_7134

IMG_7215 (1).JPG
Tembok Långholmen

So…STAY IN A PRISON! 

Tidak ada salahnya mencoba sensasi bermalam di hotel penjara Långholmen. Sesekali menikmati sesuatu yang tidak biasa itu enak kok.

IMG_7144.JPG
Kawasan aliran danau Mälaren di sekitar Långholmen
IMG_7138.JPG
Boat kayu yang menjadi salah satu pemandangan asik di dekat Långholmen
img_7139
Cakep ya
img_7140
Masih dari kawasan yang sama

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

 

 

See you in my next story

AKHIRNYA ke TALLIN, ESTONIA!!!

Sesuai judul di atas, yesss….akhirnya gue dan suami menginjakkan kaki di Estonia. Tepatnya lagi di kota tua Tallin. Kenapa sampai judul tulisan ini sedemikian, karena berhubungan dengan drama horor yang kami alami di pelabuhan Helsinki. Adalah hal wajar, ketika berlibur ke Helsinki, menyempatkan waktu menyeberang ke kota Tallin, Estonia. Hanya butuh dua jam perjalanan dengan kapal laut. Isu yang beredar, selain memiliki kota tua yang cantik, konon katanya harga beli di Tallin juga relatif lebih murah. Jelas isu ini lumayan menggoda. Rasanya sayang aja untuk tidak cuss. Hitung hitung menambah pengalaman  liburan di negara yang berbeda.

Tapi yang namanya manusia, hanya bisa berencana. Kalau memang belum saatnya, ya belum rejeki. Ketika tiba di loket check in kapal, kami harus bisa menerima kenyataan, kalau kami tidak bisa berangkat ke Estonia. Kenapa? PASPOR SUAMI EXPIRED! *petir menggelegar* 

Yang ada waktu itu gue langsung campur aduk perasaannya. Kesel, sedih, badmood, otak juga rasanya blank ga bisa mikir. Banyangin aja, uda gaya cantik, Tallin juga uda di depan mata dalam hitungan jam, buyar seketika. Perihnya lagi, berjalan meninggalkan loket itu loh yang paling ga nahan. Bukannya menuju kapal, tapi balik ke arah parkiran mobil. Hahahahaha. Kebayang kan rasanya. Pokoknya loyo dan memble-sememble-memblenya.

img_5953

Suami gue termasuk telaten perihal dokumen. Entah mengapa bisa kebobolan urusan paspor ini. Inilah namanya lagi apes. Ga bisa dihindari. Sepertinya alasan traveling yang sebagian besar masih di sekitaran negara Skandinavia dan Finlandia, yang notabene keluar masuk negaranya tidak memerlukan paspor, menjadikan suami lupa kalau paspor sudah koit. Kelamaan tidak dipakai. Bablas deh.

Dan seperti biasa, karena badmood to the sky (hahahahha), gue juga masih aja kurang kerjaan nanya ke suami gini “sebelum berangkat ke Finland, emang ga dicek dolo paspornya, kan uda tau mau ke Tallin“. Penting banget ga sih nanya gitu. Namanya aja uda apes kan. Apapun bisa terjadi. *dan sekarang daku menyesal melontarkan pertanyaan itu*

Sampai akhirnya, cerita sedih di atas tergantikan dengan cerita lain. Cerita yang menyenangkan pastinya. Di saat yang tepat, akhirnya kami menginjakkan kaki di kota Tallin, Estonia. AND HERE WE GO………….!!

img_5855

Kami berangkat dari pelabuhan Stockholm dengan menggunakan kapal TALLINK (Romantika). Perjalanan kurang lebih satu malam. Berangkat sore hari dan nyampai sekitar pukul 9 pagi waktu Tallin. Perjalanan yang lumayan mengasikkan dan tidak membosankan. Boleh dibaca linknya 🙂

Setibanya di pelabuhan Tallin, gue melihat tulisan di board “You are in a gateway to your next adventure. Welcome! Sungguh sebuah kalimat simpel yang mampu membangkitkan rasa ingin tau gue terhadap kota ini. Entah mengapa gue sangat spirit.

img_5856

img_5828

Dan tanpa membuang waktu, kami memanggil taxi. Well, kesan pertama yang gue lihat, taxinya tidak sebagus dan sebersih taxi di Stockholm, Kopenhagen dan Helsinki. Tapi setidaknya masih nyaman untuk dinaiki. Perjalanan dari pelabuhan menuju hotel sempat membuat gue berucap: Hah? kotanya cuma begini? cuma gedung gedung biasa dengan arsitek yang kurang menarik. Belum lagi lalu lalang bus dengan bentuk yang masih terbilang sederhana. Sederhana karena gue harus membandingkan dengan bus di negara Skandinavia dan Eropa lainnya yang terbilang besar dan memiliki body lumayan fresh. Perasaan masih lebih besar bus Damri di Jakarta deh. Ini mirip size Kopaja versi yang lebih bersihlah. Namun tidak butuh waktu lama, dan gue pun langsung berubah pikiran setelah memasuki kota tuanya. Terbukti dari beberapa foto yang ada dibawah ini. GOTHIC!

img_6083-1

Perjalanan dari pelabuhan ke SAVOY BOUTIQUE HOTEL tempat kami menginap kurang lebih limabelas menit.  Dan setibanya di depan hotel, pembayaran taxi pun dimulai. Dannnnn Oh my God. Kami cuma dikenakan 6 Euro pemirsah!! Ini setara dengan 60 Sek (Swedish Krona) untuk kurs mata uang saat itu.

Pingsan! Jujur saja gue bilang pingsan. Karena mustahil rasanya bisa naik taxi di Swedia dengan harga segitu. Rata rata dengan jarak yang sama, taxi di Stockholm sudah mengenakan biaya kurang lebih 250 hingga 300 SEK. Bandingkan aja perbedaannya. Wajar saja kalau gue akhirnya menyimpulkan harga taxi di Tallin menjadi murah. Meskipun tidak bisa disamaratakan untuk semua negara. Karena masing masing negara memiliki kemampuan nilai mata uang  yang berbeda beda tentunya.   Dan kegembiraan kami pun semakin bertambah ketika menerima pelayanan dari Savoy Boutique Hotel, yang menyambut kami layaknya seperti tamu hotel di Indonesia. Ulasan lengkap Savoy Boutique Hotel bisa klik link di atas. 

img_5963

img_5974
TOMBSTONES. Pertama melihat dinding batu ini langsung penasaran dengan keunikannya. Ternyata sekitar abad ke 14 sampai 15, lantai sebuah gereja di Tallin bernama St.Catherine Dominican, bisa digunakan sebagai tempat pemakaman. Dan masing masing makam diberi batu nisan  yang besar. Pada abad ke 19, gereja melakukan renovasi dan akhirnya membongkar lantai gereja. Dan batu nisan pun akhirnya diangkat dan di tempel di dinding ini. Kurang lebih gitu deh. Mudah mudahan ga salah menyimpulkan. Tombstone berada di lorong jalan St. Catherine Passage, yang tidak begitu luas tapi panjang. Yang kiri kanannya terdiri dari dinding batu tua. Lagi lagi menjadi terlihat unik dan apik.  Dan akhirnya lorong jalan di sekitar Tombstones menjadi salah satu spot yang menarik. Oke sebagai tempat nongkrong, oke juga buat selfie, narsis, foto foto yang banyak. Teteeepppp.  Lengkapnya bisa dilihat di bawah setelah foto ini.

Berhubung keberadaan kami di Tallin hanya dua hari  satu malam saja, maka tanpa menunggu lama, kami langsung mengitari kota Tallin. Tallin merupakan ibukota Republik Estonia. Catatan sejarah menyebut Estonia adalah bekas jajahan beberapa negara seperti Denmark, Swedia, Jerman, Rusia. Dan terakhir menjadi salah satu negara bagian dari bekas negara adikuasa Uni Soviet. Setelah Uni Soviet runtuh, untuk kesekian kalinya Estonia kembali mengikrarkan kemerdekaannya sebagai negara yang berdiri sendiri pada tanggal 20 Agustus 1991. Pengaruh budaya Rusia masih terlihat jelas di negara ini. Seperti peninggalan kastil kekaisaran Rusia dan gereja ortodoks. Estonia saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan kemajuan perekonomian di segala bidang, khususnya sektor pariwisatanya. Hal ini terlihat jelas dari usaha perbaikan infrastruktur dan tempat tempat wisata di sekitar kota tua Tallin. Dibanding negara pecahan Soviet lainnya, perekonomian Estonia bisa dibilang lebih maju.

Secara geographis, Estonia berada di kawasan Laut Baltik, Eropa Utara. Negara negara yang bisa dikatakan dekat dengan Estonia selain negara Baltik lainnya adalah Finlandia, Swedia dan Rusia. Bertetangga dengan negara negara tersebut lumayan membawa keberuntungan bagi Estonia sendiri. Hampir setiap hari kapal kapal pesiar besar bersandar di pelabuhan kota ini. Karena selain Jerman, sebagian besar turis yang setia mengunjungi Estonia adalah ketiga negara di atas. Terutama warga Helsinki Finlandia,  bisa berkunjung ke Tallin hanya dalam hitungan belasan jam. Berangkat pagi dan pulang sore/malam harinya. Tujuan utamanya hanya satu: berbelanja! Hidup di negara maju yang serba mahal seperti Finlandia, tentu saja menuai semangat warganya untuk menyeberang ke Tallin demi mendapatkan barang belanjaan dengan harga yang lebih murah.

Berbicara wisata di Estonia, dipastikan langsung mengarah ke sebuah kota tua/old town yang indah. Yang karena keindahannya dijadikan sebagai heritage dunia yang dilindungi oleh UNESCO. Kota tua yang sepertinya menjadi andalan pemerintah Estonia untuk menarik turis berdatangan ke negara ini. Rasanya sangat sulit untuk tidak melihat kerumunan turis di setiap sudut kota tua Tallin. Bahkan untuk memperoeh sebuah foto yang bebas dari manusia pun rasanya susah sekali. Setidaknya itu yang gue alami ketika mengunjungi kota Tallin. Kota tua yang gothic dan sangat available dibanding new townnya yang tidak ada apa apanya menurut gue. Kemana pun berjalan, bahkan hanya dalam hitungan jarak yang berdekatan, rasanya ingin kaki berhenti melangkah. Sepertinya kota ini memiliki magnet yang kuat, yang mampu membuat gue langsung jatuh cintahhhhhhh *sampai pake H*. Bahkan bangunan dan tempat yang terkesan kumuh/berdebu sekalipun, terlihat menjadi oke oke saja dan tetap menarik dilihat mata. Seolah olah kota ini ingin memberitahu, kalau di situlah daya tariknya.

img_6053
Salah satu sudut kota Tallin
img_6233
Kota yang cantik
img_6232
Suka
img_5957
Pengen ke Tallin lagi deh

Biasanya di setiap liburan, memasuki museum adalah kegiatan yang sepertinya sayang untuk dilewatkan. Setidaknya buat kami berdua, gue dan suami.  Tapi tidak ketika kami berada di Tallin. Keindahan kota tuanya membuat kami mengurungkan niat memasuki museum museum yang ada. Rasanya seperti wasting time,  mengingat waktu yang kami miliki tidak banyak di kota ini. Hawa gothicnya seperti menghipnotis, yang membuat kami lebih memilih berjalan kaki, sambil menikmati keindahan kotanya saja.

Berada di kota tua Tallin, kudu menikmati keindahan Town Hall Square dan segala macam aktivitas di sekitarnya. Mulai dari tradisional market, makanan dan minuman di cafe/restoran sampai melihat lalu lalang manusia. Surganya kota Tallin menurut gue. Antik banget. Selain gedung Tallin Town Hall yang menjadi maskot Square ini, Town Hall Square juga dikelilingi cafe dan restoran bergaya abad pertengahan. Hampir semua cafe dan  restoran mendirikan tenda cantik di depan gedung restoran. Lengkap dengan bunga, lilin, selimut (suhu di Tallin sudah mulai dingin waktu itu). Dan satu lagi, rata rata pelayan restoran mengenakan pakaian tradisonal Estonia. Serasa berada di jaman Renaissance deh.

img_6046
Gedung Tallin Town Hall di Town Hall Square
IMG_6227.JPG
Town Hall Square
img_5945
Tradisional Market di Town Hall Square

img_6045

img_6080
Payung cantik yang selalu menghiasi depan restoran
img_6074
Suka

Menjelang malam, cafe dan restoran di kota ini pun semakin menggila suasananya. Tak sedikit cafe/restoran yang menggunakan bangunan tua, bahkan terkesan horor. Dinding kusam, hanya dilapisi batu batu tua yang kumuh, tapi ketika dibuat menjadi remang remang oleh cahaya lilin, oalaaaa kok ya jadi suka. Hahahahhaha. Ahhh gue ga pinter ngejelasinnya. Pokoknya gothic abis deh. Rasanya semua tempat bisa menjadi menarik di kota ini.

img_6044

IMG_6281.JPG
Menjelang malam di cafe Olde Hansa

Ada satu restoran yang  sangat menarik perhatian gue. Namanya OLDE HANSA.  Masih berada di sekitar Town Hall Square, restoran yang satu ini lumayan banyak menarik perhatian turis, tak terkecuali kami (terutama gue). Bangunannya besar dan modelnya itu loh, seperti rumah tua di film film. Belum lagi nama restoran ditulis dengan font yang langsung mengingatkan gue dengan buku buku bahela koleksi suami, gerobak tua lengkap dengan wanita berpakaian ala ala little Missy, pelayan restoran yang membuat atraksi teriak teriak layaknya pedagang baju di Petisah atau Mangga Dua “Cari apa kak? belanja? warna apa cari kak?  ijo lumut, ijo muntah kucing?” Hahahahhaha.

img_6088
Olde Hansa

Intinya kurang lebih begitu. Pegawai Olde Hansa sengaja berdiri beramai ramai di depan jalan, dan mengajak orang orang untuk masuk ke restoran dan toko handmade di tempat mereka. Tapi menurut gue, tanpa begitupun, dengan keunikan bangunan dan aksesoris yang menghiasi restoran, sudah lumayan membuat turis tertarik untuk masuk. Termasuk kami. Masuk melihat barang barang handmade yang dijual,  mulai dari pernak pernik yang lucu dan unik sampai berbagai jenis rempah rempah. Dan interiornya itu loh yang sangat membuat gue terpana. Seperti rumah rumah penyihir. Dari toko handmade, bisa conecting ke sebuah ruangan cafe atau restoran kecil yang dalamnya remang banget. Seperti penjara bawah tanah ala kerajaan gitu deh. Magis. Tapi entah mengapa lagi lagi gue terpana aja mak. Gue sukaaaaa! Ada keinginan mencoba makanan khas dari restoran Olde Hansa, tapi keburu sudah memboking tempat untuk makan malam di hotel tempat kami menginap, alhasil kami cuma nongkrong ngopi dan minum di cafe depan restoran. Sambil mendengar permainan musik khas Estonia yang rasanya sedikit asing di telinga gue.

img_6086

Tak hanya itu, sisi lain yang menarik dari wajah kota Tallin adalah patung patung yang menghiasi pintu masuk hampir di semua toko kota ini. Sampai sekarang, gue belum menemukan jawaban, mengapa patung patung ini harus ada.  Bentuknya juga tidak seperti patung kebanyakan. Unik, lucu dan aneh, bahkan sampai yang horor juga ada. Tapi malah bisa dibilang menjadi ciri khas kota Tallin sendiri.

Masih dari sekitar Town Hall Square, sesuai buku panduan turis yang kami dapat, Tallin memiliki Apotek tertua di dunia bernama Raeapteek yang berdiri sejak tahun 1422. Dan sampai sekarang masih aktif menjual obat dan menerima layanan resep dokter. Buset deh umurnya. Gila ya masih bertahan ampe sekarang. Tidak salah ketika apotek ini akhirnya dijadikan sebagai salah satu tempat tujuan wisata di kota Tallin. Selain tetap aktif melayani resep dokter, apotek juga berfungsi sebagai museum kecil yang menyimpan barang barang sehubungan dengan sejarah berdirinya Raeapteek. Mulai dari  peralatan obat seperti botol, timbangan dan alat penghancur obat jaman bahela.

Jika capek berjalan kaki, kereta kuda siap membawa berkeliling kota Tallin. Selain kuda, becak khas Estonia juga tak kalah seru. Lucunya warga Tallin menyebut becak ini sebagai taxi. Cukup membayar 10 Euro, lumayan puas mengelilingi kota Tallin kurang lebih 20 menit. Uda gitu, tanpa diminta pun, si abang becak dengan sukarela berhenti, ketika gue membidik kamera. Bahkan menjadi guide gratis sambil menjelaskan beberapa tempat yang kami lewati. Top dah si abang. Dan pssstttt…..satu lagi! abang becaknya ganteng lohhh. Haha.

Untuk melihat keindahan landscape kota Tallin secara keseluruhan, Toompea Hill rasanya kudu dijalani. Meskipun untuk sampai ke tempat ini lumayan memerlukan energi extra. Jalanannya lumayan menanjak. Namun sembari berjalan, bisa menikmati lukisan lukisan karya pelukis jalanan yang dipajang di Town Wall menuju Toompea Hill.  Tak hanya itu saja, suara alat musik yang dimainkan seniman jalanan, juga siap sesekali menghentikan langkah. Jadi capeknya ga terlalu berasa.

img_5938

Panorama di sekitar Toompea Hill bisa dilihat dari beberapa lokasi (kalau ga salah ada tiga titik lokasi), salah satunya dari kawasan Maiden’s Tower (Neitsitorn) Museum and Cafe. Selain panoramanya, yang menarik perhatian adalah cafe Dannebrog  yang berada di atas wall town. Dari bawah saja sudah terlihat unik. Untuk sampai ke atas cafe sungguh perjuangan banget. Menaiki anak tangga yang lumayan tinggi. Rasanya tidak cukup hanya mengangkat kaki dengan santai. Curam banget. Awalnya sempat nyerah ga mau naik. Takut jatuh. Begitu nyampe di atas, baru deh lope lope keluar dari bola mata. Melihat interior cafe yang sempit memanjang, dengan meja meja kecil plus bunga gantung di sepanjang lorong. Entah mengapa gue suka banget interior unik kaya gini. Walaupun cafe terkesan suram dan tidak fresh,  dan di beberapa bagiannya seperti tidak dirawat dan agak berantakan, tapi tetap tidak menghilangkan pesona cafe yang unik dan terkenal di kawasan Toompea Hill ini.

img_5887
Ada beberapa patung seperti ini yang menghiasi kawasan Maiden’s Tower (neitsitorn) Toompea Hill. Ga sempat cari tau patung apa namanya dan kenapa harus begitu bentuknya. Gue menyebutnya patung “Si Gregorian” aja. Haha.  
img_5879
Cafe Dannebrog
img_5880
Cafe Dannebrog
IMG_5885.JPG
Dinding dan lantainya hanya terbuat dari batu dan kayu tua yang kumuh. Tapi malah enak dilihat ya. 

Masih dari kawasan Toompea Hill, kami  juga masuk melihat keindahan gereja Alexander Nevsky Cathedral. Gereja ortodoks yang memiliki kubah khas Rusia. Seperti topi Aladin. Dalammya? ga usah di tanya deh. Bagus banget. Tipikal gereja ortodoks yang dinding gereja dipenuhi lukisan art dan altar berwarna kuning emas lengkap dengan gambar gambar Jesus. Satu lagi, nyaris tidak banyak kursi. Karena ibadah mereka kebanyakan berdiri. Gue tidak mempunyai dokumentasi foto di dalam gereja. Karena tidak diperbolehkan menggunakan camera.

img_6295

Mungkin Toompea Hill adalah tempat yang paling hits untuk melihat keindahan landscape kota Tallin. Tapi sebenarnya selain kawasan bukit ini, keindahan kota Tallin bisa juga dilihat dari menara gereja Dom Church/St. Mary’s Church. Awalnya kami tidak tau, kalau menara gereja bisa digunakan sebagai sarana untuk menikmati keindahan kota Tallin. Baru nyadar setelah melihat ada penampakan tubuh manusia yang sekilas seperti membidik kamera. Pas kami masuk ke dalam, ternyata benar, dengan membayar 10 Euro, pengunjung bisa naik ke menara gereja.

img_5936
View dari Toompea Hill
img_5937
View dari Toompea Hill

Dan ohh my God, itu tangganya cadas banget deh. Meliuk seperti spiral tanpa memberi jedah untuk berhenti. Belum lagi lorong tangga lumayan gelap, sempit, kusam, panas dan pegangannya cuma seutas tali tebal yang jika dipegang bergoyang goyang. Dan yang parahnya, masing masing anak tangga lumayan tinggi. Jadi berasa banget capeknya. Tapi begitu sampai di atas langsung ……puassss!

img_6350

Dan tidak cukup sampai di sini, ternyata masih ada menara gereja yang jauh lebih tinggi dari Dom Church/St.Marry’s Church. Apalagi kalau bukan Oleviste Church/St.Olaf’s Church, yang dikenal sebagai salah satu maskot kota Tallin karena ketinggian towernya yang bisa terlihat dari mana mana. Dan lagi lagi, seperti tidak kapok dengan kelelahan kami berdua menaiki menara Dom Church/St.Mary’s Chruch sebelumnya, kami penasaran dengan ketinggian gereja St.Olaf, yang konon di jamannya di klaim sebagai bagunan tertinggi di dunia. Biaya yang dikenakan lumayan lebih murah. Sekitar 5 Euro saja. Mungkin karena peminatnya tidak terlalu banyak. Mengingat untuk mencapai puncak menara gereja sungguhlah sebuah perjuangan. Bayangkan, menaiki tangga gereja St.Mary aja udah membuat gue capek luar biasa, apalagi dengan ketinggian mencapai 124 meter.

Sebenarnya dari awal gue sudah mulai ragu, takut ga kuat. Tapi entah mengapa lagi lagi gue penasaran. Di kepala gue cuma ada satu : keindahan maksimal kota Tallin. Karena jika semakin tinggi pasti viewnya semakin oke kan. Dan keraguan gue pun benar adanya. Gue berujung pada dehidrasi yang sampai mengharuskan gue melepas cardigan. Panas dan haus banget. Rasanya anak tangga tidak putus putus untuk dinaiki. Dan rasanya lagi, penat luar biasa seolah sesak napas diantara sempit dan remangnya lorong tangga. Sambil sesekali menarik napas panjang dan tetap semangat, akhirnya kami tiba juga di puncak menara. Gue memutuskan untuk duduk sebentar. Dan tanpa malu malu, bertanya ke penjaga loket di menara. Minta air minum. Jika tidak gue bisa pingsan. Untungnya stok air minum si penjaga loket ada. Meskipun di awal si pegawai menolak, tapi kami tetap memkasa  memaksa untuk membayar minuman botol itu.

img_5897
Dom Church

Jika di St.Mary’s Church kami bisa melihat landscape dari dalam ruangan yang luas (berasa lebih amanlah), berbeda dengan St. Olaf’s Church. Berdiri pas di bibir menara yang hanya dibatasi pagar besi, yang jika ketemu orang lain harus memiringkan badan terlebih dulu dan salah satunya harus berhenti melangkah agar yang lain bisa berjalan. Kebayangkan kan di ketinggian seperti itu. Belum lagi tempat kaki berpijak hanya terbuat dari papan kayu yang bisa dibilang tidak fresh lagi. Tapi pada akhirnya aman aman aja sih, ga terjadi apa apa. Hahaha 

img_6351
Beberapa view dari menara gereja

Untuk hal ini suami gue memang sedikit geleng kepala. Artinya, ketika sebuah tempat dijadikan sebagai kunjungan turis, seharusnya pemerintah setempat siap dengan layanan fasilitas untuk meminimalisasi resiko kecelakaan. Apalagi tempatnya menara tinggi seperti ini kan. Jika harus membandingkan dengan tempat wisata yang pernah kami kunjungi sebelumnya, sekalipun sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun, tapi maintenance dan keamanannya sangat diperhatikan. Namun lagi lagi gue harus bisa memaklumi, mengingat sejarah Estonia yang belum lama merdeka, dan bayang bayang rejim komunis Rusia di jamannya yang banyak melakukan pengrusakan terhadap gereja gereja di negara ini.

img_6206

Dan inti dari semuanya, dari menara St.Olaf inilah, gue bisa melihat dan menikmati keindahan kota Tallin yang sempurna. Segala cerita resiko dan ketidak nyamanan dari menara ini, hilang seketika dibayar warna warni bangunan kota Tallin.

Hari terakhir di kota tua Tallin kami isi dengan kunjungan ke Kadriorg Palace. Kastil peninggalan kaisar Rusia yang akhirnya dijadikan museum art oleh pemerintah Estonia. Jadi isi kastil ini tidak banyak, hanya beberapa lukisan seni, guci keramik, dan tungku perapian dengan bentuk yang berbeda. Tapi keindahan warna dan arsitek kastil tetap memiliki daya tarik tersendiri. Sisi lain dari keindahan kastil adalah taman bunga di sekitar halamannya yang tertata apik. Sungguh menyejukkan mata melihatnya.

img_6226

img_6280

img_6216

Tidak jauh dari Kadriorg Palace, kami pun mengunjungi istana presiden Estonia. Bukan gedung istananya yang menarik perhatian gue, melainkan taman hijau layaknya sebuah hutan yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju istana. Cakep buat photography. Kalau gedung istana presidennya sih biasa aja menurut gue. Ga ngerti juga apanya yang harus dilihat. Cuma ada aja sih beberapa turis yang fotoan dengan pebgawal pengawal  istananya. Hihihihi.

img_6222
Suka dengan pohon pohon di sekitar jalanan menuju istana presiden Estonia
img_6219
Istana presiden Estonia 
img_6221
Taman hijau yang asri dan segar

Untuk urusan belanja, Tallin terkenal dengan pakaian berbahan linen dan wool. Banyak banget toko toko yang memang khusus menjual pakaian dari kedua bahan di atas. Harganya juga relatif lebih murah. Ini gue akui. Ketika di Mora (kota tak jauh dari desa gue tinggal), satu gaun berbahan linen dihargai sekitar 1500 Sek lebih, di Tallin cuma 70 Euro. Demikian juga dengan jaket berbahan wool, bisa dihargai 98 Euro sementara di Mora uda 3000 Sek, bahkan bisa lebih. Huaaaa mupeng banget deh. Tapi saran gue hati hati juga, tetap jeli melihat toko yang benar benar menjual bahan dengan kualitas bagus. Gue merekomen toko bernama Ancora. Selain dirancang sendiri oleh pemilik, bahan dan kualitasnya juga bagus.

img_5948
Banyak sekali baju hangat  dengan model seperti ini di tradisional market dan toko toko di Tallin. Kelihatan negara yang ekstra dingin di saat winter.
img_5947
Topi khas negara Baltik dan Rusia banget ya. Haha
img_6369
Salah satu jaket berbahan wool dari Tallin. Perpaduan merah dan hitamnya gue suka banget. Dan harganya pun membuat sumringah. Lumayan murah jika harus gue bandingkan dengan harga di kota Mora, Swedia. 

Untuk harga makanan, baru deh, menurut gue ga bisa dibilang murah. Khususnya di sekitar Hall Town Squarenya ya. Rata rata bisa kena sekitar 36 sampai 50 euro untuk berdua. Tapi ini pun tergantung jenis makanan yang dipesan.

img_5351
Tiba tiba pengen makan Steak.  
img_5946
Kaget pas menu di piring ini diantar ke meja. Banyak banget. Tapi memang di buku menu disebut porsi untuk berdua.

Namun perbandingan harga yang gue simpulkan di atas, berkiblat ke harga kebutuhan di Swedia yang memang bisa dibilang serba mahal. Jadi secara keseluruhan, menurut gue, liburan di Estonia tetap jatuhnya lebih murah dibanding Swedia atau Skandinavia sekitarnya. Mengingat harga kebutuhan yang berbeda di setiap negara, jadi ga bisa disimpulkan secara general.

Berjalan jalan di kota tua Tallin, harus siap dengan jalanan yang menanjak dan tangga tangga bangunan yang lumayan curam (setidaknya buat gue itu curam, karena anak tangganya tinggi tinggi banget), dan siap dengan sebagian besar warganya yang kurang paham berbahasa Inggris. Jadi pakai bahasa tubuh deh kalau bicara. Apalagi ya….ohya bagi pencinta koleksi mini mug Starbucks, Tallin ga bisa memenuhi koleksi kamu. Kaga ada soalnya. Adanya cuma Starbucks versi Tallin, namanya Caffeine. Yang suka koleksi Tshirt dan pernak pernik Hard Rock Cafe, sama juga. Sepertinya ga ada di Tallin. Atau sudah ga ada yang doyan dengan hobby klasik ini? Kalau gue namanya angkatan sepuh ya. Jadi hobbynya masih kolot. Hahhahaha.

img_5944

Well, akhirnya selesai juga tulisan jalan jalan ke Tallin. Bagi penyuka liburan dengan nuansa Old Town, sepertinya mengunjungi kota Tallin adalah pilihan yang tepat. Gue sangat merekomen kota ini sebagai tempat berlibur. Khususnya bagi kamu yang memang sudah stay di Eropa, apalagi di Swedia. Langsung cusss aja kakakkkkk! Kotanya Keren!!

Terlalu sayang diabaikan!

img_6071
Ruangan di dalam gereja Holy Spirit. Salah satu gereja tua di Tallin
img_6073
Masih dari gereja Holy Spirit
img_6072
Tiang kayu kursi di dalam gereja Holy Spirit yang penuh dengan barisan gambar yang masing masing memiliki arti yang berbeda. Fungsi gambar lukisan adalah sebagai media bagi jemaat gereja yang tidak bisa membaca. Jadi  pengajaran isi Alkitab melalui gambar di dalam lukisan. Hebat ya.
img_5857
Gereja St. Nicholas’Church

img_5943

img_5959
Padahal uda pengen banget dapatin foto bagus di Tower Wall Town ini. Cuma banyak banget renovasi dimana mana. 

 

img_6057
Town Wall Tallin yang hampir mengelilingi kota tuanya. Di beberapa lokasi Town Wall digunakan sebagai tempat berjualan para pedagang tradisional. 

 

img_6056
Sepetik ya cuyyy
img_6051
Terakhir kok …suerrrr. Hahaha. Ini adalah salah satu bagian dari sudut kota tua Tallin yang paling gue suka. Gedung merapat di belakang gue itu loh. Cakep

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

 

See you in my next story.

PERJALANAN YANG MENYENANGKAN di “HOTEL BERJALAN”(TALLINK dan VIKING LINE)

Ada satu hal yang paling gue suka ketika berlibur melalui jalur laut. Gue tidak merasa ketakutan layaknya seperti berada di dalam pesawat terbang. Entah mengapa semakin lama gue semakin phobia naik pesawat.

Selain itu, melalui jalur laut, perjalanan nyaris tidak membosankan. Apalagi kapal kapal Eropa bisa dibilang memiliki standard kenyamanan yang layak untuk dinaiki. Bersih, fasilitas super lengkap, mulai dari tempat hiburan, restoran, ruangan spa, bermain game bahkan sampai tempat shopping dan  duty free pun ada. Dan bagi golongan pencinta gadget mania seperti gue, free wifi pun bisa didapatkan di dalam kapal. WALAUPUN KADANG KADANG LELET.

img_4910
Restoran buffet di Viking Line
img_4879
Duduk menikmati minuman segar di salah satu cafe

Dan yang lebih penting lagi, sebelum sampai ke negara tujuan (tempat liburan utama), di dalam kapal pun sebenarnya sudah bisa merasakan pra holiday. Anggap saja lagi berpesiar. Lapar tinggal pilih restoran mana yang disuka, bosan tinggal ke cafe, bar, pub (minum sambil mendengar live music), pengen dansa bisa (ada ruangan khususnya), pengen disko hayuuuu (ada diskotiknya), pengen hiburan lain monggooo (ada penari profesionalnya), pengen dipijet (tinggal cusss ke ruangan spa dan jakuzzi), sehabis dipijet bolehlah haii belanja ke duty free. Atau pengen suasana lain yang lebih natural? lihat view  di sekitar laut atau sunset misalnya ?  tinggal keluar aja sambil duduk di kursi cafe yang tersedia.  Trus kalau capek?  ya tinggal masuk kamar dan tidurlah mak! Zzzzzzzzzzz.

Waktu rasanya cepat banget berlalu  dan begitu bangun pagi, sarapan sudah menunggu di ruangan super luas dan cantik. Ga pake lama tiba deh di negara tujuan. Enak toh?

IMG_4933
Salah satu restoran di Tallink
IMG_4935
Salah satu restoran di Tallink
IMG_4930
Salah satu restoran di Tallink

Inilah yang gue dan suami rasakan ketika menaiki kapal Tallink. Group kapal besar yang membawa penumpang dari Stockholm Swedia ke Tallin Estonia. Tallink memiliki beberapa jenis kapal dengan nama nama yang berbeda. Ada Tallink Romantika, Viktoria, Superstar, dan masih ada beberapa nama lagi yang tentu saja gue ga ingat.

img_4890

Sebenarnya bukan hanya Tallink, group kapal Viking pun hampir sama memberi layanan dan fasilitas yang relatif menyenangkan. Yang gue tau rute rute kapal besar ini berlayar menuju Finlandia, Swedia dan sekitar negara negara Baltik.

IMG_4939
Arena dansa dan disko
IMG_4973
Live musik

Bahkan kami pun pernah menaiki kapal Viking tanpa bermaksud singgah ke negara tertentu. Jadi hanya menikmati fasilitas di dalam kapal saja. Berangkat hari ini, pulang esok harinya. Dan tidak sedikit orang menikmati hiburan di dalam kapal seperti yang kami lakukan. Tujuannya cuma satu, menikmati hari dan waktu di hotel berjalan. Biayanya juga bisa dibilang relatif tidak mahal.

IMG_4937img_4926

Untuk harga tiket bisa bervariasi. Tergantung kamar yang kita pilih, including makan malam apa ga,  pun hotel di negara yang dituju. Kalau untuk hotel biasanya bisa di upgrade sekiranya kurang cocok dengan hotel di dalam paket.

IMG_4885
Restoran buffet di Viking Line
IMG_4898
Cafe
img_4902
Bar
IMG_4906
Nyok belanja…
IMG_4904
Duty Free
IMG_4972
Shopping Area
IMG_5021
Yang terbawa pulang….

Saran gue, jika menaiki kapal Viking dan Tallink, wajib dicoba makan malam buffet mereka. Namanya Smörgåsbord. Ini adalah makan malam yang paling banyak diminati karena memiliki banyak jenis makanan yang melimpah ruah.

Cuma kebetulan karena sudah pernah beberapa kali menaiki kapal Viking, kami tidak mencoba buffet ini di Tallink. Ada beberapa restoran lain yang sangat menarik perhatian, baik interior maupun menunya. Dan pilihan kami  jatuh ke restoran Rusia. Makanan Rusia lumayan enak. Ketika yang lain cukup menjadikan salad sebagai garnis, maka Rusia menjadikan salad sebagai menu yang dominan memenuhi piring. Uda gitu bagian bawah terdiri dari salad yang diolah dengan krim dan ikan, kemudian dilapisi lagi dengan salad segar. Dan di bagian atasnya diletakin deh steak plus saos. Oh ya saosnya juga enak. Kentangnya hanya sedikit.  Nyessssss…nulis sambil ngences. Hahaha.

IMG_4974
Restoran Rusia

IMG_4975

Jika berada di Swedia, Finlandia atau negara Baltik, tidak ada salahnya mencoba pesiar kecil kecilan di dalam hotel berjalan ini (versi gue tentunya). Semoga suatu saat nanti, kami diberi kesehatan, panjang umur dan rejeki, sehingga bisa menikmati kapal pesiar yang sesungguhnya. Ga kebayang dalamnya kaya apa ya, kapal kapal yang gue ceritakan ini saja sudah lumayan menghibur. Rasanya pengen memasuki semua ruangan hiburan yang ada. Sungguh menyenangkan pastinya. Boleh dicoba!

IMG_4916
Melihat sunset di cafe luar
IMG_4915
Cafe di dek luar
IMG_4884
View dari atas kapal
IMG_4971
Cafe di dek luar
IMG_4895
View dari atas kapal
IMG_4881
View dari atas kapal

 

IMG_4919
Ketika burung menghiasi sore

Salam dari Mora,

Dalarna Swedia

See you in my next story