Berns Asiatiska

Design interior sebuah hotel, restoran, cafe, rumah, menjadi bagian yang selalu mampu menyegarkan pikiran dan penglihatan gue. Bahkan kalau mengunjungi rumah orang lain, gue suka memperhatikan design interiornya.

Apalagi yang namanya table setting udah paling gue sukalah. Di rumah ada tidak ada acara penting, gue suka menata meja. Padahal cuma gelas, pisau, garpu, sendok dan serbet. Mau modern, vintage, antik, blink blik, selama penataannya menarik, pasti gue suka. Dan itu menjadi salah satu objek foto favorite gue.

E8543909-CE8F-4C0A-87F7-D1C5A143D2F0.jpg
Cakep!

Berns Asiatiska ini adalah salah satunya. Arsitek dan interiornya cantik banget (menurut gue). Sentuhan Art Nouveau sangat berasa di dalam. Pertama sekali berkunjung ke sini sekitar tahun 2014 silam. Uniknya, meski interiornya eropa abis, tapi menu yang tersaji justru oriental (chinese food). Tapi terbuka juga sajian dari wilayah asia lainya. Seperti dari India misalnya. Jadi bisa dibilang Berns Asiatiska ini ya restoran asia. Namanya aja uda pakai asiatiska. Sedangkan bistronya menyediakan menu mediterania. Kurang lebih gitulah.

E26DB915-DA9E-4EAC-8CF5-275C598127FB

46E52CB5-9626-48D8-A91F-B4056212B934

Info websitenya menyebut jika Berns Asiatiska sudah ada sejak tahun 1940 dan merupakan restoran chinese pertama di Swedia. Gue dan suami sudah empat kali ke Berns Asiatiska ini. Sepengamatan gue, mereka selalu menyajikan menu lunch dengan sistem all you can eat. Dan selalu ramai. Bahkan suka ngantri juga. Idealnya sih booking meja dolo ya supaya dapat tempat. Harga perorang sekitar 400 sek (kurang lebih 650 ribu rupiah untuk mata Idr saat ini). Sedangkan untuk fine dining dimulai pukul 5 sore. Harganya jauh lebih mahal.

C18E8457-A8E1-4EE4-8876-9BFA8B7EC2B6.jpg

Menurut gue, kualitas rasa dari menu menunya sih enak. Aroma seafoodnya tepat sasaran. Emang bener bener makanan chinese food. Jadi bukan chinese food asal jadi. Dumpling gorengnya enak. Udangnya berasa. Ayam goreng tepungnya apalagi, yuhui. Setidaknya beda banget dengan ayam goreng tepung yang ada di kota terdekat tempat gue tinggal.

Sabtu lalu mereka menyajikan menu daging sapi suwir. Mirip Pulled Beef (Shredded beef). Bedanya suwiran daging di restoran ini sangat halus. Rasanya mirip rendang atau semur manis. Tidak pedas tapi rasanya juara banget. Beneran. Gue ampe nambah. Hahaha.  Salad, buah dan dessertnya juga banyak macam. Segar segar!

504A9371-C2DB-4847-9F7A-65C97696BDB8.jpg

Sedangkan makanan asia lainnya gue kurang tau pastinya darimana. Mungkin dari India atau timur tengah gitu. Baunya tajam banget. Aroma kari. Tapi seperti yang gue bilang, penyajiannya ga pelit. Dagingnya juga terlihat segar dan bulatannya gede gede.

15E463A4-F92F-438A-A0FB-DCAAFACF749C.jpg

Enak sih enak. Cuma dengan harga segitu, menurut gue harusnya bisalah dibuat  lebih enak lagi. Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau pengunjung secara tidak langsung juga membayar tempat. Emang nyaman.

Karena jika di compare dengan harga makanan di restoran Swedia lainnya yang juga mengusung konsep all you can eat, harga tersebut sudah di atas rata rata. Karena makan siang di restoran Swedia mostly sudah mengusung konsep all you can eat. Dan yang pernah gue datangi rata rata memasang harga 100-190 sek. Yang 190 sek uda complit banget dan enak.

E8CA688E-92EB-4613-97A0-DFB8939B1E78.jpg

Berns Asitiska ini sebenarnya bagian dari Berns Hotel. Keseluruhan bangunan Berns sudah didirikan sekitar tahun 1860 an. Terletak di pusat kota Stockholm di area Berzelii Park. Sangat dekat ke taman raja atau Kungsträdgården.

IMG_3893

Untuk hotelnya sendiri, menurut gue sih bagus. Bergaya old style. Menariklah. Tapi tidak terlalu luar biasa. Cuma lokasinya benar benar di kawasan central Stockholm. Dekat ke banyak lokasi turistik Stockholm. Restorannya sih menurut gue yang bikin Berns punya pamor.

AF42C428-992A-4D2F-9F7C-EF1F03A32320

Scandic Hotel Gamla Stan Stockholm. Kangen Interior Lamanya.

Bisa dibilang Scandic adalah hotel tersering yang gue dan suami pilih sebagai tempat menginap ketika trip di sekitaran Skandinavia.

Tidak ada alasan yang terlalu spesifik kenapa harus menginap di Scandic. Salah satunya, selain jumlahnya yang lumayan banyak (hampir di setiap kota besar wilayah Skandinavia dan Nordik hotel ini ada), lokasinya pun gampang dicari. Paling itu aja sih.

IMG_8907.jpg

Dari segi fasilitas, hotel Scandic memang terbilang nyaman. Tapi tidak ada yang terlalu luar biasa untuk diceritakan. Sehingga meskipun lumayan sering menginap di Scandic, gue belum pernah membuat reviewnya.

Terkecuali Scandic yang satu ini. Hotel Scandic Gamla Stan Stockholm. Kenapa? Lagi lagi alasan yang luar biasa pun sebenarnya tidak ada. Hahahha. Cuma memang, Scandic Gamla Stan Stockholm secara personal memiliki story ke gue.

 

IMG_8901

Jadi tahun 2014 lalu, tepatnya pada kunjungan pertama ke Swedia, suami mengajak gue jalan jalan ke Stockholm.  Dan pilihan menginap jatuh pada hotel Scandic Gamla Stan Stockholm. Cuma, waktu itu namanya masih hotel Rica

Perasaan dan kesan pertama sewaktu menginap di hotel Rica sih campur baur. Antara senang dan tidak. Dikarenakan belum terbiasa menginap di hotel bernuansa vintage, jadi gue merasa kurang nyaman dengan interiornya yang sedikit horor. Jujur dalam banyangan gue kala itu, dengan biaya sekitar 3 jutaan rupiah permalam, harusnya kamar sudah lumayan besar, interiornya cerah, layaknya sebagian besar hotel di Indonesia.

 

Bukannya malah kamar kecil berisi pernak pernik yang sedikit menakutkan. Seperti lukisan bahela, pot bunga antik, kursi dan lemari usang. Rasanya seperti berada di museum. Jauh dari kesan hotel yang biasa gue masuki. Belum lagi lobby dan ruang makan hotel yang kecil, lift yang sempit pakai banget. Cuma semeter setengah. Mana kayunya uda terkikis.

 

IMG_8911

Tapi di sisi lain, aura hotelnya memang Eropa banget. Yang secara ga langsung membuat gue merasa beneran lagi jalan jalan di Eropa. Hahahahha. Entah pola pikir apalah itu, ga ngerti juga. Apalagi pas pertama menginap, kebetulan lagi musim dingin. Di hotel inilah pertama sekali gue melihat timbunan salju memenuhi liukan kursi oak di balkon hotel. Cantik sekali. Mirip kalender.

IMG_9362

IMG_9363
Balkon hotel tempat pertama melihat salju. Hahaha

Namanya juga perjalanan pertama gue ke Eropa ya, melihat salju pula. Langsung mendalamlah. Dan berasa special, karena sehari sebelumnya pas kami tiba di hotel, salju belum turun. Begitu bangun pagi dan mau sarapan, diantara heningnya lorong hotel yang tua, tiba tiba gue melihat tumpukan salju yang kecenya idih banget. Siapa juga yang ga terwow. Gue sih maksudnya, terwow banget.

IMG_8152.jpg

 

Tapi waktu itu gue belum paham benar kalau Gamla Stan adalah kawasan kota tua yang ngehits dan turistik banget di Stockholm. Jadi dampaknya pun pasti berasa untuk bayar bayarnya. Harga menginap tiga juta rupiah permalam adalah sesuatu yang standard banget di Gamla Stan. Bahkan banyak yang jauh lebih mahal. Sementara, pengalaman liburan gue waktu itu cuma di seputaran Asia Tenggara, yang untuk mendapatkan kamar hotel berukuran luas tidak semihil di Stockholm. Emang dodol sih ya,  pake ngebandingin gitu. Ya jelas beda kan. Hahaha.

 

Masih di tahun yang sama, pas kakak dan abang gue berkunjung ke Swedia, kami kembali lagi menginap di hotel Rica. Waktu itu, lokasi hotel yang strategis menjadi alasan utama. Dengan pemikiran, kakak dan abang gue bisa dekat jalan kakinya kemana mana. Kalau capek, bisa langsung jalan kaki lagi balik hotel. Gampang kan.

 

Barulah pada kunjungan berikutnya, hotel Rica mulai mendapat tempat di hati gue. Nancepnya uda berasa tajam. Entah mengapa kok ngangenin. Gue kangen kamarnya yang mirip apartemen tua kayak di film film. Pas ngintip dari jendela langsung berhadapan dengan bangunan tua layaknya dalam cerita Zorro. 

 

Padahal kalau dipikir pikir,  waktu itu suasana Rica hotel lebih remang. Warna warna pun dominan lebih gelap. Tapi justru itu yang bikin rindu. Nuansa klasiknya lebih menonjol.

Apalagi gue sangat menyukai kawasan Gamla Stan. Karena segala cafe kozy dan resto romantis di daerah ini buka hampir larut malam. Jadi kalau menginap di Rica hotel berasa lebih aman dan mudah aja semuanya. Tinggal jalan kaki, dan ga pake lama sudah nyampe kamar hotel. Bukan apa apa, gue agak parnoan naik kereta bawah tanah di malam hari. Naik taxi? tetap aja ada perasaan was was. Belum lagi bayarnya yang bikin pusing. Hahahaha.

IMG_9364

Sampai akhirnya, tepatnya kapan gue kagak tau, Rica hotel berubah nama menjadi hotel Scandic. Menurut suami, Rica hotel available banget diambil alih oleh hotel besar sekelas Scandic. Interiornya memang autentik vintage banget. Jadi wajar dilirik ama Scandic. Karena tamu hotel yang menyukai autentik old style memang tak sedikit.

Tapi persis dan detailnya, kami kurang tau pasti apakah pergantian nama menjadi Scandic hotel ini merupakan akuisisi saham atau hanya jual beli gedung. Sejak berganti nama, kami belum pernah menginap lagi di Rica. Barulah pas kunjungan ke Stockholm beberapa waktu lalu, kami memutuskan untuk mengulang nostalgia. Welcome to Scandic Gamla Stan!  

IMG_8153

IMG_8158
Suka banget di kamar ini. Melihat ini rasanya pengen dihempas manjah ke Stockholm. Ayoooo bang!

Suasana di dalam hotel sudah sedikit berbeda. Terpoles nuansa baru yang agak modern tapi beberapa detail interior lama peninggalan Rica hotel masih  dipertahankan. Jadi nuansa klasiknya masih berasa. Kalau awalnya terkesan remang dan dominan berwarna gelap, sekarang lebih cerah.

IMG_8156

Perubahan ini sepertinya untuk menyesuaikan design interior Scandic  yang kebanyakan mengusung tema modern. Yang gue ga suka, kursi klasik di lobby hotel diganti total. Padahal menurut gue, kursi itu elegan banget. Model dan warna kulitnya mewakili era Art Nouveau. Berwarna merah maron. Gue ingat banget, pertama berdua suami pernah berfoto di depan kursi itu. Tepatnya pas nunggu taxi hendak menonton teather. Masa dimana kami berdua masih imut kece. Tidak membengkak seperti sekarang. Huaaaaaaa.

IMG_8906
Lobby Scandic yang sekarang. Wallpaper juga diganti. Dulunya berwarna hijau

Hasil fotonya terlihat tidak seperti di lobby hotel. Mirip ruang tamu bangsawan gitu. Sampai teman gue pernah mengira itu rumah gue. Bukan hotel. Hahaha.

Ahhh, intinya sih gue lebih suka interior yang sebelumnya. Tapi kalau ditanya, mau menginap lagi ga di Scandic Gamla Stan Stockholm? ya jelas mauuuu? Secara strategis banget lokasinya dan dekat kemana mana. 

IMG_8879.jpg

Untuk harga permalam tergantung seasons. Seperti kunjungan terakhir lalu, berhubung musim panas, permalamnya kami dikenai 2500 sek. Tapi kamarnya lumayan besar. Ya ga besar banget juga sih. Di Eropa mau dapat kamar yang benar benar besar, seukuran kami sih belum sanggup bayar. Incesssssslah mak! Hahaha.

IMG_9366 (1)

Hytte, Penginapan di Norwegia ini Wajib Dicoba

Salah satu yang gue rindukan dari wisata alam di Norwegia adalah penginapannya. Apagi kalau bukan Hytte!

Selain bentuknya yang membuat perasaan menghayal entah ke film film apalah itu, landscape di sekitar Hytte mostly cihuy banget. Hadeh, tak sempatlah mikir berat (Lah liburan ngapai juga mikir berat?)

IMG_6948.jpg
Hytte dengan rumput di atapnya

Di Norwegia, khususnya di wilayah pegunungan dan Fjord, Hytte merajalela banget. Sadisnya ada dimana mana. Mulai di pinggiran fjord, lembah bukit, sampai mendekati kawasan puncak pegunungan pun ada.

IMG_6369 (1).jpg

IMG_6523.jpg
Jatuh cinta dengan kabin kabin Hytte ini. Cantik banget diantara balutan salju di kawasan pegunungan

Itu ya, pas melihat kabin kabin berserak di ketinggian gunung, (kebetulan waktu itu salju masih cinta banget dengan bumi Norwegia meskipun sudah memasuki awal musim panas), sontak gue minta suami berhenti.

IMG_6367

IMG_6366

Entah mengapa gue terperangah banget melihatnya. Oiimak…cakep banget. Serasa di planet mana gitu. Sepi banget kan. Seperti sebuah komplek perumahan suku asing yang terisolasi. Ibarat film the Beach atau Kong, nemu sebuah pulau dengan pemandangan yang cakep tapi magis. Halah!

Tapi beneran. You have to be there to believe it!

Gambar yang ada pun rasanya tak cukup mewakili keindahannya. Harus dilihat langsung. Gue nih, yang notabene sehari hari menyantap tebalnya salju everyday di saat winter, tetap aja loh terhipnotis dengan kumpulan kabin diantara salju itu. Kalau dipaksakan, ya anggap saja gue lagi berada di wilayah semi artic. Halah….(lagi)

IMG_6946

IMG_6952

IMG_6954

Hytte itu bentuknya seperti rumah kayu atau kabin. Uniknya lagi, atap bangunannya kebanyakan ditanami rumput dan bunga.

Sebenarnya di wilayah Eropa lain, penginapan seperti ini juga ada. Berdiri tak jauh dari nature. Dikenal dengan kawasan camp nature. Gue pernah mencoba penginapan seperti ini di Finlandia, Swedia dan Denmark. Yang di Denmark lebih mirip cottage privat gitu deh. Tapi sejauh ini, Hytte di Norwegia jauh lebih yuhui.

IMG_6950

IMG_6945
View dari pintu Hytte. Kece

IMG_6949

Hytte sepertinya menjadi pilihan utama menginap di kawasan nature Norwegia. Bukan alternative kedua. Menurut gue, hotel kalah pamor dilibas oleh Hytte. Sekalipun ukuran sebuah kota, jika masih dekat ke kawasan nature tetap aja hotelnya jauh lebih sedikit dibanding Hytte. Setidaknya inilah yang terlihat  mata gue selama di perjalanan.

IMG_6532.jpg
Bangunan di lereng itu semuanya Hytte. Bukan rumah penduduk loh

IMG_6533.jpg

Bahkan, ada satu kota yang isinya 90 persen Hytte. Nyaris tak terlihat rumah penduduk. Di kota Lom misalnya. Ampun, itu kota cakep banget. Kabinnya berdiri bertingkat di dinding bukit. Warnanya seragam. Coklat!

Dan hotelnya cuma ada satu, selebihnya Hytte semua. Landscapenya lagi lagi bikin hati menggelora.

IMG_6957
Hytte di kota Lom

IMG_6956

Para pebisnis penginapan di Norwegia pun sudah tau banget bagaimana cara memanjakan para tamunya. Jadi pemandangan di sekitar Hytte sepertinya sudah harga mati. Ya harus cakep. Misalnya seperti gambar di bawah ini.

Kawasan Hytte bahkan bisa hanya memiliki 3 atau 5 bangunan saja. Bahkan yang ukurannya kecil banget. Jauh dari pusat kota. Tapi tetap aja laris manis. Sedangkan kawasan penginapan berskala besar, biasanya terdiri dari bangunan hotel dan Hytte. Hotelnya pun berbahan material yang dominan terbuat dari kayu.

IMG_6530
View di sekitar Hytte
IMG_6377
Hytte ini kelihatannya kecil yak. Tapi dalamnya bertingkat loh. 

Ukurannya? ya bervariasi. Ada yang besar maupun kecil. Tapi yang membuat gemes, dari luar penampakannya seperti rumah liliput. Mungil mungil layaknya rumah mainan. Begitu masuk, merasa tertipu. Mereka bisa memaksimalkan semua ruangan agar benar benar berfungsi. Jadi ada kamar, living room/dapur, bahkan toilet. Contoh gambar di bawah ini.

Harga? juga bervariasi. Tergantung daerah/lokasi mapun ukuran dan kelengkapan Hytte juga. Kalau berada di sekitar fjord, sepertinya lebih mahal.

Rata rata sih berkisar 650 Nok (setara 1 juta rupiah untuk konversi IDR saat ini), hingga 1000 Nok (setara 1 juta enamratus ribu rupiah), atau mungkin bisa juga lebih ya. Yang kami coba sih rata rata di harga segitu.

IMG_6346.jpg

Sebagai perbandingan, untuk Hytte seharga 650 Nok, kurang lebih fasilitasnya seperti di bawah ini:

  • Kamar bisa satu dan bisa juga dua.
  • Tempat tidur bertingkat, dan mostly muat untuk satu orang
  • Bantal dan selimut belum dilengkapi sarung. Tapi bisa disewa atau bawa sendiri dari rumah.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave (untuk microwave ga selalu ada)
  • Kulkas
  • Air kran bisa ada dan bisa juga tidak ada. Kalau tidak ada, harus ambil sendiri dari air ledeng utama di sekitar hytte.
  • Toilet di luar.

Sedangkan Hytte dengan harga 900 hingga 1000 Nok, berikut fasilitasnya :

  • Kamar dua.
  • Tempat tidur lebih lebar dan tidak bertingkat
  • Bantal dan selimut ada yang sudah dilengkapi sarung, tapi ada juga yang belum. Jadi semua tergantung kebijakan pengelola penginapannya.
  • Ruang nonton tv sekaligus dapur
  • Peralatan dapur seperti gelas, piring, teflon hingga microwave
  • Kulkas
  • Air kran ada
  • Toilet di di dalam kamar
IMG_6378.jpg
Hytte dengan ruangan dapur sekaligus ruang tv

Tapi fasilitas yang gue sebut di atas sifatnya tidak fix ya. Karena meskipun harganya sama, belum tentu fasilitasnya sama. Tergantung kebijakan pengelola. Seperti yang gue sebut di atas, lokasi juga mempengaruhi tingkat harga dan kelengkapan fasilitas. Di daerah A misalnya, untuk harga 1000 Nok mungkin fasilitasnya sudah sangat lengkap. Tapi belum tentu di daerah B demikian. Seperti itu kira kira.

IMG_6355

Saran gue sih, bawalah piring dan gelas plastik. Jadi ga perlu banyak cucian. Trus kalau mau repot sedikit, siapin aja bahan makanan yang agak tahan lama. Tergantung berapa lama juga sih tripnya. Tapi setidaknya lumayan terbantu untuk beberapa hari kan.

IMG_6937

Misalnya seperti ayam goreng dan rendang agak kering. Nanti tinggal masukin kulkas. Pas makan tinggal masukin microwave atau tinggal panasin. Malah gue bawa beras loh. Masak manual kayak jaman dulu. Kelupaan bawa magiccom. Hahaha.

Tapi yang namanya menginap di Hytte, ya kebanyakan seperti itu. Itulah fungsinya dikasih dapur plus peralatannya. Apalagi di sekitar Hytte biasanya restoran ga banyak. Malah kadang adanya cuma satu, ya restoran dari pemilik penginapan.  Mungkin karena itu tadi, tamu yang menginap kebanyakan bikin/masak sendiri.

IMG_6943

IMG_6942
Bangunan Hytte plus tanaman rumput di atasnya

Ya anggap sajalah lagi main masak masakan di rumah liliput. Tapi ga perlu sampai masak berat juga. Kayak menggoreng atau ngulek sambal. Apalagi goreng ikan asin. Cukuplah tinggal manasin atau masak mie instan.

IMG_6382
Hytte dengan model yang lebih modern. Pas di tepian fjord. Viewnya bisa dilihat di gambar bawah

Selain itu, lumayan menghemat juga. Bukan apa apa, Norwegia itu termasuk salah satu negara dengan biaya yang relatif mahal.

Terkhusus di saat lunch. Seperti kami misalnya, mau ga mau harus makan siang di restoran. Karena di jam segitu pastinya sudah mulai jalan kemana mana kan. Repot kalau makan di mobil. Karena kendaraan yang kami gunakan bukan mobil karavan.

IMG_6399.jpg
Mobil Karavan yang menyewa tempat di kawasan Hytte
IMG_6526.jpg
Ihhh…kawasan ini indah banget. Di sekitar Eidfjord

Untuk makan siang, rata rata perorang dikenakan 175 Nok sampai 200 Nok (setara 300 ribu rupiah). Kita bicara makanan standard ya. Bukan dinner cantik. Misalnya nih, 3 tusuk sate plus nasi segenggam dihargai hampir 300 ribu rupiah. Belum lagi rasa makanan di Norwegia itu pas pasan banget (ini menurut standard lidah gue dan suami ya, bahkan warga di desa gue pun rata rata bilang begitu)

IMG_6398.jpg

IMG_6387
Taman yang asri di sekitar Hytte dan hotel di Aurlandfjord

Jika gue bandingkan dengan harga di Swedia, sebenarnya tidak jauh berbeda. Terkhusus untuk makan malam. Tapi untuk makan siang, di Swedia lumayan terbantu. Karena sebagian besar restoran menggunakan sistem all you can eat dengan harga yang relatif ramah di kantong.

IMG_6392
Kawasan penginapan di Aurlandfjord

Hanya berkisar antara 90 hingga 110 Sek, sudah bisa makan sepuasnya including coffee dan cookies. Kalau beruntung, bisa nemu restoran yang menyediakan desserts sederhana. Tapi memang biasanya dilimit dari pukul 11 pagi hingga pukul 2 siang. Lewat dari situ harga melambung dua kali lipat bahkan lebih.

IMG_6531
Kawasan penginapan di Aurlandfjord. Kece yak!

Untuk dinner, harga di Norwegia dan Swedia ga jauh beda, masing masing memiliki harga yang kurang ramah di kantong. Bedanya, rasa makanan di Norwegia sekalipun sekelas hotel, tetap ajalah mak, kok di mulut ga berasa nikmat apa apa. Flat banget rasanya. Tapi selera lidah setiap orang ga sama sih. Jangan digeneralisasi.

IMG_6386
Hotel di kawasan penginapan Aurlandfjord
IMG_6388
Ruangan sarapan. Interior shabby vintagenya gue suka.
IMG_6389
Look at this! Barang antik yang menghiasi lobby hotel.

Nah, agar memblenya ga doble, mending sebisa mungkin dihemat kan. Kalau setiap hari harus menghabiskan uang sebanyak satu juta tigaratus ribu rupiah hanya untuk urusan makan, selama gue bisa bawa rendang dan ayam kenapa ga? Hahahha.

Lain cerita kalau ga bisa ya. Mau ga mau ya dinikmati aja meskipun mahal. Intinya sih semua sesuai kondisi. Namanya juga liburan toh.

IMG_6354

Kalau mau menginap di hotel pun bisa. Kami juga pernah mencoba penginapan hotel. Tepatnya di kawasan Aurland. Hotel di kawasan nature Norwegia juga asik. Suasananya homey banget. Karena materialnya berbahan kayu juga. Interiornya mengusung tema shabby vintage. IMG_6936

Tak hanya landscape, model bangunan di sekitarnya pun bikin gemes. Warna putihnya sukaak! Mirip rumah di majalah home design gitu. Pengen gue cabutin trus pindahin ke halaman sebelah rumah. Hahaha.

Kebayang kan, buka jendela langsung melihat gunung. Belum lagi aliran air fjordnya yang super tenang. Rasanya ga pengen pulang. Rekomen banget tempatnya. Untuk harga hotel berkisar 1400 Nok atau setara dua juta duaratus ribu rupiah. Bisa lihat gambar di bawah ini.

Ke Norwegia, pokoknya kudu nyobain Hytte deh.  Berkesempatan merasakan liburan ala ala serial Heidy. Banyak gunung, lembah hijau bahkan domba pun ada. Heaven.

IMG_6529
Hotel di kawasan Eidfjord. Hotel ini besar tapi karena berbahan kayu jadi cakep banget

Salam dari

 

Dalarna, Swedia.

“Semua photo adalah dokumentasi pribadi ajheris.com”

IFA DUNAMAR HOTEL

Rasa rasanya kalau berlibur ke tempat wisata yang dekat dengan laut, memilih penginapan yang lokasinya dekat pantai menjadi kemauan. Kalau bisa lebih ngelunjak, viewnya sih menghadap laut. Setidaknya inilah yang gue dan suami lakukan sebelum memilih hotel yang kami mau.

Setelah membaca review, seperti lokasi hotel yang dekat banget ke pinggiran pantai dan centrum Playa Del Ingles, view kamar yang menghadap laut, tamu hotel yang kebanyakan datang tanpa anak anak (sampai ada note begitu loh, free dari ramainya anak anak), dan ada discountnya pula, akhirnya kami memutuskan untuk memilih IFA DUNAMAR sebagai hotel tempat kami menginap. Lokasi hotel berada di Playa Del Ingles, pusat wisata pantai di kota Maspalomas.

 

IMG_9348 (1).jpg

IMG_9350.jpg

Sempat ada kekhawatiran, hotelnya semenarik di websitenyakah, atau malah beda jauh. Ternyata tidak mengecewakan. Tampak luar, bangunan hotel memang lumayan mencolok dibanding hotel di sekitarnya.

IMG_9349

IMG_9347

Gue bilang mencolok bukan karena terlihat megah (malah menurut gue terkesan kusam warnanya), melainkan arsitek bangunannya lumayan lucu. Seperti barisan anak tangga gitu. Dan lumayan tinggi juga. Sehingga mudah melihat tubuh hotel ini dari pantai. Bahkan gue ga menyangka kalau hotel Dunamar menjadi salah satu iconic di kartu pos sekitar wisata Playa Del Ingles. 

IMG_9377.jpg
Dunamar dari sebuah sudut kota
IMG_9379.jpg
Tampak depan

IMG_9381.jpg

Di bagian tertentu, hotel Dunamar terlihat mewah. Memiliki lobby yang luas dilengkapi barisan lampu kristal dan pilar besar. Juga dinding kaca bernuansa putih di sepanjang koridor pintu masuk, tiang pilar bergaya semi klasik, hingga restoran luas yang berfungsi sebagai ruangan dinner dan breakfast.

IMG_9415.jpg

Tapi di sisi lain, beberapa bagian gedung terlihat sangat sederhana. Contohnya seperti lorong masuk ke kamar hotel, serta interior kamarnya pun terkesan biasa. Hanya saja ruangan kamar lumayan luas. Lemari pakaian besar. Laci laci di lemari banyak. Sangat cukup menampung pakaian agar tidak berantakan. Gantungan bajunya juga banyak.

Untuk toilet kamar, menurut gue sih lumayan besar. Printilan perlengkapan mandinya pun lengkap. Selain itu, kulkas dan safety box juga ada. Cuma untuk safety box harus bayar lagi. Demikian juga dengan layanan internet di ruang kamar,  harus bayar lagi. Relatif murah sih menurut gue. Only 2 Euro perhari. Tapi ya itu, lemott sangat. Aduhhh sampai tak terkatakan. Ga cuma dikamar, di lobby hotel juga.

Cuma pas gue nanya ke bagian receptionist, mereka bilang sekiranya dalam beberapa hari ke depan masih lemot, tagihan internet di kamar kami tidak dikenakan charge. Ehhh, beneran loh. Pas check out mereka ga masukin ke dalam tagihan. Padahal gue uda ikhlas meskipun tiap hari membatin dengan keleletan internet nya.

IMG_9404.jpg
View dari lantai sekian hotel
IMG_9342
View hotel dari salah satu sudut bangunan Dunamar

Satu hal yang paling gue suka dari hotel Dunamar ini adalah view dari segala penjuru hotel yang Cihuiii.

Dari balkon kamar, koridor hotel, depan bar, semuanya okeh. Bahkan gue bisa menikmati keseluruhan landscape Playa Del Ingles dari rooftop hotel. Uniknya lagi, di rooftop disediakan bangku untuk selonjoran dan berjemur. Trus ada fasilitas shower dan sauna juga.

IMG_9357.jpg
Rooftop salah satu bangunan hotel
IMG_9362
Ini di rooftopnya. Lengkap sauna dan shower
IMG_9361
View dari rooftop
IMG_9359
View dari rooftop

Swimming poolnya juga lebih dari satu. Dan beneran loh. Nyaris gue tak melihat anak kecil di hotel ini. Mostly orang dewasa dan lansia gitu. Pensiunan yang tinggal menikmati hidup. Sampai sampai kolam renangnya dijagain ama satu orang penjaga, kalau kalau ada trouble pas berenang. Maklum, yang renang uda pada berumur gitu. Tapi untuk kolam renang yang lain, lebih campur baur. Berumur 30 tahun lebih gitulah. Dan jauh lebih luas juga kolamnya.

IMG_9341
Depan restoran dan bar. Bisa duduk santai menghadap laut atau juga bisa berenang
IMG_9401
Spot favorite
IMG_9353
View dari sini kece

Untuk bar, coffee shop dan restorannya juga bagus. Nyaman. Dan viewnya okeh semua. Ada yang langsung menghadap laut. Mungkin karena arsitek hotel dibangun dengan permukaan yang bertangga gitu, jadi buat duduk santai, melihat view menjelang sore menjelang malam pun makin yuhui. Pokoknya dua hari sebelum pulang, kami sengaja menghabiskan waktu hanya di hotel dan di sekitar pantai.

IMG_9400.jpg
Setiap anak tangga selalu melewati view seperti ini
IMG_9405.jpg
Sukaak!

Hiburan hotelnya pun ada. Live musik dan dancing. Bisa melihat dan menikmati tarian Flamengo yang dibawakan oleh penari dan pemain musik profesional.

Untuk menu makanan, Dunamar hotel juga melimpah ruah. Buanyak banget. Awalnya sih kami sempat ditawarkan untuk mengambil paket makan malam selama menginap di hotel. Tapi kami pikir pikir buat apa. Namanya liburan, pengen dong mencoba makanan di tempat yang berbeda. Selain itu kurang bebas juga kan. Semisal lagi jalan di luar, mau ga mau harus balik hotel karena urusan makan. Akhirnya fix kami tolak.

IMG_9406.jpg
Restoranya luas
IMG_9408.jpg
Breakfast dan dinner di sini tempatnya

Tapi tiga hari sebelum pulang, kami malah berubah pikiran. Alasannya karena kami sudah ada bayangan, bakal ga kemana mana lagi. Paling hanya di sekitar Playa Del Ingles. Dan juga, dibanding hanya sekali, harga pun jauh lebih murah kalau mengambil paket sekaligus 3 hari berturut turut. Ya trik bisnislah itu.

Yang paling gue suka sih printilan dessert dan appetizernya. Banyak banget dan menarik semua penampilannya. Kalau rasa sih standardlah. Maksudnya enak tapi ga sampai uuueeenak banget. Trus Yogurthnya banyak macam dan rasa. Potongan buahnya juga montok montok dan segar.

IMG_9380.jpg
Lobby hotel yang luas
he
Tinggal pilih mau duduk manis dimana. Haha
h
View dari lobby yang supper ketjehhh!
IMG_9372
View dari lobby. Cihuiii!

Dan kelebihan lain hotel ini, lokasinya yang pas banget berhadapan dengan shopping center Anexo II. Selain sebagai pusat belanja, Anexo II dan sekitarnya sekaligus menjadi tempat turis menikmati berbagai menu makanan di restoran, cafe dan bar yang berbaris di sepanjang kawasan pinggir pantai. Sudah bisa bayanginlah ya.

Ohya, satu lagi, kalau mau massage, pedi manicure hingga belanja, Dunamar juga memiliki fasilitas spa dan butik. Butiknya juga relatif murah dan bagus.

IMG_9382
Tangga disamping hotel menuju pantai
IMG_9390
Hotel dari kawasan Anexo II

Trus kalau mau jalan jalan santai, tinggal beberapa langkah aja dari hotel. Bisa natap natap manjah dari ketinggian melihat pantai dan aktivitas di sekitar pantai juga. Mau sok mesra mesra sambil nunggu sunset juga bolehlah. Jalanannya apik.

Review hotel ini murni pendapat gue, tidak ada kandungan endorse apalagi penyedap rasa di dalamnya. Hahahahaha.

IMG_9421.jpg
View dari koridor kamar hotel
IMG_9360.JPG
View dari balkon kamar
IMG_9402.jpg
Salah satu kolam renang tepat di bawah balkon kamar

Lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah untuk melihat interior hotel dan view dari hotel. 

Salam ajheris.

“Semua foto merupakan dokumen pribadi ajheris.com”

BERMALAM di LÅNGHOLMEN. TIDUR di PENJARA?

Ada yang sudah pernah tidur di penjara ? Atau setidaknya masuk ke dalam penjara deh.

Kalau gue…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

SUDAH PERNAH….!!  

Rasanya? ………………….Excited!!………………. Hahaha.

Kok bisa? bisa dong. Kalian juga bisa kok. Pastinya bisa tidur di penjara bukan karena gue seorang kriminal. Melainkan karena kami (gue dan suami), menginap di sebuah hotel bernama LÅNGHOLMEN.  Tepatnya hotel bekas penjara! Ketika penjara berubah menjadi sebuah hotel, maka inilah yang bisa gue ceritakan.

Sebelum mengalami metamorfosis, Långholmen awalnya merupakan sebuah bangunan penjara tua yang dibangun pada tahun 1880. Karena dianggap sudah tidak layak pakai, akhirnya ditutup pada tahun 1975. Di masa itu, Långholmen menjadi penjara terbesar di Swedia dengan kapasitas ruangan mencapai 500 cells. Berlokasi di sebuah pulau kecil bernama pulau Långholmen,  tak jauh dari kawasan Södermalm, Stockholm, Swedia.

img_6725

Yang membedakan Långholmen dengan hotel lainnya adalah, selain sebagai tempat menginap, hotel ini juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi para tamunya. Bagaimana tidak, sebagian besar interior bangunan dan barang barang yang melengkapi hotel masih berkiblat kepada bangunan dan pernak pernik penjara sebelumnya. Mulai dari pintu dan ruangan lobby hotel, lorong sel hingga ruangan di dalam selnya sendiri. Tidak terlalu banyak dirubah.

Bahkan jeruji besi sepertinya sengaja dibuat di beberapa sudut ruangan untuk memberi kesan agar suasana penjaranya makin kelihatan. Namun meskipun begitu, Långholmen memberi sentuhan lain dengan memberi warna ruangan yang lebih cerah dan fresh. Jadi tidak terlihat suram. Setidaknya itulah yang gue rasakan ketika memasuki Långholmen. Bersih!

Ketika berjalan menuju ruangan sel, kami melewati sebuah lorong panjang dengan barisan pintu pintu sel yang unik. Sungguh sebuah pemandangan yang jauh dari pintu pintu hotel kebanyakan. Tapi jujur, tanpa disadari lumayan terbawa suasana. Karena lorongnya sepi kan. Gue berjalan sambil ngebayangin dulunya para narapidana pun berjalan ke arah sel yang sama seperti yang kami lakukan. Itu rasanya gimana ya. GOKIL! Hahaha.

img_7133
Salah satu gedung Långholmen
img_7131
Pintu hotel yang aslinya sudah kelihatan tua. Namun ketika kaki mulai melangkah masuk, otomatis terbuka. Di situ kadang gue merasa sedikit horor, terutama di saat hari mulai gelap. Hahahaha

Apalagi pas membuka pintu sel, huaaaa serasa masuk sel penjara beneran. Dan begitu masuk, hupppsssss! Beneran seperti ruangan penjara. Sempit! Terdiri dari tempat tidur tingkat, meja kecil dan sebuah kursi. Tapi space untuk berjalan uda ga bebas. Mentok banget. Untuk kamar mandinya bisa dibilang standardlah. Tidak sempit dan tidak luas. Tapi bersih.

img_6713
Ruangan sel lengkap dengan nomornya
img_6712
Lorong sel
img_6711
Yessss….this is our cell. Number 125. Hahaha
img_6708
Ruangan di dalam sel. Sempit tapi rapi dan bersih.

Gue melihat sebuah bingkai menempel di dinding. Bingkai berisi jadwal kegiatan para narapidana. Jadi ceritanya, dulu para narapidana pun memiliki jadwal rutin sehari hari. Mulai dari breakfast, olahraga, bersih bersih lingkungan penjara sampai penyegaran rohani dari pendeta. Selain itu, tempat tidur juga dihias dengan potongan koran yang berisi gambar gambar kegiatan penjara di masa dulu. Pokoknya, kami berdua sempurna menjadi narapidana penjara abad modern malam itu. Jangan lupa, jadwal kami besok paginya adalah SARAPAN! hahahhaha.

img_7128
Toilet dan perlengkapannya
img_6717
Långholmen dari lantai dua
IMG_7212.JPG
Selalu tersedia sofa kursi seperti ini. 

Ruangan sarapan hotel pun lumayan luas. Makanan juga lengkap. Banyak sofa dan kursi. Dan sebelum sampai ke ruangan breakfast, ada dua buah kursi dengan bentuk yang lumayan lucu. Bermotif garis garis hitam, dengan masing masing kursi memiliki wajah. Yang satu wajah pria dan yang satunya lagi wanita. Layaknya narapidana dengan pakaian penjara. Dan tanpa gue sadari, dan benar benar memang tidak gue sengaja, pagi itu gue mengenakan pakaian motif garis garis hitam putih. Kebetulan banget kan. Foto lucu dolo ah! *ehhh…tapi lucu ga sih* 

img_6720
Baju gue samaan ya motifnya. Beneran ga disengaja ini. Haha
img_6722
Kursi yang unik
IMG_7210 (1).JPG
Patung kayu layaknya seperti di ruang tunggu penjara
IMG_7211.JPG
Iseng mencoba borgol besi ini. Ternyata berat banget ya mak!!
img_6723
Souvenir hotel yang bisa dibeli

Seperti yang gue singgung di atas, Långholmen tidak sebatas hotel tempat menginap saja. Ada cerita sejarah yang ditawarkan. Selain sel dan pernak pernik penghias berbau penjara, Långholmen juga memiliki museum berisi barang barang peninggalan penjara sebelumnya yang masih disimpan dan dirawat dengan baik. Mulai dari ruangan sel  yang sengaja dibiarkan seperti aslinya (terlihat tidak fresh dengan lantai kayu yang kusam), beberapa jeruji besi penjara yang sengaja dipindahkan ke museum, peralatan pispot, cuci tangan, tempat tidur dengan kasur yang sudah lecek banget. Berbanding terbalik dengan sel yang kami tempati.

img_6709
Museum di Långholmen
img_6716
Långholmen sebelum dan akan direnovasi
img_7115
Gue….Hahaha
img_7213
sel penjara aslinya seperti ini dulu
img_7116
Kasur penjara yang sudah kumal. Eittssss yang pasti sel yang sekarang ga pakai ini ya. Hahahaha
img_7152
Narapidana lengkap dengan topeng penutup wajah

Selain itu, bingkai bingkai berisi surat dan tulisan tangan juga terlihat memenuhi dinding museum. Mulai dari nama nama narapidana yang pernah menghuni sel penjara,  jenis kejahatan yang mereka lakukan, sampai berapa lama hukuman penjara yang mereka terima. Dari sekian terpidana itu, ada satu yang menarik perhatian gue. Seorang narapidana yang dipenjara seumur hidup. Ketika raja Swedia memberikan Grasi terhadap dirinya, dia malah tidak mau meninggalkan penjara. Alasannya karena Långholmen dianggap sudah seperti rumahnya sendiri. Hebat ya pengaruh penjaranya. Haha.

Sisi lain yang menarik dari Långholmen adalah kawasan taman dan view danau Mälaren di sekitarnya. Ketika summer, banyak banget penghuni hotel yang berjemur di tepi danau ini.

Tak hanya itu, Långhomen menjadi terlihat asri oleh tanaman yang sengaja ditanam warga Stockholm yang hobby bercocok tanam. Mulai dari sayuran, buah dan tanaman bunga. Menjadi unik, karena ditanam bukan di halaman sekitar rumah, melainkan di lahan tanah yang khusus disediakan oleh pemerintah Swedia. Kegiatan seperti ini lumayan banyak disukai warga Stockholm yang sebagian besar bermukim di apartemen. Sekedar refreshinglah. Selain ramah lingkungan, bercocok tanam memang kegiatan yang menyenangkan kan. Konon lahan tanah ini hanya dibayar pemakainya dengan biaya yang relatif murah, bahkan cenderung gratis sangkin murahnya. Dan tentunya menjadi salah satu kegiatan yang terkenal di Stockholm di saat summer. Kawasan seperti ini biasa disebut Kolonilott. Dan untungnya, orang lain bisa menikmati keindahan tanamannya.

IMG_7155.JPG
Kawasan Kolonilott
img_6754
Rumah kecil di kawasan Kolonilott
IMG_7143.JPG
Rumah kecil di kawasan Kolonilott
img_7156
Mawar
img_6752
Bunga di kawasan Kolonilott
img_8259
Buah cherry

Enaknya lagi, Långholmen memiliki area parkir sendiri. Jadi ga perlu ribet mencari parkir yang jauh. Ini salah satu alasan mengapa suami suka banget menginap di sini. Sebenarnya Långholmen terdiri dari hotel dan hostel. Jika kurang cocok dengan sel yang terlalu sempit, sepertinya Långholmen menyediakan sel yang lebih luas.

Tapi buat yang single atau pasangan yang belum memiliki anak, sepertinya sel kecil lebih memiliki sensasi penjara. Kalau sel besar, kok ya rasanya seperti menginap di hotel biasa aja. Menurut gue sih. Dan yang lebih penting bayarannya lebih murah toh. *tetep* 

img_6729
Sekat tembok ini dulunya tempat narapidana melakukan olahraga dan sekarang dipakai sebagai tempat parkir sepeda,  membaca santai sampai bermain anak anak.
img_6726
Cafe
IMG_7141.JPG
Cafe
img_6749
Cafe
img_6750
Menara tempat mengawasi narapidana

img_7134

IMG_7215 (1).JPG
Tembok Långholmen

So…STAY IN A PRISON! 

Tidak ada salahnya mencoba sensasi bermalam di hotel penjara Långholmen. Sesekali menikmati sesuatu yang tidak biasa itu enak kok.

IMG_7144.JPG
Kawasan aliran danau Mälaren di sekitar Långholmen
IMG_7138.JPG
Boat kayu yang menjadi salah satu pemandangan asik di dekat Långholmen
img_7139
Cakep ya
img_7140
Masih dari kawasan yang sama

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

 

 

See you in my next story

SAVOY BOUTIQUE HOTEL di KOTA TUA TALLIN ESTONIA

Hotel Savoy Boutique bisa dibilang lumayan berkesan bagi kami berdua (gue dan suami). Alasannya sih cuma satu. Kami terharu. Tepatnya kami belum terbiasa dengan layanan hotel seperti ini di negara negara Eropa yang pernah kami kunjungi. Terlebih dengan gue sendiri, serasa mendapat pelayanan maksimal layaknya hotel di Indonesia. Tau sendirilah, hotel hotel di sebagian besar negara Eropa, apalagi yang sudah masuk kategori negara maju dan terbilang kaya, jauh jauh deh mendapat pelayanan dengan keramahan maksimal. Sebenarnya bukan mereka tidak ramah, tapi ya gitu deh, ramah versi negara Eropa. Standard.

Dan tentunya tidak ada yang salah dengan yang standard ini. Menjadi salah (buat gue tentunya) ketika gue harus membandingkan harga dan pelayanannya dengan hotel di Indonesia. Wah….ini mah namanya cari berantem dengan pengusaha hotel di Eropa.  Hahahahaha.

Terus terang daftar negara yang kami kunjungi memang belum banyak. Masih di seputaran Skandinavia, Finlandia dan London. Seperti diketahui, negara negara ini memiliki tingkat perkapita yang tinggi dengan biaya hidup yang relatif   mahal. Sehingga jauh rasanya kalau harus menggaji mahal pegawai hotel, hanya untuk sebuah pekerjaan yang tidak terlalu efisien dilakukan. Seperti membuka pintu taxi, mengangkat koper. Heloooo……!!!

img_5251

IMG_5898.JPG

Gue masih ingat banget, ketika kami menginap di hotel Hilton London Tower Bridge, dengan biaya kurang lebih 3000 SEK permalam, luas kamar standard dan harga pun  belum termasuk wifi di dalam kamar, ada biaya ekstra lagi sebesar 250 SEK. Jika tidak,  ya harus rela menikmati wifi massal di lobby hotel. *ngelus dada*

Demikian juga halnya dengan hotel Scandic, Best Western, yang bisa dibilang tidaklah murah, fasilitasnya ya standard aja. Ga ada yang membuat ternganga. Tapi memang nyaman. Bahkan kadang ada hotel yang rasanya tidak terlalu familiar di telinga, pun bisa mematok harga lebih mahal dengan kondisi hotel yang sangat biasa saja.  Langsung menerawang ke hotel Pullman di Bali, harga kamar sekitar 1,5 juta rupiah permalam , fasilitas sudah lengkap dan bagus banget. Kamar super luas. Ahhh pokoknya hotel di Indonesia buat gue sudah paling asik.

Sampai akhirnya kami tiba di hotel Savoy Boutique yang berlokasi di kota tua Tallin. Hotel ini sudah termasuk satu paket dengan transportasi laut  Kapal Tallink yang kami naiki menuju Estonia. Meskipun kami harus mengajukan upgrade hotel, karena merasa kurang cocok dengan penawaran hotel pertama di dalam paket kapal.

img_5237

Begitu sampai di depan gedung hotel,  kami disambut seorang bellboy. Koper kami dibawa menuju resepsionis. Pegawai resepsionis juga sangat ramah. Entah mengapa gue serasa di Indonesia. Enaknya lagi, tidak seperti hotel kebanyakan, yang rata rata hanya memperbolehkan waktu check-in  di atas pukul 12 siang, maka berbeda dengan Savoy Boutique hotel. Kami langsung diperbolehkan check-in meskipun jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dan lebih lagi, si bellboy menawarkan membawa koper ke dalam kamar. Memencet tombol lift dan mempersilahkan kami masuk. Huaaaa terharu. Serasa liburan di Bali….hahahhaha. Ini bukan persoalan kami akan memberi tips atau tidak ya. Dan juga bukan haus layanan berlebihan. Tapi hal kecil seperti ini, memberi kesan pertama yang baik terhadap pelayanan hotel. Siapa juga sih yang ga senang diberi pelayanan terbaik. Secara uda terlalu lama merasakan kefanaan di hotel hotel Skandinavia yang relatif terbilang mahal tapi  irit servis to the max.

img_5217img_5218img_5219

Begitu masuk kamar, langsung disambut dengan interior klasik, mulai dari tempat tidur dan meja kursinya. Dan tidak beberapa lama, suami gue melihat sebuah Welcome Card yang ditujukan kepada kami berdua.  Meskipun gue tau, hanyalah sebuah kartu yang tinggal di print doang, tapi tetap aja setelah membaca kata kata di dalam kartu  membuat hati terharu.  Belum lagi sebotol champagne sebagai Welcome Drink, plus dua gelas cantik yang siap menjamu mulut kami siang itu. SKÅL!!!

img_5236

Bahkan yang nyaris membuat kami tertawa, ketika melihat ada coklat di atas masing masing bantal dengan sampul bertuliskan Tallin. Ya ampun sampe segitunya pake coklat segala. *tapi hati senang*

Kalau toiletnya bagaimana? toiletnya juga gue suka, lumayan luas dan lengkap dengan bathup, plus hiasan bunga dan pernak pernik perlengkapan mandi. Entah mengapa setiap melihat pernak pernik seperti ini gue selalu suka. Ada botol shampo, shower cup, cotton bud, bahkan sampai lotionnya pun ada. Cuma nihil sikat gigi dan odol (Kalau odol dan sikat gigi  sepertinya sudah hak paten hotel di Indonesia ya….yuhui).  Sebenarnya fasilitas seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, akan tetapi menjadi istimewa ketika didapat di hotel Eropa. Meskipun  hotel Savoy Boutique termasuk hotel berbintang lima, akan tetapi jika gue bandingkan dengan harga hotel di negara Skandinavia dan Finland, harusnya perintilan kecil seperti ini bisa dilengkapi kan.  Apalagi harga hotel tidak jauh berbeda. Tapi yang ada sabun dan shampo dijadikan dalam satu botol, shower cup ga ada, sendal kamar juga ga ada. Tapi ya begitulah,  gue tidak bisa menyamakan negara Skandinavia, Finlandia dengan Estonia. Sudah lumayan jauh berbeda.

img_5212img_5213

Yang pasti kami membayar paket kapal Tallink sebesar 2500 Sek untuk berdua, sudah termasuk hotel. Tidak including makan malam di kapal ya. Artinya kalau gue perkirakan harga hotel Scandic yang rata rata di atas 1000 Sek permalamnya, dan masih kategori hotel berbintang 4, apa kabar dengan hotel Savoy yang sudah berbintang 5. Harganya mungkin tidak jauh berbeda. Atau bisa saja sama atau malah lebih murah dari hotel Scandic. Tapi servisnya sudah relatif memuaskan.

img_5248img_5246

Cafe bar dan restoran di hotel Savoy juga tak kalah bagusnya. Untuk restorannya pun layak dijadikan sebagai tempat fine dining. Makanannya enak. Bahkan ketika sarapan pun, meja sudah ditata rapi. Sudah tersedia gelas kopi dan teh, sendok dan garpu, serbet, layaknya seperti sebuah gala dinner. Dan lagi lagi di hotel lain yang pernah kami kunjungi, ga ada penataan seperti ini. Meja ya kosong melompong aja. Kalau mau minum kopi or teh ya tinggal ambil sendiri. Ini ga, teko berisi kopi atau teh dibawain ke meja, dituang ke gelas oleh pegawai hotelnya. Nah, asik toh jadi raja ratu sehari. Ga perlu jauh jauh ke Indonesia. *jogetsenang*

img_5244img_5247

Meskipun menu sarapan hotel Savoy hampir mirip dengan makanan khas Eropa lainnya, yang membedakannya adalah penyajiannya. Ditata sedemikian rumah.  Mulai dari panci makanan yang diberi pita, buah dan dessert yang tidak hanya dipotong potong ala kadarnya, tapi dibentuk sedemikian menarik. Persis kaya hotel di Indonesia gitu deh. Gue kelihatan udik banget ya kesannya. Tapi memang beneran kok. Gue suka aja. Sampai gue mendengar salah satu tamu hotel berkata ” This is fantastis. Nice breakfast. I must try all the food one by one” Hahahaha.

img_5239img_5240

Sebenarnya mungkin ada saja hotel di negara Eropa lain atau bahkan di Skandinavia  yang memiliki layanan hotel layaknya seperti di Indonesia. Cuma harga uda segambreng kali ya mahalnya. Rasanya sebagian besar hotel yang kami gunakan harganya lumayan membuat garuk kepala (di gue maksudnya), tapi fasilitas dan pelayanannya ya standar aja. Lagi lagi standard yang gue bilang di sini bukannya tidak nyaman ya. Nyaman kok. Interiornya juga bagus. Cuma menjadi kalah ketika berhadapan dengan pelayanan hotel seperti di Indonesia *lagi lagi ngotot*

img_5252

Ada sih satu hotel bernama ELITE hotel. Lumayan beda dari hotel yang lain. Ada sendal kamar, pernak pernik toilet, sarapannya juga lumayan apik penataaannya. Tetapi secara keseluruhan Hotel Savoy Boutique Tallin adalah yang paling berkesan. Gue merekomen hotel ini jika berlibur ke Tallin Estonia. Lokasinya juga berada di pusat kota tua Tallin. Dekat kemana mana.

img_5242img_5249

IMG_5899.JPG

Cerita tentang Estonia akan gue tulis di tulisan berikutnya.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

See you in my next story.