AKHIRNYA ke TALLIN, ESTONIA!!!

Sesuai judul di atas, yesss….akhirnya gue dan suami menginjakkan kaki di Estonia. Tepatnya lagi di kota tua Tallin. Kenapa sampai judul tulisan ini sedemikian, karena berhubungan dengan drama horor yang kami alami di pelabuhan Helsinki. Adalah hal wajar, ketika berlibur ke Helsinki, menyempatkan waktu menyeberang ke kota Tallin, Estonia. Hanya butuh dua jam perjalanan dengan kapal laut. Isu yang beredar, selain memiliki kota tua yang cantik, konon katanya harga beli di Tallin juga relatif lebih murah. Jelas isu ini lumayan menggoda. Rasanya sayang aja untuk tidak cuss. Hitung hitung menambah pengalaman  liburan di negara yang berbeda.

Tapi yang namanya manusia, hanya bisa berencana. Kalau memang belum saatnya, ya belum rejeki. Ketika tiba di loket check in kapal, kami harus bisa menerima kenyataan, kalau kami tidak bisa berangkat ke Estonia. Kenapa? PASPOR SUAMI EXPIRED! *petir menggelegar* 

Yang ada waktu itu gue langsung campur aduk perasaannya. Kesel, sedih, badmood, otak juga rasanya blank ga bisa mikir. Banyangin aja, uda gaya cantik, Tallin juga uda di depan mata dalam hitungan jam, buyar seketika. Perihnya lagi, berjalan meninggalkan loket itu loh yang paling ga nahan. Bukannya menuju kapal, tapi balik ke arah parkiran mobil. Hahahahaha. Kebayang kan rasanya. Pokoknya loyo dan memble-sememble-memblenya.

img_5953

Suami gue termasuk telaten perihal dokumen. Entah mengapa bisa kebobolan urusan paspor ini. Inilah namanya lagi apes. Ga bisa dihindari. Sepertinya alasan traveling yang sebagian besar masih di sekitaran negara Skandinavia dan Finlandia, yang notabene keluar masuk negaranya tidak memerlukan paspor, menjadikan suami lupa kalau paspor sudah koit. Kelamaan tidak dipakai. Bablas deh.

Dan seperti biasa, karena badmood to the sky (hahahahha), gue juga masih aja kurang kerjaan nanya ke suami gini “sebelum berangkat ke Finland, emang ga dicek dolo paspornya, kan uda tau mau ke Tallin“. Penting banget ga sih nanya gitu. Namanya aja uda apes kan. Apapun bisa terjadi. *dan sekarang daku menyesal melontarkan pertanyaan itu*

Sampai akhirnya, cerita sedih di atas tergantikan dengan cerita lain. Cerita yang menyenangkan pastinya. Di saat yang tepat, akhirnya kami menginjakkan kaki di kota Tallin, Estonia. AND HERE WE GO………….!!

img_5855

Kami berangkat dari pelabuhan Stockholm dengan menggunakan kapal TALLINK (Romantika). Perjalanan kurang lebih satu malam. Berangkat sore hari dan nyampai sekitar pukul 9 pagi waktu Tallin. Perjalanan yang lumayan mengasikkan dan tidak membosankan. Boleh dibaca linknya 🙂

Setibanya di pelabuhan Tallin, gue melihat tulisan di board “You are in a gateway to your next adventure. Welcome! Sungguh sebuah kalimat simpel yang mampu membangkitkan rasa ingin tau gue terhadap kota ini. Entah mengapa gue sangat spirit.

img_5856

img_5828

Dan tanpa membuang waktu, kami memanggil taxi. Well, kesan pertama yang gue lihat, taxinya tidak sebagus dan sebersih taxi di Stockholm, Kopenhagen dan Helsinki. Tapi setidaknya masih nyaman untuk dinaiki. Perjalanan dari pelabuhan menuju hotel sempat membuat gue berucap: Hah? kotanya cuma begini? cuma gedung gedung biasa dengan arsitek yang kurang menarik. Belum lagi lalu lalang bus dengan bentuk yang masih terbilang sederhana. Sederhana karena gue harus membandingkan dengan bus di negara Skandinavia dan Eropa lainnya yang terbilang besar dan memiliki body lumayan fresh. Perasaan masih lebih besar bus Damri di Jakarta deh. Ini mirip size Kopaja versi yang lebih bersihlah. Namun tidak butuh waktu lama, dan gue pun langsung berubah pikiran setelah memasuki kota tuanya. Terbukti dari beberapa foto yang ada dibawah ini. GOTHIC!

img_6083-1

Perjalanan dari pelabuhan ke SAVOY BOUTIQUE HOTEL tempat kami menginap kurang lebih limabelas menit.  Dan setibanya di depan hotel, pembayaran taxi pun dimulai. Dannnnn Oh my God. Kami cuma dikenakan 6 Euro pemirsah!! Ini setara dengan 60 Sek (Swedish Krona) untuk kurs mata uang saat itu.

Pingsan! Jujur saja gue bilang pingsan. Karena mustahil rasanya bisa naik taxi di Swedia dengan harga segitu. Rata rata dengan jarak yang sama, taxi di Stockholm sudah mengenakan biaya kurang lebih 250 hingga 300 SEK. Bandingkan aja perbedaannya. Wajar saja kalau gue akhirnya menyimpulkan harga taxi di Tallin menjadi murah. Meskipun tidak bisa disamaratakan untuk semua negara. Karena masing masing negara memiliki kemampuan nilai mata uang  yang berbeda beda tentunya.   Dan kegembiraan kami pun semakin bertambah ketika menerima pelayanan dari Savoy Boutique Hotel, yang menyambut kami layaknya seperti tamu hotel di Indonesia. Ulasan lengkap Savoy Boutique Hotel bisa klik link di atas. 

img_5963

img_5974
TOMBSTONES. Pertama melihat dinding batu ini langsung penasaran dengan keunikannya. Ternyata sekitar abad ke 14 sampai 15, lantai sebuah gereja di Tallin bernama St.Catherine Dominican, bisa digunakan sebagai tempat pemakaman. Dan masing masing makam diberi batu nisan  yang besar. Pada abad ke 19, gereja melakukan renovasi dan akhirnya membongkar lantai gereja. Dan batu nisan pun akhirnya diangkat dan di tempel di dinding ini. Kurang lebih gitu deh. Mudah mudahan ga salah menyimpulkan. Tombstone berada di lorong jalan St. Catherine Passage, yang tidak begitu luas tapi panjang. Yang kiri kanannya terdiri dari dinding batu tua. Lagi lagi menjadi terlihat unik dan apik.  Dan akhirnya lorong jalan di sekitar Tombstones menjadi salah satu spot yang menarik. Oke sebagai tempat nongkrong, oke juga buat selfie, narsis, foto foto yang banyak. Teteeepppp.  Lengkapnya bisa dilihat di bawah setelah foto ini.

Berhubung keberadaan kami di Tallin hanya dua hari  satu malam saja, maka tanpa menunggu lama, kami langsung mengitari kota Tallin. Tallin merupakan ibukota Republik Estonia. Catatan sejarah menyebut Estonia adalah bekas jajahan beberapa negara seperti Denmark, Swedia, Jerman, Rusia. Dan terakhir menjadi salah satu negara bagian dari bekas negara adikuasa Uni Soviet. Setelah Uni Soviet runtuh, untuk kesekian kalinya Estonia kembali mengikrarkan kemerdekaannya sebagai negara yang berdiri sendiri pada tanggal 20 Agustus 1991. Pengaruh budaya Rusia masih terlihat jelas di negara ini. Seperti peninggalan kastil kekaisaran Rusia dan gereja ortodoks. Estonia saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan kemajuan perekonomian di segala bidang, khususnya sektor pariwisatanya. Hal ini terlihat jelas dari usaha perbaikan infrastruktur dan tempat tempat wisata di sekitar kota tua Tallin. Dibanding negara pecahan Soviet lainnya, perekonomian Estonia bisa dibilang lebih maju.

Secara geographis, Estonia berada di kawasan Laut Baltik, Eropa Utara. Negara negara yang bisa dikatakan dekat dengan Estonia selain negara Baltik lainnya adalah Finlandia, Swedia dan Rusia. Bertetangga dengan negara negara tersebut lumayan membawa keberuntungan bagi Estonia sendiri. Hampir setiap hari kapal kapal pesiar besar bersandar di pelabuhan kota ini. Karena selain Jerman, sebagian besar turis yang setia mengunjungi Estonia adalah ketiga negara di atas. Terutama warga Helsinki Finlandia,  bisa berkunjung ke Tallin hanya dalam hitungan belasan jam. Berangkat pagi dan pulang sore/malam harinya. Tujuan utamanya hanya satu: berbelanja! Hidup di negara maju yang serba mahal seperti Finlandia, tentu saja menuai semangat warganya untuk menyeberang ke Tallin demi mendapatkan barang belanjaan dengan harga yang lebih murah.

Berbicara wisata di Estonia, dipastikan langsung mengarah ke sebuah kota tua/old town yang indah. Yang karena keindahannya dijadikan sebagai heritage dunia yang dilindungi oleh UNESCO. Kota tua yang sepertinya menjadi andalan pemerintah Estonia untuk menarik turis berdatangan ke negara ini. Rasanya sangat sulit untuk tidak melihat kerumunan turis di setiap sudut kota tua Tallin. Bahkan untuk memperoeh sebuah foto yang bebas dari manusia pun rasanya susah sekali. Setidaknya itu yang gue alami ketika mengunjungi kota Tallin. Kota tua yang gothic dan sangat available dibanding new townnya yang tidak ada apa apanya menurut gue. Kemana pun berjalan, bahkan hanya dalam hitungan jarak yang berdekatan, rasanya ingin kaki berhenti melangkah. Sepertinya kota ini memiliki magnet yang kuat, yang mampu membuat gue langsung jatuh cintahhhhhhh *sampai pake H*. Bahkan bangunan dan tempat yang terkesan kumuh/berdebu sekalipun, terlihat menjadi oke oke saja dan tetap menarik dilihat mata. Seolah olah kota ini ingin memberitahu, kalau di situlah daya tariknya.

img_6053
Salah satu sudut kota Tallin
img_6233
Kota yang cantik
img_6232
Suka
img_5957
Pengen ke Tallin lagi deh

Biasanya di setiap liburan, memasuki museum adalah kegiatan yang sepertinya sayang untuk dilewatkan. Setidaknya buat kami berdua, gue dan suami.  Tapi tidak ketika kami berada di Tallin. Keindahan kota tuanya membuat kami mengurungkan niat memasuki museum museum yang ada. Rasanya seperti wasting time,  mengingat waktu yang kami miliki tidak banyak di kota ini. Hawa gothicnya seperti menghipnotis, yang membuat kami lebih memilih berjalan kaki, sambil menikmati keindahan kotanya saja.

Berada di kota tua Tallin, kudu menikmati keindahan Town Hall Square dan segala macam aktivitas di sekitarnya. Mulai dari tradisional market, makanan dan minuman di cafe/restoran sampai melihat lalu lalang manusia. Surganya kota Tallin menurut gue. Antik banget. Selain gedung Tallin Town Hall yang menjadi maskot Square ini, Town Hall Square juga dikelilingi cafe dan restoran bergaya abad pertengahan. Hampir semua cafe dan  restoran mendirikan tenda cantik di depan gedung restoran. Lengkap dengan bunga, lilin, selimut (suhu di Tallin sudah mulai dingin waktu itu). Dan satu lagi, rata rata pelayan restoran mengenakan pakaian tradisonal Estonia. Serasa berada di jaman Renaissance deh.

img_6046
Gedung Tallin Town Hall di Town Hall Square
IMG_6227.JPG
Town Hall Square
img_5945
Tradisional Market di Town Hall Square

img_6045

img_6080
Payung cantik yang selalu menghiasi depan restoran
img_6074
Suka

Menjelang malam, cafe dan restoran di kota ini pun semakin menggila suasananya. Tak sedikit cafe/restoran yang menggunakan bangunan tua, bahkan terkesan horor. Dinding kusam, hanya dilapisi batu batu tua yang kumuh, tapi ketika dibuat menjadi remang remang oleh cahaya lilin, oalaaaa kok ya jadi suka. Hahahahhaha. Ahhh gue ga pinter ngejelasinnya. Pokoknya gothic abis deh. Rasanya semua tempat bisa menjadi menarik di kota ini.

img_6044

IMG_6281.JPG
Menjelang malam di cafe Olde Hansa

Ada satu restoran yang  sangat menarik perhatian gue. Namanya OLDE HANSA.  Masih berada di sekitar Town Hall Square, restoran yang satu ini lumayan banyak menarik perhatian turis, tak terkecuali kami (terutama gue). Bangunannya besar dan modelnya itu loh, seperti rumah tua di film film. Belum lagi nama restoran ditulis dengan font yang langsung mengingatkan gue dengan buku buku bahela koleksi suami, gerobak tua lengkap dengan wanita berpakaian ala ala little Missy, pelayan restoran yang membuat atraksi teriak teriak layaknya pedagang baju di Petisah atau Mangga Dua “Cari apa kak? belanja? warna apa cari kak?  ijo lumut, ijo muntah kucing?” Hahahahhaha.

img_6088
Olde Hansa

Intinya kurang lebih begitu. Pegawai Olde Hansa sengaja berdiri beramai ramai di depan jalan, dan mengajak orang orang untuk masuk ke restoran dan toko handmade di tempat mereka. Tapi menurut gue, tanpa begitupun, dengan keunikan bangunan dan aksesoris yang menghiasi restoran, sudah lumayan membuat turis tertarik untuk masuk. Termasuk kami. Masuk melihat barang barang handmade yang dijual,  mulai dari pernak pernik yang lucu dan unik sampai berbagai jenis rempah rempah. Dan interiornya itu loh yang sangat membuat gue terpana. Seperti rumah rumah penyihir. Dari toko handmade, bisa conecting ke sebuah ruangan cafe atau restoran kecil yang dalamnya remang banget. Seperti penjara bawah tanah ala kerajaan gitu deh. Magis. Tapi entah mengapa lagi lagi gue terpana aja mak. Gue sukaaaaa! Ada keinginan mencoba makanan khas dari restoran Olde Hansa, tapi keburu sudah memboking tempat untuk makan malam di hotel tempat kami menginap, alhasil kami cuma nongkrong ngopi dan minum di cafe depan restoran. Sambil mendengar permainan musik khas Estonia yang rasanya sedikit asing di telinga gue.

img_6086

Tak hanya itu, sisi lain yang menarik dari wajah kota Tallin adalah patung patung yang menghiasi pintu masuk hampir di semua toko kota ini. Sampai sekarang, gue belum menemukan jawaban, mengapa patung patung ini harus ada.  Bentuknya juga tidak seperti patung kebanyakan. Unik, lucu dan aneh, bahkan sampai yang horor juga ada. Tapi malah bisa dibilang menjadi ciri khas kota Tallin sendiri.

Masih dari sekitar Town Hall Square, sesuai buku panduan turis yang kami dapat, Tallin memiliki Apotek tertua di dunia bernama Raeapteek yang berdiri sejak tahun 1422. Dan sampai sekarang masih aktif menjual obat dan menerima layanan resep dokter. Buset deh umurnya. Gila ya masih bertahan ampe sekarang. Tidak salah ketika apotek ini akhirnya dijadikan sebagai salah satu tempat tujuan wisata di kota Tallin. Selain tetap aktif melayani resep dokter, apotek juga berfungsi sebagai museum kecil yang menyimpan barang barang sehubungan dengan sejarah berdirinya Raeapteek. Mulai dari  peralatan obat seperti botol, timbangan dan alat penghancur obat jaman bahela.

Jika capek berjalan kaki, kereta kuda siap membawa berkeliling kota Tallin. Selain kuda, becak khas Estonia juga tak kalah seru. Lucunya warga Tallin menyebut becak ini sebagai taxi. Cukup membayar 10 Euro, lumayan puas mengelilingi kota Tallin kurang lebih 20 menit. Uda gitu, tanpa diminta pun, si abang becak dengan sukarela berhenti, ketika gue membidik kamera. Bahkan menjadi guide gratis sambil menjelaskan beberapa tempat yang kami lewati. Top dah si abang. Dan pssstttt…..satu lagi! abang becaknya ganteng lohhh. Haha.

Untuk melihat keindahan landscape kota Tallin secara keseluruhan, Toompea Hill rasanya kudu dijalani. Meskipun untuk sampai ke tempat ini lumayan memerlukan energi extra. Jalanannya lumayan menanjak. Namun sembari berjalan, bisa menikmati lukisan lukisan karya pelukis jalanan yang dipajang di Town Wall menuju Toompea Hill.  Tak hanya itu saja, suara alat musik yang dimainkan seniman jalanan, juga siap sesekali menghentikan langkah. Jadi capeknya ga terlalu berasa.

img_5938

Panorama di sekitar Toompea Hill bisa dilihat dari beberapa lokasi (kalau ga salah ada tiga titik lokasi), salah satunya dari kawasan Maiden’s Tower (Neitsitorn) Museum and Cafe. Selain panoramanya, yang menarik perhatian adalah cafe Dannebrog  yang berada di atas wall town. Dari bawah saja sudah terlihat unik. Untuk sampai ke atas cafe sungguh perjuangan banget. Menaiki anak tangga yang lumayan tinggi. Rasanya tidak cukup hanya mengangkat kaki dengan santai. Curam banget. Awalnya sempat nyerah ga mau naik. Takut jatuh. Begitu nyampe di atas, baru deh lope lope keluar dari bola mata. Melihat interior cafe yang sempit memanjang, dengan meja meja kecil plus bunga gantung di sepanjang lorong. Entah mengapa gue suka banget interior unik kaya gini. Walaupun cafe terkesan suram dan tidak fresh,  dan di beberapa bagiannya seperti tidak dirawat dan agak berantakan, tapi tetap tidak menghilangkan pesona cafe yang unik dan terkenal di kawasan Toompea Hill ini.

img_5887
Ada beberapa patung seperti ini yang menghiasi kawasan Maiden’s Tower (neitsitorn) Toompea Hill. Ga sempat cari tau patung apa namanya dan kenapa harus begitu bentuknya. Gue menyebutnya patung “Si Gregorian” aja. Haha.  
img_5879
Cafe Dannebrog
img_5880
Cafe Dannebrog
IMG_5885.JPG
Dinding dan lantainya hanya terbuat dari batu dan kayu tua yang kumuh. Tapi malah enak dilihat ya. 

Masih dari kawasan Toompea Hill, kami  juga masuk melihat keindahan gereja Alexander Nevsky Cathedral. Gereja ortodoks yang memiliki kubah khas Rusia. Seperti topi Aladin. Dalammya? ga usah di tanya deh. Bagus banget. Tipikal gereja ortodoks yang dinding gereja dipenuhi lukisan art dan altar berwarna kuning emas lengkap dengan gambar gambar Jesus. Satu lagi, nyaris tidak banyak kursi. Karena ibadah mereka kebanyakan berdiri. Gue tidak mempunyai dokumentasi foto di dalam gereja. Karena tidak diperbolehkan menggunakan camera.

img_6295

Mungkin Toompea Hill adalah tempat yang paling hits untuk melihat keindahan landscape kota Tallin. Tapi sebenarnya selain kawasan bukit ini, keindahan kota Tallin bisa juga dilihat dari menara gereja Dom Church/St. Mary’s Church. Awalnya kami tidak tau, kalau menara gereja bisa digunakan sebagai sarana untuk menikmati keindahan kota Tallin. Baru nyadar setelah melihat ada penampakan tubuh manusia yang sekilas seperti membidik kamera. Pas kami masuk ke dalam, ternyata benar, dengan membayar 10 Euro, pengunjung bisa naik ke menara gereja.

img_5936
View dari Toompea Hill
img_5937
View dari Toompea Hill

Dan ohh my God, itu tangganya cadas banget deh. Meliuk seperti spiral tanpa memberi jedah untuk berhenti. Belum lagi lorong tangga lumayan gelap, sempit, kusam, panas dan pegangannya cuma seutas tali tebal yang jika dipegang bergoyang goyang. Dan yang parahnya, masing masing anak tangga lumayan tinggi. Jadi berasa banget capeknya. Tapi begitu sampai di atas langsung ……puassss!

img_6350

Dan tidak cukup sampai di sini, ternyata masih ada menara gereja yang jauh lebih tinggi dari Dom Church/St.Marry’s Church. Apalagi kalau bukan Oleviste Church/St.Olaf’s Church, yang dikenal sebagai salah satu maskot kota Tallin karena ketinggian towernya yang bisa terlihat dari mana mana. Dan lagi lagi, seperti tidak kapok dengan kelelahan kami berdua menaiki menara Dom Church/St.Mary’s Chruch sebelumnya, kami penasaran dengan ketinggian gereja St.Olaf, yang konon di jamannya di klaim sebagai bagunan tertinggi di dunia. Biaya yang dikenakan lumayan lebih murah. Sekitar 5 Euro saja. Mungkin karena peminatnya tidak terlalu banyak. Mengingat untuk mencapai puncak menara gereja sungguhlah sebuah perjuangan. Bayangkan, menaiki tangga gereja St.Mary aja udah membuat gue capek luar biasa, apalagi dengan ketinggian mencapai 124 meter.

Sebenarnya dari awal gue sudah mulai ragu, takut ga kuat. Tapi entah mengapa lagi lagi gue penasaran. Di kepala gue cuma ada satu : keindahan maksimal kota Tallin. Karena jika semakin tinggi pasti viewnya semakin oke kan. Dan keraguan gue pun benar adanya. Gue berujung pada dehidrasi yang sampai mengharuskan gue melepas cardigan. Panas dan haus banget. Rasanya anak tangga tidak putus putus untuk dinaiki. Dan rasanya lagi, penat luar biasa seolah sesak napas diantara sempit dan remangnya lorong tangga. Sambil sesekali menarik napas panjang dan tetap semangat, akhirnya kami tiba juga di puncak menara. Gue memutuskan untuk duduk sebentar. Dan tanpa malu malu, bertanya ke penjaga loket di menara. Minta air minum. Jika tidak gue bisa pingsan. Untungnya stok air minum si penjaga loket ada. Meskipun di awal si pegawai menolak, tapi kami tetap memkasa  memaksa untuk membayar minuman botol itu.

img_5897
Dom Church

Jika di St.Mary’s Church kami bisa melihat landscape dari dalam ruangan yang luas (berasa lebih amanlah), berbeda dengan St. Olaf’s Church. Berdiri pas di bibir menara yang hanya dibatasi pagar besi, yang jika ketemu orang lain harus memiringkan badan terlebih dulu dan salah satunya harus berhenti melangkah agar yang lain bisa berjalan. Kebayangkan kan di ketinggian seperti itu. Belum lagi tempat kaki berpijak hanya terbuat dari papan kayu yang bisa dibilang tidak fresh lagi. Tapi pada akhirnya aman aman aja sih, ga terjadi apa apa. Hahaha 

img_6351
Beberapa view dari menara gereja

Untuk hal ini suami gue memang sedikit geleng kepala. Artinya, ketika sebuah tempat dijadikan sebagai kunjungan turis, seharusnya pemerintah setempat siap dengan layanan fasilitas untuk meminimalisasi resiko kecelakaan. Apalagi tempatnya menara tinggi seperti ini kan. Jika harus membandingkan dengan tempat wisata yang pernah kami kunjungi sebelumnya, sekalipun sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun, tapi maintenance dan keamanannya sangat diperhatikan. Namun lagi lagi gue harus bisa memaklumi, mengingat sejarah Estonia yang belum lama merdeka, dan bayang bayang rejim komunis Rusia di jamannya yang banyak melakukan pengrusakan terhadap gereja gereja di negara ini.

img_6206

Dan inti dari semuanya, dari menara St.Olaf inilah, gue bisa melihat dan menikmati keindahan kota Tallin yang sempurna. Segala cerita resiko dan ketidak nyamanan dari menara ini, hilang seketika dibayar warna warni bangunan kota Tallin.

Hari terakhir di kota tua Tallin kami isi dengan kunjungan ke Kadriorg Palace. Kastil peninggalan kaisar Rusia yang akhirnya dijadikan museum art oleh pemerintah Estonia. Jadi isi kastil ini tidak banyak, hanya beberapa lukisan seni, guci keramik, dan tungku perapian dengan bentuk yang berbeda. Tapi keindahan warna dan arsitek kastil tetap memiliki daya tarik tersendiri. Sisi lain dari keindahan kastil adalah taman bunga di sekitar halamannya yang tertata apik. Sungguh menyejukkan mata melihatnya.

img_6226

img_6280

img_6216

Tidak jauh dari Kadriorg Palace, kami pun mengunjungi istana presiden Estonia. Bukan gedung istananya yang menarik perhatian gue, melainkan taman hijau layaknya sebuah hutan yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju istana. Cakep buat photography. Kalau gedung istana presidennya sih biasa aja menurut gue. Ga ngerti juga apanya yang harus dilihat. Cuma ada aja sih beberapa turis yang fotoan dengan pebgawal pengawal  istananya. Hihihihi.

img_6222
Suka dengan pohon pohon di sekitar jalanan menuju istana presiden Estonia
img_6219
Istana presiden Estonia 
img_6221
Taman hijau yang asri dan segar

Untuk urusan belanja, Tallin terkenal dengan pakaian berbahan linen dan wool. Banyak banget toko toko yang memang khusus menjual pakaian dari kedua bahan di atas. Harganya juga relatif lebih murah. Ini gue akui. Ketika di Mora (kota tak jauh dari desa gue tinggal), satu gaun berbahan linen dihargai sekitar 1500 Sek lebih, di Tallin cuma 70 Euro. Demikian juga dengan jaket berbahan wool, bisa dihargai 98 Euro sementara di Mora uda 3000 Sek, bahkan bisa lebih. Huaaaa mupeng banget deh. Tapi saran gue hati hati juga, tetap jeli melihat toko yang benar benar menjual bahan dengan kualitas bagus. Gue merekomen toko bernama Ancora. Selain dirancang sendiri oleh pemilik, bahan dan kualitasnya juga bagus.

img_5948
Banyak sekali baju hangat  dengan model seperti ini di tradisional market dan toko toko di Tallin. Kelihatan negara yang ekstra dingin di saat winter.
img_5947
Topi khas negara Baltik dan Rusia banget ya. Haha
img_6369
Salah satu jaket berbahan wool dari Tallin. Perpaduan merah dan hitamnya gue suka banget. Dan harganya pun membuat sumringah. Lumayan murah jika harus gue bandingkan dengan harga di kota Mora, Swedia. 

Untuk harga makanan, baru deh, menurut gue ga bisa dibilang murah. Khususnya di sekitar Hall Town Squarenya ya. Rata rata bisa kena sekitar 36 sampai 50 euro untuk berdua. Tapi ini pun tergantung jenis makanan yang dipesan.

img_5351
Tiba tiba pengen makan Steak.  
img_5946
Kaget pas menu di piring ini diantar ke meja. Banyak banget. Tapi memang di buku menu disebut porsi untuk berdua.

Namun perbandingan harga yang gue simpulkan di atas, berkiblat ke harga kebutuhan di Swedia yang memang bisa dibilang serba mahal. Jadi secara keseluruhan, menurut gue, liburan di Estonia tetap jatuhnya lebih murah dibanding Swedia atau Skandinavia sekitarnya. Mengingat harga kebutuhan yang berbeda di setiap negara, jadi ga bisa disimpulkan secara general.

Berjalan jalan di kota tua Tallin, harus siap dengan jalanan yang menanjak dan tangga tangga bangunan yang lumayan curam (setidaknya buat gue itu curam, karena anak tangganya tinggi tinggi banget), dan siap dengan sebagian besar warganya yang kurang paham berbahasa Inggris. Jadi pakai bahasa tubuh deh kalau bicara. Apalagi ya….ohya bagi pencinta koleksi mini mug Starbucks, Tallin ga bisa memenuhi koleksi kamu. Kaga ada soalnya. Adanya cuma Starbucks versi Tallin, namanya Caffeine. Yang suka koleksi Tshirt dan pernak pernik Hard Rock Cafe, sama juga. Sepertinya ga ada di Tallin. Atau sudah ga ada yang doyan dengan hobby klasik ini? Kalau gue namanya angkatan sepuh ya. Jadi hobbynya masih kolot. Hahhahaha.

img_5944

Well, akhirnya selesai juga tulisan jalan jalan ke Tallin. Bagi penyuka liburan dengan nuansa Old Town, sepertinya mengunjungi kota Tallin adalah pilihan yang tepat. Gue sangat merekomen kota ini sebagai tempat berlibur. Khususnya bagi kamu yang memang sudah stay di Eropa, apalagi di Swedia. Langsung cusss aja kakakkkkk! Kotanya Keren!!

Terlalu sayang diabaikan!

img_6071
Ruangan di dalam gereja Holy Spirit. Salah satu gereja tua di Tallin
img_6073
Masih dari gereja Holy Spirit
img_6072
Tiang kayu kursi di dalam gereja Holy Spirit yang penuh dengan barisan gambar yang masing masing memiliki arti yang berbeda. Fungsi gambar lukisan adalah sebagai media bagi jemaat gereja yang tidak bisa membaca. Jadi  pengajaran isi Alkitab melalui gambar di dalam lukisan. Hebat ya.
img_5857
Gereja St. Nicholas’Church

img_5943

img_5959
Padahal uda pengen banget dapatin foto bagus di Tower Wall Town ini. Cuma banyak banget renovasi dimana mana. 

 

img_6057
Town Wall Tallin yang hampir mengelilingi kota tuanya. Di beberapa lokasi Town Wall digunakan sebagai tempat berjualan para pedagang tradisional. 

 

img_6056
Sepetik ya cuyyy
img_6051
Terakhir kok …suerrrr. Hahaha. Ini adalah salah satu bagian dari sudut kota tua Tallin yang paling gue suka. Gedung merapat di belakang gue itu loh. Cakep

 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

 

See you in my next story.

SAVOY BOUTIQUE HOTEL di KOTA TUA TALLIN ESTONIA

Hotel Savoy Boutique bisa dibilang lumayan berkesan bagi kami berdua (gue dan suami). Alasannya sih cuma satu. Kami terharu. Tepatnya kami belum terbiasa dengan layanan hotel seperti ini di negara negara Eropa yang pernah kami kunjungi. Terlebih dengan gue sendiri, serasa mendapat pelayanan maksimal layaknya hotel di Indonesia. Tau sendirilah, hotel hotel di sebagian besar negara Eropa, apalagi yang sudah masuk kategori negara maju dan terbilang kaya, jauh jauh deh mendapat pelayanan dengan keramahan maksimal. Sebenarnya bukan mereka tidak ramah, tapi ya gitu deh, ramah versi negara Eropa. Standard.

Dan tentunya tidak ada yang salah dengan yang standard ini. Menjadi salah (buat gue tentunya) ketika gue harus membandingkan harga dan pelayanannya dengan hotel di Indonesia. Wah….ini mah namanya cari berantem dengan pengusaha hotel di Eropa.  Hahahahaha.

Terus terang daftar negara yang kami kunjungi memang belum banyak. Masih di seputaran Skandinavia, Finlandia dan London. Seperti diketahui, negara negara ini memiliki tingkat perkapita yang tinggi dengan biaya hidup yang relatif   mahal. Sehingga jauh rasanya kalau harus menggaji mahal pegawai hotel, hanya untuk sebuah pekerjaan yang tidak terlalu efisien dilakukan. Seperti membuka pintu taxi, mengangkat koper. Heloooo……!!!

img_5251

IMG_5898.JPG

Gue masih ingat banget, ketika kami menginap di hotel Hilton London Tower Bridge, dengan biaya kurang lebih 3000 SEK permalam, luas kamar standard dan harga pun  belum termasuk wifi di dalam kamar, ada biaya ekstra lagi sebesar 250 SEK. Jika tidak,  ya harus rela menikmati wifi massal di lobby hotel. *ngelus dada*

Demikian juga halnya dengan hotel Scandic, Best Western, yang bisa dibilang tidaklah murah, fasilitasnya ya standard aja. Ga ada yang membuat ternganga. Tapi memang nyaman. Bahkan kadang ada hotel yang rasanya tidak terlalu familiar di telinga, pun bisa mematok harga lebih mahal dengan kondisi hotel yang sangat biasa saja.  Langsung menerawang ke hotel Pullman di Bali, harga kamar sekitar 1,5 juta rupiah permalam , fasilitas sudah lengkap dan bagus banget. Kamar super luas. Ahhh pokoknya hotel di Indonesia buat gue sudah paling asik.

Sampai akhirnya kami tiba di hotel Savoy Boutique yang berlokasi di kota tua Tallin. Hotel ini sudah termasuk satu paket dengan transportasi laut  Kapal Tallink yang kami naiki menuju Estonia. Meskipun kami harus mengajukan upgrade hotel, karena merasa kurang cocok dengan penawaran hotel pertama di dalam paket kapal.

img_5237

Begitu sampai di depan gedung hotel,  kami disambut seorang bellboy. Koper kami dibawa menuju resepsionis. Pegawai resepsionis juga sangat ramah. Entah mengapa gue serasa di Indonesia. Enaknya lagi, tidak seperti hotel kebanyakan, yang rata rata hanya memperbolehkan waktu check-in  di atas pukul 12 siang, maka berbeda dengan Savoy Boutique hotel. Kami langsung diperbolehkan check-in meskipun jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dan lebih lagi, si bellboy menawarkan membawa koper ke dalam kamar. Memencet tombol lift dan mempersilahkan kami masuk. Huaaaa terharu. Serasa liburan di Bali….hahahhaha. Ini bukan persoalan kami akan memberi tips atau tidak ya. Dan juga bukan haus layanan berlebihan. Tapi hal kecil seperti ini, memberi kesan pertama yang baik terhadap pelayanan hotel. Siapa juga sih yang ga senang diberi pelayanan terbaik. Secara uda terlalu lama merasakan kefanaan di hotel hotel Skandinavia yang relatif terbilang mahal tapi  irit servis to the max.

img_5217img_5218img_5219

Begitu masuk kamar, langsung disambut dengan interior klasik, mulai dari tempat tidur dan meja kursinya. Dan tidak beberapa lama, suami gue melihat sebuah Welcome Card yang ditujukan kepada kami berdua.  Meskipun gue tau, hanyalah sebuah kartu yang tinggal di print doang, tapi tetap aja setelah membaca kata kata di dalam kartu  membuat hati terharu.  Belum lagi sebotol champagne sebagai Welcome Drink, plus dua gelas cantik yang siap menjamu mulut kami siang itu. SKÅL!!!

img_5236

Bahkan yang nyaris membuat kami tertawa, ketika melihat ada coklat di atas masing masing bantal dengan sampul bertuliskan Tallin. Ya ampun sampe segitunya pake coklat segala. *tapi hati senang*

Kalau toiletnya bagaimana? toiletnya juga gue suka, lumayan luas dan lengkap dengan bathup, plus hiasan bunga dan pernak pernik perlengkapan mandi. Entah mengapa setiap melihat pernak pernik seperti ini gue selalu suka. Ada botol shampo, shower cup, cotton bud, bahkan sampai lotionnya pun ada. Cuma nihil sikat gigi dan odol (Kalau odol dan sikat gigi  sepertinya sudah hak paten hotel di Indonesia ya….yuhui).  Sebenarnya fasilitas seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, akan tetapi menjadi istimewa ketika didapat di hotel Eropa. Meskipun  hotel Savoy Boutique termasuk hotel berbintang lima, akan tetapi jika gue bandingkan dengan harga hotel di negara Skandinavia dan Finland, harusnya perintilan kecil seperti ini bisa dilengkapi kan.  Apalagi harga hotel tidak jauh berbeda. Tapi yang ada sabun dan shampo dijadikan dalam satu botol, shower cup ga ada, sendal kamar juga ga ada. Tapi ya begitulah,  gue tidak bisa menyamakan negara Skandinavia, Finlandia dengan Estonia. Sudah lumayan jauh berbeda.

img_5212img_5213

Yang pasti kami membayar paket kapal Tallink sebesar 2500 Sek untuk berdua, sudah termasuk hotel. Tidak including makan malam di kapal ya. Artinya kalau gue perkirakan harga hotel Scandic yang rata rata di atas 1000 Sek permalamnya, dan masih kategori hotel berbintang 4, apa kabar dengan hotel Savoy yang sudah berbintang 5. Harganya mungkin tidak jauh berbeda. Atau bisa saja sama atau malah lebih murah dari hotel Scandic. Tapi servisnya sudah relatif memuaskan.

img_5248img_5246

Cafe bar dan restoran di hotel Savoy juga tak kalah bagusnya. Untuk restorannya pun layak dijadikan sebagai tempat fine dining. Makanannya enak. Bahkan ketika sarapan pun, meja sudah ditata rapi. Sudah tersedia gelas kopi dan teh, sendok dan garpu, serbet, layaknya seperti sebuah gala dinner. Dan lagi lagi di hotel lain yang pernah kami kunjungi, ga ada penataan seperti ini. Meja ya kosong melompong aja. Kalau mau minum kopi or teh ya tinggal ambil sendiri. Ini ga, teko berisi kopi atau teh dibawain ke meja, dituang ke gelas oleh pegawai hotelnya. Nah, asik toh jadi raja ratu sehari. Ga perlu jauh jauh ke Indonesia. *jogetsenang*

img_5244img_5247

Meskipun menu sarapan hotel Savoy hampir mirip dengan makanan khas Eropa lainnya, yang membedakannya adalah penyajiannya. Ditata sedemikian rumah.  Mulai dari panci makanan yang diberi pita, buah dan dessert yang tidak hanya dipotong potong ala kadarnya, tapi dibentuk sedemikian menarik. Persis kaya hotel di Indonesia gitu deh. Gue kelihatan udik banget ya kesannya. Tapi memang beneran kok. Gue suka aja. Sampai gue mendengar salah satu tamu hotel berkata ” This is fantastis. Nice breakfast. I must try all the food one by one” Hahahaha.

img_5239img_5240

Sebenarnya mungkin ada saja hotel di negara Eropa lain atau bahkan di Skandinavia  yang memiliki layanan hotel layaknya seperti di Indonesia. Cuma harga uda segambreng kali ya mahalnya. Rasanya sebagian besar hotel yang kami gunakan harganya lumayan membuat garuk kepala (di gue maksudnya), tapi fasilitas dan pelayanannya ya standar aja. Lagi lagi standard yang gue bilang di sini bukannya tidak nyaman ya. Nyaman kok. Interiornya juga bagus. Cuma menjadi kalah ketika berhadapan dengan pelayanan hotel seperti di Indonesia *lagi lagi ngotot*

img_5252

Ada sih satu hotel bernama ELITE hotel. Lumayan beda dari hotel yang lain. Ada sendal kamar, pernak pernik toilet, sarapannya juga lumayan apik penataaannya. Tetapi secara keseluruhan Hotel Savoy Boutique Tallin adalah yang paling berkesan. Gue merekomen hotel ini jika berlibur ke Tallin Estonia. Lokasinya juga berada di pusat kota tua Tallin. Dekat kemana mana.

img_5242img_5249

IMG_5899.JPG

Cerita tentang Estonia akan gue tulis di tulisan berikutnya.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

See you in my next story.