Drama Belanja Online

Online shop mamaaaahhhhh! ouyeeeeeee! 

Sistem belanja yang sangat digandrungi. Mendunialah. Bahkan teror iklannya tak lelah lelah bermunculan di timeline media sosial. Harga yang konon lebih murah, praktis, waktu yang efisien, model barang komplit, modal keahlian ngutak ngatik handphone laptop udah deh…….tarik mang! Gampang kan. Tidak perlu keluar rumah atau macet macetan barangkali? Inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa online shop mendapat tempat di sini *menunjuk dompet dan kartu*. 

Jadi begini….

Saya dan suami bisa dibilang generasi kolot yang tidak terlalu menggemari dunia online shop. Artinya bukan menjadi kebiasaan kami belanja di online shop dengan kuantitas yang terbilang sering. Tapi jika dibilang pernah……iya!

Tentu kami punya alasan, terkhusus saya pribadi (suami bukan type yang suka belanja) untuk lebih memilih berbelanja dengan sistem konvensional dibanding belanja online.

Sebenarnya belanja online maupun konvensional sama sama punya keasikan tersendiri bagi orang yang menyukai. Tinggal pilih aja. Warga bumi semakin berubah wajar. Teknologi semakin maju dan sistemnya makin canggih. Kalau ada yang praktis ngapai pilih yang ribet? Bukan begitu? Apalagi dengan belanja online efisiensi waktu lumayan berasa bagi sebagian besar orang yang cocok dengan sistemnya. Koleksi barang barang di online shop pun tak kalah menggoda selera. Harus diakui itu.

Tapi buat saya yang namanya berbelanja bukan sekedar membeli. Ibarat ke warung beli gula telor lalu cussssss langsung pulang, bukan begitu. Belanja itu sekalian terapi. Terapi dengan barang barang yang ada di depan mata secara real. Apalagi kalau barang yang dibeli terbilang tidak murah, buat saya sangatlah tidak puas hanya dengan melihat gambar. Barang harus bisa disentuh dulu, dipegang pegang, dielus elus, dicium jika perlu, dicoba warna ini itu, bongkar lagi coba lagi, cocok bayar, bawa pulang tanpa harus menunggu berhari berminggu bahkan berbulan. Di situ nikmatnya. Buat saya loh.

Apalagi pengalaman saya, barang yang saya beli secara online semuanya harus saya ambil ke kota. Tidak diantar ke rumah. Mengapa? karena kejauhan rumah saya. Jadi sama saja. Mending beli di toko atau storenya langsung. Semisal kurang cocok? ya tinggal tukar lagi tanpa harus mengirim kembali (yang mengirim kembali ini saya paling malas). 

Kalau beli di toko dan ada masalah, kesempatan berbicara dan bertatap muka langsung dengan petugas lebih terbuka dan lebih puas. Setidaknya sudah tau tempat yang akan didatangi. Ga perlu jauh jauhlah. Apalagi kalau pakai berantem dengan petugas tokonya kan lebih enak tatap muka langsung. *saya beri kesempatan untuk menertawakan gaya belanja saya yang klasik*. Haha.

Trus masalah pembayaran menggunakan kartu membuat saya semakin phobia karena semakin tingginya tingkat kriminalisasi di dunia cyber. Meski banyak website online shop yang bisa dipercaya tetap aja parno. Berbagai alasan di ataslah yang membuat saya tetap lebih tertarik berbelanja ke toko/store. Belanja langsung ke toko atau store juga pakai kartu sih. Tapi entah mengapa merasa lebih nyaman aja dibanding menulis nomor kartu di onlineshop.

IMG_7490.jpeg

Belum lagi tak sedikit pemilik toko kecil di kota terdekat saya tinggal mulai mengeluh. Income mereka berkurang. Bahkan sampai gulung tikar. Mereka harus putar otak agar tetap bertahan diantara maraknya online shop. Kasihan juga.

Saya pernah belanja online kurang lebih 6 kali. Beberapa diantaranya membuat saya kecewa. Pernah beli tshirt online shop asal USA. Tertarik membeli karena tulisan di tshirt lucu lucu. Sialnya saya salah ngeklik di kolom warna. Pas saya info ke mereka, saya cuma mendapat jawaban “sorry” karena warna tshirt tidak bisa diganti.

Uda gitu nyampenya relatif lama hampir satu bulan. Begitu nyampe ternyata tidak sebagus dan semenarik seperti yang saya lihat di website. Kadang kenyatan seperti ini yang suka bikin kecewa. Penampakan di website tak sesuai dengan harapan.

Lebih riweh lagi, pernah kejadian dimana kartu debit saya ditolak dan saya diharuskan membayar menggunakan kartu kredit. Berawal dari sebuah keinginan untuk membeli sebuah mixer roti. Intinya saya ingin mengganti mixer lama peninggalan mendiang mertua yang sudah rusak akibat ulah saya sendiri. Singkat cerita saya memilih mixer Kitchen Aid (bukan iklan dan selanjutnya saya tulis KA) sebagai pengganti mesin yang sudah rusak.

Dan setelah searching sana sini sepertinya saat itu seri lengkap si KA ini cuma ada di website A. Baca baca reviewnya tidak sedikit yang memberi pendapat jika produk KA untuk seri tertentu lumayan gampang panas jika mengadon roti dalam takaran besar. Suara juga lumayan ngiunggggg dan agak berisik.

IMG_7445.jpg
Sedikit review : KA seri professional ini sudah saya pakai hampir satu tahun. Saya puas. Suaranya tidak berisik. Ngadon roti tidak panas. Adonan relatif cepat kalis elastis. Maksimal daya tampung lupa (malas buka bukunya haha). Kurang lebih 6 liter barangkali. Untuk pengocokan telur juga sangat bagus hasilnya.  

Sampai akhirnya saya memantapkan jiwa memutuskan membeli seri lain yang cocok dengan keinginan saya. Saya sempat bertanya dengan salah seorang teman yang lumayan paham tentang KA. Beliau merekomen seri yang saya pilih ini. Yaaaa meskipun jiwa raga hampir terhempas terantuk dengan harganya. Untung ga sampai jual organ. Hahaha!

Alih alih ingin membeli KA malah jadi drama. Orderan saya ditolak di website A karena melakukan pembayaran dengan kartu debit. Awalnya saya berpikir apa mungkin mereka mengira kalau saya adalah scammer? karena traksaksi yang saya lakukan di website A adalah perdana. Dan jumlahnya relatif besar (setidaknya bagi saya jumlah itu lumayan besarlah mak hanya untuk sebuah mesin mixer roti).

Kemudian saya diminta agar mengganti menggunakan kartu kredit. Tapi yang ada saya malah parno duluan. Diminta macem macem malah bikin saya bingung. Berhubung saya tidak mau menggunakan kartu kredit yang saya punya, akhirnya mereka meminta agar saya ngefax kartu debit dan alamat rumah. Saya makin tidak mau dong. Saya lupa kejadian pastinya, akun saya akhirnya diblokir dan tidak bisa bertransaksi lagi.

IMG_7428.jpeg
Review : Material stainless pada egg wishk, hook dan beater.
IMG_7427.jpeg
Review: Dough Hook mixer terbuat dari stainless dan lumayan berat

Akhirnya saya datang ke bank dan menjelaskan perihal ditolaknya kartu debit saya dan permintaan pihak penjual agar saya mengirim copy kartu dan alamat rumah. Oleh pihak bank malah tidak dianjurkan membagi copy data apapun terkait kartu yang mereka keluarkan apalagi ke online shop.

Pihak bank kemudian mengecek perihal ditolaknya transaksi kartu debet saya. Dan ternyata setelah dicek ulalalalalaaaaaaaaaaa……….nomor handphone saya belum terdata di bank!

Kemungkinan besar inilah penyebab transaksi saya ditolak karena tanpa kode transaki melalui sms, transaksi saya tidak bisa dilanjutkan. Kasarnya harus melalui otorisasi bank. Dan ini pula yang membuat pihak website A memblokir akun saya. Dikhawatirkan jika kartu saya berada di tangan orang yang salah.

Berhubung website A tergolong onlineshop raksasa yang sudah menyebar dimana mana, sebenarnya saya setuju dengan kehati-hatian mereka agar kartu saya aman dari tangan tangan yang tidak bertanggung jawab. Tapi saya juga ga bisa memastikan apakah yang meminta copian kartu debet saya itu orang yang berkompeten. Apalagi bank juga melarang. Serba salah kan. Huh..belanja aja ribet. Haha.

Trus bagaimana solusinya? Cari akal dong shayyyy!

Berhubung uda jatuh cinta dengan si KA merah ini, akhirnya saya meminta tolong teman agar mengorder barang yang saya mau melalui akunnya. Uangnya saya transfer lebih dulu tentunya ke beliau.

Jujur awalnya suami saya agak kaget kok saya berani transfer uang ke seseorang yang sama sekali belum pernah ketemu langsung dengan saya. Tapi saya meyakinkan suami kalau teman saya bisa dipercaya. Seratus persen saya percaya. Meski belum pernah ketemu dan kenal hanya melalui salah satu group di whatsapp, tapi naluri saya sangat percaya dengan beliau. Saya tidak perlu jelasin panjang lebar. Dan ternyata saya benar, melalui bantuannyalah akhirnya si mesin merah sudah bertengger manis di dapur saya. Makasih ya mak! Kalaupun pak suami sedikit cemas di awal awal harap maklum.

Point dari cerita di atas adalah betapa saya merasa belanja online saat itu sangat ribet. Kasarnya ada duit tapi kok susah banget dapatin barang. Kepala saya malah stress mikiri kenapa harus kartu kredit yang mereka minta. Sebenarnya saya bisa saja membayar pakai kartu kredit, tapi karena waktu itu saya merasa sudah cemas duluan karena tidak terbiasa belanja online jadinya banyak pertanyaan aneh muncul di kepala. Langsung auto mindset. Ini web yang saya masuki bener ga sih? jangan jangan kriminal. Uda parno duluan. Padahal kalau dipikir pikir penggunaan kartu debet memang justru lebih high risk kan. Kalau bukan karena butuh tidak bakal saya order deh. Seandainya ada dijual di kota tempat saya tinggal bakal saya beli di toko aja.

IMG_7441.jpeg
Review : Food Processor masih dari KA yang saya pesan melalui salah satu onlineshop di Swedia. Ini tidak pakai drama tapi lama banget nyampe. Sangat oke untuk menghaluskan daging. Terutama bikin bakso. Ini penting mak! Hahaha

Begitulah, semua barang yang saya beli secara online dipastikan karena tidak bisa saya temukan di toko konvensional di kota terdekat tempat saya tinggal. Jangan jangan ke depannya semakin berkurang toko toko di kota saya. Apalagi salah satu store besarnya sudah tutup. Mau tidak mau harus ke ibukota propinsi.

IMG_7437.jpeg
Review : Body dan warnanya kece. Saya makin suka karena ada tombol pulsenya. Jadi proses menghaluskan daging lebih rata. Terus mampu menampung hingga 3,1 liter dan terdiri dari dua wadah berukuran besar dan sedang. 
IMG_7434 (1).jpeg
Review : Printilan FP KA ini disimpan dalam satu kotak yang menurut saya kualitasnya tidak asal jadi. Rapi, kuat dan designnya bagus. Buka tutupnya tidak susah.
IMG_7432.jpeg
Review : Printilannya juga kuat dan gede. Pisaunya bisa untuk takaran besar dan ada juga untuk takaran medium. Ada pisau untuk adonan roti. Jadi bisa bikin adonan roti juga untuk takaran standart. Tapi saya hanya fokus untuk menghaluskan daging saja. Pemotong sayuran juga ada dua dan lumayan berat. Pokoknya terlihat kokoh semua bahannya. 

IMG_7433.jpegDemikian juga dengan perlengkapan make up (ini akan saya tulis lebih lengkap di tulisan berikutnya). Meski bukan manusia yang menggilai dunia permekapan, tapi saya juga seorang wanita yang sesekali pengen terlihat fresh dan kece. Saya ga begitu paham brand make up yang terupdate.

IMG_7500.jpg
Review menyusul
IMG_7479.jpeg
Sttt bocorin dikit….ini warrrbiasa. Sukaaaa meski baru pakai sebagian.
img_7468
Warna palettenya bagus bagus

Kalaupun ada brand ini itu yang lagi viral, belum tentu saya interest. Cuma belakangan ini entah hantu mana yang jitak kepala saya sehingga saya menjadi korban keganasan para beauty vlogger. Alhasil saya terbawa arus hedonisme. Dan lagi lagi tidak bisa saya beli di toko. Kaga ada di kota saya. Harus ke Stockholm. Ya sudahlah akhirnya belanja onlen.

Trus ke depannya apakah saya akan tetap belanja di online shop? jika barang yang saya butuhkan tidak ada dijual di tempat saya tentu saja iya. Apalagi yang namanya peralatan baking, sepertinya mau tak mau saya harus memilih online shop. Lebih lengkap ya. Happy shopping online!

Siapa dari kalian yang menjadi pelanggan setia online shop? Atau pernah merasa ribet ga sih belanja onlen itu? atau malah fine fine aja? share di komen ya 🙂

6 Comments

  1. Saya hobi shopping online kaak. 90% bayar pake credit card selebihnya Paypal dan gak pernah bermasalah so far. Balikin barang juga sering dan no problemo, pak pos nya yg suka ambil barang ke rumah. Saya sih suka juga shopping offline tp krn tinggal di desa, pilihannya di desa saya dikiiit jadinya perhitungan bensin dan waktunya kalau mau ke kota hihi… Lagian kl belanja offline, niatnya beli A pasti yang dibawa pulang A, B, C 😂😂

    Liked by 1 person

  2. Untungnya kalau di Indonesia banyak online shop yg bisa bayar transfer via debit atau gunakan jasa pihak ke 3 spt via bayar minimarket atau aplikasi OVO. Jadi tidak harus ketik kartu kredit. Kalau buku saya suka belanja online. Untuk baju enakan coba langsung. Jarang juga buka olshop kecuali butuh…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s