When in Sweden (Part 1)

Meskipun terbilang masih bau kencur, ada beberapa hal yang lumayan mencuri perhatian gue selama tinggal di Swedia (kurang lebih empat tahunlah). Terlebih di awal awal ketibaan gue. tidaklah mudah untuk bisa cepat beradaptasi. Butuh waktu. Negara dan kultur baru yang semuanya terlihat asing. Tamparan culture shock sudah pasti ada. Terutama masalah disiplin, karakter dan kebiasaan.

Tulisan gue kali ini hanyalah sebuah pendapat. Pendapat seorang ajheris tentang kebiasaan dan karakter masyarakat Swedia yang pernah gue lihat. Tulisan ini bukan sebuah kesimpulan yang teruji secara ilmiah dan bersifat universal. Karena belum tentu juga semuanya benar. Tulisan yang ditulis berdasarkan apa yang gue lihat dari negara yang gue sebut sebagai tanah tinggal baru. Gue tulis secara random. Apa saja itu?  Berikut di bawah.

1. Cuek Bukan Berarti Tidak Respek

Bule itu individualis. Bule itu cuek. Bule itu atheis. Bule itu…dan masih banyak lagi. Gue dulu termasuk salah satu yang memiliki anggapan seperti ini dan melihat dari sisi jeleknya saja. Emang benar sih bule itu cuek, individualis, atheis (meski tidak semua). Tapi jangan melulu dilihat dari pemikiran negatif. Semua itu berhubungan dengan privacy. Mereka tidak mau mencampuri dan mengusik kehidupan pribadi orang lain dan terhadap sesuatu yang bukan urusan mereka.

Orang lain atheis, living together without marriage, kissing in public area, tetangga tiba tiba beli mobil baru dan suka belanja sana sini, its not your business. Kira kira seperti itu. Mereka sangat respek akan pilihan hidup orang lain. Paling takut menghakimi. Ini bukan urusan benar atau salah. Buat kita kebiasaan mereka mungkin cenderung salah sebaliknya kebiasaan yang kita anggap benar, mungkin buat mereka terasa aneh dan tidak logika.

Bahkan untuk urusan belangsungkawa saja, mereka sangat hati hati. Misalnya ada kerabat atau teman yang sedang kehilangan anak, saudara atau orang tua, tidak lantas ujuk ujuk langsung ditelepon atau dikunjungi silih berganti kemudian memberi ucapan duka. Justru mereka takut mengganggu privacy si orang yang lagi berduka. Dengan pemikiran si orang tersebut mungkin lagi pengen sendiri. Tidak mau diganggu. Bangsa membentuk karakter bangsanya. Orang di sini jika mengalami musibah atau kemalangan, lebih banyak menutup diri. Dan jujur di awal awal ketibaan gue semua ini sangat mengherankan. Asing.

IMG_0447.jpg
Pake foto winter aja ya. Hahaha

Urusan pribadi sangat sensitif bagi orang Swedia. Bahkan selevel best friend pun bisa tidak terlalu terbuka untuk saling bercerita. Entah itu urusan pacar baru, perceraian, masalah keluarga dan lainnya. Tak ada yang berani untuk menanyakan secara langsung apalagi kepo. Kecuali kalau yang bersangkutan mau bercerita terlebih dulu.

Memberi respek terhadap privacy orang lain sangat penting di sini. Sewaktu gue hamil, teman baik suami memberi ucapan selamat ke gue. Itupun karena suami memberitahu dia. Tapi begitu dia tau kalau gue mengalami keguguran, you know what? dia ga bilang apa apa. Sama sekali diam ketika kami bertemu. Ga ada kalimat kalimat klasik seperti “yang kuat ya” atau “saya turut bersedih” apalagi kalimat yang tanpa hati dan menjurus kepo “kok bisa” “kamu makan apa? jangan jangan kamu kebanyakan naik turun tangga?” nah loh bikin mumet kan.

Menurut gue orang di sini sangat berhati hati menyikapi peristiwa sedih atau kemalangan. Bisa berdampak sensitif jika salah berucap. Tar kalau dibilang “yang kuat ya” trus dijawab “loh yang bilang gue ga kuat siapa? tau darimana gue ga kuat? gue kuat kok” dijawab gitu kan keselek. Kurang lebih analoginya seperti itu.

2. Suka Menyapa “Hej” (Hai)

Meski katanya orang Skandinavia itu tak banyak bicara, tapi kenyataan yang gue lihat tak sedikit orang Swedia yang suka saling tegor ketika berpapasan dengan orang lain meskipun mereka tidak saling kenal. Jadi ketika kamu berada di Swedia dan ada orang lain yang kamu tidak kenal tiba tiba menyapa “hej”, maka tidak perlu heran dan kaget. Itu adalah bagian dari kebiasaan warga di negara ini.

Sebagai orang yang beranggapan kalau rata rata bule adalah sosok manusia cuek, jelas ketika gue disapa “hej” oleh orang yang tidak gue kenal membuat gue sedikit heran. Jadi pertama gue tiba di Swedia tahun 2014, tepatnya sewaktu gue dan suami hendak membeli roti ke toko bakery. Dari arah yang berlawanan terlihat seorang wanita muda berjalan dan tersenyum kecil sambil menyapa “hej” ke gue. Lah gue bingung dong. Gue kan ga kenal. Dan apa balasan gue terhadap sapaannya itu? Gue ga jawab apa apa. Gue jalan aja gitu sambil terheran. Hahaha!

IMG_0450.jpg

Belum habis rasa heran gue, pas nyampe di depan pintu toko, gue berpapasan lagi dengan seorang cowok. Sebuah senyuman tampan pun kembali menyapa gue. “hej” sapa dia sambil berjalan dan berlalu. Gitu aja. Dan lagi lagi gue masih ga kasih respon apa apa. Beneran gue belum ngerti waktu itu. Pun begitu juga pas di supermarket, lagi dorong trolli dan berpapasan dengan konsumen lain, mereka menyapa hej ke gue.

Bahkan pernah gue disapa “hej” di trotoar jalan oleh seorang wanita, padahal sebelumnya gue melihat dia lagi asik mengobrol dengan teman prianya. Begitu gue lewat, sempat aja si wanita tadi meluangkan waktu say hai ke gue. Kalau dipikir pikir harus banget ga sih luangkan sedetik hanya untuk bilang hai ke orang yang ga dikenal. Hahaha

IMG_0449

Karena penasaran akhirnya gue tanya ke suami. Kenapa mereka menyapa gue. Gue kan ga kenal mereka. Dan ternyata saling sapa dengan orang yang tidak dikenal di Swedia adalah hal yang wajar. Sampai akhirnya suami bilang ke gue kalau gue di sapa hej, alangkah baiknya jika gue balas hej juga. Ya namanya juga pendatang baru dan belum terbiasa. Pokoknya waktu itu gue lumayan takjublah. Nyaris ga percaya kalau bule ternyata bisa sangat ramah.

Berhubung gue tinggal di wilayah propinsi yang hanya memiliki kota kota kecil, sapaan hej ini memang lebih berasa dibanding jika gue berada kota besar seperti Stockholm. Bisa jadi karena Stockholm merupakan capital city dengan penghuni yang lebih majemuk dan kompetitif, sehingga orang orang sebagian besar bawannya sangat serius. No time for Hej. Hahaha. Begitupun ada aja kok yang lumayan ramah menyapa hej!

IMG_0452

Jujur aja sih selama tinggal di Indonesia, rasa rasanya belum pernah gue menerima sapaan hai dari orang yang sama sekali tidak gue kenal. Maksudnya ketika berpapasan di jalan atau di tempat umum ya. Kalau pun ada ya karena tujuan dan kepentingan tertentu. Misalnya nanya alamat. Bukan ujuk ujuk berpapasan trus ramah banget bilang haiiiiiiiiii!

Yang ada malah dikira aneh atau curiga. Jangan jangan itu orang seorang penghipnotis, kriminal, copet, jangan jangan orang tidak waras, jangan jangan………..dan masih banyak jangan jangan yang lain. Akibat kebanyakan dengar issue kriminal dimana mana.

3. Suka Ngobrol 

Seperti yang gue tulis di atas, banyak yang bilang kalau orang orang Skandinavia itu terkesan dingin dan tidak banyak bicara. Tapi jika mereka sudah mengenal baik satu sama lain, malah sebaliknya. Suka banget ngobrol ngolor ngidul alias kombur kombur kalau kata orang Medan. Setidaknya inilah menurut penglihatan gue.

IMG_0792.jpg

Tetangga gue, teman kantor dan kerabat suami, tahan berlama lama ngobrol di telepon. Bahkan ada tetangga gue yang hampir setiap hari ngobrol di telepon dengan suami. Yang dibicarakan padahal seputaran itu ke itu lagi. Kalau bukan masalah kayu, berita, sampai undian berhadiah. Padahal tetangga loh. Main ke rumah pun lumayan sering. Tapi masih aja suka teleponan. Kadang gue suka ngomel ke suami dan bilang mirip perempuan doyan ngobrol. Hahaha.

Parahnya lagi, sering banget pas tamu pamit pulang, bukannya langsung cuss buka pintu dan keluar, malah lanjut lagi ngobrol sambil berdiri. Obrolannya masih bersambung. Dan itu lama! Padahal posisi sudah di depan pintu. Beneran adegan yang paling ga gue suka deh.

4. Sangat On Time

Yup…! jangan berspekulasi urusan waktu dengan orang Swedia. Mereka bisa moody. Disiplin dan ontime sekali. Janji pukul 10 pagi datanglah pukul 10 pagi. Bahkan datang lebih awal pun tidak.

Gue pernah menonton salah satu channel youtuber asal England yang bercerita tentang bagaimana orang orang Swedia sangat tepat waktu di sebuah acara pesta. Dia lumayan heran karena begitu acara dimulai para tamu sudah hadir semua. Tidak ada penampakan dimana masih ada satu dua tiga tamu yang datang belakangan. Gue sependapat sih. Karena gue melihat sendiri di acara pesta pernikahan gue. Pun di acara pesta lainnya.

IMG_0446

Kalau di Indonesia biasanya yang namanya telat dalam sebuah acara bukan hal aneh. Begitupun yang datang lebih cepat juga ada. Berbeda kalau di Swedia, 10 menit sebelum acara dimulai biasanya para tamu belum pada datang. Tapi amazingnya, 10 menit kemudian tanpa sadar tiba tiba uda hadir aja semua.

Mereka benar benar datang sesuai waktu yang disepakati. Datang lebih awal pun bukan kebiasaan mereka karena takut malah membuat yang punya hajatan belum siap. Kalaupun datang lebih awal paling 5 menit sebelum acara atau kalaupun ada satu dua yang telat paling telat sekitar 5 menit. Meskipun begitu, ada aja yang molornya lumayan parah. Suami punya teman yang suka molor kalau ada acara. Dan itu beneran ga disuka ama yang lain.

5. Mengundang Tamu Masaknya Ga Ribet 

Semisal orang Swedia mengundang makan tamu, percayalah menunya tidak seheboh menu orang Indonesia. Main coursenya cukup semacam. Simple dari segi ragam.

IMG_0468 (1).jpg

Kalau steak ya steak aja. Salmon ya salmon aja. Ditambah kentang dan salad. Jaranglah sampai dua macam gitu. Tapi yang namanya kopi dan makanan penutup biasanya selalu ada. Entah itu cake maupun ice cream. Porsinya pun biasanya sudah mereka perhitungkan sesuai jumlah tamu yang diundang. Jadi jarang yang namanya makanan berlebih. Lupakan kebiasaan bungkus plastik bawa pulang. Bukan tradisi mereka. Kecuali kalau yang ngadain acara sesama orang Indonesia, mungkin pasangan masing masing bisa mengerti. Duh bungkus bawa pulang itu emang klasik banget kan ya. Kalau bisa sering sering. Hahaha.

IMG_0456.jpg

Sajian menu irit inilah yang belum bisa gue realisasikan kalau mengundang tamu ke rumah. Selalu tradisi ala Indonesia yang dominan keluar. Meja makan biasanya tersaji lebih dari satu menu utama. Entah mengapa rasanya seperti ada yang kurang kalau cuma menyajikan semacam. Apalagi kalau sampai mengundang 10 orang, wihhh bisa repot banget gue mikir ini itu untuk menu yang harus dimasak. Makanya setiap tamu yang kami undang selalu terwow begitu melihat menu yang tersaji.

Gue ingat banget bagaimana mimik wajah kakak gue ketika kami diundang makan oleh sepupu suami. Mungkin dalam bayangannya, meja akan penuh dengan berbagai macam menu khas Swedia layaknya di tanah air. Ternyata yang muncul cuma sajian salmon dan kentang rebus tok. Hahaha. Mati ketawa kalau ingat itu.

6. Belanja Sesuai Kebutuhan

Kalau ke supemarket, tak sedikit warga Swedia yang belanja dengan secarik kertas di tangan. Isinya daftar belanjaan. Jadi yang dibeli sesuai yang ditulis. Kalau gue payah, mencoba menerapkan tapi tetap saja suka ga disiplin. Malah beli ini itu di luar catatan. Bahkan kadang ga dicatat. Malas! Hahaha

7. Suka Makan Knackbröd

Rasa rasanya orang Swedia doyan banget makan ini. Roti crispy tapi menurut gue malah cenderung keras dan sakit di mulut ketika dikunyah. Rasanya pun aneh. Tapi roti ini lumayan direkomen oleh dokter di Swedia. Karena kandungan seratnya sangat tinggi. Kalau dimakan agak berlendir gitu emang. Biasanya dimakan dengan lapisan butter berikut toppingan sayur maupun ikan tuna atau telur. Sarapannya orang Swedia selain Fillmjölk (mirip yogurth).

8. Suka Membicarakan Cuaca

Orang Swedia suka ngomongin cuaca? Yup betul sekali kakaaaak! Gue kalau ketemu siapa aja, biasanya mereka suka banget bilang :

wah cuaca hari ini cerah ya” atau “uhhh dingin banget hari ini padahal semalam sudah lumayan hangat” atau “lusa kabarnya salju turun lagi” atau “suhu tadi pagi minus 33 derajat celcius”.

Pokoknya di setiap pertemuan, biasanya mereka suka menyelipkan seputaran cuaca. Tak heran memang mengingat cuaca sangat berpengaruh terhadap mood orang orang di sini.  Termasuk guelah.

9.  Tidak terlalu suka Rumah Berdekatan

Lagi lagi soal privacy. Kalau bisa memilih, orang Swedia lebih suka jika rumah mereka tidak berdekatan dengan rumah orang lain. Khususnya di desa tempat gue tinggal, meskipun warganya saling mengenal dengan baik, tapi untuk ruang gerak sehari hari mereka lebih suka tak perlu diketahui orang lain.

IMG_0453

Apalagi ada masa masa dimana mereka kurang mood berbicara dengan orang lain. Masa masa dimana mereka merasa bebas melakukan apa saja baik itu di dalam maupun di luar rumah tanpa harus dilihat orang lain. Dan ini sudah mulai menular ke diri gue (nanti akan gue tulis di tulisan yang berbeda). Orang Swedia lumayan menyukai suasana yang hening. Makanya tak jarang satu rumah dengan rumah yang lain jaraknya lumayan berjauhan. Bahkan ada yang menyendiri dan tidak ada tetangga kiri kanan. Kalau teriak ya teriak aja cuma didengar angin.

10. Percaya Kalau Orang Lain Jujur

Jika kamu ke Swedia terutama di kota kota kecilnya, ada beberapa toko yang tidak memiliki penjaga. Rekaman CCTV pun tak ada. Kamu bisa membeli barang dan cukup meletakkan uang di tempat yang tersedia. Kalau dicuri? Pertanyaan ini ga terbersit di benak mereka. Karena mereka percaya bahwa orang yang masuk ke toko bukanlah pencuri. Mereka percaya kalau pengunjung yang datang adalah manusia jujur. Gila kan. Pertama tau rasanya amazing aja gitu. Awalnya gue tidak percaya tidak ada cctv, pas suami bilang memang beneran tidak ada dan kalaupun ada bisa terlihat di pintu masuk toko. Karena hukum di Swedia tidak memperbolehkan pemasangan cctv yang sifatnya secret tanpa ada pemberitahuan tertulis di pintu masuk toko.

11. Bukan Menjadi Penonton

Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika di tanah air terjadi kecelakaan malah jadi bahan tontonan semata sebelum pihak yang berwenang datang menolong. Ditolong ga difotoin iya. Diunggah ke media sosial lengkap dengan darah darahnya. Padahal korban sudah terkapar kesakitan. Banyak alasan juga kenapa masyarakat kita bersikap sedemikian. Issue lama yang menyebut “menolong sama artinya berurusan dengan polisi” menjadi sebuah momok yang ribet dan ibarat simalakama bagi warga.

Suatu hari sekitar pukul 5 pagi,  gue dan suami pulang dari rumah sakit. Musim panas waktu itu. Jadi meskipun masih pukul 5 pagi tapi matahari sudah bersinar terang. Kami melewati jalanan sepi. Tiba tiba terlihat seorang pria muda dengan mobil yang sedikit menjorok ke selokan. Suami berhenti. Dan gue pun memberi reaksi tidak setuju ketika suami tiba tiba menghentikan mobil. Gue takut kalau orang tersebut cuma drama. Inilah karena kebanyakan membaca dan menonton berita modus kriminal sewaktu tinggal di tanah air dan membuat gue ga gampang percaya dengan orang lain. Berbeda dengan suami. Mungkin dia jelas lebih paham tentang negaranya. Sehingga yang dia tau cuma menghentikan mobil dan segera menolong.

IMG_0796.jpg

Dan ternyata beneran dong, si pria itu mengalami kecelakaan. Katanya dia lepas kendali akibat mengantuk. Dia sudah menelepon polisi. Sambil menunggu polisi datang, suami langsung menyuruh pria itu masuk ke dalam mobil. Dan entah mengapa, tetap saja saat itu kekhawatiran masih mendera kepala gue. Bolak balik gue memastikan kalau si pria itu tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan. Gue cuma mikir “ini jalanan sepi, kalau tiba tiba dia punya teman lain dan muncul menyerang kami?” Coba parah banget kan gue. Hahaha. Tapi percayalah, ini tidak mudah untuk gue bisa langsung yesss menerima segala situasi dan kondisi yang berbeda jauh dengan tanah air di tahun pertama ketibaan gue.

12. Kasih Kado, Hadiah, Cindera mata

Kalian pernah ga sih pengen beli kado, oleh oleh, bingkisan atau apalah itu yang sejenis, suka pusing sendiri. Suka ga enakan. Suka mikir “kemurahan ga ya”, “tar dia suka ga ya”. Gue pernah!

Tapi setelah beberapa tahun di Swedia rasa sungkan itu mulai hilang. Terinspirasi dari cara orang orang di sini kalau memberi kado atau bingkisan. Relatif simpel bahkan sangat simple malah. Memberi sesuai kemampuan dan fungsinya. Bukan malah jadi beban dan bikin pusing. Jujur ketika gue memberi sesuatu kepada warga di sini, gue feel free banget. Ga ada perasaan apakah pemberian gue bakal disuka atau tidak. Apalagi menjadi bahan omongan di belakang layar. Seperti gue bertanya pada diri sendiri ketika pertama kali menerima kado natal dari kerabat. Cuma tissue makan doang gitu? Perih! Hahaha.

IMG_0789.jpg

Gue berusaha jujur aja sih kalau waktu itu emang gue beneran ga nyangka cuma dikasih tissue makan doang. Tapi semakin ke sini gue mulai bisa mengerti kalau memberi itu ga harus yang okeh okeh banget. Lihat momentnya juga. Kalau kado nikahan atau ulang tahun ke 50 tahun mungkin agak beda.  Biasanya pun suka urunan belinya. Misalnya terkumpul hingga 2500 sek. Barulah beli barang yang kira kira diperlu yang bersangkutan.

Orang Swedia tidak gampang memberi kado dan cindera mata. Hanya di saat tertentu. Seperti di hari natal atau ulang tahun ke 50 tahun. Bagi yang belum terbiasa, bisa heran melihat jenis barang yang mereka kasih. Tissue, serbet dapur, sebuah sendok, hingga sabun. Ada juga sih yang kasih buku.

Untuk saat ini itu dulu deh. Biar ga kepanjangan bacanya. See you in my next story.

IMG_0455.jpg
Semua foto anggap saja penghias tulisan. 

11 Comments

  1. Sapaan kecil untuk orang tak dikenal di kota kecil Jepang juga berlaku juga kaka. Agak shock pertama kali datang banyak disapa orang padahal gak kenal ahahahha. Bagus cerita pengalamannya kaka. Ditunggu cerita selanjutnya :’)

    Like

  2. Walahhh.. ada beberapa yang mirip sama di Blenheim.. Kayak say hi ke semua orang gak dikenal, dan rata2 yah orang yg muka asia yang suka gak jawab huhuhu.. Mungkin juga ya orang baru, hehe.. Ngobrolin cuaca juga jadi santapan sehari2 disini.
    Wah Iyan tuh hobi banget ngobrol dari duduk berdiri sampe di pintu, kadang aku suka kasih kode2 dr belakang orang yang diajak ngobrol haha.. Suka gak nyadar juga huh.. Kalau soal shopping list, samalah aku suka meleset juga.. hihihi..

    Like

  3. Iya, lumayan pnjang ni, hee…tp sy bcanya klar dong ya.

    Snang bs bca tradisi org bule d ngri mereka, jd tmbah wawasan pastinya.

    Btul bnget, yg nomer 11 itu agaknya emang gak gampang buat org Indonesia utk sgra nolong..

    Bgtu pun dg yg nomer 2.

    Ok, ditunggu part 2 nya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s