Korban Beauty Vlogger

Menjadi terlihat cantik menjadi impian “sebagian” kaum wanita. Artinya cantik yang saya maksud di sini tidak pakai embel embel inner beauty atau cantik hatinya atau apalah itu, melainkan cantik fisik. Lebih tepatnya lagi cantik karena perawatan. Cantik karena dandan. Cantik karena ditopengilah kasarnya.

Ada yang bilang menjadi tua adalah takdir. Tapi untuk terlihat tetap muda dan cantik adalah pilihan. Terutama di jaman sekarang, menutupi keriput di kulit bukan hal yang sulit. Ga perlu sampai program operasi plastik duluhlah, mari bicara yang gampang aja. Penggunaan produk skin care hingga make up misalnya. Masalah harga bisa menyesuaikan budget. Harga toh bervariasi. Murah, menengah, mahal, mahal banget, mahal bikin jejerit hingga mahal sampai ngejual organ seperti kata Suhay Shalim. Haha..

IMG_7466.jpeg

Sekarang mari fokus bicara make up. Ga usah merambah kemana mana. Saya sendiri bukan seorang yang terlalu menggilai make up. Artinya kemana mana harus mekapan. Jadi tergantung mood.

Tak jarang saya keluar tanpa mekapan sama sekali, bahkan mekap yang paling standart seperti bedak, lipstick sekalipun. Paling cuma menggunakan moisturizer. Tapi bukan berarti perlengkapan make up tidak ada. Kebanyakan cuma jadi penghias lemari rias. Kecuali kalau lagi rajin ya baru mekapan. Bisa full make up.

Bukan baru baru ini saya rajin menonton tutorial make up dari para beauty vlogger di youtube. Sudah lama. Tapi hanya sebatas nonton. Rasanya suka aja melihat transformasi before afternya. Suka takjub dengan keahlian mereka. Bikin eyeshadownya itu loh gradasi warnanya keren keren banget. Uda gitu cepat banget ngeblendnya. Kelihatannya gampang padahal setelah dipraktekin susahhhhh!

IMG_7472.jpeg
ABH eyeshadow palette : Prism, Norvina dan Soft Glam. Sekilas warna warnanya sama ya tapi sebenarnya tidak. Dan masing masing palette ada beberapa yang warna bener benar berbeda.

Saya pernah mencoba bikin smokey eyes. Hasilnya? mirip hantu kena tonjok. Hahaha. Perasaan kalau bikin sendiri tanpa harus mengikuti tutorial berasa lebih gampang deh dan hasilnya pun lebih bagus.  Mungkin karena lebih feel free kali ya dan saya belum terbiasa menggunakan brush. Biasanya cuma pakai ujung jari. Kalaupun ada brush ya itu tadi cuma jadi penghias meja rias. Sampai akhirnya pelan pelan saya coba beberapa kali. Lama lama tangan saya jadi lebih rilex (baca meski tetap sedikit kaku). Meski hasilnya masih jauh banget dari kata bagus. Apalagi penggunaan warna untuk menghasilkan gradasi yang sempurna masih minim pengalaman banget. Sejauh ini cuma main sikat seenak jidat.

IMG_7487
Fresh Glow Satin Blush Soft Pink. Tapi di foto kok seperti warna coklat muda ya..
IMG_7484.jpeg
Sebelumnya saya pernah menggunakan produk body butter dari Estelle & Thild Stockholm. Kemudian berganti dengan produk apotek karena store yang menjual produk ini tutup di kota terdekat tempat saya tinggal. Akhirnya pas ke Stockholm beberapa waktu lalu, saya tertarik mencoba Sheer Shimmer Healty Glow Sun Powdernya. Menurut saya, shimmer tapi dijadikan contour dan blush on juga bisa. Mudah diaplikasikan dan langsung terlihat hasilnya.  Di kemasan juga tertulis jika produk sudah mendapat certified organic.

Karena niatnya cuma pengen menonton, akibatnya produk apapun yang digunakan dan direkomen para beauty vlogger ga sampai membuat saya harus membeli produk yang mereka pakai. Kalaupun saya harus membeli paling murni karena inisiatif saya sendiri.

Tapi entah mengapa belakangan ini kuantitas menonton tutorial make up semakin menjadi jadi. Ga hanya di youtube, video singkat seperti di instagram pun saya suka liat. Bahkan sampai ngefollow beberapa brand make up di instagram. Tadinya saya beneran ga tertarik loh apalagi sampai follow instagram segala. Tapi sekarang suka banget apalagi untuk tutorial eyeshadow.

Dan puncaknya saya percaya dan tergiur untuk membeli produk yang direkomen oleh mereka. Salah satunya produk seri eyeshadow palette dari Anastasia Baverly Hills (ABH) dan foundation Dior. Meski brandnya sudah tak asing di telinga, tapi justru saya baru tertarik membeli setelah salah satu beauty vlogger Indonesia merekomendasikan.

Sejauh ini sih produknya relatif memuaskan. Full coverage dan mudah diblend. Warnanya juga pigmented. Sedang beberapa produk lain yang saya pakai murni saya beli karena memang sudah cocok dengan produknya. Seperti Estelle & thild Stockholm, smashbox, clinique, ga perlu sebut semua (malas nulis mak). Berhubung saya lagi fokus bikin eyeshadow ala ala beauty vlogger, palette ABH tidak mengecewakanlah. Pigmented hasilnya.

IMG_7493 (1).jpeg
Dior Prestige Le Cushion Teint De Rose. Selain kemasannya yang kece, spongenya lembut, harumnya juga enak banget dicium. Aroma parfume gitu deh. Hasil fondinya juga coveragelah. Setidaknya bintik di wajah saya tersamarkan. Hahaha. Rekomen menurut saya. Ga salah saya mengikuti saran si beauty vlogger terkenal itu. Untuk harga sih buat saya lumayan mahal ya. Tapi worth it kok.

Berikut hasil gores gores makeup selama latihan beberapa kali. Belum keliatan konsep make upnya. Belum berkarakter. Masih acak adut. Contournya juga masih samar. Hahaha.

Saya mencoba pakai lashes palsu. Ohhh my God…..hahaha……daku tersiksa!

Nah cerita tentang lashes palsu ini memang bener sangat memegang peranan penting untuk kesempurnaan look eyeshadow. Warna eyeshadow terlihat lebih oke setelah dipasangkan dengan si bulu mata kawe ini. Begitu dibuka dan dilepas langsung berasa banget bedanya. Warna eyeshadow terlihat kurang keluar. Jadi ga heran jika mostly beauty vlogger selalu menggunakan lashes palsu di tutorial make up mereka. Untungnya sudah banyak lashes palsu yang dikemas lebih halus. Jadi lebih mudah menyesuaikan ke matalah apalagi untuk pemula. Menjadi cantik kan harus menahan sakit katanya. Haha..

Trus untuk apa sampai belain make up beginian? yaaaaa tidak untuk apa apa sih mak! cuma penasaran pengen nyobain aja. Dan ternyata asik juga. Hitung hitung terlihat lebih keceehhhh….ups!

Saya pun tidak bisa memastikan sampai kapan menggores gores make up di wajah saya. Jangan jangan bulan depan uda bosan dan letoi. Who knows…dibawa senang saja. Hidup jangan terlalu serius shayyyyy!

img_7500
Beberapa produk yang saya pakai. Mulai dari fondi, shimmer, highlights, blush on, eyeshadow palette, glitter, primer, dan concealer. Nihil contour, eyelinear, eyeliner, eyebrows pencil dan lipstick. Mau motoin lagi malas jadi nyomot foto dari tulisan saya tentang Belanja Online. Haha.. 

Berikut di bawah ini hasil make up yang saya racik (catet ya : RACIK! hahaha apaan coba diracik). Make up super abal abal. Beneran belum berkarakter hasilnya. Begitupun sudah lumayanlah menipu publik kalau wajah asli saya sebenarnya jauh lebih berantakan.

Sebenarnya agak malas nampilin wajah gede gede di blog. Lebih dari satu pula. Kalau di instagram sih masih mending karena saya privat. Tapi ya sudahlah, sapa tau dengan melihat hasil make up foto foto di bawah ada yang berniat ngajari saya tips bermake up yang lebih bagus? Saya tunggu….twink!

4CF71BBC-EB29-41C8-B8AF-5BF9530BC10D (1).jpeg
Saya suka warna lipsticknya. Produk Viva La diva Iris Mate 308 dan harganya murah! Warna aslinya violet terang dan saya beri lipliner warna pink serta lipgloss pink. Warnanya lebih rich. 
IMG_8714
Eyeshadownya pakai palette Prism dan Soft Glam dari ABH. Suka warna warnanya dan menjadi hancur berantakan ketika diaplikasikan oleh tangan saya. Haha..
30861D6A-81C9-42EB-9180-043A5799F9C1
Contournya kurang tegas. Tapi sudahlah…
C910BF6E-7C5C-4228-81D3-890B71EDAE7B
Salah satu warna lipstick kesukaan saya. Sudah lama setia pakai produk Loreal Color Riche Matte 633 Moka Chic. Beberapa produk lipstick lain dengan warna yang agak mirip justru jarang saya pakai. Lebih cocok dengan produk satu ini. Saya sudah beli sampai 3 kali. Harga juga terjangkau. Cuma di foto ini saya combine dengan Loreal Color Riche Matte 634 Greige Perfecto dan lipliner warna coklat. Warna aslinya lebih soft. Untuk smokey eyesnya belum kelihatan sukses 😦

When in Sweden (Part 2) Perubahan Selera Terhadap Beberapa Jenis Makanan

Melanjuti tulisan sebelumnya yang pernah saya tulis di sini, kali ini saya akan bercerita tentang perubahan selera terhadap beberapa jenis makanan. Jika tadinya suka banget terhadap jenis makanan tertentu menjadi kurang begitu suka. Demikian sebaliknya yang tadinya tidak suka menjadi suka. Perubahan mana saya rasakan setelah sekian tahun menetap di Swedia. Apa saja?

1. Makanan beraroma Dill

Dill semacam herbal yang beraroma tajam. Tajam banget menurut penciuman hidung saya. Pertama sekali mencium aromanya berasa aneh. Benci bangetlah. Menyantap makanan berbahan dill tentunya lumayan menyiksa saya di awal awal. Sepenglihatan saya, makanan Swedia itu lumayan sering dicampur dengan dill. Daging dan ikan terutama ikan salmon biasanya selalu menggunakan bahan campuran dill. Tak cuma itu, berbagai jenis pickled dan smörgås (open sandwich ala Swedia) pun menggunakan dill.

IMG_8135
Contoh tanaman dill segar (dibelakang selada air)
IMG_3633
Dill kering dalam kemasan botolan

Akibatnya lama kelamaan hidung dan lidah saya terbilang sering mencium aroma dan merasakannya. Waktu perlahan lahan menyesuaikan ke lidah saya. Ternyata memang enak. Apalagi salmon bercampur dill. Serasi sekali. Makan salmon tanpa dill rasanya seperti makan lalapan tanpa sambel pedas. Saya suka!

Sekarang stok dill menjadi wajib ada di dalam lemari dapur saya.

IMG_7984
Olahan salmon menggunakan dill
IMG_8141
Half egg, salah satu menu terkenal di Swedia yang sering menggunakan dill sebagai garnis

2. Makanan Bersaos Menyerupai Selai

Ya Tuhan….di awal awal beneran jonggg banget setiap melihat suami makan pakai saos yang mirip selai. Kebayang ga sih makan nasi pakai selai? Atau makan kentang daging pakai selai? roti pakai selai iya. Haha..

Nah kalau di Swedia makanan berat seperti kentang dan daging sangat sering disantap barengan saos yang mirip selai. Tepatnya selai lingonberry atau berbagai jenis current. Rasanya asam manis. Ada juga yang diolah menjadi jelly jam.

Mostly jenis selai yang digunakan untuk makanan berat berasal dari lingonberry dan red/blackcurent. Bukan strawberry, blueberry, nenas, mangga atau buah lainlah. Mungkin karena pertumbuhan lingon berry sangat subur di hutan Swedia. Bisa diambil secara gratis.

IMG_8086
Menu daging menggunakan selai lingon
IMG_8136
Swedish meatballs with lingonberry sauce

Untuk lingonberry konsistensinya lebih encer dan biasa dimakan sebagai pelengkap rasa Swedish meatballs maupun steak. Sedangkan blackcuuret/redcurrent sering dijadikan jelly jam (lebih padat). Nah jelly jam ini biasa digunakan untuk daging dagingan seperti beef steak atau moose steak.

IMG_8137
Lingon buatan sendiri. Hasil metik di hutan. Buahnya seperti gambar di bawah ini.

Dan lagi lagi makanan yang disantap dengan selai mulai cocok di lidah saya. Perlahan namun pastilah ceritanya. Malah terkesan nancep poll dan sayaaa sukaaaa! Saya harus mengakui jika menyantap menu seperti steak daging barulah sempurna kelezatannya jika dilengkapi selai.

IMG_8094
Meatloaf with gele (baca : huelle) yang mirip jelly jam. Enak!

3. Susu

Saya benci susu! beneran!

Dulu kalau minum susu rasanya tersiksa sekali. Ribet bangetlah sampai harus menutup hidung dan sering sekali berasa mau muntah habis nyium aromanya. Aroma coklat, vanila atau apalah itu ga akan ngaruh. Bauk!

IMG_8284.jpg

Tapi sejak tinggal di Swedia lidah saya lumayan bertenggang rasa dengan produk fresh milk di sini. Aroma dan rasanya plain. Apalagi pilihan kadar lemaknya lengkap. Meski dibilang belum suka banget tapi setidaknya saya lumayan enjoy menikmati produk susu di Swedia tanpa harus menutup hidung. Apalagi jika dicampur dengan homemade selai blueberry. Saya nikmati banget. Enak dan segar.

4. Seafood Dingin

Makan seafood tapi sedingin suhu kulkas. Ya cuma di Swedia pertama nyoba. Dulu suka benci melihat sajian seafood dingin. Aneh aja rasanya. Apalagi kalau diundang makan atau makan di restoran, seafoodnya dingin.

Duhhh…………….langsung teringat seafood Indonesia yang tersaji lengkap dengan kepulan asapnya.

43399733965_e3df9fd04b_o
Kräfftor alias udang darat. Dimakan ketika dingin

Kebayang ga sih makan lobster, udang, kepiting tapi sedingin suhu kulkas. Beneran ga enak kalau bagi pemula. Apalagi jenis seafood di tempat saya mostly sudah melalui proses perebusan dan penggaraman terlebih dahulu. Rasanya asin tanpa ada aroma bumbu.

IMG_8109
Lobster, dimakan juga ketika dingin. Mana rasanya asin

Awal awalnya suka pusing kalau melihat suami dan beberapa orang yang saya kenal menyantap seaffod dingin. Tapi lama lama jadi terbiasa. Dan ternyata enak juga. Lebih tepatnya “daripada ga ada” ya kan. Mengharapkan sama persis dengan seaffod di tanah air ya keburu air liur kering.

IMG_8099
Smörgås dan udang dingin
IMG_8734
Half egg yang dingin dengan topping udang yang lagi lagi juga dingin

Tidak hanya seafood tapi ada beberapa jenis makanan di Swedia yang jika dimakan idealnya memang dalam kondisi dingin.

5. Salad Sayur

Saya bukan penggemar sayur tapi kalau buah iya. Namun sejak menetap di Swedia yang namanya sayur saya suka banget. Bayangkan sampai sayur mentah pun saya jadi suka. Setiap makan ke restoran selalu makan salad. Dan porsinya lumayan. Apalagi dressing salad di Swedia menurut saya memang enak.

Dulu hanya salad buah yang saya suka. Jadi ceritanya ketika suami berkunjung pertama sekali ke Indonesia sekitar 5 tahun lalu, kami berdua pernah makan di salah satu restoran pizza. Lalu dia pengen makan salad. Saya bantuin mengambil salad tapi hanya bagian buahnya yang saya pilih. Jelas dia bingung. Karena yang dia tau kalau untuk makan ya salad sayur bukan buah. Haha..

6. Es Krim

Kalau ini kebalikannya. Dari yang dulunya suka banget menjadi kurang begitu suka. Tapi bukan berarti tidak mau memakan sama sekali loh. Kuantitasnya aja yang jauh berkurang.  IMG_8090

Jika dulu saya sangat menyukai es krim, sekarang malah tidak terlalu suka. Dulu yang namanya segala jenis es krim saya suka. Mulai dari es krim kampung sampai es krim yang harganya lumayan nguras dompet. Dulu kalau makan es krim rasanya ga pernah puas dan pengen nambah terus.

IMG_8103

Ironisnya setelah sampai di Swedia, dimana es krim yang enak itu gampang didapat malah semakin kurang suka. Awal awal sih doyan banget sampai winter pun tetap nyantapin es krim. Lama lama eneg. Haha..

IMG_8096

Apa karena porsinya banyak banget dan es krimnya terlalu enak, jadi berasa cepat kenyang. Mungkin juga karena kuantitas memakan es krim yang lumayan sering menjadikan diri ini cepat bosan. Tapi bukan berarti saya tidak mau memakan es krim lagi loh. Kuantitasnya saja yang sudah jauh berkurang.

7. Coklat

Eropa itu sarangnya coklat enak toh. Swedia saja yang bukan penghasil coklat terenak bisa enak banget coklatnya. Dulu saya kalau beli coklat ga rela berbagi dengan siapapun. Apalagi coklat enak di tanah air itu buat saya lumayan mahal.

IMG_8139

Hingga ketika menetap di Swedia dan melihat banyaknya tumpukan coklat enak di rak supermarket, entah mengapa disitulah diri ini berasa eneg. Berasa melihat butiran beras (lebay) dan akhirnya rasa cinta itupun berlalu, menghepas, menjauh, dari yang namanya coklat. Haha..

IMG_8104

Jadi kalau sekarang jarang sekali saya ngunyah coklat. Semisal pengen makan coklat ya cuma sekedar. Apalagi saat perayaan natal, duhhh pusing kepala kakak nih. Coklat sana sini.

8. Potato Chips

Ini lagi ya Tuhan…………favorite saya banget dulu. Makannya ga satu satu tapi langsung segenggam masuk mulut. Rakus! Haha..

IMG_8270.jpg

Tiba di Swedia perlahan lahan kecintaan dengan potato chips semakin berkurang. Padahal kentang asli loh. Dan lagi lagi dikarenakan terlalu sering melihat bungkusan potato chips yang segede gede gaban di rak supermarket, membuat diri ini berasa kalau cemilan yang satu ini bukan sesuatu yang luar biasa lagi. Apalagi pengaruh rasanya yang lumayan asin. Tapi meskipun begitu, sesekali saya masih mau ngemil potatos chips. Tapi jarang sekalilah.

Kalian ada yang seperti saya ga, lama lama memiliki selera makan terhadap makanan tertentu menjadi berubah? 

Makanan Terbau di Dunia Ada di Swedia: “SURSTRÖMMING”

Pernah mencium ikan busuk? telur busuk? sampah busuk barangkali? Nah………aroma aroma busuk tersebut bisa menjadi sedikit gambaran akan santapan asal Swedia yang satu ini. Bauk!

Beneran! hidung saya sudah pernah menjadi korban keganasan aroma tak sedap dari olahan permentasi ikan ini. Wek…wek….weeeeeeeeeeeeek!

Surströmming adalah ikan herring (strömming) yang telah melalui proses penggaraman dan permentasi yang sangat lama. Mencapai enam bulan. Bayangkan ada ikan di dalam kaleng hingga berbulan bulan. Nyaris setengah tahun. Kebayanglah shayyyy baunya. Bau kentut belum ada apa apanya. Sebentar juga hilang. Lah ini kaga ilang ilang.

Kenapa harus sampai 6 bulan? Konon supaya mampu menghasilkan citra rasa yang tajam. Ikan tetap dalam kondisi awet dan tahan lama. Surströmming sendiri berasal dari wilayah Swedia bagian utara tepatnya di daerah daerah sekitar high coast. Dan menjadi salah satu makanan tradisional terkenal negara ini.

IMG_8297

Metode permentasi ikan herring sudah ada sejak ratusan tahu silam dimana teknologi mesin pendingin seperti kulkas belum ada. Cara terbaik mengawetkan makanan agar bertahan lama adalah dengan melakukan proses penggaraman dan permentasi yang lama.

Tradisi mana sampai sekarang tetap dipertahankan meski sistem produksinya sudah lebih modern. Aroma bau busuk autentik tidak menyurutkan popularitas surströmming hingga ke era modern. Meskipun bau tapi tetap menjadi santapan yang cukup menyelerakan bagi warga Swedia. Santapan bau yang tetap terkenal tidak hanya di Swedia tapi juga di luar Swedia. Sangkin baunya, surströmming selalu masuk dalam jajaran peringkat atas salah satu makanan terbau di dunia. Pihak produsen yang memproduksi surströmming saja sampai menghimbau agar membuka kaleng surströmming di luar rumah.

Konon tak sedikit juga warga Swedia yang tidak begitu interest dengan surströmming. Bau busuk dan rasanya menjadi alasan utama. Tapi lain halnya dengan warga Swedia di sekitar high coast (Swedia bagian utara), justru sangat menyukai surströmming. Surstromming merupakan santapan yang maha aduhai buat mereka. Apalagi dipercaya jika surströmming sangat baik untuk pencernaan. Katanya sih begituuuuu.IMG_8292

Jika mengikuti tradisi awal surströmming, biasanya makanan ini lebih sering disantap ketika memasuki musim gugur. Saya juga kurang jelas alasannya mengapa harus memilih musim gugur. Kemungkinan filosofinya karena suhu di musim gugur belum sedingin winter dan tidak sepanas summer. Dengan suhu yang belum terlalu dingin kemungkinan besar warga masih bisa menikmati suasana bersantap di luar rumah. Aroma bau busuk pun kemungkinan lebih cepat berkurang dan demikian juga dengan lalat terbang tidak terlalu banyak (lagi lagi saya sotoy…haha).

Tapi bukan berarti di saat musim panas tidak ada yang menyantap ikan permentasi ini. Tapi ya itu, lalat terbang langsung berdatangan. Bahkan di saat musim dingin ada saja yang menyantap surströmming di dalam rumah. Dan biasanya mereka memasukkan ikan ke dalam air soda agar baunya sedikit berkurang.

IMG_8291

Saya pernah menyaksikan tetangga membuka kaleng surströmming. Dan itu dilakukan sekitar 30 meter dari luar rumah. Tetap aja loh baunya kecium. Jadi bisa dibayangkan luar biasa baunya. Penampakan ikan di dalam kaleng juga menggelikan. Kusam dengan air permentasi yang keruh. Kalau mereka bisa makan ikan berbau busuk seperti ini, bagaimana bisa ikan asin mereka bilang bau? bagaimana bisa? jelaskan! hahaha….

Suami saya sendiri tidak begitu menyukai surströmming. Tapi sesekali dia masih mau menyantap ketika ada acara makan bersama. Menurutnya bau ikan ini memang kurang ajar. Haha..

Beberapa hari yang lalu suami dan tetangga menyantap surströmming di rumah. Tetangga saya sampai bolak balik mengajak saya mencoba surströmming meski cuma sedikit. Sejujurnya ada rasa penasaran di hati. Seperti apa sih rasanya. Tapi bau busuk ikan ini beneran bikin saya hopeless. Ketika saya duduk bersama mereka di meja makan, saya menyantap menu yang lain. Makan sudah tidak konsentrasi. Saya berasa makan di dalam truk sampah. Hahaha.

IMG_8213.jpg
Penampakan suströmming setelah kalengnya dibuka dan airnya dibuang. Permentasi penggaraman selama berbulan bulan membuat ikan tidak rusak dan tetap kelihatan kinclong. Tapi baunya itulah mak!

Tetangga saya seolah tak percaya bagaimana saya bisa terlalu anti bau busuk ikan ini. Sedangkan dia tau kalau saya doyan makan ikan asin yang menurut dia sangat tidak pantas aromanya. Bahkan kaki ayam saja saya makan kata dia. Hahaha.

Segitu nafsunya beliau supaya saya mau mencicipi surströmming. Ya inilah yang disebut kultur kebiasaan di sebuah negara. Buat saya ikan asin itu ya ga bau. Buat orang di sini bau. Padahal kalau dipikir pikir sama sama melalui proses penggaraman. Makanya tak heran jika rasanya memang asin banget (kata suami).

Surströmming biasa disantap bersama tunnbröd (roti tradisional Swedia yang tipis dan bisa digulung) atau bisa juga dengan kentang rebus dan salad, irisan bawang merah dan sour cream. Sour cream dan bawang merah dianggap bisa mengurangi aroma tak sedap sekaligus menambah kelezatan ketika menyantap surströmming.

IMG_8254.jpg
Tunnbröd

Harga surströmming bisa dibilang tidak murah alias relatif mahal. Ukuran sekaleng kecil bisa mencapai 200 ribu rupiah dengan jumlah ikan yang hanya 3 hingga 4 ekor. Sizenya kecil kecil pula.

So……………………..jika penasaran dengan bau ikan ini, silahkan datang ke Swedia. Bisa ditemukan di supermarketnya. Selamat mencoba! 

Drama Belanja Online

Online shop mamaaaahhhhh! ouyeeeeeee! 

Sistem belanja yang sangat digandrungi. Mendunialah. Bahkan teror iklannya tak lelah lelah bermunculan di timeline media sosial. Harga yang konon lebih murah, praktis, waktu yang efisien, model barang komplit, modal keahlian ngutak ngatik handphone laptop udah deh…….tarik mang! Gampang kan. Tidak perlu keluar rumah atau macet macetan barangkali? Inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa online shop mendapat tempat di sini *menunjuk dompet dan kartu*. 

Jadi begini….

Saya dan suami bisa dibilang generasi kolot yang tidak terlalu menggemari dunia online shop. Artinya bukan menjadi kebiasaan kami belanja di online shop dengan kuantitas yang terbilang sering. Tapi jika dibilang pernah……iya!

Tentu kami punya alasan, terkhusus saya pribadi (suami bukan type yang suka belanja) untuk lebih memilih berbelanja dengan sistem konvensional dibanding belanja online.

Sebenarnya belanja online maupun konvensional sama sama punya keasikan tersendiri bagi orang yang menyukai. Tinggal pilih aja. Warga bumi semakin berubah wajar. Teknologi semakin maju dan sistemnya makin canggih. Kalau ada yang praktis ngapai pilih yang ribet? Bukan begitu? Apalagi dengan belanja online efisiensi waktu lumayan berasa bagi sebagian besar orang yang cocok dengan sistemnya. Koleksi barang barang di online shop pun tak kalah menggoda selera. Harus diakui itu.

Tapi buat saya yang namanya berbelanja bukan sekedar membeli. Ibarat ke warung beli gula telor lalu cussssss langsung pulang, bukan begitu. Belanja itu sekalian terapi. Terapi dengan barang barang yang ada di depan mata secara real. Apalagi kalau barang yang dibeli terbilang tidak murah, buat saya sangatlah tidak puas hanya dengan melihat gambar. Barang harus bisa disentuh dulu, dipegang pegang, dielus elus, dicium jika perlu, dicoba warna ini itu, bongkar lagi coba lagi, cocok bayar, bawa pulang tanpa harus menunggu berhari berminggu bahkan berbulan. Di situ nikmatnya. Buat saya loh.

Apalagi pengalaman saya, barang yang saya beli secara online semuanya harus saya ambil ke kota. Tidak diantar ke rumah. Mengapa? karena kejauhan rumah saya. Jadi sama saja. Mending beli di toko atau storenya langsung. Semisal kurang cocok? ya tinggal tukar lagi tanpa harus mengirim kembali (yang mengirim kembali ini saya paling malas). 

Kalau beli di toko dan ada masalah, kesempatan berbicara dan bertatap muka langsung dengan petugas lebih terbuka dan lebih puas. Setidaknya sudah tau tempat yang akan didatangi. Ga perlu jauh jauhlah. Apalagi kalau pakai berantem dengan petugas tokonya kan lebih enak tatap muka langsung. *saya beri kesempatan untuk menertawakan gaya belanja saya yang klasik*. Haha.

Trus masalah pembayaran menggunakan kartu membuat saya semakin phobia karena semakin tingginya tingkat kriminalisasi di dunia cyber. Meski banyak website online shop yang bisa dipercaya tetap aja parno. Berbagai alasan di ataslah yang membuat saya tetap lebih tertarik berbelanja ke toko/store. Belanja langsung ke toko atau store juga pakai kartu sih. Tapi entah mengapa merasa lebih nyaman aja dibanding menulis nomor kartu di onlineshop.

IMG_7490.jpeg

Belum lagi tak sedikit pemilik toko kecil di kota terdekat saya tinggal mulai mengeluh. Income mereka berkurang. Bahkan sampai gulung tikar. Mereka harus putar otak agar tetap bertahan diantara maraknya online shop. Kasihan juga.

Saya pernah belanja online kurang lebih 6 kali. Beberapa diantaranya membuat saya kecewa. Pernah beli tshirt online shop asal USA. Tertarik membeli karena tulisan di tshirt lucu lucu. Sialnya saya salah ngeklik di kolom warna. Pas saya info ke mereka, saya cuma mendapat jawaban “sorry” karena warna tshirt tidak bisa diganti.

Uda gitu nyampenya relatif lama hampir satu bulan. Begitu nyampe ternyata tidak sebagus dan semenarik seperti yang saya lihat di website. Kadang kenyatan seperti ini yang suka bikin kecewa. Penampakan di website tak sesuai dengan harapan.

Lebih riweh lagi, pernah kejadian dimana kartu debit saya ditolak dan saya diharuskan membayar menggunakan kartu kredit. Berawal dari sebuah keinginan untuk membeli sebuah mixer roti. Intinya saya ingin mengganti mixer lama peninggalan mendiang mertua yang sudah rusak akibat ulah saya sendiri. Singkat cerita saya memilih mixer Kitchen Aid (bukan iklan dan selanjutnya saya tulis KA) sebagai pengganti mesin yang sudah rusak.

Dan setelah searching sana sini sepertinya saat itu seri lengkap si KA ini cuma ada di website A. Baca baca reviewnya tidak sedikit yang memberi pendapat jika produk KA untuk seri tertentu lumayan gampang panas jika mengadon roti dalam takaran besar. Suara juga lumayan ngiunggggg dan agak berisik.

IMG_7445.jpg
Sedikit review : KA seri professional ini sudah saya pakai hampir satu tahun. Saya puas. Suaranya tidak berisik. Ngadon roti tidak panas. Adonan relatif cepat kalis elastis. Maksimal daya tampung lupa (malas buka bukunya haha). Kurang lebih 6 liter barangkali. Untuk pengocokan telur juga sangat bagus hasilnya.  

Sampai akhirnya saya memantapkan jiwa memutuskan membeli seri lain yang cocok dengan keinginan saya. Saya sempat bertanya dengan salah seorang teman yang lumayan paham tentang KA. Beliau merekomen seri yang saya pilih ini. Yaaaa meskipun jiwa raga hampir terhempas terantuk dengan harganya. Untung ga sampai jual organ. Hahaha!

Alih alih ingin membeli KA malah jadi drama. Orderan saya ditolak di website A karena melakukan pembayaran dengan kartu debit. Awalnya saya berpikir apa mungkin mereka mengira kalau saya adalah scammer? karena traksaksi yang saya lakukan di website A adalah perdana. Dan jumlahnya relatif besar (setidaknya bagi saya jumlah itu lumayan besarlah mak hanya untuk sebuah mesin mixer roti).

Kemudian saya diminta agar mengganti menggunakan kartu kredit. Tapi yang ada saya malah parno duluan. Diminta macem macem malah bikin saya bingung. Berhubung saya tidak mau menggunakan kartu kredit yang saya punya, akhirnya mereka meminta agar saya ngefax kartu debit dan alamat rumah. Saya makin tidak mau dong. Saya lupa kejadian pastinya, akun saya akhirnya diblokir dan tidak bisa bertransaksi lagi.

IMG_7428.jpeg
Review : Material stainless pada egg wishk, hook dan beater.
IMG_7427.jpeg
Review: Dough Hook mixer terbuat dari stainless dan lumayan berat

Akhirnya saya datang ke bank dan menjelaskan perihal ditolaknya kartu debit saya dan permintaan pihak penjual agar saya mengirim copy kartu dan alamat rumah. Oleh pihak bank malah tidak dianjurkan membagi copy data apapun terkait kartu yang mereka keluarkan apalagi ke online shop.

Pihak bank kemudian mengecek perihal ditolaknya transaksi kartu debet saya. Dan ternyata setelah dicek ulalalalalaaaaaaaaaaa……….nomor handphone saya belum terdata di bank!

Kemungkinan besar inilah penyebab transaksi saya ditolak karena tanpa kode transaki melalui sms, transaksi saya tidak bisa dilanjutkan. Kasarnya harus melalui otorisasi bank. Dan ini pula yang membuat pihak website A memblokir akun saya. Dikhawatirkan jika kartu saya berada di tangan orang yang salah.

Berhubung website A tergolong onlineshop raksasa yang sudah menyebar dimana mana, sebenarnya saya setuju dengan kehati-hatian mereka agar kartu saya aman dari tangan tangan yang tidak bertanggung jawab. Tapi saya juga ga bisa memastikan apakah yang meminta copian kartu debet saya itu orang yang berkompeten. Apalagi bank juga melarang. Serba salah kan. Huh..belanja aja ribet. Haha.

Trus bagaimana solusinya? Cari akal dong shayyyy!

Berhubung uda jatuh cinta dengan si KA merah ini, akhirnya saya meminta tolong teman agar mengorder barang yang saya mau melalui akunnya. Uangnya saya transfer lebih dulu tentunya ke beliau.

Jujur awalnya suami saya agak kaget kok saya berani transfer uang ke seseorang yang sama sekali belum pernah ketemu langsung dengan saya. Tapi saya meyakinkan suami kalau teman saya bisa dipercaya. Seratus persen saya percaya. Meski belum pernah ketemu dan kenal hanya melalui salah satu group di whatsapp, tapi naluri saya sangat percaya dengan beliau. Saya tidak perlu jelasin panjang lebar. Dan ternyata saya benar, melalui bantuannyalah akhirnya si mesin merah sudah bertengger manis di dapur saya. Makasih ya mak! Kalaupun pak suami sedikit cemas di awal awal harap maklum.

Point dari cerita di atas adalah betapa saya merasa belanja online saat itu sangat ribet. Kasarnya ada duit tapi kok susah banget dapatin barang. Kepala saya malah stress mikiri kenapa harus kartu kredit yang mereka minta. Sebenarnya saya bisa saja membayar pakai kartu kredit, tapi karena waktu itu saya merasa sudah cemas duluan karena tidak terbiasa belanja online jadinya banyak pertanyaan aneh muncul di kepala. Langsung auto mindset. Ini web yang saya masuki bener ga sih? jangan jangan kriminal. Uda parno duluan. Padahal kalau dipikir pikir penggunaan kartu debet memang justru lebih high risk kan. Kalau bukan karena butuh tidak bakal saya order deh. Seandainya ada dijual di kota tempat saya tinggal bakal saya beli di toko aja.

IMG_7441.jpeg
Review : Food Processor masih dari KA yang saya pesan melalui salah satu onlineshop di Swedia. Ini tidak pakai drama tapi lama banget nyampe. Sangat oke untuk menghaluskan daging. Terutama bikin bakso. Ini penting mak! Hahaha

Begitulah, semua barang yang saya beli secara online dipastikan karena tidak bisa saya temukan di toko konvensional di kota terdekat tempat saya tinggal. Jangan jangan ke depannya semakin berkurang toko toko di kota saya. Apalagi salah satu store besarnya sudah tutup. Mau tidak mau harus ke ibukota propinsi.

IMG_7437.jpeg
Review : Body dan warnanya kece. Saya makin suka karena ada tombol pulsenya. Jadi proses menghaluskan daging lebih rata. Terus mampu menampung hingga 3,1 liter dan terdiri dari dua wadah berukuran besar dan sedang. 
IMG_7434 (1).jpeg
Review : Printilan FP KA ini disimpan dalam satu kotak yang menurut saya kualitasnya tidak asal jadi. Rapi, kuat dan designnya bagus. Buka tutupnya tidak susah.
IMG_7432.jpeg
Review : Printilannya juga kuat dan gede. Pisaunya bisa untuk takaran besar dan ada juga untuk takaran medium. Ada pisau untuk adonan roti. Jadi bisa bikin adonan roti juga untuk takaran standart. Tapi saya hanya fokus untuk menghaluskan daging saja. Pemotong sayuran juga ada dua dan lumayan berat. Pokoknya terlihat kokoh semua bahannya. 

IMG_7433.jpegDemikian juga dengan perlengkapan make up (ini akan saya tulis lebih lengkap di tulisan berikutnya). Meski bukan manusia yang menggilai dunia permekapan, tapi saya juga seorang wanita yang sesekali pengen terlihat fresh dan kece. Saya ga begitu paham brand make up yang terupdate.

IMG_7500.jpg
Review menyusul
IMG_7479.jpeg
Sttt bocorin dikit….ini warrrbiasa. Sukaaaa meski baru pakai sebagian.
img_7468
Warna palettenya bagus bagus

Kalaupun ada brand ini itu yang lagi viral, belum tentu saya interest. Cuma belakangan ini entah hantu mana yang jitak kepala saya sehingga saya menjadi korban keganasan para beauty vlogger. Alhasil saya terbawa arus hedonisme. Dan lagi lagi tidak bisa saya beli di toko. Kaga ada di kota saya. Harus ke Stockholm. Ya sudahlah akhirnya belanja onlen.

Trus ke depannya apakah saya akan tetap belanja di online shop? jika barang yang saya butuhkan tidak ada dijual di tempat saya tentu saja iya. Apalagi yang namanya peralatan baking, sepertinya mau tak mau saya harus memilih online shop. Lebih lengkap ya. Happy shopping online!

Siapa dari kalian yang menjadi pelanggan setia online shop? Atau pernah merasa ribet ga sih belanja onlen itu? atau malah fine fine aja? share di komen ya 🙂

Bolu Gulung Klasik!

Helooouuuu !

Ketika saya menulis tulisan ini, suhu di tempat tinggal saya lumayan ekstrem berkisar minus 23 derajat celcius. Bawaan pengen membungkus diri dengan selimut. Tapi ngapai juga yeeeeekan. Mending menulis di blog ini agar tetap berkesinambungan nafasnya.

Jadi seperti biasa, beberapa waktu lalu saya ngebaking bolu gulung. Bolu gulung klasik tepatnya. Saya sebut bolu gulung klasik karena sejak saya masih kecil, bolu gulung yang saya bikin ini sudah. Kebetulan kedua jenis bolu gulung inilah yang paling saya suka. Bolu gulung nenas dan bolu gulung mocca ceres. 

478CBE11-46BD-4337-82D9-BCF4535418A8.jpg

Menurut saya, bikin bolu gulung susah susah gampang. Menjadi relatif lebih mudah jika sudah terbiasa dan mengerti triknya dan menjadi relatif susah buat pemula yang rasa percaya dirinya suka hilang karena dilanda takut gagal terlebih dahulu.

Menurut saya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketikan membuat bolu gulung. Saya sendiri pun bukan seorang yang expert banget. Masih tetap harus banyak latihan.

Lebar dan tinggi cetakan harus pas sesuai takaran adonan. Biar pada saat dioven, waktu yang dibutuhkan juga pas. Matangnya tidak kelamaan ataupun kecepatan. Terlalu lama dioven bisa berakibat permukaan bolu gulung menjadi kering. Dan ketika digulung resiko retak akan semakin lebih besar.

Suhu rata rata yang ideal untuk ngebaking bolu gulung yang sering saya gunakan berkisar antara 175-200 derajat celcius (tergantung jenis ovennya juga). Untuk waktunya dibutuhkan kurang lebih 15-25 menit (tergantung tingkat ketebalan adonan).

IMG_6403.jpeg

Berdasarkan pengalaman saya, agar bolu gulung tetap lentur ketika digulung dan tidak retak ada beberapa hal yang harus dilakukan. Begitu keluar dari oven, permukaan bolu langsung diolesi dengan sedikit butter, lalu dikeluarkan dari cetakan, kemudian ditutup dengan serbet atau wadah apa sajalah kurang lebih selama 2 menit. Tujuannya agar tidak terkena udara. Jadi permukaan roti tidak sempat mengering.

Jika hendak menggunakan jenis selai selaian sebagai isian bolu gulung, tidak harus atau tidak perlu menunggu lama sampai bolu gulung dingin. Langsung saja digulung dalam kondisi masih hangat/panas.

IMG_6933.jpg

Kalau isiannya butter cream otomatis harus menunggu bolu gulung dingin agar si butter cream tidak meleleh. Trus kalau kondisi dingin apakah bisa tetap digulung? bisa! Jadi kalau ada yang bilang ga bisa ya salah. Jadi seperti yang saya tulis di atas, asalkan begitu dikeluarkan dari oven, permukaan bolu gulung langsung diolesi butter dan dikeluarkan dari cetakan.

Jangan lupa meja kerja harus diberi lapisan kertas roti. Begitu dikeluarkan dari cetakan, tutup kembali dengan cetakan bolu atau wadah apa sajalah agar bolu tetap lembab. Tutup sekitar 10 menitan aja. Kemudian biarkan terbuka selama 5 menit. Setelah itu baru ditutup kembali dengan serbet sampai bolu mencapai suhu ruang. Olesi butter cream dan gulung. Ga bakal retak!

IMG_6401.jpeg

Saya sangat puas dengan citra rasa bolu yang saya bikin ini. Tekstur dan rasanya autentik. Mengingatkan saya dengan bolu jaman bahela. Selai nenasnya saya bikin sendiri yang proses pengerjaannya pun lumayan memakan waktu. Tapi hasilnya worthit.

Demikian juga dengan bolu gulung mocca ceres. Pasta mocca dan ceresnya saya bawa langsung dari Indonesia. Untuk mendapatkan bolu gulung mocca klasik, saya tambahin sedikit banana essence. Sesuai keinginan sayalah. Saya sukaaaaaaaaaa!

IMG_6926.jpg

IMG_6918.jpg

IMG_6951.jpg

img_6908

Saya berbagi cerita lengkap tentang masakan dan hasil ngebaking di channel YouTube dan Instagram  saya @dapursicongok

Ketika Bangunan di Swedia Dominan Berwarna Merah. Mengapa?

Pernah berkunjung ke Swedia? terkhusus ke daerah daerah ”country sidenya”? atau mungkin sekedar melihat dari liputan televisi, internet, kalender, koran atau majalah? atau mungkin juga dari ilustrasi gambar dalam buku cerita anak sekelas Astrid Lindgren?

Jika disimak, salah satu ciri khas dari negara Skandinavia yang satu ini adalah typical bangunan bangunan rumahnya. Terutama bangunan rumah/gedung di wilayah country sidenya. Hampir semua berwarna merah! Warna merah yang berpadu dengan warna putih di setiap sisi jendelanya. Cantik, klasik dan magical. Rumah merah yang mewakili cerita fantasi dalam serial dongeng. Rumah merah yang selalu serasi dengan semburat warna di empat musim yang berbeda. Tak cuma rumah, bahkan bangunan sekolah, panti jompo, gudang, kandang ternak, pagar, hotel, sampai kotak pos pun berwarna merah.

IMG_5787.jpg

IMG_5781.jpeg
Rumah merah berpadu dengan salju putih di musim dingin. Serasi dan magical ya 🙂

Lantas mengapa bangunan di Swedia dominan berwarna merah? Ternyata ada ceritanya.

Hal ini berkaitan dengan area pertambangan biji tembaga dan besi bernama “Falu Koppargrufa” (Falun Mines) yang terletak di propinsi Dalarna, salah satu propinsi yang ada di wilayah Swedia. Pertambangan mana diperkirakan sudah ada sejak 500 atau 900 tahun silam.

40777452632_48e5cf23e4_o

40819112711_96c0b5b1f8_o.jpg
Merah!

Menilik mundur ke sejarah silam, masa dimana sebagian besar warga di sekitar Falun Dalarna berprofesi sebagai penambang tradisional, yang sehari harinya bekerja dengan memilah milah biji batu tembaga. Semisal kandungan tembaga dalam batu sedikit, kemudian dipisahkan ke suatu tempat.

Seiring waktu batu batu ini semakin menggunung. Dan tanpa mereka sadari, akibat proses pengeringan oleh alam yang cukup lama, kandungan besi oksida dan mineral dalam batu mampu membentuk limonit sedimen, yang semakin lama secara alami menghasilkan warna merah.

IMG_5687 (1).jpg

39438018790_794b43718d_o.jpg
Sebuah desa dengan rumah kayu berwarna merah

Melihat perubahan itu, para penambang tradisional berkeinginan mengolah limbah batu yang tadinya dianggap tidak berguna menjadi bahan dasar untuk menghasilkan warna merah pada cat.

Sekitar tahun 1573, King Johan III (raja Swedia saat itu) berkeinginan agar cat merah yang dihasilkan oleh para penambang tradisional digunakan untuk mewarnai atap istana. Lalu keinginan raja tersebut diikuti oleh kaum bangsawan. Saat itu kaum elite Swedia berangganpan jika memiliki rumah berwarna merah seakan mewakili sebuah harga prestise sosial.

40819114741_4e3fd5eda6_o.jpg

IMG_5746.jpg

Duaratus limapuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1764, berdirilah “Stora Enso” pabrik pertama dan tertua di Swedia bahkan dunia, yang memproduksi cat secara profesional di area pertambangan yang sama di ”Falun Mines”.

Cat berlabel “Falu Rödfärg” (yang bisa diartikan warna merah dari Falun) menjadi cat yang sangat famous di Swedia hingga saat ini. Dari abad ke 18 hingga 19, warga Swedia mulai tergila gila menggunakan cat merah dengan alasan: warna ini seolah memberi kesan jika rumah mereka terbuat dari batu bata, yang waktu itu hanya dimiliki kaum istana raja dan bangsawan. 

29452274208_7b329f2ccc_o
Pabrik penghasil cat merah, Falu Rödfärg

Tak cuma itu, seiring waktu semakin terlihatlah jika warna merah ”Falu Rödfärg” yang dihasilkan pabrik Stora Enso sangat tahan lama dan memiliki kualitas yang bagus karena mengandung mineral terurai dan minyak alami. Konon kayu yang diberi cat berwarna merah ini mampu membuat kayu menjadi tidak gampang lapuk. Tahan lama!

Konon lagi warna merah yang diproduksi oleh pabrik Stora Enso hanya cocok digunakan untuk ”bahan kayu” seperti rumah dan bangunan kayu di Swedia. Satu lagi yang unik, warna  merah ini tidak bisa ditindih dengan warna lain karena warna merahnya akan muncul kembali.

IMG_5803.jpg
Bangunan bangunan gudang yang juga berwarna merah

Ada harga dan ada rupa. Tidak bisa dipungkiri jika harga cat yang dihasilkan pabrik Stora Enso terbilang mahal. Sehingga tak sedikit warga Swedia perlahan lahan beralih ke merek lain meski kualitas warna merahnya jelas berbeda karena tidak menggunakan bahan dasar alami yang sama seperti yang dihasilkan oleh pabrik Stora Enso. Tapi bukan berarti seratus persen rumah dan bangunan kayu di Swedia itu berwarna merah ya. Warna lain juga ada kok seperti putih, kuning, biru. Cuma warna merah lebih dominan.

IMG_5802.jpg
Tempat wisata dengan bangunan dan pagar berwarna merah
IMG_5793.jpeg
Rumah masa kecil seorang Astrid Lindgren yang lagi lagi berwarna merah

Jika berkunjung ke kawasan Falun Mines, kamu bisa melihat banyak tumpukan batu menggunung di beberapa titik lokasi, yang tak lain merupakan kumpulan biji batu yang disortir para penambang dari jaman ratusan tahun silam hingga tahun 1991, ketika mereka menyambung hidup di area bekas pertambangan ini.

40777452232_a1724fc11a_o
Farmhouse yang serba merah
IMG_5790 (1).jpg
Desa itu berwarna merah. Hahaha

Dan amazingnya, batu batu yang sebagian besar sudah berumur ratusan tahun itu sampai sekarang tidak habis habis. Mengapa? karena batu batu ini tidak digunakan sekaligus untuk usaha produksi cat, dikarenakan terkumpulnya batu batu ini berasal dari tahun yang berbeda (bahkan bisa selisih ratusan tahun).

Jadi proses alami pembentukan sedimen merah pada biji batu juga butuh waktu yang sangat lama. Bisa ratusan tahun juga.

IMG_5788.jpg

40819113451_ec5171bcb5_o.jpg
Merah yang minimalis diantara tumpukan salju

Pabrik Stora Enso penghasil Falu Rödfärg (cat berwarna merah) ini bisa dilihat di lokasi wisata Falu Gruva (Falun Mines) di kota Falun ibukota propinsi Dalarna. Sampai sekarang masih ada dan tetap berproduksi. Uraian sejarah tentang  cat berwarna merah secara gamblang bisa dibaca di sekitar kawasan pabrik. Bagaimana pigmen warna bisa bekerja, mengapa rumah rumah kayu di Swedia dominan berwarna merah, dan slogan tentang cat yang dihasilkan bukan sekedar cat biasa melainkan berfungsi menjaga kestabilan kualitas kayu.

IMG_5775.jpeg
Dikala musim panas, merah dan hijau. Lagi lagi tetap serasi bukan? 

Selain itu kalian juga bisa mengeksplore lokasi di sekitar pabrik yang merupakan bekas pertambangan besar yang konon sempat menghasilkan banyak uang di masanya dan meningkatkan perekonomian Swedia di masa silam. Salah satunya adalah dengan menelusuri area pertambangan bawah tanahnya. Seruuuuuu dan memicu adrenalin.

img_5772

IMG_5773.jpeg
Bangunan merah diantara bunga liar. Cantik!

Saya sangat terkesima mendengar penjelasan guide tentang sejarah pertambangan ini. Merinding karena tak sedikit yang memakan korban jiwa dan mengandung cerita yang sedikit mistis dan horor. Bayangkan saja, berjalan di bawah tanah dengan sinar terbatas dan tangga kayu yang lumayan curam, jalanan batu yang licin, air yang masih menetes dari celah dinding batu dan suhu di bawah yang relatif dingin (kurang lebih 5 derajat celcius). Jika memungkinkan, akan saya tulis secara detail di tulisan yang terpisah.

img_5824

img_5777
Di musim gugur.  Dan warna merah tetap menawan

Demikianlah cikal bakal mengapa bangunan rumah di Swedia itu dominan berwarna merah. Bangunan rumah mana juga dijadikan sebagai souvenir di beberapa wilayah country side Swedia sebagai pertanda ciri khas wilayah mereka.

Berikut di bawah adalah beberapa foto bangunan berwarna merah yang saya foto. Mulai dari restoran, cafe, hotel, museum, souvenir, toko souvenir, komplek perumahan, gudang.

img_5818
Sebuah cafe dari bangunan gudang tua. Merah!
img_5828
Souvenir rumah. Mewakili bangunan kayu merah di Swedia.
img_5821
Perumahan tua yang dominan berwarna merah
img_5817
Restorannya kece
img_5838
Hotel yang lagi lagi berwarna merah          

IMG_5836.jpg

Natal dan Penghujung Tahun

Meskipun natal sudah berlalu, tidak ada salahnya saya mengucapkan Selamat Natal bagi semua teman pembaca yang turut merayakan. Seperti biasa, saya selalu mengupayakan menulis cerita natal dan akhir tahun sebagai bentuk luapan perasaan saya menghabiskan keseharian di negeri orang dalam kurun waktu satu tahun.

IMG_5150.jpeg

IMG_4582

Sejujurnya semakin lama keriaan perayaan natal yang saya rasakan di Swedia tak lagi terlalu luar biasa. Dari tahun ke tahun hampir sama saja rasanya. Bahkan tahun ini, saya sudah wanti wanti ke suami agar kami tidak membeli makanan natal terlalu banyak.

IMG_3573.jpeg

IMG_4849.jpeg

Tahun ini saya membuat kue kering yang lumayan komplit. Entah mengapa lagi rindu merasakan kue kering layaknya di tanah air. Seperti putri salju, semprit, kue spekuk, nastar dan kastengel. Dan saya tidak menyangka jika kue kering jadul yang saya bikin lumayan disukai suami dan beberapa tetangga. Terutama putri salju. Mungkin karena ada campuran almond dan taburan tepung gulanya. Jadi cocok dengan lidah mereka. Dan kebetulan kerabat saya yang tinggal di Dalarna juga berkunjung di tanggal 26 Desember lalu. Jadi stok kue yang saya bikin sangat mencukupi untuk dijadikan cemilan.

Seperti biasa setiap malam natal, saya dan suami selalu tukaran kado. Dan sejauh ini, kado yang kami peroleh adalah barang yang diperlukan. Saya memberi suami jam tangan karena jam tangan yang sehari hari dia pakai sudah sering bermasalah. Batrenya cepat soak. Saya berinisiatif membeli yang baru. Sedangkan saya sendiri langsung menodong suami untuk membeli mesin food processor karena mesin yang biasa saya pakai sudah terlalu tua (peninggalan mertua) dan cepat banget panas. Dengan kata lain, mesin ini benar benar saya butuhkan untuk mempermudah pekerjaan masak memasak. Terutama jika membuat bakso yang lebih dari setengah kilogram. Dan begitu sampai di rumah, langsung saya buka sekitar satu minggu sebelum natal tiba. Hahaha.

IMG_5135.jpeg

IMG_5123

Sedangkan kado natal lain yang sifatnya hanya untuk meramai ramaikan saja adalah shampo, sabun, body butter, kaos kaki dan printilan lain yang memang kami wajib pakai.

IMG_4488

IMG_4569.jpeg

Sejujurnya ada perasaan kurang spirit menghadapi natal tahun ini. Apa alasannya saya juga kurang tahu. Apa karena saya merasa kondisi setiap tahunnya begitu lagi dan begitu lagi. Meskipun begitu saya tetap melaksanakan kegiatan kegiatan yang biasa saya lakukan menjelang natal. Menghias pohon natal, bikin christmas cake, bantuin suami nyiapin makanan natal, dekor rumah dan sejenisnyalah. Dan tetap menjalankan hobby photography saya. Motoin pernak pernik natal di rumah.

IMG_5314.jpeg
Cake ini biasanya sellau saya buat di setiap perayan natal. English Fruits Cake

Tahun ini natal yang saya lewati benar benar white christmas. Salju sudah sangat tebal dan matahari bersinar sangat cerah. Jadi benar benar cantik banget. Putihnya sangat memantul manjaaaahhhh.

IMG_5512

IMG_5505.jpg

Setiap tahun adalah berkat buat saya dan keluarga. Saya bersyukur bisa melalui tahun 2018 dengan segala suka duka. Saya berkesempatan bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar saya di Indonesia.

IMG_3517

Saya juga kembali menjalin silaturahmi yang sempat terputus dengan kerabat saya. Kembali saling mengunjungi seperti dulu kala. Bisa saling memberi kebahagian dan penghiburan dibalik duka yang melanda. Dan rencananya, kami akan menghabiskan waktu bersama di acara pergantian tahun. Semoga Tuhan selalu memberi kesehatan dan panjang umur kepada kami. Diberi kesempatan menyambut dan menempuh kehidupan di tahun 2019 dan seterusnya. Doa yang sama saya juga panjatkan ke kalian semua. Selamat menyambut Tahun Baru 2019! 

IMG_3577.jpeg

IMG_4573.jpeg