Rahasia Membuat Pindang Telur Hingga Berwarna Hitam

Saya penggemar telur. Mau diapain juga sukaaaaa! Direbus, diceplok, didadar, disambel, hingga dipindang.

Dulu sewaktu saya tinggal di Medan, saya lumayan suka menjajal kuliner china food di jalan semarang dan selat panjang. Apapun menu makanannya mostly pesan extra telur pindang. Suka banget saya.

Pindang telur umumnya direbus di api kecil. Ada yang direbus berikut kulitnya ada pula yang direbus tanpa kulit. Dan kebanyakan direbus dengan teh untuk menghasilkan warna kecoklatan.

IMG_5672

Tapi tidak sedikit juga yang menggunakan karamelisasi gula pasir. Saya termasuk salah satu yang menggunakan cara ini. Menurut saya hasilnya jauh lebih cakep. Mirip di resto china food. Coklat kehitaman dan lumayan mengkilat.

IMG_5680

Pindang telur jangan dimasak buru buru. Biar hasilnya enak. Kalau cuma menginginkan warna telur yang kecoklatan, 5 menit pun sudah berubah coklat kok. Cuma tekstur telur masih lembek layaknya telur rebus biasa. Masaklah di api kecil kurang lebih 2,5 jam. Setelah itu biarkan semalaman baru disantap. Tekstur telur akan memadat dan kenyal. Bagian dalam putih telur pun berwarna kecoklatan. Warna kuning telur lebih menyala. Dan pastinya rempah rempah meresap hingga ke bagian dalam telur. Enak!

IMG_5685

IMG_5679

Hal penting yang tidak boleh dianggap sepele, sebelum dipindang sebaiknya telur harus dipastikan benar benar matang ketika direbus. Lalu begitu matang buang air rebusan dan segera rendam di air yang benar benar dingin. Bila perlu ganti air dinginnya hingga suhu telur tidak panas lagi. Kemudian kupas kulit telur secara perlahan agar menghasilkan permukaan telur yang mulus. Pastikan lapisan tipis di permukaan telur tidak tertinggal.

IMG_5913

IMG_5912

IMG_5676

Pindang telur bisa dijadikan pelengkap gudeg, mie ayam, mie goreng, nasi tim, nasi hainam, nasi goreng, bubur ayam  atau mau dicemil gitu aja juga enak. Hahaha..

Dan pastinya bikinnya tidak susah. Bisa dicoba.

RESEP DAN TUTORIAL PINDANG TELUR BISA KLIK VIDEO di BAWAH INI

Melihat Smurfs di Dunia Nyata

Saya penggemar garis keras Amanita Muscaria. Tak pernah bosan saya fotoin mereka. Mungkin followers di instagram saya sudah eneg dengan postingan koleksi foto jamur liar yang satu ini. Kegalauan saya berpisah dengan summer lumayan terhibur dengan kehadiran mereka. Iya…dengan munculnya jamur liar ini pertanda musim gugur akan segera tiba.

Saya sudah pernah menulis lebih detail tentang musim jamur di Dalarna di tulisan sebelumnya

Bisa dibaca di situ juga. Koleksi fotonya lebih lengkap.

IMG_5023

IMG_4921

IMG_4688
Istana Smurfs…Hahaha
IMG_5015
Ini ukurannya besar banget loh. Sendirian dia di depan danau kece itu

IMG_4684

IMG_4687
Rumah Smurfs di dunia nyata

Untuk melihat lebih jelasnya, silahkan klik link video di bawah. Bentuknya lucu lucu.

Anggap saja sedang melihat smurf di dunia nyata.

Suka Pizza? Bikin Sendiri Saja!

Siapalah mak yang tidak tahu Pizza. Makanan Italia ini memang sangat mendunia. Kamu penyuka pizza? Kalau saya dibilang suka banget sih ga. Tapi icip icip maulah. Suami saya tuh baru doyan banget.

Pizza yang ideal itu sudah barang tentu berkiblat ke negara asalnya di Italia sana. Jadi bukan pizza modal ditaburi keju dan aneka topping tapi teksturnya tak beda dengan roti biasa. Jatuhnya jadi roti pizza. Pizza yang teksturnya mirip softbuns. Terlalu membengkak. Pizza itu idealnya ga perlu pakai telur dan butter. Karena pizza bukan roti tawar, bukan sandwich bread, bukan roti sobek.

IMG_4630

Pizza yang saya bikin ini condong ke Neapolitan Pizza. Pizza tipis dan lumayan kriuk meski tidak kriuk kriuk banget. Jika harus bersanding dengan hasil bikinan pakar pizza sudah jelas terhempas ciaaoooooo. Tapi setidaknya bisa makan pizza ala italia hasil bikinan sendiri cukup mampu membuat hati berbangga. Apalagi menurut suami dan tetangga, pizza buatan saya memang enak pakai bengeeeetttttt. Bukan hoax….hahaha.

IMG_4673

IMG_4662

Menurut saya adonan pizza tingkat toleransinya lumayan tinggi. Kemungkinan gagalnya relatif rendah. Semisal hasilnya tidak begitu sempurna tapi ketika dimakan rasanya tetap ga aneh di mulut. Tetap rasa pizza. Mungkin karena ketutup aneka topping. Meskipun begitu jika mampu menghasilkan adonan pizza yang lentur dan elastis, gampang direnggangkan dan tidak mudah sobek, tentulah akan menghasilkan pizza yang lebih flavor dan renyah di bagian pinggirannya.

IMG_4634
Berhubung sodokan pizza saya tidak terlalu besar, jadinya lingkaran pizza sengaja saya bikin tidak terlalu lebar. Ini hanya bagian pinggirnya saja yang terlihat tebal akibat gelembung udara  yang dihasilkan fermentasi yang lama. Bagian bawahnya tetap tipis

Pizza Italia itu identik dengan pizza tipis. Pinggirannya cenderung tidak rapi rapi banget, bergelembung akibat gelembung udara dari hasil fermentasi yang relatif lama. Dan toppingnya tidak terlalu heboh karena mereka mainnya di keju. Bahkan jaman dulu malah ga harus ditaburi keju. Cukup dengan saos tomat.

Untuk menghasilkan pizza yang sempurna idealnya dipanggang di suhu yang cukup tinggi (high temperature) di oven batu menggunakan kayu bakar. Cara tradisional yang hingga sekarang masih tetap dijalankan.

IMG_4648

Lalu bagaimana dengan oven rumahan? Bukankah suhunya relatif terbatas? Jawabannya tentu bisa. Cuma hasilnya memang tidak sama persis dengan pizza yang dipanggang di oven batu. Untuk menghasilkan pizza rumahan yang mendekati sempurna, bisa diakali dengan bantuan baking stone. Caranya dengan memasukkan baking stone ke dalam oven ketika oven sudah mencapai suhu tertingginya.

IMG_4636

Sebaiknya masukkanlah adonan pizza ke dalam oven tanpa harus ditaburi keju maupun topping terlebih dahulu. Tujuannya agar adonan pizza lebih gampang diletakin di atas baking stone. Ingat…size baking stone untuk oven pada umumnya relatif terbatas dan tidak terlalu besar. Jadi kalau tangan belum terbiasa dengan teknik menekuk sodokan pizza, kemungkinan besar ada resiko adonan tetap stay di sodokan pizza. Adonan yang belum ditaburi keju dan topping biasanya lebih mudah diletakin ke baking stone karena tidak terlalu berat. Apalagi ketika adonan dimasukkan ke dalam oven, suhu oven sangat panas. Kemungkinan besar keju bisa cepat melting dan lengket disodokan.

Hmmmmm…..kalau baking stone ga punya? Do Not Panic!

Bisa diakali dengan menggunakan baking tray atau loyang. Loyang cukup ditelungkupin. Kemudian letakin adonan pizza di atasnya. Jadi hasilnya lebih cepat kering dan garing.

IMG_4637
Sengaja bikin agak tebal seperti pan pizza

Jika ingin menghasilkan pizza yang benar benar kriuk, gunakanlah loyang khusus yang bagian bawahnya sudah dibolong bolongin. Topping tidak perlu terlalu banyak termasuk saos tomatnya.

Jika ingin menghasilkan pizza yang tebal dan bertekstur lembut, bisa menggunakan pan atau loyang bagian dalam (tidak perlu ditelungkupin). Sebelum memberi topping jangan lupa menusuk nusuk permukaan adonan terlebih dahulu. Baru beri tambahan topping yang lumayan padat. Lama di dalam oven harus disesuaikan dengan ketebalan adonan pizza dan topping. Agar pizza matang sempurna.

IMG_4669

Selain itu bisa juga dengan cara memasukan loyang atau pan berisi adonan pizza yang cuma diolesi saos tomat (tanpa keju dan topping). Lalu panggang di oven selama 5 menit (tergantung ketebalan pizza dan ukuran loyang). Setelah itu baru dikeluarkan dan diberi tambahan topping dan keju. Kemudian dimasukkan kembali ke dalam oven sekitar 10 menit.

Pengulenan adonan pizza bisa beragam. Ada yang nihil pengulenan (no knead) dan langsung difermentasi over night sekitar 12 hingga 18 jam di suhu ruang. Ada juga yang diuleni sebatas kalis atau hingga smooth elastis. Saya pernah mencoba semuanya. Menurut saya adonan yang smooth dan elastis setelah difermentasi hasilnya lebih lentur, ringan dan renyah. 

IMG_4670

Proses fermentasi pada adonan pizza juga beragam. Ada yang short fermentasi cuma sekitar 15 hingga 1/2 jam langsung dimasukin oven. Ada yang cuma 2 jam, 6 jam bahkan long fermentasi selama 24 jam hingga 75 jam di suhu kulkas. Pilihan di tangan anda. Saya memilih fermentasi di atas 24 jam dengan metode slow fermentasi di suhu ruang dan juga suhu kulkas. 

Slow fermentasi dengan rentang waktu yang relatif lama akan menghasilkan adonan pizza yang lebih berongga dan lentur. Lebih mudah direnggangkan dan tidak mudah sobek karena tingkat elastisitas adonan sangat tinggi. Tekstur pizza lebih ringan. Ketika adonan ditekan gelembung udara sangat jelas terlihat.

Sedangkan fermentasi yang singkat membuat adonan minim rongga dan gelembung udara. Akibatnya meski sudah elastis tapi kelenturan adonan belum maksimal. Adonan masih berasa berat dan kurang ringan. Jadi ketika ditekan tekan dengan jari, gelembung udara belum banyak keluar karena adonan masih relatif rapat. Ini menurut pandangan berdasarkan pengalaman saya. 

IMG_4671
Fermentasi yang relatif panjang, biasanya sangat mudah menghasilkan rongga dan gelembung pada bagian pinggir pizza seperti di foto. Dan lebih tasty juga. 

IMG_4635

Sebaiknya penggunaan ragi pada adonan pizza tidak perlu terlalu banyak. Ragi yang relatif sedikit akan melalui proses slow fermentasi. Slow fermentasi butuh waktu lumayan lama. Adonan pizza akan mengembang secara perlahan dan menghasilkan adonan yang lentur sempurna. Konon katanya baker besar di Italia hanya menggunakan 1/2 hingga 1 gram ragi untuk 1 kilogram tepung bahkan bisa lebih. Bisa mengembang? Bisa dong! saya sudah pernah mencoba. Hasil adonan super pluffy.

Berikut resep pizza yang saya bikin (Total fermentasi lebih dari 24 jam). 

Bahan :

  • 500 gram tepung serba guna
  • 2 gram ragi instan
  • 22 gram olive oil
  • 6 gram garam
  • 330 gram air hangat

Saos Tomat :

Untuk saos tomat sebaiknya ditambahkan bubuk merica, bubuk bawang putih, garam dan Thymes herbs (optional).

Untuk keju : gunakan keju kualitas bagus

Cara Membuat:

  • Masukkan air ke dalam wadah. Tambahkan ragi. Kemudian aduk rata (pakai tangan juga boleh)
  • Masukkan olive oil dan tepung. Aduk dengan tangan hingga rata saja.
  • Lalu tuang adonan ke atas meja kerja
  • Uleni sekitar 3 menit (jika adonan lengket di tangan sebaiknya cuci tangan anda dan lanjut menguleni)
  • Setelah diuleni selama 3 menit, tutup adonan dengan serbet basah dan biarkan sekitar 1/2 jam
  • Setelah 1/2 jam lanjutkan menguleni adonan hingga smooth dan elastis (saya butuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit)
  • Lalu bulatkan adonan, masukkan ke dalam wadah yang sudah diolesi dengan sedikit olive oil (minyak zitun)
  • Tutup dengan plastic wrap secara rapat dan timpa dengan serbet basah.
  • Biarkan mengembang di suhu ruang hingga double size (Saya butuh waktu sekitar 6 jam sesuai suhu ruang saya)
  • Setelah adonan mengembang hingga double size tuang ke atas meja kerja.
  • Bulatkan adonan. Bagi menjadi 3 atau 4 bagian (sesuai kebutuhan)
  • Susun masing masing potongan adonan di atas loyang yang sudah ditaburi tepung.
  • Taburi permukaan adonan dengan tepung.
  • Tutup rapat dengan plastik wrap.
  • Masukkan ke dalam kulkas selama 16-18 jam
  • Lalu setelah itu keluarkan dari dalam kulkas dan biarkan di suhu ruang sekitar 1 1/2 jam
  • Setelah adonan dibiarkan di suhu ruang sekitar 40 hingga 45 menit, panaskan oven di suhu 250 atau 275 (suhu tertinggi oven masing masing)
  • Setelah suhu oven tercapai, masukkan baking stone ke dalam oven dan biarkan selama 30 hingga 40 menit.
  • Lalu keluarkan adonan pizza secara hati hati dan perlahan dari dalam loyang menggunakan bantuan scraper.
  • Tuang ke dalam wadah berisi tepung.
  • Letakin di atas meja kerja
  • Tekan tekan permukaan adonan dengan 10 jari tangan mulai dari bawah hingga batas 1 cm dari sisi lingkaran adonan. Jadi sisi lingkaran menggelembung dengan lebar sekitar 1 cm.
  • Balikkan adonan
  • Lalu bolak balik perlahan dengan bantuan dua tangan
  • Kemudian posisikan kedua tangan di bagian central adonan (bisa dikepal atau direnggangkan)
  • Perlahan lahan stretching (renggangkan) adonan dengan cara memutar kedua tangan secara perlahan
  • Lalu letakin adonan di atas sodokan pizza yang sudah ditaburi tepung
  • Tabur saos tomat. Sisakan sekitar 1 cm (tidak terkena saos tomat)
  • Masukkan ke dalam oven selama 5 menit
  • Lalu keluarkan dari dalam oven
  • Taburi mozzarella
  • Beri topping sesuai selera
  • Panggang kembali di oven selama 5 hingga 7 menit (sambil dipantau aja ya)
  • Keluarkan pizza dan siap disantap.

Tutorial jelasnya bisa klik video di bawah ini :

Swedia dan Pengaruh Gereja Pada Masanya

Suatu waktu di saat liburan musim panas, saya dan suami berkunjung ke salah satu kota bernama Luleå. Suami sudah wanti wanti jika kami harus singgah ke kota ini. Ternyata Luleå punya wisata unik. Namanya Gammelstad Church Town, sebuah kota wisata yang sangkin uniknya sampai ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site. 

IMG_2260.jpeg
Gammelstad Church Town
IMG_1816
Rumah rumah kayu berwarna merah di belakang saya punya cerita sejarah

Di sinilah berjejer rapi rumah rumah kayu berwarna merah layaknya komplek hunian pada umumnya. Jika belum mengetahui cerita sejarah dibalik berdirinya bangunan rumah rumah ini, sekilas tidak ada yang istimewa. Cuma bangunan rumah. Tapi begitu tahu jika bangunan ini dibangun untuk apa, barulah masuk akal kenapa sampai dibilang unik.

Sekitar tahun 1600an, masa belum ada moda transportasi, tak sedikit warga Swedia yang bermukim sangat jauh dari lokasi gereja. Buat mereka perjalanan menuju gereja butuh waktu hingga berhari hari. Sebagai negara pertama yang menganut paham Luthern, penerapan aturan gereja kala itu sangat kuat di Swedia.

IMG_3420 (3)

IMG_3441
Barisan rumah rumah ini khusus dibangun warga untuk nantinya digunakan sebagai hunian sementara jika mereka beribadah ke gereja

Setiap warga harus menjadi Luthern. Harus protestan. Harus beribadah ke gereja. Harus dan tidak boleh tidak. Bagi orang orang yang tinggalnya sangat jauh dari gereja diberi kelonggaran. Misalnya dalam setahun diperbolehkan absen beberapa kali tidak mengikuti kebaktian minggu. Setiap beribadah mereka akan didata. Istilah garangnya “diabsen” .

IMG_3443
Church Town selalu identik dan dekat dengan bangunan gereja 
IMG_3454 (1)
Rumah rumah ini pertama sekali dibangun tahun 1600 an. Jumlah mencapai 400 lebih. Sudah mirip sebuah kota. Padahal ini bukan untuk ditinggali selamanya. Hanya ketika warga akan beribadah ke gereja

Jika perjalanan menuju gereja saja butuh waktu berhari hari, bagaimana pulangnya? Butuh waktu berhari hari juga dong. Waktu dan tenaga lumayan terkuras. Mereka butuh waktu untuk beristirahat sebelum mereka kembali pulang ke rumah masing masing.

Lantas dimana mereka tinggal? Jika bicara tentang abad ke16, kehidupan di Swedia masih serba terbatas. Penginapan belum ada. Jalan satu satunya adalah membangun rumah di sekitar lokasi gereja. Di sinilah mereka tinggal sementara sebelum akhirnya pulang ke rumah mereka yang sebenarnya.

IMG_1787

IMG_1788
Bangunan gereja 

Bayangkan…..membangun rumah di masa itu tidaklah mudah. Tapi mau tidak mau harus dibangun. Karena setiap warga wajib ke gereja. Suka atau tidak suka.  Karena jika tidak, ada sanksi yang akan mereka terima. Mereka harus membayar denda.

Ketika melihat secara langsung barisan rumah rumah ini, saya sulit percaya ketika tahu alasan warga membangunnya. Sebuah perjuangan. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka saat itu. Apakah mereka rela, sukacita atau terpaksa. Apakah mereka benar benar ingin memuliakan Tuhan atau tidak. Hanya mereka yang tahu.

IMG_3451 (1)

IMG_3448
Hanya karena gereja sangat jauh dari rumah mereka, bangunan rumah ini pun menjadi ada. Luar biasa.

Rumah rumah di Gammelstat Church Town sudah lumayan banyak yang mengalami renovasi. Bahkan ada yang sudah diperbesar. Hingga saat ini semua bangunan rumah di Gammelstat church town masih ada pemiliknya (privat). Ditempati dan bahkan ada yang sedang proses dijual ke publik.

IMG_3447
Rumah sengaja dibangun di dekat gereja.

Gammelstat Church Town memiliki  408 rumah. Buaaaanyak banget! Mirip sebuah kota. Kota gereja tepatnya. Bangunan rumah rata rata berukuran kecil dan tidak terlalu tinggi. Pun susunan kayu tidak begitu rapi. Semua rumah nyaris berdempetan. Berbeda dengan tipikal rumah hunian Swedia yang pada umumnya saling berjauhan.

Seiring waktu rumah rumah ini bertambah fungsi. Tidak melulu karena ibadah gereja, warga juga menempati rumah kedua mereka ketika menghadiri pertemuan besar, pasar natal, pasar tradisional dan perayaan musim panas yang lagi lagi kala itu selalu diadakan di sekitar lokasi gereja.

IMG_3435 (1)

Swedia dulunya memiliki banyak “Church Town”. Setidaknya 71 church town pernah berdiri di seluruh wilayah Swedia. Tapi yang masih bertahan dan tetap lesatari hingga saat ini hanya tinggal 16 church town. Church town yang paling luas dan besar serta the best adalah Gammelstad churh town di Luleå ini.

Lebih detailnya keunikan bangunan rumah rumah di Gammelstad Church Town bisa dilihat pada rekaman sederhana pada video di bawah. 

Kenapa church town di Swedia bisa sebanyak itu? karena power gereja di masanya sangat kuat di Swedia. Bisa dibilang di masa itu “semua tentang gereja”. Raja dianggap sebagai utusan Tuhan. Raja hanya mendengar dan menjalankan apa yang menurutnya baik untuk Tuhan. Raja tidak perlu mendengar keluhan rakyat tapi suara Tuhan. 

Sehingga keluarlah ultimatum setiap warga harus ke gereja. Bagaimanapun caranya. Jadi bukan karena panggilan hati. Pengenalan agamanya bukan melalui penyebaran firman dan pendekatan secara rohani.

Tidak usah jauh jauh deh. Di desa tempat saya tinggal, orang orang harus berkuda sekitar 50 kilometer menuju gereja. Bahkan orang orang yang tinggal di pulau ada yang meninggal karena mereka harus berjalan di atas danau yang belum benar benar membeku dan tenggelam ke air yang super dingin. Gereja berada di pulau lain. Dan waktu itu belum ada jembatan penghubung antar pulau.

IMG_0618
Ini juga church town. Tapi beda wilayah.

Tidak sedikit yang menerima dan menjalankan aturan gereja dengan sukarela dan sukacita. Tapi tidak sedikit juga yang hopless, kecewa dan marah. Sehingga kemiskinan kala itu dan kerasnya aturan gereja membuat warga Swedia banyak yang berimigrasi ke Amerika Serikat. Waktu itu selevel pendeta tidak hanya disegani tapi juga ditakuti. Bahkan tanda tangan seorang pendeta sangat menentukan apakah seseorang bisa keluar mengadu nasib ke Amerika/negara lain atau tidak.

IMG_0643
Rumah suku sami. Sengaja dibangun karena rumah warga sangat jauh dari gereja. 
IMG_0625
Härbre, bangunan khas orang Swedia. Sengaja dibangun karena rumah warga sangat jauh dari gereja. 

Semua aktivitas dan perayaan tahunan harus berpusat di sekitar gereja. Jadi warga yang tinggalnya sangat jauh dari gereja harus membangun rumah di sekitar gereja sebagai tempat persinggahan sementara. Inilah yang membuat mengapa church town relatif banyak di Swedia.

Church Town lain yang sempat kami singgahi adalah Lappstaden Arvidsjaur. Berada di Lapland dan bangunannya masih lebih tradisional. Lagi lagi dibangun warga karena tempat tinggal mereka sangat jauh dari gereja.

Setengah bagian dari keseluruhan bangunan di Lappstaden Arvidsjaur adalah bangunan suku Sami. Sebagiannya lagi bangunan Härbre milik warga Swedia. Hingga sekarang bangunan bangunan ini masih ada pemiliknya. Jadi bukan open air museum. Tapi turis bisa mengunjungi tempat ini setiap saat. Dibuka untuk umum selama 24 jam penuh.

Masing masing pemilik rumah rumah hingga saat ini masih rutin melakukan kegiatan tahunan. Di bulan Agustus biasanya mereka mengadakan pertemuan dan perayaan besar. Sekedar meneruskan tradisi yang ada.

IMG_0685

IMG_0684

Lain lagi di wilayah Rättvik Dalarna Swedia, tidak jauh dari halaman gereja berdiri barisan rumah rumah kayu kecil yang sangat tradisional. Bedanya bangunan kayu ini bukan untuk manusia melainkan untuk ternak kuda.

IMG_3874
Ini bukan rumah hunian manusia melainkan rumah untuk kuda. Dibangun di sekitar halaman yang tidak jauh dari gereja.
IMG_3875
Kandang kuda ini sengaja dibangun agar kuda warga bisa beristirahat di sini ketika warga sedang beribadah. Gila ya…sampai khusus membangun kandang kuda. 
IMG_3876
Barisan kandang kuda ini menjadi wisata unik di Dalarna Swedia. 

Bayangkan hanya untuk beribadah ke gereja mereka khusus membangun rumah untuk kudanya. Kenapa? ini terkait jika musim dingin tiba. Jadi ketika mereka beribadah, kuda kuda ini tidak akan kedinginan. Habis beribadah mereka akan kembali lagi ke rumah masing masing. Setidaknya 192 kuda bisa ditampung di rumah rumah kuda ini. Amazing!

Klik video di bawah untuk melihat secara detail rekaman church town di Lappstaden Arvidsjaur 

Lantas bagaimana power gereja di Swedia di jaman serba digital sekarang? lambat laun mulai berkurang. Setiap orang bebas menentukan pilihan. Bebas untuk tetap beriman kepada Tuhannya atau bebas untuk menjadi seorang yang tidak percaya.

Bebas menyembah apa saja sekalipun selevel doraemon, kalajengking, ironman, spiderman atau apalah itu. Kekecewaan akan catatan sejarah di masa lampau bukan tidak mungkin membuat rakyat Swedia memilih untuk tidak percaya Tuhan. Iya…tak bisa dipungkiri jika Swedia adalah salah satu negara yang penduduknya lebih banyak memilih menjadi Atheis.

Swedia 2019