CHALLAH BREAD

Sudah tahu kan Challah Bread? Iya……ini termasuk salah satu roti terkenal terkhusus di kalangan barat. Roti ini merupakan roti tradisional jewish dan sebagian besar dikepang (braided) dan disajikan di saat shabbat atau holiday mereka.

IMG_0072~photo-full

Sejujurnya dari segi rasa sih tidak jauh berbeda dengan roti lainnya. Paling yang membuat lebih mudah dikenali dari bentuk kepangannya. Tapi bukan berarti roti yang dikepang disebut challah bread ya karena challah sedikit berbeda. Memiliki warna golden brown yang sangat kuat dan cenderung gelap. Kulitnya sedikit tebal tapi dalamnya empuk. Dan aromanya jelas lebih harum karena kandungan telurnya relatif banyak. Mungkin karena challah tidak menggunakan butter jadi lemak hewani dan rasa gurihnya didapat dari telur tadi.

IMG_0077~photo-full

IMG_0083~photo-full

Di tahap pengulenan adonan challah tidak memerlukan pembentukan gluten yang maksimal hingga window pane. Pengulenan cukup singkat antara 5 hingga 8 menit.  Dan idealnya menggunakan tepung protein sedang atau serba guna. Bahkan ada bakers yang menggunakan tepung protein rendah. Karena jika gluten terbentuk sempurna akan lebih mempermudah pembentukan gas di dalam adonan. Dan ini nantinya akan menghasilkan roti yang terlalu chewy dan kurang padat. Apalagi challah bread rata rata dikepang. Biasanya roti yang dikepang itu beresiko lebih cepat kering. Jadi itulah sebabnya penggunaan tepung serba guna dan pengulenan yang relatif cepat diperlukan dalam proses pembuatan challah. Jadi ketika disobek pun tidak terlihat kempes melainkan padat.

IMG_0091~photo-full

Challah bread ini dipanggang rata rata di suhu 180 derajat celcius layaknya roti kebanyakan tapi permukaannya relatif cepat mengeras dan gelap. Kenapa? karena itu tadi, pembentukan glutennya tidak terlalu berlebihan. Jadi pada saat proofing pertama saya hanya membiarkan adonan mengembang mendekati double in size. Bahkan ada yang cuma 1 1/2 kali lipat mengembangnya. Barulah di tahap proofing kedua harus benar benar double in size. Tapi tidak boleh over proofing.

IMG_0100~photo-full

IMG_0094~photo

Untuk proofing pertama yang mengembangnya cuma 1 1/2 kali lipat akan mengahsilkan tekstur roti yang jelas sekali terlihat lebih padat cuma karena adonan tidak saya bagi dua, permukaannya terlalu retak. Meski dikebanyakan resep roti challah bagian yang retak ini masih dianggap wajar malah terkesan lebih rustic. Cuma saya kurang puas saja. Untuk proofing pertama yang mendekati double in size hasilnya lebih sedikit light. Dan saya lebih suka yang ini.

IMG_0036~photo-full
Proofing pertama kurang lebih mengembang 1 1/2 kali lipat saja. Tekstur sedikit lebih padat
IMG_0104~photo-full
Proofing pertama mendekati double in size. Tetap padat tapi lebih light dan lembut

Lama waktu yang diperlukan untuk tahap proofing tergantung suhu ruang. Karena adonan mengandung banyak telur biasanya fermentasi sedikit agak lambat. Tapi rata rata waktu yang saya perlukan sekitar 2 1/2  jam hingga 3 jam untuk proofing pertama dan kedua. Suhu ruang saya sekitar 24 derajat celcius. Lagi musim dingin. Jadi kalau suhu ruang lumayan panas mungkin bisa lebih cepat dari waktu yang saya butuhkan.

_MG_7799.JPG
Ini adonan tidak saya bagi dua. Akibatnya terlalu besar dan kepangan terlalu retak ketika dipanggang

Dari tiga kali percobaan saya menyimpulkan challah sebaiknya jangan dikepang dengan adonan yang sangat berat. Nanti ketika dipanggang terlalu mengembang ke atas dan akibatnya permukaannya terlalu cepat gelap karena dekat ke bagian atas oven. Selain itu kepangannya jadi gampang retak karena kepangan terlalu padat.

IMG_0069~photo-full
Ini sudah saya bagi dua. Dan hasilnya sesuai dengan keinginan saya

Untuk takaran adonan yang saya buat di resep ini adonan saya bagi dua. Satu bagian seberat 450 gram dan satunya lagi sekitar 300 gram. Mau dibuat sama berat juga boleh. Masing masing adonan itu saya bagi 6. Saya menggunakan 6 kepang dan jika dirasa sulit bikin 3 kepang saja juga boleh.

IMG_0045~photo-full
Usahakan panjang adonan yang dikepang sekitar 30 hingga 35 cm

Tips untuk mengepang ini usahakan gas di dalam adonan benar benar sudah keluar semua. Gilas serata mungkin sebelum dipanjangin. Karena jika gas masih tertahan di dalam adonan maka kemungkinan adonan akan menjadi kurang rilex ketika dirolling dan dikepang. Efeknya? adonan akan membal dan tidak elastis. Ditarik memanjang susah dan malah mengkerut lagi. Usahakan panjang jalinan jangan terlalu pendek. Sekitar 30 ke 35 cm lah. Jadi kepangannya cakep dan ketika dipanggang adonan tidak akan terlalu meninggi ke atas.

IMG_0030~photo

IMG_9782~photo-full
Akibat terlalu besar. Terlalu retak. Tapi dimakan tetap enak
IMG_9779~photo-full
Mirip kura kura …hahaha
IMG_9788~photo-full
Meski retak tapi jadi eksotik

Menurut saya challah bread ini unik dan pantas saja digemari. Terkesan biasa tapi setelah dimakan teksturnya itu bukan seperti roti tawar biasa. Susah saya jelasin. Padat tapi lembut. Di mulut berasa ringan. Challah bread ini meski tidak semoist roti tawar biasa, tapi meski berhari semakin enak. Tidak keras. Baik permukaan dan bagian dalamnya tetap stabil layaknya di hari pertama bikin. Jadi saya merekomen kalian membuat roti ini.

IMG_0104~photo-full

Ayolah…ini udah tahun 2021…perbanyak jam terbang bakingnya jangan diseputaran roti kasur melulu. Oke!

Happy baking dan selamat mencoba.

Untuk melihat resep dan tutorialnya kalian bisa melihat link youtube saya berikut ini :

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s