Trip to Canary Island : Las Palmas (Kota Sejuta Palma), Hingga Rumah Colombus dan Belanja Asik

Seperti yang sudah gue tulis di tulisan sebelumnya, ada beberapa tour yang kami ikuti selama berada di Canary Island, tepatnya di pulau Gran Canaria. Dan kali ini, gue akan bercerita tentang kota yang tak lain merupakan salah satu dari “dua ibukota” yang dimiliki oleh Kepulauan Kanaria (Canary Island). Apalagi kalau bukan kota Las Palmas.

Las Palmas buat gue adalah sebuah kota yang apik dan bersih. Disebut Las Palmas karena kota ini memiliki tanaman Palma yang sangat banyak. Nyaris ada di setiap sudut jalanan kotanya.

IMG_8889.jpg

IMG_8843.jpg

Sebenarnya tidak hanya di kota Las Palmas, di kota lain di pulau Gran Canaria pun, pohon Palma mudah dilihat. Mungkin karena pertumbuhannya yang subur, sehingga pemberian nama Las Palmas sebagai nama ibukota menjadi lebih tepat.  Naik bus, jalan kaki, selalu terlihat pohon Palma. Berasa lebih sejuk di suhu kota laut yang lumayan hangat.

IMG_8855.jpg

IMG_8845.jpg

IMG_8846.jpg

Las Palmas itu kece. Gambaran ibukota yang eksotic. Gue bisa menikmati barisan pohon Palma, shopping mall besar, hingga ombak laut secara bersamaan. Bahkan sambil makan ikan goreng segar, di restoran sepanjang jalan di depan laut.  Ikan gorengnya  ala Indonesia pulaaak. Bodynya masih ori. Lengkap dengan kepala, ekor, sirip, bahkan matanya. Hahaha. Sexy banget kan. Selera banget gue makannya. Salmon dan Torskfish filet langsung kalah.

IMG_8858.jpg

IMG_8842.jpg

IMG_8856.jpg

IMG_8857.jpg

Las Palmas merupakan pusat perwakilan dunia wisata di Gran Canaria. Baik hotel, toko, butik mahal hingga murah menggila, shopping mall, old town, gedung modern, dan pastinya laut, semuanya bercampur baur jadi satu paket di kota ini. Lautnya ala ala film Bay Watch gitu.

IMG_8887.jpg

IMG_8888.jpg

IMG_8885.jpg

IMG_8886.jpg
Ibukota di pinggir laut. Ga crowded pula

Salah satu objek wisata yang banyak dikunjunjungi di kota Las Palmas adalah wilayah Old Townnya. Jika gue bandingkan dengan kota tua di beberapa negara yang pernah gue kunjungi, kota tua di Las Palmas sih biasa aja. Tapi tetep menarik buat ditelusuri. Seperti gambar di bawah ini.

IMG_8873

Cuma, di kota tua Las Palmas berdiri sebuah rumah antik yang pernah ditinggali oleh sosok penjelajah yang terkenal seantero jagat. Siapa lagi kalau bukan Christopher Colombus, pria yang disebut sebut sebagai penemu benua Amerika (meskipun sampai saat ini keakuratannya masih simpang siur).

Rumah bernama Casa De Colon yang konon katanya pernah ditempati Colombus pada tahun 1492, tepatnya ketika beliau berlayar menuju Amerika. Colombus mengalami masalah dengan kapal layarnya, yang mengharuskan beliau berhenti di pulau Gran Canaria. Tujuannya adalah untuk menetap sementara di pulau ini dan melakukan perbaikan atas kapal layar yang rusak.

IMG_8869.jpg
Bagian belakang bangunan Casa De Colon (Rumah/museum Colombus)

Awalnya Casa De Colon merupakan rumah kediaman kepala pemerintahan Gran Canaria pertama di jaman itu, dan dianggap sebagai rumah kalangan elite. Mau tau salah satu ciri khas rumah kaum elitenya? Dari balkon bangunannya.

Balkon bangunan pun harus tertentu. Terbuat dari kayu ukiran. Bahkan sampai sekarang, balkon seperti ini masih dipertahankan. Jika ada rumah antik peninggalan jaman dulu yang memiliki balkon kayu dan kemudian mengalami renovasi atau dijual, maka balkon balkon tersebut tetap diambil atau digunakan ke bangunan yang baru.

Casa De Colon artinya Rumah Colombus. Rumah antik yang sudah kelihatan berumur. Setelah mengalami renovasi pada tahun 1777, di tahun 1953 Casa De Colon resmi dijadikan museum.

Dalam museum juga tidak ada yang terlalu luar biasa (lagi lagi menurut gue). Paling hanya peta peta wilayah dunia yang pernah dijelajahi Colombus, lukisan lukisan besar yang gue kurang ngerti hubungannya apa dengan sosok si penjelajah, buku buku dengan tulisan tangan yang sudah sangat tua di dalam etalase (gue ga baca tentang apa tulisan itu), miniatur kapal layar jaman bahela, dan puncaknya sebuah ruangan yang sengaja diciptakan dengan nuansa Colombus. Seperti tempat tidur Colombus lengkap dengan kursi, pernak pernik drum kayu, tali berukuran besar, jangkar, pokoknya berbau pelayaran laut jaman dululah. Lengkapnya bisa dilihat pada akhir tulisan ini. Gue nyantumin link youtube gue.

IMG_8839
Bangunan rumah sekitar katedral. Balkon diberi kain warna merah sebagai peringatan menyambut Paskah
IMG_8877
Katedral Santa Ana bersampingan dengan Casa De Colon (bagian depan)

Gue sih lebih suka melihat bangunan luarnya. Gambaran design arsitek bangunan di jamannya. Oh iya, begitu kami mau keluar, terlihat dua ekor burung kenari yang warnanya ngejreng banget. Sengaja diletakin di lantai. Sudah jinak. Jadi meskipun didekati tidak panik lagi. Kenari adalah burung yang konon memiliki habitat yang banyak di Canary Island.

Tepat di samping Casa De Colon, terdapat Katedral SantaAna. Dibangun sejak tahun 1500, namun hingga saat ini pembangunan gereja tidak rampung juga. Gila banget.

IMG_8878.jpg
Katedral Santa Ana tampak depan

Infonya sih, gereja ini sepanjang masa selalu melakukan pembangunan demi pembangunan terhadap gedung gereja. Makanya tak heran jika Santa Ana memiliki ruangan gereja yang luas dan besar, dan arsitek bangunan di bagian depan dan belakang pun mewakili tahun dan jaman yang berbeda. Bisa gotic, klasik dan semi klasik.

IMG_8870.jpg
Katedral Santa Ana dari belakang
IMG_8863.jpg
Di dalam katedral Santa Ana
IMG_8864
Bangunan lain yang menyatu dengan katedral Santa Ana

Nah enaknya lagi nih, tour yang kami ikuti memberi kesempatan berbelanja kurang lebih 3 jam. Lumayan kan waktunya. Buat gue, meskipun bukan surga belanja (karena toko tokonya tidak terlalu banyak), tapi Las Palmas bisa jadi kota yang asik untuk sekedar berbelanja. Karena lumayan murah.

Tidak di Las Palmas aja sih, bahkan di beberapa tempat lain juga lumayan murah. Bahkan di butik hotel tempat kami menginap, gue membeli gaun malam dengan harga yang relatif ramah di kantong. Cuma 20 Euro. Bahan dan jahitannya bagus. Di badan enak dipakai.

Jika berlibur, berbelanja bukanlah kegiatan yang harus di gue. Kalau sempat okeh dan kalau ga ya udah. Beda kalau souvenir ya. Itu wajib. Karena gue suka ngumpulin souvenir mini gitu.

Tapi jauh hari sebelum berangkat ke Canary Island, gue memang sudah berniat pengen belanja. Dengan asumsi, harganya pasti lebih murah dibanding Swedia. Apalagi tak sedikit barang dagangan di Swedia yang menjual made in Spain. Jadi kalau beli di Spain logikanya sih bisa lebih murah ya. Apalagi katanya (kata pegawai tokonya sih), negara ini tidak mengenakan pajak atas banyak barang dagangan. Betul ganya malas mastikan. Hahaha.

Tapi meskipun begitu, gue memang berniat belanja serius hanya di kota Las Palmas. Tidak di pusat perbelanjaan kawasan Maspalopas Playa Del Ingles tempat kami menginap. Agak takut dan kurang nyaman. Apalagi setelah mendapat pengalaman tak mengenakkan dengan beberapa pedagang di kawasan ini. Gue akan tulis terpisah tentang pengalaman nyebelin itu.

Dan yang gue lihat sih, attitude pegawai toko di Las Palmas terlihat lebih baik. Lebih santai mereka jagain tokonya. Ga ngintilin. Kasarnya sih lo beli oke, ga juga ga apa. Ga dipaksa harus membeli. Sebel ga sih, di underestimate gitu. Pas belanja pula. Sial banget rasanya.

Nah, pas belanja, gue ketemu satu toko yang nyaris membuat gue setengah kalap. Kadang insting belanja itu kan ga bisa bohong ya. Maksudnya sekalipun harga murah, kalau barangnya terlihat ga bagus, ya ga ada yang istimewa juga.

Cuma pas masuk ke toko ini, gue dan suami sampai bisik bisik, ini benar ga sih harganya. Rata rata cuma 10 dan 12 Euro. Kalaupun ada yang mahalan, paling jumlahnya ga gitu banyak. Sampai kami mikir, jangan jangan nolnya kurang nih. Bukan 10 tapi 100 Euro. Hahaha.

FA74C4BB-02B0-4323-A431-93BD2C823F7B

Gue lihat high heelsnya, baik model, bahan dan warnanya bagus bagus. Kelihatan sexy. Sepatu sneakernya juga. Lumayan nyaman di kaki. Maksudnya dengan harga segitu loh. Tasnya apalagi. Meskipun sintetis, ga kaku kaku bangetlah. Jahitan dan bagian dalamnya rapi dan talinya kuat.

Awalnya suami gue agak angot angotan pas gue suruh nyoba sepatu. Ternyata pas dia coba, lumayan enak dipake jalan. Dan sudah beberapa kali dia pake loh. Okeh aja tuh di kaki. Harganya cuma 14 Euro. Belinya nothing to loselah.

Cuma sayang banget deh, waktu itu suami gue ngajak ke toko lain. Dengan pemikiran mungkin ada yang lebih menarik lagi. Sebenarnya kalau gue sih ga harus ngider sana sini ya. Kalau uda ketemu yang cocok, ya sudah. Ngapai capek sana sini lagi. Toh di sini juga lengkap bagus. Dan bener aja. Sampai habis waktu, toko lain uda lumayan mahal.

Tapi seperti yang gue bilang tadi, memang uda niat belanja. Terutama nyari brand lokalnya. Seperti BimbaY Lola. Gue suka banget produk label ini. Bahan kulitnya lembut. Selembut saldo di tabungan melayang. Huuaaahaha. 

Pas pula ketemu yang warnanya gue suka. Peach Pink. Modelnya simple, ga terlalu besar dan ga kecil banget juga. Menurut gue bisa dipakai formil bisa juga pas santai.

Sebenarnya urusan belanja kaya gini tergantung selera sih ya. Baik model, kualitas dan murah ganya tergantung masing masing orang. Buat gue mihil mungkin bagi orang lain murah. Sebaliknya gue bilang murah mungkin bagi yang lain mihil. Atau gue bilang cakep dan kualitas lumayan, bagi orang lain malah kelihatan abal abal. So, penting bisa belanja aja uda senanglah.

Salam dari Swedia

“Semua foto sebagian besar gue ambil dengan menggunakan handphone dan merupakan dokumentasi ajheris.com”

Trip to Canary Island (Playa Del Ingles dan Indahnya Gurun Ala Sahara)

Selayang Pandang tentang Canary Island sudah ada di tulisan gue sebelumnya. Kali ini gue akan menulis sedikit lebih detail tentang salah satu tempat yang gue dan suami singgahi di Canary Island.

Kami berangkat ke Canary Island pada tanggal 5 April 2017. Membooking tiket, hotel dan pesawat melalui Ving, travel company yang melayani jasa holiday ke Canary Island. 

Melalui travel company inilah kami bisa terbang tanpa harus jauh jauh ke Arlanda Stockholm. Cukup ke bandara udara terdekat di kota Borlange Dalarna.

IMG_8084.JPG

h.jpg
Salah satu sudut kota Playa Del Ingles

Dengan bantuan teman baik suami yang bersedia mengantar kami ke bandara, kami berangkat menjelang siang dan masih sempat lunch di kota Borlange. Setibanya di bandara, tidak pake lama kami langsung check in.

IMG_8104.JPG

Sambil menunggu boarding, gue melihat semua orang di cafe bandara dipastikan warga Swedia. Dan rasa rasanya pun dipastikan lagi mereka memang hendak liburan.

Atmosfir “Welcome Holiday” sudah sangat berasa. Orang Swedia yang gue kenal sebagai penggila kopi pun nyaris lupa kalau kopi adalah minuman kegemaran mereka. Sepertinya awal perjalanan liburan ini bagi mereka lebih cocok dimulai dengan sebotol bir. Jadi semua meja penuh dengan bir. Kelihatan sekali senang senangnya. Skål!

IMG_8101.jpg
Ketemu kejadian tidak mengenakkan di kawasan shopping center di dekat centrum ini. Akan gue tulis di bagian  scammer.

Tepat pukul 15.30 waktu Swedia pesawat take off. Oh God!

Betapa perut gue kram selama penerbangan. Yang tiba tiba kena migranlah, sendi sendi kok kayanya ngilu, diajak ngomong suami marah, maunya diam aja menikmati stress. Aneh banget. Dikit dikit melihat jam tangan. Trus ngomong dalam hati “ngapai harus ke Canary Island sih ampe terbang 5 jam lebih gini”.

IMG_8103.jpg

Sampai makan pun ga selera. Pokoknya benar benar depresi. Ampe mau nangis setiap turbelensi dan peringatan lampu sabuk pengaman. Sekalipun disebut turbelensi adalah hal yang wajar di dunia penerbangan, tetap aja ga ngaruh dan malah memicu syndrom gue. Cuma lagi lagi gue mikir “tenang, kan gue mau senang senang. Paling ga sejenak bisa melupakan timbunan setrikaan dan tang ting tung sendok kuali di dapur”.

IMG_8098.jpg

IMG_8105.jpg

Kami tiba di Las Palmas Airport sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Swedia beda satu jam lebih awal. Cuaca masih lumayan terang. Begitu bagasi beres, kami langsung bertemu perwakilan dari Ving. Langsung cek nama dan hotel, beliau pun menunjuk bus yang kami harus naiki.

IMG_8163.jpg

IMG_8082.jpg

Driver busnya agak nyebelin. Ga ada manis manisnya. Ngomongnya sedikit galak. Apa memang karakternya begitu kurang tau juga. Yang jelas namanya penumpang tetap aja kurang nyaman. Mana mood gue masih berantakan pula. Dan benar saja, nyetirnya kencang banget. Ampe suami gue yang jarang complain itu pun sedikit pasang muka bete. IMG_8154.jpg

Berhubung makanan di pesawat ga gue sentuh sama sekali, jelas dong gue lapar. Sesampainya di hotel kami langsung berinisiatif mencari makan. Dan ternyata cafe restoran masih banyak yang buka. Rata rata sampai pukul 12 malam. Kami masuk ke sebuah restoran bernuansa Brazil. Dan malam itu pun titik awal kami menikmati liburan di Canary Island. Yipiiii!

IMG_8157.jpg
IFA Dunamar Hotel. Salah satu iconic di Playal Del Ingles

Dari tujuh atau delapan pulau besar yang dimiliki Canary Island, kami memilih Gran Canaria sebagai salah satu pulau terbesar di Canary Island setelah Tenerife. Di pulau Gran Canaria inilah terdapat kota Las Palmas yang sekaligus  menjadi satu dari dua ibukota yang dimiliki kepulauan Kanaria (Canary Island).

IMG_8171 (1).JPG

Sebagai ibukota Canary Island tentu saja  pembangunan infrastruktur lumayan berpusat di Gran Canaria terutama di kota Las Palmas. Mulai dari jalanan yang oke, penataan kota yang indah, hotel dan cafe restoran dimana mana, hingga shopping center.

Selain Las Palmas dan Puerto Rico, Playa Del Ingles adalah salah satu resort  yang menjadi pusat tujuan wisata di Gran Canaria. Playa Del Ingles sendiri termasuk dalam wilayah kota Maspalomas. Pantainya indah karena memiliki bibir pantai yang luas. Bangunan hotel sangat banyak berjejer rapi di kawasan ini. Dan lokasinya rata rata tidak begitu jauh dari pantai.

IMG_8096.jpg

IMG_8070.jpg

IMG_8115.jpg

Berjalan di sekitar tepian pantai jangan kaget jika melihat banyak wisatawan yang berlalu lalang dan tiduran tanpa mengenakan pakaian alias naked. Cuma kawasan pantai memang dibagi dua kelompok. Yang satu untuk kalangan Nudis dan satunya lagi Non Nudis.

Terus terang gue risih sih. Jangankan gue, suami gue yang notabene bule pun lumayan risih. Apalagi ada beberapa wisatawan yang tetap naked dan memilih tempat berjemur di kawasan Non Nudis (campur dengan anak anak).

IMG_8153.JPG

IMG_8111.jpg

IMG_8085.jpg
Kawasan pantai ini bukan untuk Nudis. 

Playa Del Ingles juga memiliki kawasan Gurun Pasir ala ala Sahara yang lumayan luas dan merupakan cagar nature yang dilindungi oleh pemerintah setempat.

Gurun pasir di sekitar pantai kawasan Playal Del Ingles ini masih bersatu langsung dengan bibir pantainya. Sehingga pemandangan dari gurun pasir terlihat seperti tiga dimensi. Di satu sisi hanya terlihat hamparan gundukan bukit pasir, di sisi lain bisa juga melihat gurun sekaligus laut bahkan bangunan bangunan di sekitar. Eksotik sekali.

IMG_8092

IMG_8093.JPG

IMG_8089.JPG
Gundukan pasir ini kelihatannya ga tinggi ya. Aslinya tinggi loh. Dan lumayan perjuangan naik ke atasnya. 

Gue senang banget melihat gurun pasir ini. Terpersona tepatnya. Ternyata berjalan di atas gurun itu sangat melelahkan. Kebayang kan melangkah di atas gundukan pasir tebal dan kering.

Apalagi kalau gurunnya berbentuk bukit dan menanjak gitu, mau naik rasanya ga nyampe nyampe karena kaki serasa terdorong ke belakang di bawa pasir. Capek banget. Semakin ke atas semakin berasa anginnya. Alamat pasir kena ke muka dan badan.

Tapi gue ga peduli bangetlah urusan yang begini mah. Mau kena pasir apa ga yang penting hati gue senang berada di tempat yang selama ini cuma bisa gue lihat di tipi tipi. Jadi ingat istilah kaum musafir di tengah gurun. Yang jelas berada di gurun pasir yang gundukannya paling tinggi rasanya excited banget.

IMG_8087

IMG_8072.JPG

IMG_8091.JPG

IMG_8090.JPG

Jika memasuki kawasan gurun dari tepian pantai banyak terlihat gundukan rumput yang lagi lagi kaum Nudis berjemur diantara semak rumput ini. Bahkan sepertinya mereka memilih masuk ke tengah tumpukan rumput dan tiduran di sana. Lebih privacy juga sih. Ide yang bagus. Hahaha.

IMG_8088 (1)

IMG_8206.jpg
Tumbuhan rumput ini lumayan banyak di sekitar pantai. Di kawasan Nudis, tak sedikit wisatawan yang berjemur di sekitar tanaman ini bahkan ada yang masuk ke dalam. Lebih privacy mungkin ya

Selain dari bibir pantai, gurun pasir juga bisa dilihat dari kawasan Sahara Club. Semacam pedestrian di ketinggian gitu. Aksesnya bisa dinaiki melalui anak tangga yang terdapat di sekitar kawasan Shopping center Anexo II.

IMG_8077.jpg
Melihat View gurun dari sini. Jalan jalan di sini enak. Adem dan view kiri kanan oke. Ya bangunan, ya gurun juga

Menikmati pagi dan sore di jalanan ini lumayan asik. Bangunan bangunan di sekitarnya pun lumayan kece. Gue kurang tau pasti apakah berbagai bangunan di sisi jalan merupakan rumah atau penginapan.

Bunga, kaktus, pohon palma, menjadi pelengkap keindahan kiri kanan jalan. Dan puncaknya tentu saja hamparan gurun pasir yang bisa dilihat dari ketinggian. Melihat kepala manusia ibarat titik titik hitam yang bergerak berjalan.

Selain itu kawasan Shopping Center Anexo II sepertinya menjadi pusat hang out di Playa Del Ingles. Cafe, bar dan restoran berjejer di sini. Berada pas di bibir pantai.

IMG_8159.jpg
Sebagian restoran di Anexo II, pas di samping pantai
IMG_8150.jpg
Si Merah yang selalu melayang :0
IMG_8205.jpg
Menikmati sore

Mau cari souvenir juga ga perlu pindah ke lain tempat lagi. Banyak yang jual. Ada satu hal yang menarik perhatian gue. Karena banyak sekali souvenir di Playa Del Ingles berbentuk Tokek (kadal raksasa) atau pernak pernik yang pasti ada tokeknya. Mulai dari mug, tempat lilin, bingkai foto, piring, hingga handuk.

Sangkin penasarannya gue nanya dong ke pegawai toko. Ternyata menurut beliau, Gran Canaria memiliki populasi tokek yang sangat banyak. Bahkan bisa dilihat di tumpukan rumput di tepi pantai tempat kaum Nudis jemuran. Tapi setiap kami ke pantai ga pernah tuh nemuin tokek. Bahkan sengaja menilik ke tumpukan rumput (menilik pas ga ada orang jemuran ya..hahaha), dan tetap aja tokeknya ga keliatan.

IMG_8113
Tokek, ciri khas souvenir di Gran Canaria
IMG_8117
Flamengo, yang terbawa pulang

Dan satu lagi yang tak kalah membuat gue heran campur ketawa, souvenir dalam bentuk alat kelamin pria juga banyak banget. Kalau ini malas nanyanya kenapa. Hahaha.

Mungkin karena daerah pantai ya. Dan banyaknya kaum Nudis yang tanpa pakaian berjemur di sekitar pantainya. Tapi jadi lucu ngelihatnya. Motif dan warnanya beraneka ragam.

Oh iya, berhubung massage di Swedia lumayan mahal, jadi gue ga menyia-nyiakan massage di sini (walaupun massage kaki doang sih). Cuma 10 Euro per duapuluh menit. Ga pake appointment pula. Sangkin maruknya tiga hari berturut turut gue mijet.

Bahkan pas gue datang pertama kali, mereka lagi sibuk banget dan bilang tidak bisa melayani gue. Ehhh pas gue belum jauh ninggalin mereka, gue dipanggil lagi dong. Ternyata ya mak……mereka nelpon karyawan yang kebetulan ga tugas hari itu. Tempo 15 menit nyampe tau. Di Swedia tepatnya di Mora, impossible kuadrat rasanya bisa kaya gini. Hahahha.

IMG_8116

Kawasan di sekitar Anexo II lumayan setiap hari kami datangi. Kebetulan pas di sebelah hotel. Bahkan dua hari sebelum balik ke Swedia kami memutuskan hanya menghabiskan waktu di sekitar Anexo II. Berjemur di pantai, makan, minum fresh juice. Gue puas puasin deh. Secara di Mora mana ada jual fresh juice.

IMG_8074.jpg

IMG_8158.JPG

Sebenarnya ada beberapa shopping center di Playa Del Ingles. Tapi menurut gue sih kurang menarik. Semua tempat belanja di sini dinamai Shopping Center sekalipun cuma terdiri dari bebeberapa toko. Apalagi Playa Del Ingles memang orientasinya hiburan pantai ya. Jadi wajar Anexo II lebih ramai dikunjungi. Karena multi fungsi.

Salam dari Swedia.

“Semua foto di dalam tulisan ini merupakan dokumentasi pribadi ajheris”

Canary Island Surganya Warga Utara

Ada perasaan lega dan senang akhirnya gue lumayan berhasil melawan phobia terbang dengan pesawat yang hampir 3 tahun terakhir berhasil menahan gue untuk tidak berlibur ke tempat wisata impian.

Dan senangnya  lagi, penerbangan yang gue tempuh lumayan lama. Hampir  enam jam. Tapi depresinya tak terkatakan. But at least gue bisa lalui.

IMG_7622.jpg

IMG_7596.jpg

Sebelumnya gue tidak begitu familiar dengan Canary Island. Dimana letaknya pun gue kaga tau. Barulah setelah menikah gue sering mendengar suami, teman suami, kerabat bahkan tetangga, mengucapkan nama kepulauan yang termasuk dalam wilayah komunitas otonomi Spanyol ini.

IMG_7435.jpg

IMG_7436.jpg

IMG_7430.jpg

Canary Island merupakan kepulauan yang menjadi tujuan wisata yang terkenal di sebagian negara Eropa khususnya negara yang memiliki iklim yang terlalu dingin di saat winter. Sebut saja seperti negara negara Nordik Skandinavia. Ibarat pulau Bali bagi warga Australia, Canary Island bisa dibilang surga dunia kaum utara.

Wikipedia menyebut, Canary Island terletak di samudara Atlantik tepatnya di sebelah barat laut Afrika (Maroko dan Sahara Barat). Sehingga aroma alam semi Afrika lumayan bisa gue rasakan di sini.

Meskipun tidak sepanas wilayah tropis tapi setidaknya suhu Subtropis di Canary Island mampu menghibur orang orang utara yang berlibur ke pulau yang konon menjadi lokasi pembuatan film Fast and Furious 6 ini.

IMG_7441

IMG_6246

IMG_7595.JPG

IMG_7597.jpg

Dibanding harus menempuh perjalanan yang jauh ke wilayah tropis, setidaknya jarak tempuh ke Canary Island relatif dekat dari wilayah Eropa. Akibatnya kepulauan Kanaria menjadi santapan empuk warga Eropa yang lelah dengan winter berkepanjangan.

Jarak yang relatif dekat dan suhu yang lumayan hangat membuat nilai plus kepulauan yang juga dikenal sebagai tempat habitat burung kenari dan kadal raksasa ini. Di Swedia sendiri pun tv lokal selalu mencantumkan text informasi terkait suhu harian di Canary Island. Bahkan beberapa daerah sengaja difasilitasi direct flight tanpa harus ke Arlanda Stockholm. Sesampainya di Canary Island pun selain stasiun tv SVT Swedia yang bisa dinikmati di kamar hotel, sampai sampai gue juga melihat koran Swedia ada dijual di pulau ini.

IMG_7431

IMG_7434.jpg

Sebagian besar para pegawai restoran di Canary Island lumayan bisa mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Swedia. Ya namanya turis Scandinavia numplek banget di pulau ini. Tapi tak sedikit juga yang hanya mampu berbahasa Spain. Bahasa Inggris pun banyak yang tidak mengerti.

IMG_7642

IMG_6122.jpg

IMG_7643.JPG

Bahkan mereka sangat pintar menarik perhatian wisatawan dengan membuka restoran cafe dan toko mainan bernuansa Jerman dan Scandinavia. Gue kurang tau pasti yang punya orang orang Scandinavia atau pengusaha lokal. Yang jelas ada restoran bernama De Munich, Cafe Konditori bergaya Swedia, toko mainan Norwegia.

IMG_7632
Mini Golf tepat di samping cafe bernuansa Swedia
IMG_7630 (1).jpg
Cafe yang menjual roti dan cake ala Swedia
IMG_7446.jpg
Ada Roti Semlanya orang Swedia. Nama cafenya pun memakai kata Konditori 🙂
IMG_7599
Gereja yang dibangun turis Skandinavia
IMG_7621.JPG
Bentuk gerejanya unik. Seperti siput atau keong.

Hebatnya lagi tak sedikit warga Skandinavia yang sengaja membeli rumah maupun apartemen dan menetap di Canary Island selama musim dingin. Kasarnya kabur dari negara asal demi menghindari suhu ekstrem di saat winter. Dan puncaknya salah satu pulau di Canary Island bernama Gran Canaria, memiliki sebuah gereja bernama KyrkaTurist atau Gereja Turis.

Gereja yang sengaja dibangun turis asal Scandinavia agar bisa beribadah minggu selama mereka berada di sana. Gila yak. Ukuran turis sampai membangun gereja. Sangkin lamanya mereka berlibur atau menetap sementara di pulau ini.

IMG_7614
Kaktus raksasa. Besar dan tinggi banget. Dan dimana mana ada. Baik yang tumbuh liar maupun yang sengaja ditanam.

Buat gue Canary Island memiliki seribu wajah. Perpaduan kota tua dan modern, atmosfir Afrika dan Spanyol yang bersenggolan, landscape yang indah, gurun pasir yang membuat gue sumringah, bangunan berkarakter dan berjejer rapi dari atas ke bawah diantara gunung bukit, tanah yang terkesan gersang, eksotisnya lengkungan pundak unta, tepian laut dengan hamparan pasir yang luas, sampai pohon Palma dan kaktus raksasa di mana mana. Semuanya gue suka. Berada di pulau ini serasa menghantar nyata setengah mimpi gue akan atmosfir Afrika.

IMG_7645
Standing like in Sahara

IMG_7626.jpg

IMG_7644

Infrastruktur jalanannya pun bersih, rapi. Mereka tau bagaimana cara membuai mata turis. Karena nilai jualnya memang di situ kan. Tapi bukan berarti tidak ada yang kotor. Gue pernah melihat sampah berserak di centrum salah satu kotanya. Di depan restoran dan jalanan lumayan banyak plastik, tissue dan kaleng softdrink. Lumayan kaget sih. Karena di siang hari hampir tak ada pemandangan seperti itu. Meskipun begitu secara keseluruhan gue ancungin jempol tingkat kebersihan jalannya.

IMG_7647

IMG_7617

IMG_6811

IMG_7646

Gue ga tau apakah akibat malam minggu yang panjang, yang jelas petugas kebersihan yang kebetulan sudah renta masih sigap membersihkan secara manual sampah sampah tersebut. Mau tau pakai apa? Pakai daun Palma.

Dan ternyata efisien loh bisa membersihkan jalanan. Dari cara tradisional barulah debu di jalan di sapu dengan cara modern. Memakai mobil truk dengan mesin penghisap atau penyapu jalan gitu.

IMG_6236.jpg

IMG_6232

IMG_7627.jpg

IMG_7605

Canary Island memiliki dua ibukota negara. Pertama Las Palmas di pulau De Gran Canaria dan yang kedua Santa Cruz De Tenerife di pulau Tenerife. Gue dan suami hanya mengunjungi pulau De Gran Canaria dengan ibukota Las Palmas. Disebut Las Palmas karena pulau ini banyak sekali pohon Palmanya. Hampir di setiap sudut kota selalu ada pohon Palma.

Tulisan ini hanya selayang pandang tentang liburan gue di Canary Island. Next akan gue tulis secara detail tentang liburan asik dan pengalaman tak mengenakkan selama berada di pulau yang ngangenin ini. Gue kangen karena begitu sampai di Swedia, gue disambut oleh suhu yang kembali ngedrop. Bayangin sampai minus 19 derajat celcius. Sementara sebagian besar Eropa sudah menari nari dengan Cherry Blossom. Hiks!

IMG_7612.jpg

h.jpg

Tempat wisata apa saja yang kami kunjungi? Bagaimana harus peka terhadap trik para scammer di Gran Canaria? Apa ciri khas kulinernya? Bagaimana berbelanja di Gran Canaria? Akan gue tulis di tulisan selanjutnya. See you.

Salam dari Swedia

IMG_7607

IMG_7609

Semua foto merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com