Latvian Ethnographic Open Air Museum

Gue dan suami adalah pasangan yang lumayan sering mengunjungi Open Air Museum, karena  selain memiliki cerita history, bangunan di kawasan museum berjenis seperti ini mostly menampilkan berbagai bentuk rumah rumah tradisional yang unik dan lucu.

IMG_6374.jpg

Belum lagi para tim penggembira museum yang berpenampilan ala ala Little Missy yang lumayan menghibur mata. Setidaknya begitulah gambaran museum udara yang sudah pernah gue kunjungi. Seperti Den Gamle By di Aarhus Denmark, Jamtli di Ostersund, dan Skansen di Stockholm, Swedia.

IMG_6373

Tak terkecuali Riga Latvia, kota ini pun memiliki museum udara yang terbilang sangat luas bernama Latvian Ethnograhic Open Air Museum. Berdiri di kawasan yang sangat luas, kalau tidak salah kurang lebih 80-an hektar meter persegi. Di sekitar Lake Jugla dan dikelilingi hutan kayu lebat, aroma nature benar benar masih berasa di open air museum ini.

IMG_6372
Suka melihat jalanan ini. Lokasinya persis di pintu masuk museum

Buat yang memang benar benar menyukai wisata seperti ini, mengunjungi Latvian Ethnographic tidak cukup hanya 2 hingga 3 jam.  Saran gue sih, luangkan waktu seharian biar jalannya bisa santai. Fokusin agendanya hanya untuk melihat museum. Bukan apa apa sih, menurut gue  lumayan melelahkan juga mengitari semua kawasannya. Apalagi kalau dijalani buru buru, makin gempor deh.

IMG_6335

IMG_6360

Latvian Ethnographic merupakan salah satu open air museum tertua dan terluas di Eropa. Memiliki 118 bangunan bersejarah yang berasal dari berbagai propinsi di Lativia. Konon, semua bangunan dari berbagai wilayah di propinsi Latvia sengaja diangkut dan dikumpulkan menjadi satu di kawasan museum udara ini. Bangunan bangunan yang mewakili sejarah  wajah Latvia di masa lampau. Mulai dari rumah, gudang, lumbung gandum, gereja, bahkan peralatan peralatan rumah tangga yang digunakan sehari hari di masanya.

IMG_6365.jpg

IMG_6353.jpg

IMG_6330

Di museum ini pengunjung bisa melihat bagaimana kehidupan bangsa Latvia ratusan tahun silam. Seperti apa ruang tamu mereka, kamar, tempat tidur, lemari, peralatan masak, perabotan rumah, perapian, hingga cara mereka mendapatkan air pun, bisa dilihat di museum ini.

IMG_6364
Bangunan tempat mandi
IMG_6347.jpg
Daun Birch. Sehabis mandi dipukul pukul ke badan agar perendaran darah lancar katanya.

Bahkan sebuah bangunan yang dibangun sekitar tahun 1862, yang berfungsi sebagai tempat mandi/sauna juga ada. Bathtubnya terbuat dari ember kayu besar berisi air. Pemanas air berasal dari bongkahan batu batu besar di sampingnya. Sehabis mandi mereka lalu memukul mukul badan dengan ikatan ranting daun birch. Lucu juga ngebayanginnya.

IMG_6689.jpg

IMG_6348

IMG_6367

Ada pemandangan unik yang lumayan menarik perhatian gue, tepatnya ketika memasuki halaman sebuah gereja tua yang diperkirakan dibangun pada awal tahun 1700 an. Gue melihat sebuah tiang kayu lengkap dengan besi tua berbentuk lingkaran layaknya kalung besi. Awalnya gue pikir dipakai untuk memenggal kepala gitu. Ternyata salah.

IMG_6369.jpg
Bangunan gereja yang dibangun tahun 1700 an. Sedangkan foto di bawah, merupakan foto di dalam gereja yang sudah. Dan tiang kayu tempat menghukum orang

Jadi konon dahulu, jika seseorang melakukan kesalahan yang cenderung memalukan, ada hukuman sosialnya. Dan biasanya, orang tersebut akan diikat ke tiang kayu dan melinggakarkan kalung besi tadi di lehernya. Tujuannya agar dia merasa malu, ketika banyak jemaat gereja yang melihat dan mengetahui perbuatan jeleknya. Kira kira seperti icuuuuuuu!

IMG_6356.jpg

IMG_6355.jpg
Sumur beserta ember kayu untuk mengambil air

Bangsa Latvia ternyata lumayan mempercayai kekuatan gaib. Bahkan hingga sekarang kepercayaan seperti ini masih bertahan dalam bentuk pernak pernik kerajinan tangan. Sewaktu kami hendak memasuki sebuah bangunan, terlihat seorang wanita paruh baya mengibas ngibaskan sesuatu ke kami. Sesuatu yang mirip benda anyaman dari jerami.

IMG_6250.jpg
Si nenek penjaja souvenir pengusir hantu hehehe
IMG_6346
Benda yang dianggap mampu mengusir hantu

Menurut beliau, benda tersebut mampu mengusir setan. Dalamnya berisi biji bijian, yang kalau digoyang mampu mengeluarkan suara. Nah, suara suara itulah yang katanya ampuh mengusir setan. Benda pengusir setan ini bisa dibeli sebagai oleh oleh atau buah tangan.

Merasa kurang enak, kami pun membeli. Kasihan melihat si nenek uda acting dan capek jelasin, kali aja setan di rumah gue mungkin bisa kabur. Hahahaha….kagaklah becanda. Gue sih mengganggapnya sebagai barang unik dan lucu aja.  Benda yang sepertinya mewakili cerita legenda bangsa Latvia. Dan kebetulan gue memang penyuka souvenir. Si nenek tadi juga menjual kerajinan telur dan hiasan natal. Macam macamlah. Harganya berkisar antara 10 hingga 20 euro kalau tidak salah.

IMG_6354.jpg
Wanita Latvia dengan baju tradisonal Latvia

Rata rata, bangunan di Latvian Ethnographic Open Air Museum dijaga oleh pria maupun wanita berpakaian tradisional khas Latvia. Tapi sayang, beberapa dari mereka terkesan kaku dan tidak bisa bahasa Inggris juga. Kurang atraktiflah jika gue bandingkan dengan open air museum yang pernah gue datangi. Dari segi pengunjung pun, rasanya tidak terlalu banyak. Gue kurang tau pasti sih, apa karena kami datang di hari yang salah. Biasanya kalau musim panas, open air museum seperti ini selalu mengadakan acara hiburan seperti teather ala ala, atau acting kecil kecilan dari tim museum untuk memberi kesan lebih hidup akan nuansa jaman dulunya. Seperti di museum udara Jamtli Ostersund misalnya. Senang banget melihat acting tim museumnya. Jadi pas masuk ke dalam bangunan, pengunjung terhibur dengan acting mereka yang sedang memasak, menjahit, menyuci piring, membuat roti, dan kadang kadang mereka juga sambil ngobrol satu sama lain, layaknya tidak ada turis di dalam ruangan. Natural sekali actingnya. Jadi turis tidak melulu melihat benda mati. Dan tidak gampang bosan juga. 

IMG_6363
Bangunan berisi kerajinan tangan seperti kapak, pisau dan peralatan pendukung. Pengunjung bisa langsung membuat sendiri mata uang koin dengan menggunakan palu. Alatnya seperti gambar di sebelah kanan bawah.

Selain itu, penempatan semua bangunan di Latvian Etnographic Open Air Museum ini pun terkesan monoton. Bahkan ada beberapa bangunan yang diletakin menyendiri di tengah hutan dan terlihat seperti kurang terurus. Entahlah apa cuma pemikiran gue aja. Tapi menurut suami pun begitu. Dari tapak jalan dan rumput yang kami lewati, bisa kelihatan kalau jalanan itu jarang dilewati. Tapi bagi yang memang suka kesepian, feelnya dapat sih. Naturenya lebih berasa.

IMG_6576.jpg

IMG_6340.jpg

Parahnya lagi, seluas itulah museum ini, tidak ada cafe kecil untuk sekedar bisa melepas dahaga atau lapar di titik titik lokasi tertentu. Kan ga semua juga ya niat bawa air putih atau cemilan di ransel. Kalau pun ada, mau berapa botol? Namanya jalan segitu jauh pasti cepat haus kan. Bahkan bangku untuk sekedar rest sebentar pun tidak tersedia. Masa mau tancap jalan terus? Tega banget sih mak! Hahaha.

Cafe restoran cuma ada di area pintu masuk. Beda banget dengan museum udara di Skansen Stockholm. Lebih terkodinir sepertinya. Artinya mereka sudah lebih paham, seluas apa kawasan yang dilewati turis. Jadi yang namanya cafe kecil, ada aja di beberapa titik lokasi. Pun bangku bangku tempat beristirahatnya. Bangunan tuanya juga diselang seling dengan taman kecil, peternakan sapi, pabrik dan toko jadul. Jadi yang dilihat pun lebih bervariasi. Kan pengunjung bukan orang dewasa aja. Anak anak juga ada.

IMG_6325.jpg
Walking

Itu berasa banget pas kami melewati jalanan yang memang forest banget. Pas berasa cape ga tau mau rest dimana. Bangku sebiji pun kaga ada. Hal inilah yang membuat kami jadi cepat merasa bosan. Mentok cuma melihat bangunan yang lama lama bentuknya itu lagi dan itu lagi. Awalnya sih masih ecxited, lama lama mulai entahlah mak! Hahaha.

IMG_6334

IMG_6358.jpg

IMG_6366

Mana perut mulai lapar. Wajarlah uda lewat jam makan siang. Nah, kalau harus makan ke restorannya, kan uda malas ya harus balik arah lagi melihat yang lain. Akhirnya kami memutuskan pulang. Sepertinya ada beberapa bangunan yang kami tidak lihat lagi.

IMG_6319.jpg
Senang duduk di luar cafe restonya. Viewnya langsung menghadap forest
IMG_6318
Country soup. Enak. Untuk semua menu makanan dan minuman dikenai 13 euro. Relatif murah dibanding harga di kawasan old town Riga.

Tapi lagi lagi ini pemikiran gue aja sih. Karena kalau melihat review, rata rata turis yang datang ke museum ini komennya oke oke aja. Mungkin karena gue bandingin dengan museum udara yang pernah gue kunjungi sebelumnya, yang lebih atraktif dengan hiburan hiburan kecilnya.

Oh iya, gue suka banget dengan cafe resto museum ini. Bangunan wooden house tua. Autentik banget. Dalamnya pun asik. Trus suasana di luarnya juga enak. Langsung menghadap forest gitu. Adem banget rasanya. Makanan di restonya relatif murah sih menurut gue. Gue merekomen menu country soupnya. Lumayan enak. Boleh dicoba.

Satu lagi, coba juga minuman Kvass khas Baltik. Minuman ini rasanya unik. Mirip soft drink bercitra rasa manis gula aren. Katanya sih minuman non alkohol. Atau beer low alcohol di bawah 2 persen. Pertama nyoba gue langsung sukaaaakkkk! Mungkin karena rasa gula aren kali yak! Hahahha.

IMG_6321
Kvass, rasa gula aren. Hahahaha

Menuju Latvian Ethnographic Open Air Museum, bisa ditempuh dengan Bus nomor 1  dari pusat kota Riga. Perjalanan kurang lebih 1/2 jam.

To be continued..

“Semua photo merupakan dokumentasi pribadi ajheris.com”

 

Menghabiskan hari di Museum Udara Skansen Stockholm

Pertama sekali mengunjungi Skansen sekitar dua tahun yang lalu. Tepatnya bulan Agustus 2014. Musim panas waktu itu. Bareng suami, abang dan kakak gue. Kebetulan mereka berdua (abang dan kakak) lagi berkunjung ke Swedia. Ketika suami mengajak ke Skansen, awalnya gue tidak terlalu antusias. Namanya waktu itu masih newbie banget, jadi jika berkunjung ke kota besar, apalagi seperti Stockholm, rasanya lebih suka menikmati keindahan pusat kotanya saja. Bukan malah melihat bangunan yang sebenarnya di desa gue pun ada. Tapi abang gue sepertinya tertarik banget, sebelas duabelas dengan suami. Akhirnya mau ga mau ya ngikut.

img_9273

Berhubung kami datang sudah agak siangan, jadi kurang cukup waktu mengelilingi Skansen yang lumayan luas. Apalagi kakak gue dikit dikit ngeluh kakinya capek. Hahaha. Intinya kunjungan pertama itu kurang berkesan buat gue. Berbeda dengan sekarang, setelah mengunjungi Den Gamle By di Aarhus Denmark dan Jamtli di Östersund Swedia, akhirnya gue pun lumayan bersemangat ketika suami mengajak ke Skansen (again).

img_9267

Sebenarnya kunjungan kali kedua ke Skansen bisa dibilang tidak ada dalam rencana kami. Terbayang pun tidak untuk datang ke tempat ini lagi. Hingga suatu hari, tepatnya beberapa hari sebelum kami berangkat ke Stockholm dalam rangka menghadiri undangan pesta ulang tahun teman, tiba tiba suami bilang, kalau tiket masuk ke Jamtli (museum udara yang pernah kami kunjungi beberapa bulan lalu), bisa digunakan juga sebagai tiket masuk ke Skansen. Jadi ceritanya suami baru ngehlah, kalau petugas loket di Jamtli pernah memberitahu dia terkait penggunaan tiket ini. Awalnya gue tidak yakin. Apalagi suka ga percaya kalau “yang di sini” bilang bisa, “yang di sana” bilang ga bisa. Pengalaman birokrasi di kampung halaman.

IMG_8662.JPG
Wajah Skansen
IMG_8663.JPG
Bangunan tua di Skansen
img_8666
Bangunan tua di Skansen

Berhubung gue lumayan sering menyimpan segala kertas yang berkaitan dengan perjalanan liburan kami (seperti tiket, brosur, slip bayar bayaran sampai map), maka tanpa bersusah payah mencari, dua buah tiket Jamtli langsung di tangan. Sampai akhirnya kami tiba di Skansen, sempat ada sedikit keraguan. Takut tiketnya ditolak. Tengsin banget kan kalau sampai kejadian. Dan pas nanya ke bagian loket, ternyata ga pake birokrasi lama, kami langsung diperbolehkan masuk. Dan pakai bonus lagi, tanpa harus melalui antrian yang lumayan panjang. Ahhh rejeki pasangan soleha.

img_9086

So, jika ada pertanyaan, tempat wisata apa yang terkenal di Stockholm dan rasanya wajib untuk dilihat?  Salah satunya adalah Skansen. Terletak di Djurgarden, sebuah kawasan pulau kecil di Stockholm. Tidak hanya dikenal sebagai museum udara (open air museum) pertama dan tertua di Swedia, tetapi juga yang terluas. Sangkin luasnya, rasanya butuh waktu seharian untuk bisa maksimal mengelilinginya.

img_9099

Skansen pertama sekali didirikan oleh seorang pria bernama Artur Hazelius pada tahun 1891. Sebagai kolektor barang antik dan pencinta sejarah, beliau pun memboyong bangunan bangunan tua dari berbagai pelosok daerah di Swedia. Mulai dari bangunan rumah, bank, pabrik roti, sampai bangunan gereja. Tujuannya cuma satu, Hazelius ingin memperkenalkan bagaimana budaya masyarakat Swedia jauh sebelum era industrialisasi masuk ke negara ini. Jadi jangan heran, jika berada di Skansen, akan sangat mudah melihat kumpulan rumah rumah kayu tua,  yang berdiri di beberapa lokasi area museum.

IMG_9050.JPG
Bangunan tua di Skansen. Sekilas seperti rumah adat di Indonesia ya. Tapi daerah mana kurang tau.
IMG_9258.JPG
Bangunan tua ini biasanya digunakan sebagai tempat berdagang di musim panas (summer). Semacam kios kios gitulah. 
IMG_9264.JPG
Ini juga, mirip bangunan Toraja. Apa gue lagi halusinasi ya. Haha

Tidak hanya itu, Skansen pun disulap agar terlihat lebih menarik, dengan menata sekitar museum sedemikian rupa, banyak pohon dan bunga, kebun binatang, taman bermain, sampai sebuah arena panggung besar yang rasanya menjadi ajang pentas musik di saat summer. Pentas musik yang lumayan sering disiarkan di stasiun TV lokal Swedia. Bahkan beberapa bangunan kincir angin pun sengaja dipindahkan untuk memberi nuansa bahela di kawasan museum.

img_9036
Model kincir angin versi Swedia.  Pertama sekali melihat  kincir angin ini di Öland, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia. Mostly kincir angin seperti ini memang terdapat di Swedia bagian selatan. Konon,  proses pembuatan tepung gandum ya di dalam kincir angin ini.
img_9037
Sollidenscen,  di saat summer, biasanya panggung ini sering membuat acara pentas musik besar. Bahkan sering ditayangkan di TV lokal Swedia.
img_8981
Reindeer, salah satu jenis rusa yang kebanyakan hidup di daerah yang dingin (ekstrem), seperti di bagian utara Swedia. Di hutan sekitar desa gue, tidak ada jenis rusa ini
img_8982
Reindeer di kawasan zoo Skansen
img_9244
Burung Merak
img_9087
Di sepanjang kawasan zoo Skansen, tepatnya di bagian binatang beruang, terlihat bangunan batu seperti gua yang memanjang. Bisa masuk ke dalamnya dan melihat beruang dari dalam. Tapi gue ga masuk sih.  Kurang interest.  Lebih oke beruang kutub di Taman predator Orsa Dalarna. Hahaha
img_9100
Taman bermain. Lucu ya dombanya

Berada di Skansen, seperti terbawa ke lingkaran waktu ratusan tahun silam. Jaman dimana orang masih menggunakan peralatan apa adanya. Jauh dari modernisasi. Barang barang masih terbuat dari bahan kayu, seperti ember, piring, sendok dan perlatan rumah tangga lainnya. Tapi tidak sedikit juga yang menampilkan barang retro dalam bentuk porselin dan keramik. Bahkan di museum udara ini, juga terdapat tiang batu (gue sebut tiang batu aja deh biar gampang, haha) yang dulunya dipakai sebagai batas pengukur jalan. Tiang batu yang menjadi tolak ukur untuk hitungan jarak per satu mil.

IMG_9082.JPG
Tiang batu yang digunakan untuk menentukan jarak per satu mil

Di tulisan gue sebelumnya, gue sudah pernah menyinggung tentang Root Cellar, gudang yang di jaman dahulu kala memiliki fungsi layaknya sebuah kulkas. Mampu membuat bahan makanan menjadi awet dan tahan lama di dalamnya. Hal ini disebabkan karena suhu di dalam Root Cellar cenderung stabil, baik di saat musim panas maupun musim dingin. Nah, kebetulan Root Cellar bisa dilihat di Skansen. Lengkap dengan contoh contoh makanan apa saja yang bisa di simpan di dalam. Ada telur, toples berisi selai, sayuran, roti dan masih banyak lagi.

Kadang ada perasaan excited juga sih, ketika gue melihat beberapa barang antik dan bangunan bersejarah di Skansen, yang notabene pun ada di dalam kehidupan gue sehari hari. Seperti Root Cellar, teaset retro sampai bangunan rumah kayu berumur 400 tahun lebih. Biasalah, kalau sebelumnya kurang memaknai barang peninggalan yang ada di sekitar rumah, setelah melihat tempat seperti Skansen atau museum lain, otomatis ada semacam perasaan “ohhh yang di rumah ternyata barang available ya”. Gimana ga gue bilang begitu coba, tempat wisata sekelas Skansen aja bangga banget menjadikan peninggalan budaya menjadi sesuatu yang layak dilihat, dan untuk bisa melihatnya pun harus bayar kan. Jadi wajar saja kalau akhirnya gue memiliki perasaan luar biasa, ketika melihat barang barang yang ada di rumah, ternyata ada juga di Skansen.

img_9056
Root Cellar di Skansen lengkap dengan contoh bahan pangan yang disimpan di dalam
img_7942
Root Cellar di samping rumah gue, masih bagus dan berfungsi dengan baik

Gambar di atas ini merupakan Root Cellar di samping rumah gue. Masih berfungsi dengan baik. Biasanya kami gunakan untuk menyimpan bahan makanan dalam jumlah yang banyak. Seperti kentang dari hasil bercocok tanam, selai Lingonberry dalam jumlah yang banyak, bahkan sampai buah semangka jika ukurannya lumayan besar. Praktis membuat kulkas ga gampang penuh dan sesak.

img_9055
Barang retro di salah satu rumah di Skansen. Lumayan surprise ketika melihat teaset retro di dalamnya. Karena di rumah gue juga ada. Peninggalan mendiang mama mertua. Makin disayang deh. Hahaha.
IMG_0209.JPG
Teaset retro peninggalan mendiang mama mertua
img_9066
Peralatan berbahan kayu, yang seperti ini pun ada di gudang rumah gue. Hahaha
IMG_9073.JPG
Tempat membelah kayu

Ketika mustahil rasanya di jaman modern ini, bisa berpapasan dengan seseorang yang mengenakan pakaian ala ala Little Missy, Laura Ingalls, (tau kan siapa yang gue sebut? kalau ga coba google aja, itu serial kesukaan gue. Angkatan sepuh..haha), maka old town Skansen memberi peluang untuk itu. Berjalan kaki menyusuri jalanan di Skansen, dan tiba tiba berpapasan dengan wanita yang meneteng keranjang, kepala ditutupi kain tipis, dan tentu saja mengenakan pakaian tradisional dengan ukuran rok yang memanjang menutupi kaki. Bisa banyangin kan lucunya.

Ohya, ada satu cerita yang setidaknya lucu menurut gue. Awalnya gue ga kepikiran untuk melihat apalagi memperhatikan. Itu pun karena suami yang pertama berkomentar. Menurut gue tidak ada yang istimewa, cuma tiang listrik biasa. Di Indonesia juga banyak. Sampai akhirnya barulah nyadar, tiang listrik yang gue lihat di Skansen termasuk barang yang lumayan jadul (versi Swedia tentunya). Disebut lumayan jadul karena sebagian besar wilayah di negara ini sudah tidak menggunakan kabel listrik yang dipasang di tiang. Melainkan sudah ditanam di bawah tanah. Menurut ngana lucu ga sih. Kalau gue sih lucu. Wong di kota asal gue sampai sekarang pun tiang listrik masih banyak. Hahaha. Sombong banget yak, tiang listrik begini langsung masuk klasifikasi model bahela. Apa kabar di kampung gue sana, yang talinya pun kadang asal main lilit aja.

img_8975
Tiang listrik jadul
IMG_8973.JPG
Kawasan Old Town Skansen, berikut Konsum, toko yang menjual bahan pangan mulai dulu sampai sekarang
img_9025
Dahulu,  tidak jarang toko Konsum datang ke desa desa, lengkap dengan mobil berisi bahan sandang dan pangan.  Suami gue sempat menyaksikannya ketika dia masih kecil. 
img_9024
Old Town Skansen, berikut wanita berbaju Little Missy.. Hahaha
img_8977
Wanita dengan pakaian layaknya seperti di  film film

Old town Skansen juga memiliki bangunan bangunan apik seperti bank, toko roti sampai pabrik kaca. Bahkan di pabrik kaca, pengunjung bisa melihat cara pembuatan barang pecah belah yang terbuat dari bahan kaca. Buat kami cukup sekali saja masuk ke dalam, untuk kunjungan kali ini rasanya tidak perlu lagi.

Yang paling gue suka ketika berada di lokasi kota tua Skansen adalah ketika berjalan di jalanan kecil berbatu, yang kiri kanannya terdapat bangunan antik dari kayu. Jalanan dan bangunan yang sepertinya menjadi satu kesatuan spot paling menarik menurut gue. Belum lagi di beberapa titik jalan terdapat kereta kuda, gerobak dan drum kayu serta karung berisi sesuatu (ga tau apa isinya haha), yang memang sengaja dibuat sedemikian agar nuansa kota tuanya makin berasa. Bahkan sebuah bangunan bertuliskan Konsum, sebuah supermarket terkenal di Swedia yang tetap eksis dari dulu hingga sekarang pun ada.

IMG_9033.JPG
Gerobak dan drum kayu di old town Skansen
IMG_9034.JPG
Kawasan old town
IMG_9035.JPG
Toko roti dengan fans beratnya. Selalu rame.  Dan lucunya gue ga pernah berniat masuk ke dalam. Ngantri terus. Tapi model bangunannya cakep. Kece kan suasananya. 
img_9032
Kereta kuda
img_9027
Lorong jalan yang kece (menurut gue pastinya). Apalagi rumah merah ini atapnya ditanami rumput. Makin unik aja kelihatan

Melihat sejarah masa lalu yang disajikan Skansen, langsung berpikir betapa hidup di jaman sekarang itu sangat praktis. Semua relatif lebih gampang. Contohnya, karena dari kecil suami sudah terbiasa dengan roti,  maka jenis makanan karbo ini wajib ada di rumah gue. Dan itu pun lebih banyak gue beli di supermarket. Kalaupun harus baking sendiri, tinggal masukin mesin, lalu oven, puter suhu, jreng jreng jreng….15 menit matang. Cepat kan.

img_9054
Pria yang memperkenalkan roti tradisional Swedia. Boleh dimakan dan gratis

Namun berbeda dengan kehidupan orang dulu, mau tidak mau roti harus dibuat sendiri. Dan semuanya dilakukan secara manual. Pakai tangan! Tidak ada yang namanya mesin pengaduk roti, food processor, mixer, atau apalah. Peralatan serba terbatas. Tangan harus siap pegal. Karena mereka tidak punya pilihan lain (atau jangan jangan orang dulu ga kenal kata pegal kali ya). Kalau sekarang kan beda, apa apa serba mesin. Atau setidaknya masih bisa milihlah, mau manual apa cara canggih.

Dan mungkin juga, di jaman dulu belum ada baking powder, belum ada tepung dengan embel embel terigu protein tinggi, sedang dan rendah. Main libas aja semua. Panggangan juga nihil pengatur suhu. Gimana mau ngatur suhu coba, wong dipanggang cuma pakai kayu bakar. Belum lagi harus menyiapkan tungku api, yang sekaligus digunakan sebagai penghangat ruangan. Sambil terus menunggu agar tembok di tungku api benar benar panas. Karena di sebelah tembok inilah nantinya roti akan dipanggang. Dengan kata lain, suhu panas di tempat pemanggangan roti, bersumber dari tembok panas di tungku api. Untuk memasukan roti ke tempat pemanggangan pun harus menggunakan sodokan kayu panjang. Kapan lagi bisa merasakan kehidupan abad silam seperti ini, kalau bukan karena berada di kawasan seperti Skansen. Menariknya lagi, pembuatan roti diperagakan oleh tangan tangan tua wanita Swedia, lengkap dengan pakaian tradisionalnya.

img_9068
Salah satu bangunan rumah yang dipindahkan ke Skansen
IMG_9248.JPG
Suka bangunannya

Skansen memang identik dengan kehidupan masa lampau. Apalagi jika melihat bangunan bangunan yang ada di kawasan museum, semuanya serba antik. Sekilas mirip rumah adat di Indonesia. Misalnya seperti atap bangunan yang terbuat dari tumpukan jerami, serasa mengingatkan gue dengan bangunan rumah di pedesaan pulau Jawa.

Sekilas terlihat sama, namun sebenarnya bangunan yang dikumpulkan dari berbagai pelosok Swedia ini berbeda detail satu sama lain. Bangunan rumah yang berasal dari Halland misalnya, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia. Atap rumah selalu ditutup dengan tumbukan batang jerami yang sangat tebal. Wajar, karena propinsi ini memang mampu memproduksi gandum dalam jumlah yang lumayan banyak. Jerami yang berasal dari batang gandum sangat mudah di dapat dan dijadikan sebagai atap bangunan.

IMG_9065.JPG
Atap rumah yang penuh dengan jerami tebal. Sekilas seperti rumah di jawa ya. Bedanya di Jawa pakai daun kelapa kalau ga salah 
img_9072
Bangunan di Halland

Masih dari Selatan Swedia, bedanya propinsi ini sudah berada di wilayah paling Selatan. Propinsi Skåne memiliki bangunan rumah yang bisa dibilang berbeda dari propinsi lain. Di saat sebagian besar rumah kala itu terbuat dari kayu, Skåne malah memiliki bangunan yang terbuat dari dinding batu. Wilayah Skåne memang sudah terbilang dekat ke pinggiran laut. Bisa dibilang hampir tidak memiliki lahan hutan yang luas. Sehingga untuk membangun rumah berbahan kayu pun  menjadi sulit.

img_9060-1
Rumah di Skåne. Dari bahan batu
img_9051
Kawasan Skåne di Skansen. Selain rumah, ada sapi dan unggas yang menjadi ciri khas propinsi ini
img_9064
Sapi
img_9052
Unggas khas Skåne
img_9063
Yang pasti ini bukan iklan susu ..haha

Di bagian lain ada Mora Garden. Di sini terdapat bangunan rumah yang barasal dari kota Mora, Dalarna. Gue sempat tertawa ketika melihat bentuk bangunannya. Serasa gue liburan di desa sendiri. Karena buat gue, model bangunannya familiar sekali. Dalarna adalah salah satu propinsi yang dikenal sebagai penghasil kayu terbanyak dan terbaik di Swedia. Hampir sebagian besar wilayahnya dikelilingi lahan hutan. Hal inilah yang mengakibatkan bangunannya tidak sekedar terbuat dari kayu biasa, melainkan dalam bentuk balok kayu utuh. Lagi lagi wajar, karena warganya hidup diantara lahan hutan yang tumbuh subur.

img_8979
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen
img_9246
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen
IMG_9245.JPG
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen. Mostly terbuat dari balok kayu

Kunjungan kami ke Skansen kali ini bertepatan dengan musim gugur. Dan kebetulan pula, Skansen sarat dengan pohon Maple dimana mana. Berwarna kuning cerah serta orange kemerahan. Indah sekali. Pengen gue fotoin semua. Musim gugur berasa banget di Skansen saat itu. Dan enaknya lagi, pengunjung yang datang tidak seramai di saat musim panas. Dan lucunya, meskipun gue belum pernah berkunjung ke negeri China, entah mengapa ketika berada di Skansen, gue serasa menikmati musim gugur di negeri Tirai Bambu itu. Kebanyakan nonton serial silat sepertinya. Atau bisa juga karena mimpi yang sekian lama gue simpan untuk bisa berjalan di lorong Great Wall of China yang wonderful itu. Semoga kelak kesampaian ya. Amin.

IMG_9255.JPG
Pohon Maple di Skansen
IMG_9253.JPG
Musim gugur di Skansen. Cantik
img_9085
Hutan di Skansen yang penuh dengan daun Maple
img_9269
Cakep

Ketika kaki mulai lelah, bolehlah untuk sekedar duduk dan melonggarkan nadi, sambil menikmati landscape kota Stockholm yang indah. Skansen sudah mempersiapkan bangku bangku kayu di beberapa ruas jalanan di sekitar museum. Terutama lokasi yang memperlihatkan view kota Stockholm dengan baik. Jangan lupa menikmati Swedish Meatballs versi Solliden, restoran besar di Skansen yang siap melayani anda. Bulatan bulatan daging berlapiskan saos lumayan melimpah, ampuh membuat perut untuk tidak berontak kelaparan.

IMG_9089.JPG
Landscape kota Stockholm dari Skansen
img_9038
Landscape kota Stockholm dari Skansen
img_0257
Bangku, pohon, Landscape kota Stockholm. Mantap!
img_9042
Hmmm, ini namanya pengen diangkut, bawa pulang ke rumah! Haha
img_9041
Restoran besar di Skansen, Solliden
img_9039
Swedish Meatballs

Saran gue, jika ingin mengelilingi Skansen keseluruhannya, ada baiknya fokus seharian di tempat ini saja. Tidak ada agenda lain. Karena museum udara ini luas banget. Jadi dengan waktu yang lumayan longgar, kesempatan untuk melonggarkan kaki yang pegal pun ada. Tidak terburu buru maksudnya. Kami saja pun yang masuk mulai dari pukul 10 pagi sampai pukul 3 sore, rasanya belum benar benar bisa melihat semuanya.

IMG_9079.JPG
Gue sempat kalap di sini. Natural dan lumayan Rustic di beberapa bagian. Pengen foto foto terus. Ampe suami duduk kecapean. Hahahahaha
img_9080
Lop lop lop

Ohya, jangan lupa untuk mencoba Bergbana, train kecil yang membawa turun dari ketinggian Skansen menuju pintu keluar. Lumayan loh, jadi ga perlu capek jalan kaki lagi.

img_9098
Bergbana
img_9084
Beautiful
img_9071
Antik
img_9070
Tipikal bangunan di propinsi Halland, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia.
img_9254
Selalu suka melihat pagar kayu begini
IMG_8664.JPG
Foto pakai handphone. Tapi hasilnya not badlah. Canggih emang handphone sekarang. Hahaha
img_8665
Rumah yang dulunya dihuni oleh sebuah keluarga miskin di masa lampau
IMG_0258.JPG
Sukaaaaaaa!!
img_9257
Gereja tua berumur ratusan tahun yang dipindahkan ke Skansen

IMG_0173.JPG

See you in my next story

IMG_0262.JPG
Backroundnya ga kuat! 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia