Artisan Bread

Artisan Bread memang lagi naik daun di kalangan pencinta roti sehat di tanah air. Meski di dunia barat sebenarnya roti ini sudah ada sejak kapan tau. Kemudian di era modern kembali digaungkan para baker profesional karena dianggap lebih sehat dan mudah dicerna perut.

image_6483441 (1).JPG

Artisan bread sangat identik dengan roti sourdough atau roti ala eropa yang cenderung keras dan tidak selembut roti sobek, roti bantal, roti kasur ala Indonesia. Sebut saja seperti berbagai jenis crusty bread yang menjadi menu santapan breakfast di hotel hotel eropa maupun hotel besar di tanah air.

IMG_6948.jpeg

Digadang gadang sebagai roti sehat, setiap tahap proses pembuatan artisan bread umumnya memang dilakukan dengan sangat hati hati dan menggunakan bahan bahan berkualitas seperti tepung gandum utuh, rye dan biji bijian. Pengerjaannya pun sangat panjang dengan durasi slow fermentasi yang cukup lama (menembus waktu proses lebih dari 24 jam tiada henti). Akibat fermentasi yang relatif lama inilah memampukan enzim yang terdapat di dalam adonan tepung dapat memecah gluten dengan baik. Sehingga ketika dikonsumsi, diklaim lebih mudah dicerna oleh lambung.

IMG_7312.jpeg
Artisan Crusty Bread menggunakan Ragi Instan
IMG_6939.jpeg
Artisan Crusty Sourdough Bread menggunakan Levain atau Ragi Natural. Hampir mirip kan dengan gambar di atas yang menggunakan ragi instan?

Tapi jika ditelisik lagi, artisan bread tidaklah melulu soal sourdough. Tidak melulu soal crusty bread. Tidak melulu soal roti eropa. Artisan bread secara harfiah bisa dimaknai sebagai roti yang dibuat si pembuat roti dengan tangannya sendiri. Jadi no mesin. Bener bener mengandalkan tangan si baker. Pengerjaannya dilakukan secara manual dan cenderung kembali ke sistem konvensional (tradisional).

IMG_0906.jpg
Crusty Sourdough Bread. Kerja si ragi liar yang menghasilkan open crumbs pada bagian dalam roti

Jika berkiblat ke makna harfiahnya, semua roti bisa dikategorikan sebagai roti artisan atau artisan bread selama dikerjakan manual dengan tangan dan bukan dengan mesin. Bahan bahan yang digunakan juga terpilih dan berkualitas. Bukan roti pabrikan dan lebih condong ke homebakery.

Tapi lagi lagi karena artisan bread sangat identik dengan roti sourdough atau roti ala eropa, sehingga artisan bread yang dijual lebih condong ke jenis crusty bread dan konco konconya. Tentunya roti artisan ini tidak dijual dalam partai besar. Namanya juga dikerjakan mengandalkan tangan dengan waktu pengerjaan yang super duper lama dan sangat hati hati. Artisan bread biasanya mostly ditemukan di toko bakery/homebakery tertentu dengan harga yang relatif lebih mahal.

Artisan bread tidak melulu harus menggunakan ragi natural (sourdough) akan tetapi bisa juga menggunakan ragi instan. Contohnya untuk jenis crusty bread, jika diolah dengan menggunakan ragi natural maupun ragi instan, secara kasat mata akan terlihat sama. Tetapi kalau sudah terbiasa membuat dan menyantap sourdough bread akan tau bedanya. Sourdough bread terutama untuk jenis roti crusty jauh lebih lembab dan lebih kenyal.

IMG_6775.jpeg

Kebanyakan crusty bread memang dibuat menggunakan starter sourdough atau natural yeast (levain). Akan tetapi tak sedikit kalangan penyuka baking yang masih meraba raba cara kerja si ragi liar ini. Belum lagi dilema perasaan trauma akan rasa asam yang berlebihan pada roti karena kurang paham menggunakan takaran starter sourdough, fermentasi dan feeding. Keluhan mana yang gue ketahui dari para followers di instagram yang lumayan tertarik akan roti roti ala eropa.

IMG_7325.jpeg
Ini pakai ragi instan. Cakep juga kan? Jadi ga harus pakai ragi natural kok.

Menurut gue kalau memang sangat tertarik dengan roti artisan ala eropa seperti crusty bread tapi belum siap mental mencoba bikin dengan menggunakan starter sourdough, cobalah menggunakan ragi instan terlebih dahulu. Daripada nungguin harus mahir menggunakan ragi natural yang nota bene masih membuat bingung ya kan. Bisa bisa nunggu kelamaan ga bisa nyicipin crusty bread buatan sendiri. Jatuhnya cuma wacana.

IMG_7338.jpeg

Buat teman teman yang ingin membuat artisan bread di rumah, baik menggunakan starter sourdough atau ragi isntan, bisa berkunjung ke instagram @dapursicongok dan channel youtubenya. 

Kalian bisa melihat resep dan mengikuti totorial sederhananya di sana.

image_6483441 (5).JPG

46326746525_5fed82fa25_o.jpg
Menggunakan ragi natural

Curhat Cuaca!

Ketika gue datang ke Swedia di tahun 2014 silam, gue merasakan musim semi yang masih dingin. Bahkan hingga musim panas, gue masih sering jaketan. Curah hujan masih teratur datang. Ini berlaku hingga tahun 2017.

Tapi di tahun 2018, panasnya itu ga ketulungan. Panas banget. Awalnya sih gue senang senang aja karena berasa ga ribet dengan jaket dan bisa bener bener menikmati musim panas. Tapi ketika cuaca panas ini membawa dampak hingga blueberry liar di hutan tidak berbuah, kemudian rumput di halaman berubah warna gersang kecoklatan, hingga puncaknya sebagian besar hutan di Swedia mengalami kebakaran besar dan hebat. Membuat gue sedikit cemas melewati musim semi dan musim panas tahun ini. Gue berhadapan dengan alam. Jelas ga bisa gue larang. Ramalan cuaca aja bisa salah ya kan.

IMG_7394.jpg

Musim semi tahun ini lebih aneh. Di bulan April biasanya masih berasa dingin. Tapi tahun ini uda panas banget layaknya musim panas. Sampai sampai desa tempat gue tinggal tidak mengadakan Valborg (tradisi menyalakan api unggun di akhir bulan April). Warga khawatir karena rumput di sekitar terlalu kering. Jadi langsung sadar diri mereka. Bayangin masih bulan April tapi sudah kelihatan gersang kering. Padahal salju yang berbulan bulan menumpuk aja belum lama meleleh. Suhu Panas membuat rumput dan tanah yang tadinya basah oleh salju seketika berubah kering.

IMG_7400 (1).jpg

Dan anehnya lagi bulan Mei lalu si salju kembali turun. Bulan Mei turun salju. Salju di musim semi. Hahaha. Kadang kadang dalam sehari bisa merasakan suhu 4 musim sekaligus. Adem sepoi mirip spring dan autum, panas layaknya summer dan dingin banget layaknya winter.

Sempat selama seminggu lebih suhu kembali ngedrop hingga minus menjelang malam dan subuh. Dan setelah itu tiba tiba panasssss banget. Dan sekarang curah hujan yang turun. Entah mengapa kalau sekarang hujan turun gue senang. Setidaknya tanaman di sekitar ga mati.

IMG_7398.jpg

Dan tau ga…pohon birches di sebelah rumah gue saat ini daunnya sudah menguning. Layaknya musim gugur. Bayangin aja masih musim semi loh. Belum melewati musim panas. Sangkin kepanasannya itu daun pas cuaca panas beberapa waktu lalu. Gue berharap semoga cuaca bumi kembali stabil. Gue trauma kalau sampai hutan kebakaran lagi.

Swedia 2019 

Penggila Jajanan Pasar

Ya Tuhannnnnnnnnnn….!

Blog ini masih ada nafasnya ga sih? Sekian lama ga difeeding…hahaha!

Entah mengapa kok rasanya gue semakin ga punya waktu menulis di blog. Padahal sering kepikiran mau nulis ini itu. Ujung ujungnya tetap stabil di titik “malas”. Iya, semakin hari semakin malas bercerita. Semoga tidak berkepanjangan.

Belakangan ini gue lebih aktif bermain masak masakan dan baking bakingan di instagram @dapursicongok yang gue kelola. Hobby baking dan memasak ternyata lebih menyita perhatian dan waktu gue dibanding ngeblog. Senang aja gue bisa berbagi pengalaman memasak dan baking di sana. Terutama baking. Lagi cinta cinta sangat.

IMG_6350.jpg

IMG_6364.jpg

Berhubung sekarang lagi ramadhan, sepertinya asik nih cerita tentang tajil. Ya hitung hitung blog ini ada tulisan barulah. Biar tidak terlalu lama kelaparan karena ga diberi giji. Haha.

IMG_7093.jpg

Ramadhan sendiri buat gue pribadi merupakan bulan yang sering mengingatkan kenangan masa silam. Meski tidak menjalankan puasa, tapi ramadhan selalu membuat gue gembira. Khususnya sewaktu gue masih stay di Medan. Dari kecil hingga dewasa selalu senang hunting makanan berbuka puasa. Lebih semangat dari yang berpuasa malah. Hahaha.

Kala itu kota Medan selalu ramai dengan penjaja kue tradisional dan jajanan pasar. Pokoknya ramai bangetlah. Senang banget. Mulai dari klepon, lupis, dadar gulung, wajik, talam ketan, kolak, bubur cendil, mie goreng, pecal, berjejer manis membuat tak cuma perut tapi mata juga lapar. Bahkan tak jarang gue sudah menunggu sabar si tukang kue langganan padahal dianya masih beres beres.

Demikian juga dengan lebaran, gue ikutan semangat. Menunggu bedug takbiran lewat dari depan rumah. Meski sudah lama juga tradisi ini tak terlihat lagi. Berhubung teman teman gue lumayan banyak yang muslim, uda gue atur agendanya mau bertandang kemana. Makan lontong pakai rendang, telor dan tauca (ngetik sambil ces cesan). Bahkan pernah naik motor rame rame bareng teman ikutan takbiran. Sampai subuh. Asik banget. Hahaha.

Makanya meski sudah jauh di Swedia, gue suka bikin jajanan pasar di rumah. Kebetulan gue suka banget yang namanya jajanan pasar terkhusus kue kue tradisional. Jadi kalau dibilang homesick akan makanan Indonesia, rasa rasanya sudah tidak terlalu lagilah. Karena mostly sudah bisa dibikin sendiri. Rasa juga nyaris mendekati keinginan lidah.

Bahkan untuk beberapa jenis makanan rasanya sudah lebih enak masakan sendiri dibanding yang dijual di tanah air (pengalaman ketika balik liburan ke tanah air tahun lalu berasa makanan di lidah sudah tidak terlalu nikmat lagi).

Foto foto di dalam tulisan ini adalah jenis kudapan yang paling gue suka. Kolak biji salak, bubur sumsum cendil, lupis, klepon, risol, bubur kacang hijau ketan hitam, es teler, es campur medan, es melon marjan……gleekk!

IMG_6644.jpeg
Kolak Ubi Biji Salak

Apalagi lepat bugis ketan hitam itu. Sampai belain blender ketan hitam beberapa kali untuk mendapatkan hasil tepung yang maksimal. Rasanya sama persis dengan yang dijual. Huaaaaaaaa aku terharu sekali. Gue masukin freezer dan setiap kali pengen baru gue kukus lagi. Maknyusssss sekali mak!

Sebenarnya ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak jajanan pasar yang gue suka. Rasanya sampai kapanpun gue menetap di negeri orang, makanan Indonesia tetap yang terenak buat gue. Wajarlah ya, namanya juga makanan sejak kecil hingga  dewasa. Kalau kalian suka jajanan pasar seperti ini ga sih?

Kalau kalian pengen bikin sendiri jajanan pasar dan resep resep lainnya, bisa follow dan subscribe instagram @dapursicongok dan channel youtube Dapursicongok

IMG_6627

Tentang Sourdough Bread

Saya adalah penghuni semesta yang hobby baking. Terutama baking roti rotian. Dan tak terasa sudah setahun lebih saya belajar dan latihan membuat roti dengan bantuan Levain (starter sourdough) secara otodidak. Levain juga dikenal sebagai wild yeast (ragi liar) atau natural yeast (ragi alami) yang bisa dibikin sendiri oleh siapapun. Untuk selanjutnya saya tulis Levain.

Saya mulai menggeluti sourdough sekitar bulan September 2017 lalu. Dan Levain yang saya bikin itu sudah berumur satu tahun lebih dan saya beri nama Stumpan. Tulisan tentang starter sourdough dan sourdough bread pernah saya tulis di sini dan di sini.

IMG_0764.jpg

Senang rasanya bisa menghasilkan roti artisan yang notabene dikerjakan tangan sendiri. Ga harus beli mahal mahal. Apalagi di tanah air jenis roti artisan sudah mulai naik daun dan konon harganya jauh lebih mahal dibanding roti biasa.

Membuat roti dengan bantuan levain tidak semudah dibanding membuat roti dengan menggunakan ragi instan. Apalagi jika roti yang dibuat berjenis artisan crusty bread. Tehniknya lumayan berbeda menurut saya. Pengerjaan adonan mengandalkan tangan dan bukan mesin. Tidak diuleni alias no knead. Serba hati hati dan punya teknik sendiri.

IMG_0788.jpg

Levain tidak semata mata hanya digunakan untuk jenis crusty bread, tapi juga untuk segala jenis roti lain termasuk jenis soft buns, pizza atau donat. Bahkan tidak terbatas pada roti rotian saja, melainkan juga untuk segala panganan yang memerlukan bantuan ragi seperti beberapa jenis kue.  Mengapa? ya karena levain memang ragi. 

46326746525_5fed82fa25_o.jpg

Hanya kerja levain lebih slow dibanding ragi instan. Apalagi jika levain digunakan untuk jenis crusty bread, mostly butuh waktu nonstop 24 jam untuk bisa menghasilkan roti matang. Karena proofingnya sangat lambat alias slow fermentation. 

Untuk levain yang saya bikin sendiri, 85 persen saya gunakan untuk membuat crusty bread. Jarang sekali saya gunakan membuat softbuns, donat atau cemilan berbahan ragi. Mungkin lain waktu akan saya coba pelan pelan. Saat ini masih fokus membuat crusty bread. Untuk jenis sofbuns dan donat, saya masih menggunakan ragi biasa atau ragi instan.

IMG_0784.jpg

*Dipakai atau tidak dipakai, Levain harus diberi makan (feeding) agar tetap hidup. Idealnya sih feeding secara teratur. Sekali dalam 3 hari sudah cukuplah atau dua kali dalam seminggu. Caranya dengan membuang sebagian levain (kira kira setengah bagian) dan kemudian menambahkan tepung dan air dalam takaran yang sama. Misalnya tepung 50 gram dan air 50 gram. Setelahnya dimasukin ke dalam kulkas dan wadahnya harus ditutup rapat*.

Tapi jika hendak digunakan untuk membuat roti atau makanan lainnya, levain dari dalam kulkas jangan langsung dicampur ke dalam adonan. Karena kondisi levain kemungkinan besar tidak dalam kondisi strong. Ini pengalaman saya. 

Empat hari sebelum hendak membuat roti, cobalah menambah kuantitas feeding lebih teratur lagi secara rutin dua kali dalam sehari selama 3 sampai 4 hari berturut turut. Levain akan lebih strong dan aktif serta aroma dan rasa asamnya pun tidak terlalu tajam.

IMG_0756.jpg

Setelah itu barulah ambil sebagian levain sesuai kebutuhan resep roti dan taruh di wadah baru untuk kembali diberi asupan tepung dan air (feeding terakhir). Sebagai contoh: jika di resep ditulis butuh sekitar 65 gram levain, maka levainnya jangan langsung dikeluarin seberat 65 gram. Cukup keluarin 20 gram saja dari wadah dan taruh di wadah/jar baru. Kemudian lakukan feeding terakhir dengan memberi air sekitar 40 gram serta tepung 40 gram. Biarkan sampai mengembang 3 kali lipat dan suhunya mencapai antara 26 hingga 27 derajat celcius. Kemudian barulah gunakan levain seberat 65 gram seperti yang ditulis di resep. Sisanya yang tinggal sedikit bisa dimasukin ke dalam wadah/jar yang pertama. 

Sedangkan untuk sisa levain di wadah yang pertama bisa disimpan di dalam kulkas dan jangan lupa untuk feeding sekali dalam 3 hari atau 2 kali dalam seminggu agar levain tetap hidup (seperti yang sudah saya jelaskan di atas*).   

Untuk feeding setiap minggu (in case levain dipakai atau tidak) tidak ada ketentuan mutlak harus berapa gram tepung dan air yang digunakan. Feeling juga bermain dan nantinya akan paham sendiri. Ga usah takut takut banget. Cuma saran saya, karena ada sistem buang sebagian dan biar tepung ga mubazir, beri seperlunya aja. Kalau saya lebih sering menggunakan tepung dan air di sekitar 50 gram tepung dan 50 gram air.

Tapi jika levain akan digunakan untuk membuat roti, lakukan feeding seperti yang saya urai di atas. Tingkatkan kuantitas feeding secara rutin 2 kali sehari selama 4 hari berturut. Dan kalkulasi feeding terakhir sesuaikan dengan kebutuhan di resep.

IMG_0794.jpg

Selain levain harus dalam kondisi fresh dan strong, beberapa point penting yang biasanya saya perhatikan sewaktu mengerjakan artisan sourdough bread (khusus yang crusty bread) adalah :

  • Suhu Oven harus benar benar panas berkisar antara 230 hingga 250 derajat celcius)
  • Menggunakan iron cast agar suhu panas lebih stabil
  • Sebelum digunakan untuk memanggang roti, iron cast harus dimasukin ke dalam oven di suhu 230-250 derajat celcius selama 30 menit
  • Menghindari penggunaan bleaching flour (tepung yang menggunakan pemutih kimia) untuk menghindari gangguan pada kinerja levain
  • Memperhatikan suhu levain ketika akan dicampur ke dalam adonan (sekitar 26 hingga 27 derajat celcius).
  • Memperhatikan suhu adonan (sekitar 26 hingga 27 rajat celcius)

46326746405_1fdd18f786_o.jpg

Sedangkan tahap tahap yang paling umum dan sering saya lakukan dalam proses pengerjaan artisan sourdough bread (khusus crusty bread) adalah :

  • Metode Autolyse (tahap penyerapan air oleh tepung sehingga gluten merekat dan menghasilkan adonan yang elastis dan lembut. Waktu yang dibutuhkan bisa bervariasi, ada yang setengah setengah jam, satu jam bahkan 4 jam tergantung suhu ruang juga)
  • Pemberian Strong Levain
  • Pemberian garam
  • Fold (tehnik melipat adonan) 
  • Lamination (tehnik laminasi)
  • Stretch and Fold (tehnik merenggangkan dan melipat adonan) dan tahap ini bisa diulang 3 hingga 4 kali hingga adonan mencapai suhu 26 hingga 27 derajat celcius 
  • Shape (membentuk adonan)
  • Proof (tahap menunggu adonan hingga mengembang sempurna)
  • Bake (tahap memanggang adonan di dalam oven)

IMG_0767.jpg

Butuh waktu setahun agar saya bisa membuat artisan crusty bread yang menghasilkan Open Crumb” secara jelas di bagian dalam. Penampakan bolong bolong di bagian dalam roti yang menjadi impian sebagian besar orang yang hobby membuat roti sejenis ini.

IMG_0862.jpeg
“Open crumb” pada sourdough artisan bread 

Menurut saya tidaklah cukup hanya membaca resep tertulis. Karena tahap demi tahap tidak sesimple pengertiannya. Apalagi tehnik mengaduk adonan, fold, laminasi, merenggangkan dan melipat, membentuk, tidak sesimple yang dibaca dalam tulisan. Prakteknya lebih rumit. Tidak bisa main hantam kromo mainin tangan ke adonan. Serba pelan pelan semua. Salah dikit, biasanya open crumbnya ga nongol.

IMG_0919.jpeg

IMG_0900.jpg

Jadi alangkah baiknya jika langsung melihat tutorial dalam video. Karena kalau hanya membaca tulisan nantinya bisa salah pengertian dan saya pun kurang pintar menjabarkan dalam tulisan. Karena saya tau prakteknya lebih tricky.

Baca pelan pelan tulisan saya agar lebih bisa memahami proses pengerjaan. Percayalah, kelihatannya mudah tapi untuk menghasilkan open crumb itu lumayan susah. Sebenarnya tidak melulu harus open crumb sih. Bukan berarti kalau bolong bolongnya tidak kelihatan langsung dikategorikan gagal. Tanpa open crumb pun sebenarnya bisa dimakan dan tetap enak. Cuma alangkah senangnya hati jika rasa enak dan penampakannya juga paripurna.

Dan mohon diingat, apa yang saya tulis di sini hanya berdasar pengalaman saya sendiri. Bukan berbagi sesuatu yang mutlak benar. Artinya apa yang saya tulis mungkin saja berbeda dengan cara kerja orang lain. Cara bisa berbeda tapi tujuan akhirnya hampir sama….menghasilkan roti yang paripurna. Eaaaaaaaaaaaaa.

IMG_0771.jpg

Video tutorial akan menyusul tayang di channel youtube DAPURSICONGOK

Note : tulisan ini lebih fokus terhadap penggunaan levain untuk artisan crusty bread ya dan murni mengandalkan tangan bukan mesin.

Berumur 400 Tahun Lebih, Hotel ini Menjadi Pilihan Berweekend yang Tepat

Saya lumayan sering menulis tentang beberapa penginapan yang pernah saya dan suami datangi sebagai tempat menginap. Dan rata rata hotel yang saya ceritakan tak jauh jauh dari hotel tua. Semakin lama saya semakin tertarik dan menikmati hotel tua dengan segala nuansa old style. Hotel tua bagi saya tidak sebatas sebagai tempat menginap tapi selalu ada cerita di baliknya. Selain itu suguhan interiornya pun menarik untuk dilihat.

Tapi hotel tua yang saya sukai itu bukanlah hotel yang atmosfirnya creepy banget yang sentuhan artnya beneran tidak ada. Murni menjajakan keseraman yang hakiki dan orisionil. Kalau seperti ini saya ogah. Hahaha.

IMG_9898 (1).jpeg

Berbicara mengenai hotel tua, di wilayah country side Swedia lumayan banyak jumlahnya. Sangat menarik untuk dijadikan tempat menginap dan quality time. Bedanya hotel hotel tua di country side Swedia tidak seperti kebanyakan hotel tua di eropa yang berbahan dasar material batu serta bergaya arsitektur baroque, art nouveau maupun gothic. Hotel tua di sini bisa dibilang rata rata berbahan material kayu dan sangat setia mempertahankan dan menonjolkan karakter skandinavianya. Hotel yang rata rata jika dilihat dari luar terlihat biasa. Tapi begitu masuk ke dalam akan disambut dengan interior yang unik dan tak kalah elegan. Dan uniknya nuansa hominya tetap berasa.

IMG_9820
Bar hotel Grythyttan Gästgivaregård  

Kali ini saya akan mengulas tentang salah satu hotel tua yang konon katanya lumayan terkenal di Swedia bernama Grythyttan Gästgivaregård. Terletak di daerah Grythyttan Örebro, propinsi Västmanland.

Dari tempat tinggal saya butuh sekitar dua setengah jam berkendara. Meskipun terkenal, sejujurnya saya baru mengetahui tentang hotel ini dari suami. Tepatnya di hari ulang tahun saya beberapa waktu yang lalu ketika dia memberi kejutan bahwa kami akan menginap di Grythyttan Gästgivaregård.

Hitung hitung menghabiskan weekend berdualah. Membuang kejenuhan akan gelapnya musim dingin sekaligus merayakan pertambahan umur saya yang semakin menua tentunya.

IMG_9891
Sebagian bangunan hotel tampak depan
IMG_9896
Lihat deh pintu lobbynya. Imut dan tidak seperti pintu hotel kebanyakan. Mirip rumah ya

Grythyttan Gästgivaregård bukan sebatas hotel untuk menginap. Tapi ada wisata sejarah yang ditawarkan. Kalau saya bisa berpendapat, tujuan utama para tamu hotel yang datang sepertinya hanya fokus menginap dan menikmati sensasi atmosfir abad ke 17 yang ditawarkan hotel. Jadi bukan sebagai tempat persinggahan untuk tidur semata lalu ngider melihat wisata di luar hotel.

Menilik mundur ke belakang, Grythyttan Gästgivaregård awalnya merupakan penginapan kecil layaknya losmen. Berdiri sejak tahun 1640 (sekitar emparatusan tahun silam), hotel ini memiliki ruangan kamar sebanyak 54 kamar yang dibangun semasa tahta kekuasaan ratu Kristina, ratu Swedia di masa itu.

IMG_9837.jpeg
Lobby hotel dengan sepasang foto raja dan ratu Swedia

Pada saat itu sang ratu mengeluarkan instruksi agar seluruh wilayah di Swedia dengan jarak pertujuh puluh kilometer harus memiliki Värhus atau penginapan. Masing masing penginapan ini tidak hanya menyediakan tempat beristirahat untuk para tamu tapi juga untuk ternak kuda yang mereka tunggangi. Dan khusus untuk kuda kuda ini, pemilik penginapan harus menyediakan tempat yang bisa menampung minimal 24 ekor kuda.

Kenapa harus demikian? Karena di masa itu belum ada yang namanya kendaraan maupun kereta api. Rata rata orang berpergian hanya dengan kuda. Dan ketika melakukan perjalanan jauh, mereka butuh istirahat. Sehingga diwajibkanlah seluruh wilayah di Swedia memiliki penginapan including kandang ternak.

IMG_9832.jpeg
Lobby yang luas dengan props vintage. Duduk di sini berasa keturunan bangsawan. Hahaha
IMG_9836.jpeg
Kece banget. Di sini para tamu bisa menikmati coffee/tea serta snack/dessert secara free. Rasanya dijamin tidak abal abal. Dududu…. 

IMG_9823.jpeg

IMG_9967.jpeg

Dan saya juga baru tahu jika rumah yang saya tinggali bersama suami saat ini, di masa dulu juga pernah dijadikan sebagai tempat penginapan kecil oleh keluarga suami dari generasi yang ke berapalah itu dia pun sudah tidak tau. Bahkan ada ruangan bawah tanahnya tapi sudah ditutup oleh lantai rumah. Huaaaaaaaaaaaaaaaa……kaget saya!

IMG_9829 (1).jpeg

IMG_9830.jpeg
Ruangan santai yang lain. Saya suka interiornya

Jaman berubah dan era modernisasi menyentuh kehidupan di bumi Swedia kala itu. Sekitar tahun 1879 ketika sarana transportasi kereta api memasuki wilayah Grythyttan, dibangunlah sebuah hotel yang lumayan besar di sekitar stasiun kereta api yang otomatis membawa dampak tidak baik terhadap Grythyttan Gästgivaregård yang waktu itu hanyalah sebuah penginapan kecil. Kala itu warga lebih tertarik dan memilih menginap di hotel besar dan tentunya lebih dekat ke stasiun kereta api.

IMG_9960.jpeg
Duhhh…sukaaaaaaaaaaaa!

Bisa ditebak akhirnya penginapan Grythyttan Gästgivaregård berhenti beroperasi untuk sekian lama. Hingga pada tahun 1973 pemerintah daerah setempat berniat ingin memugar bangunan penginapan ini. Rencana mana ditentang oleh dua pria bernama Arthur Lindqvist dan Yngve Henriksson yang tetap ingin mempertahankan bangunan Grythyttan Gästgivaregård ini.

IMG_9843.jpeg

IMG_0008.jpg
Table decoration

Singkat cerita Grythyttan Gästgivaregård kembali beroperasi dengan konsep managemen yang jauh berbeda. Dari sebuah penginapan biasa menjadi sebuah hotel dengan sentuhan unik, elegan serta menonjolkan sajian gastronomi high class.

Seorang Carl Jan Granqvist yang dikenal sebagai salah satu tokoh televisi, restaurateur dan pengamat food and wine terkenal di Swedia pernah menjadi Cellar Master tertinggi di Grythyttan Gästgivaregård.

IMG_9849.jpg

Meskipun kini setaraf hotel tapi embel embel kata Gästgivaregård (yang bisa diartikan losmen) di belakangnya hingga saat ini tidak pernah diganti. Hingga pada tahun 2014 asset saham dan kepemilikan Grythyttan Gästgivaregård beralih ke Spendrups Family yang tak lain merupakan pemilik perusahaan minuman besar di Swedia yang dikenal dengan brand Spendrups. 

IMG_9750.jpeg
View dari jendela kamar. Serasa gimana gitu..
IMG_9547.jpeg
Ruangan kamar bertema airy room abad ke 17. Semua serba vintage

Grythyttan Gästgivaregård memiliki 54 kamar dengan konsep airy room abad ke 17. Dan uniknya setiap pintu kamar memiliki interior yang berbeda baik dari peralatan hingga wallpaper. Dan kamar kamar di hotel ini semakinlah bertambah unik karena setiap pintu kamarnya ditempeli bingkai tulisan yang berisi sejarah Grythyttan Gästgivaregård, yang mana setiap pintu kamar memiliki cerita sejarah yang berbeda beda.

IMG_0063.jpg

IMG_0049

Grythyttan Gästgivaregård sering juga digunakan sebagai tempat pertemuan/meeting, wedding party hingga fine dining. Tak jauh dari  Grythyttan Gästgivaregård para tamu juga bisa menikmati fasilitas spa di Loka Brunn tapi beda bangunan dan lokasi.

IMG_9630.jpeg
Setiap pintu kamar memiliki cerita sejarah yang berbeda beda terkait Grythyttan Gästgivaregård . Ini cerita sejarah di pintu kamar kami menginap. 

Menelusuri setiap sudut ruang hotel selalu memberi keasikan tersendiri buat saya. Semua barang yang berjejer bener bener bikin takjub. Vintage trala la la!

Satu hal yang menarik perhatian saya, hotel ini juga menempelkan berbagai daftar menu dari berbagai hotel tua di seluruh Swedia dari masa ke masa. Saya jadi tau metamorfosis design daftar menu di setiap restoran dari jaman ke jaman. Keren ihh!

IMG_9986
Sebuah sudut loteng. Oldis banget ya auranya. Setiap dinding berhiaskan bingkai berisi daftar menu dari berbagai hotel tua di Swedia dari jaman ke jaman
IMG_9995 (1)
Bingkai berisi berbagai macam menu hotel tua di Swedia
Grythyttan Gästgivaregård juga sangat terkenal dengan kualitas makanannya. Hotel ini memiliki gastronomi high quality. Setidaknya itu yang saya baca dari buku pengantar mereka serta waitress yang selalu memberi penjelasan di setiap menu yang di sajikan ke meja. Tak jarang manu hotel ini ditangani chef terkenal dan sering memenangkan perlombaan masak bergengsi.

IMG_9668.jpeg

Dan itu sudah saya buktikan sendiri. Makanannya bener bener enak. Enak dalam arti sanggup bikin mata saya merem melek pada saat menyantap. Bukan yang sekedar enak tanpa sensasi apa apa. Saya bukan bermaksud melebihkan. Karena saya termasuk orang yang agak nyinyir untuk urusan makanan. Ga sanggup saya bilang enak kalau ternyata biasa biasa saja rasanya.

Meskipun sekilas penampilan menu tidak terlalu luar biasa, tapi untuk urusan rasa Grythyttan Gästgivaregård memang bisa diancungin jempol. Rasanya jika mereka menggunakan rumput liar sebagai garnis di menu, pasti akan saya hajar juga sangkin enaknya. Hahaha.

IMG_9766.jpeg

IMG_9764.jpeg

Selain itu mereka juga menyajikan keju berkualitas yang umurnya bisa dibilang lumayan lama. Dan untuk ini jujur lidah saya belum bisa menikmati. Aroma tengiknya sangat menggangu saya. Rasanya juga aneh. Maaf, separuh lidah saya masih katrok.

IMG_9853

Grythyttan Gästgivaregård juga sangat terkenal dengan koleksi minuman anggur/wine dengan umur yang relatif tua. Bahkan hotel ini memiliki cellar (ruang bawah tanah) yang sekitar 350 tahun yang lalu digunakan sebagai ruang penjara bagi orang orang yang menunggu hukuman pengadilan.

IMG_9858.jpg
Gudang bawang tanah. Sekitar 350 tahun lalu sempat digunakan sebagai penjara bawah tanah dan kemudian diganti sebagai tempat penyimpanan wine.

Seiring waktu akhirnya cellar atau ruang bawah tanah tersebut digunakan sebagai gudang penyimpanan wine berkualitas yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Saat ini gudang bawah tanah lebih sering digunakan tamu hotel sebagai tempat menikmati menu fine dining khususnya di saat musim panas. Bisa ngebayangin ga sih, makan cantik di ruang bawah tanah, bekas penjara………………..dan penjara 350 tahun lalu pulak! Excited sudah pasti.

IMG_9856
Dan sekarang digunakan untuk fine dining khusus di saat musim panas 
IMG_9857
Keren ya makan di tempat seperti ini. Meski digunakan hanya di saat musim panas, tapi pihak hotel tetap menata cantik meja dan dijadikan sebagai objek tour oleh para tamu hotel. 

Sehingga tak ayal harga minuman wine di restoran Grythyttan Gästgivaregård lumayan berbeda jauh dengan harga wine yang dijual di Systembolaget  (store resmi yang menjual minuman beralkohol di Swedia).

Sebagai perbandingan jika membeli sebotol red wine dengan berat kurang lebih 750 ml di systembolaget bisa dihargai 100-120 Sek, maka di Grythyttan Gästgivaregård harganya berlipat ganda menjadi 150 sek ke atas dengan berat hanya 70 ml.

Bisa dimaklumi karena rata rata anggur yang mereka tawarkan memang sudah lumayan tua. Seperti yang kami pesan misalnya sudah berumur sekitar duapuluh tahun. Bahkan yang jauh lebih tua dari itu juga ada.

IMG_9939 (1).jpeg

IMG_9937
Kalau ini ruangan restoran di lantai atas khusus bagi para tamu hotel yang ingin menikmati berbagai jenis menu daging sapi berkualitas

Restoran di Grythyttan Gästgivaregård memiliki beberapa ruangan makan yang berbeda beda. Jika ingin menikmati sajian berbagai jenis daging sapi berkualitas di waktu yang bersamaan, ada satu ruangan yang khusus disediakan untuk itu. Tapi tidak setiap saat. Dan lagi lagi design interiornya bikin saya betah.

IMG_9916

IMG_9921

IMG_9915
Decornya cakep

Grythyttan Gästgivaregård sepertinya sangat jeli melihat pelanggan pasar. Mereka tahu para tamu bakal tertarik dengan suguhan old style yang mereka sajikan. Old style yang bisa dibilang nyaris origionil karena mostly property di dalamnya bukanlah barang tua yang dipaksa terlihat menjadi tua. Tapi memang beneran uda tua. Rata rata available semua. Sehingga dengan terang terangan mereka membuka tävling atau perlombaan photography setiap bulannya.

Berikut beberapa foto property hotel :

IMG_9839

Salah satu lorong kamar hotel di lantai atas. Jika melihat foto berasa horor ya. Tapi aslinya ga kok. Lorongnya lumayan terang
IMG_9842.jpeg
Sudut yang antik abis. Lemarinya itu sudah ratusan tahun umurnya
IMG_9567.jpeg
Toilet di lobby hotel. Pintuna itu loh lucu!

IMG_9978.jpeg

Di depat toilet terdapat pernak pernik souvenir yang bisa dibeli. Melihat ruangannya ini saja bikin saya gemes. Haha
IMG_0042
Biasanya kamar mandi hotel menyediakan botol atau gelas biasa untuk menampung air mencuci mulut. Tapi hotel ini menggunakan cangkir mirip tea cup keramik seperti ini. Pengen saya bawa pulang deh. 

Jadi setiap tamu ga perlu malu malu untuk motoin segala hal yang ada di dalam maupun luar hotel. Mulai dari makanan hingga interiornya. Setiap bulan mereka akan memilih satu orang pemenang. Dan tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan ini. Lumayan kan kalau saya menang bisa menginap satu malam. Menghemat biaya. Karena biaya menginap permalam di hotel ini relatif mahal. Sekitar 2800 Sek (setara 4,2 juta rupiah). Aaaaaaaaaaaaaa………..semoga saya menang. Amin!

Berikut video lengkap Grythyttan Gästgivaregård yang saya upload di akun youtube saya. 

Korban Beauty Vlogger

Menjadi terlihat cantik menjadi impian “sebagian” kaum wanita. Artinya cantik yang saya maksud di sini tidak pakai embel embel inner beauty atau cantik hatinya atau apalah itu, melainkan cantik fisik. Lebih tepatnya lagi cantik karena perawatan. Cantik karena dandan. Cantik karena ditopengilah kasarnya.

Ada yang bilang menjadi tua adalah takdir. Tapi untuk terlihat tetap muda dan cantik adalah pilihan. Terutama di jaman sekarang, menutupi keriput di kulit bukan hal yang sulit. Ga perlu sampai program operasi plastik duluhlah, mari bicara yang gampang aja. Penggunaan produk skin care hingga make up misalnya. Masalah harga bisa menyesuaikan budget. Harga toh bervariasi. Murah, menengah, mahal, mahal banget, mahal bikin jejerit hingga mahal sampai ngejual organ seperti kata Suhay Shalim. Haha..

IMG_7466.jpeg

Sekarang mari fokus bicara make up. Ga usah merambah kemana mana. Saya sendiri bukan seorang yang terlalu menggilai make up. Artinya kemana mana harus mekapan. Jadi tergantung mood.

Tak jarang saya keluar tanpa mekapan sama sekali, bahkan mekap yang paling standart seperti bedak, lipstick sekalipun. Paling cuma menggunakan moisturizer. Tapi bukan berarti perlengkapan make up tidak ada. Kebanyakan cuma jadi penghias lemari rias. Kecuali kalau lagi rajin ya baru mekapan. Bisa full make up.

Bukan baru baru ini saya rajin menonton tutorial make up dari para beauty vlogger di youtube. Sudah lama. Tapi hanya sebatas nonton. Rasanya suka aja melihat transformasi before afternya. Suka takjub dengan keahlian mereka. Bikin eyeshadownya itu loh gradasi warnanya keren keren banget. Uda gitu cepat banget ngeblendnya. Kelihatannya gampang padahal setelah dipraktekin susahhhhh!

IMG_7472.jpeg
ABH eyeshadow palette : Prism, Norvina dan Soft Glam. Sekilas warna warnanya sama ya tapi sebenarnya tidak. Dan masing masing palette ada beberapa yang warna bener benar berbeda.

Saya pernah mencoba bikin smokey eyes. Hasilnya? mirip hantu kena tonjok. Hahaha. Perasaan kalau bikin sendiri tanpa harus mengikuti tutorial berasa lebih gampang deh dan hasilnya pun lebih bagus.  Mungkin karena lebih feel free kali ya dan saya belum terbiasa menggunakan brush. Biasanya cuma pakai ujung jari. Kalaupun ada brush ya itu tadi cuma jadi penghias meja rias. Sampai akhirnya pelan pelan saya coba beberapa kali. Lama lama tangan saya jadi lebih rilex (baca meski tetap sedikit kaku). Meski hasilnya masih jauh banget dari kata bagus. Apalagi penggunaan warna untuk menghasilkan gradasi yang sempurna masih minim pengalaman banget. Sejauh ini cuma main sikat seenak jidat.

IMG_7487
Fresh Glow Satin Blush Soft Pink. Tapi di foto kok seperti warna coklat muda ya..
IMG_7484.jpeg
Sebelumnya saya pernah menggunakan produk body butter dari Estelle & Thild Stockholm. Kemudian berganti dengan produk apotek karena store yang menjual produk ini tutup di kota terdekat tempat saya tinggal. Akhirnya pas ke Stockholm beberapa waktu lalu, saya tertarik mencoba Sheer Shimmer Healty Glow Sun Powdernya. Menurut saya, shimmer tapi dijadikan contour dan blush on juga bisa. Mudah diaplikasikan dan langsung terlihat hasilnya.  Di kemasan juga tertulis jika produk sudah mendapat certified organic.

Karena niatnya cuma pengen menonton, akibatnya produk apapun yang digunakan dan direkomen para beauty vlogger ga sampai membuat saya harus membeli produk yang mereka pakai. Kalaupun saya harus membeli paling murni karena inisiatif saya sendiri.

Tapi entah mengapa belakangan ini kuantitas menonton tutorial make up semakin menjadi jadi. Ga hanya di youtube, video singkat seperti di instagram pun saya suka liat. Bahkan sampai ngefollow beberapa brand make up di instagram. Tadinya saya beneran ga tertarik loh apalagi sampai follow instagram segala. Tapi sekarang suka banget apalagi untuk tutorial eyeshadow.

Dan puncaknya saya percaya dan tergiur untuk membeli produk yang direkomen oleh mereka. Salah satunya produk seri eyeshadow palette dari Anastasia Baverly Hills (ABH) dan foundation Dior. Meski brandnya sudah tak asing di telinga, tapi justru saya baru tertarik membeli setelah salah satu beauty vlogger Indonesia merekomendasikan.

Sejauh ini sih produknya relatif memuaskan. Full coverage dan mudah diblend. Warnanya juga pigmented. Sedang beberapa produk lain yang saya pakai murni saya beli karena memang sudah cocok dengan produknya. Seperti Estelle & thild Stockholm, smashbox, clinique, ga perlu sebut semua (malas nulis mak). Berhubung saya lagi fokus bikin eyeshadow ala ala beauty vlogger, palette ABH tidak mengecewakanlah. Pigmented hasilnya.

IMG_7493 (1).jpeg
Dior Prestige Le Cushion Teint De Rose. Selain kemasannya yang kece, spongenya lembut, harumnya juga enak banget dicium. Aroma parfume gitu deh. Hasil fondinya juga coveragelah. Setidaknya bintik di wajah saya tersamarkan. Hahaha. Rekomen menurut saya. Ga salah saya mengikuti saran si beauty vlogger terkenal itu. Untuk harga sih buat saya lumayan mahal ya. Tapi worth it kok.

Berikut hasil gores gores makeup selama latihan beberapa kali. Belum keliatan konsep make upnya. Belum berkarakter. Masih acak adut. Contournya juga masih samar. Hahaha.

Saya mencoba pakai lashes palsu. Ohhh my God…..hahaha……daku tersiksa!

Nah cerita tentang lashes palsu ini memang bener sangat memegang peranan penting untuk kesempurnaan look eyeshadow. Warna eyeshadow terlihat lebih oke setelah dipasangkan dengan si bulu mata kawe ini. Begitu dibuka dan dilepas langsung berasa banget bedanya. Warna eyeshadow terlihat kurang keluar. Jadi ga heran jika mostly beauty vlogger selalu menggunakan lashes palsu di tutorial make up mereka. Untungnya sudah banyak lashes palsu yang dikemas lebih halus. Jadi lebih mudah menyesuaikan ke matalah apalagi untuk pemula. Menjadi cantik kan harus menahan sakit katanya. Haha..

Trus untuk apa sampai belain make up beginian? yaaaaa tidak untuk apa apa sih mak! cuma penasaran pengen nyobain aja. Dan ternyata asik juga. Hitung hitung terlihat lebih keceehhhh….ups!

Saya pun tidak bisa memastikan sampai kapan menggores gores make up di wajah saya. Jangan jangan bulan depan uda bosan dan letoi. Who knows…dibawa senang saja. Hidup jangan terlalu serius shayyyyy!

img_7500
Beberapa produk yang saya pakai. Mulai dari fondi, shimmer, highlights, blush on, eyeshadow palette, glitter, primer, dan concealer. Nihil contour, eyelinear, eyeliner, eyebrows pencil dan lipstick. Mau motoin lagi malas jadi nyomot foto dari tulisan saya tentang Belanja Online. Haha.. 

Berikut di bawah ini hasil make up yang saya racik (catet ya : RACIK! hahaha apaan coba diracik). Make up super abal abal. Beneran belum berkarakter hasilnya. Begitupun sudah lumayanlah menipu publik kalau wajah asli saya sebenarnya jauh lebih berantakan.

Sebenarnya agak malas nampilin wajah gede gede di blog. Lebih dari satu pula. Kalau di instagram sih masih mending karena saya privat. Tapi ya sudahlah, sapa tau dengan melihat hasil make up foto foto di bawah ada yang berniat ngajari saya tips bermake up yang lebih bagus? Saya tunggu….twink!

4CF71BBC-EB29-41C8-B8AF-5BF9530BC10D (1).jpeg
Saya suka warna lipsticknya. Produk Viva La diva Iris Mate 308 dan harganya murah! Warna aslinya violet terang dan saya beri lipliner warna pink serta lipgloss pink. Warnanya lebih rich. 
IMG_8714
Eyeshadownya pakai palette Prism dan Soft Glam dari ABH. Suka warna warnanya dan menjadi hancur berantakan ketika diaplikasikan oleh tangan saya. Haha..
30861D6A-81C9-42EB-9180-043A5799F9C1
Contournya kurang tegas. Tapi sudahlah…
C910BF6E-7C5C-4228-81D3-890B71EDAE7B
Salah satu warna lipstick kesukaan saya. Sudah lama setia pakai produk Loreal Color Riche Matte 633 Moka Chic. Beberapa produk lipstick lain dengan warna yang agak mirip justru jarang saya pakai. Lebih cocok dengan produk satu ini. Saya sudah beli sampai 3 kali. Harga juga terjangkau. Cuma di foto ini saya combine dengan Loreal Color Riche Matte 634 Greige Perfecto dan lipliner warna coklat. Warna aslinya lebih soft. Untuk smokey eyesnya belum kelihatan sukses 😦

When in Sweden (Part 2) Perubahan Selera Terhadap Beberapa Jenis Makanan

Melanjuti tulisan sebelumnya yang pernah saya tulis di sini, kali ini saya akan bercerita tentang perubahan selera terhadap beberapa jenis makanan. Jika tadinya suka banget terhadap jenis makanan tertentu menjadi kurang begitu suka. Demikian sebaliknya yang tadinya tidak suka menjadi suka. Perubahan mana saya rasakan setelah sekian tahun menetap di Swedia. Apa saja?

1. Makanan beraroma Dill

Dill semacam herbal yang beraroma tajam. Tajam banget menurut penciuman hidung saya. Pertama sekali mencium aromanya berasa aneh. Benci bangetlah. Menyantap makanan berbahan dill tentunya lumayan menyiksa saya di awal awal. Sepenglihatan saya, makanan Swedia itu lumayan sering dicampur dengan dill. Daging dan ikan terutama ikan salmon biasanya selalu menggunakan bahan campuran dill. Tak cuma itu, berbagai jenis pickled dan smörgås (open sandwich ala Swedia) pun menggunakan dill.

IMG_8135
Contoh tanaman dill segar (dibelakang selada air)
IMG_3633
Dill kering dalam kemasan botolan

Akibatnya lama kelamaan hidung dan lidah saya terbilang sering mencium aroma dan merasakannya. Waktu perlahan lahan menyesuaikan ke lidah saya. Ternyata memang enak. Apalagi salmon bercampur dill. Serasi sekali. Makan salmon tanpa dill rasanya seperti makan lalapan tanpa sambel pedas. Saya suka!

Sekarang stok dill menjadi wajib ada di dalam lemari dapur saya.

IMG_7984
Olahan salmon menggunakan dill
IMG_8141
Half egg, salah satu menu terkenal di Swedia yang sering menggunakan dill sebagai garnis

2. Makanan Bersaos Menyerupai Selai

Ya Tuhan….di awal awal beneran jonggg banget setiap melihat suami makan pakai saos yang mirip selai. Kebayang ga sih makan nasi pakai selai? Atau makan kentang daging pakai selai? roti pakai selai iya. Haha..

Nah kalau di Swedia makanan berat seperti kentang dan daging sangat sering disantap barengan saos yang mirip selai. Tepatnya selai lingonberry atau berbagai jenis current. Rasanya asam manis. Ada juga yang diolah menjadi jelly jam.

Mostly jenis selai yang digunakan untuk makanan berat berasal dari lingonberry dan red/blackcurent. Bukan strawberry, blueberry, nenas, mangga atau buah lainlah. Mungkin karena pertumbuhan lingon berry sangat subur di hutan Swedia. Bisa diambil secara gratis.

IMG_8086
Menu daging menggunakan selai lingon
IMG_8136
Swedish meatballs with lingonberry sauce

Untuk lingonberry konsistensinya lebih encer dan biasa dimakan sebagai pelengkap rasa Swedish meatballs maupun steak. Sedangkan blackcuuret/redcurrent sering dijadikan jelly jam (lebih padat). Nah jelly jam ini biasa digunakan untuk daging dagingan seperti beef steak atau moose steak.

IMG_8137
Lingon buatan sendiri. Hasil metik di hutan. Buahnya seperti gambar di bawah ini.

Dan lagi lagi makanan yang disantap dengan selai mulai cocok di lidah saya. Perlahan namun pastilah ceritanya. Malah terkesan nancep poll dan sayaaa sukaaaa! Saya harus mengakui jika menyantap menu seperti steak daging barulah sempurna kelezatannya jika dilengkapi selai.

IMG_8094
Meatloaf with gele (baca : huelle) yang mirip jelly jam. Enak!

3. Susu

Saya benci susu! beneran!

Dulu kalau minum susu rasanya tersiksa sekali. Ribet bangetlah sampai harus menutup hidung dan sering sekali berasa mau muntah habis nyium aromanya. Aroma coklat, vanila atau apalah itu ga akan ngaruh. Bauk!

IMG_8284.jpg

Tapi sejak tinggal di Swedia lidah saya lumayan bertenggang rasa dengan produk fresh milk di sini. Aroma dan rasanya plain. Apalagi pilihan kadar lemaknya lengkap. Meski dibilang belum suka banget tapi setidaknya saya lumayan enjoy menikmati produk susu di Swedia tanpa harus menutup hidung. Apalagi jika dicampur dengan homemade selai blueberry. Saya nikmati banget. Enak dan segar.

4. Seafood Dingin

Makan seafood tapi sedingin suhu kulkas. Ya cuma di Swedia pertama nyoba. Dulu suka benci melihat sajian seafood dingin. Aneh aja rasanya. Apalagi kalau diundang makan atau makan di restoran, seafoodnya dingin.

Duhhh…………….langsung teringat seafood Indonesia yang tersaji lengkap dengan kepulan asapnya.

43399733965_e3df9fd04b_o
Kräfftor alias udang darat. Dimakan ketika dingin

Kebayang ga sih makan lobster, udang, kepiting tapi sedingin suhu kulkas. Beneran ga enak kalau bagi pemula. Apalagi jenis seafood di tempat saya mostly sudah melalui proses perebusan dan penggaraman terlebih dahulu. Rasanya asin tanpa ada aroma bumbu.

IMG_8109
Lobster, dimakan juga ketika dingin. Mana rasanya asin

Awal awalnya suka pusing kalau melihat suami dan beberapa orang yang saya kenal menyantap seaffod dingin. Tapi lama lama jadi terbiasa. Dan ternyata enak juga. Lebih tepatnya “daripada ga ada” ya kan. Mengharapkan sama persis dengan seaffod di tanah air ya keburu air liur kering.

IMG_8099
Smörgås dan udang dingin
IMG_8734
Half egg yang dingin dengan topping udang yang lagi lagi juga dingin

Tidak hanya seafood tapi ada beberapa jenis makanan di Swedia yang jika dimakan idealnya memang dalam kondisi dingin.

5. Salad Sayur

Saya bukan penggemar sayur tapi kalau buah iya. Namun sejak menetap di Swedia yang namanya sayur saya suka banget. Bayangkan sampai sayur mentah pun saya jadi suka. Setiap makan ke restoran selalu makan salad. Dan porsinya lumayan. Apalagi dressing salad di Swedia menurut saya memang enak.

Dulu hanya salad buah yang saya suka. Jadi ceritanya ketika suami berkunjung pertama sekali ke Indonesia sekitar 5 tahun lalu, kami berdua pernah makan di salah satu restoran pizza. Lalu dia pengen makan salad. Saya bantuin mengambil salad tapi hanya bagian buahnya yang saya pilih. Jelas dia bingung. Karena yang dia tau kalau untuk makan ya salad sayur bukan buah. Haha..

6. Es Krim

Kalau ini kebalikannya. Dari yang dulunya suka banget menjadi kurang begitu suka. Tapi bukan berarti tidak mau memakan sama sekali loh. Kuantitasnya aja yang jauh berkurang.  IMG_8090

Jika dulu saya sangat menyukai es krim, sekarang malah tidak terlalu suka. Dulu yang namanya segala jenis es krim saya suka. Mulai dari es krim kampung sampai es krim yang harganya lumayan nguras dompet. Dulu kalau makan es krim rasanya ga pernah puas dan pengen nambah terus.

IMG_8103

Ironisnya setelah sampai di Swedia, dimana es krim yang enak itu gampang didapat malah semakin kurang suka. Awal awal sih doyan banget sampai winter pun tetap nyantapin es krim. Lama lama eneg. Haha..

IMG_8096

Apa karena porsinya banyak banget dan es krimnya terlalu enak, jadi berasa cepat kenyang. Mungkin juga karena kuantitas memakan es krim yang lumayan sering menjadikan diri ini cepat bosan. Tapi bukan berarti saya tidak mau memakan es krim lagi loh. Kuantitasnya saja yang sudah jauh berkurang.

7. Coklat

Eropa itu sarangnya coklat enak toh. Swedia saja yang bukan penghasil coklat terenak bisa enak banget coklatnya. Dulu saya kalau beli coklat ga rela berbagi dengan siapapun. Apalagi coklat enak di tanah air itu buat saya lumayan mahal.

IMG_8139

Hingga ketika menetap di Swedia dan melihat banyaknya tumpukan coklat enak di rak supermarket, entah mengapa disitulah diri ini berasa eneg. Berasa melihat butiran beras (lebay) dan akhirnya rasa cinta itupun berlalu, menghepas, menjauh, dari yang namanya coklat. Haha..

IMG_8104

Jadi kalau sekarang jarang sekali saya ngunyah coklat. Semisal pengen makan coklat ya cuma sekedar. Apalagi saat perayaan natal, duhhh pusing kepala kakak nih. Coklat sana sini.

8. Potato Chips

Ini lagi ya Tuhan…………favorite saya banget dulu. Makannya ga satu satu tapi langsung segenggam masuk mulut. Rakus! Haha..

IMG_8270.jpg

Tiba di Swedia perlahan lahan kecintaan dengan potato chips semakin berkurang. Padahal kentang asli loh. Dan lagi lagi dikarenakan terlalu sering melihat bungkusan potato chips yang segede gede gaban di rak supermarket, membuat diri ini berasa kalau cemilan yang satu ini bukan sesuatu yang luar biasa lagi. Apalagi pengaruh rasanya yang lumayan asin. Tapi meskipun begitu, sesekali saya masih mau ngemil potatos chips. Tapi jarang sekalilah.

Kalian ada yang seperti saya ga, lama lama memiliki selera makan terhadap makanan tertentu menjadi berubah?