Stockholm, I Really Heart You!

Setidaknya inilah kalimat yang bisa gue sampaikan ke kota cantik nan romantis ini. Kota yang tidak hanya membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi juga meninggalkan kesan dan pengalaman baru, yang sampai sekarang pun kalau gue ingat, pengen rasanya memutar mesin waktu dan merasakan kembali bagaimana luapan kebahagian gue, keheboan gue, keudikan gue, ketika pertama kali mengunjungi kota yang memiliki julukan Venice Utara ini. Rasanya banyak sekali kalimat yang ingin gue utarakan, tapi lagi lagi tidak pandai mengurai kata.

IMG_1511.JPG

Padahal baru dua tahun berlalu, rasanya seperti kenangan di masa kecil saja. Terlalu menyenangkan buat gue. Seperti tidur dan mimpi indah. Ketika gue memiliki rencana dan bilang dalam hati “Ahh, nabunglah. Biar bisa keliling Eropa” Dan gue pun serius. Di sela cicilan apartemen yang harus gue bayar setiap bulannya, gue mulai menyisihkan sedikit sisah gaji yang ada. Pokoknya harus melihat Eropa!

IMG_1508.JPG

Tapi cerita pun menjadi lain, ketika harus berjodoh dengan seseorang yang Tuhan sudah pilihkan. Tentunya ini merupakan bagian dari rencana indah, yang Tuhan sudah atur di dalam kehidupan gue.

Dan singkat cerita, akhirnya gue diperkenankan melihat lebih cepat benua yang sejak kecil menjadi bahan khayal gue, tanpa harus bersusah payah menumpuk angka saldo di buku tabungan. Bisa melihat negeri dongeng di benua yang indah. Iyesss tra la la, gue berhasil menginjakkan kaki di Eropa. Walaupun hanya sebatas satu kota, namanya Stokholm!

IMG_1503.JPGBerhubung kunjungan pertama, jelas saja semangatnya tingkat dewa. Jangankan ke Singapur or Thailand, liburan di Indonesia pun gue selalu bersemangat. Konon pula ke Eropa. Bah!

Heboh dan udiknya nyampur jadi satu. Sampai sampai phobia naik pesawat yang menjadi sindrom ganas yang selalu menyerang gue, berhasil gue halau. Boro boro penerbangan 18 jam, yang dua jam saja sudah membuat gue pengen guling guling.  Rekor bangetlah pokoknya, ketika gue tidak mengalami stress parah, yang sampai membuat gue susah tidur. Malah sebaliknya, gue lebih tenang dan santai. Kalaupun muncul rasa cemas, masih  sebatas normal.

IMG_1509.JPG

Kunjungan pertama ke Stockholm jelas merupakan pengalaman yang indah buat gue. Iya, Stockholm adalah kota yang sampai saat ini selalu mendapat tempat di hati. Kota  pertama yang meyakinkan gue kalau negeri dongeng itu ada. Negeri salju itu ada.  Rumah tua di jaman zorro itu ada. Gambar klasik di kartu natal itu ada.  Dan kota inilah yang pertama sekali membuat mimpi dan khayalan gue akan indahnya negeri Eropa tergenapi. Nyata di depan mata. Ahhh…ini nulisnya sambil terharu biru dan senyum senyum senang.

img_1521
Wajah kota Stockholm
img_1513
Wajah kota Stockholm

Ketika apa yang selama ini cuma bisa didengar dari cerita orang, dilihat dari media cetak/televisi bahkan media sosial, akhirnya menjadi sebuah realita, sungguh pengalaman luar biasa buat gue. Apalagi untuk sebuah kunjungan pertama. Ada satu kejadian yang sangat gue ingat, kejadian yang mungkin bagi sebagian kalangan terkesan “apaan sih”. Tapi tidak bagi gue.  Kala itu gue dan suami menginap di sebuah hotel tua di daerah Gamla Stan. Ketika bangun dan hendak sarapan, seketika langkah gue terhenti di depan balkon teras lantai dua hotel.Balkon yang tidak terlalu luas. Kaki gue terhenti akibat terpana oleh sebuah pemandangan yang selama ini cuma ada dalam khayalan. Sesuatu yang berwarna putih. SALJU!

IMG_1646.JPG
Dari sekian dokumentasi foto yang gue punya, inilah foto yang paling gue suka. Gue simpan terus. Foto yang berhasil membuat gue terpana. Timbunan salju di kursi dengan model meliuk liuk itu membuat gue gemyessss!
img_1653
Ahhh…pengen mengulang masa dua tahun yang lalu. Habisnya kalau sekarang melihat salju tidak se-excited waktu di foto ini. 
img_1643
Ini juga membuat gue terkesima.  Pertama melihat barisan pohon dibelakang itu, entah mengapa langsung merasa familiar banget dengan foto foto winter. Langsung cusss deh foto. Topi gue aja ga nahan itu modelnya. Rusia banget. Sekarang udah males pake topi gituan. Hahahha.  Ahhh, pengalaman pertama itu memang selalu menyenangkan

Iya, ada salju di depan gue. Putih dan bersih! Bertumpuk menghiasi meja dan kursi tua di balkon hotel. Beneran gue terpana. Tumpukan salju yang gue lihat pas banget dengan gambar di kalender dan lukisan. Cantik. Apalagi atap atap gedung sekitar hotel juga penuh dengan balutan salju. Dan entah mengapa momen melihat salju di pagi itu sangatlah tepat. Silent banget! Tidak ada orang lain, cuma gue dan suami.

Momen yang menggiring emosional gue. Ohhh…inikah salju dalam cerita dongeng itu? Gue pegang dan gue lempar. Ahhh..ada salju di tangan gue. Sukses membuat gue seperti kembali ke umur belasan tahun.  Ternyata  kartun Disney dan Hans Christian Andersens itu ga pernah bohong. Salju dalam sajian cerita mereka benar adanya. Hahaha.

Gue ga tau, apakah orang lain yang pertama sekali melihat salju seperti gue jugakah? Yang jelas rasa dingin yang menggigit tubuh kala itu, terkalahkan oleh rasa suka yang mendera.

IMG_1466.JPG

Ketika beberapa kalangan mengeluhkan salju dan musim dingin, berbeda dengan gue. Tidak perduli seberapa dingin dan tebalnya salju. Bahkan ketika salju terhembus angin sekalipun, gue tetap setia dengan aksi foto foto. Gila aja gue ga foto foto, ada salju pula. Setidaknya itulah pemikiran gue saat itu. Maaf, jika gue terlalu Indonesia sekali 🙂 

img_1512
Wajah kota Stockholm
img_1501
Wajah kota Stockholm dari sebuah restoran

Stockholm tidak hanya menawarkan gue keindahan salju, tapi juga sajian luar biasa akan hebatnya para penyanyi tenor dan sofran di teater kota ini. Semakin menyadarkan gue, jika pertunjukan live jauh lebih wow dibanding media televisi.

Dan untuk pertama kalinya, Stockholm jugalah yang memberi kesempatan ke gue, untuk bisa menikmati pertunjukan live tersebut. Terbayang pun tidak, bisa memasuki gedung teater berskala Eropa. Rasanya merinding. Seperti bermimpi. Berada di gedung dengan interior klasik dan elegan. Bisa melihat orang bernyanyi dengan suara melengking dan menggelegar.  Ternyata bukan hanya Luciano Pavarotti atau Andrea Bocelli yang memiliki suara tenor bagus, jika didengarkan secara langsung pun, penyanyi dan pemain teater di Stockholm buaaaanyak banget yang bersuara mirip.

img_1132
Gedung Teater di Stockholm
img_1636
Mejeng di gedung teater
img_1637
Gedung teater. Gue senang banget pertama masuk ke gedung ini. 

Seperti kebanyakan kota Eropa, Stockholm berada diantara bangunan bangunan tua yang masih terjaga dengan baik. Gedung tua dengan lorong lorong jalan yang sempit. Romantis. Ditambah lagi kanal kanal air bersih yang mengalir di sebagian besar ruas kota, membuat Stockholm terlihat lebih indah. Awalnya gue tidak menyadari jika Stockholm adalah kota yang berdiri di atas pulau pulau kecil. Kalau tidak salah sampai belasan pulau. Pulau pulau ini saling berdekatan satu sama lain, artinya hanya terpisahkan oleh jembatan sejauh puluhan atau ratusan meter saja.Sangkin pendeknya jarak jembatan dari satu pulau ke pulau yang lain, sampai gue tidak menyadari kalau wilayah kota yang satu dengan yang lain sudah berbeda pulau. Kota yang unik bukan?

img_1516
Kota yang cantik
IMG_1472.JPG
Suka sekali dengan model bangunan tuanya
IMG_1212.JPG
Stockholm diantara kanal air yang bersih
IMG_1518.JPG
Stockholm diantara kanal air yang bersih
img_1177
The Royal Palace
IMG_1181.JPG
Suka dengan lorong jembatannya
IMG_1504.JPG
Beautiful Stockholm

Stokholm adalah kota yang memberi garansi, ketika restoran padang susah ditemukan, Dont Worry! Gue masih bisa makan nasi. Bisa makan bebek goreng, capcay, bahkan dinsum kesukaan.  Jelas saja, pertama berada di negeri bule, dan bisa merasakan sensasi restoran asia, rasanya berlipat lipat ganda senangnya.

Stockholm itu artistik. Lihat saja stasiun kereta bawah tanahnya. Unik banget. Serasa berada di dalam sebuah gua besar. Tapi tidak suram apalagi menjijikkan. Malah sebaliknya, terlihat unik dengan polesan warna warni lukisan yang dihasilkan tangan tangan seniman di Stockholm. Lukisan yang justru menjadikannya sebagai stasiun kereta bawah tanah dengan nilai seni terindah di dunia. Katanya sih begitu.

IMG_1389.JPG
Tunnelbana. Kereta api bawah tanah Stockholm
IMG_1480.JPG
Stasiun kereta bawah tanahnya seperti gua ya
IMG_1482.JPG
Dinding batu yang dilukis
IMG_1481.JPG
Artistik

Stockholm itu nyenengin. Ga ngebosenin. Selalu terpanggil untuk datang ke kota ini. Di setiap musim, Stokholm selalu cantik. Summer, spring, autum bahkan winter. Kota ini sangat tahu bagaimana caranya membuat gue betah. Taman, cafe, kanal, kapal kapal di dermaga, semuanya memberi keindahan tersendiri.

img_1330
Kungsträdgården Stokholm di saat musim semi. Kawasan taman yang berada di pusat kota Stockholm
IMG_1477.JPG
Senja di Stockholm
img_1475
Stockholm di malam hari
img_1476
Kawasan cafe romantis di Gamla Stan Stockholm
IMG_1483.JPG
Stockholm diantara kilau lampunya
img_1520
Cherry Blossom in Stockholm

Cuma satu yang membuat gue agak senewen, semakin ke sini, setiap berkunjung ke Stockholm, selalu saja ada perbaikan jalan, renovasi bangunan, yang membuat pemandangan kota ini menjadi kurang enak dilihat. Semoga proyek proyek ini segera usai.

IMG_1470.JPG
Gamla Stan. Cerita tentang old town ini akan menyusul ya

Tulisan ini hanya cerita berbagi suka, ketika sebuah khayalan dan mimpi menjadi nyata, seperti apa rasanya. Siapa juga sih yang tidak suka mengunjungi belahan dunia lain. Ketika gue berencana menabung agar bisa keliling Eropa, dan ternyata Tuhan membuatnya menjadi lebih mudah, apa iya gue cuma bilang semuanya biasa saja. So, jika ada orang yang begitu antusias bercerita pengalaman pertama berkunjung ke suatu tempat atau kemana pun itu, gue bisa paham.  Karena gue sudah melalui rasa senang yang demikian.

img_1105
Kanal air
IMG_1124.JPG
Wajah kota Stockholm
img_1261
Cafe di Gamla Stan. Cafe yang selalu ramai. Gue suka interiornya

IMG_1517.JPG

Sebenarnya gue sudah pernah menulis wisata Stockholm di blog yang lama. Cuma ga lama setelah gue post, gue delete. Fotonya jelek. Hahahaha. Sampai akhirnya gue sabar ngumpulin foto satu demi satu setiap gue mengunjungi kota ini. Tapi yang ada malah kepending terus oleh tulisan yang lain.  Namun setelah melihat postingan kota Stockholm dari seorang  bebe  di blog beberapa waktu lalu, semakin terbawa semangatlah gue untuk segera menulis kecantikan Stockholm yang selalu tertunda. So thank you mama Jo, sudah berhasil memotivasi gue untuk tidak menunda nunda tulisan jelek ini. Hahaha.

Berikut foto foto wajah kota Stockholm yang sayang gue simpan!

img_1502

 

img_1378
Di saat summer, Stockholm sangat ramai oleh kunjungan turis
img_1117
Restoran di atas kapal
img_1467
Suka!
img_1276
Beautiful
img_1471
Kapal kapal di dermaga
IMG_1351.JPG
Sepetik….!

Ahhh….Stokholm, I really heart you!

Kunjungan gue ke beberapa tempat wisata di Stockholm akan gue tulis di tulisan berikutnya. See you in my next story.

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia.

.

 

 

Menghabiskan hari di Museum Udara Skansen Stockholm

Pertama sekali mengunjungi Skansen sekitar dua tahun yang lalu. Tepatnya bulan Agustus 2014. Musim panas waktu itu. Bareng suami, abang dan kakak gue. Kebetulan mereka berdua (abang dan kakak) lagi berkunjung ke Swedia. Ketika suami mengajak ke Skansen, awalnya gue tidak terlalu antusias. Namanya waktu itu masih newbie banget, jadi jika berkunjung ke kota besar, apalagi seperti Stockholm, rasanya lebih suka menikmati keindahan pusat kotanya saja. Bukan malah melihat bangunan yang sebenarnya di desa gue pun ada. Tapi abang gue sepertinya tertarik banget, sebelas duabelas dengan suami. Akhirnya mau ga mau ya ngikut.

img_9273

Berhubung kami datang sudah agak siangan, jadi kurang cukup waktu mengelilingi Skansen yang lumayan luas. Apalagi kakak gue dikit dikit ngeluh kakinya capek. Hahaha. Intinya kunjungan pertama itu kurang berkesan buat gue. Berbeda dengan sekarang, setelah mengunjungi Den Gamle By di Aarhus Denmark dan Jamtli di Östersund Swedia, akhirnya gue pun lumayan bersemangat ketika suami mengajak ke Skansen (again).

img_9267

Sebenarnya kunjungan kali kedua ke Skansen bisa dibilang tidak ada dalam rencana kami. Terbayang pun tidak untuk datang ke tempat ini lagi. Hingga suatu hari, tepatnya beberapa hari sebelum kami berangkat ke Stockholm dalam rangka menghadiri undangan pesta ulang tahun teman, tiba tiba suami bilang, kalau tiket masuk ke Jamtli (museum udara yang pernah kami kunjungi beberapa bulan lalu), bisa digunakan juga sebagai tiket masuk ke Skansen. Jadi ceritanya suami baru ngehlah, kalau petugas loket di Jamtli pernah memberitahu dia terkait penggunaan tiket ini. Awalnya gue tidak yakin. Apalagi suka ga percaya kalau “yang di sini” bilang bisa, “yang di sana” bilang ga bisa. Pengalaman birokrasi di kampung halaman.

IMG_8662.JPG
Wajah Skansen
IMG_8663.JPG
Bangunan tua di Skansen
img_8666
Bangunan tua di Skansen

Berhubung gue lumayan sering menyimpan segala kertas yang berkaitan dengan perjalanan liburan kami (seperti tiket, brosur, slip bayar bayaran sampai map), maka tanpa bersusah payah mencari, dua buah tiket Jamtli langsung di tangan. Sampai akhirnya kami tiba di Skansen, sempat ada sedikit keraguan. Takut tiketnya ditolak. Tengsin banget kan kalau sampai kejadian. Dan pas nanya ke bagian loket, ternyata ga pake birokrasi lama, kami langsung diperbolehkan masuk. Dan pakai bonus lagi, tanpa harus melalui antrian yang lumayan panjang. Ahhh rejeki pasangan soleha.

img_9086

So, jika ada pertanyaan, tempat wisata apa yang terkenal di Stockholm dan rasanya wajib untuk dilihat?  Salah satunya adalah Skansen. Terletak di Djurgarden, sebuah kawasan pulau kecil di Stockholm. Tidak hanya dikenal sebagai museum udara (open air museum) pertama dan tertua di Swedia, tetapi juga yang terluas. Sangkin luasnya, rasanya butuh waktu seharian untuk bisa maksimal mengelilinginya.

img_9099

Skansen pertama sekali didirikan oleh seorang pria bernama Artur Hazelius pada tahun 1891. Sebagai kolektor barang antik dan pencinta sejarah, beliau pun memboyong bangunan bangunan tua dari berbagai pelosok daerah di Swedia. Mulai dari bangunan rumah, bank, pabrik roti, sampai bangunan gereja. Tujuannya cuma satu, Hazelius ingin memperkenalkan bagaimana budaya masyarakat Swedia jauh sebelum era industrialisasi masuk ke negara ini. Jadi jangan heran, jika berada di Skansen, akan sangat mudah melihat kumpulan rumah rumah kayu tua,  yang berdiri di beberapa lokasi area museum.

IMG_9050.JPG
Bangunan tua di Skansen. Sekilas seperti rumah adat di Indonesia ya. Tapi daerah mana kurang tau.
IMG_9258.JPG
Bangunan tua ini biasanya digunakan sebagai tempat berdagang di musim panas (summer). Semacam kios kios gitulah. 
IMG_9264.JPG
Ini juga, mirip bangunan Toraja. Apa gue lagi halusinasi ya. Haha

Tidak hanya itu, Skansen pun disulap agar terlihat lebih menarik, dengan menata sekitar museum sedemikian rupa, banyak pohon dan bunga, kebun binatang, taman bermain, sampai sebuah arena panggung besar yang rasanya menjadi ajang pentas musik di saat summer. Pentas musik yang lumayan sering disiarkan di stasiun TV lokal Swedia. Bahkan beberapa bangunan kincir angin pun sengaja dipindahkan untuk memberi nuansa bahela di kawasan museum.

img_9036
Model kincir angin versi Swedia.  Pertama sekali melihat  kincir angin ini di Öland, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia. Mostly kincir angin seperti ini memang terdapat di Swedia bagian selatan. Konon,  proses pembuatan tepung gandum ya di dalam kincir angin ini.
img_9037
Sollidenscen,  di saat summer, biasanya panggung ini sering membuat acara pentas musik besar. Bahkan sering ditayangkan di TV lokal Swedia.
img_8981
Reindeer, salah satu jenis rusa yang kebanyakan hidup di daerah yang dingin (ekstrem), seperti di bagian utara Swedia. Di hutan sekitar desa gue, tidak ada jenis rusa ini
img_8982
Reindeer di kawasan zoo Skansen
img_9244
Burung Merak
img_9087
Di sepanjang kawasan zoo Skansen, tepatnya di bagian binatang beruang, terlihat bangunan batu seperti gua yang memanjang. Bisa masuk ke dalamnya dan melihat beruang dari dalam. Tapi gue ga masuk sih.  Kurang interest.  Lebih oke beruang kutub di Taman predator Orsa Dalarna. Hahaha
img_9100
Taman bermain. Lucu ya dombanya

Berada di Skansen, seperti terbawa ke lingkaran waktu ratusan tahun silam. Jaman dimana orang masih menggunakan peralatan apa adanya. Jauh dari modernisasi. Barang barang masih terbuat dari bahan kayu, seperti ember, piring, sendok dan perlatan rumah tangga lainnya. Tapi tidak sedikit juga yang menampilkan barang retro dalam bentuk porselin dan keramik. Bahkan di museum udara ini, juga terdapat tiang batu (gue sebut tiang batu aja deh biar gampang, haha) yang dulunya dipakai sebagai batas pengukur jalan. Tiang batu yang menjadi tolak ukur untuk hitungan jarak per satu mil.

IMG_9082.JPG
Tiang batu yang digunakan untuk menentukan jarak per satu mil

Di tulisan gue sebelumnya, gue sudah pernah menyinggung tentang Root Cellar, gudang yang di jaman dahulu kala memiliki fungsi layaknya sebuah kulkas. Mampu membuat bahan makanan menjadi awet dan tahan lama di dalamnya. Hal ini disebabkan karena suhu di dalam Root Cellar cenderung stabil, baik di saat musim panas maupun musim dingin. Nah, kebetulan Root Cellar bisa dilihat di Skansen. Lengkap dengan contoh contoh makanan apa saja yang bisa di simpan di dalam. Ada telur, toples berisi selai, sayuran, roti dan masih banyak lagi.

Kadang ada perasaan excited juga sih, ketika gue melihat beberapa barang antik dan bangunan bersejarah di Skansen, yang notabene pun ada di dalam kehidupan gue sehari hari. Seperti Root Cellar, teaset retro sampai bangunan rumah kayu berumur 400 tahun lebih. Biasalah, kalau sebelumnya kurang memaknai barang peninggalan yang ada di sekitar rumah, setelah melihat tempat seperti Skansen atau museum lain, otomatis ada semacam perasaan “ohhh yang di rumah ternyata barang available ya”. Gimana ga gue bilang begitu coba, tempat wisata sekelas Skansen aja bangga banget menjadikan peninggalan budaya menjadi sesuatu yang layak dilihat, dan untuk bisa melihatnya pun harus bayar kan. Jadi wajar saja kalau akhirnya gue memiliki perasaan luar biasa, ketika melihat barang barang yang ada di rumah, ternyata ada juga di Skansen.

img_9056
Root Cellar di Skansen lengkap dengan contoh bahan pangan yang disimpan di dalam
img_7942
Root Cellar di samping rumah gue, masih bagus dan berfungsi dengan baik

Gambar di atas ini merupakan Root Cellar di samping rumah gue. Masih berfungsi dengan baik. Biasanya kami gunakan untuk menyimpan bahan makanan dalam jumlah yang banyak. Seperti kentang dari hasil bercocok tanam, selai Lingonberry dalam jumlah yang banyak, bahkan sampai buah semangka jika ukurannya lumayan besar. Praktis membuat kulkas ga gampang penuh dan sesak.

img_9055
Barang retro di salah satu rumah di Skansen. Lumayan surprise ketika melihat teaset retro di dalamnya. Karena di rumah gue juga ada. Peninggalan mendiang mama mertua. Makin disayang deh. Hahaha.
IMG_0209.JPG
Teaset retro peninggalan mendiang mama mertua
img_9066
Peralatan berbahan kayu, yang seperti ini pun ada di gudang rumah gue. Hahaha
IMG_9073.JPG
Tempat membelah kayu

Ketika mustahil rasanya di jaman modern ini, bisa berpapasan dengan seseorang yang mengenakan pakaian ala ala Little Missy, Laura Ingalls, (tau kan siapa yang gue sebut? kalau ga coba google aja, itu serial kesukaan gue. Angkatan sepuh..haha), maka old town Skansen memberi peluang untuk itu. Berjalan kaki menyusuri jalanan di Skansen, dan tiba tiba berpapasan dengan wanita yang meneteng keranjang, kepala ditutupi kain tipis, dan tentu saja mengenakan pakaian tradisional dengan ukuran rok yang memanjang menutupi kaki. Bisa banyangin kan lucunya.

Ohya, ada satu cerita yang setidaknya lucu menurut gue. Awalnya gue ga kepikiran untuk melihat apalagi memperhatikan. Itu pun karena suami yang pertama berkomentar. Menurut gue tidak ada yang istimewa, cuma tiang listrik biasa. Di Indonesia juga banyak. Sampai akhirnya barulah nyadar, tiang listrik yang gue lihat di Skansen termasuk barang yang lumayan jadul (versi Swedia tentunya). Disebut lumayan jadul karena sebagian besar wilayah di negara ini sudah tidak menggunakan kabel listrik yang dipasang di tiang. Melainkan sudah ditanam di bawah tanah. Menurut ngana lucu ga sih. Kalau gue sih lucu. Wong di kota asal gue sampai sekarang pun tiang listrik masih banyak. Hahaha. Sombong banget yak, tiang listrik begini langsung masuk klasifikasi model bahela. Apa kabar di kampung gue sana, yang talinya pun kadang asal main lilit aja.

img_8975
Tiang listrik jadul
IMG_8973.JPG
Kawasan Old Town Skansen, berikut Konsum, toko yang menjual bahan pangan mulai dulu sampai sekarang
img_9025
Dahulu,  tidak jarang toko Konsum datang ke desa desa, lengkap dengan mobil berisi bahan sandang dan pangan.  Suami gue sempat menyaksikannya ketika dia masih kecil. 
img_9024
Old Town Skansen, berikut wanita berbaju Little Missy.. Hahaha
img_8977
Wanita dengan pakaian layaknya seperti di  film film

Old town Skansen juga memiliki bangunan bangunan apik seperti bank, toko roti sampai pabrik kaca. Bahkan di pabrik kaca, pengunjung bisa melihat cara pembuatan barang pecah belah yang terbuat dari bahan kaca. Buat kami cukup sekali saja masuk ke dalam, untuk kunjungan kali ini rasanya tidak perlu lagi.

Yang paling gue suka ketika berada di lokasi kota tua Skansen adalah ketika berjalan di jalanan kecil berbatu, yang kiri kanannya terdapat bangunan antik dari kayu. Jalanan dan bangunan yang sepertinya menjadi satu kesatuan spot paling menarik menurut gue. Belum lagi di beberapa titik jalan terdapat kereta kuda, gerobak dan drum kayu serta karung berisi sesuatu (ga tau apa isinya haha), yang memang sengaja dibuat sedemikian agar nuansa kota tuanya makin berasa. Bahkan sebuah bangunan bertuliskan Konsum, sebuah supermarket terkenal di Swedia yang tetap eksis dari dulu hingga sekarang pun ada.

IMG_9033.JPG
Gerobak dan drum kayu di old town Skansen
IMG_9034.JPG
Kawasan old town
IMG_9035.JPG
Toko roti dengan fans beratnya. Selalu rame.  Dan lucunya gue ga pernah berniat masuk ke dalam. Ngantri terus. Tapi model bangunannya cakep. Kece kan suasananya. 
img_9032
Kereta kuda
img_9027
Lorong jalan yang kece (menurut gue pastinya). Apalagi rumah merah ini atapnya ditanami rumput. Makin unik aja kelihatan

Melihat sejarah masa lalu yang disajikan Skansen, langsung berpikir betapa hidup di jaman sekarang itu sangat praktis. Semua relatif lebih gampang. Contohnya, karena dari kecil suami sudah terbiasa dengan roti,  maka jenis makanan karbo ini wajib ada di rumah gue. Dan itu pun lebih banyak gue beli di supermarket. Kalaupun harus baking sendiri, tinggal masukin mesin, lalu oven, puter suhu, jreng jreng jreng….15 menit matang. Cepat kan.

img_9054
Pria yang memperkenalkan roti tradisional Swedia. Boleh dimakan dan gratis

Namun berbeda dengan kehidupan orang dulu, mau tidak mau roti harus dibuat sendiri. Dan semuanya dilakukan secara manual. Pakai tangan! Tidak ada yang namanya mesin pengaduk roti, food processor, mixer, atau apalah. Peralatan serba terbatas. Tangan harus siap pegal. Karena mereka tidak punya pilihan lain (atau jangan jangan orang dulu ga kenal kata pegal kali ya). Kalau sekarang kan beda, apa apa serba mesin. Atau setidaknya masih bisa milihlah, mau manual apa cara canggih.

Dan mungkin juga, di jaman dulu belum ada baking powder, belum ada tepung dengan embel embel terigu protein tinggi, sedang dan rendah. Main libas aja semua. Panggangan juga nihil pengatur suhu. Gimana mau ngatur suhu coba, wong dipanggang cuma pakai kayu bakar. Belum lagi harus menyiapkan tungku api, yang sekaligus digunakan sebagai penghangat ruangan. Sambil terus menunggu agar tembok di tungku api benar benar panas. Karena di sebelah tembok inilah nantinya roti akan dipanggang. Dengan kata lain, suhu panas di tempat pemanggangan roti, bersumber dari tembok panas di tungku api. Untuk memasukan roti ke tempat pemanggangan pun harus menggunakan sodokan kayu panjang. Kapan lagi bisa merasakan kehidupan abad silam seperti ini, kalau bukan karena berada di kawasan seperti Skansen. Menariknya lagi, pembuatan roti diperagakan oleh tangan tangan tua wanita Swedia, lengkap dengan pakaian tradisionalnya.

img_9068
Salah satu bangunan rumah yang dipindahkan ke Skansen
IMG_9248.JPG
Suka bangunannya

Skansen memang identik dengan kehidupan masa lampau. Apalagi jika melihat bangunan bangunan yang ada di kawasan museum, semuanya serba antik. Sekilas mirip rumah adat di Indonesia. Misalnya seperti atap bangunan yang terbuat dari tumpukan jerami, serasa mengingatkan gue dengan bangunan rumah di pedesaan pulau Jawa.

Sekilas terlihat sama, namun sebenarnya bangunan yang dikumpulkan dari berbagai pelosok Swedia ini berbeda detail satu sama lain. Bangunan rumah yang berasal dari Halland misalnya, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia. Atap rumah selalu ditutup dengan tumbukan batang jerami yang sangat tebal. Wajar, karena propinsi ini memang mampu memproduksi gandum dalam jumlah yang lumayan banyak. Jerami yang berasal dari batang gandum sangat mudah di dapat dan dijadikan sebagai atap bangunan.

IMG_9065.JPG
Atap rumah yang penuh dengan jerami tebal. Sekilas seperti rumah di jawa ya. Bedanya di Jawa pakai daun kelapa kalau ga salah 
img_9072
Bangunan di Halland

Masih dari Selatan Swedia, bedanya propinsi ini sudah berada di wilayah paling Selatan. Propinsi Skåne memiliki bangunan rumah yang bisa dibilang berbeda dari propinsi lain. Di saat sebagian besar rumah kala itu terbuat dari kayu, Skåne malah memiliki bangunan yang terbuat dari dinding batu. Wilayah Skåne memang sudah terbilang dekat ke pinggiran laut. Bisa dibilang hampir tidak memiliki lahan hutan yang luas. Sehingga untuk membangun rumah berbahan kayu pun  menjadi sulit.

img_9060-1
Rumah di Skåne. Dari bahan batu
img_9051
Kawasan Skåne di Skansen. Selain rumah, ada sapi dan unggas yang menjadi ciri khas propinsi ini
img_9064
Sapi
img_9052
Unggas khas Skåne
img_9063
Yang pasti ini bukan iklan susu ..haha

Di bagian lain ada Mora Garden. Di sini terdapat bangunan rumah yang barasal dari kota Mora, Dalarna. Gue sempat tertawa ketika melihat bentuk bangunannya. Serasa gue liburan di desa sendiri. Karena buat gue, model bangunannya familiar sekali. Dalarna adalah salah satu propinsi yang dikenal sebagai penghasil kayu terbanyak dan terbaik di Swedia. Hampir sebagian besar wilayahnya dikelilingi lahan hutan. Hal inilah yang mengakibatkan bangunannya tidak sekedar terbuat dari kayu biasa, melainkan dalam bentuk balok kayu utuh. Lagi lagi wajar, karena warganya hidup diantara lahan hutan yang tumbuh subur.

img_8979
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen
img_9246
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen
IMG_9245.JPG
Bangunan kayu khas Mora Dalarna di Skansen. Mostly terbuat dari balok kayu

Kunjungan kami ke Skansen kali ini bertepatan dengan musim gugur. Dan kebetulan pula, Skansen sarat dengan pohon Maple dimana mana. Berwarna kuning cerah serta orange kemerahan. Indah sekali. Pengen gue fotoin semua. Musim gugur berasa banget di Skansen saat itu. Dan enaknya lagi, pengunjung yang datang tidak seramai di saat musim panas. Dan lucunya, meskipun gue belum pernah berkunjung ke negeri China, entah mengapa ketika berada di Skansen, gue serasa menikmati musim gugur di negeri Tirai Bambu itu. Kebanyakan nonton serial silat sepertinya. Atau bisa juga karena mimpi yang sekian lama gue simpan untuk bisa berjalan di lorong Great Wall of China yang wonderful itu. Semoga kelak kesampaian ya. Amin.

IMG_9255.JPG
Pohon Maple di Skansen
IMG_9253.JPG
Musim gugur di Skansen. Cantik
img_9085
Hutan di Skansen yang penuh dengan daun Maple
img_9269
Cakep

Ketika kaki mulai lelah, bolehlah untuk sekedar duduk dan melonggarkan nadi, sambil menikmati landscape kota Stockholm yang indah. Skansen sudah mempersiapkan bangku bangku kayu di beberapa ruas jalanan di sekitar museum. Terutama lokasi yang memperlihatkan view kota Stockholm dengan baik. Jangan lupa menikmati Swedish Meatballs versi Solliden, restoran besar di Skansen yang siap melayani anda. Bulatan bulatan daging berlapiskan saos lumayan melimpah, ampuh membuat perut untuk tidak berontak kelaparan.

IMG_9089.JPG
Landscape kota Stockholm dari Skansen
img_9038
Landscape kota Stockholm dari Skansen
img_0257
Bangku, pohon, Landscape kota Stockholm. Mantap!
img_9042
Hmmm, ini namanya pengen diangkut, bawa pulang ke rumah! Haha
img_9041
Restoran besar di Skansen, Solliden
img_9039
Swedish Meatballs

Saran gue, jika ingin mengelilingi Skansen keseluruhannya, ada baiknya fokus seharian di tempat ini saja. Tidak ada agenda lain. Karena museum udara ini luas banget. Jadi dengan waktu yang lumayan longgar, kesempatan untuk melonggarkan kaki yang pegal pun ada. Tidak terburu buru maksudnya. Kami saja pun yang masuk mulai dari pukul 10 pagi sampai pukul 3 sore, rasanya belum benar benar bisa melihat semuanya.

IMG_9079.JPG
Gue sempat kalap di sini. Natural dan lumayan Rustic di beberapa bagian. Pengen foto foto terus. Ampe suami duduk kecapean. Hahahahaha
img_9080
Lop lop lop

Ohya, jangan lupa untuk mencoba Bergbana, train kecil yang membawa turun dari ketinggian Skansen menuju pintu keluar. Lumayan loh, jadi ga perlu capek jalan kaki lagi.

img_9098
Bergbana
img_9084
Beautiful
img_9071
Antik
img_9070
Tipikal bangunan di propinsi Halland, salah satu propinsi di bagian selatan Swedia.
img_9254
Selalu suka melihat pagar kayu begini
IMG_8664.JPG
Foto pakai handphone. Tapi hasilnya not badlah. Canggih emang handphone sekarang. Hahaha
img_8665
Rumah yang dulunya dihuni oleh sebuah keluarga miskin di masa lampau
IMG_0258.JPG
Sukaaaaaaa!!
img_9257
Gereja tua berumur ratusan tahun yang dipindahkan ke Skansen

IMG_0173.JPG

See you in my next story

IMG_0262.JPG
Backroundnya ga kuat! 

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

SORE MENJELANG MALAM di GONDOLEN

Gue lumayan sering menyelipkan review singkat (tidak terlalu detail sih) terhadap restoran, cafe, maupun hotel/penginapan yang pernah gue kunjungi di sebagian besar tulisan gue. Alasannya sih karena gue suka banget memperhatikan interior ruangan hotel maupun restoran/cafe. Termasuk pernak pernik seperti gelas dan sendok bahkan sampai bentuk serbet yang ada di atas meja. Pun makanannya, yang sebagian besar enak menurut gue (Mungkin karena ga pake acara masak sendiri di rumah..hahaha)

IMG_6540.JPG

“Nanti kita makan di Gondolen ya” setidaknya itulah kalimat yang diucapkan  suami jauh hari sebelum kami bermalam di Stockholm menuju Finlandia beberapa waktu lalu. Entah mengapa, setiap suami menyebut nama sebuah restoran, gue selalu percaya aja. Pilihan dia bisa dibilang selalu cocok cocok aja dengan gue. Dibanding gue yang lumayan cuek, urusan kaya gini memang suami lebih banyak tau. Sewaktu suami memberitahu Gondolen semacam restoran gantung dengan view yang lumayan oke, langsung dong gue bilang iyes. Karena gue paling suka melihat landscape kota (termasuk Stockholm) setidaknya dari ketinggian tertentu.

img_6545
Jembatan di Gondolen 

Restoran Eriks Gondolen berada di Stadsgården, Södermalm, Stockholm, Swedia. Dari jauh sudah terlihat bangunan restoran layaknya sebuah jembatan gantung. Biasa aja sih bentuknya. Meskipun berada di ketinggian tertentu, jangan ngebayangin Gondolen layaknya restoran fine dining di Jakarta sejenis The Sky Bar or Altitude The Plaza ya, jauhhhhh. Yang begini ini Asia uda paling topnya. Hahaha.

IMG_6525.JPG
Sambil minum melihat view kota Stockholm dari Gondolen

Bahkan sampai kami tiba di Gondolen, kesan pertama yang gue lihat adalah suasana crowded serta penampakan beberapa sudut tempat yang kurang rapi. Tapi memang, keunggulan Gondolen terletak pada view menawan kota Stockholm yang bisa dilihat dari jembatannya. Cuma lantai jembatannya kurang enak dilihat. Terkesan tidak terawat.

Apa karena terlalu banyak orang yang silih berganti berdatangan ga ngerti juga. Apalagi yang gue lihat, sepertinya tidak sedikit yang datang hanya untuk menikmati keindahan kota Stockholm plus foto foto doang. Di jembatan juga sengaja disediakan beberapa sofa dan meja tinggi. Bahkan lengkap dengan selimut. Kalau mau romantis romantisan juga boleh. Tidak ada yang melarang. Hahahaha.

img_6529
Restoran Gondolen
img_6531
Meja plus pernak perniknya
img_6534
Appetizer
img_6535
Main Food
img_6537
Main food
img_6533
Dessert

Untuk restoran utamanya sendiri terletak pas di lantai bawah jembatan. Ketika masuk ke dalam, terlihat jauh sekali perbedaannya. Tenang, elegan, dan nyaris tidak ada yang ketawa dan bicara keras seperti di cafe atasnya. Makanannya gue akui enak. Ya standard restoran di level yang samalah. Ga beda jauh.

Selain memiliki view yang indah, restoran Gondolen juga dikenal dengan interior ruangan yang dipenuhi kursi kursi retro di setiap mejanya. Gondolen menjadi hiburan kami, di saat sore menjelang malam kala itu. Sambil melihat keindahan kota Stockholm tentunya.  Anda boleh mencoba.

img_6526
Di luar restoran. Gelasnya lucu lucu seram  ya
img_6518
Sajian wajah kota Stockholm dari Gondolen
img_6522
Sajian wajah kota Stockholm dari Gondolen
img_6520
Sajian wajah kota Stockholm dari Gondolen
img_6544
Yang lumayan kedinginan. Anginnya itu lohhh

Salam dari Mora,

Dalarna, Swedia

See you in my next story