MENAKLUKKAN ROTI SULTAN “PANETTONE”

Panettone…., roti Sultan?

Gelar sultan rasanya lumayan cocok disematkan ke roti natal asal Italia ini. Tidak hanya kaya di rasa dan aroma tapi kemasan roti ini pun kebanyakan dibuat eksklusif. Cantik!

Proses pembuatan panettone lumayan tricky dan panjang. Butuh berhari hari baru bisa disantap. Bayangkan saja setelah dikeluarkan dari dalam oven tidak bisa langsung dipotong melainkan harus segera dibalik dan digantung hingga 12 jam. Setelah 12 jam itupun masih juga arus menunggu kurang lebih 2 hingga 5 hari lagi agar rasa dan aroma pada roti ini semakin keluar. Ibarat mangga harus diperam dulu biar aromanya semakin semerbak.

Di Swedia sendiri sepengamatan saya jenis roti ini tidak begitu digemari. Mereka sudah fanatik dengan roti natal mereka sendiri yaitu Vörtlimpa. Sekalinya saya pernah melihat dijual di supermarket sebanyak dua bungkus masing masing seberat satu kilogram. Dan satunya dihargai kurang lebih 500 sek atau setara hampir 1 juta rupiah. Suami saya sampai kaget secara roti di Swedia rata rata relatif murah. Dari tampilannya sepertinya itu artisan panettone. Bukan yang abal abal. Teman saya yang pernah tinggal di Italia bilang kalau panettone yang versi artisan memang mahal juga di sana. Kecuali yang pabrikan lebih terjangkau.

IMG_9426~photo-full

Lantas mengapa bisa semahal itu? 

Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berjalan mulus barulah saya paham kenapa bisa mahal. Bikinnya relatif tidak mudah. Prosesnya panjang, modal yang tidak murah, tenaga dan waktu serta resiko gagal yang relatif besar memungkinkan panettone dibrandrol tidak murah. Apalagi ragi yang digunakan bukan ragi instan melainkan ragi natural atau levain.

IMG_8688~photo
Stiff Starter Sourdough (Pasta Madre)

Iya…panettone tradisional aslinya memang menggunakan starter sourdough atau di Italia sana lebih dikenal dengan lievito madre. Dan starter sourdough mereka ini sedikit berbeda konsistensinya. Lebih ke stiff satrter mirip adonan pasta. Makanya sering juga disebut Pasta Madre. Meski lievito madre mereka ada juga yang liquid.

Di jaman sekarang tidak sedikit resep panettone yang dimodifikasi. Menggunakan ragi instan dan takaran bahannya dibuat lebih aman agar mudah dihandle. Teknik dan prosesnya pun dibuat lebih cepat. Dan umumnya tingkat kegagalan menggunakan ragi instan lebih kecil dibanding ragi natural. Kenapa? Karena kerja ragi instan itu lebih stabil dan terkendali. Pasti mengembang. Jadi panettone versi mudah ini secara tampilan memang mirip panettone tapi menurut saya rata rata hasilnya terlihat tidak terlalu lentur, kurang mengkilat, terlalu padat dan kurang pluffy. Tapi ini kembali ke pilihan dan selera masing masing. 

Kalau saya pribadi lebih memilih gagal berkali kali karena di setiap tahapannya ibarat terapi dan melatih kesabaran/emosi juga. Sekaligus mengukur kemampuan baking sayalah sudah sampai dimana. Jadi ada kepuasan tersendiri karena semakin paham bagaimana menghandling panettone agar hasilnya tidak terlalu amburadul. Tidak perlu sampai sempurna dulu. Nanti ada waktunya.

IMG_8782~photo
Ini salah percobaan ke sekian panettone. Belum sempurna mengembang. Tapi tekstur dan rasanya tetap enak dimakan. 

Jika akhirnya saya merasa berhasil menaklukkan panettone ini tentunya bangga pada kemampuan baking saya. Secara saya cuma seorang otodidak. Semua cari tahu sendiri. Tidak ada yang membimbing apalagi ulasan detail tentang tips dan trik serta kendala di dalam proses pembuatan panettone ini masih kurang menurut saya. Sebagian besar hanya fokus ke resep. Mengapa bisa gagal harus saya cari tahu sendiri. Jadi ketika akhirnya saya merasa berhasil wajarlah sedikit berbangga. Meski standar berhasil ini sifatnya relatif. Dan saya pun belum benar benar tahu yang hasilnya benar itu seperti apa. Intinya panettone saya mengembang tanpa kempes dan enak dimakan. Untuk saat ini itu sudah cukup buat saya.

IMG_9449~photo-full
 Dan akhirnya berhasil! *angkat dagu*

Buat sebagian besar homebaker bahkan baker profesional sekalipun membuat panettone ibarat pengukuran kemampuan. Beberapa master panettone sendiri pun mengakui jika proses pembuatan panettone butuh persiapan yang matang dan relatif tidak mudah jika baru pertama memulai. Setidaknya dari lima enam kali percobaan yang sudah saya lakukan, percaya diri saya lebih bertambah ke depannya jika saya akan membuat panettone lagi. Yakinlah semakin banyak gagal maka semakin memudahkan kita memahami karakter sebuah adonan.

Jadi kalau berharap berhasil hanya bermodal ngulen manjahhhh dan tidak mau gagal cepatlah lupakan itu. Satu lagi jangan pernah menyalahkan resep. Kalau gagal bukan berarti resepnya yang salah tapi latihan kurang banyak iyaaaaa.

IMG_9481~photo-full
Dan ini rotinya aromatic sekali

Resep yang saya ikuti ini punya seorang master panettone terkenal dari Italia bernama AlfonsoPepe. Beliau seorang profesional dan sepertinya memiliki acedemy khusus baking. Liputannya saya lihat dari youtube. Saya gagal beberapa kali meski merasa sudah mengikuti tahapan di resep. Tapi ketika gagal saya sadar pasti ada kesalahan yang saya buat.  Saya tahu resep beliau valid. Saya coba lagi dan lagi dan akhirnya berhasil. Jadi terlalu malu kalau saya salahin resep beliau.

Itulah mengapa saya sengaja mengulas panjang lebar di sini. Sekalian berbagi buat teman teman kira kira apa kendala dan tips selama proses pembuatan panettone ini berdasarkan pengalaman saya sebelumnya. Jadi mudah mudahan akan lebih memudahkan kalian karena setidaknya sudah ada gambaran dibanding saya yang harus cari tahu sendiri.

IMG_9423~photo-full
Tetap akan melanjutkan jam terbang terhadap roti yang satu ini!

Enam tahun belakangan ini saya rutin baking. Jujur banyak pengalaman bertambah yang saya dapat. Menentukan persentasi baking sendiri sudah lumayan terbiasa buat saya. Tapi entah mengapa ketika memulai panettone kebanyakan gugup. Sampai saya tidak bisa mikir faktor gagalnya karena apa. Padahal saya sudah beberapa kali bikin adonan brioche dan bluder yang tingkat liquidnya lumayan tinggi juga.

Bedanya pada brioche dan bluder saya menggunakan bahan bahan yang sebagian besar bersuhu kulkas. Tapi pada pannetone ini sebaliknya, butter yang digunakan harus suhu ruang. Jadi kebayang tantangannya. Jika waktu pengulenannya tidak pas maka beresiko membuat suhu adonan cepat naik dan menjadi susah kalis.

IMG_9440~photo-full
Super mini panettone

Resep Alfonso Pepe ini saya akui toppen sekali rasanya. Tidaklah salah jika dari awal saya langsung tertarik melihat tekstur panettone yang beliau buat. Dan meski gagal entah mengapa saya sangat percaya dengan resepnya. Pasti enak!

Jika kebanyakan aroma pada resep panettone menggunakan parutan kulit lemon dan orange (lemon/orange zest) maka chef Alfonso ini menggunakan pasta lemon dan pasta sunkist/tangarine orange. Jadi lumayan liquid. Tapi aromanya alamak surga banget. Bukan sekedar numpang lewat tapi di lidah pun beneran berasa sensasi orange dan lemonnya. Sementara takaran untuk raisin dan candied orange peelnya juga lumayan banyak. Sudah pasti membuat adonan lebih bertambah berat.

Di sinilah salah satu tantangannya. Bagaimana mengolah adonan berat dan liquid ini agar tidak gagal. Tapi begitu jadi, ramainya raisin dan candied peel orange di dalam panettonenya semakin menyempurnakan kekayaan rasa dan aromanya. Bukan cuma sebiji dua biji doang.

 

_MG_7049
Pasta sunkist orange, pasta tangarine orange dan pasta lemon yang saya bikin sendiri

Untuk pasta orange saya bikin sendiri dan saya diamkan di kulkas sekitar 1 hingga dua minggu. Pun untuk candied orange peel saya bikin sendiri dan didiamkan di kulkas kurang lebih satu bulan sebelum digunakan ke adonan. Jadi kebayang persiapan saya membuat panettone ini kan…haha!

Lantas point penting apa yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan panettone? Berikut di bawah ini !

Kenapa panettone susah mengembang dan kalaupun mengembang kenapa menjadi kempes?  Menurut saya ada beberapa faktor penyebabnya.

Faktor Pertama gluten pada adonan belum cukup kuat terbentuk. Gunakan jenis tepung protein tinggi yang benar benar mampu menghasilkan gluten yang tinggi juga. Karena sekalipun berjenis tepung protein tinggi tapi tingkat gluten yang dihasilkan bisa berbeda. Sementara untuk jenis panettone ini gluten tinggi itu mutlak dan tidak bisa ditawar. Gluten yang kuat akan mampu menahan beratnya adonan dan gelembung gas yang terbentuk di dalam adonan. Awalnya saya menggunakan tepung protein tinggi produk lokal Swedia. Sementara di resep disarankan menggunakan tepung manitoba. Manitoba memang dikenal sebagai tepung yang bagus untuk roti yang memerlukan gluten tinggi. Dan setelah menggunakan manitoba inilah adonan panettone saya lebih mudah elastis dan lebih kokoh.

Lantas apakah kalian harus menggunakan manitoba? kalau memang bisa ya lebih bagus dan saya rekomen. Tapi kalau tidak bisa cobalah menggunakan tepung protein tinggi yang mampu menghasilkan gluten yang tinggi juga. Urusan merk kalian cari tahu sendiri.

_MG_6624
Percobaan kedua. Mold kebesaran dan suhu api sekitar 170 derajat celcius. Hasilnya belum maksimal tapi sudah enak dimakan
IMG_8747~photo-full
Ini juga awalnya mengembang dan tiba tiba mengempes setelah saya tutup alumunium foil

Faktor kedua yang membuat adonan tidak mengembang dan menjadi kempes adalah overproofing. Over proofing ini akan mengakibatkan rangka gluten menjadi kolaps dan tidak mampu lagi menahan adonan panettone yang lumayan berat. Apalagi jika panettonenya menggunakan mold/cup ukuran satu kilogram dengan tinggi 11 cm. Ketika dimasukkan ke dalam oven adonan yang sudah over proofing ini biasanya sudah tidak mampu mengembang lagi karena kerangka glutennya sudah rusak. Batas mengembangnya sudah habis sebelum waktunya dipanggang. Kalaupun mengembang maka akan kempes kembali.

_MG_6826
Ukuran mininya sukses tapi mold yang besar mengempes

Faktor ketiga adalah membuka oven sebelum waktunya. Tidak sedikit tutorial yang saya lihat menyarankan agar meletakan alumunium foil ke atas panettone untuk menghindari permukaannya menjadi cepat gosong. Dan ini dilakukan setelah panettone dipanggang sekitar 20 menitan. Saran ini pernah saya ikuti dan tanpa saya sadari ternyata bagian dalam panettone masih lumayan liquid. Kempeslah!

_MG_7312
Kolaps tapi dimakan tetap enak hahaha

Menurut saya dengan membuka oven akan mengakibatkan suhu oven menurun dan menutup dengan alumunium foil dalam kondisi belum benar benar matang membuat sirkulasi suhu pada permukaan panettone menjadi tertahan dan kurang stabil. Udara panas seolah menekan ke dalam adonan dan ini yang menurut saya beresiko membuat adonan kempes.

Saya juga pernah memutar mold/cup dalam kondisi adonan belum benar benar matang dan mengakibatkan adonan kolaps ke bawah. Jadi meski pendapat saya ini masih bersifat tentatif dan subjektif tapi saran saya usahakan tidak bolak balik membuka oven sebelum waktunya apalagi menyentuh mold/cup. Ibarat cake, panettone ini sangat sensitif menurut saya.

Note : Berdasarkan pengamatan saya semakin besar ukuran mold maka resiko gagal dan sulit mengembang untuk pemula akan sangat berasa dibanding menggunakan mold standart misalnya yang 500 gram. Itu akan lebih mudah mengontrolnya. Ini masih menurut pengamatan saya ya. Jadi saran saya untuk awal sebaiknya gunakan cup yang ukuran 500 gram dulu baru nantinya cup berukuran 750 hingga 1000 gram. 

Untuk adonan panettone berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai adonan berhasil elastis dan window pane? 

Ini tergantung jenis tepungnya dan jenis mesinnya serta kepekaan kita melihat adonan. Pada umumnya lama waktu yang diperlukan untuk adonan panettone ini sepertinya berkisar antara 20 hingga 25 menit.

Menurut saya jika menggunakan stand mixer ukuran standart, adonan akan lebih mudah kalis elastis karena biasanya spiral hooknya lebih mudah mengait adonan ke tengah dan seluruh adonan mampu berkumpul di seluruh bagian spiral. Tapi jika menggunakan stand mixer ukuran relatif besar seperti heavy duty ke atas, biasanya dengan takaran tepung 300 gram ke bawah akan lebih lama kalisnya karena spiral hook relatif susah mengait adonan dengan cepat ke bagian tengah. Bahkan kadang kadang hanya berputar putar tanpa mampu menguleni adonan. Dan untuk ini perlu dibantu dengan spatula sesekali. Perlu menurunkan dan menaikkan speed sesekali agar adonan dapat berkumpul ke bagian tengah bowl. Jadi diperlukan sekali kejelian dan kepekaan melihat adonan.

IMG_9458~photo-full
Sukses versi saya

 

Contohnya mixer saya lumayan susah mengait adonan yang takarannya relatif sedikit. Jadi spiral dough hook saya ganti dengan beater. Menggunakan beater memampukan adonan lebih cepat mengumpul dan menghasilkan window pane. Tapi sepengamatan saya meski adonan cepat menghasilkan window pane tapi struktur glutennya relatif tidak sekuat jika menggunakan spiral dough hook. Apalagi jika adonan mengandung banyak butter dan telur biasanya adonan akan lebih mudah licin dan jika ditarik langsung berbayang membentuk window pane. Tapi untuk kekuatan glutennya tidak sekuat menggunakan spiral dough hook.

Ini lagi lagi masih menurut pengamatan saya. Begitupun adonan tetap jadi kok. Daripada memaksa pakai spiral hook tapi malah membuat adonan tidak kalis kalis dan berujung gagal ya lebih baik pakai beater. Karena mister Alfonso itu pun saya lihat menggunakan beater juga. Rata rata waktu ulen yang saya perlukan adalah selama 20 menit. Pernah mencoba hingga 28 menit dengan speed sedikit lebih cepat yang ada adonan menjadi kolaps dan liat banget.

IMG_9335~photo-full
Panettone super mini. Kalau mini ngembangnya cepat

Cuma menurut salah satu chef yang saya tonton di youtube, beliau menyebut bahwa rata rata mereka mmebutuhkan waktu antara 10 hingga 15 menit saja. Bisa dimaklumi karena mesin yang digunakan mereka saja sudah beda dan sekali mengadon langsung banyak. Biasanya jika mesin menguleni adonan yang nyaris memenuhi bowl maka tingkat elastisnya lebih mudah karena adonan secara merata dapat diuleni di seluruh badan hook. Tapi menurut beliau untuk kasus tertentu bisa saja gluten akan susah kebentuk dan strong sehingga waktu pengulenan menjadi lebih lama mencapai 45 menit.

IMG_9419~photo-full
My Panettone. Proud my self!

 

Nah awalnya saya ingin mencoba menguleni adonan panettone ini hingga benar benar licin dan tidak lengket di bowl. Karena pengalaman membuat brioche sebelumnya saya butuh waktu sekitar 40 ke 45 menit. Brioche juga hampir mirip kan dengan adonan panettone ini. Butter telurnya banyak. Tapi di adonan panettone ini lumayan susah karena di menit ke 28 saja sudah seperti lewat masa kalisnya alias overmix. Jadi saya putuskan untuk tidak lewat dari 25 menitlah. Next time akan saya coba dengan teknik lain lagi. Sudah lebih percaya diri.

Kesimpulan saya, sifat kalis pada pannetone bukan berarti harus benar benar licin dan tidak lengket di bowl. Karena rata rata yang saya lihat pun window pane pada panettone itu masih ada kok sisa sisa adonan yang lengket di bowl dan di tangan. Kalau benar benar licin yanga ada nanti jadi overmix dan membuat adonan menjadi terlalu kering dan agak alot. 

Tips dari saya jika kurang yakin mending jangan lewat dari 20 menit dan jika ingin glutennya lebih kuat mending istirahatkan adonan sekitar 1/2 jam lalu fold (menarik dan melipat adonan). Bila perlu ulangi sekali lagi tergantung kondisi adonan.  

Berapa suhu adonan yang baik ketika tahap pengulenan?

Suhu yang baik untuk tahap pengulenan adalah tidak melebihi 26 derajat celcius. Beberapa case masih ditolerir di suhu 28 derajat celcius. Tapi antara 24 ke 26 adalah suhu yang paling lazim didapat jika pengulenannya tepat waktu dan tidak berlebihan. Kalau suhu adonan terlalu panas maka mampu merusak struktur adonan dan daya kerja raginya.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk proofing?

Untuk adonan yang pertama kurang lebih 12 jam dan untuk adonan tahap kedua kurang lebih sekitar 6 hingga 8 jam tergantung suhu ruang dan kekuatan starter sourdough. Jika starter kurang strong kemungkinan bisa lebih dari 8 jam tapi tidak lewat dari 12 jam. Kurang lebih begitu. Karena kalau sampai kelamaan pun dikhawatirkan ragi naturalnya sudah tidak terlalu aktif lagi bekerja.

Untuk adonan pertama saya butuh waktu sekitar 11 jam di suhu ruang antara 24 hingga 25 derajat celcius.  Dan untuk adonan di tahap kedua saya butuh waktu sekitar 6 hingga 8 jam di suhu yang sama.

Sedangkan panettone yang saya taruh di muffin cup untuk proofing keduanya cuma butuh waktu 5 jam.  Jadi semakin besar ukuran cup relatif lebih lama proofingnya. Tapi secara umum rata rata berkisar antara 12 jam untuk proofing adonan pertama dan 6 hingga 8 jam untuk proofing keduanya.

Note : Starter wajib difeeding rutin 3 hingga 4 kali sehari selama seminggu berturut sebelum digunakan ke adonan. Sebaiknya gunakan stiff starter dengan perbandingan starter 1/2 : air 1/2 dan tepung 1. Cara membuatnya silahkan melihat channel youtube saya dengan kata kunci pasta madre Dapursicongok atau stiff starter Dapursicongok. 

Berapa suhu oven untuk memanggang panettone? 

Rata rata berkisar di antara 160 hingga 180 derajat celcius dan dari rentang suhu tersebut kebanyakan menggunakan suhu 170 dan 175 derajat celcius. Saya sudah mencoba suhu 170, 175 dan 180. Dan hasilnya gagal serta kurang sukses. Jadi tergantung ukuran mold/cup menurut saya. Mold/cup untuk adonan 1 kilogram lebih cocok di suhu rendah sekitar 160 derajat celcius kurang lebih 55 menit hingga 1 jam. Saya bikin di rack paling bawah.

Jika menggunakan suhu tinggi maka permukaan adonan sangat cepat gelap dan keras sementara bagian dalamnya belum matang. Jika permukaan adonan cepat mengeras tapi bagian dalam belum sempat mengembang maka panettone beresiko menjadi bantet.

Dengan suhu 160 maka adonan akan matang merata dan mengembang secara perlahan. Tapi jika mold/cup berukuran 500 gram, menggunakan suhu oven 170  ke 175 masih okelah dengan waktu panggang sekitar 35 hingga 40 menit. Tes suhu saja di menit ke 35 .

Kenapa ketika dilakukan up side down panettone keluar dan tumpah dari dalam mold/cup?

Kemungkinan besar penyebabnya karena ukuran mold yang digunakan lumayan besar dan tinggi (misalnya mold dengan kapasitas 1 kilogram dengan tinggi 11 centimeter). Atau mold yang digunakan kekecilan dan adonan melebihi kapasitas mold. Sehingga bagian dalam adonan menjadi tetap basah, susah kering dan susah matang. Ingat, panettone ini mengandung banyak raisin, candied, gula, telur dan butter. Jadi kalau tidak benar benar matang dan masih berair, adonan belum mengikat secara sempurna dan akan lebih mudah terjatuh ketika dibalik. Saya sudah mengalami hal ini di kegagalan yang pertama. 

IMG_9255~photo
Tahap up side down
_MG_7408
Alat yang bisa digunakan untuk menggantung panettone

Atau tanpa melihat ukuran mold/cup, bisa juga dikarenakan panettone dipanggang terlalu cepat yang mengakibatkan bagian dalam panettone masih basah. Jadi terlepas dari ukuran moldnya selama bagian dalam panettone belum benar benar matang atau belum mencapai suhu ideal bukan maka resiko tumpah bisa saja terjadi.

Lantas bagaimana caranya agar kita tahu jika  panettone sudah benar benar matang?

Setelah dipanggang sesuai waktu di resep, cek suhu dengan termometer. Semisal belum tercapai lanjut panggang lagi. Berapa suhu ideal bagian dalam panettone agar bisa dikategorikan matang? Ini tergantung besar kecilnya ukuran mold menurut saya. Karena rentang suhu ini lumayan bervariasi. Mostly antara 90 ke 98 derajat celcius.

Kurang dari 90 derajat kemungkinan besar panettone belum matang dan jika lewat dari 98 derajat celcius kemungkinan besar panettone beresiko kering. Tapi sekali lagi rentang suhu antara 90 hingga 98 ini tergantung berat adonan dan tinggi cupnya. Seperti saya misalnya menggunakan mold ukuran 1 kilogram dengan tinggi cup sekitar 11 cm maka suhu 90 derajat celcius masih kurang cukup. Belum sempurna matangnya.

IMG_9348~photo-full

Saya butuh sekitar 98 derajat celcius baru benar benar matang sempurna. Saya pernah mengeluarkan mold dari dalam oven dan suhu di bagian dalam panettone mencapai 92 derajat celcius. Dan ternyata suhu segitu belum cukup untuk ukuran mold yang saya gunakan. Panettone kolaps ketika dibalik.

Jadi tergantung ukuran mold yang kita gunakan menurut saya. Tapi umumnya rentang waktunya antara 90 ke 98 derajat celcius itulah.

Apakah panettone wajib dibalik (up side down) setelah keluar dari dalam oven? 

Yup wajib sekali!

Dan lakukan sesegara mungkin begitu keluar dari dalam oven. Biarkan terbalik sekitar 12 jam. Kenapa harus dibalik? Seperti yang saya jelaskan di atas, panettone mengandung banyak candied fruits, butter dan telur. Sangat moist dan very soft ketika masih panas. Apalagi rata rata mold yang digunakan berukuran 500 gram ke atas. Lumayan berat!

IMG_9254~photo

Jika dibiarkan tegak dan tidak segera dibalik akan beresiko gampang penyok. Akan ada tekanan dari bagian atas panettone yang mana lingkar atas panettone ini lebih besar dan lebih berat dibanding lingkar bawahnya. Jadi dengan dibalik akan mengurangi tekanan ini dan tetap menghasilkan panettone yang bagus secara tampilan dan tekstur.

IMG_9326~photo-full

Tapi untuk panettone yang berukukan sangat mini seperti muffin cup meski saya balik tapi menurut saya tidak terlalu wajib karena ukurannya yang kecil tidak membawa dampak yang luar biasa jika tidak dibalik.

Apa kelebihan dari sebuah Panettone ?

Roti ini gagal saja masih enak dan layak untuk dimakan apalagi tidak gagal. Nyam nyam sekali! Meski permukaannya mudah gelap ketika dipanggang tapi begitu keluar dari oven tidak ada aroma gosong sama sekali. Jadi jangan panik kalau permukaannya terlihat sangat gelap karena begitu keluar dari oven dan kemudian ditutup dengan plastik maka warnanya akan terlihat lebih light.

Menurut saya panettone itu unik karena meski di balik selama 12 jam di suhu ruang dalam keadaan terbuka, tidak mengakibatkan roti menjadi keras dan kering. Dan semakin disimpan berhari hari semakin moist dan enak. Top deh!

———————————————————————————————————————–

Demikian beberapa catatan yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman gagal saya selama beberapa kali melakukan percobaan panettone. Ada 6 kali percobaanlah. Dan apa yang saya tulis ini hanyalah pendapat saya pribadi dan belum tentu sama dengan orang lain.

Sejujurnya gagal yang saya maksud di sini bukan gagal total melainkan belum sesuai harapan saja. Artinya roti masih sangat enak dimakan. Paling terlihat kurang menarik saja karena masih terlihat kempes ke dalam. Tapi seiring percobaan demi percobaan membuat saya menjadi lebih tahu salahnya dimana.

Itulah mengapa saya menulis di sini dengan harapan bisa menjadi bahan acuan saya ke depannya dan juga buat teman teman semua. Beda dengan saya yang selama proses pembuatan tidak ada acuan detail tentang penyebab kegagalan panettone itu apa. Semua hanya fokus memberitahu resep secara garis besar saja. Jika tidak teliti kemungkinan gagal besar.

 

Ingat ukuran mold sangat menentukan keberhasilan panettone. Jadi gunakan  mold sesuai dengan kapastitasnya. Sebaiknya jangan dikurangi atau ditambahi. Kalaupun ada kelebihan dan kekurangannya janganlah terlalu besar selisihnya. Khusus untuk mold yang satu kilogram agar tidak terlalu berat, saya kurangi sekitar 50 gram. Sisanya saya masukkan ke dalam muffin cup.

Rencananya saya akan mencoba panettone versi ragi instan juga ke depannya. Agar teman teman yang masih bingung dengan sourdough lebih mudah mengerjakannya. Dan saya akan update nantinya di blog ini juga.

INGAT JIKA GAGAL ARTINYA HARUS MENGULANG LAGI. JIKA LANGSUNG BERHASIL ARTINYA SAYA BERHASIL MENULIS TULISAN INI. Haha…!

Resep dan tutorial Panettone ini bisa dilihat pada channel youtube saya DAPURSICONGOK di bawah ini. Jangan segan segan mensubscribe. Uhuk…

7 Comments

Leave a Reply to Phebie Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s