Gue Introvert atau Schizoid?

Basicly gue bukan seorang yang kurang bergaul. Tapi terlalu bergaul pun tidak juga. Yang gue ingat, sewaktu kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), gue lumayan punya banyak teman. Terutama dari lingkungan sekolah maupun bimbingan les di luar sekolah.

Dari mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, gue pasti punya genk alias teman teman kompak. Dan sejujurnya jika sudah klik banget di hati,  gue cenderung malas mengembangkan sayap ke sana kemari demi mencari teman baru.

Masih ingat ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), gue punya beberapa teman dekat. Kemana mana selalu bersama. Pulang sekolah suka main bareng. Nginap di rumah. Sampai dikejar kambing pun pernah bareng bareng. Teman gue pipis di celana sangkin takutnya. Hahaha.

Sangkin dekatnya,  teman sekelas yang lain memberi julukan genk “Madona” ke kami. Entah apa maksud mereka memberi julukan itu. Dari segi penampilan dan wajah saja kami sangat berbeda jauh dengan Madona. Yang satu blonde abis sedangkan kami siborong borong abis. Kocak.

Begitupun di tingkat SMA hingga kuliah, gue selalu punya genk sendiri. Dari yang cuma kenal muka tapi jarang bicara, kenal baik, hingga kenal sangat baik.

Khusus di kalangan teman kampus, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan dua orang teman baik. Sedangkan yang lain kadang kadang bicara, jalan bareng, tapi tidak sesering dengan kedua teman gue tersebut. Kami bertiga pernah dijuluki “trio”.

Tapi justru setelah tamat kuliah dan merantau, kesempatan mengenal lebih baik teman teman sekampus yang lain semakin terbuka. Dari yang tidak begitu dekat menjadi lebih dekat. Satu sama lain lumayan sering nongkrong bareng di akhir pekan.

Memasuki dunia kerja di ibukota, padatnya waktu kerja sedikit banyak mempengaruhi lingkup pertemanan gue. Bahkan gue tidak punya banyak waktu untuk bersosial media. Paling di Path. Gue malah ga punya instagram.

35138529154_4668a8fc8d_o.jpg

Bertemu teman semakin hari semakin jarang. Weekend lebih sering gue habiskan di apartemen atau di mall tak jauh dari tempat tinggal. Macetnya Jakarta yang sudah tidak manusiawi itu sedikit banyak membuat semangat bersua teman semakin kendor. Yang satu di Jakarta mana dan gue di Jakarta belahan mana. Lingkungan kantor pun tak sempat membuat gue banyak bergaul dengan yang lain. Paling sekedarnya aja. Teman dekat di kantor paling cuma dua tiga orang.

Dan tidak hanya itu, lelah di pekerjaan, usia yang semakin bertambah, tenaga yang mulai letoi,  membuat gue cukup puas dengan segelintir teman. Segelintir teman yang kira kira easy dan sehati diajak jalan bareng tanpa harus pusing memutuskan ketemu dimana. Teman yang punya selera sama dalam memilih tempat ngemall atau nongkrong. Daerah kelapa gading aja. Dekat ke apartemen gue. Hahaha (egois).

Sadar atau tidak, gue tidak seantusias di kala muda dulu. Ini terjadi bukan karena gue kecewa dengan pertemanan yang ada. Sama sekali tidak. Seingat gue, semua teman yang gue kenal rata rata adalah teman yang baik. Bukan teman yang menusuk dari belakang. Bukan teman yang dengki. Bukan teman bermuka dua dan pengadu domba. Bahkan mereka punya kepedulian satu sama lain. Terutama teman teman kampus gue. Mereka sangat menjalin silahturahmi sepanjang waktu.

Jika gue membaca banyak postingan di media sosial yang mengeluh tentang pertemanan, gue lumayan beruntung tidak berteman dengan orang orang yang salah. Setidaknya itu yang gue rasakan. Sampai sekarang pun hubungan gue dengan teman teman gue tetap baik meskipun tak terlalu sering berinteraksi. Gue tipikal yang lumayan bisa memilah siapa yang bisa gue jadikan teman. Puji Tuhan tidak ada yang terlalu neko neko. Kalau cuma selisih paham kecil itu hal biasa.

Sekira I feel uncomfortable dengan seseorang yang cuma mengambil kesempatan dikala senang, pengadu domba, nyinyir, selalu dipenuhi rasa benci, perlahan akan gue jauhi.

Di rumah pun, gue tipikal pertapa. Sewaktu tinggal di rumah kakak, kebanyakan gue habiskan di dalam kamar. Tahan bulukan di kamar. Nonton tv, tidur, jika keluar karena mau makan aja. Beneran adik yang kurang ajarlah. Hahaha.

Kalau gue mood, ya ngobrol sih dengan mereka. Malah jalan makan bareng ke mall. Tapi kalau lagi ga mood pasti deh banyakan di kamar.

Sampai akhirnya semakin gue menyadari, terkhusus setelah gue tinggal di Swedia, sifat ingin menyendiri gue itu ternyata malah semakin parah. Ga ngerti kenapa. Apa karena suasana tempat tinggal yang sepi mengkondisikan demikian, yang jelas saat ini gue lebih suka menikmati hari hari gue bersama suami. Semakin lama gue merasa kalau suami adalah teman sehati yang tepat. Mungkin karena 24 jam, kebanyakan hanya wajah dia yang gue liat. Hahaha.

Awal tiba di desa gue, gue masih lumayan suka menghadiri acara ini itu. Ketemu warga lain. Kalau mereka bertamu ke rumah, gue malah senang karena berasa ga sepi. Tapi semakin ke sini, setiap ada pertemuan atau acara pesta, gue sudah mulai jenuh. Mulai tidak terlalu menikmati. Semakin lama semakin berubah. Kalau tetangga terlalu sering datang ke rumah, gue malah terganggu. Suami gue sampai heran. Bukan karena gue malas harus meladeni bikin ini itu ya, karena ga harus juga. Gue merasa terganggu aja. Tapi herannya di waktu yang berbeda, gue pengen juga ada yang datang ke rumah. Didatangi tetangga atau siapa ajalah itu. Jadi moodnya bener bener aneh.

Dulu suami pernah bilang kalau dia tidak bisa membayangkan tinggal di rumah yang bangunannya berdempetan dengan tetangga, dia merasa ruang geraknya kurang bebas. Bisa bisa pipis pun kedengaran. Karena ada masanya dia pengen pake kolor aja di rumah, ada masanya dia pengen mesra mesraan dengan gue, dan masih banyak lagi lah.  Mendengar itu gue cuma bisa mikir “kok bisa” sih sampai punya pikiran parah begitu. Dan lama kelamaan ternyata sifat itu menular ke gue.

Jadi ceritanya, ketika tiba di desa gue empat tahun lalu, gue merasa kalau desanya terlalu sepi. Gue menghayal seandainya rumah kosong di depan rumah segera ditempati penghuninya. Kalau dihuni kan berasa lebih ramailah. Tapi kenyataannya cuma ditempati sesekali. Pemiliknya tinggal di daerah lain dan hanya berkunjung di saat weekend atau liburan.

Dan sekarang gue mendengar kabar, kalau si pemilik yang tak lain merupakan teman kecil suami itu berencana akan pindah dan menempati rumah tersebut. Herannya justru jadi dilema buat gue sendiri. Menyikapinya antara senang dan tidak. Di satu sisi gue senang karena rumah itu bakalan terlihat lebih terang oleh cahaya lampu terkhusus di saat winter, tapi di sisi lain gue malah merasa tak nyaman.

IMG_1654 (1)

Semisal gue lagi menyiram bunga, duduk duduk di luar, atau fotoin bunga di halaman, malas banget deh kalau terlihat mereka, apalagi kalau sering diajak bicara. Coba, parah banget kan gue. Padahal tetangga gue itu baik dan pacarnya apalagi, wise banget. Tapi entah mengapa susah banget match ke hati gue. Mereka cuma gue anggap sebagai tetangga dan bukan teman bicara yang klik di hati. Padahal tetangga gue itu teman baik suami sejak kecil. Dan setiap berkunjung ke desa gue, dia dan pacarnya pasti main ke rumah. Ngobrol lama ampe malam. Gue pastikan tidak ada yang salah dengan mereka. Justru gue merasa kalau diri guelah yang salah. Semakin susah klik dengan orang lain.

Waktu empat tahun rasanya cukup membuat gue sangat terbiasa dengan keseharian yang menyendiri dan tidak ada yang menggangu. Karena tetangga yang lain rumahnya jauh jauh. Artinya mereka kebanyakan berkunjung ke rumah ketika suami gue ada di rumah. Selebihnya, gue ya sendiri menikmati dunia gue. Kesendirian gue.

Sampai kini pun gue tak punya teman baik di Swedia. Entah itu dari kalangan warga Indonesia maupun Swedia. Dan gue merasa fine aja. Tidak stress apalagi depresi. Beneran. Setidaknya itu yang gue rasakan. Gue menikmati hidup gue yang sekarang. Gue bahagia.

Apakah gue introvert? atau cenderung Schizoid? Hehehe.

Sepertinya usia dan lingkungan sangat cepat menempa gue untuk tidak lagi terlalu pusing dengan urusan pertemanan. Bukan karena apatis apalagi anti sosial ya. Karena di suatu kesempatan, gue masih mau kok bertemu dengan orang lain. Apalagi kalau traveling, gue ga bisa pergi sendirian.

Jika merasa hidup gue tenang banget dengan keadaan yang sekarang trus mau gimana dong. Emang gue menikmatinya. Jauh dari gosip, jauh dari sirik sirikan. Karena semakin bertambah usia bukan kuantitas lagi yang gue cari. Tapi kualitas berteman. Satu pun selama cocok dan tidak dengki dengkian uda bagus banget buat gue.

Jujur…..di lain kesempatan gue pengen punya satu atau dua teman baik di Swedia yang benar benar bisa dijadikan teman suka duka. Yang klik di hati. Kalau ketemu aja teman kayak gini, yesss hobby nongkrong di cafe itu pasti gue akan ulang lagi.

Yang suka menyindir, bermuka dua, merasa bijaksana sendiri, cepat sakit hati, pengadu domba, cepat marah kalau tak sepemikiran, bisa gue bayangkan lelahnya hati berada diantara orang seperti ini. Daripada pusing mending menjauh perlahan. Hari ini haha hihi di medsos, besoknya uda sindir sindiran. Wueeeek banget.

68503CAF-2EA5-48BF-8F45-5E8CD38E2FFC.jpg
Salam dari si pertapa

Kira kira, pembaca budiman ada yang seperti gue ga sih? Semakin lama lumayan susah membuka diri dengan orang lain? Semakin lama merasa fine aja jika tidak punya banyak teman?

6 Comments

  1. Aku cenderung mirip mba walau kesannya kdg rame. Itu sebetulnya lebih menyesuaikan diri dg situasi. Aslinya aku senang dengan kesendirian. Bisa baca buku,kontemplasi,sambil ngopi. Karena dikelilingi org yang suka gaul. kadang rasanya jadi seperti alien ketika menyesuaikan. Tapi itu dulu yah. Sekarang sudah nyaman dengan diri sendiri. Berteman dengan yang pas. Bisa berpendapat jujur dan bebas tanpa harus memikirkan konsekuensi pertemanan.Kurang ngerti dengan banyak yang kasus begitu desperate diterima masuk ke sebuah circle pertemanan tapi harganya ya harus melalui banyak drama dan berubah jadi orang lain. Terlalu kompleks hidup semacam itu..

    Like

    1. Nahhhh, yang circle pertemanan itu loh, aku jelas ga bisa itu kalau harus bersikap fake seolah menikmati padahal hati memberontak. Tapi demi pengakuan dll harga yang dibayar tak seimbang. Main harga harga pula ya😁 Mengutamakan kenyamanan sendiri uda paling pas menurutku. Caranya ya cari teman yang pas

      Like

  2. Sy sih termasuk org yg introvert kli ya. Tp pnglman sprti mbak Ajheris itu sepertinya blm/gak prnh sy almi sih. Ap mungkin itu krn pengaruh usia dan jg pndangan hidup kli ya? Entahlah.

    Namun sy berpikir, dan sy anggap itu baik, jika Anda mrasa lbih nyaman dan mengutamakan keluarga (suami), sy suka dg cara pandang itu. Yg membingungkan justru klau org sdh gak betah lg d rmh, itu bg sy aneh dan smestinya bgtu.

    Hanya memang, bhwa bergaul itu perlu dan kita tdk blh antisosial, krn kita tdk bs hidup sendiri, kita prlu org lain. Namun dlm brgaul, sprti yg Anda tulis di atas, tentu kita ingin bergaul yg baik, yg membawa kpd hidup yg lbih positif, bkn tukang gosip, tukang adu domba atau hal2 negatif sjnis lainnya.

    Dan yg terakhir, klau bg sy, yg pnting itu bkn bnyaknya tman yg kita miliki, tp sjauh ap kualitas tmn yg kita punya itu. Prcuma punya bnyak tmn tp tdk membawa kpd hal yg baik. Sdikit tmn tak ap, tp kualitasnya luar biasa.

    Like

    1. Makasih ya buat komennya🙏 yang tidak betah di rumah itu kurang ngerti juga ya kok bisa. Tapi pasti ada faktor penyebabnya juga itu. Kalau aku dipastikan bukan anti sosial sih, karena keinginan bergaul dan bertemu orang lain masih mau kok. Apalagi teman teman lama. Tapi untuk harus punya teman banyak uda ga. Apalagi untuk mudah klik di hati kayaknya semakin susah

      Like

  3. Kakkk sama banget sampe ku dijuluki si monjaaab di jabu lah sama bou bou ku, btw aku jg suka senyum dan ngobrol sm smua orang tp obrolan gak menggali soal pribadi sih mkny trkdng orang2 yg sosialisasi dgn ku dulu gak bisa bedain kl aku dekat sm mreka atau skedar ngobrol dgn mreka yg berujung di nyinyirin krn gak prnh ngasih kabar. Pindah k sini lebih terasa santai gak perlu pasang senyum fake setiap saat dan monjab di jabu smakin jadi juga. Di sini ku lebi bnyk ikutin kgiatan yg d anjurkan saja. Entah mengapa slalu ngarep semoga kakak mau ya jadi teman pena ku dan tmn sosmed ku 😊👍

    Like

    1. Kita tetap berteman dek. Aku masih bisa membuka diri terhadap pertemanan kok meski ga bisa cepat untuk bisa klik menjadi teman dekat. Kita tak pernah tau kan waktu yang menyeleksi sapa tau lain waktu aku main ke kotamu. Semangat terus sebagai anak rantau haha

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s